• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif OrganizationalCitizenship Behaviour pada Karyawan PT "X" Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif OrganizationalCitizenship Behaviour pada Karyawan PT "X" Bandung."

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

iii

Universitas Kristen Maranatha

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran Organizational Citizenship Behavior pada karyawan PT “X” Bandung. Teori yang dipakai adalah teori OCB dari Organ (2006). Penelitian memakai metode deskriptif dengan teknik survei. Jumlah populasi penelitian sebanyak 42 orang.

Alat ukur yang digunakan untuk menjaring data OCB adalah alat ukur yang dibuat peneliti berdasarkan teori Organ. Alat ukur ini memiliki 50 item yang mengukur kelima dimensi OCB. Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas, jumlah item yang tidak valid sebanyak 4 item. Guna menjaga proporsi skoring setiap dimensi, 6 item tidak digunakan. Alat ukur pada akhirnya memiliki 40 item. Menurut norma Kaplan (2004), alat ukur tergolong reliabel.

(2)

Abstract

This research was conducted in order to describe the Organizational Citizenship Behavior within employees at PT “X” Bandung. Theory used in this research is Organ’s theory of OCB (2006). The research used descriptive method with survey technique. Research’s population size was 42 respondents.

The instrument used to measure OCB was created by researcher according to Organ’s theory of OCB. The instrument comprised of 50 items. After validation, 4 items were considered invalid. Due to proportionate scoring of each dimension, 6 items were discarded. The instrument now is consisted of 40 items. According to Kaplan’s norm (2004), the research’s instrument is reliable.

(3)

vii

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

ABSTRAK ... iii

ABSTRACT ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR SKEMA ... xi

DAFTAR LAMPIRAN……….... xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 7

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 7

1.3.1 Maksud Penelitian ... 7

1.3.2 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Kegunaan Penelitian ... 8

1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 8

1.4.2 Kegunaan Praktis... 8

1.5 Kerangka Pikir ... 8

(4)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Organizational Citizenship Behavior ... 17

2.1.1 Pengertian Organizational Citizenship Behavior ... 17

2.1.2 Definisi Perilaku Intra-Role dan Ekstra-Role ... 18

2.1.3 Dimensi Organizational Citizenship Behavior ... 19

2.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi OCB ... 20

2.1.5 Manfaat OCB Terhadap Perusahaan ... 24

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan dan Prosedur Penelitian ... 28

3.2 Bagan Rancangan Penelitian... 28

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 29

3.3.1 Variabel Penelitian ... 29

3.3.2 Definisi Operasional ... 29

3.4 Alat Ukur ... 30

3.4.1 Alat Ukur Organizational Citizenship Behavior ... 30

3.4.2 Data Pribadi dan Data Penunjang ... 33

3.4.3 Validitas Alat Ukur ... 33

3.4.3 Reliabilitas Alat Ukur ... 34

3.5 Populasi dan Teknik Penarikan Sampel ... 35

(5)

ix

Universitas Kristen Maranatha

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Responden ... 37

4.2 Hasil Penelitian ... 38

4.3 Pembahasan... 44

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 52

5.2 Saran ... 53

5.2.1 Saran Bagi Penelitian Lanjutan ... 53

5.2.2 Saran Bagi Kegunaan Praktis ... 53

DAFTAR PUSTAKA……… .. xiii

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Alat Ukur ... 30

Tabel 3.2 Sistem Penilaian ... 32

Tabel 4.1 Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin... 37

Tabel 4.2 Gambaran Responden Berdasarkan Lama Kerja ... 38

Tabel 4.3 OCB pada Responden ... 38

Tabel 4.4 Gambaran Dimensi-Dimensi OCB Responden ... 39

Tabel 4.5 Tabulasi Silang OCB dengan Jenis Kelamin ... 40

(7)

xi

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR BAGAN

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

- LAMPIRAN 1 : HASIL VALIDITAS DAN RELIABILITAS - LAMPIRAN 2 : KUESIONER ORGANIZATIONAL

CITZENSHIP BEHAVIOR SESUDAH TRY-OUT - LAMPIRAN 3 : KUESIONER DATA PENUNJANG

- LAMPIRAN 4 : DATA UTAMA - LAMPIRAN 5 : DATA PENUNJANG

- LAMPIRAN 6 : GAMBARAN RESPONDEN

- LAMPIRAN 7 : HASIL PENGOLAHAN DATA UTAMA - LAMPIRAN 8 : HASIL CROSS-TABULATIONS DENGAN

FAKTOR BERPENGARUH

(9)

1

Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Barang elektronik dan furnitur dalam kehidupan modern ini sudah menjadi sebuah kebutuhan yang cukup penting. Hal ini menjadikan industri jual beli barang elektronik dan furnitur menjadi industri dengan persaingan yang ketat. Seperti yang dapat terlihat di Indonesia, khususnya di Bandung, beberapa mal mengkhususkan diri untuk menjual barang elektronik dan furnitur. Selain itu, masih banyak pula toko-toko kecil yang menjual kedua barang tersebut. Di sisi lain, perilaku konsumtif masyarakat yang semakin meningkat dewasa ini menjadikan barang elektronik dan furnitur menjadi sesuatu yang tidak lagi merupakan barang mewah, namun menjadi kebutuhan sekunder (http://digilib.undip.ac.id/ index.php/ component/ content/ article/ 38- artikel / 64-information-need). Perilaku mengganti barang-barang elektronik dan furnitur berulang kali menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat dewasa ini. Untuk itulah, para pelaku bisnis perlu memiliki strategi yang efektif dan efisian guna bertahan dalam persaingan ketat.

(10)

2

produktifitas sebuah perusahaan dapat dipengaruhi oleh seberapa besar Organizational Citizenship Behavior (OCB) di dalam perusahaan tersebut. OCB adalah perilaku membantu yang ditunjukkan oleh anggota organisasi atau perusahaan, yang sifatnya konstruktif, berpengaruh pada produktifitas organisasi atau perusahaan meskipun tidak berpengaruh langsung pada perkembangan dan produktifitas individu yang bersangkutan (Bateman & Organ, 1996).

Sebuah perusahaan yang menerapkan sistem tim kerja akan menampilkan OCB dengan lebih jelas. Hal ini dikarenakan karyawan akan cenderung melakukan pekerjaan yang berada di luar job description mereka apabila mereka berada dalam suatu tim kerja atau berada dalam suasana kerja yang kolektif, di mana hampir semua orang yang bekerja dalam tim tersebut mengutamakan kepentingan tim dan perusahaan di atas kepentingan pribadi mereka. Ada dua hal yang mempengaruhi kecenderungan seorang individu untuk memiliki OCB di tempat kerja. Hal yang pertama adalah sikap kerja dan yang kedua adalah faktor kepribadian (Organ, 2006).

(11)

3

Universitas Kristen Maranatha emosional seorang karyawan, apalagi bila keterikatan karyawan tersebut dengan perusahaan hanyalah sebatas pertimbangan untung rugi, maka semakin karyawan tersebut akan mementingkan kepentingan pribadinya, dan kecenderungan untuk karyawan tersebut memiliki perilaku OCB semakin rendah.

Kebutuhan sebuah perusahaan akan OCB ini bersangkutan dengan kepuasan para karyawan dalam melakukan pekerjaannya. Semakin besar tingkat kepuasan karyawan pada pekerjaannya, semakin produktif perusahaan tersebut, begitu juga sebaliknya (Organ, 2006). Selain itu, tingkat efektifitas perusahaan juga dipengaruhi oleh perilaku OCB. Hal ini bersangkutan dengan suasana kondusif yang disebabkan oleh perilaku OCB yang juga menyebabkan para karyawan mengerjakan pekerjaan mereka dengan hati yang senang dan pikiran yang lebih jernih.

Organ (2006) menyatakan bahwa OCB berpengaruh pada tingkat keefektifitasan perusahaan tersebut. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Podsakoff, MacKenzie, Paine, dan Bachrach (2000). Tingkat OCB yang tinggi dalam suatu perusahaan akan berpengaruh positif pada efektifitas dan produktifitas perusahaan tersebut setelah dilakukan penilaian objektif pada hasil pekerjaan tiap karyawan. Sementara tingkat OCB yang rendah dalam suatu perusahaan menunjukkan tingkat produktifitas yang rendah setelah dilakukan penilaian objektif pada hasil kerja karyawan.

(12)

4

membeli barang dari perusahaan ini dan belum melunasinya, maka konsumen tersebut dianggap menyewa barang yang dibelinya. Pada saat konsumen melunasi jumlah harga barang tersebut, maka barang yang dimaksud menjadi milik konsumen. PT X memiliki beberapa cabang, salah satunya terletak di Bandung.

Sebagaimana layaknya sebuah perusahaan tanpa memandang ukuran perusahaan tersebut, PT. X juga memiliki divisi-divisi yang saling berkaitan dalam rangka memastikan kelancaran jalannya operasional perusahaan. Divisi-divisi tersebut antara lain: Divisi Umum, Divisi Personalia, Divisi Penagihan, Divisi Training, Divisi Survey, Divisi Administrasi serta Divisi Keamanan. Divisi umum beranggotakan 7 orang, masing-masing memiliki tugas yang berkaitan erat dengan operasional perusahaan. Divisi Personalia beranggotakan 7 orang juga serta memiliki tugas mengatur SDM (Sumber Daya Manusia) yang akan atau sedang bekerja pada PT. X. Divisi Penagihan yang beranggotakan 6 orang adalah divisi yang menangani kredit serta mengawasi penagihan atau pelunasan barang oleh pembeli.

(13)

5

Universitas Kristen Maranatha kawasan perusahaan. Seluruh divisi-divisi ini merupakan tim-tim kerja dalam PT. X.

Organ (2006) mengemukakan, saat OCB tidak terdapat pada suatu perusahaan, maka yang terjadi adalah kinerja perusahaan kurang optimal, hanya sebatas memenuhi kewajiban kerja tanpa mencoba mengembangkan dan meningkatkan kualitas kerja. Karyawan pada perusahaan terkait juga rentan menghadapi konflik antar pribadi karena tidak terdapat hubungan relasi kerja yang nyaman, baik rekan sedivisi maupun dengan atasan dan bawahan. Lebih jauh lagi, koordinasi antar divisi akan terhambat karena tidak adanya penempatan sumber daya yang efektif dan efisien. Seluruh karyawan hanya memikirkan divisi atau dirinya sendiri tanpa memperdulikan kinerja divisi lain. Akibat akhirnya adalah produktifitas perusahaan menurun dan tidak siap menghadapi perubahan situasional.

(14)

6

Setelah melakukan wawancara, peneliti mendapatkan data bahwa perilaku OCB memang terjadi di dalam divisi administrasi PT. X. 26,67% atau 4 dari 15 orang karyawan mengatakan pada beberapa kesempatan mereka dengan kesadaran sendiri membantu rekan kerjanya menyelesaikan pekerjaan mereka. 2 orang dari 15 orang karyawan (13,3%) menyatakan mereka terkadang mengerjakan lebih daripada yang ditugaskan kepada mereka karena ambisi mereka dalam mencapai target kerja yang sudah ditentukan. Sebanyak 5 dari 15 orang karyawan (33,3%) menyebutkan bahwa mereka mengerjakan pekerjaan mereka lebih daripada yang diharapkan karena mereka tidak ingin menimbulkan kemacetan dalam alur sistem kerja mereka.

Pernyataan-pernyataan hasil wawancara menunjukkan adanya OCB pada divisi administrasi tersebut. Mengacu pada pendapat Organ (2006), adanya OCB semestinya produktifitas perusahaan, namun pada kenyataannya pemilik PT X masih mengeluhkan kurangnya pendapatan yang didapat. Menurut pemilik PT X, kendala-kendala yang umum dihadapi adalah pekerjaan yang belum tuntas pada divisi penagihan. Tidak tuntasnya penagihan menyebabkan pencatatan divisi administrasi menghasilkan kesimpulan PT X merugi. Di samping itu, pemilik PT X juga mengutarakan bahwa terdapat kemungkinan juga bahwa kurang matangnya pelatihan yang dijalankan oleh divisi training pada PT X.

(15)

7

Universitas Kristen Maranatha maka dapat dilakukan pembenahan yang diperlukan pada PT X sehingga meningkatkan produktifitas PT X.

1.2 Identifikasi Masalah

Dari penelitian ini ingin diketahui tingkat Organizational Citizenship Behavior yang terdapat pada karyawan PT X Bandung.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tingkat Organizational Citizenship Behavior yang ada pada karyawan PT X Bandung

1.3.2 Tujuan Penelitian

(16)

8

1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoritis

1. Menambahkan informasi bagi ilmu Psikologi, khususnya pada bidang ilmu Psikologi Industri dan Organisasi

2. Memberi informasi pada peneliti lain yang berminat untuk meneliti Organizational Citizenship Behavior pada lingkungan internal sebuah perusahaan.

1.4.2 Kegunaan Praktis

1. Memberi informasi kepada pimpinan perusahaan tentang perilaku Organizational Citizenship Behavior yang terjadi di dalam internal perusahaannya guna menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem kerja bila diperlukan.

2. Menjelaskan perilaku praktis Organizational Citizenship Behavior yang terjadi dalam lingkungan internal perusahaan pada karyawan sehingga dapat menjadi bahan referensi untuk memperbaiki kinerja bila diperlukan.

1.5 Kerangka Pemikiran

(17)

9

Universitas Kristen Maranatha lain membantu rekan kerja, secara sukarela melakukan kegiatan ekstra di tempat kerja, menghindari konflik dengan rekan kerja, melindungi properti organisasi atau perusahaan, menghargai peraturan yang berlaku di tempat kerja, toleransi pada situasi yang kurang ideal, memberi saran yang membangun di tempat kerja, serta tidak membuang-buang waktu di tempat kerja (Robbins, 2001). Perilaku ini memiliki kecenderungan untuk muncul di dalam sebuah perusahaan apabila perusahaan tersebut memiliki tim kerja, di mana hubungan antar individu di dalam tim diasumsikan lebih erat, sehingga individu memiliki kecenderungan untuk mementingkan kepentingan kelompok dibandingkan kepentingan pribadi, khususnya di Indonesia, di mana sifat kolektifitas dalam sebuah komunitas terhitung tinggi (Hofstede, 1991).

Menurut Van Dyne, Cummings dan McLean Parks (1995 dalam Organ 2006) OCB merupakan sebuah kerangka kerja besar perilaku extra-role. Perilaku extra-role didefinisikan sebagai perilaku yang diusahakan untuk memberi keuntungan kepada organisasi melebihi dari harapan perusahaan sebagai penunjang efektivitas pelaksanaan pekerjaan di lingkungan kerja tersebut. Dengan kata lain OCB merupakan suatu bentuk dari perilaku ekstra-role yang memperkuat ikatan afektif di antara anggota organisasi, meningkatkan tahapan emosional positif anggota, dan mengembangkan konsensus daripada konflik. (Organ, 2006).

(18)

10

efektif dan efisien dari segi waktu dan juga biaya. Karyawan melakukan lebih dari permintaan job description sehingga meringankan beban kerja karyawan lainnya. Hasil akhir dari adanya OCB pada perusahaan adalah perusahaan menjadi stabil dan juga mampu menghadapi perubahan di lingkungan sekitar perusahaan.

Organ (1988) menyatakan bahwa OCB tercermin dalam lima dimensi. Dimensi pertama adalah altruism yaitu perilaku membantu meringankan pekerjaan rekan kerja dalam suatu organisasi atau perusahaan. Dimensi ini juga dikenal sebagai helping behavior. Seperti artinya, helping behavior adalah suatu sifat di mana seorang karyawan memiliki inisiatif untuk membantu karyawan lain untuk mencegah terjadinya masalah dalam pekerjaan. Contoh dari sifat atau dimensi ini adalah chain of task, yaitu pekerjaan yang satu tidak dapat diselesaikan tanpa pekerjaan yang lain terselesaikan. Chain of task atau workflow adalah sebuah sistem dalam sebuah perusahaan yang terdiri dari tahapan-tahapan tertentu dan setiap tahapan mengikuti tahapan berikutnya tanpa terlewatkan. Sistem ini pertama kali dicetuskan oleh Frederick Taylor, H. Grantt Rudolf Laban dan Warren Lamb di Inggris pada awal abad ke-20 untuk menjelaskan tahapan-tahapan yang melengkapi sistem kerja. Karyawan PT X dengan OCB tinggi akan sesegera dan sebaik mungkin menuntaskan tuntutan divisinya guna melancarkan kinerja divisi lain.

(19)

11

Universitas Kristen Maranatha pekerjaan. Peran senior dan junior di sini tidaklah berdasarkan berapa lama individu tersebut bekerja pada perusahaan tersebut, namun lebih pada pengalaman yang dimiliki tiap individu, sehingga peran senior dan junior ini tidaklah mutlak. Memberi semangat pada rekan kerja dalam menyelesaikan pekerjaan mereka juga termasuk dalam perilaku courtesy.

Dimensi ketiga adalah sportmanship yaitu sikap toleransi terhadap situasi yang kurang mendukung atau kurang ideal dalam perusahaan. Hal ini berhubungan erat dengan kemampuan dan keinginan seorang individu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang mungkin tidak sesuai dengan lingkungan asal individu tersebut. Semakin cepat dan semakin tinggi keinginan seorang karyawan untuk beradaptasi dengan keadaan tempat kerja, semakin sedikit waktu yang dibutuhkan atasan atau manager untuk mendapatkan kerja sama penuh dari karyawan tersebut. Dengan demikian tim akan menjadi lebih produktif karena atasan atau manager memiliki lebih banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan lain (Podsakoff, Ahearne, MacKenzie, 2006). Contoh dari perilaku ini adalah waktu yang dibutuhkan seorang karyawan baru di PT X untuk menerima dan beradaptasi dengan lingkungan kerja perusahaan tergolong singkat, tidak melebih 4 bulan terhitung sejak bergabung dengan perusahaan.

(20)

12

perusahaan dan juga berpartisipasi dalam kegiatan yang menunjang produktifitas perusahaan. Civic virtue dapat ditunjukkan dengan turut aktif dalam mendukung pengambilan keputusan perusahaan (seperti menghadiri rapat dan memberi opini untuk menentukan strategi perusahaan), mengawasi industri secara keseluruhan terhadap ancaman dan peluang, serta melakukan hal yang dapat mempengaruhi keuntungan perusahaan (seperti mengawasi penggunaan listrik dan melaporkan kejadian yang dinilai mencurigakan).

Dimensi kelima dan terakhir adalah conscientiousness yaitu melakukan hal-hal yang menguntungkan organisasi atau perusahaan, seperti tidak membuang-buang waktu di tempat kerja atau mematuhi peraturan perusahaan.Karyawan PT X mematuhi peraturan yang ada. Mereka masuk kerja tepat waktu, menunaikan tanggung jawab dari tuntutan divisi masing-masing dan bahkan saling membantu rekan sedivisi guna melancarkan pekerjaan-pekerjaan yang dibebankan pada mereka.

(21)

13

Universitas Kristen Maranatha dan bahkan Conscientiousness juga dapat terjadi bersamaan dalam tindakan tersebut.

Dalam membentuk terjadinya OCB di dalam sebuah tim kerja atau perusahaan, kelima dimensi di atas dipengaruhi juga oleh lima faktor. Organ (2006) mengemukakan bahwa terdapat lima faktor yang mempengaruhi adanya OCB pada perusahaan. Faktor-faktor tersebut adalah karakteristik individu, karakteristik tugas, karakteristik kelompok, karakteristik organisasi, dan karakteristik pemimpin.

Karakteristik individu merujuk pada morale dan kepribadian karyawan PT X. Morale mengarah kepuasan kerja dan keterlibatan emosi yang intim terhadap perusahaan pada diri karyawan PT X ditinjau dari aktifitas sosial, aturan perusahaan, dan afeksi antar divisi dalam organisasi. Kepribadian berkaitan erat dengan bagaimana karyawan PT X berperilaku dalam keseharian lingkungan kerja. Sifat ramah bersahabat atau ekstrovert akan mempermudah relasi sehingga mendukung dimensi altruism, courtesy, sportmanship dan civic virtue sedangkan disiplin dan taat aturan menunjang dimensi conscientiousness dalam dimensi OCB.

(22)

14

Ketika tugas beragam dan membutuhkan keahlian berbeda-beda, maka dimensi altruism dan courtesy akan terpengaruh.

Karakteristik kelompok merujuk pada situasi kelompok kerja pada PT X. Ketika karyawan PT X merasa bahwa kelompok kerjanya memiliki solidaritas maka dimensi altruism, courtesy dan civic virtue akan berubah juga kaibat persepsinya yang ingin berkontribusi pada kohesivitas kelompok. Saat kelompok kerja memiliki diyakini keahlian tertentu maka akan terbentuk suatu sistem kerja yang juga mempengaruhi sportmanship dan conscientiousness.

Karakteristik organisasi mengarah pada hubungan antara perusahaan dan karyawan dalam perusahaan tersebut. Saat karyawan menilai bahwa mereka dilindungi oleh PT X melalui tunjangan, aturan, atau gaji yang diberikan memadai, maka mereka akan berusaha lebih untuk PT X, hal ini menunjukkan pengaruh pada kelima dimensi yang ada pada OCB.

Karakteristik pemimpin merujuk pada bagaimana pemimpin perusahaan mengatur, mengarahkan, dan berelasi dengan karyawannya. Bilamana pemimpin PT X dapat menimbulkan kepercayaan pada diri karyawan PT X dan juga mampu membimbing maka akan timbul perubahan pada diri karyawan dalam bekerja. Hal ini dapat mempengaruhi kelima dimensi OCB.

(23)

15

Universitas Kristen Maranatha Bagan 1.1 Kerangka Pemikiran

• Karakteristik individu • Karakteristik tugas • Karakteristik kelompok • Karakteristik organisasi • Karakteristik pemimpin

Karyawan PT. X

OCB dalam divisi-divisi PT.

X

Altruism Courtesy Sportmanship Civic Virtue Conscientiousness

(24)

16

1.6 Asumsi

- Organizational Citizenship Behaviour dapat diukur melalui lima dimensi yaitu altruism, courtesy, sportmanship, civic virtue, dan conscientiousness.

- Organizational Citizenship Behaviour memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu karakteristik individu, karakteristik tugas, karakteristik kelompok, karakteristik organisasi, dan karakteristik pemimpin.

(25)

52

Universitas Kristen Maranatha

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian OCB pada karyawan PT “X”, terdapat beberapa kesimpulan yaitu:

• Terdapat 50% karyawan yang memiliki OCB rendah dan 50% karyawan

yang memiliki OCB tinggi.

• Pada kelompok karyawan dengan OCB yang rendah, mayoritas karyawan

memiliki kelima dimensi yang juga tergolong rendah. Mayoritas karyawan paling besar memiliki dimensi courtesy yang tergolong rendah yaitu sebesar 95,2%

• Pada kelompok karyawan dengan OCB yang tinggi, mayoritas karyawan

memiliki kelima dimensi yang tergolong tinggi. Mayoritas karyawan paling besar memiliki dimensi sportmanship yang tergolong tinggi yaitu sebesar 85,7%

• Dalam penelitian ini, jenis kelamin tidak menampilkan indikasi yang berarti

dalam pembentukan OCB karyawan PT “X”

• Dalam penelitian ini, lama kerja memiliki kemungkinan adanya keterkaitan

dalam pembentukan OCB yang tinggi pada karyawan PT “X”

• Faktor-faktor berpengaruh dalam penelitian ini kurang menggambarkan

(26)

53

• Faktor karakteristik tugas dalam penelitian ini mungkin menunjukkan

adanya pengaruh terhadap pembentukan OCB yang tinggi pada diri karyawan PT “X”

5.2 Saran

Peneliti menyarankan beberapa hal yang diharapkan mampu memberi manfaat berdasarkan hasil penelitian yaitu:

5.2.1 Saran Bagi Penelitian Lanjutan

• Pada penelitian ini faktor-faktor berpengaruh yang diukur adalah

karakteristik individu, tugas, kelompok, organisasi, dan pemimpin. Sebaiknya penelitian lanjutan mencari faktor-faktor lain yang mungkin memengaruhi pembentukan OCB karyawan seperti tunjangan jabatan dan peraturan perusahaan.

• Penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti signifikansi setiap dimensi

pembentuk OCB terhadap OCB agar diketahui dimensi yang paling dominan dalam pembentukan OCB.

5.2.2 Saran Bagi Kegunaan Praktis

• Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pimpinan PT “X” agar

(27)

Universitas Kristen Maranatha 54

• Penelitin ini diharapkan dapat menjadi sumber rujukan karyawan PT “X” guna

lebih mengoptimalkan kinerjanya dengan cara saling membantu karyawan lainnya dan memastikan kelancaran tugas karyawan lainnya.

• Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan PT “X” untuk

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Bateman, T. S., & Organ, D. W. 1983. Job satisfaction and the good soldier: The relationship between affect and employee "citizenship". Academy of Management Journal, 26(4), 587-595.

Friedenberg, Lisa. 1995. Psychological Testing: Design, Analysis, and Use. Boston: Allyn & Bacon.

Kaplan, Robert M. & Dennis P. Saccuzzo. 2004. Psychological Testing Principles, Application, and Issues. California: Brooks/Cole Publishing Company. Kumar, Ranjit. 1999. Research Methodology: A Step-By-Step Guide For Beginner.

New Delhi: SAGE Publications India Pvt Ltd.

LePine, J. A., Erez, A., & Johnson, D. E. 2002. The nature and dimensionality of organizational citizenship behavior: A critical review and meta-analysis. Journal of Applied Psychology, 87(1), 52-65.

Organ, D. W. 1988. Organizational Citizenship behavior: The good soldier syndrome. Lexington, MA: Lexington Books.

Organ, D. W., & Ryan, K. 1995. A meta-analytic review of attitudinal and dispositional predictors of organizational citizenship behavior. Personnel Psychology, 48(4), 775-802.

Organ, D. W. 1997. Organizational citizenship behavior: It’s construct cleanup time. Human Performance, 10(2), 85-97.

Organ, D. W., Podsakoff, P. M., & MacKenzie S. P. 2006. Organizational citizenship behavior: Its nature, antecedents, and consequences. London: Sage Publications.

Podsakoff, Philip M., Scott B. MacKenzie, Julie Beth Paine, and Daniel G. Bachrach. 2000. Organizational Citizenship Behaviors: A Critical Review of the Theoretical and Empirical Literature and Suggestions for Future Research. Indiana University. Journal of Management Vol. 26. pp. 513-563

(29)

xiv

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR RUJUKAN

Referensi

Dokumen terkait

Tipe budaya yang dirasakan saat ini berkembang di perusahaan tersebut adalah.

Tujuan dari pelatihan hardiness ini adalah untuk meningkatkan tingkat hardiness pada karyawan.. Sedangkan efektifitas pelatihan ini dilihat dari peningkatan skor

Komponen yang paling dominan adalah affective commitment, yang membuat para karyawan tetap bertahan pada perusahaan sampai dengan saat ini.

PT Radio “X” Bandung memperlihatkan kemungkinan untuk setiap karyawannya dapat memperlihatkan perilaku OCB yang sangat diperlukan dalam perusahaan, karena dengan adanya

Dari hasil penelitian pada hotel ”X” ini, diketahui bahwa karyawan ini memiliki tingkat komitmen yang tinggi, dengan komponen affektif yang paling dominan mewarnai

Beranjak dari hasil pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar karyawan band IV dan V memiliki sikap yang positif terhadap restrukturisasi, artinya karyawan

Komponen utama yang menimbulkan tingkat motivasi kerja rendah adalah instrumentallity dan hal ini disebabkan karena tidak adanya bonus dan penghargaan dari perusahaan

Melihat hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa Organizational Citizenship Behaviour (OCB) berpengaruh positif terhadap Service Quality karyawan, maka untuk