SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Ilmu Pendidikan Biologi

121  Download (0)

Teks penuh

(1)

i

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN TEAMS GAMES

TOURNAMENT (TGT) DALAM MENINGKATKAN HASIL

BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP HASANUDDIN 6

SEMARANG KOMPETENSI DASAR GERAK PADA

TUMBUHAN

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Ilmu Pendidikan Biologi

Oleh:

HANI AMMARIA NIM: 073811030

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Hani Ammaria

NIM : 073811030

Jurusan/Program Studi : Tadris Biologi/ SI

menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.

Semarang, 10 November 2011 Saya yang menyatakan,

HANI AMMARIA NIM: 073811030

(3)

iii

KEMENTERIAN AGAMA R.I

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Prof. Dr. Hamka (Kampus II) Ngaliyan Semarang Telp 024-7601295 Fax. 7615387

PENGESAHAN Naskah skripsi dengan:

Judul : Efektivitas Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Hasanuddin 6 Kompetensi Dasar Gerak pada Tumbuhan.

Nama : Hani Ammaria

NIM : 073811030

Jurusan : Tadris Biologi Program Studi : Tadris Biologi

telah diujikan dalam sidang munaqosyah oleh Dewan Penguji Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo dan dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Pendidikan Biologi.

Semarang, 21 Desember 2011 DEWAN PENGUJI

Ketua, Sekretaris,

Drs. Listyono, M.Pd. Lianah, M.Pd.

NIP.19691016 200801 1 008 NIP. 19590313 198103 2 007

Penguji I, Penguji II,

Hj. Nur Khasanah, S.Pd., M.Kes. Drs. Achmad Sudja’i, M.Ag. NIP : 19751113 200501 2 001 NIP:19511005 197612 1 001

Pembimbing I Pembimbing II,

Lianah, M.Pd. Nasirudin, M. Ag.

(4)

iv NOTA PEMBIMBING

Semarang, 10 November 2011

Kepada

Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo

di Semarang

Assalamu ’alaikum wr.wb.

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : Efektivitas Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dalam Meningkatkan Hasil Belajar

Siswa Kelas VIII SMP Hasanuddin 6 Semarang Kompetensi Dasar Gerak pada Tumbuhan.

Nama : Hani Ammaria

NIM : 073811030

Jurusan : Tadris Biologi Program Studi : SI

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam Sidang Munaqasyah.

Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Pembimbing I,

Lianah, M. Pd.

(5)

v NOTA PEMBIMBING

Semarang, 10 November 2011

Kepada

Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo

di Semarang

Assalamu ’alaikum wr.wb.

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : Efektivitas Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Hasanuddin 6 Semarang Kompetensi Dasar Gerak pada Tumbuhan

Nama : Hani Ammaria NIM : 073811030 Jurusan : Tadris Biologi Program Studi : SI

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam Sidang Munaqasyah.

Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Pembimbing II,

Nasirudin, M. Ag.

(6)

vi ABSTRAK

Judul : Efektivitas Model Pembelajaran Teams Games Tournament

(TGT) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Hasanuddin 6 Semarang Kompetensi Dasar Gerak pada Tumbuhan.

Penulis : Hani Ammaria NIM : 073811030

Skripsi ini membahas tentang efektivitas penggunaan model pembelajaran

teams games tournament (TGT) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada

kompetensi dasar gerak pada tumbuhan. Realita di lapangan yang terjadi pada proses pembalajaran biologi masih terpusat dikarenakan guru masih menggunakan metode ceramah sehingga peserta didik merasa jenuh dan pasif. Untuk mengatasi permasalahan yang ada, peneliti mencoba menggunakan model pembelajaran

teams games tournament (TGT), Sehingga penelitian ini bertujuan : untuk

mengetahui efektivitas model pembelajaran teams games tournament (TGT) dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP NU Hasanuddin 6 Semarang pada kompetensi dasar gerak pada tumbuhan.

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis uji perbandingan 2 rata-rata/bisa disebut uji t-satu pihak (pihak kanan). Adapun bentuk penelitian ini adalah penelitian eksperimen, yaitu membandingkan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII B dan VIII C. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik

sampling purposive. Pengumpulan data menggunakan instrumen tes untuk

menjaring data dan observasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik statistik yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Pada uji normalitas diperoleh kelompok eksperimen 2hitung = 8,8525 dan kelompok kontrol 2 hitung = 7,9341dengan α=

5% dari distribusi chi-kuadrat didapat 2tabel : 11,1. sehingga 2 hitung < 2 tabel.

Maka dapat disimpulkan data tersebut berdistribusi normal. Data hasil posttest dalam penelitian ini tidak di uji homegenitasnya, karena kelas yang digunakan sebagai sampel sudah homogen. Hal itu terbukti bahwa sebelum melakukan treatmen, peneliti telah melakukan pengujian homogenitas dengan menggunakan data nilai ulangan materi sebelumnya, yaitu di peroleh F hitung : 1,078 dengan a =

5% dengan dkpembilang = nb- 1 = 34 - 1 = 33 dan dkpenyebut = nk – 1 = 33 - 1 = 32

ddiperoleh F tabeL 1,76. Sehingga F hitung < F table. Maka dapat disimpulkan kelas

tersebut bersifat homogen. Pengujian hipotesis penelitian menggunakan analisis uji t. Uji t dilakukan untuk membandingkan hasil post test antar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk melihat tingkat keberhasilan suatu metode, pengujian hipotesis menunjukkan bahwa dari hasil tes yang telah dilakukan diperoleh hasil rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen adalah 66,09, sedang rata-rata kelompok kontrol adalah 46,82. Berdasarkan uji percobaan satu pihak, yaitu pihak kanan diperoleh thitung = 7,533 dan ttabel = 1,66, berarti thitung

(7)

vii

hasil belajar kedua kelompok berbeda secara nyata dan signifikan, yaitu kelompok eksperimen memperoleh data hasil lebih baik dari kelompok kontrol.

Dengan demikian hipotesis yang diajukan diterima dikarenakan penggunaan model pembelajaran teams games tournament (TGT) efektif dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Hasanuddin 6 Semarang kompetensi dasar gerak pada tumbuhan .

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SAW yang telah memberikan petunjuk, kekuatan, dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efektivitas Model Pembelajaran Teams

Games Tournament (TGT) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII

SMP Hasanuddin 6 Semarang Kompetensi Dasar Gerak pada Tumbuhan” ini dengan baik.

Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk mencapai gelar sarjana pendidikan Islam pada Jurusan Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.

Dalam Kesempatan ini, perkenankanlah penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu, baik dalam penelitian maupun penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih ini penulis sampaikan kepada:

1. DR.Suja’i, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

2. Hj. Nur Khasanah, S.Pd., M.Kes. selaku Ketua Prodi Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

3. Lianah, M. Pd sebagai pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk dalam penulisan skripsi dan sebagai Wali Studi Tadris Biologi angkatan 2007 paket A.

4. H. Nasirudin, M. Ag sebagai pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk dalam penulisan skripsi.

5. Kepala sekolah SMP Hasanuddin 6 Semarang, Lukman Hakim, S. Pd yang berkenan memberikan izin untuk melakukan penelitian di SMP Hasanuddin 6 Semarang.

6. M. Nur Hasyim, A. Md selaku guru Biologi SMP Hasanuddin 6 Semarang dan seluruh staf SMP Hasanuddin 6 Semarang, yang berkenan membantu dan mengarahkan penulis dalam proses penelitian.

(9)

ix

7. Ayah dan ibu tercinta, terima kasih atas curahan kasih sayangnya yang begitu dalam dan yang selalu memberikan dukungan, nasihat dan doa yang tanpa henti.

8. Guru-guruku dari mulai TK sampai kuliah yang senantiasa mengajarkan ilmu-ilmunya yang menjadikan hidupku berarti, yang telah membuka khasanah ilmu pengetahuan dan agama yang tak mampu aku pahami tanpa mereka. 9. Adinda Marya Ulfa, yang selalu menjadi pelampiasan rasa sayang, amarah

dan tempat bersandar.

10. Sahabat-sahabatku mas Ro’uf, akhy Si’in, Kepompong (Mb’ Cha, mb’ Naim, Dani dan Dewik), yang telah memberikan dukungan dan motivasinya selama ini dan menemukan arti sebuah persahabatan.

11. Teman-teman “Tadris Biologi 07” yang aku sayangi, senasib seperjuangan. 12. Dek Aqil, mbak Zi, mbak Umi dan semua teman-teman kos As Syifa’, tim

PPL SMAN 6 Semarang dan tim KKN posko 62, terima kasih atas dukungan dan atas perhatiannya.

13. Semua pihak dan instansi terkait yang telah membantu selama dilaksanakan-nya penelitian sampai selesaidilaksanakan-nya penulisan skripsi ini

Penulis menyadari bahwa pengetahuan yang penulis miliki masih kurang, sehingga skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharap kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna perbaikan dan penyempurnaan tulisan berikutnya.

Bukanlah hal yang berlebihan apabila penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca, amin.

Semarang, 10 November 2011

Hani Ammaria NIM: 073811030

(10)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i PERNYATAAN KEASLIAN ... ii PENGESAHAN ... iii NOTA PEMBIMBING ... iv ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4

BAB II : LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka ... 6

B. KerangkaTeoritik ... 7

1. Model pembelajaraan kooperatif teams games tournament (TGT) a. Model Pembelajaran ... 7

b. Pembelajaran Kooperatif ... 9

c. Model pembelajaran teams games tournament (TGT) ... 11

2. Hasil Belajar a. Pengertian Belajar ... 14

b. Hasil Belajar ... 18

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 19

3. Materi Gerak pada Tumbuhan ... 21

(11)

xi BAB III : METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ... 31

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 32

C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 32

D. Variabel dan Indikator Penelitian... 33

E. Pengumpulan Data Penelitian ... 34

F. Analisis Data Penelitian ... 35

1. Analisis pendahuluan ... 36

2. Analisis uji hipotesis ... 39

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 44

B. Pengujian Hipotesis ... 47

a. Analisa Tahap Awal ... 48

b. Analisa Tahap Akhir ... 51

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 55

D. Keterbatasan Penelitian ... 60 BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 61 B. Saran ... 61 C. Penutup ... 62 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif, 10. Tabel 2 Desain Penelitian Eksperimen, 32.

Tabel 3 Presentase Validitas Tes Butir Soal, 46. Tabel 4 Perhitungan Indeks Kesukaran Butir Soal, 46. Tabel 5 Persentase Daya Beda Butir Soal, 47.

Tabel 6 Daftar Uji Chi Kuadrat Nilai Ulangan Materi Sebelumnya Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol, 48.

Tabel 7 Sumber Data Perhitungan Varians, 49. Tabel 8 Hasil Uji Kesamaan Dua Rata-Rata, 50.

Tabel 9 Daftar Nilai Frekuensi Observasi Nilai Kelompok Eksperimen, 52. Tabel 10 Daftar Nilai Frekuensi Observasi Nilai Kelompok Kontrol, 52. Tabel 11 Sumber Data Untuk Uji T, 54.

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Bagan Penempatan Meja Turnamen, 13. Gambar 2 Fototropisme, 22.

Gambar 3 Geotropisme/ Gravitropisme, 23.

Gambar 4 Ercis (Pisum sativum) dan Semangka (Citrullus lanatus), 24. Gambar 5 Pertumbuhan Akar Umumnya Menuju ke Sumber Air, 24. Gambar 6 Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa), 26.

Gambar 7 Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala), 26. Gambar 8 Daun Putri Malu (Mimosa pudica), 27. Gambar 9 Bunga Tulip (Tulip praestans), 27.

Gambar 10 Tumbuhan Kantong Semar (Nepenthes), 28. Gambar 11 Proses Membuka dan Menutupnya Stomata, 28. Gambar 12 Gerakan Klorofil Sel Hydilla verticillata, 29.

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Silabus

Lampiran 2 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen

Lampiran 3 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol Lampiran 4 : Soal Uji Coba

Lampiran 5 : Kisi-Kisi Soal Uji Coba

Lampiran 6 : Soal Posttest Dan Kunci Jawaban

Lampiran 7 : Perhitungan Analisis Instrumen Butir Soal Uji Coba Lampiran 8 : Nama Kelompok Kelas Eksperimen

Lampiran 9 : Soal Game

Lampiran 10 : Daftar Peserta Didik Kelas Eksperimen dan Kontrol Lampiran 11 : Analisis Uji Normalitas Awal Kelas Kontrol

Lampiran 12 : Analisis Uji Normalitas Awal Kelas eksperimen

Lampiran 13 : Analisis Uji Homogenitas Awal kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Lampiran 14 : Analisis Uji Kesamaan Rata-rata kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Lampiran 15 : Analisis Uji Normalitas Akhir Kelas Kontrol Lampiran 16 : Analisis Uji Normalitas Akhir Kelas eksperimen Lampiran 17 : Analisis Uji Perbedaan Rata-rata kelas Eksperimen dan

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat menuntut sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan sumber daya manusia juga merupakan syarat untuk mencapai tujuan pembangunan. Salah satu wahana untuk meningkatkan sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan yang berkualitas. Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertentu. Interaksi ini disebut interaksi pendidikan, yaitu saling mempengaruhi antara pendidik dan peserta didik.1

Dalam proses pembelajaran, anak adalah subjek dan sebagai objek dari kegiatan pembelajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai manakala anak didik berusaha aktif mencapainya. Keaktifan anak didik disini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi dari segi kejiwaan juga. Bila hanya dari fisik anak saja yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan didalam dirinya.2

Karena pada dasarnya proses pembelajaran merupakan transformasi perubahan sikap dan ketrampilan dengan melibatkan aktifitas fisik dan mental siswa. Keterlibatan siswa baik fisik maupun mental

1

Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan,( Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2009).hlm.3.

