PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DENGAN MEDIA
PROYEKSI DALAM PELAJARAN TEKNIK PENGELASAN LAS
BUSUR MANUAL (SMAW/MMAW)
UNTUK KELAS XI SEMESTER 1 dan 2
SMK N BULAKAMBA
Dosen Pengampu : Drs. Slamet Priyanto, M.Pd
Disusun oleh :
Kelas 2 C
1. Charles Jefri : 11006069 2. Arif Nurdiyanto : 2012006067 3. Abu Musa Al-Asari : 2012006073
PRODI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA
BAB I PENDAHULUAN
A. Tujuan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang keahlian teknik pemesinan khususnya dalam
pembelajaran teknik pengelasan.
Tujuan Program Keahlian Teknik Pemesinan secara umum mengacu pada isi Undang
Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SPN) pasal 3 mengenai Tujuan Pendidikan Nasional dan penjelasan pasal 15 yang menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk
bekerja dalam bidang tertentu. Secara khusus tujuan Program Keahlian Teknik Pemesinan adalah membekali peserta didik dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap agar
kompeten. Lulusan SMK dianggap lebih memiliki skill dan keterampilan kerja yang lebih memadai dibandingkan dengan lulusan SMA/MA. Selain itu lulusan SMK lebih diminati oleh dunia kerja karena mereka lebih mudah untuk diarahkan dan tidak terlalu banyak
tuntutan.
Sekolah berbasis kejuruan atau SMK adalah untuk menyiapkan calon tenaga kerja
terdidik agar mampu bekerja dengan baik, memberikan berbagai layanan pendidikan kejuruan yang permeabel dan flesibel secara terintegrasi antara jalur dan jenjang pendidikan, memperluas layanan dan pemerataan mutu pendidikan kejuruan, mengangkat
keunggulan lokal sebagai modal daya saing bangsa dan memiliki kompetensi keahlian tertentu sebagai bekal di masa mendatang dan mampu bersaing di dunia kerja serta
Kompetensi mata pelajaran teknik pemesinan khususnya dalam proses pengelasan las busur manual siswa harus menciptakan kemampuan dan keterampilan agar membentuk
sikap kepribadian unggul supaya mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan adalah meningkatkan proses pembelajaran teknik pengelasan adalah dengan metode yang afektif ( Permendiknas No.41 Th.2007
tentang Standar Proses). Oleh karena itu dalam pembelajaran teknik pengelasan agar proses pembelajaran dapat tercapai maka harus dilaksanakan seorang instruktur supaya
tercapai kompetensi mata pelajaran agar menjadi efektif dan efisien.
Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Standar proses ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada jalur formal, balk pada sistem paket maupun pada sistem kredit semester.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi agar terlaksana secara efektif dan efisien. Menuju visi pendidikan
nasional yaitu terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi
manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
1. Rumusan Masalah dan Strategi.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1) Apakah metode demonstrasi dan media proyeksi efektif untuk
pembelajaran teknik pengelasan?
BAB II PEMBAHASAN B. Kemampuan Teknik Pengelasan Las Busur Manual
Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan
dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang kontinyu.
Pengelasan dengan SMAW Shield Metal Arc Welding (Las Busur Manual) atau
disebut juga MMAW (Manual Metal Arc Welding) digunakan arus listrik sampai 600 Ampere dan busur nyala listrik itu menimbulkan panas yang tinggi (+- 6.300 derajat Celsius) yang mampu mencairkan logam yang dilas tersebut dan bersama dengan itu,
loncatan busur yang terdiri dari tetesan logam elekroda akan berfungsi/bersatu dengan benda kerja, dan membentuk suatu kampuh, di mana kampuh las itu akan dilindungi oleh
kerak yang ditimbulkan oleh coating/pembungkus elektroda yang mencair bersama-sama logam pengisinya. Koating memiliki berat jenis yang lebih rendah dari logam, maka cairan coating tersebut akan mengembang di atas kampuh las sehingga membentuk terak.
Berdasarkan definisi dari DIN (Deutch Industrie Normen) ( www.termwiki.com/EN:Deutsche_Industrie_Norm) las adalah ikatan metalurgi pada
sambungan logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dari definisi tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa las adalah sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas. Asetilin adalah suatu proses pengelasan
dimana panas untuk pengelasan diperoleh dari nyala api hasil pambakaran bahan bakar gas oksigen (O2) dengan gas asetelin.
harus turut serta mendampingi praktek, secara lebih terperinci dapat dikatakan bahwa perancangan kontruksi bangunan dan mesin dengan sambungan las, harus direncanakan
pula tentang cara-cara pengelasan yang baik dan tahan terhadap guncangan.
Proses pembelajaran teknik pengelasan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: pembelajaran teori yang dilaksanakan di ruang teori di samping ruang praktek di bengkel
permesinan, dan pembelajaran praktek yang dilaksanakan di bengkel permesinan. Pembelajaran teori dalam teknik pengelasan dimaksudkan agar memberikan penjelasan
atau informasi pendahuluan tentang teori penegelasan, cara kerja atau prosedur pengelasan, alat yang akan digunakan dalam proses pengelasan, benda yang akan di las, tentang keselamatan kerja yang harus dipahami, tindakan atau keputuan dan penalaran
yang ada sangkut pautnya dengan pekerjaan teknik pengelasan.
Keterampilan dalam tekniik pengelasan meliputi keterampilan intelektual dan
keterampilan fisik mengelas. Diharapkan mengelas dapat di dalami secara mendetail oleh siswa SMK khususnya jurusan permesinan. Keterampilan fisik meliputi keterampilan yang menggunakan otot dalam melaksanakan tugas. Sedangkan keterampilan intelektual
merupakan keterampilan yang dikendalaikan oleh otak, seperti keterampilan memanipulasi proses pengelasan agar kegiatan berlangsung secara efektif efisien.
Segala upaya yang menyangkut aktifitas jenjang untuk proses berfikir yang mencakup kegiatan mental ( kemampuan kognitif ), mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, penghargaan, semangat, minat, motivasi, dan sikap yang
dimiliki ( kemampuan afektif ), berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan dan kemampuan fisik ( kemampuan psikomotor ). Hal ini seperti yang dikemukakan oleh
Tujuan belajar pada teknik pengelasan adalah agar siswa mampu memiliki pengetahuan tentang bagaimana proses dalam pengelasan suatu benda harus dilaksanakan.
Di samping mengetahui proses seorang siswa atau peserta didik harus memiliki pengetahuan tentang: jenis alat yang digunakan dalam proses pengelasan, arah ayunan pengelasan, posisi pengelasan dan arus yang digunakan sesuai dengan karakter bahan
yang dipakai. Oleh karena itu untuk mencapai kemampuan teknik pengelasan diperlukan teori-teori yang mendukung mulai dari yang sederhana sampai yang komplek, agar
memiliki pengetahuan teori yang mendukung dalam praktek pengelasan sebelum kegiatan praktek dilaksanakan, siswa diberi pengarahan bengkel dan lembar informasi tentang prosedur teknik pengelasan.
C. Definisi Metode dan Media Dalam Pembelajaran
Metode atau strategi adalah suatu siasat yang disusun sedemikian rupa untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Sedangkan metode pembelajaran dapat diartikan sebagai adalah cara atau siasat efektif dan efisien dalam melaksanakan
pembelajaran agar tujuan dapat dicapai secara optimum (dalam slamet priyanto, pembelajaran inovatif 2011:2). Sebelum melakukan pemilihan metode pembelajaran
terdapat 5 (lima) macam pendekatan yang perlu dipahami oleh pendidik, yaitu : pendekatan kompetensi, pendekatan kontekstual, pendekatan tematik, pendekatan keterampilan proses dan pendekatan lingkungan. Pendekatan-pendekatan ini dilakukan
dalam rangka memilih metode-metode yang efektif dan efisien terhadap kompetensi yang akan dicapai. Metode-metode pun ada berbagai macamnya, diantaranya adalah metode
Dalam proses pembelajaran tidak bisa lepas pula dari peran media belajar. Karena media pembelajaran dianggap mampu mempertinggi proses belajar siswa. Media pembelajaran
menurut Rossi dan Breidle (slamet priyanto, pembelajaran inofatif 2011:21), adalah seluruh alat dan bahan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan, seperti radio, televisi, buku, Koran, majalah, dan sebagainya.
