• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI(IAIN) METRO 1442H / 2021 M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI(IAIN) METRO 1442H / 2021 M"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

i

DI DESA PANARAGAN JAYA KECAMATAN TULANG BAWANG TENGAH KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT

OLEH

Widia Tamara NPM. 1602040053

JURUSAN : EKONOMI SYARIAH

FAKULTAS: EKONOMI DAN USAHA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI(IAIN) METRO

1442H / 2021 M

(2)

ii SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar SarjanaEkonomi (SE)

Oleh Widia Tamara NPM. 1602040053

Jurusan : Ekonomi Syariah Fakultas: Ekonomi dan Usaha Islam

Pembimbing I : Drs. M. Saleh, M.A

Pembimbing II : Reonika Puspitasari, M.E.Sy

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI(IAIN) METRO

1442H / 2021 M

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi ABSTRAK

Oleh:

Widia Tamara NPM. 1602040053

Potensi ekonomi dan usaha di daerah muncul sejalan dengan perkembangan daerah tersebut, seperti dalam perkembangan teknologi infomasi, pariwisata, dan transportasi. Hal ini mendorong munculnya pelaku ekonomi yang memanfaatkan lalu lintas orang, barang dan jasa sebagai sumber pendapatan, seperti perkembangan ekonomi di lingkungan objek wisata.

Dalam penelitian ini peneliti mengajukan pertanyaan penelitian yaitu:

Bagaimana dampak destinasi wisata Islamic Center terhadap pertumbuhan usaha kuliner di Desa Panaragan Jaya Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat. Desain penelitian menggunakan penelitian kualitatif lapangan (field research). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak destinasi wisata Islamic Center terhadap pertumbuhan usaha kuliner kuliner di Desa Panaragan Jaya Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat. Pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi, analisis data menggunakan teknik analisis data kualitatif yang terdiri data reduction, data display dan conclusion/verivication.

Hasil penelitian menunjukkan destinasi wisata Islamic Center berdampak terhadap pertumbuhan usaha kuliner di Desa Panaragan Jaya Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat. Pedagang memanfaatkan jumlah pengunjung yang ramai di kompleks Islamic Center Panaragan Jaya untuk berjualan berbagai jenis kuliner. Keberadaan Islamic Center mendorong sebagian masyarakat di sekitarnya membuka usaha kuliner, seperti warung makan, kantin, pedagang asongan, pedagang kaki lima, dan berbagai jenis minuman. Omset yang diperoleh pedagang kuliner di Islamic Center dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan kebutuhan penunjang seperti biaya pendidikan anak, biaya kesehatan dan kebutuhan sosial di masyarakat. Pendapatan yang diperoleh dari hasil berjualan di Islamic Center bukan lagi hanya penghasilan sampingan, karena setiap hari pedagang berjualan di lokasi tersebut. Pada awalnya jumlah pedagang kuliner di Islamic Center hanya berjumlah 10 orang, namun setelah banyaknya kunjangan wisatawan jumlah pedagang menjadi bertambah hingga mencapai 61 pedagang.

.

(7)

vii

(8)

viii

ام ِتاابِ ياط ْنِم اوُلُك اوُنامآ انيِذَّلا ااهُّ ياأ ايَ

وُرُكْشااو ْمُكاانْ قازار ا ْنِإ َِِّلِلّ ا

انوُدُبْعا ت ُهَّيَِإ ْمُتْ نُك

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu benar- benar hanya menyembah kepada-Nya”. (Q.S Al-Baqarah: 172)1

1 QS. Al Baqarah 172

(9)

ix

Engkau berikan kepada peneliti sehingga karya sederhana ini dapat terselesaikan.

Shalawat serta salam selalu terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Kupersembahkan skripsi ini sebagai ungkapan rasa hormat dan cinta kasihku yang tulus kepada:

1. Kedua orangtuaku tercinta, Ibu Lestari dan Bapak Hajar Sunaryo yang tiada henti mendo’akan, memberikan semangat, melimpahkan kasih sayang, dan berjuang tanpa lelah demi menanti keberhasilanku dengan kesabaran.

2. Kakak-kakak ku tersayang, Jobi Agesta SE, Sy. dan Kiki Eldawati S.Pd, yang selalu mensuport dan mendo’akan.

3. Seluruh dosen IAIN Metro yang telah memberikan ilmu, pengalaman serta bimbingannya khususnya Bapak Drs. M. Saleh, M.A dan Ibu Reonika Puspitasari, M.E.Sy.

4. Kepada sahabatku, Putri Amelia Syurai, Khumairotun Nurul. A, Annisatun Sholikhah, Ferly Oktafianti, Nurul Indah Safitri, Sindi Amelia Sari, dan Indah Lestari, yang selalu menghiburku untuk selalu tersenyum, dan selalu memberikanku semangat serta dukungan demi keberhasilan.

5. Teman-teman seperjuangan khususnya ESY angkatan 2016 kelas C yang selalu membantu dan memberikan semangat dan dukungannya.

6. Almamater kebanggaanku Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro.

(10)

x

(11)

xi

HALAMAN NOTA DINAS ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ...v

ABSTRAK ... vi

HALAMAN ORISINALITAS PENELITIAN ... vii

HALAMAN MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ...x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang Masalah ...1

B. Pertanyaan Penelitian ...5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...5

D. Penelitian Terdahulu yang Relevan ...5

BAB II LANDASAN TEORI ...8

A. Destinasi Wisata ...10

1. Pengertian Destinasi Wisata ...10

2. Komponen Destinasi Wisata ...11

3. Daya Tarik Destinasi Wisata ...14

4. Jenis-jenis Destinasi Wisata ...17

B. Pertumbuhan Usaha...19

1. Pengertian Pertumbuhan Usaha ...20

2. Ciri-ciri Pertumbuhan Usaha ...21

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Usaha ...23

C. Usaha Kuliner ...26

1. Pengertian Usaha Kuliner...26

(12)

xii

A. Jenis dan sifat Penelitian ...32

B. Sumber Data ...33

C. Metode Pengumpulan Data ...34

D. Teknik Analisis Data ...36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 38

1. Profil Islamic Center Panaragan Jaya... 38

2. Pengelolaan dan Pemanfaatan Islamic Center Kabupaten Tulang Bawang Barat ... 40

3. Unit Pengelola Islamic Center Kabupaten Tulang Bawang Barat ... 42

B. Dampak Destinasi Wisata Islamic Center Terhadap Pertumbuhan Usaha Kuliner ... 44

C. Analisis Dampak Destinasi Wisata Islamic Center Terhadap Pertumbuhan Usaha Kuliner ... 51

BAB V PENUTUP ... 64

A. Kesimpulan ... 64

B. Saran ... 64

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(13)

xiii

1. Dampak Destinasi Wisata Islamic Center terhadap Pertumbuhan

Usaha Kuliner... 50

(14)

xiv

(15)

Perkembangan ekonomi dan usaha di berbagai daerah sejalan dengan potensi kekayaan lokal Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati, seni, budaya dan sumber daya alam yang melimpah. Potensi kekayaan lokal di Indonesia dapat berkontribusi dalam memajukan ekonomi lokal yang mengandalkan sumber daya insani sebagai modal utama, terutama proses penciptaan, kreativitas, dan daya tarik lokal menjadi objek wisata.

Potensi ekonomi di daerah muncul sejalan dengan perkembangan daerah tersebut, seperti dalam perkembangan teknologi infomasi, pariwisata, dan transportasi. Hal ini mendorong munculnya pelaku ekonomi yang memanfaat- kan lalu lintas orang, barang dan jasa sebagai sumber pendapatan, seperti perkembangan ekonomi di lingkungan objek wisata.