2 Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain.Strategi Belajar Mengajar(.Jakarta:Rineka cipta.2006).hlm.38.

(16)

2

merupakan bentuk pengalaman belajar yang dapat mempererat pemahaman siswa terhadap konsep pembelajaran.

Dalam kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Guru atau pendidik sebagai tenaga pendidik yang professional harus dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi anak didik. Dengan seperangkat teori dan pengalaman yang dimiliki, guru gunakan untuk bagaimana mempersiapkan progam pengajaran dengan baik dan sistematis.

Kurangnya keaktifan siswa antara lain disebabkan oleh kurang melibatkan keikutsertaan siswa dalam proses pembelajaran. Di dalam proses belajarnya siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru, tanpa melakukan sesuatu yang membuat siswa aktif dalam belajarnya. Berdasarkan fakta dilapangan, konsep proses pembelajaran yang demikian mengakibatkan kurang melibatkan aktivitas siswa dan kemandirian siswa dalm belajar.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti memilih dan menerapkan model pembelajaran yang mampu merangsang siswa lebih aktif dalam belajar, sehingga memungkinkan siswa untuk berinteraksi dan saling menkomunikasikan pengetahuan dalam proses pembelajaran serta mempunyai rasa tanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan memahami atau hasil belajar siswa.

Salah satu model pembelajaran yang melibatkan peran serta seluruh siswa adalah model pembelajaran kooperatif. Dengan pembelajaran kooperatif siswa diharapkan dapat saling membantu, saling berdiskusi, dan beragumentasi untuk mengasah khasanah ilmu pengetahuan yang mereka kuasai dan menutup kesenjangan pemahaman masin-masing. Salah satu dari model pembelajaran kooperatif ini adalah dengan menggunakan model pembelajaran teams games tournament (TGT). Diharapkan dengan penggunaan model pembelajaran TGT, akan dapat meningkatkan rasa tanggung jawab, kerja sama, pemahaman siswa

(17)

3

tentang materi yang diajarkan dan tidak kalah lebih penting adalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Teams games tournament (TGT) merupakan salah satu tipe atau

model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan seluruh aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedann status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.

Kompetensi dasar gerak pada tumbuhan merupakan salah satu materi pelajaran sains (biologi) tingkat SMP atau MTs kelas VIII semester genap. KD gerak pada tumbuhan ini mencakup beberapa bahasan diantaranya adalah gerak endonom (tropisme, taksi, dan nasti) dan gerak etionom. Dengan menggunakan model pembelajaran TGT siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran ssehingga tidak menimbulkan rasa kejenuhan karena mengandung unsure permainan. Keterlibatan siswa secara langsung dalam pembelajaran kan membantu mereka untuk mencapai kecakapan kognitif, efektif, dan psikomotorik, sehingga standar kompetensi(SK) dan kompetensi dasar(KD) materi ini dapat tercapai.

Berdasarkan uraian diatas, dalam penelitian ini peneliti mengambil judul “EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN TEAMS

GAMES TOURNAMENT (TGT) DALAM MENINGKATKAN HASIL

BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP HASANUDDIN 6 SEMARANG KOMPETENSI DASAR GERAK PADA TUMBUHAN”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, timbul suatu permasalahan yaitu: Apakah model pembelajaran teams games

tournament (TGT) efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas

VIII SMP Hasanuddin 6 Semarang pada kompetensi dasar gerak pada tumbuhan?.

(18)

4

Model pembelajaran teams games tournament (TGT) dikatakan efektif jika hasil belajar kelas yang menggunakan model pembelajaran

teams games tournament (TGT) lebih baik dari pada kelas yang

menggunakan pembelajaran konvensional (metode ceramah).

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran teams games tournament (TGT) dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Hasanuddin 6 Semarang pada kompetensi dasar gerak pada tumbuhan.

Sedangkan manfaat yang diharapkan setelah menyelesaikan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi peserta didik

a. Dapat meningkatkan hasil belajar biologi seiring dengan meningkatnya keaktifan siswa dalam pembelajaran biologi.

b. Meningkatkan rasa tanggung jawab, karena diberikan tanggung jawab terhadap penguasaan pada bagian materi pelajaran.

c. Memberikan suasana kelas yang menyenangkan sehingga siswa tertarik dan antusias mengikuti pelajaran.

d. Siswa akan lebih aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran.

2. Bagi guru (pendidik)

a. Dapat meningkatkan kreativitas pendidik dalam kegiatan belajar pengajar sehingga mendapat kegiatan belajar mengajar yang bermutu.

b. Guru lebih mengetahui potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didiknya sehingga dapat mengoptimalkan proses kagiatan belajar mengajar.

(19)

5

c. Sebagai bahan masukan untuk memanfaatkan model pembelajaran kooperatif salah satunya TGT.

3. Bagi sekolah

Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas hasil sekolah yang diwujudkan melalui hasil akhir pembelajaran yang memuaskan.

4. Bagi peneliti

Dapat memperoleh pengalaman secara langsung bagaimana penerapan model pembelajaran teams games tournament (TGT) dengan efektif dan efisien.

(20)

6

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka

Kajian pustaka merupakan daftar referensi dari semua jenis referensi seperti buku, jurnal papers, artikel, disertasi, tesis, skripsi, hand outs,

laboratory manuals, dan karya ilmiah lainnya yang dapat dijadikan penulis

sebagai rujukan atau perbandingan terhadap penelitian yang penulis laksanakan.

Dalam hal ini, penulis mengambil beberapa kajian pustaka dalam bentuk skripsi yang dapat digunakan sebagai rujukan perbandingan.

1. Skripsi yang disusun oleh Dika Freida Nurynnysa (NIM: 063611021) dengan judul “penerapan model pembelajaran teams games tournament (TGT) dengan permainan destinasi untuk meningkatkan hasil belajar fisika materi pokok pemuaian pada peserta didik kelas VII A MTs Sabilul Ulum Mayong Jepara semester gasal tahun ajaran 2010/2011”. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa dengan penerapan model pembelajaran TGT dengan permainan destinasi dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VII A MTs sabilul Ulum Mayong Jepara pada materi pokok pemuaian.

2. Skripsi yang disusun oleh Soniawati (NIM: 053811077) dengan judul “studi komparasi hasil belajar biologi materi pokok sistem indera manusia antara pembelajaran dengan menggunakan metode TGT (Teams games

tournament) dan metode ceramah di MA Al-Asror Semarang tahun ajaran

2009/2010”. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh menunjukkan bahwa hasil belajar kelas dengan menggunakan model TGT mendapatkan nilai lebih baik yaitu 77,2 sedangkan kelas yang mendapatkan pembelajaran dengan metode ceramah mendapatkan nilai : 68,1. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar biologi materi pokok

(21)

7

sistem indera manusia antara pembelajaran dengan model TGT (teams

games tournament) dan metode ceramah.

