4.1 Gambaran Umum Subyek Penelitian
GO-JEK adalah sebuah perusahaan teknologi berjiwa sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja di berbagai sektor informal di Indonesia. Kami bermitra dengan sekitar 200.000 pengendara ojek yang berpengalaman dan terpercaya di Indonesia, untuk menyediakan berbagai macam layanan, termasuk transportasi dan pesan antar makanan. Kegiatan GO-JEK bertumpu pada tiga nilai pokok: kecepatan, inovasi, dan dampak sosial. Para Driver GO-JEK mengatakan bahwa pendapatan mereka meningkat semenjak bergabung sebagai mitra, mereka juga mendapatkan santunan kesehatan dan kecelakaan, serta mendapat akses ke lebih banyak pelanggan melalui aplikasi kami.
GO-JEK telah resmi beroperasi di 10 kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, Medan, Semarang, Palembang, dan Balikpapan dengan rencana pengembangan di kota-kota lainnya pada tahun mendatang.1
Gambar 1. Logo Gojek
Di situs resminya disebutkan bahwa layanan Go-Jek adalah sebagai berikut: 1. Jasa kurir (90 minute delivery anywhere in the city), 2. Jasa transportasi (transparent pricing, free shower cap and masker), 3. Jasa delivery makanan (delivering your favorite food under 60 minutes in Jabodetabek),
4. Jasa belanja dengan nominal di bawah 1 juta rupiah (shop for food, ticket, medicine, anything under Rp 1.000.000. We’ll pay for it first).
Adapun visi dan misi dari Gojek itu sendiri adalah : VISI :
Membantu memperbaiki struktur transportasi di Indonesia, memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari seperti pengiriman dokumen, belanja harian dengan menggunakan layanan fasilitas kurir, serta turut mensejahterakan kehidupan tukang ojek di Indonesia Kedepannya.
MISI :
Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola struktur transportasi yang baik dengan menggunakan kemajuan teknologi.
Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada pelanggan. Membuka Lapangan Kerja bagi masyarakat Indonesia.
Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial.2
4.1.1 Pengertian Ojek
Ojek adalah mode transportasi di perkotaan yang sangat popular di kalangan penduduk di berbagai daerah pemukiman yang sebelumnya di kuasai oleh jenis becak. Sejak becak di larang beroperasi pada tahun 1994 di Jakarta, banyak orang beralih mencari nafkah menggunakan sepeda motor, dan sekarang lebih di kenal dengan istilah tukang ojek pangkalan,, jasa transportasi ini di gemari sekali karena kelincahannya melewati jalan macet dan rumit di ibu kota ini, pada umumnya kendaraan yang di gunakan adalah sepeda motor, ojek bisa di temukan biasanya di depan jalan raya, di perkantoran, stasiun dll tergantung pangkalannya berada. System pembayaran jasa ini adalah penumpang dan si tukang ojek ini melakukan tawar-menawar harga, jika setuju maka penumpang akan di antar sampai tujuan, jika tidak
penumpang boleh mencari ojek lain yang setuju dengan biaya yang di tawar penumpang itu.3
Gambar 2. Ojek Pangkalan
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Deskripsi Profil Key Informan dan Informan Penelitian
Dari hasil penelitian, peneliti akan memaparkan dan membahas mengenai hasil penelitian tentang pola interaksi komunikasi Gojek online dalam menyelesaikan konflik dengan ojek pangkalan (opang) yang di peroleh dari wawancara dan pengumpulan data dari berbagai sumber yang membantu dalam melakukan penelitian ini.
3 http://arti-definisi-pengertian.info/pengertian-ojek-motor/. Diakses pada tanggal 1 juli 2016. Pada pukul 05:58 WIB
Hasil penelitian ini di peroleh dengan teknik wawancara yang mendalam dengan narasumber sebagai bentuk pencarian data dan observasi langsung di lapangan yang kemudian peneliti analisis.
Jumlah narasumber yang di jadikan data penelitian sebanyak tujuh orang yang terdiri dari empat key informan dan tiga informan sebagai pendukung informasi dalam penelitian. Tujuh orang dari narasumber yang berkaitan dengan masalah penelitian.
