• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH GAYA MENGAJAR GUIDED DISCOVERY DAN KOMANDO TERHADAP DISIPLIN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI SMAN 1 KEDOKANBUNDER INDRAMAYU.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH GAYA MENGAJAR GUIDED DISCOVERY DAN KOMANDO TERHADAP DISIPLIN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI SMAN 1 KEDOKANBUNDER INDRAMAYU."

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH GAYA MENGAJAR GUIDED DISCOVERY DAN KOMANDO TERHADAP DISIPLIN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI SMAN 1 KEDOKANBUNDER INDRAMAYU

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Pendidikan Olahraga

oleh

LUKMAN AL HAKIM, S.Pd 1102691

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA SEKOLAH PASCA SARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG

(2)

PENGARUH GAYA MENGAJAR GUIDED DISCOVERY DAN KOMANDO TERHADAP DISIPLIN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI SMAN 1 KEDOKANBUNDER INDRAMAYU

Oleh

Lukman Al Hakim, S.Pd

Sebuah tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister pada Sekolah Pascasarjana Prodi Pendidikan Olahraga

© Lukman Al Hakim, S.Pd

Universitas Pendidikan Indonesia

Februari 2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Tesis ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian,

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

TESIS

LUKMAN AL HAKIM, S.Pd 1102691

PENGARUH GAYA MENGAJAR GUIDED DISCOVERY DAN KOMANDO TERHADAP DISIPLIN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN

JASMANI DI SMAN 1 KEDOKANBUNDER INDRAMAYU

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH:

Pembimbing I

Dr. H. Yudha M. Saputra, M. Ed NIP. 196303121989011002

Pembimbing II

Dr. Herman Subarjah, M.Si NIP. 196009181986031003

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga

(4)

ABSTRAK

PENGARUH GAYA MENGAJAR GUIDED DISCOVERY DAN KOMANDO TERHADAP DISIPLIN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN

JASMANI DI SMAN 1 KEDOKANBUNDER INDRAMAYU

Kedisiplinan merupakan komponen sekolah yang erat hubungaannya dengan kerajinan siswa dalam aktivitas penjas di sekolah. Dalam proses pembelajaran penjas hampir seluruh guru memakai gaya mengajar komando, penelitian ini menggunakan gaya mengajar penemuan terbimbing atau guided discovery untuk mengetahui tingkat disiplin siswa.

Tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan disiplin siswa antara sebelum dan sesudah mendapatkan gaya mengajar guided discovery. 2. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan disiplin siswa antara sebelum dan sesudah mendapatkan gaya mengajar komando. 3. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan disiplin siswa antara yang memperoleh gaya mengajar Guided Discovery dan gaya mengajar komando di SMAN 1 Kedokanbunder Indramayu.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode eksperimen. Populasi yang ditentukan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kedokanbunder Indramayu sebanyak 54 orang yang hanya terdiri dari 2 kelas. Didalam pemelitian ini peneliti menggunakan sampel purposive, sehingga sampel yang diambil dari kedua kelas tersebut yang menjadi kelas eksperimen dalam penelitian ini adalah kelas XI IPS terdiri dari 27 orang dan kelas XI IPA terdiri dari 27 orang sebagai kelas kontrol.

(5)

ABSTRACT

THE INFLUENCE OF GUIDED DISCOVERY TEACHING STYLE AND

COMMAND STYLE TOWARD STUDENTS’ DISCIPLINE IN SPORT

EDUCATION AT SENIOR HIGH SCHOOL 1 KEDOKANBUNDER INDRAMAYU

Discipline is one of the school components which has a strong relationship

with students’ diligent on the physical activity at school. Almost all teachers use the

commanded teaching style on the learning process of physical education, this

research uses guided discovery to know the level of students’ discipline.

The purposes of this research are: 1. To know whether there is any differences

on students’ discipline by guided discovery teaching method. 2. To know whether

there is any differences on students’ discipline commanded teaching style. 3. To know whether there is any differences on students’ who are taught by discovery teaching

style and commanded teaching style to the students’ discipline.

The method used in this research is experimental method. The population are 54 students of grade XI in SMA Negeri 1 Kedokanbunder Indramayu which are taken from two classes. In this research, the researcher uses the purposive sample, so that the sample which are taken from the two classes become the experimental class, grade XI IPS which consists of 27 students, and class control, grade XI IPA which consist of 27 students.

The result of this research uses the calculation of hypothesis examination using t-test. Based on the result, the t score of experimental class is 7,5373 and t score of class control is 2,0555 and t score of the differences in the influence between the experimental class and class control is 2,5361 with the t table score is 2,0066. Thus it can be concluded that the experimental class has a bigger influence to the

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ………. i

PERNYATAAN ………. ... ii

ABSTRAK ... iii

ABSTRACT ... iv

KATA PENGANTAR ... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian... 6

E. Struktur Organisasi Tesis ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Kajian Pustaka ... 9

1. Sikap Disiplin Siswa ... 9

a. Pengertian... ... 9

b. Teknik Penanaman Disiplin... 12

(7)

e. Teori Kedisiplinan Siswa ... ... 19

2. Hakikat Belajar dan Pembelajaran ... 21

a. Belajar ... ... 21

b. Pembelajaran ... 24

3. Pendidikan Jasmani ... 27

a. Pengertian ... ... 27

b. Kompetensi Guru Pendidikan Jasmani ... 28

4. Gaya Mengajar Pendidikan Jasmani ... 35

5. Gaya Mengajar Komando ... 39

a. Anatomi Gaya ... ... 39

b. Sasaran Gaya ... 39

c. Menyusun Pembelajaran Dengan Gaya Mengajar Komando ... 39

d. Implikasi Penggunaan Gaya Mengajar Komando ... 40

e. Unsur-Unsur Khas Dalam Pembelajaran Dengan Menggunakan Gaya Mengajar Komando ... 40

f. Saluran-Saluran Pengembangan ... ... 40

6. Gaya Mengajar Guided Discovery/ Penemuan Terbimbing ... 40

a. Sasaran ... ... 41

b. Anatomi Gaya Mengajar Guided Discovery ... 41

c. Penerapan Gaya Mengajar Guided Discovery ... ... 42

d. Implikasi Gaya Mengajar Guided Discovery ... 43

e. Pokok Bahasan ... ... 43

7. Perbedaan Gaya Mengajar Komando dan Guided Discovery ... 44

B. Kerangaka Pemikiran ... 45

1. Pengaruh Gaya Komando Terhadap Kedisiplinan Siswa ... 45

2. Pengaruh Gaya Guided Discovery Terhadap Kedisiplinan Siswa ... 47

(8)

