i
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
Provinsi Sumatera Barat
Triwulan IV - 2013
Halaman ini sengaja dikosongkan
This page is intentionally blank
Triwulan IV-2013
KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH VIII
DIVISI EKONOMI MONETER Jl. Jend. Sudirman No. 22 Padang Telp. 0751-31700 Fax. 0751-27313
Penerbit :
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VIII Divisi Ekonomi Moneter Tim Kajian Ekonomi Jl. Jenderal Sudirman No. 22
P A D A N G
Telp : 0751-31700
Fax : 0751-27313
E-Mail: Dythia Sendrata ([email protected])
Haris Prabowo ([email protected])
Gaffari Ramadhan ([email protected])
Eks. Bank Indonesia Muaro, Padang
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan anugerah-Nya sehingga kami dapat kembali menghadirkan Kajian Ekonomi Regional (KER) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), khsususnya untuk periode Triwulan IV 2013. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan bahan masukan bagi pemerintah daerah, kalangan perbankan, kalangan akademisi, pelaku usaha serta semua pihak yang membutuhkan informasi terkini mengenai perkembangan ekonomi Provinsi Sumatera Barat. Selain diterbitkan dalam bentuk buku, soft copy KER dapat diakses melalui www.bi.go.id .
Perekonomian Sumatera Barat pada triwulan IV 2013 mampu tumbuh 6,9% (yoy), meningkat signifikan dari triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 5,6% (yoy). 5,8%. Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi Sumbar selama tahun 2013 mencapai 6,2% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,8%. Namun pencapaian tersebut terasa kurang berarti ketika di sisi lain Sumbar mencatat inflasi yang tinggi mencapai 10,87% (yoy), jauh di atas inflasi nasional sebesar 8,38%(yoy). Laju inflasi yang tinggi sangat merugikan masyarakat, terutama golongan menengah ke bawah dan berpotensi memperlebar kesenjangan sosial di tengah tingginya pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VIII bersama pemerintah daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus berupaya mengoptimalkan peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui koordinasi dan kerjasama yang terkait upaya untuk menstabilkan inflasi di daerah, tentunya agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu hingga terbitnya KER ini. Kami berharap semoga KER ini bermanfaat dan dapat memberikan masukan bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Padang, 17 Februari 2013
KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH VIII Kepala Perwakilan,
(ttd)
Mahdi Mahmudy Direktur Eksekutif
DAFTAR ISI
Daftar Isi ... iii
RINGKASAN EKSEKUTIF ... viii
BAB I EKONOMI MAKRO DAERAH ... 1
1.1 Perkembangan Umum ... 2
1.2 Perkembangan Sisi Permintaan ... Error! Bookmark not defined. 1.2.1 Konsumsi Rumah Tangga ... 3
1.2.2 Konsumsi Pemerintah ... 5
1.2.3 Investasi ... 6
1.2.4 Ekspor ... 7
1.2.5 Impor ... 9
1.3 Perkembangan Sisi Penawaran ... 11
1.3.1 Sektor Pertanian ... 11
1.3.2 Sektor Industri Pengolahan ... 13
1.3.3 Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) ... 14
1.3.4 Sektor Angkutan dan Komunikasi ... 16
BAB II INFLASI DAERAH ... 17
2.1 Perkembangan Inflasi Provinsi Sumatera Barat ... 17
2.2 Perkembangan Inflasi Nasional, Provinsi Sumatera Barat dan Wilayah Sekitar 19 2.3 Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang dan Jasa ... 20
2.3.1 Inflasi Tahunan ... 20
2.3.2 Inflasi Triwulanan ... 23
2.4 Disagregasi Inflasi ... 28
BAB III PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DAERAH ... 37
3.1 Perkembangan Bank Umum ... 37
3.2 Perkembangan Bank Umum Syariah ... 45
3.3 Perkembangan Sistem Pembayaran... 46
3.3.1 Transaksi Tunai ... 46
3.3.2 Transaksi Kliring ... 48
3.3.3 Transaksi BI-RTGS (Bank Indonesia-Real Time Gross Settlement) ... 49
BAB IV KEUANGAN DAERAH ... 51
4.1 Pendapatan Pemerintah Daerah ... 51
4.2 Belanja Pemerintah Daerah ... 53
4.3 Rekening Pemerintah Daerah di Perbankan ... 54
BAB V KETENAGAKERJAAN DAN KEMISKINAN DAERAH ... 57
5.2 Kemiskinan Daerah ... 60
BAB VI PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH ... 65
6.1 Prospek Ekonomi ... 66
DAFTAR TABEL
TABEL 1.1PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT SISI PERMINTAAN (YOY) ... 3
TABEL 2.1PERKEMBANGAN INFLASI TAHUNAN SUMBAR MENURUT KEL.BARANG DAN JASA ... 19
TABEL 2.2PERKEMBANGAN INFLASI TAHUNAN KOTA-KOTA DI SUMATERA ... 19
TABEL 2.3DAFTAR KOMODITAS DENGAN INFLASI TAHUNAN TERTINGGI DI SUMBAR ... 20
TABEL 2.4DAFTAR KOMODITAS DENGAN SUMBANGAN INFLASI TAHUNAN TERBESAR DI SUMBAR ... 21
TABEL 2.5KOMODITAS PENYUMBANG INFLASI TERBESAR TAHUN 2012-2013 ... 22
TABEL 2.6KOMODITAS PENYUMBANG INFLASI DAN DEFLASI TERBESAR TAHUN 2012 ... 22
TABEL 2.7PERKEMBANGAN INFLASI TRIWULANAN KOTA PADANG MENURUT KEL.BARANG DAN JASA (QTQ,%) ... 24
TABEL 2.8PERKEMBANGAN INFLASI KELOMPOK BAHAN MAKANAN (QTQ,%) ... 25
TABEL 2.9INFLASI KELOMPOK MAKANAN JADI,MINUMAN,ROKOK DAN TEMBAKAU (QTQ,%) ... 25
TABEL 2.10INFLASI KELOMPOK PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS DAN BAHAN BAKAR (QTQ,%) ... 26
TABEL 2.11PERKEMBANGAN INFLASI KELOMPOK SANDANG (QTQ,%) ... 26
TABEL 2.12PERKEMBANGAN INFLASI KELOMPOK KESEHATAN (QTQ,%) ... 27
TABEL 2.13PERKEMBANGAN INFLASI KELOMPOK PENDIDIKAN,REKREASI DAN OLAHRAGA (QTQ,%) ... 27
TABEL 2.14INFLASI KELOMPOK TRANSPORTASI,KOMUNIKASI, DAN JASA KEUANGAN (QTQ,%) ... 28
TABEL 3.1INDIKATOR PERKEMBANGAN BANK UMUM DI SUMATERA BARAT ... 39
TABEL 3.2PERKEMBANGAN BANK UMUM SYARIAH DI SUMATERA BARAT (JUTA RUPIAH) ... 45
TABEL 3.3PERPUTARAN KLIRING DAN CEK/BILYET GIRO KOSONG ... 49
TABEL 3.4TRANSAKSI RTGSPROVINSI SUMATERA BARAT ... 49
TABEL 5.1PENDUDUK USIA 15TAHUN KE ATAS MENURUT KEGIATAN DI SUMATERA BARAT ... 58
TABEL 5.2PENDUDUK USIA 15TAHUN KE ATAS YANG BEKERJA ... 59
TABEL 5.3PENDUDUK USIA 15TAHUN KE ATAS MENURUT LAPANGAN PEKERJAAN UTAMA ... 59
TABEL 5.4TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA ... 60
TABEL 5.5JUMLAH DAN PRESENTASE PENDUDUK MISKIN DI PROVINSI SUMATERA BARAT MENURUT DAERAH,MARET 2010– SEPTEMBER 2013 ... 60
TABEL 5.6 KEBUTUHAN HIDUP LAYAK (KHL) DAN UPAH MINIMUM PROVINSI (UMP)PROVINSI SUMATERA BARAT,2012–2013 ... 61
TABEL 5.7UPAH MINIMUM PROVINSI (UMP)WILAYAH SUMATERA BAGIAN TENGAH ... 62
TABEL 5.8GARIS KEMISKINAN,JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT SEPTEMBER 2013 ... 62
TABEL 5.9INDEKS KEDALAMAN KEMISKINAN (P1) DAN INDEKS KEPARAHAN KEMISKINAN (P2)PROVINSI SUMATERA BARAT SEPTEMBER 2013 ... 63
TABEL 6.8.PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT ... 66
