8
BAB III
PELAKSANAAN KERJA MAGANG
3.1. Kedudukan dan Koordinasi
Selama melakukan praktik kerja magang di PT. Global Digital Artha, penulis diberikan kedudukan sebagai ilustrator. Dikutip dari Sokanu (2021), ilustrator adalah seorang seniman yang membuat gambar 2 dimensi untuk berbagai perusahaan dan industri seperti desain pakaian, buku anak, majalah, medis, web site, iklan, dan lain-lain. Ilustrator sendiri memiliki berbagai macam teknik dalam mengerjakan ilustrasinya. Maka dari itu biasanya ilustrator memiliki speciality di industri tertentu sesuai dengan bakat mereka. Kebanyakan ilustrator menentukan sendiri jam kerjanya bergantung pada beban kerja dan deadline yang harus dipenuhi. Kebanyakan dari ilustrator bekerja di studio atau di rumah. Biasanya ilustrator melakukan meeting dengan klien atau rekan melalui tatap muka, email, atau telepon. Berikut ini adalah penjelasan mengenai kedudukan dan koordinasi yang dilakukan oleh penulis sebagai ilustrator di PT. Global Digital Artha.
3.1.1. Kedudukan
Sebagai ilustrator, penulis harus mengerjakan dan bertanggung jawab atas tugas- tugas yang diberikan oleh direktur yang bekaitan dengan ilustrasi, seperti komik, aset game, dan ilustrasi lainnya. Kedudukan penulis dengan ilustrator yang lain pun sejajar sehingga tidak ada ‘supervisor’ yang khusus mengawasi kualitas komik atau ilustrasi. Penulis dapat memberi atau mendapat kritik dan saran dari ilustrator yang lainnya.
Kedudukan penulis sebagai ilustrator membuat penulis bertanggungjawab
terhadap pekerjaan berkaitan dengan ilustrasi dan visual. Mulai dari mengerjakan
komik, aset game, ilustrasi, dan lain-lain. Biasanya setelah penulis menyelesaikan
pekerjaan, penulis mengirimkannya ke group skype atau kepada direktur langsung
untuk di-review.
9
Menjelang akhir periode magang, terkadang direktur mulai meminta pendapat penulis terkait dengan sebuah ilustrasi atau menanyakan teknis pekerjaan yang seharusnya. Direktur juga pernah meminta penulis melakukan pekerjaan voice acting, namun penulis menolak karena penulis tidak mempunyai ilmu dalam bidang tersebut, dan pekerjaan itu tidak sesuai dengan posisi yang disepakati penulis saat wawancara. Direktur juga pernah menanyai penulis tentang pengalaman 3D sculpting, namun karena bukan keahlian penulis, penulis menjawab tidak begitu percaya diri dengan kemampuan di 3D modeling, mengingat tingkat kesulitan 3D yang lebih sulit.
3.1.2. Koordinasi
Dalam berkoordinasi, semua karyawan yang bekerja di PT. Global Digital Artha berkomunikasi melalui group chat skype, walaupun semua karyawan bekerja di lantai yang sama dan di meja yang sama. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19 dan untuk menerapkan social distancing.
Alur kerja penulis di perusahaan ini adalah, direktur memberikan langsung tugas-tugas yang sudah dikerjakan oleh ilustrator lain kepada penulis untuk dikerjakan. Semua pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan oleh ilustrator harus dikirim ke direktur terlebih dahulu untuk dilihat dan di-review. Setelah pekerjaan tersebut dianggap sudah benar, barulah pekerjaan tersebut diberikan ke ilustrator selanjutnya untuk dikerjakan ke proses berikutnya.
Setelah pekerjaan final selesai, file .jpeg final harus dikirimkan ke group
chat untuk di-review oleh direktur dan ilustrator yang lain. Apabila ada revisi, maka
ilustrator yang bersangkutan akan merevisi pekerjaan tersebut dan setelah dianggap
benar, barulah ilustrator tersebut mengirimkan file RAW berupa .clip atau .psd ke
group untuk di backup oleh ilustrator yang bertugas mem-backup file. Kemudian
ilustrator bisa melanjutkan ke pekerjaan selanjutnya. Namun tak jarang, pekerjaan
ilustrator yang salah direvisi oleh ilustrator lain.
