• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum

Secara administrasi Kelurahan Jatirejo masuk ke dalam wilayah Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Kelurahan Jatirejo dengan luas 490.718 Ha, dengan batas wilayah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kelurahan Kandri Sebelah Selatan : Kelurahan Cempoko Sebelah Barat : Kelurahan Mijen

Sebelah Timur : Kelurahan Kandri, Cempoko

Wilayah masyarakat kelurahan Jatirejo terletak daerah dataran tinggi, dengan luas tanah 18,56 Ha, meliputi luas tanah pemukiman penduduk 14,68 Ha, luas tanah sawah 3,98 Ha, sehinga sebagian besar masyarakat Jatirejo menjadi petani. Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan 5 Km, sedangkan jarak dari pusat Administrasi 8 Km. Kelurahan Jatirejo terdiri dari 10 RT dan 2 RW, yaitu RW I terdiri dari 6 RT dan RW II terdiri dari 4 RT.

Menurut data yang diperoleh dari Kelurahan Jatirejo 2013 berjumlah 1908 orang, terdiri dari RW I (1153 orang): Rt 01; 196 orang, RT 02; 149 orang, RT 03; 247 orang, RT 04; 153 orang, RT 05; 228 orang, RT 06; 180 orang, dan RW II (755 orang): RT 01; 205 orang, RT 02; 202 orang, RT 03; 168 orang, RT 04; 180 orang.

Berdasarkan hasil pengamatan dan informasi yang diperoleh pada saat di lapangan masyarakat Kelurahan Jatirejo memiliki sejumlah saranan

(2)

dan prasarana yaitu berupa sarana transportasi, saran komunikasi, sarana peribadahan dan sarana kesehatan.

Sarana transportasi berupa jalan yang sebagian masih dalam keadaan berlubang dan sebagian belum beraspal, sehingga pada saat musim hujan jalan menjadi becek karena masih berupa batu dan tanah. Jalan penghubungan antara rumah warga masih berupa jalan biasa yaitu tanah, berbatu dan berpaving. Sarana transportasi berupa kendaraan bermotor hampir setiap warga memiliki, walaupun ada berapa warga yang tidak memiliki. Selain itu, sarana berupa transportasi umum yaitu angkutan umum yang beroperasi jurusan Karang ayu- Gunungpati, untuk akses langsung ke kelurahan Jatirejo dari Kecamatan Gunungpati hanya ojek.

Sarana berupa komunikasi yang ada berupa radio, televisi hampir seluruh masyarakatnya memilikinya, karena hampir merupakan kebutuhan pokok. Sarana dan prasarana perekonomian yang ada hanya berupa warung atau toko kecil. Untuk sarana sosial berupa tempat peribadahan terdapat 4 masjid. Ada pula organisasi kemasyarakatan seperti PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) dan Karang Taruna. Selain hal itu terdapat pula sarana kegiatan olahraga (Profil Kelurahan Jatirejo, 2010).

(3)

B. Hasil dan Pembahasan Penelitian

1. Analisis Univariat

a. Karakteristik ibu usia >35 tahun di Jatirejo Gunungpati Kota Semarang berdasarkan pendidikan.

Pendidikan yang dimiliki ibu usia >35 tahun di Jatirejo Gunungpati Kota Semarang terbagi dalam 3 kategori, yaitu: : pendidikan dasar (tamat SD dan tamat SMP), pendidikan menengah (tamat SMA), pendidikan tinggi (Sarjana/Dipolma). Adapun distribusi frekuensi responden berdasarkan pendidikan adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden berdasakan pendidikan

Pendidikan Frequency Percent

pendidikan dasar 30 42.4

pendidikan menengah 27 38.1

pendidikan tinggi 13 18.5

Total 70 100

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 70 responden mayoritas 30 (42,4%) responden berpendidikan dasar, dan minoritas 13 (18,5%) berpendidikan tinggi.

b. Karakteristik ibu usia >35 tahun di Jatirejo Gunungpati Kota Semarang berdasarkan pekerjaan.

Pekerjaan ibu usia >35 tahun di Jatirejo Gunungpati Kota Semarang terbagi dalam 5 kategori: PNS, wiraswasta, swasta, pekerja lepas, IRT. Adapun distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan adalah sebagai berikut:

(4)

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan

Pekerjaan Frequency Percent

PNS 3 4.2

Wirausaha 4 5.6

Swasta 8 11.3

Pekerja lepas 26 36.6

ibu rumah tangga 29 40.8

Total 70 100

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 70 responden mayoritas 29 (40,8%) IRT, minoritas 3 (4,2%) PNS. Dari data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden bekerja sebagai ibu rumah tangga.

c. Pengetahuan ibu usia >35 tahun tentang kontrasepsi Medis Operasi Wanita sebelum diberikan penyuluhan di Jatirejo Gunungpati Kota Semarang.

Hasil skor pengetahuan responden tentang kontrasepsi Medis Operasi Wanita sebelum penyuluhan yaitu dengan rata-rata 1,76 dan standar deviasi 0,576. Menurut Wawan (2010), setelah dikategorikan berdasarkan presentase jumlah jawaban yang benar, distribusi frekuensi pengetahuan tentang kontrasepsi Medis Operasi Wanita sebelum penyuluhan sebagai berikut :

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Sebelum Penyuluhan

Katagori Frekuensi Persen

Baik 5 7,1

Cukup 43 61,4

Kurang 22 31,4

(5)

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan cukup sebesar 43 responden (61,4%) , memiliki pengetahuan kurang 22 responden (31,4%), memiliki pengetahuan baik 5 responden (7,1%). Berikut ini merupakan tabel distribusi frekuensi jawaban responden per nomor pernyataan sebelum penyuluhan, dan hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut:

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden berdasarkan Pertanyaan Pengetahuan ibu usia >35 tahun tentang kontrasepsi

Medis Operasi Wanita sebelum diberikan penyuluhan

No Pertanyaan Benar

Salah

Jml % Jml %

1

Sterilisasi adalah tindakan pada kedua saluran telur yaitu mengikat, memotong atau memasang cincin yang mengakibatkan seorang wanita tidak akan mendapat keturunan lagi.

69 98,6 1 1,4

2 Nama lain dari KB steril adalah tubektomi/

MOW (Medis Operasi Wanita). 68 97,1 2 2,9

*3 KB steril termasuk dalam kontrasepsi

metode sederhana. 3 4,3 67 95,7

*4

Cara kerja KB steril yaitu dengan menampung sperma laki- laki pada selubung karet penampung.

32 45,7 38 54,3

5

KB steril mengakibatkan sperma laki-laki tidak dapat bertemu dengan sel telur perempuan.

52 74,3 18 25,7

6

Pemakaian KB steril terdapat tiga syarat yaitu syarat sukarela, syarat medis, syarat bahagia.

41 58,6 29 41,4

*7 Wanita dengan jumlah anak <2 boleh

menggunakan KB steril 20 28,6 50 71,4

*8

Keuntungan KB steril adalah dapat melindungi dari penyakit menular seksual.

16 22,9 54 77,1

9 Metode kontrasepsi KB steril hanya dapat

dilakukan di Rumah Sakit 56 80,0 14 20,0

*10

Metode kontrasepsi Kb steril dapat dilakukan di Bidan Praktik Mandiri (bidan).

(6)

No Pertanyaan Benar Salah

Jml % Jml %

*11 Salah satu kerugian kontrasepsi KB

steril adalah kegemukan. 47 67,1 13 32,9

12

Kerugian KB steril salah satunya adalah klien dapat menyesal dikemudian hari karena tidak dapat mempunyai anak lagi.

42 60,0 28 40,0

*13 Pemakaian KB steril dapat mengganggu

proses menyusui. 44 62,9 26 37,1

*14

Wanita yang mengalami pengeluaran darah dari jalan lahir diluar siklus

menstruasi diperbolehkan

menggunakan KB steril.

22 31,4 48 68,6

15 Wanita usia <26 tahun tidak diperbolehkan

menggunakan KB steril 44 62,9 26 37,1

16 Wanita yang sedang diketahui hamil tidak

boleh menggunakan KB steril. 40 57,1 30 42,9

*17 Wanita yang menderita penyakit tifus

tidak boleh menggunakan KB steril. 27 38,6 43 61,4

*18

Sebelum dilakukan tindakan untuk KB steril tidak diperlukan pemeriksaan fisik (pemeriksaan kandungan) terlebih dahulu.

32 45,7 38 54,3

19

Pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan urin, pemeriksaan darah lengkap dan pap smear) perlu dilakukan sebelum pembedahan KB steril.

46 65,7 24 34,3

*20

Pembedahan untuk KB steril tidak dapat dilakukan setiap waktu selama siklus menstruasi.

28 40,0 42 60,0

21

Hari ke 6 sampai hari ke 13 dari siklus menstruasi dapat dilakukan pembedahan KB steril

30 42,9 40 57,1

22

Pola mentruasi yang tidak normal adalah salah satu efek samping dari pemakaian KB steril.

15 21,4 55 78,6

*23 Problem psikologis adalah salah satu

efek samping pemakaian KB steril 40 57,1 30 42,9

Keterangan : * : Pertanyaan Unfavourable

Berdasarkan tabel 4.2 diatas diperoleh hasil bahwa sebagaian besar responden menjawab dengan salah pada beberapa pernyataan, seperti pernyataan favourable pada nomer 6 yaitu Pemakaian KB steril terdapat tiga syarat yaitu syarat sukarela, syarat medis, syarat bahagia sebanyak 29 responden (41,4%), dan

(7)

pertanyaan nomor 16 yaitu Wanita yang sedang diketahui hamil tidak boleh menggunakan KB steril sebanayak 30 responden (42,9%). Demikian juga pada pernyataan unfavourable yang menjawab dengan benar pada pernyataan nomor 10 Metode kontrasepsi Kb steril dapat dilakukan di Bidan Praktik Mandiri (bidan) sebanyak 54 responden (77,1%), dan pernyataan nomor 11 yaitu Salah satu kerugian kontrasepsi KB steril adalah kegemukan sebanyak 47 responden (67,1%).

Pengetahuan responden tentang kontrasepsi Medis Operasi Wanita mayoritas tergolong dalam kategori cukup sebesar 61,4%, itu dapat terjadi karena responden kurang aktif dalam mencari informasi tentang kontrasepsi Medis Operasi Wanita melalui media massa, kurangnya sosialisasi tenaga kesehatan tentang kontrasepsi Medis Operasi Wanita, pengalaman yang rendah, lingkungan pekerjaan yang tidak mendukung, pendidikan yang rendah maupun kurangnya motivasi dan kesadaran diri sendiri. Hal ini sesuai teori yang dikemukaan oleh Noetoatmodjo (2010).

Hasil analisis diatas sama dengan yang dikemukakan oleh Mulyati dalam penelitiannya yang berjudul “Hubungan beberapa karakteristik akseptor dan pemberian konseling dengan pemilihan metode kontrasepsi tubektomi pada ibu akseptor KB di klinik KB terpadu PKBI daerah Jawa Tengan Semarang”. Jenis penelitian ini adalah explanatory survey dengan pendekatan cross sectional study.

(8)

Populasi penelitian adalah akseptor kontap sebanyak 115 orang. Penentuan jumlah sample menggunakan metode simple random sampling. Hasil penelitian ini secara statistik ada hubungan yang signifikan umur responden (p=0,015, phi=0,285) , pendapatan responden (p=0,005 phi=-0,331) dan pemberian konseling (p=0,037 phi=-0,244) dengan pemilihan metode tubektomi.

Penelitian yang lain juga menyebutkan hal yang sama dengen hasil analisis diatas yang dikemukakan oleh Denis Kurniasari dalam penelitiannya dengan judul “Faktor yang berhubungan dengan penggunaan metode kontrasepsi MOW (tubektomi) di wilayah Jangli Krajan Barat Rw III Kelurahan Jatingaleh Kecamatan Candisari Semarang” Jenis penelitan yang digunakan adalah studi diskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Tehnik pengambilan sempel sebanyak 118 responden dengan pengumpulan data menggunaan kuisioner sedangkan pengolahan data menggunakan program SPSS dengan uji Chi Squere. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpengetahuan cukup sebesar 48,5%, berpengetahuan kurang sebanyak 11,9%, dan yang berpengetahuan baik sebanyak 39,6%. Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan penggunaan metode kontrasepsi MOW dengan nilai p value:0,000. Pada hubungan antara dukungan suami dengan penggunaan MOW didapatkan p value:0,000 , ini artinya ada hubungan antara dukungan suami dengan penggunaan metode

(9)

kontrasepsi MOW. Pada hubungan antara dukungan tenaga kesehatan dengan penggunaan metode kontrasepsi MOW didapatkan P value:0,000, ini artinya ada hubungan antara dukungan tenaga kesehatan dengan penggunaan metode kontrasepsi MOW. Saran sebaiknya sebagai tenaga kesehatan lebih meningkatkan pengetahuan tentang MOW kepada masyarakat dengan memberikan penyuluhan secara intensif tentang MOW dan ikut aktif memimbing kelompok kerja penyuluh di posyandu mengenai kontrasepsi.

d. Pengetahuan ibu usia >35 tahun tentang kontrasepsi Medis Operasi Wanita setelah diberikan penyuluhan di Jatirejo Gunungpati Kota Semarang.

Hasil skor pengetahuan responden tentang kontrasepsi Medis Operasi Wanita sesudah penyuluhan yaitu dengan rata-rata 2,31 dan standar deviasi 0,627. Distribusi frekuensi pengetahuan tentang kontrasepsi Medis Operasi Wanita sesudah penyuluhan sebagai berikut :

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Sesudah Penyuluhan

Katagori Frekuensi Persen

Baik 28 40,0

Cukup 36 51,4

Kurang 6 8,6

Total 70 100

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan cukup sebesar 36 responden (51,4%)

(10)

, memiliki pengetahuan kurang 6 responden (8,6%), memiliki pengetahuan baik 28 responden (40,0). Berikut ini merupakan tabel distribusi frekuensi jawaban responden per nomor pernyataan sesudah penyuluhan, dan hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai berikut :

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden berdasarkan Pertanyaan Pengetahuan ibu usia >35 tahun tentang kontrasepsi

Medis Operasi Wanita sesudah diberikan penyuluhan.

No Pertanyaan

Benar Salah

Jml % Jml %

1

Sterilisasi adalah tindakan pada kedua saluran telur yaitu mengikat, memotong atau memasang cincin yang mengakibatkan seorang wanita tidak akan mendapat keturunan lagi.

Kanker servik adalah pertumbuhan sel yang tidak normal yang terjadi pada mulut rahim.

70 100 0 0

2

Nama lain dari KB steril adalah tubektomi/ MOW (Medis Operasi Wanita).

68 97,1 2 2,9

*3 KB steril termasuk dalam

kontrasepsi metode sederhana. 32 45,7 38 54,3

*4

Cara kerja KB steril yaitu dengan menampung sperma laki- laki pada selubung karet penampung.

33 47,1 37 52,9

5

KB steril mengakibatkan sperma laki-laki tidak dapat bertemu dengan sel telur perempuan.

70 100 0 0

6

Pemakaian KB steril terdapat tiga syarat yaitu syarat sukarela, syarat medis, syarat bahagia.

68 91,7 2 2,9

*7 Wanita dengan jumlah anak <2 boleh

menggunakan KB steril 45 64,3 25 37,5

*8

Keuntungan KB steril adalah dapat melindungi dari penyakit menular seksual.

31 44,3 39 55,7

9 Metode kontrasepsi KB steril hanya

dapat dilakukan di Rumah Sakit 68 97,1 2 2,9

*10

Metode kontrasepsi Kb steril dapat dilakukan di Bidan Praktik Mandiri (bidan).

50 71,4 20 28,6

*11 Salah satu kerugian kontrasepsi KB

(11)

No Pertanyaan Benar Salah

Jml % Jml %

12

Kerugian KB steril salah satunya adalah klien dapat menyesal dikemudian hari karena tidak dapat mempunyai anak lagi.

53 75,7 17 24,3

*13 Pemakaian KB steril dapat

mengganggu proses menyusui. 67 95,7 3 4,29

*14

Wanita yang mengalami pengeluaran darah dari jalan lahir diluar siklus

menstruasi diperbolehkan

menggunakan KB steril.

47 67,1 23 32,9

15 Wanita usia <26 tahun tidak

diperbolehkan menggunakan KB steril 47 67,1 23 32,9 16 Wanita yang sedang diketahui hamil

tidak boleh menggunakan KB steril. 66 94,3 4 5,7

*17

Wanita yang menderita penyakit tifus tidak boleh menggunakan KB steril.

27 38,6 43 61,4

*18

Sebelum dilakukan tindakan untuk

KB steril tidak diperlukan

pemeriksaan fisik (pemeriksaan kandungan) terlebih dahulu.

46 65,7 24 34,3

19

Pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan urin, pemeriksaan darah lengkap dan pap smear) perlu dilakukan sebelum pembedahan KB steril.

60 85,7 10 14,3

*20

Pembedahan untuk KB steril tidak dapat dilakukan setiap waktu selama siklus menstruasi.

34 48,6 36 51,4

21

Hari ke 6 sampai hari ke 13 dari siklus menstruasi dapat dilakukan pembedahan KB steril

68 97,1 2 2,9

22

Pola mentruasi yang tidak normal adalah salah satu efek samping dari pemakaian KB steril.

45 35,7 25 35,7

*23 Problem psikologis adalah salah satu

efek samping pemakaian KB steril 34 38,6 36 51,4

Keterangan : * : Pertanyaan Unfavourable

Berdasarkan tabel 4.4 sesudah dilakukan penyuluhan, hasil menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan, seperti pernyataan fovourable nomer 6 yaitu Pemakaian KB steril terdapat tiga syarat yaitu syarat sukarela, syarat medis, syarat bahagia sebelum penyuluhan sebanyak 41,4% responden menjawab salah

(12)

dan sesudah menurun menjadi 2,9% responden yang menjawab salah, dan pertanyaan nomor 16 yaitu Wanita yang sedang diketahui hamil tidak boleh menggunakan KB steril sebelum penyuluhan sebanyak 42,9% responden menjawab salah dan sesudah penyuluhan menurun menjadi 5,7% responden menjawab salah. Sementara pada pernyataan unfavourable yang menjawab dengan benar pada pernyataan nomor 10 yaitu Metode kontrasepsi Kb steril dapat dilakukan di Bidan Praktik Mandiri (bidan) sebelum penyuluhan sebanyak 77,1% dan sesudah penyuluhan jawaban benar menurun menjadi 71,4% , tidak demikian pada pernyataan nomor 11 yaitu Salah satu kerugian kontrasepsi KB steril adalah kegemukan sebelum penyuluhan sebanyak 67,1% dan sesudah penyuluhan jawaban benar meningkat menjadi 81,4%.

Pada penelitian ini terdapat peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan, akan tetapi masih banyak responden yang menjawab benar dalam pertanyaan unfavourable poin persyaratan kontrasepsi MOW nomer 7 dengan pertanyaan Wanita dengan jumlah anak <2 boleh menggunakan KB steril terdapat 45 responden (64,3%) menjawab benar, poin indikasi kontrasepsi MOW nomer 13 dengan pertanyaan Pemakaian KB steril dapat mengganggu proses menyusui 67 responden (95,7%) menjawab benar dan nomer 14 dengan pertanyaan Wanita yang mengalami pengeluaran darah dari jalan lahir diluar siklus menstruasi diperbolehkan menggunakan KB

(13)

steril 47 responden (67,1%) menjawab benar, poin persiapan pre operasi kontrasepsi MOW nomer 22 dengan pertanyaan KB steril tidak diperlukan pemeriksaan fisik (pemeriksaan kandungan) terlebih dahulu 46 responden (65,7%) menjawab benar. Hal ini dikarenakan terdapat responden yang tidak memperhatikan saat diberikan penyuluhan.

Hasil penelitian ini menunjukan adanya pengaruh dari penyuluhan yang dapat meningkatkan pengetahuan. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Noetoatmodjo (2010) Pengetahuan merupakan hasil tahu setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu, yang sebagian besar diperoleh melalui mata dan telinga.

Hal tersebut berbeda dengan yang diungkapkan oleh Dian Setiyawati dalam penelitiannya yang berjudul “Faktor-faktor penghambat Pasangan Usia Subur (PUS) untuk memilih tubektomi sebagai alat kontrasepsi mantap di wilayah kerja Puskesmas Muntilan II Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang Jawa Tengah”. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif non eksperimen dengan studi diskriptif dengan pendekatan survey. Tehnik pengambilan sampel, menggunakan metode Proportional random sampling dengan jumlah sampel 379 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 275 responden (72.6%) menyatakan bahwa informasi tentang Tubektomi kurang, 87 responden (23%) informasi

(14)

cukup dan 17 responden (4.5%) menyatakan bahwa informasi tentang Tubektomi baik. Sebanyak 239 responden (63.1%) menyatakan bahwa masih mempunyai keinginan untuk mempunyai anak dengan jenis kelamin tertentu dan 140 responden (36.9%) menyatakan tidak mempunyai keinginan. Sebanyak 192 (50.7%) menyatakan bahwa tarif dan jarak sarana kesehatan tidak terjangkau dan 187 responden (49.3%) menyatakan bahwa tarif dan jarak terjangkau oleh mereka. Sebanyak 212 responden menyatakan bahwa faktor sosial budaya mereka tidak mendukung dilakukannya Tubektomi dan 167 responden (44.1%) menyatakan bahwa faktor sosial budaya mereka mendukung dilakukannya tubektomi.

Analisis diatas juga berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Novi Setiyo Rini dalam penelitiannya yang berjudul “Hubungan pengetahuan ibu tentang KB MOW dengan minat pemilihan kontrasepsi MOW di Desa Merjoyo Kecamatan Purwosari Kabupaten Kediri” dengan menggunakan Desain penelitian analitik korelasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional, tehnik sempel menggunakan simple random sampling. Dalam penelitian ini mengemukakan bahwa pengetahuan responden tentang KB MOW didapatkan sebagian besar perpengetahuan baik sebesar 42 responden (70%) dan berpengetahuan cukup 15 (25%) responden dan yang berpengetahuan kurang sebesar 3 responden (5%). Minat responden dalam minat pemilihan kontrasepsi MOW didapatkan

(15)

sebagian besar responden tidak berminat yaitu sebanyak 43 responden (71,7%) dari total 60 responden. ada hubungan pengetahuan ibu tentang KB MOW dengan minat pemilihan kontrasepsi MOW di desa merjoyo tahun 2013.

2. Analisis Bivariat

Data hasil penelitian pengetahuan dan sikap responden diuji kenormalannya menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov. Dari uji tersebut diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.7 Uji Statistik Perbedaan Pengetahuan ibu usia >35 tahun tentang kontrasepsi Medis Operasi Wanita Sebelum dan Sesudah dilakukan Penyuluhan di Kelurahan Jatirejo Kecamatan Gunungpati

Kota Semarang

Variabel Mean N SD p-value

pengetahuan ttg mow sblm penyuluhan 1,76 70 ,576 0,000 pengetahuan ttg mow ssdh penyuluhan 2,31 70 ,627 0,000

Tabel 4.5 menunjukan dari 70 responden didapatkan nilai rata-rata pengetahuan responden pre test yaitu 1,76 sedangkan nilai pengetahuan responden sesudah diberikan penyuluhan memiliki nilai rata rata yaitu menjadi 2,31. terdapat peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol di tolak dan hipotesis alternative diterima sehingga ada perbedaan pengetahuan ibu usia >35 tahun tentang kontrasepsi Medis Operasi Wanita sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan dengan p-value sebesar 0,000 (p-value <0,05).

(16)

Hasil tersebut sesuai dengan pengertian penyuluhan menurut Noetoatmodjo (2010) yang menyebutkan bahwa penyuluhan adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu dengan harapan mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan. Terbukti setelah dilakukannya penyuluhan tentang kontrasepsi Medis Operasi Wanita maka pengetahuan tentang medis Operasi Wanita juga meningkat. Dalam rangka pembinaan dan peningkatan kesehatan masyarakat perlu diadakan pendidikan kesehatan untuk masyarakat.

Analisis diatas searah dengan yang dikemukaan oleh Febriya Nurul Aidah dalam penelitiannya yang berjudul “Perbedaan pengetahuan dan sikap WUS tentang kontrasepsi IUD sebelum dan sesudah penyuluhan di Dusun Wedoro Kecamatan Penawangan Kabupaten Grobogan”. Jenis penelitian adalah pre experimental designs dengan sampel 52 WUS di Dusun Wedoro Desa Wedoro. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang sebelumnya dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Sebelum dianalisis dilakukan uji kenormalan menggunakan uji Kolmogorof Smirnov dilanjutkan dengan uji Wilcoxon Signed Ranks Test penelitian ini menyatakan bahwa sebelum penyuluhan 3,8% responden berpengetahuan baik, setelah dilakukan penyuluhan menjdi 44,2%. Sebelum dilakukan penyuluhan sebesar 61,5% responden bersikap mendukung dan sangat mendukung, setelah dilakukan penyuluhan menjadi 88,5%. Ada perbedaan

(17)

pengetahuan dan sikap WUS tentang kontrasepsi IUD sebelum dan sesudah penyuluhan.

Hal yang sama juga terdapat dalam penelitian Rohmawati dalam peneliannya yang berjudul “Perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan tentang kontrasepsi implan (Studi pada WUS di RW IV Desa Wonolopo Kecamatan Mijen Kota Semarang)”. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dan menggunakan pendekatan “one group pretest-posttest”. Populasi yang diteliti adalah wanita usia subur yang mempunyai pasangan di RW IV Desa Wonolopo Kecamatan Mijen Semarang yang berjumlah 88 orang. Sampel yang diambil berjumlah 31 orang. Teknik pengambilan sampel yang dipakai adalah sampling jenuh. Temuan dalam penelitian ini adalah ada perbedaan yang bermakna antara pengetahuan tentang kontrasepsi implant sebelum dan sesudah penyuluhan.

Gambar

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden berdasakan  pendidikan
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden berdasarkan  Pertanyaan Pengetahuan ibu usia &gt;35 tahun tentang kontrasepsi
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Sesudah Penyuluhan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan jawaban 134 responden yang menjawab kuisoner menunjukkan sebanyak 22 (21,6%) responden menjawab sangat setuju, 8 (5,9%) responden menjawab setuju,

Tingkat pengetahuan responden berdasarkan pertolongan pertama yang pernah dilakukan (terapi), didapatkan hasil bahwa seluruh anggota masih belum benar dalam

Distribusi jawaban responden yang menjawab “Tidak Setuju” dengan frekuensi terbanyak yaitu pertanyaan nomor 4 sebanyak 29 orang responden (24,6%) sedangkan frekuensi

Dalam pembelajaran siklus I masih terdapat kegiatan yang tidak dilakukan guru seperti tidak menyampaikan tujuan pembelajaran, belum membimbing siswa dalam menjawab pertanyaan,

Berdasarkan hasil data dari diagram tersebut, sebanyak 27 orang responden menjawab tidak setuju dan 16 orang responden menjawab sangat tidak setuju bahwa mereka mencari informasi

Hasil jawaban siswa kelas eksperimen dari 26 orang siswa yang mengikuti postes pertama menunjukan hanya 2 orang menjawab benar, 17 orang menjawab hampir benar, 6 orang dapat

Sedangkan data penelitian adalah sejumlah skor yang diperoleh dari jawaban responden atas pertanyaan atau pernyataan mengenai variabel penelitian, yaitu variabel Intrapreneurship

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengetahuan responden mengenai hukum menjawab panggilan azan sudah baik yaitu wajib Tabel 4.20 Jawaban Responden mengenai apakah orang yang