LAPORAN PRAKTIKUM
MK.PRODUKSI TERNAK POTONG DAN KERJA
Oleh ;
HERMANTO GULTOM
E1C015071
Kloter: 3, Kelompok Sapi : 3, Kelompok Kambing : 13
Jurusan Peternakan – Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM MK. PRODUKSI TERNAK POTONG
DAN KERJA
Laporan ini telah disusun sesuai dengan panduan penyusunan laporan praktikum
dan telah dikonsultasikan dan disetujui oleh asisten dosen untuk diserahkan sebagai bukti telah melaksanakan praktikum.
Diserahkan pada:
Tanggal/Hari: ... . Oktober 2016/ ... Pukul: . .. WIB.
Yang menyerahkan, Yang
menerima,
Mahasiswa, Asisten Dosen,
( ) ( )
Nama:Hermanto Gultom Nama: KurniawanSaputra
Kata Pengantar
Puji dan syukur saya panjatkan ke pada Tuhan Yang Maha Esa, atas Rahmad dan kasih karuniaNya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Laporan Praktikum Ternak Potong dan Kerja ini sebagai bukti hasil praktikum yang dilaksanakan selama 10 hari. Terimakasih penyusun sampaikan kepada dosen-dosen ternak potong dan kerja,di Jurusan Peternakan Universitas Bengkulu atas kesempatan dalam proses pembelajaran yang diberikan. Penyusun juga berterimakasih kepada :
1. Ir.Dwatmadji,Dr.Ir.,M.Sc dan Dr.Ir.Irma Badarina,MP selaku dosen mata kuliah Produksi Ternak Potong dan Kerja.
2. Orang tua saya yang selalu memberikan motivasi dan Doa sehingga saya dapat mengikuti praktikum Ternak Potong dan Kerja ini.
3. Co-ass yang sedia mendampingi penyusun selama melakukan praktikum dan Penyusun juga berterimakasih dengan rekan rekan kerja dalam praktikum yaitu kelompok Kambing 13 dan kelompok Sapi 3,kloter 3 terimakasih buat kerjasamanya dalam penyelesaian tugas praktikum ini.
Laporan ini masih sangat sederhana, oleh sebab itu penyusun sangat mengharapkan saran dan tambahan bahan untuk penyempurnaannya. Semoga tugas laporan ini dapat bermanfaat.
Bengkulu, Oktober 2016
DAFTAR ISI
LAPORAN PRAKTIKUM...i
Kata Pengantar...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I... 1
MATERI DAN METODE...1
1. Jadwal Pelaksanaan dan Daftar Anggota Kelompok...1
A.2 MATERI...2
PAKAN...3
KANDANG...4
PERALATAN...5
A.3. Metode...6
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :...6
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:...6
A.3.1. Ternak Kambing...6
A.3.2 Ternak Sapi...8
A.3.3 Langkah kerja menentukan umur...10
BAB II... 11
B.1 Konsumsi Pakan Pada Kambing...11
B.1.1 Data Konsumsi Pakan dan Air Minum Ternak Kambing...11
B.1.2 Produksi...14
B.1.3 Fisiologi...17
B.1.4 Umur Ternak...19
B.2 Konsumsi Pakan Pada Sapi...20
B.2.1 Data Konsumsi Pakan dan Air Minum Ternak Sapi...20
B.2.2 Produksi...22
B.2.3 Fisiologi...24
B.2.4 Umur Ternak...26
B.2.5 BCS pada sapi...26
KESIMPULAN DAN SARAN...31
3.1.KESIMPULAN...31
3.2.SARAN...31
LAMPIRAN... 34
FOTO KANDANG PRAKTIKUM LAPANGAN...34
FOTO SAPI PRAKTIKUM LAPANGAN...34
BAB I
MATERI DAN METODE
1. Jadwal Pelaksanaan dan Daftar Anggota Kelompok
1.praktikum dikandang
praktikum ternak potong dan kerja ini dilaksanakan pada tanggal 5 oktober 2016 di kandang peternakan universitas bengkulu sampai tanggal 9 oktober 2016.
