DISUSUN OLEH :
Nama : Yuniati
NIM : H0816139
Kelompok : 68
PROGRAM STUDI ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNS
SURAKARTA 2016
Laporan Praktikum Ilmu Tanah 2016
A. Jumantono
1. Hasil Pengamatan
a. Pencandraan Bentang Lahan
Lokasi : Jumantono
Hari/Tanggal : Sabtu, 1 Oktober 2016 Pukul : 13.00 – 14.30 WIB Nomor Profil : C
Surveyor : Kelompok 68 Jenis Tanah : Alvisol
Tabel 1.1 Deskripsi Lingkungan Profil Tanah
Diskripsi Hasil Pengamatan Diskripsi Hasil Pengamatan 1. Cuaca
Gambar 1.1 Gambar Profil Tanah Jumantono Tabel 1.2 Deskripsi Umum Profil Tanah
c. Pengamatan Sifat Fisika Tanah Tabel 1.3 Pengamatan Sifat Fisika Tanah
No Parameter Lapisan
d. Pengamatan Sifat Kimia Tanah
Tabel 1.4 Pengamatan Sifat Kimia Tanah Jumantono
a. Pencandraan bentang lahan
Pencandraan bentang lahan yang dilaksanakan di Jumantono pada hari Sabtu tanggal 1 Oktober 2016 pukul 13.00 – 14.30 WIB. Letak lahan yang digunakan pada pengamatan kali ini adalah pada latitude 070 37’49,4” LS dan longitude 1100 56’ 53,6” BT. Posisi titik pengamatan dapat diperoleh dengan menggunakan alat GPS (Global Positioning
System). Tinggi tempat yang digunakan untuk pengamatan ini adalah 151
m dpl. Perbandingan antara ketinggian perbedaan tanah dengan jarak horisontal disebut juga dengan lereng yang dinyatakan dalam persentase atau derajat. Ketinggian tempat diukur dengan menggunakan alat bernama altimeter.Pencandraan bentang lahan yang diamati adalah cuaca, posisi, tinggi tempat, lereng, fisiografi lahan, genangan atau banjir, tutupan lahan, vegetasi geologi, erosi dan batuan di permukaan. Sebagai surveyor adalah kami kelompok 68.
terdapat genangan dengan frekuensi sangat jarang dan durasi sangat singkat. Tutupan lahan yang terdapat disini merupakan tutupan tanaman
(crop cover) karena lahan ini ditutupi tanaman musiman tahunan yang
rapat serta tanaman selingan. Beberapa jenis tanaman yang terdapat di Jumantono adalah rambutan, pohon sawit, pohon jati, mangga, rumput, semak dll. Vegetasi kelapa sawit 7%, singkong 5%, pohon mangga 10%, jagung 2%, pohon jati 15%, rumput 25%, pohon pisang 1%, semak 20%, pohon rambutan 5%, kacang tanah 5%, dan lengkuas 5%.
Tanah di Jumantono ini terbentuk dari bahan induk yang berupa batuan induk. Batuan-batuan induk tersebut melalui gaya endogen membentuk tanah.Tingkat erosi yang terjadi di lokasi ini termasuk erosi alur (Riil erosion), maksudnya erosi yang menyebabkan terbentuknya saluran air kecil-kecil, erosi ini memiliki tingkat bahaya yang termasuk kategori rendah. Batuan di permukaan berjumlah <0,1% dari luas permukaan.
Tanah memiliki sifat yang bervariasi, yaitu terdiri dari sifat fisik, kimia dan biologi. Dengan bervariasinya sifat-sifat tersebut, maka tingkat kesuburan pada berbagai jenis tanah bebeda-beda pula, karena kesuburan suatu tanah tergantung pada sifat-sifat tersebut. Oleh sebab itu, perlu bagi kita mengetahui karakteristik suatu tanah sehingga kita dapat memanfaatkan tanah tersebut sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Diperlukannya evaluasi lahan untuk pelaksanaan survey atau penelitian bentuk bentang lahan, sifat dan distribusi tanah, macam dan distribusi vegetasi, dan aspek-aspek lahan yang lainnya (Ferdinan,2013).
menghasilkan meterial yang memiliki komposisi berbeda dengan bahan aslinya (proses disolusi, hidrolisis, asidolisis dan oksidatif (Sutanto, 2005).
b. Penyidikan profil tanah
Profil tanah merupakan suatu kumpulan berbagai macam lapisan tanah. Horizon-horison itu diberi tanda dengan huruf , lapisan atas sampai bawah yaitu A , B , C. Horison A adalah bagian profil tanah yang terdiri dari seresah bahan organik segar sisa tanaman,hewan, serta bahan organik yang telah diuraikan. Horison B adalah lapisan dimana terkumpul unsur-unsur yang berasal dari horizon A yang telah terurai sehingga terjadi pengumpulan hasil penguraian tersebut. Sedangkan horizon C adalah lapisan bahan induk (Aak, 2007).
Profil tanah atau penampang tanah digunakan untuk mempelajari sifat-sifat morfologi tanah. Pembuatan profil tanah hendaknya dibuat pada tempat representative dari seluruh cakupan wilayah yang dipelajari. Profil tanah dibuat dengan cara menggali tanah ukuran tertentu dengan persyaratan lokasi tertentu (Raharjo, 2012).
Pada praktikum kali ini untuk mengamati profil tanah dilakukan dengan metode pengamatan lubang kecil (SP/Smallpit). Dalam mengamati profil tanah, dibuat terlebih dahulu pedon tanah dengan ukuran < 1 x 2 m. Dalam pembuatan profil, yang perlu diperhatikan adalah harus tegak (vertikal), baru, tidak terkena cahaya matahari secara langsung. Tanah Alvisol pada profil 2, terdiri atas 4 Horison. Batas-batas Horison dapat diketahui dengan beberapa cara, yaitu dengan pengamatan perbedaan warna, menusuk-nusuk tanah dengan pangkal belati. Ketegasan pada horison-horison adalah baur dengan jumlah sedikit dan ukuran sedang. Kondisi perakaran semakin ke bawah horison semakin sedikit karena daya tembus akar dalam tanah dan kemampuan akar tumbuhan menyerap air serta unsur hara (humus) semakin berkurang.
4. Lapisan 1 memiliki kedalaman 0-7 cm. Kelas ketegasan batas horizon baur dengan bentuk atau topografi batas horizon rata. Perakaran pada lapisan ini memiliki ukuran sangat halus dan jumlah akar banyak. Pada lapisan A2 memiliki kedalaman 7-22 cm. Kelas ketegasan batas horizon baur dengan bentuk atau topografi batas horizon rata. Perakaran pada lapisan ini memiliki ukuran sangat halus dan jumlah akar biasa. Pada lapisan 3 memiliki kedalaman 22-40 cm. Kelas ketegasan batas horizon baur dengan bentuk atau topografi batas horizon rata. Perakaran pada lapisan ini memiliki ukuran sedang dan jumlah akar sedikit. Dan pada lapisan 4 kelas ketegasan horisonnya adalah baur dengan bentuk atau topografi batas horison rata. Perakaran pada lapisan ini memiliki ukuran halus dengan jumlah akar yang sedikit.
c. Sifat fisika tanah
Beberapa sifat fisika yang perlu diketahui adalah Warna tanah, Tekstur tanah, Struktur tanah , Konsistensi tanah , Bobot isi (Bulk density) dan bobot jenis (Partcle’s density), Kedalaman efektif tanah, dan sifat-sifat lain yang terkait, Drainase, Permeabilitas tanah, Potensi mengembang dan mengkerut, Indek pengembangan dan kematangan tanah (nilai n) (Epetani, 2010).
