Kemiskinan Spasial dan Pertumbuhan Ekonomi: Pengalaman Strategi
Penanggulangan Kemiskinan di Era
Pemerintah SBY berdasarkan sejumlah Peneliti
Drs. Sudarmo, MA., Ph.D
Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret
PENDAHULUAN
• Penelitian tentang kemiskinan yang telah dilakukan menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh penggunaan konsep garis kemiskinan (poverty line) yang berbeda-beda.
• Universitas, Bank Dunia,Lembaga Swadaya Masyarakat menggunakan konsep yang berbeda untuk mengukur kemiskinan.
• Perkiraan garis kemiskinan yang diajukan oleh Badan Pusat Statistik mendapat keunggulan sebagai indikator yang resmi dipakai oleh pemerintah.
• Beberapa peneliti mulai mendefinisikan tentang
kemiskinan sebagai konsep multidimensional, tidak hanya terbatas pada pendapatan dan konsumsi per kapita saja.
• Penelitian yang dilakaukan para peneliti ini
diarahkan untuk melakukan kombinasi analisis
tentang indikator kemiskinan dan dimensi spasial kemiskinan.
• Tujuan dari penggabungan analisis ini adalah untuk menemukan pendekatan yang tepat dalam
merumuskan stragtegi penanggulangan kemiskinan
di Indonesia
• Perumusan strategi penanggulangan kemiskinan menjadi sesuatu yang penting bagi keberlanjutan pertumbuhan berkeadilan, seperti yang dirancang dalam RPJM 2010-2014.
• Salah satu tantangan berat bagi pemerintah untuk
menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah bagaimana mengatasi persoalan kemiskinan yang sangat kompleks.
• Salah satu pendekatan yang akan dipakai dalam
analisis ini adalah pendekatan dimensi spasial, yaitu pendekatan untuk mencapai target simultan melalui analisis dimensi-dimensi kemiskinan berdasarkan
bidang kajian ilmu yaitu ekonomi dan social
• Kemiskinan merupakan suatu masalah yang dihadapi oleh beberapa negara di dunia selama bertahun-tahun.
• Banyak negara di belahan dunia mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, akan tetapi pertumbuhan
tersebut tidak mampu member manfaat yang berarti bagi penduduk miskin.
• Pada dasarnya kemiskinan dan pengangguran merupakan dua masalah penting yang dihadapi oleh banyak negara. Setiap
tahun pemerintah memfokuskan program pembangunan untuk mengatasi masalah tersebut.
• Target penurunan angka kemiskinan menjadi isu penting di beberapa negara termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia telah merumuskan suatu kebijkan dalam rangka mendukung penciptaan akselerasi kinerja ekonomi tahun 2011 dan
pencapaian sasaran pembangunan yaitu dengan menetapkan arah kebijakan fiskal tahun 2011.
• Menurut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2011, ada tiga sasaran kebijakan
fiskal yaitu;
1) Meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas (pro growth)
2) Meningkatkan dan memperluas lapangan kerja (pro job)
3) Meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui
program jaring pengaman social yang berpihak
pada masyarakat miskin (pro poor)
• Ketiga strategi pemerintah dalam rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM ) kurun waktu 2005-2009 ini merupakan pendorong bagi percepatan laju pertumbuhan ekonomi yang
diharapkan dapat memberikanlebih banyak kesempatan kerja bagi masyrakat Indonesia,
sehingga ia akan menikmati hasil pembangunan
dan dapat keluar dari perangkap kemiskinan.
• Berbagai penelitian telah menganalisis hubungan antara pengurangan kemiskinan, pertumbuhan
ekonomi, dan ketimpangan pendapatan (lihat Datt &
Ravallion, 1992; De Silva & Sumarto, 2014; Kakwani, 1997; Kakwani & Pernia, 2000; Kakwani & Son, 2008;
Ravallion & Chen, 2003; Timmer, 2004).
• Para peneliti ini mempelajari apakah pertumbuhan ekonomi itu pro-poor atau tidak, sambil juga
mempertimbangkan fakta bahwa kemiskinan tidak
hanya dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh perubahan ketimpangan pendapatan.
• Mereka mempertanyakan apakah pertumbuhan
ekonomi bermanfaat untuk pengentasan kemiskinan sebelum membuat penyesuaian untuk ketimpangan pendapatan.
