JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 1
PENATAAN DAN PENINGKATAN INFRASTRUKTUR SEBAGAI
SALAH SATU STRATEGI KOMUNIKASI DINAS PARIWISATA
DAN KEBUDAYAAN KOTA BATAM DALAM VISIT BATAM
Angel Purwanti
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Putera Batam [email protected]
Abstract
Communication strategy as an activity or communication campagne used to information or persuades to build understanding and forced an idea or cases, product or service that is planned. Batam tourism increasing is by Visit Batam. One strategy would be communicated by the Department of Tourism and Culture Batam namely Arrangement and Infrastructure Improvement. The approach used in structuring and improving the infrastructure and the revitalization of Jodoh and Nongsa structuring, development and upgrading of roads Batam city, and the management and urban utility increasing. This research as a qualitative research with descriptif-case study approaching. Data source used depth interview, observation and documentations.
Keyword : Communication Strategy, Case Study, Qualitative Research, descriptive
Abstrak
Strategi komunikasi merupakan kegiatan atau kampanye komunikasi yang sifatnya informasial maupun persuasive untuk membangun pemahaman dan dukungan terhadap suatu ide, gagasan atau kasus, produk maupun jasa yang terencana. Peningkatan Pariwisata Kota Batam dilakukan dengan bentuk kegiatan Visit Batam. Salah satu trategi yang di komunikasikan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam yaitu Penataan dan Peningkatan Infrastruktur. Pendekatan yang dilakukan dalam penataan dan peningkatan infrastruktur yaitu revitalisasi dan penataan kawasan Jodoh dan Nongsa, pembangungan dan peningkatan jalan Kota Batam, dan pengelolaan dan pengingkatan utilitas perkotaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi.
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 2 PENDAHULUAN
Kota Batam memiliki banyak potensi pariwisata. Potensi pariwisata yang sedang berkembang di Pulau Batam saat ini adalah pariwisata belanja, hal ini banyak ditandai banyaknya pembangunan mall-mall di berbagai tempat yang ada di pulau Batam. Mall-mall ini banyak menarik wisatawan mancanegara, khususnya dari Negara Singapura dan Malaysia. Selain itu, wisata yang sedang maju saat ini adalah wisata MICE (Meeting, Incxentive, Convention dan Exhibitions). Wisata MICE ini sangat
memberikan dampak positif bagi para pelaku bisnis wisata di bidang perhotelan khusunya hotel kota atau sering disebut dengan CityHotel. Kegiatan ini ditandai dengan banyaknya kegiatan MICE yang banyak diadakan di beberapa hotel di Kota Batam.
Pada tahun 1970-an Batam mulai dikembangkan sebagai basis logistik dan operasional untuk industri minyak dan gas bumi oleh Pertamina. Kemudian berdasarkan Kepres No. 41 tahun 1973, pembangunan Batam dipercayakan kepada lembaga pemerintah yang bernama Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam atau sekarang dikenal dengan Badan Pengusahaan Batam (BP Batam). Dalam rangka melaksanakan visi dan misi untuk
mengembangkan Batam, maka dibangun berbagai insfrastruktur modern yang berstandar internasional serta berbagai fasilitas lainnya, sehingga diharapkan mampu bersaing dengan kawasan serupa di Asia Pasifik.
Beberapa tahun belakangan ini telah digulirkan penerapan Free Trade Zone Batam (FTZ Batam), Bintan, dan Karimun yang mengacu pada UU No 36 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas dan kemudian dirubah beberapa kali melalui PERPU, sehingga di undangkan menjadi UU no 44 tahun 2007. Ada juga Undang-Undang 36 tahun 2000 Tentang " Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2000 Tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi Undang Undang serta masih banyak Undang-Undang lainnya yang berkaitan dengan FTZ Batam. Kemudian di saat masa akhir jabatan anggota DPR Pusat tahun 2009, bersama dengan pemerintah pusat saat ini sedang membahas mengenai UU Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang akan memayungi pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus di daerah Batam dan
daerah lainnya di Indonesia1
.
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 3 Untuk meningkatkan pariwisata Kota
Batam, salah satu bentuk program yang dilakukan Dinas Pariwisata Kota Batam adalah Visit Batam 2010. Kegiatan Visit Batam 2010 ini bertujuan menarik wisatawan khususnya wisatawan manca negara. Agar program tersebut dapat berjalan sesuai dengan rencana haruslah memiliki pemikiran yang strategis.
Menurut Cutlip, Center dan Broom dalam bukunya Effective Public Relations (2006:352) mengartikan pemikiran strategis sebagai berikut :
Pemikiran strategis adalah memprediksi
atau menentukan tujuan masa depan
yang di harap kan, menentukan kekuatan
apa yang akan membantu atau
menghalangi upaya mengejar tujuan, dan
merumuskan rencana untuk mencapai
keadaan yang diharapkan tersebut.
Tentu saja, proses yang mereka lewati untuk mendatangkan wisatawan tidaklah mudah, dengan berbagai program yang besar serta program tambahan yang memancing wisatawan asing maupun lokal untuk datang ke Pulau Batam.
Visit Batam 2010 ini memiliki 4 pilar dalam rencana program dan kegiatan Visit Batam 2010, yaitu penataan infrastruktur, penataan objek wisata, event pariwisata dan promosi. Dan untuk itu, diperlukan suatu
strategi komunikasi agar ke 4 pilar dalam visit batam 2010 dapat terlaksana dengan baik.
Seperti yang dikatakan Smith (2005:3) bahwa Strategi komunikasi adalah kegiatan atau kampanye komunikasi yang sifatnya informasial maupun persuasive untuk membangun pemahaman dan dukungan terhadap suatu ide, gagasan atau kasus, produk maupun jasa yang terencanam, yang dilakukan oleh suatu organisasi baik yang berorientasi laba maupun nirlaba, memiliki tujuan, rencana dan berbagai alaternative berdasarkan riset dan memiliki evaluasi.
Visit Batam 2010 dibentuk dari berbagai pihak baik linier maupun non linier. Pihak linear itu terdiri dari Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Tata Kota, Dinas PMK dan UKM, Badan Pengawasan Batam, Instansi Bandara, Instansi Pelabuhan, Instansi Imigrasi. Sedangkan pihak non linearnya antara lain Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batam, Asosiasi Agen Travel dan Tour Indonesia (ASITA) Kota Batam, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Batam, dan Perhimpunan Golf Indonesia Kota Batam.
