• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengurusan Mayit Islam Dan Buddha (Studi Kasus Di Kampung Bukit Kapar, Selangor, Malaysia)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pengurusan Mayit Islam Dan Buddha (Studi Kasus Di Kampung Bukit Kapar, Selangor, Malaysia)"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

PENGURUSAN MAYIT ISLAM DAN BUDDHA (STUDI KASUS DI KAMPUNG BUKIT KAPAR,

SELANGOR, MALAYSIA)

SKRIPSI

Diajukan oleh :

NORNAJIHA BINTI AHMAD SUKAIMI NIM. 170302025

Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Studi Agama-Agama

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY

DARUSSALAM - BANDA ACEH 2022 M/ 1444 H

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v ABSTRAK

Nama/NIM : Nornajiha Binti Ahmad Sukaimi / 170302025 Fakultas/Prodi : Ushuluddin dan Filsafat / Studi Agama-Agama Judul Skrips : Pengurusan Tajhiz Mayit Islam dan Buddha

(Studi Kasus di Kampung Bukit Kapar, Selangor Malaysia)

Tebal Skripsi : 85 Halaman

Pembimbing I : Dr. Mawardi, S.Th.I., MA Pembimbing II : Dr. Muhammad, S.Th.I, MA

Pengurusan jenazah ada di setiap agama, termasuk dua agama yang paling banyak dianut di Malaysia, yaitu Islam dan Buddha. Generasi muda masih banyak yang belum mengetahui tentang tata cara pengurusan jenazah sehingga bingung tentang tata cara pengurusan jenazah yang baik dan benar sesuai dengan ajaran Nabi SAW. Keterlibatan umat Buddha dalam pengurusan jenazah juga jarang. Tidak tahu apakah anak muda takut melakukan kesalahan selama proses pengurusan jenazah atau ketidakpedulian orang tua yang tidak peduli dengan anaknya dalam mengungkap pengurusan jenazah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengurusan jenazah agama Islam dalam bangsa Melayu dan pengurusan jenazah agama Buddha dalam bangsa Cina serta bagaimana persiapan yang dilakukan untuk generasi muda sebagai pelapis. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, penulis menganalisis dan mengamati langsung fakta-fakta yang terjadi di lokasi penelitian di Gampong Bukit Kapar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak muda Melayu mampu untuk menguasai dan menguruskan pengurusan jenazah dengan adanya bantuan dan dorongan dari warga tua dan atas usaha para pemuda sendiri untuk menuntut ilmu. Orang Cina adalah masyarakat yang etnosentris, upacara kematian harus dilakukan mengikut adat dan tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya dan anak muda Cina Buddha melihat funeral services sebagai satu peluang pekerjaan.

Kata Kunci : Tajhiz Mayit, Islam, Buddha, Persiapan

(6)

vi

PEDOMAN PENULISAN DAN TRANSLITERASI

DAFTAR TRANSLITERASI

Arab Transliterasi Arab Transliterasi

ا Tidak disimbolkan ط Ṭ (titik di

bawah)

ب B ظ Ẓ (titik di

bawah)

ت T ع ᾽

ث TH غ Gh

ج J ف F

ح Ḥ (titik di bawah) ق Q

خ Kh ك K

د D ل L

ذ Dh م M

ر R ن N

ز Z و W

س S ه H

ش Sy ء ‛

ص Ṣ (titik di bawah) ي Y

ض Ḍ (titik di bawah) 1. Vokal

Vokal Bahasa Arab, seperti vocal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal monoftong dan vocal rangkap atau diftong.

A. Vokal Tunggal

Vokal tunggal Bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harkat, transliterasinya sebagai berikut:

Tanda Nama Huruf Latin

َ ب Fathah Ba

َ ب Kasrah Bi

َ ب Dammah Bu

(7)

vii B. Vokal Rangkup

Vokal rangkup Bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harkat dan huruf, transliterasinya gabungan huruf, yaitu:

Nama Gabungan Huruf

Fathah dan ya Ai

Fathah dan wau Au

Contoh:

فيك : kaifa ََلوح : haula 2. Maddah

Maddah atau vocal Panjang yang lambangnya berupa harkat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:

Nama Huruf dan tanda

Fathah dan alif atau ya

Kasrah dan ya

Ḍammah dan waw Ū

Contoh:

لاق : qāla ىمر : ramā ليق : qīla لوقي : yaqūlu 3. Ta’ Marbūtah (ة(

Transliterasi untuk ta’ marbūtah ada dua:

a) Ta’ marbūtah (ة) hidup.

Ta’marbūtah (ة) yang hidup atau yang mendapat harkat fathah, kasrah dan dammah transliterasinya adalah ‘t’.

b) Ta’marbūah (ة) mati.

Ta’ marbūtah (ة) yang mati mendapat harkat sukun, transliterasinya adalah ‘h’.

c) Kalau pada satu kata yang akhir katanya ta’ marbūtah (ة) diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al, serta bacaan kedua

(8)

viii

kata itu terpisah maka ta’ marbūtah (ة) itu ditransliterasikan dengan ‘t’.

Contoh:

َيراقلاَةدمع :umdat al-Qāri / UmdatulQāri

دهتجملاَةيادب : bidāyat al-Mujtahid / Bidāyatul Mujtahid

َََََةجامَنبا : Ibnu Majah Catatan:

Modifikasi

1. Nama orang berkebanggaan Indonesia ditulis seperti biasa tanpa transliterasi, seperti M. Hasbi Ash-Shiddieqy. Sedangkan nama- nama lainnya ditulis sesuai kaidah transliterasi. Contoh: Ibn Battāl.

2. Nama Negara dan kota ditulis menurut ejaan Bahasa Indonesia, seperti Mesir bukan Misr; Beirut, bukan Bayrut; dan sebagainya.

3. Kata-kata yang sudah dipakai (serapan) dalam kamus bahasa Indonesia tidak ditransliterasikan. Contoh: Hadis, bukan Hadits atau Hadith.

DAFTAR SINGKATAN

swt. : Subhānahuwa ta ‘āla saw. : Sallallāhu ‘alaihiwasallam cet. : Cetakan

h. : Hijriah

hlm. : halaman t.th. : tanpa tahun terj. : terjemahan jil. : Jilid juz. : juz’u

Qs. : al-Qur’an danSurat thn. : Tahun

pbt. : Penerbit

vol : volume

(9)

ix

KATA PENGANTAR ِمْي ِحَّرلا ِنَمْحَّرلا ِالله ِمــــــــــــــــــْسِب

Alhamdulillahirabbil`alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Shalawat beserta salam penulis sanjungkan kehadiran nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat yang telah memberikan teladan melalui sunnahnya sehingga membawa kesejahteraam di muka bumi ini.

Berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis telah menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul “Pengurusan Mayit Islam dan Buddha (Studi Kasus di Kampung Bukit Kapar, Selangor Malaysia)”. Berkat dan dorongan dari berbagai pihak, maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Karya yang sangat sederhana ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat penyesaian program studi Strata Satu (S1) pada Fakultas Ushuluddin dari Filsafat Prodi Studi Agama-Agama Uin Ar-Raniry Banda Aceh. Maka dari kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih yang tidak terhingga kepada :

1. Kepada orang tua yang tercinta, Ayahnda Ahmad Sukaimi Bin Kamari dan Ibunda tercinta Nor Aniza Binti Hamam yang tidak henti-henti mencurahkan cinta dan kasih sayangnya kepada penulis, juga tidak pernah bosan mendoakan kebaikan-kebaikan bagi penulis sendiri, yang telah rela berkorban bekerja keras, mendidik dan segala kebaikan juga jasa mereka rela mengeluarkan uang untuk kebutuhan penulis ketika belajar juga tak terhitung. Terima kasih kepada kakak-kakak, abang-abang, adik-adik, ipar- duai yaitu Wahidah, Fuadi, Hakim, Asmahan, Hanani, Liyana, Anis Balqis, Najmi, Samri, Husna, Haszrien, Azim, Khusairi dan saudara-mara yang telah memberikan semangat dan dukungannya.

(10)

x

2. Ibuk Dr. Juwaini, M.Ag selaku ketua prodi Studi Agama- Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat yang terus memberikan yang terbaik untuk peserta didiknya, yang selalu peduli serta selalu memberikan motivasi kepada penulis sendiri sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

3. Ribuan terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr.

Mawardi, S.Th.I., MA selaku pembimbing I dan Bapak Dr.

Muhammad, S.Th.I, MA selaku pembimbing II saya yang tak henti-henti terus memberikan kemasukan dan saran-saran, mendorong penulis untuk dapat menyelesaikan tulisan ini tepat waktu. Semoga Allah membalas kebaikan mereka di dunia dan di akhirat kelak.

4. Seluruh dosen serta staf di prodi Studi Agama-Agama yang telah membantu baik secara lansung maupun tidak lansung dalam kelancaran penulisan skripsi ini.

5. Tidak lupa juga dengan orang yang special dalam hidupku, Anas Azhari yang setia berada di samping membantu dari awal proses sehingga kepenghujungnya. Terima kasih kepada Cik Aida, Cik Shahrom, Makde, Pakde, Cik Imah, Anis, Hikmal, Alya, Aniq, Arfa dan Alif atas kasih sayang dan dorongannya.