BAB III METODE PENELITIAN

A. Lokasi subjek Populasi dan Sampel Penelitian ... 49

1. Lokasi Subyek Peneitian ... ... 49

2. Populasi ... ... 51

3. Sampel... ... 51

B. Desain Penelitian ... ... 52

C. Metode Penelitian ... 52

D. Definisi Operasional ... 53

E. Instrumen Penelitian ... 53

F. Proses Pengembangan Instrumen ... 56

a. Menghitung Validitas Instrumen ... 56

b. Hasil Uji Validitas Instrumen ... 57

c. Menghitung Reliabilitas Instrumen ... …... 58

d. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen ... …... 59

G. Teknik Pengumpulan Data ... 59

H. Teknik Analisis Data ... 60

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 63

1. Hasil Perhitungan Nilai Rata-rata, Simpangan Baku, dan Varians ... 63

2. Uji Normalitas ... 63

3. Uji Homogenitas ... 64

4. Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian ... 64

B. Diskusi Penemuan ... 66

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan ... 69

(9)

DAFTAR PUSTAKA ... 71

LAMPIRAN ... 74

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1. Karakteristik Gaya Mengajar ……… 38

2.2. Skenario Proses Belajar Mengajar Gaya Mengajr Komando dan Gaya Mengajar Guided Discovery ………. 44

3.1. Program Treatment Gaya Mengajar Komando ………. 49

3.2. Program Treatment Gaya Mengajr Guided Discovery ………... 50

3.3. Kisi-Kisi Instrumen Kedisiplinan Siswa ... 55

3.4. Hasil Uji Validitas Instrumen ………... 57

3.5. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen ……… 59

4.1. Hasil Penghitungan Nilai Rata-rata, Simpangan Baku dan Varians ... 63

4.2. Perhitungan Uji Normalitas Liliefors ... 64

4.3. Perhitungan Uji Homogenitas ... 64

4.4. Penghitungan Uji Signifikansi Hipotesis Penelitian Satu Sampel ... 64

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Instrumen Uji Coba Penelitian ... 75

2. Skenario Gaya Mengajar Komando dan Gaya Mengajar Pene- muan Terbimbing/ Guided Discovery ……….. 78

3. Data Uji Coba Angket Kedisiplinan Siswa ………... 111

4. Perhitungan Validitas Uji Coba Item Tes Penelitian ……… 112

5. Perhitungan Reliabilitas Uji Coba Tes Penelitian ………. 113

6. Nilai –Nilai r Tabel ……….. 115

7. Instrumen Penelitian ... 116

8. Daftar Nama Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 118

9. Skor Hasil Tes Akhir Pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 120 10. Gain Skor Kelas Eksperimen Dan Kelas Kontrol ………. 124

11. Perhitungan Rata-Rata ,Simpangan Baku dan Varians ... 126

12. Perhitungan Uji Normalitas ... 127

13. Nilai Z tabel ………... 129

14. Tabel Nilai Kritis L Untuk Uji Liliefors ………... 131

15. Perhitungan Uji Homogenitas ... 132

16. Nilai F tabel ………... 133

17. Perhitungan Uji t Satu Sampel ... 134

18. Perhitungan Perbedaan Uji t Kelas Eksperimen dan Kelas Kon- trol ………. 136

19. Nilai t tabel ……… 137

20. Artikel Penelitian ... 139

21. Surat Keputusan Pembimbing Penulisan Tesis ………. 149

22. Surat Izin Melakukan Studi Lapangan/ Observasi ……….... 151

(13)

24. Surat Hasil Ujian Komprehensif ………... 153

25. Surat Hasil Tes Toefl ………... 154

26. Sertifikat Sebagai Pemakalah ……… 155

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah mempunyai kedudukan yang strategis dalam kerangka pendidikan secara keseluruhan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam dokumen kurikulum KTSP (2009:648) sebagai berikut:

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Penjelasan di atas mengisyaratkan bahwa pendidikan jasmani mempunyai peran yang cukup besar terhadap berbagai aspek pengembangan sumber daya manusia baik secara fisik, psikis maupun sosial. Pendidikan jasmani tidak hanya memberikan kontribusi terhadap kebugaran jasmani dan keterampilan gerak, tetapi mencakup pula keterampilan sosial, nalar, moral dan stabilitas emosional.

Dalam dokumen KTSP (2009:649) dijelaskaan pula bahwa tujuan mata pelajaran pendidikan jasmani yang diantaranya sebagai berikut: “1) Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, 2) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis.” Hal ini mempertegas pula bahwa pendidikan

jasmani tidak hanya menekankan pada aspek kognitif dan psikomotor saja melainkan mencakup pula pada aspek afektif seperti meningkatkan sikap disiplin dan tanggung jawab siswa sebagai tujuan pendidikannya.

(15)

2

45 menit setiap pertemuannya. Tujuan yang diharapkan dari proses pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah yaitu mengembangkan potensi dan kemampuan individu baik secara kognitif, psikomotorik, afektif maupun sosial.

Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani dominan berupa kegiatan praktek di lapangan, sehingga interaksi belajar - mengajar antara siswa dengan guru lebih aktif dan komunikatif. Hal ini memberikan peluang terjadinya transformasi pengetahuan, keterampilan dan sikap dari guru kepada siswa dalam situasi yang cenderung tidak formal, sehingga ada kerelaan dari siswa untuk

belajar.

Dalam prakteknya di lapangan, seorang guru pendidikan jasmani dapat menggunakan berbagai macam gaya dan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi pembelajaran. Berdasarkan pra survey dan pengalaman di lapangan guru pendidikan jasmani yang cenderung memiliki karakter otoriter sehingga kebanyakan guru penjas menggunakan gaya mengajar komando dan mungkin karena gaya mengajar komando ini merupakan gaya mengajar yang paling sering dipergunakan oleh semua guru penjas. Kemudian, seorang guru sering kali mengabaikan kedisiplinan siswa, padahal hampir sudah biasa guru penjas menghadapi siswa yang kurang disiplin seperti yang dikatakan oleh

Suherman (2009:71) “… kurangnya perhatian siswa terhadap penjelasan guru: siswa sering sibuk dengan urusannya masing-masing, tidak mengikuti pentunjuk

guru, tidak mendengarkan guru, melalaikan perintah guru, tidak mau belajar, dsb.”

Keadaan tersebut pasti tidak diinginkan oleh seorang guru, guru pasti merasa jengkel atas perilaku siswa tersebut dan sering kali para guru memberikan usaha-usaha yang dapat menghentikan kreativitas siswa seperti memberikan hukuman kepada siswa dalam batas yang tidak wajar, seperti misalakan anak disuruh melakukan push up sebanyak seratus kali. Dengan siswa menjalankan hukuman yang guru berikan mungkin saja anak terlihat taat, patuh, dan mungkin terlihat disiplin karena mengikuti apa yang guru berikan. Padahal, dibalik itu semua mungkin siswa hanya merasa takut hingga perilakunya terlihat seperti disiplin.

(16)

3

kedisiplinan siswa ini bisa bersifat sementara. Ini sesuai dengan karakteristik gaya komando. Gaya Komando adalah untuk mempelajari cara mengerjakan tugas dengan benar dan dalam waktu yang singkat, mengikuti semua keputusan yang dibuat oleh guru. Dalam gaya ini semua aktivitas pembelajaran, keterlaksanaannya hanya dan sangat tergantung pada guru. Dapat dikatakan peserta didik ’akan bergerak’ hanya bila gurunya memerintahkannya untuk bergerak. Situasi demikian menyebabkan peserta didik pasif dan tidak diperkenankan berinisiatif. Akibatnya peserta didik tidak mampu

mengembangkan kreativitas, khususnya kreativitas dalam bergerak. Hakikat : respon langsung terhadap stimulus. Penampilan harus akurat dan cepat. Model sebelumnya direplikasi. Jadi dalam penggunaan gaya ini guru sebagai center atau sebagai pengambil keputusan dari setiap keputusan yang diambil.

Gaya mengajar menurut Muska Mosston menggambarkan bahwa setiap gaya mengajar terdapat tujuan dan hakikat yang mendasarinya. Hakikat setiap gaya mengidentifikasikan bahwa penerapan pada gaya yang diberikan sangatlah fleksibel terhadap rintangan yang harus dilalui oleh setiap gaya. Hakikat tersebut memberikan gambaran yang jelas pada setiap gaya. Pengurangan yang terjadi akan menghilangkan pelaksanaan gaya tersebut yang pada akhirnya mempengaruhi pencapaian tujuan. Selain itu, perilaku waspada, yaitu perilaku yang wajar pada setiap struktur gaya akan menjamin pencapaian tujuan kegiatan belajar mengajar. Ketika guru menjadi ahli menggunakan setiap gaya tersebut, dia akan lebih fleksibel dan mampu mengubah gaya tersebut, sehingga mencapai lebih banyak tujuan dan mendapatkan lebih banyak siswa yang berhasil. Sebelas gaya mengajar Pendidikan Jasmani menurut Muska Mosston (Rizkian: 2011) :

1. Gaya Komando (Command). 2. Gaya Latihan (Practice).

3. Gaya Timbal Balik (Resiprocal). 4. Gaya Evaluasi Diri (Shelfcheck). 5. Gaya Inklusi (Inclusion).

6. Gaya Penemuan Terpandu (Guided Discovery). 7. Gaya Penemuan Konvergen.

(17)

4

10. Gaya Inisiasi Siswa.

11. Gaya Melatih Diri (Shelf Teaching).

Domain afektif sebagai salah satu aspek yang harus dikembangkan dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani sangat ditentukan oleh seberapa besar nilai-nilai yang mampu ditransformasikan oleh guru dalam materi-materi pembelajaran dapat diterima dan dipahami oleh siswa, sehingga siswa dapat mengimplementasikannya dalam aktivitas belajar sehari-hari di sekolah. Dengan guru memberikan kepercayaan kepada siswa untuk menyelesaikan masalah pembelajarnnya dan guru tidak mengambil semua keputusan, mungkkin siswa akan memiliki kedisplinan yang akan bertahan lama atau permanen karena siswa tidak mendapat tekanan dari guru.

Berdasarkan macam-macam gaya mengajar yang telah dipaparkan di atas, peneliti akan menggunakan gaya penemuan terpimpin (Guided Discovery). Gaya penemuan terpimpin (Guided Discovery) adalah gaya yang disusun sedemikian

rupa, sehingga guru harus menyusun serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang menuntut adanya serangkaian jawaban-jawaban yang telah ditentukan sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun guru ini hanya ada satu yang jawaban saja yang dianggap benar. Rangkaian pertanyaan-petanyaan tersebut harus menghasilkan serangkaian jawaban-jawaban yang mengarah kepada penemuan konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau gagasan-gagasan. Jadi dalam gaya penemuan terpimpin siswa diberikan kebebasan untuk menyelesaikan pertanyaan yang diberikan oleh guru jadi daya kreatifitas siswa tidak akan hilang jadi secara tidak sadar siswa mendapatkan kedisiplinan belajar tanpa ada paksaan dari guru. Jadi, sikap disiplin yang lahir karena adanya kesadaran tanpa perlu adanya paksaan akan lebih bertahan lama dan permanen melekat dalam diri siswa. Berbeda jika sikap disiplin ini akibat dari adanya tekanan dan pengawasan dari guru.

Berkaitan dengan kedisiplinan, Mas’udi (2000:88) menjelaskan:

(18)

5

mematuhi ketentuan dan perintah. Jadi arti disiplin secara lengkap adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapa pun.

Hudani (2011:1) dalam www.id.shvoong.com menjelaskan: “Ada 4 hal yang dapat mempengaruhi dan membentuk disiplin (individu) yaitu: 1) mengikuti dan menaati aturan, 2) kesadaran diri, 3) alat pendidikan, 4) hukuman.”

Berdasarkan pengertian disiplin di atas merangkan bahwa disiplin itu

harus didasari oleh kesadaran diri bukan berdasarkan paksaan dari siapapun. Ini sesuai dengan teori disiplin dari Hellison karena untuk membantu siswa bertanggung jawab secara pribadi yang seperti di terangkan oleh Suherman

(2009:91). “Oleh karena itu pada dasarnya model Hellison ini dibuat untuk membantu siswa mengerti dan berlatih rasa tanggung jawab pribadi (self-responsibility).

Kedisiplinan siswa dalam konteks kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani di lapangan cenderung dapat diamati dan terkontrol. Penjas merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan. Tetapi apakah penjas memberikan sikap atau perilaku disiplin kepada siswa untuk melakukan suatu tugas belajar dengan tertib dan bertanggung jawab?. Pertanyaan tersebut merupakan hal yang belum terungkap secara jelas dan nyata, sehingga membutuhkan pembuktian melalui penelitian. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh gaya mengajar terhadap kedisiplinan siswa di sekolah.

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Suatu masalah perlu di identifikasi dan dirumuskan dengan tujuan agar permasalahan penelitian tidak menimbulkan keraguan atau tafsir yang berbeda.

(19)

6

hanya merasa takut hingga perilakunya terlihat seperti disiplin dikarenakan adanya pengawas dari guru. Berbeda dengan gaya mengajar guided discovery siswa diberi kebebasan untuk menyelesaikan masalah yang diberikan guru sehingga kedisiplinan yang timbul atas kesadaran diri dari siswa, disiplin yang lahir karena adanya kesadaran tanpa perlu adanya pengawasan akan lebih bertahan lama dan permanen melekat dalam diri siswa. Oleh karena itu permasalahan dalam penelitian ini dapat diidentifikasi, sebagai berikut:

1. Gaya mengajar dalam penelitian ini adalah gaya mengajar komando yang

berpusat pada guru sebagai pemecah masalah dan gaya mengajar guided discovery yang berpusat pada siswa sebagai pemecah masalah.

2. Kurangnya data penelitian dari dampak yang dihasilkan gaya mengajar terhadap peningkatan disiplin siswa.

3. Mengidentifikasi dampak yang dihasilkan dari penerapan pembelajaran gaya mengajar komando dan gaya mengajar guided discovery.

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah tersebut di atas, maka masalah penelitian yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah terdapat perbedaan disiplin siswa antara sebelum dan sesudah mendapatkan gaya mengajar Guided Discovery ?

2. Apakah terdapat perbedaan disiplin siswa antara sebelum dan sesudah mendapatkan gaya mengajar Komando ?

3. Apakah terdapat perbedaan disiplin siswa antara yang memperoleh gaya mengajar Guided Discovery dan gaya mengajar komando di SMAN 1 Kedokanbunder Indramayu?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(20)

7

2. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan disiplin siswa antara sebelum dan sesudah mendapatkan gaya mengajar Komando.

3. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan disiplin siswa antara yang memperoleh gaya mengajar Guided Discovery dan gaya mengajar komando di SMAN 1 Kedokanbunder Indramayu.

D. Manfaat Penelitian

Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai

berikut:

1. Secara teoretis dapat dijadikan sebagai berikut :

a. Bagi lembaga / institusi pendidikan dapat dijadikan informasi keilmuan mengenai keterkaitan antara gaya mengajar dengan peningkatan sikap disiplin siswa dalam proses pembelajaran, khususnya pembelajaran pendidikan jasmani.

b. Bagi guru dapat dijadikan acuan teori dalam implementasi pendekatan belajar siswa pada pembelajaran pendidikan jasmani serta dapat dijadikan acuan dalam melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut.

2. Secara praktis dapat dijadikan sebagai berikut :

a. Bagi lembaga / institusi pendidikan dapat dijadikan model pembelajaran mengenai gaya mengajar untuk meningkatkan sikap disiplin siswa dalam proses pembelajaran, khususnya pembelajaran pendidikan jasmani

b. Bagi guru dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah khususnya dalam rangka meningkatkan aspek afektif yaitu kedisiplinan siswa melalui pendekatan gaya mengajar.

E. Struktur Organisasi Tesis

(21)

8

dan teoritis, dan struktur organisasi penulisan disajikan dari setiap bab dan bagian bab dalam tesis mulai dari Bab I hingga Bab terakhir.

Bab II membahas kajian pustaka, kerangka pemikiran, dan hipotesis penelitian. Pada bab ini dijelaskan tentang kajian pustaka yang mempunyai peran yang sangat penting dan melalui kajian pustaka yang sedang dikaji dan kedudukan masalah penelitian dalam bidang ilmu yang diteliti, kerangka pemikiran merupakan tahapan yang harus ditempuh untuk merumuskan hipotesis, dan hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang

telah dirumuskan.

Bab III membahas metodologi penelitian. Pada bab ini dijelaskan tentang populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini, desain penelitian yang digunakan, metode penelitian yang digunakan, definisi operasional, instrumen penelitian yang berawal dari kisi-kisi yang telah dipaparkan, proses pengembangan instrumen menerangkan tentang validitas dan reliabilitas instrumen, teknik pengumpulan data yang digunakan, dan analisis data pada penelitian ini.

Bab IV membahas penelitian dan pembahasan. Pada bab ini dijelaskan tentang hasil penelitian dengan menggunakan pengolahan dan analisis data untuk menghasilkan temuan yang berkaitan dengan masalah penelitian, pertanyaan penelitian, hipotesis dan tujuan penelitian dan pembahasan yang menjelaskan data cocok dengan hipotesis awal atau bagaimana menjawab pertanyaan penelitian, membuat kesimpulan dan membahas atau mendiskusikan data dengan menghubungkannya dengan teori dan implikasi hasil penelitian.

(22)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Subjek Populasi dan Sampel Penelitian

1. Lokasi Subyek Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini adalah SMA Negeri 1 Kedokanbunder Indramayu Jalan Raya Cangkingan Kecamatan Kedokanbunder Kabupaten Indramayu. Sedangkan penelitian dilaksanakan selama setengah semester selama tiga bulan lebih mulai dari pertengahan bulan Agustus sampai awal bulan November 2013, dengan frekuensi pertemuan satu kali dalam seminggu jadi total treatment 12 kali dengan waktu 2 x 45 menit (90 menit) setiap pertemuannya. Berikut program pelaksanaan treatment gaya mengajar komando dan gaya

mengajar guide discovery.

Tabel 3.1.

Program Treatment Gaya Mengajar Komando

Program Materi Pembelajaran/ Treatment

Gaya Mengajar Komando Waktu Tempat

1 Permainan sepak bola pertemuan ke 1 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 2 Permainan sepak bola pertemuan

ke 2 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 3 Permainan sepak bola pertemuan

ke 3 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 4 Permainan sepak bola pertemuan

ke 4 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 5 Permainan bola voli pertemuan ke

1 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 6 Permainan bola voli pertemuan ke

2 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 7 Permainan bola voli pertemuan ke

3 untuk melihat skenario dapat

Kamis, 3 Oktober 2013: 07.00-08.30

(23)

50

dilihat dilampiran 2 (90 menit) Indramayu 8 Permainan bola voli pertemuan ke

4 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 9 Permainan bola basket pertemuan

ke 1 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 10 Permainan bola basket pertemuan

ke 1 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 11 Permainan bola basket pertemuan

ke 1 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 12 1.Permainan bola basket

pertemuan ke 1 untuk melihat skenario dapat dilihat

Program Treatment Gaya Mengajar Guided Discovery

Program

Materi Pembelajaran/ Treatment Gaya Mengajar Guided

Discovery

Hari/ jam Tempat

1 Permainan sepak bola pertemuan ke 1 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 2 Permainan sepak bola pertemuan

ke 2 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 3 Permainan sepak bola pertemuan

ke 3 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 4 Permainan sepak bola pertemuan

ke 4 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 5 Permainan bola voli pertemuan ke

1 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 6 Permainan bola voli pertemuan ke

2 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 7 Permainan bola voli pertemuan ke

3 untuk melihat skenario dapat

Kamis, 3 Oktober 2013: 08.30-10.00

(24)

51

dilihat dilampiran 2 (90 menit) Indramayu 8 Permainan bola voli pertemuan ke

4 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 9 Permainan bola basket pertemuan

ke 1 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 10 Permainan bola basket pertemuan

ke 1 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 11 Permainan bola basket pertemuan

ke 1 untuk melihat skenario dapat dilihat dilampiran 2 12 1.Permainan bola basket

pertemuan ke 1 untuk melihat skenario dapat dilihat

Arikunto (2006:130) menjelaskan, “Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian.” Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan keseluruhan subyek penelitian tempat diperolehnya informasi yang dapat berupa individu maupun kelompok. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kedokanbunder Indramayu sebanyak 54 orang yang hanya terdiri dari 2 kelas.

3. Sampel

(25)

52

B. Desain Penelitian

Desain penelitian menggunakan desain penelitian menggunakan desain Nonequivalent Control Group. Prosedur desain penelitian Nonequivalent Control Group Darmadi (2011: 202) menerangkan:

“Desain pretest-posttest yang tidak equivalent biasanya dipakai pada eksperimen yang menggunakan kelas-kelas yang sudah ada sebagai kelompoknya. Tentu saja disini peneliti memilih kelas-kelas yang diperkirakan sama kondisinya… Dua kelompok ”

Untuk gambar desainya sebagai berikut :

O1 X1 O2 O3 X2 O4

Gambar 3.1

Nonequivalent Control Group Keterangan :

X1 = Treatment (Pembelajaran Penjas Gaya mengajar Guide Discovery)

X2 = Treatment (Pembelajaran Penjas Gaya mengajar Komando) O1 = Pretest eksperimen

O2 = Postest eksperimen O3 = Pretest kontrol O4 = Postest control

C. Metode Penelitian

(26)

53

penelitian yang berusaha mencari pengaruh varibel tertentu terhadap variabel yang lain dalam situasi yang terkontrol secara ketat.”

Didalam penelitian ini peneliti menggunakan perlakuan (treatment) dengan memberikan proses pemebelajaran penjas gaya mengajar guide discovery terhadap kelas eksperimen dan gaya mengajar komando pada kelas kontrol. Pemilihan kedua subjek tersebut menggunakan teknik Purposive Sampling.

D. Definisi Operasional

1. Sagala (2012:61) menyatakan, “Pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan.

2. Lutan (2000:15) menyatakan, “Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan melalui aktivitas jasmani. Tujuan yang ingin dicapai bersifat menyeluruh,

mencakup domain psikomotor, kognitif, dan afektif.”

3. Disiplin menurut Mas’udi (2000:88) menjelaskan arti disiplin bila dilihat dari segi bahasanya adalah latihan ingatan dan watak untuk menciptakan pengawasan (kontrol diri), atau kebiasaan mematuhi ketentuan dan perintah. Jadi arti disiplin secara lengkap adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapa pun.”

4. Teori kedisiplinan Hellison, pada dasarnya model Hellison ini dibuat untuk membantu siswa mengerti dan berlatih rasa tanggung jawab pribadi (self-responsibility). Rasa tanggung jawab pribadi yang dikembangkan dalam model ini terdiri dari lima tingkatan, yaitu level 0 adalah Irresponsibility, level 1 adalah Self-Control, level 2 adalah Involvement, level 3 adalah Self-Responbility, dan level 4 adalah Caring.

