• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ujian Tengah Semester Psikologi Pendidik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ujian Tengah Semester Psikologi Pendidik"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Ujian Tengah Semester

Psikologi Pendidikan Semester Genap 2016 Nama : Yuli Alfiani

NIM : 3401414103

Rombel : 27

Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan Dosen Pengampu : Abdul Haris Fitrianto, M.Si

Makalah I

“Pentingnya Kompetensi Pendidik dalam Proses Pembelajaran”

A. Narasi

Tulisan ini merupakan sebuah pengalaman yang pernah Saya alami dalam dunia pendidikan ketika Saya duduk di bangku SMA. Saya menempuh pendidikan sekolah menengan di SMA N 3 Tegal. Sekolah tersebut dapat dikategorikan sebagai sekolah favorit di Kota Tegal. Hal ini dikarenakan hasil belajar peserta didik yang menempuh pendidikan di SMA N 3 Tegal sangat baik, tidak hanya ditinjau dari ranah kognitif saja melainkan juga ranah afektif dan psikomotoriknya. Selain itu, output yang dihasilkanpun bisa dikatakan berkualitas, karena selama ini pererta didik yang telah lulusdari SMA N 3 Tegal mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi yang terbaik.

Keberhasilan peserta didik tentu tidak lepas dari campur tangan pendidik atau guru ketika membimbing dalam proses pembelajaran. Sebagai agen pembelajaran peran pendidik sangat penting dalam proses belajar peserta didik. Supaya pendidik dapat dikatakan baik maka dalam menjalankan perannya pendidik dituntut untuk memiliki kemampuan secara akademik, paedagogis maupun profesional.

(2)

selama 90 menit. Dalam menyampaikan materi Sejarah tentang tradisi masyarakat masa prasejarah, Saya merasa bahwa Bu SW kurang menguasai materi tersebut. Media pembelajaran yang dipakai oleh Bu SW juga hanya LKS(Lembar Kerja Siswa) saja. Sehingga Saya pun kurang bisa memahami materi yang dijelaskan oleh Bu SW. Dan ternyata bukan Saya saja yang kurang memahami materi tersebut, bahkan teman-teman Saya pun merasakan hal yang sama dengan Saya. Setelah setengan semester berlalu, Saya dan teman-teman Saya baru mengetahui bahwa Bu SW bukanlah guru mata pelajaran Sejarah, tetapi beliau adalah guru mata pelajaran Pkn. Beliau diminta oleh pihak sekolah untuk mengajarkan mata pelajaran Sejarah berkaitan dengan ketiadaan guru mata pelajaran sejarah di SMA N 3 Tegal.

Peristiwa seperti ini tidak hanya terjadi ketika Saya duduk di bangku kelas X saja, namun hal ini juga berlanjut ketika Saya kelas XI. Pada mata pelajaran Sosiologi kelas XI, guru yang mengajar bukanlah asli dari bidang Sosiologi. Bu WR dan Pak TY yang notabennya adalah guru mata pelajaran geografi, diminta oleh pihak sekolah untuk mengajarkan mata pelajaran sosiologi. Hal tersebut dikarenakan kurangnya tenaga pendidik yang sesuai dengan bidangnya (sosiologi). Sama halnya dengan mata pelajaran Sejarah, dalam mata pelajaran sosiologi yang diajarkan oleh guru yang bukan ahli dalam bidang ilmunya kurang menguasai informasi atau materi yang akan disampaikan. Sehingga hal tersebut juga berdampak pada peserta didik yang akhirnya mereka kurang bisa menerima dan memahami materi yang telah disampaikan oleh guru.

(3)

mengakibatkan pendidik atau guru kurang menguasai karekteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional dan intelektual. B. Teori Yang Relevan

Psikologi pendidikan adalah cabang psikologi yang khusus mempelajari aktivitas-aktivitas atau tingkah laku manusia dan proses mental yang terjadi dalam proses pendidikan. Psikologi pendidikan juga dapat diartikan sebagai penerapan prinsip-prinsio dan metode psikologi untuk mengkaji perkembangan, belajar, motivasi, pembelajaran, penilaian, dan isu-isu terkait lainnya yang mempengaruhi interaksi belajar mengajar.

Psikologi pendidikan memiliki manfaat dalam proses pendidikan yang mencakup empat komponen, antara lain:

1. Tujuan pendidikan

Merumuskan tujuan merupakan hal terpenting yang harus dipenuhi dalam proses pembelajaran.Tujuan yang telah direncanakan sebelumnya harus mampu dicapai oleh peserta didik. Jadi peran pendidik disini dangat penting untuk membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.

Psikologi pendidikan memberikan kontribusi penting untuk membantu memecahkan masalah yang dihadapi oleh pendidik dalam merumuskan tujuan pembelajaran.

2. Karakteristik peserta didik

Karakteristik peserta didik yang berbeda-beda akan mempengaruhi kesiapan peserta didik dan cara-cara mereka belajar. Hal tersebut menimbulkan masalah bagi pendidik dalam memahami peserta didik , seperti masalah variasi kemampuan, kekuatan dan kelemahan, dan tahap-tahap perkembangan peserta didik.

Psikologi pendidikam memberikan kontribusi dengan cara membantu pendidik memperhatikan karakteristik dan perilaku peserta sisik sebelum pembelajaran dimulai.

(4)

Berkenaan dengan proses belajar, pendidik sering menghadapi masalah ketika pendidik meransang prosedur pembelajaran dengan memadukan cara-cara belajar peseta didik. Menurut pakar sosiologi, setipa pendidik harus memahami bahwa materi pembelajaran yang dipelajari oleh peserta didik mempersyaratkan adanya proses belajar yang berbeda. Karena proses belajar para peserta didik yang berbeda-beda akan berpengaruh pada hasil belajar yang berbeda pula.

4. Strategi belajar

Setiap pendidik juga dituntut mampu memilih dan menggunakan berbagai strategi dalam pembelajaran. Dalam hal ini, pendidik sering mempunyai masalah untuk memilih strategi yang tepat digunakan pada proses pembelajaran. Menurut pakar psikologi pendidikan, pemilihan strategi pendidikan sangat penting karena berkaitan dengan proses membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran.

5. Evaluasi pembelajaran

Dalam proses pembelajaran, pendidik juga dituntut untuk mampu melakukan penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Pendidik mempunyai masalah untuk merancang prosedur penilaian peserta didik. Oleh karena itu, psikologi pendidikan memberikan kontribusi tentang perumusan instrumen evaluasi, pelaksanaan ujian, analisis hasil evaluasi, dan penafsiran hasil evaluasi.

(5)

1. Kompetensi paedagogik, yaitu kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2. Kompetensi kepribadian, merupakan kemampuan yangberkaitan dengan performans pribadi seorang pendidik, seperti berpribadi mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.

3. Kompetensi profesional, yaitu kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan pembimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional.

4. Kompetensi sosial, merupakan kemampuan berkomunikasi dan bergaul secara efekti, dengan: peseta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan pendidik, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi mereka sebagai pengajar. Kenyataan yang ada, kurikulum yang selama ini diajarkan di sekolah menengah kurang mampu mempersiapkan siswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Kemudian kurangnya pemahaman akan pentingnya relevansi pendidikan untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan budaya, serta bagaimana bentuk pengajaran untuk siswa dengan beragam kemampuan intelektual.

Jerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka, memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru.

(6)

dibahas tentang teori pembelajaran. Teori pembelajaran seharusnya tidak hanya terfokus pada kepentingan teoritis semata. Akan tetapi sebuah teori pembelajaran sebaiknya juga menyangkut suatu praktik untuk membimbing seseorang bagaimana caranya peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan, pandangan hidup, serta pengetahuan akan kebudayaan masyarakat sekitarnya. Menurut teori pembelajaran kognitif, belajar merupakan proses menerima informasi melalui penginderaan yang dimiliki oleh manusia, seperti melihat, mendengar meraba dan sebagainya , yang kemudian diorganisasikan dalam struktur kognitif yang telah terbentuk dan dimiliki manusia berdasarkan pengalaman belajar sebelumnya. Hasil belajar yang diharapkan dari proses pembelajaran menurut teori ini tidak hanya peubahan perilaku secara tampak saja. Namun, individu juga diharapkan mampu memahami dan dapat menginterpretasikan segala bentuk informasi yang diterima dari pengalaman inderawi. Atau bahkan melalui proses pembelajar ini peserta didik mampu mengonstruksikan gagasan maupun konsep baru berdasarkan pengalaman dan informasi yang mereka peroleh sebelumnya.

C. Analisis Pengalaman

(7)

perhatian guru mata pelajaran maupun guru kelas terhadap peserta didiknya.

Guru yang dapat mengajar lebih dari satu mata pelajaran merupakan nilai kebih yang dimiliki guru tersebut. Namun tidak semua guru yang mengajar lebih dari dua mata pelajaran dapat menguasai semua materi pembelajaran dengan baik. Pada pengalaman Saya, bahwa guru yang mengajar lebih dari satu mata pelajaran kurang bisa menguasai materi pembelajaran yang bukan pada bidang ilmunya. Sehingga hal ini akan berdampak pada aspek kognitif peserta didik.

Selain itu, seorang pendidik atau guru yang tidak bisa menerapkan metode pembelajaran bagi peserta didiknya juga merupakan permasalahan pada kompetensi profesional seorang guru. Maslah seperti ini juga sering terjadi di sekolah Saya. Jadi guru yang dikatakan profesional adalah guru yang mampu memilih dan menerapkan metode belajar dengan baik, misalnya saja dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan karakteristik dan kemampuan kognitif peserta didik yang berbeda-beda. Maka penggunaan media pembelajaran yang menarik bertujuan supaya peserta didik mudah menerima dan memahami materi yang disampaikan oleh guru.

(8)

pembelajaran dimulai. Selain itu dapat juga dilakukan ketika proses pembelajaran supaya mengetahui perkembangan pemahaman peserta didik terhadap informasi atau materi pembelajaran yang disampaikan. Seorang guru juga dapat malakukan interaksi dengan peserta didik dalam kegiatan evaluasi pembelajaran supaya guru mengetahui hasil belajar peserta didik. Serangkaian contoh kegiatan diatas dilakukan oleh pendidik untuk mengetahui dan memahami karekteristik maupun potensi yang dimiliki peserta didik supaya tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.

(9)

Psikologi pendidikan sebagai mata kuliah Dasar Kependidikan (MKDK) sangat penting dan wajib diikuti oleh para mahasiswa di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) karena berkontribusi besar dalam membekali pengetahuan dan pemahaman kepada calon guru dan guru tentang aktivitas umum jiwa peserta didik dalam proses pendidikan di kelas. Melalui penerapan pengetahuan tentang psikologi pendidikan, para guru diharapkan dapat menemukan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik dalam proses pendidikan di kelas. Selain itu, para guru diharapkan dapat melakukan proses pendidikan di kelas dengan optimal, karena itu para guru diharapkan dapat mengetahui, memahami, dan menerapkan prinsip-psinsip pembelajaran dan pendidikan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh peserta didik, perkembangan peserta didik, bagaimana peserta didik belajar, rencana pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan psikologis peserta didik, dan prosedur pembelajaran dan pendidikan yang diterapkan oleh para guru dapat membuat peserta didik dapat belajar secara efisien, efektif, dan memuaskan (Suardiman, 1988).

(10)

pendidik memiliki kualifikasi akademik, kompetensi pendidik, sertifikat pendidik, dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sehingga para pendidik dapat dikatakan sebagai agen pembelajaran yang profesional.

Proses pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan oleh para guru tidak hanya berlangsung di dalam kelas di suatu lembaga pendidikan formal saja, melainkan proses pendidikan dan pembelajaran dapat berlangsung di lembaga pendidikan informal (di lingkungan keluarga), dan di lembaga pendidikan non formal (di masyarakat) atau dimana saja tanpa dibatasi oleh ruang, waktu, dan tempat. Namun, perlu diketahui, dipahami, dan disadari bahwa ada syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses pendidikan dan pembelajaran di suatu tempat, yaitu ada guru sebagai pendidik dan pengajar yang telah dewasa, ada peserta didik sebagai orang yang belum dewasa yang membutuhkan pendewasaan melalui proses pendidikan dan pembelajaran, adanya pemberian pengaruh yang disengaja dari guru kepada peserta didik, dan pengaruh yang diberikan oleh guru tersebut memiliki nilai normative (positif) dan tujuan positif mengembangkan kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik.

D. Simpulan

(11)

pada kurangnya perhatian yang diberikan guru kepada peserta didik. Sehingga hal tersebut akan menimbulkan masalah dan hambatan pada jalannya proses pembelajaran. Karena guru tidak dapat mengetahui karakteristik dan kemampuan peserta didik dalam menerima informasi yang disampaikan oleh guru.

Oleh karena itu, psikologi pendidikan sebagai mata kuliah Dasar Kependidikan sangat penting dan wajib diikuti oleh para mahasiswa di LPTK untuk memberi bekal bagi calon guru dalam merumuskan komponen pembelajaran dan membantu memahami karakteristik maupun potensi yang dimiliki oleh peserta didik serta memenuhi kompetensi pendidik. Sehingga guru dapat di katakan sebagai agen pembelajaran yang profesional dan bisa menjalankan perannya dengan baik supaya hasil pembelajaran dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Sumber:

Rifa’i, Achmad dan Catharina Tri Anni. 2012. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES PRESS.

(12)

Makalah II

“Perkembangan Kemampuan Berbahasa sebagai Bentuk Tercapainya Kompetensi Kognitif dan Komunikasi”

A. Narasi

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan pembimbingan. Dan dikatakan sebagai lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak berada dalam lingkungan keluarga. Jadi orang tua akan berperan sebagai pendidik dan anak akan menjadi objek atau peserta didik yang menerima segala bentuk informasi yang diajarkan oleh kedua orang tuanya. Dalam lingkungan keluarga, hal yang pertama kali diajarkan kepada anak adalah bahasa. Karena bahasa merupakan unsur paling penting dalam kehidupan manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Seperti pada pengalaman ketika Saya masih kecil, orang tua Saya mengajarkan bahasa Jawa untuk digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari. Menurut orang tua Saya, mereka mengajarkan bahasa Jawa mulai dari tahap pralinguistik sebagai kontak verbal antara orang tua dengan anak. Tujuan pengajaran bahasa jawa dari orang tua saya yaitu untuk membentuk karakter yang baik seperti tahu sopan santun, tata krama berbahasa dan bisa menempatkan diri ditengah pergaulan umum. Selain itu juga ditujukan untuk menujang perkembangan kemampuan berbahasa yang baik untuk berkomunikasi di dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga ketika Saya masih anak-anak Saya sangat menguasai bahasa Jawa dengan baik.

(13)

berkomunikasi yaitu bahasa daerah Tegal. Awalnya Saya merasa bingung dan kesulitan untuk berkomunikasi dengan teman sebaya Saya yang notabennya telah menggunakan bahasa daerah Tegal dalam kehidupan sehari-hari. Namun, lama kelamaan Saya pun menjadi terbiasa dan tidak merasa kesulitan dalam berkomunikasi menggunakan bahasa daerah Tegal yang diucapkan oleh teman-teman Saya. Karena pemahanman Saya tentang bahasa Tergal dan perbandaharaan katanya sudah meningkat. Bahkan Saya juga sering menggunakan bahasa Tegal untuk komunikasi dengan teman-tenman Saya ketika sedang bermain bersama. Waktu Saya mulai menempuh pendidikan formal di Sebuah taman kanak-kanak Saya belajar bahasa Indonesia melalui komunikasi sehari-hari dengan guru dan teman-teman Saya. Dalam mempelajari setiap kata menggunakan bahasa Indonesia Saya tidak merasa kesulitan. Karena sebelumnya Saya juga sudah mengetahui dan memahami bahasa Indonesia dari media massa seperti televisi, radio maupun majalah. Bahasa Indonesia juga merupakan bahasa yang mudah di pahami oleh masyarakat, sehingga melalui informasi tata bahasa Indonesia yang mereka dengar masyarakat pun secara otomatis dapat menggunakannya dalam berkomunikasi seperti Saya.

(14)

maupun dalam kehidupan bermasyarakat sebagai sarana untuk berinteraksi.

Sedangkan, ketika Saya menginjak usia remaja, dilingkungan teman sebaya penggunaan bahasa mulai mengalami perubahan seperti muncu istilah-istilah khusus yang hanya dimengerti para remaja dan munculnya bahasa gaul di kalangan remaja, misalnya kepo, LOL dan sebgainya. Jadi seiring berjalannya waktu dan semakain berkembangnya individu dari mulai anak-anak hingga dewasa, maka kemampuan berbahasa terus mengalami perubahan dan perkembangan serta terus mengalami peningkatan dalam perbendaharaan kata. Selain itu, perkembangan berbahasa individu berkembang sesuai sengan perkembangan kognisinya.

B. Teori yang Relevan

Teori Perkembangan Kognitif Vygotsky

Tiga konsep yang dikembangkan dalam teori vygotsky (Tappan,1998): (1) keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila di analisis dan pahami apabila dianalisis dan di interpretasikan secara developmental; (2) kemampuan kognitif yang di mediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan menstraformasi aktivitas mental; dan (3) kemampuan kognitif berasal dari relasi social dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.

(15)

seperti bahasa, system matematika, dan strstegi memori. Pada satu kultur, konsep ketiga ini dimaksudkn mungkin berupa pelajaran menghitung dengan menggunkan computer, namun dalam kultur yang berbeda, pembelajaran ini mungkin berupa pelajaran berhitung menggunakan batu dan jari.

Teori Vygotsky mengandung pandangan bahwa pengetahuan itu dipengaruhi situasi dan bersifat kolaboratif, artinya pengetahuan didistribusikan di antara orang dan lingkungan, yang mencakup objek artifak, alat, buku, dan komunitas tempat orang berinteraksi dengan orang lain. Sehingga dapat dikatakan bahwa perkembangan kognitif berasal dari situasi social.

Bahasa dan pemikiran. Vygotsky berkeyakinan bahwa anak menggunakan bahasa bukan hanya untuk berkomunkikasi saja, melainkan juga untuk merencanakan, memonitor perilaku mereka dengan caranya sendiri. Penggunaan bahasa untuk mengatur diri sendiri, dinamakan pembicaraan batin (inner speech) atau berbicara sendiri (private speech). Menurut piaget, berbicara sendiri bersifat egosentris dan tidak dewasa tetapi menurut vygotsky adalah alat penting bagi pemikiran selama masa kanak kanak. Tatkala anak sering meakukan pembicaraan batin, ia justru akan lebih kompeten secara social. Karena anak menginternalisasikan pembicaraan egosentrisnya dalam bentuk pembicaraan batin kemudian pembicaraan batin ini menjadi pemikiran mereka. Oleh karena itu pembicaraa batin dapat mempresentasikan transisi awal untuk menjadi lebih komuniktif secara social.

Teori Perkembangan Bahasa Menurut Pandangan Chomsky

(16)

1. Navistik : struktur bahasa telah ditentukan secara biologik sejak lahir ( tarigan,1986 :257 )

2. Empiris :kemampuan berbahasa merupakan hasil belajar individu dalam berinteraksi dengan lingkungan (orang dewasa yang berbahasa)

Kemampuan Berbahasa dan Berpikir

Berpikir merupakan rangkaian proses kognisi yang bersifat pribadi yang berlangsung selama terjadinya stimulus sampai dengan munculnya respon ( Morgan 1989 :228 ). Dalam aktivitas berpikir di dalamnya melibatkan bahasa.Berpikir merupakan percakapan dalam hati.Bahasa merupakan alat untuk berpikir mengekspresiakn hasil pemikiran tersebut.Jadi berpikir dan berbahasa merupakan dua aktivitas bersamaan.Faktor yang paling berperan adalah faktor kognisi.

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa

a. Faktor Biologis, Kemampuan kodrati atau alami yang memungkinkannya menguasai bahasa.Potensi alam ini bekerja secara otomatis.

b. Faktor lingkungan, Lingkungan yang kaya dengan kemampuan bahasanya akan memberikan kesempatan yang lebih besar bagi berkembangnya bahasa individu yang tinggal di dalamnya.

C. Analisis Pengalaman

(17)

nalar. Karena bahasa Jawa dianggap sebagai bahasa yang mampu membentuk watak dan karakter seseorang. Sehingga proses pembelajaran bahasa Jawa menjadikan adanya hubungan sosial dan budaya antara orang tua dengan anak sehingga akan mengembangkan kemampuan kognitif anak tersebut. Hal ini sama halnya konsep perkembangan kognitif yang dijelaskan oleh Vygotsky bahwa perkembangan kognitif seseorang terbentuk melalui hubungan ssial dan budaya dalam lingkungan individu tersebut.

Selain itu, komunitas sosial seperti kelompok teman sebaya maupun lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan berbahasa seseorang. Melalui hubungan atau kegiatan sosial yang terjadi pada kelompok sosial tersebut juga dapat meningkatkan perkembangan kognitif seseorang. Menurut Pandangan Chomsky, perkembangan bahasa dalam psikolinguistik diartikan sebagai proses untuk memperoleh bahasa, menyusun tatabahasa dari ucapan – ucapan, memilih ukuran penilaian tata bahasa yang paling tepat dan paling sederhana. Sehingga perkembangan kemampuan berbahasa seseorang tidak hanya dapat meningkatkan perkembangan kognitifnya saja melainkan juga dapat meningkatkan kemampuan komunikasinya.

Jadi faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kebahasaan seseorang, baik lingkungan keluarga, teman sebaya maupun sekolah. Karena di dalam aktivitas lingkungan tersebut terdapat suatu hubungan sosial dan bahasa sebagai unsur budaya atau alat untuk mengembangkan kemampuan bahasa seseorang. Dalam aktivitas berpikir di dalamnya melibatkan bahasa, berpikir dan berbahasa merupakan dua aktivitas bersamaan. Sehingga melalui kemampuan kebahasaan yang mereka miliki dapat dijadikan sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan komunikasi individu tersebut.

(18)

Perkembangan kebahasaan sangat penting bagi seorang individu. Karena kemampuan kebahasaan dapat meningkatkan kemampuan berpikir atau kognitif seseorang. Bahasa dapat dijadikan alat untuk mengembangkan kemampuan berfikir. Kemampuan kognitif berasal dari hubungan social dan kebudayaan sehingga perkembangan anak tidak bisa dipisahkan dari kegiatan social dan cultural.

Berpikir dan berbahasa merupakan dua aktivitas bersamaan. Selain dapat dijadikan alat untuk meningkatkan perkembangan kognitif, bahasa juga dapat digunakan untuk meningkatkan komunikasi antar individu. Perkembangan kebahasaan terjadi seiring berjalannya waktu dan semakain berkembangnya individu dari mulai anak-anak hingga dewasa. Kemampuan berbahasa terus mengalami perubahan dan perkembangan serta terus mengalami peningkatan dalam perbendaharaan kata.

Dalam perkembangannya, faktor yang paling memperngaruhi kognitif dan bahasa pada diri individu adalah faktor dari luar, seperti lingkungan keluarga, teman sebaya dan sekolah. Lingkungan yang kaya dengan kemampuan bahasanya akan memberikan kesempatan yang lebih besar bagi berkembangnya bahasa individu yang tinggal di dalamnya. Sehingga kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh individu dapat meningkatkan kompetensi kognitif dan komunikasi individu tersebut.

Sumber:

Gunawan, Bakti. 2012.Penerapan Teori Belajar Vygotsky dalam Interaksi BelajarMengajar.Online:http://www.kompasiana.com/baktiguna wan/penerapan-teori-belajar-vygotsky-dalam-interaksi-belajar-mengajar_550d985b8133115d22b1e4d8 (Diunduh 7 Mei 2016)

(19)

Makalah III

“Hukuman Sebagai Alternatif Dalam Menangani Masalah Pembelajaran Peserta Didik Di Sekolah” A. Narasi

Pengalaman Saya yang satu ini terjadi ketika Saya menempuh pendidikan di jenjang sekolah dasar. Kira-kira 9 tahun yang lalu pada saat itu Saya duduk dibangku kelas 5 sekolah dasar. Di kelas 5 Saya sudah mendapat mata pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Mata pelajaran tersebut diajarkan oleh seorang guru laki-laki yang usianya sudah tidak muda lagi. Mungkin pada saat itu beliau berusia sekitar 65 tahun. Disaat beliau mengajarkan mata pelajaran IPA, proses mentransfer materi atau informasi tersebut disampaikan dengan jelas.

Dalam mengajar, beliau sangat tegas sehingga bagi siswa kelas 5 beliau di anggap sebagai guru yang keras dan menakutkan. Ketika beliau mengajar beliau selalu membawa penggaris kayu yang besar.dan beliau selalu menunjuk siswanya untuk menjawab pertanyaan. Mungkin cara mengajar beliau pada saat itu dapat dikatakan masih konvensional. Karena kedudukan guru dalam proses pembelajaran seperti penguasa dan siawa adalah seorang bawahan yang harus selalu mendengarkan apa yang di katakan oleh guru tersebut. Siswa disini cenderung pasif karena hal ini berkaitan dengan faktor psikologi mereka. Siswa merasa tertekan dan takut ketika beliau sedang mangajar dengan kondisi proses pembelajaran seperti itu. Dan ketika beliau sedang menganjar kemudian menemui siswa yang sedang berbicara sendiri dengan teman sebangkunya, maka beliau langsung mendekat dan memukulkan penggarus kayu kepada meja di depan siswa tersebut.

(20)

ulangan harian, dan nilai yang di peroleh siswanya dibawah KKM, biasanya beliau memukulkan penggaris kayu ke tangan siswa. Itulah pengalaman Saya terhadap guru yang cukup memberikan kesan, hingga sampai sekarang ini Saya selalu teringat akan hal tersebut, dimana Saya juga pernah menjadi salah satu dari siswa yang pernah mendapat hukuman ketika Saya tidak mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah dan pernah mendapatkan nilai rendah pada saat ulangan harian.

B. Teori Yang Relevan

Teori Behavioristik Menurut Skiner (Teori Operant Conditioning)

Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana dan dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara konprehensif. Menurut skinner, hubungan antara stimulus dan respons yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya. Skinner juga mengemukakan bahwa, dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya maasalah. Sebeb, setiap alat yang dipergunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.

a. Penguat

Menurut Skinner, untuk memperkuat prilaku atau menegaskan prilaku diperlukan suatu penguatan (reinforcement). Ada juga jenis penguatan, yaitu penguatan positif dan penguatan negative.

(21)

2) Penguatan negative (negative reinforcement) didasari prinsip bahwa frekuensi dari suatu respon akan meningkat karena diikuti dengan stimulus yang tidak menyenangkan yang ingin dihilangkan. Jadi, prilaku yang diharapkan akan meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang tidak menyenangkan.

b. Hukuman

Hukuman yaitu suatu konsekuensi yang menurunkan peluang terjadinya suatu prilaku. Jadi, prilaku yang tidak diharapkan akan menurun atau bahkan hilang karena diberikan suatu stimulus yang tidak menyenangkan. Perbedaan antara penguatan negatif dan hukuman terletak pada prilaku yang di timbulkan. Pada pemuatan negative, menghilangkan stimulus yang tidak menyenangakan untuk meningkatkan prilaku yang diharapkan.

c. Jadwal pemberian penguatan 1) Continuos reinforcement

Penguatan diberikan secara terus-menerus setiap pemunculan respon atau perilaku yang diharapkan.

2) artial reinforcement

Penguatan diberikan dengan menggunakan jadwal tertentu. Jadwal rasio tetap yaitu pemberian penguatan berdasarkan frekuensi atau jumlah respon dan timgkah laku tertentu secara tetap.

d. Keefektifan hukuman

Hukuman hendaknya diberikan untuk prilaku yang sesuai. Terkadang hukuman diberikan terlalu berat, terlalu ringan, bahkan bentuk hukuman yang tidak ada kaitan dengan perilaku yang ingin dihilangkan.

C. Analisis Pengalaman

(22)

gunalakan dalam menganalisis pengalaman Saya adalah teori behavioristik yang merupakan adopsi intelektual dari B. F. Skiner yaitu teori operant conditioning. Dalam teori tersebut telah dijelasakan bahwa belajar merupakan proses merubah perilaku seseorang tidak hannya melibatkan stimulus dan respon saja. Melainkan dalam hal ini diperlukan suatu alat yang mampu menegaskan dan memperkuat perilaku tersebut. Skiner telah membgai bentuk penguat menjadi 2 yaitu: penguatan positif yang berupa penghargaan dan penguatan negatif yang berupa hukuman.

Sedangkan pada pengalaman Saya, guru mata pelajaran IPA di sekolah Saya tersebut menerapkan teori pembelajaran behavioristik. Beliau menginginkan adanya perubahan perilaku yang terjadi pada hasil belajar siswanya. Untuk memperkuat dan menegaskan perubahan perilaku pada siswanya, guru tersebut menggunakan alat berupa penguat negatif atau hukuman kepada siswanya. Tujuannya adalah memberikan konsekuensi untuk menurunkan peluang terjadinya suatu prilaku. Jadi, prilaku yang tidak diharapkan akan menurun atau bahkan hilang karena diberikan suatu stimulus yang tidak menyenangkan.

(23)

D. Simpulan

Teori pembelajaran operant conditioning menurut B. F. Skiner merupakan bagian dari teori behavioristik. Teori behaviorisitik menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan proses pemberian stimulus dan respon yang hasilnya adalah perilaku pada peserta didik. Namun dalam teori operant conditioning ini, pembalajaran tidak cukup hanya suatu pemberian stimulus yang menuntut adanya respon berupa perubahan perilaku saja. Akan tetapi, menurut pandangan dari Skiner, dibutuhka sebuah alat atau sarana untuk memperkuat atau mempertegas perilaku peserta didik tersebut.

Sehingga Skiner menciptakan sebuah alat atau penguat yang terdiri dari dua jenis, yaitu penguat positif atau penghargaan dan penguat negatif atau hukuman. Pemeberian hukuman seperti pada pengalaman yang telah diuraikan diatas bertujuan untuk memberikan suatu srimulus yang tidak diinginkan kepada peserta didik supaya nantinya terjadi respon atau perubahan perilaku yang diinginkan oleh pendidik. Bentuk hukuman yang diberikan pun harus sesuai dengan perilaku peserta didik. Tidak boleh ada hukuman yang terlalu berat ataupaun terlalu ringan pada peserta didiknya.

Sumber :

Anonim. 2015. Teori pembelajaran behavioristik dan penerapanny. Online: http://soddis.blogspot.co.id/2015/05/teori-belajar-behavioristik-dan.html (Diunduh 7 Mei 2016)

Referensi

Dokumen terkait

Pengumpulan Makul yang Take Home sesuai jadwal di atas Yogyakarta, 8 April 2016

Selain itu, dengan adanya perancangan sistem informasi diharapkan dapat membantu perusahaan dalam menentukan setting parameter yang optimal pada mesin injection moulding dan

Oleh karena itu dalam kegiatan ini para guru dibimbing untuk memahami hakekat PTK dan dibimbing untuk menyusun proposal agar dapat melakukan Penelitian Tindakan Kelas

Selain itu guru juga perlu untuk memahami psikologi pendidikan untuk mengetahui proses belajar anak sebagai contoh metode yang tepat dalam menyampaikan pembelajaran

Selain itu, dengan adanya tulisan ini, para pembelajar diharapkan dapat memahami fonem vokal, konsonan, semivokal, serta diftong dalam bahasa Prancis sehingga dapat

Rumah Adat Karo Siwaluh Jabu, memiliki denah yang simetris yang berbentuk bujur sangkar yang ditutup oleh bidang-bidang vertikal selain itu rumah adat karo memiliki organisasi ruang

Selain itu guru juga dapat mengetahui kondisi emosional Muridnya Manajemen diri • Melakukan Salam • Ice Breaking • Berdoa Melalui kegiatan ini Murid diharapkan memiliki kemampuan

Jelaskan bagaimana seorang pemimpin yang memahami keempat aspek ini dapat mengelola situasi tersebut, mulai dari memilih anggota tim yang tepat, mendorong inovasi dalam menghadapi