PEMBUATAN ALAT PRAKTIKUM
PENENTUAN MOMEN GAYA (TORSI)
Eksperimen Fisika II Oleh :
Dwi Iswara
Distributed by : Pakgurufisika
www.pakgurufisika.blogspot.com
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Fisika adalah ilmu pengetahuan yang paling mendasar, karena berhubungan dengan perilaku dan struktur benda (Giancoli, 2001: 1). Fisika mempelajari tentang materi atau zat yang meliputi sifat fisis, komposisi, perubahan, dan energi yang dihasilkan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat saat ini tidak lepas dari Fisika sebagai ilmu dasar. Selain itu, konsep-konsep Fisika akan membantu memahami ilmu lainnya, seperti Kimia, Ilmu Kedokteran, Teknologi Industri, Teknologi Manufaktur, dan Teknologi Informasi.
Mengingat begitu pentingnya peranan Fisika, sudah semestinya ilmu ini dipahami dengan baik oleh peserta didik. Upaya peserta didik dalam menguasai konsep Fisika sering menemui hambatan-hambatan. Sebagian peserta didik menganggap mata pelajaran Fisika sebagai mata pelajaran yang sulit. Hal ini disebabkan Fisika banyak tersusun dari konsep-konsep yang bersifat abstrak yang banyak menuntut intelektualitas yang relatif tinggi. Menurut beberapa penelitian, apabila konsep-konsep yang bersifat abstrak dapat dibuat konkret maka proses pembelajaran Fisika akan menjadi lebih menarik dan mudah dipahami.
2 Salah satu materi Fisika yang jarang dipraktikumkan adalah pembuktian syarat kesetimbangan benda tegar. Untuk itu penulis merancang alat untuk membuktikan syarat kesetimbangan benda tegar dan menulis Makalah ini sebagai sarana atau media pembelajaran Fisika yang digunakan untuk praktikum dan disesuaikan dengan keadaan dan dikontrol dengan sebaik-baiknya sehingga proses dan hasilnya dapat diamati dan diukur. Hasil pengukuran itu diolah untuk menarik kesimpulan apakah suatu teori memiliki kebenaran sesuai atau tidak dengan gejala alam.
Pada Makalah Eksperimen Fisika II ini penulis akan menjelaskan tentang kesetimbangan benda tegar berdasarkan pengamatan dan praktikum.Sistem kerja alat ini akan menunjukkan hubungan antara momen gaya , besar gaya dan jarak titik tumpu ke gaya.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis mengambil judul Eksperimen Fisika II ”RANCANG BANGUN ALAT KESETIMBANGAN BENDA TEGAR”.
A. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :
1. Fisika merupakan ilmu pengetahuan yang paling mendasar, karena berhubungan dengan perilaku dan struktur benda.
2. Peranan Fisika bagi ilmu yang lain sangatlah penting, sehingga Fisika perlu dipelajari terutama konsep.
B. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah, penulis membatasi permasalahan yang akan dibahas pada Makalah Eksperimen Fisika II, sebagai berikut :
1. Materi yang akan dibuat dalam Eksperimen Fisika II adalah Momen Gaya. 2. Pembuktian Momen Gaya tersebut terbatas pada rumus:
𝜏=𝑟 𝐹 𝑠𝑖𝑛 𝜃 dengan:
𝜏 = besarnya momen gaya, F = besarnya gaya,
r : panjang lengan
𝜃 : sudut yang dibentuk oleh lengan terhadap lengan gaya.
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah rancangan alat yang digunakan untuk membuktikan syarat kesetimbangan benda tegar?
2. Bagaimana cara membuktikan syarat keseimbangan benda tegar dengan variasi beban dan posisi beban yang dibentuk ?
D. Tujuan
Dari perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan tujuan sebagai berikut:
1. Merancang suatu alat yang digunakan untuk membuktikan syarat kesetimbanagan benda tegar
4 E. Manfaat
Hasil penelitian Eksperimen Fisika II ini diharapkan dapat: 1. Menambah alat praktikum Fisika Dasar di Laboratorium Fisika Dasar
2. Memberikan pengetahuan kepada siswa, guru dan dosen mengenai suatu alat yang dapat digunakan untuk membuktikan syrat kesetimbangan benda tegar. 3. Mengaplikasikan teori dan konsep Fisika ke dalam kehidupan sehari-hari
5 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Vektor
Ada beberapa besaran fisis yang cukup hanya dinyatakan dengan suatu angka dan satuan yang menyatakan besarnya saja. Ada juga besaran fisis yang tidak cukup hanya dinyatakan dengan besarnya saja, tetapi harus juga diberikan penjelasan tentang arahnya.
a. Besaran skalar :
Besaran skalar adalah besaran fisis yang hanya memiliki besar (kuantitas) saja atau satu dimensi yaitu nilai. Tidak diperlukan sistem koordinat dalam besaran scalar. Contoh besaran skalar : waktu, suhu, volume, laju, energi, usaha dll. b. Besaran vektor :
Besaran vektor adalah besaran fisis yang mempunyai besar (kuantitas) dan arah (memiliki dua pengertian meliputi nilai dan arah) Contoh besaran vektor didalam Fisika adalah: kecepatan, percepatan, gaya, perpindahan, momentum dan lain-lain. Untuk menyatakan arah vektor diperlukan sistem koordinat.
c. Penggambaran, penulisan (notasi) vektor
Sebuah vektor digambarkan dengan sebuah anak panah yang terdiri dari pangkal (titik tangkap), ujung dan panjang anak panah. Panjang anak panah menyatakan nilai dari vektor dan arah panah menunjukkan arah vektor.Pada gambar (2.1) digambar vektor dengan titik pangkalnya A, titik ujungnya B serta sesuai arah panah dan nilai vektornya sebesar panjang
dengan:
Titik A : titik pangkal (titik tangkap) Titik B : ujung
Panjang AB : nilai (besarnya) vektor tersebut = | 𝐴𝐵|
6 Notasi (simbol) sebuah vektor dapat juga berupa huruf besar atau huruf kecil, biasanya berupa huruf tebal, atau berupa huruf yang diberi tanda panah di atasnya atau huruf miring.