Media pembelajaran menurut Rossi dan Breidle (dalam slamet priyanto, pembelajaran inovatif 2011:21), adalah seluruh alat dan bahan yang dapat digunakan untuk mencapai
tujuan pendidikan, seperti radio, televisi, buku, Koran, majalah, dan sebagainya. Manfaat media dalam pembelajaran antara lain : pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa, bahan ajar akan lebih jelas maknanya, metode mengajar akan lebih bervariasi, siswa
menjadi lebih aktif melakukan kegiatan belajar. Terdapat beberapa macam media yang sering digunakan dalam proses pembelajaran, antara lain : media grafis (grafika) yaitu
media yang dapat mengkomunikasikan fakta dan gagasan yang jelas melalui perpaduan antara pengungkapan kata-kata dan gambar (Dr.Nana Sudjana, Drs. Ahmad Rivai (2010:27) ), media proyeksi yaitu media yang dapat menampilkan materi ajar dalam
bentuk slide, media tiga dimensi yaitu media dengan benda nyata dan media audio.
Pada hakikatnya bukan media pembelajaran itu sendiri yang menentukan hasil
belajar. Ternyata keberhasilan menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar tergantung pada (1) isi pesan, (2) cara menjelaskan pesan, dan (3) karakteristik penerima pesan. Dengan demikian dalam
memilih dan menggunakan media, perlu diperhatikan ketiga faktor tersebut.
Apabila ketiga faktor tersebut mampu disampaikan dalam media pembelajaran
Associaton(1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
Tujuan menggunakan media pembelajaran :
Ada beberapa tujuan menggunakan media pembelajaran, diantaranya yaitu :
a) mempermudah proses belajar-mengajar b) meningkatkan efisiensi belajar-mengajar c) menjaga relevansi dengan tujuan belajar d) membantu konsentrasi siswa
Berdasarkan uraian di atas, maka kami dapat memilih metode yang kami anggap paling
relevan untuk mencapai kompetensi dalam pembelajaran teknik pengelasan, kali ini yaitu metode demonstrasi yang efektif , efisien dan media yang kami anggap paling tepat untuk mendampingi pembelajaran teknik pengelasan adalah media proyeksi.
D. Metode Pengarahan Bengkel Dengan Bantuan Media Pembelajaran
Pada metode ini ditekankan sikap komunikatif dan interaktif, siswa diberikan
kesempatan untuk bertanya dan berpendapat. Dalam proses pembelajaran, untuk melengkapi kedua metode tersebut di atas digunakan pula media penyampaian berupa media proyeksi. Media ini berfungsi agar proses pembelajaran lebih menarik, memberi
kesempatan bagi siswa saling tanya jawab dan variatif, sehingga siswa menjadi lebih mudah dalam memahami materi ajar dan lebih aktif. Siswa juga diberikan media
pendamping belajar lain yaitu berupa modul.
Metode pengarahan bengkel adalah suatu prosedur pembelajaran yang di fokuskan pada hal-hal yang berkaitan dengan perbengkelan yang disampaikan dengan metode
ceramah dan metode diskusi, Disini guru memberi contoh yang nyata bagaimana dalam menggunakan alat permesinan untuk praktek. Metode ini sangat membantu dalam
memahami dan mengerti apa yang di sampaikan guru dan siswa dapat mempraktekannya dengan baik dan benar.
Melalui demonstrasi dengan penjelasan singkat, maka pesan/materi yang bersifat realistik dan praktik akan disajikan. Suwandi, Pengaruh Penggunaan Metode Demonstrasi dan Bakat Mekanik 17 Ardhana dalam Purwaningsih (1992), menyatakan ciri utama
metode demonstrasi adalah memperlihatkan, melakukan dan menceritakan. Demonstrasi sangat sesuai untuk dipergunakan dalam pembelajaran praktik. Pengajaran yang baik
dianggap sebagai bagian dari komunikasi yang baik, demonstrasi memudahkan terjadinya komunikasi.
Demonstrasi dapat ditempuh dengan menunjukkan kepada siswa tentang bagaimana
melakukan sesuatu dan sesudah itu siswa dapat melakukannya. Demonstrasi bertujuan untuk menunjukkan keterampilan manipulatif yang harus dicapai (General Physics
Corporation, 1983). Dalam hal ini demonstrasi adalah metode dasar untuk pembelajaran mengelas kepada siswa. Demonstrasi tidak lain hanya menunjukkan kepada siswa bagaimana dan mengapa sesuatu harus dikerjakan. Keterampilan psikomotor yang berupa
keterampilan mengelas merupakan ciri hasil belajar kerja bengkel, khususnya praktik kerja mesin.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Norman (1984), yang menyimpulkan bahwa siswa yang secara tuntas mempraktikkan apa yang telah didemonstrasikan oleh pendidik memiliki skor lebih tinggi secara signifikan pada tes tulis
dan memerlukan waktu lebih pendek untuk latihan dari pada siswa yang tidak secara tuntas mempraktikkan apa yang didemonstrasikan oleh pendidik. Mengingatkan bahwa
mengerjakan suatu pekerjaan. Hal ini disebabkan belajar keterampilan pada hakekatnya adalah mengkoordinasikan sesuatu pekerjaan. Oleh karena itu perlu diberikan penjelasan
singkat selama demonstrasi dilaksanakan.
