Seminar Nasional Peternakan dam Peteriner 2000
PERTUMBUHAN PRA- DAN PASCA SAPIH PERSILANGAN
DOMBA RAMBUT DAN LOKAL SUMATERA PADA KONDISI
LAPANGAN PERCOBAAN
SUBANDRIYO, B. SETIAm, A. SUPARYANTO, EKO HANDrWIRAwAN, dan LISA PRAHARAM Balai Penelitian Ternak, P.O. Box 221, Bogor 16002
ABSTRAK
Penelitian persilangan antara domba lokal ekor tipis Sumatera (DETS) dengan domba ekor gemuk dari Jawa Timur (DEGJ), domba rambut dari St. Croix (SC) (Amerika Serikat) serta domba rambut Barbados Blackbelly (BB) telah dilakukan sejak tahun 1986 di Sub Balai Penelitian Temak, Sungai Putih, Sumatera Utara (sekarang, Instalasi Penelitian clan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Sungai Putih), dan dilanjutkan di Balai Penelitian Ternak, dengan tujuan untuk membentuk rumpun domba komposit atau sintetis. Domba komposit (K) hssil persilangan antara tiga rumpun, yaitu domba lokal Ekor Tipis Sumatera (DETS) dengan domba rambut impor Barbados Blackbelly (BB) dan St. Croix (SC) demgan komposisi genotipa 25% BB, 25% SC dan 50% DETS pada generasi pertama (Fl) clan generasi kedua (F2) pada kondisi semi intensif (digembalakan pada siang hari dan dikandangkan pada malam hari) serta kondisi dikandangkan terus menerus memberikan hasil yang seimbang baik dari segi pertumbuhan pra- clan pasta-sapih serta reproduksinya dibandingkan dengan BB x DETS (BC), yang mempunyai performa terbaik pada generasi pertama. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi yang lengkap tentang pertumbuhan pra- clan pasta sapih sampai umur 4 mimggu domba komposit generasi pertama (K-F1), generasi kedua (K-F2), dan generasi ketiga (K-F3) dibandingkan dengan genotipa pembandingnya (BC), serta analisis kurva pertumbuhan dengan menggunakan regresi non-linier metoda logistik, Gompertz clan Von Bertalanffy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot lahir, bobot umur 2 mimggu, 4 minggu, 6 mimggu, 8 mimggu, 10 mimggu, 12 mimggu clan bobot sapih tidak dipengaruhi oleh genotipa (P>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa domba komposit dari berbagai generasi yang ada clan persilangan BB x DIETS (persilangan Barbados=BC) tidak menunjukkan perbedaan dalam pertumbuhan pra-sapih. Umur induk waktu beranak berpengaruh nyata pada bobot badan anak saat lahir sampai mencapai umur 6 mimggu, sedangkan pada umur selanjutnya sampai sapih tidak berpengaruh terhadap bobot badan. Sementara itu, bulan/musim lahir berpengaruh sangat nyata terhadap bobot badan pra-sapih clan umur sapih tetapi tidak demikian pada bobot lahir. Selanjutnya, pengaruh bulan/musim lahir menurut genotipa domba tidak memberikan perbedaan nyata pada semua bobot umur pra-sapih dan sapih. Pengaruh genotipa terhadap bobot badan pasta-sapih umur 16 minggu, 20 mimggu, 24 mimggu, 28 minggu, 32 mimggu, 36 minggu, 40 mimggu, 44 minggu, clan 48 minggu ticlak berpengaruh nyata (P<0,05), meskipun terdapat kecenderungan bahwa domba komposit generasi kedua (K-F2) mempunyai bobot badan pasca-sapih yang lebih tinggi dibandingkan dengan domba komposit generasi lainnya (K-F2 dan K-F3) maupun persilangan Barbados (BC). Jenis kelamin tidak berpengaruh nyata terhadap bobot baclan pasta sapih pada umur 16 mimggu clan 48 minggu, tetapi berpengaruh nyata pada umur 20 mimggu sampai 44 mimggu (P<0,05) . Seperti halnya pada bobot badan pra-sapih domba jantan lebih berat dari domba betina. Sementara itu, tipe kelahiran berpengaruh sangat nyata (P<0,001) terhadap bobot badan pasta-sapih. Temak yang dilahirkan tunggal nyata (P<0,001) tumbuh dengan cepat dibandingkan dengan ternak yang dilahirkan kembar dua atau lebih. Umur induk waktu beranak tidak berpengaruh nyata terhadap bobot badan pasta-sapih. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa pasta sapih Tmak sudah bebas dari pengaruh induk. Analisis pertumbuhan non-linier mulai dari pra-sapih, pasta-sapih sampai anak mencapai umur 48 minggu pada domba semua genotipa yaitu persilangan Barbados (BC), domba komposit generasi pertama (K-Fl), domba komposit generasi kedua (K-F2) dan domba komposit generasi ketiga (K-F3) menunjukkan perbedaan kurva clan estimasi bobot dewasa tubuh. Kurva pertumbuhan dengan menggunakan model Logistik dengan persamaan: Bb (t) = A*(1-B*e**(-K*t)), menunjukkan persamaan BB (t) = 26,8(1-0,92e**(-0,Olt) untuk domba BC, BB (t) = 0,Olt) untuk K-Fl BB (t) = 26,1(1-0,92e**(-O,OIt) untuk K-F2, BB (t) = 26,1(1-0,92e**(-O,Olt) untuk K-F3.; Gompertz dengan persarnaan: Bb (t) = A*(1-B*e**(-K*t)), menunjukkan persamaan BB (t) = 26,8(1-0,92e**(-0,Olt) untuk domba BC, BB (t) = 26,1(1-0,92e**(-0,Olt) untuk K-Fl, BB (t) = 26,1(1-26,1(1-0,92e**(-0,Olt) untuk K-F2, BB (t) = 26,1(1-26,1(1-0,92e**(-0,Olt) untuk
Kata kunci: Domba komposit, generasi, pertumbuhan
Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner 2000
K-F3 . Sedangkan untuk model von Bertalanfiy, dengan persamaan: Bb (t) = A*(1-B*e**(-K*t)), menunjukkan persainaan BB (t) = 26,8(1-0,92e**(-O,Olt) untuk domba BC, BB (t) = 26,1(1 -0,92e**(-O,Olt) untuk K-Fl, BB (t) = 26,1(I-0,92e**(-0,01 t) untuk K-F2, BB (t) = 26,1(1-0,92e**(-0,01t) untuk K-F3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan domba komposit sampai generasi ketiga tidak berbeda nyata dengan genotipa pembandingnya (Barbados cross).