Contoh:
Vektor A →(Berhuruf tebal)
Vektor𝐴 → (Huruf dengan tanda panah di atasnya) Vektor A → (Huruf miring)
2. Perkalian Vektor
Untuk operasi perkalian dua buah vektor, ada dua macam operasi yaitu: a. Perkalian skalar dan vektor
Sebuah besaran skalar dengan nilai sebesar k, dapat dikalikan dengan sebuah vektor A yang hasilnya sebuah vektor baru C yang nilainya sama dengan nilai k dikali nilai A. Jika nilai k positif, maka arah C searah dengan A dan jika nilai k bertanda negatif, maka arah C berlawanan dengan arah A. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:
𝐶 = k 𝐴 b. Perkalian vektor dengan vektor
Ada dua jenis perkalian antara vektor dengan vektor. Pertama disebut perkalian titik (dot product) yang menghsilkan besaran skalar dan kedua disebut perkalian silang (cross product) yang menghasilkan besaran vektor.
1) Perkalian titik (dot product) antara dua buah vektor 𝐴 dan 𝐵 menghasilkan C, didefinisikan secara matematis sebagai berikut
𝐴 .𝐵 = C dengan :
𝐴 dan 𝐵 adalah besaran vektor sedangkan C adalah besaran skalar.
Gambar 2.1 Perkalian Titik (Dot Product) 𝐴
𝐵 𝜃
Berdasarkan gambar besarnya C didefinisikan sebagai : 𝐶 = 𝐴.𝐵𝑐𝑜𝑠𝜃
dengan :
A = | 𝐴| : besarnya vektor 𝐴 B = | 𝐵| : besarnya vektor 𝐵
𝜃 : sudut antara vektor 𝐴 dan vektor 𝐵 2) Perkalian silang (cross product)
Perkalian silang (cross product) antara dua buah vektor A dan B akan menghasilkan C, didefinisikan sebagai berikut:
𝐴 ×𝐵 =𝐶 𝐶 = 𝐴 𝐵 𝑠𝑖𝑛𝜃 n 𝐶 =𝐴.𝐵𝑠𝑖𝑛𝜃 dengan:
A = | 𝐴| : besarnya vektor 𝐴 B = | 𝐵| : besarnya vektor 𝐵 C = | 𝐶| : besarnya vektor 𝐶
𝜃 : sudut antara vektor 𝐴 dan vektor 𝐵 n : vektor satuan
Perkalian silang dua buah vektor dapat ditunjukkan pada Gambar 2.2.
Gambar 2.2 Perkalian Vektor (Cross Product)
3. Perkalian Tiga Buah Vektor (Triple Product)
Triple product adalah istilah yang digunakan untuk operasi perkalian tiga buah vektor. Ada dua macam triple product yaitu yang menghasilkan skalar (triple
𝐵
0 𝜃
𝐶
8
scalar product ) dan yang menghasilkan vektor (triple vector product ). Triple scalar product dinyatakan sebagai:
𝐴 𝐵 ×𝐶 =𝐴 𝑥 (𝐵 ×𝐶 )𝑥 +𝐴 𝑦 (𝐵 ×𝐶 )𝑦 +𝐴 𝑧 (𝐵 ×𝐶 )𝑧
Triple scalar product secara geometris menyatakan volume
parallelepiped yang dibentuk oleh vektor-vektor A, B dan C, sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 2.3, Konsep triple scalar product banyak dijumpai pada persoalan crystallography. Sedangkan triple vector product dinyatakan dengan:
𝐴 × (𝐵 ×𝐶 ) = 𝐴 𝐶 𝐵 − 𝐴 𝐵 𝐶
Gambar 2.3 Interpretasi Geometris Dari Triple Product
4. Benda Tegar
Benda tegar dipandang sebagai kelompok (sistem) partikel dengan posisi tiap partikelnya relatif tetap walaupun mereka dikenai gaya. Dengan demikian, benda tegar didefinisikan sebagai sistem partikel dengan jarak antar posisi partikel selalu tetap. Benda tegar dipertahankan oleh gaya internal yang disebut gaya pengendali (constraint). Posisi partikel benda tegar seolah-olah terhubung oleh batang-batang tanpa berat (diasumsikan massanya hanya massa partikelnya saja). Gerakan benda tegar bentuknya tetap dan dapat dianggap sebagai benda tunggal, yaitu sebagai gerak pusat massa benda tersebut. Benda tegar umumnya berupa benda padat. (Trustho Raharjo, Y. Radiyono. 2008 : 187)
5. Gerak Benda Tegar
Gerak benda tegar ada dua macam, yaitu gerak translasi dan gerak rotasi. (Trustho Raharjo, Y. Radiyono. 2008 : 187)
a. Gerak Translasi
Benda tegar bergerak translasi jika posisi dua partikel penyusun benda selalu sejajar terhadap lintasannya. Dalam gerak translasi berlaku hukum Newton tentang gerak.
F =
dt p d
=
dt v m d
=
dt v d m v dt dm
Karena m konstan maka, 𝑑𝑚
𝑑𝑡 = 0
Sehingga,
𝐹 = 0 +𝑚𝑑𝑣 𝑑𝑡
𝐹 = 𝑚𝑑𝑡𝑑 𝑣
dengan :
𝐹 : gaya
m : massa benda
v dtd
: perubahan kecepatan tiap satuan waktu
10
Gambar 2.4. Gerak Translasi b. Gerak Rotasi
Benda tegar bergerak rotasi jika semua partikel penyusun benda melakukan gerak melingkar terhadap titik tertentu. Titik tersebut posisinya tetap dan disebut pusat lingkaran. Dalam gerak rotasi juga berlaku formula hukum Newton .
L = rp
= r
mv= m
r
r
= m
rr - r r
Nilai
r r
= 0, karena r tegak lurus dengan , sehingga
r 0. Selain itu, nilai
rr r2, maka:L = mr2
=
dt d r m 2
Karena 2
mr
I , maka:
L = I
= 2
r m
=
dt d r m 2
Momentum sudut diturunkan terhadap t , maka,
dt L d
=
dt d r m dt
d 2
0
v
v
dt d r m dt d m dt dr dt d r dt
dm 2 2
2
2
Karena m dan r konstan, maka,
dt L d
= 2
r m
Karena 2 r m
, maka:
𝜏 = 𝑑
𝑑𝑡 𝐿 dengan :
L : momentum sudut
m : massa benda
r : lengan momen
: percepatan sudut τ : momen gaya
Semua partikel bergerak dengan kecepatan sudut yang sama terhadap sumbu tertentu.