Struktur tanah adalah penyusun antar partikel tanah primer (bahan mineral) dan bahan organik serta oksida, membentuk agregat sekunder. Gatra agregat tanah meliputi bahan padatan dan pori tanah. Pembentukan struktur sangat tergantung pada bahan primer (mineral dan organik) yang mengalami segmentasi oleh CaCO3 serta Fe dan Al hidroksida sehingga terbentuk unit struktur yang disebut agregat. Satuan struktur tanah kemungkinan dapat dibedakan atas ped (agregat permanen alamiah) dan fragmen (gat permanen buatan). Ped kemungkinan diberikan berdasarkan bentuk dan proses penyusunan, ukuran dan penampakan. Berdasarkan hal tersebut di atas struktur tanah dapat diklasifikasikan menurut tipe, kelas/ukuran, dan derajat struktur (Sutanto, 2005).
ukuran halus dan derajat kekerasan struktur tanah sedang. Konsistensi tanah 1 ini teguh dengan warna tanah tipe 2,5YR2,5/4. Dan pada lapisan tanah A2 memiliki tekstur tanah geluh lempungan (CL/Clay loam) dan struktur tanah gumpal menyudut dengan ukuran sedang dan derajat kekerasan struktur tanah sedang. Konsistensi tanah ini teguh dengan warna tanah tipe 2,5YR4/4. Pada lapisan tanah 3 memiliki tekstur tanah lempung (C/Clay) dan struktur tanah gumpal menyudut dengan ukuran sedang dan derajat kekerasan struktur tanah sedang. Konsistensi tanah ini teguh dengan warna tanah tipe 2,5YR3/4. Sedangkan pada lapisan tanah 4 tekstur tanahnya adalah geluh (Loam) dan struktur tanah gumpal menyudut dengan ukuran kasar dan derajat kekerasan struktur tanah sedang. Konsistensi tanah ini teguh dengan warna tanah tipe 2,5YR3/4. d. Sifat Kimia Tanah
Pengamatan sifat kimia tanah meliputi pengamatan redoks, pH tanah, kadar kapur, bahan organik, dan konsentrasi. Pengukuran tingkat aerasi dan drainase dilakukan dengan metode reaksi reduksi dan oksidasi yang terjadi pada tanah dengan menggunakan reagenHCl 1,2N; KCNS 10% dan K3Fe(CN)6 0,5%. Aerasi dan drainase erat hubungannya dengan kemampuan tanah dalam menyediakan air dan udara. Reaksi redoks yang ditunjukkan pada lapisan 1, 2, 3, dan 4adalah sangat baik.
Colorimetris adalah metode dalam pengukuran nilai pH dengan menggunakan larutan indikator dan kertas pH.pH tanah itu sendiri adalah konsentrasi ion H+ yang ada dalam tanah dan terkandung pada larutan tanah maupun di bagian kompleks tanah. Berdasarkan hasil pengamatan, tanah pada lapisan 1, 2, 3, dan 4 yang diberikan H2O mempunyai pH 5 dan lapisan tanah 1, 2, 3 dan 4 yang diberikan KCl juga mempunyai pH 5 sehingga dapat disimpulkan bahwa tanah di lahan Jumantono ini memiliki sifat masam.
bahan organik dalam tanah dapat diketahui dengan cara menetesi sampel tanah dengan H2O2 10 %. Kadar kapur ditentukan dengan cara menetesi sampel tanah dengan HCl 10%. Lapisan 1, 2, 3, dan 4 mengandung sangat banyak bahan organik, lapisan 1, 2, 3, dan 4 tidak mengandung kapur.Kandungan bahan organik mempengaruhi kesuburan tanah.Semakin sedikit bahan organiknya semakin kurang subur tanahnya, demikian pula sebaliknya.
Kandungan bahan organik dalam tanah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilan suatu budidaya pertanian. Hal ini dikarenakan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisika maupun biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organik dilakukan berdasarkan jumlah C-Organik. Bahan organik tanah sangat menentukan interaksi antara komponen abiotik dan biotik dalam ekosistem tanah. Kandungan bahan organik dalam bentuk C-organik di tanah harus dipertahankan tidak kurang dari 2%, agar kandungan bahan organik dalam tanah tidak menurun karena waktu akibat prosedekomposisi mineralisasi maka sewaktu pengolahan tanah penambahan bahan organik mutlak harus diberikan setiap tahun (Supriyono, 2009).
B. Jatikuwung
1. Hasil pengamatan
a. Pencandraan Bentang Lahan Lokasi : Jatikuwung
Hari/Tanggal : Sabtu, 24 September 2016 Pukul : 14.30 – 16.00 WIB
Nomor Profil : 3
Surveyor : Kelompok 68 Jenis Tanah : Vertisol
Tabel 1.1 Deskripsi Lingkungan Profil Tanah
Diskripsi Hasil
Ekstrim Singkat (EB)
8. Tutupan Lahan 9. Geologi
b. Penyidikan Profil Tanah
Gambar 1.1 Gambar Profil Tanah Jatikuwung Tabel 1.2 Deskripsi Umum Profil Tanah
c. Pengamatan Sifat Fisika Tanah
Tabel 1.3 Pengamatan Sifat Fisika Tanah
No Parameter Lapisan
d. Pengamatan Sifat Kimia Tanah
Tabel 1.4 Pengamatan Sifat Kimia Tanah Jatikuwung
a. Pencandraan bentang lahan
Istilah bentang lahan berasal dari kata landscape (Inggris), atau landscap (Belanda) dan landschaft (Jerman). Secara umum berarti pemandangan. Arti pemandangan mengandung 2 (dua) aspek, yaitu: (a) aspek visual dan (b) aspek estetika pada suatu lingkungan tertentu (Widiyanto et all, 2006).
Pencandraan bentang lahan yang dilaksanakan di Jatikuwung pada hari Sabtu tanggal 24 September 2016 pukul 13.00-14.30 WIB. Letak lahan yang digunakan pada pengamatan kali ini adalah pada
latitude 070 31’51” LS dan longitude 1100 50’25” BT. Posisi titik pengamatan dapat diperoleh dengan menggunakan alat GPS (Global
Positioning System). Tinggi tempat yang digunakan untuk pengamatan
Pada saat melakukan praktikum, cuaca yang ada di Jatikuwung adalah berawan tebal (Overcast). Lokasi ini merupakan lereng yang sangat miring dengan kemiringan lereng sebesar 10%, panjang 10 m dengan arah 200o menghadap ke selatan. Fisiografi lahan di Jatikuwung adalah vulkanik. Di lokasi ini tidak terdapat genangan dengan frekuensi tidak pernah dan durasi ekstrim singkat. Tutupan lahan yang terdapat disini merupakan rumput dengan macam vegetasipohon mangga (15%), pohon pisang (5%), rumput teki (35%), dan rumput gajah (45%). Pada lahan ini terjadi erosi permukaan/ lembar dengan tingkat bahaya erosi rendah. Batuan di permukaan berjumlah 1% dari luas permukaan.
