• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. ANALISIS LINGKUNGAN USAHA PEPAYA CALIFORNIA MITRA ALAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VI. ANALISIS LINGKUNGAN USAHA PEPAYA CALIFORNIA MITRA ALAM"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

VI. ANALISIS LINGKUNGAN USAHA PEPAYA CALIFORNIA MITRA ALAM

6.1 Analisis Lingkungan Internal

Analisis lingkungan internal perusahaan adalah analisis berdasarkan factor-faktor yang berasal dari dalam perusahaan sendiri dan pada umumnya dapat dikendalikan oleh perusahaan. Analisi lingkungan internal perusahaan digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam mencapai kinerja dan mengungguli pesaing. Analisis lingkungan internal perusahaan yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi manajemen, produksi, keuangan, pemasaran, sumberdaya manusia, serta penelitian dan pengembangan

6.1.1 Manajemen

Dilihat dari struktur organisasinya, perusahaan masih menggunakan sistem manajemen yang sederhana, yang masih terdapat tumpang tindih jabatan. Pada kenyatannya tugas dan fungsi setiap karyawan bersifat fleksibel. Artinya karyawan pada satu divisi/bagian dapat melaksanakan tugas dan fungsi karyawan pada divisi/bagian lain. Analisis mengenai manajemen dilakukan berdasarkan fungsi dasar manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pemotivasian, penunjukkan staf, dan pengendalian. Saat ini, fungsi perencanaan, pengorganisasian, pemotivasian, penunjukkan staf/karyawan dan pengendalian perusahaan, masih belum dilaksanakan dengan cukup baik.

1) Perencanaan

Perencanaan merupakan aktivitas manajerial yang berkaitan dengan persiapan menghadapi masa depan. Perencanaan dilakukan pada tahap perumusan strategi dalam proses manajemen strategis. Kegiatan perencanaan yang dilakukan oleh Mitra Alam belum tersusun dengan baik. Perencanaan Mitra Alam belum dilakukan secara tertulis sehingga menjadikan target yang diharapkan belum terukur. Rentang waktu untuk perencanaan selama ini belum ditentukan. Mitra Alam masih melakukan perencanaan berdasarkan permasalahan yang ada dan bersifat lisan, dimana dalam pelaksanannya tidak terealisasi dengan baik.

(2)

65 2) Pengorganisasian

Struktur organisasi Mitra Alam sudah ada, dalam bentuk sederhana dan belum jelas serta dibakukan. Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh struktur organisasi Mitra Alam seperti yang terlihat pada menunjukkan bahwa posisi manajemen puncak dipegang langsung oleh pemilik dan dibawahnya seorang manajer yang mengelola seluruh kegiatan operasional perusahaan. Manajer bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan strategis yang terkait dengan kelancaran usaha.

Pelaksanaan tugas dan wewenang di Mitra Alam telah diatur dalam job

description yang pernyataannya belum tertulis dan dibakukan. Job description

berisi ringkasan pekerjaan, tanggung jawab dan wewenang yang dimiliki setiap posisi sesuai dengan struktur organisasi. Selama ini job description Mitra Alam hanya pembagian pekerjaan yang dinformasikan secara lisan saja. Sehingga dalam pelaksanaannya pengorganisasiannya masih tumpang tindih tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan sehingga tugas tidak efisien. 3) Pemotivasian

Proses pemotivasian merupakan usaha yang diarahkan untuk membentuk tingkah laku manusia. Meskipun pendekatan yang dilakukan oleh pemilik Mitra Alam lebih bersifat top down dalam operasionalisasi perusahaan akan tetapi pemilik dan manajer tidak menganggap karyawan sebagai bawahan melainkan sebagai rekan kerja. Hal ini karena peran serta karyawan juga terlibat dalam keberhasilan suatu usaha. Pemberian motivasi terhadap karyawan penting dilakukan karena terkait dengan loyalitas para karyawan terhadap perusahaan sehingga para karyawan tersebut merasa nyaman selama bekerja. Berdasarkan hasil wawancara, setiap karyawan di Mitra Alam memiliki motivasi tinggi dalam bekerja. Hal ini dapat dilihat dari tingkat kepatuhan serta kedisiplinan dalam menaati peraturan-peraturan yang telah ditetapkan. Setiap karyawan selalu datang dan pulang sesuai dengan jam kerja dan menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik.

