MAKALAH
Islam sebagai Pandangan Hidup
Dosen Pembibing :
Ahmad Fadlur Rohman Bayuny, S.E.I.,M.Sc. IBF
Disusun Oleh :
Fathunni’am Dwi Syahputra 21701083026
Nuzulur Rohmah
21701083032
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
FAKULTAS EKONOMI
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... Daftar Isi...
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang... B. Rumusan Masalah... C. Tujuan ...
BAB II Pembahasan
A. Pengertian Pandangan Hidup...
B. Proses Lahirnya Pandangan Hidup... C. Pandangan Hidup Islam dan Tradisi Keilmuan... D. Elemen-elemen Pandangan Hidup (worldview)... E. Karakteristik Pandangan Hidup Islam ... F. Analisa Perbandingan ...
BAB III Penutup
A. Kesimpulan...
Daftar Pustaka
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Setidaknya ada beberapa alasan penting mengapa kajian mengenai pandangan hidup (worldview) menjadi penting dalam era globalisasi dan perang pemikiran pada dewasa ini.
Pertama, yakni ketika institusi agama-agama berhadapan dengan proses globalisasi penegasan identitas diri secara komprehensif hanya dapat dilakukan dengan worldview. Kedua, ditengah masyarakat yang pluralistis denominasi kultural perlu memiliki matriknya sendiri atau pandangannya sendiri dalam melihat realitas sosial dan kultural sekitarnya.
Benturan peradaban ataupun benturan persepsi tidak lain adalah benturan pandangan hidup (worldview), sebab, setiap agama, bangsa dan peradaban memiliki pandangan hidup sendiri-sendiri secara ekslusif dan untuk itu diperlukan sikap saling memahami. Bangunan konsep Islam sebagai agama dan peradaban ini mencerminkan sebuah pandangan hidup (worldview) yang memiliki struktur konseptualnya sendiri yang ekslusif dan berbeda dari peradaban lain.
1.2.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apakah Pengertian Dari Pandangan Hidup Itu Sendiri? 2. Bagaimanakah proses Lahirnya Pandangan Hidup?
3. Bagaimana Pandangan Hidup Islam dan Tradisi Keilmuan? 4. Apa Sajakah Elemen-elemen Pandangan Hidup (worldview)? 5. Bagaiana Krakteristik Pandangan Hidup Islam?
6. Bagaimana Analisa Perbandingan Pandangan Hidup Islam dan Barat
1.3.Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk memenuhi tugas Mid Semester dari Mata Kuliah “Islam and Education”.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Sebelum memahami lebih lanjut tentang worldview dan kaitannya dengan denominasi kultural dan religius, perlu dipahami terlebih dahulu definisi pandangan hidup (worldview) secara umu dan definisi menurut Islam.
1. Pengertian Umum
` Cara pandang yang bersumber pda kebudayaan memiliki spektrum yang terbatas pada bidang-bidang tertentu dalam kebudayaan itu. Cara pandang yang berasal dari agama dan kepercayaan akan mencakup bidang-bidang yang menjadi bagian konsep kepercayaan agama itu. Sebenarnya istilah umum dari worldview hanya sebatas pada pengertian ideologis, sekuler, kepercayaan animistis, atau seperangkat dotrin-doktrin teologis dalam kaitannya dengan visi keduniaan. Artinya, worldview dipakai untuk mengambarkan dan membedakan hakekat sesuatu agama, peradaban atau kepercayaan.
Setidaknya ada beberapa poin penting akan definisi secara umum, yaitu bahwa worldview adalah motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktifitas ilmiah. Dalam konteks sains, hakekat worldview dapat dikaitkan dengan konsep “perubahan paradigma”. Dapat dipahami bahwa worldview adalah identitas untuk membedakan antara suatu peradaban dengan yang lain. Worldview melibatkan aktifitas epistemologis manusia, sebab ia merupakan faktor penting dalam aktifitas penalaran manusia.
2. Pengertian dalam Islam
Shaykh Atif al-Zaynmengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah (kepercayaan yang rasional) yang berdasarkan pada akal. Sebab setiap Muslim wajib beriman kepada hakekat wujud Allah, kenabian Muhammad SAW, dan kepada al-Qur’an dengan akal.
