• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Earning Per Share (EPS) Terhadap Return Saham PT. Astra International, Tbk. Abstrak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengaruh Earning Per Share (EPS) Terhadap Return Saham PT. Astra International, Tbk. Abstrak"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

Ramli Hasan, NIM 931 409 105 2013. “Pengaruh Earning Per Share

(EPS) Terhadap Return Saham PT. Astra International, Tbk”. Skripsi,

Program Studi S1 Manajemen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Gorontalo. Dibawah bimbingan Dr. H. Rosman Ilato, M.Pd selaku pembimbing I dan Idham Masri Ishak, SE, M.Si selaku pembimbing II. Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan rumusan masalah yaitu apakah terdapat pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap Return Saham PT. Astra International, Tbk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Metode ini digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel independent (Earning

Per Share) terhadap variabel dependent (Return Saham). Instrument yang

digunakan adalah data sekunder serta untuk menganalisis data digunakan analisis regresi sederhana. Sebagai kesimpulan penelitian ini adalah 1) Hasil pengujian persamaan regresi menunjukkan bahwa ŷ = 3.100 + 0.051X yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan variabel

Earning Per Share (EPS) dapat mempengaruhi peningkatan Return

Saham sebesar 0,051X. 2) Hasil pengujian keberartian persamaan regresi telah teruji keberartiannya pada tingkat signifikansi  = 0,05 (5%) dengan nilai Pvalue sebesar 0,035 atau 3,5%. 3) Hasil pengujian koefisien determinasi menunjukkan bahwa pengaruh variabel X (Earning Per Share)

terhadap variabel Y (Return Saham) sebesar 0,337 atau 33,7%. Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh variabel independent terhadap variabel dependent sebesar 33,7% dan sisanya 66,3% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti rasio Return On Assets, Return on Equity, Dividend Pay

Out Ratio, rasio-rasio likuiditas dan lain-lain.

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Adanya ekonomi yang semakin berkembang, ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin modern menyebabkan timbulnya persaingan bagi perusahaan baik perusahaan manufaktur maupun perusahaan pelayanan jasa. Suatu kegiatan usaha (bisnis) yang dijalankan oleh suatu perusahaan tentulah memiliki tujuan yang ingin dicapai pihak manajemen. Oleh karena itu seiring dengan makin berkembangnya dunia bisnis di

Indonesia dan didukung adanya pasar modal, maka pasar modal memiliki peranan penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara dan dipandang sebagai salah satu sarana yang efektif bagi perusahaan untuk menarik sumber dana dari masyarakat selain bank yang kemudian disalurkan ke sektor-sektor yang produktif, karena meskipun lembaga perbankan lebih dulu ada namun tidak semua kebutuhan pembiayaan suatu perusahaan dapat dipenuhi oleh lembaga perbankan.

(2)

Penilaian terhadap kinerja perusahaan bertumpu pada laporan keuangan yang dapat dijadikan sebagai dasar acuan. Suatu perusahaan dikatakan likuid dan efisien apabila nilai perusahaan meningkat dan dibahasakan dalam bentuk angka yang semakin meningkat dan adanya publikasi laporan keuangan investor dapat menilai kinerja kuangan perusahaan baik di masa lalu, sekarang dan di masa yang akan datang tentunya dengan menganalisis rasio-rasio keuangan yang merupakan analisis fundamental agar dapat diketahui sejauh mana perusahaan dapat mencapai tujuannya khususnya dalam menghasilkan laba sehingga dapat memudahkan dalam pengambilan keputusan.

Pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan calon pemegang saham sangat tertarik pada Earning Per Share (EPS), karena hal ini menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa dan menggambarkan prospek perusahaan di masa depan. Informasi tentang

Earning Per Share (EPS) menjadi

kebutuhan yang sangat mendasar dalam pengambilan keputusan. Informasi tersebut dapat mengurangi ketidakpastian dan risiko yang mungkin terjadi sehingga keputusan yang diambil diharapkan akan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Tujuan utama investor melakukan investasi saham adalah mengharapkan manfaat yang akan dihasilkan dalam bentuk laba per lembar. Earning Per Share (EPS) dapat menunjukkan tingkat kesejahteraan perusahaan, apabila

Earning Per Share (EPS) yang

dibagikan kepada para investor tinggi maka menandakan bahwa perusahaan tersebut mampu memberikan tingkat kesejahteraan yang baik kepada pemegang saham, sedangkan Earning Per Share (EPS) yang dibagikan rendah maka menandakan bahwa perusahaan tersebut gagal memberikan kemanfaatan sebagaimana diharapkan oleh pemegang saham.

Earning Per Share (EPS)

merupakan perbandingan antara pendapatan yang dihasilkan (laba bersih) dan jumlah saham yang beredar. Rasio ini mengukur seberapa besar dividen per lembar saham yang akan dibagikan kepada investor setelah dikurangi dengan dividen bagi para pemilik perusahaan. Semakin tinggi nilai EPS akan menggembirakan pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham. Dengan meningkatnya laba maka harga saham cenderung naik sedangkan ketika laba menurun maka harga saham ikut juga turun, hal itu juga akan diikuti perubahan return sahamnya (Darmadji, 2001).