10 Gambar 3.1-1 Alur Koordinasi Perusahaan
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Bagan di atas adalah struktur koordinasi di dalam perusahaan khususnya pada divisi tempat penulis bekerja, yaitu ilustrasi. Dalam koordinasi, direktur bisa memberikan tugas kepada ilustrator A maupun ilustrator B. ilustrator A dan B nantinya dapat saling bertukar pekerjaan ketika mereka selesai untuk nantinya dilanjutkan oleh ilustrator yang lain, atau bisa dengan ketika ilustrator A selesai dan menyerahkan pekerjaan untuk di-review oleh direktur, direktur dapat memberikan pekerjaan tersebut kepada ilustrator B. nantinya, ilustrator A dan B tetap harus mengirimkan pekerjaan final mereka kepada direktur. Terkadang saat direktur belum memiliki pekerjaan untuk diberikan, ilustrator A dapat meminta pekerjaan pada ilustrator B begitu pun sebaliknya.
Karena karyawan di perusahaan ini kebanyakan merupakan mahasiswa magang dan semester awal kuliah (khususnya di divisi ilustrasi), biasanya bila ada sebuah kendala terkait ilustrasi yang tidak bisa diselesaikan oleh penulis dan ilustrator yang lain, direktur akan memutuskan untuk mem-pending atau membiarkan pekerjaan tersebut tidak dikerjakan.
3.2. Tugas yang Dilakukan
Selama melakukan praktik kerja magang di perusahaan ini, penulis telah
mengerjakan beberapa pekerjaan atau tugas yang diberikan, seperti komik, aset
game, dan ilustrasi. Komik yang penulis kerjakan adalah adaptasi dari mobile
games “Kode Keras Cowok dari Cewek”. Sedangkan aset game yang penulis
kerjakan juga menggunakan karakter dari “Kode Keras Cowok dari Cewek”. Untuk
ilustrasi, penulis membuat ilustrasi salah satu karakter dari “Kode Keras Cowok
dari Cewek”.
11 Gambar 3.2-1 Contoh Komik yang Dikerjakan oleh Penulis
(sumber: Dokumentasi Pribadi)
Komik di atas adalah salah satu komik yang dikerjakan oleh penulis.
Karakter dalam komik tersebut adalah karakter dari mobile games “Kode Keras Cowok dari Cewek”, cerita yang diceritakan pada komik merupakan cerita yang sama pada game, namun dengan versi yang lebih panjang dan lengkap.
Selain komik, penulis juga mengerjakan aset game untuk game yang belum rilis.
12 Gambar 3.2-2 Beberapa Contoh Aset Game yang Dikerjakan oleh Penulis
(sumber: Dokumentasi Pribadi)
13
Selain itu penulis juga membuat ilustrasi untuk salah satu karakter bernama Rini. Belum diketahui untuk projek apa ilustrasi ini akan digunakan, namun kemungkinan besar ilustrasi ini akan digunakan untuk mobile game yang akan dibuat. Berikut ini adalah beberapa contoh ilustrasi Rini yang penulis buat. Total ada lebih dari 40 ilustrasi Rini yang dikerjakan oleh penulis.
Gambar 3.2-3 Ilustrasi Rini Selfie yang Dikerjakan oleh Penulis (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Terakhir, pekerjaan yang penulis kerjakan yakni membuat outfit untuk badan polos yang nantinya akan digunakan untuk karakter di dalam game.
Gambar 3.2-4 Beberapa Contoh Aset Game yang Dikerjakan oleh Penulis untuk Game
‘Kode Keras Cowok dari Cewek’
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Berikut ini adalah tabel yang penulis buat untuk memperjelas pekerjaan apa saja yang penulis kerjakan selama magang tiap minggunya. Beberapa pekerjaan mungkin tidak penulis sebutkan dan jelaskan di atas.
Minggu Proyek Keterangan
1
(4 Januari-8 Februari)
Coloring komik episode First Date page 26-30
Penulis ditugaskan untuk
mewarnai komik yang
sudah di-lineart
termasuk dengan
background-nya. Penulis
14
menggunakan color pallete yang terdapat pada character sheet sebagai acuan warna.
2
(11 Januari-15 Januari)
Coloring komik episode Finding Love page 25-26
Penulis ditugaskan untuk mewarnai komik yang sudah di-lineart termasuk dengan background-nya. Penulis menggunakan color pallete yang terdapat pada character sheet sebagai acuan warna.