Anggota kelompok: sapi 3
Nama kelompok:Hermanto Gultom
Hendri Yulianto
Oktavia Arumaningsi
Faizal Mahdiz Zaman
Alven Syahril Muslim
Syefri Yanda
Bani Darul Ulum
Feni Adelina Putri
M.Ikhsan Naparas Nasution
Lilik Lovita Sari
Anggota kelompok:kambing 13
Hermanto Gultom
2.praktikum dimasyarakat
Praktikum lapangan dimasyarakat dilaksanakan setelah praktikum dikandang selesai.Praktikum lapangan dimasyarakat dilaksanakan di jl.Pintu Air,danau dendam pada tanggal 15 oktober 2016.
A.2 MATERI
Latar Belakang
Kebutuhan daging sapi sebagai salah satu sumber protein hewani semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi yang seimbang, pertambahan penduduk dan meningkatnya daya beli masyarakat (Deptan, 2006). Hal ini tidak sejalan dengan produksi daging yang ada di Indonesia. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi kekurangan pasokan daging, melalui peternakan komersial atau peternakan rakyat. Kendala yang dihadapi yaitu susahnya bibit yang unggul serta jenis pakan yang berkualitas tinggi seperti rumput Gajah, rumput raja dll yang biasa digunakan oleh peternakan yang maju. Tofograf juga sangat menentukan keberhasilan dalam beternak baik ternak kecil maupun besar, salah satu jenis ternak besar yang dapat di usahakan seperti kerbau dan sapi.
Klasifkasi ilmiah
Kerajaa n:
Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammali
a
Ordo: Artiodact
yla
Famili: Bovidae
Upafami li:
Bovinae
Genus: Bos
Spesies: B.
javanicus
Kambing yang baik untuk diternakkan atau dipelihara tergantung dari tujuan kita beternak atau memelihara kambing. Jika hanya sebagai usaha sambilan untuk cepat memperoleh anak dan setelah besar langsung di jual sebagai ternak potong, kiranya dapat dimulai dengan kambing kacang berhubung produksi dagingnya memadai. Bila tujuannya untuk produksi daging dan susu, maka kambing yang dipelihara yaitu kambing Peranakan Etawah (PE) atau Etawah Tulen untuk daerah panas, dan peranakan Saanen untuk daerah pegunungan.
Kerajaa n:
Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Ungulata
Famili: Coroviane
Upafam ili:
Artiodactyl ata
Genus: Ovis
Spesies :
Ovis orientalisi
PAKAN
Graminae dan juga Ciperaceae.Di Indonesiar umput lapangan yang
terkenal baik adalah paspalum conjugatum dan anastropus
convrensus. Seringkali terjadi rumput lapangan mendapat gangguan
atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai. Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat dan sekop.Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit.
A.3. Metode
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah : a. Thermometer (Pengukur suhu rectal)
b. Hygrometer c. Timbangan d. Meteran e. Stetoskop f. Sapu Lidi g. Ember h. Stopwatch i. Sekop j. Sabit k. Cangkul l. Tali
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:
a. Kambing b. Sapi
c. Pakan (hijauan) d. Air
e. konsentrat
A.3.1. Ternak Kambing
A.3.1.1 Langkah kerja mengukur produksi
Pengukuran berat badan
2. Sebelum mengukur berat badan kambing,sebaiknya mengukur berat badan kita.
3. Lalu menggendong kambing diatas timbangan.
4. Setelah ditimbang,kita menurunkan dan meletak kan kambing
kembali.
Pengukuran panjang badan
1. Pengukuran panjang badan pada kambing menggunakan alat ukur berupa pita ukur dengan besi yang ditempel dengan pita ukur.
2. Cara mengukur panjang badan dengan meletakkan pita ukur diatas bahu ternak kambing sampai tonjolan tulang duduk pada kambing.
3. Setelah diukur,kita dapat mencatat panjang badan yang kita ukur.
Pengukuran tinggi badan/gumba
1. Pengukuran tinggi badan/gumba pada kambing diukur mulai dari ujung kaki kambing sampai kebagian punggung badan pada ternak tersebut.
2. Pengukuran tinggi badan/gumba pada kambing menggunakan pita ukur.
3. Lalu mencatat hasil pengukuran tinggi badan/gumba pada kambing.
Pengukuran lingkar dada
1. Pengukuran lingkar dada dilakukan di bagian belakang kaki depan dengan menggunakan alat ukur berupa pita.
2. Setelah mengukur, kemudian mencatat hasil nya.
A.3.1.2 Langkah kerja mengukur konsumsi pakan
1. Menimbang pakan 10% dari berat badan, kosentrat 1% dari berat badan dengan kandungan protein sebesar 12,5 % dan air yang pemberiannya secara berlebih (ad libitum)
3. Keesokan harinya menimbang sisa pakan dan mencatat hasil penimbangan sisa.
A.3.1.3 Langkah kerja mengukur fisiologi
Pengukuran respirasi
1. Pengukuran respirasi dilakukan di pagi,siang,dan sore hari
2. Pengukuran respirasi dilakukan dengan mendekatkan tangan ke hidung kambing tersebut atau dengan melihat kembang kempis nya perut kambing.
3. Kemudian mencatat hasil pengukuran nya.
Pengukuran denyut nadi
1. Pengukuran denyut nadi dilakukan di pagi,siang,dan sore hari 2. Pengukuran denyut nadi dapat dihitung pada bagian pangkal
kaki depan dan belakang.
3. Kemudian mencatat hasil pengukuran nya.
Pengukuran suhu rectal
1. Pengukuran suhu rektal dilakukan hanya saat di pagi hari.
2. Pengukuran suhu rektal menggunakan alat termometer yang dimasukkan pada bagian rektum ternak kira-kira sepertiga bagian rektum tersebut, hingga air raksa yang terdapat di dalam termometer tidak pecah.
3. Kemudian mencatat hasil pengukuran yang dilakukan.
A.3.1.4 Langkah kerja mengukur kondisi lingkungan
Untuk mengetahui kondisi lingkungan yaitu dengan mengukur suhu, dan kelembaban lingkungan sekitar.
A.3.2 Ternak Sapi
A.3.2.1 Langkah Kerja mengukur produksi
Pengukuran berat badan
1. Pengukuran berat badan dapat memprediksi dari lingkar dada ternak sapi ditambah 22 pangkat 2 dibagi 100.
1. Pengukuran panjang badan pada sapi dilakukan dengan menggunakan pita ukur dan tongkat kayu yang lurus.
2. Meletakkan pita ukur dibagian sebelah badan samping pada ternak dengan memulainya dari sendi bahu ternak hingga tonjolan yang terdapat pada bagian tulang duduk ternak tersebut.
Pengukuran tinggi badan
1. Pengukuran tinggi badan mnggunakan pita ukur dengan tongkat kayu lurus.
2. Pengukuran dilakukan dengan jarak yang lurus dari lantai sampai dengan puncak gumba dibelakang punuk sapi menggunakan kayu.
3. Meneggakkan pipa didekat sapi, kemudian menyejajarkan kayu dari puncak gumba ke kayu.
4. Kemudian mengukur hasil pengukuran kayu dengan pita ukur. 5. Kemudian mencatat hasil pengukuran yang telah diukur.
Pengukuran lingkar dada
1. Pengukuran lingkar dada dilakukan dengan menggunakan pita ukur.
2. Mengukur lingkar dada dibagian belakang kaki depan. 3. Kemudian mencatat hasil pngukurannya.
A.3.2.2 Langkah kerja megkonsumsi pakan
Menimbang pakan sebanyak 10 % dari berat badan sapi,
dilakukan pada saat pagi hari.
Menimbang pakan terlebih dahulu sebelum diberikan.
Memberikan konsentrat sebanyak 1 % dari berat badan.
Apabila konsentrat habis, ditambah lagi di keesokan harinya.
Jika pakan habis,pakan ditambah lagi.
Setiap penambahan pakan harus ditimbang terlebih dahulu.
Menjumlahkan pemberian pakan selama 1 hari yang dilakukan
pada sore hari.
Pada keesokan pagi nya, menimbang sisa pakan ternak di hari
Kemudian mencatat sisa hasil ternak di hari kemarin.
Pemberian air dilakukan secara adlibitum dan pemberian harus
selalu dicatat.
A.3.2.3 Langkah kerja mengukur fsiologi
Pengukuran respirasi
1. Pengukuran respirasi dilakukan pada pagi, siang dan sore hari. 2. Pengukuran dapat dilakukan dengan cara memperhatikan
kembang kempisnya perut atau dengan mendekatkan telapak tangan kita ke hidung sapi tersebut.
3. Pengukuran dilakukan selama 30 detik dikali 2 untuk mendapatkan hasil 1 menit.
4. Kemudian mencatat hasil pengukuran.
Pengukuran denyut nadi
1. Pengukuran denyut nadi dilakukan pada pagi, siang, dan sore hari.
2. Pengukuran denyut nadi dapat diukur dengan menggunakan steteskop.
3. Mendekatkan atau menempelkan steteskop pada pangkal paha sapi atau dapat juga dilakukan dengan cara meraba bagian pangkal paha.
4. Pengukuran dilakukan selama 30 detik dikali 2 untuk mendapatkan hasil 1 menit.
Pengukuran suhu rektal
1. Pengukuran suhu rektal dilakukan pada pagi hari saja.
2. Pengukuran temperatur rektal dilakukan dengan cara memasukkan termometer ke dalam rektum sapi kira-kira sepertiga bagian rektum hingga air raksa yang terdapat didalam termometer tersebut berhenti naik.
A.3.2.4 Langkah kerja mengukur kondisi lingkungan
Untuk mengetahui kondisi lingkungan yaitu dengan mengukur suhu, dan kelembaban lingkungan sekitar.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
B.1 Konsumsi Pakan Pada Kambing
B.1.1 Data Konsumsi Pakan dan Air Minum Ternak Kambing
Pemberian Tambahan Sisa Konsumsi Pemberian Tambahan Sisa Konsumsi Pemberian Tambahan Sisa Konsumsi
makanan yang didapat ternak. Pada ternak yang sedang tumbuh, kebutuhan zat-zat makanan akan bertambah terus sejalan dengan pertambahan bobot tubuh yang dicapai sampai batas umur dimana tidak terjadi lagi pertumbuhan (Siregar, 1984).
Berdasarkan hasil praktikum hari pertama yang dilakukan bahwasanya pemberian pakan dikonsumsi dengan rata-rata 1,435 kg, pada hari kedua berlangsung nya praktikum yang dilakukan bahwa pemberian pakan ternak dikonsumsi dengan rata-rata 0,745 kg, pada hari ketiga praktikum,konsumsi pakan dengan rata-rata 1,5 kg, dan pada hari terakhir ternak kambing mengkonsumsi pakan dengan rata-rata sebanyak 1,605 kg dan pemberian air minum sebanyak 0,140 kg/hari.
Ternak yang mempunyai potensi genetik pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai respon yang baik terhadap pakan yang diberikan dan memiliki efsiensi produksi yang tinggi dan adanya ragam yang besar dalam konsumsi bahan kering (Devendra, 1997).
Pembahasan :
Menurut Rahmat D. 2006, Bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh merupakan sifat kuantitatif yang ekspresinya ditentukan oleh banyak pasang gen dan dipengaruhi oleh lingkungan. Bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh merupakan indikator pertumbuhan. Pertumbuhan seekor ternak dimanifestasikan dengan berubahnya ukuran-ukuran tubuh dan bobot badan secara bersamaan. Selain digunakan untuk mementukan kondisi ternak, bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh sering digunakan sebagai kriteria seleksi. Ukuran tubuh yang sering dijadikan kriteria seleksi diantaranya adalah lingkar dada,panjang badan dan tinggi pundak.
Berdasarkan hasil praktikum berat badan kambing adalah berat awal 8,07 kg dan berat akhir 8,205 kg. Hasil pengukuran produksi kambing kelompok 13 dari berat badan, tinggi badan, panjang badan, dan lingkar dada kambing menunjukkan bahwa setiap harinya semakin meningkat.
Pembahasan :
Respirasi adalah proses pertukaran gas sebagai suatu rangkaian kegiatan fsik dalam tubuh organisme dalam lingkungan sekitarnya. Oksigen diambil dari udara sebagai bahan yang dibutuhkan jaringan tubuh dalam proses metabolisme. Frekuensi respirasi bervariasi tergantung antara lain dari besar badan, umur, aktivitas tubuh, kelelahan dan penuh tidaknya rumen. Kecepatan respirasi meningkat sebanding dengan meningkatnya suhu lingkungan. Meningkatnya frekuensi respirasi menunjukkan meningkatnya mekanisme tubuh untuk mempertahankan keseimbangan fsiologik dalam tubuh ternak.
Menurut French, 1980 respirasi pada kambing normal berkisar antara 25-35 kali/menit. Dalam pelaksanaan praktikum ini kami mengalikan dua. Hasil pengukuran respirasi, kami peroleh hasil bahwa terkadang kambing tersebut dalam keadaan normal dan kadang tidak, itu mungkin disebabkan karena aktivitas tubuh yang tidak bebas didalam kandang yang sempit dan mungkin juga disebabakan karena penuh tidaknya rumen pada saat kami lakukan pengukuran.
Frekuensi denyut jantung dapat dideteksi melalui denyut jantung yang dirambatkan pada dinding rongga dada atau pada pembuluh nadinya. Frekuensi denyut jantung bervariasi tergantung dari jenis hewan, umur, kesehatan dan suhu lingkungan. Disebutkan pula bahwa ternak muda mempunyai denyut jantung yang lebih frekuensi dari pada hewan tua. Pada suhu lingkungan tinggi, denyut jantung meningkat (Housebandry ,2009).
dalam kegiatan kerja yang kami lakukan kambing tersebut dalam keadaan sehat dan lingkunganya juga kami buat sebersih mungkin.
Cara mengetahui temperatur tubuh selalu digunakan temperatur rektal karena paling dapat dipercaya untuk menggambarkan rata-rata temperatur tubuh. Faktor-faktor yang mempengaruhi temperatur tubuh antara lain bangsa ternak, aktivitas, kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan ternak. Indeks temperatur dalam tubuh ternak lebih mudah didapat dengan cara memasukkan thermometer rektal kedalam rektum, meskipun temperatur rektal tidak selalu menggambarkan rata-rata temperatur dalam tubuh. Karena temperatur dalam tubuh mempunyai equilibrium paling lambat (Frandson, 1993).
Tempratur rektal digunakan untuk mengetahui keadaan kesehatan dilihat dari suhu tubuh probandus. Menurut Smith (1988), bahwa kisaran normal temperatur rektal pada ternak domba/kambing adalah
38,5-39,70C. Maka dalam pelaksanaan praktikum yang kami lakukan
menunjukkan bahwa kambing yang kami rawat dalam keadaan tidak normal. Itu dimungkinkan karena kambing tersebut stres. Kami juga membandingkan dengan data hasil pengukuran rektal dari kelompok lain, bahwa kambing yang di rawat kelompok lain selama 4 hari semuanya dalam keadaan normal menurut literatur yang ada.
Hasil pengamatan pada temperatur udara di lingkungan kandang selama masa pemeliharaan, diperoleh hasil rata-rata pada suhu
32,16oC.Hasil pengamatan dari kelembaban udara di lingkungan
kandang, diperoleh hasil rata-rata pada kelembaban udara sebesar 59,16% .