Berikut ini data narasumber yang peneliti wawancara beserta latar belakang pekerjaan, status ataupun kegiatan serta tanggal dimana peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap narasumber Key informan.
1. key informan :
NAMA
JENIS KELAMIN
PEKERJAAN Tanggal
Hasan Bin Margani (55 tahun)
Laki-laki Driver Gojek 12 juli 2016
Tono (47 tahun)
1. Identitas Key informan Nama : Hasan Bin Margani
Usia : 55 Tahun
Status : Driver Gojek Tempat Lahir : Jakarta
Hasan Bin Margani yang biasa di panggil bang Acan ini adalah salah satu driver gojek regional Jakarta Barat, bang Acan sudah 2 tahun menjalani sebagai driver gojek, setiap pagi sampai malam beliau giat mencari titik ramai guna untuk mendapatkan pelanggan, sebelum menjadi gojek beliau adalah seorang ojek pangkalan di daaerah bunderan hotel Indonesia.
“ane tertarik jadi gojek karna ane tau gojek lebih menguntungkan kite ga perlu repot-repot nungguin penumpang di pangkalan, kite bisa diem di rumah tar kalo ada orderan tinggal pencet jadinye ga sia-sia, kalo mangkal Cuma ngabisin duit penumpang juga jarang, kalo di gojek kan kite di cariin penumpang, lagi juga penghasilannya
Marhali (44 tahun)
Laki-laki Driver Gojek 12 juli 2016
Albi Jamili (26 tahun)
menguntungkan banget buat ane jauh ketimbang dulu jadi ojek pangkalan”
2. Identitas Key Informan
Nama : Tono
Usia : 47 tahun
Status : Driver Gojek Tempat Lahir : Tegal
Tono yang biasa di panggil mas ton ini adalah salah satu driver gojek regional Jakarta Pusat, Tono sudah menjalani pekerjaan sebagai driver gojek ini sudah 1 tahun lebih, menjadi driver gojek merupakan penghasilan tambahan untuk beliau, karena beliau kini sedang bekerja juga di salah satu lab sebagai kurir, jam kerja beliau sebagai gojek waktu ada antaran dan sepulang kerja sampai malam.
“aku jadi gojek buat penghasilan tambahan aku aja, denger cerita temen katanya lumayan penghasilannya, yaudah aku coba eh ternyata bener penghasilannya 2x lipat gajiku, tp ini buat sampingan aku aja yang penting ga terikat aku mau narik kapan bebas jadinya”
3. identitas Key Informan Nama : Marhali
Usia : 44 Tahun
Status : Driver Gojek Tempat Lahir : Jakarta
Marhali yang biasa di panggil Marsel ini adalah salah satu driver gojek regional Jakarta Barat, Marhali sudah menjalani pekerjaan sebagai driver gojek sudah 1 tahun lebih, sebelumnya Marhali bekerja di salah satu resto di bandara Soekarno Hatta sebagai asisten chef, namun setelah menjalani sebagai driver gojek dia menganggap penghasilan gojek lebih mencukupi dan memutuskan untuk keluar dari pekerjaan sebelumnya, setiap pagi sampai siang dia mencari pelanggan dan siang istirahat kemudian lanjut lagi sore sampai malam.
“saya jadi gojek tadiannya buat iseng aja, denger ada perekrutan besar-besaran yaudah saya coba eh di terima di gojek, setelah saya jalanin penghasilannya lumayan besar, ini waktu saya sambil kerja, gimana saya focus seharian bisa gede banget, mangkanye saya berenti kerja dan focus di gojek sekarang, alhamdullilah penghasilannya lebih dari cukup”
4. Identitas Key Informan Nama : Albi Jamili
Usia : 26 tahun
Status : Driver Gojek/Mahasiswa Tempat lahir : Jakarta
Albi Jamili adalah salah satu driver Gojek yang sudah menjalani sebagai driver gojek ini 1 tahun lebih , dia salah satu gojek driver regional Jakarta Barat, sebelumnya Albi ini merupakan karyawan di salah satu resto di daerah Jakarta Pusat namun dia berhenti dan memilih menjadi driver gojek, dia ini juga berstatus sebagai mahasiswa aktif di daerah pamulang, jadi pekerjaan driver gojek ini di lakukannya jika ada jadwal kosong di kampusnya.
”awal masuk gojek tadinya sih ikut-ikutan temen ngisi waktu luang di kerjaan dlu sama ngampus, setelah kita jalanin penghasilan gojek lebih menjanjikan nih, makanya kita keluar dari kerjaan di resto, gua coba fokus di gojek, ya lumayan bisa bayar uang kuliah ama jajan lah” 2. Informan NAMA JENIS KELAMIN PEKERJAAN Tanggal Saiful Bahri (29 tahun)
Laki-Laki Ojek Konvensional 13 juli 2016
Tata Sukamta (59 tahun)
Laki-Laki Ojek Konvensional 13 juli 2016
Maulana (36 Tahun)
Laki-laki Ojek Konvensional 13 juli 2016
1. Identitas Informan Nama : Saiful Bahri
Usia : 29 tahun
Status : Ojek Konvensional Tempat Lahir : Jakarta
Saiful bahri yang biasa di panggil Ipul ini merupakan salah satu dari ojek pangkalan di daerah Jakarta barat, Ipul ini sudah menjalani pekerjaan sebagai ojek pangkalan sudah 5 tahun, tadi nya dia adalah seorang dept. kolektor di salah satu perusahan di daerah Jakarta barat, namun dia keluar karena ada suatu masalah, kemudian setelah itu dia menjadi ojek pangkalan lantaran belum mendapat pekerjaan lagi dan bertahan sampai sekarang.
“saye mah bukannye gamau jadi gojek, system penghasilannye mas di potong begitu mending kecil ini gede 20% dari yang kite dapet, mending saye disini penghasilan dapet full buat anak bini, die orang enak kaga di lapangan nah kite kayak di budakin jadinye kayak jaman kompeni, kage tau di lapangan gimane panas kepanasan ujan keujanan”
2. Identitas Informan Nama : Tata Sukamta
Usia : 59 Tahun
Tempat lahir : Jakarta
Tata Sukamta yang biasa di panggil bang Tata ini, merupakan salah satu ojek pangkalan yang berada di daerah Jakarta barat, Tata sudah menjalani sebagai ojek pangkalan ini 10 th , Tadinya tata merupakan buruh di salah satu pabrik di daerah Jakarta barat, namun dia kena PHK dan beralih menjadi ojek pangkalan karena ijasahnya hanya sampai SD susah lagi untuk mencari pekerjaan, melalu ojek ini lah dia mencari nafkah untuk keluarganya, setiap pagi sampai malam dia mangkal untuk mencari penumpang di daerah Jakarta barat.
“saya mah sebenernye mau jadi gojek cuma saya ga ngerti handphone udah juga saya buta huruf, makanye saya jalanin begini aje dah, syukurin apa yang ade, mau belajar juga udah ketua’an, ngumpul disini aje ama temen-temen pangkalan yang laen”
3. Daftar Informan
Nama : Maulana
Usia : 36 tahun
Status : Ojek Konvensional/ Ojek Pangkalan Tempat lahir : Jakarta
Maulana atau biasa di panggil lana ini adalah salah satu ojek pangkalan yang berada di kawasan Jakarta barat, dia sudah menjalani aktifitas sebagai ojek pangkalan ini hampir 8 tahun, tadi nya dia adalah pekerja serabutan karena tidak memiliki ijasah,
kemudia dia beralih menjadi ojek pangkalan yang di nilainya penghasilannya cukup untuk kehidupannya sehari-hari.
“gue mah males jadi gojek, gaenak ama temen-temen di pangkalan sini yang udah lama, udah kayak sodara semua disini, ntar malah gara-gara begini jadi ribut udah lama temenan, mending begini aja dah gue mah”.
4.2.2 Awal MulaTerjadi Konflik Antara Gojek dengan Ojek Pangkalan
Kemunculan ojek berbasis aplikasi atau ojek online di satu sisi disambut positif oleh kalangan konsumen. Di sisi lain, kehadiran ojek online juga memunculkan masalah. Sebagian pengemudi ojek konvensional merasa terganggu karena ojek online dianggap merebut lahan nafkah mereka. Akibatnya, muncul beberapa kasus bentrokan antara ojek konvensional versus ojek online. Persaingan antara layanan jasa trasportasi sepeda motor berbasis aplikasi Gojek dan ojek reguler yang cenderung mengarah kepada tindak kekerasan. Hal itu menarik perhatian dari masyarakat luas.
Krisis semacam ini tentunya berpotensi membuat customer Gojek menurun jika merasa keselamatannya terancam karena adanya teror oleh para ojek lokal. Dan berakibat pula pada kinerja driver Gojek dalam melayani customernya, khususnya didaerah-daerah tertentu yang mereka anggap rawan. hal ini salah satu bentuk aksi ojek lokal yang takut tersaingi oleh hadirnya Gojek.
Dalam penelitian ini, peneliti menanyakan kepada key informan tentang bagaimana awal terjadinya konflik dengan ojek pangkalan sehingga memberikan dampak negative bagi driver dan penumpang Gojek .
“ awalnye tuh dari ojek pangkalan di daerah kalibata city, disono kan banyak tuh ojek pangkalan di tiap gerbang pintu masuk pastinye ada ojek pangkalan, nah die pada merasa rejekinye tuh di ambil gojek yang masuk di daerah kalibata situ, dan mulai deh tuh masang spanduk penolakan gojek masuk wilayah situ, dan akhirnye nyebar tuh ke ojek pangkalan selurah jabodetabek pade masang spanduk kayak gitu, dan ada driver gojek yang gatau maen masuk aje dan akhirnye abis tuh di aniaya, setelah itu laporan deh ke grup whatsaap gojek, temen-temen driver lainnye pada dateng kesono nyari tuh opang yang aniaya rekan kite nih”
Seperti itulah yang di ungkapkan oleh bang Hasan, bahwa awal mula terjadinya konflik seperti itu. Dari key informan yang peneliti wawancarai peneliti jadi tau bagaimana awal mula terjadinya konflik gojek dengan ojek pangkalan.
Seorang informan dalam penelitian ini yang bernama tata sukamta yang tidak lain adalah anggota ojek pangkalan di daerah rawabelong menjelaskan tentang awal mulanya ojek pangkalan memusuhi gojek.
“gojek tuh matiin rejeki orang-orang seperti kite ini yang mencari nafkah cuma dari ngojek, die tuh beraninya pake tarif promo murah yang matiin tarif ojek pangkalan, harusnye yang kita mau tuh adil samain ama tarif kite, biar gimane pun juga kalo tarif sama kan bisa bersaing secara sehat, kite keselnye di situ orang jadinye lebih milih gojek dari pade kite yang udah lame bertahan di mari”
“emang sekarang penghasilan kita sebagai ojek pangkalan berkurang banget semenjak ada gojek, kesel sih ada Cuma mau gimana, namanye juga persaingan, kite mah udah tua udah males yang namanye rebut-ribut jalanin aje kalo say amah rejeki ada yang ngatur, Cuma kalo liat gojek masuk wilayah sini kesel juga, ya paling kita tegur dulu jangan ambil penumpang deket sini takutnye temen-temen saye sewot malah rebut nanti”
Seperti itulah yang di ungkapkan Saipul Bahri dan Tata Sukamta selaku informan dalam penelitian ini yang berprofesi sebagai tukang ojek pangkalan yang sudah lama menjadi tukang ojek.
4.2.3 Interaksi sosial yang terjadi antara driver Gojek dengan driver Gojek lainnya dalam mengantisipasi terjadinya konflik
Proses sosial merupakan aspek dinamis dari kehidupan masyarakat. Dimana di dalamnya terdapat suatu proses hubungan antara manusia dengan manusia lainnya. Proses hubungan tersebut berupa interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi sosial dimaksudkan sebagai timbal balik antara dua belah pihak, yaitu antara individu satu dengan individu atau kelompok lainnya dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Dalam pembahasan ini maksudnya adalah bagaimana interaksi yang di lakukan oleh driver gojek dengan driver lainnya dalam mengantisipasi terjadinya konflik bentrokan jika bertemu dengan ojek pangkalan.
Dalam penelitian ini, peneliti memberikan pertanyaan kepada 2 key informan
mengenai interaksi sosial yang terjadi antara sesama driver gojek dalam upaya mengatisipasi terjadinya konflik dengan ojek pangkalan.
jangan nongkrong disini karena rawan opang yang usil apa lagi di liat kita sendiri makin semena-mena nanti, karna pengalaman aku waktu di daerah kuburan pahlawan yang di kalibata itu, aku lg ngaso abis anter penumpang sambil nungguin orderan, tepi ada 2 orang nyamperin dan ngusir aku, ya untungnya aku ga di apa-apain Cuma disuruh pergi aja”
“yaa kalo ketemu driver laen biasanye sih ane ngobrol tuker pikiran aje dimane nih titik rawan yang biasanye opangnye tuh usil, kan kalo udah tau bisa kite hindarin tuh, sebagai sesame driver ya kite saling mengingatkan aje nih lokasi yang kiranye rawan buat kite sebagai driver gojek”
Seperti itulah ungkapan dari mas tono dan marhali sebagai key infoman dalam penelian ini mengenai interkasi sosial sesama driver gojek dalam upaya menghindari bentrokan dengan ojek pangkalan sehingga bisa mengakibatkan konflik yang semakin ruwet khususnya untuk driver gojek sendiri.
4.2.4 Komunikasi Kelompok Yang Terjalin Dalam Upaya Menyelesaikan Konflik Dengan Ojek Pangkalan.
Dalam komunikasi kelompok umumnya antar pelaku komunikasi sudah saling mengenal dengan baik. Perbedaan lain dari komunikasi kelompok kecil dan besar adalah komunikasi kelompok kecil ditujukan kepada kognisi komunikan, sedangkan komunikasi kelompok besar cenderung ditujukan pada afeksi komunikan Aplikasi komunikasi kelompok kecil dilakukan dalam proses, kuliah, ceramah, diskusi, seminar, dan lain-lain. 4
Dalam pemahaman ini maksudnya adalah bagaimana suatu komunikasi kelompok terjalin dari masing-masing komunitas key informan dakam upaya menyelesaikan konflik dengan ojek pangkalan agar tidak adanya korban dari pihak driver gojek maupun ojek pangkalan .
Dalam penelitian ini peneliti memberikan pertanyaan kepada key informan
untuk mengungkapkan bagaimana di pangkalan gojek biasa key informan berkumpul mengupayakan penyelesaian konflik yang sedang terjadi dengan ojek pangkalan di sekitar mereka.
“ kalo kite disini sebenernye gamau kayak gini, kite sama-sama cari nafkah, cari duit buat keluarga, karna kite juga ngerasain gimne jadi ojek pangkalan, makanye kite bilang disini jangan cari gara-gara, kalo die usil dluan berarti die yang cari gara-gara ama kite, saye
sebagai yang paling tua disini, selalu bilang ke temen-temen disini, saling menghargai aje, kalo ada penumpang yang order deket ojek pangkalan minte di cancel aje, karna kan kite juga gaenak kenal juga ama tukang ojek pangkalan sini bekas temen kite juga, ya saling menghargai aje”
“kalo aku disini kebanyakan informasi dari grup di whatsaap, contohnya kayak titik rawan yang harus di hindari, karna kalo menurut aku ya, lebih baik aku menghindari dari pada harus jadi korban, kasian anak istriku dirumah, aku kan niatnya cari nafkah. Kebanyakan sih temen temen disini juga share informasi via whatsaap karna kan kita lebih banyak keliling nyari titik orderan rame.”
“Temen-temen disini sih kalo saya liat gamau ribet orangnya, ya saling menghargai aja karna kan sama-sama nyari duitlah istilahnya, kecuali ada rekan kita tuh kena di aniaya ama opang tuh baru deh anak-anak turun semua, selama gaada yang usik ya kita sih baik-baik aja, karna kan ini bukan kemauan kita ambil penumpang di wilayah mereka, ini kemauan penumpang sendiri yang mau naek gojek”
“ gua sebagai driver gojek gamau namanya ribut Cuma gara-gara berebut penumpang, sekarang terserah penumpangnya dah mau milih
naek apaan kita mah Cuma jasa aja, ada orderan kita anter, kalo engga yaudah”
Seperti ini lah ungkapan dari keempat key informan dalam penelitian ini, upaya mereka untuk menyelesaikan konflik dengan ojek pangkalan agar tidak timbulnya korban sepeti di daerah-daerah lain.
4.2.5 Simbol-Simbol Yang Muncul Dalam Konflik Antara Gojek dengan Ojek Pangkalan
Seperti yang kita ketahui manusia mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan memanipulasi simbol-simbol. Kemampuan ini diperlukan untuk komunikasi antarpribadi dan pikiran subjektif. Manusia dianggap sebagai aktor yang sadar dan reflektif, yang dapat menyatukan objek-objek yang diketahuinya melalui proses komunikasi yang sedang berjalan dimana individu mengetahui sesuatu, menilainya, memberi makna, dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna itu sendiri.
Penyampaian informasi yang di lakukan oleh para key informan dan informan
terhadap pemahaman informasi yang dilihat sebagai bentuk symbol-simbol yang memicu adanya konflik dalam penelitian yang sedang di teliti ini, memberikan
manusia bisa belajar terus-menerus untuk memikirkan objek secara simbolik. Pemikiran seperti ini akan membebaskan kita dari pembatasan pengalaman hanya atas apa yang betul-betul dirasakan, dilihat, dan didengar. Semua interaksi antar individu kemudian melibatkan suatu pertukaran simbol. Manusia secara konstan menjadi ‘petunjuk’ mengenai tipe perilaku yang cocok dalam konteks itu dan bagaimana menginterprestasikan apa yang dimaksud oleh orang lain.
Simbol yang dimunculkan menunjukkan berbagai orientasi yang muncul dalam konflik yang sedang terjadi antara gojek dengan ojek pangkalan seperti symbol dari atribut gojek, aksesoris yang di gunakan para driver untuk memudahkan mereka bekerja.
Atribut yang di gunakan driver gojek ini lah yang harus di pakai tiap hari oleh driver gojek, agar penumpang mengenali driver gojek tersebut bahwa benar ini dari gojek langsung, atribut tidak di perjual belikan di pasaran, ini khusus bagi driver gojek saja.
2. Holder Stang Gps
Ini adalah salah satu aksesoris tambahan untuk driver gojek dalam membantu aktifitas mereka sehari-hari, Holder stang ini berfungsi sebagai pegangan handphone mereka yang di temple di stang motor guna membantu melihat GPS ketika mereka sedang dalam posisi berjalan, membantu juga untuk mengetahui ada orderan ketika sedang jalan lalu tinggal memencetnya jika orderan muncul di jalan.
Simbol-simbol yang Driver gunakan sehari-hari pun menjadi mind set pagi ojek pangkalan untuk mengenali driver gojek, ini di ungkapkan oleh informan yang berprofesi sebgai ojek pangkalan.
“Kalo ngenalin gojek sih gampang mas, liat nya dari jaket sama helm yang di pake aja, kalo ijo-ijo aje dah, nah tuh gojek, ane stopin kalo masuk wilayah sini, kite tanyain mau jemput ape mau anter?, kalo jemput ane suruh pergi, tp kalo anter gapape”
“kadang-kadang gojek suka nyaruh, biasanya jaket sama helmnya tuh di masukin tas, begitu udah jauh dari sini baru di pake, makanya saya litanya tuh dari tempelan hp yang ada di motor, biasanye kalo gojek pake itu, kalo saye liat nih masuk wilayah sini abis pokoknye tuh gojek”
Seperti ini lah ungkapan dari 2 informan dalam penelitian ini tentang symbol-simbol yang mereka ketahui dari driver gojek yang bisa memicu terjadi konflik di wilayah ojek pangkalan disini.
Dalam hal seperti ini key informan juga memberikan keterangan tentang symbol-simbol yang ada dalam keseharian mereka yang di gunakan untuk aktifitas sehari-hari mereka
“ciri khas dari kite ya ini (sambil menunjuk jaket dan helm yang di gunakan), jaket sama helm ijo-ijo, ini harus kite pake, biar pelanggan ngenalin kite, dan juga kalo ga di pake bisa kena suspend (sanksi) dari PT.Gojek, mau ga mau deh harus di pake terus”
“kalo ciri khas atribut udh pasti di kenalin, sama ini yang aku pake cantelan hp buat di motor, wah.. ini udah jadi ciri khas, banyak temen-temen driver lain pake, biar gampang waktu liat GPS, dan buat mencet orderan pas aku lagi di jalan”
Seperti ini lah ungkapan dari 2 key informan mengenai symbol-simbol yang biasa di gunakan oleh driver gojek dalam keseharian menjalani aktifitas sebagai driver gojek .
4.3 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian diatas, penulis melakukan wawancara terstruktur dan mendalam yang dilakukan dengan key informan yang terlibat atau tahu tentang konflik yang terjadi antara gojek dengan ojek pangkalan, di dalam penelitian ini terdiri atas empat key informan dan tiga orang informan sebagai pendukung informasi penelitian. Pada pembahasan ini penulis akan membahas hasil dari penelitian
yaitu, dengan penyampaian informasi yang di berikan oleh key informan terhadap pemahaman tentang upaya untuk menyelesaikan konflik dalam kelompok atau komunitas gojek terhadap ojek pangkalan, memberikan banyak jawaban dari bagaimana mereka menanggapi masalah ini, seperti apa informasi yang ada di lapangan untuk mengupayakan penyelesaian konflik yang semakin berlarut-larut ini, bagaimana komunikasi yang terjalin di dalam kelompok atau komunitas gojek itu sendiri.
Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan pola komunikasi antara gojek dengan ojek pangkalan dalam menyelesaikan konflik bisa di lihat dari cara mereka berkomunikasi berdasarkan usia mereka, jadi perbedaan usia sangant mempengaruhi gaya mereka dalam menanggapi suatu masalah yang terjadi, usia muda lebih memandang suatu masalah secara emosional tidak memikirkan akibatnya, gaya komunikasinya juga cendrung tidak terstruktur asal berucap saja tidak itu saja gaya komunikasi usia muda juga cendrung cuek, tidak peduli sekitanya, seperti yang informan ungkapkan dalam wawancara,”kalo gojek masuk wilayah sini gua abisin”. Dan juga key informan kita “ gamau ribet kalo ada di anter engga yaudah” gaya komunikasi seperti ini cendrung cuek dan tidak peduli sektiranya bagaimana menaggapi suatu masalah yang timbul. Beda dengan usianya yang sudah tua gaya komunikasinya juga santun dan sopan memikirkan jangka panjang dalam berbuat sesuatunya.
Seperti yang kita tahu komunikasi adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Profesor Wilbur Schramm menyebutnya bahwa komunikasi dan masyarakat adalah dua kata kembar yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Sebab tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi.5
Komunikasi akan berjalan efektif bila di lihat dari beberapa faktor yang mempengaruhi proses komunikasi tersebut seperti: factor pendidikan, usia, sikap, pekerjaan, pengetahuan, saluran, lingkungan karena faktor ini lah komunikasi bisa di terima ketika komunikator menyampaikan suatu pesan kepada komunikan.
Selain teori komunikasi, dalam penelitian ini juga peneliti memakai teori komunikasi kelompok, bagaimana pemahaman tentang teori komunikasi kelompok yang terjalin antara driver gojek dalam menyelesaikan konflik dengan ojek pangkalan, apakah ada solusi untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dengan berkomunikasi kepada kelompok komunitas gojek itu sendiri.
Dalam penelitian ini komunikasi kelompok yang terjalin antara driver gojek dalam upaya menyelesaikan masalah dengan ojek pangkalan, peneliti lihat upaya untuk menyelesaikan masalah dari kelompok atau komunitas gojek yang peneliti
wawancari dengan key informan, mereka lebih cendrung berkomunikasi secara tatap muka seperti yang di ungkapkan Bang Acan sebagai orang yang tertua dalam kelompok tersebut dia berkata “saling menghormati dan menghargai”, dan juga komunikasi kelompok terjalin bisa dari grup di Whatsapp seperti yang di ungkapkan Tono ““kalo aku disini kebanyakan informasi dari grup di whatsaap, contohnya kayak titik rawan yang harus di hindari,”.
Jadi, seperti yang kita ketahui peran komunikasi kelompok itu sangat penting, karena biasanya komunikasi kelompok terjadi dalam suasana yang lebih terstruktur di mana para peserta lebih cenderung melihat dirinya sebagai kelompok serta mempunyai kesadaran tinggi tentang sasaran bersama
Selain menggunakan teori komunikasi kelompok, peneliti juga menggunakan teori interaksi sosial, pemahaman disini teori interaksi sosial bagaimana interaksi sosial antara sesama driver gojek untuk mengantisipasi terjadinya konflik di lapangan, seperti yang di ungkapkan salah satu key informan dalam penelitian ini, bagaimana dia berinteraksi dengan gojek driver lainnya ““ Kalo aku pribadi kalo liat temen sesama gojek juga lagi sendirian di pinggir jalan nungguin orderan itu aku samperin dan ngasih tau jangan nongkrong disini karena rawan opang yang usil apa lagi di liat kita sendiri makin semena-mena nanti” seperti yang di lakukan Tono ini dia lebih memilih berinteraksi langsung ketimbang diam saja dan melihat terjadinya konflik. Serta interaksi bisa di lakukan secara personal tatap muka dengan saling
sharing pengalaman yang di alami dan memberikan informasi terkait konflik seperti yang di ungkapkan Marhali ini ““yaa kalo ketemu driver laen biasanye sih ane ngobrol tuker pikiran aje dimane nih titik rawan yang biasanye opangnye tuh usil, kan kalo udah tau bisa kite hindarin” jadi berinteraksi sosial itu penting untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.
Interaksi sosial adalah hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain, dimana individu yang satu mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya sehingga terjadi hubungan yang saling timbal balik. Disini lah peran driver gojek untuk mempengaruhi teman-temannya yang tidak tahu tentang bahaya atau ancaman yang akan terjadi, dengan berinteraksi sesama driver maka akan muncul suatu hasil dari interaksi yang mereka lakukan, dalam penelitian ini driver gojek yang tahu tentang titik-titik rawan bagi mereka untuk tidak mengambil penumpang di titik itu karena adanya ojek pangkalan disitu, maka di beritahukan kepada sesama driver untuk tidak kesitu agar menghindari terjadinya suatu konflik.
Hasil dari apa yang peneliti buat, berdasarkan jawaban-jawaban dari para narasumber yang terkait dalam penelitian ini, kurangnya komunikasi yang berjalan efektif antara pihak gojek dengan ojek pangkalan karena perbedaan usia sangat mempengaruhi cara berkomunikasi yang baik dan bener, serta kurangnyanya mendapatkan informasi tentang gojek dari segi penghasilan, system kerja, dan
mengakibatkan timbulnya persepsi negative tentang gojek sehingga menimbulkan konflik antara gojek dengan ojek pangkalan yang tidak mengetahui informasi apa-apa.
Serta dalam komunikasi kelompok yang terjalin di komunitas yang di ungkapkan key informan, peneliti melihat sudah ada upaya untuk meminimalisir terjadinya konflik dengan memberikan informasi titik rawan terjadinya konflik, namun belum ada penyelesaian dengan pihak ojek pangkalan, karena komunikasi kelompok yang di ungkapkan ini lebih cendrung kepada kelompoknya sendiri saja tidak ada usaha untuk bermusyawarah dengan anggota ojek pangkalan di daerahnya, mereka lebih cendrung untuk menghindari konflik bukan untuk menyelesaikannya secara musyawarah.
Logika berpikir komunikan memiliki peranan penting dalam proses komunikasi ini karena komunikan akan melakukan proses penilaian tentang logis tidaknya informasi yang disampaikan oleh komunikator. Proses komunikasi akan lebih bersifat dialogis dan sirkular, umpan balik akan terjadi secara langsung, umpan balik dapat berupa tanggapan, pertanyaan maupun sanggahan terhadap pesan dari komunikator.
Maka dari itulah peneliti meyakini pentingnya berkomunikasi yang efektif dalam menyelesaikan suatu konflik yang terjadi di masyarakat, bagaimana
penyampaian informasi melalui komunikasi yang efektif sehingga bisa di terima oleh publik, dan bagaimana interaksi yang di bangun di masyarakat agar bisa di terima dengan baik oleh masyarakat.