Berikut adalah bentuk implementasi metode dan media yang dipilih pada proses
pengarahan bengkel:
a) Pengenalan Perlengkapan keselamatan Kerja
Siswa harus dikenalkan syarat-syarat perlengkapan keselamatan kerja sebelum melakukan pekerjaan praktek pada perbengkelan, yaitu keselamatan kerja. Siswa diajarkan untuk terbiasa mengutamakan keselamatan sebelum bekerja untuk
mengantisipasi segala risiko yang akan terjadi ketika sedang bekerja. Pada perlengkapan keselamatan kerja pengelasan terdiri dari :
1. Helm las (topeng las), 2. Tarung tangan
3. Baju las (apron) 4. Sepatu las 5. Kamar las
b) Peralatan las busur manual (MMAW/SMAW)
Pengenalan alat-alat perbengkelan bertujuan memudahkan siswa mengidentifikasi
spesifikasi peralatan las atau perkakas lain. Siswa dikenalkan mulai dari nama-nama alat potong, alat bantu, bagian-bagian, fungsi dan kegunaan dari alat-alat tersebut
dengan bantuan media proyeksi. Peralatan las busur manual terdiri dari dari peralatan utama, peralatan bantu serta peralatan keselamatan kerja. Untuk dapat melakukan proses pengelasan dengan baik, maka peralatan tersebut harus dilengkapi.
pengelasan, sehingga pengelasan tidak dapat dilakukan jika salah satu dari peralatan utama tidak ada, yang termasuk peralatan utama adalah :
-mesin las/trafo las -tang las (older)
-klem masa -kabel las (primer & sekunder) sedangkan peralatan bantu dan peralatan keselamatan kerja/kesehatan kerja antara lain :
-kedok las [helm/gogel] -sikat baja
-palu terak [chipping hammer] -tang penjepit [smit tang]
-tabir penghalang, sistem penghisap debu
-dll.
c) Elektroda yang harus dipergunakan
Siswa harus diperkenalakan tenteng elektroda yang harus dipergunakan, Elektroda yang dipergunakan pada las busur mempunyai perbedaan komposisi selaput maupun kawat inti. Diantaranya adalah elektroda berselaput. Pada elektroda ini
pengelasan fluksi pada kawat inti dapat dengan cara destruksi, semprot atau celup. Ukuran standar diameter kawat inti dari 1,5 sampai 7 mm dengan panjang antara 350
sampai 450 mm.
Guru menjelaskan dengan cara menggunakan media proyeksi yaitu berupa gambar jenis-jenis elektroda yang harus digunakan dan cara penyalaan las busur
manual, kemudian memberi contoh cara menggunakan las busur tersebut dengan baik dan benar agar setiap siswa memahami sebelum melakukan hal tersebut sebelum
d) Memilih Besar Arus Listrik
Besarnya arus listrik untuk pengelasan tergantung pada ukuran diameter dan
macam elektroda las. Pada prakteknya dipilih empere pertengahan. Sabagai contoh; untuk elektroda. E 6010, ampere minimum dan maximum adalah 80 amp. sampai 120 amp. Sehingga dalam hal ini ampere pertengahan 100 amp.
Tabel Besar arus dalam ampere dan diameter (mm)
Keterangan :
a. E menyatakan elektroda
b. Dua angka setelah E (misalnya 60 atau 70) menyatakan kekuatan tarik defosit las dalam ribuan dengan 1b/inchi²
c. Angka ketiga setelah E menyatakan posisi pengelasan, yaitu : – Angka (1) untuk pengelasan segala posisi,
– Angka (2) untuk pengelasan posisi datar dan bawah tangan.
d. Angka ke empat setelah E menyatakan jenis selaput dan jenis arus yang cocok dipakai untuk pengelasan.
e) Evaluasi
Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui sampai seberapa tingkat siswa
peranan media dalam penyampaian materi bahan ajar. Evaluasi ini diberikan berupa tugas-tugas atau tes yang wajib dikerjakan oleh siswa.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dianalisis tentang kelebihan dari metode atau media pengarahan bengkel yang diterapkan, yaitu :
a) Metode yang diterapkan dan dibantu dengan media yang
sesuai sangat membantu karena dapat menarik perhatian siswa atau peserta didik dan mempermudah siswa dalam
memahami materi yang disampaikan merupakan dasar dan melatih sikap disiplin siswa agar selalu tertib dan siap sebelum memulai praktek pengelasan .
b) Dengan adanya evaluasi, guru dapat mengetahui sampai sejauh mana tingkat pemahaman siswa dan sampai sejauh
mana siswa merasa nyaman dengan bahan ajar yang disampaikan.
c) Membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkrit.
Dengan demikian dapat menghindarkan verbalisme, siswa diharapkan lebih mudah dalam memahami apa yang
dipelajari, proses pengajaran akan lebih menarik, siswa dirangsang untuk mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri
(Djamarah dan Zain,2006:91).
E. Metode Demonstrasi Dengan Bantuan Media Pembelajaran
produk teknologi yang sedang dipelajari. Agar lebih menarik dan inovatif, maka pada pembelajaran kali ini digunakan media berupa media proyeksi. Sehingga siswa mampu
memahami materi lebih mudah dan memiliki gambaran nyata tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengelasan las busur manual.
Dengan Metode demonstrasi ini cara pengelolaan pembelajaran dengan
memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses pembelajaran, situasi, benda, atau cara kerja suatu produk teknologi yang sedang dipelajari. Tidak jauh berbeda
dengan metode pengarahan bengkel, yang berbeda pada metode demonstrasi bengkel ini yaitu metode yang digunakan adalah metode demonstrasi, dengan lebih menekankan contoh konkret dengan peragaan gambar, video atau program dari aplikasi proses
pembelajaran pengelasan.
Menurut A.Tabrani Rusyan (1993 : 106) mengatakan bahwa “Metode Demonstrasi
adalah merupakan pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan”. Dalam hal ini dengan demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala
benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang sesuai dengan harapan.
Syaiful Bahri Djamarah (www.weblogask.blogspot.com) mengemukakan bahwa Metode demontrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses
pembelajaran kali ini digunakan media berupa media grafis, media proyeksi dan media tiga dimensi. Sehingga siswa mampu memahami materi yang diberikan lebih mudah dan
memiliki gambaran nyata tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran pengelasan. Selain itu siswa juga diberikan media pendamping lain yaitu berupa modul. Beberapa pendapat tentang metode demonstrasi yang dikemukakan di atas dapat
dirangkum bahwa dengan metode demonstrasis dapat menumbuhkan stimulus belajar siswa, yang dapat dilihat oleh indera pandang dan indera dengar, indera pandang dan
indera dengar merupakan dua hal penting dalam komunikasi. Hal ini disebabkan belajar keterampilan pada hakekatnya adalah mengkordinasikan sesuatu pekerjaan. Oleh karena itu perlu diberikan peenjelasan singkat selama metode demonstrasi dilakukan.
Berikut adalah bentuk implementasi metode dan media yang dipilih pada proses demonstrasi pekerjaan bengkel. dilaksanakan.
a) Menjelaskan pada materi ajar Mesin Las Busur Manual
Mesin las Busur manual secara garis besar dibagi dalam 2 golongan,yaitu : 1. Mesin las arus bolak-balik (AC welding machine)
2. Mesin las arus searah (DC welding machine)
mesin las arus bolak-balik sebenarnya transformator, karena mesin ini dapat
menurunkan tegangan, nisalnya dari 110 volt, 220 volt, 380 volt atau 420 volt menjadi berkisar antara 20 sampai 80 volt. Pada saat belum terjadinya busur las keadaan ini.
Dengan demikian, siswa diharapkan mampu mempersiapkan peralatan mesin las untuk digunakan dalam praktek dan meminimalisir akan terjadinya kerusakan
pada mesin ataupun benda kerja.
Siswa dijelaskan bagaimana cara pengelasan las busur manual dengan media gambar yang ditampilkan dengan media proyeksi (LCD). Diberi contoh bagaimana
teknik membubut yang benar. Kemudian dari penjelasan-penjelasan tersebut ditujukan agar siswa dapat memahami bagaimana proses serta langkah kerjanya pengelasan sehingga akan mempermudah siswa dalam melakukan pengelasan yang
sebenarnya dan dapat mempraktekan secara langsung. d) Menjelaskan Tentang Keselamatan Kerja (K3)
Pada proses pengelasan Las Busur Manual (MMAW/SMAW). Siswa dijelaskan tentang keselamatan kerja, Siswa harus dikenalkan syarat-syarat utama sebelum melakukan pekerjaan praktek pengelasan las busur dengan metode ceramah serta
media proyeksi tentang keselamatan kerja. Siswa diajarkan untuk terbiasa mengutamakan keselamatan sebelum bekerja untuk mengantisipasi segala resiko
yang akan terjadi ketika sedang bekerja e) Evaluasi
Siswa diberi tugas-tugas untuk pedoman guru, sejauh mana para siswa memahami
materi yang telah disampaikan dan seberapa berpengaruhnya peran media dalam pembelajaran kerja bengkel ini. Evaluasi ini diberikan berupa praktek pengelasan
Las Busur Manual suatu benda kerja dan disertai dengan job sheet.
Dari uraian-uraian di atas, dapat kita analisis kelebihan dari metode tersebut.
Kelebihan :
meningkatkan etos kerja dan kemauan siswa. Sehingga ketika nantinya siswa dihadapkan pada pekerjaan nyata diharapkan agar siswa dapat menyelesaikan masalah yang diberikan oleh seorang guru dan siswa tidak merasa kesulitan.
Kemudian untuk menjawab rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut :
1) Dalam metode demonstrasi yang telah diterapkan melalui pendekatan pembelajaran teknik pengelasan sangat efektif karena siswa dapat memahami dengan jelas, karena media yang digunakan dalam proses pembelajaran adalh
media proyeksi dan siswa dapat secara langsung melihat gambaran dari teknik pengelasan.
BAB III
PENUTUP A. SIMPULAN
Tujuan dari sekolah menengah kejuruan atau SMK adalah untuk menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan memiliki jiwa wirausaha. Untuk mencapai
tujuan tersebut maka di perlukan kompetensi-kompetensi keahlian dalam proses penegelasan las busur manual (SMAW/MMAW). Untuk pencapain kompetensi pengelasan las busur manual harus sesuai dengan standar proses yang telah di
tetapkan dalam standar proses pendidikan.
Kemampuan mengelas meliputi: kemampuan kognitif (Segala upaya yang
menyangkut aktifitas jenjang untuk proses berfikir yang mencakup kegiatan mental), kemampuan afektif (mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, penghargaan, semangat,minat, motivasi, dan
sikap), berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan dan kemampuan fisik (kemampuan psikomotor). Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Bloom
(1974;7) bahwa tujuan belajar memiliki tiga ranah, yakni koqnitif, afektif dan psikomotor.
Dengan media pembelajaran pelaksanaan proses belajar mengajar akan lebih
menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar, bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih di pahami oleh para
hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan serta mendemonstrasikan.
Keunggulan metode yang digunakan adalah Membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkrit. Dengan demikian dapat menghindarkan verbalisme, siswa diharapkan lebih mudah dalam memahami apa yang dipelajari, proses
pengajaran akan lebih menarik, siswa dirangsang untuk mengamati.
Tujuan belajar pada teknik pengelasan adalah agar siswa mampu memiliki
pengetahuan tentang bagaimana proses dalam pengelasan suatu benda harus dilaksanakan, mengetahui tentang pelaksanaan proses pengelasan dan penggunaan keselamatan kerja.
Kemampuan praktek teknik pengelasan sebagai hasil pembelajaran dapat dievaluasi dengan: soal tes untuk aspek koqnitif; observasi dengan pedoman
DAFTAR PUSTAKA
Slamet Priyanto.2011.Pembelajaran Inovatif.PLPG:2011 Leighbody (dalam slamet priyanto, wacana april 2010:19)
(Joko Darmanto, SPd.2007.Bekerja Dengan Mesin Bubut.Surakarta:Yudhistira). Dr. Nana Sudjana,Drs. Ahmad Rivai.2010.Media Pengajaran.Bandung:Sinar Baru
Algensindo.
Dunnette, M. D. (Inggris)"Aptitude, Abilities, and Skills," Handbook of Industrial and
Organizational Psychology, Chicago: Rand McNally, 1976, hal. 478-483.
www.termwiki.com/EN:Deutsche_Industrie_Norm ,Diakses pada tanggal 22 Mei
2014 pukul 18.50. hanstoe.2009. pengertian las busur manual (SMAW/MMAW).
http://weblogask.blogspot.com , Diakses pada tanggal 16 Mei 2013 pukul 14.37.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/30/taksonomi-perilaku-individu/ .
Diakses pada tanggal 4 Mei 2014 pukul 21.54.