E. Instrumen Penelitian

(27)

54

(2006:126) menjelaskan, “Instrumen adalah alat pada waktu peneliti menggunakan sesuatu metode.” Selanjutnya Nurhasan (2001:1) menjelaskan mengenai tes dan pengukuran yaitu: “Suatu alat yang digunakan dalam memperoleh data dari suatu obyek yang akan diukur, sedangkan pengukuran merupakan suatu proses untuk memperoleh data.”

Angket digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang responden ketahui. Sehubungan dengan angket atau kuesioner dijelaskan oleh Arikunto (2006:225) bahwa, “Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui”.

Data yang terkumpul dari angket berupa angka-angka yang dapat menunjukan tentang seberapa besar tingkat kedisiplinan siswa. Angket dalam

penelitian ini terdiri dari tiga komponen atau variabel yang dijabarkan melalui komponen, sub komponen dan indikator-indikator. Butir-butir pertanyaan atau pernyataan itu merupakan gambaran mengenai kedisiplinan siswa. Bentuk angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup.

Untuk memudahkan dalam penyusunan butir-butir pertanyaan atau pernyataan angket serta alternatif jawaban yang tersedia, maka responden hanya diperkenankan untuk menjawab salah satu alternatif jawaban. Jawaban yang dikemukakan oleh responden didasarkan pada pendapatnya sendiri atau suatu hal yang dialaminya.

Didalam angket ini menggunakan skala Likert. Riduwan (2011: 87) menyatakan:

“Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorng atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Dalam penelitian gejala sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya sebagai variabel penelitian”.

(28)

55

Pernyataan Positif Pernyataan Negatif Sangat Setuju

Kisi-Kisi Instrumen Kedisiplinan Siswa

No

Pada level ini anak tidak mampu bertanggung jawab atas perilaku yang diperbuatnya dan biasanya anak tersebut suka mengganggu orang lain dengan mengejek, menekan orang lain, dan mengganggu orang lain secara fisik.

1,3,5,7 2,4,6,8 8

2. Level 1 : Self-Control

Pada level ini anak terlibat dalam aktivitas belajar tetapi sangat minim sekali. Anak didik akan melakukan apa-apa yang disuruh guru tanpa mengganggu yang lain. Anak didik nampak hanya melakukan aktivitas

Anak didik pada level ini secara aktif terlibat dalam belajar. Mereka bekerja keras

menghindari bentrokan dengan orang lain, dan secara sadar tertarik untuk belajar dan untuk meningkatkan kemampuannya.

17,19, 21,23

18,20,

(29)

56

4. Level 3 : Self-responsibility

Pada level ini anak didik didorong untuk mulai

bertanggung jawab atas aktivitas belajarnya. Ini mengandung arti bahwa siswa belajar tanpa hams diawasi langsung oleh gurunya dan siswa mampu membuat keputusan secara independen tentang apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Pada level ini siswa sering disuruh membuat permainan atau urutan gerakan bersama temannya dalam suatu kelompok kecil. Kegiatan seperti ini sangat sulit dilakukan oleh siswa pada level

sebelumnya. Mereka biasanya hanya bekerja sama dengan temannya, tetapi mereka tertarik ingin mendorong dan

membantu temannya belajar. Anak didik pada level ini akan sadar dengan sendirinya menjadi sukarelawan

(volunteer) misalnya menjadi partner teman yang tidak terkenal di kelas itu, tanpa harus disuruh oleh gurunya untuk melakukan itu.

F. Proses Pengembangan Instrumen

a. Menghitung Validitas Instrumen

Perhitungan validitas instrumen dengan menggunkan rumus Pearson Product Moment sebagai berikut:

r =

(30)

57

Dimana:

r = koefisien korelasi ƩXi = jumlah skor item

ƩYi = jumlah skor total (seluruh item) n = jumlah responden

Kemudian dilanjutkan dengan uji t dengan rumus sebagai berikut:

t = √ √ Dimana:

t = nilai t hitung

r = koefisien korelasi hasil r hitung

n = jumlah responden

Untuk mengetahui tiap item tes tersebut valid atau tidak valid dengan membandingakan hasil perhitungan thitung dengan ttabel.

b. Hasil Uji Validitas Instrumen

Hasil perbandingan thitung dengan ttabel. Dengan signifikansi untuk α = 0,05

dengan dk = n – 2, dk = 50 – 2 = 48 dan nilai ttabel = 0,2787 dan untuk melihat

nilai-nilai ttable dapat dilihat dilampiran 19. Berikut kaidah keputusannya jika

thitung > dari nilai ttabel berarti valid dan jika thitung < dari ttabel berarti tidak valid.

Berikut tabel hasil dari uji validitas instrumen yang telah dilakukan dan untuk perhitungan hasilnya dapat dilihat dilampiran 4 dengan menggunakan microsoft excel:

Tabel 3.4.

Hasil Uji Validitas Instrumen

Nomor t hitung t table Keterangan

1 12,0024 1,6772 Valid

2 13,7499 1,6772 Valid

3 10,0267 1,6772 Valid

4 0,3821 1,6772 Tidak Valid

5 11,5549 1,6772 Valid

6 0,3866 1,6772 Tidak Valid

7 18,1020 1,6772 Valid

(31)

58

Berdasarkan hasil perhitung diatas sebanyak 27 item butir tes dinyatakan valid, maka item tes tersebut digunakan sebagai instrumen penelitian.

c. Menghitung Reliabilitas Instrumen

(32)

59

Keterangan:

r11 = Nilai reliabilitas

ƩSi = Jumlah varians skor tiap-tiap item

St = Varians total

k = Jumlah item

d. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen

Berdasarkan hasil perhitungan validitas diatas sebanyak 27 item dinyatakan valid dan kemudian dihitung nilai reliabilitasnya dengan menggunakan microsoft excel untuk melihat hasilnya dapat dilihat dilampiran 5. Berikut tabel hasil dari uji reliabilitas instrumen yang telah dilakukan :

Tabel 3.5.

