Definisi Limfogranuloma
Definisi Limfogranuloma
Venereum
Venereum
Limfogranuloma venereum (LGV) adalah
Limfogranuloma venereum (LGV) adalah
penyakit menular seksual yang disebabkan
penyakit menular seksual yang disebabkan
oleh bakteri obligat intraseluler
oleh bakteri obligat intraseluler Chlamydia
Chlamydia
trachomatis (C. trachomatis)
trachomatis (C. trachomatis) sub tipe L1, L2,
sub tipe L1, L2,
dan L3.
dan L3.
Limfogranuloma venereum disebut juga
Limfogranuloma venereum disebut juga
limfopatia venereum atau limfogranuloma
limfopatia venereum atau limfogranuloma
inguinale yang dilukiskan pertama kali oleh
inguinale yang dilukiskan pertama kali oleh
Nicolas, Durand, dan Favre pada tahun 1913,
Nicolas, Durand, dan Favre pada tahun 1913,
karena itu juga disebut penyakit
karena itu juga disebut penyakit
Durand-Nicholas-Favre.
Bentuk yang tersering adalah sindrom
Bentuk yang tersering adalah sindrom
inguinal, sindrom tersebut berupa
inguinal, sindrom tersebut berupa
limfadenitis dan periadenitis beberapa
limfadenitis dan periadenitis beberapa
kelenjar getah bening inguinal medial
kelenjar getah bening inguinal medial
dengan kelima tanda radang akut dan
dengan kelima tanda radang akut dan
disertai gejala konstitusi, kemudian akan
disertai gejala konstitusi, kemudian akan
mengalami perlunakan yang serentak.
mengalami perlunakan yang serentak.
Epidemiologi Limfogranuloma
Venereum
Penyakit ini terutama terdapat di negara tropik
dan sub tropik.
LGV endemik pada pada beberapa area, seperti
Afrika, Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan
Carribean.
Penderita pria pada sindrom inguinal lebih
banyak daripada wanita, hal ini disebabkan oleh
perbedaan patogenesis.
Epidemiologi Limfogranuloma
Venereum
Sejak tahun 2003 hingga 2008, total sebanyak 849 kasus LGV terjadi
di Negara Inggris, mayoritas terjadi pada kaum homoseksual, dan hanya lima kasus yang terjadi pada kaum heteroseksual.
•Health Protection Agency (United Kingdom).Syphilis and Lymphogranuloma V Resurgent Sexually Transmitted
Gambar : Jumlah Kasus LGV dengan Status HIV
Epidemiologi Limfogranuloma
Venereum
Rata-rata usia pasien yang terdiagnosis LGV adalah 37 tahun,
berkisar antara 19 sampai 67 tahun. Sebagian besar dari mereka
adalah etnis kulit putih (89%). Mayoritas pasien memiliki coinfeksi HIV (75%) dan sebanyak 45% terdiagnosis dengan penyakit menular
seksual yang lain. Hampir seluruh kasus menunjukkan gejala proktitis sebanyak 90%.
Health Protection Agency (United Kingdom). Syphilis and Lymphogranuloma V Resurgent Sexually Transmitted Infection in the UK.
Gambar : Distribusi Usia pada Kasus LGV dengan Status HIV Sejak Tahun 2003-2008
Etiopatogenesis Limfogranuloma
Venereum
Etiologi LGV adalah C.trachomatis sub tipe L1, L2
(L2a/L2b), dan L3.
C.trachomatis merupakan famili dari Chlamydiaceae,
yang diklasifikasikan menjadi tiga, yakni C.trachomatis,
C.pneumoniae, dan C.psittaci .
C.trachomatis dibagi menjadi 15 sub tipe berdasarkan
gen Omp 1 yang mengkode MOMP (major outer
membrane protein). Setiap sub tipe menyababkan
penyakit yang berbeda satu sama lain, sub tipe A-C
menyebabkan penyakit trachoma atau kebutaan, sub
tipe D-K menyebabkan infeksi pada mukosa saluran
genitalia dan mata, sedangkan sub tipe L (L1, L2, dan
L3) berproliferasi di jaringan limfoid yang menyebabkan
penyakit LGV, sub tipe ini lebih invasif dibanding sub
Gejala Klinis Limfogranuloma
Venereum
Gejala klinis LGV dibagi
menjadi 3 stadium.
Stadium primer terjadi pada tempat inokulasi bakteri
Stadium sekunder terjadi pada limfo nodi dan kadang pada anorektal
Stadium tersier merupakan
manifestasi lanjut yang terjadi pada genital dan rektal
Stadium primer
Setelah masa inkubasi selama 3-30 hari
Lesi ekstra genital bisa terjadi pada kavum oris
(tonsil) dan ekstra genital limfo nodi.
Lesi biasanya soliter dan cepat hilang tanpa
meninggalkan jaringan parut. Karena itu
penderita biasanya tidak datang pada waktu
timbul stadium primer.
Infeksi primer LGV memberikan gejala klinis berupa erosi yang dangkal, vesikel, pustul, papul yang kecil atau ulkus yang tidak nyeri, muncul pada tempat inokulasi bakteri (biasanya pada prepusium atau glans penis, uretra, vulva, vagina, rektum, perineum, dan pada serviks).
Stadium sekunder
Stadium sekunder terjadi 2-6 minggu
setelah infeksi primer.
Stadium ini berlangsung sistemik dan
menyerang limfo nodi inguinal, anus,
dan rektum. Jika lesi primer pada
penis, vulva, atau perianal, maka akan
tampak limfadenopati inguinal atau
femoral.
Limfadenopati ingunal lebih sering terjadi pada pria jika lesi
primernya terletak pada genitalia eksterna. Sedangkan pada
wanita terjadi, jika lesi primernya terletak pada genitalia eksterna
dan vagina 1/3 bawah. Itulah sebabnya limfadenopati lebih sering
terdapat pada pria dari pada wanita, karena pada umumnya lesi
primer pada wanita terjadi pada tempat yg lebih dalam, yakni di
Stadium
sekunder
Gambar: Bubo yang Belum Ruptur (Kiri) dan Bubo yang Telah Ruptur (Kanan)
Pada stadium ini, yang terserang
adalah kelenjar getah bening inguinal medial, karena kelenjar tersebut
merupakan kelenjar regional bagi genitalia eksterna.
Terbentuknya abses di dalam limfo
nodi yang meradang, disebut “Bubo”, yang dapat ruptur secara tiba-tiba atau membentuk sinus. Bubo yang ruptur akan mengalirkan eksudat selama beberapa minggu dan menyembuh.
Pada stadium lanjut terjadi
penjalaran ke kelenjar limfo nodi di fosa iliaka yang disebut “Bubo
bertingkat atau Etage Bubonen), kadang juga ke kelenjar femoralis.
Jika tejadi pembesaran kelenjar limfo nodi inguinal dan femoral secara
bersamaan, keduanya akan dipisahkan oleh ligamentum inguinale, sehingga
Stadium sekunder
Pada stadium sekunder ini, gejala sistemik
biasanya terjadi, seperti demam, menggigil,
berkeringat di malam hari, sakit kepala,
malaise, dan mialgia. Leukositosis sedang
biasanya terjadi.
Stadium tersier
Pada LGV kronik yang tidak diterapi, kelenjar limfo nodi akan
mengalami fibrosis sehingga aliran limfe terbendung yang
menyebabkan terjadinya edema dan elefantiasis pada
genitalia. Elefantiasis tersebut dapat bersifat vegetatif, dapat
terbentuk fistel-fistel dan ulkus-ulkus. Pada pria, elefantiasis
dapat terjadi di penis dan skrotum, sedangkan pada wanita di
labia dan klitoris, yang disebut “Sindrom Esthiomen” dengan
genitalia eksterna yang mengalami destruksi luas. Jika
meluas akan terbentuk elefantiasis genito-anorektalis yang
disebut “Sindrom Jersild”.
Jika terbentuk infiltrat di uretra posterior, yang kemudian
menjadi abses, lalu memecah dan menjadi fistel, akibatnya
akan terbentuk striktur hingga orifisium uretra eksternum
berubah bentuk seperti mulut ikan yang disebut ”Fish Mouth
Urethra” dan penis melengkung seperti pedang turki.
Kelainan Lain pada Limfogranuloma
Venereum
Pada kulit dapat timbul eksantema, berupa eritema nidosum
dan eritema multiformis. Fotosensitivitas dapat terjadipada
10-30% kasus pada bentuk dini dan 50% pada bentuk lanjut.
Kelainan pada mata dapat berupa konjungtivitis, biasanya
unilateral disertai edema dan ulkus pada palpebra. Sering
pula bersama-sama dengan pembesaran kelenjar getah
bening regional dan demam. Sindrom tersebut disebut
“Sindrom Okuloglandular PARINAUD”.
Susunan saraf pusat dapat pula mengalami kelainan berupa
meningoensefalitis. Kelainan lain ialah hepatosplenomegali,
peritonitis, dan uretritis. Uretritis tersebut dapat disertai
ulkus-ulkus pada mukosa, dapat pula bersama-sama dengan
Penegakan Diagnosis Limfogranuloma
Venereum
• Pada pemeriksaan darah tepi biasanya leukosit normal,
sedangkan LED meningkat. jika menyembuh LED akan menurun. Sering terjadi hiperproteinemia berupa peningkatan globulin,
sedangkan albumin normal atau menurun. Immunoglobulin yang meningkat adalah IgA dan tetap meningkat selama penyakit
masih aktif, sehingga bersama-sama dengan LED menunjukkan keaktivan penyakit.
Pemeriksaan Darah
• Pada tahun 1930-1970, LGV didiagnosis melalui tes kulit dengan tes Frei, Tes ini tidak sesensitif seperti tes serologi, dan kadang menunjukkan hasil false positive karena infeksi bakteri
Chlamydia sub tipe D-K. Saat ini antigen untuk tes Frei sudah Tes Frei
Diagnosis LGV ditegakkan baik melalui gejala klinis ataupun melalui pemeriksaan penunjang. Terdapat beberapa macam pemeriksaan penunjang, diantaranya adalah :
Penegakan Diagnosis Limfogranuloma
Venereum
• Pada pasien yang diduga menderita LGV, spesimen yang diambil dapat berasal dari swab rektum (pada proktitis) atau ulkus kemudian dilakukan tes laboratorium.
Swab Speciment
• Tes serologi untuk infeksi C.trachomatis terdiri dari dua tes, yaitu tes ikatan komplemen (Complement Fixation (CF)) dan tes microimmunofluorescence (micro-IF). Tes CF mengukur adanya antibodi yang melawan antigen LPS spesifik dari bakteri. 256.(2)
Tes serologis
• Kultur Chlamydia menunjukkan bukti langsung adanya infeksi C.trachomatis. C.trachomatis dapat diidentifikasi dari cairan bubo yang diaspirasi atau pada bahan-bahan ulkus.
Diagnosis Banding Limfogranuloma
Venereum
Diagnosis banding LGV sangat bervariasi tergantung pada stadiumnya:
Stadium Primer
Ulkus durum
Ulkus Mole
Stadium Sekunder
Skrofuloderma
Limfadenitis piogenik
Limfadenitis karena ulkus mole
Limfoma maligna
Penatalaksanaan Limfogranuloma
Venereum
Pengobatan LGV dengan antibiotik dilakukan
selama 21 hari. Antibiotik yang direkomendasikan
adalah doksisiklin oral 100 mg 2 kali sehari selama 21
hari, atau eritromisin oral 500 mg 4 kali sehari selama
21 hari, atau alternatif lain adalah azitromisin oral 1 gr 1
kali (single dose ) selama 21 hari.
Doksiksiklin adalah pengobatan lini pertama pada LGV,
sedangkan eritromisin adalah pengobatan lini kedua.
Eritromisin diberikan pada wanita yang sedang hamil
dan menyusui, karena doksisiklin dikontra indikasikan
untuk wanita hamil.
Seluruh pasien harus di follow up sampai gejala dan
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan LGV tidak hanya terbatas
pada pasien saja, tetapi juga pada partner
hubungan seksual. Jika pasien telah
didiagnosis LGV, maka partner hubungan
seksual selama 30 hari terakhir juga harus
dievaluasi, jika menunjukkan gejala klinis,
maka harus diobati seperti pasien yang telah
didiagnosis LGV. Namun, jika partner
hubungan seksual tidak menunjukkan gejala
atau asimtomatik, maka harus diobati dengan
doksisiklin oral 100 mg 2 kali sehari selama 7
hari, atau dosis tunggal 1 gr azitromisin.
(2,4)Prognosis Limfogranuloma
Venereum
Prognosis pasien dengan LGV adalah baik, jika
infeksi dikenali secara tepat dan diterapi secara cepat
sebelum terbentuk inflamasi yang berat, seperti bubo
dan pembentukan fistula.
Disamping terapi yang tepat, pasien dengan bubo juga harus di-follow up untuk melakukan tindakan
aspirasi. Secara umum, adanya jaringan parut yang terjadi akibat gejala klinis yang lanjut, membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh.