MODUL PRAKTIKUM
KIMIA DASAR
oleh:
TIM PENGAMPU MATA KULIAH KIMIA DASAR
LABORATORIUM TEKNIK KIMIA POLIMER
POLITEKNIK STMI JAKARTA
TATA TERTIB PRAKTIKUM
1. Mahasiswa yang boleh mengikuti praktikum Kimia Dasar adalah mahasiswa yang telah mengambil atau sedang menempuh mata kuliah Kimia Dasar serta telah mengisi KRS untuk mata kuliah Praktikum Kimia Dasar.
2. Setiap peserta harus hadir tepat waktu pada waktu yang telah ditentukan. Apabila peserta terlambat 15 menit dari waktu yang ditentukan, maka tidak diperkenankan mengikuti praktikum.
3. Selama mengikuti praktikum, peserta harus memakai jas praktikum yang bersih dan dikancingkan dengan rapi dan memakai sepatu tertutup.
4. Setiap peserta wajib buku catatan/jurnal praktikum sesuai dengan format yang sudah ditentukan oleh dosen/pemimpin praktikum.
5. Setiap peserta harus memeriksa alat praktikum sebelum dan sesudah praktikum kemudian mengembalikan alat yang telah dipakai dalam keadaan bersih dan kering. Botol bahan kimia yang telah selesai digunakan harus ditutup rapat dan dikembalikan ke tempat semula. Tutup botol harus sesuai. Peserta/kelompok praktikum yang memecahkan alat gelas wajib mengganti.
6. Peserta praktikum dilarang makan dan minum di dalam laboratorium/ruang praktikum. 7. Setiap peserta harus menjaga kebersihan laboratorium, bekerja dengan tertib, tenang
dan teratur. Selama praktikum, peserta harus bersikap sopan.
8. Setiap peserta harus mematuhi budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dengan memakai APD (Alat Pelindung Diri) yang diperlukan dan membuang limbah praktikum sesuai dengan kategorinya.
9. Apabila peserta praktikum melanggar hal yang telah diatur di atas, maka peserta akan dikeluarkan dari laboratorium dan tidak diperkenankan melanjutkan praktikum pada hari itu.
10. Hal yang belum disebutkan di atas dan diperlukan untuk kelancaran praktikum akan diatur kemudian.
Jakarta, Juli 2017
DAFTAR ISI
Tata Tertib Praktikum... 1
Daftar Isi ... 2
Pengenalan Laboratorium Kimia Dasar ... 3
Percobaan 1 : Larutan Asam – Basa... 5
Percobaan 2 : Titrasi Asidi – Alkalimetri ... 10
Percobaan 3 : Titrasi Lemak ... 16
Percobaan 4 : Termokimia... 20
PENGENALAN LABORATORIUM KIMIA DASAR
A. Aturan Umum
Praktikum Kimia Dasar dimulai tepat pukul 08.00 (sesi pagi) atau pukul 13.00 (sesi siang) di laboratorium Kimia Dasar Gedung B Politeknik STMI Jakarta.
- Praktikan dipersilakan masuk laboratorium dengan tertib, tidak memakai sandal, memakai sepatu tertutup, tidak memakai kaos oblong, dan memakai jas laboratorium.
- Praktikan menandatangani daftar hadir yang telah disediakan.
- Setiap praktikan mempunyai buku catatan praktikum (jurnal) sendiri. Buku catatan disimpan di atas meja kerja tetapi aman, tidak tersiram zat.
- Setiap percobaan terdiri dari: judul percobaan, tujuan, teori dasar (1/2 halaman), alat dan bahan, cara kerja, data pengamatan dan perhitungan, serta diskusi.
B. Aturan Kebersihan dan Keselamatan
- Jangan bekerja sendirian di laboratorium, minimal berdua. Praktikum Kimia Dasar harus disertai asisten sesuai dengan jadwal.
- Di dalam ruangan laboratorium tidak diperbolehkan merokok, makan dan minum. - Meja kerja dipelihara kebersihannya. Sampah dibuang pada tempatnya.
- Jika membuang zat cair pekat, dituangkan ke bak cuci sambil diguyur air yang banyak.
- Zat padat dibuang ke wadah yang tersedia, tidak ke bak cuci.
- Jika bekerja dengan gas-gas atau zat berasap, bekerjalah di dalam ruang asam. Jangan sekali-kali meninggalkan percobaan yang sedang berjalan, tunggu sampai prosesnya berhenti.
- Saat terjadi kecelakaan atau kebakaran, yang pertama dan utama harus dilakukan adalah TIDAK PANIK.
- Apabila kulit terkena zat kimia, cepat dicuci dengan air mengalir. Jika yang kena adalah mata atau muka, semprot langsung dengan air kran di atas bak cuci. Jangan digosok dengan tangan, apalagi sebelum cuci tangan. Hubungi asisten untuk minta pengobatan darurat.
- Apabila anggota badan yang terkena, gunakan air kran yang besar. Segera lepas baju laboratorium atau penutup lain di bagian yang kena zat. Segera lapor ke petugas untuk mendapat pengobatan selanjutnya.
- Bila terjadi kebakaran di atas meja kerja, misalnya larutan dalam gelas kimia, menjauhlah dari meja, segera laporkan ke petugas/asisten. Bila tidak ada yang menolong, tutup gelas yang terbakar dengan lap basah, biarkan mati sendiri atau disemprot dengan alat pemadam kebakaran yang ada.
C. Peralatan Dasar Laboratorium
- Gelas kimia (beaker glass), digunakan untuk menampung cairan atau larutan atau memperkirakan volume, bukan untuk mengukur volume larutan dengan tepat. - Labu erlenmeyer (erlenmeyer flask), digunakan untuk mengaduk cairan melalui
pengocokan, juga bisa untuk melakukan titrasi. Untuk titrasi ini ada labu yang disebut labu titrasi, yang bentuknya mirip erlenmeyer hanya lehernya lebih lebar. - Gelas ukur (graduated cylinder), digunakan untuk mengukur volume cairan.
(graduated measuring) yang bisa mengatur jumlah volume (dengan teliti), dan pipet tetes (medicine dropper) yang bisa mengambil sejumlah kecil cairan.
- Buret, sama seperti pipet berukuran. Karena buret mempunyai kran untuk mengatur keluarnya cairan, kita tidak perlu membaca setiap waktu. Alat ini digunakan untuk melakukan titrasi.