Perkembangan pariwisata merupakan salah satu faktor yang mendorong munculnya banyak pelaku usaha. Pembangunan pariwisata mampu menggerakkan aktivitas usaha untuk menghasilkan manfaat sosial, budaya, dan ekonomi yang signifikan bagi suatu negara. Ketika pariwisata direncanakan dengan baik, maka dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pada sebuah destinasi.1

Ekonomi dan sektor wisata merupakan dua hal yang saling berpengaruh dan dapat saling bersinergi jika dikelola dengan baik. Konsep kegiatan wisata

1Bachruddin Saleh Luturlean, Strategi Bisnis Pariwisata, (Bandung: Humanoria, 2019), h.11

(16)

dapat didefinisikan dengan tiga faktor, yaitu harus ada something to see, something to do, dan something to buy. Something to see terkait dengan atraksi di daerah tujuan wisata, something to do terkait dengan aktivitas wisatawan di daerah wisata, sementara something to buy terkaitdengan suvenir khas yang dibeli di daerah wisata sebagai oleh-oleh pribadi wisatawan. Dalam tiga komponen tersebut, ekonomi kreatifdapat masuk melalui something to buy dengan menciptakan produk-produk inovatif khas daerah.2

Something to buy sebagaimana dijelaskan di atas merupakan peluang bagi masyarakat di sekitar destinasi wisata untuk menawarkan berbagai produk kuliner khas lokal kepada wisatawan untuk dijadikan sebagai oleh-oleh atau cenderamata yang dibawa pulang. Peluang tersebut sekaligus tantangan bagi pelaku usaha kuliner untuk menawarkan produk kuliner yang menarik dan inovatif, serta kualitas layanan yang sesuai dengan tuntutan konsumen.

Potensi usaha kuliner di lokasi destinasi wisata dapat dijadikan sumber penghasilan untuk menambah pendapatan. Salah satunya pada Islamic Center Panaragan Jaya Tulang Bawang Barat, yang merupakan salah satu icon Kabupaten Tulang Bawang Barat yang sangat dibanggakan masyarakat setempat. Kompleks Islamic Center Panaragan Jaya yang dinamai Kompleks Dunia Akhirat yang diresmikan langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia pada tanggal 11 Oktober 2016. Islamic Center tersebut memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dengan masjid yang lain, karena keunikan

2Etty Indriani, etl, Model Strategi Penguatan Daya Saing Industri Kreatif Pariwisata Bernilai Kearifan Lokal, (Yogyakarta: Deepublish, 2020), h. 19

(17)

masjid ini bukan hanya sebagai tempat untuk beribadah, tapi juga sebagai tempat wisata di Tulang Bawang Barat.3

Pengunjung yang berkunjung di Islamic Center Panaragan Jaya tidak pungut biaya masuk. Adapun untuk biaya parkir kendaraan sebesar Rp. 2000,- untuk sepeda motor dan Rp. 5.000.- untuk mobil. Pada awalnya jumlah pedagang kuliner di Islamic Center hanya berjumlah 10 orang, namun setelah banyaknya kunjangan wisatawan jumlah pedagang menjadi bertambah hingga mencapai 61 pedagang. Setiap pedagang dipungut biaya kebersihan sebesar Rp. 10.000,- per hari. 4

Pada umumnya masyarakat di sekitar Islamic Center sebelumnya bermata pencaharian petani sawah, karet, buruh, industri pangan rumah tangga dan pedagang di pasar. Rata-rata pendapatan harian kurang dari Rp.100.000,- Keberadaan Islamic Center mendorong sebagian masyarakat di sekitarnya membuka usaha kuliner, seperti warung makan, restoran, kantin, pedagang asongan, pedagang kaki lima, dan kedai berbagai jenis minuman.

Menurut Ibu Sri pemilik rumah makan di luar Islamic Center Panaragan Jaya, pada saat hari libur dan banyak pengunjung biasanya dapat memperoleh omset kotor sebesar Rp. 1.500.000,- sampai Rp. 2.000.000,-. Jika pada bulan Ramadhan bayak masyarakat yang berbuka puasa bersama keluarga, sehingga omset yang diperoleh dapat lebih tinggi.5

3Nurul Azmi,Kepala UPTD Islamic Center Tulang Bawang Barat, Wawancara Tanggal 20 September 2020

4Ibid

5Ibu Sri pemilik rumah makan di Islamic Center Panaragan Jaya, Wawancara Tanggal 19 September 2020

(18)

Menurut Agus pedagang minuman yang di dalam Islamic Center, pada saat banyak pengunjung omset kotor yang diperoleh dapat mencapai antara Rp. 200.000,- sampai dengan Rp. 300.000,- Informasi yang hampir sama juga dikatakan oleh ibu Rahayu pedagang bakso di dalam Islamic Center Panaragan Jaya yang mengatakan pada saat banyak pengunjung omset kotor yang diperoleh dapat mencapai Rp. 400.000,- sampai Rp. 600.000,-. Sedangkan menurut Bapak Wahyu pedagang bakso di luar Islamic Center, pendapatan perhari dapat mencapai Rp. 1.000.000,- sampai dengan 1.500.000,-6

Namun demikian potensi usaha kuliner di Islamic Center Panaragan Jaya belum diimbangi dengan produk dan layanan kuliner yang memadai, baik dari segi kenyamanan, pihan jenis kuliner, dan jam buka untuk konsumen. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan pertumbuhan usaha kuliner antara di dalam dan di luar Islamic Center. Berdasarkan perbandingan antara usaha kuliner di dalam Islamic Center dan di luar Islamic Center diketahui bahwa usaha kuliner di luar Islamic Center lebih banyak diminati pengunjung. Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung yang lebih banyak mencari kuliner di luar Islamic Center. Dari segi kenyamanan, usaha kuliner di luar Islamic Center terlihat lebih nyaman, dari segi keluasan tempat duduk, kebersihan, dan penataan ruang. Demikian pula dari segi pilihan jenis kuliner yang ditawarkan, usaha kuliner di luar Islamic Center lebih banyak menawarkan pilihan kepada konsumen dibandingkan di dalam Islamic Center.

6Agus, Rahayu dan Wahyu, pedagang di Islamic Center Panaragan Jaya, Wawancara Tanggal 19 September 2020

(19)

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik meneliti lebih lanjut terkait dampak destinasi wisata Islamic Center terhadap pertumbuhan usaha kuliner di Desa Panaragan Jaya Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat.

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka pertanyaan penelitian dalam penelitian ini yaitu: “Bagaimana dampak destinasi wisata Islamic Center terhadap pertumbuhan usaha kuliner di Desa Panaragan Jaya Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat?”

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak destinasi wisata Islamic Center terhadap pertumbuhan usaha kuliner kuliner di Desa Panaragan Jaya Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat.

2. Manfaat Penelitian

a. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan memberi sumbangan teori dan literatur tentang usaha kuliner, serta pengelolaan Islamic Center sebagai destinasi wisata religi.

b. Secara praktis, penelitian ini dapat memberi informasi kepada pelaku usaha kuliner di Desa Panaragan Jaya Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat untuk mengembangkan usaha sesuai dengan perkembangan ekonomi lokal.

(20)

D. Penelitian Relevan

Penelitian yang relevan dalam konteks penelitian ini adalah penelitian karya orang lain yang secara substantif ada kaitannya dengan tema atau topik penelitian yang akan dilakukan. Dalam pemaparan ini, peneliti memaparkan penelitian terdahulu yang relevan, segi persamaan dan perbedaannya dengan penelitian ini, sehingga diketahui posisi penelitian ini dari penelitian sebelumnya.

Rida Mardia mahasiswi Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik Universitas Islam Negeri Alauddin tahun 2017, melakukan penelitian dengan judul “Perubahan Fungsi Masjid Islamic Center Dato Tiro sebagai Destinasi Wisata di Kota Bulukumba”.7

Fokus penelitian di atas menekankan pada faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan peningkatan fungsi Masjid Islamic Center. Hasil penelitian di atas menyebutkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan peningkatan fungsi Masjid Islamic Center sebagai destinasi wisata adalah keindahan bentuk dan keunikan Masjid menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan pengunjung yang datang, namun tidak untuk beribadah akan tetapi hanya datang untuk melihat dan menikmati keindahan suasana di Masjid. Pengunjung yang datang kebanyakan mengabadikan (berfoto-foto) dan Masjid Islamic Center sebagai latarnya.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian di atas terletak pada kajian tentang Islamic Center sebagai destinasi wisata. Hasil penelitian di atas

7Rida Mardia, “Perubahan Fungsi Masjid Islamic Center Dato Tiro sebagai Destinasi Wisata di Kota Bulukumba”, http://repositori.uin-alauddin.ac.id/, diakses Tanggal 20 Mei 2020

(21)

menyebutkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan peningkatan fungsi Masjid Islamic Center sebagai destinasi wisata adalah keindahan bentuk dan keunikan Masjid menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan pengunjung yang datang, namun tidak untuk beribadah akan tetapi hanya datang untuk melihat dan menikmati keindahan suasana di Masjid. Pengunjung yang datang kebanyakan mengabadikan (berfoto-foto) dan Masjid Islamic Center sebagai latarnya.