3. Skripsi yang disusun oleh Diyanto (NIM: 4101905014) mahasiswa UNNES Fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam dengan judul “penerapan model pembelajaran cooperative learning melalui tipe TGT (teams games tournament) dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII 6 MTs Filial Al-Iman Adiwerna Tegal pada pokok bahasan bilangan bulat”. Dari penelitian yang dilakukan, bahwa dengan menggunakan model pembelajaran TGT hasil belajar siswa kelas VII 6 MTs Filial Al-Iman Adiwerna Tegal mengalami peningkatan. Hal ini terlihat pada peningkatan ketuntasan belajar dari 76.6% menjadi 85,3%, dan meningkat lagi menjadi 87,7%.

Berdasarkan beberapa kajian skripsi terdahulu di atas, peneliti mengambil judul “efektivitas model pembelajaran teams games tournament (TGT) dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP NU Hasanuddin 6 Semarang kompotensi dasar gerak pada tumbuhan”. Letak perbedaan dari skripsi-skripsi di atas atau penelitian-penelitan sebelumnya adalah pada penelitian ini hanya terbatas pada pengujian kefektivan penerapan model pembelajaran teams games tournament (TGT) pada KD gerak pada tumbuhan.

B. Kerangka Teoritik

1. Model Pembelajaran Kooperatif Teams Games Tournament (TGT) a. Model Pembelajaran

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial.1 Menurut Arends, yang dikutip Hamruni, nenjelaskan bahwa model pembelajaran mengacu

1 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2010),Cet. 1, hlm.51.

(22)

8

pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.2

Menurut Joyce dan Weil menyatakan bahwa model mengajar merupakan model belajar dengan model tersebut guru dapat membantu siswa untuk mendapatkan atau memperoleh informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide diri sendiri. Selain itu, mereka juga mengajarkan bagaimana mereka belajar.3 Sehingga dapat disimpulkan bahwa fungsi model pembelajaran di sini adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajar dan para guru dalam melaksnakan pembelajaran.

Adapun menurut Soekamto, dkk sebagaimana yang dikutip Trianto, mengemukakan bahwa yang dimaksud dari model pembelajaran adalah: Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.4

Menurut Arends yang dikutip Trianto, menyeleksi enam macam model pembelajaran yang sering dan praktis digunakan dalam mengajar, antara lain adalah :

1). Presentasi

2). Pengajaran langsung (direct instruction) 3). Pengajaran konsep

4). Pembelajaran kooperatif (cooperative learning)

5). Pengajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) 6). Diskusi kelas.5

2 Hamruni, Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif Menyenangkan, (Yogyakarta :Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2009),hlm.5.

3 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu,hlm. 51. 4

Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta : Prestasi Pustaka, 2007), hlm.5.

(23)

9

Setiap penggunakan model pembelajaran harus memiliki pertimbangan-pertimbangan agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. Seperti halnya harus sesuai dengan materi pelajaran, jam pelajaran, tingkat perkembangan kognitif siswa, lingkungan belajar, dan fasilitas penunjang yang tersedia, konsep yang lebih cocok dan dapat dipadukan dengan model pembelajaran yang lain untuk meningkatkan hasil belajar.

b. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative learning)

Salah satu bentuk model pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning. Model pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari kosep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks.6

Setiap kelas kooperatif, siswa harus belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku atau ras, dan satu sama lain saling bekerja sama. Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberi kesempatan kepada semua peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses berfikir dan kegiatan belajar.

Jadi, dapat diketahui bahwa pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) merupakan pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan kata lain pembelajaran kooperatif adalah model

6 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif- Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: Prenada Media Group, 2009), Ed.I, Cet.2, hlm. 56

(24)

10

pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill), sekaligus kecakapan sosial (sosial skill).7

Menurut Ibrahim dkk yang dikutip Trianto tujuan dari pembelajaran kooperatif mencakup tiga jenis tujuan penting, yaitu :

1) Hasil belajar akademik

Agar dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berfikir krtis.

2) Penerimaan terhadap keragaman

Agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai latar belakang yang bermacam-macam, seperti keragaman ras, budaya dan agama, strata sosial, kemampuan, dan ketidakmampuan.

3) Pengembangan keterampilan sosial

Agar dapat melatih keterampilan-keterampilan kerjasama dan kolaborasi , dan juga keterampilan-keterampilan tanya jawab.8

Menurut Trianto, terdapat enam langkah atau tahapan dalam menggunakan pembelajaran kooperatif.9 Langkah-langkah itu ditunjukkan pada tabel 2.1.

Tabel 2.1 Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Fase Tingkah Laku Guru

Fase – 1

Menyampaikan tujuan dan motivasi peserta didik

Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi peserta didik belajar

Fase – 2

Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada peserta didik dengan jalan mendemontrasi atau lewat bahan bacaan

7 Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta : Prenada Media Group, 2009), Ed. 1.,Cet.2., hlm.267.

8 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif- Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),hlm.57.

9

(25)

11

Fase – 3

Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada peserta didik bagaimana caranya untuk membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien

Fase – 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka

Fase – 5

Evaluasi Guru mengevaluasi hasil-hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau

masing-masing kelompok

mempresentasikan hasil belajarnya Fase – 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya menurut hasil belajar individu maupun kelompok

Menurut Slavin, terdapat berbagai macam model pembelajaran kooperatif (cooperative learning), diantaranya adalah:

1) STAD (Student Teams Achievement Division) 2) JIGSAW II

3) Kelompok investigasi (Group Investigation) 4) TGT (Teams Games Tournament)

5) TAI (Team Accelerated Instruction)

6) CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)10

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif, yaitu model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).

c. Model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)

Model pembelajarn kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), atau pertandingan permainan tim dikembangkan secara asli

10 Robert E. Slavin, Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik, (bandung : Nusa Media, 2010), cet. VI., hlm.11.

(26)

12

oleh David De Vries dan Keath Edward. Pada model ini siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin untuk skor tim mereka.11

Pembelajaran kooperatif model TGT adalah suatu teknik yang sama seperti STAD kecuali satu hal, yaitu TGT menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, dimana para peserta didik berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota dari tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.12 Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 148 yang menjelaskan tentang perintah Allah SWT untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan.









































”Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. al – Baqarah/2 : 148).13

Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif meodel teams games tournament (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jwab, kerja sama, persaingan sehat, dan keterlibatan belajar. Setidaknya terdapat lima komponen utama dalam

teams games tournament (Slavin) yaitu :

11Robert E. Slavin, Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik, hlm. 13. 12 Robert E. Slavin, Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik, hlm.163-165. 13

(27)

13

1) Penyajian kelas (Class Presentation)

Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru, dan menjelaskan rambu-rambu permainan dan turnamen, serta memotivasi siswa dalam kerja kelompok untuk menjadi pemenang dalam game dan turnamen.