- Tabung reaksi (test tube), digunakan untuk melakukan reaksi kimia dalam jumlah sedikit.
- Kaca arloji (watch glass), digunakan untuk reaksi atau penguapan sederhana atau untuk melakukan penimbangan.
- Corong (funnel), terbuat dari kaca atau porselen, digunakan untuk menyaring secara gravitasi, ada corong tangkai panjang dan pendek.
- Corong buchner, digunakan untuk penyaringan cepat dengan cara penyedotan melalui penghisap vakum.
- Corong pisah (separating funnel), digunakan untuk memisahkan dua lapisan cairan atau lebih dengan prinsip ekstraksi.
- Cawan penguapan (evaporating dish), digunakan untuk menguapkan larutan.
- Cawan krus (crucible), digunakan untuk menguapkan dilanjutkan dengan pemijaran zat padatnya.
- Spatula, terbuat dari baja atau gelas, digunakan untuk mengambil zat padat. - Batang pengaduk, terbuat dari kaca, digunakan untuk mengaduk larutan. - Hotplate, menggunakan listrik, digunakan untuk memanaskan larutan.
PERCOBAAN I LARUTAN ASAM – BASA
I. TUJUAN
1. Mempelajari sifat indikator asam – basa
2. Menentukan trayek pH dari indikator asam – basa
3. Mempelajari proses difusi gas dengan percobaan asam – basa
II. TEORI DASAR
A. Larutan Asam dan Basa
Konsep asam basa dapat dipelajari melalui teori asam basa yang disampaikan oleh ahli kimia. Arrhenius (1859-1927) dari Swedia menyatakan bahwa asam adalah senyawa yang mengandung hidrogen dan menghasilkan ion H3O+ bila dilarutkan
dalam air. Sedangkan basa adalah suatu senyawa yang menghasilkan ion OH– jika
dilarutkan dalam air. Beberapa ahli mengatakan bahwa teori ini mempunyai kelemahan karena keterbatasan pelarutnya air. Teori kedua disampaikan oleh Bronsted dan Lowry pada tahun 1923 yang mendefinisikan asam dan basa berdasarkan pada reaksi protonisasi. Asam merupakan suatu senyawa yang dapat menghasilkan ion hidrogen (donor proton). Basa merupakan senyawa yang dapat menerima ion hidrogen (akseptor proton). Teori ketiga disampaikan oleh Lewis yang mendefinisikan asam dan basa berdasarkan reaksi transfer elektron. Asam merupakan senyawa yang berfungsi sebagai akseptor elektron sedangkan basa merupakan senyawa yang berfungsi sebagai donor elektron. Dari ketiga teori tersebut, dalam pelarut air (aqueous) teori dari Bronsted-Lowry adalah yang paling banyak dipakai.
Suatu larutan dapat digolongkan menjadi asam, basa, atau netral. Untuk mengidentifikasi suatu larutan bersifat asam, basa, atau netral dapat digunakan indikator asam basa. Indikator asam basa adalah suatu zat kimia yang memiliki warna yang berbeda jika dimasukkan dalam larutan asam dan basa. Batas-batas ketika indikator mengalami perubahan warna disebut trayek perubahan warna, trayek pH, atau trayek indikator. Contoh indikator asam basa adalah kertas lakmus. Kertas lakmus ada dua macam yaitu kertas lakmus merah dan kertas lakmus biru. Kertas lakmus merah akan berubah menjadi biru pada suasana basa, demikian pula sebaliknya.
Berdasarkan kekuatan ionisasinya, dikenal istilah asam-basa kuat dan lemah. Asam kuat di dalam air akan terurai secara sempurna menjadi ion-ionnya. Tidak demikian halnya dengan asam lemah, hanya sebagian kecil molekulnya yang terionisasi. Basa kuat adalah basa yang dalam pelarut air menghasilkan ion hidroksida secara sempurna, demikian sebaliknya untuk basa lemah. Jadi kekuatan asam basa ditentukan oleh sejauh mana ionisasinya dalam air, secara total atau sebagian. Derajat kekuatan asam atau keasaman dapat ditentukan dengan indikator universal maupun dengan alat pH-meter. Derajat keasaman menggambarkan hubungan antara jumlah ion hidrogen (H+) dan diekspresikan dalam rumus:
pH = - log [H+]
B. Difusi Gas
Difusi gas adalah peristiwa berpindahnya suatu zat gas dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan saat perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi. Contoh adalah pewangi ruangan yang berdifusi dalam udara dari satu tempat ke seluruh bagian ruangan. Difusi yang paling sering terjadi adalah difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer) molekul yang diam dari solid atau fluida. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi, yaitu:
1. ukuran partikel
Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak, sehinggak kecepatan difusi semakin tinggi.
2. luas area difusi
Semakin besar luas area difusi, semakin cepat kecepatan difusinya. 3. jarak
Semakin besar jarak antara dua konsentrasi yang berbeda, semakin lambat kecepatan difusinya.
4. suhu
Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak lebih cepat maka semakin cepat pula kecepatan difusinya.
5. ketebalan membran
Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan difusi.
Hukum difusi (efusi) Graham menyatakan bahwa gas dengan kerapatan tinggi akan berdifusi lebih lambat daripada gas berkerapatan rendah. Dalam persamaan: “laju difusi gas berbanding terbalik dengan akar kuadrat dari massa molekulnya“.
III. ALAT DAN BAHAN A. Alat
1. gelas kimia 50 ml
2. batang pengaduk
3. pelat keramik
4. botol semprot
5. pipet tetes
6. pelat mikro dan pipet plastik
B. Bahan
1. mahkota bunga
2. aqua dm atau akuades
3. etanol
4. larutan standar pH 1, 3, 5, 7, 9, 11, dan 13
5. indikator fenolftalein (pp), metil merah (mm), atau metil jingga (mo)
6. indikator universal
7. amonia, NH3 0,1 M
8. NaOH 0,1 M
9. asam cuka, CH3COOH 0,1 M
10. asam klorida, HCl 0,1 M
IV. PROSEDUR KERJA
A. Pembuatan indikator asam-basa
1. Dengan tangan atau alat potong, potong kecil-kecil mahkota bunga dari spesies yang sama, masukkan ke dalam gelas kimia 50 ml.
2. Tambahkan etanol sebanyak kurang lebih 10 ml kemudian aduk dengan batang
pengaduk hingga mahkota bunga menjadi layu pertanda zat warna telah terekstrak.
3. Cucilah pelat keramik dengan air hingga bersih.
4. Ke dalam lubang-lubang pelat keramik yang berbeda masukkan masing-masing
2-3 tetes larutan standar pH 1, 2-3, 5, 7, 9, 11, dan 12-3 secara berurutan.
5. Tambahkan 2-3 tetes ekstrak mahkota bunga ke dalam tiap-tiap lubang yang telah diberi larutan standar.
6. Catat perubahan warna pada tiap lubang.
B. Penentuan trayek pH indikator sintetis 1. Cucilah pelat keramik dengan air hingga bersih.
2. Ke dalam lubang-lubang pelat keramik yang berbeda masukkan masing-masing
2-3 tetes larutan standar pH 1, 2-3, 5, 7, 9, 11, dan 12-3 secara berurutan.
3. Tambahkan 1 tetes indikator pp, mm, atau mo (pilih salah satu) ke dalam tiap-tiap lubang yang telah diberi larutan standar.
4. Catat perubahan warna pada tiap lubang.
C. Difusi gas
1. Tuangkan akuades atau aqua dm ke dalam gelas kimia 50 ml.
2. Ke dalam lubang A2 hingga A11 pada pelat mikro, teteskan masing-masing 7 – 8 tetes akuades atau aqua dm. Lakukan hal yang sama untuk lubang C2 hingga C11. Jaga agar tidak ada cairan yang bersinggungan dari satu lubang ke lubang lainnya. 3. Ke dalam lubang A2 hingga A11, teteskan masing-masing 1 (satu) tetes indikator
universal.
4. Ke dalam lubang C2 hingga C11, teteskan masing-masing 1 (satu) tetes indikator fenolftalein atau metil merah.
5. Teteskan masing-masing 10 (sepuluh) tetes larutan asam cuka, CH3COOH 0,1 M
lubang A1.
6. Teteskan masing-masing 10 (sepuluh) tetes larutan asam klorida, HCl 0,1 M ke dalam lubang C1.
7. Teteskan masing-masing 10 (sepuluh) tetes larutan amonia, NH3 (atau NH4OH)
8. Teteskan masing-masing 10 (sepuluh) tetes larutan NaOH 0,1 M ke dalam lubang C12.
9. Dengan plastik bening, bungkus pelat mikro perlahan-lahan. Jaga agar tidak ada cairan yang tertumpah.
10. Amati setelah terjadi perubahan warna cairan pada tiap lubang, kira-kira setelah 10 menit. Catat perubahan warna pada bagian pengamatan.
V. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
A. Pembuatan indikator asam-basa
warna mahkota bunga :
warna ekstrak bunga :
warna larutan standar setelah ditambahkan ekstrak bunga 1 (indikator alami): pH :
warna larutan standar setelah ditambahkan ekstrak bunga 2 (indikator alami): pH :
B. Penentuan trayek pH indikator sintetis
warna larutan standar setelah ditambahkan indikator sintetis pp/mm/mo (pilih salah satu):
warna larutan dan indikator setelah terjadi difusi gas:
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
A B C
VI. DISKUSI
1. Apa ciri khas dari indikator asam – basa?
2. Apa yang dimaksud dengan trayek pH indikator asam – basa? 3. Bagaimana menentukan trayek pH indikator asam – basa?
4. Berdasarkan percobaan yang telah Anda lakukan, berapa trayek pH dari indikator alami?
5. Berdasarkan percobaan yang telah Anda lakukan, berapa trayek pH dari indikator sintetik?
7. Bagaimana menentukan terjadinya difusi gas dari percobaan yang telah Anda lakukan?
8. Di antara kedua asam, manakah yang lebih cepat berdifusi? Mengapa? 9. Di antara kedua basa, manakah yang lebih cepat berdifusi? Mengapa?
VII. PERSIAPAN PERCOBAAN
Sebelum memulai percobaan wajib membawa:
1. Dua jenis mahkota bunga yang berbeda (tugas kelompok)
2. Sebuah plastik bening pembungkus gula (tugas kelompok)
3. Jurnal praktikum (tugas individu)
4. Jas laboratorium (tugas individu)
PERCOBAAN 2
TITRASI ASIDI – ALKALIMETRI
I. TUJUAN
1. Membuat larutan standar NaOH
2. Menentukan konsentrasi larutan NaOH 3. Menentukan konsentrasi larutan asam klorida 4. Menentukan konsentrasi larutan asam asetat
II. TEORI DASAR
A. Analisis Volumetri
Analisis volumetri adalah suatu analisis kimia kuantitatif untuk menentukan banyaknya suatu zat dalam volume tertentu dengan mengukur banyaknya volume larutan standar yang dapat bereaksi secara kuantitatif dengan zat yang akan ditentukan. Penentuan konsentrasi zat atau larutan dilakukan dengan cara mereaksikannya secara kuantitatif dengan suatu larutan lain pada konsentrasi tertentu.
Analisis volumetri dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Titrasi netralisasi (asam-basa), yaitu suatu proses titrasi antara senyawa asam dan basa yang tidak mengakibatkan terjadinya perubahan valensi, pembentukan endapan, maupun pembentukan senyawa kompleks dari zat-zat yang saling bereaksi. Titrasi netralisasi terdiri dari:
a. Titrasi asidimetri, yaitu titrasi terhadap larutan basa bebas atau larutan garam bersifat basa dengan larutan standar asam.
b. Titrasi alkalimetri, yaitu titrasi terhadap larutan asam bebas atau larutan garam bersifat asam dengan larutan standar basa.
Pada titrasi asam-basa, pH titik akhir titrasi ditentukan dengan banyaknya konsentrasi ion H+ yang berlebihan dalam larutan yang besarnya tergantung pada
sifat asam, basa, dan konsentrasi larutan. Oleh karena itu, pada penambahan titran lebih lanjut pada titik akhir titrasi akan menyebabkan perubahan pH yang cukup besar dan indikator yang digunakan harus berubah warna sehingga perubahan indikator asam-basa tergantung pada pH titik ekivalen.
2. Titrasi pengendapan dan/atau pembentukan kompleks, yaitu suatu proses titrasi yang dapat mengakibatkan terbentuknya suatu endapan dan/atau suatu senyawa kompleks dari zat-zat yang saling bereaksi.
3. Titrasi reduksi-oksidasi atau redoks, yaitu suatu proses titrasi yang dapat mengakibatkan terjadinya perpindahan elektron antara zat-zat yang saling bereaksi atau perubahan bilangan oksidasi. Dalam hal ini zat oksidator atau reduktor berperan sebagai larutan standar.