Gambar 2.5. Gerak Rotasi 6. Momen Gaya
Gaya yang bekerja pada benda akan menimbulkan suatu efek gerakan. Besar dan arah efek yang ditimbulkan oleh gaya pada suatu benda bergantung pada letak garis kerja gaya tersebut. Contohnya adalah pada gambar 2.6 Gaya 𝐹 l akan menimbulkan gerakan rotasi berlawanan dengan arah putaran jarum jam, dan gerakan translasi ke kanan. Adapun gaya 𝐹 2 akan menimbulkan gerakan rotasi searah dengan putaran jarum jam, dan gerakan translasi ke kanan.
0
v
12
Gambar 2.6. Ilustrasi Benda yang Diberi Gaya Berbeda
Untuk kedua contoh di atas, dapat dilihat bahwa disamping memiliki kecenderungan untuk menggerakkan benda searah dengan garis kerjanya, gaya juga memiliki kecenderungan untuk memutar (merotasikan) benda terhadap suatu sumbu. Kecenderungan merotasikan benda ini disebut sebagai momen dari gaya tersebut. Arah rotasi benda bergantung pada jarak titik tangkap gaya itu bekerja terhadap suatu sumbu, atau yang lebih dikenal dengan sebutan titik acuan. Hal terpenting untuk mempelajari gerak rotasi benda adalah memilih titik acuan.
Jika suatu gaya bekerja pada benda kaku yang berpusat pada sebuah sumbu, benda itu cenderung berotasi pada benda tersebut. Kecenderungan suatu gaya untuk merotasi sebuah benda terhadap sumbu tertentu diukur dengan besaran vektor yang disebut torsi. Secara matematis momen sebuah gaya dituliskan sebagai:
𝜏 = 𝑟 × 𝐹 𝜏 = 𝑟 ×𝑚𝑎
𝜏 = 𝑟 ×𝑚 𝑑𝑣 𝑑𝑡
𝜏 = 𝑚 𝑟 𝑑(𝜔 × 𝑟 ) 𝑑𝑡
𝜏 = 𝑚 𝑟 × 𝜔 × 𝑑𝑟
𝑑𝑡 + 𝑟 × 𝑑𝜔
𝑑𝑡
Karena
dt
r d
= 0, maka,
𝐹 2
𝜏 = 𝑚 𝑟 × 𝑟 ×𝑑𝜔 𝑑𝑡
𝜏 = 𝑚 𝑟 •𝑑𝜔
𝑑𝑡 𝑟 − (𝑟 • 𝑟 ) 𝑑𝜔
𝑑𝑡
Karena r tegak lurus dengan
dt d
, maka r
dt d r
= 0, sehingga:
𝜏 = 𝑚 − (𝑟 • 𝑟 )𝑑𝜔 𝑑𝑡 𝜏 = −𝑚𝑟2 ∝
𝜏 =−𝑚𝑟2 ∝ merupakan persamaan pada gerak melingkar dan hasil persamaan bisa negatif atau positif tergantung dengan arah putarannya. Persamaan momen gaya biasa ditulis sebagai berikut:
𝜏 =𝑟 × 𝐹 𝜏 =𝑟𝐹 𝑠𝑖𝑛 𝜃 n dengan :
τ : momen gaya (Nm)
𝐹 : gaya (N)
: sudut yang dibentuk oleh gaya dengan lengan gaya
r sin : lengan momen
n : normal satuan
Gaya dapat menyebabkan perubahan dalam gerak linier, seperti yang dijelaskan oleh Hukum II Newton. Gaya juga, dapat menyebabkan perubahan dalarn gerak rotasi, tetapi efektifitas gaya dalam menyebabkan perubahan tergantung pada gaya dan lengan momen. Gabungan inilah yang disebut torsi. Torsi memiliki satuan gaya kali panjang-newton.meter (N.m). (Serway, 2010: 465).
7. Aplikasi Momen Gaya
14 Tuas atau pengungkit adalah salah satu pesawat sederhana yang digunakan untuk mengubah efek atau hasil dari suatu gaya. Hal ini dimungkinkan terjadi dengan adanya sebuah batang ungkit dengan titik tumpu, titik gaya, dan titik beban yang divariasikan letaknya. Tuas dibuat dari sebatang benda yang keras (seperti balok kayu, batang bambu, atau batang logam) yang digunakan untuk mengangkat atau mencongkel benda.
Gambar 2.7. Tuas atau Pengungkit
Kalau kita akan mengangkat benda dengan menggunakan tuas, maka kita harus meletakkan benda di salah satu ujung pengungkit (tuas) kemudian memasang batu atau benda apa saja sebagai penumpu dekat dengan benda seperti pada gambar. Selanjutnya tangan kita memegang ujung batang pengungkit dan menekan batang pengungkit tersebut secara perlahan-lahan sampai benda dapat diangkat atau bergeser. Dengan menggunakan tuas semakin jauh jarak kuasa terhadap titik tumpu, maka semakin kecil gaya yang diperlukan untuk mengangkat beban,dari penjelasan diatas tuas termasuk salah satu aplikasi momen gaya dalam Fisika
B. Kerangka Berpikir
Segala sesuatu yang telah diketahui tentang dunia Fisika dan tentang prinsip yang mengatur sifat-sifat yang dipelajari melalui percobaan atau praktikum, yaitu dengan pengamatan terhadap gejala-gejala alam. Gejala-gejala alam yang sukar ditemukan, yang tidak bisa diamati dari dekat dan sulit diamati dengan indera mata, dibuat modelnya dalarn laboratorium. Kondisi-kondisinya diatur sedemikian hingga sesuai dengan gejala alam yang sebenamya serta proses dan hasilnya diamati atau diukur kemudian hasil pengukuran itu diolah. Dari hasil pengolahan
r
inilah dapat ditarik kesimpulan apakah suatu teori memiliki kebenaran sesuai dengan gejala alam atau tidak.
Untuk dapat memberikan penjelasan yang lebih baik mengenai praktikum "Momen Gaya" dapat digunakan bantuan praktikum.. Kerangka berfikir dari eksperimen ini dapat dilihat pada Gambar 2.8.
Gambar 2.8 Bagan Kerangka Berpikir τ = r F sinθ
Materi Fisika
Momen Gaya
Pembuatan Alat Praktikum Momen Gaya
Alat Praktikum Fisika Momen Gaya
Pengujian Alat Praktikum Fisika Momen Gaya
Materi Fisika Gerak Benda Tegar Materi Fisika
Vektor
16 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Bengkel Program Studi Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September tahun 2012.
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian mata kuliah Eksperimen Fisika II ini adalah metode eksperimen. Metode ekperimen ini ini untuk menunjukkan momen gaya, gaya, dan sudut dengan beban tertentu
C. Alat dan Bahan
Alat, bahan, beserta fungsinya yang digunakan dalam eksperimen penentuan besarnya momen gaya terdapat dalam Tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1 Alat, Bahan, dan Fungsi Alat Eksperimen Penentuan Besarnya Momen Gaya.
No. Nama Bahan Gambar Fungsi
a. Papan kayu Tempat merangkai alat.
b. Cakram derajat
c. Balok kayu Menunjukan besar sudut yang dibentuk.
d. Ruji motor Lengan gaya.
e. Neraca Pegas Mengukur besarnya gaya yang
dihasilkan benda
f. Benang Penghubung antara neraca pegas dengan lengan gaya
g. Katrol Mengurangi gaya gesek pada
benang
h. Pengait
beban Mengaitkan beban
i. Beban Variabel beban.
18
1. Desain Alat Penentuan Momen Gaya
Gambar 3.1 Desain Alat Penentuan Momen Gaya.
D. Prosedur Pembuatan Alat Praktikum
Langkah-langkah pembuatan alat praktikum untuk menentukan besarnya momen gaya (torsi) sebagai berikut :
1. Sediakan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan alat eksperimen penentuan besarnya momen gaya !
2. Merangkai papan kayu dengan balok kayu agar papan kayu berdiri horisontal dengan balok kayu sebagai tumpuan !
3. Melubangi papan kayu untuk tempat laker yang berfungsi memutar ruji sebagai lengan gaya!
4. Memasang laker tepat pada papan kayu yang sudah dilubangi!
5. Menempelkan cakram derajat pada papan kayu dengan lubang laker sebagai pusat cakram derajat
6. Memasang ruji pada papan kayu tepat pada laker yang sudah dipasang.
7. Memasang katrol sejajar horisontal sebelah kanan dengan jarak 15 cm dari ruji yang sudah dipasang horisotal !
8. Memasang neraca pegas sejajar vertikal sebelah atas dengan jarak 15 cm dari katrol yang sudah dipasang !
1
2 3
4
5
6 7
Keterangan : 1. Neraca Pegas 2. Katrol
3. Benang
9. Dari langkah diatas akan menghasilkan alat seperti gambar berikut.
Gambar 3.2 Alat Penentuan Momen Gaya
E. Prosedur Praktikum
Langkah-langkah praktikum untuk menentukan besarnya momen gaya (torsi) sebagai berikut :
1. Sediakan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk eksperimen penentuan besarnya momen gaya!
2. Susunlah alat seperti pada Gambar 3.2!
3. Pasang beban yang ditentukan pada pengait beban yang sudah dirangkai pada alat!
4. Amati sudut yang terbentuk oleh lengan gaya dengan melihat busur derajat dan besar gaya yang dihasilkan oleh beban dengan membaca pada neraca pegas yang terangkai di alat!
20
6. Catatlah hasil eksperimen dalam data pengamatan !
Tabel 3.2 Data Pengamatan Percobaan Penentuan Besarnya Momen Gaya
No. r (cm) m (gram) F (N) 𝜃 (°) γ =(90-θ) 1.
2. 3. 4. 5. dst.
7. Ulangi langkah 3-5 dengan beban yang berbeda! 8. Masukkan data pengamatan seperti pada Tabel 3.2!
F. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, teknik analisis data menggunakan standar deviasi berdasarkan data pengamatan kemudian dibandingkan secara teori dengan menggunakan perumusan Fisika. Analisis data percobaan dengan standar deviasi dan diferensial parsial, berdasarkan data pengamatan sebagai berikut :
1. Menetukan gaya yang diberikan beban pada lengan gaya.
a. Untuk menentukan besarnya gaya yang diberikan beban pada lengan dilakukan pengukuran berulang-ulang sehingga datanya dapat dicari dengan reratanya dengan menggunakan rumus :
dengan :
𝐹1,𝐹2,…,𝐹𝑛 = besarnya gaya yang diberikan beban pada
lengan gaya data ke-1,2,..n
(N)
F = besarnya gaya yang diberikan beban pada lengan gaya rata-rata
(N)
Σ 𝐹 = jumlah gaya yang diberikan beban pada lengan
gaya (N)
n = banyaknya data penelitian (N)
n F
n
F F F F
b. Selanjutnya menghitung simpangan dari pengukuran gaya yang diberikan beban pada lengan gaya dengan standar deviasi dengan menggunakan rumus berikut :
1
1 2 2
n
F F
n
n F
c. Menghitung kesalahan relatif pengukuran yaitu dengan perumusan sebagai berikut :
% 100
F F KR
d. Hasil pengukuran gaya yang diberikan beban pada lengan gaya yang dilaporkan:
F F
m2. Menentukan sudut yang dibentuk lengan gaya akibat diberi beban
a. Untuk sudut yang dibentuk lengan gaya akibat diberi beban dilakukan pengukuran berulang-ulang sehingga datanya dapat dicari dengan reratanya dengan menggunakan rumus :
n n
n
1 2 3...
dengan : 3 2 1, , . ..,
= sudut yang dibentuk lengan gaya akibat diberi beban data ke-1,2,..n
(0 ) = sudut yang dibentuk lengan gaya akibat diberi
beban rata-rata
(0 )
= jumlah sudut yang dibentuk lengan gaya akibatdiberi beban (°)
n = banyaknya data penelitian (°)
b. Selanjutnya menghitung simpangan dari pengukuran sudut yang dibentuk lengan gaya akibat diberi beban dengan standar deviasi dengan menggunakan rumus berikut :
1
1 2 2
n n
n
22
c. Menghitung kesalahan relatif pengukuran yaitu dengan perumusan sebagai berikut : % 100 KR
d. Hasil pengukuran simpangan dari pengukuran sudut yang dibentuk lengan gaya akibat diberi beban yang dilaporkan:
03. Menghitung besarnya momen gaya benda dengan perumusan:
a. Menghitung besarnya momen gaya yang diberi beban tertentu dengan perumusan :
rFsin dengan :
= besarnya momen gaya (Nm)
𝐹 = besarnya gaya (N)
r = lengan gaya (m)
𝜃 = sudut yang dibentuk lengan gaya (0)
b. Mencari nilai ∆τ dengan penurunan perumusan momen gaya benda dengan menggunakan persamaan diferensial parsial sebagai berikut :
2 2 2 2 2 2 F F
F r
r
karena 𝑟 konstan, maka 𝛥𝑟= 0.
Maka untuk :
2 2 2 sin sin F r F F F r F F Sedangkan untuk:
Jadi,
2 2
2 22 2 2 2 2 2 2 2 2 2 cos sin cos sin 0 F r F r F r F r F F r r
c. Menghitung kesalahan relatif pengukuran yaitu dengan perumusan sebagai berikut : % 100 KR
d. Hasil pengukuran besarnya momen gaya yang diberi beban tertentu yang dilaporkan:
24 BAB IV
HASIL PRAKTIKUM
A. Deskripsi Data
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditabulasikan datanya sebagai berikut :
1. Beban 1, m = 11,98 gram, r = 13 cm
Tabel 4.1 Data Percobaan untuk Beban 1 No. 𝑭(N) 𝜽(0) (90)
1 0,125 23 67
2 0,125 24 66
3 0,125 23 67
4 0,125 22 68
5 0,125 23 67
6 0,125 22 68
7 0,125 23 67
8 0,125 23 67
9 0,125 23 67
10 0,150 23 67
2. Beban 2, m = 16,98 gram, r = 13 cm
Tabel 4.2 Data Percobaan untuk Beban 2 No 𝑭 (N) 𝛉 (0) (90)
1 0,150 26 64
2 0,175 27 63
3 0,175 26 64
4 0,175 27 63
5 0,175 27 63
6 0,175 27 63
7 0,175 27 63
8 0,175 28 62
9 0,200 26 64
3. Beban 3, m = 21,98 gram, r = 13 cm
Tabel 4.3 Data Percobaan untuk Beban 3 No 𝐅 (N) 𝛉 (0) (90)
1 0,225 31 59
2 0,225 32 58
3 0,225 31 59
4 0,225 31 59
5 0,225 31 59
6 0,225 31 59
7 0,225 31 59
8 0,225 32 58
9 0,250 32 58
10 0,250 32 58
4. Beban 4, m = 26,98 gram, r = 13 cm
Tabel 4.4 Data Percobaan untuk Beban 4 No 𝐅 (N) 𝛉 (0) (90)
1 0,250 37 53
2 0,250 37 53
3 0,275 38 52
4 0,275 37 53
5 0,275 37 53
6 0,275 37 53
7 0,275 37 53
8 0,275 36 54
9 0,275 36 54
10 0,300 36 54
B. Analisis Data
26 Dari hasil data pengamatan kemudian data dihitung dengan persamaan yang telah ditentukan dan mendapat hasil seperti Tabel 4.5 berikut :
Tabel 4.5 Data Perhitungan
m
(gram) r (m)
Hasil penelitian
F (N) (0) τ (Nm)
11,98 0,13 (0,12750,0025) (67,100,36) -2 10 ) 1 , 0 5 , 1
(
16,98 0,13 (0,1770,004) (63,2000,200) -2 10 ) 1 , 0 1 , 2
(
21,98 0,13 (0,2300,003) (5,90,5)10 -2
10 ) 3 , 0 6 , 2 (
26,98 0,13 (0,2770,004) (53,2000,200) -2
10 ) 5 , 0 9 , 2 (
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan maka, pembahasan dalam penelitian ini adalah :
1. Desain alat yang digunakan untuk menghitung besarnya momen gaya pada posisi sudut tertentu adalah sebagai berikut :
Gambar 4.1 Desain Alat Percobaan
2. Dari data yang diperoleh dari hasil perhitungan dimasukkan ke dalam rumus berikut :
Dari persamaan di atas, dapat dihitung besarnya momen gaya (torsi) benda tersebut.
3. Percobaan dilakukan dengan variasi beban, beban yang digunakan sebanyak empat beban yang berbeda. Setelah itu dilakukan perhitungan yang menghasilkan momen gaya (torsi) seperti pada Tabel 4.6 berikut:
Tabel 4.6 Data Perhitungan Torsi Beban Massa (gram) Torsi (Nm)
1 11,98 (1,50,1)10-2 2 16,98 (2,10,1)10-2 3 21,98 (2,60,3)10-2
4 26,98 (2,90,5)10-2
Berdasarkan data pengamatan dan analisis data yang telah diperoleh, ada nilai momen gaya menghasilkan kesalahan relatif yang cukup besar, Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
1. Kekurang tepatan peneliti saat melakukan pengukuran sehingga diperlukan kecermatan dan ketepatan dalam pengambilan data.
2. Kesalahan paralaks dalam pembacaan skala pengukuran sehingga diperlukan kecermatan dan ketepatan dalam pembacaan skala pengukuran.
3. Skala pada neraca pegas yang terlalu besar sehingga membuat gaya yang dihasilkan benda kurang teliti
28 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Desain alat yang digunakan untuk menghitung momen gaya pada posisi sudut tertentu yaitu dengan mengetahui panjang lengan gaya, gaya yang dihasilkan beban tertentu dan yang dibentuk oleh lengan gaya yang di beri beban.
2. Untuk mengetahui cara menentukan momen gaya dengan variasi beban dan posisi sudut yang dibentuk dari data yang diperoleh dari hasil perhitungan dimasukkan ke dalam rumus berikut:
𝜏 =𝑟𝐹 𝑠𝑖𝑛 𝜃 𝑛
Dari persamaan di atas, diperoleh momen gaya (torsi) benda tersebut.
3. Percobaan dilakukan dengan variasi beban, beban yang digunakan sebanyak empat beban yang berbeda. dan setelah itu dilakukan perhitungan yang menghasilkan momen gaya (torsi) sebagai berikut:
Beban Massa (gram) Torsi (Nm)
1 11,98 -2
10 ) 1 , 0 5 , 1
(
2 16,98 -2
10 ) 1 , 0 1 , 2
(
3 21,98 -2
10 ) 3 , 0 6 , 2 (
4 26,98 -2
B. Saran
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan ”Penentuan Momen
Gaya” maka disarankan beberapa hal sebagai berikut:
1. Alat yang telah di buat sebaiknya digunakan untuk alat demonstrasi karena apabila digunakan sebagai alat praktikum kurang cocok dengan hasil kesalahan relatif yang cukup besar.
2. Alat ini hanya dapat digunakan untuk mengukur momen gaya saja.
30
DAFTAR PUSTAKA
Aturan Angka Penting. 2011. Diperoleh 6 November 2012, dari http://www.pendfisikaunlam.blogspot.com/aturan-angka-penting.html Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Jilid 1 Edisi Kelima (diterjemahkan oleh Dra.
Yuhilza Hanum, M.Eng). Jakarta: Erlangga
Raharjo,T., Radiyono,Y. 2008. Fisika Mekanika. Surakarta : UNS Press.
Serway, Raymond A. dan John W. Jewett. 2004. Physics for Scientists and Engineers (6th Edition). USA: Thompson Brooks/Cole
LAMPIRAN
Lampiran 1
ATURAN ANGKA PENTING A. Penulisan Angka Penting
Penulisan angka penting ternyata memberikan implikasi yang amat berharga. Untuk mengidentifikasi apakah suatu angka tertentu termasuk angka penting atau bukan, dapat diikuti beberapa kriteria di bawah ini:
1. Semua angka bukan nol termasuk angka penting. Contoh: 2,45 memiliki 3 angka penting.
2. Semua angka nol yang tertulis setelah titik desimal termasuk angka penting.
Contoh: 2,60 memiliki 3 angka penting 16,00 memiliki 4 angka penting.
3. Angka nol yang tertulis di antara angka-angka penting (angka-angka bukan nol), juga termasuk angka penting.
Contoh: 305 memiliki 3 angka penting. 20,60 memiliki 4 angka penting.
4. Angka nol yang tertulis sebelum angka bukan nol dan hanya berfungsi sebagai penunjuk titik desimal, tidak termasuk angka penting.
Contoh: 0,5 memiliki 1 angka penting. 0,0860 memiliki 3 angka penting. B. Perhitungan dengan Angka Penting
Setelah mencatat hasil pengukuran dengan tepat, diperoleh data-data kuantitatif yang mengandung sejumlah angka-angka penting. Sering kali, angka-angka tersebut harus dijumlahkan, dikurangkan, dibagi, atau dikalikan. Ketika mengoperasikan angka-angka penting hasil pengukuran, hasil yang didapatkan melalui perhitungan tidak mungkin memiliki ketelitian melebihi ketelitian hasil pengukuran.
1. Penjumlahan dan pengurangan
32
ketelitian angka-angka yang dijumlahkan atau dikurangkan, yang paling tidak teliti.
Contoh:
24,681 ketelitian hingga seperseribu 2,34 ketelitian hingga seperseratus 3,2 ketelitian hingga sepersepuluh 2. Perkalian dan pembagian
Bila angka-angka penting dibagi atau dikalikan, maka jumlah angka penting pada hasil operasi pembagian atau perkalian tersebut paling banyak sama dengan jumlah angka penting terkecil dari bilangan-bilangan yang dioperasikan.
Contoh:
3,22 cm x 2,1 cm = 6,762 cm2, maka ditulis 6,8 cm2 C. Aturan pembulatan angka-angka penting
Pada perhitungan yang melibatkan angka penting tidak dapat diperlakukan sama seperti operasi matematik biasa. Ada beberapa aturan yang harus diperhatikan, sehingga hasil perhitungannya tidak memiliki ketelitian melebihi ketelitian hasil pengukuran yang dioperasikan. Ketika hasil perhitungan memiliki ketelitian melebihi hasil pengukuran maka perlu adanya pembulatan angka-angka penting. Aturan pembulatan angka-angka penting antara lain:
1. Angka kurang dari 5, dibulatkan ke bawah (ditiadakan) Contoh: 12,74 dibulatkan menjadi 12,7
2. Angka lebih dari 5, dibulatkan ke atas Contoh: 12,78 dibulatkan menjadi 12,8
3. Angka 5, dibulatkan ke atas bila angka sebelumnya ganjil dan ditiadakan bila angka sebelumnya genap.
Contoh: 12,75 dibulatkan menjadi 12,8 12,65 dibulatkan menjadi 12,6
Lampiran 2
PERHITUNGAN GAYA YANG DIPEROLEH AKIBAT LENGAN GAYA DIBERI BEBAN (F)
a. Beban 1, m = 11,98 gram
Tabel 1.1. Data Pengamatan F Penelitian momen gaya dengan Sudut tertentu
No. F (N) F2 (N 2
)
1. 0,125 0,015625
2. 0,125 0,015625
3. 0,150 0,0225
4. 0,125 0,015625
5. 0,125 0,015625
6. 0,125 0,015625
7. 0,125 0,015625
8. 0,125 0,015625
9. 0,125 0,015625
10. 0,125 0,015625
N=5 F =1,275 F2 =0,163125
a. Menghitung gaya benda rata-rata (F)
N 1275 , 0
10 275 , 1
F F
N F F
b. Menghitung simpangan gaya benda (F)
1
1 2 2
n F F
34
1 10 275 , 1 ) 163125 , 0 ( 10 10 1 2 F 9 (1,625625) 63125 , 1 10 1 F 9 005625 , 0 10 1 F ,000625 0 10 1 F ,025 0 10 1 F N 0025 , 0 Fc. Menghitung kesalahan relatif (KR) % 100 F F KR % 100 1275 , 0 0025 , 0 KR % 909090 , 0 KR
d. Hasil yang dilaporkan
Berdasarkan aturan angka penting, untuk kesalahan relatif sebesar
% 909090 ,
0 maka hasil yang dilaporkan menggunakan 4 angka penting. Sehingga hasil yang dilaporkan
FF
(0,1275 ±0,0025) Nb. Beban = 16,98 gram
Tabel 1.1. Data Pengamatan F Penelitian momen gaya dengan Sudut tertentu
No. F (N) F2 (N2)
1. 0,175 0,030625
2. 0,175 0,030625
3. 0,175 0,030625
5. 0,150 0,0225
6. 0,175 0,030625
7. 0,175 0,030625
8. 0,200 0,04
9. 0,200 0,04
10. 0,175 0,030625
N=5 F =1,775 F2 =0,316875
a. Menghitung gaya benda rata-rata (F)
N 1775 , 0 10 775 , 1 F F N F F
b. Menghitung simpangan gaya benda (F)
1
1 2 2
n F F n n F
1 10 775 , 1 ) 316875 , 0 ( 10 10 1 2 F 9 (3,150625) 16875 , 3 10 1 F 9 0,018125 10 1 F 0,00201388 10 1 F 0,044876 10 1 F N 0,0044876 F36
% 100 1775
, 0
0044976 ,
0
KR
% 2,52822
KR
d. Hasil yang dilaporkan
Berdasarkan aturan angka penting, untuk kesalahan relatif sebesar
%
2,52822 maka hasil yang dilaporkan menggunakan 3 angka penting. Sehingga hasil yang dilaporkan
FF
(0,177 ±0,004) Nc. Beban 3= 21,98 gram
Tabel 1.3. Data Pengamatan F Penelitian Gerak Parabola dengan Semburan Air
No. F (N) F2 (N2)
1. 0,225 0,050625
2. 0,225 0,050625
3. 0,225 0,050625
4. 0,225 0,050625
5. 0,250 0,0625
6. 0,225 0,050625
7. 0,250 0, 0625
8. 0,225 0,050625
9. 0,225 0,050625
10. 0,225 0,050625
N=5 F =2,30 F2 =0,53
a. Menghitung gaya benda rata-rata (F)
N 23 , 0
10 3 , 2
F F
b. Menghitung simpangan gaya benda (F)
1
1 2 2
n F F n n F
1 10 3 , 2 ) 53 , 0 ( 10 10 1 2 F 9 (5,29) 3 , 5 10 1 F 9 01 , 0 10 1 F ,001111 0 10 1 F 1667 0,03333333 10 1 F N 31667 0,00333333 Fc. Menghitung kesalahan relatif (KR) % 100 F F KR % 100 23 , 0 31667 0,00333333 KR 1,44927% KR
d. Hasil yang dilaporkan
Berdasarkan aturan angka penting, untuk kesalahan relatif sebesar
38
d. Beban = 26,98 gram
Tabel 1.1. Data Pengamatan F Penelitian momen gaya dengan Sudut tertentu
No. F (N) F2 (N2
)
1. 0,275 0,075625
2. 0,275 0,075625
3. 0,275 0,075625
4. 0,250 0,0625
5. 0,250 0,0625
6. 0,275 0,075625
7. 0,300 0,090
8. 0,275 0,075625
9. 0,275 0,075625
10. 0,275 0,075625
N=10 F =2,775 F2 =0,744375
a. Menghitung gaya benda rata-rata (F)
N F F N F F 2775 , 0 10 775 , 2
b. Menghitung simpangan gaya benda (F)
N 7329 0,00448763
329 0,04487637
10 1
888 0,00201388
10 1
F F F
c. Menghitung kesalahan relatif (KR) %
100
F F KR
% 100 2775
, 0
7329
0,00448763
KR
1,646839%
KR
d. Hasil yang dilaporkan
Berdasarkan aturan angka penting, untuk kesalahan relatif sebesar
1,646839% maka hasil yang dilaporkan menggunakan 3 angka penting. Sehingga hasil yang dilaporkan
40
Lampiran 3
PERHITUNGAN SUDUT YANG DIPEROLEH AKIBAT LENGAN GAYA DIBERI BEBAN (𝜃)
a. Beban 1 = 11,98 gram
Tabel 1.1. Data Pengamatan θ Penelitian momen gaya dengan Sudut tertentu
No. θ (0) θ2 (0)
1. 23 529
2. 24 576
3. 23 529
4. 22 484
5. 23 529
6. 22 484
7. 23 529
8. 23 529
9. 23 529
10. 23 529
N=5 θ=229 θ2 =5247
a. Menghitung sudut yang diperoleh akibat lengan gaya diberi beban rata-rata ()
0 22,9
10 229
n
b. Menghitung simpangan sudut yang diperoleh akibat lengan gaya diberi beban ()
1
1 2 2
n n n
1 10
229 ) 5247 ( 10 10
1 2
9
52441 52470
10
1
9 29 10
1
3,2222222
10 1
5 1,79505493
10 1
350 0,17950549
c. Menghitung kesalahan relatif (KR)
% 100
KR
% 100 22,9
35 0,17950549
KR
39% 0,78386678
KR
d. Hasil yang dilaporkan
Berdasarkan aturan angka penting, untuk kesalahan relatif sebesar
39%
0,78386678 maka hasil yang dilaporkan menggunakan 4 angka penting. Sehingga hasil yang dilaporkan
00,17) ± (22,90
b. Beban = 16,98 gram
Tabel 1.1. Data Pengamatan θ Penelitian momen gaya dengan Sudut tertentu
No. θ (0) θ2 (0)
1. 27 729
2. 26 676
3. 27 729
42
5. 26 676
6. 27 729
7. 28 784
8. 26 676
9. 27 729
10. 27 729
N=5 θ=268 θ2 =7184
a. Menghitung sudut yang diperoleh akibat lengan gaya diberi beban rata-rata ()
n 10 268 0 26,8
b. Menghitung simpangan sudut yang diperoleh akibat lengan gaya diberi beban ().
1
1 2 2
c. Menghitung kesalahan relatif (KR)
% 0,49251244 =
KR
% 100 26,8
42 0,13333333
% 100
KR KR
d. Hasil yang dilaporkan
Berdasarkan aturan angka penting, untuk kesalahan relatif sebesar
%
0,49251244 maka hasil yang dilaporkan menggunakan 4 angka penting. Sehingga hasil yang dilaporkan
00,133) ± (26,800
c. Beban = 21,98 gram
Tabel 1.1. Data Pengamatan θ Penelitian momen gaya dengan Sudut tertentu
No. θ (0) θ2 (0)
1. 31 961
2. 32 1024
3. 31 961
4. 31 961
5. 32 1024
6. 31 961
7. 32 1024
8. 31 961
9. 31 961
10. 32 1024
N=5 θ=314 θ2 =9862
a. Menghitung sudut yang diperoleh akibat lengan gaya diberi beban rata-rata () .
44 10 314 0 4 , 1 3
b. Menghitung simpangan sudut yang diperoleh akibat lengan gaya diberi beban ().
1
1 2 2
n n n
1 10 314 ) 9862 ( 10 10 1 2 9 98596 98620 10 1 9 24 10 1 2,66666667 10 1 2 1,63299316 10 1 0 62 0,16329931 c. Menghitung kesalahan relatif (KR)
% 100 KR % 100 31,4 62 0,16329931 KR 65% 0,52006151 = KR
d. Hasil yang dilaporkan
Berdasarkan aturan angka penting, untuk kesalahan relatif sebesar
39%
0,78386678 maka hasil yang dilaporkan menggunakan 4 angka penting. Sehingga hasil yang dilaporkan
0d. Beban = 26,98 gram
Tabel 1.1. Data Pengamatan θ Penelitian Gerak Parabola dengan Semburan Air
No. θ (0) θ2 (0)
11. 38 1444
12. 37 1369
13. 37 1369
14. 37 1369
15. 37 1369
16. 37 1369
17. 36 1296
18. 37 1369
19. 36 1296
20. 36 1296
N=5 θ=368 θ2 =13546
a. Menghitung Sudut yang diperoleh akibat lengan gaya diberi beban rata-rata () .
n
10 368
0
36,8
b. Menghitung simpangan sudut yang diperoleh akibat lengan gaya diberi beban ().
1
1 2 2
n n n
1 10
368 ) 13546 ( 10 10
1 2
9
135424
135460
10
1
46
9 36 10
1
4 10
1
(2) 10
1
0 0,2
c. Menghitung kesalahan relatif (KR) %
100
KR
% 100 36,8
0,2
KR
% 0,54347876 =
KR
d. Hasil yang dilaporkan
Berdasarkan aturan angka penting, untuk kesalahan relatif sebesar
%
0,54347876 maka hasil yang dilaporkan menggunakan 4 angka penting. Sehingga hasil yang dilaporkan
00,20) ± (36,80
Lampiran 4
PERHITUNGAN BESAR MOMEN GAYA BENDA a. Torsi pada Beban 1
0 0,17) ± (22,90 = N 0,0025) ± (0,1275 = m 13 0, = cm 13 = gram 11,98 = m F r
1) Besar momen gaya benda :
94 0,00644972 01) ,389812395 (0,1275)(0 ) 13 , 0 ( 22,90) (sin (0,1275) ) 13 , 0 ( sin rF
2) Nilai :
22 2 2 2 2 F F r r
2
2
2 2cos
sin
0
r F rF
2
2
2 2cos
sin
r F rF
2
2
2
20,17 22,90 cos 1275) ((0,13)(0, + 0,0025 22,90 sin ((0,13) 89) 3131)(0,02 (0,0000023 + 000625) 8954)(0,00 (0,0000255 37) (0,0000067 + ) (1,559)(10-10 52) (0,0000067 131) (0,0028872
3) Kesalahan relatif pengukuran
48 % 100 94 0,00644972 31 0,00288721 KR % 44,76 KR
4) Hasil yang dilaporkan
Berdasarkan aturan angka penting, untuk kesalahan relatif sebesar 44,76%
maka hasil yang dilaporkan menggunakan 2 angka penting. Sehingga hasil yang dilaporkan
(6,4±2,9)10-1 Nmb. Torsi pada Beban 2
0 0,133) ± (26,800 = N 0,004) ± (0,177 = m 13 0, = cm 13 = gram 16,98 = m F r
1) Besar momen gaya benda :
rFsin
26,80) (sin (0,177) ) 13 , 0 ( ) 4508775407 (0,177)(0, ) 13 , 0 ( 07 0,45087754
2) Nilai :
22 2 2 2 2 F F r r
2
2
2 2cos
sin
0
r F rF
2
2
2 2cos
sin
r F rF
2
2
2
20,133 26,8 cos 177) ((0,13)(0, + 0,004 26,80 sin ((0,13)
2
2
2
21663) (0,0000075 4731) (0,0027416
3) Kesalahan relatif pengukuran :
% 100 KR % 100 221 0,01037469 731 0,00274164 KR % 26,42 KR
4) Hasil yang dilaporkan
Berdasarkan aturan angka penting, untuk kesalahan relatif sebesar 26,42%
maka hasil yang dilaporkan menggunakan 2 angka penting. Sehingga hasil yang dilaporkan
((1,0±0,2)Nmc. Torsi pada Beban 3
0 0,16) ± (31,40 = N 0,003) ± (0,230 = m 13 0, = cm 13 = gram 21,98 = m F r
1) Besar momen gaya benda :
rFsin
31,40) (sin (0,230) ) 13 , 0 ( ) 5210096318 (0,230)(0, ) 13 , 0 (
2) Nilai :
22 2 2 2 2 F F r r
2
2
2 2cos
sin
0
r F rF
2
2
2 2cos
sin
r F rF
2
2
2
250
0,5210096318
0,003
) ((0,13)(0,230)
0,8535507973
0,16
)((0,13) 2 2 2 2
) 6) 305)(0,025 (0,0006513 + 00009) 52251)(0,0 ((0,004587 7406) (0,0000166 + 4128) (0,0000000 1534) (0,0000167 398) (0,0040884
3) Kesalahan relatif pengukuran :
% 22,46 % 100 799 0,01557818 98 0,00408843 % 100 KR KR KR
4) Hasil yang dilaporkan
Berdasarkan aturan angka penting, untuk kesalahan relatif sebesar
%
22,46 maka hasil yang dilaporkan menggunakan 2 angka penting. Sehingga hasil yang dilaporkan
((1,5±0,4)Nmd. Torsi pada Beban 4
gram 16,98 = m m 13 0, = cm 13 = r N 0,004) ± (0,277 = F 0 0,20) ± (36,80 =
1) Besar momen gaya benda :
rFsin
2) Nilai :
22 2 2 2 2 F F r r
2
2
2 2cos
sin
0
r F rF
2
2
2 2cos
sin
r F rF
2
2
2
20,20 36,8 cos 277) ((0,13)(0, + 0,004 36,8 sin ((0,13)
7293) (0,0057752 5377) (0,0000333 5675) (0,0000332 + 9702) (0,0000000 ) ) 1897)(0,04 (0,0008314 + 00016) 21468)(0,0 ((0,006064 0,20 09 0,80073137 277) ((0,13)(0, 0,004 85 0,59902359((0,13) 2 2 2 2
3) Kesalahan relatif pengukuran :
% 100 KR % 100 978 0,02157083 293 0,00577527 KR % 26,77 KR
4) Hasil yang dilaporkan
Berdasarkan aturan angka penting, untuk kesalahan relatif sebesar
%