BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan survei awal didapat data dari Medical Record (RM) Rumah

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan survei awal didapat data dari Medical Record (RM) Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan 5 (lima) tahun terakhir dimulai dari tahun 2009 sebanyak 38 pasien penderita DM dengan penyulit gangren, 2010 sebanyak 40 pasien, 2011 sebanyak 45 pasien, 2012 sebanyak 54 pasien, 2013 sebanyak 59 pasien. Total jumlah kasus penderita DM dengan penyulit ganggren dari tahun 2009 sampai 2013 sebanyak 236 pasien, dan terjadi peningkatan kasus DM tersebut setiap tahunnya. Hal ini kemungkinan berhubungan dengan kebiasaan pola makan, diet yang tidak teratur, kurangnya latihan jasmani, pemakaian obat farmakologis tidak terkontrol serta kurangnya mendapatkan perawatan luka Diabetes Mellitus di rumah sakit tersebut.

Diabetes Mellitus terus meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat kemakmuran, berubahnya gaya hidup dan pola makanan, serta bertambahnya usia.

Penyakit Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang membutuhkan therapi jangka panjang dan seumur hidup. Pasien yang tidak mendapatkan edukasi dengan baik risiko terjadinya penyulit meningkat 100%, dari aspek medis diabetes mellitus sering bersamaan dengan penyakit hipertensi dan banyak menimbulkan penyulit Kardiovaskuler, kulit, sistem syaraf dan ginjal (Lanywati, 2007).

Penyakit DM adalah penyakit tidak menular dengan urutan nomor empat terbanyak setelah setelah hipertensi yang ditemukan di Rumah Sakit Umum Dr.

Pirngadi Medan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Laporan Penyakit Tidak

(2)

Menular Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan Tahun 2012-2013, ada sekitar 170 pasien yang datang berkunjung ke Rumah Sakit Umum Dr.Pirngadi Medan.

Dari 170 pasien ini, terdapat 104 pasien penderita lama dan 75 pasien penderita baru, dengan jumlah pasien perempuan lebih banyak yaitu sebesar 100 pasien dibanding pasien laki laki yang hanya berjumlah 70 pasien. Peran Asuhan Keperawatan merupakan suatu tindakan kegiatan atau proses dalam praktek keperawatan yang diberikan secara langsung kepada pasien untuk memenuhi kebutuhan objektif pasien, sehingga dapat mengatasi masalah yang sedang dihadapinya, dan asuhan keperawatan dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah ilmu keperawatan (Yulia, 2002).

Asuhan Keperawatan diberikan dalam upaya memenuhi kebutuhan pasien.

Dalam hal ini, Maslow (2009) menerangkan ada lima kebutuhan dasar manusia yaitu: kebutuhan fisiologis meliputi nutrisi, dan oksigen, kebutuhan rasa aman dan perlindungan, kebutuhan cinta saling memiliki, kebutuhan akan harga diri, kebutuhan aktualisasi diri. Adapun tujuan dalam pemberian Asuhan Keperawatan meliputi :

1. Membantu individu pasien untuk mandiri.

2. Mengajak individu masyarakat untuk berpartisipasi dalam bidang kesehatan.

3. Membantu individu mengembangkan potensi dalam memelihara derajat kesehatan secara optimal sehingga diharapkan tidak ketergantungan pada pasien lain dalam memelihara kesehatannya.

4. Membantu individu mendapatkan derajat kesehatan yang optimal.

(3)

Ketika pasien memasuki sistem pelayanan kesehatan perawatan dengan menggunakan langkah-langkah pada proses keperawatan mengumpulkan data, mengidentifikasi masalah kebutuhan (diagnosa keperawatan) menetapkan tujuan, mengidentifikasi hasil serta tujuan. Setelah intervensi dilakukan, perawatan mengevaluasi efektivitas rencana keperawatan dalam mencapai hasil serta tujuan yang diharapkan dengan menentukan apakah masalah-masalah telah teratasi atau belum (Barbarate, 2013).

Pelayanan keperawatan merupakan sub sistem dalam sistem pelayanan kesehatan di Rumah Sakit sudah pasti mempunyai kepentingan untuk menjaga mutu pelayanan. Pelayanan keperawatan sering dijadikan tolok ukur citra sebuah Rumah Sakit di masyarakat, perlu adanya profesionalisme perawat pelaksana maupun perawat pengelola dalam memberikan dan mengatur kegiatan asuhan keperawatan kepada pasien, sehingga pengaruh yang optimal dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas akan terwujud (Azwar, 1999).