Pembahasan :
Menurut Frandson (1993), bahwa pendugaan umur dan berat badan seekor ternak menjadi sangat penting untuk diketahui, khususnya bagi peternak bahkan mutlak. Keterampilan tersebut juga seharusnya dimiliki oleh pengajar, dosen, dan tenaga-tenaga ahli lapangan sehingga tidak terjadi kecurangan-kecurangan yang merugikan sebelah pihak. Banyak cara yang bisa dilakukan dalam pendugaan umur ternak.
Kondisi Gigi Seri Perkiraan
Umur
Gigi seri susu sudah lengkap 1 tahun
2 gigi seri susu sudah berganti gigi
tetap 1-2 tahun
4 gigi seri susu sudah berganti gigi
tetap 2-3 tahun
6 gigi seri susu sudah berganti gigi
tetap 3-4 tahun
8 gigi seri susu sudah berganti gigi
tetap 4-5 tahun
Gigi seri tetap sudah mulai aus dan tanggal
Lebih dari 5 tahun
ditentukan bahwa kambing tersebut kira-kira berumur 8-9 bulan (<1 tahun).
B.2 Konsumsi Pakan Pada Sapi
B.2.1 Data Konsumsi Pakan dan Air Minum Ternak Sapi
Pemberian Tambahan Sisa Konsumsi Pemberian Tambahan Sisa Konsumsi Pemberian Tambahan Sisa Konsumsi
menyatakan bahwa “pemberian pakan 10% dari berat badan dikarenakan kapasitas rumen sapi yang besar dalam mengolah bahan pakan. Air minum juga jangan sampai habis, penambahan air minum sangat penting untuk dilakukan.”
Pada praktikum kali ini dilakukan pemeliharaan sapi dengan bobot berat badan awal diperkirakan 230,36 kg. Hal yang dilakukan adalah pemeliharaan dan melihat pertambahan yang terjadi selama 4 hari praktikum. Dalam praktikum ini ternak diberi pakan hijauan berupa rumput lapang, konsentrat dan air minum.
B.2.2 Produksi
NO HARI ke TANGGAL KEL. Panjang Badan (cm) Tinggi Badan (cm) Lingkar dada (cm) Berat Badan (Kg)
pada seekor ternak muda yang sehat serta diberi pakan, minum dan mendapat tempat berlindung yang layak.
tidak sama dengan pendapat Frandson,1993 dan berarti sapi yang kami rawat keseluruhan dalam keadaan kurang normal.
Hasil pengukuran frekuensi denyut jantung pada ternak sapi adalah 26-40 kali per menit. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik yang terdiri dari lingkungan, aktivitas dan stress.
Temperatur rectal sapi pada kelompok kami tergolong bagus sesuai dengan suhu normal. Menurut Robert E. (2004) “kisaran temperatur normal yaitu 36,7 ºC sampai 39,1ºC. Temperatur rectal dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah temperatur lingkungan, aktiftas, pakan, minuman dan pencernaan produksi panas oleh tubuh, secara tidak langsung tergantung oleh makanan yang diperoleh dan banyaknya persediaan makanan dalam saluran pencernaan.” Kami bandingkan juga data temperatur rektal sapi kelompok 1,2 dan 4 yang berada pada kisaran normal menurut literatur. Itu dipengaruhi oleh faktor pakan dan minuman yang baik yang kami lakukan pada saat praktikum.
Hasil pengamatan pada temperatur udara di lingkungan kandang selama masa pemeliharaan, diperoleh hasil rata-rata pada suhu
29,58oC. Hasil pengamatan dari kelembaban udara di lingkungan
kandang, diperoleh hasil rata-rata pada kelembaban udara sebesar 61,08% .
Kelembaban udara dari suatu lingkungan kehidupan ternak merupakan salah satu unsur iklim. Dimana kelembaban lingkungan mempengaruhi kesehatan ternak. Kelembaban yang terlalu tinggi akan mempertinggi kejadian penyakit saluran pernapasan bagi ternak ,dan juga kelembaban udara yang tinggi disertai suhu udara yang tinggi menyebabkan meningkatnya frekuensi respirasi.
dapat diatur atau dikuasai sepenuhnya oleh manusia (Djoko Sarwono, 1985).