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 4 dituntut untuk mencapai tingkat keuntungan
yang optimal dan sebagai penyumbang pendapatan asli daerah (PAD). Kenyamanan wisatawan akan tercapai apabila adanya komunikasi yang efektif diantara tim tersebut. Komunikasi yang efektif dapat terjadi apabila suatu pesan yang diberitahukan komunikator dapat diterima dengan baik atau sama oleh komunikan sehingga tidak terjadi salah persepsi.
Dengan memperhatikan keadaan dan perubahan pembangunan pariwisata dewasa ini beserta tantangan yang ada, sangat perlu dipersiapkan strategi komunikasi yang efektif dalam menunjang pembangunan. Strategi pada hakekatnya adalah suatu perencanaan dan manajemen untuk mencapai tujuan tertentu. Didalam strategi yang baik haruslah memiliki koordinasi tim kerja, memiliki tema, mengidentifikasi faktor pendukung sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efesien dalam pendanaan dan memiliki
taktik untuk mencapai tujuan secara efektif2
Dari penjabaran tersebut diatas, maka peneliti ingin mengetahui dan menjelaskan bagaimana bentuk strategi komunikasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam dalam kegiatan Visit Batam 2010.
.
Kata strategi adalah turunan dari bahasa Yunani, Strategos, yang diterjemahkan sebagai komandan militer pada zaman demokrasi Athena. Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu.
Kata strategi selalu diartikan atau disejajarkan dengan kata cara. Padahal kata cara dapat dipergunakan dalam kondisi, tetapi strategi adalah cara untuk menyelesaikan sesuatu secara jangka panjang. Dengan kata lain strategi adalah kegiatan yang dilakukan organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ada atau aksi dalam organisasi untuk mencapai penampilan terbaiknya.
Dalam pengertian sempit, strategi diartikan sebagai seni menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan oleh politik. Secara luas strategi diartikan sebagai seni menggunakan semua kekuatan untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan oleh politik (penganut ini dianut beauffre).
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 5 untuk menjadi seorang jendral. Strategi
adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu.
Konsep ini relevan dengan situasi jaman dulu yang sering diwarnai perang, di mana jendral dibutuhkan untuk memimpin suatu angkatan perang agar dapat selalu memenangkan perang. Strategi juga bisa dapat diartikan sebagai suatu rencana untuk pembagian dan penggunaan kekuatan militer dan material pada daerah-daerah tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam praktik Public Relations, menurut Cutlip, Center dan Broom (2006: 360) menjelaskan strategi biasanya mengacu kepada konsep, pendekatan atau rencana umum untuk program yang didesain guna mencapai tujuan. Berbeda dengan taktik yang lebih mengacu kepada level operasional; kejadian actual, media dan metode yang dipakai untuk mengimplementasikan strategi.
Menurut Uchyana (2004:29) strategi pada hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan. Namun untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukan arah saja,
tetapi harus menunjukan bagaimana taktik operasionalnya.
Definisi lain menjelaskan bahwa strategi adalah jalan-jalan utama yang terpilih untuk menjamin tercapainya tujuan secara efektif dan efesien (Santoso: 2005:6). Dalam kamus induk istilah ilmiah (2003:740) dijelaskan bahwa strategi adalah taktik, kiat, cara-cara yang baik dan menguntungkan dalam suatu tindakan.
Komunikasi Laswell
Laswell dalam Effendy (2003:301) menyatakan bahwa cara yang terbaik untuk menerangkan kegiatan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “Who Says What Which Channel To Whom With What
Effect?”, jika dijabarkan maka strategi
komunikasi merupakan jawaban-jawaban dari teori Laswell tersebut. Who? (Siapakah Komunikatornya?), Says What? (Pesan apa yang dinyatakannya?), In Which Channel? (Media apa yang digunakan?), To Whom? (Siapa Komunikannya?), With What Effect? (Efek apa yang diharapkan?).
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 6 yang ingin disampaikan, In Which Channel,
media apa saja yang mendukung kegiatan Visit Batam 2010 ini, To Whom, siapa saja yang menjadi penerima atau sasaran dalam kegiatan Visit Batam 2010 ini dan yang terakhir, With What Wffect, apa harapan dari kegiatan Visit Batam 2010 ini.
Akan menjadi tiga (3) buah bentuk pertanyaan yaitu When? (Kapan
dilaksanakannya?), How? (Bagaimana
melaksanakannya?), Why? (Mengapa
dilaksanakan demikian?).
Strategi Komunikasi
Strategi komunikasi menurut Ucjana (2004:29) merupakan paduan dari perencanaan komunikasi (communication planning) dan manajemen komunikasi (communication management) untuk mencapai suatu tujuan (goal). Untuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi harus dapat menunjukan bagaimana operasionalnya secara taktik harus dilakukan dalam arti kata bahwa pendekatan bisa berubah-ubah sewaktu-waktu, tergantung pada situasi dan kondisi.
Dalam Kamus Besar Indonesia dijelaskan bahwa strategi komunikasi adalah suatu cara yang dikerjakan demi kelancaran suatu komunikasi. Dalam istilah lain strategi
komunikasi adalah metode atau langkah-langkah yang diambil untuk keberhasilan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahukan atau mengubah sikap, pendapat, dan perilaku baik secara langsung melalui media (Ucjana, 2002:5).
Middleton dalan Cangara (2005) menyatakan bahwa strategi komunikasi adalah sebuah kombinasi terbaik dari saluran dan pesan-pesan yang dirancang untuk mencapai khalayak tertentu agar tujuan yang diinginkan tercapai.
Pengertian Pariwisata
Pariwisata adalah salah satu dari industri gaya baru, yang mampu menyediakan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam hal kesempatan kerja, pendapatan taraf hidup dan dalam mengaktifkan sektor produksi lain dalam Negara penerima wisata.
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 7 hasrat ingin mengetahui seseorang. Selain
itu juga bisa karena kepentingan lainnya seperti olahraga, konvensi, dan lainnya.