B. Proses Lahirnya Pandangan Hidup
Suatu pandangan hidup timbul dalam diri seseorang memerlukan penjelasan yang agak rumit. Karena pandangan hidup berkaitan dengan masalah cara pandang seseorang terhadap sesuatu, maka penjelasan tentang munculnya pandangan hidup melibatkan penjelasan epistemologis.
1. Pandangan hidup Umum
Suatu worldview terbentuk dalam pikiran individu secara perlahan-lahan, bermula dari akumulasi konsep-konsep dan sikap mental yang dikembangkan oleh seseorang sepanjang hidupnya, sehingga akhirnya membentuk framework berfikir (mental framework) atau worldview.
Ilmu pengetahuan yan gdiperoleh seseorang itu sudah tentu terdiri dari berbagai konsep dalam bentuk ide-ide, kepercayaan, aspirasi yang kesemuanya membentuk suatu totalitas konsep yang saling berkaitan dan terorganisasikan dalam suatu jaringan. Jaringan ini membentuk struktur berfikir yang koheren dan dapat disebut sebagai “achitectonic whole”, yaitu suatu keseluruhan yang saling berhubungan. Maka dari itu pandang hidup seseorang itu terbentuk tidak lama setelah pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk konsep-konsep itu membentuk suatu keseluruhan yang saling berhubungan.
Jika dalam pandangan hidup suatu masyarakat tidak terdapat konsep ilmu atau konsep-konsep lain yang berkaitan, maka pandangan hidup itu hanya berperan sebagai kondisi berfikir (mental environment) yang tidak menjamin adanya kegiatan ilmiah atau penyebaran ilmu pengetahuan di masyarakat. Jika pandangan hidup suatu masyarakat itu telah memiliki konsep ilmu atau konsep-konsep lain yan gberkaitan maka pandangan hidup itu akan berkembang melalui cara-cara ilmiah.
pengetahuan yang lain ditolak. Pengetahuan yang diterima oleh akal kita akan menjadi bagian dari struktur worldview yang dimilikinya. Prof.Alparslan mengkategorikan struktur pandangan hidup menjadi lima;
Proses terbentuknya struktur konsep dalam worldview ini bermula dari struktur tentang kehidupan, yang didalamnya termasuk cara-cara manusia menjalani kegiatan kehidupan sehari-hari, sikap-sikap individual dan sosialnya. Struktur tentang dunia adalah konsepsi tentang dunia dimana manusia hidup. Struktur tentang ilmu pengetahuan adalah merupakan pengembangan dari struktur dunia. Gabungan dari struktur kehidupan, dunia dan pengetahuan ini melahirkan struktur nilai, dimana konsep-konsep tentang moralitas berkembang. Setelah keempat struktur itu terbentuk dalam pandangan hidup seseorang secara transparent, maka struktur tentang manusia akan terbentuk secara otomatis.
2. Pandangan Hidup Islam
Wahyu yang diterima Nabi disampaikan dan dijelaskan kepada masyarakat. Cara-cara seperti ini tidak sama dengan cara-cara yang ada pada scientific worldview, dan oleh sebab itu Prof.Alparslan menamakan worldview islam sebagai “quasi-scientific worldview”. Namun pandangan hidup “berkembnag” menjadi scientific worldview setelah konsep-konsep asas yang dikandung oleh wahyu dijelaskan dan diperluas maknanya oleh Nabi dan para sahabat serta para ulama sesudahnya. Namun ‘perkembangan’ disini tidak menunjukkan proses pertumbuhan menuju kematangan atau kedewasaan, seperti pandangan hidup Barat, tapi lebih merupakan proses interpretasi dan elaborasi wahyu yang bersifat permanen.
Oleh sebab itu ‘perkembangan’ pandangan hidup Islam perlu merujuk kepada periode dessiminasi ayat-ayat al-Qur’an oleh Nabi dan pemahaman umat Islam terhadapnya. Dalam kaitannya dengan itu, Prof.Alparslan membagi tiga periode penting, yaitu :
1) Lahirnya pandangan hidup Islam dalam bentuk wahyu
menjelaskan wahyu. Di sini periode Makkah yang merupakan periode yang sangat penting dalam kelahiran pandangan hdup Islam. Karena banyaknya surah-surah al-Qur’an diturunkan di Makkah. Pada periode Madinah, wahyu yang diturunkan lebih banyak mengandung tema-tema umum yang berkaitan dengan kehidupan komunitas Muslim, seperti penyempurnaan ritual peribadatan, rukun Islam, sistim hukum yang mengatur hubungan individu, keluarga dan masyarakat.
2) Lahirnya struktur ilmu pengetahuan dalam pandangan hidup tersebut.
Timbul dari kesadaran bahwa wahyu yang turun dan dijelaskan Nabi itu telah mengandung struktur fundamental scientific worldview, seperti tentang kehidupan (life structure), struktur tentang dunia, tentang ilmu pengetahuan, tentang etika dan tentang manusia, yang kesemuanya itu sangat potensial bagi timbulnya kegiatan keilmuan.
3) Lahirnya tradisi keilmuan Islam.
Seperti diketahui tradisi keilmuan dalam Islam adalah merupakan konsekuensi logis dari adanya struktur pengetahuan dalam pandangan hidup Islam. Untuk menggambarkan tradisi keilmuan Islam, pertama-tama perlu ditunjukkan wujudnya komunitas ilmuwan dan proses kelahirannya pada awal abad pertama dalam Islam. Kemudian menunukkan adanya kerangka konsep keilmuan Islam (Islamic scientific conceptual scheme) yang merupakan framework yang berperan aktif dalam tradisi keilmuan itu.
C. Pandangan Hidup Islam dan Tradisi Keilmuan
Wujudnya tradisi intelektual dalam Islam yang mengiringi munculnya pandangan hidup Islam dapat ditunjukkan melalui bukti sejarah akan adanya masyarakat ilmuwan atau kelompok belajar atau sekolah Ashab al-Suffah di Madinah.
Framework yang dipakai pada awal lahirnya tradisi keilmuan ini sudah tentu adalah kerangka konsep keilmuan Islam (Islamic scientific conceptual scheme). Indikasi adanya kerangka konseptual ini adalah usaha-usaha para ilmuwan untuk menemukan beberapa istilah teknis keilmuan yang rumit dan canggih. Istilah-istilah yang diderivasi dari kosa kata al-Qur’an dan hadith Nabi termasuk diantaranya : ‘ilm, fiqh, usul, ijtihad, ijma’, qiyas dan lain sebagainya, menunjukkan adanya kerangka konsep keilmuan.
ilmu yang lain. Lahirnya disiplin ilmi-ilmu Fiqih, kalam, hadith, tafsir, faraidh, falak dan lain sebagainya membuktikan wujudnya tradisi ilmiah dalam Islam.
D. Elemen-elemen Pandangan Hidup (Worldview)
Sebagai sebuah sistim yang secara definitif begitu jelas, worldview atau pandangan hidup memiliki karakteristik tersendiri yang ditentukan oleh beberapa elemen yang menjadi asas atau tiang penyokongnya. Menurut Thomas suatu pandangan hidup ditentukan oleh pemahaman individu terhadap enam bidang pembahasan, yaitu :1) Tuhan, 2) Ilmu, 3) Realitas, 4) Diri, 5) Etika, 6) Masyarakat. Elemen-elemen tersebut merupakan suatu sistim yang integral, dimana antara satu konsep berkaitan dengan yang lain secara sistemik. Kepercayan individu terhadap adanya atau tidak adanya Tuhan akan berkaitan secara konseptual dengan ilmu, realitas, diri, etika dan masyarakat.
Ninin Smart mengkaji worldview dalam konteks kepercayaan atau agama, elemen pandangan hidup ditentukan oleh elemen-elemen dalam agama dan kepercayaan masyarakat. Ia mengajukan enam elemen penting suatu pandangan hidup, 1) Doktrin, 2) Mitologi, 3) Etika, 4)Ritus, 5) Pengalaman, 6) Kemasyarakatan. Pandangan Smart terhadap agama nampaknya dipengaruhi oleh persepsinya tentang agama di Barat, sebab di sini konsep Tuhan, ilmu dan realitas nampak absen dari elemen pandangan hidup agama.
Shaykh Atif al-Zayn, tidak merincikan elemen pandangan hidup Islam, namun hanya mengajukan karakteristik yang membedakan antara pandangan hidup Islam dari pandangan hidup lain, yakni :
a) Ia berasal dari wahyu Allah
b) Berdsarkan konsep (din) yang tidak terpisah dari Negara c) Kesatuan antara spiritual dan material
Sayyid Qutb juga melihat bahwa pandangan hidup Islam itu menyeluruh dan tidak mempunyai elemen atau bagia (juz’). Ia adalah keseluruhan sisi dan sempurna karena kesempurnaan sisi-sisinya. Bahkan pandangan hidup Islam bukan ciptaan manusia, akal manusia tidak dapat menciptakannya, karena ia bersal dari Allah.
Menurut Prof.Al-Attas elemen asas bagi worldview Islam sangat banyak dan merupakan jalinan konsep-konsep yang t terpisahkan. Diantara yang paling utama adalah :
2) Konsep tentang Wahyu (al-Qur’an), Konsep-konsep ini semua saling berkaitan antara satu sama lain membentuk sebuah struktur konsep yang sistemik. Secara praktis konsep-konsep penting tersebut dapat berguna bagi penafsiran makna kebenaran (truth) dan realitas (reality). Apa yang dianggap benar dan riel oleh pandangan hidup Islam tidak selalui begitu bagi pandangan hidup lain. Untuk menentukan sesuatu itu benar dan riel dalam setiap kebudayaan berkaitan erat dengan sistim metafisika masing-masing yang terbentuk oleh worldview.
E. Karakteristik Pandangan Hidup Islam
Dalam studi keagamaan modern (modern study of religion) istilah worldview secara umum merujuk kepada agama dan ideologi sekuler, tapi dalam Islam worldview merujuk kepada makna realitas yang lebih luas. Dalam pandangan Sayyid Qutb karakteristik pandangan hidup Islam terdiri dari tujuh :
1) Rabbaniyyah (bersumber dari Allah), artinya berasal dari Tuhan sehingga dapat disebut sebagai visi keilahian. Sifat inilah yang membedakan Islam dari pandangan hidup dan ideologi lain. Ia diturunkan dari Tuhan dengan segenap komponennya.
2) Bersifat konstan (thabat) artinya tasawwur al-Islami itu dapat diimplementasikan kedalam berbagai bentuk struktur masyarakat dan bahkan berbagai macam masyarakat. Namun esensinya tetap konstan, tidak berubah dan tidak berkembang. Ia tidak memerlukan penyesuaian terhadap kehidupan dan pemikiran, sebab ia telah menyediakan ruang dinamis yang bergerak dalam suatu kutun yang konstan.
tingkah laku, antara visi dan inisiatif, antara doktrin dan sistim, antara hdup dan mati, antara cita-cita dan gerakan, antara kehidupan dunia dan kehidupan sesudahnya.
4) Seimbang (tawazun), artinya pandangan hidup Islam itu merupakan bentuk yang seimbang antara wahyu dan akal, sebab memang wahyu diturunkan untuk dapat diimani dan difahami oleh akal manusia.
5) Positif (ijabiyyah), artinya pandangan hidup Islam mendorong kepada aktifitas ketaatan kepada Allah dan sekap positif. Segala aktifitas dalam hidup manusia mempunyai relevansinya dan konsekuensinya dalam agama dan sebaliknya pernyataan dalam ibadab shahadah dengan lidah mesti diamalkan dalam aktifitas yang nyata.
6) Pragmatis (waqi’iyyah), artinya sifat pandangan hidup Islam itu tidak melulu idealistis, tapi juga membumi kedalam realitas kehidupan. Jadi ia bersifat idealistis dan realistits sekaligus, sehingga ia dapat membangun sistim yang lengkap yang sesuai dengan sifat-sifat kemanusiaan. Dalam Islam perasaan manusia yang dibutuhkan hanyalah sejauh kapasitasnya sebagai manusia. Ia tidak dituntut untuk berada pada posisi yang lebih rendah dari itu atau lebih tinggi sampai kepada derajat ketuhanan.
7) Keesaan (tawhid), artinya karakteristik yang paling mendasar dari pandangan hidup Islam adalah pernyataan bahwa Tuhan itu adalah Esa dan segala sesuatu diciptakan oleh-Nya.
Prof.Al-Attas menggambarkan tentang elemen penting yang menjadi karakter utama pandangan hidup Islam. Elemen penting pandangan hidup Islam itu digambarkan dalam poin-poin berikut ini :
1. Dalam pandangan hidup Islam realitas dan kebenaran dimaknai berdasarkan kepada kajian metafisika terhadap dunia yang nampak (visible world) dan yang tidak nampak (invisible world). Sedangkan pandangan Barat terhadap realitas dan kebenaran, terbentuk berdsarkan akumulasi pandangan terhadap kehidupan kultural, tata nilai dan berbagai fenomena sosial. \
3. Pandangan hidup Islam bersumberkan kepada wahyu yang diperkuat oleh agama (din) dan didukung oleh prinsip akal dan intuisi. Karena itu pandangan hidup Islam telah sempurna sejak awal dan tidak memerlukan kajian ulang atau tinjauan kesejahteraan untuk menentukan posisi dan peranan historisnya.
4. Elemen-elemen pandangan hidup Islam terdiri utamanya dari konsep Tuhan, konsep wahyu, konsep penciptaan-Nya, konsep psikologi manusia, konsep ilmu, konsep agama, konsep kebebasan, konsep nilai dan kebajikan, konsep kebahagiaan. Elemen-elemen dasar ini berperan sebagai tiang pemersatu yang meletakkan sistim makna, standar tata kehidupan dan nilai dalam suatu kesatuan sistim yang koheren dalam bentuk worldview. 5. Pandangan hidup Islam memiliki elemen utama yang paling mendasar yaitu konsep
tentang Tuhan. Konsep Tuhan dalam Islam adalah sentral dan tidak sama dengan kosep-konsep yang terdapat dalam tradisi keagamaan lain.
Ituah ciri-ciri pandangan hidup atau worldview Islam yng tidak saja membedakan Islam dari agama, peradaban dan kebudayaan lain tapi juga membedakan metode berfikir dalam Islam dan metode berfikir pada kebudayaan lain.
1) Pandangan Hidup Barat Modern
Karakteristik pandangan hidup Islam akan dapat dipahami dengan lebih baik jika dibandingkan dengan pandangan hidup lain. Disini yang paling relevan adalah pandangan hidup Barat. Sejarahnya, peradaban Barat adalah peradaban yang dikembangkan oleh bangsa-bangsa Eropa dari peradaban Yunani kuno yang dikawinkan dengan peradaban Romawi dan disesuaikan dengan elemen-elemen kebudayaan bangsa Eropa terutamanya Jerman, Inggris dan Perancis. Ketika agama Kristen dominan dalam kehidupan keagamaan masyarakat Eropa, mereka maish berada dalam zaman yang mereka sebut Dark Ages (Zaman Kegelapan). Namun mereka mendapat pencerahan setelah mereka menterjemahkan karya-karya cendekiawan Muslim dalam berbagai bidang sains (1050-1150) kedalam bahasa Latin.
masyarakat rasional (rational society), yaitu suatu asyarakat yang segala kegiatannya termasuk bidang sains dan terknologi serta kehidupan politik dikontrol oleh rasio.
Selain dari elemen Rasionalisme dan sekularisme, Barat Modern juga menganut pandangan filsafat empirisme yaitu suatu prinsip yang merupakan konsekuensi logis dari rasionalisme dan sainitifisme. Dari perspektif ontologism Barat modern juga diwarnai oleh dulisme dalam memandang realitas, pemisahan jiwa dan raga adalah contoh yang paling kongkrit.
Gambaran singkat pandangan hidup Barat Modern menunjukkan bahwa elemen pandangan hidup Barat terdiri dari rasionalisme, sekularisme, empirisme (positivisme), dualisme atau dichotomi dan humanisme.
2) Pandangan Hidup Barat Posmodern
Pada abad ke-19 adalah era di mana modernitas mulai dipertanyakan oleh suatu gerakan filsafat yang berpegang pada prinsip yang meragukan bahwa realitas memiliki struktur yang dapat dipahami oleh manusia. Ini adalah pengingkaran terhadap absolutisme dan sekaligus merupakan serangan yang serius terhadap salah satu disiplin ilmu filsafat yang terpenting, yaitu metafisika obyektif. Munculnya eksistensialisme dan filsafat analitik, yang merupakan dua gerakan yang sangat dominan pada waktu itu, merupakan produk akal post-modern (postmodern mind).
Meskipun doktrin yang kemudian dinamakan European nihilism ini mengusung proyek devaluasi nilai, namunmereka masih menganggap hal ini sebagai suatu jalan baru dalam menentukan konsep nilai yang berbeda dari kepercayaan dalam agama. Nilai tidak lagi berkaitan dengan agama dan kepercayaan. Jadi nihilisme, berhubungan dengan perubahan kebenaran ke dalam nilai, tapi nilai yang teh diwarnai oleh kepercayaan dan opini manusia.
Teori tentang European nihilism dapatdilihat dengan lebih jelas lagi dari apa yang kini disebut sebagai “the philosophy of difference”. Segala perbedaan antara kepalsuan dan kebenaran, rasional dan irrasional harus diletakkan di luar jangkauan bahasa dan konsep-konsep yang melekat dengannya.
Singkatnya, filsafat post-modern melebur nilai tertinggi, menyingkirkan Tuhan dan rujukan segala bentuk nilai sebagai fondasinya. Nilai baru yang diperkenalkan post-modernisme adalah nilai yang memiliki hubunga dengan nilai-nilai lain atau bahkan saling tukar menukar, karena ini memiliki status yang sama dalam wajah yang universal.
Atmosfir pemikiran posmodernisme dengan doktrin subyektifitas dan relativitas kebenaran ini adalah salah satu faktor penting bagi lahirnya paham pluralisme dan juga pluralisme agama.
F. Analisa Perbandingan
Jika kita bandingkan antara pandangan hidup Islam dan Barat, baik modern maupun postmodern, maka akan kita temukan perbedaan yan gmenonjol. Jika kita gunakan teori Thomas Wall maka Barat modern maupun posmodern sejatinya adalah peradaban yang tidak berdasarkan pada kepercayaan kepada Tuhan, jikapun ia percaya, ia tidak konsisten dengan kepercayaan itu. Sebab tujuan dan makna hidup, sumber nilai moral, makna ilmu pengetahuan dan yang berkaitan dengan itu bukan berasal dari konsep Tuhan mereka.
Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History, and The Last Man meletakkan Islam sejajar dengan ideologi Liberalisme, Komunisme dan sebagainya, tapi Islam menurutnya memiliki nilai moralitas dan doktrin-doktrin politik dan keadilan sosialnya sendiri. Karena ajaran bersifat universal, maka ia pernah menjadi tantangan bagi demokrasi liberal dan praktek-praktek liberal.
Paham liberalisme adalah alternatif terakhir bagi ummat manusia, faham apapun yan gtidak dapat mengakomodir ciri-ciri ini akan tersingkir dari proses evolusi menuju kesempurnaan sejarah atau tertinggal jauh di belakang. Elemen-elemen utama peradaban Barat yang dapat ditangkap dari eksposisi Huntington tentang kultur Amerika adalah :
a) Prinsip-prinsip agama (faith)
b) Nilai-nilaimoralitas dan etos kerja Protestan c) Filsafat
d) Politik
e) Kepercayaan (belief) terhadap prinsip-prinsip kebebasan, persamaan, individualisme dan kapitalisme.
antara Barat dan Islam, menurut mereka , adalah benturan peradaban seks (Sexual clash of Civilization).
Garis kultural yang memisahkan dunia Barat dan Islam bukan tentang demokrasi tapi seks. Menurut hasil survey terbaru, Muslim dan Barat sama-sama menginginkan demokrasi, namun dunia mereka menjadi terpisah ketika mereka bersikap terhadap perceraian, aborsi, kesetaraan gender dan hak-hak gay, sehingga hal ini tidak menjanjikan bagi masa depan demokrasi di Timur Tengah.
Di Barat generasi mudanya, dalam soal seks, menjadi semakin liberal, sementara di dunia Islam masih menjadi masyarakat yang paling tradisional di dunia.
Pernyataan-pernyataan di atas hanyalah sedikit contoh dari gambaran tentang masyarakat Barat dan perbedaannya dengan Islam oleh orang Barat sendiri. Sudah tentu di belakangnya terdapat cara pandang tersendiri. Jika dicermati dengan baik pernyataan-pernyataan itu sudah merupakan bukti adanya benturan persepsi (collision of conciousness).
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Alparslan Acikgence. The Framework for A History of Islamic Philosophy. Al-Shajarah, Journal of The International Institute of Islamic Thought and Civilization. (ISTAC : 1996. Vol.1)
Fahmy Zarkasyi, Dr.H.Hamid. Membangun Pondasi Peradaban Islam. (Semarang : Unissula Press. 2008).
Angga, Sumber Pandangan Hidup dan Pegertian Ideologi
Zarkasyi, 2007, Seputar Pemikiran Islam