2
(11 Januari-15 Januari)
Buat aset game
Penulis diminta untuk merubah contoh gambar yang ada menjadi karakter Adit.
3
(18 Januari-22 Januari)
Coloring komik episode Finding Love page 36-38
Penulis ditugaskan untuk mewarnai komik yang sudah di-lineart termasuk dengan background-nya. Penulis menggunakan color pallete yang terdapat pada character sheet sebagai acuan warna.
3
(18 Januari-22 Januari) Buat aset game
Penulis diminta untuk merubah contoh gambar yang ada menjadi karakter Adit.
Penulis ditugaskan untuk
mewarnai komik yang
15
4
(25 Januari-29 Januari)
1. Coloring komik episode Finding Love page 45 (1-3)
2. Merapihkan lineart untuk komik episode Finding Love page 47 (2- 3)
sudah di-lineart termasuk dengan background-nya. Penulis menggunakan color pallete yang terdapat pada character sheet sebagai acuan warna.
Selain itu penulis mulai me-lineart halaman yang masih berupa sketsa.
4
(25 Januari-29 Januari)
Mengerjakan cut-out untuk karakter Adit, Neera, Tasya, dan Lala.
Penulis ditugaskan untuk merubah ilustrasi cut-out yang sudah ada menjadi karakter Adit, Neera, Tasya, dan Lala.
5
(1 Februari-5 Februari
1. Coloring komik episode Finding Love page 47 (2-3), 41 (2-3), 49 (1-3).
2. Memperbaiki sketsa komik episode Ultah Lala page 36-40, dan 47- 1 .
Penulis ditugaskan untuk mewarnai komik yang sudah di-lineart termasuk dengan background-nya. Penulis menggunakan color pallete yang terdapat pada character sheet sebagai acuan warna.
Selain itu, penulis juga dipercayai untuk memperbaiki sketsa yang salah pada episode Ultah
Lala dengan
menggunakan library
sebagai referensi.
16
6
(8 Februari-12 Februari)
1. Memperbaiki sketsa komik episode Ultah Lala page 47 (2-5), 48- 56, 64-67.
2. Mengerjakan komik episode Finding Love 42-1.
3. Lineart dan Coloring komik episode Ultah Lala page 37-40, 47-1.
Penulis ditugaskan untuk memperbaiki sketsa yang salah pada komik episode Ultah Lala dengan menggunakan library yang ada sebagai acuan. Penulis juga me- lineart dan mewarnai episode Finding Love dan Ultah Lala.
7
(15 Februari-18 Februari)
1. Me-lineart dan coloring komik episode Ultah Lala page 47-2.
2. Lineart komik episode Ultah Lala page 47 (4-5), 48-56, 64-67, 42-46.
Penulis ditugaskan untuk mewarnai komik episode Ultah Lala dan me- lineart halaman yang masih berupa sketsa.
7
(16 Februari-17 Februari)
Memperbaiki cut-out Adit.
Penulis diminta untuk memperbaiki cut-out karena posisinya masih tidak pas pada saat diaplikasikan ke dalam game.
7 (19 Februari)
Memeriksa dan
memperbaiki komik episode Valentine page 19-27.
Penulis diminta untuk
memeriksa dan
memperbaiki hasil kerja dari ilustrator sebelumnya.
8
1. Memperbaiki komik episode Valentine page
Penulis ditugaskan untuk
memperbaiki komik
episode Valentine yang
sebelumnya sudah
pernah dikerjakan oleh
17
(22 Februari-26
Februari)
28, 37-40 dan me-lineart Valentine page 33.
2. Menyelesaikan lineart untuk komik episode Ultah Lala page 40-41
ilustrator sebelumnya.
Penulis juga
menyelesaikan lineart episode Ultah Lala yang sempat tertunda.
8 (22 Februari)
Memperkaya library karakter Adit dan Lala.
Penulis diminta untuk memperbanyak library karakter Adit dan Lala agar lebih banyak referensi yang dapat membantu ilustrator lainnya atau baru dalam memperbaiki sketsa.
8
(22 Februari & 26 Februari)
Mengerjakan ilustrasi yang masuk kedalam proyek Rini Selfie.
Penulis diminta me- lineart dan mewarnai sebuah ilustrasi karakter Rini. Sketsa sudah dikerjakan oleh ilustrator lain sebelumnya.
