• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN A."

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

38

METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SLB Negeri Surakarta yang bertempat di jalan Cocak X, Sidorejo, Sambeng, Mangkubumen, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah. Adapun pertimbangan memilih tempat penelitian di SLB Negeri Surakarta adalah sebagai berikut:

a. SLB Negeri Surakarta khususnya kelas 1 C terdapat siswa tunagrahita ringan yang masih belum mampu memakai kemeja

b. Belum diterapkannya backward chaining dalam pembelajaran bina diri atau pengembangan diri memakai kemeja di kelas I C

2. Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan pada minggu keempat bulan April 2016 sampai mnggu kedua bulan Mei 2016. Pelaksanaan penelitian dijabarkan sebagai berikut :

a. Minggu akhir bulan Desember 2015 hingga Minggu keempat bulan Januari 2016 penyusunan proposal skripsi

b. Minggu pertama bulan Februari 2016 mengurus surat penelitian izin skripsi dan surat izin melakukan penelitian di SLB Negeri Surakarta c. Minggu pertama bulan Februari sampai minggu ketiga bulan April 2016

penyusunan skripsi bab 1 sampai 3 serta menyusun rancangan instrumen tes awal (baseline-1) dan tes akhir (baseline-2).

d. Minggu ketiga bulan April 2016 validasi instrumen kepada para ahli. e. Minggu keempat bulan April 2016 hingga minggu kedua bulan Mei

2016 melaksanakan serangkaian kegiatan baseline-1 untuk memperoleh data awal kondisi anak, melakukan intervensi dengan menerapkan

backward chaining dalam pelaksanaan memakai kemeja, serta

(2)

keefektivitasan penggunaan backward chaining dalam pelaksanaan memakai kemeja

f. Minggu kedua bulan Mei 2016 melakukan analisis data berdasarkan data yang diperoleh

g. Minggu ketiga bulan Mei 2016 hingga minggu keempat bulan Mei 2016 melaksanakan penyusunan laporan.

B. Desain Penelitian 1. Pengertian Desain Penelitian

“Penelitian dapat didefinisikan sebagai upaya mencari jawaban yang benar atas suatu masalah berdasarkan logika dan didukung oleh fakta empiris”. (Trianto, 2011: 148). Menurut Sukardi (2012: 4), “Penelitian tidak lain adalah usaha seseorang yang dilakukan secara sistematis mengikuti aturan-aturan metodologi misalnya observasi secara sistematis, dikontrol, dan mendasarkan pada teori yang ada dan diperkuat dengan gejala yang ada”. Menurut Sukmadinata bahwa, “Metodologi penelitian merupakan rangkaian cara atau kegiatan pelaksanaan penelitian yang didasari oleh asumsi dasar, pandangan-pandangan filosofis dan ideologis, pertanyaan dan isu-isu yang dihadapi” (2011: 52).

Asmani (2011: 40); Sukmadinata (2012: 52) menjelaskan rancangan penelitian menggambarkan prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data dan kondisi arti apa data dikumpulkan, dan dengan cara bagaimana data tersebut dihimpun dan diolah. Alsa (2004: 19) berpendapat, “Prosedur untuk mengumpulkan data, menganalisis, dan melaporkan hasil penelitian disebut rancangan penelitian (research design). Menurut Setyosari (2013: 175), “Rancangan atau desain penelitian adalah rencana dan struktur penelitian yang disusun sedemikian rupa, sehingga kita dapat memperoleh jawaban atas permasalahan-permasalahan penelitian”.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa desain penelitian adalah rancangan penelitian yang merupakan usaha seseorang

(3)

untuk memecahkan suatu masalah atas pertanyaan dan isu-isu yang dihadapi dilakukan meliputi prosedur atau langkah-langkah secara sistematis berdasarkan teori dan didukung oleh fakta empiris.

2. Macam-Macam Desain Penelitian

Menurut Arikunto (2006) dalam Dimyati (2013: 8-11) menjelaskan bahwa, ragam objek penelitian dibedakan menjadi lima macam, yakni:

a. Penelitian ditinjau dari tujuannya 1) Penelitian eksploratif.

2) Penelitian R & D (research and development). 3) Penelitian verifikatif.

b. Penelitian ditinjau dari pendekatannya 1) Penelitian longitudinal.

2) Penelitian cross sectional. c. Penelitian ditinjau dari bidang ilmu

1) Penelitian pendidikan. 2) Penelitian teknik.

3) Penelitian ruang angkasa. 4) Penelitian pertanian. 5) Penelitian kedokteran. 6) Penelitian perekonomian. d. Penelitian ditinjau dari tempatnya

1) Penelitian laboratorium.

2) Penelitian kancah atau penelitian lapangan. e. Penelitian ditinjau dari hadirnya variabel

1) Penelitian operasional. 2) Penelitian eksperimen.

Pendapat lainnya Arifin (2012: 28-52) menjelaskan, jenis-jenis penelitian sebagai berikut:

a. Jenis penelitian berdasarkan tujuannya 1) Penelitian eksplorasi

2) Penelitian pengembangan 3) Penelitian verifikasi

b. Jenis penelitian berdasarkan pendekatan 1) Penelitian kuantitatif

2) Penelitian kualitatif

3) Penelitian perkembangan (longitudinal, cross sectional, trend) c. Jenis penelitian berdasarkan tempat

1) Penelitian kepustakaan 2) Penelitian laboratorium 3) Penelitian lapangan

(4)

d. Jenis penelitian berdasarkan fungsi 1) Penelitian dasar 2) Penelitian terapan 3) Penelitian tindakan 4) Penelitian penilaian 5) Penelitian evalusi 6) Penelitian kebijakan 7) Penelitian grounded

e. Jenis penelitian berdasarkan metode 1) Penelitian sejarah

2) Penelitian deskriptif 3) Penelitian eksperimen 4) Penelitian survei 5) Penelitian ekspos fakto 6) Penelitian komparatif 7) Penelitian korelasional 8) Penelitian studi kasus

9) Penelitian dan pengembangan (research and development) Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan jenis-jenis penelitian, yaitu penelitian berdasarkan tujuan, yaitu penelitian eksploratif, verifikasi dan pengembangan, berdasarkan pendekatan, yaitu, penelitian kuantitatif, kualitatif, perkembangan (longitudinal, cross sectional, trend), penelitian berdasarkan tempat, yaitu penelitian laboratorium, lapangan, dan kepustakaan, penelitian berdasarkan bidang lain, yaitu penelitian kedokteran, ruang angkasa, teknik, pendidikan, pertanian, dan perekonomian, penelitian berdasarkan fungsi, yaitu penelitian dasar, terapan, kebijakan, penilaian, dan evaluasi, penelitian berdasarkan metode, yaitu penelitian sejarah, deskriptif, eksperimen, survei, ekspos fakto, komparatif, korelasional. studi kasus, penelitian dan pengembangan (research and development), dan penelitian berdasarkan kehadiran variabel, yaitu penelitian operasional, dan eksperimen. Creswell (2003) dalam Emzir (2012: 9), “Mengemukakan tiga pendekatan penelitian, yaitu pendekatan kuantitatif, pendekatan kualitatif dan pendekatan metode gabungan (mixed methods approach). Menurut McMillan dan Schumacher (2001) dalam Sukmadinata (2012: 53), “Membedakan metode penelitian menjadi pendekatan kuantitatif dan kualitatif, dalam penelitian kuantitatif dibedakan menjadi penelitian eksperimental dan non

(5)

eksperimental. sedangkan penelitian kualitatif dibedakan antara kualitatif interaktif dengan non interaktif”.

Alsa (2004: 19), membagi rancangan-rancangan penelitian kuantitatif utama sebagai berikut :

a. Penelitian dengan intervensi

Menerangkan apakah suatu intervensi mempengaruhi perilaku suatu kelompok yang berbeda dengan kelompok lain yang tidak mendapatkan intervensi. Ini merupakan rancangan penelitian eksperimental dan quasi-eksperimental.

b. Penelitian tanpa intervensi

1) Menghubungkan variabel-varibel dalam satu pola yang dapat diprediksi bagi sekelompok individu. Ini merupakan rancangan penelitian korelasional

2) Mendeskripsikan kecenderungan bagi suatu populasi manusia. Ini merupakan penelitian survey.

Menurut Setyosari (2013: 180), pada rancangan eksperimen, dibagi menjadi dua rancangan penelitian, yaitu rancangan penelitian yang eksperimen dan non-eksperimen. Rancangan penelitian eksperimen dibagi menjadi, rancangan pra eksperimen, rancangan eksperimen kuasi dan true eksperimental design. Rancangan penelitian non eksperimen dibagi menjadi, penelitian deskriptif, studi kasus dan penelitian korelasi.

Sukmadinata (2012: 53-58); Arifin (2012: 73-75) membagi penelitan kuantitatif menjadi penelitian kuantitatif bersifat noneksperimental dan eksperimental. Penelitian kuantitatif bersifat noneksperimental, yaitu metode: deskriptif, survei, ekpos fakto, komparatif, korelasional, dan penelitian tindakan. Penelitian kuantitatif bersifat eksperimental, yaitu: eksperimen murni, eksperimen kuasi, eksperimen lemah dan subjek tunggal.

Berdasarkan pendapat tersebut disimpulkan bahwa pendekatan penelitian di bagi menjadi tiga yaitu: pendekatan kualitatif, pendekatan kuantitatif dan pendekatan metode gabungan. Pendekatan kuantitatif dibagi menjadi non eksperimen dan eksperimen. Non eksperimen dibagi menjadi deskriptif, survei, ekpos fakto, komparatif, korelasional, dan penelitian tindakan. Eksperimen di bagi lagi menjadi pra eksperimen, eksperimen murni, eksperimen kuasi dan subjek tunggal.

(6)

3. Desain Penelitian Yang Digunakan Dan Alasannya

Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif desain Single Subject Research (SSR) atau desain penelitian subjek tunggal. Hal tersebut dikarenakan peneliti menggunakan backward chaining yang merupakan salah satu modifikasi perilaku dimana untuk mengetahui efektivitasnya digunakan analisis perilaku terapan. Engel & Schutt (2008: 2) menjelaskan, “Single-subject approach. It is a method designed to study the behavior of individual organisms”. Kalimat tersebut dapat diartikan bahwa pendekatan subjek tunggal adalah metode yang dirancang untuk mempelajari perilaku individu. Shaughnessy, Zechmeister & Zechmeister (2012: 276), menjelaskan penelitian subjek tunggal berfokus pada pemeriksaan perubahan perilaku pada seorang individu atau beberapa individu, kemudian didukung Sukmadinata (2011: 209) bahwa, penelitian subjek tunggal berfungsi pada meneliti subjek secara individual dengan membandingkan sebelum dan setelah treatmen diberikan.

Menurut Rosnow dan Rosenthal (1999) dalam Sunanto, Takeuchi, Nakata, (2005: 54) bahwa, desain subjek tunggal memfokuskan pada data individu sebagai sampel penelitian. Menurut Alberto & Troutman (2008: 119), “Single-subject designs provide structures for evaluating the performance of individuals rather than groups”. Pendapat tersebut menegaskan bahwa SSR merupakan desain yang digunakan untuk mengevaluasi individu bukan kelompok. Arifin (2012: 75) menjelaskan bahwa, “Eksperimen subjek tunggal adalah suatu eksperimen dimana subjek atau partisipannya bersifat tunggal, bisa satu orang, dua orang atau lebih”.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa desain subjek tunggal adalah metode yang mempelajari perubahan perilaku pada seorang individu atau beberapa individu, untuk memperoleh data secara individual dengan membandingkan data sebelum treatmen diberikan dan setelah treatmen diberikan.

(7)

4. Struktur Desain Penelitian Yang Digunakan

Engel & Schutt (2008: 13) berpendapat, “The analysis of treatment effects will be more understandable to you if we give an overview of the design strategy”. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa efek analisis treatmen akan lebih mudah dimengerti jika penelitian memiliki strategi desain. Desain yang digunakan dalam penelitian menggunakan rancangan A1-B-A2. Menurut Sukmadinata (2012: 211), desain A-B-A merupakan model desain yang digunakan dalam eksperimen subjek tunggal, desain ini hampir sama dengan desain A-B tetapi setelah perlakuan diikuti oleh keadaan tanpa perlakuan, garis kedua garis A ditunjukkan untuk mengetahui apakah tanda perlakuan kegiatan akan kembali pada keadaan awal, atau masih terus seperti dalam keadaan dalam perlakuan.

Sunanto, dkk (2005: 59) menjelaskan, “Desain A-B-A merupakan salah satu pengembangan dari desain A-B, desain A-B-A ini telah menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara variabel terikat dan variabel bebas”. Pendapat tersebut diperkuat Engel & Schutt (2008: 14), “The ABA design is a far more powerful design than the AB design simply because the treatment condition is introduced for a period of time and then withdrawn There are two opportunities to assess whether the treatment condition is effective—introducing it and withdrawing it.”. Kalimat tersebut menegaskan bahwa desain ABA adalah desain yang jauh lebih kuat dari desain AB karena setelah treatmen diberikan pada jangka waktu tertentu serta adanya peluang untuk menilai treatmen yang telah diberikan.

Pada saat melakukan eksperimen dengan desain A-B-A, untuk mendapatkan validitas penelitian yang baik menurut Sunanto, dkk, (2005: 60) peneliti perlu memperhatikan hal berikut:

a. Mendefinisikan target behavior sebagai perilaku yang diukur secara akurat

b. Mengukur dan mengumpulkan data pada kondisi baseline (A1) secara kontinyu sekurang-kurangnya 3 atau 5 atau sampai trend dan level data menjadi stabil

(8)

d. Mengukur dan mengumpulkan data pada fase intervensi (B) dengan periode waktu tertentu sampai data menjadi stabil

e. Setelah kecenderungan dan level data pada fase intervensi (B) stabil mengulang fase baseline (A2).

5. Prosedur Dasar Penelitian

Berikut ini prosedur dasar model penelitian Single Subject Research (SSR) dengan desain A-B-A

Target baseline Intervensi baseline

(A1) (A2)

Sesi (waktu) Gambar 3.1 Prosedur Dasar Desain A-B-A Keterangan :

A1: Baseline 1 yang menggambarkan kondisi awal anak sebelum diberikan intervensi

B: Intervensi yang menggambarkan perlakuan yang diberikan kepada anak A2 : Baseline 2 yang menggambarkan kondisi anak setelah diberikan intervensi.

Berikut pelaksanaan penelitian SSR desain A-B-A :

Gambar 3.2 Pelaksanaan Penelitian Dengan Desain A1-B-A2

Rincian pelaksanaan penelitian dengan desain A1-B-A2 adalah sebagai berikut :

Baseline 1 (A1)

Intervensi (B) Baseline 2 (A2)

(9)

a. Baseline 1 (A1)

Menggambarkan kondisi awal anak memakai kemeja sebelum diberikan intervensi backward chaining dalam proses memakai kemeja. Anak diminta memakai kemeja secara mandiri sesuai kemampuan mereka. Shaughnessy, Zechmeister & Zechmeister (2012: 277) menjelaskan, “Tahap pertama dari suatu eksperimen subjek tunggal biasanya merupakan tahap observasi atau tahap baseline (tahap awal). Saat berlangsungnya tahap ini, peneliti mencatat perilaku subjek sebelum treatment apa pun”. Menurut Sukmadinata (2012: 211), “Dalam garis dasar yang diberi lambang A belum ada perlakuan, tetapi karena ada pengamatan seringkali ada perubahan kegiatan. Kegiatan terus diamati sampai berada dalam keadaan stabil”.

Pendapat lain menurut Alberto & Troutman (2008: 126), “A (baseline 1): the initial baseline during which data are collected on the target behavior under conditions existing before the introduction of the intervention”. Kalimat tersebut dapat diartikan baseline 1 merupakan baseline awal dikumpulkannya data di bawah kondisi yang ada sebelum pengenalan intervensi. Sunanto, dkk (2005: 60), “Mengukur dan mengumpulkan data pada kondisi baseline (A1) secara kontinyu sekurang-kurangnya 3 atau 5 atau sampai trend dan level data menjadi stabil”.

Pada saat observasi peneliti menggunakan sistem pencatatan data observasi langsung. Prosedur pencatatan data observasi langsung adalah kegiatan observasi secara langsung yang dilakukan untuk mencatat data variabel terikat pada saat kejadian atau perilaku terjadi. Observasi ini dilakukan 4 sesi dalam waktu 1 minggu agar kecenderungan perilaku anak terlihat stabil. Baseline 1 digunakan untuk menjadi dasar peneliti dalam memberikan intervensi kepada anak dalam proses memakai kemeja.

b. Intervensi (B)

Intervensi ini diberikan setelah mengetahui kemampuan awal anak. Menurut Sukmadinata (2012: 211) bahwa, “Setelah keadaan stabil baru diberi perlakuan, pengaruh dari pemberian perlakuan terus diamati sampai kegiatan terus stabil, dan ini diberi lambang B”. Pendapat lain menurut

(10)

Sunanto, dkk (2005: 60), “Mengukur dan mengumpulkan data pada fase intervensi (B) dengan periode waktu tertentu sampai data menjadi stabil”. Shaughnessy, Zechmeister & Zechmeister (2012: 277) menjelaskan, “Setelah peneliti mengobservasi bahwa perilaku individu relatif stabil yakni menunjukkan fluktuasi yang kecil diantara interval pencatatan, maka dilakukannya intervensi (treatment)”. Intervensi diberikan dalam sepuluh kali sesi. Pada saat Intervensi peneliti juga menggunakan sistem pencatatan data observasi langsung.

Adapun langkah-langkah pelaksanaan intervensi adalah sebagai berikut :

1) Kegiatan awal

a) Peneliti mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran

b) Peneliti memberikan salam pembuka sebelum memulai pelajaran c) Peneliti mengkondisikan anak agar siap dan nyaman untuk belajar

dengan memberikan apersepsi. 2) Kegiatan inti

Pengukuran akan dilakukan selama 10 sesi dalam waktu 2 minggu dengan perlakuan sebagai berikut:

a) Peneliti memberikan kemeja kepada masing-masing subjek b) Peneliti memberikan contoh cara memakai kemeja secara klasikal c) Peneliti menunjuk subjek memakai kemeja secara bergantian, dan

menerapkan prosedur backward chaining dengan langkah satu persatu

d) Selama proses penerapan backward chaining obsever mencatat kegiatan yang berhasil dilakukan subjek secara mandiri dan peneliti akan memberikan pujian pada setiap kegiatan yang berhasil subjek lakukan secara mandiri

e) Kegiatan ini berlangsung sampai semua subjek mendapat perlakuan 3) Kegiatan penutup

(11)

2) Peneliti memotivasi subjek untuk selalu berlatih dirumah 3) Peneliti menutup pelajaran

c. Baseline 2 (A2)

Baseline 2 merupakan pengulangan baseline 1, garis dasar kedua ditujukan untuk mengetahui apakah perlakuan kegiatan akan kembali pada keadaan awal, atau masih terus seperti dalam keadaan dalam perlakuan (Sukmadinata, 2011: 211) . Menurut Sunanto, dkk (2005: 59), “Penambahan kondisi baseline yang kedua (A2) ini dimaksudkan sebagai kontrol untuk fase intervensi sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan adanya hubunan fungsional antara variabel bebas dan terikat”. Alberto & Troutman (2008: 126) berpendapat bahwa, “A (baseline 2): a return to original baseline conditions, accomplished by with drawing or terminating the intervention”. Kalimat tersebut dapat diartikan baseline 2 yaitu kembali ke kondisi awal atau asli setelah dilaksanakan Intervensi.

Pada baseline 2 menggunakan instrumen yang sama dengan baseline 1 dan peneliti juga menggunakan sistem pencatatan data observasi langsung. Hal tersebut dikarenakan untuk melihat perbandingan antara sebelum diberikan intervensi dan setelah diberikan intervensi. Pada baseline 2 ini anak diminta untuk memakai baju tanpa diberikan Intervensi.

6. Variabel Penelitian a. Pengertian Variabel

Menurut Sunanto, dkk (2005: 12) bahwa, “Variabel merupakan suatu atribut atau ciri-ciri mengenai sesuatu yang diamati dalam penelitian”. Arikunto (2013: 161) menegaskan bahwa, “Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”. Menurut Sugiyono (2013: 38), “Varibel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk memelajari variasi tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.

(12)

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel adalah atribut atau objek yang diamati dalam penelitian yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimulannya.

b. Macam-Macam Variabel

Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimen yang memiliki variabel terikat dan variabel bebas. Triyono (2013), menjelaskan variabel dibagi menjadi dua yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas (independent variabel adalah variabel atau faktor yang menjadi penyebab timbulnya atau berubahnya nilai variabel yang lain dinamanya variabel terikat (dependent variabel), sedangkan variabel terikat (dependent variabel) adalah variabel atau faktor yang perubahan nilainya disebabkan atau dipengaruhi oleh berubahnya nilai variabel bebas sehingga variabel terikat munculnya setelah variabel bebas.

Menurut Sugiyono (2013: 39), variabel independent atau variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent (terikat), sedangkan variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel terbagi menjadi dua yaitu variabel terikat dan variabel bebas. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi karna adanya variabel bebas. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi sebab perubahan variabel terikat.

c. Variabel Yang Digunakan

Penerapan variabel untuk judul penelitian efektivitas backward chaining untuk meningkatkan kemampuan bina diri siswa tunagrahita kelas 1 C SLB Negeri Surakarta memiliki variabel sebagai berikut: 1) Variabel bebas penelitian ini adalah backward chaining

2) Variabel terikat penelitian ini adalah kemampuan bina diri khususnya memakai kemeja.

(13)

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Pengertian populasi menurut Arikunto (2013:173) bahwa “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi”. Pendapat lainnya menurut Sugiyono (2011: 80) yaitu, “Dalam penelitian kuantitatif, populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa populasi adalah seluruh subjek yang memiliki karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Pada penelitian ini peneliti tidak menggunakan populasi akan tetapi penelitian ini menggunakan subjek penelitian.

2. Sampel

Pengertian sampel menurut Arikunto (2013: 174),”Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Pendapat lain menurut Sugiyono (2011: 81) yaitu:

“Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya katerbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel diambil dari populasi itu”.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sampel adalah sebagian jumlah dari seluruh populasi dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut. Pada penelitian ini, peneliti tidak menggunakan sampel akan tetapi peneliti menggunakan subjek penelitian yaitu tiga orang siswa kelas 1 C SLB Negeri Surakarta.

(14)

D. Teknik Pengambilan Sampel

“Teknik sampling merupakan cara mengambil sampel penelitian untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian” (Sugiyono 2009 :116). Pendapat lain Sukmadinata (2011 : 251) mengemukakan bahwa “Pengambilan sampel merupakan suatu proses pemilihan dan penentuan jenis sampel dan perhitungan besarnya sampel akan menjadi subjek atau objek penelitian”. Pada penelitian ini, peneliti tidak menggunakan teknik pengambilan sampel akan tetapi peneliti menggunakan subjek penelitian yaitu kelas 1 C SLB Negeri Surakarta. Dalam penelitian menggunakan tiga siswa dengan kriteria yaitu: subjek merupakan siswa tunagrahita ringan tanpa penyerta apapun kelas 1 C SLB Negeri Surakarta yang berinisial D, F, dan R dan belum dapat memakai kemeja.

E. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian yang dilakukan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data untuk mendukung keberhasilan penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :

1. Observasi

a. Pengertian Observasi

Menurut Trianto (2011: 267), “Obsevasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, atau perlu dengan pengecapan”. Pendapat lain menurut Sukmadinata (2011: 220), “Observasi (observation) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung”. Pendapat lain Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2013: 145) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun, dari berbagai proses biologis

(15)

dan psikhologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.

Sudijono (2008: 76) berpendapat, “Observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (=data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan”. Menurut Arifin (2012: 153), “Observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif, dan rasional mengenai beberapa fenomena baik dalam situasi sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu”. Pendapat lain Sudjana (2013: 84) menjelaskan, “Observasi atau pengamatan sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi sebenarnya maupun dalam situasi buatan”.

Dengan demikian dapat disimpulkan observasi adalah suatu teknik pengumpulan yang dilakukan dengan cara diamati, diingat dan dicatat secara sistematis, logis, obyektif serta rasional menggunakan alat pengindraan untuk mengukur tingkah laku individu atau mengamati kegiatan tertentu.

b. Jenis-Jenis Observasi

Sugiyono (2013: 145) membedakan jenis-jenis observasi, “Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedekan mejadi participant observation (observasi berperan serta), dan non participant observation, selanjutnya dari segi instrumenasi yang digunakan, maka observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur”. Menurut Shaughnessy, Zechmeister & Zechmeister (2012), “Metode observasi dibagi menjadi dua yaitu observasi langsung dan observasi tidak langsung. Observasi langsung yaitu peneliti mengobservasi perilaku pada saat kemunculannya

(16)

sedangkan observasi tidak langsung adalah peneliti memeriksa bukti perilaku masa lalu dengan menggunakan jejak fisik atau catatan arsip”. Surwantono (2014: 41-43) menjelaskan, “Observasi dibagi menjadi dua yaitu observasi partisipan dan observasi nonpartisipan. Observasi partisipan adalah peneliti menjadi bagian dari apa yang diamati. Observasi nonpartisipan adalah peneliti tidak berada di dalam atau melakukan keterlibatan dalam kegiatan yang diamati”.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa observasi dilihat dari proses pengumpulan data observasi di bagi menjadi dua yaitu observasi dengan melibatkan peneliti didalam penelitiannya dan observasi tanpa peneliti masuk ke dalam kegiatan penelitiannya. Apabila dilihat dari segi instrumen oservasi dibagi menjadi dua observasi terstruktur dan tidak terstruktur.

c. Prosedur Observasi

Penelitian yang dilakukan menggunakan observasi langsung atau partisipan pada siswa kelas 1 C SLB Negeri Surakarta. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik siswa dan motivasi belajar serta keaktifan belajar siswa selama proses pembelajaran.

Observasi ini dilakukan pada saat baseline 1, intervensi dan baseline 2. Observasi pada penlitian digunakan sebagai alat pengumpulan data hanya untuk pendukung penelitian bukan variabel yang akan dijadikan fokus pengamatan. Adapun blue print instrumen yang digunakan adalah seperti berikut:

Tabel 3.1 Blue Print Instrumen Observasi

No Aspek Indikator No

pertanyaan 1. Motivasi

belajar

1. Memiliki kesiapan mengikuti

pelajaran

1,2

2. Mempertahankan konsentrasi 3,4,

(17)

pembelajaran 2. Keaktifan

belajar

4. Antusiasme yang tinggi

dalam pelajaran

7,8

5. Merespon perintah guru 9.10 Rumus penilaian sebagai berikut:

X 100 = hasil

2. Tes

a. Pengertian Tes

Menurut Trianto (2011: 264), “Tes dapat berupa serentetan pertanyaan, lembar kerja, atau sejenisnya yang dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, bakat, dan kemampuan dari subjek penelitian. Menurut Djaali dan Muljono (2007: 6), “Secara umum tes diartikan sebagai alat yang dipergunakan untuk mengukur pengetahuan atau penguasaan obyek ukur terhadap seperangkat konten dari materi tertentu.

Menurut Arikunto (2013: 193), "Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok”. Pendapat lain menurut Sukmadinata (2011: 223) menjelaskan bahwa, “Tes umumnya bersifat mengukur, walaupun beberapa bentuk tes psikologis terutama tes kepribadian banyak yang bersikap deskriptif, tetapi deskripsinya mengarah kepada karakteristik atau kualifikasi”.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tes adalah alat yang dipergunakan untuk mengukur kemampuan, keterampilan bakat atau pengetahuan dari subjek penelitian terhadap materi tertentu.

b. Jenis-Jenis Tes

Djaali dan Muljono (2007: 11) menjelaskan, tes ditinjau dari cara mengajukan pertanyaan, tes digolongkan dalam tiga macam yaitu:

(18)

1) Tes tertulis atau yang dikenal dengan istilah pencil and papes test yaitu dimana pelaksanaan tes dalam mengajukan butir-butir pertanyaanya secara tertulis dan peserta tes memberi jawaban secara tertulis pula.

2) Tes lisan atau yang dikenal dengan istilah non-pencil and papes test yaitu dimana pelaksanan tes dalam mengajukan butir-butir pertanyaan tidak tertulis (lisan) dan peserta tes member jawaban secara lisan pula.

3) Tes perbuatan yaitu tes yang diberikan dalam bentuk tugas atau instruksi kemudian peserta tes melakukan tugas instruksi tersebut dan hasilnya dinilai oleh pemberi tugas.

Arikunto (2013: 267) menjelaskan, tes yang digunakan pada pendidikan berupa tes prestasi belajar yang biasa digunakan di sekolah meliputi:

1) Tes buatan guru, yang disusun oleh guru pada prosedur tertentu, tetapi belum mengalami uji coba berkali-kali sehingga tidak diketahui ciri-ciri dan kebaikannya.

2) Tes terstandar (standardized test) yaitu tes yang biasanya sudah tersedia di lembaga testing, yang sudah terjamin keampuhannya. Tes terstandar merupakan tes yang sudah mengalami uji coba berkali-kali, direvisi berkali-kali sehingga sudah dapat dikatakan cukup baik.

Menurut Dimyati (2013: 73), bila dilihat dari segi bentuk jawabannya, maka tes dibedakan menjadi:

1) Tes tindakan, yakni tes yang diberikan kepada testee di mana testee harus melakukan kegiatan tertentu.

2) Tes verbal, yakni tes yang diberikan testee dalam bentuk pertanyaan baik menggunakan bahasa lisan maupun tulisan.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis tes bermacam-macam dapat dilihat dari segi pertanyaan, yaitu tes tertulis, lisan dan tes perbuatan, dari segi bentuk jawaban, yaitu tes tindakan dan verbal maupun dari segi pembuatnya yaitu tes buatan guru dan tes yang sudah terstandar.

c. Tes Yang Digunakan Dalam Penelitian

Penelitian yang dilakukan menggunakan tes perbuatan atau tes praktik yang digunakan untuk mengukur kemampuan praktik subjek yang diteliti. Menurut Arifin (2012: 149), “Tes perbuatan atau tes praktik adalah tes yang menuntut jawaban peserta didik dalam bentuk

(19)

perilaku, tindakan, atau perbuatan”. Sudijono (2008: 156) berpendapat bahwa, “Tes perbuatan pada umumnya digunakan untuk mengukur taraf kompetensi yang bersifat keterampilan (psikomotorik), dimana penilainya dilakukan terhadap proses penyelesaian tugas dan hasil akhir yang dicapai oleh testee setelah melaksanakan tugas tersebut”.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tes perbuatan adalah tes yang berbentuk praktik untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki oleh siswa dan instruksi tes diberikan langsung oleh testee. Penelitian ini menggunakan tes perbuatan karena di dalam penelitian ini anak diminta praktik melakukan proses memakai kemeja untuk menunjukkan kemampuanya. Pada setiap langkahnya akan dinilai oleh dua orang pengamat berdasarkan instrumen penilaian.

d. Kisi-Kisi Instrumen Tes

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Soal Tes Kemampuan Bina Diri pada Anak Tunagrahita Ringan

Materi Pokok Indikator Bentuk tes No

pertanyaan Memakai kemeja Mempersiapkan kemeja Perbuatan 1,2 Memasukan tangan kanan ke lengan Perbuatan 3,4 Mengancingkan kemeja dengan urut dan benar

Perbuatan 5,6

Mengecek kerapian Perbuatan 7,8 Rumus penilaian sebagai berikut:

(20)

F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian 1. Validitas Instrumen

Menurut Trianto (2011: 268), “Suatu instrumen penelitian dikatakan baik apabila memenuhi syarat valid dan reliabel. Instrumen yang valid/shahih ialah instrumen yang mampu mengukur apa yang diinginkan peneliti dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat”. Menurut Gray (1983) dalam Sukardi (2012: 121) suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur. Pendapat tersebut selaras dengan Sukmadinata bahwa, “Validitas instrumen menunjukkan bahwa hasil dari suatu pengukuran menggambarkan segi atau aspek yang diukur”. (2011: 228).

Menurut Sudjana (2013: 12), “Validitas berkenaan dengan ketetapan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai”. Dari pendapat tersebut dapat disimpukan validitas adalah cara yang digunakan untuk membuat suatu instrumen dapat digunakan sesuai dengan apa yang diinginkan dan menilai apa yang seharusnya dinilai sehingga hasil pengukuran sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Penelitian yang dilakukan menggunakan instrumen untuk observasi dan instrumen tes perbuatan. Validitas yang digunakan adalah validitas isi, hal ini karena menurut Sukardi (2012: 123), “Validitas isi adalah derajat dimana sebuah tes mengukur cakupan subtansi yang ingin diukur. Validitas isi pada umumnya ditentukan melalui pertimbangan para ahli”. Pendapat lain menurut Sukmadinata (2012: 229), “Validitas isi adalah berkenaan dengan isi dan format dari instrumen”.

Dengan demikian validitas isi yaitu untuk mengukur kesesuaian isi instrumen terhadap hasil yang ingin dicapai. “Untuk menetapkan validitas isi diperlukan adanya ahli bidang studi, ahli pengukuran, dan para pakar yang memiliki keahlian yang relevan dengan bidang kajinya” (Setyosari, 2013: 155). Hal tersebut selaras dengan pendapat Suryabrata (2005: 42), “Validitas isi

(21)

ditentukan melalui pendapat professional (professional judgement) dalam proses telaah soal. Uji validitas dilakukan oleh ahli yang dijabarkan sebagai berikut : Tabel 3.3 Nama-Nama Validator

No Nama Jabatan

1. Sugini, M.Pd Dosen PLB FKIP Universitas Sebelas Maret 2. Dewi Sri Rejeki, M.Pd Dosen PLB FKIP Universitas Sebelas Maret 3. Mahardika Supratiwi, S. Psi, MA Dosen PLB FKIP Universitas Sebelas Maret

2. Reliabilitas Instrumen

Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian haruslah sudah baik untuk digunakan, sehingga diperlukannya uji reliabilitas. “Reliabilitas adalah suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen tersebut sudah baik” (Arikunto: 2010). Pendapat lain menurut Azwar (2014: 7), “Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability. Suatu pengukuran yang mampu menghasilkan data yang memiliki tingkat reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (reliable)”. Sudjana (2013: 16) berpendapat bahwa, “Reliabilitas alat penilaian adalah ketetapan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya”. Dengan demikian reliabilitas adalah hasil pengukuran untuk menggambarkan bahwa instrumen yang diuji sudah dapat dipercaya.

Penelitian yang digunakan menggunakan reliabilitas metode hasil rating atau inter-rater untuk mengukur reliabilitas data instrumen. Menurut Azwar (2014: 88), “Rating adalah prosedur pemberian skor berdasarkan judgment subjektif terhadap aspek atau atribut tertentu, yang dilakukan melalui pengamatan sistematik secara langsung atau tidak langsung”. Pendapat lain menurut Kusaeri dan Suprananto (2012: 90), “Penskoran terhadap suatu instrumen atau tes non objektif melibatkan subjektivitas penyekor atau rater, perlu dihitung tingkat atau persentase persetujuan (agreement) masing-masing rater.” Menurut Azwar (2014: 88) “Bila rating dilakukan oleh beberapa orang raters maka makna reliabilitas hasil rating lebih merupakan konsistensi diantara para rater (interrater reliability)”.

(22)

Penilai yang digunakan dalam reliabilitas ini adalah validator instrumen. Hasil penilaian dari tiga oang validator mengenai instrumen yang telah dibuat akan dijadikan tolak ukur kereliabelan instrumen. Kesimpulan dari tiga orang validator relatif sama yang menunjukkan bahwa instrumen sudah reliabel dan dapat digunakan. Hasil reliabilitas inter-rater dijabarkan sebagai berikut:

Tabel 3.4 Hasl Realibilitas

No. Ahli Komentar Kesimpulan

1. Sugini, M.Pd Siap digunakan setelah direvisi kriteria penilaian baik dari observasi dan perilaku Hasil dari komentar validator bahwa instrumen dapat digunakan dengan sedikit revisi sehingga dengan demikian instrumen telah reliabel.

2. Dewi Sri Rejeki, M.Pd Dapat digunakan 3. Mahardika Supratiwi,

S.Psi. MA

Instrumen ok

G. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam model penelitian subjek tunggal menggunakan statistik deskriptif dan data yang disajikan berupa grafik. Arikunto (2010: 143) berpendapat bahwa, “Statistik deskriptif adalah suatu teknik pengolahan data yang tujuannya untuk melukiskan dan menganalisis kelompok data tanpa membuat atau menarik kesimpulan atas populasi yang diamati. Menurut Sukardi (2012: 86), “Mendeskripsikan data adalah menggambarkan data yang ada guna memperoleh bentuk nyata dari responden, sehingga lebih mudah dimengerti peneliti atau orang lain yang tertarik dengan hasil penelitian yang dilakukan. Berdasarkan pendapat kedua ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa statistik deskriptif atau mendeskripsikan data adalah teknik pengolahan data dengan cara menggambarkan hasil perolehan data agar data lebih mudah dipahami peneliti atau orang lain.