6. Sahabat seperjuangan batch Jilfaz terutama Anis, Nikmah, Izzah, Dania, Farah, Hafizah, Nazmi dan Izzurudin yang sama-sama berjuang dari awal kuliah, berkongsi tawa dan duka, memberikan motivasi dan pertolongan dalam penulisan skripsi. Demikian juga kepada semua kenalan dan teman-teman penulis selama kuliah di UIN Ar-Raniry yang penulis kasihi. Tanpa mereka, perjalanan penulis selama belajar di sini tidak akan dihiasi warna-warni kehidupan sebagai mahasiswa. Terima kasih atas segalanya.

7. Kepada sahabat-handai di Malaysia, Since 2005, Ukhwah Fillah, Sahabat Until The Jannah, dan Gang Hiking, terima kasih atas kata-kata semangat dan doa yang dititipkan.

Semoga Allah memberkati kalian.

(11)

xi

Akhir al-kalam, semoga Allah selalu mencurahkan kasih sayang buat semuanya. Penulis menyadari bahwa penulisan ini tidak luput dari kekurangan. Dengan doa dan harapan, semoga skripsi ini kiranya bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis menerima kritikan dan saran demi kesempuraan skripsi ini. Wassalam..

Banda Aceh, 01 Desember 2022 Penulis,

Nornajiha Binti Ahmad Sukaimi

(12)

xii

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

LEMBARAN PENGESAHAN PEMBIMBING ... iii

LEMBARAN PENGESAHAN SIDANG ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Peneltitian ... 5

BAB II : KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Kajian Pustaka ... 7

B. Kerangka Teori ... 10

C. Definisi Operasional ... 11

BAB III : METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 14

B. Lokasi Penelitian ... 15

C. Teknik Pemilihan Responden ... 15

D. Informan ... 15

E. Teknik Pengumpulan Data ... 16

F. Teknik Analisis Data ... 17

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil Gampong Bukit Kapar dan Kondisi Sosial .. 20

B. Cara Pengurusan Mayit ... 25

C. Adat dan Amalan Selepas Pengurusan Jenazah ... 44

D. Cabaran dalam Pengurusan Jenazah ... 54

(13)

xiii

E. Persiapan yang Dilakukan Untuk Generasi Muda

Sebagai Pelapis ... 57

F. Analisis Data Penelitian ... 69

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 72

B. Saran ... 73

DAFTAR PUSTAKA ... 75

LAMPIRAN ... 80

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 85

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

TABEL 1.1 : INFORMAN PENGANUT AGAMA ISLAM DAN BUDDHA DI BUKIT KAPAR,

SELANGOR ... 16 TABEL 1.2 : KOMPARATIF ISLAM DAN BUDDHA .... 47 TABEL 1.3 : JUMLAH PEMBAYARAN YANG

DIKENAKAN UNTUK PENGURUSAN JENAZAH BAGI BUKAN ANGGOTA

KHAIRAT KEMATIAN ... 65

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 1.1 : STATISTIK POPULASI AGAMA DI

MALAYSIA ... 20 GAMBAR 1.2 : PETA MALAYSIA ... 21 GAMBAR 1.3 : PETA GAMPONG BUKIT KAPAR ... 22 GAMBAR 1.4 : PERALATAN KETIKA MEMANDIKAN

JENAZAH ... 29 GAMBAR 1.5 : SKEMA KAIN KAFAN ... 31 GAMBAR 1.6 : KEDUDUKAN IMAM TERHADAP

JENAZAH ... 33 GAMBAR 1.7 : UKURAN KEDALAMAN

LIANG LAHAD ... 34 GAMBAR 1.8 : UPACARA KEMATIAN CINA ... 36 GAMBAR 1.9 : BAJU PENGANTIN DAN KERANDA ... 37 GAMBAR 1.10 : MATA UANG PALSU ... 42 GAMBAR 1.11 : JIRAT DAN VAN ... 42

GAMBAR 1.12 : KAWASAN TANAH PERKUBURAN

BUKIT KAPAR ... 54 GAMBAR 1.13 : KREMATORIUM LAMA DI

FAIRY PARK ... 57 GAMBAR 1.14 : TEMPAT PENYIMPANAN ABU

MAYAT AGAMA BUDDHA ... 57 GAMBAR 1.15 : BAHAGIAN A SURVEI KUISIONER .... 59 GAMBAR 1.16 : BAHAGIAN B SURVEI KUISIONER .... 62 GAMBAR 1.17 : BAHAGIAN C SURVEI KUISIONER .... 63 GAMBAR 1.18 : POSTER KURSUS PENGURUSAN

JENAZAH 2020 ... 64 GAMBAR 1.19 : JIRAT DI FAIRY PARK ... 67 GAMBAR 1.20 : DEWAN DI FAIRY PARK ... 68

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1.1 : SK PEMBIMBING SKRIPSI ... 80 LAMPIRAN 1.2 : SURAT PENELITIAN ILMIAH ... 81 LAMPIRAN 1.3 : WAWANCARA DENGAN

AHMAD SUKAIMI ... 82 LAMPIRAN 1.4 : WAWANCARA DENGAN

NORWAHIDAH BINTI SHAM ... 82 LAMPIRAN 1.5 : WAWANCARA DENGAN CHAN ... 83 LAMPIRAN 1.6 : WAWANCARA DENGAN

CIN JIA WEI ... 83 LAMPIRAN 1.7 : WAWANCARA DENGAN

CELINENG... 84 LAMPIRAN 1.8 : WAWANCARA DENGAN PENJAGA

PENYIMPANAN ABU MAYAT

AGAMA BUDDHA ... 84

(17)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kematian adalah perkara yang bakal dilalui semua makhluk yang telah diciptakan oleh Allah SWT. Mati merupakan jambatan yang menghubungkan antara dua kehidupan yaitu kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat. Setiap yang bernyawa pasti akan merasai kematian.

Firman Allah Ta`ala :

ِرامنلا ِنَع َحِزْحُز ْنَمَف ِۗ ِةَمٰيِقْلا َمْوَ ي ْمُكَرْوُجُا َنْوم فَوُ ت اَمنَِّاَو ِِۗتْوَمْلا ُةَقِٕى ۤاَذ ٍسْفَ ن ُّلُك ِرْوُرُغْلا ُعاَتَم ملَِّا ٓاَيْ نُّدلا ُةوٰيَْلْا اَمَو ِۗ َزاَف ْدَقَ ف َةمنَْلْا َلِخْدُاَو

Tiap-tiap yang bernyawa akan merasai mati, dan bahawasanya pada hari kiamat sahajalah akan disempurnakan balasan kamu.

Ketika itu sesiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga maka Sesungguhnya ia telah berjaya. dan (ingatlah bahawa) kehidupan di dunia ini (meliputi Segala kemewahannya dan pangkat kebesarannya) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang- orang yang terpedaya. (Qs. Ali Imran: 185)

Orang yang sudah meninggal, jenazahnya harus segera diurus. Jangan menunda atau dilambat-lambatkan. Sementara menunda pengurusan jenazah, merupakan perbuatan yang bertentangan dengan perintah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW bersabda dalam hadith Riwayat Abu Hurairah RA yang bermaksud:

“Segeralah mengurus jenazah. Karena jika jenazah itu adalah orang shalih, berarti kalian telah mempercepatkan kebaikan untuknya. Dan jika jenazah tersebut selain orang shalih, berarti kalian telah meletakkan kejelekan di pundak kalian’. (HR. Bukhari no 1315 dan Muslim no 944)

Maka, konsep pengurusan jenazah adalah dengan menguruskan jenazah dengan cara yang dihormati dan dimuliakan

(18)

2 menurut hukum syarak apabila seseorang Islam mati, wajiblah ia dimandikan, dikapankan, disembahyangkan dan dikebumikan.1

Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan dan meletakkan pada derajat yang tinggi. Islam menghormati orang muslim yang meninggal dunia. Perawatan jenazah (tajhiz al-mayyit) adalah ibadah yang menuntut penekaan aspek afeksi dan praktik dan salah satu ibadah yang mengandung nilai sosial kemasyarakatan Mengurus jenazah dalam Islam adalah ibadah yang hukumnya fardhu kifayah atas orang-orang muslim yang masih hidup. Amalan yang mengandung nilai sosial nan tinggi adalah fardhu kifayah dikarenakan mengandungi unsur ketergantungan serta toleransi dan kebersamaan antar satu muslim dengan muslim yan lain.

Aturan dalam pengurusan jenazah yang paling sempurna hasil dari petunjuk dan bimbingan Rasulullah SAW. Aturan yang sangat sempurna dalam mempersiapkan seorang yang telah meninggal untuk bertemu dengan Rabb dengan kondisi yang paling baik. Bukan hanya itu, keluarga dan orang-orang yang terdekat sang mayat pun disiapkan sebagai barisan orang-orang yang memuji Allah dan memintakan ampunan serta rahmat-Nya bagi yang meninggal, termasuk memberi tuntunan yaitu bagaimana sebaiknya keluarga dan kerabatnya memperlakukan jenazah.2

Buddhisme adalah ajaran yang dikembangkan oleh Siddharta Gautama yang antara lain mengajarkan bahwa kesengsaraan adalah bagian kehidupan yang tidak terpisahkan dan orang dapat membebaskan diri dari kesengsaraan dengan mensucikan mental dan moral diri pribadi.3 Buddha merupakan suatu agama yang lahir di dunia India, dibawa oleh guru Agung Siddharta Gautama yang

1Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tuntunan Lengkap Mengurus Jenazah, (Jakarta: Gema Insani, 1999), hlm. 2.

2Kurniawati Burhan, “Prosesi Pengurusan Jenazah” (Skripsi Fakultas Usuluddin, Jakarta, 2019), 2.

3https://kbbi.web.id/Buddhisme (01 November 2017), Diakses pada tanggal 2 Juni 2022, jam 9.00 am.

(19)

3 mengajarkan cara mengatasi hidup di dunia dan mencapai keabadian pada hidup setelah mati.4

Kematian bagi manusia adalah sesuatu yang akan pasti dihadapi oleh semua makhluk tergantung cepat atau lambat saja merasainya. Dalam pegangan Buddha, kematian bukanlah akhir dari segalanya tetapi akan lahir kembali di kehidupan yang akan datang lagi setelah kematian, ini yang membedakan agama Buddha dengan agama yang lain.

Pandangan dalam agama Buddha kematian bukanlah pengakhiran akhir dari sebuah kehidupan. Selama benih kehidupan belum dilenyapkan, kematian akan berlanjut pada kehidupan mendatang. Kehidupan sekarang ini adalah hasil dari kehidupan- kehidupan lampau. Kehidupan-kehidupan lampau ditambah dengan kehidupan sekarang ini, niscaya akan menghasilkan kehidupan mendatang.5

Upacara ritual kematian agama Buddha telah mengalami beberapa perubahan mengikut budaya bagi sesuatu tempat. Tiada bahan yang bertulis dengan jelas bagi menjalankan proses kematian yang bisa dirujuk oleh penganut-penganut Buddha.6

Saat ini di gampong banyak generasi muda yang banyak belum mengetahui tentang tata cara pengurusan jenazah, sehingga banyak umat Islam yang bingung tentang tata cara pengurusan jenazah yang baik dan benar sesuai dengan ajaran Nabi SAW.

Keterlibatan umat Buddha dalam pengurusan jenazah juga jarang.

Misalnya, masyarakat Melayu dan Cina di gampong itu, ketika ada yang meninggal, para pemudanya hanya mengamati tanpa ikut tajhiz jenazah. Tidak tahu apakah anak muda takut melakukan kesalahan

4Van Hauven, Ensiklopedi Indonesia, (Jakarta: Ikhtiar Baru, 1987), hlm.

87.

5Jan Sañjîvaputta, Menguak Misteri Kematian, (Bangkok Thailand: LPD Publisher, 1999), hlm. 5.

6Mohd Firrdhaus Mohd Sahabuddin, “Teori Kematian Dalam Pelbagai Agama”,Academia.edu,

https://www.academia.edu/8261369/Teori_Kematian_Dalam_Pelbagai_Agama_

Death_Theories_in_Islam_Christian_Judaism_Hinduism_and_Buddhism_, Diakses pada tanggal 9 Juni 2022, jam 10.30 am.

(20)

4 selama proses pengurusan jenazah atau ketidakpedulian orang tua yang tidak peduli dengan anaknya dalam mengungkap pengurusan jenazah.

Bidang pengurusan jenazah semakin hari semakin dilupakan walaupun bidang pengurusan jenazah merupakan suatu bidang yang amat penting. Di zaman yang serba maju ini, tidak banyak orang yang berani atau mampu mempelajari bidang ini dibandingkan dengan bidang lainnya.. Fenomena umum sekarang yang biasa dilihat pada masa kini, kebanyakan urusan pengendalian jenazah hanya melibatkan kelompok yang lebih tua sahaja. Ketergantungan kepada golongan tua ini boleh menyebabkan masalah terutama selepas ketiadaan mereka kerana boleh mengakibatkan proses pengurusan jenazah tergendala.

Generasi muda ras Melayu dan juga ras Cina kurang memiliki pengetahuan dan praktek pengurusan pemakaman. Akibat minimnya pengetahuan di bidang ini, mereka membuat alasan untuk tidak ikut mengurus jenazah karena tidak tahu cara penanganan jenazah. Selain itu, juga bermula dari sikap masyarakat sekitar yang tidak peduli dan menyerahkan urusan badan kepada orang yang ahli di bidangnya.

Mayoritas pelajar adalah generasi muda yang merupakan asset terpenting negara. Mereka juga merupakan lapisan generasi kepemimpinan masa kini yang akan membentuk dan memimpin dunia di masa depan. Berbagai tanggung jawab dan harapan dipikul di pundak mereka dalam menciptakan kepemimpinan yang unggul di masa depan. Sebagai mahasiswa, mempersiapkan diri dengan bekal ilmu duniawi dan ukhrawi sangatlah penting untuk memastikan segala sesuatu yang diharapkan dari masyarakat sekitar dapat terwujud dengan sempurna.

Pemaparan di atas menunjukkan pengurusan bab jenazah dianggap remeh bagi sesetengah golongan masyarakat dan hal ini mendatangkan kebimbangan dalam menunaikan kewajiban fardhu kifayah ini pada masa akan datang. Berangkat dari paparan diatas, maka penulis ingin mengangkat masalah ini dalam skripsi yang

(21)

5 berjudul “PENGURUSAN MAYIT ISLAM DAN BUDDHA DI GAMPONG BUKIT KAPAR”.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang masalah tersebut, muncul suatu masalah utama yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Masalah pokok tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengurusan jenazah agama Islam dalam bangsa Melayu?

2. Bagaimana pengurusan jenazah agama Buddha dalam bangsa Cina?

3. Bagaimana persiapan yang dilakukan untuk generasi muda sebagai pelapis?

C. Tujuan Penelitian

Setiap penulisan karya ilmiah memiliki tujuan dalam penyusunan skripsi, yaitu:

1. Untuk mengetahui pengurusan jenazah dalam Islam bangsa Melayu.

2. Untuk mengetahui pengurusan jenazah dalam Buddha bangsa Cina.

3. Untuk mengetahui persiapan yang dilakukan untuk generasi muda sebagai pelapis?

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang bisa diambil iktibar pada penulisan skripsi ini adalah seperti berikut:

1. Untuk mengisi dan menambah khazanah ilmu pengetahuan serta pemahaman bagaimana tata cara jenazah sebelum dimakamkan.

2. Untuk menambah informasi kehidupan dan kematian dalam agama Buddha.

3. Untuk menambah keyakinan dalam diri bahwa Islam adalah agama paling sempurna.

(22)

6 4. Untuk menambah semangat warga gampong terutama anak muda

dalam menunaikan fardhu kifayah.

5. Untuk mengembangkan dan memperluaskan ilmu dakwah khususnya tentang pelaksanaan tajhiz mayit.

(23)

7 BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

A. Kajian Pustaka

Tinjauan pustaka adalah penelusuran penelitian terdahulu terhadap topik yang akan diteliti untuk memahami apa yang telah dipelajari dan apa yang belum dipelajari serta bagaimana penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Literatur review diambil dari laporan penelitian seperti: skripsi, tesis, atau bisa juga dari jurnal dan buku terkait.

Ada beberapa artikel ilmiah atau hasil penelitian:

Pertama, buku yang ditulis oleh Abd Bakar Yusof yang berjudul “Penyelengaraan Jenazah”.7 Buku ini diterbitkan dengan tujuan untuk tuntunan panduan kepada kaum muslimin dan muslimat tentang fardhu kifayah mengurus jenazah. Artinya kalau seorang atau beberapa orang saja melaksanakannya berarti lepaslah tanggungjawab seluruhnya, sebaliknya kalau tidak seorang pun bersedia melakukannya, berarti berdosalah semua muslimin dan muslimat di sekitar gampong jenazah itu. Buku ini juga membahas hukum-hukum seperti hukum menzirahi kubur, hukum meratapi di kubur, hukum mengucapkan takziah dan lain-lain.

Kedua, karangan Bagian Fatwa Jabatan Mufti Negeri Pulau Pinang tentang “Panduan Pengurusan Jenazah Dan Pusara Orang Islam Menurut Syarak”.8 Buku ini menyentuh tentang perkara- perkara yang wajib dilaksanakan serta perkara sunat ketika seorang meninggal. Mengikuti pembahasan-pembahasan yang disajikan dalam buku ini, manusia adalah makhluk yang dimuliakan Allah SWT. Allah telah memuliakan manusia sehingga memerintahkan para malaikat bersujud sebagai tanda penghormatan kepada Nabi

7Abd Bakar Yacub, Menyelenggarakan Jenazah, (Kuala Lumpur:

Pustaka Melayu Baru, 1986), hlm. 1.