9
(2 Maret-5 Maret)
Mengerjakan ilustrasi yang masuk ke dalam proyek Rini Selfie.
Penulis diminta me- lineart dan mewarnai sebuah ilustrasi karakter Rini. Sketsa sudah dikerjakan oleh ilustrator lain sebelumnya
9
(2 Maret-3 Maret)
Mengganti outfit Lala dari baju seragam menjadi baju rumahan,
Penulis ditugaskan untuk mengganti gambar fullbody Lala yang mengenakan baju seragam menjadi baju rumahan. Penulis juga
diminta untuk
18
serta menambahkan
ekspresinya.
menambahkan beberapa
ekspresi untuk
dipasangkan pada wajah Lala.
10
(8 Maret-12 Maret)
Mengerjakan ilustrasi yang masuk ke dalam proyek Rini Selfie.
Penulis diminta me- lineart dan mewarnai sebuah ilustrasi karakter Rini. Sketsa sudah dikerjakan oleh ilustrator lain sebelumnya
10 (12 Maret)
Mengerjakan (dari perbaikan sketsa- coloring) komik episode Finding Love page 7-9
Penulis diminta untuk memperbaiki sketsa kemudian me-lineart dan mewarnai komik episode Finding Love.
11
(15 Maret-17 Maret)
Mengerjakan ilustrasi yang masuk ke dalam proyek Rini Selfie.
Penulis diminta me- lineart dan mewarnai sebuah ilustrasi karakter Rini. Sketsa sudah dikerjakan oleh ilustrator lain sebelumnya
11
(17 Maret-19 Maret)
Membuat badan polos dan macam-macam outfit untuk Rini, Senja, dan Adit.
Penulis diminta untuk
membuat berbagai
macam outfit untuk
karakter sehingga bisa
diganti-ganti sesuai
kebutuhan cerita di
dalam game. Namun
sebelum itu, penulis
harus memperbaiki
badan polos yang
19
sebelumnya dikerjakan oleh ilustrator lain.
12
(22 Maret, 25-26 Maret)
Membuat outfit untuk karakter Kode Keras Cowok dari Cewek
Penulis diminta untuk memperbaiki badan polos karakter Kode Keras Cowok dari
Cewek kemudian
membuat macam-macam outfit untuk dipasangkan pada badan karakter.
13
(29 Maret-1April)
Membuat outfit untuk karakter Kode Keras Cowok dari Cewek
Penulis diminta untuk memperbaiki badan polos karakter Kode Keras Cowok dari
Cewek kemudian
membuat macam-macam outfit untuk dipasangkan pada badan karakter.
13
(29 Maret-1 April)
Menyelesaikan
pekerjaan yang tersisa
Penulis menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa.
Tabel 3.2-1 Tabel Pelaksanaan kerja Magang per minggu (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
3.3. Uraian Pelaksanaan Kerja Magang
Berikut ini penulis akan menjelaskan bagaimana proses pelaksanaan kerja magang
serta kendala-kendala yang penulis hadapi dan temukan selama mengerjakan tugas
yang diberikan. Penulis juga akan menyertakan solusi atas kendala-kendala
tersebut. Penulis akan menjelaskan tahap-tahap yang penulis lakukan dalam
pembuatan komik, aset game, maupun ilustrasi.
20 3.3.1. Proses Pelaksanaan
Dalam membuat komik, pertama-tama penulis diberikan file RAW berisi lineart panel yang harus diwarnai. Penulis harus menyusun layer sedemikian rupa agar rapih dan efisien. Penulis juga berusaha meminimalisir penggunaan layer yang terlalu banyak agar ukuran file tidak besar dan tidak membingungkan bila file harus diserahkan dan dikerjakan oleh ilustrator lain. Penulis juga tidak lupa memberi penamaan pada setiap layer-layer inti agar memudahkan pencarian.
Gambar 3.3-1 Pengerjaan Komik dari Proses Sketsa Sampai Color (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
21
Gambar 3.3-2 Penamaan Layer (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Setelah sekitar satu bulan bekerja, penulis kemudian perlahan-lahan ditugaskan untuk memperbaiki sketsa yang salah. Untuk memperbaiki sketsa tersebut, penulis menggunakan library, yaitu kumpulan screenshot karakter dari komik-komik sebelumnya yang bisa dijadikan acuan atau referensi untuk memperbaiki sketsa.