PENDAHULUAN
Penelitian persilangan antara domba lokal ekor tipis Sumatera (DETS) dengan domba ekor gemuk dari Jawa Timur (DEGJ), domba rambut dari St. Croix (SC) (Amerika Serikat) serta domba rambut Barbados Blackbelly (BB) telah dilakukan sejak tahun 1986 di Sub Balai Penelitian Ternak, Sungai Putih, Sumatera Utara (sekarang, Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Sungai Putih), serta dilanjutkan di Balai Penelitian Ternak, Bogor dengan tujuan untuk membentuk rumpun domba komposit atau sintetis. Persilangan dengan domba rambut impor pada kondisi semi intensif (digembalakan pada siang hari dan dikandangkan pada malam hari) memberikan hasil yang lebih baik dari segi produksi dan reproduksinya (GATENBY et al., 1993a; 1993b, GATENBY et al., 1997a; 1997b). Pada persilangan generasi pertama (F1), bobot sapih generasi pertama hasil persilangan ternyata meningkat dibandingkan dengan DETS. Bobot sapih Fl pada umur 3 bulan persilangan dengan DEGJ, SC dan BB masing-masing ternyata 10-13%, 14-15% dan 32% lebih tinggi dari DETS. Skor wool pada umur 3 bulan antara generasi pertama hasil persilangan dengan DETS tidak jauh berbeda, namun pada umur 6-9 bulan, ternyata rankingnya adalah BB-F1 (wool paling sedikit) < SC-F1 < DEGJ-F1 < DETS (wool paling banyak) (GATENBY et al., 1997a). Evaluasi terhadap indek produktivitas induk menunjukkan bahwa ranking indeknya adalah DETS < DEGJ-F1 < SC-F1 <_ BB-F1 . Masing-masing dengan rataan indek produktivitas induk sebesar 16,0; 18,1 ; 21,5 dan 24,2 kg. Ranking yang sama ditunjukkan pula oleh produktivitas yang dinyatakan dengan total bobot sapih anak per unit bobot badan induk, yaitu untuk DETS, DEGJ-Fl, SC-F1 dan BB-F1, masing-masing sebesar 0,73; 0,74; 0,79; dan 0,86(GATENBYet al., 1997b).
Berdasarkan hasil penelitian ini maka digabungkan sifat-sifat yang dimiliki oleh persilangan domba lokal ekor tipis Sumatera (DETS) dengan domba St. Croix (SC) serta persilangan domba lokal ekor tipis Sumatera (DETS) dengan Barbados Blackbelly (BB) untuk membentuk domba komposit (K) dengan komposisi 50% domba lokal ekor tipis Sumatera (DETS), 25% domba rambut St. Croix (SC) dan 25% domba rambut Barbados Blackbelly (BB). Hasil persilangan generasi pertama pembentukan domba komposit (K) penelitian ini menunjukkan bahwa bobot sapih domba komposit (K) generasi pertama (F1) ini adalah sekitar 51,6% lebih tinggi dari domba lokal ekor tipis Sumatera (DETS), dan sekitar 12,5% lebih tinggi dari persilangan antara SC x DETS serta 12,0% lebih tinggi dari persilangan antara BB x DETS(SUBANDRIYOet al., 1998a). Sementara itu, evaluasi terhadap bobot sapih domba komposit generasi pertama (Fl) dan kedua (perkawinan F1 x F1 ; K-F2) menunjukkan bahwa rataan ranking performa bobot sapih apabila dibandingkan dengan domba SC, persilangan dengan SC (SCC) dan persilangan dengan BB (BC) adalah BC <_ F2 S SCC < K-FI < SC. Masing-masing dengan rataan bobot sapih 11,17; 11,40; 11,44; 12,45 dan 12,67 kg (SUBANDRIYO et al., 1998b). Pada kondisi intensif (dikandangkan) pertumbuhan pra- dan pasca-sapih domba K-F2 dibandingkan dengan genotipa pembandingnya (contemporary genotype) mempunyai pertumbuhan yang relatifsama(SUBANDRIYOet al., 2000).
Seminar Nasional Peternakan clan Veteriner2000
Hal ini menunjukkan bahwa pada kondisi semi intensif maupun intensif domba komposit (K) mempunyai performa yang relatif seimbang dengan hasil persilangan lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai pertumbuhan pra-dan pasta-sapih sampai dengan umur 48 minggu anak domba komposit generasi pertama (K-Fix kedua (K-F2), clan ketiga (K-F3) dibandingkan dengan genotipa pembandingnya, yakni persilangan BB x DETS (BC).
MATERI DAN METODE
Lokasi.- Penelitian dilakukan di Stasiun Percobaan Balitnak Cilebut, Bogor, yang terletak pada ketinggian sekitar 171 m dari permukaan laut. Klasifikasi ketinggian tempat lokasi penelitian adalsh termasuk dataran sedang atau medium. Curah hujan berkisar antara 1 .000-1 .500 mm per tahun dengan suhu udara berfluktuatifantara 23-32°C.
Ternak.- Penelitian ini menggunakan domba Komposit (K) generasi pertama (K-F1) , generasi kedua (K-F2), generasi ketiga (K-F3) serta domba persilangan BB x DETS (BC) yang dilahirka pada bulan Januari 1999 dan Oktober 1999. Domba Komposit (K) generasi pertama (FI) dengan genotipa 25% St. Croix, 25% Barbados Blackbelly dan 50% Sumatera adalah merupakan hasil persilangan antara BC betina dengan pejantan St. Croix Cross (50% St. Croix, 50% Lokal Sumatera=SCC). Sementara itu, yang dimaksud dengan K-F2 adalah perkawinan antara K-F1 jantan dengan K-Fl betina, clan K-F3 adalah merupakan perkawinan antara K-F 1 jantan dengan K-F2 betina atau sebaliknya. Sementara itu, domba BC yang mempunyai genotipa 50% Barbados Blackbelly dan 50% Sumatera adalah generasi kedua (F2) atau generasi selanjutnya .
Pengelolaan ternak.- Ternak dipelihara secara intensif dalam kandang kelompok. Pakan hijauan yang cliberikan adalah rumput Gajah yang dicincang dan diberikan secara ad libitum. Disamping itu diberikan pula makanan tambahan yang berupa konsentrat GT03. Pakan konsentrat yang diberikan mengandung protein kasar 16% dan TDN sebesar 68%. Pakan anak pra-sapih diberikan bersama dengan induknya, dimana pakan konsentrat induk yang sedang menyusui adalah sebanyak 400 g per ekor per hari. Anak domba disapih pada umur 90 hari clan diberikan pakan konsentrat sebanyak 200-250 g per ekor per hari.
Pencatatan data. Data yang dicatat untuk setiap anak yang lahir adalah tanggal lahir, induk, genotipa induk, bapak, genotipa bapak, tipe kelahiran, jenis kelamin, bobot lahir, clan bobot badan induk setelah beranak. Semua anak disapih pada umur sekitar 90 hari. Penimbangan dilakukan setiap dua minggu sampai anak disapih, dan setiap empat minggu setelah disapih sampai umur 48 minggu. Oleh karena ternak ditimbang pada umur yang tidak sama, maka bobot baclan disesuaikan dengan umur tertentu dengan interpolasi Iinear.
Analisis data. Data pertumbuhan anak pra-sapih dianalisis dari lahir sampai sapih pada umur 90 hari (sekitar 13 minggu), sedangkan data pasta sapih dianalisis dari umur 16 sampai dengan 48 minggu. Data pertumbuhan anak pra-sapih dianalisis dari anak domba yang dilahirkan pada bulan Januari dan Oktober 1999, sedangkan pertumbuhan pasta-sapih dianalisis dari ternak domba yang dilahirkan pada bulan Januari 1999.
Data untuk performans pertumbuhan dianalisis dengan menggunakan linear model umum menurut petunjuk SAS (1987). Sebagai peubah-peubah bebas (independent variables) untuk pertumbuhan pra-sapih adalah genotipa anak, jenis kelamin (sex), tipe kelahiran (litter size), bulan lahir, umur induk waktu beranak, interaksi antara genotipa x jenis kelamin, genotipa x tipe kelahiran dan genotipa x bulan lahir. Peubah-peubah tak bebasnya (dependent variables) adalah bobot lahir,
bobot umur 2 minggu, 4 minggu, 6 minggu, 8 minggu, 10 minggu, 12 minggu, bobot sapih (umur 90 hari). Peubah-peubah bebas untuk pertumbuhan pasca-sapih adalah genotipa anak, jenis kelamin (sex), tipe kelahiran (litter size), umur induk waktu beranak, interaksi antara genotipa x jenis kelamin, dan genotipa x tipe kelahiran. Peubah-peubah tak bebasnya adalah bobot badan umur 16 minggu, 20 minggu, 24 minggu, 28 minggu, 32 minggu, 36 minggu, 40 minggu, 44 minggu, dan 48 minggu.
Genotipa anak dalam analisis ini adalah domba K-Fl ; K-F2; K-F3 ; dan BC Jenis kelamin adalah jantan dan betina, tipe kelahiran adalah tunggal dan kembar 2 atau lebih. Bulan lahir adalah Januari dan Oktober 1999. Sementara itu umur induk waktu beranak dikelompokkan sebagai berikut:
1 = umur < 18 bulan; 2 = umur 18-30 bulan; 3 = umur 30-42 bulan; 4 = umur 42-54 bulan; 5 = -a umur 54 bulan.
Bobot badan anak pra- sapih
Seminar Nasiona! Peternakan dan Veteriner 2000
Analisis terhadap pertumbuhan masing-masing genotipa dari lahir sampai dengan umur 48 minggu dilakukan dengan menggunakan kurva pertumbuhan dengan regresi non-linier metode Gompertz, Logistic dan Von Bertalanffy (PTAK et al., 1994; SAS, 1987). Analisis kurva pertumbuhan dari lahir sampai dengan umur 48 minggu dari masing-masing genotipa dilakukan dengan menggunakan rataan kuadrat terkecil (least square mean) hasil analisis dari masing-masing bobot badan setelah dikoreksi terhadap faktor-faktor lingkungan lainnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis menunjukkan bahwa bobot lahir, bobot umur 2 minggu, 4 minggu, 6 minggu, 8 minggu, 10 minggu, 12 minggu dan bobot sapih (90 hari) tidak dipengaruhi oleh genotipa (P>0,05) (Tabel 1). Hal ini menunjukkan bahwa performa anak domba komposit generasi pertama (K-F1), domba komposit generasi kedua (K-F2), domba komposit generasi ketiga (K-F3) dan persilangan BB x DETS (persilangan Barbados=BC) tidak menunjukkan perbedaan dalam pertumbuhan anak periode pra-sapih. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa rataan bobot lahir hingga mencapai umur sapih tetinggi diperoleh pada domba komposit generasi pertama (K-F 1), kemudian diikuti oleh domba BC dan terendah diperoleh pada domba komposit generasi kedua (K-F2). Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya dimana domba komposit generasi pertama (K-F1) dan kedua (K-F2) memiliki bobot dari lahir sampai bobot sapih yang tidak berbeda(SUBANDRIYO et al., 2000).
Sementara itu, jenis kelamin berpengaruh nyata (P<0,05) hanya pada bobot umur 2 minggu dan 4 minggu, dan bobot sapih, sementara pada bobot badan umur lainnya tidak nyata (P>0,05), dimana kelompok umur tersebut diantaranya adalah pada saat lahir, domba umur 6 minggu hingga 12 minggu. Meskipun demikian bobot badan anak domba jantan relatif lebih berat dari anak domba betina, kondisi ini seperti yang diharapkan. Sementara itu tipe kelahiran berpengaruh sangat nyata (P<0,001) pada semua bobot badan pra-sapih dan saat sapih (Tabel 1). Bobot badan anak yang dilahirkan tunggal sangat nyata (P<0,01) lebih berat dari anak kelahiran kembar dua atau lebih, dimana hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya(SUBANDRIYO et al., 1998a). Analisis bobot badan berdasarkan bulan/musim kelahiran anak selama tahun 1999 menunjukkan bahwa bobot lahir
tidak dipengaruhi oleh bulan/musim lahir, namun bobot badan selanjutnya sangat nyata dipengaruhi oleh bulan/musim lahir.
Umur induk waktu beranak tidak berpengaruh terhadap semua bobot badan pra-sapih. Sementara itu, tahun lahir berpengaruh sangat nyata terhadap bobot badan pra-sapih (Tabel 1). Ternak yang lahir pada tahun kedua (1999) apabila dibandingkan dengan Trnak yang lahir pada tahun pertama menunjukkan peningkatan bobot badan pra-sapih.
Interaksi antara genotipa x jenis kelamin, genotipa x tipe kelahiran clan genotipa x bulsn kelahiran tidak berbeda nyata untuk semua bobot badan pra-sapih. Hal ini menunjukkan bahwa jenis kelamin jantan lebih berat dari betina, kelahiran tunggal lebih berat dari kelahiran kembar dua atau
lebih, serta bulan kelahiran tidak mempengaruhi bobot badan pra-sapih setiap genotipa. Bobot badan anak pasca-sapih
Seminar Nasional Peternakan clan Veteriner 2000
Penampilan bobot badan anak periode pasca sapih menunjukkan adanya pengaruh yang kuat terhadap genotipa anak yang dihasilkan, pada umur 16 minggu tingkat perbedaannya sangat nyata (P<0,001), sementara padz umur lainnya mulai dari 20 minggu hingga 48 minggu hanya bersifat nyata (P<0,05) (Tabel 2 dan 3). Dsri Tabel 2 kemuclian dilanjutkan dengan Tabel 3 terclapat kecenderungan bahwa domba komposit generasi kedua (K-F2) mempunyai bobot badan pasca-sapih yang lebih tinggi dibandingkan dengan genotipa lainnya seperti domba persilangan Barbados (BC) maupun domba komposit generasi pertama (K-Fl) clan ketiga (K-F3), tingkatan bobot badan selanjutnya diperoleh pada domba genotipa komposit generasi ketiga (K-F3), kemudian didcuti oleh komposit generasi kedua (K-Fl) clan terenclah adalah domba genotipa persilangan Barbados (BC). Konsistensi urutan besarnya bobot badan tersebut cenderung dipertahankan hingga anak mencapai umur 48 minggu.
Jenis kelamin tidak berpengaruh nyata (Tabel 2 dan 3) terhsdap bobot badan pasca sapih pada umur 16 minggu, 32 minggu clan 48 minggu, seperti hasii penelitian yang diperoleh sebelumnya (SUBANDRIYO et al., 2000), meskipun demikian anak jantan masih menunjukkan rataan bobot badan 2 kg lebih tinggi dari betina. Tingkat perbedaan rataan bobot badan untuk umur 20 minggu, 24 minggu, 28 minggu, 36 minggu, 40 minggu dan 44 minggu menunjukkan bahwa rataan bobot badan anakjantan nyata (P<0,05) ± 3 kg lebih tinggi dibanding bobot badan anak betina.
Sementara itu, tipe kelahiran berpengaruh sangat nyata (P<0,001) terhadap bobot badan pasca-sapih (Tabel 2 clan 3). Ternak yang dilahirkan tunggal tumbuh dengan cepat dibandingkan dengan Trnak yang dilahirkan kembar dua atau lebih. Tingkat perbeclaan bobot tersebut mencapai variasi 4-5 kg, dimana pada umur 16 minggu rataan bobot anak kembar dua atau lebih hanya 9,0410,36 kg sedangkan pada anak tunggal sebesar 13,63±0,47 kg dan pada akhir pengamatan (umur 48 minggu) untuk anak kembar dua atau lebih bobot badannya adalah 23,21±0,76 kg seclangkan anak tunggal mencapai 27,40±0,98 kg. Penelitisn sebelumnya memperlihatkan bahwa pertumbuhan anak domba pasca sapih dengan tipe kelahiran tunggal berbeda nyata dengan anak domba kembar sampai umur 6 bulan, akan tetapi untuk umur selanjutnya ticlak nyata berbeda walaupun tetap lebih berat untuk anak domba dengan kelahiran tunggal(SUBANDRIYOet al., 2000).
Tabel 1. Rataan kuadrat terkecil tStandardErrorbobot bdur, bobot badan umur 2 nonggu, umur 4 minggu, umur 6 minggu, umur 8 minggu, umur 10 minggu, umur 12 minggu, dan bobot sapih domba menurut genotipa anak (persilangan Barbados - BC, Komposit generasi penama (K-F1), dan generasi kedua (K-F2)), jenis kelamin, tipe kelahrm bulan beranak (Januari, Oktober 1999) dan umur beransk
Keterangan : t.n. - tidak nyata; ' = p<0,05 ; "' = p<0,001
Seminar Nasional Peternakan dan Peteriner 2000
Peubah Genotipa N Bobot lahir (kg) t.n . N Bobot 2 minggu (kg) t.n . N Bobot 4 minggu (kg) t.n . N Bobot 6 minggu (kg) t.n. N Bobot 8 minBgu (kg) t.n . N Bobot 10 minggu (kg) t.n . N Bobot 12 minggu (kg) t.n . N Bobot sapih (kg) t.n. BC 41 2,54+0,09 40 4,51+0113 39 5,89+0,19 38 7,05+0,26 38 8,38±0,32 38 8,90±0,36 37 9,96±0,40 35 10,66+0143 K-Fl 27 2,58±0,11 26 4,55+0,17 26 6,04+0123 26 7,47±0,32 24 9,06±0,40 24 9,57±0,46 23 10,87±0,50 23 11,06±0,54 K-F2 39 2,46±0,09 39 4,34+0119 37 5,69±0,20 37 6,99±0,27 35 8,86±0,34 35 9,65±0,38 35 10,73±0,42 34 11,31±0,45 K-F3 92 2,49±0,65 82 4,29+0110 82 5,75+0114 82 6,97±0,19 81 8,35+0,24 81 8,99±0,27 79 10,08+0,30 79 10,53±0,32 Jenis Kelamin t.n. ' ' t.n. t.n. t.n . to.
Betina 108 2,43±0,07 104 4,26±0,10a 104 5,65+0,14a ,102 6,92±0,19 98 8,36±0,24 98 9,02±0,27 97 10,05±0,31 94 10,44±0,33a Jantan 91 2,57±0,65 83 4,58=0,946 81 6,04±0,146 81 7,32±0,18 80 8,96±0,23 80 9,53±0,26 77 10,77±0,30 77 11,34±0,316
Tipe Kelahiran 40*
Tunggal 66 2,98±0,74a 66 5,42±0,1Oa 66 7,20±1,16a 66 8,79±0,20a 65 10,64±0,26a 65 11,36±0,29a 65 12,64±0,33a 65 13,10±0,35a Kembar>_2 133 2,01±0,61b 121 3,42±0,09b 119 4,48±0,13b 117 5,45±0,18b 115 6,68±0,22b 113 7,19±0,25b 109 8,20±0,29b 106 8,67+0131b Bulan - Tahua t.n. 00* *00
Januari 1999 90 2,47±0,07 86 4,10±0,1On 84 5,28±0,14a 82 6,32±0,19a 80 8,04±0,24a 80 8,38±0,27a 79 9,47±0,31a 76 10,01±0,33a Oktober 1999 109 2,54±0,07 101 4,75±0,10b 101 6,40±0,15b 101 7,92±0,206 98 9,28+0,25b 98 10,17±0,28b 95 11,35±0,31b 95 11,77±0,33b
Umur Beranak "' "' t.n, t.n. t.n. t.n.
<18 bulan 16 2,04±0,14a 5 3,55±0,22& 15 4,72±0,31a 15 5,83±0,42a 15 7,39±0,52 15 7,84±0,59 14 8,76±0,68 14 9,23±0,73 18-30 bulan 8 2,43±0,18ab 8 4,62±0,26b 7 6,40±0,396 7 7,60±0,536 7 9,41±0,66 7 9,87+0 175 7 11,32_83 7 11,40±0,88 30-42 bulan 37 2,64±0,84b 36 4,61±0,I2b 36 6,01±0,17b 34 7,46±0,17b 33 9,01±0,31 33 9,65±0,35 33 10,69±0,39 33 11,17±0,41 42-54 bulan 74 2,74±0,07b 69 4,79±0,106 69 6,28±014b 69 7,63±0,20b 66 9,98±0,24 66 9,77±0,28 64 11,02±0,31 63 11,68±0,33 _> 54 bulan 64 2,68±0,07b 59 4,54±0,I Ib 58 5,82±0,16b 58 7,08±0,21b 58 8,52±0,27 57 9,25±0,30 56 10,249,34 54 10,97±0,36
Tabel 2. Rataan kuadrat terkecil tStandard Errorbobot badan umur 16 minggu, umur 20 minggu, umur 24 minggu, umur 28 minggu, dan umur 32 minggu anak domba menunit genotipa anak (persilangan Barbados = BC, Komposit generasi pertama (K-F1), generasi kedua (K-F2) dan generasi ketiga (K-F3)), jenis kelamin, tipe kelahiran, dan umur beranak
Keteraagaa: t.n. - tidak nyata;"= p<0,01 ;sss = p<0,001
Seminar Nasional Peternakan dart Vereriner 2000
Peubah Genotipa N Bobot umur 16 minggu (kg) sss N Bobot umur 20 minggu (kg) s N Bobot umur minggu (kg) s 24 N Bobot umur 28 minggu,(kg) s N Bobot umur 32 minggu (kg) s
BC 15 10,24±0,63a 15 11,44±0,68a 15 13,56±0,85a 15 15,16+0,93a 14 16,86+1,17a
K-F2 9 11,83±0,70ab 9 12,86+0,75ab 9 15,60+J0,94ab 9 17,49+1,02ab 9 19,10±1,21ab
K-F2 18 12,85+0,55b 18 14,03+0,59b 18 17,10+0,74b 18 18,94±0,81b 18 21,48+0,96b
K-F3 34 10,42+0,42ab 34 12,05±0,45ab 34 15,09±0,57ab 34 16,92±0,62ab 34 19,16±0,74ab
Jenis kelamin t,n, s s s t,n,
Betina 43 10,77+0,39 43 11,80+0,42a 43 14,37±0,53a 43 16,01+0,57a 43 18,14+0,68
Jantan 33 11,90+0145 33 13,39±0,49b 33 16,30+0,61b 33 18,28+0,36b 32 20,16±0,81
Tipe kelahiran sss sss sss sss sss
Tunggal 31 13,63+0,47a 31 14,70+0,50a 31 17,50+0,63a 31 19,45+0,69a 31 21,36±0,81a
Kernbar 2 45 9,04+0,36b 45 10,49±0,39b 45 13,18±0,49 45 14,80+0,58b 44 16,94+0,63b Umur Beranak t,n, t,n, t,n, t,n, t,n, 18-30bulan 7 10,68+0,79 7 12,80±0,85 7 15,78±10,7 7 17,12±1,16 7 19,24±1,38 30-42 bulan 22 10,97+0146 22 11,88±0,50 22 15,61±0,68 22 16,57+0,68 21 18,97±0,85 42-54 bulan 35 11,66+0942 35 12,59±0,45 35 15,13+0,57 35 16,98±0,61 35 18,74±0,73 > 54 bulan 12 12,03+0,72 12 13,12±0,77 12 15,83+097 12 17,84+1,06 12 19,65±1,25
Seminar NasionalPeternakan clan Vetertner 2000
Umur induk waktu beranak tidak berpengaruh nyata terhadap bobot badan pasca-sapih, seperti diperoleh dalam hasil penelitian sebelumnya (SUBANDRIYO et al., 2000). Hal ini menunjukkan bahwa pada masa pasca sapih temak sudah bebas dari pengaruh induk. Pada awal lepas sapih, rataan bobot badan anak yang berasal dari induk dengan umur yang relatif lebih tua memberikan hasil yang relatif lebih tinggi, namun seiring dengan berjalannya waktu pertumbuhan maka anak yang berasal dari induk muda tampak memiliki pertumbuhan yang lebih baik Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel2 dan3,dimana anak umur 16minggu bobot badannya cenderung searah dengan umur induk. Setelah anak mencapai umur24minggu, rataan bobot badannya berimbang yaitu berkisardiatas 15 kg. Setelah melewati umur tersebut, anak yang berasal dari induk umur 18-30 memiliki laju pertumbuhan yang lebih baik, bahkan pada akhir pengamatan menunjukkan bobot badan yang tertinggi.
