• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN"

Copied!
172
0
0

Teks penuh

(1)

KETAHANAN PANGAN

2010 – 2014

(2)
(3)

Ketahanan Pangan mash merupakan su yang pentng bag bangsa Indonesa. Sekalpun saat n Indonesa telah berhasl mencapa swasembada beras, namun ketahanan pangan mash menjad salah satu prortas pembangunan nasonal. Hal n antara lan karena pangan merupakan kebutuhan dasar manusa yang tdak bsa dsubsttus dengan bahan lan. Sementara, pertumbuhan jumlah penduduk ndonesa yang terus menngkat memerlukan penyedaan bahan pangan dalam jumlah yang sangat besar. D ss lan, kapastas penyedaan bahan pangan justru menghadap sejumlah tantangan sepert perubahan klm global, kompets pemanfaatan sumberdaya lahan dan ar untuk kegatan pertanan dan non pertanan, serta degradas lngkungan yang menurunkan kapastas produks pangan nasonal. Kta juga menghadap persoalan penanganan kerawanan pangan mash terjad d Indonesa.

Sehubungan dengan persoalan tersebut d atas, maka dalam RPJMN 2010-2014, Pemerntah menempatkan pembangunan ketahanan pangan sebaga salah satu prortas nasonal. Dalam katan dengan pembangunan ketahanan pangan, pemerntah memberkan penekanan pada perbakan subsstem ketersedaan pangan, subsstem dstrbus pangan dan subsstem konsums pangan.

Pembangunan subsstem ketersedaan darahkan guna menjamn ketahanan dan kedaulatan pangan nasonal. Dalam hal n, Pemerntah berupaya mencapa swasembada dan mempertahankan swasembada berkelanjutan bag komodtas pangan strategs, melalu snerg dan keterpaduan antar sektor, sehngga tujuan tersebut dapat dcapa secara efektf dan efsen. Upaya

(4)

dalam konds cukup, memada, dan terkelola dengan bak, yang dtanda oleh stabltas harga pangan yang terjangkau bag konsumen, namun dss lan juga memberkan penghaslan yang memada bag petan. Upaya pembangunan dstrbus pangan antara lan melalu pengembangan cadangan pangan dan perbakan ranta dstrbus logstk nasonal yang efektf dan efsen.

Pengembangan substem konsums pangan dmaksudkan untuk memperbak kualtas konsums pangan masyarakat, khususnya melalu penganekaragaman konsums pangan dengan memanfaatkan sumberdaya pangan lokal, termasuk menngkatkan aspek keamanan pangan. Kekayaan sumberdaya hayat Indonesa perlu dmanfaatkan untuk menngkatkan kualtas dan keragaman konsums pangan masyarakat, sekalgus mengatas ketergantungan pada beras. Guna memberkan arahan mengena mplementas RPJMN bdang ketahanan pangan, dsusun Kebjakan Umum Ketahanan Pangan 2010-2014. Penerbtan buku n dmaksudkan sebaga pedoman bag seluruh pemangku kepentngan, Pemerntah Pusat dan Daerah serta komponen bangsa lannya mengena program-program pembangunan ketahanan pangan secara terpadu dan snergs.

Saya berharap dengan berpedoman pada “Kebjakan Umum Ketahanan Pangan 2010 – 2014” n, kta mampu secara terarah memusatkan semua upaya dan sumberdaya untuk percepatan pencapaan tujuan pembangunan ketahanan pangan nasonal. Karena tu, saya berharap semua pemangku kepentngan menjadkan buku n sebaga acuan dalam perumusan langkah operasonal pembangunan ketahanan pangan d bdang dan wlayah kerjanya masng-masng sesua dengan peran dan tanggung jawabnya.

Jakarta, Maret 2011

(5)

dalam konds cukup, memada, dan terkelola dengan bak, yang dtanda oleh stabltas harga pangan yang terjangkau bag konsumen, namun dss lan juga memberkan penghaslan yang memada bag petan. Upaya pembangunan dstrbus pangan antara lan melalu pengembangan cadangan pangan dan perbakan ranta dstrbus logstk nasonal yang efektf dan efsen.

Pengembangan substem konsums pangan dmaksudkan untuk memperbak kualtas konsums pangan masyarakat, khususnya melalu penganekaragaman konsums pangan dengan memanfaatkan sumberdaya pangan lokal, termasuk menngkatkan aspek keamanan pangan. Kekayaan sumberdaya hayat Indonesa perlu dmanfaatkan untuk menngkatkan kualtas dan keragaman konsums pangan masyarakat, sekalgus mengatas ketergantungan pada beras. Guna memberkan arahan mengena mplementas RPJMN bdang ketahanan pangan, dsusun Kebjakan Umum Ketahanan Pangan 2010-2014. Penerbtan buku n dmaksudkan sebaga pedoman bag seluruh pemangku kepentngan, Pemerntah Pusat dan Daerah serta komponen bangsa lannya mengena program-program pembangunan ketahanan pangan secara terpadu dan snergs.

Saya berharap dengan berpedoman pada “Kebjakan Umum Ketahanan Pangan 2010 – 2014” n, kta mampu secara terarah memusatkan semua upaya dan sumberdaya untuk percepatan pencapaan tujuan pembangunan ketahanan pangan nasonal. Karena tu, saya berharap semua pemangku kepentngan menjadkan buku n sebaga acuan dalam perumusan langkah operasonal pembangunan ketahanan pangan d bdang dan wlayah kerjanya masng-masng sesua dengan peran dan tanggung jawabnya.

Jakarta, Maret 2011

Presden RI/Ketua Dewan Ketahanan Pangan,

SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN

Pembangunan Ketahanan Pangan bertujuan untuk menjamn ketersedaan pangan yang cukup dar seg jumlah, mutu, keamanan dan keragaman sehngga setap rumah tangga mampu mengkonsums pangan dalam setap saat, mampu mengkonsum pangan yang cukup, aman, bergz dan sesua plhannya, untuk menjalan hdup sehat dan produktf. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan mengamanatkan pembangunan pangan untuk memenuh kebutuhan dasar manusa, dmana pemerntah bersama masyarakat bertanggung jawab untuk mewujudkan ketahanan pangan. Untuk mencapa tujuan n, pemerntah dan masyarakat bertanggung jawab sesua dengan peran dan sumberdaya yang dmlknya. Pemerntah bertanggung jawab menyelenggarakan pengaturan, pembnaan, pengendalan dan pengawasan terhadap ketersedaan pangan, sedangkan masyarakat berperan menyelenggarakan produks dan penyedaan, perdagangan, dstrbus dan konsumen.

Mengngat pentngnya masalah pangan, setap negara memprortaskan pembangunan ketahanan pangan dan pencapaannya dposskan sebaga fondas bag pembangunan sektor-sektor lannya. Berbaga tantangan dan perubahan lngkungan strategs bak secara global maupun nasonal, telah mempengaruh stuas ketahanan pangan nasonal. Berkatan dengan hal tersebut, pemerntah Indonesa menempatkan pembangunan ketahanan pangan sebaga salah satu prortas pembangunan nasonal, sebagamana yang tercantum d dalam RPJMN 2010-2014.

(6)

ekonom, serta masyarakat pada umumnya dalam melaksanakan pembangunan ketahanan pangan d berbaga tngkatan, dem terwujudnya ketahanan pangan nasonal, daerah dan rumah tangga secara berkelanjutan. Buku KUKP 2010-2014 n juga dharapkan dapat dgunakan sebaga arahan untuk menykap dnamka konds global yang mempengaruh stuas dan dnamka ketahanan pangan d dalam neger, bak pada tngkat nasonal maupun sampa pada tngkat daerah.

Penyusunan dokumen KUKP 2010-2014 n dmula dengan menugaskan Kelompok Kerja (Pokja Ahl) Dewan Ketahanan Pangan (DKP) untuk merumuskan de-de dasar dar pembangunan ketahanan pangan. Proses penyusunan konsep awal KUKP 2010-2014 n dlakukan melalu peneltan, stud pustaka, dskus nternal dengan Pokja Tekns, Tm Asstens dan Pokja Khusus Pemberdayaan Ketahanan Pangan Masyarakat DKP. Konsep awal KUKP 2010-2014 n telah dsemnarkan dan dbahas berkal-kal dalam berbaga dskus publk, mula dar pengenalan, perumusan, dentfkas masalah, prortsas kebjakan, langkah aks, sampa pada pembagan tugas dan tanggung jawab stake holder. Dskus publk telah melbatkan unsur lembaga pemerntah, perguruan tngg, swasta, organsas profes, lembaga swadaya masyarakat, dan organsas kemasyarakatan lannya.

Mengngat setap daerah memlk sumberdaya dan persoalan ketahanan pangan yang spesfk lokas, maka dhmbau agar setap daerah dapat juga merumuskan Langkah Operasonal Pembangunan Ketahanan Pangan tngkat propns dan kabupaten/kota sebaga penjabaran dan mplementas kebjakan pembangunan ketahanan pangan d tngkat daerah, dengan mengacu pada KUKP 2010-2014 n.

Jakarta, Maret 2011 Menter Pertanan/

Ketua Haran Dewan Ketahanan Pangan, pembangunan ketahanan pangan d berbaga tngkatan, dem terwujudnya ketahanan pangan nasonal, daerah dan rumah tangga secara berkelanjutan. Buku KUKP 2010-2014 n juga dharapkan dapat dgunakan sebaga arahan untuk menykap dnamka konds global yang mempengaruh stuas dan dnamka ketahanan pangan d dalam neger, bak pada tngkat nasonal maupun sampa pada tngkat daerah.