• Di Indonesia, studi tentang kemiskinan dan
ketimpangan sangat melimpah karena banyak peneliti tertarik untuk mempelajari hubungan antara kemiskinan, pertumbuhan ekonomi,
dan ketimpangan (misalnya, Akita & Lukman, 1999; Bhattacharyya & Resosudarmo, 2015;
De Silva & Sumarto, 2014; Miranti, 2010;
Suryahadi, Hadiwidjaja, & Sumarto, 2012;
Suryahadi, Suryadarma, Sumarto, 2009;
Timmer, 2004; Van Leeuwen & Földvári,
2016).
• Misalnya, De Silva dan Sumarto (2014) menyelidiki korelasi antara kemiskinan, ketimpangan, dan
pertumbuhan ekonomi di Indonesia antara 2002 dan 2012 dan menggunakan beberapa metode dan indeks pertumbuhan pro-kaum miskin untuk mendefinisikan pertumbuhan sebagai pro-kaum miskin atau tidak.
• Untuk menganalisis dinamika pertumbuhan pro-poor, studi mereka menerapkan dekomposisi redistribusi
pertumbuhan dan indeks pro-kemiskinan.
• Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi menguntungkan rumah tangga yang berada di urutan teratas distribusi pengeluaran, sedangkan kelompok miskin menerima keuntungan yang secara
proporsional lebih sedikit daripada yang tidak miskin.
• Mayoritas kajian yang dibahas dalam tinjauan pustaka ini berfokus pada kaitan pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan
redistribusi di Indonesia secara keseluruhan.
• Sebagai contoh sangat bagus penting mengeksplorasi dimensi spasial dari
pertumbuhan ekonomi, redistribusi, dan pengentasan kemiskinan di Indonesia,
menurut wilayah dan provinsi selama periode presiden Yudhoyono pada tahun 2004 dan
2014 (referensi: Aji, 2020, 2(1): 34-50).
• Di Era Presiden SBY terdapat 34 provinsi di Indonesia, delapan di antaranya telah dibentuk sejak 1999 di
bawah desentralisasi, yaitu Maluku Utara (dulu
Maluku), Papua Barat (dulu Papua), Banten (dulu Jawa Barat), Kepulauan Bangka Belitung (dahulu Sumatera Selatan), Gorontalo (dahulu Sulawesi Utara), Kepulauan Riau (dahulu Riau), Sulawesi Barat (dahulu Sulawesi
Selatan) dan Kalimantan Utara (dahulu Kalimantan Timur).
• Namun dalam studi Witri Mukti Aji (2020), Papua Barat, Kepulauan Riau, Sulawesi Barat, dan Kalimantan Utara digabung masing-masing dengan Papua, Riau, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur.
• Oleh karena itu, analisis dilakukan dengan menggunakan 30 provinsi
Perubahan Kemiskinan
• Tabel 1 menunjukkan perubahan dalam insiden
kemiskinan (yaitu, kemiskinan rasio jumlah kepala,
didefinisikan oleh persamaan (4) menurut wilayah dan provinsi.
• Indonesia mengalami penurunan angka kemiskinan yang signifikan pada periode tersebut, dari 27,3%
menjadi 10,0% (Insiden kemiskinan diperkirakan
menggunakan garis kemiskinan resmi untuk wilayah perkotaan dan pedesaan di setiap provinsi. Perkiraan pada tahun 2004 sebesar 27% jauh lebih besar
daripada yang dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (18%), tetapi hasil analisis pertumbuhan pro-kaum
miskin tidak akan diubah secara kualitatif. Perlu dicatat bahwa rasio jumlah penduduk sebesar 18% dapat
diperoleh dengan menurunkan garis kemiskinan resmi sebesar 10%.)
Pertumbuhan Ekonomi
• Diketahui bahwa , perubahan kemiskinan dapat diuraikan menjadi komponen pertumbuhan dan redistribusi.
• Oleh karena itu, penting untuk menyelidiki pertumbuhan ekonomi dan redistribusi (yaitu, perubahan ketimpangan) di masa penelitian.
• Penting dibahjas pertumbuhan ekonomi menurut wilayah dan provinsi, dimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan
pertumbuhan rata-rata pengeluaran per kapita.
• Tabel 2 menunjukkan tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan dari pengeluaran per kapita rata-rata. Selama periode 2004- 2014, rata-rata pengeluaran per kapita meningkat setiap tahun tingkat pertumbuhan rata-rata 5,5% di Indonesia
Redistribusi
• Jika tidak ada perubahan dalam ketidaksetaraan pengeluaran,
pertumbuhan ekonomi seharusnya mengurangi kejadian kemiskinan (yaitu, rasio jumlah pegawai). Namun, pertumbuhan ekonomi biasanya dikaitkan dengan perubahan ketimpangan pengeluaran.