2) Kelompok (Teams)

Kelompok biasanya terdiri dar 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin, dan ras atau etnik. anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal saat game.

3) Permainan (Games)

Game terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang kontennya relevan yang dirancang untuk menguji pengeatahuan siswa yang diperolehnya saat presentasi di kelas dan pelaksanaan kerja tim. Game tersebut dimainkan di atas meja dengan tiga orang siswa, yang masing-masing mewakili tim yang berbeda.

4) Turnamen (Tournament)

Turnamen adalah sebuah struktur di mana game berlangsung. Biasanya berlangsung pada akhir minggu setelah guru memberikan presentasi kelas dan tim telah melaksanakan kerja kelompok terhadap lembar kegiatan.

Pada waktu turnamen, guru menunjuk siswa untuk berada pada meja turnamen. Tiga siswa berprestasi tinggi sebelumnya pada meja 1, tiga berikutnya pada meja 2, dan seterusnya.

Penempatan siswa dalam meja turnamen dapat dilihat seperti bagan 2.1 di bawah ini:

A-1 A2 A-3 A-4 Tinggi sedang sedang rendah

Meja Turnamen 1 Meja Turnamen 2 Meja Turnamen 3 Meja Turnamen 4 B-1 B-2 B-3 B-4 Tinggi sedang sedang rendah

C-1 C-2 C-3 C-4 Tinggi sedang sedang rendah

(28)

14

5) Penghargaan kelompok (Teams Recognize )

Ada tiga macam tingkatan penghargaan yang deberikan. Ketiganya didasarkan pada rata-rata skor tim, sebagai berikut:

Kriteria (Rata-Rata Tim) 15

16 17

Penghargaan TIM BAIK

TIM SANGAT BAIK TIM SUPER

Kriteria ini merupakan satu rangkaian sehingga untuk menjadi tim sangat baik sebagian besar anggota tim harus memiliki skor di atas skor awal, dan untuk menjasi tim super sebagian besar anggota tim harus memiliki skor setidaknya sepuluh poin diatas skor dasar. Penghargaan bisa berupa pemberian ucapan selamat, sertifikat, maupun yang lainnya.14

Model pembelajaran kooperatif teams games tournament (TGT) ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari pembelajaran TGT antara lain:

a) Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas b) Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu

c) Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam

d) Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa e) Mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain f) Motivasi belajar lebih tinggi

g) Hasil belajar lebih baik

h) Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi Sedangkan kelemahan TGT adalah:

a) Bagi guru

(1). Sulitnya pengelompokan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis.

(2). Waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga melewati waktu yang sudah ditetapkan. b) Bagi siswa

Masih adanya siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada siswa lainnya. 15

14

Robert E. Slavin, Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik , hlm. 160-166. 15 Anatahime, “Model Pembelajaran Kooperatif Metode Teams Games Tournament (TGT)”, http://biologyeducationresearch.blogspot.com/2009/11/model-pembelajaran-kooperatif-metode.html, (05/02/2011 08.25 WIB)

(29)

15

2. Hasil Belajar

a. Pengertian Belajar

Islam sebagai rahmatal li al-‘alamin sangat mewajibkan umatnya untuk selalu belajar. Bahkan Allah mengawali menurunkan Al-Qur‟an sebagai pedoman hidup manusia dengan ayat yang memerintahkan rasul-Nya, Muhammad SAW., untuk membaca dan membaca (iqra’).16 Sebagaimana dalam surat al- „Alaq ayat 1-5.



















































1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang

menciptakan,

2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam

5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak

diketahuinya.(Q.S. al- „Alaq/ 96 : 1-5).

Sejak turunnya wahyu pertama kepada Muhammad SAW., Islam telah menekankan perintah untuk belajar. Ayat pertama juga menjadi bukti bahwa Al-Qur‟an memandang penting belajar agar manusia dapat memahami seluruh kejadian yang ada di sekitarnya, sehingga meningkatkan rasa syukur dan mengakui akan kebesaran Allah SWT.

Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Belajar dimulai sejak lahir sampai akhir hayat.kemampuan manusia untuk belajar merupakan

16 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta : Ar Ruzz Media, 2010), hlm.29.

(30)

16

karakteristik penting yang membedakan manusia dengan mahluk lain.17 Seperti dalam firman Allah SWT surat at Tiin ayat 4.















” Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” . (Q.S. at- Tiin /95 : 4)

Dalam Kamus Besar Indonesia, secara etimologis belajar memiliki arti ”berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi ini memliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu, sehingga dengan belajar manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu.18

Dalam belajar selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar, apakah itu mengarah kepada yang lebih baik ataupun yang kurang baik, direncanakan atau tidak. Hal lain yang selalu terikat dalam belajar adalah pengalaman yang berbentuk interaksi dengan orang lain atau lingkungannya.19

Unsur perubahan dan pengalaman hampir selalu ditekankan dalam definisi tentang belajar yang dikemukakan oleh beberapa pakar pendidikan.

17

Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran. 18 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran. hlm.13. 19 Nana Syaodih Sukmadinata,Landasan Psikologi Proses Pendidikan, ,( Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2009),hlm.155.

(31)

17

1) Gagne

Belajar adalah kecenderungan perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang yang Dapat dipertahankan selama proses pertumbuhan melalui aktivitas.20

2) Howard L. Kingsleny

Learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed trough practice or training (Belajar adalah

proses ketika tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktik atau latihan).21

3) Cronbach

Learning is shown by a change in behavior as a result of

experience.22 (Belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman)

4) Morgan

Learning is any relatively permanent change in behavior that is a result of past experience. (Belajar adalah perubahan perilaku yang

bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman).

5) Syekh Abdul Aziz dalam kitab At-Tarbiyatul wa Thuruqut Tadris mendenifisikan belajar sebagai berikut:

.

“Belajar adalah merupakan perubahan tingkah laku pada hati (jiwa) si pelajar berdasarkan yang sudah dimiliki menuju perubahan baru”.

20 Yatim Riyanto, Paradigm Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi Bagi Guru/Pendidik Dalam Implementasi Pembelajaran Yang Efektif dan Berkualitas, hlm.4.

21 Baharuddin, Pendidikan & Psikologi Perkembangan, (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2010), Cet. 2., hlm.162.

22

Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Raja Gravindo Persada, 2008), hlm. 231.

23 Sholeh Abdul Aziz, Abdul Aziz Abdul Majid, At-Tarbiyah wa Turuqu al-Tadris, Juz 1, (Mekkah: Darul Ma‟arif, t.t.), hlm. 169.

(32)

18

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar adalah proses perubahan tingkah laku melalui aktivitas atau pengalaman. Yang memiliki beberapa ciri yang dapat membawa perubahan bagi si pelaku, baik perubahan pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Antara lain:

a) Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change

behavior)

b) Perubahan perilaku relative permanent.

c) Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar berlangsung.

d) Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman. e) Pengalaman atau latihan dapat diberikan penguatan.24

b. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Menurut Agus Suprijono, hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, milai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan.25 Merujuk pemikiran Gagne yang dikutip Aunurrahman, menyimpulkan ada lima macam hasil belajar yaitu:

1) Informasi verbal

Yaitu kemampuan mendeskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasi-informasi yang relevan.