Sifat tanah beragam ke arah samping (lateral) dan ke arah acak
(vertical) menurut keragaman faktor-faktor lingkungan yang
mempengaruhi pembentukan tanah. Tampakan tanah yang berkaitan dengan pola agihan acak sifat-sifat tanah disebut morfologi tanah. Bidang irisan tegak sepanjang tubuh tanah yang menampakan morfologi tanah disebut profil tanah. Profil tanah dipergunakan mengklasifikasikan tanah. Pola agihan menyamping sifat-sifat tanah dipergunakan memilahkan daerah bentangan kelas-kelas tanah dalam pemetaan tanah ( Notohadiprawiro, 2008).
b. Penyidikan profil tanah
Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran (panjang dan lebar)tertentu dan kedalaman yang tertentu pula sesuai dengan keadaankeadaan tanah dan keperluan penelitian. Tekanan pori diukur relativeterhadap tekanan atmosfer dianamakan muka air tanah. Tanah yangdiasumsikan jenuh walaupun sebenarnya tidak demikian karena ada rongga-rongga udara (Suhardi, 2009).
wilayah yang dipelajari. Profil tanah dibuat dengan cara menggali tanah ukuran tertentu dengan persyaratan lokasi tertentu (Raharjo, 2012).
Pada praktikum kali ini dilakukan dengan metode pengamatan lubang kecil (SP/Small Pit). Dalam mengamati profil tanah, dibuat terlebih dahulu pedon tanah dengan ukuran < 1x2 m. Dalam pembuatan profil, yang perlu diperhatikan adalah harus tegak (vertikal), baru, tidak terkena cahaya matahari secara langsung. Tanah pada profil 3, terdiri atas 3 Horison. Setiap horison tersebut memiliki batas-batas yang berbeda-beda. Batas-batas Horison dapat diketahui dengan beberapa cara, yaitu dengan pengamatan perbedaan warna dan menusuk-nusuk tanah dengan pangkal belati. Ketegasan pada horison-horison adalah baur dengan jumlah sedikit dan ukuran sedang. Kondisi perakaran semakin ke bawah horison semakin sedikit karena daya tembus akar dalam tanah dan kemampuan akar tumbuhan menyerap air serta unsur hara (humus) semakin berkurang. Masing-masing horison memiliki kedalaman yang berbeda-beda saatu sama lain.
Pada praktikum kali ini diketahui bahwa tanah di Jatikuwung memiliki tiga horison yaitu horison 1, horison 2 dan horison 3. Horizon 1 memiliki kedalaman 0-37 cm. Kelas ketegasan batas horizon baur/diffuse dengan bentuk atau topografi batas horizon berombak. Perakaran pada lapisan ini memiliki ukuran kasar/coarse dan jumlah akar banyak. Pada horizon 2 memiliki kedalaman 37-58 cm. Kelas ketegasan batas horizon baur/diffusedengan bentuk atau topografi batas rata. Perakaran pada lapisan ini memiliki ukuran halus/fine dan jumlah akar biasa. Dan pada horison 3 kedalamannya adalah 58-81 cm. Kelas ketegasan batas horisonnya adalahh baur/diffuse dengan bentuk atau topografi batas rata/smooth.
Sifat fisika yang diamati pada praktikum ini adalah tekstur, struktur, konsistensi, warna dan ketahanan penetrasi atau daya topang statika.
Tekstur tanah menunjukkan kasar atau halusnya suatu tanah. Tekstur tanah merupakan perbandingan relatif pasir, debu, liat atau kelompok partikel dengan ukuran lebih kecil dari kerikil (diameternya kurang dari 2 mm). Pada beberapa tanah, kerikil, batu, dan batuan induk dari lapisan-lapisan tanah yang ada juga mempengaruhi penggunaan tanah. Tekstur tanah adalah perbandingan relatif antara fraksi pasir, fraksi debu, dan fraksi lempung. Tekstur tanah yang baik adalah tekstur tanah geluh dimana perbandingan antara fraksi pasir, debu dan lempung seimbang (Lalopua, 2007).
Contoh tanah utuh digunakan untuk penetapan sifat-sifat fisik tanahseperti kerapatan isi, distribusi ruang pori, permeabilitas dan kurva pF. Contoh tanah agregat utuh juga digunakan untu penetapan stabilitas agregat dan emempuan tanah mengembang dan mengkerut atau disebut nilai COLE ( Coefficient Of Linear Extensibilty ). Contoh tanah terganggu digunakan untuk penetapan tekstur tanah atau sifat-sifat kimia tanah, seperti pH, kandungan bahan organik, kandungan unsure hara, KTK, dan lain sebagainya. Jumlah Bakteri Pelarut Fosfat (P) Bakteri pelarut P pada umumnya dalam tanah ditemukan di sekitar perakaran yang jumlahnya berkisar 103 – 106 sel/g tanah. Bakteri inidapat menghasilkan enzim Phosphatas emaupun asam-asam organik yang dapat melarutkan fosfat tanah maupun sumber fosfat yang diberikan (Mardiana, 2006).
Dalam penentuan di lapangan digunakan cara kualitatif yaitu dengan merasakan tingkat kasar, licin, dan lengketnya tanah. Tekstur tanah yang dimiliki horison 1,2, dan 3 memiliki tekstur geluh lempung debuan, lempung pasiran, dan geluh lempung debuan.
proses pedogenesis. Hal yang diamati meliputi tipe, ukuran dan derajad kekerasan struktur tanah. Pengamatan struktur pada setiap horison adalah mempunyai tipe gumpal menyudut (angular blocky). Horison 1 memiliki ukuran sangat halus, horison 2 memiliki ukuran halus, dan horison ketiga juga memiliki ukuran halus.Dengan konsistensi yang merupakan derajad ketahanan tanah dari perubahan bentuk atau perpecahan oleh tekanan yang dipengaruhi kohesi dan adhesi. Tekanan yang dilakukan dengan cara memeras, memiijit, dan memirit tanah dalam keadaan yang sebenarnya di lapangan. Tingkat konsistensi tanah untuk horison 1 adalah keras, horison 2 agak keras, dan horison 3 lunak. Warna untuk masing-masing horison ditentukan menggunakan buku Standar Warna Tanah Munsell (Munsell Soil Color Chart atau MSCC). Untuk horison 1 warnanya adalah 10YR6/4, horison 2 warnanya adalah 10YR4/3, dan untuk horison terbawah warnanya adalah 10YR3/3. Penetrasi merupakan uji ketebalan menggunakan Penetrometer dengan satuan kg/cm2. Cara yang digunakan adalah secara manual baik horisontal dan vertikal menggunakan tusukan ibu jari. Dari hasil pengamatan penetrasi horizontal sebesar 2,5 kg/cm2 pada horison pertama, 1,5 kg/cm2 pada horison kedua dan ketiga. Sedangkan penetrasi vertikal sebesar 4,5 kg/cm2.
d. Sifat kimia tanah
digunakan metode kalorimetri yaitu mengunakan kertas pH atau pH stick yang dicelupkan kedalam larutan tanah. Dari hasil pengamatan pada ketiga horison diketauhi memiliki pH atau kemasaman dengan nilai 5 pada kedua larutan.Pengukuran tingkat aerasi dan drainase dilakukan dengan metode reaksi reduksi dan oksidasi yang terjadi di dalam tanah. Cara menganalisisnya yaitu dengan memberikan larutan HCl 1,2 N pada dua bongkahan tanah yang diletakan pada kertas saring lai kertas saring dilipat dan ditekan hingga cairan dalam bongkahan terperas oleh kertas saring. Kemudian salah satu bongkah diberi larutan KCNS 10% dan yang lain diberi larutan K4Fe(CN)6 6% selanjutnya masing-masing bongkah tanah ditekan sekali lagi lalu diamati warna yang timbul (Ruhimat 2007). Dari hasil pengamatan dapat ditafsirkan warna yang timbul adalah merah nyata diserati hijau (oksidai kuat / baik) pada ketiga horizon.