• Ketika pertumbuhan ekonomi diiringi dengan meningkatnya
ketimpangan, maka pengentasan kemiskinan akan berkurang. Untuk menganalisis sejauh mana pertumbuhan ekonomi yang kondusif bagi pengentasan kemiskinan, perlu diketahui apakah pertumbuhan ekonomi tersebut disertai dengan peningkatan ketimpangan pengeluaran atau tidak.
• Tabel 3 dan 4 menyajikan ketimpangan pengeluaran, masing-masing, dalam 2004 dan 2014, di mana ketimpangan diukur dengan indeks Theil L dan T serta koefisien Gini. Tabel-tabel ini juga menyajikan hasil analisis dekomposisi menurut provinsi menggunakan indeks Theil L dan T.
Seperti yang diukur dengan koefisien Gini, pengeluaran ketimpangan adalah 0,34 pada tahun 2004 di Indonesia, tetapi telah meningkat terutama menjadi 0,43 pada tahun 2014.
Pertumbuhan Ekonomi, Redistribusi dan Pengentasan Kemiskinan: Kemiskinan Pertumbuhan Ekonomi
• Pertumbuhan ekonomi seharusnya dapat mengurangi angka kemiskinan jika tidak ada perubahan ketimpangan
pengeluaran.
• Namun, pertumbuhan ekonomi biasanya dikaitkan dengan
perubahan ketimpangan pengeluaran. Pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan penurunan ketimpangan dikatakan
pro-poor.
• Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan ketimpangan yang meningkat berarti tidak berpihak pada masyarakat miskin.
• Namun, jika peningkatan ketimpangan tidak sepenuhnya mengimbangi efek pengentasan kemiskinan dari
pertumbuhan ekonomi, namun angka kemiskinan akan
menurun meskipun pertumbuhan tersebut tidak sepenuhnya buruk. Ini akan menganalisis kemajuan pertumbuhan
ekonomi di setiap provinsi.
• Karena sebagian besar provinsi di Indonesia
mengalami peningkatan ketimpangan pengeluaran, pertumbuhan ekonomi mereka tidak sepenuhnya berpihak pada kaum miskin.
• Meskipun demikian, mereka mencapai
pengurangan kejadiankemiskinan, karena
meningkatnya ketimpangan tidak sepenuhnya
mengimbangi efek pengurangan kemiskinan dari pertumbuhan ekonomi.
• Oleh karena itu, bagian ini menyelidiki pro-
kemiskinan relatif pertumbuhan ekonomi
• Selama periode 2004-2014, Indonesia tumbuh sebesar 5,5% dalam hal pengeluaran rata-rata per kapita (lihat Tabel 2) dan berhasil menurunkan angka kemiskinan secara substansial (lihat Tabel 1).
• Namun, terjadi peningkatan ketimpangan
pengeluaran; dengan demikian, pertumbuhan tidak berpihak pada kaum miskin di Indonesia.
• Gambar 1 menunjukkan kurva insiden pertumbuhan untuk Indonesia. Sebuah landai ke atas kurva
menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak berpihak pada penduduk miskin, karena rumah tangga yang lebih miskin tumbuh pada tingkat yang jauh lebih kecil daripada rata-rata nasional
• Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5, Sumatera Barat dan Bangka Belitung mencatat penurunan angka
kemiskinan yang sangat besar, meskipun tingkat
pertumbuhannya tidak besar. Hal ini disebabkan oleh peningkatan ketimpangan pengeluaran yang relatif kecil. Jakarta juga tumbuh kurang pesat, tetapi
ketimpangannya hanya meningkat sedikit sehingga angka kemiskinan menurun sebesar 6,2 poin
persentase.
• Ada variasi yang besar antarprovinsi dalam hal pro- kemiskinan pertumbuhan ekonomi.
• Dengan menggunakan klasifikasi yang dijelaskan di
atas, provinsi diklasifikasikan ke dalam lima kelompok berikut:
1) PPGI <0, pertumbuhan Maluku Utara anti miskin
2) 0 <PPGI ≤ 0,33, pertumbuhan kurang berpihak pada penduduk miskin Gorontalo, & Bengkulu
3) 0,33 <PPGI ≤ 0,66, pertumbuhan cukup berpihak pada
penduduk miskin Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Selatan Sulawesi, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku
4) 0.66 <PPGI <1.0, pertumbuhan berpihak pada penduduk miskin Riau, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Jakarta, Kalimantan Selatan
5) PPGI ≥ 1.0, pertumbuhan sangat berpihak pada penduduk miskin Yogyakarta, Kalimantan Timur, Papua.
Catatan: PPG I (pro-poor growth index).
KESIMPULAN
• Berdasarkan tahun 2004 dan 2014 Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), penelitian ini mencoba menganalisis hubungan antara pertumbuhan ekonomi, redistribusi dan penanggulangan kemiskinan dari perspektif spasial di Indonesia selama periode Yudhoyono dari tahun 2004 hingga 2014 dengan menggunakan metode dekomposisi kemiskinan, kurva insiden pertumbuhan dan propoor. indeks pertumbuhan.
• Berikut ini ringkasan temuan.
• Pertama, dalam kurun waktu 2004-2014, Indonesia tumbuh sebesar 5,5% dan berhasil menurunkan angka kemiskinan secara substansial dari 27% menjadi 10%.
Namun, justru terjadi peningkatan ketimpangan pengeluaran. Meskipun
pertumbuhan ekonomi mengurangi insiden kemiskinan, pertumbuhan tersebut tidak berpihak pada penduduk miskin karena kenaikan ketimpangan mengurangi efek pengurangan kemiskinan dari pertumbuhan ekonomi seperti yang ditunjukkan oleh kurva insiden pertumbuhan yang miring ke atas.
• Kedua, semua wilayah, yaitu Sumatera, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Timur memiliki kurva insiden pertumbuhan yang miring ke atas dan indeks pertumbuhan pro-poor (PPGI) berkisar antara 0,40 dan 0.64. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi mereka tidak sepenuhnya berpihak pada kaum miskin.
Namun, bentuk kurva insiden pertumbuhan berbeda antar wilayah, yang mencerminkan perbedaan dalam pertumbuhan ekonomi dan redistribusi
• Ketiga, tingkat kemiskinan yang tinggi antar provinsi sangat bervariasi.
Dengan menggunakan klasifikasi yang dikemukakan oleh Kakwani dan Pernia (2000), provinsi dapat diklasifikasikan ke dalam lima kelompok berikut sehubungan dengan indeks pertumbuhan pro-poor (PPGI):
1) PPGI <0, pertumbuhan antipoor;
2) 0 < PPGI ≤ 0,33, pertumbuhan tidak berpihak pada kaum miskin;
3) 0,33 <PPGI ≤ 0,66, pertumbuhan cukup berpihak pada kaum miskin;
4) 0,66 <PPGI <1,0, pertumbuhan berpihak pada kaum miskin; dan 5) PPGI ≥ 1.0, pertumbuhan sangat berpihak pada kaum miskin.
• Dari 30 provinsi, 19 provinsi ditempatkan dalam kelompok (3).
• Dari 11 provinsi lainnya, hanya Maluku Utara yang masuk dalam kelompok (3), karena PPGI-nya negatif.
• Maluku Utara mencatat peningkatan insiden kemiskinan, karena peningkatan besar dalam ketimpangan pengeluaran.
• Keempat, Gorontalo dan Bengkulu ditempatkan pada kelompok (2). Seperti Maluku Utara, Gorontalo mencapai pertumbuhan yang sangat tinggi, tetapi pengurangan kemiskinan sangat kecil karena peningkatan ketimpangan yang besar. Sementara Bengkulu mengalami peningkatan ketimpangan yang
relatif kecil, pertumbuhannya juga kecil sehingga angka kemiskinan hanya menurun sedikit.
• Kelima, Riau, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Jakarta dan Kalimantan Selatan berada dalam kelompok (4) dan pertumbuhan ekonominya
berpihak pada kaum miskin. Provinsi dalam kelompok (4), Riau, Sumatera Barat dan Bangka Belitung adalah provinsi Sumatera. Sumatera Barat dan Bangka Belitung mencatat penurunan angka kemiskinan yang sangat besar, meskipun laju pertumbuhannya tidak besar. Hal ini disebabkan oleh
peningkatan ketimpangan pengeluaran yang relatif kecil. Jakarta juga tumbuh kurang pesat, tetapi ketimpangannya hanya meningkat sedikit sehingga angka kemiskinan menurun.