2) Keterampilan intelektual

Yaitu kemampuan mempresentasikan konsep atau lambang yang terdiri dari kemampuan mengkatagorisasi, analisis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan.

3) Strategi kognitif

Kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah baru dengan jalan mengatur proses internal masing-masing individu dalam memperhatikan, belajar, mengingat, dan berfikir.

4) Keterampilan motorik

Kemampuan untuk melakukan dan mengkoordinasikan serangkaian gerakan-gerakan jasmani yang berhubungan dengan otot.

24 Bahruddin, Pendidikan & Psikologi Perkembangan.

25 Agus Suprijono, cooperative learning, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2010), cet.3., hlm.5.

(33)

19

5) Sikap

Kemampuan internal yang mempengaruhi tingkah laku seseorang yang didasari oleh emosi, kepercayaan serta faktor intelektual.26

Sedangkan menurut Bloom dkk, mengkatagorikan hasil belajar ke dalam tiga ranah yaitu : ranah kognitif, terdiri dari enam jenis perilaku (pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, evaluasi), Ranah afektif terdiri dari lima jenis perilaku (penerimaan, sambutan, penilaian, organisasi, karakterisasi), dan ranah psikomotor terdiri dari tujuh perilaku atau kemampuan motorik (persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan, kreativitas).27

c. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dalam proses belajar individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar.

1) Faktor internal

a) Faktor biologis (jasmaniah)

Bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Kondisi fisik mencakup kelengkapan dan kesehatan indra penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan pencecapan.

b) Faktor psikologis

Mencakup kndisi kesehatan psikis, kecerdasan, bakat, dan kemauan.28

26 Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung : ALFABETA, 2009), cet.3., hlm.47.

27

Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2009), cet.6., hlm. 78.

28

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2004), cet.2., hlm. 138.

(34)

20

2) Faktor eksternal

a) Lingkungan keluarga

Mencakup suasana lingkungan rumah yang cukup tenang, cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, keadaan ekonomi keluarga.

b) Lingkungan sekolah

Mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, pelajaran, waktu sekolah, tata tertib atau disiplin yang ditegakkan secara konsekuen dan konsisten.

c) Lingkungan masyarakat

Mencakup kegiatan siswa dalam measyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.29

Sedangkan menurut Syaikh Ibrahim bin Isma‟il, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dalam kitab Ta‟lim Muta'allim ada 6 yaitu:

ﻢﻠﻌﻠ ﺍ ﻞ ﺎﻧﺘ ﻻﻻﺍ

ﺔﺘﺴﺒ ﻻ

#

ﻦﺎﻴﺑﺑ ﺎﻬﻋﻮﻤﺟﻤﻦﻋ ﻚﺒﻨ ﺄﺴ

ﺮ ﺎﺑﻄﺻ ﺍﻮ ﺺﺮﺤﻮ ﺀﺎﻛ ﺫ

ﺔﻐﻠﺒﻮ

#

ﻦ ﺎﻣﺯ ﻝﻮﻄﻮ ﺫﺎﺗﺳﺍ ﺪ ﺎﺸﺮﺍﻮ

“(Ingatlah, kamu tidak akan berhasil dalam memperoleh ilmu, kecuali dengan 6 perkara yang akan dijelaskan kepadamu secara ringkas, yaitu kecerdasan, cinta kepada ilmu, kesabaran, biaya cukup, petunjuk guru, dan masa yang lama)”.31

Jadi dapat di ketahui bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar seseorang. Antara lain adalah kesehatan jasmani, psikis, keluarga, lingkungan sekitar, sekolah, dan lain-lain.

29 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, (Jakarta : Rineka Cipta, 2010), cet.5., hlm. 60-72.

30

Ibrahim bin Isma‟il, Syarah Ta’lim Muta’allim, (Surabaya : Al Hidayah), hlm. 15. 31 Az Zarnuji, Pedoman Belajar Bagi Pelajar dan Santri, (Surabaya : Al- Hidayah, 2000), hlm. 21.

(35)

21

3. Materi Gerak pada Tumbuhan

Hewan dan manusia sebagai mahluk hidup memiliki ciri bebas bergerak dan mampu menanggapi rangsang, karena keduanya memiliki sistem saraf. Sedangkan tumbuhan tidak memiliki system saraf, tetapi dapat menerima dan menanggapi rangsang yang diterimanya. Dengan kata lain, tumbuhan memiliki kepekaan terhadap rangsangan yang disebut iritabilitas.

Menurut Wolfgang Haupt dan Mary Ella dalam kutipan Frank B Salisbury dan Cleon W Ross, rangsangan selalu bekerja pada sistem mesin yang menjadi bagian tumbuhan, dan bagian yang menerima rangsangan (reseptor). Setelah rangsangan diterima, kemudian diubah (transduksi) menjadi bentuk lain, yang kemudian diteruskan menjadi suatu respon motor. Hal itulah yang menyebabkan timbulnya gerak pada tumbuhan.32 Sebagaimana dalam firman Allah SWT pada surat Ar-Rahman ayat 6.









“Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada nya.” (Q.S. ar- Rahman/55 : 6).

Dari ayat tersebut, dapat diketahui bahwa tidak hanya hewan dan manusia yang dapat bergerak, tetapi tumbuh-tumbuhan juga dapat bergerak.

Para ahli membedakan gerak pada tumbuhan berdasarkan sumber rangsangan. Jika gerak tumbuhan terjadi bukan karena rangsangan dari luar atau rangsangan itu bersaal dari dalam tumbuhan, disebut dengan gerak endonom sedangkan gerak tumbuhan yang disebabkan oleh adanya rangsang dari luar disebut dengan gerak etionom. 33

32 Frank B Salisbury & Cleon W Ross, Fisiologi Tumbuhan, (Bandung : ITB, 1995),jil.3., hlm.97.

33

(36)

22

a. Gerak Etionom atau Esionom

Gerak etionom merupakan reaksi gerak tunbuhan yang disebabkan oleh adanya rangsangan dari luar. Berdasarkan hubungan antara arah respon gerakan dengan arah asal rangsangan, gerak etionom dapat dibedakan menjadi gerak tropisme, taksis, dan nasti.

1) Tropisme

Lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan tumbuhan. Tropisme berasal dari bahasa Yunani, tropos yang artinya “berputar”. Jadi pengertian tropisme adalah respon pertumbuhan yang menyebabkan pembengkokan organ tumbuhan yang utuh menuju atau menjauhi stimulus.34 Terdapat beberapa macam gerak tropisme, antara lain adalah:

a) Fototropisme (cahaya)

Fototropisme berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu phos yang berarti cahaya dan trope. Fototropisme adalah gerak sebagian tubuh tumbuhan karena rangsang cahaya. Rangsang cahaya umumnya cahaya matahari, sehingga gerak ini disebut juga gerak heliotropisme.

Dalam bukunya Sylvia S Mader, terdapat dua macam gerak fototropisme. ”The positive phototropisme of stems accour

because the cells on the shady side of the stem elongate, in contrast, curving away from light is called negative phototropisme”.35

Gambar 2.2.36 Fototropisme

34 Neil A. Campbell dkk, Biology, (Jakarta : Erlangga, 2003), Jil. 2, hlm. 389.

35 Sylvia S Mader, Biology, (Mc Graw Hill: Higher Education, 2007), Ed.9., hlm. 479. 36

Nur Hasyim, “Gerak Pada Tumbuhan”, Power Point (Semarang : 2010), Slide.16.

(37)

23

b) Geotropisme (gravitasi bumi)

Geotropisme adalah gerak sebagian tubuh tumbuhan karena pengaruh gaya tarik bumi (gravitasi). Gerak pertumbuhan ke arah menjauhi tarikan gravitasi bumi merupakan contoh dari geotropisme positif dan negatif. Contoh dari geotropisme negatif adalah gerakan akar menuju tanah. Sedangkan contoh dari geotropisme negatif adalah gerak tumbuh batang menjauhi tanah.

Gambar 2.3.37 Geotropisme/ Gravitropisme

c) Tigmotropisme (persinggungan atau sentuhan)

Menurut Jaffe dan Galston dalam kutipan Frank B Salisbury dan Cleon W Ross mengemukakan bahwa tigmotropisme merupakan respon terhadap sentuhan benda padat, yaitu dengan merambatnya tumbuhan mengelilingi sebuah tiang atau batang tumbuhan lain.38 Misalnya gerak membelit ujung batang maupun sulur dari Curcubitaceae, misalnya ketimun. Contoh tanaman lain yang bersulur adalah melon (Cucumis melo L), semangka ( Citrullus lanatus ), ercis (Pisum sativum), dan lain-lain.

37Nur Hasyim, “Gerak Pada Tumbuhan”, Power Point (Semarang : 2010), slide.10. 38

(38)

24

Gambar 2.4.

Ercis (Pisum sativum)39 Semangka (Citrullus lanatus)40

d) Hidrotropisme (air)

Hidrotropisme adalah gerak bagian tumbuhan karena pengaruh rangsangan air (hidro = air). Jika rangsangan itu mendeakati air, disebut hidrotropisme positif. Misalnya akar tanaman tumbuh bergerak menuju tempat yang banyak airnya. Sedangkan jika rangsangan itu menjauhi air, disebut hidrotropisme negative. Misalnya gerak pucuk batang tumbuhan yang tumbuh keatas menjauhi air.

Gambar 2.5.41

( Pertumbuhan akar umumnya menuju ke sumber air)

39 http://id.wikipedia.org/wiki/Ercis (24/03/2011 10.00 WIB) 40http://id.wikipedia.org/wiki/Semangka (20/12/11 09.45 WIB)

41

Nur Hasyim, “Gerak Pada Tumbuhan”, Power Point (Semarang : 2010), Slide.11.

Air Air

(39)

25

e) Kemotropisme (zat kimia)

Kemotropisme adalah gerak bagian tumbuhan karena pengaruh rangsangan zat kimia. Contohnya adalah gerak pertumbuhan buluh serbuk sari menuju bakal buah saat berlangsungnya pembuahan.42

2) Taksis

Taksis adalah gerak pindah tempat seluruh tubuh atau sebagian tumbuhan menuju atau menjauhi rangsangan.43 Berdasarkan macam rangsang penyebabnya, taksis dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:

a) Fototaksis (cahaya)

Gerak pindah tempat tumbuhan atau sebagian tumbuhan karena pengaruh cahaya. Contohnya adalah gerak klorofil ke sisi sel yang terkena cahaya dalam proses fotosintesis.

b) Kemotaksis (zat kimia)

Gerak pindah tempat tumbuhan atau sebagian tumbuhan karena pengaruh zat kimia. Contohnya adalah gerak spermatozoid ke arkegonium pada lumut.44

3) Nasti

Nasti adalah gerak bagian tumbuhan karena rangsangan dari luar, tetapi gerakannya tidak dipengaruhi oleh arah datangnya rangsangan.45 Terdapat beberapa macam gerak nasti, antara lain:

42 Arinto Nugroho, Biology 2, (Jakarta : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2010), hlm.190.

43

Frank B Salisbury, Fisiologi Tumbuahan, hlm.107. 44 Arinto Nugroho, Biology 2, hlm. 195.

45

(40)

26

a) Fotonasti (cahaya)

Adalah gerak nasti yang disebabkan oleh rangsangan cahaya. Misalnya adalah gerakan mekarnya bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) di sore hari.

Gambar 2.6. 46 Bunga Mirabilis jalapa

b) Niktinasti (suasana gelap)

Adalah gerak nasti yang disebabkan oleh suasana gelap, sehingga disebut gerak tidur. Misalnya, gerak menutupnya daun lamtoro (Leucaena leucocephala) di malam hari.

Gambar 2.7.47

Daun lamtoro (Leucaena leucocephala) c) Tigmonasti atau seismonasti (sentuhan atau getaran)

Adalah gerak nasti yang disebabkan oleh rangsang sentuhan atau getaran. Contohnya gerak menutupnya daun putrid malu (Mimosa pudica) jika disentuh.

46http://www.ettylist.wordpress.com gerak pada tumbuhan (20/12/2011 10.58 WIB)

47

(41)

27

Gambar 2.8.48 Daun Mimosa pudica

d) Termonasti (suhu)

Adalah gerak nasti yang disebabkan oleh rangsang suhu, seperti mekarnya bunga tulip (Tulipa praestans) pada musim tertentu.

Gambar 2.9.49

Bunga tulip (Tulip praestans) e) Haptonasti (sentuhan serangga)

Adalah gerak nasti yang terjadi pada tumbuhan insektivor yang disebabkan oleh sentuhan serangga. Daun pada tumbuhan insektivor, misalnya sejenis tumbuhan perangkap lalat (Venus flytrop) dan kantong semar (Nepenthes).

48http://www.ettylist.wordpress.com gerak pada tumbuhan (20/12/2011 10.58 WIB)

49

(42)

28

Gambar 2.10.50

Tumbuhan kantong semar (Nepenthes)

f) Hidronasti (air)

Adalah gerak yang terjadi terhadap keadaan air. Conto gerak menggulungnya daun padi (Oryza sativa) dan daun sere (Cymbopogon nardus), jika keadaan kurang air.

g) Nasti Kompleks

Adalah gerak nasti yang disebabkan oleh beberapa factor, misalnya cahaya, suhu, kelembapan atau air, dan zat kimia. Contoh dari gerak nasti kompleks adalah gerak membuka dan menutupnya stomata pada daun.