Hasil dari pelayanan keperawatan yang baik akan mengurangi lama rawat pasien dirumah sakit dengan berbagai kasus penyakit dan tentunya akan menghemat biaya selama perawatan. Salah satu dari sekian banyak kasus yang perlu mendapat perhatian adalah penyakit Diabetes Mellitus (Kartini, 2009).

Diabetes mellitus dapat menyerang semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan, gejalanya sangat bervariasi, diabetes mellitus dapat timbul secara perlahan-lahan sehingga pasien tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang lebih banyak, buang air yang lebih sering, ataupun berat badan yang menurun, gejala-gejala tersebut dapat berlangsung lama tanpa

(4)

diperhatikan, sampai pasien tersebut kemudian pergi kedokter dan diperiksa kadar glukosa darahnya (Silvia, 1999).

Pengendalian diabetes mellitus harus benar-benar dipahami serta dilaksanakan oleh penderita dengan dukungan keluarga. Penderita harus memahami diet yang benar dan latihan jasmani dengan teratur (lapstail), terapi farmakologis sesuai pengelolaan dan sering mendengar pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan diabetes.

Tujuan pengelolaan diabetes berdasarkan tujuan jangka pendek adalah menghilangkan keluhan gejala DM dan mempertahankan rasa nyaman dan sehat sedangkan untuk tujuan jangka panjang mencegah penyulit baik makroangiopati, mikroangiopati dan neuropati dengan tujuan akhir menurunkan morbiditas dan mortalitas DM (Soegondo, 2009).

Prevalensi diabetes mellitus akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya keadaan sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Beberapa data yang berkaitan dengan angka diabetes dan luka diabetes secara umum dan pada wanita dan pria, dikemukakan di bawah ini :

1. Sebagaimana ditulis oleh Anja SuB - Burghat dari General Hospital Munich- Schwabing (2000), Jerman berikut ini:

Pada tahun 2000 prevalensi diabetes semua kelompok umur di seluruh dunia diperkirakan mencapai 2,8%. Angka tersebut di atas diprediksikan meningkat menjadi 4,4% pada tahun 2030. Jumlah total penyandang diabetes diproyeksikan meningkat dari 171 juta pada tahun 2000 menjadi 366 juta pada tahun 2030. Peningkatan angka tersebut di atas sebagian besar disebabkan

(5)

oleh peningkatan penduduk berusia di atas 65 tahun.

2. Riskesdas (2007), mencatat diabetes pada wanita menempati urutan pertama penyebab kematian, yaitu sebesar 16,3% dan pada laki-laki menempati urutan ke enam, yaitu sebesar 6%. Sementara mengemukakan: prevalensi diabetes mellitus 1,1%, meningkat menjadi 2,1%, prevalensi hipertensi 7,6%

meningkat menjadi 9,5% prevalensi stroke 8,3% meningkat menjadi 12,1%

(Kementerian Kesehatan RI, 2013).

Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular berkaitan dengan berbagai faktor risiko perilaku yang dapat dicegah. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 faktor risiko penyakit tidak menular tersebut antara lain: obesitas sentral 26,6%, sering makan makanan asin 26,2%, sering makan makanan berlemak 40,7%, sering mengkonsumsi makanan, minuman manis 53,1% kurang sayur buah 93,5%, kurang aktivitas fisik 26,1%, perilaku sedentary (gaya hidup) > 6 jam sebesar 25%, gangguan mental emosional (stress psikologis) 6,0%, perokok setiap hari 36,3%.

3. Griya (2001), Makasar, klinik luka yang diprakarsai perawat spesialis perawatan luka di wilayah Sulawesi Selatan.

4. Waspadji (1999), melaporkan data tentang diabetik, sebagai berikut:

a. Di Indonesia prevalensi diabetik pada populasi jarang dilaporkan, namun ada beberapa data sebagai berikut :

1) Di Jakarta :

Menurut Waspadji (1999), survei populasi tahun 1983 didapatkan angka prevalensi ulkus diabetik sebesar 2%. Penelitian kaki diabetik

(6)

pasca amputasi hasilnya tidak menggembirakan, dalam hal ini angka survival kaki diabetik buruk, antara lain:

Dalam 1 tahun pasca amputasi 14,8% pasien meninggal dan dalam pengamatan 3 tahun, meningkat menjadi 37%. Rata-rata pasien hanya hidup sampai 23,8 bulan pasca amputasi.