Organisasi pariwisata dunia mendefinisikan pariwisata atau turisme adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan, dan persiapan juga untuk melakukan aktivitas ini. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi3
Bentuk-bentuk Pariwisata .
Gromang melihat pariwisata sebagai suatu gejala, yang terwujud dalam beberapa bentuk, antara lain sebagai berikut:
1) Menurut jumlah orang yang berpergian
a. Pariwisata Individu, yakni hanya
seorang atau satu keluarga yang berpergian.
b. Pariwisata Rombongan, yakni
sekelompok orang, yang biasanya terikat oleh hubungan-hubungan tertentu kemudian melakukan perjalanan bersama-sama. Misalnya: klub, sekolah atau tur yang diorganisisr oleh suatu usaha perjalanan, dan biasanya rombongan
3
2011
ini didampingi oleh seorang pemimpin perjalanan. Jumlah peserta rombongan itu boleh bervariasi tetapi lebih dari 15 atau 20 orang peserta.
2) Menurut maksud Berpergian
a. Pariwisata Rekreasi atau Pariwisata
Santai, maksud berpergian untuk memulihkan fisik dan mental setiap peserta wisata dan memberikan kesempatan rileks bagi mereka dari kebosanan dan keletihan kerja selama rekreasi.
b. Pariwisata Budaya, maksudnya untuk
memperkaya informasi dan pengetahuan tentang negara lain dan untuk memuaskan kebutuhan hiburan. Dalam hal ini termasuk pula kunjungan ke pameran-pameran dan fair, perayaan-perayaan adat, tempat cagar alam cagar purbakala dan lain-lain.
c. Pariwisata Pulih Sehat, yang
memuaskan kebutuhan perawatan medis di daerah atau tempat lain dengan fasilitas penyembuhan, misalnya sumber air panas, tempat-tempat kubangan air lumpur yang berkhasiat, perawatan dengan air mineral yang berkhasiat,
penyembuhan secara khusus,
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 8 lain-lain. Pariwisata ini memerlukan
persyaratan-persyaratan tertentu seperti misalnya kebersihan, ketenangan dan taraf hidup yang pantas.
d. Pariwisata Olah Raga, yang akan
memuaskan hobi orang-orang seperti memancing, berburu binatang liar, menyelam ke dasar laut, bermain ski, bertanding dan mendaki gunung.
e. Pariwisata Temu Wicara, pariwisata
konvensi mencakup pertemuan-pertemuan ilmiah, seprofesi dan bahkan politik. Pariwisata jenis ini memerlukan tersedianya fasilitas pertemuan di negara tujuan dan faktor-faktor lain yang penting seperti letak yang strategis, tersedianya transportasi yang mudah, iklim yang cerah, dan sebagainya. Seorang yang berperan serta di dalam konfrensi akan meminta fasilitas wisata yang lain misalnya tur dalam dan luar kota, tempat-tempat membeli cendramata, dan lain-lain.
3) Menurut alat transportasi
a. Pariwisata Darat, seperti bis, mobil
pribadi, kereta api
b. Pariwisata Tirta, seperti laut, danau,
sungai.
c. Pariwisata Dirgantara
4) Menurut letak geografis
a. Pariwisata Domestik Nasional,
menunjukan arus wisata yang dilakukan oleh warga dan penduduk asing yang bertugas di sana, yang terbatas dalam suatu negara itu.
b. Pariwisata Regional, yakni kepergian
wisatawan terbatas pada beberapa negara yang membentuk suatu kawasan pariwisata. Misalnya perjalanan wisatawan di negara-negara Eropa Barat.
c. Pariwisata Internasional, yang
meliputi gerak wisatawan dari suatu negara ke negara lain di dunia.
5) Menurut Umur (umur membedakan
kebutuhan dan kebiasaan)
a. Pariwisata Remaja
b. Pariwisata Dewasa
6) Menurut Jenis Kelamin
a. Pariwisata Pria
b. Pariwisata Wanita
7) Menurut tingkat harga dan tingkat
sosial
a. Pariwisata Taraf Mewah
b. Pariwisata Taraf Menengah
c. Pariwisata Taraf Jelata
Biro Perjalanan Wisata
Biro perjalanan pariwisata adalah
perusahaan yang menyelenggarakan
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 9 Adapun kegiatan-kegiatan usaha biro
perjalanan wisata adalah:
a. Menyusun menjual paket wisata luar
negeri atas dasar permintaan.
b. Menyelenggarakan atau menjual
pelayaran wisata (Cruise).
c. Menyusun dan menjual paket wisata
dalam negeri kepada umum atau atas dasar permintaan.
d. Menyelenggarakan pemanduan wisata.
e. Menyediakan fasilitas untuk wisatawan.
f. Menjual tiket atau karcis untuk
wisatawan.
g. Mengadakan pemesanan sarana wisata.
h. Mengurus dokumen-dokumen perjalanan
sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pramuwisata
Pramuwisata adalah seseorang yang memberi penjelasan serta petunjuk kepada wisatawan dan traveler lainnya tentang segala sesuatu yang hendak dilihat dan disaksikan bilamana mereka berkunjung pada suatu objek, tempat atau daerah wisata tertentu.
Jenis pramuwisata berdasarkan bidang keahliannya dibagi menjadi :
a. Pramuwisata Umum (General Guide)
adalah pramuwisata yang mempunyai pengetahuan tentang kebudayaan, kekayaan alam, dan aspirasi kehidupan bangsa atau penduduk secara umum;
yang memiliki izin untuk memberikan bimbingan perjalanan dan penerangan kepariwisataan dengan mempergunakan satu atau beberapa bahasa tertentu terhadap wisatawan, baik secara perseorangan atau berkelompok.
b. Pramuwisata Khusus (Special Guide)
adalah pramuwisata yang mempunyai pengetahuan yang khusus dan mendalam mengenai obyek wisata seperti kebudayaan, arkeologi, sejarah, teknik, perdagangan, keagamaan, ilmiah, margasatwa, perburuan dan lain-lain; yang mempunyai izin untuk membimbing perjalanan dengan penerangan kepada wisatawan baik perseorangan atau kelompok dengan menggunakan satu bahasa atau beberapa bahasa tertentu.
c. Pembimbing Darma Wisata (Tour
Conductor) adalah pramuwisata senior
yang mempunyai tanda pramuwisata
untuk memimpin perjalanan suatu
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 10
d. Pramuwisata Pengemudi (Guide Driver)
adalah pramuwisata yang mempunyai kartu tanda pramuwisata untuk memberikan bimbingan dan penerangan umum mengenai objek wisata, kebudayaan, kekayaan alam, dan aspirasi kehidupan bangsa kepada para wisatawan, disamping kedudukannya sebagai pengemudi kendaraan umum, seperti taxi, bus, touring choarch, dan lain-lain.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif yang dimaksud adalah Penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dicapai dengan menggunakan prosedur statistik atau cara kuantifikasi lainnya. Strauss and Oorbin dalam BMrowi dan Sudfltin (Rusian, 2003:202-203) mengatakan bahwa:
“Qualitative Research merupakan
jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur statistik atau cara kuantifikasi lainnya. Penelitian kualitatif dapat dipergunakan untuk penelitian kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsional organisasi, peristiwa tertentu,
pergerakan-pergerakan sosial dan hubungan kekerabatan dalam keluarga”.
Terdapat beberapa istilah yang digunakan untuk penelitian kualitatif, yaitu penelitian atau inkuiri naturalistic atau alamiah, etnografi, interaksionis simbolik, perspektif ke dalam, etnometodologi, the Chicago School, fenomenologis, studi kasus,
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 11 dan literatur, buku-buku perpustakaan,
dokumentasi, arsip-arsip dan keterangan-keterangan lain yang berhubungan dengan masalah penelitian yang digunakan sebagai pelengkap dan pendukung dari data primer. Beberapa langkah yang peneliti lakukan sebagai fokus bagi pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :
a. Studi Dokumentasi
Peneliti melakukan studi dokumentasi sebagai landasan dalam menganalisis data. Kegiatan ini diawali dengan mengumpulkan bahan-bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian baik itu berupa buku-buku, jurnal penelitian, jurnal, perundang-undangan/kebijakan, artikel, makalah, dll. Data tersebut tidak hanya berasal dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tempat peneliti mengadakan penelitian tetapi bisa juga berasal dari lembaga lain yang terkait seperti perpustakaan, serta internet.
b. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung dengan alat pendengaran, dan penglihatan terhadap fenomena social dan gejala-gejala yang terjadi. Itu berarti data yang diperoleh dengan cara memandang, melihat dan mengamati objek sehingga dengan itu
peneliti memperoleh pegetahuan apa yang dilakukan.
c. Wawancara Mendalam
Wawancara yang peneliti lakukan terhadap informan dilakukan secara mendalam (depth interview). Dalam wawancara mendalam, peneliti berupaya menyelam ke dalam dunia mereka. Agar mencapai tujuannya, pewancara harus mendorong pihak yang diwawancarai dengan berbagai cara untuk mengemukakan semua gagasan dan perasaannya bebas dan nyaman (Mulyana, 2006:183)
Peneliti melakukan wawancara utama kepada para Kepala Bidang dan Staff di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam yang terlibat dalam Visit Batam 2010. Peneliti mengawali proses wawancara dengan wawancara informal di mana peneliti melakukan pembicaraan biasa seputar kegiatan Visit Batam. Tanya jawab mengalir seperti percakapan sehari-hari dan tidak tersusun terlebih dahulu.
Miles dan Huberman (1992:15-21) menjelaskan tentang proses analisis menjadi langkah-langkah sebagai berikut:
a. Tahap pertama, kategorisasi dan
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 12 dikelompokan sesuai dengan topik
permasalahan.
b. Tahap kedua, data yang dikelompokan
selanjutnya disusun dalam bentuk narasi-narasi, sehingga data berbentuk rangkaian informasi yang bermakna sesuai dengan masalah penelitian.
c. Tahap ketiga, melakukan interpretasi
pada data, yaitu dengan menginterpretasikan apa yang telah diberikan dan diinterpretasikan informan terhadap masalah yang diteliti.
d. Tahap keempat, pengambilan kesimpulan
berdasarkan susunan narasi yang telah disusun pada tahap ketiga, sehingga dapat memberikan jawaban atas masalah penelitian.
e. Tahap kelima, melakukan verifikasi hasil
analisa data dengan informan, yang didasarkan pada simpulan tahap keempat. Tahap ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahan interpretasi dari hasil wawancara dengan sejumlah informan penelitian yang dapat mengabarkan makna persoalan sebenarnya dari penelitian ini.
Sejarah Kota Batam
Pulau Batam, dihuni pertama kali oleh orang Melayu dengan sebutan orang selat sejak tahun 231 Masehi. Pulau yang pernah menjadi medan perjuangan Laksamana
Hang Nadim dalam melawan penjajah ini digunakan oleh pemerintah pada dekade 1960an sebagai basis logistik minyak bumi di Pulau Sambu.
Pada dekade 1970an, dengan tujuan awal menjadikan Batam sebagai Singapura-nya Indonesia, maka sesuai Keputusan Presiden nomer 41 tahun 1973, Pulau Batam ditetapkan sebagai lingkungan kerja Industri dengan didukung oleh Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau lebih dikenal dengan Badan Otorita Batam sebagai penggerak pembangunan Batam.
Seiring dengan pesatnya perkembangan Pulau Batam, pada dekade 1980an, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 1983, wilayah Kecamatan Batam, yang merupakan bagian dari Kabupaten Kepulauan Riau (saat ini menjadi Kabupaten Bintan), ditingkatkan statusnya menjadi Kotamadya Batam yang memiliki tugas dalam menjalankan administrasi pemerintahan dan kemasyarakatan serta mendukung pembangunan yang dilakukan dalam Otorita Batam.
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 13 Batam yang termasuk dalam Wilayah
Administrasi Kabupaten Tingkat II Kepulauan Riau.
Batam adalah nama sebuah pulau terbesar di daerah ini, tetapi tidak jelas diketahui dari mana literatur sejarah masa lampau diwaktu Johor dan Riau masih merupakan Kerajaan Melayu. Pada abad ke 18 Lord Minto dan Rafles dari kerajaan Inggris telah melakukan "Barter" dengan Pemerintah Hindia Belanda, sehingga Pulau Batam yang merupakan pulau kembar dengan Singapura diserahkan kepada Pemerintah Belanda.
Pada tanggal 18 Desember 1829 Komisaris Jendral Pemerintah Hindia Belanda P.J Elout yang sekaligus menjabat sebagai Residen Riau atas nama Sultan Abdul Rahmansyah YTM (Yang Dipertuan Muda) Riau menunjuk Raja Isa untuk memegang pemerintahan atas daerah Nongsa dan Rantau Taklukannya.
Atas Dasar peristiwa sejarah tersebut, maka tanggal 18 Desember 1829 telah ditetapkan sebagai Hari Jadi kota Batam melalui Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 5 Tahun 2009 pada tanggal 23 Juli 2009 yang pada tanggal 18 Desember 2009 akan berumur 180 (seratus delapan puluh) tahun. Luas wilayah Kotamadya Batam lebih kurang 1.647,83 Km2, yang terdiri
dari lautan 1.035,30 Km2 dan daratan 612,53 Km2, sedangkan banyaknya pulau berjumlah 186 buah dimana 80 buah telah dihuni dan 106 buah pulau lagi masih kosong, diantaranya ada 3 buah pulau yang agak besar yaitu Pulau Batam dengan luas kurang lebih 415 Km2, Pulau Bulan dan Kepala Jeri. Karena wilayah Kotamadya Batam letaknya yang sangat strategis pada jalur pelayaran international yang paling ramai di dunia dengan jarak hanya 12,5 mil laut (20 km) dari Singapura serta pintu gerbang lalu lintas wisatawan yang keluar masuk dari/keluar negeri melalui pelabuhan laut Sekupang.
Dengan modal inilah maka Pemerintah Indonesia sebagai upaya untuk memacu perkembangan di wilayah Nusantara dari semua aspek kehidupan, khususnya di bidang ekonomi dalam rangka persiapan tinggal landas pada Pelita VI, maka pemerintah mengembangkan Pulau Batam menjadi Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (OBDIPB).
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 14 Pimpinan/Pengembangan Otorita Batam
sebagai berikut :
1) Tahun 1969 – 1975 Adalah periode
persiapan dan permulaan pengembangan, pada periode ini pengembangan Batam lebih ditujukan untuk menunjang kegiatan pertanian dan pencarian minyak lepas pantai dengan ketua Otorita Batam DR.IBNU SUTOWO, diantara periode tersebut telah keluar beberapa Keputusan Presiden antara lain :
a. Kepres No. 65 Tahun 1970 tanggal 19
Oktober 1970; Tentang Proyek Pengembangan Pulau Batam.
b. Kepres No. 74 Tahun 1971 tanggal
26 Oktober 1971; Tentang Pembangunan Pulau Batam dengan membentuk Badan Pimpinan Daerah Industri (Badan Penguasa) dan bertanggung jawab kepada Presiden.
c. Kepres No. 41 tahun 1973 tanggal
22 November 1973; Tentang seluruh Pulau Batam dinyatakan sebagai daerah industri. Pada tanggal 26 Agustus 1974 pemerintah menunjuk beberapa lokasi di Sekupang, Batu Ampar dan Kabil di Pulau Batam sebagai Bonded Ware House dan menunjuk PT. Persero Batam sebagai penguasa Bonded Ware House.
2) Tahun 1975 – 1978 Adalah periode
konsulidasi dimana dalam periode ini dititikberatkan untuk konsulidasi dan pemeliharaan prasarana-prasarana dan aset-aset yang ada, sehubungan dengan krisis yang timbul dalam Pertamina, dengan ketua Otorita Batam, Prof. Dr. Soemarlin. Dalam periode ini telah keluar beberapa surat keputusan sebagai berikut :
a) Pada tahun 1975, karena adanya resesi
dalam tubuh Pertamina, maka
terjadilah pengalihan tanggung jawab pembangunan Daerah Industri Pulau Batam dari Pertamina ketangan Pemerintah.
b) Keputusan Menteri Dalam Negeri
No.43 tahun 1977 tanggal 19 Februari 1977 tentang Pengolahan dan Penggunaan ,Tanah di Pulau Batam.
c) Pada tanggal 14 Mei 1977
dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Perdagangan No.147/Kpb/V/1977, Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 150/LML/1977 dan Surat Keputusan Menteri Perhubungan No.
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 15 Otorita Pengembangan Daerah
Industri Pulau Batam.
d) Surat Keputusan Ketua BKPM No. 1
Tahun 1978 tanggal 7 Februari 1978 tentang Pemberian Perlimpahan Wewenang Pengurusan dan Penilaian Pemohonan Penanaman Modal di Pulau Batam.
e) Pada tanggal 24 November 1978
pemerintah menetapkan seluruh wilayah Pulau Batam menjadi wilayah Bonded Ware House.
3) Tahun 1978 – 1983 Yaitu periode
pemantapan rencana dan lanjutan pembangunan prasarana utama dengan ketua Otorita Batam Prof. DR. Ing. B J.Habibie. Periode ini rencana pengembangan disesuaikan dengan rencana strategi pengembangan, strategi pembangunan nasional dan situasi ekonomi dunia yang sedang mengalami resesi. Beberapa surat keputusan yang dikeluarkan dalam periode ini antara lain:
a) Kepres No. 194/M/1978 tanggal 29
Agustus 1978 tentang pengangkatan Prof. DR.Ing. B J. Habibie sebagai ketua Otorita Batam dan Mayjend. TNI Soedarsono D. sebagai ketua Badan Pelaksana.
b) Keputusan Menteri Kehakiman RI
No. M. 01-PW-10-01- 83 tanggal 7 Juni 1980 tentang penetapan Pulau Batam sebagai daerah berstatus khusus di bidang keimigrasian.
c) Keputusan Menteri Perdagangan dan
koperasi No.70/KP/I/1983 tanggal 19 Januari 1983 tentang pelimpahan wewenang di bidang perdagangan dan koperasi.
d) KEPRES No. 15 tahun 1983 tanggal 9
Maret 1983 tentang kebijaksanaan pengembangan pariwisata, dalam hal ini pelabuhan laut dan udara di Pulau Batam ditetapkan sebagai pintu masuk wisatawan dari luar negeri.
4) Tahun 1983 sampai sekarang merupakan
periode penanaman modal dan industri serta pengembangannya. Tanggal 27 Desember 1983 diresmikan oleh Bapak Presiden RI prasarana-prasarana utama, sejak periode tersebut daerah industri Pulau Batam mulai dipasarkan secara luas dan secara nyata sudah menunjukkan pengembangan dan hasilnya.
5) Pada tahun 1984 menetapkan semua
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 16 perkembangan Pulau Batam tersebut
oleh Otorita Batam, sesuai dengan periodesasi pembangunan dan pimpinannya maka dibentuklah "KOTAMADYA BATAM' berdasarkan PP No.34 tahun 1983, dalam hal ini wilayah pemerintahannya sama dengan Kecamatan Batam sebelum dibentuknya Kotamadya Batam tersebut dan membawahi 3 (tiga) kecamatan yaitu : Belakang Padang, Batam Barat dan Batam Timur. Tentang penyelenggaraan pemerintahan, sebagai penjabaran dari pasal; 17 PP No. 34 tahun 1983, telah keluar KEPRES No. 7 tahun 1984 tentang: hubungan kerja antara Kotamadya Batam dengan Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam. Dalam KEPRES No.7 tahun 1984 tersebut telah diatur tentang koordinasi sebagai berikut :
a) Pasal 2, menyebutkan :
Walikotamadya Batam, sebagai Kepala Wilayah adalah penguasa tunggal di bidang pemerintahan dalam arti memimpin pemerintahan membina kehidupan masyarakat Kotamadya Batam di semua bidang dan mengkoordinasikan bantuan dan dukungan pembangunan daerah industri Pulau Batam.
b) Pasal 3 huruf F, menyebutkan :
Walikotamadya Batam bersama Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam secara periodik mengadakan rapat koordinasi dengan
instansi-instansi pemerintahan lainnya, guna mewujudkan sinkronisasi program diantara mereka dan sejauh mana mengenai pelaksanaan pembangunan, sarana, prasarana dan fasilitas lainnya yang diperlukan dalam rangka pengembangan Daerah Industri Pulau Batam. Dalam hal ini telah ditunjuk sebagai Walikotamadya Batam yang pertama Ir.Rahman Draman yang menjabat sebagai walikota selama periode 1984 - 1989. Kemudian sejak bulan Oktober 1989 sampai dengan sekarang telah pula ditunjuk Walikotamadya Batam yang kedua Drs. R. A. Aziz.
6) Tahun 1992 Dengan Kepres No. 28
Tahun 1992 wilayah kerja Otorita Batam diperluas meliputi wilayah BARELANG ( Pulau Batam, Rempang, Galang dan pulau-pulau sekitarnya ) dengan luas wilayah seluruhnya sekitar 715 Km (115 % dari luas Singapura).
7) Tahun 1998 Periode pengembangan
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 17 modal lanjutan dengan perhatian lebih
besar pada kesejahteraan rakyat dan perbaikan iklim investasi. Sebagai ketua dijabat oleh Ismeth Abdullah.
8) Tahun 1999 (Otonomi Daerah)
Implementasi Undang-Undang No.53 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No 13 Tahun 2000, maka Batam yang semula sebagai Kota Administratif Batam statusnya berubah menjadi daerah otonom Kota Batam, yang mempunyai 20 kewenangan daerah sama seperti daerah otonom lainnya di Indonesia. Untuk itu, struktur pemerintahan dan penataan wilayahnya juga mengalami perubahan. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005, dinyatakan bahwa Kota Batam semula terdiri dari 8 Kecamatan dan 51 Kelurahan berubah menjadi 12 Kecamatan dan 64 Kelurahan. Perkembangan pembangunan yang semakin pesat di Kota Batam telah menjadi daya tarik tersendiri bagi pendatang untuk mengembangkan usaha dan menyebabkan peningkatan jumlah penduduk yang berimpilkasi pada timbulnya permasalahan dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
9) Tahun 2007 (Kawasan Perdagangan
Bebas dan Pelabuhan Bebas) Priode ini ditandai dengan keluarnya PP Nomor 46 Tahun 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam meliputi pulau Batam, Tonton, Setokok, Rempang, Galang, Galang Baru dan Nipah .
10)Di era otonomi daerah pada akhir
dekade tahun 1990an, dengan Undang-Undang Nomor 53 tahun 1999, maka Kotamadya Adminstratif Batam berubah statusnya menjadi daerah otonomi yaitu Pemerintah Kota Batam untuk menjalankan fungsi pemerintahan dan pembangunan dengan mengikutsertakan Badan Otorita Batam.
Visit Batam
Kota Batam terletak di lokasi yang sangat strategis berbatasan langsung dengan Negara Singapura dan Malaysia. Terdiri dari lebih kurang 400 buah pulau. Letak strategisnya terletak pada jalur internasional. Posisi Batam yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia sebagai salah satu tujuan wisata dunia dapat dikembangkan sebagai gerbang wisata menuju Bintan, Kepulauan Riau, Riau Daratan, dan Sumatera.
Pulau Batam merupakan salah satu Gateway unggul diantara 13 Gateway yang
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 18 dan Budaya Republik Indonesia. Pulau
Batam merupakan bagian dari tiga besar penyumbang angka kunjungan wisatawan mancanegara di Indonesia setelah Bali dan Jakarta. Pulau Batam telah ditetapkan sebagai kota MICE dari 13 kota besar se Indonesia. Iklim perekonomian mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Pulau Batam. Komitmen bersama dalam membangun kemajuan sektor pariwisata dengan semangat bersama yaitu Visit Batam . Peningkatan infrasturuktur, objek wisata, peningkatan event dan promosi yang berkesinambungan. Tujuan Visit Batam
Tujuan program Visit Batam 2010 ialah meningkatkan iklim investasi Pariwisata dengan indikasi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Kota Batam. Sasaran Visit Batam
1) Menjadikan Pulau Batam sebagai
serambi pariwisata Kepri dan Nusantara
sehingga menjadi Gateway atau
Distribution Point ke wilayah lain ke
Indonesia.
2) Meningkatkan partisipasi dan dukungan
masyarakat serta para stakeholder di sektor kepariwisataan dalam menciptakan kondisi yang mampu mendorong tumbuh dan
berkembangnya industri pariwisata secara berkelanjutan.