Gambar 3.3-3 Contoh Perbaikan Sketsa dengan Menggunakan Library (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
22 Gambar 3.3-4 Contoh Penerapan Penggunaan Library untuk Memperbaiki Sketsa
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Dalam memperbaiki sketsa, penulis akan mencari terlebih dahulu mana saja
panel yang sketsanya salah kemudian membuka library untuk mencari referensi
yang bisa dipakai untuk memperbaiki sketsa salah tersebut. Setelah itu penulis akan
meletakkan potongan library di atas sketsa yang salah dan menurunkan opacity-
nya. Setelah itu penulis bisa langsung memperbaiki sketsa yang salah dengan acuan
library yang sudah terpasang. Biasanya dalam memperbaiki sketsa dengan library,
penulis juga mengubah ekspresi sesuai kebutuhan pada panel yang memerlukan
perbaikan.
23 Gambar 3.3-5 Contoh Sketsa yang Sudah Diperbaiki Menggunakan Library
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Selain merevisi sketsa, penulis juga diminta untuk memperbaiki halaman komik yang sudah selesai diwarnai oleh ilustrator lain. Hal ini dikarenakan, direktur merasa halaman yang dikerjakan oleh ilustrator sebelumnya belum maksimal.
Dalam memperbaiki halaman tersebut, penulis menggunakan cara yang sama
seperti di atas.
24
Gambar 3.3-6 Hasil Seluruh Halaman yang Diperbaiki Oleh Penulis dengan Menggunakan Library
(Kiri: Sebelum ; Kanan: Sesudah) (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
25
Terkadang penulis juga diberikan notes revisi pada halaman komik yang penulis kerjakan. Prosesnya adalah setelah penulis selesai mengerjakan sebuah halaman komik, penulis akan mengirimkannya ke group skype untuk di-review oleh ilustrator lain. Setelah itu, bila ada yang harus diperbaiki atau ditambahkan, penulis akan diberikan notes seperti berikut.
Gambar 3.3-7 Notes yang Diberikan oleh Ilustrator Lain kepada Penulis untuk Perbaikan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Setelah mendapat notes ini, penulis hanya perlu mengikuti apa yang tertulis pada notes kemudian mengirimkannya kembali ke group skype.
Selanjutnya penulis akan menjelaskan tentang proses pembuatan aset game
selama melakukan kerja magang. Dalam membuat aset game, penulis diminta untuk
merubah contoh yang sudah ada menjadi karakter sesuai permintaan direktur. Cara
penulis merubah gambar tersebut dengan mengukuti pose dan postur contoh dan
merubah wajah, rambut, dan pakaiannya sesuai dengan karakter pada “Kode Keras
Cowok dari Cewek” (gambar contoh di sebelah kiri dan gambar yang sudah diubah
penulis di sebelah kanan).
26 Gambar 3.3-8 Gambar Contoh yang Diubah Penulis untuk Aset Game
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Selain merubah aset game seperti di atas, penulis juga merubah aset game seperti berikut.
Gambar 3.3-9 Gambar Contoh Cut-Out yang Diubah Penulis (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
27
Cara penulis merubah gambar di sebelah kiri menjadi gambar di sebelah kanan yakni dengan menurunkan opacity gambar di sebelah kiri dan membuat layer baru di atasnya. Barulah kemudian penulis menggambar gambar di sebelah kanan di layer baru tersebut.
Gambar 3.3-10 Contoh Cara Kerja Merubah Gambar Cut-Out dari Contoh yang Ada (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Terakhir adalah proses pembuatan ilustrasi untuk pekerjaan “Rini Selfie”.
Proses mengerjakan ilustrasi ini sama dengan proses mengerjakan ilustrasi pada
umumnya. Namun penulis tidak perlu membuat sketsa dari awal. penulis akan
mendapatkan kiriman file .jpeg dari direktur berupa sketsa yang sudah dikerjakan
oleh ilustrator sebelumnya, kemudian penulis bisa langsung mulai me-lineart dan
mewarnai ilustrasi tersebut sampai final.
28 Gambar 3.3-11 Proses Pengerjaan Salah Satu Ilustrasi Rini Selfie
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Untuk background, terkadang penulis menggunakan gambar atau foto yang
tersedia di Google untuk menghemat waktu. Selain itu, cara ini juga membuat
background dapat terlihat lebih detail dan bagus, mengingat penulis tidak begitu
ahli dalam membuat background. Gambar yang penulis pakai sebagai background
ilustrasi diletakkan di layer paling bawah sehingga karakter dan properti lainnya
terlihat di depan background.
29 Gambar 3.3-12 Contoh Penggunaan Foto dan Gambar dari Google Sebagai Background
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Terakhir, penulis akan menjelaskan proses pembuatan outfit untuk badan polos yang digunakan di dalam game Kode Keras Cowok dari Cewek. Dalam prosesnya, penulis harus memperbaiki terlebih dahulu tubuh naked yang sebelumnya sudah dibuat oleh ilustrator lain karena direktur merasa kurang puas dengan pekerjaan sebelumnya. setelah penulis memperbaiki tubuh naked sebagai dasar untuk membuat outfit, barulah penulis membuat layer di atas tubuh naked dan mulai membuat outfit yang berbeda-beda.
Gambar 3.3-13 Contoh Badan Polos dan Outfit untuk Rini Dewasa (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Gambar 3.3-14 Susunan Layer dalam Pembuatan Outfit untuk Rini Dewasa (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
30 3.3.2. Kendala yang Ditemukan
Dalam mengerjakan pekerjaan yang diberikan, penulis menemukan beberapa kendala baik secara teknis pengerjaan, maupun koordinasi. Pertama-tama penulis akan menjelaskan kendala yang penulis alami dan rasakan terkait dengan koordinasi:
1. terkait dengan pemberian tugas mengerjakan komik, baik dari sketsa maupun yang telah di-lineart oleh ilustrator lain, terkadang direktur memberikan halaman yang tidak urut untuk dikerjakan (dapat terlihat pada tabel pelaksanaan kerja magang per minggu). Pemberian halaman yang tidak urut ini tidak diiringi dengan halaman sebelum atau sesudahnya yang berguna sebagai referensi untuk warna dan situasi. Hal ini menyebabkan penulis terkadang melakukan kesalahan seperti salah mewarnai background atau salah mengimplementasikan suasana cerita. Hal ini menyebabkan halaman tersebut terlihat tidak continous dengan halaman lainnya.
Seperti contoh pada saat mengerjakan komik episode Finding Love, penulis ditugaskan mengerjakan halaman 30-an sampai dengan 40-an. Akan tetapi beberapa minggu kemudian penulis diberikan tugas untuk mengerjakan halaman 7- 9 yang mana menurut penulis, seharusnya halaman tersebut seharusnya yang dikerjakan terlebih dahulu. Selain itu, terdapat kesalahan pada sketsa halaman 7-9 dan harus diperbaiki penulis. Hal ini membuat penulis bertanya-tanya tentang tanggungjawab dan hasil review dari ilustrator yang mengerjakan halaman tersebut sebelumnya.
Tidak hanya itu, terkadang ada juga halaman awal atau halaman sebelumnya yang belum dikerjakan sama sekali (masih sketsa) namun halaman tengah atau menjelang akhir sudah selesai dikerjakan atau ditugaskan terlebih dahulu.
Kemungkinan hal ini terjadi akibat yang mengerjakan sketsa berbeda orang.
Pengerjaan coloring yang dikerjakan oleh orang yang berbeda-beda juga membuat
kualitas komik menjadi tidak konsisten.
31 Gambar 3.3-15 Contoh Pewarnaan Langit dan Awan yang Dikerjakan oleh Empat Orang
Berbeda
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
32 Gambar 3.3-16 Variasi Penggunaan efek pada background yang berbeda
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
33 Gambar 3.3-17 Detail Pewarnaan Kue dan Etalase yang Berbeda pada Halaman yang
Berkelanjutan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
2. Penulis merasa tanggungjawab ilustrator yang diberikan pekerjaan tertentu kurang maksimal. Yang penulis maksud di sini adalah, ketika seorang ilustrator tidak mampu untuk mengerjakan atau memperbaiki pekerjaannya sendiri, direktur akan memindahkan pekerjaan tersebut pada ilustrator lain. Pertama, penulis ingin menyampaikan bahwa merupakan hal yang wajar bila menyerahkan pekerjaan tersebut pada ilustrator lain untuk dicoba. Namun dampaknya, ilustrator yang seharusnya memperbaiki pekerjaannya tersebut tidak bisa belajar dari kesalahannya dan melatih diri untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Kedua, bila tidak ada ilustrator yang mampu memperbaiki atau mengerjakan pekerjaan tersebut, direktur akan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut sementara sembaring menunggu rekrut ilustrator baru yang mampu mengerjakan pekerjaan tersebut.