Pengukuran kadar bahan organik dengan cara menetesi bongkahan dengan larutan H2O2 lalu dilihat buih yang timbul. Dari hasil pengamatan kadar bahan organik pada ketiga horison adalah banyak timbul buih yang menunjukkan bahwa tanah di Jatikuwung mengandung banyak bahan organik. Kandungan kapur dalam tanah akan mempengaruhi reaksi kimia tanah. Pengukuran kadar kapur dengan cara menetesi bongkahan dengan larutan HCl lalu dilihat reaksi yang timbul dari hasil pengamatan didapat bahwa tidak ada buih yang terjadi sehingga kadar kapur dalam ketiga horison tidak ada karena tidak ada reaksi apapun.
C. Colomadu
1. Hasil Pengamatan
a. Pencandraan Bentang Lahan
Lokasi : Colomadu
Hari/Tanggal : Sabtu, 01 Oktober 2016 Pukul : 13.00 – 14.30 WIB Nomor Profil : A
Surveyor : Kelompok 68 Jenis Tanah : Regosol/Inseptisol
Tabel 1.1 Deskripsi Lingkungan Profil Tanah
Diskripsi Hasil Pengamatan Diskripsi Hasil Pengamatan
1. Cuaca
8. Tutupan Lahan 9. Geologi
Jumlah 3-15% dari luas permukaan Pohon Pisang 50% Pohon Mangga 10% Semak 40%
b. Penyidikan Profil Tanah
Gambar 1.1 Gambar Profil Tanah Colomadu Tabel 1.2 Deskripsi Umum Profil Tanah
c. Pengamatan Sifat Fisika Tanah
Tabel 1.3 Pengamatan Sifat Fisika Tanah
d. Pengamatan Sifat Kimia Tanah
Gambar 1.2 Pengamatan Sifat Kimia Tanah Tabel 1.4 Pengamatan Sifat Kimia Tanah Colomadu
No
. Parameter
Lapisan
1 2 3 4 5
1. 2.
3.
4.
Redoks Kadar
a. Bahan Organik b. Kapur
Konsentrasi a. Jenis b. Ukuran c. Macam
++++ ++++ ++++ +++ +++
Sumber : Boadlist 2. Pembahasan
a. Penyandraan Bentang Lahan
oleh interaksi dan interpen-densi antara bentuklahan, batuan, bahan pelapukan batuan, tanah, air, udara, tetumbuhan, hewan, laut tepi pantai, energi dan manusia dengan segala aktivitasnya, yang secara keseluruhan membentuk satu kesatuan (Arief, 2009).
Pencandraan bentang lahan yang dilaksanakan di Colomadu pada hari Minggu, 25September 2016pukul 13.00-14.30 WIB memiliki ketinggian 142 m dpl dan terletak pada latitude 070 31’ 57,198” dan longitude 1100 45’ 33,114”. Pencandraan yang dilakukan meliputi cuaca, posisi, tinggi tempat, lereng, fisiologi lahan, genangan atau banjir, tutupan lahan, vegetasi, geologi, erosi, dan batuan permukaan. Dan sebagai surveyor adalah kelompok 68.
Pada saat praktikum, cuaca di lokasi dalam keadaan berawan sebagian. Lokasi ini merupakan lereng yang hampir datar dan memiliki kemiringan 3%, panjang 16,8 m dengan arah 119o menghadap ke timur. Fisiografi lahan di Colomadu merupakan vulkanik. Tutupan lahan yang terdapat adalah tutupan pohon dengan vegetasi berupa pohon pisaang sebesar 50%, pohon mangga sebesar 10%, dan semak sebesar 40%. Di lokasi ini tidak terdapat genangan dengan frekuensi tidak pernah terjadi genangan. Erosi yang terbentuk adalah erosi permukaan (sheet errosion). Batuan permukaan berjumlah 3-5 % dari luas permukaan; jarak antar batuan kecil sekitar 0,5 m dan antara batuan besar sekitar 1 m.
b. Penyidikan Profil Tanah
Profil adalah penampang melintang vertikal tanah yang terdiri dari lapisan tanah (solum) dan lapisan bahan induk. Cara pembuatan profil tanah adalah dengan membuat paprasan tanah ataupun galian yang vertikal pada tanah tersebut. Syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan pengamatan pada profil tanah antara lain profil harus tegak, baru, tidak terkena sinar matahari secara langsung, bukan daerah genangan, dan bukan daerah urugan. Untuk menentukan batas horison dapat dilakukan melalui 3 cara yaitu perbedaan warna, menusuk-nusuk tanah dengan belati dan diamati kekerasannya menggunakan alat penetrometer, serta memukul-mukul tanah dengan gagang belati dan memperhatikan perbedaan suaranya untuk menentukan lapisan atau horison dari tanah tersebut (Pramono, 2005).
Metode yang digunakan dalam pengamatan ini adalah metode
smallpit/lubang kecil.Pada praktikum ini yang diamati adalah profil .
Pada profil di Colomadu ditemukan 5 lapisan tanah atau horison. Lapisan 1 mempunyai kedalaman 0-25 cm. Kelas ketegasan batas horizon pertama adalah berangsur dengan topografi tak beraturan
(irregular). Pada lapisan pertama ditemukan perakaran dengan ukuran
Tanah alfisol cukup produktif untuk pengembangan berbagai komoditas tanaman pertanian mulai tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Tingkat kesuburan (secara kimiawi) tergolong baik. pH-nya rata-rata mendekati netral. Di seluruh dunia diperkirakan Alfisol penyebarannya meliputi 10% daratan (Notohadiprawiro, 2009).
c. Sifat Fisika Tanah
Sifat fisika tanah adalah sifat tanah yang dapat dilihat dan diamati secara fisik. Sifat fisika yang diamati pada praktikum kali ini antara lain tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, dan warna. Tekstur tanah yaitu perbandingan antara fraksi-fraksi penyusun massa tanah yang meliputi lempung, debu, dan pasir. Dilapangan tekstur tanah diukur dengan menggunakan indera perasa dengan memijit tanah diantara ibu jari sambil dirasakan halus kasarnya
(Raharjo, 2012).
Metode ini bersifat subjektif. Setelah diamati, diketahui bahwa pada profil ini, lapisan 1 teksturnya adalah geluh debuan (silty loam) lapisan 2 berupa lempung debuan(silty clay), lapisan ketiga dan keempat memiliki tekstur yang sama yaitu geluh lempung pasiran
(silty clay loam). Dan pada lapisan terakhir memiliki tekstur geluh
(loam).
dan derajad kekerasannya juga sedang. Lapisan terakhir memiliki struktur tanah lempeng (PL/Platy)dengan ukuran sangat halus dan derajad kekerasannya sedang.
Konsistensi tanah adalah ketahanan tanah terhadap perubahan bentuk atau perpecahan yang ditentukan oleh sifat kohesi dan adhesi dan dipengaruhi struktur, dan bahan organik. Profil tanah yang diamati ditentukan dengan meremas massa tanah dengan telapak tangan. Lapisan pertama hingga keempat memiliki konsistensi tanah yang sama yaitu lembab. Sedangkan lapisan kelima memiliki konsistensi tanah lembab gembur.