B. Larutan Standar/Baku
Larutan standar primer merupakan larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara pasti melalui pembuatan langsung. Larutan standar primer berfungsi untuk menstandardisasi atau membakukan atau memastikan konsentrasi larutan tertentu, yaitu larutan yang konsentrasinya belum diketahui secara pasti (larutan standar sekunder). Larutan standar sekunder biasanya ditempatkan pada buret yang kemudian ditambahkan ke dalam larutan standar primer. Proses penambahan larutan standar ke dalam larutan yang akan ditentukan sampai terjadi reaksi sempurna disebut titrasi. Saat reaksi terjadi secara sempurna atau jumlah ekivalen asam sama dengan ekivalen basa, disebut titik ekivalen. Sedangkan saat indikator mengalami perubahan warna atau timbul endapan disebut titik akhir titrasi. Untuk itu pada proses titrasi perlu ditambahkan indikator ke dalam larutan standar primer untuk mengetahui perubahan warna sebagai indikasi bahwa titik ekivalen titrasi telah tercapai.
Larutan standar primer adalah larutan standar yang terbuat dari zat padat yang kemurniannya tinggi, contoh: Na2CO3, Na2C2O4.2H2O, K2Cr2O7, dan Na2B4O7.10
H2O. Zat yang dijadikan larutan standar primer harus memenuhi syarat berikut:
1. kemurniannya tinggi,
2. padatannya bersifat stabil (tidak mudah menyerap H2O atau CO2, tidak bereaksi
dengan udara, tidak mudah menguap, tidak terurai, dan massanya tidak berubah saat pengeringan)
3. memiliki massa molekul relatif, Mr yang tinggi, dan 4. larutannya bersifat stabil.
Larutan standar sekunder adalah larutan standar yang terbuat dari zat padat yang kemurniannya rendah. Konsentrasi larutan sekunder ditentukan dengan membakukan larutan tersebut dengan larutan standar primer. Contoh larutan standar sekunder:
M = konsentrasi larutan, Molar
m = massa padatan, gram
Mr = massa molekul relatif, gram/mol
V = volume larutan, ml
2. pembuatan larutan dari larutan pekat (misalnya H2SO4): larutan pekat diketahui
konsentrasinya dalam satuan persen berat, konsentrasi dalam molar dihitung
M = konsentrasi larutan, Molar
% = konsentrasi dalam persen berat, %
Mr = massa molekul relatif, gram/mol
Selanjutnya, larutan pekat diencerkan dengan menambahkan akuades atau aqua dm hingga volume tertentu menggunakan persamaan di bawah.
M1V1 = M2V2
keterangan:
V1 = volume larutan yang akan diencerkan
M1 = konsentrasi larutan yang akan diencerkan
V2 = volume larutan hasil pengenceran
M2 = konsentrasi larutan hasil pengenceran
III. ALAT DAN BAHAN A. Alat
1. spatula
2. kaca arloji
3. neraca analitis
4. gelas kimia 100 ml
5. batang pengaduk
6. corong
7. labu takar 100 ml
8. pipet volumetrik/pipet gondok 25 ml
9. pipet volumetrik/pipet gondok 10 ml
10. labu erlenmeyer
11. pipet tetes
12. buret 50 ml
13. statif dan klem
14. bola hisap (rubber bulb)
B. Bahan
1. larutan standar primer H2C2O4.2H2O
2. padatan NaOH
3. larutan HCl protitrasi
4. larutan asam asetat komersial
5. indikator fenolftalein (pp)
6. indikator metil merah
7. aqua dm
IV. PROSEDUR KERJA
A. Membuat Larutan Standar H2C2O4.2H2O 0,05 M (dilakukan oleh analis)
1. Timbang dengan tepat asam oksalat dihidrat (Mr 126,07) sebanyak 0,6304 gram di atas kaca arloji.
2. Larutkan dalam gelas kimia kemudian pindahkan ke dalam labu takar 100 ml. 3. Tambahkan aqua dm sampai tanda batas.
B. Membuat Larutan Standar NaOH
1. Timbang NaOH (Mr 40,0) sebanyak kira-kira 0,500 g dengan kaca arloji. 2. Larutkan dalam gelas kimia 100 ml dengan menambah aqua dm hingga 50 ml. 3. Dengan corong kaca pindahkan larutan ke dalam labu takar 100 ml.
C. Standardisasi Larutan NaOH dengan Larutan Asam Oksalat
1. Dengan menggunakan corong, tuangkan larutan NaOH dari gelas kimia 100 ml ke dalam buret. Pastikan tidak ada gelembung udara dari ujung atas hingga ujung bawah buret. Catat skala awal.
2. Dengan menggunakan pipet volumetrik, pindahkan masing-masing 25 ml larutan standar primer asam oksalat ke dalam dua buah labu erlenmeyer. Teteskan 2 – 3 tetes indikator pp.
3. Titrasi larutan asam oksalat dengan larutan NaOH. Catat skala akhir buret saat terjadi perubahan warna yang stabil.
4. Lakukan duplo.
D. Penentuan Konsentrasi Asam Klorida Protitrasi
1. Tempatkan kira-kira 30 ml larutan HCl protitrasi ke dalam gelas kimia 100 ml. 2. Dengan pipet volumetrik pindahkan 25 ml larutan HCl ke dalam labu takar 100
ml. Encerkan hingga tanda batas. Perhatikan bahwa Anda sedang melakukan pengenceran larutan HCl protitrasi dengan faktor pengenceran = volume akhir : volume awal = 100 : 25 = 4.
3. Tutup labu takar kemudian homogenkan dengan cara membolak-balik labu 3 – 5 kali.
4. Dengan pipet volumetrik pindahkan masing-masing 25 ml larutan HCl ke dalam dua labu erlenmeyer yang berbeda. Teteskan 2 – 3 tetes indikator pp.
5. Titrasi larutan HCl dengan larutan NaOH. Catat skala akhir buret saat terjadi perubahan warna yang stabil.
6. Lakukan duplo.
E. Penentuan Konsentrasi Asam Asetat Komersial
1. Tempatkan kira-kira 30 ml larutan asam asetat komersial ke dalam gelas kimia 100 ml.
2. Dengan pipet volumetrik 10 ml pindahkan 10 ml larutan tersebut ke dalam labu takar 100 ml. Encerkan hingga tanda batas. Perhatikan bahwa Anda sedang melakukan pengenceran larutan dengan faktor pengenceran = volume akhir : volume awal = 100 : 10 = 10.
3. Tutup labu takar kemudian homogenkan dengan cara membolak-balik labu 3 – 5 kali.
4. Dengan pipet volumetrik pindahkan masing-masing 25 ml larutan tersebut ke dalam dua labu erlenmeyer yang berbeda. Teteskan 2 – 3 tetes indikator pp.
5. Titrasi larutan tersebut dengan larutan NaOH. Catat skala akhir buret saat terjadi perubahan warna yang stabil.
6. Lakukan duplo.
V. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN A. Standardisasi Larutan NaOH
Volume asam :
Titrasi I Titrasi II
Skala awal buret : Skala awal buret :
Skala akhir buret : Skala akhir buret :
Volume basa rata-rata :
B. Penentuan Konsentrasi Asam Klorida Protitrasi
Volume asam :
Titrasi I Titrasi II
Skala awal buret : Skala awal buret :
Skala akhir buret : Skala akhir buret :
Volume basa 1 : Volume basa 2 :
Volume basa rata-rata :
C. Penentuan Konsentrasi Asam Asetat Komersial
Volume asam :
Titrasi I Titrasi II
Skala awal buret : Skala awal buret :
Skala akhir buret : Skala akhir buret :
Volume basa 1 : Volume basa 2 :
Volume basa rata-rata :
D. Perhitungan
1. Standardisasi Larutan NaOH
Persamaan reaksi: H2C2O4 + 2NaOH → Na2C2O4 + 2H2O
Saat titik ekivalen tercapai (yang didekati dengan titik akhir) berlaku persamaan: mol ekivalen asam = mol ekivalen basa
M1V1e1 = M2V2e2
keterangan :
M1 = konsentrasi asam
V1 = volume asam
e1 = ekivalen asam
M2 = konsentrasi basa
V2 = volume basa rata-rata
e2 = ekivalen basa
2. Penentuan Konsentrasi Asam Klorida Protitrasi
Persamaan reaksi: HCl + NaOH → NaCl + 2H2O
Saat titik ekivalen tercapai (yang didekati dengan titik akhir) berlaku persamaan: mol ekivalen asam = mol ekivalen basa
M1V1e1 = M2V2e2
konsentrasi HCl yang dititrasi,
2 2 2
3. Penentuan Konsentrasi Asam Asetat Komersial
Persamaan reaksi: CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O
Saat titik ekivalen tercapai (yang didekati dengan titik akhir) berlaku persamaan: mol ekivalen asam = mol ekivalen basa
M1V1e1 = M2V2e2
konsentrasi asam asetat yang dititrasi,
2 2 2 1
1 1 M V e M
V e = …
Faktor pengenceran = 10 dikalikan dengan M1 maka konsentrasi asam asetat
komersial = ...
VI. DISKUSI
1. Cara-cara apa saja yang perlu dilakukan untuk memperkecil kesalahan titrasi (membuat titik ekivalen tidak jauh dengan titik akhir titrasi?
2. Dari konsentrasi NaOH dan HCl protitrasi di atas, tentukan pH dari masing-masing larutan. Ingat bahwa keduanya merupakan basa kuat dan asam kuat. 3. Dari konsentrasi asam asetat komersial di atas, tentukan pH-nya. Ingat bahwa
asam asetat merupakan asam lemah.
VII. PERSIAPAN PERCOBAAN
Sebelum memulai percobaan wajib membawa:
1. Satu botol asam asetat/cuka komersial (tugas kelompok)
2. Jurnal praktikum (tugas individu)
PERCOBAAN 3 TITRASI LEMAK
I. TUJUAN
1. Menentukan bilangan asam dari asam lemak bebas dalam minyak/lemak 2. Menentukan bilangan iod dari minyak/lemak
II. TEORI DASAR
A. Bilangan Asam
Lemak dan minyak terdapat hampir semua bahan pangan dengan kandungan yang berbeda-beda, tetapi lemak dan minyak tersebut seringkali ditambahkan dengan sengaja ke dalam bahan makanan dengan berbagai tujuan. Dalam pengolahan bahan makanan, minyak dan lemak berfungsi sebagai media penghantar panas, seperti minyak goreng. Bilangan asam dalam minyak dan lemak didefiniskan sebagai jumlah KOH dalam mg yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas dalam 1 gram zat. Bilangan asam ini menunjukkan banyaknya asam lemak bebas dalam suatu lemak atau minyak. Bilangan asam merupakan salah satu parameter untuk mengetahui kualitas minyak atau lemak.. Pengukuran bilangan asam maksimum 1 mg/g. Jika bilangan asam lebih dari 1 mg/g, maka tidak layak dimakan. Makin tinggi bilangan asam makin rendah kualitas minyak atau lemak.
B. Bilangan Iod
Bilangan iod digunakan untuk menghitung ketidakjenuhan minyak atau lemak. Semakin besar angka iod maka asam lemak tersebut semakin tidak jenuh. Dalam pencampurannya bilangan iod menjadi sangat penting yaitu untuk mengidentifikasi ketahanan sabun pada suhu tertentu. Lemak yang tidak jenuh dengan mudah dapat bereaksi dengan iod. Semakin banyak iod yang dibutuhkan semakin tinggi derajat ketidakjenuhan. Biasanya semakin tinggi titik leleh semakin rendah kadar asam lemak tidak jenuh dan demikian pula derajat ketidakjenuhan (bilangan iod) dari lemak bersangkutan. Lemak dan asam lemak jenuh biasanya padat sementara lemak dan asam lemak tidak jenuh cair. Karenanya semakin tinggi bilangan iod semakin tidak jenuh dan semakin lunak lemak tersebut. Karena setiap ikatan rangkap dalam asam lemak akan bereaksi dengan dua atom iod maka dapat ditentukan jumlah ikatan rangkap yang terkandung dalam lemak tertentu.
III. ALAT DAN BAHAN A. Alat
1. neraca digital
2. labu erlenmeyer 250 ml 3. pipet tetes
6. larutan sikloheksana + asam asetat (3:2)
7. larutan wijs
1. Timbang labu erlenmeyer 250 ml kosong.
2. Masukkan sampel minyak sebanyak kurang lebih 5 gram. 3. Tambahkan lagi 20 ml n-heksana dan 50 ml etanol netral.
4. Titrasi dengan larutan KOH 0,100 N standar dengan 3-5 tetes indikator fenolftalein hingga terjadi perubahan warna yang stabil (tidak hilang selama 30 detik) dari tidak berwarna sampai merah muda.