8Bagian Fatwa Jabatan Negeri Pulau Pinang, Panduan Pengurusan Jenazah Dan Pusara Orang Islam Menurut Syarak, (Penang: Jabatan Mufti Pulau Pinang, 2018), hlm. 2.

(24)

8 Adam AS sebaik sahaja baginda diciptakan. Kemuliaan dan penghormatan kepada seorang insan hendaklah dijaga baik semasa dia hidup atau selepas meninggal dunia. Jenazah orang Islam wajib diurus mengikut syarak yang telah ditetapkan oleh Islam.

Ketiga, buku karya Nashiruddin Al-Albani yang berjudul

“Tuntunan Lengkap Mengurus Jenazah”.9 Dengan mendefinisikan petunjuk dan bimbingan Rasullah SAW dalam mengurus jenazah merupakan potret aturan yang paling sempurna bagi sang mayat, baik dalam muamalahnya secara vertikal maupun horizontal. Aturan yang sangat sempurna dalam mempersiapkan seorang yang telah meninggal untuk betemu dengan Rabb-Nya dengan kondisi yang paling baik lagi afdhal. Bukan hanya itu sahaja, keluarga dan orang- orang terdekat sang mayat pun disiapkan sebagai barisan orang- orang yang memuji Allah dan meminta pengampunan serta rahmat- Nya bagi orang yang meninggal. Selain itu, permulaan penyusunan buku ini dikemukakan banyak permasalahan yang umumnya tidak dikemukakan dalam kitab-kitab fiqih seperti tanda-tanda kematian yang baik, masalah wasiat dan lainnya. Pada beberapa bagian akhir buku ini, dijelaskan ihwal bid`ah yang biasa dilakukan orang yang menguruskan pengurusan jenazah.

Keempat, buku dari Abu Muhammad yang berjudul

“Pengurusan Jenazah Menurut Empat Mazhab & Doa-Doa Menghadapi Mati”.10 Buku ini membahas tentang mengenai orang sakit, beberapa perkara yang patut dilakukan ketika menjelang ajal manusia, hukum dan kaifiat dalam pengurusan jenazah. Amalan dan zikir orang sakit juga dibahaskan. Buku panduan ini lengkap dengan penjelasan 4 mazhab dalam hukum tajhiz mayit.

Kelima, penulisan dari Mohd Firrdhaus Mohd Sahabuddin yang berjudul “Teori Kematian Dalam Pelbagai Agama”.11 Karya ini

9Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tuntunan Lengkap Mengurus Jenazah, (Jakarta: Gema Insani, 1999), hlm. 3.

10Abu Muhammad, Pengurusan Jenazah Menurut Empat Mazhab &

Doa-Doa Menghadapi Mati, (Kuala Lumpur: Jamine Enterprise, 2000) hlm. 2.

11Mohd Firrdhaus Mohd Sahabuddin, “Teori Kematian Dalam Pelbagai Agama”,Academia.edu,

(25)

9 hadir untuk mengkaji beberapa persoalan kematian yang sentiasa menghantui manusia perlu dikenal pasti. Manusia adalah makhluk biasa ciptaan tuhan di alam fana ini dan semua pasti akan mati.

Definsi kematian memberi kesan tindak balas pemahaman sosial dan asas kemanusian diantara kematian dan kehidupan. Oleh kerana itu, penulisan ini cuba mengenal pasti apakah maksud sebenar kematian dan kehidupan bagi setiap agama yang besar di dunia seperti Islam, Kristian, Yahudi, Buddha, dan Hindu.

Keenam, karya Ann Wan Seng dengan buku yang berjudul

“Adat dan Pantang Larang Orang Cina”.12 Pembahasan buku ini mengenai orang Cina merupakan satu masyarakat yang bersifat etnosentrik yaitu sangat mengagungkan budaya dan warisannya.

Orang Cina meletakkan adat resam dan tradisi yang diwarisnya sebagai lebih penting dan mengatasi agama serta kepercayaa yang dianutinya. Setiap adat perlu dihormati daripada adat kelahiran sampailah kematian.

Ketujuh, hasil karya Soufyan Ibrahim dengan buku yang berjudul “Pengantar Buddhisme”.13 Buku ini hadir untuk menerangkan agama sebagai suatu sistem yang memiliki fungsi untuk melakukan penataan kehidupan umat manusia terutama bagi pemeluknya. Secara keseluruhan isi dari buku ini masih bersifat pengantar untuk mempelajari agama Buddha. Upacara kebaktian kematian penganut Buddha dilakukan setelah jenazah dimandikan dan dipakaikan pakaian yang bagus.

https://www.academia.edu/8261369/Teori_Kematian_Dalam_Pelbagai_Agama_

Death_Theories_in_Islam_Christian_Judaism_Hinduism_and_Buddhism_, Diakses pada tanggal 5 Juni 2022, jam 4.45 pm.

12Ann Wan Seng, Adat dan Pantang Larang Orang Cina, (Kuala Lumpur: Fajar Bakti, 1994), hlm. 1.

13Soufyan Ibrahim, Pengantar Buddhisme, (Banda Aceh: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Uin Ar-Raniry, 2015), hlm. 2.

(26)

10 B. Kerangka Teori

Dalam penelitian ini, penulis bermaksud untuk mengkaji tentang perbedaan pengurusan jenazah antara agama Islam dan Buddha serta bagaimana persediaan orang-orang gampong dalam melaksanakan kewajipan sebagai manusia untuk menguruskan jenazah kaum seagama mereka. Adapun penelitian ini menggunakan teori landasan sosial.

Max Weber memperkenalkan konsep pendekatan verstehen yaitu menggunakan metode melalui penafsiran dan pemahaman (interpretative understanding) dalam memahami makna tindakan seseorang dan berasumsi bahwa seseorang dalam melaksanakannya tidak hanya dengan bertindak, tetapi juga dengan menepatkan dirinya dalam lingkungan berpikir dan perilaku orang lain. Konsep pendekatan ini lebih menuju pada suatu tindakan bermotif dengan tujuan yang hendak dicapai.14

Teori landasan sosial Weber adalah studi tentang tindakan sosial antara hubungan sosial yang berusaha untuk mengkaji dan mentafsirkan sesebuah masyarakat. Selain itu juga dapat diartikan sebagai tindakan individu yang dapat mempengaruhi orang lain yang mengcakup semua perilaku yang dilakukan oleh manusia. Tindakan tersebut termasuk tindakan sosial yang memberikan pengaruh kepada orang lain yang mengandung tiga konsep yaitu tindakan, tujuan dan pemahaman.

Berdasarkan teori di atas, yang ingin peneliti lakukan adalah, tindakan penganut agama Islam dan Buddha dalam menunaikan kewajiban mereka menguruskan pengurusan jenazah. Adapun reaksi individu yang peka terhadap tajhiz mayit yang bertujuan melaksanakan tanggungjawab mereka dan memberi kesan kepada penganut lain untuk mencontohinya terutama dari kalangan anak muda.

14George Ritzer, Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), hlm.

215.

(27)

11 C. Definisi Operasional

1. Pengurusan

Pengurusan terdiri daripada pengawalan dan pengarahan sebuah kumpulan yang terdiri daripada satu atau lebih orang atau entiti dengan tujuan mengharmonikan dan menyelaraskan kumpulan tersebut untuk mencapai sesuatu matlamat.15 Pengurusan juga boleh merujuk kepada seorang atau sekumpulan orang yang menjalankan fungsi pengurusan tersebut.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengurusan berarti cara, proses dan perbuatan mengurus. Mencipta rancangan dan memutuskan apa yang perlu di buat pada masa hadapan (hari ini, minggu depan, bulan depan, tahun depan dan sebagainya) untuk dilaksanakan.

Definisi pengurusan dalam skripsi ini bermaksud sebuah kelompok yang mengatur dan menyusun proses dari awal kematian seseorang hingga proses terakhir pengurusan jenazah.

2. Mayit

Apabila ada seseorang meninggal, maka diwajibkan bagi sesama muslim untuk mengurus mayit. Hal tersebut hukumnya fardhu kifayah, yakni apabila sudah dilaksanakan sebagian muslim, maka tidak wajib bagi muslim lainnya.

Mayit ialah jenazah atau mayat yang digunakan dalam sehari-hari, atau kavender dalam istilah medis,sastra, forensik atau hukum adalah tubuh badan yang sudah mati atau tidak bernyawa.

Istilah-istilah tersebut biasanya merujuk pada tubuh mati manusia.

Proses penguraian yang terjadi terhadap mayat bisa membantu penentuan waktu kematian.16

15Makna Pengurusan, https://ms.m.wikipedia.org/wiki/Pengurusan, Diakses pada tanggal 13 November 2022, jam 2:07pm.

16Makna jenazah, https://id.n.wikipedia.org/wiki/Jenazah, Diakses pada tanggal 13 November 2022, jam 4.43 pm.

(28)

12 Pengurusan jenazah dengan demikian mencakup pengertian merawat jenazah mulai dari memandikan, membungkus, berdoa dan menguburkan menurut hukum Islam.