Sifat selanjutnya yang diamati adalah warna tanah, yang merupakan ciri tanah yang paling nyata dan mudah ditentukan, dan dapat digunakan untuk menaksir tingkat pelapukan, menilai kandungan bahan organik, menaksir banyaknya kandungan mineral, menilai keadaan drainase dan melihat perbedaan horizon. Semakin gelap warna tanah maka kandungan bahan organik dalam tanah semakin tinggi pula dan juga sebaliknya. Untuk menentukan warna tanah kita gunakan Munsell Soil Colour Chart (MSCC). Tanah pada lapisan pertama memiliki warna dengan angka 10R2,5/2. Lapisan kedua memiliki warna dengan angka 10R3/2, lapisan ketiga memiliki warna dengan angka pada MSCC 10R3/3. Lapisan keempat memiliki warna dengan angka 2,5YR2,5/3 dan lapisan terakhir memiliki warna dengan angka 5YR4/4.
untuk melewati massa tanah (perkolasi, waktu per jarak) (Hanafiah, 2005).
d. Sifat Kimia Tanah
Komponen kimia dalam tanah berperan dalam penentuan sifat dan ciri tanah pada umumnya, dan kesuburan tanah pada khususnya. Sifat kimia dapat menunjukkan unsur-unsur yang tersedia dalam tanah, lanjut tidaknya perkembangan tanah dan sebagainya. Sifat kimia tanah yang diamati antara lain kandungan bahan organik, kandungan kapur dan konsentrasi. pH tanah menunjukan intensitas keasaman suatu sistem tanah, sedangkan kapasitas keasaman menunjukkan takaran ion H+ terdisosiasi, ditambah H+ tidak terdisosiasi di dalam sisterm tanah (Epetani, 2010).
Dalam pengamatan ini mengunakan dua larutan, yaitu larutan air bebas ion atau aquades (H2O) dan larutan KCl 1 N. Dalam hal ini menggunakan menggunakan indikator kertas pH atau pH stick yang dicelupkan pada larutan tanah, yang telah dicampur dengan larutan H2O dengan perbandingan tanah dengan air sekitar 1:2,5 hingga homogen dan didiamkan beberapa saat. Setelah itu pH stick dicelupkan, jangan sampai terkena endapannya.
Dalam uji kemasaman menggunakan dua macam pH yaitu pH H2O (pH aktual) dan pH KCl (pH potensial). pH aktual diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah. pH potensial diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah dan kompleks pertukaran ion. Semakin tinggi konsentrasi H+ maka semakin tinggi kemasaman reaksi tanah dan pH nya semakin menurun atau rendah.Pada praktikum kali ini tanah di Colomadu memiliki pH sebesar 5 dengan reaktan kedua larutan tersebut.
akan mempengaruhi reaksi kimia tanah. Pengukuran kadar kapur dengan cara menetesi bongkahan dengan larutan HCl lalu dilihat reaksi yang timbul dari hasil pengamatan didapat bahwa terdapat sangat sedikit buih yang terjadi sehingga kadar kapur dalam ketiga horison adalah sangat sedikit.
D. Analisis Laboratorium 1. Hasil Pengamatan
a. Jumantono
1) Analisis Lengas Tanah Jumantono
No Parameter 0,5 CTKA2 Bongkah
1 Analisis Lengas Tanah Ulangan 1 3 Kadar Lengas
Maksimum 4 Batas Berubah Warna
- A
Sumber: Laporan Sementara 2) Analisis pH Tanah
NO Parameter CTKA
0,5 2
1 pH H2O 6,37
-2 pH KCl 5,07
-Sumber : Laporan Sementara 3) Analisis Struktur Tanah
Tabel 4.6 Bobot Volume Tanah Jumantono Ctka ᴓ
3,221 4,345 30 34 1,188
Sumber: Laporan Sementara
Tabel 4.7 Bobot Jenis Tanah Jumantono
Ctka
2 21,685 46,749 26,5
27
49,4
22 31
oC 0,9957 29oC 0,9960 2,2263
Sumber: Laporan Sementara
Tabel 4.7 Porositas Tanah Jumantono
BV BJ N
1,188 2,2263 46,63 %
b. Jatikuwung
1) Analisis Lengas Tanah Jatikuwung
No Parameter CTKA
0,5 2 Bongkah
1 Analisis Lengas Tanah Ulangan 1 3 Kadar Lengas
Maksimum 4 Batas Berubah Warna
2) Analisis pH Tanah
Tabel 4.5 pH Tanah Jatikuwung
NO Parameter CTKA
0,5 2
1 pH H2O 7,4
-2 pH KCl 6,1
-Sumber : Laporan Sementara 3) Analisis Struktur Tanah
Tabel 4.6 Bobot Volume Tanah Jatikuwung Ctka ᴓ
2,441 2,574 30 31,75 1,108
Sumber: Laporan Sementara
Tabel 4.7 Bobot Jenis Tanah Jatikuwung Ctka Tabel 4.7 Porositas Tanah
BV BJ N
1,108 2,0788 46,8 %
c. Colomadu
1) Analisis Lengas Tanah Colomadu
No Parameter CTKA
0,5 2 Bongkah
1 Analisis Lengas Tanah Ulangan 1 3 Kadar Lengas
Maksimum 4 Batas Berubah Warna
2) Analisis pH Tanah
Tabel 4.5 pH Tanah Colomadu
NO Parameter CTKA
0,5 2
1 pH H2O 6,85
-2 pH KCl 5,84
-Sumber : Laporan Sementara 3) Analisis Struktur Tanah
Tabel 4.6 Bobot Volume Tanah Colomadu Ctka ᴓ
3,665 3,845 30 32 1,899
Sumber: Laporan Sementara
Tabel 4.7 Bobot Jenis Tanah Colomadu Ctka Tabel 4.7 Porositas Tanah
BV BJ N
1,899 2,0918 9,21 %
2. Pembahasan a. Jumantono
1) Analisis Lengas Tanah
Tanah memiliki kualitas yang berbeda disetiap wilayah. Pada tahun 1994 Soil Science Society of America (SSSA) telah mendefinisikan kualitas tanah sebagai kemampuan tanah untuk menampilkan fungsi-fungsinya dalam penggunaan lahan atau ekosistem untuk menopang produktivitas biologis, mempertahankan kualitas lingkungan, dan meningkatkan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan (Agehara et all, 2005).
Lengas tanah merupakan air yang terdapat dalam tanah yang terikat oleh berbagai kakas (matriks, osmosis, dan kapiler). Kakas ini meningkat sejalan dengan peningkatan permukaan jenis zarah dan kerapatan muatan elektrostatik zarah tanah. Tegangan lengas tanah juga menentukan berapa banyak air yang dapat diserap tumbuhan. Keberadaan lengas tanah dipengaruhi oleh energi pengikat spesifik yang berhubungan dengan tekanan air, keberadaan gravitasi, dan tekanan osmosis apabila tanah dilakukan pemupukan dengan konsentrasi tinggi (Sutanto, 2005).
a. Lengas Tanah Kering Angin
Kadar lengas tanah kering angin yang dimiliki oleh ctka 0,5 mm, 2 mm dan bongkahan secara berurutan adalah 18,60%; 18,73%; dan 10,55%. Apabila kadar lengas tanah semakin rendah maka tingkat aerasi dan drainase akan semakin baik karena dapat meloloskan air dengan mudah. Tingkat aerasi dan drainase dari tinggi ke rendah yaitu ctka dengan ukuran bongkahan, 0,5 mm, dan 2 mm.
b. Kapasitas Lapang Tanah
Kapasitas lapang dari tanah alfisol Jumantono menggunakan ctka 2 mm. Berat a sebesar55,286 gr, berat b 68,240 gr, berat c 65,020 gr melalui perhitungan dengan rumus
KL = (b−c)
adalah 33,07%.Bila diketahui tanah dengan kandungan bahan organik tinggi maka akan mempunyai kapasitas penyangga yang rendah apabila basah. Kemampuan tanah dalam menyimpan air termasuk air hujan akan menentukan spesies yang tumbuh di dalam tanah.
c. Kadar Lengas Maksimum Tanah
Analisis lengas maksimum menggunakan ctka 2 mm dengan satu kali pengulangan. Dengan 4 data berat a, b, c, dan d. Berat a 47,883 gram, berat b 108,747 gram, berat c 89,809, dan berat d 43,266 gram. Dari data tersebut dapat diperoleh hasil untuk lengas maksimum adalah 30,76%.
d. Batas Berubah Warna (BBW)
Tingkat Batas Berubah Warna (BBW) tanah alfisol Jumantono sebesar 15,26% dan harkatnya termasuk pada tingkatan sedang.
2) Analisis pH Tanah
Kemasamaan atau pH tanah adalah ukuran aktifitas ion hidrogen dalam larutan tanah. Nilai pH diperoleh dari logaritma negatif konsentrasi ion hidrogen. pH tanah diperoleh dengan air murni yang mempunyai kadar ion hidrogen sama dengan kadar ion hidrogen yaitu 10-7, sehingga air murni memiliki pH sebesar 7. pH tanah sangat memengaruhi status ketersediaan dan keseimbangan unsur hara yang diperlukan tanaman (Sutanto, 2005).
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dalam pH. Nilai pH menunjukkan konsentrasi ion [H+]. Kemasaman tanah ditentukan oleh dinamika ion H+ didalam tanah, ion H+ yang terdapat dalam suspensi tanah berada di keseimbangan dengan ion H+yang terjerap. Akibat dari proses itu, maka dikenal 2 jenis kemasaman yaitu kemasaman aktif dan kemasaman potensial (Hardjowigeno, 2007).
tanah Alfisol Jumantono tergolong masih masam.Pada tanah yang memiliki pH rendah biasanya kurang dapat menyediakan unsur-unsur hara dikarenakan tingkat kation yang dapat diikat oleh fraksi klei sangat terbatas.Oleh karena itu menyebabkan tanah Alfisol Jumantono kurang dapat menyediakan unsur-unsur hara yang dapat langsung diserap oleh tanaman.
3) Analisis Struktur Tanah
Struktur tanah ialah susunan zarah-zarah tanah membentuk pola kurungan proses yang terlibat dalam pembentukan struktur tanah ialah penjolotan dan agregasi dengan atau tanpa diikuti sementasi pengelompokan dapat terjadi karena potensial zeta tanah menurun yang menyebabkan kakas tolak antara zarah menjadi kecil sehingga kakas tarik gravitasi antara masa zarah dapat bekerja (Notohadiprawiro, 2009).
Struktur tanah yang baik adalah yang kandungan udara dan airnya dalam jumlah cukup dan seimbang serta mantap. Hal semacam ini hanya terdapat pada struktur yang ruang pori-porinya besar, dengan perbandingan yang sama antara pori-pori makro dan pori-pori mikro serta tahan terhadap pukulan tetas-tetes air hujan. Dikatakan pula bahwa struktur yang baik bila perbandingan sama antara padatan air, udara dan padatan (Suhardi, 2009).
b. Jatikuwung
1) Analisis Lengas Tanah
Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak di permukaan sampai kedalaman tertentu yang dipengaruhi oleh faktor genetis lingkungan, yaitu bahan induk, iklim, organisme hidup, topografi, dan waktu yang sangat panjang. Tanah dapay dibedakan dari ciri-ciri bahan induk asalnya baik secara fisik, kimia, biologi, maupun morfologinya
(Rodriquez-Iturbe et all, 2004).
Bahan organik dalam tanah dapat didefinisikan sebagai sisaa-sisa tanaman dan hewan di dalam tanah pada berbagai pelapukan daan terdiri dari organisme yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Di dalam tanah, bahan organik dapat berfungsi dan memperbaiki sifat kimia, fisika, biologi tanah sehingga ada sebagian ahli menyatakan bahwa bahan organik di dalam tanah memiliki fungsi yang tak tergantikan (Sutanto, 2005).
a. Lengas Tanah Kering Angin
Untuk ulangan kedua diperoleh berat a 54,720 gram, berat b 71,430 gram, dan berat c 69,578 gram. Melalui perhitungan diperoleh KL sebesar 12,46%. Untuk KL rata-rata diperoleh 13,33%.Pada ctka 0,5 mm, untuk ulangan pertama diperoleh berat a 59,052 gram,berat b 78,124 gram, dan berat c 75,137 gram sehingga didapat KL 18,57%. Untuk ulangan kedua diperoleh a 58,974 gram, berat b 71,878 gram, dan berat c 69,823 gram. Melalui perhitungan dengan rumus KL diperoleh KL sebesar 18,91%. Untuk KL dengan ctka 0,5 mm diperoleh KL rata-rata sebesar 18,75%.
b. Analisis kapasitas lapang
Kapasitas lapangan tanah menggunakan ctka 2 mm. Dengan mendapat 3 data berat yaitu a, b, dan c dengan keterangan seperti kadar lengas tanah di atas. Berat a adalah 55,325 gram, berat b 69,124 gram, dan berat c 67,272 gram. Hasil diperoleh kapasitas lapang sebesar 15,50%.
c. Analisis lengas maksimum
Analisis lengas maksimum menggunakan ctka 2 mm dengan satu kali pengulangan. Dengan 4 data berat a, b, c, dan d. Berat a 52,273 gram, berat b 95,309 gram, berat c 79,058 gram, dan berat d 51,980 gram. Dari data tersebut dapat diperoleh hasil untuk lengas maksimum adalah 55,93%.
d. Analisis Batas Warna Berubah Warna (BBW)
Pada batas berubah warna ctka yang digunakan adalah ctka 0,5 mm. Melalui satu kali pengulangan diperoleh berat a, b, dan c. Berat a adalah56,711 gram, berat b 63,236 gram, dan berat c adalah 62,207 gram.Dari data tersebut diperoleh hasil 18,72%. 2) Analisis pH
volumetrik dengan menggunakan pH stick, indikator warna dan lain-lain (Junita et all 2013).
Reaksi tanah atau yang disebut pH tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang salah satunya adalah terutama di daerha industri, antara lain sulfar yang merupaakan hasil sampingan dari industri gas. Sulfar ini jika bereaksi dengan air akan menghasilkan asam listrik yang secara alami merupakan komponen renik hujan. Hujan asam juga terjadi sebagai akibat meningkatnya penggunaan dan pembakaran fosil-fosil padat yang menimbulkan gas-gas sulfur dan nitrogen yang kemudian bereaksi dengan air hujann (Haniafiah, 2004).
Analisis pH tanah pada praktikum ini menggunakan ctka 0,5 mm menggunakan 2 campuran yaitu H2O untuk memperoleh pH aktual dan KCL untuk memperoleh pH potensial. Pada H2O diperoleh pH 7,4. Sedangkan menggunakan KCl diperoleh pH sebesar 6,1.
3) Analisis Struktur tanah
Struktur tanah sangat berpengaruh dalam bidang pertanian. Tanah sebagai media tumbuh bagi tanaman menjadi penentu seberapa hasil panen yang didapat jike struktur terlalu mantap maka akar sulit menembusnya. Sebaliknya jika kemantapan struktur terlalu lemah maka ketersediaan unsur hara dan air akan sedikit karena tanah tidak dapat mengikat unsur hara dan air dengan kuat, oleh karena itu dibutuhkan struktur tanah yang sumbang (Kurnia, 2006).
Analisis struktur tanah terdiri dari bobot volume tanah, bobot jenis tanah dan porositas tanah. Pada bobot volume tanah menggunakan ctka tanah bongkah. Dengan menggunakan rumus:
Bobot Volume= 87x a
(100+KL)x(0,87x(q−p)−(b−a))
Untuk menghitung bobot Jenis (BJ) digunakan ctka diameter 2mm. Pada acara ini hanya terjadi satu kali pengulangan. Nilai a menunjukkan piknometer kosong dan kering sebesar 20,755 gram, nilai b adalah piknometer yang telah terisi aquades penuh sebesar 45,261 gram, c adalah nilai piknometer yang berisi tanah sebesar 25,756 gram dan d adalah nilai piknometer yang berisi aquades setelah gelembungnya di buang sebesar 48,142 gram. Bobot jenis dapat di hitung dengan :
BJ= 100(c−a)BJ1.BJ2
(100+KL)(BJ2(b−a)−BJ2(d−c))
Dengan demikian dapat di peroleh BJ sebesar 2,0788.
Untuk menghitung porositas dapat dilakukan dengan menggunakan rumus berikut:
n=
(
1−BVBJ
)
100c. Colomadu
1) Analisis Lapang Tanah
Kadar lengas tanah sering disebut sebagai kandungan air yang terdapat dalam pori tanah. Satuan untuk menyatakan kadar lengas tanah dapat berupa persen berat atau pesen volume. Secara umum dikenal 3 jenis istilah air dalam tanah, yaitu lengas tanah, air tanah, dan air tanah dalam (Handayani, 2009).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan lengas dalam tanah antara lain anasir iklim, kandungan bahan organik, fraksi lempung tanah, topografi, dan bahan penutup tanah baik bahan organik maupun bahan anorganik. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi besarnya nilai KL (kadar lengas) tanah. Semakin besar nilai KL suatu tanah, maka tanah tersebut semakin rendah nilai aerasi dan drainasenya (Walker et all, 2002).
a. Lengas Tanah Kering Angin
Kadar lengas tanah kering angin yang dimiliki oleh tanah Colomadu dengan ctka 0,5 mm, 2 mm dan bongkahan secara berurutan adalah 7,65%; 9,02%; dan 6,02%. Apabila kadar lengas tanah semakin rendah maka tingkat aerasi dan drainase akan semakin baik karena dapat meloloskan air dengan mudah. Tingkat aerasi dan drainase dari tinggi ke rendah yaitu ctka dengan ukuran bongkahan, 0,5 mm, dan 2 mm.
b. Kapasitas Lapang Tanah
Kapasitas lapang dari tanah regosol
Colomadumenggunakan ctka 2 mm. Berat a sebesar52,295 gr, berat b 76,809 gr, dan berat c 76,156 gr.Melalui perhitungan
dengan rumus KL = (b−c)
(c−a) x100 diperoleh kadar lengas
maksimum tanah Colomadu adalah 69,91%. c. Kadar Lengas Maksimum Tanah
diperoleh hasil untuk lengas maksimum tanah Colomadu adalah 82,8%.
d. Batas Berubah Warna (BBW)
Tingkat Batas Berubah Warna (BBW) tanah regosol Colomadu sebesar 16,9% dan harkatnya termasuk pada tingkatan sedang.
2) Analisis pH
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH.Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam tanah. Semakin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah maka tanah tersebut semakin masam. Di dalam tanah selain H+ dan ion –ion lain di temukan pula ion OH yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+. Pada tanah-tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi dari pada ion OH sedangkan pada tanah alkalis kandungan OH lebih banyak dari pada H+. Jika kandungan H+ sama dengan OH maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai reaksi tanah sama dengan 7 ( Hardjowigeno, 2007).
Tanah yang masam memiliki pengaruh bagi tanaman yaitu dapat menyebabkan penurunan unsur hara dan dapat meningkatnya unsur hara beracun didalam tanah. Selain itu bila tanah terlalu asam maka tanah akan tumbuh kurang sempurna sekalipun bisa tumbuh dan berbuah. Tanah asam juga terkadang di anggap tidak subur karena menyebabkan penurunan ketersediaan beberapa nutrisi dan peningkatan logam berat ke tingkat beracun, logam berat menyerap ke tanah sangat di pengaruhi olet pH tanah solusi, limbah industry dengan terkonsentrasi tinggi membuat kondisi pH tidak terkendali (Fonseca, 2009).
sebesar 5,84. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, tanah Colomadu termasuk tanah yang bersifat masam.
3) Analisis Struktur Tanah
Struktur tanah digunakan untuk menunjukkan ukuran partikel – partikel tanah seperti pasir, debu dan liat yang membentuk agregat satu dengan yang lainnya yang dibatasi oleh bidang belah alami yang lemah. Agregat yang terbentuk secara alami disebut ped. Struktur yang dapat memodifikasi pengaruh tekstur tanah dalam hubungannya dengan kelembaban porositas, tersedia unsur hara, kegiatan jasad hidup dan pengaruh permukaan air (Madjid, 2007).
Tanah yang terbentuk didaerah dengan curah hujan tinggi umumnya ditemukan struktur tanah atau granular dilapisan atas (top soil) yaitu horizon A dan struktur gumpal di horizon B atau tanah lapisan bawah (sub soil). Struktur dapat berkembang dari butiran – butiran tunggal ataupun kondisi massive. Dalam rangka menghasilkan agregat – agregat dimana harus terdapat beberapa mekanisme dalam partikel – partikel tanah mengelompok bersama menjadi doster. Pembentukan ini kadang – kadang sampai ke tahap perkembangan structural yang mantap (Hanafiah, 2005).
Analisis struktur tanah terdiri dari bobot volume tanah, bobot jenis tanah dan porositas tanah. Pada bobot volume tanah menggunakan ctka tanah bongkah. Dengan menggunakan rumus Bobot Volumemaka diperoleh nilai Bobot Volume pada percobaan ini adalah 1,899.
n=
(
1−BVBJ
)
100E. Komprehensif
Pengamatan yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah meliputi pencandraan bentang alam, penyidikan profil tanah dan pedon, sifat fisika tanah dan sifat kimia tanah. Keempat hal yang diamati ini tentu mempunyai hubungan antara satu dengan yang lain. Pada tiga lokasi praktikum, jenis tanah pada masing-masing lokasi memiliki karakteristik profil, sifat fisika, dan sifat kimia yang berbeda-beda. Hal ini bergantung dari faktor-faktor pembentuk tanah yaitu iklim, jasad hidup, topografi, bahan induk, dan waktu. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap tigkat kesuburan tanah. Berdasarkan sifat-sifat fisika tanah, tanah di lokasi Colomadu warna tanahnya berkisar coklat, pada lokasi Jumantono warna tanahnya mengandung warna merah, sedangkan di Jatikuwung warna tanahnya cenderung terang.
Pengamatan pencandraan bentang lahan yang meliputi keadaan medan atau fisiografi lahan dapat mempengaruhi aerasi dan drainase. Sedangkan kemiringan lahan akan berpengaruh pada proses pembentukan tanah yang akhirnya akan ikut menentukan sifat – sifat tanah itu sendiri. Kemiringan juga berpengaruh pada sifat bahan induk dan taraf erosi yang terjadi.
Tanah di Jumantono merupakan tanah alfisol. Pada daerah ini terbentuk lereng yang masuk kategori sangat miring yang menyebabkan daerah Jumantono terbebas dari genangan dan banjir serta tingkat bahaya erosi yang rendah. Tanah di Jumantono merupakan tanah yang terbentuk dari bahan induk berupa batuan induk. Tanah daerah Jumantono terbagi menjadi 4 horizon, yaitu horizon 1, horizon 2, horizon 3, dan horizon 4. Konsistensi yang lembab dan lepas mempermudah akar – akar tanaman menembus kedalam tanah sehingga perakaran dapat ditemukan disemua lapisan yang diamati.
horizon yaitu horizon 1, horizon 2, dan horizon 3. Tanah ini dapat dikatakan sebagai tanah yang subur karena masih mengandung bahan organik yang cukup tinggi.
Tanah di Colomadu memiliki tanah berjenis regosol. Pada daerah ini terbentuk lereng yang tergolong hampir datar yang menyebabkan daerah Jatikuwung terbebas dari genangan dan banjir serta tingkat bahaya erosi yang rendah. Tanah di Colomadu merupakan bentukan vulkanik dari gunung Merapi. Tanah di Colomadu terbagi menjadi beberapa horizon, yaitu Horizon 1, Horizon 2, Horizon 3, Horizon 4, dan Horizon 5.
F. Kesimpulan 1) Jumantono
1. Tanah di Jumantono, Karanganyar merupakan tanah yang berasal dari aktivitas/endapan materi gunung berapi, mempunyai ketinggian 151 mdpl dengan kemiringan lereng 41%.
2. Tanah di lahan Jumantono tingkat bahaya erosi rendah dan bebas genangan serta banjir (ketinggian banjir = 0 cm).
3. Tanah di Jumantono memiliki tekstur tanah geluh lempungan, lempung, dan geluh
4. Tanah di Jumantono memiliki struktur tanah gumpal menyudut. 5. Konsistensi tanah di Jumantono adalah teguh.
6. Tanah di Jumantono terdapat 4 lapisan yaitu lapisan 1, lapisan 2, lapisan 3, dan lapisan 4.
7. Tanah di lahan pengamatan tidak terdapat kandungan kapur (CaCO3).
8. Hasil Aerase dan Drainase pada setiap horizon di tanah Jumantono adalah sama, yaitu O2 yang artinya oksidatifnya kuat.
9. Tanah di daerah Jumantono merupakan tanah yang subur karena memiliki banyak kandungan bahan organik dan kandugan kapurnya nol.
2) Jatikuwung
1. Tanah di Jatikuwung keadaaan fisiografinya terbentuk akibat dari pelapukan batuan induk di permukaan bumi, memiliki ketinggian 125 mdpl.
2. Tanah di Jatikuwung tingkat bahaya erosinya rendah serta bebas genangan dan tanpa banjir (ketinggian banjir = 0 cm).
3. Tanah di Jatikuwung terbagi menjadi lapisan 1, lapisan 2, dan lapisan 3.
lempung debuan (siltyclayloam) dengan strukturtanah adalah gumpal menyudut.
5. Hasil Aerase dan Drainase pada setiap horizon di tanah Jatikuwung adalah sama, yaitu O1 yang berarti oksidatif reduksi sedang atau seimbang.
6. Warna tanah di lahan pengamatan semakin ke dalam semakin terang, disebabkan jumlah bahan organik semakin sedikit.
7. Tanah di Jatikuwung merupakan tanah yang subur karena mengandung banyak bahan organik dengan kadar kapur nol.
3) Colomadu
1. Tanah di Colomadu terbentuk dari hasil aktifitas gunung berapi, mempunyai ketinggian 142 mdpl.
2. Tanah di daerah Colomadu memilikitingkat bahaya erosi rendah serta bebas genangan dan tanpa banjir (ketinggian banjir = 0 cm). 3. Tanah di Colomadu terbagi menjadi 5 lapisan, yaitu Lapisan 1,
Lapisan 2, Lapisan 3, lapisan 4, dan lapisan 5.
4. Tekstur tanahnya berbeda setiap lapisan, ada yang memiliki tekstur geluh debuan, lempung debuan, geluh lempung pasiran, dan geluhdengan struktur tanahnya rata-rata gumpal menyudut.
5. Konsistensi tanah di Colomadu adalah lembab.
6. Tanah di Colomadu tidak mengandung kapur (CaCO3).
Daftar Pustaka
Aak. 2007. Dasar-dasar Bercocok Tanam. Kanisius : Yogyakarta.
Agehara, S et all. 2005. Soil Moisture and Temperature Effect on Nitrogen
Release From Organic Nitrogen Source. Science Society of America Journal
Vol. 69.
Arief. 2009. Konsep Dasar dan Pengertian Bentang. Kanisius: Yogyakarta.
Bailey, Harry H. 2006. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung : Lampung.
Epetani. 2010. Pengapuran Tanah Pertanian. PT Agromedia Pustaka : Depok. Ferdinan, Frans. 2013. Klasifikasi Tanah. Universitas Gajah Mada Press :
Yogyakarta.
Fonseca, B.A.Teixeira, H. Figuiredo dan T. Tauares. 2009.Modelling of The Cr (VI) Transport In Thypical Soils of The Nort of Portugal. Journal of Hazardous Materils Volume 167 : 756-762.
Hanafiah, K.A, 2004. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Rajawalipress. Jakarta
Hanafiah. 2005. Kajian Tingkat Perkembangan Tanah Pada Lahan Persawahan Di Desa Kaluku Tinggu Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah. Jurnal Agroland 16 (1) : 45-46.
Handayani, S. 2009. Panduan Praktikum dan Bahan Asistensi Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.
Hardjowigeno. S. 2007. Ilmu Tanah .PT. Medyatama Sarana Perkasa. Jakarta. Junita N, et.al. 2013.Kajian Sifat Kimia Tanah Sawah Dengan Pola Pertanaman
Padi Semangka Di Desa Air Hitam Kecamatan Lima Puluh Kabupaten
Batubara. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol 1(4): 1154.
Lalopua, B. Ibrahim dan H. Asmadi. 2007. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Bagian Timur : Makassar.
Mandjid. Abdul, 2007. Dasar-Dasar Ilmu tanah bahan Kuliah Online. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Mardiana. 2006. Pengetahuan Sosial Geografi. Jakarta: Grasindo.
Notohadiprawiro, 2009. Tanah dan Lingkungan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Pramono, J. Seno Basuki dan Widarto. 2005. Upaya Peningkatan Produktivitas Padi Sawah Melalui Pendekatan Pengolahan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu Jurnal Penelitian Agronomi 7(1): 1-6
Raharjo. 2012. Sifat Fisik Tanah Pada Hutan Primer, Agroforestri Dan Kebun Kakao Di Subdas Wera Saluopa Desa Leboni Kecamatan Pamona
Puselemba Kabupaten Poso. Jurnal Warta Rimba Vol 1(1): 2.
Rodriquez-Iturbe, I et all. 2004. Echohydrology of Water-Controlled Ecosystem : Soil Moisture and Plant Dynamics. Cambridge University Press : London. Suhardi, 2009. Dasar-dasar Bercocok Tanah. Kansiun. Yogyakarta.
Supriyono. 2009. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Kanisius : Yogyakarta.
Sutanto, R. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah, Konsep dan Kenyataan.Kanisius : Yogyakarta.
Walker, J.P et all. 2002. Evaluation of the Ohmmaper Instrument for Soil
Measurement. Soil Science Society of America Journal Vol. 66.