Gambar 2.11.51

Membuka dan Menutupnya Stomata

50http://id.wikipedia.org/wiki/Kantong_semar (20/12/2011 10.10 WIB)

51

(43)

29

b. Gerak Endonom

Gerak endonom merupakan gerak tumbuhan yang disebabkan oleh rangsangan atau faktor-faktor dari dalam tubuh tumbuhan itu sendiri. Gerak ini dikenal sebagai gerak spontan karena tumbuhan melakukan gerak secara spontan, tanpa adanya pengaruh rangsangan dari luar. Gerak endonom yang paling umum adalah nutasi, yaitu gerak ujung batang yang sedang tumbuh atau organ lain seperti daun, akar, stolon, tangkai bunga. Contoh lainnya adalah gerak rotasi sitoplasma pada sel-sel daun Hydrilla verticillata yang dapat dideteksi dari gerak sirkulasi klorofil di dalam sel.52

Gambar 2.12.53

Gerakan klorofil sel Hydilla verticillata

C. Rumusan Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.54

Sehubungan dengan pengertian hipotesis tersebut, maka hipotesis yang penulis atau peneliti ajukan adalah : “Penerapan model pembelajaran

52

TIM MGMP IPA SMP Kota Semarang, LKS IPA BIOLOGI VII, hlm. 29. 53 Nur Hasyim, “Gerak Pada Tumbuhan”, Power Point (Semarang : 2010), slide.6. 54 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D, (Bandung: Alfabeta. 2008), hlm 64.

(44)

30

teams games tournament (TGT) efektif dalam meningkatkan hasil belajar

siswa kelas VIII SMP Hasanuddin 6 Semarang pada kompetensi dasar gerak pada tumbuhan”.

(45)

31

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen, yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol.1 Sehingga peneliti membagi subjek atau objek yang diteliti menjadi dua grup, yaitu grup treatment (yang memperoleh perlakuan), dan grup kontrol yang tidak memperoleh perlakuan, sehingga akan diketahui hubungan kausal sebab dan akibatnya. Bentuk eksperimen dalam penelitian ini adalah true experimental design (Eksperimental betul-betul) dengan jenis Posttest Control Group Design.

Dalam bentuk ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R), kelompok pertama diberi perlakuan (X) disebut kelompok eksperimen, dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelas kontrol.2

Selanjutnya dalam proses belajar mengajar, kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran

teams games tournament (TGT), sedangkan pada kelas kontrol tidak diberi

perlakuan atau pembelajaran menggunakan metode ceramah. Setelah proses belajar mengajar berlangsung, kedua kelompok eksperimen dan kontrol akan diukur kembali dengan diberikan posttest, hasil dari posttest inilah yang akan menjawab, apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Desain penelitian dapat diperjelas pada Tabel 3.1 sebagai berikut :

1

M. Nazir, Metode Penelitian, (Bogor Ghalia Indonesia ,2005 ), hlm. 63.

2 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006) hlm. 75-74

(46)

32

Tabel 3.1. Desain Penelitian Eksperimen.3 Kelas Variabel Posstest

Eksperimen (R)

Kontrol (R)

X O 2

O 4

Keterangan:

O2 = nilai posttest yang diberi perlakuan.

O4 = nilai posttest yang tidak diberi perlakuan.

Dalam penelitian ini, dapat di katakan efektif jika kelas eksperimen atau yang menggunakan model pembelajaran teams games tournament (TGT) nilai posstestnya lebih baik daripada kelas kontrol atau kelas yang tidak diberi perlakuan (menggunakan metode ceramah).

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Waktu penelitian

Waktu penelitiannya adalah semester genap pada tanggal 10 Maret 2011 sampai 4 April 2011 .

2. Tempat Penelitian

Adapun tempat penelitiannya adalah di SMP Hasanuddin 6 Desa Tugurejo Kecamatan Tugu Kabupaten Semarang.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti yang dipelajari kemudian ditarik kesimpulan.4

3 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008),hlm. 112.

4

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, hlm.117.

(47)

33

Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII SMP Hasanudin 6 Semarang tahun ajaran 2010/2011.

Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.5 Sampel dalam penelitian ini diambil secara sampling purposive. Karena dalam pengambilan sampel dari populasi dilakukan pertimbangan tertentu .6 Sehingga didapatkan 3 kelas sebagai sampel penelitian, penentuan kelas uji coba instrumen, kelas kontrol dan eksperimen ditentukan secara acak. Dalam penelitian ini kelas VIII C sebagai kelas eksperimen, kelas VIII B sebagai kelas kontrol dan kelas VIII A sebagai kelas uji coba instrument karena sudah menerima materi tersebut.

D. Variabel Penelitian

Variabel adalah suatu atribut, sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.7 Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable).

1. Variabel bebas (independent variable)

Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen.8 Dalam hal in variabel bebasnya adalah: pembelajaran dengan menggunakan model teams games tournament (TGT), dengan indikator variabel bebas pembelajaran dengan menggunakan model

teams games tournament (TGT).

5 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, hlm. 131. 6

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, hlm. 124

7 Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta. 2005), hlm.3. 8

(48)

34

2. Variabel terikat (dependent variable)

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas(independent

variable).9 Dalam hal ini variabel terikatnya adalah: hasil belajar biologi pada siswa kelas VIII SMP Hasanuddin 6 Semarang, dengan indikator : nilai hasil ulangan biologi kompetensi dasar gerak pada tumbuhan.

E. Pengumpulan Data Penelitian

Pengumpulan data adalah suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian yang tersusun sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Pengumpulan data digunakan untuk memperoleh informasi yang mencakup seluruh unit yang menjadi objek penelitian. Tujuan pengumpulan data adalah untuk mengetahui jumlah elemen atau objekyang diselidiki dan karakteristik dari elemen-elemen tersebut yang meliputi semua keterangan mengenai ciri-ciri atau hal-hal yang dimilki oleh elemen tersebut.10 Dalam teknik pengumpulan data ini yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu melalui:

1. Metode Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.11 Metode ini digunakan untuk mengamati proses pelaksanaan model pembelajaran TGT yang akan diterapkan selama proses pembelajaran pada kelas eksperimen.

2. Metode Tes

Tes yaitu serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi,

9

Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, hlm. 3. 10 Moh. Nazir, Metode Penelitian, hlm. 174. 11

S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), hlm.158

Figur

Tabel 2.1 Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Tabel 2.1

Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif p.24
Tabel 4.5. Sumber Data Perhitungan Varians   Sumber variasi  Eksperimen  Kontrol

Tabel 4.5.

Sumber Data Perhitungan Varians Sumber variasi Eksperimen Kontrol p.63
Gambar tersebut menunjukkan  contoh dari gerak….

Gambar tersebut

menunjukkan contoh dari gerak…. p.102
Gambar tersebut menunjukkan  contoh dari gerak….

Gambar tersebut

menunjukkan contoh dari gerak…. p.110
Related subjects :