Menurut penulis, cara seperti ini akan menghambat proses rilis atau publish pekerjaan tersebut. Terbukti dari penulis yang terkadang mendapat pekerjaan yang sebenarnya sudah selesai dikerjakan tetapi harus direvisi.
3. Direktur tidak memberikan informasi lengkap mengenai teknis atau hasil akhir yang ingin dicapai saat memberikan sebuah pekerjaan. Beliau hanya meminta penulis melakukan suatu step atau proses tertentu, kemudian setelah selesai barulah beliau memberikan step berikutnya. Hal ini terjadi pada pekerjaan membuat outfit.
Beliau meminta penulis membuat outfit untuk tubuh hadap kanan (waist-up). Ketika selesai, beliau meminta penulis untuk menambahkan outfit tersebut sampai batas paha. Padahal menurut penulis, seharusnya outfit sampai batas paha yang seharusnya dibuat terlebih dahulu kemudian barulah dipotong sampai waist-up.
Tidak perlu menambahkan garis dan warna pada setiap outfit.
34
4. Penulis merasa direktur kurang memahami teknis pengerjaan visual sehingga terdapat proses-proses yang menurut penulis tidak efisien. Seperti contoh saat pembuatan outfit untuk Rini dewasa. Di sana penulis diberikan satu layer dimana body dan sebuah pakaian sudah menjadi satu. Tentu saja ini akan menyulitkan penulis dalam membuat outfit yang lain. Maka dari itu penulis memohon pada direktur untuk meminta ilustrator yang sebelumnya membuatkan tubuh naked agar penulis bisa leluasa membuat berbagai macam outfit. Akan tetapi, direktur merasa tidak puas dengan pekerjaan ilustrator tersebut sehingga penulis harus memperbaiki pewarnaan tubuh naked tersebut.
Karena karakter Rini berambut panjang, pembagian layer harus terbagi menjadi 3 bagian. Yakni rambut bagian depan terletak paling atas diikuti dengan layer outfit, tubuh naked, dan rambut bagian belakang. Selain itu direktur berkata bahwa nantinya outfit ini diharapkan dapat digunakan juga oleh karakter wanita yang lain.
Namun pada teknisnya, di dalam game hanya menggunakan 2 layer saja. Itu berarti penulis tidak dapat membagi layer menjadi 3 (rambut depan, tubuh dengan outfit, dan rambut belakang). Hal ini menyebabkan penulis harus menambahkan dan menggabungkan layer body+outfit dengan rambut belakang untuk setiap karakter yang berbeda. Bayangkan bila ada empat sampai lima karakter di dalam game.
Penulis harus meng-export baju yang sama berkali-kali dengan rambut belakang yang berbeda. Padahal bisa saja rambut belakang dipisah dengan body sehingga tidak perlu meng-export berkali-kali. Direktur pun setuju dengan teknis ini setelah penulis berdiskusi, namun tidak bisa diubah karena sudah menjadi default dalam engine game.
Gambar 3.3-18 Teknis yang Disarankan Penulis (Sumber: Dokumen Pribadi)
35 Gambar 3.3-19 Teknis yang Dikerjakan Penulis
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
5. Pada saat penulis diberikan sebuah pekerjaan, sering kali penulis diberikan pekerjaan baru untuk dikerjakan terlebih dahulu dan meminta penulis meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakan. Terlebih pekerjaan baru yang diberikan cukup banyak sehingga penulis menjadi kebingungan terhadap prioritas pekerjaan yang berganti-ganti. Untuk mempermudah pemahaman, penulis akan memberi perumpamaan.
Suatu ketika penulis diberikan pekerjaan A. Belum selesai penulis mengerjakan pekerjaan A, penulis diberikan pekerjaan B untuk dikerjakan terlebih dahulu dengan alasan sedang dibutuhkan segera. Setelah pekerjaan B selesai, penulis diberikan pekerjaan C dan D untuk dikerjakan terlebih dahulu. Ketika proses pengerjaan C dan D sedang berlangsung, tak jarang penulis diberikan pekerjaan E atau F. Terkadang pekerjaan E atau F tersebut harus dikerjakan terlebih dahulu, baru penulis melanjutkan ke pekerjaan C dan D. setelah selesai, penulis diberikan pekerjaan G dan seterusnya. Sampai sekarang, pekerjaan A masih belum bisa diselesaikan penulis. Saat penulis menanyakan perihal pekerjaan A, direktur berkata pekerjaan A bisa ditunda atau dikerjakan saat tidak ada tugas baru. Padahal saat direktur memberikan pekerjaan A, penulis terkadang ditanyai perihal kecepatan kerja karena pekerjaan A akan segera dipakai.
Selain kendala koordinasi, penulis juga menemukan beberapa kendala pada saat mengerjakan pekerjaan yang diberikan.
1. Dalam mengerjakan komik, penulis sering kali mendapati teks dialog yang sudah
diketik rapih namun tidak dalam bentuk format teks. Sering kali penulis diberikan
36
sketsa berupa .jpeg yang dialognya sudah menyatu dengan gambar, ada pula file .clip namun teks sudah di-rasterize sehingga tidak berbentu format teks lagi.
Padahal format teks dibutuhkan untuk memudahkan dalam merubah dialog ke dalam bahasa inggris. Hal ini membuat penulis harus mengetik ulang semua teks yang ada. Menurut penulis, hal ini cukup membuang waktu melihat sebenarnya teks sudah pernah diketik dengan rapih.
Gambar 3.3-20 Teks pada Sketsa yang Sudah Rapih Namun Masih Harus Diketik Ulang (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
2. Dalam membuat aset game, penulis menemukan kendala yakni tidak pas nya
posisi antara wajah dan kepala karakter. Hal ini disebabkan karena postur contoh
dan postur karakter yang diinginkan memiliki perbedaan.
37 Gambar 3.3-21 Gambar Contoh (kiri) ; Gambar yang Sudah Diubah Penulis (kanan)
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Dapat terlihat perbedaan lebar wajah pada karakter contoh dan karakter Adit.
Penulis memiliki kesulitan untuk membuat besar wajah yang pas dengan posisi ekspresi yang tidak boleh diubah karena sudah mengikuti sistem. Penulis berulang kali merevisi pekerjaan ini karena kendala tersebut.
Kendala yang serupa juga penulis temukan pada saat mengerjakan pekerjaan cut-
out. Pertama-tama, perlu penulis sampaikan bahwa pengerjaan cut-out seharusnya
berbeda untuk setiap karakter. Karena potongan dan posisi peletakan setiap karakter
berbeda-beda. Tidak bisa menjiplak cut-out sebuah karakter untuk diganti menjadi
karakter lain. Tentunya teknis yang penulis sampaikan merupakan pendapat dari
penulis. Karena penulis diminta membuat cut-out dengan mengikuti posisi yang ada
pada contoh, maka terjadilah kendala seperti berikut.
38 Gambar 3.3-22 Gambar Cut-out Contoh (kiri) ; Gambar Cut-out yang Penulis Kerjakan
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Gambar 3.3-23 Kendala yang Muncul Akibat Mengikuti Cut-out Gambar Contoh (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Meskipun telah melewati revisi berulang-ulang, menurut penulis, hasil akhirnya masih belum maksimal. Mungkin terlihat sedikit lebih baik pada karakter pria karena rambut contoh sama-sama berambut pendek. Namun menjadi masalah besar ketika diaplikasikan pada karakter wanita.
Gambar 3.3-24 Hasil Cut-out Adit Setelah Melalui Rangkaian Revisi (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
39 Gambar 3.3-25 Kendala yang Penulis Temukan saat Membuat Cut-out Karakter Wanita
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Sebenarnya penulis belum begitu paham mengapa kendala seperti ini bisa terjadi.
Namun penulis berpendapat bahwa teknik cut-out tidak seharusnya dilakukan
dengan cara seperti ini. Terlebih cut-out contoh untuk karakter Lala adalah karakter
berambut pendek, sedangkan Lala berambut lebih panjang sehingga cut-out untuk
Lala sama sekali tidak pas.
40 Gambar 3.3-26 Ketidaksesuaian Gambar Contoh Cut-out untuk Lala
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
3.3.3. Solusi Atas Kendala yang Ditemukan
Dari kendala yang telah penulis sebutkan pada sub bab sebelumnya, penulis
menyadari bahwa penulis belum atau tidak dapat memberikan solusi terhadap
41