Hasil Uji Reliabiltas Instrumen

r11 N of Items

0,9765 27

Berdasarkan hasil tabel diatas terlihat nilai r11 0.9765 kemduain

dibandingkan dengan rtabel dk = n – 1= 50 – 1 = 49 dengan taraf signifikansi 0,05

maka rtabel sebesar 0,2759. Berikut kaidah keputusannya jika rhitung > dari nilai rtabel

berarti reliabel dan jika rhitung < dari rtabel berarti tidak reliabel. Dikarenakan rhitung

> rtabel atau 0,9765 > 0,2759 maka instrument ini reliabel.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang diperlukan disini adalah teknik pengumpulan data yang paling tepat, sehingga benar-benar di dapat data valid dan relevan. Teknik yang diterapkan dakam mengumpulkan data dalam penelitian ini dengan cara-cara sebagai berikut:

a. Pembuatan rancangan penelitian.

Langkah- langkah dalam tahap ini yaitu memilih masalah, pendahuluan, perumusan masalah, perumusan anggapan dasar, menentukan variabel dan

(33)

60

b. Pelaksanaan penelitian

Dalam tahap ini yaitu menentukan dan menyusun instrumen, pengumpulan data, analisis data dan menarik kesimpulan

c. Pembuatan laporan penelitian

Pada tahap ini peneliti menulis laporan sesuai dengan data yang telah didapatkan selama proses penelitian.

H. Teknik Analisis Data

a. Teknik Pengolahan Data

Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis secara kuantitatif melalui perhitungan statistik. Namun untuk menambah pemahaman maka penelitian ini dilengkapi dengan paparan data secara kualitatif, yaitu data bentuk pemaparan atau uraian deskriptif analisis. Langkah-langkah dalam menganalisis

data penelitian ini adalah sebagai berikut :

a) Menguji butir item instrumen penelitian yang akan digunakan.

b) Menjumlahkan hasil penskoran posttest terhadap subjek penelitian yang dilakukan setelah selesai diberikan treatment.

c) Membuat perhitungan statistik dari data yang telah diperoleh pada posttest. b. Pengolahan data hasil penelitian

Adapun langkah-langkah dalam pengolahan dan analisa data tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

a) Mencari nilai rata-rata dari masing-masing variabel penelitian dengan rumus :

̅

=

Keterangan :

̅

= Skor rata-rata yang dicari/ mean = Jumlah dari Xi

Xi = Skor mentah n = Jumlah sampel

(34)

61

̅

keterangan :

S = Simpangan baku yang dicari Xi = Skor mentah

X = Rata-rata dari skor mentah n = Jumlah sampel

c) Menguji normalitas data dari setiap data, untuk mengetahui apakah data tersebut berdistribusi normal atau baik. Rumus yang digunakan adalah dengan uji statitiska non parametik yang dikenal dengan “Uji Liliefors.” Untuk menguji hipotesis nol ditempuh dengan prosedur sebagai berikut:

i.

Pengamatan Xi X2……… Xn dijadikan bilangan baku. Z1, Z2,

……….Zn dengan mengunakan rumus :

ii. (X dan Z masing-masing merupakan rata-rata dari simpangan baku)

iii.Untuk setiap bilangan baku ini digunakna daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F(Zi)=P(Z<Zi)

iv.Menghitung proporsi Z1, Z2, ………Zn yang lebih kecil atau sama

dengan Z1. Jika proporsi ini dinyatakan dengan rumus:

v.Menghitung selisih F(Zi)=P(Z<Zi)

vi.Ambil harga yang paling besar antara harga-harga mutlak selisih tersebut, sebutlah harga selisih itu α untuk menerima dan menolak hipotesis nol maka Lo dibandingkan dengan nilai kritis L yang diambil dari Uji Liliefors dengan taraf nyata 0.05 kriterianya adalah ditolak hipotesis nol bila populasi berdistribusi normal jika Lo yang diperoleh dari perhitungan lebih besar dari L tabel, dalam hal ini hipotesis diterima.

d) Menguji homogenitas. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

F =

(35)

62

Kriteria pengujian adalah: terima hipotesis jika hitung lebih kecil dari F-tabel distribusi dengan derajat kebebasan df1= n-1 dan df2 = n – 1 dengan taraf nyata (α) = 0,05.

e) Pengujian hipotesis kedisiplinan siswa, menggunakan uji t rumus sebagai berikut:

i. Langkah kedua menghitung signifikansi nilai t hitung menggunakan rumus:

t = ̅ √

Arti dari tanda-tanda dalam rumus tersebut adalah: t = nilai t hitung

̅ = rata-rata yang diperoleh dari pengumpulan data μ˳= rata-rata yang akan dihipotesiskan

σ = standars deviasi yang telah diketahui n = Jumlah Sampel

ii. Untuk menghitung perbedaan t hitung menggunakan rumus:

2

Arti dari tanda-tanda dalam rumus tersebut adalah: S = Simpangan baku

n1 = Jumlah Sampel Kelompok 1

n2 = Jumlah Sampel Kelompok 2

(36)

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarakan hasil pengolahan dan analisis data yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Disiplin siswa sesudah mendapatkan gaya mengajar guided discovery lebih besar daripada sebelum mendapatkan gaya mengajar guided discovery.

2. Disiplin siswa sesudah mendapatkan gaya mengajar komando lebih besar daripada sebelum mendapatkan gaya mengajar komando.

3. Disiplin siswa yang memperoleh gaya mengajar guided discovery lebih besar daripada siswa yang memperoleh gaya mengajar komando.

B. Implikasi

1. Keberhasilan pencapaian tujuan penelitian khususnya disiplin siswa dipengaruhi oleh gaya mengajar guided discovery yang diterapkan dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani.