B.2.4 Umur Ternak
Dari hasil pemotoan gigi pada sapi kami menyimpulkan bahwa umur pada ternak sapi yang kami rawat kira-kira berumur 5-6 tahun lebih.
B.2.5 BCS pada sapi
dijadikan sebagai alat untuk menjelaskan status nutrisi ternak melalui evaluasi dari cadangan lemak dari hasil metabolisme, pertumbuhan, laktasi, dan aktivitas (Wright et al.1987).
Pengambilan data untuk menentukan nilai BCS dilakukan sesuai dengan metode Edmonson et al. (1989). Penentuan BCS berdasarkan 8 titik pengamatan dari tubuh sapi yaitu: tonjolan tegak tulang belakang, antara tonjolan tegak dengan tonjolan datar tulang belakang, tonjolan datar tulang belakang, legok lapar, tonjolan tulang pinggul depan dan belakang, daerah antara tonjolan tulang pinggul depan –belakang, daerah antara tonjolan tulang pinggul depan kiri dengan depan kanan, dan daerah antara tulang ekor dengan tonjolan tulang pinggul belakang. Penilaian kondisi tubuh dilakukan dengan cara pengamatan dan perabaan di daerah deposit lemak, yaitu seperti pada daerah punggung dan seperempat bagian sapi paling belakang. Selain itu juga dilakukan perabaan pada daerah penonjolan tulang pada pangkal ekor dan areal pinggang (loin), pangkal ekor, serta pinggang.
DATA PRAKTIKUM DI PETERNAKAN MASYARAKAT 1.DATA PEMILIK:
Nama:
Hariyadi saputra
Umur:
25 thaun
Pendidikan terakhir:
S-1 fkip bk
Alamat:
Jl.pintu air,danau dendam
Pekerjaan utama: wiraswasta
Awal pemeliharaan ternak:
2015
2.TERNAK
Tujuan pemeliharaan : penggemukan
Jumlah ternak : 12 ekor
Jenis ternak : sapi
Bangsa ternak : sapi bali
Perkiraan umur ternak : 4 tahun
Bcs : 2-3
Awal pemeliharaan : 22 januari 2016
Lama pemeliharaan : 20 bulan
Estimasi harga jual : 15-20 juta
3.PAKAN
Jenis pakan yang diberikan : Hijauan,Konsentrat,Solid
Cara mendapatkan pakan : Mencari disekitar,Dibeli
Estimasi kandungan nutrisi : Rumput lapang,Dedak,Pur
ayam
Estimasi biaya pakan : Rp 6.750.000
4.KANDANG
Ukuran kandang:
P=12 m,L=4 m,T=3 m,Jenis Kandang Kelompok
Bahan kandang:
Atap=seng,dinding=bambu,kontruksi=kayu
Gambar:
Estimasi biaya pembuatan kandang : Rp.10.000.000
5.KESEHATAN TERNAK
Nama penyakit yang pernah terdeteksi: diare
Cara pencegahan penyakit : pengobatan dari dinas
Nama obat : solid
Biaya untuk kesehatan ternak : Gratis
6.EKONOMI
Biaya tenaga kerja/bulan: Rp.
2.000.000,- Biaya lainya:
Dedak = Rp 1.500.000/bulan
Solid = Rp 500.000/bulan
Konsentrat = Rp 4.750.000/bulan
Volume/berat kompos dan harga kompos
Berat = 300-450 kg/bulan
PEMBAHASAN:
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1.KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Untuk mengetahui recording rata-rata konsumsi pakan dan air minum ternak kambing dan sapi yaitu dengan pemberian pakan dan air minum yang kita lakukan setiap harinya dengan mencatat setiap pemberian dan sisanya.
2. Untuk mengetahui recording rata-rata fsiologi ternak kambing dan sapi yaitu dengan melakukan pengukuran respirasi, denyut jantung, temperatur rektal, dan temperatur udara, dengan mencatat setiap hasil pengukurannya dengan melakukan itu maka kita akan tahu untuk memprediksi apakah ternak dalam kondisi baik atau tidak baik.
3. Untuk mengetahui recording rata-rata produksi ternak kambing dan sapi yaitu dengan melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, dan lingkar dada setiap tiga kali sehari dan mencatat hasilnya.
4. Pemilik mempunyai ternak sapi sebanyak 12 ekor dengan BCS 3. 5. Kandang sapi menggunakan dinding dari bambu,atap dari seng,kontruksi kandang dari kayu dan lantai kandang dari tanah
3.2.SARAN
Dalam pelaksanaan praktikum ini adapun saran yang dapat kami berikan yaitu :
1. Diharapkan mahasiswa lebih serius dalam melakukan praktikum. 2. Mahasiswa lebih pagi datang nya agar praktikum pada pagi hari
lebih cepat selesai.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin,Z.2003. Konsumsi Pakan Ternak Ruminansia.Universitas
Hasanuddin: Makasar.
Edmonson AJ, Lean IJ, Weaver LD, Loid JW, Farver T, Webster G. 1989.
A Body Condition Scoring Chart for Holstein dairy cows. J Dairy Sci.
72: 68
Frandson, R.D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada
University Press.Yogyakarta.
Housebandry. 2009. Pengaruh Lingkungan terhadap Keadaan Fisiologis
Ternak. Yogyakarta
Mariam,T. 2004. Perbedaan Pertambahan Bobot Badan, Konsumsi dan
Efisiensi Pakan Antara Sapi Jantan PO Dengan Fries Holland Dalam
Kondisi Peternakan Rakyat. Skripsi. Fakultas Peternakan,
Universitas Padjajaran, Bandung.
Parakkasi, A. 2001. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia.
Universitas Indonesia. Jakarta.
Rahmat D. 2006. Analisis dan Pengembangan Pola Pemuliaan
(Breeding Scheme) Domba Priangan yang berkelanjutan.
[Disertasi] Bogor. Program Pascasarjana InstitutPertanian
Rosida, I. 2006. Analisis Potensi Sumber Daya Peternakan Kabupaten
Tasikmalaya sebagai Wilayah Pengembangan Sapi Potong. Skripsi.
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Siregar, S. 1984. Pengaruh ketinggian tempat terhadap konsumsi
makanan dan pertumbuhan kambing dan domba lokal di daerah
Yogyakarta. Majalah Ilmu dan Peternakan, I (5) : 176-183.
Smith,J.J dan J.P Kamping. 1988. Sirkulatory physiology.2nd edition.
Taofk A, dan Depison. 2008. Hubungan Antara Lingkar Perut dan Volume Ambing Dengan Kemampuan Produksi Susu Kambing
Peranakan Ettawa. Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Peternakan. Vol.XI. No. 2.
Bandung
Tillman, A. D., H. Hari., R. Soedomo., P. I.Soeharto dan L. Soekanto.
1989. Ilmu Makanan Ternak Dasar.Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Tobing,NettyL. 2010. Manajemen & teknologi menuju swasembada
daging sapi 2014 Pengaruh formulasi pakan terhadap kandungan
pakan ternak ruminansia. Publikasi Budidaya Ternak Ruminansia
Tomaszewska,M.W.,I..M Mastika., A. Djajanegara., S. Gardiner dan T.R
Wiradarya.1993. Produksi Kambing dan Domba di Indonesia.
Sebelas Maret University Press,Surakarta.
Wright LA, Russel AJF, Whyte TK, McBean AJ, McMillen. 1987. Effects of
body condition, food intake and temporary calf separation on duration of the post-partum anoestrus period and associated LH,
FSH and prolaktin concentration in beef cows. Anim. Prod.
45:395-402.
Zahera, Rika. 2011. Memanfaatkan Limbah Kulit Pisang untuk Pakan