2) Di Negara Amerika Serikat

Persoalan kaki diabetik juga merupakan sebab utama perawatan pasien diabetes melitus di Amerika. Berikut ini, adalah beberapa data mengenai prevalensi dan penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat berkaitan dengan persoalan kaki diabetik.

Barbara (2000), dalam 2 tahun dilakukan penelitian, menemukan: 16%

perawatan diabetes melitus adalah akibat persoalan kaki diabetik, 23% dari total hari perawatan adalah akibat persoalan kaki diabetik; suatu saat dalam kehidupannnya, sebanyak 15% pasien diabetes melitus diperkirakan akan mengalami persoalan kaki; di negara ini, keberhasilan penanganan pengelolaan ulkus diabetik berkisar 57 - 94%, namun juga tergantung pada besar-kecilnya ulkus tersebut.

Berkaitan dengan amputasi di negara ini: Prevalensi ulkus diabetik pada penduduk Amerika Serikat sekitar 2-10%, di negara ini sebagian besar ulkus diabetik bisa diselamatkan dengan penanganan pengelolaan yang cermat, hanya sebagian kecil persoalan ulkus kaki ini yang berlanjut sampai memerlukan amputasi pada tungkai bawah (ekstremitas bawah); tentang amputasi kaki ini, di Amerika Serikat, terdapat deklarasi yang mencanangkan tentang keberhasilan

(7)

usaha penurunan angka amputasi kaki sampai 50% pada tahun 2000; dari total amputasi kaki yang dilakukan di negara ini, 50% amputasi disebabkan oleh diabetes melitus.

Sebelum melakukan tindakan amputasi, haruslah dipikirkan prognosa pasien berbagai faktor diantaranya segi fisik, psikologis dan finansial, karena nasib pasien yang telah diamputasi seringkali tidak menggembirakan, karena adanya temuan sebagai berikut :

Di Amerika Serikat, yaitu tepatnya di California (2000) ditemukan bahwa 13%

dari seluruh pasien yang mengalami amputasi, dalam waktu 1 tahun kemudian memerlukan tindakan amputasi lagi; di negara ini juga didapatkan data juga bahwa dalam jangka waktu 1-3 tahun, sekitar 30-50% pasien yang telah mengalami amputasi kaki memerlukan tindakan amputasi kaki kembali dalam jangka waktu tersebut.

Yunir (2007), mengemukakan pada seminar di Jakarta 'evidence base on wound management' (2008), bahwa 'setiap 30 detik, terjadi amputasi pada kaki

diabetik di seluruh dunia. Penelitian oleh Chen HF (yang dipublikasikan pada Diabetes Care 2006, melakukan studi selama 5 tahun tentang insidens non- traumatik amputasi kaki diabetes (kaki diabetes yang dilakukan amputasi-non traumatik) sebagai berikut (Kohort studi 5 tahun: 500.248 pasien diabetes) : Insidens non-traumatik amputasi laki-laki dan perempuan: 410,3 vs 115,2 per 100.000 pasien per tahun;’ Kontrol: 44,4 vs 26,9; Hazard rasio relatif pada laki- laki: 9,22; Hazard rasio relatif pada wanita : 11,67.

Penelitian oleh Hambleton (2009) yang dipublikasikan pada Diabetes

(8)

Care, dan Bild DE, et al, yang dipublikasikan pada Diabetes Care 1989, didapatkan data-data sebagai berikut :

Angka harapan hidup dalam 5 tahun angka harapan hidup (82%); angka mortalitas/kematian pasca amputasi mayor per 1000 pasien per tahun: 273,9 (non DM 36,4%); Angka mortalitas/kematian pasca amputasi minor per 1000 pasien per tahun: 113,4 (non DM 36,4%); Angka amputasi pada diabetes 15 kali lebih besar dari non DM.

Diabetes Mellitus dapat menyebabkan terjadinya penyulit kronik baik mikroangiopati maupun makroangiopati. Penyulit kronik biasanya terjadi dalam 5-10 tahun setelah diagnosis ditegakkan (Smeltzer dan Bare, 2008). Penyulit DM terjadi pada semua organ tubuh dengan penyebab kematian 50% akibat penyakit jantung koroner dan 30% akibat gagal ginjal. Selain kematian, DM juga dapat menyebabkan kecacatan. Sebanyak 30% pasien DM mengalami kebutaan akibat penyulit retinopati dan 10% menjalani amputasi tungkai kaki (Medicastore, 2007).