Interaksi antara genotipa x jenis kelamin dan genotipa x tipe kelahiran tidak menunjukkan perbedaan yang nyata untuk semua bobot badan pasca-sapih dari umur 16 minggu sampai dengan48 minggu. Hal ini menunjukkan bahwa bobot badan jantan lebih berat dari betina serta bobot badan ternak lahir tunggal lebih berat dari temak lahir kembar dua atau lebih untuk semua genotipa pada periode pasca-sapih.
Tabel 3. Rataan kuadrat terkecil tStandard Errorbobot badan umur 36 minggu, umur 40 minggu, umur
44 minggu, dan umur 48 minggu anak domba menurut genotipa anak (persilangan Barbados = BC, Komposit generasi pertama (K-F 1), generasi kedua (K-F2) dan generasi ketiga (K-F3)), jenis kelamin, tipe kelahiran, clan umur beranak
Keterangan: t.n. - tidak nyata;' = p<0,01; "" = p<0,001
123 Peubah Genotipa N Bobot umur 36 minggu (kg) s N Bobot umur 40 minggu (kg) s N Bobot umur 44 minggu (kg) s N Bobot umur 48 minggu (kg) s
BC 14 18,46±1,25a 14 19,30±1,38a 14 20,19±1,42a 14 22,30±1,39a K-F1 9 20,95±1,30ab 9 21,93±1,43ab 9 22,79±1,47ab 9 25,24±1,45ab K-F2 18 23,51±1,03b 18 24,58±1,146 18 25,62+1,17b 18 27,98±1,53b K-F3 33 21,15±0,85ab 33 22,36±0,93ab 33 23,23±0,96ab 33 25,69±0,94ab
Jenis kelamin $ t,n,
Betina 43 19,76+0,74b 43 20,60±0,82a 43 21,44±0,84a 43 24,06±0,83 Jantan 31 22,28±0,87b 31 23,49±0,96b 31 24,47+0,98b 31 26,54±0,96
Tipe kelahiran sss sss sss sss
Tunggal 30 23,37+0,87a 30 24,35±0,97a 30 25,31+0,10a 30 27,40±0,98a Kembar _> 2 44 18,54+0,68b 44 19,73±0,75b 44 20,60+0,77b 44 23,21±0,76b Umur Beranak t,n, t,n, t,n, t,n, 18-30 bulan 6 21,77±1,60 6 22,39±1,76 6 23,40±1,81 6 25,96±1,78 30-42 bulan 21 20,56±0,92 21 21,79±1,01 21 22,68±1,04 21 25,01±1,02 42-54 bulan 35 20,37±0,79 35 21,55±0,87 35 22,48+0,89 35 24,91+0,88 > 54 bulan 12 21,38±1,34 12 22,43±1,48 12 23,20+1,52 12 25,33±1,50
Pertumbuhan pra- clan pasca sapih yang ditunjukkan dari perubahan bobot badan dari berbagai kelompok umur tidak dipengaruhi oleh genotipa maupun bulan/musim lahir. Dengan demikian memberikan arti bahwa domba hasil pembentukan bangsa baru yang dalam hal ini adalah domba komposit mampu memberikan pertumbuhan yang cukup baik bila dibanding dengan hasil persilangan antar tetua yang dalam hal ini adalah BC.
Jenis kelamin anak yang tidak nyata (P>0,05) pada parameter bobot lahir lebih banyak disebabkan oleh adanya anak kembar yang terjadi pada anak jantan. Sehingga bobot badan selama pertumbuhan kurang memberikan perubahan yang signifikan. Meskipun demikian anakjantan masih memberikan pertumbuhan dan bobot badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak betina. Pada kondisi lain nampak bahwa tipe kelahiran masih merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap keadaan bobot badan maupun pertumbuhan bagi anak. Anak dengan tipe kelahiran tunggal memiliki pola pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan anak kembar. Namun demikian secara total bobot per induk anak kembar masih memberikan bobot produksi yang tertinggi.
Estimasi pertumbuhan non-linier
Hasil analisis dengan menggunakan persamaan regresi non-linier menunjukkan bahwa bobot dewasa tubuh yang diduga menggunakan model Logistik cenderung menghasilkan nilai dugaan 3-4 kg lebih rendah dibanding dengan model lainnya, sementara von Bertalanffy menghasilkan estimasi bobot dewasa tubuh yang tinggi, sedangkan model Gompertz cenderung moderat. Hasil analisis selengkapnya tertera pada Tabel 4.
Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner2000
Keterangan: tt = tidak dapat dihitung karena tidak mencapai konvergen
124
Tabel 4. Nilai estimasi parameter A, B atau M
model non-linier menurut genotipa dan K maupun Standard Error (SE) pada masing-masing
Model/Genotipa A Estimasi SE Batau Estimasi M SE Estimasi K SE Logistik BC 22,401 1,715 3,858 0,364 0,011 0,002 K-F 1 25,044 1,568 4,367 0,383 0,012 0,001 K-F2 27,898 1,281 5,397 0,400 0,013 0,001 K-F3 26,990 1,969 5,127 0,423 0,011 0,001 Gompertz BC 25,010 2,549 1,785 0,085 0,007 0,001 K-FI 28,128 2,387 1,906 0,078 0,007 0,001 K-F2 31,725 1,859 2,129 0,063 0,008 0,001 K-F3 32,156 3,642 2,090 0,086 0,006 0,001 von Bertalantfy BC 27,394 3,824 0,474 0,006 0,005 0,001 K-F1 30,642 3,396 0,496 0,005 0,005 0,001 K-F2 34,805 tt 0,536 tt 0,006 tt K-F3 37,528 7,058 0,534 0,006 0,004 0,001
Pertumbuhan non-linier mulai dari lahir sampai anak domba mencapai umur 48 minggu pada semua genotipa yaitu persilangan Barbados (BC), domba komposit generasi pertama (K-F1), domba komposit generasi kedua (K-F2) clan domba komposit generasi ketiga (K-F3) menunjukkan perbedaan kurva clan estimasi bobot dewasa tubuh. Kurva pertumbuhan menggunakan model Logistik dengan persamaan: Bb (t) = A (1+ e;;`)""', menunjukkan persamaan BB (t) = 22,40(1+exp(-0011t)'3.86 untuk domba BC, BB (t) = 25,04(1+exp(-0,012t)-4.37 untuk K-Fl BB (t) = 27,90(1+exp(-0,013t)-5.39 untuk K-F2, BB (t) = 26,99(1+exp(-0,Ollt)-5,13 untuk K-F3 .; Gompertz dengan persamaan: Bb (t) = A exp(-Be'k`), menunjukkan persamaan BB (t) = 25,Olexp(-1,79exp-0,0071) untuk domba BC, BB (t) = 28,13exp(-1,91-0,0071) untuk K-Fl, BB (t) = 31,73exp(-2,13-0.00") untuk K-F2, BB (t) = 32,16exp(-2,09-0.oo6) untuk K-F3. Sedangkan untuk model von Bertalanffy, dengan persamaan: Bb (t) = A (1-Bek') 3 , menunjukkan persamaan BB (t) = 27,39(1-0,47exp-0'°°51)3 untuk
domba BC, BB (t) = 30,64(1-0,49exp-0.oo")3 untuk K-F1, BB (t) = 34,80(1-0,54exp-0. 1)3 untuk K-F2, BB (t) = 37,53(1-0,53exp-0,oo41)3 untuk K-F3 .
Dari persamaan di atas dapat diprediksi bobot badan untuk umur tertentu. Hasil prediksi disajikan dalam Gambar 1, 2, dan 3. Pendugaan bobot dewasa tubuh dengan menggunakan model von Bertalanfiy cenderung tinggi terutama pada genotipa K-F3 yaitu sebesar 37 kg yang dicapai pada umur 4 tahun. Sementara pada umur 3 tahun telah mencapai bobot asimtot pada model persamaan non-linier yang sama.
Pendugaan pola pertumbuhan yang tinggi diakhir pengamatan cenderung ditunjukkan pada domba komposit generasi pertama (K-F1), sementara pada generasi kedua (K-F2) meskipun memiliki laju pertumbuhan yang baik diawal hingga pertengahan pengamatan, tapi pada akhir pengamatan pola pertumbuhannya cenderung lamban. Dengan demikian bobot dewasa tubuh (bobot asimtot) relatif lebih rendah bila clibanding dengan K-F1, meskipun demikian masih lebih baik bila dibanding dengan K-F3 maupun BC.
Gambar 1.
Seminar Nasional Peternakan clan Veteriner 2000
~~p ~rLO O~p O Hari
-13C -K-F1 - " "K-F2 K-F3
Kurva pertumbuhan model von Bertlanfi'y terhadap bobot badan simulasi domba persilangan Barbados, Komposit generasi pertama (K-F1), generasi kedua (K-F2) dan generasi ketiga (K-F3)
Seminar Nasional Peternakan clan Veteriner 2000
Pola pertumbuhan yang ditunjukkan dari kurva model Logistik diperoleh hasil bahwa besarnya estimasi bobot asimtot masing-masing genotipa bervariasi dari 22 kg untuk domba genotipa BC hingga 27 kg untuk genotipa K-F2. Dari Gambar 2 tsmpak adanya keoenderungan kurva yang lebih tegak, khususnya pada domba komposit generasi pertama (K-F1). Sementara itu, pada domba persilangan Barbados (BC), kurvs yang dihasilkan cenderung rebah meskipun estimasi bobot awal tidak berbeda. Turunnya pola pertumbuhan domba persilangan Barbados (BC) terjsdi setelah tentak mencapai umur lepas sapih yaitu di atas 90 hari.
Estimasi besarnya bobot lahir yang dihitung dari persamaan non-linier menunjukkan bahwa semua genotipa memiliki bobot lahir yang di bawah bobot lahir sebenarnya, demikian halnya pada bobot umur selanjutnya hingga mencapai bobot dewasa tubuh (bobot asitntot). Dengan demikian dapat dilaporkan bahwa pendugaan bobot badan melalui persamaan model Logistik cenderung terlalu kecil (under estimate).
126
s
Hari
-BC -K-F1 - - .K-F2 -K-F3
Gambar 2. Kurva pertumbuhan model Logistik terhadap bobot badan simulasi domba persilangan Barbados, Komposit generasi perama (K-F1), generasi kedua (K-F2) dan generasi ketiga (K-F3)
Model Gompertz memberikan bobot estmasi yang lebih baik bila dibandingkan dengan model Logistik, kondisi ini dapat dilihat dari besarnya estimasi bobot lahir hingga mencapai bobot asimtot. Dari Gambar 3 tsmpak bahwa pola pertumbuhan domba komposit generasi kedua (K-F2) memiliki bobot pendugaan clan pola pertumbuhan yang tertinggi dibandingkan dengan genotipa lainnya.
Pendugaan bobot asimtot pada domba komposit generasi pertama (K-F1) clan generasi kedua (K-F2) relatif sama, sementara domba persilangan Barbados (BC) memiliki estimasi bobot asimtot yang terendah di antara genotipa pada model yang sama. Seperti halnya pada kurva sebelumnya, maka pola pertumbuhan yang ditunjukkan dari domba BC cenderung merebah.
Bobot lahir yang diduga dengan menggunakan model Gompertz cenderung tidak berbeda jauh dengan hasil pendugaan dengan model von Bertalanffy, tetapi yang memberakan keduanya adalah bobot asimtot hasil penclugaan dengan model Gompertz cenderung memiliki bobot asimtot yang lebih renclah. Hal ini disebabkan nilai K yang cenderung lebih kecil.
Seminar Nasiona! Pelernakan dan Veleriner 2000
00 60 00 ~,yo ~,,o ~oo ~,~o 4o 40 1'yo ~Op
Ha ri
-BC -K-F1 - - "K-F2 -K-F3
Gambar 3. Kurva Pertumbuhan Model Gompertz terhadap Bobot Badan Simulasi Domba Persilangan Barbados, Komposit Generasi Pertama (K-FI), Generasi Kedua (K-F2) dan Generasi Ketiga (K-F3)
Penggunaan model von Bertalanffy untuk estimasi umur dan bobot badan pada saat pubertas dini memiliki kecenderungan nilai dugaan dengan rentang hasil yang lebih lebar, sementara model Logistik rentang hasilnya lebih sempit. Model von Bertalanffy mendapatkan estimasi umur clan bobot badan pubertas dini pada masing-masing genotipa adalah sebagai berikut : 70 hari dengan bobot 8 kg (BC), 79 hari dengan bobot 9 kg (K-F1), 79 hari dengan bobot 10 kg (K-F2) dan 117 hari dengan bobot 11 kg (K-F3).
Hasil estimasi yang sama untuk model Logistik adalah 123 hari dengan bobot 9 kg (BC), 123 hari dengan bobot 10 kg F1), 130 hari dengan bobot 11 kg F2) clan 149 hari dengan bobot 11 kg (K-F3). Sementara nilai estimasi yang dihasilkan dari model Gompertz adalah sebagai berikut: 82 hari dengan bobot 9 kg (BC), 92 hari dengan bobot 10 kg (K-F 1), 100 hari dengan bobot 12 kg (K-F2) clan
123 hari dengan bobot 12 kg (K-F3).
Pola pertumbuhan anak domba dari masing-masing genotipa yang dianalisis dengan pola non-linear memberikan hasil bahwa model von Bertalanffy cenderung memiliki nilai estimasi bobot lahir yang mendekati hasil pengamatan di lapangan dengan diikuti bobot dewasa tubuh yang relatif tinggi dengan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bobot dewasa tubuh yang relatif lama bila dibandingkan dengan model lainnya. Sementara pada model Logistik memiliki nilai estimasi bobot lahir clan bobot dewasa tubuh yang cenderung rendah dengan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bobot dewasa tubuh yang relatif cepat. Untuk model Gompertz cenderung modest di antara dua model lainnya.
Estimasi umur clan bobot pubertas dini tampak bahwa domba komposit generasi ketiga memiliki nilai dugaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan genotipa lainnya pada semua model yang digunakan. Hal ini memberikan dugaan bahwa semakin tingginya generasi yang dihasilkan nilai estimasinya semakin besar, apakah dugaan ini berkaitan dengan semakin mantapnya darah domba introduksi yang berakibat terhadap tertundanya sifat pubertas dini yang dimiliki oleh darah domba 127
SeminarNasional Peternakandan Veteriner 2000
lokal seperti domba Sumatera Utara. Estimasi dengan model Logistik memiliki dugaan umur yang relatif tinggi bila dibandingkan dengan model lainnya dan cenderung mendekati umur kenyataan di lapangan . Sementara model Gompertz masih bersifat moderat. Sedangkan estimasi bobot pubertas dini di antara ketiga model tidakjauh berbeda dengan rentang bobot 9-11 kg.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat disampaikan bahwa sifat pertumbuhan anak pra- dan pasca sapih yang ditunjukkan dari perubahan bobot badan dari berbagai kelompok umur tidak dipengaruhi oleh genotipa maupun ,bulan/musim lahir. Sementara itu, jenis kelamin masih merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap keadaan bobot badan maupun pertumbuhan bagi anak. Namun demikian secara total bobot per induk anak kembar masih memberikan bobot produksi yang tertinggi .
Model von Bertalanfy cenderung memiliki nilai estimasi bobot lahir yang mendekati basil pengamatan di lapangan dengan diikuti bobot dewasa tubuh yang relatif tinggi dengan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bobot dewasa tubuh yang relatif lama bila dibandingkan dengan model lainnya. Estimasi umur dan bobot pubertas dini domba komposit generasi ketiga memiliki nilai dugaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan genotipa lainnya pada semua model yang digunakan . Sementara dengan model Logistik memiliki dugaan umur yang relatif tinggi dan cenderung mendekati umur kenyataan di lapangan .
DAFTAR PUSTAKA
GATENBY, R.M., E. Rowma, M. DOL OKSARIBU, L.P. BATuBARA, and G.E. BRADFORD . 1993a Long-term productivity of Sumatra thin-tail and Virgin island crossbred ewes at Sei Putih, North Sumatra SR-CRSP Working Paper No.142, Sungai Putih, Sumatra Utara
GATENBY, R.M., E. BRADFoRD, M. DOLOKSARIBU, E. RGMIAU, D. PrroNO, and H. SAKtn,. 1993b. Growth, Mortality, and Wool Cover of Sumatra Sheep and Crosses with Three Breeds of Hair Sheep. 1993. In: Mary Keane (ed.) Small Ruminant Workshop . Proc. Workshop held 7-9 September 1993 at San Juan, Puerto Rico, pp. 19-27. Small Ruminant-Collaborative Research Support Program, University of California, Davis, U.S.A.
GATENBY, R.M., G.E. BRADFORD, M. DowKsARiBU, E. RotwAU, A.D. PrroN0, and H. SAKut» 1997a. Comparison of Sumatra sheep and three hair sheep crossbreds. l. Growth, mortality and wool cover ofFI
lambs. SmallRuminant Research 25:1-7.
GATENBY, R.M., M. DoLoKsARmu, G.E. BRADFoRD, E. Rommu, A. BATuBARA, and 1. Mtttzw. 1997b. Comparison of Sumatra sheep and three hair sheep crossbreds. II. Reproductive performance ofFI ewes. Small Ruminant Research 25:161-167.
PTAK, E., BiENiEK, and W. JAGUsiAK. 1994. Comparison of growth curves of purebred and crossbred rabbits . Proc. 5th World Congress on Genetics Applied to Livestock Production, August 7-12, 1994, University of Guelph, Guelph, Ontario, Canada pp 201-204.
SAs. 1987. SAS/STAT Guidefor Personal Computers. Version 6 Edition . SAS Institute Inc., Cary, NC. SuBANDRIYO, B. SET1ADt, M. RANGKM K. Diwymm, M. Dot.=ARmu, LEo P. BATUBARA, E. RotwAu,
Smm EuAsM dan E. HANDrwmAwAN. 1998a Performa domba komposit basil persilangan antara domba lokal Sumatera dengan domba rambut generasi pertama dan kedua J. Ilmu Ternak Yet. 3(2):78-86.
Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner2000
SuBANDRIYO, B. SEnAm, E. HANDiwutAwAN, AR. SiREGAR, K. DIWYANTO, M. DOLOKSARIBu, LEo P. BATUBARA,E. Rommu,dan M. RANGKun. 1998b.Pemuliaan Domba Komposit Hasil Persilangan antam Domba Lokal Sumatera dengan Domba Rambut. Laporan. Balai Penelitian Temak,Ciawi-Bogor.
SUBANDRIYO, B. SEnADI~ E. HANDIWIRAWAN, danA SUPARYANTO . 2000. Perfonna domba komposit hasil persilangan antam domba lokal Sumatera dengan domba rmbut pada kondisi dikandangkan. J. Ilmu