Di lihat dari sudut pandang perusahaan (emiten) yaitu tersedianya dana dari investor. Oleh karena perusahaan membutuhkan sumber dana dari investor untuk mengelola operasional perusahaannya maka ekspektasinya investor juga menginginkan return atau tingkat pengembalian atas modal atau dana yang diinvestasikan. Return tersebut dapat berupa dividen dan juga capital

gain serta mendapatkan suku bunga

pada surat hutang atau obligasi. Namun dalam suatu tingkat pengembalian (return) tentunya memiliki unsur risiko selama periode

(3)

tertentu karena sejumlah persoalan akan muncul terhadap ketidakpastian di masa yang akan datang sehingga sangat penting bagi investor untuk melakukan investasi yang tepat.

Return saham merupakan hasil

yang diperoleh dari kegiatan investasi.

Return saham adalah tingkat

keuntungan yang akan diperoleh investor yang menanamkan dananya di pasar modal. Perhitungan return saham menggunakan harga saham setiap periode untuk mencari rata-rata harga saham tiap periode. Return dibedakan menjadi dua, yaitu realized

return atau return realisasi (return

yang terjadi atau dapat juga disebut sebagai return sesungguhnya) dan

expected return (return yang

diharapkan oleh investor) (Jogiyanto, 2003).

Harapan untuk memperoleh

return yang maksimal, sangat penting

bagi investor untuk melakukan penilaian serta melakukan analisis terhadap laporan keuangan dengan sebaik mungkin untuk memperoleh informasi terkait dengan kinerja keuangan perusahaan agar investor dapat dengan mudah mengambil keputusan investasi.

Berdasarkan teori Darmadji yang telah dikemukakan, hal ini memperlihatkan adanya suatu fenomena seperti yang terjadi pada PT. Astra International, Tbk dimana nilai Earning Per Share (EPS) dari tahun 2007 sampai 2009 terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar Rp. 660,- dari tahun sebelumnya menjadi Rp. 2.270,-, sedangkan pada tahun 2009 sedikit terjadi peningkatan sebesar Rp. 210,- menjadi Rp. 2.480,-. Sedangkan perkembangan dari

Return saham PT. Astra International,

Tbk dari tahun 2007 sampai 2009 mengalami fluktuatif dimana pada tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 1,29% dari tahun sebelumnya menjadi 0,47%. Kemudian pada tahun 2009 terjadi peningkatan menjadi 3.61%.

Melihat fenomena yang terjadi terkait dengan perkembangan Earning

Per Share (EPS) dan Return saham,

peneliti berasumsi bahwa Earning Per

Share (EPS) terjadi peningkatan

namun return saham mengalami fluktuatif. Oleh karena itu tentunya dapat menarik perhatian dan menjadi dasar bagi peneliti melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keterkaitan antara kedua fenomena yang terjadi.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “PENGARUH EARNING PER SHARE (EPS) TERHADAP RETURN SAHAM PT. ASTRA INTERNATIONAL, Tbk”. 2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka permasalahan penelitian di identifikasi sebagai berikut: a) Perubahan persentase laba bersih setelah bunga dan pajak, dan persentase jumlah saham yang beredar mengakibatkan perubahan pada laba per lembar saham (Earning

Per Share), sehingga berdampak

pada perubahan return saham PT. Astra International, Tbk. b) Keterkaitan antara Earning Per Share (EPS) yang terus meningkat namun Return

Saham mengalami fluktuatif, seperti digambarkan pada tabel fenomena EPS dan Return saham PT. Astra International, Tbk.

(4)

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka dikemukakan rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu apakah terdapat pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap Return Saham PT. Astra International, Tbk ?

4. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah rasio keuangan Earning Per Share (EPS) berpengaruh terhadap Return Saham PT. Astra International, Tbk.

5. Manfaat Penelitian

Adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

a. Manfaat teoritis

1) Memberikan sumbangan pemikiran untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan ekonomi manajemen keuangan.

2) Memberikan bukti secara empiris terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat return

saham perusahaan.

3) Sebagai bahan untuk memberikan tambahan informasi bagi civitas akademika untuk melakukan kajian penelitian lebih lanjut mengenai pasar modal.

4) Dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan digunakan untuk membuktikan kesesuaian antara teori yang ada dengan kenyataan dilapangan. b. Manfaat Praktis

1) Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam penentuan kebijakan perusahaan pada umumnya dan

bagi PT. Astra Internasional, Tbk pada Khususnya.

2) Sebagai informasi bagi calon investor dalam mengambil keputusan untuk menginvestasikan modalnya di pasar modal.

B. KAJIAN TEORI, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

1. Earning Per Share (EPS)

Komponen penting yang harus diperhatikan dalam analisis perusahaan adalah laba per lembar saham atau dikenal sebagai Earning

per Share (EPS). Informasi EPS suatu

perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan. Besarnya EPS suatu perusahaan bisa diketahui dari informasi laporan keuangan perusahaan (Tandelilin, 2001).

Earning Per Share (EPS) atau

laba per lembar saham adalah analisis laba dari sudut pandang pemilik yang dipusatkan pada laba per lembar saham dalam suatu perusahaan.

Earning Per Share (EPS) sering

dipandang sebagai angka yang memberikan ringkasan dari berbagai data akuntansi. Angka Earning Per

Share (EPS) paling sering digunakan

dalam publikasi mengenai

performance perusahaan yang

menjual sahamnya kepada masyarakat umum (go public).

Perhitungan Earning Per Share (EPS) mempunyai beberapa tujuan yaitu untuk melihat progress atau kemajuan dari operasi perusahaan, menentukan harga saham pasar dan menentukan besarnya dividen yang akan dibagikan. Earning Per Share (EPS) merupakan suatu ukuran dimana baik manajemen maupun pemegang saham menaruh perhatian yang

(5)

besar. Ukuran ini digunakan secara luas dan sering merupakan dasar untuk menetapkan tujuan serta sasaran spesifik perusahaan.

Menurut Darmadji (2001:139)

Earning Per Share (EPS) adalah

“Rasio yang menunjukkan berapa besar keuntungan (return) yang diperoleh investor atau pemegang saham persaham. Semakin tinggi nilai EPS tentu saja menggembirakan pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham”.

Menurut Helfert (1997:311) “Earning Per Share (EPS) adalah bagian proporsional dari laba perusahaan yang dapat diklaim oleh setiap lembar saham biasa yang sedang beredar, yang dihitung dengan membagi laba setelah pajak sesudah pembayaran dividen saham preferen dengan rata-rata saham biasa yang beredar selama periode tersebut”.

Hal yang sama dikemukakan oleh Fabozzi (2001:861) bahwa “Earning Per Share (EPS) adalah perbandingan antara laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa (laba setelah pajak dikurangi dividen saham preferen) dengan rata-rata tertimbang jumlah saham yang beredar selama periode perhitungan yang dilakukan”.

“Rasio laba per lembar saham atau disebut juga rasio nilai buku merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi, kesejahteraan pemegang saham meningkat. Keuntungan bagi pemegang saham adalah jumlah

keuntungan setelah dipotong pajak” (Kasmir 2008:207).

Earnings Per Share (EPS)

merupakan alat analisis tingkat profitibilitas perusahaan yang menggunakan konsep laba konvensional. EPS adalah salah satu dari dua alat ukur yang sering digunakan untuk mengevaluasi saham biasa disamping PER (Price Earning

Ratio) dalam lingkaran keuangan

(Fabozzi, 1999: 359).

Menurut Dictionary of Accounting (Abdultah, 1994:77) laba bersih per saham adalah pendapatan bersih perusahaan selama setahun dibagi dengan jumlah rata-rata lembar saham yang beredar, dengan pendapatan bersih tersebut dikurangi dengan saham preferen yang diperhitungkan untuk tahun tersebut.

Menurut Baridwan (1992:333), laba bersih per saham adalah Jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu periode untuk tiap lembar saham yang beredar, dan akan dipakai oleh pimpinan perusahaan untuk menentukan besarnya dividen yang akan dibagikan.

EPS atau laba per lembar saham adalah tingkat keuntungan bersih untuk tiap lembar sahamnya yang mampu diraih perusahaan pada saat menjalankan operasinya. Laba per lembar saham atau EPS di peroleh dari laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa dibagi dengan jumlah rata-rata saham biasa yang beredar.

Menurut Gibson (1996:429) “Earnings Per Share (EPS) adalah rasio yang menunjukan pendapatan yang diperoleh setiap lembar saham”. Sedangkan menurut Weygandt et. al. (1996:805-806) dan Elliot (1993:250)

(6)

pendapatan bersih yang diperoleh setiap lembar saham biasa. Salah satu alasan investor membeli saham adalah untuk mendapatkan dividen, jika nilai laba per saham kecil maka kecil pula kemungkinan perusahaan untuk membagikan dividen. Maka dapat dikatakan investor akan lebih meminati saham yang memiliki

Earnings Per Share tinggi

dibandingkan saham yang memiliki

Earnings Per Share rendah. Earnings Per Share yang rendah cenderung

membuat harga saham turun.

Dengan demikian, laba per lembar saham (EPS) menunjukan kemampuan perusahaan dalam

memperoleh laba dan

mendistribusikan laba yang diraih perusahaan kepada pemegang saham. Laba per lembar saham (EPS) dapat dijadikan sebagai indikator tingkat nilai perusahaan. Laba per lembar saham (EPS) juga merupakan salah satu cara untuk mengukur keberhasilan dalam mencapai keuntungan bagi para pemiliki saham dalam perusahaan. Rumus yang digunakan untuk mengukur Earning

Per Share (EPS) adalah sebagai

berikut:

Berdasarkan definisi di atas maka dapat dikatakan bahwa laba per lembar saham merupakan perbandingan antara laba bersih yang diperoleh perusahaan dengan jumlah saham yang beredar. Laba per lembar saham ini merupakan angka yang sering digunakan dalam publikasi mengenai kinerja perusahaan yang sering dipergunakan dalam publikasi

mengenai kinerja perusahaan yang menjual sahamnya kepada umum. Hal ini disebabkan karena ada anggapan bahwa laba per lembar saham mengandung informasi yang penting untuk melakukan prediksi mengenai besarnya dividen per lembar saham di kemudian hari untuk menilai keefektifan manajemen.

2. Penilaian Laba Per Lembar Saham

Menurut Husnan (2001:317) bahwa jika kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, maka harga saham akan meningkat. Dengan meningkatnya harga saham perusahaan, maka return saham yang akan diperoleh investor juga akan semakin tinggi. Jika nilai EPS naik maka harga saham mengalami kenaikan, return sahamnya juga mengalami kenaikan.

Angka laba per lembar saham (EPS) diperoleh dari laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan. Karena itu langkah pertama yang dilakukan adalah memahami laporan keuangan yang disajikan perusahaan. Ada dua laporan keuangan yang utama yaitu neraca dan laporan rugi laba.

Neraca menunjukkan posisi kekayaan, kewajiban finansial dan modal sendiri pada waktu tertentu. Laporan rugi laba menunjukan berapa penjualan yang diperoleh, berapa biaya yang ditanggung dan berapa laba yang diperoleh perusahaan pada periode waktu tertentu (biasanya selama 1 tahun).

Alasan mengapa laba per lembar saham (EPS) disajikan di laporan laba rugi menurut Niswonger dkk ( 2000:14 ) adalah : “Jumlah absolut laba bersih sulit untuk dipakai

Laba Bersih Setelah Bunga dan Pajak EPS =

(7)

mengevaluasi profitabilitas perusahaan jika jumlah modal pemegang saham banyak berubah. Dalam kasus seperti itu profitabilitas perusahaan dapat dinyatakan dengan laba per lembar saham (EPS).”Sedangkan perhitungan laba per lembar saham (EPS) menurut Niswonger dkk ( 2001:15 ) adalah “Jika sebuah perusahaan hanya memiliki saham biasa yang beredar, maka laba per lembar saham biasa ditentukan dengan membagi laba bersih dengan jumlah saham biasa yang beredar. Jika ada saham preferen sebelum di bagi dengan jumlah saham biasa yang beredar.” 2. Return Saham

Ekspektasi dari investor atas investasinya adalah dengan memperoleh return atau tingkat pengembalian yang sebesar-besarnya. Return tersebut dapat berupa dividen dan juga capital gain serta mendapatkan suku bunga pada surat hutang atau obligasi. Namun dalam suatu tingkat pengembalian tentunya memiliki unsur risiko selama periode tertentu. Semakin besar tingkat pengembalian semakin besar pula risiko yang dihadapi.

Dalam melakukan investasi di dalam pasar modal, tujuan utama yang ingin dicapai oleh pelaku pasar adalah memaksimalkan return. Return saham merupakan hasil yang diperoleh dari kegiatan investasi.

Return dibedakan menjadi dua, yaitu realized return atau return realisasi

(return yang terjadi atau dapat juga disebut sebagai return sesungguhnya) dan expected return (return yang diharapkan oleh investor). Return realisasi merupakan return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data

historis dan digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja perusahaan.

Return realisasi (realized return) ini

juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi (expected return) yang merupakan

return yang diharapkan oleh investor

di masa mendatang. Return

ekspektasi (expected return) adalah

return yang diharapkan oleh investor

dimasa mendatang. Berbeda dengan

return realisasi yang sifatnya sudah

terjadi, return ekspektasi sifatnya belum terjadi. Return realisasi diukur dengan menggunakan return total (total return), relatif return (return

relative), kumulatif return (return

cumulative), dan return disesuaikan

(adjusted return) (Jogiyanto, 2010: 205).

Return saham adalah tingkat

keuntungan yang akan diperoleh investor yang menanamkan dananya di pasar modal. Perhitungan return saham menggunakan harga saham setiap periode untuk mencari rata-rata harga saham tiap periode. Return saham dapat dihitung dengan rumus (Jogiyanto, 2010):

Keterangan :

Ri = return saham i pada

periode t

Pt = harga penutupan saham i

pada periode t

Pt – 1 = harga penutupan saham i

pada periode sebelumnya

Return adalah total keuntungan

atau kerugian yang diperoleh investor dari nilai investasi sebelum periode tertentu. Menurut Jogiyanto (2010) ”Return total merupakan return

Pt - Pt – 1 Ri =

(8)

keseluruhan dari suatu investasi dalam suatu periode yang tertentu”.

Return total terdiri dari capital gain

(loss) dan yield yang perhitungannya sebagai berikut :

Return = Capital gain (loss) + yield

Sumber-sumber return dapat diperoleh dari dua komponen utama yaitu :

a) Capital gain (loss)

Capital gain (loss)

merupakan kenaikan atau penurunan harga suatu surat berharga atau sekuritas yang dapat memberikan keuntungan atau kerugian bagi investor.

Capital gain (loss) merupakan

selisih harga investasi sekarang relative dengan harga periode yang lalu. Jika harga investasi sekarang (Pt) lebih tinggi dari harga investasi periode lalu (Pt-1) ini berarti terjadi keuntungan modal (capital gain), dan sebaliknya jika investasi sekarang (Pt) lebih kecil daripada harga investasi periode lalu (Pt-1) terjadi kerugian modal (capital

loos).

b) Yield

Yield merupakan persentase

penerimaan kas periodik terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu investasi . Untuk saham,

yield adalah persentase dividen

terhadap harga saham periode sebelumnya. Yield merupakan komponen return yang menggambarkan aliran kas atau pendapatan yang diperoleh secara periodik karena adanya suatu investasi. Adapun rumus untuk menghitung yield adalah sebagai berikut:

Dividen umumnya dibayarkan perkwartal atau pertahun. Jika dividen pertahun akan digunakan untuk menghitung return total untuk periode yang lebih pendek, misalnya

return sebulan, maka dividen sebulan

dapat dianggap sebagai dividen setahun dibagi 12 sebagai jumlah bulan dalam setahun. Jika dividen setahun digunkan untuk menghitng

return total mingguan, maka dividen

seminggu dapat dianggap sebagai dividen setahun dibagi 52 sebagai jumlah minggu dalam setahun.

Dengan demikian perhitungan return total dapat juga dinyatakan sebagai berikut:

3. Faktor-faktor yang

mempengaruhi Return Saham Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi return saham menurut Husnan (1993) adalah sebagai berikut:

1. Return On Equity (ROE)

Return On Equity (ROE) adalah

hubungan laba tahunan setelah pajak dengan ekuitas pemegang saham yang tercatat. Rasio ini digunakan sebagai ukuran efektifitas dana pemegang saham yang telah di investasikan. Semakin efektif suatu saham berarti semakin besar laba yang di dapat oleh pemegang saham, sehingga pemegang saham akan semakin makmur. Rumus Return On

Equity (ROE) yang digunakan adalah:

ROE = Laba bersih / Modal Sendiri. 2. Dividend Pay out Ratio (DPR)

Manajemen mempunyai dua alternatif perkalian terhadap laba

Pt - Pt – 1 Dt Ri = + Pt – 1 Pt - 1 Dt Yield = X 100% Pt-1

(9)

bersih sesudah pajak atau Earning

After Tax (EAT) yang diperoleh dari

operaasi usahanya meliputi laba bersih dibagi para pemegang saham perusahaan dengan bentuk dividen dan diinvestasikan kembali ke perusahaan sebagai laba ditahan. Perusahaan pada umumnya sebagian EAT dibagi dalam bentuk dividen dan sebagian sebagian lagi diinvestasikan kembali atau dapat diartikan manajemen harus membuat keputusan tentang besarnya EAT yang ditahan. Prosentasi dividen yang dibagi dibandingkan dengan EAT disebut dengan dividend payout ratio atau DPR (Husnan, 1993: 382). Rumus untuk mengukur DPR adalah sebagai berikut: DPR (dividend pay

out ratio) = Dividen per lembar saham / Laba per lembar saham.

3. Earning Per Share (EPS)

Earning Per Share (EPS)

adalah salah satu elemen dalam laporan laba rugi yang termuat dalam laporan keuangan perusahaan sebagai bagian dari proporsi perusahaan yang diakui dari setiap saham biasa yang beredar, dimana nilainya dapat mengalami kenaikan jika jumlah lembar saham yang beredar dikurangi. Informasi perusahaan penting bagi investor dan kreditur, hal ini dapat memberikan gambaran bagian keuntungan suatu periode dengan memiliki saham perusahaan serta mengetahui bagian prestasi perusahaan, laju pertumbuhan tersebut akan dapat menghasilkan pendapatan bagi investor. Ukuran kesejahteraan dari besaran Earning Per Share (EPS) apabila semakin tinggi, akan menjadi daya tarik pemodal untuk membeli dan menanamkan sahamnya. Laba

yang mencerminkan kinerja perusahaan sering dijadikan target keberhasilan operasi perusahaan bisnis sehingga perusahaan berusaha meningkatkan laba dengan cara melakukan peningkatan penjualan, peningkatan efisiensi dan kombinasinya. Earning Per Share (EPS) dapat dihitung dengan rumus : EPS = Laba Bersih Setelah Bunga

dan Pajak / Jumlah Saham Beredar.

4. Leverage (DTA)

Rasio leverage (DTA) atau

solvabilitas adalah kemampuan

perusahaan untuk memenuhi semua kewajiban keuangannya, apabila perusahaan tersebut dilikuiditas. Rasio ini jika semakin rendah menunjukan kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya semakin baik (solvabel) demikian pula sebaliknya. (Helfert, 1996: 150).

Leverage (DTA) pada dasarnya

dibedakan menjadi dia yaitu leverage operasi dan leverage keuangan.

Leverage operasi (operating leverage)

terjadi pada saat perusahaan menggunakan aktiva yang menimbulkan beban tetap yang harus ditutup dari hasil operasinya.

Leverage keuangan (Financial

Leverage) terjadi pada saat

perusahaan menggunakan hutang dan menimbulkan beban tetap yang harus dibayar dari hasil operasinya (Husnan, 1998: 611). Leverage (DTA) dapat dihitung dengan rumus:

Leverage (DTA) = Liabbilities / Assets.

4. Pengaruh Earning Per Share (EPS) Terhadap Return Saham

EPS merupakan perbandingan antara jumlah Earning After Tax (EAT) dengan jumlah saham yang beredar. EPS merupakan rasio keuangan yang

(10)

digunakan investor untuk menganalisis kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan saham yang dimiliki.

Menurut Darmadji (2001) bahwa: “semakin tinggi nilai EPS akan menggembirakan pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham. Sedangkan menurut Ang (1997) semakin baik kinerja keuangan perusahaan yang tercermin dari rasio-rasionya maka semakin tinggi return saham perusahaan, demikian juga jika kondisi ekonomi baik, maka refleksi harga saham akan baik pula.

Alwi (2003:77) mengemukakan bahwa: “Earning Per Share (EPS) merupakan jumlah uang yang dihasilkan (return) dari setiap lembar saham. Semakin besar nilai Earning

Per Share (EPS), semakin besar

keuntungan/return yang diterima pemegang saham”.

Semakin besar EPS akan menarik minat investor berinvestasi di perusahaan tersebut. Akibatnya permintaan akan saham meningkat dan harga saham meningkat pula. Dengan demikian, dengan kenaikan harga saham maka akan memungkinkan kenaikan return

saham. Jadi EPS mempunyai pengaruh terhadap return saham.

C. METODOLOGI PENELITIAN 1. Penetapan Objek, Waktu &

Lokasi Penelitian

Adapun yang menjadi objek penelitian adalah Earning Per Share (EPS) dan Return Saham pada PT. Astra International, Tbk Periode 2007-2011. Dasar pertimbangan penetapan objek penelitian ini adalah: 1) Earning

Per Share (EPS) merupakan rasio

keuangan yang menggambarkan jumlah rupiah dalam bentuk laba per lembar saham yang menjadi prospek perusahaan di masa depan sehingga sangat disukai oleh investor, 2) Perusahaan selalu membutuhkan dana dari investor untuk mengelola operasional perusahaannya, maka ekspektasinya investor juga menginginkan Return Saham yang merupakan tingkat pengembalian atas dana yang diinvestasikan, dan 3) Peneliti ingin melihat keterkaitan antara variabel Earning Per Share (EPS) dan Return Saham pada PT. Astra International, Tbk.

Penelitian dilaksanakan selama + 4 bulan, terhitung bulan Maret sampai dengan bulan Juni 2013 yang mencakup pengajuan proposal, pengolahan data dan hasil penelitian.

Peneliti memilih lokasi penelitian pada salah satu perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu PT. Astra International, Tbk dengan data laporan keuangan selama 5 tahun terhitung dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011.

2. Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif yakni menganalisis adanya pengaruh variabel independent yaitu Earning Per Share (EPS) terhadap variabel dependent yaitu Return Saham.

Metode penelitian ini bersifat korelasional yang menjelaskan pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap Return saham merupakan data time series. Dengan demikian penelitian ini menggambarkan fakta-fakta dan menjelaskan keadaan dari objek penelitian yang sesuai dengan kenyataan sebagaimana adanya dan

(11)

ŷ = a + bx mencoba menganalisa untuk

memberikan kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh.

Adapun desain penelitiannya, dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.1 (Desain Penelitian) 3. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang tidak diperoleh secara langsung dan bukan dibuat sendiri oleh peneliti. Data sekunder yang digunakan merupakan data laporan keuangan tahunan pada PT. Astra International, Tbk yang sudah dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia.

4. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh keterangan data yang lengkap maka dilakukan teknik pengumpulan data yang tepat. Adapun metode teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi yang berasal dari sumber tertulis yaitu data laporan keuangan tahunan PT. Astra International, Tbk dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 yang diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia dan literatur-literatur lainnya yang berhubungan dengan penelitian. 5. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah persamaan regresi sederhana yaitu mengidentifikasi pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Analisis regresi adalah suatu analisis yang mengukur pengaruh variabel

bebas terhadap variabel terikat. Analisis regresi diperlukan untuk mendapatkan hubungan antara dua variabel atau lebih. Adapun rumus persamaan regresi sederhana adalah sebagai berikut : Keterangan: ŷ = variabel terikat a = intersep (konstanta) x = variabel bebas b = koefisien regresi 6. Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan Metode Ordinary Least Square (OLS). Hal ini digunakan untuk

melihat elastisitas variabel independen terhadap variabel dependen penelitian ini. Sebagai alat analisis untuk mengolah data adalah dengan menggunakan program SPSS versi 16.0. Metode ini banyak digunakan karena:

1. Pengestimasian parameter dengan menggunakan metode ini akan menghasilkan parameter yang bersifat optimum.

2. Perhitungan dengan menggunakan metode ini cukup mudah jika dibandingkan dengan metode ekonometrika yang lain. 3. Metode Kuadrat Terkecil ini

banyak digunakan secara luas dalam hubungan ekonomi dan banyak menghasilkan keputusan ekonomi yang baik. Dengan demikian metode ini banyak digunakan pada waktu mengestimasi hubungan dalam metode ekonometrika.

Variabel X (EPS)

Variabel Y Return Saham

(12)

4. Teknik-teknik dalam metode kuadrat terkecil sangat mudah dipahami.

5. Metode kuadrat terkecil adalah komponen yang penting dalam ekonometrika

7. Hipotesis Statistik

Secara statistik hipotesis ditetapkan sebagai berikut:

H0 β = 0, artinya tidak terdapat pengaruh Earning Per

Share terhadap Return

saham PT. Astra International, Tbk.

Ha β ≠ 0, artinya terdapat pengaruh

Earning Per Share

terhadap Return saham PT. Astra International, Tbk. D. HASIL PENELITIAN

Pengujian Hipotesis

1. Analisis Regresi Sederhana Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Earning

Per Share terhadap Return Saham

PT. Astra International, Tbk. Alat analisis yang digunakan adalah Analisis Regresi Sederhana melalui SPSS (Statistical Product Service

Solution). Dimana persamaan

regresinya adalah:

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan persamaan ŷ = 3.100 + 0.051X. Hal ini menunjukkan nilai variabel Y (Return saham) pada konstanta sebesar 3.100. Sedangkan nilai koefisien regresi sebesar 0.051 yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan variabel

Earning Per Share (EPS) dapat

mempengaruhi peningkatan Return Saham sebesar 0,051X.

Untuk pengujian keberartian persamaan regresi digunakan kriteria:

Pvalue < 0,01 (1%)

Pvalue < 0,05 (5%)

Pvalue < 0,1 (10%)

Berdasarkan tabel 4.4 di atas, dengan kriteria pengujian keberartian persamaan regresi di atas dapat dikemukakan bahwa hasil persamaan regresi telah teruji keberartiannya pada tingkat signifikansi  0,05 (5%) dengan nilai Pvalue sebesar 0,035 atau

3,5%.

2. Koefisien Determinasi (R Square) Koefisien Determinasi mencerminkan besarnya pengaruh perubahan variabel independen dalam menjalankan perubahan pada variabel dependen secara bersama-sama, dengan tujuan untuk mengukur kebenaran dan kebaikan hubungan antar variabel dalam model yang digunakan.

Dalam pengujian hipotesis, hasilnya menunjukkan bahwa Ho yang

diuji ditolak dan sebaliknya H1 yang

diajukan diterima. Hal ini terlihat dari nilai Pvalue sebesar 0,035 atau 3,5%

pada taraf signifikansi  = 0.05 (5%). Adapun hipotesis yang diajukan adalah terdapat pengaruh Earning per

share Terhadap Return Saham PT.

Astra International, Tbk.

Hasil pengujian persamaan regresi menunjukkan bahwa ŷ = 3.100 + 0.051X yang telah teruji keberartiannya pada  = 0.05 (5%). Hal ini menunjukkan nilai variabel Y (Return saham) pada konstanta sebesar 3.100. Sedangkan nilai koefisien regresi sebesar 0.051 yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan variabel

Earning Per Share (EPS) dapat

(13)

mempengaruhi peningkatan Return Saham sebesar 0,051X dengan anggapan variabel bebas lainnya konstan.

Berdasarkan hasil estimasi model persamaan regresi yang telah dilakukan, diperoleh nilai koefisien determinasi R Square sebesar 0.337. Oleh karena adanya keterbatasan waktu penelitian, data, tenaga dan materi sehingga hasil analisis menunjukkan besarnya nilai r2 yang hanya sebesar 33,7%. Nilai ini menunjukkan bahwa pengaruh

Earning per share (EPS) terhadap Return Saham PT. Astra International,

Tbk sebesar 33,7% dan sisanya sebesar 66,3% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti rasio Return

On Assets, Return on Equity, Dividend Pay Out Ratio, rasio-rasio likuiditas

dan lain-lain. Hasil penelitian ini mendukung teori Darmadji (2001) dan penelitian sebelumnya oleh Sri Artatik (2007) yang menyatakan bahwa

Earning Per share (EPS) berpengaruh

terhadap Return Saham. E. PENUTUP

1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Hasil pengujian persamaan regresi menunjukkan bahwa ŷ = 3.100 + 0.051X yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan variabel Earning Per Share (EPS) dapat mempengaruhi peningkatan

Return Saham sebesar 0,051X.

2. Hasil pengujian keberartian persamaan regresi telah teruji keberartiannya pada tingkat signifikansi  = 0,05 (5%), dengan nilai Pvalue sebesar 0,035 atau

3,5%.

3. Hasil pengujian koefisien determinasi menunjukkan bahwa

pengaruh variabel X (Earning Per

Share) terhadap variabel Y (Return

Saham) sebesar 0,337 atau 33,7%. Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh variabel independent terhadap variabel dependent sebesar 33,7% dan sisanya 66,3% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti rasio

Return On Assets, Return on Equity, Dividend Pay Out Ratio,

rasio-rasio likuiditas dan lain-lain. 2. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut:

1. PT. Astra International, Tbk harus dapat meningkatkan rasio profitabilitas khususnya Earning

Per Share agar lebih signifikan

mempengaruhi Return saham. 2. Meskipun hasil penelitian

menunjukkan adanya hubungan sebesar 33,7% antara Earning Per

Share terhadap Return Saham

PT. Astra International, Tbk, perusahaan juga harus dapat mempertimbangkan faktor – faktor lain yang dapat mempengaruhi

Return saham. Faktor-faktor lain

yang dapat mempengaruhi Return Saham PT. Astra International, Tbk tersebut bisa dipengaruhi oleh rasio-rasio keuangan lainnya seperti rasio Return On Assets,

Return on Equity, rasio-rasio

likuiditas dan lain-lain. Selain itu

return saham bisa dipengaruhi

oleh faktor extern perusahaan seperti tingkat suku bunga, regulasi pemerintah dan keadaan politik negara.

(14)

DAFTAR PUSTAKA Ang, Robbert. 1997. Pasar Modal Indonesia. Mediasoft Indonesia: Jakarta

Anoraga, Pandji. 2011. Pengantar Bisinis. RINEKA CIPTA: Jakarta

Artatik, Sri. 2007. Pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) Terhadap Return Saham

Pada Perusahaan

Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta. Skripsi, Semarang. Datau, Olivia M. Idrus. 2012.

Pengaruh Earning Per Share (EPS) Terhadap Return Saham PT. Unilever Indonesia, Tbk. Skripsi, Gorontalo.

Darmadji, Tjiptono dan Fakhruddin, Hendy M, 2001. Pasar Modal Di Indonesia. Salemba empat: Jakarta.

Gitosudarmo, Indriyo dan Basri. 2002. Manajemen Keuangan, edisi 4. BPFE: Yogyakarta.

Hartono, Jogiyanto, 2010. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi Ke Tujuh. BPFE: Yogyakarta.

Helfert, Erich. 1997. Teknik Analisis Keuangan, edisi 8. ERLANGGA: Jakarta.

Jumingan, 2009. Analisis Laporan Keuangan. BUMI AKSARA: Jakarta.

Kasmir, 2008. Analisis Laporan Keuangan. RAJAGRAFINDO PERSADA: Jakarta.

Putri, Anggun Amelia Bahar. 2012. Analisis Pengaruh ROA, EPS, NPM, DER Dan PBV Terhadap Return Saham. Skripsi, Semarang.

Savitri, Dyah Ayu. 2012. Analisis Pengaruh ROA,NPM, EPS Dan PER Terhadap Return Saham. Skripsi, Diponegoro. Setia Atmaja, Lukas. 2002,

Manajemen Keuangan. ANDI: Yogyakarta.

Setyarini, Nunik. 2010. Analisis Pengaruh EVA, ROA Dan EPS Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Otomotif Yang Listed Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2005-2008. Skripsi, Jawa Timur.

Sugiono, Prof. Dr. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D. Alfabeta: Bandung.

Tandelilin, 2001. Analisis Investasi & Manajemen Portofolio, Edisi 1. BPFE: Yogyakarta.

Sumber Pustaka dari Website : Bursa Efek Indonesia, 2013.

www.idx.co.id

Astra International, 2013.

(15)

Baridwan, 1992. http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/ea rnings-per-share-eps-definisi-dan.html Darmadji, 2001. http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/ea rnings-per-share-eps-definisi-dan.html Gibson, 1996. http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/ea rnings-per-share-eps-definisi-dan.html Husnan, 1993. http://id.shvoong.com/busines s-management/investing/22958 82-faktor-faktor-yang- mempengaruhi-return/#ixzz2MjSQC1JH http://wahyunatalia.blogspot.com/2011 /05/pengertian-laba-per-lembar-saham.html http://ebookbrowse.com/pengaruh- earning-per-share-eps-terhadap-harga-pasar-saham-pdf-d260593508

Referensi

Dokumen terkait

ilmu akhlak tasawuf dan kaitannya dengan etika pergaulan mahasiswa STAIN.. Salatiga, baik dalam lingkungan kampus ataupun dalam keseharian di

Nota tersebut akan dibawa lagi oleh sales dan diberikan kepada pembeli dari toko lain saat sales dan bagian pengiriman mengirimkan barang ke tempat tujuan1. 3.6.1

Anoraga (2000) menyatakan bahwa ada lima tahap dalam proses pengambilan keputusan untuk membeli yang umum dilakukan oleh seseorang, yaitu pengenalan kebutuhan,

Masalah yang dianalisis dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui strukturmikro, bentuk kristalin dan fasa presipitat paduan ZrNbMoGe hasil sintesis menggunakan tungku

Pendekatan kontekstual Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan orang tua dengan status gizi pada balita berdasarkan antropometri di Posyandu Rukun Asih,

Dalam proses interaksi antara nilai-nilai lama dan barupun madrasah harus mampu membacanya sebagai peluang untuk mewujudkan model pendidikan yang mampu menjawab tantangan

Setelah beberapa tahun, maka akhirnya dapat menghasilkan penyelidikan bertajuk ‘Kritikan Seni dari Perspektif Sosio Budaya di Malaysia’ iaitu yang menjurus kepada aspek kritikan