Penyulit DM dapat dicegah, ditunda, atau diperlambat dengan mengendalikan kadar gula darah.

Pengelolaan DM yang bertujuan mempertahankan kadar gula darah dalam rentang normal dapat dilakukan secara nonfarmakologis dan farmakologis dan mengontrol HbAIc gula darah. Pengelolaan non farmakologis meliputi pengendalian berat badan, olah raga, dan diet (Sudoyo, 2006). Terapi farmakologis yaitu pemberian insulin dan obat hipoglikemik oral. Terapi diberikan jika terapi non farmakologis tidak dapat mengendalikan kadar glukosa darah dan dijalankan dengan tidak meninggalkan terapi non farmakologi yang

(9)

telah diterapkan sebelumnya (Yunir dan Soebardi dalam Sudoyo, 2006).

Berdasarkan data Medical Record (RM) yang diperoleh dari RSUD Dr.Pirngadi Medan pada tahun 2014 terdapat 65 pasien penderita diabetes dengan penyulit gangren. Pada pasien diabetes mellitus lebih mudah mengalami infeksi berat seperti ganggren streptococcus. Keadaan ini ditandai dengan perluasan selulitis dan timbulnya vesicular atau bula yang hemoragik. Dengan cepat jaringan kulit yang menutupi mengalami nekrosis dan dalam beberapa hari proses ini meluas. Pemberian anti biotika saja umumnya tidak mencukupi, oleh sebab itu harus dilakukan eksisi yang luas bahkan mungkin amputasi. Mortalitas masuk cukup tinggi (> 10%) dan belum mungkin amputasi. Mortalitas masuk cukup tinggi (>10%) dan belum banyak berubah dalam era antibiotika ini. Bila ada indikasi penggunaan antibiotika maka diberikan 18-21 juta unit penisilin/ per hari dan vankonisin 1 gr/12 jam. Bila didapatkan insufisiensi ginjal dosis kedua obat harus disesuaikan. Pada pasien diabetes mellitus infeksi berat terapi antibiotika saja umumnya tidak cukup dan harus dibantu dengan debridement yang agresif.

Vaskularisasi yang kurang dan penyembuhan jaringan yang buruk seringkali mengharuskan kita melakukan amputasi lebih proksimal dari jaringan yang tampak. Trauma kecil pada jaringan yang mengalami insufisiensi vascular dapat mengawali infeksi pada jaringan superficial. Selanjutnya neoropati sensorik perifer penyembuhan luka kurang atau tidak terasa sakit dan hal ini menyebabkan perawatan tertunda. Infeksi dapat berbentuk selulitis’ negrosis jaringan lunak, sinusitis atau esteomielitis. Insufisiensi vascular sangat berperan dalam timbulnya infeksi pada kaki. Pada diabetes mellitus infeksi merupakan faktor yang penting

(10)

dalam fatogenesis ganggren aterosklerotik. Gangren didapatkan 53 dan lebih banyak pada pasien diabetes mellitus pria dibanding dengan perempuan pada peradangan adalah meningkatnya vaskularisasi sedang pada aterisklerosis respon yang terjadi adalah thrombosis dan nekrosis. Diperkirakan juga ada hubungannya antara insufisiensi vascular dengan infeksi saluran kemih.

Lamanya penyembuhan luka pada penderita Diabetes mellitus pada umumnya tidak dapat diperkirakan, hal ini disebabkan oleh karena penyembuhan luka amat berhubungan dengan glukosa darah. Moya J. Morison menyimpulkan adanya korelasi yang bermakna antara prevalensi infeksi dan tingginya kadar glukosa darah. Menurut hasil laporan perawatan Diabetes mellitus di RSUD Dr.Pirngadi Medan lamanya penyembuhan luka gangren pada pasien diabetes mellitus umumnya kurang lebih 1 bulan yang diikuti dengan pengaturan intake diet pasien keadaan luka pasien pascah penyembuhan biasanya meninggalkan suatu jaringan parut yang berkelok dan penyembuhan tidak sempurna serta tampak permukaan kulit agak kehitaman dan bukan merupakan nekrotik.