Jadi pengurusan mayit itu mencakup pengertian yang merawat jenazah mulai dari memandikan, mengkafaninya, mengshalatinya, sampai menguburkan mayat menurut landasan Islam.

3. Islam

Islam berakar dari kata “aslama”, “yuslimu”, “islaaman”

yang berarti selamat, patuh dan tunduk. Islam adalah agama monoteisme yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup seluruh umat manusia hingga akhir zaman agar dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat. Pada 2020, Islam diperkirakan dianut oleh 1,9 miliar orang di seluruh dunia sehingga menjadi agama yang terbesar kedua setelah Kristen.17

Konsep dasar ketuhanan dalam Islam dijelaskan dalam surah Al-Ikhlas yang terdiri dari empat ayat. Ayat pertama menyebutkan Allah Maha Esa, ayat kedua menjelaskan kemampuan yang dimiliki Allah sebagai tempat meminta segala sesuatu, ayat ketiga disebutkan sifat-Nya tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan ayat keempat menjelaskan sifat-Nya yaitu tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya.

Suatu kehidupan pasti ada akhirnya yaitu kematian. Dalam Islam, kematian menjadi permulaan menuju alam akhirat yang kekal dimana berpindah dari alam dunia ke alam barzah, roh manusia yang wafat akan tinggal di alam barzah hingga kebangkitan manusia dari kuburnya saat hari kiamat kelak.

17Makna Islam, https://id.m.wikipedia.org/wiki/Islam, Diakses pada tanggal 14 November 2022, jam 2.52 pm.

(29)

13 4. Buddha

Ajaran agama Buddha dapat merangkumi tiga batu permata (triratna) yaitu Buddha, Dhamma dan Sangha.18 Sebuah pandangan filosofis yang berpahaman nonteisme dengan berlandaskan kepada ajaran Siddharta Gautama. Sang Buddha dikenal oleh para Buddhis sebagai Sang Maha Guru Agung yang telah tercerahkan atau sadar yang membagikan wawasan-Nya untuk membantu makhluk hidup mengakhiri penderitaan mereka dengan melenyapkan kebodohan.

Buddhisme meliputi beragam ilmu, kepercayaan, nilai tradisi, filosofi, meditasi dan pratik spiritual yang sebagian besar berdasarkan pada ajaran-ajaran awal yang dikaitkan dengan Siddharta Gautama yang menghasilkan filsafat yang ditafsirkan.

Dalam ajaran agama Buddha, diajarkan sikap seseorang dalam menghadapi kematian dan juga bagaimana tindakan terhadap orang yang sedang menghadapi kematian. Budhha telah mengajarkan agar menerima kematian sebagai suatu realitas yang tak terhindarkan.

18Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Agama Buddha, (Jakarta: Badan

Penerbit Kristen, 1971), hlm. 74.

(30)

14 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metodologi penelitian pada dasarnya adalah metode ilmiah untuk memperoleh data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

Penulis memutuskan untuk menggunakan penelitian lapangan (field research) sebagai metode pelengkap untuk menganalisis diskusi penelitian dari buku-buku tentang interpretasi kematian dan manajemen mayat. Fokus penelitian penulis pada topik tesis ini adalah menulis tesis berdasarkan informasi yang ditemukan dan pertanyaan-pertanyaan yang diperoleh terus menerus. Penulis secara khusus mengkaji tentang perlakuan terhadap jenazah dalam Islam dan Buddha, serta membandingkan perlakuan terhadap jenazah.

Fokus dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana Islam menangani mayat dan apa perbedaannya dengan ajaran Buddha.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research). Semua data yang diperoleh dari penelitian ini didasarkan pada data yang diperoleh dari lapangan. Oleh karena itu, jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan hasil yang tidak dapat diperoleh melalui metode statistik atau kuantifikasi.

Penelitian kualitatif dapat mengungkap kehidupan masyarakat, sejarah, perilaku, fungsi organisasi, gerakan sosial, dan hubungan keluarga. Beberapa data mungkin diukur dengan data sensus, namun analisisnya tetap analisis data kualitatif. Penelitian kualitatif juga merupakan penelitian yang menonjolkan kualitas suatu produk atau jasa, atau yang terpenting berupa suatu peristiwa, fenomena atau gejala sosial. Penelitian kualitatif mengkaji dan mendalami fenomena sosial atau lingkungan sosial, yang terdiri dari perilaku, peristiwa spasial dan temporal.19

19Djunaidi Chong dan Fauzan Almansur, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan II, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), hlm. 25.

(31)

15 B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah tempat yang dipilih atau tempat yang ingin dipelajari untuk mendapatkan input data yang diperlukan untuk tesis. Mengenai penulisan skripsi ini, penelitian dilakukan di gampong Bukit Kapar, Selangor, Malaysia dengan tujuan untuk memudahkan peneliti dalam mengakses informasi karena peneliti dan informan berada di lingkungan yang sama.

C. Teknik Pemilihan Responden

Dalam penelitian kualitatif, teknik purposive sampling adalah teknik yang sering digunakan. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu itu ketika mana ada orang yang dianggap tahu tentang apa yang kita harapkan atau mungkin dia sebagai penguasa yang akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek atau situasi yang diteliti. Dengan kata lain, sampel dirancang sesuai dengan kebutuhan peneliti.20

Purposive sampling adalah satu teknik yang amat berguna untuk penelitian kualitatif. Peneliti mengetahui kualitas informan atau responden sehingga menyebabkan survei lebih efektif. Tujuan utama adalah untuk menemukan sampel yang memenuhi kriteria secara khusus sesuai yang ditetapkan oleh peneliti. Selain itu, purposive sampling memiliki nilai representative sehingga dapat membantu memperjelaskan masalah dan akhirnya masalah tujuan utama penelitian tercapai.

D. Informan

Informan ialah orang yang memberikan input dan informasi berdasarkan dengan judul penelitian kualitatif yaitu Pengurusan Agama Islam dan Buddha (Studi Kasus di Kampung Bukit Kapar, Selangor, Malaysia). Namun, untuk memperoleh informasi penelitian, peneliti melakukan observasi dengan cara mewawancarai

20Sugiyono, Metode Penelitian Kuantatif Kualitatif dan R&D, (Bandung:

Alfabeta, 2008), hlm. 300.

(32)

16 informan dari kelompok penganut agama Islam dan Buddha sebanyak 9 orang. Dari kesembilan orang tersebut masing-masing mempunyai latar belakang agama yang berbeda di Bukir Kapar, Selangor.

Tabel 1.1 Informan Penganut Agama Islam dan Buddha di Bukit Kapar, Selangor

No Informan Agama Profesi 1. Ahmad Sukaimi

Bin Kamari

Islam Siak Masjid At-Taqwa 2 2. Ismail Islam Penggali Kubur di Bukit

Kapar 3. Norwahidah Binti

Sham

Islam Pusat Zakat Salak Tinggi 4. Nor Aniza Islam Guru

5. Nor Asmahan Islam Ibu Rumah Tangga

6. Chan Buddha Agen of Fairy Park Klang 7. Cin Jia Wei Buddha Student of Langkawi Tourism

Academy

8. Celineng Buddha Pengurus Persatuan Dewa Wei Ling Keng

9. Han Ni Buddha Pelajar dari Institut Pendidikan Guru Kampus Batu Lintang

E. Teknik Pengumpulan Data

Jenis penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data yang diharapkan membutuhkan metode yang tepat. Dalam konteks penelitian ini, peneliti menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi.

(33)

17 1. Observasi

Secara umum, observasi diartikan sebagai suatu aktivitas pengamatan terhadap suatu objek dan langsung di lokasi penelitian, dan mencatat secara sistematis mengenai gejala-gejala yang diteliti.

Observasi juga bagian dalam pengumpulan data lansung dari lapangan. Dalam penelitian ini peneliti akan mengobservasikan keadaan kelompok masyarakat beragama Islam dan Buddha sekitar gampong Bukit Kapar, Selangor.

2. Wawancara

Interview atau wawancara adalah bentuk pengumpulan data yang paling umum digunakan dalam penelitian sosial. Metode ini digunakan ketika partisipan penelitian dan peneliti bertemu langsung (face to face) atau melalui telepon selama proses pengumpulan informasi untuk keperluan data primer. Wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi tentang fakta, keyakinan, perasaan, keinginan, dan lain-lain yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan untuk tujuan penelitian. Teknik ini dilakukan melalui sesi tanya jawab secara lisan antara satu atau lebih narasumber.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang mencari informasi dari catatan, transkrip, buku, surat kabar, dan lain-lain.

Apapun yang peneliti lakukan di lapangan atau mengamati atau menanyai informan, peneliti tidak lupa mengambil foto sebagai dokumen untuk membuktikan bahwa wawancara dan observasi itu dilakukan dan bahwa penelitian hanyalah hasil penelitian lapangan, bukan plagiarisme penelitian orang lain.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah proses pengumpulan data secara sistematik untuk memudahkan peneliti dalam memperoleh kesimpulan. Menurut Miles & Huberman (1992:16), analisis data

(34)

18 terdiri dari tiga alur yang terjadi secara bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.21 Mengenai ketiga alur secara lengkapnya adalah seperti berikut:

1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang mengarahkan, menajamkan, menggolongkan, membuang apa yang tidak penting dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulannya dapat ditarik dan diverifikasi.

