• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekologia, Vol. 11 No.1, April 2011: 1-11

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ekologia, Vol. 11 No.1, April 2011: 1-11"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

(2)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

Aplikasi Program Analisis Citygreen 5.4 Untuk Kajian Ruang…...………(Indung Siti, dkk) 11, No. 1, April 2011 ISSN : 1411-9447

JURNAL ILMIAH ILMU DASAR DAN LINGKUNGAN HIDUP

E K O L O G I A

* APLIKASI PROGRAM ANALISIS CITYGREEN 5.4 UNTUK KAJIAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DAN MANFAAT LAYANAN TERUKUR EKOSISTEM KOTA BOGOR

Indung Sitti Fatimah,dkk.

* FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEBERLANJUTAN KAWASAN PERMUKIMAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CILIWUNG HULU KABUPATEN BOGOR

Indarti

* HUJAN ASAM DAN LEACHING Fe KE DALAM AIR SUMUR DI WILAYAH INDUSTRI

Sutanto, dkk.

* PENGARUH EKSTRAK DAUN SIRIH MERAH (Piper cf. fragile Benth.) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB SAKIT GIGI

Moerfiah dan Fira

* PENERAPAN TEKNOLOGI NANOPARTIKEL PROPOLIS TRIGONA SPP ASAL BOGOR SEBAGAI ANTIBAKTERI ESCHERICHIA COLI SECARA IN-VITRO

Prasetyorini

* PEMODELAN SISTEM PEWARISAN GEN MANUSIA BERDASARKAN HUKUM MENDEL DENGAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND

Eneng dan Dian

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Pakuan

(3)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

Aplikasi Program Analisis Citygreen 5.4 Untuk Kajian Ruang…...………(Indung Siti, dkk)

EKOLOGIA

JURNAL ILMIAH ILMU DASAR DAN LINGKUNGAN HIDUP

Oleh

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pakuan

@Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unpak Jl. Pakuan Po.Box 452 Bogor

Hak Cipta dilindungi Oleh Undang-Undang All right reserved

Diterbitkan pertama kali oleh

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pakuan

Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi Buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

ISSN 1411 – 9447

Sanksi Pelanggaran Pasal 44 :

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta

1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak sesuatu atau memberi izin untuk itu, dipidana penjara paling lama 7(tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (Seratus juta rupiah)

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (Lima puluh juta rupiah).

(4)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

Aplikasi Program Analisis Citygreen 5.4 Untuk Kajian Ruang…...………(Indung Siti, dkk)

Vol. 11 No. 1, April 2011 ISSN : 1411-9447

Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Pakuan

Pelindung :

KETUA YAYASAN PAKUAN SILIWANGI PEMBINA UNIVERSITAS PAKUAN

Penanggungjawab

:

REKTOR UNIVERSITAS PAKUAN

Ketua Pengarah :

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Ketua Dewan Redaksi :

Dr. Prasetyorini, MS.

Anggota Dewan Redaksi :

Prof. Sriwoelan Dr. Oom Komala, MS., Ir.

Dr. Tri Panji. H. Muhammad Amir, M.Sc. Drs. Aep Syaepul Rohman, M.Si.

Ir. E. Mulyati Effendi Ch., MS. Drs. Sutanto, M.Si. Dra. Moerfiah, M.Si.

Sekretaris Redaksi :

Dra. Triastinurmiatiningsih, M.Si.

Penerbit/Alamat Redaksi :

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pakuan

Jl. Pakuan Po.Box. 452 Telp. 375547 Fax. 375547

Ekologia adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan untuk mengakomodasi tulisan hasil penelitian bagi sivitas akademika Universitas Pakuan khususnya dan instansi lain di luar Universitas Pakuan pada umumnya. Jurnal ini memuat artikel primer yang bersumber langsung dari hasil penelitian Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup.

Ekologia diterbitkan dua kali dalam setahun yaitu pada bulan April dan Oktober oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam-Universitas Pakuan.

Semoga Jurnal ini bermanfaat bagi perkembangan hasanah ilmu pengetahuan.

Bogor, April 2011

(5)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

Aplikasi Program Analisis Citygreen 5.4 Untuk Kajian Ruang…...………(Indung Siti, dkk) Vol. 11, No. 1, April 2011 ISSN : 1411-9447

E K O L O G I A

DAFTAR ISI

Nomor ISSN ……… i

Susunan Redaksi ……….. ii

Pengantar Redaksi ……… ii

Daftar Isi ………... iii

1. APLIKASI PROGRAM ANALISIS CITYGREEN 5.4 UNTUK KAJIAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DAN MANFAAT LAYANAN TERUKUR EKOSISTEM KOTA BOGOR

Indung Sitti Fatimah,dkk.

2. FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEBERLANJUTAN KAWASAN PERMUKIMAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CILIWUNG HULU KABUPATEN BOGOR

Indarti

3. HUJAN ASAM DAN LEACHING Fe KE DALAM AIR SUMUR DI WILAYAH INDUSTRI

Sutanto, dkk.

4. PENGARUH EKSTRAK DAUN SIRIH MERAH (Piper cf. fragile Benth.) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB SAKIT GIGI

Moerfiah dan Fira

5. PENERAPAN TEKNOLOGI NANOPARTIKEL PROPOLIS TRIGONA SPP ASAL BOGOR SEBAGAI ANTIBAKTERI ESCHERICHIA COLI SECARA

IN-VITRO Prasetyorini

6. PEMODELAN SISTEM PEWARISAN GEN MANUSIA BERDASARKAN HUKUM MENDEL DENGAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND

Eneng dan Dian

1-11 12-20 21-29 30-35 36-43 44-52

(6)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

Aplikasi Program Analisis Citygreen 5.4 Untuk Kajian Ruang…...………(Indung Siti, dkk) APLIKASI PROGRAM ANALISIS CITYGREEN 5.4 UNTUK KAJIAN RUANG

TERBUKA HIJAU (RTH) DAN MANFAAT LAYANAN TERUKUR EKOSISTEM KOTA BOGOR

Indung Sitti Fatimah 1, Aris Munandar2, Naik Sinukaban3 dan Kholil4

1

Mahasiswa Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB

2

Staf Pengajar Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB

3

Staf Pengajar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB

4

Staf Pengajar Universitas Sahid

ABSTRAK

Kualitas ekosistem kota dipengaruhi oleh ketersediaan kanopi pohon dalam RTH kota karena selain fungsi estetika dan visualnya, pohon mempunyai beberapa fungsi bio-ekologis yaitu modifikasi radiasi matahari, mengurangi kebisingan, penyaring dan penjerab polutan, pencegah erosi dan pengontrol laju limpasan permukan; serta fungsi sosial ekonomi dan budaya. Walaupun demikian besarnya manfaat lahan bervegetasi, namun keberadaannya sulit dipertahankan saat dihadapkan pada konflik kepentingan alih fungsi lahan, dikarenakan masih minimnya pemahaman masyarakat dan pihak pengelola kota dalam menterjemahkan nilai ekonomi RTH kota, serta keterbatasan alat analisis (tools) yang mampu menterjemahkan sejumlah nilai manfaat tersebut ke dalam bentuk angka-angka nominal (nilai ekonomi) yang lebih mudah dipahami oleh semua pihak. Sebuah organisasi Non Profit US Forest mempelopori pendekatan cost-benefit analysis ini dengan mengembangkan sebuah program analisis berbasis GIS untuk menghitung manfaat ekonomi hutan kota secara spasial, dengan menggunakan bantuan perangkat lunak software Arcview 3.2. ektensi CITYGreen 5.4. Aplikasi program ini dilakukan dalam serangkaian penelitian di wilayah administratif kota Bogor. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka penggunaan program aplikasi CITYGreen ini dapat digunakan untuk menganalisis potensi RTH untuk 4 manfaat, yaitu: potensi penyimpanan dan penjerapan Carbon, potensi reduksi limpasan permukaan, konservasi energi, landcover breakdown dan pemodelan pertumbuhan pohon. Hasil analisis berupa peta landcover, dan analysis report yang menyajikan: site statistic, ecological benefits, dan economic benefit summary/nilai nominal manfaat ekosistem untuk 4 kategori tersebut, yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan penyusunan kebijakan strategis pengelolaan RTH kota.

Kata kunci : CityGreen, RTH, Ekosistem kota

PENDAHULUAN

Perkembangan pembangunan kota sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk yang dipicu oleh arus urbanisasi. Pembangunan kota untuk mengantisipasi kebutuhan akan perumahan, kawasan perdagangan dan berbagai infrastruktur kota memicu terjadinya konflik kepentingan yang berujung pada konversi lahan alami menjadi kawasan terbangun. Kondisi ini dihadapi oleh hampir semua kota besar di Indonesia, tidak dipungkiri lagi bahwa

pembangunan ber-dampak pada penurunan kualitas ekosistem kota. Kualitas dan kenyamanan lingkungan perkotaan dipengaruhi oleh ketersediaan dan keberadaan kanopi pohon, baik dalam bentuk hutan kota maupun RTH kota. Hal ini di-karenakan RTH kota mempunyai bermacam fungsi ekologis dalam memperbaiki kualitas lingkungan, yaitu dalam hal penyerapan karbon melalui proses fotosintesa, dan penjeraban polutan udara sehingga dapat meningkatkan kualitas udara, serta manfaatnya dalam

(7)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

Aplikasi Program Analisis Citygreen 5.4 Untuk Kajian Ruang…...………(Indung Siti, dkk) memperlambat laju limpasan permukaan,

dan ameliorasi iklim mikro perkotaan (Nurisjah, 1995).