• Keenam, Yogyakarta, Kalimantan Timur dan Papua berada pada kelompok (5) dan mencapai pertumbuhan yang sangat berpihak pada kaum miskin, karena PPGI-nya melebihi satu. Kalimantan Timur merupakan satu-satunya provinsi yang mengalami penurunan ketimpangan pengeluaran. Meskipun tingkat pertumbuhannya jauh lebih kecil dari rata-rata nasional, ia
mengurangi insiden kemiskinan. Kurva insiden pertumbuhan sedikit miring ke bawah. Papua menyadari penurunan yang besar dalam angka
kemiskinan dari 49% menjadi 23%. Perubahan kemiskinan akibat
redistribusi negatif di Papua, artinya perubahan ketimpangan pengeluaran kondusif bagi pengentasan kemiskinan. Meskipun Yogyakarta tumbuh
pada tingkat yang jauh lebih kecil daripada rata-rata nasional, ketimpangan pengeluarannya tetap hampir konstan dan dengan demikian, PPGI-nya
melebihi satu
Implikasi Kebijakan
• Dari temuan tersebut dapat diperoleh beberapa implikasi kebijakan. Pertama, pertumbuhan ekonomi cukup berpihak pada masyarakat miskin di semua wilayah menurut kriteria yang dikemukakan oleh Kakwani dan Pernia (2000). Tetapi ada variasi yang besar dalam kemajuan pertumbuhan
ekonomi antarprovinsi. Untuk mencapai pertumbuhan yang berpihak pada masyarakat miskin yang seimbang
antarprovinsi, pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang memperhatikan perbedaan sumber daya alam dan manusia, kegiatan ekonomi dan infrastruktur. Program pemberdayaan masyarakat seperti dana desa merupakan salah satu solusi yang mungkin dilakukan. mempromosikan pembangunan, terutama di daerah terpencil dengan
menggali sumber daya lokal.
• Kedua, meskipun provinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat dan Timur telah menyadari pertumbuhan yang cukup atau sangat berpihak pada penduduk miskin, angka kemiskinan mereka masih tinggi pada tahun 2014. Untuk lebih
mengurangi angka kemiskinan, pemerintah perlu
mengeluarkan kebijakan untuk mempercepat perekonomian.
pertumbuhan karena tingkat pertumbuhan mereka di bawah rata-rata nasional. Selain itu, harus menerapkan kebijakan untuk mengurangi ketimpangan. Di Papua dan Papua Barat masih dilakukan pembangunan jalan tol yang disebut trans Papua. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur pengembangan sumber daya air dengan pembangunan Bendungan Mbay
dimulai tahun 2018 dan Bendungan Kolhua, di Nusa Tenggara Barat Bendungan Meninting juga sedang dalam tahap
pembangunan. (Kementerian Pekerjaan Umum, 2018).
• Ketiga, Bengkulu dan Gorontalo masih memiliki angka kemiskinan yang sangat tinggi di
• 2014 dan pertumbuhan ekonominya kurang berpihak pada kaum miskin. Meskipun Bengkulu mencatat ketimpangan yang relatif rendah, kinerja pertumbuhannya sangat lemah. Oleh karena itu, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi provinsi ini. Di sisi lain, Gorontalo
mencapai pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, namun ketimpangannya meningkat secara substansial dan provinsi tersebut memiliki ketimpangan tertinggi pada tahun 2014.
• Oleh karena itu, pemerintah perlu memperkuat kebijakan
redistributif untuk mengatasi ketimpangan. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu, Kementerian Pekerjaan Umum akan membangun lima jembatan di Bengkulu Utara untuk menopang perekonomian lingkungan (Kementerian Pekerjaan Umum, 2018). Di sisi lain, proses pembangunan jalan lingkar Gorontalo atau Gorontalo Outer Ring Road (GORR) memasuki segmen ketiga (Economic Bussines, 2019).
Referensi
• Aji, W. K . (2020). Spatial dimensions of economic growth, redistribution, and poverty reduction during the
yudhoyono period in Indonesia. Jambura Equilibrium Journal 2 (1), 34-50.
• Murwiati, A. (2013). Analisis konsep spatial approach
untuk merumuskan strategi penanggulangan kemiskinan multidimensional di Indonesia. Jurnal Ekonomi
Pembanguinan 2(23), 133-148.
• Yenerall, J,, You, W., & Hill , J. (2017). Investigating the spatial dimension of food access. International Journal of Environmental Research and Public Health 14, 866-871.
•