Data kualitatif dapat disederhanakan dengan aneka macam cara seperti: melalui ringkasan, melalui seleksi yang ketat dan sebagainya. Reduksi data berlansung secara terus-menerus selama proyek yang berorientasi penelitian kualitatif berlansung sampai akhir laporan akhir lengkap tersusun.

2. Penyajian Data

Sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan adalah suatu penyajian yang dibatasi oleh Miles & Huberman. Mereka menyetujui bahwa penyajian-penyajian yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid. Semuanya digabungkan menjadi informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih. Dengan itu, seorang penganalisis dapat melihat apa yang sedang terjadi dan dapat menentukan kesimpulan yang benar.

3. Menarik Kesimpulan

Menurut Milles & Huberman, penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh.

Diverifikasikan kesimpulan-kesimpulan selama peneletian berlansung. Singkatnya, verifikasi itu mungkin sesingkat pemikiran yang melintasi dalam pemikiran peneliti selama ia menulis, bertukar

21Milles dan Huberman, Analisis Data Kualitatif, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1992), hlm. 16.

(35)

19 pendapat bagi mengembangkan kesepakatan intersubjektif di antara teman sebaya, suatu tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan atau juga upaya-upaya yang luas untuk menempatkan salinan dalam seperangkat data yang lain. Validitasnya merupakan makna-makna yang muncul dari data yang lain yang harus diuji kebenarannya.

Kesimpulan akhir tidak hanya berlaku pada waktu proses pengumpulan atas sahaja, akan tetapi perlu diverifikasi agar benar- benar dapat dipertanggung jawabkan.

(36)

20 BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Profil Gampong Bukit Kapar dan Kondisi Sosial

Agama di Malaysia sangat beragam. Islam adalah agama resmi dan kebebasan agama lain dijamin. Sebagian besar orang Melayu adalah Muslim dan orang Cina menerima agama-agama ciptaan seperti Buddha, Taoisme, dan pemujaan leluhur mereka.

Dengan berbagai budaya yang terlihat harmonis, Malaysia dapat dengan bangga merayakan festival yang tak terhitung jumlahnya sepanjang tahun. Festival utama adalah Aidilfitri, Tahun Baru Cina, Deepavali, Natal, Vasakhi, Gawai Dayak dan Tadau Ka`amatan.22

Gambar 1.1. Statistik Populasi Agama di Malaysia

Selangor (juga disebut Selangor Darul Ehsan) adalah salah satu dari tiga belas negeri bagian yang membentuk negara Malaysia.

Terletak di tengah Semenanjung Malaysia di pantai barat dan mengelilingi Kuala Lumpur dan Putrajaya. Negara bagian ini juga

22Pusat Pelancongan Malaysia (MATIC), “Agama”, http://www.matic.gov.my/informasi/kenali-malaysia/agama, Diakses pada tanggal 20 Juni 2022, jam 10.28 am.

(37)

21 berbatasan dengan negara bagian Perak di sebelah utara, negara bagian Pahang di sebelah timur, Negeri Sembilan di sebelah selatan, dan Selat Malaka di sebelah barat. Selangor adalah negara bagian dengan populasi terbesar di Malaysia. Selangor juga merupakan negara bagian terkaya di Malaysia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) dan dinyatakan sebagai negara maju pada 27 Agustus 2005. Malaysia adalah negara multikultural dan religius, dan agama resminya adalah Islam, tetapi hak atas kebebasan beragama ada karena negara ini terdiri dari berbagai ras dan budaya.

1.2. Peta Malaysia

Gampong Bukit Kapar dibuka sekitar tahun 1918. Awalnya gampong ini dibuka oleh sekelompok warga awal yang dipimpin oleh Tuan Haji Abdul Wahid bin Ahmad. Orang-orang ini adalah warga Desa Kapar yang sering bolak-balik menggarap tanah di wilayah sekitar. Dahulu, kawasan hutan yang belum diterokai merupakan tempat kesukaan masyarakat Jawa terdahulu. Desa ini terletak di negara bagian Selangor Darul Ehsan.

Daerah tempat tinggal mereka di Desa Kapar, tanahnya cukup landai. Kelompok pemukim ini sering bolak-balik dari desa Kapar untuk menggarap lahan di kawasan perbukitan sehingga menyebabkan beberapa warga desa selalu bertanya setiap ingin pergi atau pulang dari menggarap lahan perbukitan. Saat ditanya mereka akan menjawab, “Ke bukit”. Apabila pulang dari bukit dan ditanya hendak ke mana, maka akan dijawab, “Balik ke Kapar”. Maka

(38)

22 lahirlah nama Bukit Kapar dan tetap hingga saat ini dikenal sebagai gampong Bukit Kapar.

Kehidupan di desa pada waktu itu sangat rukun dan damai.

Banyak orang datang ke desa untuk mencari rezeki dan setiap kali dibuka suatu daerah pasti akan membangun surau terlebih dahulu.

Itulah cara atau sistem orang-orang dahulu mencari ilmu.23

Sehingga hari ini seramai lapan orang yang telah berkhidmat sebagai ketua gampong, Gampong Bukit Kapar yaitu:

1. Haji Abdul Latif bin Haji Sidek (1940-1945) 2. Haji Jihar bin Kasan (1945-1950)

3. Haji Iskandar bin Haji Johar (1950-1979) 4. Haji Mohd Zaid bin Haji Alias (1979-2006) 5. Haji Ismail bin Haji Nor (2006-2008) 6. Haji Syafie bin Haji Sulaiman (2008-2014) 7. Masadan bin Haji Mohsin (2015 – 2020) 8. Haji Jamaluddin bin Ramlan (2020-sekarang)

Gambar 1.3. Peta Gampong Bukit Kapar

Sebagian besar masyarakat Cina yang merantau ke Malaya berasal dari bagian selatan daratan Cina. Mereka berasal dari daerah

23Info Kampung Bukit Kapar, “Sejarah”,

http://infobukitkapar.blogspot.com/p/pada-awalnya-dibuka-oleh-

sekumpulan.html, Diakses pada tanggal 20 Juni 2022, pada jam 10.31 am.

(39)

23 Fukien dan Kwangtung dan terdiri dari dialek Hokkien, Kanton, Hakka dan lainnya. Dengan berdirinya penjajah Inggris di Malaya, masyarakat Cina berbondong-bondong mencari rezeki dan mengadu nasib. Ada yang datang untuk mengumpulkan kekayaan dan kembali ke China namun sebelum Perang Dunia Kedua dan China menjadi negara komunis, banyak yang memutuskan menetap di Tanah Melayu.24

Orang Cina adalah kelompok etnis terbesar kedua di negara ini. Malaysia dan China telah mempertahankan hubungan politik dan perdagangan selama ratusan tahun. Pada masa Kesultanan Malaka, Cina melindungi Malaka dari ancaman Siam. Komunitas keturunan Cina Malaysia terdiri dari beberapa kelompok etnis seperti Cina Min, Cina Yue, Cina Hakka, Cina Wu, dan Cina Utara. Koloni pertama yang dibuka di Malaysia didirikan pada abad ke-15 ketika putri Cina Hang Li Po menikah dengan Sultan Malaka. Sejak itu, orang Cina tumbuh menjadi populasi terbesar kedua di Malaysia.25 Sekelompok pedagang keturunan Cina mulai merantau ke gampong dan diikuti oleh para buruh keturunan India. Kelompok masyarakat ini telah mengalami proses asimilasi dalam sosio- kultural Melayu dengan tetap mempertahankan agamanya dan ciri- ciri kepercayaan aslinya, yaitu agama-agama yang berhubungan dengan masyarakat Cina seperti Buddha, Khonghucu, Taoisme dan lain-lain. Efek ini dapat dilihat dari aspek material dan non material.

Aspek material meliputi perubahan dalam hal pola makan, pakaian dan masakan sedangkan aspek non material meliputi filsafat, pemikiran, adat istiadat dan bahasa termasuk berbahasa Melayu.26

24Mansor Mohd. Noor, “Hubungan Melayu dan Cina Di Malaysia Masa Kini”, dalam Jurnal Demokrasi Vol. IX. Nomor. 2, (2010), hlm. 183.

25https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-

rinpoche/malaysia/kaumcina-di-malaysia.html, Diakses pada tanggal 20 Juni 2022, jam 8.46 pm.

26Zawiah Mat dan Mashitah Sulaiman, “Interaksi budaya India & Cina ke atas Pengukuhan bahasa dalam Tamadun Melayu”, Jurnal Pengajian Umum Bil. 8, (2007), hlm. 127.

(40)

24 Efek positif dari masuknya Cina secara langsung telah membentuk sistem sekolah dan penerapan budaya masing-masing di gampong. Sekolah Tipe Nasional (C) Tiong Hua Kok Bin didirikan.

Kontribusi dari aspek masyarakat baru misalnya seperti Cina, Melayu-Cina dan lain-lain. Sebuah entitas komunitas baru akan terbentuk dalam perkawinan campuran ketika orang Cina menikah dengan masyarakat setempat. Kedatangan orang Cina juga membawa sistem pengobatan tradisional mereka. Masuknya tabib Cina yang membawa obat-obatan tradisional dari tumbuhan dan organ hewan. Hal ini memberikan suntikan baru dalam keragaman obat dan membuka mata masyarakat setempat untuk mencoba sistem pengobatan Cina.27

Hubungan ras di Malaysia bersifat dinamik. Begitu pula dengan dengan hubungan di antara orang Melayu dan Cina di gampong ini. Dengan memahami kedinamikaan hubungan etnik di antara Melayu dan Cina dapat mengidentifikasi bentuk, pola, perubahan dan permasalahan masyarakat multietnis ini.

Hubungan etnis antara Melayu dan Cina terjalin baik dan harmonis sejak kemerdekaan 54 tahun silam. Tentu saja ada juga kesalahpahaman yang membawa kepada ketegangan sosial seperti dalam kes penduduk muslim menolak penempatan jirat baru orang Cina di Bukit Cherakah.

Dengan pola kohesi sosial berdasarkan kemungkinan kesalahpahaman, ketegangan dan konflik sosial, toleransi antara dua agama dan budaya penting untuk menjamin kemakmuran, stabilitas dan pembangunan Malaysia. Untuk melestarikan pengalaman membangun, memperkaya dan memperkuat hubungan etnis yang baik, jangan bersikap sambal lewa, tetapi rencanakan dan bertindak tegas, sehingga setiap etnis melayu dan Cina memiliki ruang dan akses ke budaya demokrasi dan menikmati hasil budaya bersama.

Maju dan pastikan setiap penduduk terjamin keadilan sosial bagi dirinya, keluarga, agama dan masa depannya.

27Rochelle Rut, Kemasukkan buruh-buruh dari negeri China dan India, (Kuala Lumpur: Academia, 2004), hlm. 13-14.

(41)

25 Menurut Norwahidah bahwa:

“Keharmonisan Melayu dan Cina lahir dengan kehidupan yang harmonis antar tetangga. Kekompakan silaturahmi juga terlihat pada perayaan-perayaan seperti penyerahan bantuan kepada penduduk Cina sebanyak 600 voucher belanja Tahun Baru Cina tahun 2022 yang diberikan oleh perwakilan Mohd Fakhrulrazi Mohd Mokhtar di Meru Klang. Begitu pula dengan warga Cina yang memberikan bantuan sembako kepada warga Melayu untuk merayakan Hari Raya Aidilfitri. Kesatuan ini semakin diperkuat dengan kegiatan gotong royong yang menciptakan kesepahaman antar ras melalui semangat gotong royong dan gotong royong. Kegiatan ini dilakukan saat terjadi banjir besar di Malaysia dan juga melanda desa Bukit Kapar dan Meru pada awal tahun ini.”28

Hal ini menjelaskan bahwa program ini membuka ruang untuk menciptakan pemahaman untuk menangkal prasangka atau kesalahpahaman perkauman.

B. Cara Pengurusan Mayit 1. Tahjiz Jenazah Islam

Terdapat bermacam aneka istilah yang digunakan untuk

“mati”. Misalnya “tewas”, untuk gugur di medan jihad, “wafat” bagi mereka yang berpangkat dan terhormat, “meninggal dunia” bagi keluarga yang mendahului, “diregut maut” bagi mereka yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas, dan “berpulang kerahmahtullah”

meninggal dunia, atau menghembuskan nafas terakhir. Semua itu berarti “dead” yang bermaksud mati. Menurut istilah kedoktoran, mati adalah bila pernafasan dan gerakan jantung manusia berhenti, denyutan nadi terstop, segala anggota tubuh terhenti melakukan fungsinya. Dalam agama Islam, mati ialah saat malaikat maut merenggutkan nyawa dari tubuh seseorang hamba.

28Wawancara dengan Norwahidah Binti Sham, sebagai wakil Pusat Zakat Salak Tinggi, pada tanggal 21 Jun 2022 di Meru, Selangor.

(42)

26 Menurut Takdir Alisyahbana, “mati tidak dapat dielakkan, yang oleh usahakan hanyalah mempersiapkan amal ibadat menjelang datangnya saat kematian”.29

Apabila seseorang sedang “sakaraat” menjelang panggilan ajal kematiannya, wajar kita berada didekatnya untuk membimbing di saat akhir kehidupannya. Pertama, menalqinkannya, dengan mengulang kalimat syahadat ke telinga orang yang dalam keadaan gawat berpisah dengan nyawanya. Kedua, membaca dan melagukan ayat suci al-Quran.30

Hal-hal yang harus dilakukan setelah seseorang telah menghembuskan nafas yang terakhir sebagai berikut:

a. Segera memejamkan mata sang mayat dan mendoakannya.

b. Menutup seluruh badan sang mayat dengan pakaian (kain).

c. Berbeda halnya bila seseorang yang meninggal sedang

mengenakan kain ihram (sedang menunaikan haji atau umrah).

Untuk kasus ini hendaknya seluruh jasadnya ditutupi kecuali bagian kepala dan wajahnya.

d. Hendaklah menyengerakan pengurusan pemakamannya bila telah nyata kematiannya.

e. Hendaklah memakamkan sang mayat di kota tempat ia wafat dan tidak dipindahkan ke kota atau negeri lain, hal ini

disebabkan pemindahan berarti bertentangan atau menyalahi perintah untuk menyegerakan pengurusan.

f. Hendaklah sebagian dari mereka menyegerakan untuk melunasi utang-utang si mayat dari harta yang dimilikinya.31

Melakukan dua perkara yang diharuskan pada kerabat sang mayat ketika mendengar berita kematian. Pertama, bersabar dan rela hati dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Kedua, diharuskan bagi kerabat sang mayat mengucapkan istirja`

(melafalkan ucapan Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un). Ada pula hal yang haram dilakukan para kerabat yaitu meratapi mayat, memukul-

29Abd Bakar Yacub, Menyelenggarakan, hlm. 12-13.

30Ibid, hlm. 16.

31Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tuntunan Lengkap, hlm. 30-32.

(43)

27 mukul pipi dan merobek-robek baju, mencukur kepala rambut, mengurai rambut, membiarkan rambut lebat dan menyiarkan berita kematian melalui pengeras suara dan semisalnya.

Diperbolehkan mengumumkan kematian bila tidak diikuti dengan cara-cara yang mirip dengan pemberitahuan berita yang dilalukan pada zaman jahiliyyah dahulu. Penyebaran ada kalanya menjadi suatu keharusan bila ternyata tidak ada orang yang melakukan pengurusan jenazah seperti memandikan, mengafani dan menshalati mayit. Bagi siapa saja yang melawat, diperbolehkan membuka tutup wajah si mayat dan menciumnya.32

1.1 Memandikan Jenazah

Memandikan jenazah ialah membersihkan dan mensucikan jenazah dari segala kekotoran dan najis yang melekat pada tubuh jenazah. Tujuannya adalah agar jenazah tersebut kembali kepada Allah dalam keadaan bersih dan suci.

Memandikan jenazah hukumnya wajib sekali saja, selama air mandi telah menyentuh seluruh tubuh, Adapun yang mengulangnya adalah sunat. Hukum dari tugas ini adalah fardhu kifayah, yaitu sesuatu yang jika sebagian umat Islam telah melakukannya, maka kewajiban itu gugur dari seluruh umat Islam. Sebaliknya, jika tidak ada yang melakukannya, maka umat Islam akan melakukannya berdosa.33

Syarat jenazah yang akan dimandikan adalah muslim, bukan bayi yang gugur dari kandungan, masih wujud jasadnya, dan bukan orang yang mati syahid.

Jenazah diangkat oleh dua atau tiga orang dengan hati-hati ke bak mandi yang disediakan, dengan syarat ruangan harus ditutup agar tidak terlihat orang yang tidak bertugas memandikannya,

32Abu Muhammad, Pengurusan, hlm. 26.

33Akmal Haji Md Zain, Bimbingan Pengurusan Mayat, (Kuala Lumpur:

Al-Hidayah Pulishers, 2003), hlm. 1-2.

(44)

28 apalagi anak-anak yang sebaiknya dijauhkan dari tempat itu.34 Seperti yang dikatakan oleh Ahmad Sukaimi bahwa:

“Jenazah harus diperlakukan seperti memandikan orang yang hidup karena faktanya jenazah rasa apa yang dibuat ke atas mereka.

Pemandian jenazah dapat dilakukan di rumah, di surau atau di masjid. Tergantung kemauan keluarga sendiri, yang penting harus di ruangan tertutup.”35

Dari pernyataan di atas, terlihat bahwa jenazah harus diperlakukan dengan lembut dan tidak boleh dilakukan dengan semena-mena. Di Bukit Kapar, pemandian sering dilakukan di rumah keluarga itu sendiri karena lebih mudah.

Dalam memandikan mayat hendaklah menjaga hal-hal sebagai yang berikut:36

a. Memandikannya tiga kali lebih banyak, sesuai dengan yang dibutuhkan atau yang dipandang perlu oleh orang yang memandikannya.

b. Sebaiknya dimandikan dengan jumlah ganjil (3 kali, 5 kali, atau 7 kali, dan seterusnya).

c. Air yang digunakan untuk mandi sebaiknya dicampur dengan sidrin (daun bidara) atau sejenisnya, seperti sabun, dan lain- lain.

d. Di akhir mandi, airnya harus ditaburi minyak wangi, kapur barus, dan sejenisnya.

e. Longgarkan ikal dan kepang dan cuci dengan baik.

f. Mengurai rambutnya.

g. Untuk wanita, dibuat tiga kepangan rambut, lalu ditata kembali.

h. Mulailah memandikannya dari sisi kanan, dan bagian tubuh yang biasa dibasuh saat wudhu.

34Abd Bakar Yacub, Menyelenggarakan, hlm. 18.

35 Wawancara dengan Ahmad Sukaimi bin Kamari, sebagai wakil siak Masjid At-Taqwa 2, pada tanggal 20 Juni 2022 di Gampong Bukit Kapar, Selangor.

36Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tuntunan Lengkap, hlm. 61-65.

(45)

29 i. Yang memandikan jenazah laki-laki harus laki-laki dan yang

memandikan jenazah perempuan harus perempuan.

j. Yang memandikan jenazah laki-laki harus laki-laki dan yang memandikan jenazah perempuan harus perempuan.

Gambar 1.4. Peralatan ketika Memandikan Mayat

Bagi orang yang memandikan jenazah diberikan pahala yang besar, sebagimana yang dikatakan oleh Ahmad Sukaimi bahwa:

“Ada dua syarat yang harus diperhatikan. Pertama, harus merahasiakan apa yang dilihat dari mayat yang mungkin tidak menyenangkan dan memalukan baginya. Kedua, hanya mencari keridhaan Allah saja, tidak mengharapkan imbalan apapun, termasuk urusan duniawi.”37

Dari dialog diatas dapat dipahami bahwa orang yang memandikan jenazah harus menjaga akhlak mandi, perlu diusahakan untuk berbicara dengan baik, dan jangan sekali-kali berbicara tentang cacat tubuh jenazah, cukup bagi yang memandikannya untuk

37Wawancara dengan Ahmad Sukaimi bin Kamari, sebagai wakil siak Masjid At-Taqwa 2, pada tanggal 20 Juni 2022 di Gampong Bukit Kapar, Selangor.

(46)

30 mengetahuinya. Ketika jenazah meninggal di rumah sakit, maka akan langsung dirawat dan dimandikan di rumah sakit tersebut.

1.2 Mengafani Jenazah

Hukum mengkafankan jenazah adalah fardhu kifayah.

Cukup dengan menutupi seluruh tubuh almarhum sekurang- kurangnya satu lapisan sahaja kecuali kepala bagi lelaki dan muka bagi perempuan yang sedang ihram.

Menurut pendapat mazhab Syafie wajib dikafankan tiga lapis sama ada mayat lelaki atau perempuan sekiranya kos pengkafanan itu daripada harta si mayat itu sendiri dan tidak berwasiat untuk dikafankan dengan selmbar kain sahaja.

Oleh karena itu, sebaik-baiknya tiga lapis untuk lelaki dan lima lapis untuk perempuan. Boleh mengkafankan jenazah dengan kain apa saja tapi sebaiknya yang berwarna putih karena itu adalah sebaik-baik kain. Tidak boleh mengkafankan jenazah lelaki dengan sutera, makruh mengkafankan jenazah dengan kain berwarna kuning dan haram menulis sebarang ayat al-Qur`an atau nama Allah di atas kain kafan. Seperti yang dikatakan oleh Nor Aniza bahwa:

“Kafan disediakan di surau atau masjid, jika ada yang meninggal, kafan dapat diambil dari surau atau masjid terdekat dan harus menghubungi pihak panitia terlebih dahulu.”38

Berdasarkan keterangan di atas, diketahui bahwa bila terjadi kematian, kafan tersebut bisa didapatkan di rumah Tuhan. Kesiapan warga surau dan masjid desa Bukit Kapar patut dipuji.

Cara mengkafankan jenazah dimulai dengan memasang lima tali pengikat terlebih dahulu, yaitu ujung kepala, bahu, pinggang, lutut, dan ujung kaki. Bentangkan kain kafan, lalu taburkan kapur barus di atasnya. Bentangkan kain kafan yang kedua juga taburkan kapur barus di atasnya. Bentangkan pula kain lapisan yang ketiga.

38Wawancara dengan Nor Aniza, sebagai guru pada tanggal 21 Desember 2022 di Banda Aceh.

(47)

31 Letakkan mayat tadi dengan perlahan-lahan secara menelentang.

Tangan si mayat hendaklah diletakkan sepertimana qiam dalam sembahyang.Kemudian potong kapas kecil-kecil untuk diletakkan di setiap sendi dan anggota sujud. Ambil sehelai kapas dan tarih kapur barus di dalamnya lalu letakkan di kemaluan almarhum tetapi jangan masu kedalam. Selanjutnya jenazah harus diikat agar kapas yang ada tidak terurai. Sebagaimana yang dikatakan Nor Aniza juga bahwa:

“Di gampong ini adat mengkafankan jenazah hanya dilakukan oleh orang tua sahaja, ketidakterlibatan anak muda dalam proses ini dengan alasan mereka tidak tahu.Itulah yang membuat saya sedih.

Mereka harus berpartisipasi.”39

Dari dialog diatas, dipahami bahwa pemasangan kain kapan harus dipatuhi berdasarkan hukum syarak dan orang yang meninggal dalam keadaan ihram tidak boleh dibubuhi wewangian apapun.

Kebanyakan anak muda memang tidak mengambil tahu tentang mengkafankan mayat karena bagi mereka itu proses yang rumit.

Gambar 1.6. Skema Kain Kafan

39Wawancara dengan Nor Aniza, sebagai guru pada tanggal 21 Desember 2022 di Banda Aceh.

(48)

32 1.3 Shalat Jenazah

Shalat jenazah ialah shalat khusus yang dilakukan ke atas jenazah orang Islam yang meninggal dunia baik lelaki, perempuan atau khunsa. Shalat ini dilakukan dengan empat kali takbir tanpa rukuk dan sujud.40 Menurut yang dikatakan Ahmad Sukaimi bahwa:

“Shalat jenazah biasanya dilakukan di rumah almarhum, namun jika ada masalah keterbatasan tempat, bisa sholat di surau atau masjid terdekat. Shalat jenazah biasanya dihadiri oleh banyak orang muda.

Mereka berpartisipasi dalam masalah ini. Ini sangat membanggakan.”41

Dari pernyataan di atas diketahui bahwa proses sembahyang jenazah diikuti oleh semua golongan dan biasanya sembahyang jenazah hanya dilakukan oleh golongan laki-laki saja.

Syarat jenazah yang hendak disembahyangkan adalah suci dari hadas, menutup aurat, mayat muslim, bukan mati syahid, dan suci dari najis pada badan, kain dan tempat.

Terdapat tujuh rukun sembahyang jenazah berdasarkan Mazhab Imam Syafie sepertimana yang berikut:42

a. Berniat (di dalam hati).

b. Berdiri bagi yang mampu

c. Melakukan empat kali takbir (tidak ada rukuk dan sujud).

d. Setelah takbir pertama, membaca Al Fatihah.

e. Setelah takbir kedua, membaca shalawat (minimalnya adalah Allahumma Solli `ala Muhammad).

f. Setelah takbir ketiga, membaca doa mayit.

g. Salam setelah takbir keempat.

40Akmal Haji Md Zain, Bimbingan, hlm. 48.

41Wawancara dengan Ahmad Sukaimi bin Kamari, sebagai wakil siak Masjid At-Taqwa 2, pada tanggal 20 Juni 2022 di Gampong Bukit Kapar, Selangor.

42Abdul Azib Hussain, “Program Pengurusan Jenazah”, Academia.edu,https://www.academia.edu/34627483/PROGRAM_PENGURUS AN_JENAZAH, Diakses pada tanggal 9 Juni 2022, jam 6.20 pm.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi/alasan peserta kelompok dalam mengikuti kegiatan Mentoring Agama Islam, mengetahui pola interaksi yang terjadi dalam

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru terhadap pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Islam

M Nur Rochim Maksum, G000130176, Jurusan Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

M Nur Rochim Maksum, G000130176, Jurusan Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana akad pembiayaan pada perbankan syariah yang dibuat secara baku menurut hukum islam,

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya yang dilakukan MA Al-Asror Semarang dalam menangkal radikalisme melalui kurikulum Pendidikan Agama Islam.. Penelitian

Salah satu pendekatan untuk mengetahui tentang masuknya agama Islam ke Indonesia adalah dengan penelitian archeology, yaitu penelitian banda-benda kuno yang memiliki identitas

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dilapangan mengenai persepsi masyarakat pada masa pandemic covid-19 tentang penyuluh agama Islam di kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu maka