Latihan jasmani dianjurkan latihan jasmani teratur 3-4 kali tiap minggu selama ½ jam yang sifatnya sesuai CRIPE (Continious, Rhytimical, Interval, Progressive, Endurance training). Latihan dilakukan terus-menerus tanpa

berhenti. Otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur, selang seling antara gerak cepat dan lambat, berangsur-angsur dari sedikit ke latihan yang lebih berat secara bertahap dalam waktu tertentu. Latihan yang dapat dijadikan pilihan adalah jalan kaki, jogging, lari, renang, bersepeda dan mendayung (Basuki, 2007).

Hal yang perlu diperhatikan dalam latihan jasmani adalah jangan memulai

(11)

olahraga sebelum makan, memakai sepatu dengan ukuran yang tepat dan harus didampingi orang yang tahu mengatasi serangan hipoglikemia, harus selalu membawa permen membawa tanda pengenal sebagai pasien diabetes mellitus dalam pengobatan dan memeriksakan kaki secara cermat sebelum olahraga.

Senam kaki dapat membantu memperbaiki peredaran darah yang terganggu dan memperkuat otot-otot kecil kaki pada pasien diabetes dengan neuropati. Jika pasien melakukan pengaturan makan dan kegiatan jasmani yang teratur tetapi kadar gula darahnya masih belum baik, dipertimbangkan pemakain obat berkhasiat hipoglikemik oral, suntikan (Smeltzer, 2004).

Menurut Suminarti (2002) bahwa penyakit DM merupakan salah satu penyakit keturunan, sehingga penderita pesimis dan merasa rendah diri. Pola makan penderita DM dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam diri penderita DM maupun dari luar diri penderita DM mengutip pendapat menurut Rowley (1999). Pola makan bagi penderita DM merupakan salah satu wujud nyata dari perilaku kesehatan menurut Sarwono (2003).

Hasil penelitian Rachmawati (2005) menemukan bahwa lebih dari 50%

penderita DM tipe 2 tidak mengetahui penyakit dan penyulit lanjut sehingga datang ke rumah sakit dengan glukosa darah yang tinggi disertasi penyulit. Hasil penelitian Soebadri (2003) menemukan bahwa 75% penderita DM tidak mentaati diet yang dianjurkan dan 50% mempunyai kontrol gula darah yang buruk.

Hasil penelitian Juleka (2005) DM terjadi akibat tidak seimbangnya asupan energi, karbohidrat dan protein. Hasil penelitian Soegondo (2004) bahwa faktor risiko utama yang mempengaruhi terjadinya DM adalah akibat pola makan

(12)

yang tidak sehat, dimana mereka cenderung secara terus-menerus mengkonsumsi karbohidrat dan makanan sumber glukosa secara berlebihan, ditambah lagi kurang aktivitas fisik.

Hasil penelitian Bustan (2000), mengemukakan faktor risiko secara utama terhadap kejadian DM adalah meliputi umur, jenis kelamin dan genetik dan kebiasaan atau pola makan, kebiasaan merokok. Terdapat banyak penelitian sejenis pada pasien DM namun peneliti belum menemukan penelitian khusus yang berhubungan dengan peran asuhan keperawatan dalam penyembuhan luka DM dengan gangren di Indonesia. Hal ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa penyembuhan luka gangren dapat dipengaruhi oleh diet, latihan jasmani, olahraga fisik, perawatan luka, pengobatan, pengaturan diet yang dapat memengaruhi latihan jasmani. Penyembuhan luka sebagai berikut: diet adalah makanan dengan komposisi yang seimbang yaitu mengandung karbohidrat (46-60%), protein (10- 20%), dan lemak (20-25%) jumlah kalori yang disesuaikan dengan pertumbuhan status gizi. Selain memperhatikan pola makan sehari-hari, penderita harus melakukan olahraga atau latihan fisik. Olahraga bagi penderita diabetes terutama untuk membakar kalori tubuh sehingga glukosa darah bisa terpakai untuk energi.

Dengan demikian kadar gula menjadi turun. Untuk perawatan luka diperlukan dari stadium luka 1,2,3,4,5 jika stadiumnya naik: tidak baik, jika stadiumnya turun:

maka baik. Terapi farmakologi untuk menormalkan kadar glukosa, lemak, insulin didalam darah serta memberikan pengobatan penyakit kronis. Obat-obatan

(13)

hipoglikemia oral: Solfonilurea untuk merangsang pankreas menghasilkan insulin dan mengurangi resistensi terhadap insulin, terapi insulin.