Penyusunan dokumen KUKP 2010-2014 n dmula dengan menugaskan Kelompok Kerja (Pokja Ahl) Dewan Ketahanan Pangan (DKP) untuk merumuskan de-de dasar dar pembangunan ketahanan pangan. Proses penyusunan konsep awal KUKP 2010-2014 n dlakukan melalu peneltan, stud pustaka, dskus nternal dengan Pokja Tekns, Tm Asstens dan Pokja Khusus Pemberdayaan Ketahanan Pangan Masyarakat DKP. Konsep awal KUKP 2010-2014 n telah dsemnarkan dan dbahas berkal-kal dalam berbaga dskus publk, mula dar pengenalan, perumusan, dentfkas masalah, prortsas kebjakan, langkah aks, sampa pada pembagan tugas dan tanggung jawab stake holder. Dskus publk telah melbatkan unsur lembaga pemerntah, perguruan tngg, swasta, organsas profes, lembaga swadaya masyarakat, dan organsas kemasyarakatan lannya.

Mengngat setap daerah memlk sumberdaya dan persoalan ketahanan pangan yang spesfk lokas, maka dhmbau agar setap daerah dapat juga merumuskan Langkah Operasonal Pembangunan Ketahanan Pangan tngkat propns dan kabupaten/kota sebaga penjabaran dan mplementas kebjakan pembangunan ketahanan pangan d tngkat daerah, dengan mengacu pada KUKP 2010-2014 n.

Jakarta, Maret 2011 Menter Pertanan/

(7)

Hal. PESAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ... SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN...

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GRAFIK DAN GAMBAR ... v

I. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 4 1.3. Landasan Hukum ... 4 1.4. Ruang Lngkup ... 11 1.5. Proses Penyusunan ... 13

II. DINAMIKA KONSEP KETAHANAN PANGAN ... 15

2.1. Konsep Global Ketahanan Pangan ... 15

2.2. Dnamka Konsep Ketahanan Pangan Nasonal ... 19

III. KERAGAAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2005 - 2009 ... 27

3.1. Ketersedaan Pangan ... 31

3.2. Stablsas Harga Pangan ... 39

3.3. Cadangan Pangan ... 41

3.4. Konsums dan Penganekaragaman Pangan ... 43

3.5. Keamanan Pangan ... 49

3.6. Kesejahteraan Masyarakat ... 51

IV. POTENSI, PERMASALAHAN DAN TANTANGAN KETAHANAN PANGAN ... 59

(8)

5.1. Arah dan Tujuan Kebjakan ... 120

5.2. Sasaran Kebjakan Ketahanan Pangan ... 123

5.3. Strateg Umum ... 125

5.4. Kebjakan Umum Ketahanan Pangan ... 127

VI. RENCANA AKSI KETAHANAN PANGAN ... 149

(9)

Hal. Tabel 3.1. Perkembangan Produks Beberapa Komodtas

Pangan 2005-2009 ... 33 Tabel 3.2. Ketersedaan Beberapa Komodtas Pangan

2005-2009 ... 35 Tabel 3.3. Neraca Ketersedaan dan Kebutuhan Komodtas

Pangan Pentng tahun 2005-2009 ... 37 Tabel 3.4. Ketersedaan Energ dan Proten Tahun 2005-2009 .... 39

Tabel 3.5. Perbandingan Rata-rata Median dan Coefisien

Varas Harga Bahan Pangan Pokok - Strategs

Bulan Januar - Desember Tahun 2005 - 2008 ... 40 Tabel 3.6. Perbandngan Rata-rata Medan dan Persentase

Kenakan Harga Pangan Pokok Strategs

Bulan Januar-Agustus Tahun 2008-2009 ... 41 Tabel 3.7. Perkembangan Rata-rata Konsums Energ dan

Proten Tahun 2005-2009 ... 44 Tabel 3.8. Rata-rata Konsums Kelompok Pangan Rumah

Tangga Tahun 2005 - 2009 ... 45 Tabel 3.9. Konsums Penduduk Indonesa dan Selsh Aktual

terhadap Berbaga Kelompok Makanan

Tahun 2005-2009 ... 48 Tabel 3.10. Perkembangan Kejadan Luar Basa Keracunan

Pangan Tahun 2001-2009 ... 50 Tabel 3.11. Perkembangan Jumlah Penduduk Mskn dan

Penganggruan Tahun 2002-2009 ... 52 Tabel 3.12. Persentase Pengeluaran Rata-rata per Kapta

Menurut Kelompok Barang Penduduk Indonesa

Tahun 2005-2008 ... 57 Tabel 4.1. Potens Ketesedaan Lahan Pertanan Indonesa ... 62 Tabel 4.2. Keragaman Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas

(10)

Tabel 4.5. Perkembangan Jumlah Penduduk Mskn 2005-2008 . 115 Tabel 5.1. Sasaran Skor PPH 2010-2014 ... 123 Tabel 5.2. Sasaran Penurunan Jumlah Penduduk Rawan

Pangan 2010-2014 ... 124

DAFTAR GRAFIK DAN GAMBAR

Grafik 3.1. Perkembangan Harga Pangan Pokok Strategis

d Pasar Dalam Neger Tahun 2004-2009 ... 28

Grafik 3.2. Perkembangan Harga Pangan Pokok Strategis

d Pasar Internasonal Tahun 2007-2009 ... 29 Gambar 3.3. Persentase Jumlah Penduduk Mskn d Perkantoran

dan Perdesaan Tahun 1976-2009 ... 53 Gambar 3.4. Pengeluaran Rata-rata per Kapta sebulan d Daerah

Perkotaan dan Perdesaan menurut Kelompok Barang dan Golongan Pengeluaran per Kapta sebulan

(11)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusa yang palng utama, karena tu pemenuhannya menjad bagan dar hak asas setap ndvdu. D Indonesa, pemenuhan kecukupan pangan bag seluruh rakyat merupakan kewajban, bak secara moral, sosal, maupun hukum termasuk hak asas setap rakyat Indonesa. Selan tu juga merupakan nvestas pembentukan sumberdaya manusa yang lebh bak d masa datang untuk melaksanakan pembangunan nasonal, dan prasyarat bag pemenuhan hak-hak dasar lannya sepert penddkan, pekerjaan, dan sebaganya.

Mengngat pentngnya memenuh kecukupan pangan, setap negara mendahulukan pembangunan ketahanan pangannya sebaga pondas bag pembangunan sektor-sektor lannya. Pembangunan ketahanan pangan d Indonesa dtujukan untuk menjamn ketersedaan dan konsums pangan yang cukup, aman, bermutu, bergz, dan sembang pada tngkat rumah tangga, daerah, nasonal, sepanjang waktu dan merata. Hal n dapat dlakukan melalu pemanfaatan sumberdaya dan budaya lokal, teknolog novatf dan peluang pasar, untuk memperkuat ekonom perdesaan dan mengentaskan masyarakat dar kemsknan. Dengan demkan, ketahanan pangan d Indonesa ddefnskan sebaga konds terpenuhnya pangan bag rumah tangga yang tercermn dar tersedanya pangan yang cukup, bak jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.

(12)

berkembang. Tantangan dan perubahan lngkungan strategs secara global dtanda oleh pergerakan harga-harga pangan strategs, bak sebaga dampak beranta dar kenakan harga mnyak bum duna, perubahan klm dan pemanasan global, maupun sebaga dampak dar krss fnansal global yang mempengaruh daya bel konsumen mskn, dan menngkatkan kerawanan pangan terutama d negara-negara berkembang. Hal n juga dapat bermplkas terhadap ketahanan pangan dan pencapaan tujuan pembangunan millennium (MDGs) menurunkan jumlah penduduk mskn dan rawan pangan hngga setengahnya pada tahun 2015.

Serng dengan adanya perubahan fenomena dan dnamka konds global yang mempengaruh stuas dan dnamka nternal d dalam neger, maka dperlukan perubahan pada kebjakan ketahanan pangan, bak secara umum maupun khusus d tngkat pusat dan daerah. Kebjakan tersebut berupa pembentukan kelembagaan ketahanan pangan tngkat daerah sebaga konsekuens dar ketentuan terbaru bahwa ketahanan pangan adalah urusan wajb pemerntah daerah. Selan tu, Indonesa juga telah berupaya untuk mengembangkan kebjakan yang mengarah pada satu sasaran strategs tentang “Indonesa Tahan Pangan dan Gz 2015” sebaga konsekuens dar mplementas kebjakan dan kesepakatan pmpnan daerah, Gubernur selaku Ketua Dewan Ketahanan Pangan (DKP) d tngkat provns.

Pada dekade mendatang peranan pemerntah pusat dan pemerntah daerah dalam mencapa ketahanan pangan mash sangat pentng, walaupun akhr-akhr n terdapat kecenderungan semakn aktfnya fungs sektor swasta dan kelembagaan pasar. Peran pemerntah pusat pentng dalam menentukan arah kebjakan, strateg yang akan dtempuh, dan sasaran yang akan dcapa menuju tngkat ketahanan

(13)

kebjakan sangat mempengaruh perjalanan serta kualtas ketahanan pangan yang ngn dwujudkan, yang melput dmens ketersedaan, aksesbltas dan stabltas harga, serta utlsas produk pangan. Dengan demkan, kehadran DKP daerah, dmana gubernur dan bupat/walkota selaku Ketua DKP Provns dan Kabupaten/Kota perlu berperan aktf dan kreatf dalam melakukan koordnas dan snkronsas kebjakan ketahanan pangan dan mplementasnya secara harmons yang dapat membantu memperlancar terwujudnya pembangunan ketahanan pangan.

Desentralsas ekonom adalah ttk tolak untuk memperbak kerja sama, terutama snerg kebjakan ketahanan pangan antara pemerntah pusat dan pemerntah daerah. Sstem organsas dan enforcement, rasa tanggung jawab pejabat pusat dan daerah juga perlu dtngkatkan, terutama dalam hal tersedanya mekansme pengawasan untuk menetapkan prortas alokas anggaran pusat dan daerah yang dapat mendukung terwujudnya pembangunan ketahanan pangan. Sebaga contoh adalah tersedanya kejelasan pembagan tugas dan tanggung jawab dalam rehabltas nfrastruktur pertanan dan perdesaan, sepert dkenal dengan stlah O&M (operation and maintenance) jarngan rgas, saluran dranase, jalan produks, jalan desa dan tentunya jalan provns, jalan negara, dan lan-lan.

Dalam rangka menghadap tantangan perubahan fenomena dan dnamka ketahanan pangan sepert yang telah dkemukakan d atas, dsusun Kebijakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) 2010-2014 sebaga penyempurnaan dar KUKP 2006-2009. Dokumen KUKP 2010-2014 n dharapkan dapat menjad acuan atau referens yang berharga bag para perumus dan pelaksana kebjakan d lapangan, pelaku ekonom, serta masyarakat madan pada umumnya dalam menyusun penetapan kebjakan ketahanan pangan pada berbaga

(14)

1.2. Tujuan

Tujuan penyusunan Kebjakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) 2010-2014, adalah untuk :

1. Menjad acuan dan common platform bag para stakeholders ketahanan pangan, mula dar nstans pemerntah, sektor swasta, Badan Usaha Mlk Negara (BUMN), perguruan tngg, petan, nelayan, ndustr pengolah, pedagang, penyeda jasa lan dan masyarakat umum dalam peran dan upayanya untuk memberkan kontrbus yang optmal dalam mewujudkan ketahanan pangan.

2. Menjad acuan dasar bag lembaga pemerntah dan pemerntah daerah untuk membangun snerg, ntegras dan koordnas, sehngga palng tdak kedua lembaga dapat salng mengnformaskan kegatan yang dlaksanakan secara transparan, akuntabel dan efektf (good governance), serta secara maksmal dapat mendukung terwujudnya tujuan ketahanan pangan.

1.3. Landasan Hukum

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 mengamanatkan pembangunan pangan untuk memenuh kebutuhan dasar manusa, dan pemerntah bersama masyarakat bertanggung jawab untuk mewujudkan ketahanan pangan, serta menjelaskan tentang konsep ketahanan pangan, komponen dan phak yang berperan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Undang-undang tersebut telah djabarkan dalam beberapa peraturan pemerntah (PP) antara lan: (a) PP Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan mengatur

(15)

serta masyarakat, pengembangan sumberdaya manusa dan kerja sama nternasonal; (b) PP Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan yang mengatur pembnaan dan pengawasan d bdang label dan klan pangan dalam rangka mencptakan perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab; dan (c) PP Nomor 28 Tahun 2004 yang mengatur tentang keamanan, mutu dan gz pangan, pemasukan dan pengeluaran pangan ke wlayah Indonesa, pengawasan dan pembnaan serta peran serta masyarakat mengena hal-hal d bdang mutu dan gz pangan.

Undang-undang Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perkanan yang terkat dengan Ketahanan Pangan, adalah mengena wlayah penangkapan dan pembuddayaan kan yang berfungs sebaga potens sumberdaya pangan. Kebjakan n bertujuan untuk mewujudkan penyedaan kan dalam jumlah yang memada sebaga upaya mencukup gz masyarakat dengan harga yang layak. Berbaga peraran dan Zona Ekonom Eksklusf (ZEE) wlayah Indonesa, yang mengandung berbaga sumberdaya jens kan akan memberkan penngkatan ketahanan pangan dan pemerataan ketersedaan pangan daerah provns, kabupaten/kota sampa pada tngkat rumah tangga, serta menjad sumber pendapatan para nelayan yang juga dapat menngkatkan daya bel untuk memperoleh pangan beragam bergz dan sembang.

Undang-undang n secara tegas mengamanatkan snergtas dalam pasal 24 ayat (1), (2) dan (3), bahwa pemerntah mendorong penguatan nla tambah produk hasl pertanan, membatas ekspor bahan baku ndustr pengolahan kan untuk menjamn ketersedaan bahan baku d dalam neger. Hal n berart bahwa strateg d bdang ketahanan pangan dan perkanan merupakan salah satu upaya untuk

(16)

Undang-undang Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan khususnya pasal 35 ayat (2) menyebutkan bahwa pemerntah dan pemerntah daerah memfasltas pengembangan unt pasca panen produk hewan skala kecl dan menengah. Selan tu, pemerntah juga berkewajban untuk membna penngkatan produks dan konsums proten hewan dalam mewujudkan ketersedaan pangan bergz sembang bag masyarakat dengan tetap menngkatkan kesejahteraan pelaku usaha peternakan, serta mendorong dan memfasltas pengembangan produk hewan yang dtetapkan sebaga bahan pangan pokok strategs dalam mewujudkan ketahanan pangan nasonal (pasal 76 ayat (4)).

Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlndungan Lahan Pertanan Pangan Berkelanjutan, menyebutkan bahwa alh fungs lahan pertanan merupakan ancaman terhadap pencapaan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan. Alh fungs lahan mempunya mplkas yang serus terhadap produks pangan, lngkungan fsk, serta kesejahteraan masyarakat pertanan dan perdesaan yang kehdupannya tergantung pada lahannya.

Perlndungan lahan pertanan pangan berkelanjutan merupakan upaya yang tdak terpsahkan dar reforma agrara, yatu penataan yang terkat dengan aspek penguasaan/pemlkan serta aspek penggunaan/pemanfaatan berdasarkan pasal 2 Ketetapan Majels Permusyawaratan Rakyat RI Nomor IX/MPR-RI/2001 tentang Pembaharuan Agrara dan Pengelolaan Sumberdaya Alam.

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan merupakan acuan dar berbaga peraturan perundang-undangan yang berkatan dengan pangan. Dalam pekembangannya peraturan perundang-undangan yang berkatan dengan pangan antara lan:

(17)

2. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sstem Buddaya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478);

3. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantna Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3482);

4. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3502);

5. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecl (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3611);

6. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 3612);

7. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asas Manusa;

8. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888;

9. Undang-undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlndungan Varetas Tanaman (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 241, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4412);

10. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4411);

11. Undang-undang Nomor 21Tahun 2004 tentang Pengesahan Cartagena Protocol on Biossafety to The Convention on Biological Diversity (Protokol Cartagena tentang Keamanan

(18)

12. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerntahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437), sebagamana telah beberapa kal dubah, terakhr dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844);

13. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Ratfkas Kovenan Internasonal Hak-Hak Ekonom, Sosal dan Budaya (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4557);

14. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2006 Tentang Pengesahan International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and

Agriculture (Perjanjan mengena Sumberdaya Genetk

Tanaman untuk Pangan dan Pertanan);

15. Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perkanan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5073);

16. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5015);

17. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlndungan dan Pengelolaan Lngkungan Hdup (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059; 18. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

(Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);

19. Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlndungan Lahan Pertanan Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara

(19)

20. Peraturan Pemerntah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3867);

21. Peraturan Pemerntah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 142, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4254);

22. Peraturan Pemerntah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gz Pangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4424); 23. Peraturan Pemerntah Nomor 21 Tahun 2005 tentang

Keamanan Hayat Produk Rekayasa Genetk (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Nomor 498);

24. Peraturan Presden Nomor 83 Tahun 2006 tentang Dewan Ketahanan Pangan;

25. Peraturan Presden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebjakan Percepatan Penganekaragaman Konsums Pangan Berbass Sumberdaya Lokal.

Dsampng mengacu pada berbaga dokumen hukum nasonal tersebut, pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan juga mengacu pada komtmen bangsa Indonesa dalam berbaga kesepakatan duna. Indonesa sebaga salah satu anggota PBB berkomtmen untuk melaksanakan aks-aks mengatas kelaparan, kekurangan gz serta kemsknan duna. Komtmen tersebut antara lan tertuang dalam Deklaras World Food Summit 1996 dan dtegaskan kembal dalam

World food Summit: five years later 2002, serta Millenium

Development Goals tahun 2000, untuk mengurang angka kemsknan

(20)

Beberapa konvens nternasonal yang memuat komtmen bangsa-bangsa d duna termasuk Indonesa terhadap pembangunan d bdang pangan, gz dan kesehatan antara lan adalah : (a) Deklaras Unversal tentang Hak Asas Manusa (Universal Declaration of

Human Rights) tahun 1948 yang menyatakan bahwa hak atas pangan

adalah bagan yang tdak terpsahkan dar hak asas manusa; (b) Konvens Internasonal tentang ekonom, sosal dan budaya (ECOSOC) tahun 1968, yang mengaku hak setap ndvdu atas kecukupan pangan dan hak dasar (asas) untuk terbebas dar kelaparan; (c) Konvens tentang Hak Anak (International Convention on the Right of Child) yang salah satu temnya menyatakan bahwa negara anggota mengaku hak asas dar setap anak kepada standar kehdupan yang layak bag perkembangan fsk, mental, sprtual, moral dan sosal anak, juga mengaku hak anak untuk mendapatkan gz yang bak.

Dar berbaga dokumen hukum serta kesepakatan nasonal maupun nternasonal, maka pemerntah Indonesa menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014. Peran pemerntah daerah dalam pembangunan ketahanan pangan, datur dalam PP Nomor 3 tahun 2007 tentang pertanggungjawaban gubernur dan bupat/walkota, dmana gubernur dan bupat/walkota wajb melaporkan pembangunan ketahanan pangan d daerahnya. PP Nomor 38 tahun 2007 bahwa ketahanan pangan menjad urusan wajb pemerntah provns dan kabupaten/kota. Berdasarkan kedua peraturan pemerntah tersebut jelas secara tegas bahwa ketahanan pangan menjad urusan wajib bag pemerntah provns dan kabupaten/kota, dan berdasarkan PP Nomor 41 tahun 2007 bahwa perlu ada kelembagaan atau unt kerja yang menangan ketahanan pangan untuk menangannya.

(21)

gubernur dan bupat/walkota) d pemerntah pusat, pemerntah provns dan kabupaten/kota dalam menyusun dan merumuskan kebjakan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasonal dan wlayah. Sebaga lembaga fungsonal, DKP dapat menjalankan fungs koordnas dengan cara memfasltas kerja sama lntas sektor d tngkat wlayah (provns dan kabupaten/kota) dan nasonal. Tanpa melebh batas kewenangan daerah otonom, serta mash dalam kerangka sstem negara kesatuan, maka pada urusan pangan yang bersfat lntas daerah, pembangunan ketahanan wlayah dan nasonal tdak dapat dlepaskan dar dnamka kehdupan d tngkat lokal, regonal, hngga nasonal. Oleh karena tu koordnas yang efektf akan menngkatkan pemahaman terhadap makna, manfaat, ruang lngkup, serta unsur-unsur yang berperan dalam mewujudkan ketahanan pangan sebaga plar ketahanan nasonal.

1.4. Ruang Lingkup

Mengacu pada pengertan dan landasan hukum d atas, maka ruang lngkup dokumen Kebjakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) 2010-2014 mencakup tga plar utama yatu ketersedaan, dstrbus, dan konsums pangan. Pada plar dstrbus dan konsums merupakan penjabaran dar aksesbltas masyarakat terhadap pangan. Jka salah satu plar tersebut tdak dpenuh maka suatu negara belum dapat dkatakan mempunya ketahanan pangan yang bak. Walaupun pangan terseda cukup d tngkat nasonal dan regonal, tetap jka akses ndvdu untuk memenuh kebutuhan pangannya tdak merata, maka ketahanan pangan mash dkatakan rapuh. Akses terhadap pangan, ketersedaan pangan dan resko terhadap akses dan ketersedaan

(22)

tangga, regonal wlayah dan skala nasonal. Sesua dengan tujuan penyusunan buku n sebaga salah satu acuan bag pemerntah dan seluruh stakeholder dalam pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan, maka secara sstemats akan dsampakan substans dasar dar kebjakan ketahanan pangan yang melput aspek-aspek yang mendukung tercapanya ketahanan pangan yang deal.

KUKP n dawal dengan pendahuluan (Bab I) yang antara lan memuat latar belakang, tujuan, landasan hukum, dan ruang lngkup. Bab II mengurakan tentang dnamka konsep ketahanan pangan saat n. Ketahanan pangan mengalam dnamka dan tantangan baru yang semakn kompleks serng dengan beberapa perubahan yang terjad pada tngkat global dan dnamka perkembangan ekonom nasonal.

Keragaan ketahanan pangan saat n yang dgambarkan oleh knerja umum ketahanan pangan yang dcapa selama 5 tahun, secara lengkap dtamplkan pada bab III. Pada Bab IV djelaskan tentang bagamana potens (peluang), permasalahan dan tantangan yang dhadap dalam upaya pemantapan ketahanan pangan bak dar ss sumberdaya alam, sumberdaya mansa, keanekaragaman hayat, teknolog, nfrastruktur, stuas pasar komodtas, teknolog, kelembagaan, dan konds budaya masyarakat yang sangat bervaras. Dalam bab n juga dbahas mengena berbaga tantangan dalam upaya penyedaan pangan strategs dan pangan pentng serta dampak krss ekonom yang berkepanjangan dserta dengan tuntutan lngkungan strategs bak domestk maupun nternasonal.

Bab V secara rnc membahas substans butr-butr kebjakan umum ketahanan pangan yang terdr dar 18 elemen pentng yang dharapkan menjad panduan bag pemerntah, swasta dan masyarakat

(23)

Pada Bab VI dtamplkan matrks Rencana Aks Ketahanan Pangan Tahun 2010-2014 yang menjabarkan secara rnc tujuan kebjakan, program kegatan, lembaga/nstans penanggung jawab dar setap elemen kebjakan, dan ndkator keberhaslan (output). Matrks tersebut dharapkan dapat menjad panduan bag para stakeholders yang berkontrbus dalam pembangunan ketahanan pangan. Sebaga penutup Bab VII menjelaskan harapan agar KUKP n dapat menjad acuan bag seluruh stakeholders ketahanan pangan dalam melaksanakan peran dan memberkan kontrbusnya untuk pemantapan ketahanan pangan bak d tngkat nasonal maupun wlayah.

1.5. Proses Penyusunan

Penyusunan dokumen KUKP 2010-2014 dmula dengan menugaskan Kelompok Kerja (Pokja) Ahl DKP untuk merumuskan de-de dasar dar pembangunan ketahanan pangan. Proses penyusunan konsep awal KUKP 2010-2014 n dlakukan melalu peneltan, stud pustaka, dskus nternal dengan Tm Asstens dan Kelompok Kerja Khusus (Pokjasus) Pemberdayaan Ketahanan Pangan Masyarakat DKP. Pokjasus memberkan masukan yang sgnfkan ke dalam KUKP n dengan saran tertuls yang sangat krts dan berharga. Konsep awal KUKP 2010-2014, kemudan dsemnarkan dan dbahas berkal-kal dalam berbaga dskus publk, mula dar pengenalan, perumusan, dentfkas masalah, prortsas kebjakan, langkah aks, sampa ada pembagan tugas dan tanggung jawab stakeholders. Dskus publk telah melbatkan unsur lembaga pemerntah, perguruan tngg, swasta, organsas profes, lembaga swadaya masyarakat, dan

(24)

nstans pemerntah dalam wadah rapat koordnas Dewan Ketahanan Pangan. Hasl dar pembahasan tersebut telah dmasukkan kedalam

website Kementan” untuk mendapatkan masukan dar publk,

sebelum dfnalkan menjad dokumen resm yang dkeluarkan melalu Dewan Ketahanan Pangan.

(25)

BAB II

DINAMIKA KONSEP KETAHANAN PANGAN 2.1. Konsep Global Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan yang merupakan terjemahan dar food security mencakup banyak aspek dan luas, sehngga setap orang mencoba menerjemahkan sesua dengan konds dan stuas yang berkembang pada perode jamannya. Ketahanan pangan dnterpretaskan dengan banyak cara, sehngga pemakaan stlah ketahanan pangan tu sendr telah menmbulkan perdebatan.

Pada tahun 1950-1960-an, ketka Perang Duna II (PD II) baru usa, setap negara, bahkan negara maju dan pemenang PD II pun harus memkrkan pangan rakyatnya setelah beberapa tahun dtnggalkan untuk menyapkan dan berkonsentras pada perang duna yang sedang dhadap tersebut. Dengan konds sepert n tdak heran apabla pada perode tersebut, pengertan ketahanan pangan lebh menekankan perhatannya pada ketersedaan pangan, bak pada tngkat nasonal maupun tngkat global darpada tngkat rumah tangga. Apalag pada tahun 1970-an terjad krss pangan d Afrka karena gagal panen yang dsebabkan karena kekerngan maupun perluasan penggurunan. Keadaan n mendorong negara-negara donor dan masyarakat nternasonal untuk semakn memberkan perhatan pada penyedaan pangan secara global dan nasonal. Pemahaman ketahanan pangan sepert n mendapatkan legtmasnya dalam Konferens Pangan Duna tahun 1974 yang dselenggarakan oleh Badan Perserkatan Bangsa-bangsa (PBB) –Food and Agriculture Organization(FAO).

(26)

mengkonsumsnya. Menjamn pemenuhan hak rakyat untuk menjalan hdup yang bebas dar rasa takut dan bermartabat, bak secara fsk maupun mental, serta secara ndvdu maupun kolektf.

Kenyataannya, kelaparan sebaga ndkas tndasan terhadap hak atas pangan mash berlangsung dmana-mana bahkan bertambah buruk saja. Inda neger dengan jumlah penderta kelaparan tertngg d duna, dsusul oleh Chna. Sektar 60 persen dar total penderta kelaparan d seluruh duna berada d Asa dan Pasfk, dkut oleh neger-neger Sub-Sahara dan Afrka sebesar 24 persen serta Amerka Latn dan Karba sebesar 6 persen. Setap tahun orang yang menderta kelaparan bertambah 5,4 juta. Juga setap tahunnya 36 juta rakyat mat karena kelaparan dan gz buruk, bak secara langsung maupun tdak langsung. Dalam usaha mengatas masalah kelaparan dan akses pangan, PBB melalu FAO memperkenalkan stlah “ketahanan pangan” dengan harapan adanya persedaan pangan setap saat, dmana semua orang dapat mengaksesnya dengan bebas dengan jumlah, mutu dan jens nutrs yang mencukup serta dapat dterma secara budaya.

Keterbatasan pemahaman ketahanan pangan sebaga ketersedaan pangan pada tngkat nasonal dan global sepert d atas mendapatkan pencerahannya ketka terjad krss pangan, yang sekal lag terjad d Afrka pada pertengahan tahun 1980-an, dmana secara global ketersedaan pangan cukup untuk memenuh seluruh penduduk duna. Hal n menunjukkan bahwa konds ketersedaan pangan yang cukup pada tngkat nasonal dan global tdak secara otomats menunjukkan konds ketahanan pangan pada tngkat ndvdu maupun rumah tangga. Para pakar dan prakts pembangunan kemudan menyadar bahwa kerawanan pangan bsa terjad dalam konds

(27)

pemkran dalam pemahaman konsep ketahanan pangan. Food

entitlement rumah tangga dperoleh bak dar produks sendr,

pendapatan yang dtermanya, atau mengumpulkan pangan dar sumberdaya alam yang ada, dukungan dan bantuan dar masyarakat, aset sendr maupun ketka mereka melakukan mgras untuk dapat memperoleh pangan yang lebh bak. Dengan demkan, konds sosal dan varabel ekonom rumah tangga memlk pengaruh yang besar kepada rumah tangga dalam memperoleh pangan.

Memburuknya konds kerawanan pangan dapat dpandang sebaga proses perubahan jangka panjang dmana korbannya tdak secara pasrah menerma keadaan tersebut, tetap memang keadaanlah yang menyebabkan mereka mengalam konds yang semakn buruk. Para pakar anthropolog berpendapat bahwa populas yang rentan terhadap kerawanan pangan sesungguhnya menunjukkan upaya-upaya untuk mengatas masalah gangguan secara ekonom, sehngga memberkan pemahaman tentang perlaku (behavioural) rumah tangga dalam merespon masalah tersebut dan bagamana mereka menghadap (coping mechanism) keadaan krss pangan.

Pada akhr tahun 1990-an, lembaga donor, pemerntah, dan LSM mula mengumpulkan nformas dan varabel sosal ekonom d dalam menganalss kerawanan pangan. Pendekatan ketahanan pangan rumah tangga yang mula berkembang pada tahun 1980-an menekankan bak ketersedaan maupun akses yang stabl terhadap pangan. Dengan demkan, pemahaman ketahanan pangan pada perode n mula menekankan dua aspek pentng dalam ketahanan pangan, yatu ketahanan pangan dalam art ketersedaan pangan pada tngkat nasonal (dan regonal) maupun akses yang stabl pada tngkat lokal. Hal-hal lan yang menjad perhatan adalah berkenaan dengan

(28)

ketersedaan pangan tersebut secara terus menerus. Sekal lag, perubahan pemahaman ketahanan pangan dengan menekankan aspek aksesbltas pada tngkatan rumah tangga mendapatkan legtmasnya pada Konferens Pangan Tngkat Tngg tahun 1996, yang dselenggarakan oleh FAO, dengan memberkan pengertan baru berkenaan dengan ketahanan pangan, yatu food security exists when all people, at all times, have physical and economic access to sufficient, safe and nutritious food to meet their dietary needs and food preferences for an active and healthy life.

Hal lan yang juga belum begtu jelas hubungannya adalah bagamana dampak nutrs dapat dntegraskan kedalam pemahaman ketahanan pangan. Rset-rset tentang gz buruk (malnutrs) menunjukkan bahwa pangan hanyalah salah satu faktor penyebab gz buruk. Faktor-faktor lan yang memlk dampak kepada gz buruk antara lan adalah konsums dan kompossnya (dietary intake and diversity), kesehatan dan penyakt, serta perawatan bu dan anak

(maternal and child care), sehngga dapat dsmpulkan bahwa

ketahanan pangan rumah tangga merupakan prasyarat untuk ketahanan gz, tetap belum cukup untuk menjamn ketahanan gz.

Para pakar menunjukkan bahwa ada dua proses utama yang dapat mewujudkan ketahanan gz, yang pertama menentukan akses dar rumah tangga terhadap pangan bag seluruh anggota rumah tangganya, dan yang kedua menunjukkan bagamana pangan yang telah dperoleh tersebut dtransmskan menjad kecukupan nutrs bag setap anggota rumah tangga (World Bank, 1989). Proses yang kedua menentukan dan berasal dar bdang kesehatan, lngkungan, budaya dan perlaku yang dapat memberkan dampak postf bag kecukupan gz dar pangan yang dkonsumsnya. Proses yang pertama

(29)

sekedar kemampuan/akses pangan rumah tangga dan sstem pangan, menjad perluasan pemahaman tentang dampak dar kesehatan/ penyakt, santas lngkungan, daya dukung (carrying capacity), kualtas dan komposs konsums sehngga dapat memberkan dampak gz yang cukup.

Rset yang dlakukan pada akhr 1980-an dan awal 1990-an menunjukkan bahwa ketahanan pangan dan gz sebagamana pemahaman yang ada memerlukan pengembangan yang lebh komprehensf. Hasl-hasl rset tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan hanyalah merupakan salah satu tujuan rumah tangga mskn; kecukupan pangan hanyalah salah satu faktor yang menentukan bagamana rumah tangga mskn menentukan pengamblan keputusannya dan bagamana mereka mampu menyebar berbaga resko sehngga akhrnya mereka mampu menyembangkan berbaga tujuan agar tetap hdup bak dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Beberapa kelompok mungkn berseda untuk menahan lapar agar asetnya mash dapat dpertahankan atau untuk memenuh kehdupan yang lebh jangka panjang. Oleh karena tu, menempatkan ketahanan pangan sebaga satu-satunya kebutuhan yang fundamental mungkn akan memberkan kesmpulan yang salah, apabla tanpa memperhatkan kebutuhan-kebutuhan lannya.

2.2. Dinamika Konsep Ketahanan Pangan Nasional

Setap pemerntahan suatu negara mempunya kewajban memenuh hak masyarakat atas pangan. Sejarah perekonoman pangan Negara Kesatuan Republk Indonesa (NKRI) mencatat dengan jelas bahwa para pmpnan negara secara konssten meletakkan ekonom

(30)

Unverstas Indonesa d Bogor, Presden Soekarno menyatakan bahwa: “……apa yang saya hendak katakan itu, adalah amat penting, bahwa mengenai soal mati-hidupnya bangsa kita di kemudian hari……… oleh karena itu, soal yang hendak saya bicarakan itu mengenai soal persediaan makan rakyat”.

Pandangan dan pola pkr sepert n mash danut oleh Presden RI kedua Soeharto. Hal In terbukt bahwa 21 tahun kemudan, pada 11 Me 1973, dalam salah satu acara kunjungan kerja d Yogyakarta, Presden Soeharto waktu tu mengemukakan: “…………. jadi kalau kita akan mengatasi kekurangan beras itu dengan mengimpor, bilamana kemungkinan devisa itu ada, keadaan di duniapun juga

tidak mengijinkan kita”. Selanjutnya Presden Soeharto

mengemukakan “………Kita harus menghasilkan sendiri bahan-bahan pangan khususnya beras dalam jumlah yang kita telah ketahui agar kestabilan dari pada harga beras itu betul-betul akan

terjamin………”. Pada bagan lan Presden Soeharto berujar

…….kalau kita simpulkan keseluruhannya jelas daripada harga beras yang tidak bisa dikendalikan, stabilitas nasional akan terganggu...” (Sawt dkk, 2002). Dalam pdato Presden Soeharto n, dengan sangat jelas pangan tu dartkan sebaga beras.

Implementas dar pandangan kedua pmpnan termasuk dmula pada dekade tahun 1960-an pemerntah berupaya keras menngkatkan produks pad nasonal dalam rangka mewujudkan Swasembada Beras, dan mengatas krss (kelangkaan) beras yang terjad saat tu. Program besar n dawal dengan suatu program

Action Research” oleh Lembaga Pengabdan Masyarakat – Fakultas

Pertanan Unverstas Indonesa (IPB-belum terbentuk), dengan tujuan mengajak para petan pad agar berseda menggunakan lmu pengetahuan dan menerapkan teknolog produks pad modern dalam

(31)

Action Research” dlaksanakan dalam bentuk Proyek Panca Usaha Karawang, d atas hamparan lahan sawah seluas 100 hektar tersebar d tga desa dengan konds tata ar dan ragam perlaku petan yang berbeda. Pelaksana lapangan juga harus menghadap petan yang memlk phoba terhadap pendatang (orang asng). Untuk mengawal pelaksanaan transfer teknolog kepada para petan, Fakultas Pertanan melakukan pembmbngan dan pendampngan secara terus-menerus dengan menempatkan para mahasswa untuk tnggal dan hdup bersama para petan bnaannya. Program penerapan lmu pengetahuan dan teknolog d atas hamparan sawah seluas 100 hektar berlangsung sangat sukses. Keberhaslan tersebut kemudan dperluas ke seluruh Indonesa secara bertahap dalam bentuk program BIMAS (Bmbngan Massal) dengan melbatkan seluruh Fakultas Pertanan d Indonesa melalu Program KKN (Kulah Kerja Nyata). BIMAS dkembangkan lebh lanjut menjad Program INMAS (Intensfkas Massal) serng dengan keberhaslan para penelt menghaslkan varetas pad unggul dan upaya untuk melakukan ntroduks teknolog revolus hjau. Upaya n membuahkan hasl dengan tercapanya swasembada beras pada tahun 1984.

Pada masa reformas, yang dmula dar pemerntahan Presden B.J. Habbe, Presden Abdurrahman Wahd dan Presden Megawat Soekarnoputer, su pangan dan beras tetap menjad prortas. Dalam masa-masa pemerntahan tersebut, yang dcrkan oleh adanya krss ekonom yang cukup berat, swasembada beras tetap menjad sasaran utama kebjakan pangan. Pada perode tersebut, untuk merespon menurunnya produks beras domestk karena krss ekonom dan anomal klm (kemarau panjang), pemerntah berkal-kal dalam waktu relatf sngkat menakkan harga dasar gabah, mengeluarkan

(32)

Pada era n program swasembada ala BIMAS dan INMAS dkemas dan dperluas cakupannya dalam bentuk GEMA (Gerakan Mandr) untuk gerakan swasembada pad, jagung dan kedele (PALAGUNG), swasembada proten hewan (PROTEINA), dan swasebada hortkultura (HORTINA). Untuk mengawal keberhaslan GEMA, sebagamana program BIMAS dan INMAS, pemerntah menyedakan tenaga pendampng dar perguruan tngg d Indonesa yang dkoordnaskan oleh Insttut Pertanan Bogor (IPB) dan mengalokaskan anggaran APBN yang sangat besar untuk menyedakan kredt bag petan (Kredt Usaha Tan). Memang upaya n belum mampu dalam jangka pendek menghaslkan hasl-hasl sepert yang dharapkan, tetap beberapa waktu kemudan, pemerntah mampu melakukan larangan mpor, tdak hanya pada waktu-waktu tertentu (masa panen raya) saja, bahkan selama setahun penuh pada tahun 2005.

Pada era Presden Suslo Bambang Yudhoyono, flosof kebjakan umum perberasan pada ntnya tetap sama dengan era pemerntahan sebelumnya, dengan varas pada tataran kebjakan operasonalnya. Penegasan skap n dtanda dengan pencanangan Revtalsas Pertanan, Perkanan dan Kehutanan (RPPK) oleh Presden RI tanggal 11 Jun 2005 d Waduk Jatluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Tujuan RPPK adalah membangun ketahanan pangan dengan: (a) mengoptmalkan pemanfaatan dan menngkatkan kapastas sumberdaya pertanan; (b) menngkatan daya sang, produktvtas, nla tambah dan kemandran produks dan dstrbus; dan (c) melestarkan lngkungan hdup dan memanfaatkan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Sepert halnya pada awal reformas, kengnan untuk mengulang swasembada juga menjad mpan pemerntah dengan mengembangkan program Penngkatan

(33)

Pada tahun 2008 swasembada beras kembal drah, setelah tahun 1984. Hal n merupakan wujud dar keberhaslan menngkatkan produktvtas pad hngga lebh dua kal lpat, dar 2,42 ton per hektar pada tahun 1969 menjad 4,88 ton per hektar pada tahun 2008. Keberhaslan penngkatan produktvtas pad erat katannya dengan penerapan teknolog produks sepert varetas pad baru, manajemen usahatan sepert Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT), pemberan nsentf berproduks sepert subsd nput (benh, pupuk, modal kerja), jamnan harga gabah/beras, dan perlndungan perdagangan nternasonal.

Dalam perkembangan upaya pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan, sejauh n masyarakat sudah mula memaham pentngnya mewujudkan ketahanan pangan dengan memperkokoh plar-plar ketahanan pangan dalam penyedaan pangan yang cukup bag rumah tangganya. Kesadaran masyarakat n terlhat dengan terbentuknya lumbung-lumbung pangan bak d tngkat kelompok maupun d tngkat rumah tangga, sebaga upaya dalam penanganan masalah ketahanan pangan.

Beberapa program pemerntah yang semakn luas dan lebh memprortaskan kesejahteraan masyarakat, antara lan adalah dengan: (a) membangun ekonom berbass pertanan dan perdesaan untuk menngkatkan produks pangan pertanan, menyedakan lapangan kerja dan pendapatan, melalu Program P2BN serta CSR; dan (b) memenuh pangan bag kelompok masyarakat mskn dan rawan pangan melalu pemberan bantuan langsung pangan dan pemberdayaan masyarakat, sepert PNPM, PUAP, Desa Saga, Desa Mandr Energ; kemandran pangan masyarakat dalam bentuk gerakan Desa Mandr Pangan; penanganan kerawanan pangan

(34)

Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlndungan Lahan Pertanan Pangan Berkelanjutan (PLPPB) mendefnskan: - ketahanan pangan adalah konds terpenuhnya bak pangan bag

rumah tangga yang tercermn dar tersedanya pangan yang cukup, bak jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. - kedaulatan pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara

mandr dapat menentukan kebjakan pangannya yang menjamn hak atas pangan bag rakyatnya, serta memberkan hak bag masyarakatnya untuk menentukan sstem pertanan pangan yang sesua dengan potens sumberdaya lokal.

- kemandirian pangan adalah kemampuan produks pangan dalam neger yang ddukung kelembagaan ketahanan pangan yang mampu menjamn pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup d tngkat rumah tangga, bak dalam jumlah, mutu, keamanan, maupun harga yang terjangkau, yang ddukung oleh sumber-sumber pangan yang beragam sesua dengan keragaman lokal.

Dar pengertan tersebut jelas bahwa konds terpenuhnya pangan bag rumah tangga tercermn dar tersedanya pangan yang cukup, bak jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau, artnya bahwa substans PLPPB dmaksudkan untuk memperkuat ketersedaan pangan sampa pada tngkat rumah tangga. Hal n dapat dtunjukkan dengan upaya mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan adalah untuk kesejahteraan rakyat yang pentng untuk drealsaskan dalam memenuh hak negara dan bangsa yang secara mandr dapat menentukan kebjakan pangannya yang menjamn hak atas pangan bag masyarakatnya, serta memberkan hak bag masyarakatnya untuk menentukan sstem pertanan pangan sesua dengan potens sumberdaya lokal. Satu hal yang menjad catatan pentng, bahwa PLPPB secara sstem merupakan pencermnan

(35)

mampu menjamn pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup d tngkat rumah tangga, bak dalam jumlah, mutu, keamanan, maupun harga yang terjangkau, yang ddukung oleh sumber-sumber pangan yang beragam sesua dengan keragaman lokal.

Dalam rancangan RPJM 2010-2014, arah kebjakan dan strateg Kementeran Pertanan mengacu kepada 11 (sebelas) prortas kebjakan dan strateg nasonal. Dar 11 (sebelas) prortas nasonal tersebut, yang terkat dengan Kementeran Pertanan adalah prortas nomor 5 yatu ketahanan pangan. Yang dmaksud dengan prortas ketahanan pangan adalah penngkatan ketahanan pangan dan lanjutan revtalsas pertanan untuk mewujudkan kemandran pangan, penngkatan daya sang produk pertanan, penngkatan pendapatan petan, serta kelestaran lngkungan dan sumberdaya alam. Secara nasonal, target pertumbuhan ekonom rata-rata 6,3-6,8 persen, mencapa 7 persen pada tahun 2013 dan mnmal 7 persen pada tahun 2014, dengan nflas rata-rata 4-6 persen, pengangguran 5-6 persen pada tahun 2014, dan kemsknan 8-10 persen pada tahun 2014. Penngkatan pertumbuhan Pendapatan Domestk Bruto (PDB) sektor pertanan sebesar 3,7 persen dan ndeks Nla Tukar Petan (NTP) sebesar 115-120 pada tahun 2014.

Dalam arah kebjakan dan strateg nasonal, prortas ketahanan pangan memlk 6 (enam) substans utama, yatu: (a) lahan, pengembangan kawasan dan tata ruang pertanan dlaksanakan dengan penataan regulas untuk menjamn kepastan hukum atas lahan pertanan, pengembangan areal pertanan baru seluas dua juta hektar,

dan penertban dan optmalsas penggunaan lahan terlantar; (b) nfrastruktur dlaksanakan melalu pembangunan dan pemelharaan

(36)

pengembangan bdang pertanan, dalam kemampuan mencptakan benh unggul dan peneltannya; (d) nvestas pangan pertanan dan ndustr perdesaan berbass pangan lokal, penyedaan pembayaan dan subsd yang menjamn ketersedaan benh unggul, pupuk, teknolog dan sarana pasca panen yang tepat waktu, tepat jumlah dan terjangkau; (e) penngkatan kualtas gz dan keanekaragaman pangan melalu Pola Pangan Harapan (PPH); dan (f) pengamblan langkah konkrt terkat adaptas dan antspas sstem pangan dan pertanan terhadap perubahan klm.

Dsampng prortas nomor 5 ketahanan pangan, Kementeran Pertanan juga mendapat amanah untuk terlbat dalam pelaksanaan prortas nomor 1: Reformas Brokras dan Tata Kelola, nomor 8: Energ dan nomor 9: Lngkungan Hdup dan Pengelolaan Bencana. Dengan demkan pembangunan pertanan utamanya adalah penngkatan ketahanan pangan dan revtalsas pertanan, perkanan dan kehutanan. Ada 4 target/sasaran utama kebjakan Kementeran Pertanan, yatu: (a) pemantapan swasembada beras, jagung, dagng ayam, telur, dan gula konsums melalu penngkatan produks berkelanjutan, dan pencapaan swasembada kedela, dagng sap dan gula ndustr secara berkelanjutan; (b) pengembangan penganeka-ragaman pangan dan pembangunan lumbung pangan masyarakat untuk mengatas rawan pangan dan stablsas harga d sentra produks; (c) penngkatan nla tambah dan daya sang ekspor; dan (d) penngkatan kesejahteraan petan.

Dalam menjalankan tugas pelaksanaan pembangunan pertanan d Indonesa, strateg yang akan dkembangkan oleh Kementeran Pertanan selama perode 2010-2014 adalah 7 (tujuh) gema revtalsas, yatu: (a) revtalsas lahan; (b) revtalsas perbenhan dan pembbtan; (c) revtalsas nfrastruktur dan sarana;

(37)

BAB III

KERAGAAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2005-2009

Knerja umum ketahanan pangan selama perode 2005 – 2009 menunjukkan kecenderungan yang lebh bak dar tahun-tahun sebelumnya. Hal n dtanda oleh berbaga keberhaslan Indonesa dalam mewujudkan ketahanan pangan pada saat terjadnya krss secara global akhr-akhr n.

D tengah turunnya produks pangan pokok strategs duna sejak tahun 2007 hngga semester I tahun 2009 akbat terjadnya berbaga perubahan klm yang tdak menentu sepert kekerngan hebat d Australa dan beberapa negara Amerka Latn, Indonesa justru mengalam pertumbuhan produks pangan pokok yang menngkat secara sgnfkan dar tahun 2004 hngga tahun 2009 khususnya pada komodt pad, jagung, dan gula tebu. Pencapaan angka produks tersebut merupakan angka tertngg yang pernah dcapa selama n, sehngga akhrnya Indonesa kembal dapat mencapa swasembada beras, jagung, dan gula konsums pada tahun 2008 sepert yang pernah dcapa pada tahun-tahun sebelumnya.

Pencapaan Indonesa dalam penngkatan produks pangan pokok tersebut tdak terlepas dar keberhaslan pemerntah dalam membuat kebjakan dan program-program yang telah dlaksanakan secara terpadu dengan melbatkan berbaga stakeholder ketahanan pangan (Kementan, 2009). Kebjakan dan program pemerntah tersebut dantaranya penetapan harga, pengendalan mpor, subsd pupuk dan benh, bantuan benh grats, penyedaan modal, akseleras penerapan novas teknolog dan penyuluhan. Hal tu memotvas petan/pelaku usaha pertanan untuk menngkatkan produksnya.

(38)

nternasonal tdak stabl dan berfluktuas akbat menurunnya produks pangan strategs duna. Fluktuas harga pangan d pasar nternasonal juga mempengaruh fluktuas harga pangan d dalam neger. Namun demkan, harga pangan d dalam neger khususnya beras cenderung lebh stabl darpada harga pangan d pasar nternasonal (Grafik 3.1 dan 3.2). Stablsas harga pangan pokok strategs d pasar dalam neger n tdak terlepas dar knerja pemerntah yang cukup bak dalam merespon adanya krss ekonom, bahan bakar mnyak, dan pangan yang terjad secara global. Respon pemerntah tersebut dantaranya: (a) Kebjakan Harga Pembelan Pemerntah (HPP) untuk pembelan gabah dan beras; (b) Kebjakan pengadaan cadangan pangan pemerntah yang dlaksanakan oleh Perum Bulog; dan (c) Kebjakan pembelan gabah/beras saat panen raya. Stablsas harga pangan pokok strategs khususnya beras, jagung, dan gula juga terwujud karena adanya kebjakan pemerntah yang mendukung penngkatan produks dan produktvtas serta proteks perdagangan pangan pokok strategs domestk dar produk pangan dar luar neger. Grafik 3.1. Perkembangan Harga Pangan Pokok Strategs d Pasar

Dalam Neger tahun 2004 – 2009

-2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 2004 2005 2006 2007 2008 2009 H ar g a (R p /K g )

(39)

Grafik 3.2. Perkembangan Harga Pangan Pokok Strategis di Pasar Internasional Tahun 2007 – 2009 100 2,100 4,100 6,100 8,100 10,100 12,100 14,100 16,100 Jan-0 7 Mar-0 7 Ma y-07 Jul-0 7 Se p-07 Nov-0 7 Jan-0 8 Mar-0 8 Ma y-08 Jul-0 8 Se p-08 Nov-0 8 Jan-0 9 Mar-0 9 Ma y-09 Jul-0 9 Se p-09 Nov-0 9

Sumb er: Worldb ank

H a rg a ( U SD /t o n )

Beras Thai 5% Jagung US Gulf Ports

Kedelai Rotterdam CPO (Malaysia)

Gula (Contract No. 5, London)

Sumber : World Bank (Diolah BKP)

Krisis ekonomi, bahan bakar minyak, dan pangan secara global tidak hanya mempengaruhi turunnya produksi pangan pokok dunia dan stabilitas harga pangan di pasar internasional, tetapi juga telah mengakibatkan pencapaian penurunan angka kemiskinan menjadi lebih sulit. Berdasarkan data yang diperoleh dari The World Bank,

United Nations (2009), angka kemiskinan di dunia mengalami

peningkatan setiap tahunnya. Kemiskinan yang ekstrim sejak tahun 1990 hingga tahun 2005 cenderung berkurang setiap tahunnya. Sepanjang periode tersebut, jumlah penduduk miskin yang memiliki pendapatan kurang dari $1,25 per hari menurun dari 1,80 juta menjadi 1,40 juta. Pada tahun 2009, diperkirakan terdapat 55 juta sampai dengan 90 juta penduduk dunia yang akan hidup dalam kemiskinan

(40)

Sedangkan angka kelaparan yang sebelumnya telah menurun sejak tahun 1990, kembal menngkat sejak tahun 2008 karena adanya kenakan harga pangan. Kecenderungan penduduk duna yang mengalam kelaparan d negara berkembang saat n mengalam penngkatan dar 16 persen d tahun 2006 menjad 17 persen d tahun 2008. Hal n menunjukkan bahwa penurunan harga pangan duna pada pertengahan tahun 2008 tdak berpengaruh terhadap daya bel seluruh penduduk duna.

Pada saat kemsknan dan kelaparan d duna mengalam penngkatan, angka kemsknan dan kerawanan pangan d Indonesa cenderung semakn turun setap tahunnya. Keberhaslan Indonesa dalam menurunkan jumlah penduduk mskn dan rawan pangan tdak terlepas dar upaya dan komtmen pemerntah untuk kut merealsaskan kesepakatan yang tercantum dalam Millenium

Development Goals (MDGs) tahun 2000. Komtmen tersebut

dlaksanakan melalu program-program pemberdayaan masyarakat mskn dan organsas kelompok masyarakat d daerah rawan pangan, sepert pengembangan PNPM Mandr, PUAP, Desa Mandr Pangan, pengembangan Partspas Masyarakat d Daerah Lahan Kerng (PIDRA), pengembangan usaha mkro, serta penngkatan akses masyarakat adat/penduduk asl dan komuntasnya terhadap kegatan-kegatan ekonom dengan memperhatkan hakekat hdup mereka yang selama n selalu bergantung pada ekosstem alam dmana mereka hdup dan bekerja.

Namun demkan, dsampng keberhaslan-keberhaslan yang telah dcapa dalam mewujudkan ketahanan pangan, Indonesa mash menghadap berbaga permasalahan dan tantangan yang mash harus dwaspada untuk dapat mewujudkan ketahanan pangan dan mencapa salah satu target MDGs, yatu mengurang kemsknan dan kerawanan

(41)

tahun 2008. Permasalahan yang dhadap Indonesa salah satunya adalah jumlah penduduk yang cenderung terus menngkat setap tahunnya dan dapat mengakbatkan terjadnya kompets dalam pemanfaatan lahan untuk lahan usaha, pemukman penduduk, dan pembangunan sarana dan prasarana publk. Pemanfaatan lahan yang tdak terkendal dapat mempengaruh terjadnya degradas lngkungan dan akhrnya dapat mengancam kebutuhan pangan umat manusa atau krss pangan.

Penngkatan jumlah penduduk apabla dserta dengan menngkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan pangan yang berkualtas akan menngkatkan permntaan bahan pangan bak dalam jumlah, mutu, dan keragaman. Pada ss lan menurunnya kualtas lahan untuk pertanan dapat mengakbatkan berkurangnya kemampuan domestk untuk memenuh kebutuhan pangan dalam neger dan menngkatnya ketergantungan terhadap produk pangan dar mpor. Hal n dapat mengakbatkan ketahanan pangan Indonesa menjad semakn rentan karena mash tergantung dar kebjakan negara lan. Dengan mengacu pada keberhaslan yang telah dcapa dan permasalahan yang mash dhadap oleh Indonesa, mash dperlukan adanya berbaga kebjakan pemerntah yang kondusf dalam mewujudkan pembangunan ketahanan pangan.

3.1. Ketersediaan Pangan 3.1.1. Produksi

Konds klm yang tdak menentu akbat pemanasan global telah mengakbatkan menurunnya produks pangan pentng d duna,

(42)

Democratic Republic of the Congo, Burund, Flpna, Myanmar, Srlanka, Pakstan, Bangladesh, Nepal, Afganstan, serta Amerka Tengah dan Karba. Selan akbat konds klm yang tdak menentu, penurunan produks pangan dperparah dengan adanya konflk warga spl yang terus berkelanjutan terutama d negara Somala dan Sudan. Konds n tergambar pada produks pangan pokok duna tahun 2009/2010 sepert beras, gandum, dan sereal yang turun masng-masng 1,9 persen; 0,4 persen; dan 2,0 persen dbandngkan dengan tahun 2008/2009 yatu masng-masng sebesar 459,6 juta; 681,4 juta; dan 2.284,1 juta ton (FAO, 2009).

Namun d Indonesa, pada perode 2005 – 2009, sebagan besar produks pangan pokok mengalam penngkatan, yatu pad, jagung, kedela, ub kayu, ub jalar, sayur, buah-buahan, mnyak sawt (CPO), gula puth, telur, susu, dan kan. Sedangkan produks pangan pentng yang mengalam penurunan adalah kacang tanah, dagng sap dan kerbau serta dagng ayam. Untuk pangan nabat, penngkatan pertumbuhan yang cukup besar berturut-turut terdapat pada produks jagung yang nak dengan rata-rata 8,49 persen per tahun dan gula puth 6,88 persen per tahun. Sedangkan penngkatan pertumbuhan yang cukup tngg pada pangan hewan terdapat pada produks telur yang mencapa kenakan rata-rata 9 persen per tahun serta susu yang nak 6,5 persen per tahun (Tabel 3.1).

(43)

Tabel 3.1. Perkembangan Produks Beberapa Komodtas Pangan 2005 – 2009

Komoditas Produksi (ton) Pertumb. 05-09(%) Pertumb.08-09(%)

2005 2006 2007 2008 2009 I. Pangan Nabati 1. Pad 54.151 54.455 57.157 60.280 62.561 3,69 3,78 2. Jagung 12.524 11.609 13.288 15.860 17.041 8,49 7,45 3. Kedela 808 748 593 761 925 5,43 21,55 4. Kc Tanah 836 838 789 765 764 -2,20 -0,13 5. Ub Kayu 19.321 19.987 19.988 20.834 21.990 3,31 5,55 6. Ub Jalar 1.857 1.854 1.887 1.824 1.947 1,26 6,74 7. Sayur 9.102 9.527 9.941 10.234 10.190 2,88 -0,43 8. Buah-2 an 14.787 16.171 17.352 19.279 18.302 5,68 -5,07 9. Mnyak Sawt (CPO) 11.862 17.351 17.373 17.110 na Na na 10. Gula puth 2.393 2.267 2.297 2.394 3.046 6,88 27,23

II. Pangan Hewani 11. Dagng sap& kerbau 397 440 381 396 263 -8,06 -33,59 12. Dagng ayam 1.081 1.203 1.238 1.300 781 -5,18 -39,92 13. Telur 1.052 1.204 1.382 1.485 1.475 9,00 -0,67 14. Susu 536 617 568 574 678 6,59 18,12 15. Ikan 7.218 7.395 7.608 8.048 8.711 4,84 8,24

Sumber Data: Tahun 2009: Produksi Padi dan Palawija: ARAM II BPS, Produksi Hortikultura (Sayur dan Buah): Angka Sasaran Ditjen Hortikultura; Produksi Peternakan: Angka Sementara Ditjen Peternakan; Produksi Perkebunan: Angka Sementara Ditjen Perkebunan; Produksi Perikanan: Angka Sementara DKP; Produksi Gula: Angka Prognosa DGI (Data Diolah BKP)

(44)

3.1.2. Ketersediaan

Ketersedaan pangan dar produks domestk dperoleh dar produks dtambah mpor dkurang kebutuhan untuk konsums pakan, benh, dan tercecer serta ekspor. Ketersedaan sebagan besar pangan pokok duna menurun akbat adanya penurunan produks d sebagan besar negara utama produsen beras yang mengakbatkan menngkatnya harga pangan duna.

Sebaga contoh terjad pada komodt beras. Produks beras duna yang turun 1,9 persen selama perode 2008/2009 – 2009/2010 dserta dengan permntaan mpor yang menngkat 2,7 persen dan total penggunaan beras untuk konsums penduduk duna, ndustr dan sebaganya telah mengakbatkan turunnya ketersedaan akhr beras duna sebesar 2,7 persen, yatu dar 124,4 juta ton pada tahun 2008/2009 menjad 121,1 juta ton pada tahun 2009/2010 (FAO, 2009). Sementara tu, ketersedaan beras d Indonesa justru mengalam hal yang sebalknya. Ketersedaan beras mengalam penngkatan 2,95 persen, yatu dar 34,17 juta ton pada tahun 2008 menjad 35,17 juta ton pada tahun 2009. Perkembangan selama kurun waktu 2005-2009 (Tabel 3.2) juga menunjukkan bahwa ketersedaan sebagan besar bahan pangan nabat mengalam penngkatan, kecual untuk komodtas kacang tanah yang mengalam penurunan 2,28 persen per tahun. Sedangkan untuk komodtas pangan hewan, secara keseluruhan telah mengalam penngkatan, yatu komodtas telur, susu, dan kan masng-masng sebesar 10,62 persen, 3,72 persen, dan 4,82 persen per tahun.

(45)

Tabel 3.2.Ketersedaan Beberapa Komodtas Pangan 2005 – 2009

Komoditas Ketersediaan (000 Ton) Pertumb. ‘05-'09

(%) Pertumb. ‘08-'09 (%) 2005 2006 2007 2008 2009 I. Pangan Nabati 1. Beras 30.669 30.841 32.312 34.166 35.174 3,50 2,95 2. Jagung 11.039 10.234 11.720 14.405 15.047 8,65 4,45 3. Kedela 731 677 538 707 844 5,73 19,45 4. Kc Tanah 763 765 719 702 695 -2,28 -0,97 5. Ub Kayu 16.423 16.989 16.990 18.493 18.692 3,34 1,07 6. Ub Jalar 1.634 1.632 1.660 1.656 1.714 1,21 3,48 7. Sayuran 8.738 9.181 9.077 9.634 9.782 2,90 1,54 8. Buah-2an 14.232 15.565 16.475 17.352 17.615 5,51 1,52 9. M.Goreng 1.314 1.231 3.094 4.293 3.257 39,91 -24,12 10. Gula puth 2.369 2.245 3.430 2.992 3.871 16,04 29,39 II. Pangan Hewani 11. Dagng

sap & kerbau 394 386 216 224 249 -7,75 11,27

12. Dagng

ayam 1.119 1.381 649 680 742 -3,93 9,04

13. Telur 962 1.098 1.268 1.365 1.436 10,62 5,21

14. Susu 505 543 479 484 572 3,72 18,07

15. Ikan 6.135 6.286 6.633 6.987 7.404 4,82 5,97

Sumber : BPS; Statistik Pertanian 2003-2007 Deptan; Statistik Perikanan DKP; Tahun 2008, Angka Tetap; Tahun 2009: Produksi Padi dan Palawija, ARAM II BPS; Produksi Hortikultura (sayur dan buah), Angka Sasaran Ditjen Hortikultura; Produksi Peternakan, ASEM Ditjen Peternakan; Produksi Perkebunan, ASEM Ditjen Perkebunan; Produksi Perikanan, ASEM DKP; Produksi Gula, Angka Prognosa DGI (Diolah BKP)

(46)

3.1.3. Neraca Ketersediaan dan Kebutuhan

Kemandran pangan dtunjukkan oleh permbangan atau neraca ketersedaan dan kebutuhan komodtas pangan pentng. Nla postf pada neraca permbangan menunjukkan bahwa penngkatan ketersedaan pangan lebh besar dar penngkatan kebutuhan penduduk akan pangan. Sedangkan neraca permbangan yang bernla negatf menunjukkan bahwa penngkatan kebutuhan penduduk yang belum dapat dpenuh seluruhnya sehngga terjad defst.

Neraca ketersedaan dan kebutuhan komodtas pangan pentng Indonesa selama lma tahun terakhr (2005 – 2009) menunjukkan bahwa kebutuhan penduduk akan sebagan besar komodtas pangan pentng sepert beras, jagung, ub kayu, ub jalar, mnyak goreng sawt, gula, dan kan telah dapat dpenuh dar ketersedaan pangan d dalam neger pada tahun 2009 (Tabel 3.3). Hal n dsebabkan karena adanya penngkatan produks komodt pangan yang bersangkutan (Tabel 3.1). Adapun pertumbuhan penngkatan ketersedaan pangan khususnya untuk komodtas kedela, susu, dan telur sehngga neracanya negatf. (Tabel 3.3). Dsampng tu terjad kecenderungan penurunan ketersedaan dbandng dengan kebutuhan dagng sap, kerbau dan ayam yang tdak sembang sehngga menyebabkan defst (Tabel 3.3).

Khusus untuk beras yang merupakan komodt yang palng strategs dan mengandung unsur polts, neraca ketersedaan dan kebutuhannya menunjukkan adanya surplus yang cukup sgnfkan. Hal n menunjukkan bahwa Indonesa telah berhasl mencapa swasembada beras sepert yang telah terjad pada tahun 1984, sehngga kebutuhan penduduk akan beras telah dapat dpenuh dar ketersedaan beras yang ada d dalam neger.

(47)

Tabel 3.3.Neraca Ketersedaan dan Kebutuhan Komodtas Pangan Pentng Tahun 2005 – 2009 Komoditas 2005 2006 2007 2008 2009* I. Pangan Nabati 1. Beras 167 -154 914 2.367 2.979 2. Jagung -131 -1.748 -335 -285 13.532 3. Kedela -1.085 -1.131 -1.334 -1.194 -923 4. Kc Tanah -117 -216 65 -196 -131 5. Ub Kayu 531 -709 -292 -94 38 6. Ub Jalar 40 11 17 8 4 7. Sayur -312 -275 -481 -563 -304 8. Buah-2 an -339 -360 -508 -459 -345 9. Mnyak Goreng Sawt -7.818 -6.641 -5.951 3.082 1.987

10. Gula -452 -917 -2.290 -37 776

II. Pangan Hewani

11. Dagng sap&kerbau -20 -24 -149 -46 -35

12. Dagng ayam -1 -109 -89 -314 -311

13. Telur -121 - -639 -440 -484

14. Susu -1.234 -1.372 -504 -1.194 -778

15. Ikan 1.657 1.521 869 571 569

Sumber : BPS; Statistik Pertanian 2003-2007 Deptan; Statistik Perikanan DKP; Tahun 2008, Angka Tetap; Tahun 2009, Angka Sementara: Produksi Padi dan Palawija, ARAM II BPS; Produksi Hortikultura -sayur dan buah, Angka Sasaran Ditjen Hortikultura; Produksi Peternakan, ASEM Ditjen Peternakan; Produksi Perkebunan, ASEM Ditjen Perkebunan; Produksi Perikanan, ASEM DKP; Produksi Gula, Angka Prognosa DGI (Diolah BKP)

Gambar

Tabel 3.1.  Perkembangan Produks Beberapa Komodtas
Grafik 3.1. Perkembangan  Harga  Pangan  Pokok  Strategs  d  Pasar  Dalam Neger tahun 2004 – 2009
Grafik 3.2. Perkembangan  Harga  Pangan  Pokok  Strategis  di Pasar  Internasional Tahun 2007 – 2009 1002,1004,1006,1008,10010,10012,10014,10016,100 Ja n-0 7 Ma r-0 7 Ma y- 07 Ju l-0 7 Se p- 07 No v-0 7 Ja n-0 8 Ma r-0 8 Ma y- 08 Ju l-0 8 Se p- 08 No v-0 8
Tabel 3.1. Perkembangan Produks Beberapa Komodtas Pangan  2005 – 2009
+7

Referensi

Dokumen terkait

yang memihak sektor pangan dan pertanian yang dicerminkan dari memadainya anggaran bagi sektor pangan disertai tersedianya insentif fiskal yang menarik bagi sektor pangan; dan

Pernyataan bahwa prioritas riset dan pengembangan teknologi dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional perlu diarahkan untuk memberikan dukungan terhadap pengelolaan

Salah satu upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan adalah melaksanakan kembali (reaktualisasi) diversifikasi pangan menuju produksi dan konsumsi pangan yang

‘‘Struktur pembagian kebijakan dengan para implementor yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan beras BULOG untuk mewujudkan ketahanan pangan di wilayah kerja

Pada sisi ket ersediaan, kebij akan ket a- hanan pangan diarahkan unt uk: (a) meni ng- kat kan kual i t as l i ngkungan dan kual i t as sum- ber daya al am dan air; (b) menj

Menyikapi permasalahan tersebut, pembangunan ketahanan pangan diarahkan guna mewujudkan kemandirian pangan, untuk menjamin ketersediaan dan konsumsi pangan yang cukup,

Istilah ketahanan pangan dan kebijakan pangan dunia pertama kali digunakan oleh PBB pada tahun 1977 untuk membebaskan dunia terutama negara-negara berkembnag dari krisis produksi dan

Diversifikasi pangan merupakan kunci untuk menjamin ketahanan pangan dan gizi yang berkelanjutan bagi masyarakat, dengan meningkatkan ragam sumber pangan