2. Peningkatan disiplin siswa dapat dicapai dengan penerapan gaya mengajar guided discovery dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani.

3. Peningkatan disiplin siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani khususnya, dapat meningkat jika guru memberikan kebebasan untuk mengembangakan diri siswa dalam proses pembelajarannya.

4. Peningkatan disiplin siswa menggunakan gaya mengajar guided discovery bila diorientasikan kepada hasil belajar mungkin dapat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar yang maksimal bila dinilai secara objektif.

C. Saran

(37)

70

(38)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Berliana. (1998). Pengaruh Model Hellison Sebagai Pembinaan Sikap Bertanggung Jawab Yang Dipadukan Dalam Pendidikan Jasmani Di Sekolah Dasar. TESIS, PPS IKIP Bandung.

Darmadi, Hamid. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV ALFABETA

Djamarah. (2002). Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya. Usaha Nasional.

Gatot S, Bambang. (2001). Perbandingan Pengaruh Gaya Komando Dengan Gaya Resiprokal Dan Umpan Balik Langsung Dengan Umpan Balik Tertunda Terhadap Tingkat Kesegaran Jasmani Dan Sikap Disiplin Siswa Sekolah Dasar. TESIS, PPS UPI.

Hamalik, Oemar. (2005). Metoda Belajar Dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito

Husdarta dan Yudha, M. S. (2000). Belajar dan Pebelajaran. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Irwandi, Dedi. Dan Zulfani. (2011). Pengaruh Model Guided Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa pada Konsep Laju Reaksi. [online]. Tersedia:http//repository.uinj. ac.id/dspace/handle/123456789/5033. [12 Agustus 2013]

Kadir. (1994). Penuntun Belajar PPKN. Bandung: Ganeca Exact

Khasibuan, K.A. dan Bukti, N. (2012). Analisis Pembelajaran Guided Discovery dengan Menggunakan Macromedia Flash dikaitkan dengan Kecerdasan Logika Matematika Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa SMAN 1 Subulussalam [online], Vol 4 (2), 6 halaman. Tersedia : http//jurnalagfi.org/wp-content/uploads/2. 3/03. Artikel-Khoerul-Amri-20-25.pdf (2011).

(39)

72

Lutan, Rusli dkk. (2000) Pendidikan Kebugaran Jasmani Orientasi Pembinaan Disepanjang Hayat. Dirjen Olahraga. Depdiknas.

Mas’udi, Asy. (2000). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Yogyakarta:

PT Tiga Serangkai.

Mosston, Muska & Ashwort, Sara. (1994). Teaching Physical Education Four Edition. USA: Macmillan College Publishing Company.

Nurhasan. (2001). Tes dan Pengukuran dalam Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdiknas.

Riduwan. (2011). Belajar Mudah Penelitian untuk Guru – Karyawandan Peneliti Pemula. Bandung: CV ALFABETA.

Sagala, Syaiful. (2012). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Samani, M. dan Hariyanto. (2012). Konsep dan Model. Pendidikan Karakter. Bandung: PT REMAJA ROSDA KARYA.

Sarjanaku.com. (2012). Pengertian Kedisiplinan Belajar. Tersedia: http://www.sarjanaku.com/2010/12/kedisiplinan-belajar-siswa.html

Sartika, Marta. (2012). Keefektifan Penggunaan Metode Guided Discovery Dalam PembelajaranIlmu Pengetahuan Alam Kelas IV SD. [online]. Tersedia:http//rository.library.uksw.edu/handle/123456789/949. [12 Agustus 2013]

Setyosari, Punaji. (2010). Metode Penelitian Pendidikandan Pengembangan. Jakarta: Rineka Cipta.

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.

Subari. (1994). Supervisi Pendidikan (Dalam Rangka Perbaikan Situasi Belajar). Jakarta: Bina Aksara

Suciati, dkk. (2007). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sudjana, Nana & Ibrahim. (2007). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo

(40)

73

Suherman, Adang. (2001). ASESMEN BELAJAR DALAM PENDIDIKAN JASMANI Evaluasi Alternatif untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Departemen Pendidikan Nasional Direktur Pendidikan Dasar Dan Menengah

Suherman, Adang. (2009). Revitalisasi Pengajaran Dalam Pendidikan Jasmani. Bandung: Bintang Warli Artika

Sukintaka. (1997). Kajian Masa Depan Penjas dan Olahraga Arah Pembangunan Pada Abad 21. Makalah Pada Konverensi Nasional Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Bandung: IKIP Bandung, 22 – 23 September 1997.

Supandi. (1991). Manajemen Profesional dan perubahan Nilai – nilai Olahraga. Tinjauan Teoritis. Mimbar Pendidikan FPOK IKIP Bandung.

The Liang Gie. (1995). Cara Belajar Yang Efisien. Yogyakarta: Liberti Yogyakarta.

Gambar

Tabel
Gambar
Tabel Nilai Kritis L Untuk Uji Liliefors ………………………...
Tabel 3.1.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian pengembangan ini, produk pengembangan yang akan dihasilkan berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) kelas IV yang sesuai dengan model pembelajaran Guided Discovery

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Dribbling Dalam Permainan Sepak Bola Melalui Penerapan Gaya Mengajar Konvergen (The Convergent Discovery Style) Pada Siswa Kelas

Atas kehendak-Nya peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY LEARNING DENGAN BANTUAN MEDIA KARTU PEMBELAJARAN

Penelitian ex post facto ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh disiplin belajar, lingkungan sosial dan variasi gaya mengajar guru terhadap hasil belajar

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan mengenai pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran Guided Discovery Learning terhadap hasil belajar

Judul : Keefektifan Model Penemuan Terbimbing ( Guided Discovery ) dengan Scientific Approach dalam Pembelajaran IPA Materi Gaya dalam Meningkatkan Prestasi

Untuk mengetahui adanya pengaruh gaya mengajar guru dan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMAN 2 Trenggalek

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kompetensi biologi siswa yang menggunakan model pembelajaran Guided Discovery Learning dan Problem Based Learning pada materi sistem