5. Lakukan duplo.
B. Penentuan Bilangan Iod
1. Timbang labu erlenmeyer 250 ml kosong.
2. Masukkan sampel minyak sebanyak kurang lebih 0,5 gram.
3. Tambahkan 20 ml larutan sikloheksana + asam asetat (3:2) dan 25 ml larutan wijs ke dalam labu erlenmeyer.
4. Simpan dalam tempat gelap selama 30 menit.
5. Tambahkan 20 ml larutan KI 15% dan 40 ml akuades.
6. Titrasi dengan larutan Na2S2O3 0,100 N hingga larutan berwarna pucat.
7. Tambahkan indikator amilum 1% hingga larutan menjadi biru tua.
8. Titrasi kembali hingga warna larutan menjadi putih, lapisan sikloheksana berwarna merah muda.
9. Lakukan duplo.
10. Ulangi prosedur di atas untuk melakukan titrasi blangko. Titrasi larutan blangko dilakukan mulai prosedur no. 3 – 9 di atas (tanpa no. 1 dan 2).
Konsentrasi KOH :
Sampel simplo Sampel duplo
Massa sampel : Massa sampel :
Skala awal buret : Skala awal buret :
Skala akhir buret : Skala akhir buret :
Volume KOH 1 : Volume KOH 2 :
Massa sampel : Massa sampel :
massa sampel rata-rata
Titrasi sampel
Sampel simplo Sampel duplo
Skala awal buret : Skala awal buret :
Skala akhir buret : Skala akhir buret :
Volume Na2S2O3 : Volume Na2S2O3 :
Volume rata-rata titrasi sampel :
Titrasi blangko
Sampel simplo Sampel duplo
Skala awal buret : Skala awal buret :
Skala akhir buret : Skala akhir buret :
Volume Na2S2O3 : Volume Na2S2O3 :
Volume rata-rata titrasi blangko :
D. Perhitungan
1. Penentuan Bilangan Asam (persentase asam lemak bebas sebagai asam palmitat)
� �
�
� Mr M V
Persentase asam lemak bebas 100%
m 1000
keterangan :
Mr = massa molekul relatif asam palmitat M = molaritas KOH
V = volume KOH rata-rata m = massa sampel rata-rata
2. Penentuan Bilangan Iod
VA = volume rata-rata titrasi sampel
VB = volume rata-rata titrasi blangko
M = molaritas Na2S2O3
VI. DISKUSI
1. Berapa nilai bilangan asam yang diperoleh? Apa artinya? Apakah nilai tersebut menunjukkan minyak yang diuji berkualitas baik ataukah buruk?
2. Berapa nilai bilangan iod yang diperoleh? Apa artinya? Apakah nilai tersebut menunjukkan minyak yang diuji berkualitas baik ataukah buruk?
VII. PERSIAPAN PERCOBAAN
Sebelum memulai percobaan wajib membawa:
1. Minyak goreng bekas (tugas kelompok)
2. Jurnal praktikum (tugas individu)
PERCOBAAN 4 TERMOKIMIA
I. TUJUAN
1. Menentukan tetapan kalorimeter
2. Menentukan kalor penetralan antara basa kuat dan asam kuat 3. Menentukan kalor penetralan antara basa kuat dan asam lemah
II. TEORI DASAR
Termokia membahas tentang perubahan energi yang menyertai suatu reaksi kimia dalam bentuk kalor reaksi. Perubahan yang terjadi dapat berupa pelepasan kalor (reaksi eksoterm) atau penyerapan kalor (reaksi endoterm). Kalor reaksi dapat digolongkan dalam kategori yang lebih khusus 1).kalor pembentukan, 2).kalor pembakaran, 3).kalor pelarutan, dan 4).kalor penetralan.
Perubahan energi yang terjadi bersifat kekal, artinya tidak ada energi yang hilang selama reaksi berlangsung melainkan berubah bentuk dari satu bentuk energi ke bentuk energi yang lain. Adanya hukum kekekalan energi ini ditunjukan oleh selisih penyerapan dan pelepasan energi yang disebut sebagai energi dalam. Jika pada suatu sistem diberikan sejumlah energi dalam bentuk kalor (q), maka sistem akan melakukan kerja (w) sebesar w = P × ΔV. Setelah melakukan kerja sistem masih menyimpan sejumlah energi yang disebut sebagai energi dalam (U). Dalam bentuk persamaan, ΔU = q + w.
Dalam percobaan akan ditentukan kalor reaksi yang menyertai suatu reaksi kimia pada tekanan tetap (qP). Perubahan kalor yang terjadi pada tekanan tetap disebut
perubahan entalpi (ΔH). Karena sistem yang diukur hanya melibatkan zat padat dan zat cair yang perubahan volumenya kecil (ΔV→0) maka besaran kerja yang dilakukan sistem dapat diabaikan (w = P × ΔV = 0). Dengan demikian ΔU = ΔH.
Besarnya kalor yang terlibat dalam reaksi kimia dapat diukur dengan alat yang disebut kalorimeter. Besarnya kalor yang diserap oleh kalorimeter untuk menaikkan suhu kalorimeter sebesar satu derajat dinamakan tetapan kalorimeter dengan satuan J/K.
III. ALAT DAN BAHAN A. Alat
1. kalorimeter
2. gelas kimia 100 ml 3. termometer
4. gelas ukur 100 ml 5. batang pengaduk
6. hotplate 7. stopwatch
B. Bahan
1. aqua dm
2. larutan NaOH 0,1 M 3. larutan HCl 0,1 M
IV. PROSEDUR KERJA
A. Penentuan Tetapan Kalorimeter
1. Dengan menggunakan gelas ukur 100 ml, masukkan 50 ml aqua dm ke dalam kalorimeter. Catat suhunya.
2. Dengan menggunakan gelas ukur 100 ml, masukkan 50 ml aqua dm ke dalam gelas kimia 100 ml. Panaskan di atas hotplate hingga suhu air kira-kira 35C.
3. Turunkan gelas kimia dari hotplate dan catat suhu stabilnya.
4. Masukkan air panas ke dalam kalorimeter. Aduk campuran beberapa saat. Catat suhunya mengikuti tabel pada bagian pengamatan.
B. Penentuan Kalor Penetralan Basa Kuat – Asam Kuat
1. Dengan menggunakan gelas ukur, masukkan 50 mL larutan NaOH 0,1 M ke dalam kalorimeter. Catat suhunya.
2. Dengan menggunakan gelas ukur, masukkan 50 mL larutan HCl 0,1 M ke dalam gelas kimia 100 ml. Catat suhunya.
3. Masukkan larutan HCl ke dalam kalorimeter. Aduk campuran beberapa saat. Catat suhunya mengikuti tabel pada bagian pengamatan.
C. Penentuan Kalor Penetralan Basa Kuat – Asam Lemah
1. Dengan menggunakan gelas ukur, masukkan 50 mL larutan NaOH 0,1 M ke dalam kalorimeter. Catat suhunya.
2. Dengan menggunakan gelas ukur, masukkan 50 mL larutan asam asetat 0,1 M ke dalam gelas kimia 100 ml. Catat suhunya.
3. Masukkan larutan asam ke dalam kalorimeter. Aduk campuran beberapa saat. Catat suhunya mengikuti tabel pada bagian pengamatan.
V. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN A. Penentuan Tetapan Kalorimeter
T air dingin (T1) = T air panas (T2) =
t (menit) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
T (C)
1. Dengan regresi sederhana, tentukan suhu pencampuran saat t = 0 menit, T3. 2. Gunakan asas Black: kalor yang dilepas air panas = kalor yang diterima air dingin
+ kalor yang diterima kalorimeter
m × c × ΔTa = m × c × ΔTb + k × ΔTc
keterangan:
m = massa air, gunakan ρ air = 1 g/ml c = kalor jenis air = 4,2 J/gC = 4,2 J/gK ΔTa = perubahan suhu air panas = T2 – T3 ΔTb = perubahan suhu air dingin = T2 – T1 ΔTc = perubahan suhu kalorimeter = ΔTb
B. Penentuan Kalor Penetralan Basa Kuat – Asam Kuat
T basa (T1) =
T asam (T2) =
T rata-rata (T3) =
t (menit) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
T (C)
1. Dengan regresi sederhana, tentukan suhu pencampuran saat t = 0 menit, T4. 2. Gunakan asas Black: kalor yang dihasilkan reaksi = kalor yang diterima larutan +
kalor yang diterima kalorimeter
q1 = m × c × ΔTa + k × ΔTb
keterangan:
m = massa larutan, gunakan ρ larutan = 1,005 g/ml
c = kalor jenis larutan = 4,205 J/gC = 4,205 J/gK
ΔTa = perubahan suhu larutan = T4 – T3 ΔTb = perubahan suhu kalorimeter = ΔTa
k = tetapan kalorimeter
3. Hitung q1 dalam J.
4. Hitung ΔH reaksi penetralan dengan cara, ΔH = –q1/mol NaCl produk.
C. Penentuan Kalor Penetralan Basa Kuat – Asam Lemah
T basa (T1) =
T asam (T2) =
T rata-rata (T3) =
t (menit) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
T (C)
1. Dengan regresi sederhana, tentukan suhu pencampuran saat t = 0 menit, T4. 2. Gunakan asas Black: kalor yang dihasilkan reaksi = kalor yang diterima larutan +
kalor yang diterima kalorimeter
q2 = m × c × ΔTa + k × ΔTb
keterangan:
m = massa larutan, gunakan ρ larutan = 1,005 g/ml
c = kalor jenis larutan = 4,205 J/gC = 4,205 J/gK
ΔTa = perubahan suhu larutan = T4 – T3 ΔTb = perubahan suhu kalorimeter = ΔTa
k = tetapan kalorimeter
3. Hitung q2 dalam J.
VI. DISKUSI
1. Jika diketahui tetapan kalorimeter sebesar 20 J/K, apa artinya? 2. Kalor jenis air sebesar 4,2 J/gK. Apa artinya?
3. Berapa nilai entalpi penetralan asam kuat – basa kuat hasil perhitungan? Apa artinya?
4. Bandingkan nilai entalpi kedua reaksi. Mengapa salah satu nilai lebih besar dari lainnya?
VII. PERSIAPAN PERCOBAAN
Sebelum memulai percobaan wajib membawa:
1. Stopwatch atau ponsel (tugas kelompok)
2. Jurnal praktikum (tugas individu)
PERCOBAAN 5 KINETIKA KIMIA
I. TUJUAN
1. Menentukan pengaruh konsentrasi reaktan terhadap laju reaksi 2. Menentukan pengaruh temperatur terhadap laju reaksi
3. Menentukan pengaruh katalis terhadap laju reaksi
4. Menentukan pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi
II. TEORI DASAR
Reaksi kimia adalah proses berubahnya pereaksi menjadi hasilreaksi. Proses itu ada yang lambat dan ada yang cepat.Contohnya bensin terbakar lebih cepat dibandingkan dengan minyak tanah. Ada reaksi yang berlangsung sangat cepat, seperti membakar dinamit yang menghasilkan ledakan dan yang sangat lambat adalah seperti proses berkaratnya besi. Pembahasan tentang laju reaksi disebut kinetika kimia. Kinetika reaksi merupakan cabang ilmu kimia yang membahas tentang laju reaksi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Laju (kecepatan) reaksi dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi terhadap satuan waktu. Laju reaksi suatu reaksi kimia dapat dinyatakan dengan persamaan laju reaksi. Untuk reaksi A + B → C + D, persamaan laju reaksi secara umum ditulis sebagai berikut:
r = k [A]m [B]n
Laju reaksi dilambangkan dengan r (rate), k sebagai konstanta laju reaksi, m dan n merupakan orde masing-masing pereaksi, A dan B.
Pengetahuan tentang faktor yang mempengaruhi laju reaksi berguna dalam mengontrol kecepatan reaksi, seperti pembuatan amonia dari nitrogen dan hidrogen. Akan tetapi kadangkala kita ingin memperlambat laju reaksi, seperti mengatasi berkaratnya besi, memperlambat pembusukan makanan oleh bakteri, dsb.
Besarnya laju reaksi dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: 1. sifat dan ukuran pereaksi
Semakin reaktif sifat pereaksi laju reaksi akan semakin bertambah atau reaksi berlangsung semakin cepat. Semakin luas permukaan zat pereaksi laju reaksi akan semakin bertambah. Permukaan zat pereaksi dapat diperluas dengan memperkecil ukuran pereaksi. Zat pereaksi dalam bentuk serbuk menghasilkan laju reaksi lebih besar dibandingkan bentuk bongkahan.
2. konsentrasi
Dari persamaan umum laju reaksi, besarnya laju reaksi umumnya sebanding dengan konsentrasi pereaksi. Hal ini karena orde reaksi umumnya bernilai positif. Untuk reaksi tertentu yang berorde negatif, konsentrasi akan berbanding terbalik dengan laju reaksi. Untuk reaksi berorde nol maka konsentrasi tidak mempengaruhi laju reaksi.
3. suhu reaksi
Arrhenius yang khas untuk tiap reaksi (faktor frekuensi) dan Ea adalah energi aktivasi.
4. katalis
Katalis adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi untuk mempercepat jalannya reaksi. Katalis biasanya ikut bereaksi sementara dan kemudian terbentuk kembali sebagai zat bebas.
III. ALAT DAN BAHAN A. Alat
1. gelas kimia 100 ml 2. gelas kimia 250 ml 3. gelas ukur 50 ml
A. Pengaruh Konsentrasi terhadap Laju Reaksi
Percobaan berikut didasarkan atas reaksi K2S2O8 + 2KI → 2K2SO4 + I2
1. Dengan gelas ukur masukkan larutan Na2S2O3 ke dalam gelas kimia 100 ml.
Dengan gelas ukur yang berbeda-beda tambahkan larutan K2S2O8, larutan kanji
dan aqua dm ke dalam gelas kimia yang sama dengan di atas. Ikuti tabel di bawah untuk mengetahui volume percobaan I.
2. Dengan gelas ukur masukkan larutan KI ke dalam gelas kimia 100 ml yang lain. Ikuti tabel di bawah untuk mengetahui volume percobaan I.
Komposis
3. Nyalakan stopwatch saat larutan KI mulai dimasukkan ke dalam campuran larutan yang lain. Aduk campuran.
4. Catat waktu yang diperlukan hingga terjadi perubahan warna.
5. Buang larutan hasil pada tempat yang disediakan. Cuci dan keringkan gelas kimia. Gelas-gelas ukur tidak perlu dicuci dahulu asalkan tiap gelas ukur dipakai untuk larutan yang sama.
B. Pengaruh Suhu terhadap Laju Reaksi
Percobaan berikut didasarkan atas reaksi 2Fe3+ + 2S
2O32– → 2Fe2+ + S4O62–
1. Dengan gelas ukur masukkan 2 ml larutan Fe3+ ke dalam tabung reaksi. Ukur
temperaturnya.
2. Dengan gelas ukur masukkan 2 ml larutan S2O32– ke dalam tabung reaksi lain.
3. Campurkan kedua larutan dengan segera. Catat waktu yang diperlukan hingga terjadi perubahan warna.
4. Dengan gelas ukur masukkan larutan Fe3+ ke dalam tabung reaksi.
5. Dengan gelas ukur masukkan larutan S2O32– ke dalam tabung reaksi lain.
6. Panaskan dengan hotplate ±100 ml air keran di dalam gelas kimia 250 ml untuk membuat penangas air.
7. Masukkan kedua tabung reaksi ke dalam penangas air tersebut. Tunggu hingga suhu menjadi ±40C. Catat suhu saat penangas air diturunkan dari hotplate.
8. Campurkan kedua larutan dengan segera. Catat waktu yang diperlukan hingga terjadi perubahan warna.
C. Pengaruh Katalis terhadap Laju Reaksi
1. Masukkan 1 – 2 ml (1 ml = ±20 tetes) larutan H2O2 ke dalam tabung reaksi.
Amati.
2. Masukkan ke dalamnya potongan kentang. Amati perubahannya.
C. Pengaruh Luas Permukaan terhadap Laju Reaksi
1. Masukkan masing-masing 1 – 2 ml larutan H2O2 ke dalam dua buah tabung reaksi.
2. Potong kentang menjadi dua buah dadu dengan panjang sisi masing-masing ±1 cm. Sebuah dadu dipotong besar-besar seadanya. Dadu satunya dipotong kecil-kecil sehingga luas permukaannya jauh lebih besar dibanding potongan kentang sebelumnya.
3. Masukkan masing-masing hasil potongan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi larutan H2O2 di atas. Amati perbedaannya.
V. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN A. Pengaruh Konsentrasi terhadap Laju Reaksi
1. Lengkapi tabel berikut:
2. Hitung konsentrasi akhir Na2S2O8 setelah pengenceran dengan persamaan:
M1V1 = M2V2
keterangan:
M1 = konsentrasi sebelum pengenceran = 0,1 M
V1 = volume sebelum pengenceran (sesuai tabel)
M2 = konsentrasi setelah pengenceran
V2 = volume setelah pengenceran = 50 ml
keterangan:
M1 = konsentrasi sebelum pengenceran = 0,1 M
V1 = volume sebelum pengenceran (sesuai tabel)
M2 = konsentrasi setelah pengenceran
V2 = volume setelah pengenceran = 50 ml
4. Hitung laju reaksi dengan persamaan:
laju reaksi, r = Δ[K2S2O8] / Δt (detik) = 0,005 M/ Δt
5. Lengkapi tabel berikut:
Percobaan [K2S2O8] [KI] laju reaksi, r
I II III
6. Tentukan orde reaksi terhadap K2S2O8 dan KI berdasarkan tabel di atas.
B. Pengaruh Suhu terhadap Laju Reaksi
1. waktu reaksi pada suhu kamar (…C) : … detik 2. waktu reaksi pada suhu panas (…C) : … detik
C. Pengaruh Katalis terhadap Laju Reaksi
1. larutan H2O2:
2. larutan H2O2 dengan potongan kentang:
C. Pengaruh Luas Permukaan terhadap Laju Reaksi
1. larutan H2O2 dengan kentang potongan kasar:
2. larutan H2O2 dengan kentang potongan halus:
VI. DISKUSI
1. Berdasarkan percobaan di atas, bagaimana pengaruh konsentrasi K2S2O8 dan KI
terhadap laju reaksi?
2. Bagaimana pengaruh suhu terhadap laju reaksi?
3. Bagaimana pengaruh katalis terhadap laju reaksi? (Kentang mengandung enzim katalase.)
4. Bagaimana pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi?
VII. PERSIAPAN PERCOBAAN
Sebelum memulai percobaan wajib membawa:
1. Sebuah kentang (tugas kelompok)
2. Stopwatch atau ponsel (tugas kelompok)
3. Jurnal praktikum (tugas individu)