(23)

Sunanto, dkk (2005: 35) berpendapat bahwa, “Dalam proses analisis data pada penelitian subjek tunggal banyak mempresentasikan data ke dalam Gambar khususnya Gambar garis. Gambar yang digunakan dalam penelitian ini adalah Gambar garis, Gambar digunakan untuk menunjukkan data setiap sesinya”. Data yang diperoleh dari kemampuan siswa digambarkan dalam bentuk Gambar yang menunjukkan kemampuan awal anak memakai kemeja pada baseline 1 lalu setelah diberikannya intervensi pada baseline 2. Langkah-langkah dalam menganalisis keseluruhan data adalah menyusun data-data yang diperoleh dan dianalisis secara individual.

Pelaksanaan analisis data menggunakan analisis Analisis visual didasarkan pada tahap analisis dalam kondisi dan antar kondisi.. Menurut Suananto, dkk (2005: 104) membagi komponen analisis data visual sebagai berikut:

Komponen analisis visual untuk dalam kondisi meliputi enam komponen, yaitu: (1) panjang kondisi, (2) estimasi kecenderungan arah, (3) kecenderungan stabilitas , (4) jejak data, (5) level stabilitas dan rentang, dan (6) level perubahan. Sedangkan analisis visual untuk anar kondisi ada lima komponen, yatu: (1) jumlah variabel yang diubah, (2) perubahan kecenderungan dan efeknya, (3) perubahan stabiltas, (4) perubahan level, dan (5) data overlap.

Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah dimulai dari mengumpulkan hasil pengumpulan data yang diperoleh dari observasi, tes dan dokumentasi. Data diperoleh untuk mengetahui perbandingan kemampuan anak dalam bina diri atau pengembangan diri memakai kemeja yang muncul pada baseline 1 (kondisi awal sebelum diterapkannya backward chaining), Intervensi (diterapkannya backward chaining) dan baseline 2 (kondisi tanpa penerapan backward chaining).

Peneliti menghitung skor hasil tes memakai kemeja yang dilakukan oleh anak dengan kondisi awal sebelum diterapkannya backward chaining (baseline 1), selanjutnya peneliti menghitung skor kemampuan anak pada saat diterapkannya backward chaining (Intervensi), kemudian peneliti menghitung skor hasil tes memakai kemeja setelah diterapkan backward chaining (baseline 2). Tahap selanjutnya peneliti membandingkan hasil skor kemampuan pada anak yang diperoleh pada saat baseline 1, Intervensi, dan baseline 2, kemudian

(24)

diterapkan ke dalam sebuah kalimat dan terakhir menganalisis data yang diperoleh ke dalam bentuk Gambar dengan desain A-B-A

H. Prosedur Penelitian

Prosedur untuk melakukan penelitian dibagi menjadi tiga tahap: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pelaporan. Prosedur tersebut diuraikan dibawah ini:

1. Tahap Persiapan

a. Pengumpulan literatur b. Penentuan subjek penelitian c. Pembuatan proposal d. Pembuatan instrumen e. Uji validitas f. Perizinan 2. Tahap pelaksanaan a. Baseline 1 (A1)

Mengumpulkan informasi melalui observasi tentang kemampuan anak memakai kemeja sebelum diterapkannya backward chaining. Dilakukan sebanyak empat sesi.

b. Intervensi (B)

Memberikan perlakuan atau intervensi backward chaining dalam proses memakai kemeja. Dilakukan sebanyak sepuluh sesi.

c. Baseline 2 (A2)

Kegiatan pengulangan yang dilakukan sama dengan baseline 1 untuk mengevaluasi intervensi yang telah diterapkan dalam proses memakai kemeja. Dilakukan sebanyak empat sesi.

3. Tahap pelaporan

a. Melakukan pemeriksaan ulang terhadap data yang telah diperoleh b. Mengolah data dan mengujinya

Gambar

Tabel 3.1 Blue Print Instrumen Observasi
Tabel  3.2  Kisi-Kisi  Soal  Tes  Kemampuan  Bina  Diri  pada  Anak  Tunagrahita Ringan
Tabel 3.4 Hasl Realibilitas

Referensi

Dokumen terkait

Dengan m eneliti peran dari kepem im pinan transform asional terhadap kreativitas anggota organisasi dengan variabel identifikasi relasional anggota organisa si sebagai

dan keluarga, (2) Upaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui sensus, survei, dan pendataan keluarga, dan (3) Data dan informasi kependudukan dan

Apabila Dp sudah lunas maka pihak ahsana property akan membuat akad bay‟ istishna untuk mengikat perjanjian jual beli antara pembeli dan ahsana properti.”53 Selanjutnya dari

Kejang berkaitan tumor otak ini awalnya berupa kejang fokal (menandakan adanya kerusakan fokal serebri) seperti pada meningioma, kemudian dapat menjadi kejang umum

Upaya kesehatan lingkungan adalah upaya yang dilakukan oleh Puskesmas untuk menjadikan lingkungan yang sehat dalam rangka pencegahan terhadap penyakit

Memberikan bantuan peralatan mesin pemecah sampah dan mesin composter yang lebih baik dan kapasitas lebih besar kepada kelompok pupuk kompos “Pemuda Mandiri” dan

Pada Foto hasil Elektroforesis polyacrilamide terlihat bahwa jarak antara Band – Band DNA sangat dekat.Hal tersebut dapat disebabkan karena waktu yang digunakan untuk

Inkubasi tabung mikrosentrifus kedua selama 10 menit pada temperatur ruang (bolak-balikkan tabung 2-3 kali selama masa inkubasi) untuk melisis sel-sel darah