3) Terciptanya iklim kondusif dan
pelayanan prima di bidang Pariwisata
4) Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah
(PAD) yang berasal dari sektor pariwisata.
5) Peningkatan sarana dan prasarana
obyek wisata, event pariwisata dan budaya daerah.
Penataan dan Peningkatan Infrastruktur
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam memiliki 4 pilar atau strategi dalam kegiatan Visit Batam 2010, yaitu (1) Penataan dan Peningkatan Infrastruktur, (2) Penataan dan Peningkatan Objek Wisata, (3) Peningkatan Sadar Wisata di setiap lapisan masyarakat, (4) Promosi di berbagai media, (5) Peningkatan kualitas dan Kuantitas Event.
Dalam peningkatan infrastruktur ada 4 (empat) yang di fokuskan yaitu 1) Revitalisasi dan penataan kawasan Jodoh dan Nagoya, 2) Pembangunan dan Peningkatan jalan kota Batam, 3) Pengelolaan dan Peningkatan Utilitas Perkotaan, 4) Pengelolaan dan peningkatan utilitas perkotaan.
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 19 Batam masih kurang optimal, hanya terlihat
di sebagian kawasan saja (terpusat), hampir seluruh objek wisata yang ada di Kota Batam menyebar merata di seluruh Pulau Batam, seperti jalan menuju Harris Resort masih banyak yang berlubang jika melalui jalan Sekupang. Seperti yang diungkapkan oleh Bintoro Suryo selaku Pimpinan Redaksi Batam TV
“Infrastrukturnya hanya terpusat, belum
merata, jadi kurang optimal. Dan disini
masih ada kepentingan. Misalnya
pembangunan objek wisata di Tanjung
Membran. Tempat itu dibangun pun karna
masih ada hubungan dengan Walikota
terdahulu.”
Dalam hal pelaksanaan pengerjaan infrastruktur terkesan setengah hati dan ini dilakukan di akhir 2010. Seharusnya apabila Kota Batam berencana melaksanakan Visit Batam 2010 hal yang pertama di prioritaskan adalah Infrastruktur,karna dengan infrastruktur yang baik maka wisatawan tersebut akan merasa puas. Infrastruktur tersebut meliputi semua konstruksi di bawah dan di atas tanah dan suatu wilayah atau daerah.
Menurut Spillane (1994: 63-72), ada beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam infrastruktur pariwisata, antara lain: (1) Sistem pengairan/air, (2) Sumber listrik dan
energy, (3) Sistem pembuangan kotoran/pembuangan air, (4) Jasa-jasa kesehatan, (5) Jalan-jalan/jalan raya.
Penataan objek wisata yang dilakukan Dinas Pariwisata dan Kebudyaan Kota Batam tidak berkelanjutan, seperti halnya penataan pasar kios yang di lakukan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam tidak jalan. Kegiatan tersebut hanya sebentar saja, terlihat dari kondisi kios-kios yang selalu tutup ketika penulis mengunjungi pasar kios tersebut, salah satunya Pasar Kios yang ada di Batu Besar. Pasar kios tersebut dikelola oleh ibu-ibu PKK yang tinggal di Kampung Melayu, Batu Besar. Sehingga objek wisata yang ada di Kota Batam terkesan minim. Seperti yang di ungkapkan Ibu Kadek, ketua ASITA Batam mengatakan bahwa Kota Batam minim dengan objek Wisata
“Susah-susah gampang ya. Masalahnya
Kota Batam ini minim objek wisata.
Sehingga kami terpaksa combined dengan
spa. Di Batam ini menjamur sekali tempat
spa dan refleksi”.
Dalam peningkatan infrastruktur ada 4 (empat) yang di fokuskan oleh Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam4
4
Hasil wawancara dengan Rudi Panjaitan, 18 febuari 2011
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 20
1) Revitalisasi dan penataan kawasan
Jodoh dan Nagoya
Peningkatan dan penataan kawasan Jodoh dan Nagoya melalui beberapa pendekatan yaitu (1) peningkatan jalan dan saluran, (2) pembangunan citywalk, (3) peningkatan dan pembangunan lampu penerangan kawasan kota, (4) penataan dan penertiban, (5) penataan dan pembuatan pagar media jalan, (6) pembangunan dan pendestrian perkotaan, (7) pembangunan marka parkir, (8) pembanguna toilet umum dan penyediaan tong sampah.
2) Pembangunan dan peningkatan jalan
Kota Batam
Pembangunan dan peningkatan jalan Kota Batam dilakukan dengan beberapa pendekatan yaitu (1) pembangunan jalan lingkar (outer ring road) Batam Center – Bengkong, (2) Pembangunan Jalur dua arah dari Bengkong ke Bengkong Laut.
3) Pengelolaan dan peningkatan utilitas
perkotaan
Pengelolaan dan peningkatan utilitas perkotaan dilakukan dengan cara (1) pembangunan dan pemeliharaan ATCS kota Batam, (2) Rehabilitasi selter dan halte Bus Kota Batam.
4) Pengelolaan dan peningkatan utilitas
perkotaan
Pengelolaan dan peningkatan utilitas perkotaan melalui (a) pembangunan, penataan dan pemeliharaan kawasan hijau dan taman kota Batam, (b) pemeliharaan dan peningkatan jalan dan saluran, (c) penataan dataran Engku Putri, (d) penataan dan pendestrian kota Batam, (e) pembangunan kota Batam, (f) penataan bukit Clara, (g)
Pembangunan dan pemeliharaan dan
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 21 Gambar 1. Plang Penunjuk Kawasan
Wisata (Sumber:
Dokumentasi Pribadi)
Gambar 2. Pengadaan Toilet Umum di beberapa tempat (Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam) PEMBAHASAN
Dalam hal pelaksanaan pengerjaan infrastruktur terkesan setengah hati dan ini dilakukan di akhir 2010. Seharusnya apabila Kota Batam berencana melaksanakan Visit Batam 2010 hal yang pertama di prioritaskan adalah Infrastruktur,karna dengan infrastruktur yang baik maka wisatawan tersebut akan merasa puas.
Infrastruktur tersebut meliputi semua konstruksi di bawah dan di atas tanah dan suatu wilayah atau daerah. Menurut Spillane (1994: 63-72), ada beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam infrastruktur pariwisata, antara lain
1) Sistem pengairan/air
2) Sumber listrik dan energi
Suatu pertimbangan yang penting adalah penawar tenaga energi yang tersedia pada jam pemakaian yang paling tinggi atau jam puncak (peak hours). Ini diperlukan supaya pelayanan yang ditawarkan terus menerus.
3) Jaringan komunikasi
Walaupun banyak wisatawan ingin melarikan diri dari situasi biasa yang penuh dengan ketegangan, sebagian masih membutuhkan jasa-jasa telepon dan/atau telgram yang tersedia.
4) Sistem pembuangan
kotoran/pembuangan air
Kebutuhan air untuk pembuangan kotoran memerlukan kira-kira 90 % dari permintaan akan air. Jaringan saluran harus didesain berdasarkan permintaan puncak atau permintaan maksimal.
5) Jasa-jasa kesehatan
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 22 diharapkan, umumnya, jenis kegiatan yang
dilakukan atau faktor-faktor geografis lokal.
6) Jalan-jalan/jalan raya
Ada beberapa cara membuat jalan raya lebih menarik bagi wisatawan :
a) Menyediakan pemandangan yang
luas dari alam semesta
b) Membuat jalan yang naik turun
untuk variasi pemandangan
c) Mengembangkan tempat dengan
pemandangan yang indah
d) Membuat jalan raya dengan dua arah
yang terpisah tetapi sesuai dengan keadaan tanah
e) Memilih pohon yang tidak terlalu
lebat supaya masih ada pemandangan yang indah.
Pembangunan jalan sudah cukup baik, dengan ketentuan yang berlaku. Namun sayangnya, pengerjaannya belum optimal, masih banyak wilayah yang belum dibangun infrastrukturnya. Jalan raya di Kota Batam sering dilalui oleh kendaraan dengan muatan yang cukup besar, sehingga di butuhkan jalan yang bisa menahan beban yang besar. Apa lagi jalan raya di Batam termasuk jalur dengan kecepatan tinggi, jika ada kerusakan pada jalan raya maka akan mengakibatkan kecelakaan. Kecelakaan yang tinggi juga menjadi pertimbangan bagi wisatawan yang akan datang ke Kota Batam.
Selain itu kekurangan yang terlihat dalam pengembangan infrastruktur yaitu Peta Kota Batam dan Direction Map di pelabuhan dan Bandara kota Batam. Ada 3 pelabuhan internasional,1 pelabuhan domestic, 1 pelabuhan antar pulau dan 1 Bandara Udara Hang Nadim. Namun di tiap pelabuhan dan bandara tidak terdapat sama sekali Peta Kota Batam dan Direction Map. Direction Map merupakan peta yang berupa penunjuk jalan dan alat transportasi apa saja yang di gunakan baik taksi, bus kota dan angkutan umum, tempat-tempat wisata yang ada di kota Batam,rumah sakit, restorant dll, sehingga wisatawan yang datang ke Kota Batam merasa nyaman dalam berwisata.
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 23 sebarkan di beberapa kawasan, namun Bus
Kota yang beroperasi hanya seputar Batam Center, Sekupang dan Batu Aji. Kawasan Nongsa, Batu Besar dan Nagoya belum sama sekali di lewati oleh Bus Kota. Baiknya di tambah lagi jumlah armada yang beroperasi, sehingga menjadi banyak pilihan bagi masyarakat Kota Batam dan wisatawan. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil temuan penelitian dan pembahasan mengenai strategi komunikasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam, dapat di tarik kesimpulan bahwa Peningkatan dan penataan Infrastruktur pendukung pariwisata yang berstandar nasional dan internasional sebagai strategi komunikasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam Kegiatan Visit Batam
2010. Infrastruktur di bangun untuk
mendukung kelancaran kegiatan masyarakat, oleh karna itu pembangunan infratruktur harus dilaksanakan secara merata. Infrastruktur yang di lakukan dalam rangka kegiatan Visit Batam 2010 ini masih kurang optimal, hanya terlihat di sebagian kawasan saja (terpusat), hampir seluruh objek wisata yang ada di Kota Batam menyebar merata di seluruh Pulau Batam, seperti jalan menuju Harris Resort masih banyak yang berlubang jika melalui jalan Sekupang. Pembangunan jalan sudah cukup baik, dengan ketentuan
yang berlaku. Namun sayangnya, pengerjaannya belum optimal, masih banyak wilayah yang belum dibangun infrastrukturnya. Selain itu kekurangan yang terlihat dalam pengembangan infrastruktur yaitu Peta Kota Batam dan Direction Map di pelabuhan dan Bandara kota Batam. Direction Map merupakan peta yang berupa
penunjuk jalan dan alat transportasi apa saja yang di gunakan baik taksi, bus kota dan angkutan umum, tempat-tempat wisata yang ada di kota Batam,rumah sakit, restorant dll, sehingga wisatawan yang datang ke Kota Batam merasa nyaman dalam berwisata.
SARAN
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, dapat disampaikan beberapa saran sebagai berikut
a) Setiap kegiatan yang dilakukan dalam
rangka mendukung Visit Batam baiknya di informasikan kepada masyarakat.
b) Media yang digunakan dalam berpromosi
harusnya lebih up to date misalnya menggunakan jejaring sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Cutlip, Scott M, Center, Alen H, & Broom, Glen M. 2006. Effektive Public Relations. Terjemahan Tri Wibowo,
B.S. Jakarta. Kencana.
Spillane, James, J, 1994. Pariwisata
JURNAL CHARTA HUMANIKA Vo.1 No.1 Desember 2013. ISSN 2354- 6956 24 Rekayasa Kebudayaan. Kanisius.
Yogyakarta.
Strauss,Aselm & Corbin,Juliet. 2003. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif.
Terjemahan Muhammad Shodiq & Imam Muttaqien. Yogyakarta. Pustaka Pelajar Offset.
Yin, Prof.Dr.Robert K. 1996. Studi Kasus, Desain dan Metode. Raja Grafindo
Persada. Jakarta.
Mulyana, M.A, Ph.D, Prof. Deddy. 2008.Komunikasi Massa. Bandung. Widya Padjajaran.
Moleong, Lexy J, 2002. Metode Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.