Berbeda dengan penelitian di atas yang difokuskan pada perubahan fungsi Masjid Islamic Center Dato Tiro sebagai Destinasi Wisata, penelitian ini lebih ditujukan untuk mengetahui dampak destinasi wisata Islamic Center terhadap pertumbuhan usaha kuliner. Penelitian ini menekankan pada munculnya pelaku usaha kuliner yang didorong banyaknya jumlah kunjungan wisatawan. Arah penelitian ini menuju pada kajian tentang dampak kunjungan wisatawan ke destinasi wisata Islamic Center terhadap kreativitas masyarakat setempat untuk menawarkan produk-produk kuliner yang menarik dan diminati pengunjung.

Fazira Ulfa mahasiswi Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi Dan Usaha Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram tahun 2018, melakukan penelitian dengan judul “Peran Tim Kreatif Wisata Halal dalam Meningkatkan Wisatawan di Islamic Center Nusa Tenggara Barat”.8

Fokus penelitian di atas meneliti tentang peran tim kreatif wisata halal dalam meningkatkan wisatwan Islamic Center. Hasil dan penelitian di atas

8Fazira Ulfa, “Peran Tim Kreatif Wisata Halal Dalam Meningkatkan Wisatawan di Islamic Center Nusa Tenggara Barat”,http://etheses.uinmataram.ac.id/, diakses Tanggal 20 Mei 2020

(22)

menyebutkan peran tim kreatif wisata halal melalui beberapa upaya diantaranya: menyelenggarakan event-event keagamaan, sosial, budaya;

menyelenggarakan kegiatan kajian rutin; pelayanan pemanfaatan fasilitas dan mengekspos informasi lengkap melalui media.

Persamaan penelitian di atas dengan penelitian ini terlihat dari objek penelitian tentang Islamic Center sebagai destinasi wisata. Adapun perbedaannya terletak pada tujuan penelitian. Penelitian di atas bertujuan mengetahui peran tim kreatif wisata halal dalam meningkatkan wisatawan di Islamic Center, sedangkan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak destinasi wisata Islamic Center terhadap pertumbuhan usaha kuliner. Penelitian ini mengarah pada kajian tentang munculnya pelaku usaha kuliner yang melihat banyaknya jumlah kunjungan sebagai peluang memperoleh keuntungan.

Fitri Pratika Sari mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau tahun 2018, melakukan peneltian dengan judul “Analisis Pengelolaan Masjid Agung Madani Islamic Center sebagai Objek Wisata Religi di Kabupaten Rokan Hulu”.9

Fokus penelitian di atas menekankan pada pengelolaan Islamic Center sebagai objek wisata religi. Hasil penelitian di atas menyebutkan pengelolaan Masjid Agung Madani Islamic Center dari segi pengelolaan fasilitas, pengelolaan administrasi, dan pengelolaan program kemakmuran masjid

9Fitri Pratika Sari,“Analisis Pengelolaan Masjid Agung Madani Islamic Center sebagai Objek Wisata Religi di Kabupaten Rokan Hulu”,https://jom.unri.ac.id/, diakses Tanggal 20 Mei 2020

(23)

sehingga masjid Agung Madani Islamic menjadi masjid agung percontohan terbaik tingkat nasional pada tahun 2015.

Segi persamaan dengan penelitian di atas terletak pada pengelolaan Islamic Center sebagai destinasi wisata religi. Berbeda dengan penelitian di atas yang bertujuan untuk mengetahui pengelolaan Masjid Agung Madani Islamic Center sebagai objek wisata religi, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak destinasi wisata Islamic Center terhadap pertumbuhan usaha kuliner. Penelitian ini mengarah pada kajian tentang munculnya pelaku usaha kuliner yang melihat banyaknya jumlah kunjungan sebagai peluang memperoleh keuntungan.

(24)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Destinasi Wisata

1. Pengertian Destinasi Wisata

Istilah “destinasi” umumnya digunakan untuk menandakan “tempat yang ditetapkan sebagai akhir perjalanan”, yaitu wilayah geografis (lokasi, resor, daerah, negara) dimana wisatawan bermaksud untuk menghabiskan waktu selama jauh dari rumah. Dalam perspektif ekonomi, destinasi wisata lebih dari sekedar tempat geografis yang dikunjungi wisatawan. Destinasi wisata merupakan penggabungan dari produk, jasa, sumber daya alam, unsur buatan dan informasi yang mampu menarik jumlah pengunjung ke tempat tersebut.1

Destinasi pariwisata adalah pertemuan titik penawaran dan permintaan yang disatukan secara geografis untuk menggabungkan pasokan menjadi produk pariwisata.2 Menurut Burhan Bungin destinasi adalah tempat atau ranah pelancongan yang dimiliki oleh negara ataupun wilayah dan daerah. Ranah dikerjakan oleh pihak negara ataupun pihak swasta dengan tujuan mencari keuntungan di atasnya.3

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Pasal 1 Ayat 6, daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut destinasi

1Amesa Samira Bafadhal, Perencanaan Bisnis Pariwisata (Pendekatan Lean Planning) (Malang: UB Press, 2018), h. 8-9

2 Bambang Supriadi, dan Nanny Roedjinandari, Perencanaan dan Pengembangan Destinasi Pariwisata, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2017), h . 37

3Burhan Bungin, Komunikasi Pariwisata Tourism Comunication Pemasaran dan Brand Destinasi, (Jakarta: Kencana, 2018), h. xxi

(25)

pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wìlayah administratif yang di dalamnya terdapat daya tank wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.4

Berdasarkan pengertian di atas, destinasi wisata adalah area geografis sebagai lokasi yang dapat menarik wisatawan untuk tinggal secara sementara yang terdiri dari berbagai produk pariwisata, sehingga membutuhkan berbagai prasarat untuk merealisasikannya. Destinasi wisata menunjuk pada suatu entitas yang mencakup wilayah geografis tertentu yang didalamnya terdapat komponen produk pariwisata layanan, serta unsur pendukung lainnya yang membentuk sistem yang sinergis dalam menciptakan motivasi kunjungan serta totalitas pengalaman kunjungan bagi wisatawan.

Destinasi wisata juga berarti area atau kawasan geografis yang berbeda dalam suatu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat unsur daya tarik wisata, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, masyarakat serta wisatawan yang saling terkait dan melengkapi untuk terwujudnya kegiatan kepariwisataan.

2. Komponen Destinasi Wisata

Komponen dan elemen-elemen pariwisata itu terus berkembang sesuai dengan kreativitas stakeholder pariwisata di suatu destinasi atau destinasi venue wisata. Kemajuan teknologi informasi dan transportasi saat ini

4 Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan Pasal 1 Ayat 6

(26)

menyebabkan berbagai destinasi dapat berinteraksi dan dengan mudah saling bertukar pengalaman, sehingga perkembangan destinasi disesuaikan dengan kekuatan modal destinasi pariwisata.5

Secara umum ada dua karakteristik destinasi yang dapat dibedakan.

Pertama, destinasi yang memerlukan branding destinasi. Destinasi semacam ini adalah suatu destinasi baru dengan berbagai daya tarik pariwisata yang dipasarkan untuk menarik hati wisatawan. Kedua, destinasi yang terkonstruksi oleh masyarakat. Destinasi semacam ini adalah destinasi yang tercipta karena adanya daya tarik tertentu dalam destinasi itu. Daya tarik tersebut diperlukan oleh masyarakat dunia karena tersurat dalam kitab suci suatu agama, ada dalam cerita-cerita folkore masyarakat dunia dan sebagainya. 6

Destinasi wisata sebagai kawasan spesifik yang dipilih oleh pengunjung, mencakup komponen-komponen sebagai berikut:

a. Daya tarik wisata (atractions), yang mencakup pada kekayaan alam, budaya, maupun buatan/artificial, seperti event atau yang sering disebut sebagai minat khusus (special interest).

b. Aksesibilitas (accessibility), yang mencakup dukungan sistem transportasi yang meliputi: rute atau jalur transportasi, fasilitas terminal, bandara, pelabuhan dan moda transportasi yang lain.

c. Amenitas (amenities), yang mencakup fasilitas penunjang dan pendukung wisata yang meliputi: akomodasi, rumah makan (food and baverage),

5Burhan Bungin, Komunikasi Pariwisata ., h. 86

6Ibid., h. 80-81

(27)

retail, toko cinderamata, fasilitas penukaran uang, biro perjaLanan, pusat informasi wisata, dan fasilitas kenyamanan Lainya.

d. Fasilitas pendukung (ancillary services) yaitu ketersediaan fasiLitas pendukung yang digunakan oleh wisatawan, seperti bank, telekomunikasi, pos, rumah sakit, dan sebagainya.

e. Kelembagaan (institutions) yaitu terkait dengan keberadaan dan peran masing-masing unsur dalam mendukung terlaksananya kegiatan paniwisata termasuk masyarakat setempat sebagai tuan rumah (host).7

Memahami pendapat di atas, dapat dikemukakan bahwa destinasi wisata merupakan sebuah kesatuan yang terdiri dari berbagai fasilitas dan layanan pariwisata yang terdiri dari sejumlah atribut yang bersama-sama menentukan daya tariknya bagi wisatawan. Unsur-unsur dalam destinasi wisata menunjukkan adanya kombinasi dari produk wisata, layanan dan pengalaman pariwisata yang disediakan oleh pengelola untuk pengunjung.

Daya tarik dan aksebilitas merupakan komponen destinasi wisata yang harus terpenuhi untuk menarik pengunjung. Selain itu destinasi wisata harus menawarkan kesempatan untuk mengeksploitasi berbagai atraksi dan layanan kepada pengunjung yang ditunjang dengan berbagai fasilitas, dan akomodasi, seperti transportasi, tempat istrahat penginapan, rumah makan, akses informasi dan sarana pendukung lainnya.

7Bambang Supriadi, dan Nanny Roedjinandari, Perencanaan dan Pengembangan ., h. 38

(28)

3. Daya Tarik Destinasi Wisata

Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.8

Destinasi pariwisata, sebagai produk maupun pelayanan, setiap destinasi seharusnya memperhatikan brand destinasi masing-masing, agar dapat mengkonstruksi citra yang baik kepada wisatawan dan dapat menarik hati orang banyak untuk datang mclancong ke destinasi. Membagun brand destinasi adalah suatu masalah penting agar tercipta suatu branding destinasi yang kuat. Diakui juga suatu citra sosial destinasi terkonstruksi tanpa ada upaya khusus dalam suatu upaya branding terhadap destinasi itu. Artinya, ada destinasi yang memerlukan branding, namun ada pula destinasi yang brandnya telah terkonstruksi dengan sendirinya oleh masyarakat. 9

Daya tarik atau atraksi wisata adalah segala sesuatu yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung pada suatu daerah tujuan wisata meliputi aspek sebagai berikut:

a. Atraksi Alam: pemandangan, pemandangan laut, pantai, cuaca dan keadaan geografis destinasi tersebut (natural attraction: landscape, seascape, beaches, cimate and other geographical features of the destinations,

8Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan Pasal 1 Ayat 5

9Burhan Bungin, Komunikasi Pariwisata., h. 80

(29)

b. Atraksi budaya: sejarah dan folklore, agama, kesenian dan kegiatan khusus, festival (cultural attraction: history and folklore, religion, art and special events, festivals), atraksi sosial: tradisi (cara hidup), populasi penduduk, bahasa, kesempatan berbaur dalam kehidupan sosial (social attractions: the way of life, the resident populations, languages, oppor tunities for social encouters).

c. Aktraksi buatan: gedung bersejarah dan arsitektur modern, monumen, taman, kebun, pelabuhan dan sebagainya (Built attraction: historic, and modern architecture, monument, parks, gardens, marina, etc).10

Berdasarkan pendapat di atas, daya tarik wisata dapat terdiri dari daya tarik alamiah, seperti pemandangan, laut, iklim geografis, sejarah dan budaya.

Selain itu dapat berupa daya tarik buatan, seperti atraksi kesenian, festifal, monumen, taman, kebun, dan pelabuhan. Daya tarik wisata non alamiah dapat didesain dan digabungkan dengan daya tarik alamiah untuk lebih menarik minat pengunjung, terutama di daerah yang kurang memiliki sumber daya alam untuk dijadikan destinasi wisata.

Ketertarikan pengunjung terhadap daya tarik wisata dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: iklim suatu daerah, gencarnya usaha promosi, produk barang maupun jasa pada suatu daerah, even-even khusus, insentif potongan harga dan sejenis, ajakan teman, mengunjungi kerabat dan teman, budaya, dan lingkungan alamiah maupun buatan manusia.11

10Muaini, Buku Ajar Kebudayaan dan Pariwisata, (Yogyakarta: Garuda Wacana, 2018), h.

12

11I Gusti Bagus Rai Utaina, Pengantar Industri Panwisata, (Yogyakarta:Deepublish, 2016.), h. 132

(30)

Daya tarik daerah untuk tujuan wisata akan mampu menarik wisatawan untuk mengunjunginya jika memenuhi syarat-syarat untuk pengembangan daerahnya sebagai berikut:

a. Daya tarik yang dapat disaksikan (what to see ), hal ini mengisyaratkan bahwa pada daerah harus ada sesuatu yang menjadi daya tarik wisata, atau suatu daerah mestinya mempunyai daya tarik yang khusus dan atraksi budaya yang bisa dijadikan sebagai hiburan bagi wisatawan. Apa yang disaksikan dapat terdiri dari pemandangan alam, kegiatan, kesenian.

dan atraksi wisata

b. Aktivitas wisata yang dapat dilakukan (what to do), hal ini mengisyaratkan bahwa di tempat wisata, menyaksikan sesuatu yang menarik. wiatawan juga mesti disediakan fasilitas rekreasi yang bisa membuat para wisatawan betah untuk tinggal lebih lama di tempat tujuan wisata.

c. Sesuatu yang dapat dibeli (what to buy), hal ini mengisyaratkan bahwa tempat tujuan wisata mestinya menyediakan beberapa fasilitas penunjang untuk berbelanja terutama barang souvenir dan kerajinan rakyat yang bisa berfungsi sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ketempat asal wisatawan.

d. Alat transportasi (what to arrived), hal ini mesti mampu dijelaskan bahwa untuk dapat mengunjungi daerah daya tarik tujuan wisata tersebut, kendaraan apa yang digunakan dan berapa lama wisatawan tiba ke tempat tujuan wisata yang akan dituju.

(31)

e. Penginapan (where to stay), hal ini menunjukkan bagaimana wisatawan akan dapat tinggal untuk sementara selama mereka berlibur. Untuk menunjang keperluan tempat tinggal sementara bagi wisatawan yang berkunjung, daerah tujuan wisata perlu mempersiapkan penginapan- penginapan, seperti hotel berbintang atau hotel tidak berbintang dan sejenisnya. 12

Memahami pendapat di atas, diperlukan berbagai upaya untuk menarik pengunjung terhadap destinasi wisata, meliputi daya tarik yang disaksikan, daya tarik yang dilakukan, fasilitas pokok dan penunjang. Daya tarik yang disaksikan dapat menarik pengunjung untuk mengunjungi suatu destinasi wisata, seperti keindahan pemandangan alam, nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam objek wisata, dan atraksi-atraksi yang bersifat menghibur dan memiliki nilai jual untuk ditawarkan.

4. Jenis-jenis Destinasi Wisata

Pariwisata merupakan kegiatan yang terkait dengan wisata yang bersifat multidimensi dan muncul sebagai wujud interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan pemerintah daerah dan pengu- saha.

Berdasarkan obyeknya, destinasi wisata terbagi menjadi beberapa jenis sebagai berikut:

12Ibid., h. 133-134

(32)

a. Pariwisata budaya (cultural tourism), merupakan jenis pariwisata yang menonjolkan atraksi-atraksi budaya yang unik dan menarik telah menjadi ikon pariwisata suatu daerah.

b. Pariwisata kesehatan (reccuperational tourism ), seperti mandi susu di Eropa, mandi kopi di Jepang, mandi air panas di beberapa tempat Indonesia.

c. Pariwisata perdagangan (commercial tourism), jenis ini berkembang seiring terbukanya era perdaganganbebas ( free trade area ) yang ditandai dengan makin banyaknya event menyangkut promosi dan pertemuan- pertemuan seperti kegiatan perdagangan sehingga menimbulkan kegiatan pariwisata yang dinamis.

d. Pariwisata olahraga (sport tourism), jenis pariwisata yang satu ini mampu menyedot pengunjung event olahraga tertentu seperti olympiade, pesta olahraga regional, Sea Games, Asian Games, kejuaraan dunia sepak bola tentu yang paling akbar, di samping itu ada kejuaraan tinju profesional, kejuaraan tenis, bulu tangkis dan sebagainya.

e. Pariwisata politik (political tourism), seperti parade tanggal 1 Mei di Beijing memperingati hari butuh dan Parade tanggal 1 Oktober di Rusia memperingati Revolusi Bolsjevic.

f. Pariwisata spiritual/keagamaan ( pilgrim tourism), seperti perjalanan naik haji ke Mekkah bagi umat Islam, mengunjungi Betlehem atau Israel bagi umat Kristen dan berkunjung dan mandi-mandi di Sungai Gangga, India

(33)

bagi umat Hindu dan wisatawan mancanegara mengunjungi Borobudur bagi umat Budha.

g. Pariwisata alam (natural tourism), adalab obyek wisata yang menyuguhkan atraksi asli dari alam atau lingkungan pulau, pegunungan, laut, pantai, kekayaan fauna dan kekayaan flora.13

Memahami pendapat di atas, destinasi wisata dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu pariwisata budaya (cultural tourism), pariwisata kesehatan (reccuperational tourism), pariwisata perdagangan (commercial tourism), pariwisata olahraga (sport tourism), pariwisata politik (political tourism), pariwisata spiritual/keagamaan ( pilgrim tourism), pariwisata alam (natural tourism).

Pariwisata budaya merupakan jenis kegiatan pariwisata yang dikembangkan di suatu daerah atau sub-daerah tujuan wisata yang mengandalkan kekayaan wisata berupa objek dan daya tank wisata budaya Pariwisata budaya menggambarkan perjalanan wisata berdasarkan keinginan menambah wawasan dan pengalaman hidup dengan mengunjungi objek dan daya tank wisata yang khas dan unik. Sementara itu wisatawan lain mempunyai alasan untuk mengetahui dan mempelajari pola perilaku sosial warga masyarakat, adat istiadat, kebiasaan. dan warisan seni budaya lainnya.

Adapun pariwisata kesehatan kegiatan wisata yaitu pariwisata yang dilakukan oleh orang-orang ke berbagai tempat dengan tujuan memperoleh fasilitas yang dibutuhkan untuk memperbaiki, menyembuhkan

13I Gusti Bagus Arjana, Geografi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, (Jakarta: Rajawali Press, 2016), h. 99

(34)

berbagai penyakit atau sekedar menghilangkan kebosanan dari tekanan pekerjaan sehari-hari, seperti mandi air panas di beberapa tempat Indonesia.

Jenis pariwisata lain yang dapat dikembangkan adalah pariwisata spiritual/keagamaan. Pariwisata spiritual merupakan salah satu kegiatan wisata minat khusus, yakni perjalanan wisata menuju tempat-tempat suci untuk melaksanakan kegiatan spiritual, seperti berdoa, bertafakkur dan memahami nilai spiritual yang terdapat di suatu objek wisata.

B. Pertumbuhan Usaha

1. Pengertian Pertumbuhan Usaha

Usaha dalam konteks ekonomi adalah setiap tindakan perbuatan atau atau kegiatan apa pun dalam bidang perekonomian yang dilakukan oleh setiap pengusaha dengan tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba.

Dalam bahasa Inggris kegiatan usaha disebut business dan pengusaha disebut businessman.14

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1987 Tentang Kamar Dagang dan Industri Pasal 1 huruf (e) usaha adalah setiap tindakan, perbuatan, atau kegiatan apapun dalam bidang perekonomian, yang dilakukan oleh setiap pengusaha untuk tujuan memperoleh keuntungan dan/atau laba.15

Usaha dalam ekonomi adalah semua aktivitas yang rnelibatkan penyediaan barang dan jasa yang diperlukan dan diinginkan oleh orang lain.

Dengannya para pelaku usaha dapat menentukan dan rnenyediakan

14Muhamad Sadi Is, Hukum Perusahaan di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2016), h. 4-5

15Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1987 Tentang Kamar Dagang dan Industri Pasal 1 Huruf huruf (e)

(35)

keinginan dan kebutuhan orang lain (konsumen) serta selalu berusaha agar konsumen mernperoleh kepuasan dengan barang dan jasa yang disediakan tersebut. Dalam pengertian yang lebih luas, usaha di bidang ekonomi diartikan sebagai semua aktivitas produksi perdagangan barang dan jasa.

Usaha merupakan sejumlah total usaha yang meliputi pertanian, produksi, distribusi, transportasi, komunikasi, usaba jasa dan pemerintahan yang bergerak dalam bidang membuat dan memasarkan barang dan jasa ke konsumen.16

Berdasarkan pendapat di atas, pertumbuhan usaha merupakan kemampuan pelaku usaha untuk mengingkatkan kegiatan ekonomi yang dilakukan dengan tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba. Bentuk kegiatan tersebut dapat berupa barang atau jasa. Dengan demikian usaha didasarkan pada motif ekonomi untuk memperoleh keuntungan dan berkaitan dengan pelayanan kepada pihak lain sebagai konsumen atau pengguna jasa.

2. Ciri-ciri Pertumbuhan Usaha

Pertumbuhan usaha mencerminkan kemajuan tahapan usaha sejak awal berdirinya usaha sampai masa terkini. Pertumbuhan tersebut dapat mencakup Pertumbuhan non finansial meliputi aspek gagasan usaha, produk, desain, dan pemasaran sebagai berikut:

a. Tahap imitasi dan duplikasi (imitating and duplicating). Pada tahap pertama, yaitu proses imitasi dan duplikasi, para wirausaha mulai

16Idri, Hadis Ekonomi: Ekonomi dalam Perspektif Hadis Nabi, (Jakarta: Kencana, 2017), h.

325

(36)

meniru ide-ide orang lain, misalnya untuk memulai atau merintis usaha barunya diawali dengan meniru usaha orang lain, dalam menciptakan jenis barang yang akan dihasilkan meniru yang sudah ada. Teknik produksi, desain, pemrosesan, organisasi usaha, dan pola pemasarannya meniru yang sudah ada.

b. Tahap duplikasi dan pengembangan (duplicating and developing).

Selanjutnya, pada tahap duplikasi dan pengembangan, para warausaha mulai mengembangkan ide-ide barunya. Dalam tahap duplikasi produk misalnya, wirausaha mulai mengembangkan produknva melalui diversifikasi dan diferensiasi dengan desain sendiri.

c. Tahap menciptakan sendiri. barang dan jasa baru yang berbeda (creating the new and different). Setelah tahap duplikasi dan pengembangan usaha memasuki tahap menciptakan sendiri sesuatu yang baru dan berbeda melalui ide-ide sendiri sampai terus berkembang.17

Dilihat dari segi finansial dan produk indikator perkembangan meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

a. Mencapai pertumbuhan laba minimum 12% per tahun selama lima tahun berturut-turut.

b. Menambah cakupan pasar sebesar 10% setiap tahun dalam kurun waktu tiga tahun.

c. Meningkatkan nilai ROI (Return on Investment) sebesar 15% setiap tahun selama tiga tahun berturut-turut.

17Edy Dwi Kumiati, Kewirausahaan Industri, (Yogyakarta: Deepublish, 2015), h. 150-151

(37)

d. Menciptakan produk inovasi baru minimal dua kali dalam satu tahun.18 Berdasarkan pendapat di atas, idikator perkembangan usaha meliputi aspek non finansial dan aspek finansial. Dari segi non finansial perkemba- ngan usaha dilihat dari memulai atau merintis usaha barunya diawali dengan meniru usaha orang lain, mengembangkan produknva melalui diversifikasi dan diferensiasi dengan desain sendiri, dan menciptakan sendiri sesuatu yang baru dan berbeda melalui ide-ide sendiri sampai terus berkembang. Adapun dilihat dari segi finansial, indikator pertumbuhan usaha mencakup pertumbuhan laba minimum per tahun, menambah cakupan pasar, mening-katkan nilai ROI, menciptakan produk inovasi baru.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Usaha

Pertumbuhan usaha di bidang ekonomi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: kualitas sumber daya manusia, sistem produksi, sistem pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, sistem kemitraan serta kualitas infrastruktur dan regulasi.19

Menurut Kristiningsih keberhasilan atau kegagalan dalam usaha dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:

a. Karakteristik pengusaha, meliputi: umur, jenis kelamin, pengalaman kerja, pendidikan, sikap dan mental pengusaha.

b. Karakteristik dari UKM, yaitu hal-hal yang ada di dalam perusahaan dan berkaitan dengan jati diri atau profil dari perusahaan itu sendiri.

18Aries Hem Prasetvo, Sukses Mengelola Keuangan Usaha Mikro Kecil Menengah, (Jakarta:

Elex Media Komputindo, 2010), h. 17

19Mega Mirasaputri, etl. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Usaha Kecil Sektor Industri Pengolahan di Kota Malang, Jurnal Jibeka, Volume 11 Nomor 2 Februari 2017, h.

73

(38)

Adapun karakteristik dari UKM dapat dari beberapa hal, antara lain:

asal perusahaan, lama waktu beroperasi, ukuran usaha, sumber modal dan lokasi.20

Berdasarkan pendapat di atas, perkembangan usaha dipengaruhi oleh karakteristik pengusaha dan jenis usaha yang dikembangkan. Karakteristik pengusaha meliputi pengalaman kerja, pendidikan, sikap dan mental pengusaha. Adapun karakteristik usaha seperti modal dan lokasi usaha.

Dalam hal ini pengetahuan dan modal yang dimiliki pengusaha, dan wilayah pemasaran dapat berdampak pada pertumbuhan usaha.

Karakteristik pengusaha berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia yang menjalankan proses usaha. Dalam hal ini, untuk perkembangan dan kemajuan usaha dibutuhkan keterampilan, pengalaman, dan kegigihan dalam berusaha.

Menurut Tontowi kemampuan pelaku usaha merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan usaha. Faktor kemampuan pelaku usaha adalah kemampuan pelaku usaha dalam merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, mengkoordinasikan, dan mengawasi keseluruhan faktor usaha yang tersedia dan diperlukan. Faktor-faktor tersebut, meliputi:

a) Memiliki moral yang tinggi, meliputi: ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa; kemerdekaan batin; keutamaan; kasih sayang terhadap sesama manusia; loyalitas hukum; dan keadilan.

b) Memiliki sikap mental wiraswasta, yakni: berkemauan keras;

berkeyakinan kuat (pengenalan diri kepercayaan din sendiri, dan

20Kristiningsih, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Usaha Kecil Menengah (Studi Kasus Pada UKM di Wilayah Surabaya), The 7th NCFB and Doctoral Colloquium 2014, Fakultas Bisnis dan Pascasarjana UKWMS, h. 144

(39)

pemahaman tujuan dan kebutuhan); kejujuran, tanggung jawab (moral yang tinggi dan disiplin tinggi); ketahanan fisik dan mental (kesehatan jasmani rohani. kesabaran, dan ketabahan); ketekunan dan keuletan dalam bekerja; dan pemikiran yang konstruktif dan kreatif.

c) Memiliki kepekaan terhadap lingkungan. Kemampuan kepekaan terhadap lingkungan, diantaranya: pengenalan terhadap arti lingkungan;

rasa syukur atas apa yang sudah diperoleh; keinginan yang besar untuk menggali dan mendayagunakan sumber-sumber ekonomi lingkungan setempat; dan Kepandaian untuk menghorgai dan memanfaatkan waktu secara efektif.

d) Memiliki keterampilan wirausaha, mencakup: berpikir kreatif;

keterampilan dalam pengambilan keputusan; keterampilan kepemim- pinan, keterampilan manajerial; dan keterampilan dalam bergaul.21

Berdasarkan kutipan di atasm perkembangan usaha dipengaruhi oleh karakteristik pelaku usaha yang meliputi aspek mental, sikap dan keterampilan. Untuk mengembangkan usaha dibutuhkan moral yang tinggi, dan loyalitas hukum. Demikian pula dibutuhkan kemauan keras; keyakinan kuat, kejujuran dan tanggungjawab. Selain itu juga dibutuhkan keterampilan wirausaha, seperti berpikir kreatif, keterampilan manajerial, dan keterampilan dalam bergaul.

C. Usaha Kuliner

1. Pengertian Usaha Kuliner

Kuliner dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan untuk menghasil- kan makanan sehat dengan penampilan menarik yang dimulai dan memilih bahan makanan yang berkualitas; mempersiapkan teknik pengolahan yang tepat dan aman serta menghasalkan selera sesuai tujuan.22 Usaha kuliner

21Tontowi, Membangun Jiwa Entrepreneurship, (Malang: UB Press, 2016), h. 58-59

22Titi Soenardi dan Tim Yayasan Gizi Kuliner Indoensia, Teori Dasar Kuliner (Jakarta:

Gramedia, 2013), h. 6

(40)

adalah usaha yang melakukan transaksi penjualan di bidang makanan dan minuman.23

Pengertian kuliner adalah seni persiapan mengolah dan penyajian makanan. Konklusi dan kata kuliner menggambarkan bahwa subjeknya adalah artis kuliner (chef pemasak profesional dan chef pemasak otodidak).

Objeknya adalah resep masakan. Sedangkan kegiatan dan subjek terhadap objek adalah pekerjaan memasak di dapur.24

Menurut Yuyun Alamsyah kuliner Indonesia dapat didefinisikan sebagai masakan asli atau masakan yang sudah mengalami adaptasi lokal yang tersebar di seluruh pelosok nusantara.25

Berdasarkan pendapat di atas usaha kuliner dapat diartikan sebagai tindakan yang memiliki motif memperoleh keuntungan dari penjualan di bidang makanan dan minuman. Konteks usaha di bidang kuliner menunjukkan adanya penyediaan barang dan jasa yang diperlukan konsumen sehingga pelaku usaha dapat memperoleh keuntungan ekonomi dari produk makanan dan minuman yang dijualnya. Dengan demikian kuliner merupakan jenis komoditi atau barang yang dijadikan objek usaha yang di dalamnya terdapat kegiatan ekonomi seperti permintaan penawaran transaski layanan dan nilai tukar.

23Wulan Ayodya, Business Plan Usaha Kuliner Skala UMKM, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2016), h. h. 2

24Irwan P. Ratu Bangsawan, Direktori Kuliner Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan, (Banyuasin, Dispora Kabupaten Banyuasin, 2018), h. 7

25Yuyun Alamsyah, Bangkitnya Bisnis Kuliner Tradisional Meraih Untung dari Bisnis Masakan Tradisional Kaki Lima sampai Restauran, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2008) h.

27

(41)

2. Jenis Usaha Kuliner

Usaha kuliner merupakan jenis ekonomi yang bergerak di bidang makanan dan minuman dengan penekanan pada kreativitas penciptaan menu makanan kemasan dan jasa layanan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Usaha kuliner dapat dikembangkan dalam beberapa jenis sebagai berikut:

a. Usaha tempat makan. Usaha yang menjual dan menyediakan aneka menu makanan yang bisa dimakan di tempat.

1) Usaha restoran. Usaha ini menyediakan aneka menu masakan dan minuman sesuai konsep usahanya.

2) Usaha warung makan. Usaha warung makan adalah usaha yang lebih kecil skalanya daripada usaha restoran terutama dari sisi penggunaan modal usahanya.

3) Usaha kuliner gerobakan atau kaki lima. Usaha ini adalah usaha yang menyediakan aneka makanan khas jajanan gerobakan. Bentuk usaha ini bisa menempati kios sederhana teras usaha lain dan lapak di pinggir jalan (kaki lima) .

b. Usaha aneka kue dan makanan ringan. Usaha ini adalah usaha yang bergerak di bidang penjualan kue roti dan berbagai jenis makanan ringan. Bentuk usabanya bisa macam-macam seperti buka bakery toko kue di depan minimarket aneka booth kue-kue kedai kue roti serta penjualan kue roti keliling.

(42)

c. Usaha Katering. Usaha ini bergerak di bidang penyediaan berbagai menu makanan dengan kapasitas banyak. Biasanya katering melayani pesanan makanan dengan jumlah yang tidak sedikit. Bisa saja ratusan atau bahkan ribuan porsi dalam sekali pesan.

d. Usaha Minuman. Saat makan orang pasti butuh minum. Minuman bisa menjadi penunjang usaha kuliner dengan aneka menu makanan serta roti dan kue. Usaha di bidang minuman tidak selalu menjadi pelengkap usaha makanan. Usaha minuman bisa menjadi usaha utama dan makanan sebagai pelengkapnya.26

Memahami pendapat di atas usaha kuliner dapat dilakukan dalam bentuk restoran warung makan gerobokan atau kaki lima katering dan berbagai jenis minuman. Pilihan terhadap jenis usaha kuliner disesuaikan dengan kemampuan modal lokasi usaha dan potensi konsumen. Selain itu jenis usaha kuliner juga dapat dikembangkan melalui variasi menu dan jenis kuliner yang ditawarkan seperti kue roti dan katering.

Pelaku usaha kuliner juga dapat menawarkan produknya secara online dengan mengantarkan langsung atau melalui jasa pihak ketiga. Sebagai bagian dari ekonomi kreatif maka kemajuan usaha kuliner membutuhkan kreativitas dan inovasi yang dapat menarik konsumen seperti menu yang ditawarkan kemasan kebersihan dan kemudahan layanan.

26Wulan Ayodya, Business Plan., h. 3-7

(43)

3. Daya Tarik Usaha Kuliner

Kuliner memiliki keunikan tersendiri karena merupakan hasil dari interaksi budaya dalam sebuah komunitas. Tiap daerah akan memiliki jenis masakan khas tersendiri. Masakan bisa khas karena dipengaruhi oleh letak geografis daerah. Masakan daerah empat musim akan berbeda dengan daerah tropis.

Kuliner dapat menjadi identitas suatu suku kota bahkan bangsa.

Dalam perjalanannya kuliner terkadang dijadikan alat untuk menilai status sosial seseorang. Kuliner pun bisa bercerita tentang sejarah peradaban dan menjadi salah satu daya tarik pariwisata.27

Kondisi sosial ekonomi juga memengaruhi masakan yang dihasilkan.

Di daerah pantai yang banyak pedagangnya memiliki ciri makanan yang cepat saji (fast cook) sementara kelompok petani (pegunungan) cenderung memasak slow cook (butuh waktu lama). Kondisi alam sekitar juga memengaruhi jenis masakan yang dihasilkan. Kekayaan alam yang dimiliki satu daerah menjadi penyumbang terbesar jenis masakan yang dihasilkan.

Dalam konteks ini kuliner memang tidak bisa menjadi industrialisasi makanan karena karakternya yang unik.28

Kuliner sejak dekade terakhir meningkat dengan pesat dari skala pedagang kaki lima sampai pada warung makan rumah makan kedai makan kantin dan cafe restoran di hotel-hotel dan di ruang publik dan food court di berbagai mall (mal) atau di rest area. Kehadirannya dapat memenuhi selera

27Novita Sari, Pengembangan Ekonomi Kreatif Bidang Kuliner Khas Daerah Jambi, Jurnal Sains Sosio Humaniora, Volume 2 Nomor 1 Januari - Juni 2018, h. 53

28Yuyun Alamsyah, Bangkitnya Bisnis., h. 12

(44)

citarasa berbagai makanan internasional dan lokal yang sangat berkembang di berbagai kota besar untuk melayani konsumen. Begitu meluasnya jasa ini sehingga menimbulkan model wisata baru yakni wisata kuliner di berbagai mal obyek wisata dan di tempat perisitirahatan lainnya untuk rute perjalanan jauh. Jasa boga dan kuliner ini semakin marak ketika jasa kuliner lokal berkompetisi dengan jasa kuliner dari mancanegara.29

Sektor kuliner termasuk kedalam sektor industri kreatif. Industri kuliner sudah memiliki pasar tersendiri baik di indonesia ataupun di lingkup internasional. Sektor kuliner ini meliputi dari pembuatan kuliner khas daerah dan juga pemasaran produk khas daerah di indonesia. Sektor kuliner di Indonesia sudah memiliki pasar yang luas dan juga sudah bisa bersaing dengan pasar ritel modern. Sektor kuliner menjadi industri kreatif yang cukup menjanjikan saat ini. karena memiliki nilai ekonomis namun tetap memiliki keuntungan.30

Berdasarkan pendapat di atas usaha kuliner merupakan sektor ekonomi yang memiliki daya tarik dan keuntungan ekonomi. Pelaku usaha kuliner dapat memanfaatkan ciri khas kuliner suatu daerah untuk ditawarkan kepada konsumen terutama yang berasal dari luar daerah sebagai oleh- oleh. Selain itu usaha kuliner dapat memanfaatkan ruang publik untuk memenuhi kebutuhan konsumen seperti tempat wisata rest area mal dan pusat perbelanjaan. Hal ini dapat menjadi nilai tambah bagi pengembangan

29I Gusti Bagus Arjana, Geografi Pariwisata., h. 116

30 Carunia Mulya Firdausy, ed, Strategi Pengembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia (Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017), h. 60

(45)

ekonomi masyarakat setempat dan memudahkan pengunjung untuk memperoleh fasilitas kuliner yang dibutuhkan.

(46)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sifat Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti termasuk jenis penelitian lapangan (field research), yaitu: “penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan statistik atau cara kuantifikasi lainnya.”1

“Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya ”2

Lokasi penelitian adalah Islamic Center Desa Panaragan Jaya Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Objek penelitian yang diteliti adalah dampak destinasi wisata Islamic Center terhadap pertumbuhan usaha kuliner.

2. Sifat Penelitian

Penelitian kualitatif bersifat deskriptif, yaitu “mengadakan deskripsi untuk memberi gambaran yang lebih jelas tentang situasi sosial.”3 Berdasarkan sifat penelitian tersebut, maka penelitian ini berupaya mendeskripsikan secara dampak dampak destinasi wisata Islamic Center terhadap pertumbuhan ussaha kuliner didasarkan pada data yang terkumpul selama penelitian dan dituangkan dalam bentuk laporan atau uraian.

1Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009), cet- 1. h. 6

2Boedi Abdullah, dan Beni Ahmad Saebani, Metode Penelitian Ekonomi Islam, (Bandung:

Pustaka Setia, 2014), h. 49

3Nasution, Metode Research, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 24

(47)

B. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder dengan uraian sebagai berikut:

1. Sumber Data Primer

“Sumber data primer adalah sumber yang langsung memberikan data kepada pengumpul data”4 Sumber data primer dalam penelitian ini adalah 1 orang Kepala UPTD Islamic Center Tulang Bawang Barat, 2 orang pemilik rumah makan, 2 orang pedagang minuman, 2 orang pedagang bakso, 2 orang pedagang sosis di Islamic Center Tulang Bawang Barat.

Pemilihan sumber data dilakukan menggunakan teknik purposive sampling, dengan kecenderungan peneliti untuk memilih informan yang dianggap mengetahui informasi dan pemahaman mendalam.5 Data yang diharapkan diperoleh dari sumber primer adalah data yang berkaitan dengan dampak destinasi wisata Islamic Center terhadap pertumbuhan usaha kuliner.

2. Sumber Sekunder

“Sumber sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen.”6Sumber sekunder yang berasal dari dokumen dan literatur adalah buku-buku yang membahas tantang destinasi wisata, ekonomi dan

4Sugiyono, Memahami Penelitian Kulaitatif, (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 62

5Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003), h. 165

6Ibid.,h. 62

(48)

usaha kuliner, yaitu buku karya Amesa Samira Bafadhal, Perencanaan Usaha Pariwisata Pendekatan Lean Planning Malang: UB Press, 2018, buku buku karya Bambang Supriadi, dan Nanny Roedjinandari, Perencanaan dan Pengemba-ngan Destinasi Pariwisata, Malang:

Universitas Negeri Malang, 2017, buku karya Burhan Bungin, Komunikasi Pariwisata Tourism Comunication Pemasaran dan Brand Destinasi, Jakarta: Kencana, 2018, Jurnal karya Novita Sari, Pengembangan Ekonomi Bidang Kuliner Khas Daerah Jambi, Jurnal Sains Sosio Humaniora, Volume 2 Nomor 1 Januari - Juni 2018, Jurnal karya Siti Nur Azizah dan Muhfiatun, dan buku-buku lain yang relevan dengan penelitian ini.

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan yang dipilih oleh peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.Wawancara (Interiew)

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan rnakna dalam suatu data tertentu.7 Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstuktur. Wawancara ini sudah terrnasuk dalam kategori in-dept interview. Pelaksanaannya lebih bebas apabila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuannya adalah menemukan permasalahan secara lebih terbuka. Dalam melakukan

7Boedi Abdullah, dan Beni Ahmad Saebani, Metode Penelitian.,h. 207

(49)

wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat yang dikemukakan responden.8

Wawancara ditujukan kepada Nurul Azmi, Kepala UPTD Islamic Center Tulang Bawang Barat, 2 orang pemilik rumah makan, yaitu Ibu Sri dan Ibu Nasiah, 2 orang pedagang minuman di Islamic Center, yaitu Agus dan Fajar, 2 orang pedagang bakso di Islamic Center, yaitu: Ibu Rahayu dan Wahyu, 2 orang pedagang sosis yaitu Adi, dan Sumiati.

2. Dokumentasi

Dokumentasi adalah “mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya.9

Dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mencari data jumlah kunjungan wisata di Islamic Center Panaragan Jaya, event dan program wisata yang ditawarkan, struktur kepengurusan Islamic Center, dan data pelaku usaha kuliner di Desa Panaragan Jaya..

3. Observasi

Metode observasi adalah “pemilihan, pengubahan, pencatatan dan pengkodean serangkaian perilaku dan suasana yang berkenaan dengan organisme sesuai dengan tujuan-tujuan empiris.”10

Obyek penelitian yang diobservasi dalam penelitian kualitatif dinamakan situasi sosial yang terdiri atas tiga kompnen, yaitu place

8Ibid., h. 208

9Ibid, h. 274

10Ibid., h. 64

(50)

(tempat), actor (pelaku), dan activities (aktivitas).11 Berdasarkan teori tersebut, maka hal-hal yang akan penulis amati dengan menggunakan metode observasi meliputi:

a) Tempat atau lokasi subyek penelitian, yaitu Islamic Center Panaragan.

b) Pelaku, yaitu manajemen Islamic Center Panaragan Jaya dan pelaku usaha kuliner.

c) Aktivitas atau perilaku subyek penelitian dalam kaitannya dengan pengelolaan destinasi wisata dan pertumbuhan usaha kuliner.

D. Teknik Analisis Data

“Analisa data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistemisasi, penafsiran dan verivikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademis dan ilmiah.”12 Dikarenakan data dalam penelitian ini termasuk jenis data kualitatif, maka analisa terhadap data tersebut tidak harus menunggu sampai selesainya pengumpulan data.

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa data kualitatif berdasarkan teori Miles and Huberman sebagaimana dijelaskan oleh Sugiyono, “Aktivitas dalam analisa data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah penuh. Aktivitas dalam analisa data, yaitu datareduction, data display dan conclusion/verivication.”13

11Sugiyono, Memahami Penelitian., h. 68

12Ibid, h. 191

13Ibid., h. 91

(51)

Setelah data terkumpul, dipilih dan disajikan, maka langkah selanjutnya adalah menarik kesimpulan dengan menggunakan metode induktif, yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang khusus menuju kepada hal-hal umum. Alur analisis bersifat memaparkan dampak destinasi wisata Islamic Center terhadap pertumbuhan usaha kuliner yang kemudian dianalisis dan diambil kesimpulan.

(52)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Profil Islamic Center Panaragan Jaya

Islamic Center Panaragan Jaya berada di Jl Raya Panaragan Jaya Kabupaten Tulang Bawang Barat, berdiri di kompleks seluas 10,5 Hektar.

Islamic Center Panaragan Jaya juga dikenal dengan sebutan Masjid Agung Baitus Shobur yang memiliki keunikan 99 Cahaya Asmaul Husna sebagai ornamen atap masjid. Keunikan masjid ini terlihat dari bentuk kubahnya.

Masjid dengan luas bangunan 34 x 34 meter ini, memiliki 114 pilar sesuai jumlah surat dalam Al Qur’an, kubahnya persegi 5 sebagai cermin rukun Islam, sholat 5 waktu, dengan tinggi 30 meter sesuai dengan 30 juz Al Qur’an.14

Kompleks Islamic Center mulai dibangun pada Mei 2015 yang pada mulanya dipersiapkan untuk ajang MTQ Tingkat Provinsi Lampung Tahun 2017. Kompleks Islamic Center Panaragan Jaya yang dinamai Kompleks Dunia Akhirat yang diresmikan langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia pada tanggal 11 Oktober 2016. Islamic Center tersebut memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dengan masjid yang lain, karena keunikan masjid ini bukan hanya sebagai tempat untuk beribadah, tapi juga sebagai tempat wisata di Tulang Bawang Barat.15

14Dokumentasi Profil Islamic Center Panaragan Jaya Tanggal 14 Desember 2020

15Ibid

(53)

Arsitektur masjid Islamic Center Panaragan Jaya didesain oleh Andramatin, melambangkan prinsip hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama, yang merupakan prinsip Islam. Konsep bangunan dengan desain minimalis, membuat setiap orang sama sekali tidak sempat terpikir bahwa bangunan tersebut merupakan sebuah Masjid. Karena pada dasarnya desain dari konstruksi lebih mirip dengan tempat observasi, gedung usaha ataupun sebuah museum. Di sebelah masjid juga dibangun Sesat Agung Bumi Gayo, yaitu sebuah bangunan rumah khas adat Lampung yang sangat unik serta penuh dengan nuansa budaya Lampung, sehingga sangat menarik untuk dikunjungi. Dua bangunan monumental tersebut menjadi simbol kebanggaan masyarakat Tulang Bawang Barat. 16

Letak dari masjid sangat strategis dan mudah dijangkau serta berada di pusat kota Tulang Bawang Barat. Selain mudah untuk dijangkau, masjid ini juga dekat dengan beberapa tempat penting, seperti rumah dinas Bupati Tulang Bawang Barat, Tugu Naga, sekolah dan lain–lain. Dengan lokasi yang sangat strategis membuat masjid Islamic Center Tulang Bawang Barat selalu dalam kondisi ramai setiap hari. Apalagi pada saat hari tertentu, seperti musim liburan dan hari raya. Masjid pun dikunjungi ribuan orang. 17

Lantai masjid Islamic Center Panaragan Jaya terbuat dari kayu.

Sedangkan di atapnya terdapat banyak kaligrafi, dan 99 lobang cahaya yang masuk ke dalam masjid dan berubah-ubah, yang melambangkan 99 cahaya Asmaul husna. Dari sisi kanan masjid terdapat danau buatan yang sangat luas

16Ibid

17Ibid

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka peneliti ingin melakukan sebuah penelitian agar mengetahui tentang nilai-nilai Islam yang terkandung dalam tradisi suku

Etika berkomunikasi adalah norma sopan santun dalam berkomunikasi baik itu antara orangtua, guru, maupun dengan teman. Guru sebagai tenaga pendidik, harus dapat dijadikan

Bank pada dasarnya menyalurkan dana kepada masyarakat untuk membantu permodalan usaha, biaya sekolah, dan lain sebagainya. Sebelum melakukan pemberian pembiayaan

Pembiayaan yang diberikan bank kepada nasabah diperuntukan untuk usaha yaitu teruntuk usaha mikro kecil menengah (UMKM). Bank memberikan pinjaman hanya kepada nasabah

Kesimpulan yang diperoleh peneliti setelah melakukan analisis terhadap data-data yang di peroleh, bahwa adanya Waralaba dan Minimarket telah memberikan dampak terhadap

Dalam pelaksanaan pembiayaan pada sektor KUR di BRI Syariah KCP Tulang Bawang Barat kebanyakan menggunakan akad murabahah yang mana pihak Bank membantu modal usaha

Pertanyaan Penelitian Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan tersebut maka permasalahan yang dapat peneliti rumuskan adalah Bagaimana Metode Istinbath Hukum

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan izin usaha depot air minum di Kecamatan Selebar Kota Bengkulu sudah sesuai dengan peraturan Menteri Perindustrian dan