1
STRATEGI DAN RENCANA IMPLEMENTASI MRV REDD+
(DRAFT)
2
Daftar Isi
DAFTAR ISI
2
BAB I RASIONALISASI
6
1.1. Latar Belakang 6
1.1.1. Perubahan Iklim dan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Berbasis Lahan 6
1.1.2. Komitmen Indonesia 7
1.1.3. Perlunya Sistem MRV 7
1.1.4. Kondisi di Indonesia 9
1.2. Tujuan Penyusunan Dokumen 10
1.3. Ruang Lingkup 11
BAB II SISTEM MRV
12
2.1. Definisi 12 2.1.1 Pengukuran (Measurement/M) 12 2.1.2 Pelaporan (Reporting/R) 12 2.1.3 Verifikasi (Verification/V) 13 2.1.4 Emisi GRK 142.1.5 Penghidupan masyarakat dan jasa lingkungan: Co-benefit 15 2.1.6 Pemicu (drivers) emisi GRK dan aktivitas penurunan emisi GRK dan kondisi pemungkin
(enabling conditions) 15
2.2. Visi, Misi dan Tujuan 16
2.3. Cakupan dan arsitektur sistem MRV Penurunan Emisi GRK Indonesia 17
BAB III LEMBAGA MRV
25
3.1 Sistem Kelembagaan MRV 25
3.2 Kerangka Lembaga MRV 26
3.2.1. Tujuan Lembaga MRV 26
3.2.2. Mandat Lembaga MRV 28
3.2.3. Tata Kelola Lembaga MRV 29
3
BAB IV ROADMAP MRV
33
4.1 Penyiapan faktor pemungkin terkait dengan kelembagaan, infrastruktur dan data 33
4.1.1. Penyiapan Lembaga MRV 33
4.1.2. Standardisasi, Pemutakhiran dan Data Exchange 40
4.1.3. Peningkatan kemampuan (capacity building) 40
4.2 Penyiapan dan Implementasi MRV 41
4.2.1. MRV dengan pendekatan Proxy Deforestasi 41
4.2.2. National Level Land based Emission Monitoring (NALEM) 41
4.2.3. National Level Peat Monitoring (NAPEM) 42
4.2.4. Implementation Area/high priority area level Land based emission monitoring (ILEM) 43 4.2.5. Implementation Area/High Priority Area Level Peat Emission Monitoring (IPEM) 44
4.2.6. Sistem Informasi Jasa Lingkungan dan Drivers 45
REFERENSI
46
LAMPIRAN I ACUAN TEKNIS
47
Overview IPCC 47
Review Guideline IPCC 2006 47
VCS (Verified Carbon Standard) 51
Review Verified Carbon Standard (VCS) 52
Sistem Monitoring Emisi dari Lahan Gambut 53
Standar data dan informasi geospasial 54
Tantangan dalam mengadopsi IPCC dan/atau VCS ke dalam sistem MRV Nasional 55
Status dan Tantangan 56
Teknis 56
Non Teknis 57
LAMPIRAN II INISIATIF MRV DAN PEMBELAJARAN
60
Inisiatif Elemen-Elemen MRV Nasional 60
Inisiatif Terkait dengan Pemantauan Sumber Daya Lahan 60
Inisatif Terkait dengan Inventarisasi Hutan (Stok Karbon) Terestris 63
4
Rekomendasi Sistem MRV Nasional 69
DNPI: Rekomendasi Langkah Tindak - Pengembangan Measurable, Reportable and Verifiable (MRV) (April,
2010) 69
UN-REDD : REDD+ Indonesia Information, Monitoring & Measurement, Reporting and Verification
(MRV): United Nations Recommendation (Juni, 2011) 70
Pembelajaran dari Elemen Sistem MRV Internasional 71
Brazil 71
Australia 72
India 73
Norwegia 75
United States 75
Pembelajaran untuk Indonesia 77
LAMPIRAN III SPESIFIKASI TEKNIS
79
Pemantauan Deforestasi (MODEF) 79
Cakupan 79
Justifikasi 79
Usulan Pendekatan 79
Monitoring Emisi Berbasis Lahan Nasional (NALEM) 81
Cakupan 81
Justifikasi 82
Usulan pendekatan 82
Monitoring emisi dari Lahan Gambut Nasional (NAPEM) 84
Cakupan 84
Justifikasi 84
Usulan pendekatan 85
Monitoring Emisi Berbasis Lahan Sub Nasional/Area Implementasi (ILEM) 85
Cakupan 85
Justifikasi 85
Usulan pendekatan 86
Monitoring Emisi dari Lahan Gambut Sub Nasional/Implementasi Area (IPEM) 89
Cakupan 89
Justifikasi 89
Usulan pendekatan 89
Sistem Informasi Jasa Lingkungan dan Driver Deforestasi dan Degradasi Hutan 91
Cakupan 91
5
6
Bab I RASIONALISASI
1.1.
Latar Belakang
1.1.1. Perubahan Iklim dan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Berbasis Lahan
Perubahan iklim yang disebabkan oleh kenaikan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer merupakan suatu fenomena yang tidak terbantahkan. Dampak dari fenomena ini telah dirasakan secara luas baik di tingkat global, nasional, maupun lokal. Di Indonesia, dampak ini telah terjadi antara lain dalam bentuk pergeseran musim dan peningkatan intensitas curah hujan maupun tingkat kekeringan, serta peningkatan risiko terjadinya bencana alam yang terkait dengan cuaca ekstrim. Pada akhirnya, dampak ini tidak hanya akan mengancam aktivitas ekonomi tetapi juga timbulnya korban jiwa.
Urgensi dari pengurangan emisi untuk menjaga kestabilan konsentrasi GRK di atmosfer telah mendorong berbagai pemikiran dan upaya mitigasi perubahan iklim yang diwadahi dalam Konvensi Kerangka Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC). Selain upaya mitigasi, dalam UNFCCC juga ditekankan perlunya upaya adaptasi perubahan iklim untuk meminimalkan dampak dari perubahan iklim. Emisi GRK dari sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya (land use, land-use change and forestry, LULUCF) berkontribusi secara signifikan yaitu sekitar 17% terhadap total emisi GRK secara global. Khusus untuk negara berkembang yang kaya akan tutupan hutan, sektor LULUCF merupakan sumber emisi GRK yang paling dominan. Di Indonesia lebih dari 60% total emisi GRK bersumber dari sektor LULUCF (Indonesia Second National Communication 2010), terutama karena kondisi unik Indonesia yang mempunyai lahan gambut tropis terbesar di dunia (11% dari area terestris). Lahan gambut, karena cadangan karbon di bawah tanah yang sangat besar, berpotensi sangat tinggi melepaskan GRK apabila dikeringkan dan dibakar.
Terdapat kekhawatiran beberapa pihak bahwa upaya mitigasi perubahan iklim akan melibatkan biaya yang signifikan dan berpengaruh buruk terhadap kondisi perekonomian. Namun, hasil kajian-kajian internasional (Stern 2007) maupun nasional (DNPI 2010) dan sub-nasional (ICRAF 2007) menunjukkan bahwa upaya menurunkan emisi GRK dari sektor LULUCF secara signifikan dapat dilakukan dengan efektif dalam hal biaya dan sekaligus memberikan manfaat dalam hal menghindari terjadinya risiko bencana besar (catastrophic) yang dapat menimbulkan kerugian signifikan terhadap kondisi perekonomian dalam jangka pendek maupun panjang, secara lokal maupun global. Selain itu upaya-upaya untuk mendukung mitigasi perubahan iklim berkesempatan untuk menangkap peluang besar pasar baru yang diciptakan oleh transisi dunia menuju perekonomian rendah karbon (low carbon economy).
7 1.1.2. Komitmen Indonesia
Dalam rangka mengatasi masalah perubahan iklim global, REDD+ dipandang sebagai suatu mekanisme kebijakan internasional yang berpotensi besar untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, yang telah diakui dalam Kesepakatan Kopenhagen (Copenhagen Accord) pada Pertemuan Para Pihak (Conference of Parties, COP) ke-15 dari UNFCCC. Di Indonesia, REDD+ telah diidentifikasi dan dicanangkan sebagai program nasional yang akan diimplementasikan pada skala sub-nasional. Selain REDD+, aktivitas pengurangan emisi dari LULUCF juga diprogramkan dalam Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) yang diatur oleh Perpres 61/2001, yang selanjutnya akan dijabarkan menjadi Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK). Berdasarkan RAN-GRK, penurunan emisi GRK dari sektor LULUCF ditargetkan sekitar 80% dari target total penurunan emisi atau sekitar 23% dari total emisi Indonesia pada tahun 2020. Sinergi dan koordinasi antara REDD+ dan RAN-GRK pada tataran nasional serta lokal perlu dibentuk sejak tahap perencanaan.
Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 26% dengan upaya sendiri dan 41% dengan tambahan dukungan internasional pada tahun 2020, yang dinyatakan oleh Presiden Indonesia pada pertemuan G20 di Pittsburgh, September 2009. Berbagai inisiatif telah diambil pada tingkal lokal dan nasional dalam kaitannya dengan pewujudan komitmen tersebut. Khususnya terkait dengan REDD+, kegiatan penyiapan dan pembuatan proyek percontohan telah banyak dilakukan sejak terselanggaranya COP 13, dimana Indonesia menjadi tuan rumah dari peluncuran Bali Road Map yang menandai tonggak awal penting dalam menuju kesepakatan internasional tentang REDD+. Diantara berbagai kegiatan pada tataran institusi terkait dengan REDD+, kemitraan bilateral pertama ditandatangani pada bulan Mei 2010 dalam bentuk Surat Niat (Letter of Intent, LoI) antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Norwegia. LoI ini menyangkut kemitraan dalam hal penurunan emisi GRK yang berasal dari kegiatan deforestasi dan degradasi hutan serta dari lahan gambut. Untuk memperkuat kerjasama tersebut, telah dibentuk Satuan Tugas Persiapan Pembentukan Kelembagaan REDD+ (Satgas REDD+) yang bertugas untuk melaksanakan kegiatan persiapan untuk implementasi Surat Niat tersebut melalui Keputusan Presiden no 19 Tahun 2010 dan Keputusan Presiden no 25 Tahun 2011.
1.1.3. Perlunya Sistem MRV
Salah satu dari kegiatan persiapan utama yang perlu dilakukan untuk implementasi REDD+ adalah mengembangkan suatu strategi untuk membentuk kerangka awal dari suatu kelembagaan independen untuk melakukan sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (Measurement, Reporting and Verification/ MRV) terhadap kinerja REDD+ dengan tetap mempertimbangkan kemungkinan untuk pengembangan MRV dalam cakupan yang lebih luas, termasuk semua
8 Forestry (LULUCF) seperti yang sudah termaktub di dalam Peraturan Presiden no 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional.
Secara global, sistem MRV merupakan persyaratan mendasar dan utama dari pelaksanaan program REDD+ yang berazaskan insentif yang dinilai berdasarkan kinerja (pay for performance). Sistem MRV yang bertanggung jawab untuk mengukur, memantau dan melaporkan tingkat emisi dari waktu ke waktu secara sahih, akurat, menyeluruh, transparan, dan terbuka untuk diverifikasi akan memungkinkan penilaian kinerja dari REDD+ secara kuantitatif.
Gambar I – 1. Sistem MRV dalam konteks kelembagaan Program Penurunan Emisi GRK secara keseluruhan REL/RL Lembaga Koordinasi Program Penurunan Emisi Berbasiskan Lahan Daerah Lembaga Pelaksana Program Penurunan Emisi LULUCF - Lembaga REDD+
Nasional dan sub-Nasional - Bappenas, Bappeda - Carbon Market Lembaga Pelaksana Kegiatan Penurunan EmisiLULUCF - Proponent Swasta, masyarakat, KPH - Pemda Instrumen Pendanaan
Lembaga MRV
Lembaga Verifier NasionalInternational
Registry
National Registry
Aliran data/informasi flow Aliran dana
Lembaga Verifier Internasional
9
Perbedaan antara emisi GRK yang terukur oleh sistem MR dengan Tingkat Referensi Emisi/Tingkat Referensi (Reference Emissions Level/Reference Level, REL/RL) yang disepakati oleh para pihak di tingkat sub-nasional maupun nasional adalah ‘additionality’ atau reduced emission yang merupakan kinerja dari kegiatan yang dilakukan. Apabila kinerja dari suatu kegiatan telah dibuktikan melalui sistem verifikasi yang disetujui bersama sejak awal oleh para pihak, maka kegiatan tersebut memenuhi persyaratan (eligible) untuk menerima insentif yang telah disepakati sebelumnya dalam REDD+. Kinerja yang diukur oleh sistem MRV ini merupakan input utama bagi instrumen pembiayaan dalam keseluruhan siklus kelembagaan REDD+ dan merupakan bahan utama untuk mendapatkan pengakuan (attribution) dan distribusi insentif.
Sistem MRV hendaknya merupakan satu payung tunggal dan menjadi landasan bagi estimasi emisi GRK hasil kinerja REDD+ di Indonesia. Sistem ini haruslah merupakan sistem yang: (i) salience
(sesuai antara yang diperlukan dan yang dilakukan/dihasilkan baik dalam hal akurasi hasil pada level yang berbeda-beda dan layak dalam hal proses-waktu-sumberdaya (proses-timing-resource feasibility), (ii) kredibel (mengacu pada metode yang baik dan benar, diterima secara ilmiah berdasarkan teknologi terbaik yang ada dengan biaya paling rendah untuk menjawab apa yang diperlukan, dengan jaminan Kualitas/Kontrol Kualitas (Quality Assurance/Quality Control ) dan (iii)
legitimate (dilakukan oleh lembaga yang memang diberi legitimasi oleh pihak yang berwenang memberi untuk melakukan kegiatan MRV serta mempertanggungjawabkan hasil dan proses verifikasi dari pihak-pihak berwenang). Gambar I-1 memberikan hubungan skematik dari lembaga terkait dan aliran dana serta data/informasi.
Dalam pertemuan Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) pada bulan Juni 2011 telah kembali dikonfirmasikan bahwa MRV untuk REDD dan MRV untuk NAMA harus saling konsisten satu sama lain. Konsensus internasional ini selayaknya diacu dalam merancang sistem MRV di Indonesia. Dalam hal ini, panduan oleh Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change, IPCC) untuk LULUCF yang ada saat ini sebagai bagian dari penghitungan GRK nasional, selayaknya tetap dipakai sebagai acuan pelaporan internasional. Dengan demikian, meskipun sebuah negara bisa melakukan penghitungan dengan tingkat ketelitian lebih dari standar minimum yang ditetapkan, keterkaitan antara metodologi penghitungan yang dipakai dengan standar yang sudah disepakati bersama harus bisa ditunjukkan. 1.1.4. Kondisi di Indonesia
Dalam membangun sistem MRV untuk kinerja REDD+ di Indonesia, status, situasi dan kondisi Indonesia secara nasional dan sub-nasional perlu dipahami secara mendalam agar sistem yang dibangun tepat guna dan tepat sasaran. Hal ini penting diingat agar sistem MRV yang dibangun akan tetap relevan dalam menjawab kebutuhan nasional dan internasional dalam mengurangi emisi GRK. Untuk mewujudkan hal itu, terdapat tiga aspek penting yang perlu dianalisis:
1. Situasi dan kondisi yang berhubungan dengan kinerja yang akan diukur, dipantau dan dilaporkan, yaitu hal-hal yang menyangkut aspek biofisik seperti topografi, iklim, jenis tanah
10
(termasuk di dalamnya lahan gambut yang merupakan lahan gambut tropis terluas di dunia), keragaman hayati, aspek tutupan lahan dan penggunaan lahan, pemicu perubahannya dan trennya, serta aspek institusi dan kebijakan penggunaan lahan (70% dari area terestrial Indonesia berada pada kawasan hutan) dan pemicu perubahannya (dominasi akuisisi lahan berskala besar, penggunaan lahan masyarakat dengan skala kecil yang berbasis pada pepohonan/agroforestry) pada tingkat nasional dan keragaman antar tingkat sub-nasional. 2. Status dan kondisi yang berhubungan dengan sistem yang akan mengukur, memantau dan
melaporkan, yaitu yang menyangkut aspek data dan informasi yang telah terkumpul, teknologi dan standarisasi yang ada, kapasitas teknis yang tersebar di berbagai lembaga, serta berbagai aspek kelembagaan maupun alur data dan alur kerja antar lembaga pemerintah
3. Status dan kondisi yang menempatkan aksi pengurangan emisi dari sektor LULUCF di Indonesia pada konteks lokal, nasional dan global. Pada konteks lokal, keterkaitan antara beberapa aktivitas pembangunan dan penurunan emisi dengan berbagai skema pendanaan harus dipahami. Pada skala nasional, keterkaitan antara daerah dan wilayah di Indonesia harus dimengerti dan disintesa dengan baik; demikian pula keterkaitan dengan sektor lain di luar LULUCF. Pada skala global, kerjasama bilateral, multilateral maupun voluntary carbon market
serta kerterkaitannya dengan kepentingan nasional harus senantiasa dicermati. Pada akhirnya sistem MRV harus bisa memfasilitasi agar kinerja nasional dan sub-nasional yang terukur bisa diterima pada konteks yang lebih luas dan diakui oleh masyarakat internasional.
1.2.
Tujuan Penyusunan Dokumen
Penyusunan dokumen Strategi dan Rencana Implementasi MRV REDD+ ini dilakukan dengan tujuan:
1. Mendukung pencapaian komitmen Presiden Indonesia dari sisi kontribusi sektor LULUCF untuk mencapai target penurunan emisi sebesar 26% pada tahun 2020 berdasarkan proyeksi emisi dengan skenario BAU (Business As Usual);
2. Menindaklanjuti Keppres No 19 Tahun 2010 dan Keppres No 25 Tahun 2011 yang mengamanatkan agar Satuan Tugas REDD+ menyusun Sistem MRV.
3. Memberikan panduan bagi pengembangan sistem MRV untuk kinerja REDD+ di Indonesia sehingga sistem tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan menjawab tantangan kondisi khusus di Indonesia serta memenuhi standar internasional yang disepakati bersama; 4. Membangun landasan kerja bagi implementasi sistem MRV yang efisien, efektif dan
berkelanjutan di Indonesia yang mengindahkan Perpres no 71 Tahun 2011, dengan menggarisbawahi bahwa sistem MRV untuk kinerja REDD+ tetap mempertimbangkan kemungkinan untuk pengembangan MRV dalam cakupan yang lebih luas dan mempunyai
11
tujuan yang lebih spesifik dalam mengkaitkan hasil penurunan emisi dengan pelaku pengurangan emisi.
5. Mendukung amanat Strategi Nasional (Stranas) REDD+, selain itu dalam peran yang sama, sistem MRV juga mendukung RAN-GRK dari sektor berbasis lahan, serta usaha penurunan emisi GRK dari sektor yang sama yang didukung oleh sumber pendanaan lain.
1.3.
Ruang Lingkup
Dokumen ini disusun berdasarkan hasil analisis dan sintesis dari apa yang sudah dicapai dan apa yang bisa dilakukan dengan mengacu pada panduan mengenai pelaporan emisi gas rumah kaca yang sudah ada dan/sedang dikomunikasikan untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak (standar IPCC maupun standar-standar lainnya). Sistem MRV ini wajib dibangun karena merupakan prasyarat untuk menunjukkan pencapaian komitmen yang diberikan oleh pemerintah Indonesia kepada masyarakat internasional, mendapatkan manfaat dari mekanisme kerjasama internasional REDD+ serta mekanisme pendanaan lain untuk menurunkan emisi GRK dari sektor berbasis lahan. Sistem ini mengkoordinasi kegiatan monitoring, pelaporan dan verifikasi, yang dilakukan di Indonesia dengan memperhatikan karakter-karakter khusus Indonesia dan sekaligus memenuhi prinsip-prinsip maupun standar internasional.
Cakupan dari dokumen ini meliputi rasionalisasi, sistem MRV, lembaga MRV dan peta jalan (roadmap) tentang bagaimana sistem pengukuran/pemantauan, pelaporan dan verifikasi dari cakupan sistem MRV bisa ditindak-lanjuti menuju operasionalisasi MRV.
Sistem MRV REDD+ mencakup : (i) emisi GRK dari sektor LULUCF, (ii) pembangunan (pertumbuhan ekonomi dan pemerataan), keanekaragaman hayati (kehati) dan jasa lingkungan lain, (iii) kondisi pemungkin: regulasi dan penegakan hukum, perubahan paradigma dan budaya kerja, pelibatan para pihak, dan (iv) aktivitas yang dilakukan untuk menurunkan emisi dan menghindari leakage, serta interaksi drivers.
Pada dokumen ini, baru cakupan (i) yang dibahas secara mendetail sedangkan untuk cakupan yang lain dibahas secara paralel dan secara detail akan dibahas pada dokumen terpisah. Untuk cakupan (i) sistem MRV disusun dan dirinci dalam 3 jalur dengan menggunakan pendekatan bertahap. Dokumen ini bersifat terbuka untuk umum, namun dikhususkan pada berbagai pihak yang akan terlibat langsung dalam kegiatan penurunan emisi. Pada intinya dokumen ini berguna bagi: (i) pengambil keputusan sebagai pedoman dalam memantau perkembangan sistem MRV, (ii) pihak teknis yang akan terlibat langsung dalam kegiatan penghitungan emisi GRK maupun jasa lingkungan lain, ataupun (iii) pihak pelaku kegiatan penurunan emisi.
12
Bab II SISTEM MRV
2.1.
Definisi
MRV REDD+ merupakan suatu kegiatan untuk mengukur, melaporkan dan memverifikasi pencapaian penurunan emisi GRK dari aktivitas REDD+ secara berkala, sahih, akurat, menyeluruh, konsisten dan transparan.
2.1.1 Pengukuran (Measurement/M)
Pengukuran dilakukan secara periodik terhadap emisi GRK yang berasal dari perubahan stok karbon dan/atau emisi GRK yang merupakan hasil kegiatan REDD+ yang mencakup (1) penurunan laju deforestasi; (2) penurunan laju degradasi hutan; (3) konservasi; dan (4) peningkatan cadangan karbon melalui pengelolaan hutan lestari dan pengayaan simpanan karbon. Selain itu, emisi yang berasal dari lahan gambut (terutama yang terkait dengan proses deforestasi dan degradasi hutan) merupakan salah satu keunikan sumber emisi yang juga perlu dilaporkan karena jumlahnya yang besar.
Dalam IPCC Good Practice Guidance, kegiatan pengukuran mengkombinasikan informasi data aktifitas/activity data (jenis tutupan lahan, luasannya dan luas perubahannya yang dimonitor menggunakan citra satelit) dan faktor emisi atau serapan (emission factor/stok karbon dan perubahan stok karbon yang diketahui melalui pengukuran terestris pada plot-plot inventarisasi hutan).
Mekanisme pengukuran akan dilakukan oleh pengembang kegiatan untuk periode waktu tertentu.
Setiap tahapan proses dikontrol dengan menggunakan protokol/standar Quality
Assurance/Quality Control (QA/QC) untk menjamin konsistensi dan akuntabilitas data dan metode. Dalam sistem MRV, secara mutlak diperlukan penghitungan tingkat ketidakpastian (uncertainty) yang berasal dari inventarisasi petak, dari pemetaan dan dari kombinasi, perluasan cakupan (upscaling) dan interpolasi yang dilakukan untuk mendapatkan estimasi emisi GRK pada skala nasional dan sub-nasional.
2.1.2 Pelaporan (Reporting/R)
Pelaporan mengenai emisi GRK hasil kinerja REDD+ akan mencakup:
(i) Pelaporan kepada Kementerian Lingkungan Hidup sebagai koordinator komunikasi nasional (NatCom) kepada UNFCCC.
(ii) Sebagai laporan yang harus diberikan kepada Lembaga REDD+ untuk diteruskan kepada Lembaga Pendanaan agar bisa dilakukan pendistribusian insentif sebagaimana disepakati dalam persetujuan antara pelaksana REDD+ (proponent) dengan Lembaga REDD+.
13
(iii) Sebagai laporan yang diberikan kepada pemerintah daerah dalam kaitannya dengan RAD-GRK.
(iv) Sebagai pelaporan entitas pelaksana REDD+ (proponent)
(v) Sebagai laporan kepada lembaga yang berfungsi melakukan pencatatan (registry) nasional
(vi) Sebagai pelaporan kepada publik mengenai deforestasi dengan tetap menerima masukan-masukan (review 3600/multisource feedback)
(vii) Sebagai bahan masukan kepada unit pengendali pembangunan mengenai status pengelolaan kawasan yang terkait dengan penggunaaan lahan, penutupan lahan dan perubahannnya (LULCC)
Pelaporan minimal harus mengikuti prinsip-prinsip UNFCCC 2009 (UNFCCC/SBSTA technical paper on costs of monitoring for REDD yang dipublikasikan pada bulan Juni 2009, (http://unfccc.int/resource/docs/2009/tp/01.pdf) yang meliputi:
1. Consistency: Pendekatan pengukuran yang sistematik dan konsisten diperlukan;
2. Transparency: Informasi tersedia dengan mudah, terbuka dan mudah diakses untuk keperluan kaji ulang (review and check and re-check) dan verifikasi. Untuk menjamin kredibilitas, Lembaga MRV harus terbuka terhadap tuntutan publik dan proses verifikasi dari lembaga independen.
3. Comparability: Metodologi yang bersifat umum dan panduan harus dapat dipakai untuk menghasilkan hasil-hasil yang dapat dibandingkan. Metodologi yang diadopsi harus bisa diulang dengan hasil yang mirip (replicable) (GOFC-GOLD Source book)
4. Completeness: Data, sumber data, metode sampling dan pengumpulan data, analisa, asumsi, bersifat menuju kelengkapan sesuai Tier.
5. Accuracy: Tingkat akurasi dan ketidakpastian (uncertainty) dari data harus diketahui dan dinyatakan. Ketelitian data merupakan unsur penting yang terkait dengan efektivitas penurunan emisi.
Aspek kualitas dari pengambilan, pengumpulan dan analisis data perlu dilakukan sedemikian rupa agar kesalahan dugaan (error estimates)-nya dapat dihitung dan ke depan bisa diperbaiki. Aspek QC (berkaitan dengan proses internal dalam penghitungan) dan QA (berkaitan dengan penilaian dari pihak luar mengenai kualitas dari informasi yang dilaporkan) dalam perhitungan GRK mengacu kepada IPCC 2006 Guidelines for National Greenhouse Inventories.
2.1.3 Verifikasi (Verification/V)
Verifikasi merupakan serangkaian proses kaji ulang (review) yang dilakukan secara independen (terutama untuk memeriksa akurasi dan kualitas informasi) terhadap laporan National Communication yang disampaikan yang akan dilakukan oleh Sekretariat UNFCCC. Sedangkan untuk program bilateral maupun multilateral melalui investasi dana publik untuk REDD+, proses dan
14
persyaratan untuk verifikasi belum ditetapkan. Apabila mengacu kepada CDM A/R (Clean Develoment Mechanism for Afforestation and Reforestation) dan skema VCS (Verified Carbon Standard), hanya verifikator (verifier) yang mempunyai sertifikasi internasional yang berwenang melakukan verifikasi.
Maksud dari proses verifikasi untuk National Communication adalah “to assess whether the information is well-documented, based on IPCC methodologies, and transparent and consistent with the UNFCCC guidelines” (Meridian Institute 2009). Sekretariat UNFCCC melalui panel-ahlinya akan melakukan verifikasi tehadap metode dan data yang dilaporkan di dalam Inventarisasi Nasional GRK. Dalam kaitannya dengan kerjasama reduksi emisi multilateral REDD+, metodologi yang spesifik tidak ditetapkan akan tetapi dokumentasi metodologi harus dilakukan dengan sangat baik.
2.1.4 Emisi GRK
Emisi GRK dihitung sebagai perkalian dua variabel, yaitu data aktifitas (activity data) dan faktor emisi (emission factor). Data aktifitas adalah cakupan terjadinya aktifitas manusia, sedangkan faktor emisi adalah koefisien yang mengkuantifikasikan emisi atau serapan GRK per satuan aktifitas.
Dalam REDD+, contoh data aktifitas adalah luasan deforestasi (perubahan kategori) dengan satuan hektar, sedangkan contoh faktor emisi adalah banyaknya emisi GRK per hektar akibat deforestasi. Penghitungan emisi GRK dilakukan dengan mengkalikan data aktifitas dan faktor emisi sebagai berikut:
a) Pemantauan activity data (perubahan tutupan lahan) menggunakan berbagai citra satelit; dan
b) Pemantauan besaran emisi atau serapan GRK yang terjadi pada 5 (lima) macam sumber karbon (carbon pool) yang akan menjadi kajian sesuai tingkat keakuratan (Tier) (lihat Tabel 1) dengan melakukan monitoring di lapangan (Forest Inventory): biomassa atas tanah (aboveground biomass), nekromas (dead wood), akar (belowground biomass), serasah (litter), dan karbon tanah (soil carbon).
Menurut prosesnya, faktor emisi dibedakan menjadi dua: faktor emisi dari komponen biomassa dan faktor emisi dari dekomposisi soil carbon pada lahan (mineral maupun gambut).
15
Gambar II – 1. Pendekatan IPCC untuk menghitung emisi GRK antropogenik dengan emisi dan serapan pada simpanan karbon pada berbagai tutupan lahan (UN-REDDProgramme 2011)
2.1.5 Penghidupan masyarakat dan jasa lingkungan: Co-benefit
Selain diperuntukkan bagi pelaporan kegiatan yang berkaitan dengan kerjasama internasional dalam penurunan emisi GRK, sistem MRV yang dibangun tidak sekedar memonitor perubahan tutupan lahan dan emisi GRK, namun juga akan memonitor penghidupan masyarakat yang terkena dampak usaha penurunan emisi GRK dan juga jasa lingkungan selain mitigasi perubahan iklim, khususnya keanekaragaman hayati (biodiversity).
Sesuai dengan yang termaktub di dalam Dokumen Stranas REDD+, kerangka pengaman (safeguards) merupakan sebuah kriteria dan indikator yang tercakup di dalam kebijakan nasional untuk memastikan bahwa pelaksanaan REDD+ tidak menyimpang dari tujuan awalnya, terutama adanya risiko-risiko yang terkait dengan lingkungan hidup. Selain itu sistem informasi pada tingkat lapangan yang bersifat non-biomass dan non-carbon ini juga akan dibangun untuk mengawal agar mekanisme REDD+ mampu memberikan penghargaan (reward) yang lebih besar untuk dapat diterima oleh masyarakat setempat yang kinerja reduksi emisinya berjalan baik.
2.1.6 Pemicu (drivers) emisi GRK dan aktivitas penurunan emisi GRK dan kondisi pemungkin (enabling conditions)
Keefektifan usaha untuk mengatasi pemicu (driver) dari deforestasi dan degradasi hutan akan sangat tergantung dari kehandalan dari informasi yang terkait dengan pemicu itu sendiri dan pemahaman terhadap isu yang relevan. Beberapa pemicu yang umum terkait dengan
16
pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan isu tata kelola, sedangkan faktor lain dapat bersifat unik dan khusus lokasi. Untuk itu, sistem informasi yang terkait dengan usaha untuk mengidentifikasi pemicu deforestasi dan degradasi hutan dan bagaimana cara untuk mengatasinya perlu dibangun. Berdasarkan hasil identifikasi melalui analisis tulang ikan (fishbone) yang dinyatakan dalam Draft Stranas REDD+ (2011), diketahui bahwa faktor penyebab deforestasi dan degradasi hutan yaitu: (1) perencanaan tata ruang tidak efektif; (2) masalah tenurial, (3) manajemen hutan yang tidak efektif, dan (4) tata kelola (governance) dan (5) dasar hukum dan penegakannya yang lemah. Adanya sistem MRV yang dapat memastikan data dan informasi tentang REDD+ dapat secara terbuka di akses publik akan sangat diperlukan. Selain berfungsi sebagai alat transaksi untuk mekanisme mitigasi perubahan iklim, sistem MRV juga dapat digunakan sebagai alat bantu intervensi kebijakan sehingga kondisi aktual yang merupakan pra-kondisi bagi kondisi pemungkin (enabling conditions) untuk implementasi REDD+ dan pembangunan berkelanjutan dapat diperbaiki secara bertahap.
2.2.
Visi, Misi dan Tujuan
Visi
dari sistem MRV Indonesia adalah menjadi sistem nasional yang konsisten, transparan, lengkap (complete), akurat, partisipatif dan adaptif sesuai dengan kondisi sosial, bio-eco-regionIndonesia, dalam mendukung pengelolaan sumberdaya alam hutan dan lahan gambut yang berkelanjutan.
Misi
dari sistem MRV Indonesia adalah melakukan pengukuran (measuring) dan pelaporan (reporting) serta memfasilitasi proses verifikasi yang mampu mendukung implementasi dari strategi nasional REDD+, RAN-GRK maupun skema penurunan emisi GRK lain menuju pencapaian standar internasional dengan mengakomodasi keunikan pola emisi-serapan karbon sesuai keragaman ekosistem dan pola manajemen berbasis lahan yang ada di Indonesia.Tujuan
sistem MRV Nasional adalah untuk mendukung strategi nasional REDD+, RAN-GRK maupun sesama penurunan emisi lain yang diselaraskan dengan tantangan heterogenitas-kompleksitas perilaku emisi pada tingkat nasional dan sub-nasional serta tuntutan untuk memenuhi persyaratan IPCC dan beyond IPCC (co-benefits dan safeguards), dengan pentahapan tujuan sebagai berikut:1. Jangka pendek (2011-2013): (1) pada skala nasional membangun kelembagaan dan sistem MRV dengan menggunakan pendekatan dua proksi (proxy), yaitu proxy deteksi dini deforestasi dan proxy deforestasi dan degradasi sebagai instrumen untuk mendukung perbaikan kondisi tata kelola hutan; (2) pada skala sub-nasional adalah membangun
17
monitoring deforestasi-degradasi dan emisi dari lahan gambut menuju persyaratan sekurang-kurangnya Tier 2 IPCC.
2. Jangka menengah (2014 - 2020): pada skala nasional menuju tercapainya tingkat keakuratan Tier 3 IPCC untuk mendukung target-target penurunan emisi nasional sebesar 26% dan atau 41%.
3. Pada jangka panjang (2021-2030): mewujudkan kemampuan mandiri dalam MRV pada tingkat nasional serta sistem informasi yang diperlukan untuk mendukung pengelolaan sumberdaya lahan dan hutan Indonesia berkelanjutan dengan mengubah perannya dari
net-emitter sector menjadi net-sink sector pada tahun 2030.
Untuk kebutuhan akan pengukuran mekanisme safeguards, mengingat hanya berlaku pada daerah/areal yang melakukan aksi penurunan emisi, skala pengukuran bukan ditargetkan untuk
wall-to-wall secara nasional. Panduan dan bahasan lebih lanjut/detail untuk mekanisme safeguards akan dideskripsikan pada dokumen terpisah.
Dalam kaitan pentahapan kesiapan menuju fase operasional REDD+, kinerja pengembangan MRV di Indonesia akan menyesuaikan pendekatan bertahap (Phased Approach) (Draft Stranas REDD+ 2011). Implementasi ini pada awalnya akan mengacu pada kegiatan berdasarkan hasil ( result-based activity) sebagai dasar dari pemberian insentif (Fase I), diikuti oleh masa transisi pada saat uji coba pemakaian kinerja sebagai basis pemberian insentif (Fase II), dan pada akhirnya menjadi program berbasis kinerja penuh (Fase III), dimana pada saat ini sebuah sistem Pengukuran dan Pemantauan (Measuring and Monitoring), Pelaporan (Reporting) dan Verifikasi (Verification) (MRV) sudah terbangun dan berjalan dengan baik.
2.3.
Cakupan dan arsitektur sistem MRV Penurunan Emisi GRK Indonesia
Sistem MRV yang akan dibangun merupakan referensi bagi pengukuran kinerja seluruh kegiatan REDD+ dengan tetap mempertimbangkan kemungkinan untuk pengembangan MRV dalam cakupan yang lebih luas, termasuk semua Nationally Appropriate Mitigation Actions (NAMAs)
pada sektor Agriculture, Forestry and Land Use (AFOLU) mengikuti (Appendix II of Decision 1/CP.16).
Di dalam kerangka REDD+ (FCCC/CP/2010/7/Add.1/C/Par.70), kegiatan yang termasuk didalamnya adalah : (i) Reduksi emisi dari deforestasi; (ii) Reduksi emisi dari degradasi hutan; (iii) Konservasi stok karbon; (iv) Pengelolaan hutan lestari (sustainable management of forests), dan (v) Peningkatan stok karbon. Khususnya untuk Indonesia, karena kondisi spesifiknya dalam luasan lahan gambut tropis dan emisi dari lahan gambut di masa lalu, penurunan emisi dari pengelolaan lahan gambut merupakan bagian kegiatan yang juga absah (eligible) dalam mekanisme kompensasi penurunan emisi REDD+.
18
Sistem MRV mencakup 4 sub-sistem yang disusun berdasarkan tahapan untuk mencapai penurunan emisi GRK (Tabel II – 1). Tujuan bisa dicapai apabila outcome yang diperoleh dari
output yang dihasilkan oleh aktivitas bisa didorong sampai menghasilkan dampak terukur (tangible impact). Indikator yang tepat untuk mengukur keberhasilan masing-masing tahapan diidentifikasi dan dituangkan ke dalam empat sub-sistem. Keempat sub-sistem tersebut adalah:
1. Emisi GRK
2. Jasa lingkungan (jasling) dan pembangunan 3. Kondisi pemungkin (Enabling conditions)
4. Aktivitas penurunan emisi, penghindaran leakage dan interaksi drivers
Lebih lanjut, sub-sistem tersebut dipecah menjadi beberapa komponen; kaitan antar sub-sistem dan komponen dalam sistem MRV dituangkan dalam Gambar II – 2.
Dalam Sub-sistem ke-1, informasi yang harus diperoleh adalah dinamika besarnya emisi GRK untuk setiap penggunaan lahan dan perubahan penggunan lahan (faktor emisi dan serapan), serta luas areal masing-masing penggunaan lahan maupun perubahan penggunaan lahan (data aktivitas). Sub-sistem ke-2 mengukur mekanisme safeguards dalam hal penghidupan masyarakat dan jasa lingkungan lain untuk menjamin bahwa usaha penurunan emisi melalui REDD+ tidak menghasilkan dampak negatif terhadap penghidupan masyarakat maupun jasa lingkungan lain. Sebaliknya, dampak positif (co-benefit) juga dapat diukur melalui Sub-sistem ke-2.
Untuk aktivitas dan mekanisme REDD+ bisa berjalan, beberapa kondisi pemungkin telah diidentifikasi di dalam Draft Stranas REDD+ (2011) sebagai berikut: (i) adanya regulasi yang mendukung serta penegakan hukum, (ii) perubahan paradigma dan budaya kerja, dan (iii) pelibatan para pihak. Sub-sistem ke-3 dapat dipakai untuk mengukur kelengkapan kondisi pemungkin, dan melaporkan sumbatan-sumbatan yang ada sehingga dapat dicari solusi pemecahannya.
Tabel II – 1. Tahapan dalam pencapai penurunan emisi GRK dari sektor berbasis lahan
Kriteria pencapaian Indikator pencapaian Sub-sistem MRV
Tuj
u
an
1. Emisi GRK turun dan biomasa/cadangan karbon meningkat
- Tingkat dan laju deforestasi dan degradasi turun, tingkat dan laju emisi turun dibandingkan REL - Tingkat dan laju penyimpanan (sequestration)
meningkat dibandingkan RL
1.1, 1.2, 1.3 2. Kehati dan jasling
terpelihara
- Jumlah individu spesies utama meningkat, kualitas dan kuantitas habitat meningkat, fragmentasi berkurang, area konservasi terhubung - Fungsi DAS terpelihara, indicator penyangga
meningkat
2.1
3. Ekonomi tetap tumbuh dan
- Laju pertumbuhan ekonomi baik dalam GDP maupun HDI meningkat
19 pemerataan
meningkat
- Lima capital dalam kerangka Sustainable
Livelihoods (physical, financial, human, social and natural) meningkat
Out
co
me
1. Kerangka hukum, peraturan dan penegakan hukum yang sesuai~ Indikator sedang dalam pengembangan ~ 3.1 2. Perubahan paradigm
dan budaya kerja
~ Indikator sedang dalam pengembangan ~ 3.2 3. Pelibatan para pihak ~ Indikator sedang dalam pengembangan ~ 3.3
Act
iv
it
as
&
Out
p
ut
1. Kegiatan penurunan emisi GRK terlaksana sesuai rencana yang disepakati~ Indikator sedang dalam pengembangan ~ dalam menilai output:
- Pengelolaan landsekap yang berkelanjutan - Sistem ekonomi pemanfaatan SDA secara lestari - Konservasi dan rehabilitasi
4.1 2. Kegiatan pencegahan leakage dan displacement activities berhasil 4.2 3. Interaksi drivers akibat pelaksanaan kegiatan tidak mengancam tercapainya tujuan kegiatan 4.3
Atribusi aktor, aksi, driver terhadap hasil penurunan emisi GRK hanya bisa dilakukan apabila usaha-usaha penurunan emisi GRK dipantau, dilaporkan dan diverifikasi. Oleh karena itu sistem MRV mencakup kegiatan penurunan emisi sebagai Sub-sistem ke-4. Tabel II – 2 merinci pembagian sub-sistem lebih lanjut menjadi komponen, beserta elemen masukan yang diperlukan, proses yang dilakukan dan keluaran yang diharapkan, beserta indikasi tingkat akurasi yang relevan.
Selain diperuntukkan bagi pelaporan kegiatan yang berkaitan dengan kerjasama internasional dalam penurunan emisi GRK, informasi mengenai dinamika tutupan lahan dan emisi GRK ini juga menuntun pada pengertian akan proses yang melatar belakangi (underlying processes) sosial-ekonomi-politik yang menjadi drivers dari deforestasi dan degradasi hutan dan lahan gambut. Hal ini berguna sebagai alat diagnosis yang efektif bagi pengembangan kebijakan di berbagai tingkat dan mengawal agar program penurunan emisi GRK secara nasional akan berhasil. Hasil diagnosis ini juga berperan bagi pembangunan (perencanaan-implementasi-evaluasi-perbaikan kebijakan) berbasis lahan secara berkelanjutan. Dengan demikian proses ini bukan merupakan proses monitoring yang bersifat pasif mengenai dinamika tutupan lahan dan bukan hanya berguna untuk hal-hal yang berkaitan dengan usaha penurunan emisi GRK saja.
20
Gambar II – 2. Sub-sistem dan kaitannya dalam sistem MRV serta tahapan dalam mencapai obyektif program penurunan emisi GRK
Perubahan paradigm dan budaya kerja
Pelibatan parapihak
Emisi
GRK
Penggunaan Lahan dan Perubahan Penggunaan Lahan (LULCC)
Kehati
dan
Jasling
Pertumbuhan
dan pemerataan
pembangunan
Kegiatan penurunan emisi dan pencegahan leakageInteraksi
drivers
Kerangka hukum, peraturan dan penegakan hukum
21
Tabel II – 2. Masukan dan keluaran dari Sub-sistem dalam sistem MRV
Sub-sistem Komponen Extent dan frekuensi
Elemen masukan Proses Keluaran Tingkat
akurasi 1.Emisi GRK 1.1. Pemantauan deforestasi Seluruh Indonesia, bulanan
Citra satelit resolusi rendah, groundtruthing, masukan public
Klasifikasi otomatis, iterasi untuk editing
Peta tutupan hutan dalam GIS format Rendah 1.2. Penghitungan dan pemantauan net emisi GRK wall-to-wall seluruh Indonesia Seluruh Indonesia, dua-tahunan
Citra satelit resolusi sedang, petak sampel, kelas karbon untuk masing-masing tutupan dan penggunaan lahan spesifik terhadap ecoregion Indonesia, termasuk gambut
Klasifikasi otomatis,
groundtruthing, inventarisasi plot, pemodelan alometri, upscaling berdasarkan stock-difference, estimasi uncertainty
Peta tutupan dan penggunaan lahan serta perubahannya, database kelas karbon, peta kerapatan karbon, estimasi emisi dan tingkat akurasinya
Sedang
1.3. Penghitungan dan
pemantauan net emisi pada area implementasi
Area Implementasi , tahunan
Citra satelit resolusi tinggi, petak permanen
Klasifikasi otomatis,
groundtruthing secara sistematis, pengukuran berkala petak permanen , serta aktivitas yang mempengaruhi gain and loss
Peta tutupan dan penggunaan lahan, serta perubahannya, peta kerapatan karbon, stock difference dan gain-loss untuk mengestimasi emisi serta tingkat akurasi
Tinggi 2.Jasling dan Pembangunan 2.1. Kehati Area implementasi, dua-tahunan
Data historis mengenai tingkat populasi flagship species, peta tutupan lahan dan perubahan tutupan lahan
Survey biodiversitas, analisa spatial untuk menaksir luas dan kualitas habitat
Perubahan populasi species flagships, perubahan luasan habitat dan kualitas, fragmentasi dan konektivitas PA
Tinggi
3.2. Jasling lain Area
implementasi, dua-tahunan
Identifikasi Jasling yang relevan pada area implementasi dan factor-faktor yang mempengaruhi.
Metode Penaksiran Cepat Jasa Lingkungan seperti RHA (Rapid Hydrological Appraisal) dalam hal air
Perubahan indicator yang relevan dalam merfleksikan Jasling. Contoh: flow persistence dari aliran sungai yang menunjukkan fungsi penyangga DAS Medium 3.3. Ekonomi dan penghidupan masyarakat Area implementasi, dua tahunan
Data Indikator ekonomi , HDI di masa lalu serta baseline data tentang 5 kapital (Fisik, Finansial, Human, Social, Natural)
Pengumpulan data sekunder pada level kabupaten dan propinsi serta pengumpulan data primer Rumah Tangga dan Desa
Perubahan Indikator kualitatif dan kuantitatif dari waktu ke waktu
Medium - Tinggi 3.Enabling conditions SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP 4.Aktivitas dan drivers SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP
22
Data dan informasi yang dihasilkan oleh sistem MRV terutama dari Sub-sistem ke-1 sangat diperlukan oleh implementer maupun Lembaga REDD+ dan pemerintah, dalam kaitannya dengan RAN- dan RAD-GRK, ataupun lembaga lain yang berfungsi sebagai sumber pendanaan dalam menetapkan Reference Emission Level yang disetujui bersama. Reference Emission Level adalah proyeksi emisi di masa yang akan datang apabila tidak ada intervensi apapun (skenario Business as Usual/BAU). Skenario BAU inilah yang perlu dinegosiasikan oleh para pihak dalam batasan regulasi yang diberikan oleh pemerintah nantinya.
Berbagai opsi penetapan skenario BAU adalah: (i) proyeksi linear dari LUCC di masa lalu, (ii) pemodelan drivers LUCC di masa lalu, (iii) forward looking scenario (berdasarkan rencana penggunaan lahan yang ada sekarang). Masing-masing opsi dalam pelaksanaannya akan memerlukan data dan informasi dari sistem MRV Sub-sistem ke-1 dan data lain yang mendukung, untuk kemudian di-submit kepada sistem MRV untuk disertakan dalam siklus penghitungan berikutnya. Data dari Sub-sistem ke-2 akan diperlukan untuk menentukan Reference Level bagi penghidupan masyarakat dan jasa lingkungan lain yang disepakati sebagai bagian dari mekanisme safeguard. Perlu digarisbawahi bahwa penetapan REL maupun RL bukan merupakan bagian maupun tanggung-jawab dari sistem MRV, melainkan, memperoleh input dari sistem MRV dan memberikan input kepada sistem MRV.
Khususnya untuk Sub-sistem ke-1, Emisi GRK, diidentifikasi 3 komponen yang ditujukan untuk meliput 3 track yang berbeda, yaitu:
1.1. Monitoring Proxy Deforestasi secara nasional akan dilakukan dengan frekuensi tinggi (mendekati real-time) terutama untuk mengidentifikasi area dengan tingkat deforestasi tinggi yang tidak direncanakan dan hendaknya menjadi fokus REDD+;
1.2. Monitoring Level National (wall-to-wall) akan melakukan pemantauan dan pelaporan dinamika deforestasi, degradasi dan perubahan emisi, yang dilakukan secara cepat, otomatis dan setiap 2 tahun, dengan didukung juga oleh data inventarisasi hutan, informasi berbagai peta tematik dan informasi dari publik sebagai cerminan good governance;
1.3. Monitoring Sub-nasional/Level Area Implementasi dengan frekuensi dan resolusi tinggi; dengan tingkat sampel inventarisasi hutan dan tingkat intensitas pengukuran ulang lebih tinggi untuk mendapatkan informasi mengenai perubahan stok karbon dengan tingkat
akurasi lebih tinggi pada tingkat sub-nasional, yaitu pada area yang
mengimplementasikan skema penurunan emisi GRK;
Karena pada akhirnya kinerja program REDD+ maupun RAN- dan RAD-GRK akan dinilai pada tingkat nasional maka sistem MRV ini harus mencakup keseluruhan areal. Hasil reduksi emisi dari kegiatan implementasi REDD+ atau demonstration activity yang bersifat sub-nasional akan di-aglomerasi secara nasional bersama-sama dengan hasil reduksi emisi dari skema pendanaan lain untuk mengukur tingkat keberhasilan program nasional penurunan GRK secara menyeluruh, yang
23
dipilahkan berdasarkan sumber pendanaan untuk atribusinya. Skema hubungan serta aliran dana dan data/informasi antar lembaga-lembaga terkait telah disajikan melalui Gambar I – 1. Gambar II – 3 menunjukkan hubungan antar komponen di dalam sub-sistem 1, Emisi GRK, serta kaitannya dengan Sub-sistem 2 dan 4.
Tabel II – 3 menyampaikan relevansi masing-masing komponen dalam sub-sistem terhadap 4 sumber pendanaan yang berbeda. Dalam kaitannya dengan RAN GRK, hampir semua komponen sangat relevan, kecuali emisi GRK pada area implementasi yang menuntut tingkat ketelitian tinggi. Dengan makin telitinya metodologi pengukuran emisi yang dipersyaratkan oleh sumber pendanaan Private Investment dan Trade Financing, makin tinggi relevansi komponen 1.3, sedangkan komponen lain mempunyai relevansi rendah. REDD+ dan sumber pendanaan multilateral lain masih mengutamakan safeguards serta tata kelola yang baik, meskipun seharusnya lebih rendah relevansinya dibandingkan kepentingan nasional yang didanai oleh APBN/D.
Gambar II – 3. Komponen dalam Sub-sistem 1, Emisi GRK, dan kaitannya dengan Subsistem 2 dan 4
Sub-sistem 1.1:
Pemantauan Deforestasi (MODEF)
Sub-sistem 1.2: Emisi - Lahan Kering (NALEM) - Lahan gambut (NAPEM)
Sub-sistem 2 dan 4: Jasling, Drivers DD
Sub-sistem 1.3: Emisi - Lahan kering (ILEM) - Lahan gambut (IPEM)
Level Nasional
Alur informasi utama
Alur informasi untuk cross-cheking/nesting
24
Tabel II – 3. Sumber Pendanaan dalam kaitannya dengan Sub-sistem MRV Sumber Pendanaan Emisi GRK Jasling, Pembangunan Enabling Condition Aktifitas dan Driver 1.1 1.2 1.3 2.1 2.2 2.3 3.1 3.2 3.3 4.1 4.2 4.3 Public Funding: - Unilateral √√√ √√√ √ √√√ √√√ √√√ √√√ √√√ √√√ √√√ √√√ √√√ - Multilateral √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ Private Investment √√√ √ √ √ √√ √√ √√ Trade Financing √√√ √ √
25
Bab III LEMBAGA MRV
3.1
Sistem Kelembagaan MRV
Salah satu kunci utama dalam kerjasama pengurangan tingkat emisi GRK adalah tersedianya lembaga yang memiliki kredibilitas tinggi dimata dunia internasional yang mampu mengkoordinasikan kegiatan yang berkenaan dengan MRV. Kelembagaan MRV perlu dibangun secara simultan karena modal kompetensi MRV saat ini sesungguhnya sudah tersedia namun masih tersebar pada berbagai instansi pemerintahan, lembaga penelitian, universitas dan Ornop dengan hambatan utama bagaimana meningkatkan kualitas, kapasitas, transparansi, akses publik terhadap data/informasi dan mengintegrasikan modal kompetensi MRV tersebut untuk memenuhi harapan yang ada. Oleh karena itu diperlukan payung hukum kelembagaan MRV yang dapat menjembatani berbagai modal kompetensi yang sudah berjalan untuk dapat diintegrasikan ke dalam suatu sistem. Payung hukum tersebut juga diupayakan untuk dapat mendorong proses keterbukaan informasi, transparansi dan peningkatan akses publik terhadap data dan informasi yang selama ini menjadi hambatan komunikasi dan koordinasi antar sektor.
Sistem kelembagaan MRV perlu dirancang dengan mengutamakan azas-azas: (1) tata kelola yang baik (good governance), (2) professional, dengan memastikan bahwa kegiatan MRV dilakukan oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya, (3) efisiensi biaya untuk mencapai tujuan (cost effectiveness), dan (4) akuntabilitas dari pelaksanaan seluruh urusan terkait MRV di Indonesia. Secara khusus, di samping keempat azas umum di atas, seluruh komponen dalam sistem kelembagaan MRV Indonesia akan dikembangkan dengan memastikan terpenuhinya prinsip-prinsip berikut:
1. Menghormati kedaulatan negara, hak konstitusional kelembagaan dan hak otonomi daerah yang dijamin dalam hukum perundang-undangan yang berlaku;
2. Menentukan koridor kewenangan, aksi dan komunikasi secara jelas bagi setiap lembaga yang dibangun untuk dapat menjalankan fungsinya secara efektif tanpa mengambil alih atau mengecilkan fungsi lembaga lain;
3. Melibatkan semua pihak yang relevan dalam pengambilan keputusan terkait rancang-bangun kelembagaan.
Dalam lingkup operasional, luas cakupan dan keunikan Indonesia memiliki konsekuensi bahwa sistem MRV nasional akan memobilisasi sumberdaya yang besar terkait aliran data dan informasi, finansial, personil dan lembaga di berbagai tingkatan pemerintahan. Beberapa protokol harus dibangun dalam sistem kelembagaan MRV untuk dapat mengakomodasi kebutuhan tersebut yang minimal mencakup:
26
1. Protokol dalam melakukan proses pengumpulan data dan informasi kaitannya dengan emisi dan safeguards.
2. Protokol dalam mengintegrasikan data dan informasi yang kemudian dianalisis untuk dilaporkan.
3. Protokol dalam mengevaluasi kualitas data dan informasi yang dibutuhkan.
4. Protokol dalam menata kelola hubungan antar institusi pusat (K/L) yang memiliki tupoksi yang cukup dalam mendukung sistem MRV.
5. Protokol dalam menata kelola hubungan antar level pelaksanaan MRV (nasional, sub-nasional/area implementasi).
6. Protokol dalam menata kelola partisipasi publik yang bersifat multistakeholder dalam mendukung sistem MRV.
7. Protokol dalam membakukan hasil penelitian dan pengembangan yang relevan dengan MRV ke level implementasi.
8. Protokol dalam mendukung tata laksana kegiatan verifikasi dari pihak ketiga.
3.2
Kerangka Lembaga MRV
Dokumen Strategi Nasional REDD+ menyatakan bahwa monitoring, pelaporan dan verifikasi (MRV) atas pengurangan emisi GRK merupakan proses penting dalam kegiatan REDD+. Melalui proses ini efektivitas upaya dan efisiensi biaya pengurangan emisi akan terukur secara kuantitatif, dan pembagian manfaat akan terlaksana secara adil. Oleh karena itu sistem MRV harus dilaksanakan oleh sebuah lembaga yang independen, namun berkoordinasi dengan Lembaga REDD+ sebagai
governing council dari keseluruhan inisiatif REDD+ di Indonesia. Independen dapat diartikan sebagai mekanisme (proses) yang independen terutama yang berkaitan dengan pengambilan keputusan. Independen bukan diartikan dari bentuk lembaga sehingga Lembaga MRV yang independen dapat merupakan lembaga baru ataupun lembaga yang diikatkan dalam lembaga yang sudah ada. Hasil dari proses MRV adalah dasar pembayaran atas output/kinerja yang akan dilakukan oleh lembaga Dana Kemitraan REDD+. Karakteristik Lembaga MRV yang akan dibentuk dapat diilustrasikan pada Gambar III – 1.
3.2.1. Tujuan Lembaga MRV
Lembaga MRV Indonesia berfungsi sebagai clearing house yang mengumpulkan data dan informasi emisi GRK dari deforestasi dan degradasi hutan, mengelompokkan, dan mendistribusikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu Lembaga MRV akan memiliki sistem pencatatan pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan yang teratur, yang telah diverifikasi dan divalidasi oleh lembaga independen. Sistem pencatatan ini bersifat transparan dan mudah diakses oleh publik. Matriks dari tugas lembaga MRV dapat dilihat di Tabel III – 1.
27
Tabel III – 1. Matriks Lembaga MRV
Pengukuran (Measurement/M) Pelaporan (Reporting/R) Verifikasi (Verification/V)
Elemen • Penurunan laju deforestasi; • Penurunan laju degradasi hutan; • Peningkatan konservasi;
• Peningkatan cadangan karbon melalui pengelolaan hutan lestari dan pengayaan simpanan karbon. Fungsi • Penyempurnaan data dan informasi dengan
memanfaatkan sumber informasi lain yang tersedia. • Mengelola data spasial dan non-spasial yang dapat
diakses oleh public
• Memberdayakan sistem perhitungan karbon Indonesia.
• Merumuskan standar nasional yang sesuai dengan protokol internasional dan cara terbaik (best practise)
• Melaksanakan mekanisme pelaporan sesuai dengan ketentuan nasional dan internasional yang relevan
• Memberikan informasi kepada lembaga pengelola dana terkait hasil MRV untuk proses pembayarannya.
• Mengembangkan mekanisme koordinasi, harmonisasi, dan validasi perhitungan • Menentukan tingkat rujukan dengan
berbagai pendekatan.
Karakteristik • Consistency, Transparency, Comparability, Completeness, Accuracy
• Berbasis ilmiah, credible method
• Memiliki power of access terhadap data, dan membangun data apabila diperlukan
• Memiliki untuk penjaminan kualitas data (quality assurance) seperti Badan POM
• Memiliki kapabilitas teknis dalam manajemen, analisis data dan pelaporan
• Reference (rujukan)
• Hasilnya final (tidak dapat diganggu gugat)
• Tidak ada conflict of interest (harus independen terhadap proposal develover) • Independen
Output • Sistem Monitoring Deforestasi,
• Sistem Monitoring Emisi Level Nasional (wall to wall), • Sistem Monitoring Emisi Sub-Nasional/Level Area
Implementasi,
• Sistem Informasi Safeguard • Informasi tentang status emisi GRK • Reference Emission Level (REL/RL)
• Verified Emission Reduction (VER) • Standard Operating Procedure (SOP) • Laporan hasil verifikasi
28
Gambar III – 1. Karakteristik Lembaga MRV
3.2.2. Mandat Lembaga MRV
Secara nasional Lembaga MRV memiliki beberapa mandat, yaitu untuk:
1. Menyusun kebijakan, standar dan berbagai mekanisme terkait kegiatan MRV untuk disahkan oleh Lembaga REDD+. Termasuk dalam hal ini mekanisme koordinasi, harmonisasi, dan validasi perhitungan karbon dengan teknologi yang tersedia pada berbagai tingkatan;
2. Mengkoordinasikan kegiatan pengukuran, pelaporan, dan verifikasi pengurangan emisi GRK.
3. Menjalankan fungsi registry dan clearing house dan mengelola serta mengolah data spasial dan non-spasial terkait sehingga dapat diakses oleh para pemangku kepentingan;
4. Mengembangkan mekanisme pelaporan kepada lembaga-lembaga nasional dan
internasional yang relevan serta para pelaku pasar;
5. Mengintegrasikan pengukuran kerangka pengaman untuk menilai kinerja pengamanan sosial dan lingkungan;
6. Memberikan informasi hasil verifikasi penurunan emisi dari suatu tapak atau
kegiatan/proyek/program REDD+ kepada lembaga pengelola dana terkait untuk proses pembayaran kinerja;
7. Membangun kapasitas pengukuran dan pelaporan (M+R) di jajaran pelaksana
program/proyek/kegiatan REDD+ (untuk kebutuhan kendali mutu internal [internal quality control] upaya penurunan emisi);
29 3.2.3. Tata Kelola Lembaga MRV
Lembaga MRV di tingkat nasional berkoordinasi dengan Lembaga REDD+ di tingkat sub-nasional untuk membangun sistem MRV di tingkat regional yang merupakan pencerminan dari lembaga MRV nasional. Langkah ini diperlukan untuk mempersiapkan prosedur agregasi data dan informasi dalam sistem MRV dengan pendekatan berjenjang. Lembaga MRV sub-nasional dapat dibentuk di tingkat implementasi REDD+ untuk melakukan pengukuran yang lebih detail dan kemudian hasilnya dilaporkan ke Lembaga MRV Nasional (Gambar III – 2). Selanjutnya Lembaga MRV di kedua tingkat tersebut akan membangun Interim RL (Reference Level) untuk tingkat regional, dengan memanfaatkan berbagai inisiatif baik yang dilaksanakan oleh masyarakat, swasta maupun pemerintah sendiri. Rujukan sub-nasional dapat dihitung dengan pendekatan yang sama namun disesuaikan dengan dinamika LULUCF dan kondisi ekosistem wilayah tersebut.
Gambar III – 2. Tata Kelola Lembaga MRV
Pembagian tugas dan wewenang Lembaga MRV dapat dinyatakan sebagai berikut:
1. Tingkat Nasional
Lembaga MRV Nasional akan bertugas untuk:
a. Merancang, melaksanakan dan mengevaluasi protokol dalam menata kelola hubungan antar institusi pusat (K/L) yang memiliki tupoksi yang cukup dalam mendukung sistem MRV
30
b. Merancang, melaksanakan dan mengevaluasi protokol dalam menata kelola hubungan antar level pelaksanaan MRV (nasional dan sub-nasional/area implementasi)
c. Merancang, melaksanakan dan mengevaluasi protokol dalam melakukan proses pengumpulan data dan informasi kaitannya dengan emisi dan non-emisi. Secara khusus Lembaga MRV Nasional akan mengkoordinasikan mekanisme sub-sistem MODEF, NALEM, NAPEM dan Jasling & Driver dan mengkompilasikan informasi yang didapat dari mekanisme sub-sistem ILEM/IPEM
d. Merancang, melaksanakan dan mengevaluasi protokol dalam mengintegrasikan data dan informasi yang kemudian dianalisis untuk dilaporkan
e. Merancang, melaksanakan dan mengevaluasi protokol dalam mengevaluasi kualitas data dan informasi yang dibutuhkan
f. Melaksanakan protokol dalam menata kelola partisipasi publik yang bersifat multistakeholder dalam mendukung sistem MRV
g. Merancang, melaksanakan dan mengevaluasi protokol dalam membakukan hasil penelitian dan pengembangan yang relevan dengan MRV ke level implementasi h. Melaksanakan protokol dalam mendukung tata laksana kegiatan verifikasi dari pihak
ketiga
2. Tingkat Sub Nasional/Area Implementasi
Lembaga MRV Sub Nasional/Area Implementasi akan bertugas untuk:
a. Melaksanakan protokol dalam menata kelola hubungan antar level pelaksanaan MRV (nasional dan sub nasional/area implementasi)
b. Merancang, melaksanakan dan mengevaluasi protokol dalam melakukan proses pengumpulan data dan informasi kaitannya dengan emisi dan non-emisi di wilayahnya. Secara khusus Lembaga MRV Sub Nasional/Area Implementasi akan melaksanakan mekanisme sub-sistem ILEM/IPEM dan Jasling & driver di wilayahnya dengan merujuk pada hasil mekanisme sub-sistem MODEF dan NALEM/NAPEM
c. Merancang, melaksanakan dan mengevaluasi protokol dalam mengintegrasikan data dan informasi di wilayahnya yang kemudian dianalisis untuk dilaporkan ke lembaga MRV nasional
d. Melaksanakan protokol dalam menata kelola partisipasi publik yang bersifat multistakeholder dalam mendukung sistem MRV di wilayahnya
31
e. Merancang, melaksanakan dan mengevaluasi protokol dalam mengevaluasi kualitas data dan informasi yang dibutuhkan
f. Melaksanakan protokol dalam membakukan hasil penelitian dan pengembangan yang relevan dengan dengan MRV ke level implementasi
3.3
Prinsip-prinsip Lembaga MRV Indonesia
Prinsip-prinsip utama yang perlu diterapkan dalam membangun dan mengelola sistem MRV untuk REDD+ di Indonesia tetap mengacu pada prinsip-prinsip IPCC. Akan tetapi mengingat keunikan Indonesia maka prinsip-prinsip lain yang perlu dijadikan pegangan adalah:
1. Tepat sasaran: harus dipertimbangkan kondisidan situasi Indonesia yang unik dalam hal: (i) faktor biofisik (bio-ecoregion, tutupan awan), (ii) penyebab dari perubahan penggunaan/tutupan lahan(socio-cultural, konsesi skala besar, agraris (demand-on-land), agroforest, forest fire), (iii) keragaman dan akses (negara kepulauan), (iv) tata kelola (governance ) perubahan penggunaan/tutupan lahan, (v) areal lahan gambut terusik yang luas, dan (vi) fungsi hutan produksi yang dikelola dengan selective-logging dengan kemampuan untuk mengembalikan stok biomassanya secara alami/pengelolaan.
2. Tepat waktu dan pelaku: perencanaan phased approach dalam mengembangkan sistem dalam jangka relatif pendek untuk bisa beroperasi secara optimaldan lestari serta adaptable
dalam jangka panjang, yaitu dengan: (i) rancangan database yang fleksibel dan modular, (ii) pembuatan standarisasi, (iii) peningkatan kapasitas teknis nasional dan sub-nasional (termasuk mekanisme alternatif transisional untuk membantu technology transfer, dan (iv) merangkul lembaga-lembaga yang ada dan mengatur alur kerja dan alur data antar lembaga yang terlibat.
3. Tepat skala: sistem yang multi-level yang bersinkronisasi dengan phased approach dan tahapan persiapan untuk menjawab berbagai kebutuhan dalam implementasi REDD+ dan pelaporan: (i) pemantauan deforestasi secara cepat pada skala nasional, (ii) National AFOLU emissions pada lahan mineral dan gambut (iii) Implementation area AFOLU emissions pada lahan mineral dan gambut. Perbandingan antar level harus dapat dijamin.
4. Tepat guna: Mampu meng-atribusikan emisi pada kegiatan yang tercakup dalam REDD+ yang telah disepakati oleh berbegai pihak dalam COP16, 2010 (FCCC/CP/2010/7/Add.1/C/Par.70): (i) reducing emissions from deforestation, (ii) reducing emissions from forest degradation, (iii) conservation of forest carbon stocks, (iv) sustainable management of forests, dan (v) enhancement of forest carbon stock. Untuk kasus Indonesia, pengurangan emisi dari lahan gambut merupakan keunikan tersendiri karena memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia. 5. Diterima (Accepted): Proses pengembangan awal yang bisa diterima secara politis, sosial dan
budaya Indonesia serta mengacu pada kendala dan kesempatan unik yang ada di Indonesia serta meningkatkan leverage data dan informasi yang sudah ada, inklusif dalam merangkul
32
para pihak dan transparan, sehingga mendukung sistem yang yang sustainable dan kontinyu dan bersifat adaptif mengikuti dinamika yang ada.
6. Kredibel dalam hal: (i) mengukur additionality, leakage, permanence dengan metode yang sahih untuk kelima sumber karbon, sesuai dengan standar internasional, (ii) comprehensive, (iii) cost effective dengan accuracy yang tinggi, (iv) QA/QC, verifikasi – technical acceptance, dan (v) konsisten dengan National Level Reporting to UNFCCC for land-based sector dan antar level.
7. Terlegitimasi (Legitimate) dalam hal: (i) lembaga yang diberi kewenangan (ii) inklusif dalam melibatkan lembaga lain, dan (iii) masyarakat sebagai bagian integral, sehingga menjamin kepemilikan nasional, teradopsi secara politik dan didukung, transparansi dan keberlanjutan.
33
Bab IV
ROADMAP
MRV
Langkah Strategis MRV Indonesia diarahkan untuk menciptakan kondisi pemungkin (enabling condition) dan kerangka teknis yang handal, yaitu :
1. Peyiapan faktor pemungkin terkait dengan kelembagaan, infrastruktur dan data 2. Penyiapan dan Implementasi MRV yang terbagi menjadi 3 Sub-Sistem:
a. Deteksi Dini (MODEF) b. National (NALEM & NAPEM) c. Sub-National Project (ILEM & IPEM)
3. Penyiapan sistem informasi jasa lingkungan dan driver deforestasi dan degradasi hutan Target dan strategi pencapaian road map disajikan pada Tabel IV – 2.
4.1
Penyiapan faktor pemungkin terkait dengan kelembagaan, infrastruktur dan data
4.1.1. Penyiapan Lembaga MRVPendirian lembaga MRV yang independen dan didukung dengan payung hukum yang jelas merupakan langkah pertama yang penting dan diharapkan terjadi pada akhir tahun 2014. Lembaga MRV tidak hanya merupakan lembaga yang pasif sebatas mengukur dan melaporkan, tetapi menjadi lembaga yang proaktif mengkomunikasikan hasil analisis kepada Lembaga REDD+ dan lembaga pemerintah terkait untuk melakukan tindakan perbaikan/intervensi terhadap adanya indikasi kerusakan sumberdaya hutan. Untuk itu diperlukan penataan hubungan kerja antara lembaga MRV Nasional dan Sub Nasional, Lembaga MRV dengan Lembaga REDD + dan Lembaga MRV dengan kementerian dan dinas serta simpul-simpul lembaga MRV. Proses tersebut dapat dilakukan melalui serangkaian diskusi dan lokakarya sehingga dapat dirumuskan secara partisipatif peran/tupoksi (kewenangan) masing-masing lembaga dan mekanisme koordinasi antar lembaga yang terkait.
Kepastian tupoksi dan koordinasi ini perlu dirumuskan untuk memastikan hasil MRV dapat digunakan secara efektif untuk mendukung pengelolaan sumberdaya hutan. Penataan hubungan kelembagaan tersebut juga menjadi pintu masuk untuk standarisasi dan pemutahiran produk peta yang terkait penerapan MRV. Seiring dengan proses pembentukan lembaga MRV perlu disiapkan perangkat keras, SDM yang handal baik di level nasional, dan sub-nasional/area implementasi, serta sistem/mekanisme yang menjamin akuntabilitas pelaporan, partisipasi dan transparansi kepada publik.