Bogor sebagai salah satu kota penyangga ibukota tidak luput dari permasalahan ini. Penduduk kota Bogor yang pada tahun 2000 berjumlah 714.711 jiwa meningkat terus hingga mencapai 946.204 jiwa pada tahun 2009. dengan laju pertumbuhan 3.18% per tahun (BPS Kota Bogor, 2010). Data penggunaan lahan menunjukkan laju pe-nurunan luas RTH kota Perubahan penggunaan lahan yang semula sebagai daerah resapan air menjadi bangunan pertokoan, rumah, jalan dan mal-mal, telah berdampak pada meningkatnya volume limpasan permukaan (runoff) sehingga sering me-lampaui kemampuan tanah untuk menyerap dan mengalirkan air.

Kota Bogor tumbuh dan berkembang sebagai kota pemukiman yang nyaman bagi para pekerja kommuter dari Jakarta, dan sekaligus sebagai kota pendidikan dan kota wisata, yang dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan penutupan lahan yang menurunkan luasan hutan secara signifikan, dari 2.927.54ha pada tahun 1972, menjadi hanya 187,15 ha pada tahun 2005. sebaliknya luas area permukiman terus bertambah, dimana pada tahun 1972 hanya seluas 1.464.84ha, pada tahun 2005 sudah mencapai 5.068,25 ha (Suryadi, 2008). Disamping kemajuan dalam hal pembangunan infra-struktur yang pesat, Bogor juga dihadapkan pada masalah degradasi kualitas lingkungan dan kenyamanan di lingkungan perkotaan. Untuk mewujudkan pembangunan kota yang berkelanjutan, sudah seharusnya kebijakan penataan ruang tetap berpedoman pada tercapainya keseimbangan antara ruang terbangun dan RTH kotanya. Dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang No 26/2007 tentang Penataan Ruang, Pemerintah Kota Bogor

mencanangkan pencapaiannya pada tahun 2030..

Pemahaman pengelola kota maupun pihak stakeholders dan masyarakat terhadap nilai manfaat sistem alami RTH kota, merupakan kelemahan yang mendukung alih fungsi lahan terus berjalan. Dalam hal ini terdapat kesenjangan yang harus diatasi terutama terkait pemahaman yang benar akan potensi yang terkandung dalam RTH kota. Hingga saat ini dirasa adanya keterbatasan

tools/ alat untuk menilai manfaat RTH dan

mengkomunikasikan „nilai/ potensi‟ RTH kota tersebut dengan cara yang mudah dipahami oleh pihak pengelola maupun stakeholders, dikarenakan metode valuasi ekonomi yang pada umumnya rumit, sehingga sulit dipahami oleh masyarakat. Oleh karena itu sangatlah diperlukan penjelasan dan sosialisasi terus menerus tentang manfaat sistem alami kota tersebut dengan media yang lebih mudah dipahami.

Perkembangan teknologi Sistem Informasi Geografis (GIS) telah demikian pesat dan memungkinkan dilakukannya kajian spasial dengan cara yang lebih mudah dilakukan (Prahasta, 2002). Kajian ini dikembangkan melalui pendugaan manfaat kanopi pohon dan RTH kota melalui teknik GIS, dengan program aplikasi CITYGreen 5.4, yang merupakan ekstensi dari Arcview 3.2. Kemampuan utamanya adalah untuk menghitung dan menganalisis potensi ekonomi yang terkandung pada sistem alami, termasuk RTH kota. Hasil analisisnya berupa peta tutupan lahan yang relatif simple, serta

report analisis dalam bentuk angka-angka

nominal dalam $US, yang kemudian bisa dikonversi ke dalam mata uang Rupiah.Hasil analisis yang sudah berupa nilai nominal (valuasi ekonomi) ini dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun kebijakan strategis perbaikan ekosistem kota untuk pembangunan kota yang berkelanjutan. Tujuan umum dari

(8)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

Aplikasi Program Analisis Citygreen 5.4 Untuk Kajian Ruang…...………(Indung Siti, dkk) penelitian ini adalah mengaplikasikan

perangkat lunak CITYGreen 5.4 untuk menganalisis potensi RTH Kota Bogor, sehingga dapat memberikan gambaran kepada pemerintah Kota Bogor tentang pentingnya menjaga RTH kota sebagai aset berharga. Dan meningkatkan pemahaman masyarakat umum tentang pentingnya menjaga dan melestarikan keberadaan RTH kota, dengan media yang lebih mudah dipahami.

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah administratif Kotamadya Bogor, didahului dengan pra penelitian mulai bulan September-Desember 2009. Dilanjutkan dengan tahap penelitian dan

groundcheck, bulan Januari hingga

Desember 2010.

Gambar 1. Peta una Lahan Kota Bogor 2005

Alat dan Data

Penelitian ini membutuhkan data dasar berupa peta spasial kawasan, yaitu Citra Satelit Quickbird kota Bogor tahun 2006 serta peta penggunaan lahan kota Bogor (sumber P4W IPB), serta beberapa

alat berupa hardware dan software: seperangkat komputer dan notebook, software ArcView 3.2. Ekstensi CITYGreen

5.4., Xtool, Image analyst, dan spatial analyst, kamera digital; Data sekunder/data

seri dari hasil penelitian terdahulu terkait RTH kota Bogor.

Kerangka Pikir Penelitian

Gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian Tahapan Penelitian

Aplikasi perangkat lunak CITYGreen 5.4 ini cukup mudah dilakukan, karena pada dasarnya merupakan ekstensi dari ArcView 3.2 Analisisnya menggunakan teknik GIS. Tahapannya adalah sbb:

1. Pengumpulan dan Klasifikasi Data Pengambilan data secara primer dilakukan melalui kegiatan survey dan observasi lapangan, serta ground check terhadap kondisi existing. Pengambilan

RTH Kota Bogor

Kondisi Real :

Alih fungsi lahan : Luasan RTH terus berkurang, kualitas ekosistem kota menurun

Aplikasi software CITYgreen 5.4

Analisis reduksi runoff, penyimpanan & daya serap Carbon, konservasi energi, & growth modelling

(Citra Satelit Quickbird)

Ruang Terbuka Hijau memberikan Pelayanan ekosistem yang dapat diukur berupa nilai nominal

(valuasi ekonomi potensi RTH kota)

Pemahaman masyarakat & pengelola kota meningkat  sbg dasar penyusunan kebijakan tata

(9)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

Aplikasi Program Analisis Citygreen 5.4 Untuk Kajian Ruang…...………(Indung Siti, dkk) data sekunder dilakukan berdasar studi

literatur dan desk study penelitian terkait RTH. Pengambilan data penelitian dilakukan melalui delineasi area penutupan lahan oleh kanopi pohon pada lokasi penelitian, pada citra satelit Quick Bird Kota Bogor 2006. Dengan diketahui luasan penutupan oleh kanopi pohon, dapat diprediksikan komposisi landcovernya.

Pengecekan lapangan diperlukan untuk akurasi data luasan dan jenis penutupan lahan, dan bentuk kanopi pohon. Pengecekan dilakukan dengan metode

sampling berdasarkan kerapatan tutupan

lahan, dengan cara mengambil gambar/foto area sample, dan kemudian klarifikasi lokasi melalui bantuan Google Earth. 2. Input data Atribut & Analisis /

Pendugaan Manfaat Kanopi Pohon/ RTH kota

Analisis data secara spasial menggunakan perangkat lunak GIS (ArcView, extensi CITYGreen 5.4). Yaitu

dengan melakukan digitasi 3 theme pada perangkat lunak ArcView: 1) Theme Batas/ batas tapak yang dianalisis, 2) theme

Canopy: yaitu batas spasial kanopi pohon

(yang berdiameter >4m), dan 3) theme

NonCanopy: berisi informasi spasial lahan

terbangun, badan air dan ruang terbuka non hijau.

Gambar 3. Contoh digitasi: (a) theme canopy dan (b) theme non canopy a). Analisis Penyimpanan dan penyerapan Carbon. Model pendugaan Carbon ini memprediksi potensi berdasarkan distribusi umur pohon pada area kajian berdasarkan data atribut diameter pohon. Untuk masing-masing umur pohon ada koefisien penyerapan dan penyimpanan Carbonnya. Potensi diperoleh dari hasil perkalian prosentase penutupan kanopi pada luas area kajian, dengan faktor pengali (koefisien penyimpanan/penyerapan). Program ini memprediksi kapasitas penyerapan tahunan, dan penyimpanan karbon eksisting dalam satuan TON.

Adapun rumusan dalam menghitung dan memperkirakan penyimpanan karbon serta daya serap karbon berdasarkan User

Manual CityGreen 5.4:

 CITYgreen 5.4 dalam memperkirakan penyimpanan karbon, menggunakan rumus:

Karbon Tersimpan = A x % x B Keterangan:

A = Area kajian (acres) % = Persen penutupan pohon

B = Koefisien penyimpanan karbon (berdasarkan tipe distribusi pohon)

 CITYgreen 5.4 dalam memperkirakan penyerapan karbon, menggunakan rumus:

(10)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

Aplikasi Program Analisis Citygreen 5.4 Untuk Kajian Ruang…...………(Indung Siti, dkk)

Tingkat daya serap karbon tahunan = A x % x C

Keterangan:

A = Area kajian (acres) % = Persen penutupan pohon C = Koefisien daya serap karbon (berdasarkan tipe distribusi pohon) b) Analisis Kapasitas reduksi limpasan permukaan

Model stormwater analysis ini dikembangkan oleh Natural Resources

Conservation Services USDA. CITYGreen

menghitung volume limpasan permukaan berdasarkan data hujan tahunan (2 tahun), prosentase penutupan lahan, slope, Hidrologic soil group (HSG), berapa nilai

manfaat pohon dalam mereduksi limpasan, waktu konsentrasi dan laju aliran puncak. Model ini mengacu pada Model Hidrologi TR-55, yang merupakan alat penting dalam perencanaan ZONASI. Hasil analisis berupa volume limpasan dan nilai finansial yang dihubungkan dengan penyerapan kelebihan air limpasan akibat perubahan pola penutupan lahan, dengan acuan Curve

Number (CN).

Spesifikasi Area Studi

CITYgreen membutuhkan

informasi yang spesifik mengenai area studi yang akan dikaji. Terdapat dua metode dalam pengisian informasi wilayah studi, yaitu :

1. Study Area Preferences

Tool ini terdapat pada menu CITYgreen – Analyze Data. Digunakan setelah tema canopy dan noncanopy ter-update datanya dan sudah terkonfigurasi oleh CITYgreen. Metode ini digunakan untuk area studi yang lebih spefisik (local area) (CITYgreen

Manual User 2003). Caranya adalah

dengan meng-edit data tabel dari tema area studi yang telah dibuat, lalu tambahkan kolom baru sesuai data yang dibutuhkan. Khusus untuk analisis aliran permukaan (runoff), data tambahan yang dibutuhkan antara lain :

a. Hidrologic Soil Group

CITYgreen membutuhkan informasi mengenai daya infiltrasi tanah pada area studi. Adapun pengaturan awal pilihan pada CITYgreen berdasarkan pengelompokan jenis tanah, yaitu:

A Very pervious

B Somewhat pervious

C Somewhat impervious

D Very impervious

b. Slope

Kemiringan lereng suatu areal tertentu akan sangat mempengaruhi kondisi aliran permukaan yang terjadi. Semakin curam lereng, semain besar runoff dan kemungkinan terjadi erosi juga semakin besar.

c. Rainfall Region

Distribusi curah hujan dikelompok-kan berdasardikelompok-kan besar kecilnya curah hujan di suatu area. Dalam CITYgreen pengaturan awal telah ditetapkan pilihan rainfall region berdasarkan USDA Natural Resources Conservation Service.

d. Precipitation

Besarnya intensitas curah hujan dimasukkan dalam bentuk angka (menggunakan satuan inci). Data curah hujan yang dibutuhkan adalah rata-rata per hari dalam kurun waktu 2 tahun terakhir.

e. Construction Cost

CITYgreen membutuhkan data tentang besarnya biaya yang diperlukan dalam konstruksi pembuatan kanal (parit), Biaya konstruksi ini kemudian akan dibandingkan nilainya dengan nilai manfaat ekonomi dari RTH yang ada, sehingga akan terlihat berapa besarnya biaya yang dapat dihemat.

(11)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

Aplikasi Program Analisis Citygreen 5.4 Untuk Kajian Ruang…...………(Indung Siti, dkk) c) Analisis Konservasi Energi

CITYGreen dapat menduga pengaruh warna material atap (hitam, 2 tua, abu-2 muda dan putih) terhadap potensi penghematan energi, terkait dengan nilai albedo dan daya reflektansinya terhadap cahaya matahari yang diterima dan pengaruhnya terhadap suhu udara dalam bangunan, serta potensi penghematan penggunaan AC.

Penelitian konservasi energi dan emisi karbon yang dilakukan oleh USDA bagian kehutanan telah menunjukkan bahwa pepohonan yang ditanam secara strategis untuk menaungi perumahan dapat mengurangi tagihan biaya listrik rumah tangga.

d). Analisis Landcover breakdown

CITYGreen menganalisis landcover untuk masing-2 area kajian berdasarkan pada perbedaan penutupan lahan (permukaan kedap air, kanopi pohon, ruang terbuka). Masing-masing akan diperinci dalam laporan analisis dalam angka luasan aktual (hektar) serta prosentasenya terhadap luas total wilayah yang menjadi area kajian. Rincian jenis landcover ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat dalam membuat skenario pemanfaatan lahan perkotaan mengacu pada manfaat ekonomi dan manfaat ekologi pohon.

3. Rekomendasi Kebijakan

Setelah diperoleh hasil analisis CITYGreen, tahap selanjutnya adalah analisis SWOT dengan tujuan untuk mendapatkan strategi pemecahan masalah atas kendala yang dihadapi terkait kebijakan pengelolaan RTH kota Bogor. Analisis ini dilakukan dalam dua tahapan, yaitu: 1) Analisis Internal : meliputi komponen kekuatan dan kelemahan dan 2) Analisis Eksternal: meliputi komponen peluang dan tantangan/ancaman pengembangan luasan RTH Bogor.

.

Gambar 4 . Tampilan Study Area Preferences

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Kota Bogor

 Kota Bogor merupakan satu ekosistem kota yang terdiri atas kawasan pemukiman, perkantoran dan perdagangan, industri, kebun, sawah, hutan kota, ruang terbuka hijau, situ dan sungai. Luas Kota Bogor adalah sebesar 11.850 ha atau 11,85 km2

 Bogor terletak sekitar 60 km arah Selatan Jakarta. Letak Geografis : 1060 48' Bujur Timur dan 600 36' Lintang Selatan

 Klimatologi : Curah hujan rata-rata sebesar 3000 mm – 4000 mm /tahun, suhu rata-rata 27ºC, dengan kelembaban udara rata-rata 70%

 Topografi : 0%-2% (Datar) seluas 1.763,94 ha; 2%-15% (Landai) seluas 8.092,89 ha; 15%-25% (Agak Curam) seluas 1.109,89 ha; 25%-40% (Curam) seluas 764,96 ha; > 40% (Sangat Curam) seluas 119,94 ha

(12)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

Aplikasi Program Analisis Citygreen 5.4 Untuk Kajian Ruang…...………(Indung Siti, dkk)

 Geologi : Secara umum Kota Bogor ditutupi oleh batuan vulkanik yang berasal dari endapan (batuan sedimen) dua gunung berapi, yaitu Gunung Pangrango (berupa batuan breksi tupaan) dan Gunung Salak (berupa alluvium dan kipas alluvium)

 Hidrologi : Sungai utama yang mengalir di Kota Bogor terdiri dari Sungai

Ciliwung dan sungai Cisadane Kondisi RTH kota dan Layanan Terukur Ekosistem Kota

Dari serangkaian kegiatan penelitian ini dapat diperoleh gambaran kondisi ekosistem kota Bogor saat ini.Untuk dapat menilai kapasitas jasa lingkungan ekosistem kota diperlukan suatu perangkat pendugaan dan analisis dengan mengacu pada 3 (tiga) indikator yang digunakan sebagai parameter penilaian , yaitu: kapasitas reduksi limpasan permukaan, kapasitas penjeap dan penyerapan Carbon dan Potensi penghematan energi.

Tabel 1. Penggunaan lahan Kota Bogor

No Jenis Pemanfaatan Lahan Real 2005 (Citra 2005 Adapt RTRW 99) Rencana 2009 (Buku RTRW 99) 1 Danau / Situ 46,64 342,07 2 Fasilitas Kesehatan 8,35 27,67 3 Fasilitas Pendidikan 150,12 178,11 4 Fasilitas Peribadatan 4,98 9,58 5 Gardu Induk 5,77

6 Hutan Kota / Kebun Raya 182,09 141,45 7 Industri 121,46 167,36 8 Kolam Oksidasi 55,11 1,50 9 Komplek Militer 57,32 10 Pasar 13,06 11 Perdagangan dan Jasa 56,41 437,41 12 Pergudangan 13 Perkantoran / Pemerintahan 62,69 90,27 14 Permukiman 4.739,40 8.526,53 15 Pertanian / Kebun Campuran 3.165,09 284,51 16 RPH / Pasar Hewan 0,57 10,00 17 Ruang Terbuka 1.803,58 Hijau 18 Stasiun KA 7,43 7,60

19 Sub Terminal & Term Regional 2,95 31,00 20 Taman / Lap. Olahraga / Jalur 857,76 342,33 21 TPU / Kuburan 130,63 305,96

Sumber data : Bappeda Kota Bogor (2007)

A. Statistik Tapak

1. Area analisis : Kota Bogor

Luas Area : 45,75 mil2 = 11.850,00 a Distribusi Jenis Penutupan Lahan :

- Lahan Perkotaan : 48% (5.807,70 ha) - Lahan Kedap Air : 28% (3.361,11 ha) - Kanopi Pohon : 17% (2.005,21 ha) - Ruang Terbuka/Semak:5% (551,99 ha) - Badan Air : 2% (220,63 ha)

(13)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011: 1-11

Aplikasi Program Analisis Citygreen 5.4 Untuk Kajian Ruang…...………(Indung Siti, dkk) Gambar 6. Hasil Analisis Sebaran RTH

Bogor

Dari hasil analisis menggunakan Arcview 3.2 dan ekstensi CITYgree 5.4 diperoleh hasil sebagai berikut :

(14)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011 : 12-20

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Kawasan …...…….…...(Indarti) B. Manfaat Ekologi

1. Polusi Udara yang dapat diserap oleh keberadaan Kanopi pohon adalah:

Carbon Monoxide : 6.203 kg; senilai

$5,946 (setara dengan Rp 57.081.600,-)

Sulfur Dioxide : 14.599 kg; senilai

$24,180 setara dengan Rp 232.128.000,-

Nitrogen Dioxide : 14,587 kg; senilai

$203,004 setara dengan Rp 1.948.838.400,-

Ozone : 90.463 kg, senilai $612,035

(setara

dengan Rp 5.875.536.000,-)

Particulate Matter : 72.438 kg; senilai

$327,274 setara dengan Rp 3.141.830.400,-

Total partikel pencemaran udara yang dapat ditangkap adalah: 213.949 kg dengan nilai finansial sebesar = $1,172,440 setara dengan Rp 11.255.040.000,- Secara total kualitas udara kota Bogor masih berada dalam ambang batas aman, menurut uji kualitas udara tahun 2007.

Data hasil uji kualitas udara dengan parameter SOx, NOx, Ozon, Debu, Pb, HC, H2S dan NH3, masih memenuhi baku mutu udara hanya pada parameter debu, pada beberapa titik uji melebihi ambang batas. (titik pertigaan Jembatan Merah, Warung Jambu dan Tugu Kujang). Hal ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor antara lain padatnya arus kendaraan, kurangnya vegetasi/pohon sebagai penjerab polutan, dan kondisi kemacetan yang hampir selalu terjadi pada jam sibuk. (Dahlan, 2004)

Jika dibandingkan antara jumlah polutan yang dihasilkan dengan kemampuan penjerapan oleh RTH kota, maka Untuk Ozone, SO2 dan CO2 kemampuan penjeraban sudah melebihi konsentrasi polutan yang ada, Namun untuk polutan NO2 dimana jumlah yang dihasilkan sebesar 52.377ton/tahun dan kapasitas penjerabannya baru sebesar

14.587ton/tahun, sehingga masih ada 37.790ton/tahun yang belum terjerap. Demikian juga untuk partikulat matter (termasuk Pb), konsentrasi di udara 101.84 ton/tahun, sedangkan kapasitas penjerabannya 72.438 ton/tahun, sehingga masih ada 29.402 ton/tahun yang belum terjerab. Kondisi ini bisa menjadi masukan pihak pengelola kota agar pada saat kegiatan replanting bisa diusulkan penanaman jenis pohon yang mempunyai kapasitas penjerapan (daya rosot terhadap polutan) yang tinggi atau sangat tinggi terhadap NO2 dan Pb.

2. Kapasitas Penyerapan Carbon

Hasil analisis skala kota tercatat potensi Karbon tersimpan sebesar : 267.220 ton dan kapasitas Penyerapan Karbon sebesar : 758 ton/tahun ( kondisi distribusi umur pohon secara umum hampir Merata). Pada tapak jalan utama kota yaitu Jalan Pajajaran, kerapatan pohon tidak merata, teruatama pada ruas jalan menuju warung jambu, kondisi sebagian besar pohon sudah cukup tua, sehingga daya rosot karbonnya semakin rendah.

3. Kapasitas Reduksi Limpasan Permukaan - Kota Bogor mempunyai rata-rata curah hujan harian (dua tahunan/24 jam) sebesar : 3,5 inch, type rainfall termasuk type III (cukup tinggi), dan kelas hidrologic soil groups adalah type B (some what pervious)

- Hasil analisis adalah sbb: Koefisien Runoff sebesar 81,00 (pada kondisi dengan RTH) dan sebesar 84,00 (pada kondisi tanpa RTH)

- Volume Limpasan Permukaan : 1,71 in (kondisi dengan RTH) dan 1,94 in (kondisi tanpa RTH)

- Total volume konstruksi dinding penahan yang digunakan untuk mitigasi bencana adalah 4.446.664,79 (cu.ft)  Asumsi Biaya adalah sebesar : $ 2.00

(15)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011 : 12-20

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Kawasan …...…….…...(Indarti) per cu.ft, sehingga biaya total adalah

sebesar : $ 48.893.329,59 C. Rangkuman Manfaat Ekonomi

Dengan diperolehnya hasil analisis di atas, maka manfaat ekonomi dari layanan ekosistem terukur kota Bogor adalah : (Kurs 1 $ = Rp 9.600,-)

- Penghematan dari penyerapan polusi

udaraTahunan: $1,172,440

(R11.255.040.000,-)

- Penghematan limpasan permukaan

tahunan : $4.262.743 (Rp

40.922.332.280,-)

- Total Penghematan Tahunan : $5.435.183 (Rp 52.177.756.800,-)

Nilai manfaat layanan terukur ekosistem kota Bogor adalah sebesar $5.435.183 (setara Rp. 52 milyar), dimana porsi terbesar adalah pada manfaat dari kapasitas reduksi limpasan permukaan (runoff), dan ini sangat besar peranannya dalam usaha pengelolaan air hujan (stormwater runoff management).

Perbedaan kerapatan kanopi pohon pada masing-2 unit analisis diduga berpengaruh terhadap nilai manfaat yang diperoleh. Tutupan kanopi pohon secara ekologis dapat berperan dalam mengenda-likan laju perkolasi dan memperkecil volume limpasan permukaan. Hal ini karena keberadaan pohon dapat mengintersepsi air hujan dan mereduksi limpasan permukaan (run off) melalui tajuk, dahan dan daun sebelum air hujan turun ke permukaan tanah. Mekanisme ini yang bermanfaat dalam menunda waktu konsentrasi dan memperlambat aliran permukaan dan memperkecil limpasan.

Besarnya nilai manfaat terukur ini jika dibandingkan dengan pendapatan daerah mencapai sekitar 20% PDRB kota Bogor. Nilai yang relatif besar memberikan kontribusi bagi kota Bogor. Pemahaman yang mudah terhadap hasil analisis CITYGreen ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pengelola kota, penentu kebijakan agar lebih

menghargai ekosistem kotanya, sehingga tidak harus mengorbankan kelestarian lingkungan, hanya demi meningkatkan PAD kotanya.

3. Rekomendasi Kebijakan

Kebijakan pembangunan kota Bogor saat ini masih menempatkan pembangunan ekonomi dalam tingkatan yang lebih tinggi, hal ini terlihat pada kondisi dimana terjadi konflik kepentingan, seperti meningkatnya kebutuhan lahan untuk pemukiman atau pembangunan infrastruktur kota, selalu akan berdampak memberikan tekanan terhadap keberadaan pohon dan RTH kota. Hal ini merupakan ancaman terhadap keberlanjutan ekosistem kota.

Dari analisis SWOT, terlihat bahwa pengaruh faktor eksternal (ancaman dan kelemahan) lebih kuat dibandingkan dengan faktor internal (peluang dan kekuatan). Maka diperlukan strategi untuk membenahi kondisi saat ini dengan prioritas utama restrukturisasi dan perubahan orientasi kebijakan pem-bangunan agar lebih mengedepankan pengembangan kapasitas ekosistem perkotaan berbasis ekologi dan partisipasi masyarakat.

Berdasarkan pada target Pemerintah Kota Bogor yang telah mencanangkan untuk meningkatkan jumlah luasan RTH kota sesuai UU No 26 tahun 2007 yaitu sebesar 30% luasan kota, akan dicapai pada tahun 2030, maka upaya meningkatkan pemahaman masyarakat akan nilai manfaat layanan terukur ekosistem kota ini akan bermanfaat dalam mendukung terwujudnya pengelolaan RTH kota Bogor yang berkelanjutan.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Secara umum perangkat lunak analisis

CITYGreen 5.4. dapat diaplikasikan

untuk menilai kapasitas layanan terukur ekosistem dalam skala besar (kota), maupun kecil (tapak skala perumahan

(16)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011 : 12-20

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Kawasan …...…….…...(Indarti) maupun jalur jalan). Hasil analisis

memberikan gambaran tentang luasan RTH Kota Bogor yaitu sekitar 17 % dari luas Kota Bogor.

2. Dari kondisi RTH eksisting berdasar Citra Quickbird 2006, maka nilai ekonomi manfaat layanan terukur ekosistem kota Bogor adalah sebesar Rp 52 milyar. Angka ini setara dengan 20% Produk Domestik Regional Bruto Kota Bogor sektor Jasa-jasa tahun 2006 3. Hasil analisis yang disajikan dalam bentuk peta sederhana sebaran RTH kota berikut rincian nilai manfaat dalam bentuk nominal Rupiah diharapkan dapat mempermudah pemahaman masyarakat akan nilai manfaat layanan terukur ekosistem kota yang selama ini lebih bersifat abstrak.

4. Meningkatnya pemahaman akan nilai ekosistem ini diharapkan dapat membangkitkan peran serta masyarakat dalam melestarikan keberadaan RTH kota Bogor.

5. Diharapkan dengan adanya kajian ini bisa membuka pemahaman tentang cara pandang pentingnya keberadaan RTH yang bisa dinilai secara ekonomi dan memberikan pengaruh kepada kebijakan pengembangan RTH di masa yang akan datang di Kota Bogor.

DAFTAR PUSTAKA

American Forests. 2002. CITYgreen 5.0

:User Manual. Washington DC:

American Forest.

[Bappeda]. 2007. Master Plan Drainase Kota Bogor. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bogor.

[BAPPEDA] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bogor. 2007. Master Plan Ruang Terbuka Hijau Kota Bogor. Data Dasar. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bogor.

Dahlan EN. 2007. Analisis Kebutuhan Luasan Hutan Kota yang Berfungsi Sebagai Sorot Gas CO2 Antropogenik Dari Bahan Bakar Minyak Dan Gas

Di Kota Bogor Dengan

Menggunakan Pendekatan Sistem Dinamik. [Disertasi]. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Budiman, A. 2010. Analisis Manfaat Ruang Terbuka Hijau untuk Meningkatkan Ekosistem Kota Bogor dengan Menggunakan Metode GIS [Skripsi]. Bogor : Departemen Arsitektur Lanskap. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Prahasta, E. 2004. Sistem Informasi

Geografis : Tutorial ArcView.

Bandung: CV. Informatika.

Siti Nurisjah dan Q. Pramukanto. 1995. Penuntun Praktikum Perencanaan Lanskap. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Technical Release 55. 1986. Urban

Hydrology for Small Watersheds.

Washington DC : USDA Soil Conservation Service.

Suryadi, Yadi. 2008. Dinamika Pola

Pemanfaatan Lahan dan

Pengendalian Menuju Pembangunan Kota Bogor yang Berkelanjutan [Tesis]. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

(17)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011 : 12-20

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Kawasan …...…….…...(Indarti) FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEBERLANJUTAN KAWASAN PERMUKIMAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CILIWUNG

HULU KABUPATEN BOGOR

Indarti Komala Dewi

Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik, Universitas Pakuan ABSTRACT

The upper stream of Ciliwung watershed lies in Bogor District, has an important function for the surrounding areas, which regulated or managed water supply, whether floods or drought in the middle and the down stream. Growing of settlement areas was changed landscape and degraded environment, and then this is threated sustainability of setlement areas. Sustainability of Settlement areas in Upper stream of Ciliwung Watershed are impacted by internal and external factors. The objective of this research the first is to analyse sustainability of settlement areas in upper stream of Ciliwung Watershed. and the second is to analyse factors that impacting sustainability of settlement areas in the upperstream of Ciliwung watershed, The research method used Multi Dimentional Scaling (MDS) technique with Rapfish software. The research result showed that settlement areas in Upper stream of Ciliwung watershed are less sustainable, with 16 factors that impacting this sustainability.

Keyword : Ciliwung watershed, sustainability of settlement areas.

PENDAHULUAN

Kawasan permukiman merupakan bagian dari kawasan budidaya non pertanian. Sebagai kawasan budidaya non pertanian, kawasan permukiman tidak hanya sekedar tempat tinggal seperti perumahan, akan tetapi juga merupakan tempat melakukan kegiatan usaha sehingga dapat merupakan perkotaan maupun perdesaan. Oleh karena itu, pada kawasan permukiman selain terdapat perumahan dan sarana-prasarananya, juga terdapat kawasan untuk kegiatan ekonomi (perdagangan, jasa, rekreasi, industri kecil) dan kegiatan sosial. Dalam istilah lain kawasan permukiman sering disebut sebagai kawasan terbangun.

Pengembangan kawasan permukiman membutuhkan sumberdaya alam seperti lahan dalam jumlah yang besar. Pengelolaan kawasan permukiman harus mengacu pada konsep pembangunan berkelanjutan. Konsep pembangunan berkelanjutan tidak hanya ditujukan untuk keharmonisan lingkungan akan tetapi juga

keberlanjutan jangka panjang dengan berbasis sumber daya alam (Khanna et al. 1999).

Masalah permukiman adalah masalah tanpa akhir (the endless problem) (Sujarto, 1993). Sejalan dengan jumlah dan dinamika penduduk yang terus berkembang, tuntutan kebutuhan bermukim akan terus terjadi, membuat masalah permukiman seolah tak pernah berakhir. Permukiman selain menyangkut masalah hunian (perumahan), juga berkaitan dengan aspek ruang (lahan) yang dimanfaatkannya. Perluasan areal permukiman, akibat pertambahan penduduk, menyebabkan terjadi perubahan ruang (lahan) yang berujung pada perubahan bentang alam. Isu lingkungan dalam persoalan permukiman muncul berkaitan dengan perubahan bentang alam dari kawasan tidak terbangun (hutan atau perkebunan) menjadi kawasan terbangun (permukiman). Perubahan bentang alam tersebut berdampak pada lingkungan antara lain pengurangan wilayah resapan air, erosi tanah, dan

(18)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011 : 12-20

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Kawasan …...…….…...(Indarti) longsor (Soepangkat, 2001). Selanjutnya

kerusakan lingkungan dalam jangka panjang akan mengancam keberlanjutan kawasan permukiman.

Perkembangan permukiman dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal dapat berupa keuntungan lokasi secara ekonomi akibat posisi geografis kawasan dalam skala regional; ketersediaan fasilitas dan prasarana sosial ekonomi; kondisi sosial ekonomi penduduk; dan potensi sumberdaya alam/jasa lingkungan. Faktor eksternal dapat berupa kebijakan pengembangan wilayah, dan aksesibilitas terhadap pusat-pusat kegiatan dalam skala regional dan nasional. Perkembangan permukiman di DAS Ciliwung hulu tidak terlepas dari bekerjanya faktor internal dan eksternal tersebut. Posisi geografis dan potensi jasa lingkungan merupakan faktor penarik perkembangan kawasan permukiman. Aksesibilitas DAS Ciliwung hulu terhadap pusat kegiatan skala nasional (Jakarta) maupun pusat kegiatan skala wilayah (Kota Bogor dan Bandung) dan kebijakan pengembangan wilayah Bopunjur (Bogor-Puncak-Cianjur) sebagai kawasan andalan Provinsi Jawa Barat dalam sektor pariwisata dan agribisnis, merupakan faktor pendorong bagi berkembangnya permukiman di DAS Ciliwung hulu. Faktor internal dan eksternal lainnya adalah hukum dan kelembagaan yang dicerminkan oleh kebijakan pengembangan wilayah Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat maupun Jabodetabekpunjur. Hukum dan kelembagaan diejawantahkan dalam bentuk produk hukum dan organisasi pengelolaan yang berkaitan dengan DAS Ciliwung hulu. Selain hukum dan kelembagaan faktor eksternal yang berpengaruh terhadap keberhasilan pengelolaan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu adalah keberadaan teknologi yang dapat mengatasi atau memperbaiki degradasi lingkungan DAS. Faktor-faktor internal dan eksternal

tersebut berpengaruh terhadap keberlanjutan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu.

Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah : pertama, menganalisis keberlanjutan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu secara multi dimensi, dan kedua, menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberlanjutan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu

METODE PENELITIAN

Data yang digunakan untuk analisis adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan cara observasi lapangan, wawancara/diskusi. Data sekunder diperoleh dari dinas/instansi terkait. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja kawasan permukiman dianalisis melalui 5 dimensi yang merupakan pilar-pilar pembangunan berkelanjutan (UNCSD 2001; Moffat et al. 2001; Price dan Messerli 2002; Fisheries Center UBC 2006). Dimensi ekologi terdiri atas 6 faktor : kualitas air, pengelolaan sampah, kondisi hidrologi, degradasi lahan, tutupan lahan, dan lokasi pemukiman. Dimensi sosial terdiri atas 6 faktor: pertumbuhan penduduk, pelayanan fasilitas dasar (kesehatan, pendidikan), kualitas masyarakat, partisipasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat, dan persepsi masyarakat. Dimensi ekonomi terdiri atas 5 faktor : lokasi kawasan terhadap pusat permukiman, posisi ekonomi dalam lingkup regional, perekonomian masyarakat, sarana prasarana dan pengembangan permukiman. Dimensi kelembagaan terdiri atas 3 faktor : rencana tata ruang, pengendalian tata ruang, dan pelaksanaan tata ruang. Dimensi teknologi dan informasi terdiri atas 4 faktor : teknologi konservasi air dan tanah, teknologi persampahan, teknologi pencegahan longsor, dan informasi basis data permukiman.

(19)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011 : 12-20

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Kawasan …...…….…...(Indarti) Selanjutnya faktor-faktor pada setiap

dimensi dijabarkan menjadi beberapa atribut, sebagai berikut:

a) Atribut yang digunakan untuk menganalisis 6 faktor pada dimensi ekologi adalah: (1) kadar total colliform di hulu Sungai Ciliwung; (2) kemampuan pengelolaan sampah oleh Pemda Kabupaten Bogor ; (3) Nisbah Q max-Q min di hulu Sungai Ciliwung; (4) laju perkembangan permukiman; (5) tutupan lahan hutan; (6) luas lahan kritis di zona lindung; (7)luas permukiman di zona lindung di kawasan rawan longsor; (8) kepadatan penduduk di permukiman; (9) kadar COD di hulu Sungai Ciliwung. b) Atribut yang digunakan untuk menganalisis 6 faktor pada dimensi sosial adalah : (1) pelayanan fasilitas kesehatan per penduduk; (2) pelayanan fasilitas pendidikan per penduduk; (3) laju pertumbuhan penduduk; (4) persepsi masyarakat terhadap lingkungan; (5) partisipasi masyarakat mengelola sampah; (6) tingkat pendidikan masyarakat;(7) partisipasi masyarakat pada penghijauan; (8) pemberdayaan masyarakat di bidang lingkungan; (9) Pelaksanaan Keluarga Berencana.

c) Atribut yang digunakan untuk menganalisis 4 faktor pada dimensi ekonomi adalah :(1) jumlah penduduk miskin; (2) jumlah tenaga kerja di sektor pertanian;(3) jumlah tenaga kerja di sektor perdagangan;(4) Jumlah tenaga kerja di sektor jasa; (5) akses ke pusat kegiatan ;(6) ketersediaan angkutan umum; (7) status ekonomi wilayah(8) Jumlah desa yang mempunyai fasilitas air bersih; (9) jumlah pelanggan PLN; (10) Luas kawasan yang dapat dikembangkan untuk permukiman. d) Atribut yang digunakan untuk

menganalisis 3 faktor pada dimensi kelembagaan adalah:(1) kerjasama antar kabupaten/kota; (2) Koordinasi dalam perbaikan lingkungan hidup; (3) lokasi

permukiman tidak sesuai RTRW; (4) penerapan disinsentif; (5) penerapan sanksi pidana terhadap pelanggaran penataan ruang; (6) ketersediaan RTRW; (7) ketersediaan rencana rinci tata ruang; (8) ketersediaan peraturan zonasi; (9) ketersediaan mekanisme perizinan; (10) pelaksanaan relokasi permukiman dari kawasan tidak sesuai untuk permukiman.

e) Atribut yang digunakan untuk menganalisis 4 faktor pada dimensi teknologi dan informasi adalah: (1) teknologi pencegahan longsor; (2) teknologi konservasi air; (3) teknologi konservasi lahan; (4) teknologi peningkatan kualitas air; (5) Jenis teknologi yang digunakan untuk pengolahan sampah; (6) ketersediaan basis data permukiman; (7) ketersediaan informasi permukiman

Dengan demikian terdapat 45 atribut yang mewakili 24 faktor keberlanjutan kawasan permukiman.

Metode penilaian cepat multi disiplin merupakan alternatif pendekatan yang dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja kawasan permukman secara menyeluruh. Metode yang digunakan adalah Rapid Appraisal dengan teknik

Multi Dimensional Scaling (MDS).

Perangkat lunak yng digunakan adalah

Rapfish (Rapid appraisal for fisheries)

yang dikembangkan oleh Rapfish Group

Fisheries Centre University of British

Columbia, Kanada (Pitcher, 1999

;Kavanagh and Pitcher, 2004; Fauzy dan Anna, 2005). Analisis MDS menggunakan Rapfish terhadap kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu, diberi nama RapCiwulu. Penentuan atribut pengungkit yang mewakili faktor-faktor yang dianalisis didasarkan pada urutan persentase perubahan root mean square (RMS) ordinasi. Semakin besar nilai perubahan RMS maka semakin besar pula peranan atribut yang mewakili faktor tersebut

(20)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011 : 12-20

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Kawasan …...…….…...(Indarti) (Kavanagh dan Pitcher, 2004) terhadap

keberlanjutan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu. Selanjutnya status keberlanjutan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu dinyatakan dalam skala ordinasi yang berada diantara dua titik ekstrim yaitu buruk dan baik dengan indeks antara 0 sampai 100. Penilaian kinerja sebagai berikut: nilai ordinasi 0,00-25,00(buruk/tidak

berkelanjutan);Nilai ordinasi 25,01– 50,00(kurang berkelanjutan) ;Nilai ordinasi 50,01-75,00 (cukup berkelanjutan); Nilai ordinasi 75,01–100,00 (baik /berkelanjutan).

PEMBAHASAN

1. Analisis Multi Dimensi

Hasil analisis MDS terhadap RapCiwulu untuk setiap dimensi adalah sebagai berikut:

(a) Indeks keberlanjutan dimensi ekologi untuk pengembangan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu adalah 25,98. Berdasarkan klasifikasi status keberlanjutan, angka tersebut menunjukkan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu termasuk kategori kurang berkelanjutan Status kurang berkelanjutan tersebut disebabkan dari 9 atribut yang dinilai, 6 atribut yaitu kadar colliform, COD, kemampuan pengelolaan sampah, laju perkembangan permukiman, tutupan lahan hutan, dan nisbah Q max-Qmin mempunyai skor rendah (buruk) bagi keberlanjutan ekologi, dan 3 atribut sisanya mempunyai skor sedang. Hasil pengujian kualitas air oleh Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor pada Desember 2009 untuk parameter colliform dan COD di hulu Sungai Ciliwung(di Jembatan Gadog) menunjukkan kadar COD =132 mg/l dan total coliform = 34.100/100 ml, telah melebihi baku mutu. Sebagian besar sampah permukiman dibakar, ditimbun atau dibuang ke sungai,

karena kemampuan Pemda Kabupaten Bogor mengangkut sampah ke TPS di Kecamatan Cisarua, Ciawi dan Megamendung rata-rata per hari pada tahun 2006 adalah 16,07% dari total sampah. Kondisi pembuangan sampah seperti itu diperkirakan ikut memperburuk kualitas air Sungai Ciliwung di bagian hulu. Data KLH tahun 2008 mengenai kualitas air di hulu Sungai Ciliwung (Segmen I) menunjukkan mutu air termasuk kelas IV dengan kondisi status mutu D (tercemar berat). Hal tersebut menunjukkan air Sungai Ciliwung sudah tidak layak dikonsumsi.

Laju perkembangan permukiman selama kurun waktu 1992-2006 sangat tinggi yaitu 22,92%/tahun. Perkembangan permukiman diduga berdampak terhadap menurunnya tutupan lahan hutan. Tutupan lahan hutan menurun dari 41,62% (1992) menjadi 29,55 % (2006). Berkurangnya tutupan lahan hutan menyebabkan run

off meningkat, dan infiltrasi berkurang,

akibatnya pada saat curah hujan tinggi debit sungai membesar dan pada saat tidak terjadi hujan debit sungai mengecil. Nisbah debit maksimum dengan debit minimum(Q max/Qmin) di hulu Sungai Ciliwung tahun 2005 adalah 4.274 menunjukkan kondis hidrologi DAS Ciliwung hulu sangat kritis.

(b) Indeks keberlanjutan dimensi sosial untuk pengembangan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu adalah 38,15. Berdasarkan klasifikasi status keberlanjutan, angka tersebut menunjukkan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu termasuk kategori kurang berkelanjutan Status kurang berkelanjutan tersebut disebabkan dari 9 atribut yang dianalisis, hanya 2 atribut yaitu pelayanan fasilitas kesehatan, dan pelaksanaan KB yang

(21)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011 : 12-20

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Kawasan …...…….…...(Indarti) menunjukkan skor baik. Atribut yang

menunjukkan skor buruk adalah laju pertumbuhan penduduk, tingkat pendidikan penduduk dan pelayanan fasilitas pendidikan.

Pelayanan fasilitas kesehatan per penduduk sudah cukup baik yaitu 2,18 per penduduk, artinya setiap penduduk dilayani oleh lebih dari 2 fasilitas kesehatan. Kecamatan Ciawi, Megamendung dan Cisarua telah terlayani oleh 17 balai pengobatan, 3 puskesmas, dan 6 puskesmas pembantu, selain itu juga terdapat rumah sakit umum di Kota Ciawi dan rumah sakit khusus paru-paru di Cisarua. Pelaksanaan program KB

untuk Kecamatan Ciawi,

Megamendung dan Cisarua tahun 2008 berhasil baik karena pencapaian peserta KB aktif telah melebihi 100%. Laju pertumbuhan penduduk di DAS Ciliwung hulu sangat tinggi yaitu 3,14 %/tahun pada kurun waktu 1997-2006. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, disebabkan oleh tingginya migrasi masuk. Tingkat pendidikan penduduk di DAS Ciliwung hulu sebagian besar (57,21%) adalah tamat SD, hal tersebut diduga berkaitan dengan pelayanan fasilitas pendidikan yang relatif masih kurang yaitu rata-rata 0,69 per penduduk .

(c) Indeks keberlanjutan dimensi ekonomi untuk pengembangan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu adalah 62,50. Berdasarkan klasifikasi status keberlanjutan, angka tersebut menunjukkan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu termasuk kategori cukup berkelanjutan. Status cukup berkelanjutan tersebut disebabkan dari 10 atribut yang dinilai, 4 atribut menunjukan skor baik, yaitu akses ke pusat kegiatan; status ekonomi wilayah; ketersediaan angkutan umum; dan jumlah penduduk miskin. Sisanya

3 atribut mempunyai skor buruk dan 3 atribut mempunyai skor sedang. Atribut dengan skor baik, yaitu akses kepusat kegiatan; status ekonomi wilayah; dan ketersediaan angkutan umum, merupakan faktor pendorong bagi perkembangan permukiman di DAS Ciliwung hulu.

Luas lahan yang dapat dikembangkan untuk kegiatan permukiman terbatas yaitu 19,89% dari luas DAS Ciliwung hulu. Oleh karena itu pengembangan perumahan, perdagangan dan jasa harus mempertimbangkan keterbatasan tersebut agar tidak merusak fungsi ekologi DAS Ciliwung hulu.

Dari segi pengembangan ekonomi wilayah, DAS Ciliwung hulu merupakan bagian dari Kawasan Andalan Bopunjur dengan sektor unggulan pariwisata dan agribisnis. Akses dari kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu ke pusat kegiatan lokal (Kota Ciawi) maupun ke pusat kegiatan wilayah (Kota Bogor ) dan ke pusat kegiatan nasional (Jakarta) mudah dilakukan. Angkutan umum perdesaan maupun antar kota melintasi kawasan permukiman DAS Ciliwung hulu. Ketiga atribut yaitu status ekonomi wilayah, akses ke pusat kegiatan dan ketersediaan angkutan umum merupakan faktor penarik kegiatan perekonomian (jasa dan perdagangan) serta migrasi masuk ke DAS Ciliwung hulu.

(d) Indeks keberlanjutan dimensi kelembagaan untuk pengembangan kawasan permukiman di DS Ciliwung hulu adalah 30,66%. Berdasarkan klasifikasi status keberlanjutan, angka tersebut menunjukkan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu termasuk kategori kurang berkelanjutan. Status kurang berkelanjutan tersebut karena dari 10 atribut yang dinilai, 6 atribut

(22)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011 : 12-20

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Kawasan …...…….…...(Indarti) menunjukkan skor buruk, 1 atribut

menunjukkan skor baik dan sisanya 3 atribut menunjukkan skor sedang. Atribut dengan skor buruk adalah atribut yang berkaitan dengan pengendalian permukiman yaitu ketersediaan rencana rinci tata ruang, ketersediaan peraturan zonasi, penerapan disinsentif, penerapan sanksi pidana, pelaksanaan relokasi dan kerjasama antar kabupaten/kota. Atribut-atribut tersebut belum tersedia. Atribut dengan skor baik adalah ketersediaan RTRW. RTRW Kabupaten Bogor 2005-2025 telah diundangkan menjadi Perda Kabupaten Bogor No 19/2008 RTRW ini belum dapat dioperasionalkan dengan baik terutama dalam hal pengendalian tata ruang, karena ketidaktersediaan rencana rinci tata ruang dan peraturan zonasi.

(e) Indeks keberlanjutan dimensi teknologi dan informasi untuk pengembangan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu adalah 57,11. Berdasarkan klasifikasi status keberlanjutan, angka tersebut menunjukkan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu termasuk kategori cukup berkelanjutan. Status cukup berkelanjutan disebabkan dari 7 atribut yang dinilai, sebanyak 2 atribut mempunyai skor baik dan 5 atribut mempunyai skor sedang. Atribut yang mempunyai skor baik adalah ketersediaan teknologi konservasi air dan ketersediaan teknologi peningkatan kualitas air.

Teknologi konservasi air yang tersedia di DAS Ciliwung hulu adalah sumur resapan, biopori dan dam parit. Sumur resapan dibangun di lahan pertanian oleh Dep pertanian. Sampai tahun 2008 telah dibangun 109 buah dam parit di Kecamatan Cisarua oleh IPK-PWSCC Dep PU. Lubang biopori telah

dibuat di Kecamatan Cisarua. Teknologi peningkatan kualitas air dilakukan oleh 4 kementerian yaitu KLH, PU, Pertanian dan Kehutanan. Teknologi peningkatan kualitas air yang digunakan adalah pembuatan WC dan MCK komunal di perkampungan kumuh di Kecamatan Megamendung,

biodigester untuk limbah ternak, dan sedimen trap dengan sistem bio-engineering (menggunakan tanaman).

Analisis multi dimensi untuk pengembangan permukiman di DAS Ciliwung hulu menunjukkan nilai indeks keberlanjutan sebesar 41,16 Artinya status DAS Ciliwung hulu saat ini untuk pengembangan permukiman adalah kurang berkelanjutan. Status kurang berkelanjutan tersebut dicerminkan oleh nilai indeks keberlanjutan dari 5 dimensi yang bernilai rendah. Analisis terhadap masing-masing dimensi menunjukkan bahwa dimensi dengan nilai indeks status keberlanjutan yang rendah adalah ekologi (25,98), kelembagaan (30,66) dan sosial (38,15). Dimensi dengan nilai indeks keberlanjutan cukup adalah teknologi (57,11) dan ekonomi (62,50). Oleh karena itu ditinjau dari sisi strenght sustainability maupun

weak sustainability, status keberlanjutan

DAS Ciliwung hulu untuk pengembangan permukiman adalah kurang berkelanjutan (Gambar 1).

2. Faktor-Faktor yang berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Kawasan Permukiman

Hasil analisis terhadap 24 faktor yang dijabarkan menjadi 45 atribut yang berasal dari dimensi ekologi, sosial, ekonomi, kelembagaan serta teknologi dan informasi terhadap RapCiwulu menghasilkan 16 faktor yang sensitif berpengaruh terhadap keberlanjutan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu. Faktor-faktor tersebut tersebar pada 5 dimensi keberlanjutan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu, dan terdiri dari 20 atribut (Tabel 1).

(23)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011 : 21-29

Hujan Asam Dan Leaching Fe Ke Dalam Air Sumur …...…….……….…..………….(Sutanto, dkk) Gambar 1. Indeks Keberlanjutan Multi Dimensi Kawasan Permukiman

di DAS Ciliwung Hulu

Tabel 1. Faktor-faktor Yang Sensitif Berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Kawasan Permukiman di DAS Ciliwung Hulu.

DIMENSI FAKTOR ATRIBUT INTERVENSI Ekologi 1. Perkembangan

permukiman 1. Laju perkembangan kawasan permukiman Dikurangi/diturunkan 2. Zona pemukiman di kawasan lindung

didaerah rawan longsor Dikurangi/diturunkan 2. Degradasi lahan 3. Luas lahan kritis di zona lindung Dikurangi/diturunkan 3. Tutupan lahan 4. Luas tutupan lahan hutan Ditingkatkan Sosial 4. Pertumbuhan

Penduduk 1. Laju pertumbuhan penduduk Dikurangi/diturunkan 5. Partisipasi masyarakat 2. Partisipasi masyarakat pd penghijauan Ditingkatkan

3. Partisipasi masyarakat mengelola

sampah Ditingkatkan 6. Kualitas masyarakat 4. Tingkat pendidikan penduduk Ditingkatkan Ekonomi

7. Posisi ekonomi dlm lingkup regional 1. Status ekonomi wilayah Dikendalikan/direncanakan hati-hati 8. Lokasi kws terhadap

pusat permukiman 2. Akses ke pusat kegiatan Dikendalikan/direncanakan hati-hati 9. Sarana prasarana 3. Ketersediaan angkutan umum Dikendalikan/direncanakan

hati-hati 10. Luas permukiman 4. Kawasan yg dapat dikembangkan utk

permukiman Dikendalikan/direncanakan hati-hati Kelembaga an 11. Rencana tata ruang 1. Rencana rinci tata ruang Segera dibuat

12. Pengendalian tata

ruang 2. Peraturan zonasi Segera dibuat 13. Pelaksanaan tata

ruang 3. Lokasi permukiman tidak sesuai RTRW Dikurangi/diturunkan Teknologi

&informasi

14. Teknologi konservasi air & tanah

1. Teknologi konservasi air Ditingkatkan 2. Teknologi kualitas air Ditingkatkan 3. Teknologi konservasi tanah Ditingkatkan 15. Teknologi

persampahan

4. Teknologi pengolahan sampah Ditingkatkan 16. Teknologi pencegah

longsor 5. Teknologi pencegah longsor Ditingkatkan Keterangan : PRMS = Perubahan Root Means Square (%)

(24)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011 : 21-29

Hujan Asam Dan Leaching Fe Ke Dalam Air Sumur …...…….……….…..………….(Sutanto, dkk) Untuk meningkatkan status

keberlanjutan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu, ke 16 faktor tersebut perlu diintervensi. Dari 16 faktor yang berpengaruh tersebut, Faktor-faktor yang perlu ditingkatkan adalah: tutupan lahan (hutan), partisipasi masyarakat, kualitas masyarakat, dan teknologi (teknologi konservasi air dan tanah, persampahan, pencegahan longsor). Ke enam faktor tersebut saat ini sudah tersedia akan tetapi pengembangannya masih terbatas, oleh karena itu perlu ditingkatkan.

Faktor yang perlu dikendalikan dan direncanakan perkembangannya secara hati-hati agar tidak menurunkan status keberlanjutan kawasan permukiman adalah: posisi ekonomi dalam lingkup regional, lokasi kawasan terhadap pusat permukiman, sarana-prasarana, dan pengembangan permukiman. Pengelolaan keempat faktor tersebut memerlukan peningkatan status keberlanjutan dimensi sosial dan kelembagaan.

Faktor yang perlu segera dibuat karena saat ini belum tersedia dan diperlukan untuk mengendalikan perkembangan permukiman adalah rencana tata ruang (rencana detail) dan pengendalian tata ruang (peraturan zonasi). Faktor yang perlu dikurangi kegiatannya atau diturunkan intensitasnya adalah degradasi lahan, laju pertumbuhan permukiman, perkembangan permukiman dan pelaksanaan tata ruang (pemanfaatan ruang yang tidak sesuai). Pengurangan atau pengendalian intensitas perkembangan keempat faktor tersebut diperlukan untuk meningkatkan status keberlanjutan dimensi ekologi yang akan berdampak pada keberlanjutan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu secara keseluruhan. KESIMPULAN

Status keberlanjutan DAS Ciliwung hulu untuk pengembangan permukiman adalah kurang berkelanjutan. Tiga dimensi, yaitu ekologi, sosial dan kelembagaan,

menunjukkan status kurang berkelanjutan. Dimensi ekonomi dan prasarana, serta dimensi teknologi dan informasi walaupun statusnya cukup berkelanjutan tetapi nilai indeks keberlanjutannya relatif kecil.

Terdapat 16 faktor yang berpengaruh terhadap keberlanjutan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu. Dari 16 faktor tersebut terdapat 4 faktor yang perlu dikurangi perkembangannya karena berpengaruh negatif yaitu : 2 faktor yang berpengaruh negatif terhadap dimensi ekologi adalah perkembangan permukiman yang sangat cepat dan degradasi lahan; 1 faktor yang berpengaruh negatif terhadap dimensi sosial adalah pertumbuhan penduduk yang tinggi; 1 faktor yang berpengaruh negatif terhadap dimensi kelembagaan adalah pelaksanaan tata ruang yang tidak konsisten dengan RTRW. SARAN

Dari 5 dimensi keberlanjutan kawasan permukiman di DAS Ciliwung hulu, dimensi ekologi perlu mendapat perhatian yang besar karena indeks keberlanjutannya sangat rendah dibandingkan dimensi yang lain.

Untuk meningkatkan status keber- lanjutan DAS Ciliwung hulu sebagai kawasan permukiman, 16 faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberlanjutan permukiman perlu diintervensi dengan cara: menurunkan intensitas kegiatan dan perkembangannya; mengendalikan dan merencanakan perkembangannya dengan hati-hati; serta meningkatkan dan mendorong intensitas kegiatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Fauzy, A dan S. Anna, 2005, Permodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Untuk Analisis Kebijakan, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Fisheries Centre UBC. 2006. Standard Attributes For Rapfish Analysis : Evaluation Fields for Ecological,

(25)

Ekologia, Vol. 11 No.1 , April 2011 : 21-29

Hujan Asam Dan Leaching Fe Ke Dalam Air Sumur …...…….……….…..………….(Sutanto, dkk) Technological, Economic, Social and

Ethical status. Canada: Rapfish Group Fisheries Centre University British Columbia.hlm1-5. http:// www2.fisheries.com/archive/projects/ new-atts. pdf

I.K. Dewi. 2010 M0del Pengelolaan Kawasan Permukiman Berke-lanjutan Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung Hulu Kabupaten Bogor. [disertasi] Bogor: Sekolah pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Kavanagh, P. and T.J.Pitcher, 2004, Implementing Microsoft Exel Software for Rapfish: A Technique for The Rapid Appraisal of Fisheries Status.

Khanna P, P.R Babu, M.S George. 1999. Carrying-Capacity as a Basis for Sustainable Development: A Case Study of National Capital Region in India. Progress in Planning 52 (1999) 101 – 163. Pergamon . India :National Environmental Engineering Research Institute, Nehru Marg, Nagpur 440 020.

Moffat, I, N. Hanley and M.D. Wilson. 2001. Measuring &Modelling Sustainable Development. New York: The Parthenon Publishing Group. Mustafa, Y.M., M.S. Amin, T.S. Lee,

and A.R.M. Shariff, Evaluation of Land Development on Tropical Watershed Hydrology Using Remote Sensing and GIS. J. Spatial Hydrology 5(2):16-30, 2005.

Pitcher, T.J, 1999, Rapfish, A Rapid Appraisal Technique for Fisheries, And Its Application to the Code of Conduct for Responsible Fisheries. FAO Circular No 947. Rome: Food Agriculture Organization of The United Nations, 47 p.

Price, M.F and B. Messerli. 2002. Fostering Sustainable Mountain Development: from Rio to the International Year of Mountains, and Beyond: An Overview of the Primary Mountain Issues and the Evolving Place of Mountains in the Global Agenda. Unasylva-No 208-2002 International Year of Mountains http://www.mountains 2002.org [6 Mar 2010]

Soepangkat, S.P. 2001. Aspek Kebijakan Dalam Pembangunan Perumahan dan Permukiman. Di dalam: Seminar

Pengembangan Perumahan dan Permukiman Berkelanjutan di

Indonesia.Bandung 17 Pebruari 2001.

FTSP-UNPAS.hlm1-31

Sujarto, D. 1993. Masalah Perumahan dan Permukiman[editorial]. J.

Perencanaan Wilayah dan Kota Edisi Khusus Juli:2.

[UNCSD] United Nation Commission on Sustainable Development. 2001. Indicators of Sustainable Development: Guidelines and Methodologies. hlm 2-308. New York : United Nations. http://www. un.org/indisd.pdf [ 5 Okt 2007].

Gambar

Gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian    Tahapan Penelitian
Gambar 3. Contoh digitasi:  (a) theme  canopy dan (b) theme non canopy   a).  Analisis  Penyimpanan  dan  penyerapan  Carbon
Gambar 4 . Tampilan Study Area                        Preferences
Gambar  5. Tampilan Akhir Run Analysis
+7

Referensi

Dokumen terkait

Karakterisasi kompleks DDI-NKT dan DDI-ARG meliputi, analisis dengan mikroskop polarisasi, difraksi sinar-X serbuk, uji kelarutan, dan stabilitas kimia pada larutan dapar pH 1,2;

2 Wakil Dekan Bidang I SALINAN TERKENDALI 02 3 Wakil Dekan Bidang II SALINAN TERKENDALI 03 4 Manajer Pendidikan SALINAN TERKENDALI 04 5 Manajer Riset dan Pengabdian

Untuk arah aliran counter current, proses perpindahan panas yang terjadi lebih efektif daripada proses perpindahan panas dengan arah aliran

Pengawasan kualitas merupakan alat bagi manajemen untuk memperbaiki kualitas produk bila dipergunakan, mempertahankan kualitas produk yang sudah tinggi dan

Upaya memperbaiki kualitas dalam suatu lembaga pendidikan atau sekolah sangat ditentukan oleh kepemimpinan Kepala Sekolah dalam manajemen yang efektif. Maju mundurnya suatu

LEGAL PLURALISM : VOLUME 5 NOMOR 2, JULI 2015 290 yang menyebabkan retaknya hubungan antara pihak nelayan pemilik kapal dengan pihak nelayan penggarap Pada perjanjian ini juga

Tumbuan, Fred BG, Tanggung Jawab Direksi Dan Komisaris Serta RUPS Perseroan Terbatas, Makalah kuliah S2 Fakultas Hukum universitas Indonesia Tahun Ajaran 2001 – 2002.

2) Wawancara, hasil wawancara yang diperoleh akan digunakan sebagai data penunjang dalam penelitian ini. Data tersebut diperoleh dari pihak-pihak yang telah ditentukan sebagai