Tingginya motivasi karyawan terutama disebabkan karena kesadaran untuk memajukan perekonomian Desa Curug. Di samping itu, kepemimpinan dari manajer turut mempengaruhi motivasi bekerja karyawan.

(3)

66 4) Penunjukkan Staf

Budaya atau iklim kerja yang terjadi di Mitra Alam cenderung ke arah kekeluargaan. Oleh karena itu, komunikasi yang terjalin antara manajer kepada para bawahannya tidak bersifat kaku sehingga kondisi seperti ini memudahkan manajer dalam memberikan tugas kepada bawahannya atau sebaliknya, jika para karyawan ingin menyampaikan sesuatu kepada manajernya terkait dengan masalah kerja. Komunikasi antara manajer dan bawahan yang terjalin baik ini menjadi kekuatan pada Mitra Alam dalam pengembangan usahanya.

Aktivitas penunjukan staf berpusat pada manajemen karena pada Mitra Alam belum dibentuk divisi manajemen personalia atau sumber daya manusia. Perekrutan staf dilakukan berdasarkan referensi dari staf yang sudah ada. Setiap karyawan mendapatkan insentif berupa gaji tetap setiap bulan. Selain itu, karyawan juga mendapat insentif berupa uang makan.

5) Pengendalian

Proses pengendalian bertujuan untuk memastikan hasil yang didapat konsisten dengan hasil yang direncanakan. Proses pengendalian yang telah berjalan baik di Mitra Alam adalah pengendalian produksi. Tanggung jawab pengendalian produksi dilakukan oleh bagian produksian dan saprot yang mengawasi jalannya proses produksi mulai sortasi, grading, packing, dan transportasi. Bagian produksi ini bertugas untuk memastikan kualitas produk yang dihasilkan selalu sesuai dengan permintaan konsumen.

6.1.2 Pemasaran

Pemasaran merupakan bidang yang sangat penting dalam sebuah perusahaan, karena bidang pemasaranlah yang bersentuhan langsung dengan konsumen. Aspek pemasaran sebagai parameter berhasil tidaknya tujuan usaha untuk memperoleh laba yang maksimal. Analisis mengenai bidang pemasaran pada Mitra Alam akan dikaji berdasarkan empat aspek bauran pemasaran. Aspek-aspek tersebut adalah Aspek-aspek produk, harga, promosi, dan distribusi.

(4)

67 1) Produk

Jenis pepaya yang diproduksi oleh Mitra Alam adalah Pepaya California. Mitra Alam selalu mengutamakan kualitas terhadap setiap Pepaya California yang dijualnya. Kualitas Pepaya California ini dapat dilihat dari bentuk buah yang kecil, kulit mulus. Hal inilah yang dilakukan oleh Mitra Alam terhadap produk pepayanya, dimana kualitas Pepaya California menjadi faktor penting yang menjadi perhatian perusahaan sekaligus menjadi kekuatan dalam pengembangan usahanya. Saat ini, konsumen untuk Mitra Alam adalah sebagian besar adalah toko buah atau swalayan. Wilayah cakupan pemasaran Mitra Alam yaitu meliputi wilayah Jakarta Selatan, Depok dan Bogor. Lokasi tersebut dipilih disesuaikan dengan jarak dari perusahaan dan karena perusahaan masih berkonsentrasi pada kontinuitas produksi.

Hal lain yang menjadi perhatian Mitra Alam adalah kemasan Pepaya California. Kemasan yang biasa digunakan adalah label merek kemudian dibungkus dengan kertas koran agar tidak rusak selama pengangkutan. Selain sebagai pelindung produk, kemasan juga sebagai identitas produk.

2) Harga

Harga merupakan satu-satunya unsur dari bauran pemasaran yang menghasilkan penerimaan bagi perusahaan sedangkan yang lainnya menimbulkan biaya. Harga Pepaya California ditentukan oleh perusahaan melalui negosiasi dengan pihak toko buah atau swalayan. Harga jual Pepaya California Mitra Alam Rp 3.000/kg. Sedangkan harga jual di tingkat konsumen Rp 10.000/kg

3) Promosi

Promosi yang dilakukan oleh Mitra Alam tergolong pasif. Kegiatan promosi yang pernah dilakukan oleh Mitra Alam adalah mengikuti pameran yang bertujuan untuk memperkenalkan perusahaan dan ragam produk yang dimiliki perusahaan. Pameran tersebut dilaksanakan oleh Hotel Parung, Hotel Bumi Wiyata Depok dan Dinas Pertanian Kabupaten Bogor. Kegiatan tersebut dilakukan jika memang ada acara saja Mitra Alam mengikuti pameran tersebut. Kegiatan promosi yang dilakukan Mitra Alam masih terbatas, terkait dengan sebagai perusahaan baru penghasil Pepaya California di Kabupaten

(5)

68 Bogor, seharusnya perusahaan lebih banyak melakukan promosi untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat, apalagi di tengah persaingan dalam industri penghasil pepaya yang semakin ketat.

4) Distribusi

Distribusi merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh sebuah perusahaan untuk menyalurkan, mengirimkan serta menyampaikan barang yang dipasarkannya kepada konsumen. Secara umum, Mitra Alam dalam mendistribusikan produknya melalui dua pola saluran. Saluran yang pertama yaitu saluran distribusi langsung dari Mitra Alam ke konsumen, berlaku ketika terjadi pembelian saat Mitra Alam mengikuti pameran ataupun jika berjualan langsung di “pasar kaget” atau bazar. Saluran yang kedua, dari Mitra Alam ke toko buah kemudian ke konsumen. Distribusi Pepaya California yang dipasok Mitra Alam ke toko buah (All Fresh, Fresh Depok dan toko buah di Daerah Parung) dilakukan dengan diantar ataupun langsung dijemput oleh pihak toko buah sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan. Sistem pembayaran dengan toko buah tersebut adalah barang baru dibayar setelah 14 hari pengiriman barang ke toko buah tersebut.

6.1.3 Keuangan

Untuk mendirikan sebuah perusahaan, diperlukan sejumlah modal. Modal ini tidak hanya dalam bentuk uang tunai, namun juga termasuk lahan, bangunan, dan alat-alat produksi yang dimiliki oleh perusahaan. Modal yang digunakan pun dapat berasal dari modal sendiri atau modal pinjaman. Pada Mitra Alam, modal awal yang digunakan untuk mendirikan usaha sepenuhnya berasal dari modal pemilik sendiri. Mitra Alam tidak memberlakukan sistem investasi dari pihak luar karena adanya komitmen pemilik perusahaan untuk tetap menggunakan modalnya sendiri. Pencatatan keuangan di Mitra Alam saat ini belum menerapkan sistem akuntansi dan komputerisasi.

6.1.4 Penelitian dan Pengembangan

Biasanya perusahaan harus memiliki anggaran biaya tersendiri untuk menjalankan departemen litbangnya sehingga tidak semua perusahaan memiliki

(6)

69 bidang ini. Saat ini Mitra Alam termasuk perusahaan agribisnis yang tidak memiliki bidang litbang. Hal ini karena orientasi perusahaan terbatas pada bagaimana modal yang digunakan untuk menjalankan usaha dapat kembali dan memperoleh keuntungan dari penjualan produknya. Selain itu, disebabkan oleh keterbatasan tenaga ahli yang mampu untuk mengelolanya. Ketiadaan bidang penelitian dan pengembangan (litbang) dalam perusahaan merupakan kelemahan bagi Mitra Alam. Tetapi Mitra Alam memiliki akses yang mudah untuk memperoleh dan mengadopsi teknik-teknik budidaya tanaman. Informasi tentang teknik budidaya tanaman pepaya ini diperoleh dari hasil-hasil pelatihan yang diikuti oleh bagian produksi perusahaan.

6.2 Analisis Lingkungan Eksternal Makro

Analisis lingkungan eksternal bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kecenderungan-kecenderungan dan kejadian-kejadian yang berada di luar kendali perusahaan. Analisis lingkungan eksternal berfokus pada penentuan faktor-faktor yang menjadi ancaman dan peluang bagi perusahaan sehingga memudahkan manajemen perusahaan untuk menentukan strategi-strategi untuk meraih kesempatan dan menghindari ancaman. Melalui analisis lingkungan eksternal diperoleh variabel-variabel kunci apa saja yang dapat memberikan respon dan pengaruh terhadap kondisi Mitra Alam, serta mengetahui seberapa besar faktor-faktor tersebut berpengaruh dalam keberhasilan perusahaan, dengan demikian Mitra Alam diharapkan mampu mengidentifikasikan serangkaian faktor strategis yang menjadi penentu dalam penyusunan strategi perusahaan. Faktor-faktor eksternal tersebut meliputi kondisi politik, pemerintahan dan hukum; ekonomi; sosial; teknologi dan lingkungan kompetitif perusahaan.

6.1.1 Ekonomi

Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat dari tahun ke tahun mengakibatkan kebutuhan akan pangan semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Malthus yaitu pertumbuhan penduduk sesuai dengan deret ukur sedangkan kebutuhan pangan sesuai deret hitung. Sejalan dengan hal itu, perekonomian Indonesia saat ini berangsur-angsur pulih yang ditunjukkan

(7)

70 dengan laju pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto). Pada periode tahun 2006 sampai tahun 2010, PDB Indonesia mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2006 perekonomian Indonesia tumbuh 5,50 persen atau dengan nilai PDB sebesar 1.847.126,70 milyar. Tahun 2007 nilai PDB Indonesia naik menjadi 1.964.327,30 milyar atau tumbuh sebesar 6, 35 persen. Tahun 2008 nilai PDB Indonesia naik menjadi 2.082.456,10 milyar atau tumbuh sebesar 6,01 persen. Sedangkan tahun 2009 pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 4.58 persen atau dengan nilai PDB sebesar 2.177.741,70 milyar. Hal ini menjadi peluang besar bagi kegiatan usaha dibidang pertanian yang mengahasilkan produk kebutuhan pangan.

Salah satu indikator perkembangan ekonomi suatu daerah adalah laju pertumbuhan ekonomi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Saat ini indikator ekonomi makro yang menyajikan perolehan pendapatan wilayah baru terbatas pada PDRB. PDRB adalah indikator yang menunjukkan kemampuan daerah tersebut untuk menghasilkan nilai tambah. Perkembangan dan laju PDRB Kabupaten Bogor atas dasar harga berlaku tahun 2007- 2011 dapat dilihat pada Tabel 16. berikut.

Tabel 16. Perkembangan dan Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Bogor atas

dasar harga berlaku Tahun 2007-2011

Tahun PDRB (Jutaan Rupiah) Laju pertumbuhan PDRB (%)

2007 51.280.219,68 11,36

2008 58.389.411,43 13,86

2009 66.083.788,55 13,18

2010 73.800.700,55 11,68

2011* 82.699.458,37 12,06

Sumber : BPS Kabupaten Bogor (2012) *data sementara

Berdasarkan Tabel 16, PDRB per kapita Kabupaten Bogor mengalami peningkatan. Terlihat peningkatan dari Rp 12,48 juta pada tahun 2008 menjadi Rp 13,66 juta pada tahun 2009 dengan jumlah penduduk sebesar 4.679.627 jiwa tahun 2008 dan sebesar 4.837.711 jiwa pada tahun 2009.

Laju pertumbuhan PDRB per kapita Kabupaten Bogor rata-rata mengalami peningkatan sebesar 9,43 persen setiap tahunnya. Peningkatan pendapatan

(8)

71 masyarakat Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa daya beli masyarakat yang semakin meningkat dan akan mendorong pertumbuhan usaha Pepaya California Mitra Alam.

Pengeluaran rumah tangga adalah rata-rata biaya yang dikeluarkan rumah tangga untuk konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu konsumsi makanan dan konsumsi non makanan (perumahan, pakaian, pendidikan, kesehatan, pajak, asuransi, dan lain-lain). Semakin besar alokasi dana yang dianggarkan untuk produk tertentu, maka produk tersebut penting dan memiliki prospek pasar yang baik. Pepaya California merupakan salah satu buah-buahan yang memiliki prospek yang baik apabila alokasi pengeluaran rumah tangga untuk bahan makanan buah-buahan semakin bertambah. Berikut ini data pengeluaran rumah tangga Indonesia tahun 2007-2011 pada Tabel 17 berikut ini.

Tabel 17. Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Barang,

2007-2011 (Rupiah) Kelompok Barang 2007 2008 2009 2010 2011 A. Makanan 174,028 193,828 217,719 254,520 293,556 1. Padi-padian 35,874 36,970 38,122 44,004 44,427 2. Umbi-Umbian 1,991 2,040 2,180 2,422 3,008 3. Ikan 13,822 15,315 18,454 21,467 25,369 4. Daging 6,898 7,104 8,114 10,370 10,972

5. Telur dan susu 10,497 12,048 14,056 15,834 17,106 6. Sayur-sayuran 13,690 15,539 16,813 18,995 25,563 7. Kacang-kacangan 5,207 5,978 6,759 7,387 7,500

8. Buah-buahan 9,055 8,779 8,821 12,335 12,759

9. Minyak dan lemak 5,959 8,336 8,416 9,486 11,342 10. Bahan minuman 7,799 8,221 8,691 11,195 10,681

11. Bumbu-bumbuan 3,900 4,312 4,643 5,390 6,268

12. Konsumsi lainnya 4,736 5,356 5,720 6,368 6,381 13. Makanan dan minuman

jadi

37,030 44,193 54,326 63,286 81,536 14. Tembakau dan sirih 17,570 19,636 22,604 25,982 30,647 B. Bukan makanan –Non Food 179,393 192,542 212,345 240,325 300,108

Total 353,421 386,370 430,065 494,845 593,664

(9)

72 Berdasarkan Tabel 17 dapat dilihat bahwa pengeluaran rata-rata perkapita rakyat Indonesia untuk kelompok makanan melonjak cukup tinggi dari tahun 2007 hingga 2011. Terlihat bahwa pengeluaran rata-rata per kapita sebulan masyarakat Indonesia untuk buah-buahan lebih besar daripada daging. Pepaya California dikelompokkan dalam kategori makanan buah-buahan. Pengeluaran rumah tangga terhadap makanan buah-buahan mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan trend yang positif dan menjadi peluang bagi pemasaran Pepaya California di masa yang akan datang.

6.1.2 Politik, Pemerintah dan Hukum

Kondisi politik Indonesia turut mempengaruhi kegiatan produksi pelaku-pelaku usaha di Indonesia. Dukungan pemerintah terhadap pengembangan sektor pertanian adalah melalui salah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah yaitu UU No.13 Tahun 2010 tentang hortikultura serta Peraturan Daerah No. 18 Tahun 2008 terkait dengan perencanaan tata ruang wilayah Kabupaten Bogor tahun 2005-2025.

Adanya UU No.13 Tahun 2010 menunjukkan dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian dan menjadi landasan hukum membangun kawasan dan usaha hortikultura. Selain itu,undang-undang hortikultura menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan hortikultura yang memberikan kontribusi yang bermakna bagi pembangunan sosial, budaya dan ekonomi bangsa. Undang-undang ini bertujuan untuk meningkatkan produksi, kualitas dan daya saing produk hortikultura, juga perlindungan terhadap produk lokal dan mendorong pengembangan UKM. Sedangkan Perda No.18 Tahun 2008 memberikan arahan yang jelas terhadap pengembangan kawasan di Kabupaten Bogor. Dengan demikian, penggunaan lahan diharapkan sesuai dengan peruntukannya. Hal ini menjadi peluang bagi pengembangan usaha Pepaya California.

6.1.3 Sosial Budaya

Masyarakat modern saat ini telah mengalami perubahan dalam pola konsumsi serta telah sadar akan kesehatan dan gizi. Masyarakat mulai memahami pentingnya mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung nutrisi yang

(10)

73 penting bagi kesehatan. Salah satunya dengan mengkonsumsi buah-buahan untuk pemenuhan kebutuhan gizi seimbang sehari-harinya. Selain itu, gaya hidup masyarakat yang cenderung menyukai hal-hal yang praktis dan ringkas serta mindset konsumen mengenai pepaya sudah banyak berubah seiring berjalannya waktu. Beberapa tahun lalu, orang jika ingin membeli pepaya akan selalu memilih pepaya yang berbentuk besar dan berat di timbangan. Hal ini sangat jamak terjadi di masyarakat Indonesia. Pepaya berbentuk besar dan berat dipilih biasanya karena mengandung lebih banyak bagian untuk dimakan, selain karena rasanya manis tentunya. Akan tetapi perilaku pasar dalam mengkonsumsi pepaya saat ini sudah banyak berubah. Orang akan membeli pepaya yang relatif lebih kecil dan ringan, hal yang berkebalikan dengan perilaku pasar pepaya beberapa tahun lalu. Orang lebih suka pepaya berbentuk lebih kecil karena bisa langsung sekali konsumsi dengan membelah pepaya menjadi dua bagian dan langsung dapat dinikmati dengan menggunakan sendok (Sobir, 2009).

Perilaku konsumen pepaya tersebut yang akhirnya menjadi referensi dibudidayakannya pepaya solo type (habis sekali makan) seperti pepaya jenis California. Selain rasanya manis dan relatif sesuai lidah orang Indonesia, bentuk Pepaya California juga kecil-kecil, dengan berat antara 0,7–2 kg per butirnya. Hal ini menyebabkan permintaan pasar akan Pepaya California semakin meningkat. Sehingga dengan demikian kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi buah menjadikan peluang untuk mengembangkan usaha Pepaya California.

Faktor lain yang dapat menjadi peluang bagi perusahaan ialah peningkatan jumlah penduduk. Peningkatan jumlah penduduk dapat meningkatkan permintaan pasar karena tingkat kebutuhan yang bertambah. Berdasarkan hasil olah cepat Sensus Penduduk 2010 yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik pada bulan Mei 2010 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237.556.363 orang. Bila dibandingkan dengan hasil sensus penduduk 2000 yang berjumlah 205.132.458 orang, maka selama 10 tahun terakhir penduduk Indonesia bertambah sekitar 32,5 juta orang atau meningkat dengan tingkat (laju) pertumbuhan per tahun sebesar 1,49 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jumlah penduduk Indonesia mengakibatkan peningkatan permintaan pasar karena kebutuhan akan pangan semakin tinggi termasuk kebutuhan akan

(11)

74 konsumsi buah. Hal ini merupakan pangsa pasar potensial dan peluang besar bagi pelaku usaha buah Pepaya California untuk memasarkan produknya.

6.1.4 Ekologi atau Alam

Aspek lingkungan yaitu pemanasan global memberikan dampak terhadap usaha buah Pepaya California. Pemanasan global pada dasarnya adalah peningkatan suhu rata-rata udara di atas permukaan bumi. Pemanasan global menyebabkan kondisi alam saat ini mengalami perubahan yang sangat ekstrem sehingga terjadi perubahan iklim. Perubahan iklim ini menyebabkan perubahan musim hujan dan musim kemarau. Biasanya musim hujan dan musim kemarau bisa ditentukan berdasarkan hitungan bulan. Namun, saat ini kondisi musim hujan dan musim kemarau sulit untuk diprediksi. Hal ini menjadi ancaman bagi usaha Pepaya California.

6.1.5 Teknologi

Penerapan teknologi pada usaha yang bergerak dibidang pertanian antara lain yaitu on farm dan off farm. Untuk kegiatan on farm teknologi yang dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, pemberantasan hama dan penyakit tanpa bahan kimia, menghasilkan bibit unggul, pemeliharaan dan perlakuan pascapanen. Teknologi yang digunakan pada saat pemeliharaan tanaman Pepaya California yaitu kegiatan pengairan atau irigasi dapat menggunakan sistem irigasi

minisprinkles ataupun menggunakan sistem irigasi tetes. Sistem irigasi tetes dapat

digunakan di lahan dengan ketersediaan air terbatas atau pada musim kemarau. Irigasi ini efektif untuk memastikan air dapat langsung diterima oleh tanaman dan dapat menghemat penggunaan air. Selain itu, sistem irigasi tetes dapat dimodifikasi dengan penggunaan mulsa. Penggunaan mulsa di lahan penanaman Pepaya Califoria dapat mencegah erosi saat hujan, mencegah pertumbuhan gulma, mengurangi kehilangan air di tanah, dan menjaga kelembaban tanah (Sobir, 2009). Serangan hama dan penyakit juga menjadi masalah yang juga diperhatikan perusahaan saat ini. Hama dan penyakit merupakan salah satu faktor penentu keberhasilam bertanam pepaya. Kerusakan akibat serangan hama dan penyakit tidak hanya akan mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas buah yang

(12)

75 dihasilkan, bahkan dapat mematikan tanaman secara keseluruhan. Serangan hama dan penyakit yang menyerang tanaman Pepaya California Mitra Alam yaitu antraknosa dan kutu putih. Antraknosa menyebabkan kerusakan berat di buah muda, daun tua, pelepah daun bahkan batang tanaman. Akibatnya pepaya gagal panen dan mati. Kutu putih menyebabkan buah tidak dapat dipasarkan bahkan kematian pohon pepaya di lapang. Hal ini menjadi ancaman bagi usaha Pepaya California yang perlu mendapatkan perhatian yang lebih. Teknologi yang tepat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Seperti penemuan agen hayati yaitu

plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dan Trichodefrma harzianum yang

dapat membantu menekan patogen dan memperkuat daya tahan tanaman terhadap antraknosa. Penemuan agen hayati Anagyrus loecki dan Acerophagus pepayae yang dapat mengendalikan serangan kutu putih. Penemuan fungisida yang dapat diaplikasikan untuk mematikan konidia cendawan. Penemuan insektisida yang dikombinasikan dengan detergen agar dapat mengendalikan serangan kutu putih.

Kegiatan off farm, teknologi digunakan dalam distribusi, pemasaran dan pengolahan. Teknologi pengemasan contohnya adalah wraping, sedangkan teknologi pengolahan dapat mengahasilkan beragam olahan produk pepaya yang diminati konsumen. Saat ini teknologi komputasi, informasi dan komunikasi sangat dibutuhkan untuk memudahkan kerja dan mengembangkan usaha. Dengan adanya teknologi berupa komputer, perusahaan dapat menyimpan data-data penting perusahaan. Adapun internet dan e-commerce memungkinkan perusahaan untuk mempromosikan dan memperluas jaringan pemasarannya serta mengakses informasi untuk keperluan usaha.

Penggunaan teknologi pada perusahaan saat ini masih tergolong sederhana. Penggunaan teknologi oleh perusahaan berupa penggunaan obat-obatan bagi tanaman yang diserang hama dan penyakit. Penggunaan sprayer dan mesin pemotong sangat membantu perusahaan dalam melakukan kegiatan produksi. Teknologi lain yang sudah mapan bagi perusahaan adalah penggunaan alat transportasi yang mendukung kegiatan pemasaran. Telepon genggam membantu perusahaan berhubungan dengan pelanggan.

(13)

76

6.1.6 Lingkungan Kompetitif

1. Persaingan dengan perusahaan sejenis

Persaingan dalam industri penghasil Pepaya California semakin meningkat. Tingginya tingkat permintaan semakin banyak jumlah perusahaan dan petani penghasil Pepaya California. Faktor pemicu semakin kompetitifnya persaingan. Pesaing yang berada di wilayah Kabupaten Bogor adalah CV. Agro Ketes Mandiri (Jasinga) dan Astra Agro Grup (Rancabungur) perusahaan ini menjual bibit dan buah segar Pepaya California serta promosi yang gencar melalui internet.

2. Masuknya pendatang baru

Adanya prospek usaha yang cukup baik di industri penghasil Pepaya California ditandai dengan permintaan terhadap produk pepaya yang terus meningkat. Peluang baik ini menjadi suatu daya tarik bagi para pengusaha agribisnis untuk masuk dalam industri. Pendatang baru dalam industri ini dapat masuk karena ancaman masuk pada industri penghasil Pepaya California ini kecil. Hal ini disebabkan karena tanaman pepaya merupakan tanaman yang cukup mudah untuk dibudidayakan. Namun, butuh modal besar untuk menjalankan usaha budidaya Pepaya California. Pengusaha yang ingin berkecimpung pada usaha Pepaya California harus memiliki lahan yang cukup dan ketersediaan input berupa bibit, dan pupuk yang memadai. Meskipun mudah dalam membudidayakannya, Pepaya California harus memiliki jarak tanam antara 2-2,5 meter sehingga pertumbuhan menjadi optimal. Jarak tanam yang cukup lebar menyebabkan untuk menanam sebanyak 1400-1500 pohon membutuhkan lahan seluas satu hektar.

Selain karena mudah dalam budidaya, Pepaya California merupakan salah satu jenis pepaya yang memiliki permintaan yang tinggi di pasar dan harganya melebihi pepaya lokal dan Pepaya Bangkok baik di pasar tradisional maupun di pasar swalayan. Hal ini cukup memotivasi pendatang baru untuk masuk dalam industri penghasil Pepaya California dengan kemampuan dan pengalaman yang cukup tentang pengolahan lahan, budidaya, pemasaran, distribusi sehingga pendatang baru dapat bersaing merebut pasar yang ada. Pendatang baru ini bisa berasal dari pengusaha individu ataupun petani di

(14)

77 tempat lain. Maka dari itu, dengan adanya peluang pasar yang cukup besar menjadikan pendatang baru dalam industri penghasil Pepaya California suatu ancaman yang kecil bagi Mitra Alam.

3. Persaingan dengan produk substitusi

Produk pengganti atau produk subsitusi yang dapat mengancam Pepaya California dalam industri adalah pepaya varietas lainnya seperti pepaya lokal dan pepaya Bagkok. Kelebihan dari produk subsitusi tersebut adalah antara lain dari pepaya berukuran besar, kulit buah yang halus, segi harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan Pepaya California, lebih mudah diperoleh (ketersediaan di pasaran banyak dapat ditemui di pasar tradisional maupun pasar swalayan), serta volume produksi yang lebih banyak. Kelebihan yang dimiliki produk subsitusi tersebut dapat mendorong konsumen untuk beralih ke produk subsitusi. Namun, Pepaya California juga memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki produk subsitusi, seperti ukuran yang kecil sehingga kontak tangan semakin berkurang,sesuai dengan kapasitas konsumsi segar tanpa harus tersisa (untuk sekali makan) dan cocok dikonsumsi menggunakan sendok. Meskipun demikian, produk subsitusi tetap menjadi ancaman bagi perkembangan industri penghasil Pepaya California.

Ancaman lainnya berasal dari jenis buah lain yaitu pisang. Ancaman yang muncul dari produk pengganti ini terjadi apabila salah satu produk tersebut mengalami kenaikan harga dan konsumen dapat beralih pada produk substitusinya.

4. Kekuatan tawar menawar pemasok

Pemasok merupakan salah satu komponen penting dalam menjalankan suatu usaha. Bahan input adalah bahan atau komponen yang digunakan sebagai sarana dalam berlangsungnya proses produksi suatu kegiatan. Bagi Mitra Alam keberadaan pemasok bahan baku seperti bibit, pupuk, kotoran sapi, obat-obatan memiliki peranan yang sangat penting terhadap keberlangsungan kegiatan produksi. Untuk memenuhi kebutuhan proses bahan input yang diperoleh dari pasar lokal seperti benih, pupuk dan obat-obatan. Kotoran sapi diperoleh dari peternakan sekitar. Benih diperoleh dari IPB. Sedangkan pupuk kimia dan obat-obatan didapatkan dari toko.

(15)

78 5. Kekuatan tawar menawar pembeli

Pembeli atau konsumen utama Mitra Alam adalah konsumen perantara. Kekuatan tawar menawar pembeli tidak terlalu menjadi ancaman bagi pihak Mitra Alam, meskipun persaingan dalam industri penghasil pepaya semakin meningkat. Hal itu dapat dilihat dari loyalitas konsumen Mitra Alam. Loyalitas konsumen Mitra Alam yang meningkat disebabkan karena kualitas yang dihasilkan merupakan kualitas baik sehingga tetap membeli juga dengan harga yang fleksibel (harga dapat dinegosiasi sesuai kesepakatan).

Referensi

Dokumen terkait

a) Memberdayakan armada penjual (sales) perusahaan yang merupakan ujung tombak yang bersentuhan langsung dengan konsumen dan retailer untuk mengidentifikasi produk-produk

Dari pelaksanaan penelitian yang dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumenter mengenai kinerja karyawan bidang pemasaran dalam pencapaian target kredit

Komunikasi pemasaran adalah sarana di mana perusahaan berusaha menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung tentang produk dan

Orang yang terlibat dalam bidang pemasaran menjadi ujung tombak dalam berhadapan langsung dengan konsumen, baik dalam usaha menawarkan barang yang dihasilkan perusahaan

Aspek bukti fisik merupakan salah satu bagian dari strategi bauran pemasaran yang sangat penting dalam pemasaran karena dapat menunjukkan keunggulan dari sebuah

Aspek Sosial (X1) adalah tanggung jawab terhadap dampak sosial yang diakibatkan oleh perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap bidang

Bidang penelitian dan pengembangan (litbang) merupakan salah satu bagian dari suatu perusahaan yang memiliki fungsi terkait dengan pengembangan produk baru atau riset

SUCOFINDO (Persero) ke Singapura, menunjukan bahwa faktor kekuatan yang menjadi value perusahaan diantaranya dari aspek finansial yaitu peningkatan pendapatan dan