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk penelitian ini adalah : .

1. Menganalisis pengaruh pemberian diet terhadap penyembuhan luka gangren.

2. Menganalisis pengaruh olahraga fisik terhadap penyembuhan luka gangren.

3. Menganalisis pengaruh perawatan luka terhadap penyembuhan luka gangren.

4. Menganalisis pengaruh pengobatan pemberian insulin (dokter) terhadap penyembuhan luka gangren.

1.4 Hipotesis

Ada pengaruh pemberian diet, olahraga fisik, perawatan luka, pengobatan pada pasien DM selama 12 minggu terhadap penyembuhan luka gangren yang dilihat dari kadar gula darah, ukuran luka.

1.5 Manfaat Penelitian 1. Bagi Institusi Rumah Sakit

Sebagai bahan acuan kepada perawat khususnya di Rumah Sakit Umum Dr.Pirngadi Medan. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan dalam pengendalian diabetes, dengan penyulit gangren untuk lebih meningkatkan serta memperhatikan mutu asuhan keperawatan pasien DM (masyarakat).

(14)

2. Bagi Institusi Pendidikan

Diperolehnya informasi tentang pelaksanaan riset keperawatan bagi mahasiswa sebagai bahan acuan yang penting untuk pengembangan program.

3. Bagi Manfaat Aplikatif

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pemberian asuhan keperawatan pasien DM khususnya sebagai landasan dalam menentukan intervensi, tindakan keperawatan yang paling efektif dan juga memberikan peningkatan dari pengembangan ilmu pengetahuan untuk terus mencari solusi yang lebih baik lagi dalam meminimalkan perawatan penyembuhan luka pada penderita DM, kemudian membantu perawat, dokter, ahli penyakit dalam melakukan upaya inovatif untuk mencegah penyulit DM lebih lanjut dapat timbul akibat dari pasien menjalani rekomendasi pengobatan.

4. Keilmuan

Menambah pengetahuan dan wawasan dalam praktek keperawatan dan memberikan pengaruh terhadap pengembangan profesionalisme.

1.6 Novelty Penelitian

Pada penelusuran kepustakaan belum ada ditemukan generalisasi peranan asuhan keperawatan dalam penyembuhan luka gangren pada penderita DM melalui pengaturan diet, olahraga senam kaki, perawatan luka dan pengobatan.

Diet dimulai dari asupan makanan dan jenis makanan standar diet, daftar makanan satuan penukarannya, hubungan menu diet 1700 kalori dapat menurunkan hambatan dimulai dari pengetahuan prasangka, kebiasaan, kesukaan ekonomi.

Pola makan pada penderita diabetes harus benar-benar diperhatikan. Baik jadwal,

(15)

jumlah, maupun jenis makanan yang dikonsumsi. Mengingat bahwa penderita diabetes biasanya memiliki kecenderungan kandungan gula darah yang tidak terkontrol. Pemilihan jenis makanan bagi penderita penyakit diabetes ini berkaitan dengan naik turunnya kadar gula darah. Karena asupan gula ke dalam tubuh berasal dari makanan yang dikonsumsi. Indeks glikemik adalah angka yang menunjukkan kecepatan makanan dalam meningkatkan/menaikkan kadar gula dalam darah. Semakin tinggi indeks glikemik maka kenaikan gula darah setelah mengkonsumsi makanan semakin cepat.

Pada area luka gangren lebih baik basah atau lembab dari pada kering untuk penyembuhan luka gangren. Mengontrol ukuran luka dilihat dari stadium luka 2, 3, 4, 5 Naik: tidak baik, turun: baik kembali ke stadium I apabila kondisi luka ada kemajuan dilihat dari panjang lebar dalam, luka kering, kulit kembali normal tanda insfeksi tidak terjadi, granulasinya timbul warnanya merah muda.

Perawatan luka umumnya dilakukan dengan mengganti balutan setiap hari dan membersihkan luka memakai cairan NaCl 0,9%, diberi metronidazole dibiarkan basah/lembab ditutup dengan kain kasa steril (yang tipis). Perlakuan ini dapat diterapkan sebagai model peranan asuhan keperawatan pada kasus-kasus luka gangren dengan DM di Rumah Sakit.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :