• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Daya Terima dan Nilai Gizi Kerupuk Hasil Pengolahan Ampas Tahu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Uji Daya Terima dan Nilai Gizi Kerupuk Hasil Pengolahan Ampas Tahu"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semua kalangan masyarakat sering mengonsumsi camilan. Camilan yaitu

makanan yang dikonsumsi di antara waktu-waktu makan utama (Damayanti,

2010). Produk yang termasuk dalam kategori camilan menurut Surat Keputusan

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No.

HK.00.05.52.4040 tanggal 9 Oktober 2006, tentang kategori pangan adalah semua

camilan (makanan ringan) yang berbahan dasar kentang, umbi, serealia, tepung

atau pati (dari umbi dan kacang) dalam bentuk keripik, kerupuk, jipang. Salah satu

camilan yang popular di Indonesia adalah kerupuk. Kerupuk merupakan produk

olahan tradisional Indonesia yang sudah dikenal secara luas, memiliki cita rasa

yang khas dan dapat diterima oleh semua kalangan masyarakat. Menurut Survei

Sosial Ekonomi Nasional yang dikutip oleh Mubarok (2009) jumlah konsumsi

kerupuk di wilayah perkotaan lebih tinggi yaitu 0,193 ons kerupuk dibandingkan

dengan di wilayah pedesaan yaitu 0,147 ons kerupuk dikarenakan kepadatan

penduduk di kota yang juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan pedesaan.

Kerupuk mudah diperoleh di segala tempat, baik di kedai pinggir jalan, di

supermarket, restoran maupun di pasar-pasar serta tempat lainnya. Kandungan

gizi paling dominan pada kerupuk umumnya adalah karbohidrat, sedangkan

(2)

perlu ditambahkan dengan bahan lain untuk meningkatkan nilai gizi dari kerupuk

dengan menggunakan bahan hasil olahan ampas tahu.

Pada proses pembuatan tahu akan diperoleh ampas tahu (limbah padat).

Ampas tahu hasil olahan dalam proses pembuatan tahu merupakan sumber protein

nabati yaitu dari golongan kacang-kacangan, khususnya kacang kedelai. Kedelai

merupakan salah satu tanaman sumber protein yang penting di Indonesia.

Berdasarkan luas panen, di Indonesia kedelai menempati urutan ke-3 sebagai

tanaman palawija setelah jagung dan ubi kayu. Rata-rata luas pertanaman per

tahun sekitar 703.878 ha, dengan total produksi 518.204 ton (Suprapto, 2001).

Sampai saat ini, kedelai masih merupakan bahan pangan sumber protein nabati

yang paling murah sehingga tidak mengherankan bila total kebutuhan kedelai

untuk pangan mencapai 95% dari total kebutuhan kedelai di Indonesia. Produk

pangan berbahan baku kedelai ini dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu dalam

bentuk hasil nonfermentasi dan fermentasi, dalam hasil nonfermentasi yaitu ada

kedeleai segar, bubuk kedelai, kecambah kedelai, susu kedelai, dan tahu,

sedangkan hasil fermentasi yaitu ada fermentasi biji kedelai (tempe), saos kedelai

dan pasta kedelai (Adisarwanto, 2005).

Menurut Balai Penelitian dan Pengembangan Industri yang dikutip oleh

Arbaiyah (2003), industri tahu di Indonesia sebagian besar masih merupakan

industri sederhana, sehingga dalam pengolahannya masih banyak tertinggal

protein sebagai sisa dalam ampas tahu, karena cara ekstrasi maupun

penggumpalan proteinnya kurang sempurna. Pada proses pembuatan tahu secara

(3)

dengan kandungan protein yang masih cukup tinggi dibandingkan dengan

pengolahan secara mekanis. Kandungan protein atas dasar berat kering pada

ampas tahu sebesar 22%, sedangkan kandungan protein di dalam biji kedelai

sendiri adalah 38%. Dengan demikian apabila dikonversikan ke dalam persen

protein biji kedelai utuh, maka jumlah protein di dalam ampas tahu diperkirakan

sebesar 58%.

Berdasarkan hasil penelitan Wati (2013), kadar protein kue kering lidah

kucing komposit tepung ampas tahu adalah 24,03% dan serat adalah 9,48%.

Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian Handarsari (2010), yaitu sugar pastry

dengan substitusi tepung ampas tahu, kadar protein yang tertinggi didapatkan 30%

yaitu 17,34% sedangkan sugar pastry tanpa tepung ampas tahu yaitu 14,23%.

Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa ampas tahu masih memiliki

kandungan gizi yang cukup baik, seperti yang telah diteliti pada kue kering lidah

kucing komposit tepung ampas tahu dan sugar pastry dengan substitusi tepung

ampas tahu.

Pada proses pengolahan tahu akan dihasilkan limbah berupa ampas tahu

yang apabila tidak segera ditangani dapat menimbulkan bau tidak sedap. Dalam 1

kg kacang kedelai yang diolah menjadi tahu akan menghasilkan ampas tahu basah

sekitar 1,2 kg hal ini perlu di perhatikan agar tidak mencemari lingkungan. Oleh

sebab itu ampas tahu dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar dengan tujuan

sebagai salah satu upaya mengurangi pencemaran lingkungan dan memberikan

penambahan gizi yang bermanfaat bagi semua kalangan masyarakat baik itu

(4)

diteliti kandungan gizi yaitu protein, lemak dan karbohidrat karena ketiga

kandungan gizi ini merupakan tiga komponen penting yang sangat dibutuhkan

bagi setiap manusia. Ampas tahu bisa didapatkan di pabrik tahu. Pada penelitian

ini peneliti mengambil ampas tahu di jalan Setia Budi Pasar II Gang Akik

Tanjung Sari, Medan Selayang karena ampas tahu yang dihasilkan lebih baik,

ampas tahu yang dihasilkan masih memiliki aroma kacang kedelai yang segar.

Ampas tahu tersebut dapat diolah menjadi kerupuk ampas tahu dan akan memiliki

daya jual tinggi dari pada ampas tahu yang belum diolah. Ampas tahu juga murah

dan mudah didapat oleh semua kalangan masyarakat dan cara pembuatannya pun

tidaklah susah dan menggunakan alat dan bahan yang mudah diperoleh.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi perumusan masalah

dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh penambahan ampas tahu dalam

pembuatan kerupuk terhadap daya terima dan nilai gizinya.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk membuat kerupuk dari ampas

tahu.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui daya terima terhadap aroma, warna, rasa, dan tekstur

(5)

2. Untuk mengetahui nilai gizi protein, lemak dan karbohidrat pada kerupuk

hasil olahan ampas tahu.

1.4 Manfaat Penelitan

1. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang pengolahan kerupuk

dari ampas tahu, yang masih memiliki nilai gizi yang cukup sebagai

cemilan yang sehat.

Referensi

Dokumen terkait

Daya terima Nugget ayam dipengaruhi oleh substitusi tepung ampas tahu dengan nilai p = 0,000 pada kesukaan keseluruhan, dengan substitusi tepung ampas tahu 10%

PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG AMPAS TAHU DALAM PEMBUATAN NUGGET TERHADAP KADAR PROTEIN DAN DAYA TERIMA KONSUMEN.. Ampas tahu merupakan hasil sampingan dalam proses pembuatan

Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan ampas tahu sebagai bahan substitusi pembuatan nugget ampas tahu. terhadap kadar protein dan daya

Variabel yang akan diteliti meliputi variabel bebas yaitu penambahan tepung ampas tahu sedangkan variabel terikat yaitu kadar protein dan daya terima kerupuk.. Hasil penelitian

Rata-rata hasil daya terima panelis dapat diketahui penilaian panelis terhadap kerupuk ampas tahu dengan penambahan tepung ampas tahu yang meliputi warna, aroma, rasa,

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya terima dan nilai gizi substitusi tepung ampas tahu dengan tepung beras merah sebagai bahan utama dalam pembuatan

Susu Kedelai yang dibuat dari Ampas Tahu dengan Penambahan Bahan Pengental.. Fakultas Kesehatan

Kandungan protein yang tepung ampas tahu yang tinggi tersebut memungkinkan digunakan sebagai sumber protein pada kerupuk yang dibuat dengan bahan baku tapioka yang