DAFTAR GRAFIK
GRAFIK 1.1PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT (YOY) ... 2
GRAFIK 1.2PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH SUMATERA BAGIAN TENGAH (YOY) ... 2
GRAFIK 1.3 KONTRIBUSI PDRBMENURUT KEGIATAN EKONOMI ... 4
GRAFIK 1.4PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT SISI PERMINTAAN DOMESTIK (YOY) ... 4
GRAFIK 1.5PERKEMBANGAN INFLASI DAN PERTUMBUHAN KONSUMSI BERDASARKAN KELOMPOK BARANG ... 5
GRAFIK 1.6PERKEMBANGAN KREDIT KONSUMSI ... 5
GRAFIK 1.7PERKEMBANGAN JUMLAH TABUNGAN MILIK PERORANGAN ... 6
GRAFIK 1.8REALISASI PENCAPAIAN APBD ... 6
GRAFIK 1.9SIMPANAN PEMERINTAH DAERAH DI BANK UMUM SUMBAR ... 7
GRAFIK 1.10PERTUMBUHAN REALISASI PENANAMAN MODAL ... 7
GRAFIK 1.11KREDIT INVESTASI BANK UMUM DAN BPRLOKASI PROYEK DI SUMBAR ... 7
GRAFIK 1.12PERTUMBUHAN PDRBSUMBAR SISI PERMINTAAN EKSTERNAL (YOY)... 7
GRAFIK 1.13PERKEMBANGAN HARGA CPO ... 8
GRAFIK 1.14PERTUMBUHAN EKSPOR LUAR NEGERI DAN ANTAR DAERAH DALAM PDRBSUMBAR ... 8
GRAFIK 1.15NILAI DAN VOLUME EKSPOR NON-MIGAS... 9
GRAFIK 1.16NILAI DAN VOLUME EKSPOR CRUDE PALM OIL (CPO) ... 9
GRAFIK 1.17NILAI EKSPOR NON-MIGAS SUMBAR MENURUT NEGARA TUJUAN ... 9
GRAFIK 1.18PERTUMBUHAN IMPOR LUAR NEGERI DAN IMPOR ANTAR DAERAH DALAM PDRBSUMBAR ... 9
GRAFIK 1.19PERKEMBANGAN NILAI DAN VOLUME IMPOR NON-MIGAS ... 10
GRAFIK 1.20VOLUME IMPOR BAHAN BAKU INDUSTRI ... 10
GRAFIK 1.21VOLUME IMPOR NON-MIGAS SUMBAR MENURUT NEGARA ASAL UTAMA ... 10
GRAFIK 1.22KONTRIBUSI PDRBMENURUT SEKTOR EKONOMI ... 10
GRAFIK 1.23KONTRIBUSI PDRBMENURUT SEKTOR EKONOMI PERTUMBUHAN SEKTOR PERTANIAN (YOY) ... 12
GRAFIK 1.25RATA-RATA HARGA GABAH KUALITAS GABAH KERING PANEN (GKP) ... 13
GRAFIK 1.26PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI ... 13
GRAFIK 1.27PERTUMBUHAN SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN (YOY) ... 14
GRAFIK 1.28VOLUME PEMBELIAN SEMEN ... 14
GRAFIK 1.29TINGKAT HUNIAN HOTEL BERBINTANG ... 15
GRAFIK 1.30JUMLAH WISMAN MELALUI BANDARA INTERNASIONAL MINANGKABAU DAN PELABUHAN TELUK BAYUR ... 15
GRAFIK 1.31PERTUMBUHAN SEKTOR PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI ... 16
GRAFIK 1.32JUMLAH PENUMPANG BANDARA INTERNATIONAL MINANGKABAU... 16
GRAFIK 2.2INFLASI TAHUN KALENDER SUMBAR ... 18
GRAFIK 2.3INFLASI TAHUNAN SUMBAR DAN NASIONAL ... 19
GRAFIK 2.4INFLASI TAHUNAN SUMBAR DAN WILAYAH SEKITAR ... 19
GRAFIK 2.5SUMBANGAN INFLASI BULANAN CABE MERAH DAN BERAS ... 23
GRAFIK 2.6INFLASI BULANAN CABE MERAH DAN BERAS ... 23
GRAFIK 2.7BOBOT KONSUMSI KOMODITAS TERBESAR DI SUMBAR ... 23
GRAFIK 2.8INFLASI TRIWULANAN SUMBAR BERDASARKAN DISAGREGASI INFLASI... 23
GRAFIK 2.9ANDIL INFLASI TRIWULANAN SUMBAR BERDASARKAN DISAGREGASI INFLASI ... 29
GRAFIK 2.10INFLASI TAHUNAN SUMBAR BERDASARKAN DISAGREGASI INFLASI ... 29
GRAFIK 2.11ANDIL INFLASI TAHUNAN SUMBAR BERDASARKAN DISAGREGASI INFLASI ... 30
GRAFIK 2.12INFLASI TAHUNAN NASIONAL BERDASARKAN DISAGREGASI INFLASI ... 30
GRAFIK 3.1PERKEMBANGAN ASET BANK UMUM ... 38
GRAFIK 3.2PERTUMBUHAN DPKBANK UMUM ... 38
GRAFIK 3.3PERKEMBANGAN PERTUMBUHAN PENYALURAN KREDIT KONSUMSI ... 40
GRAFIK 3.4PERKEMBANGAN SIMPANAN TABUNGAN PERSEORANGAN ... 40
GRAFIK 3.5PERKEMBANGAN PERTUMBUHAN PENYALURAN KREDIT PROPERTI ... 40
GRAFIK 3.6PERKEMBANGAN PERTUMBUHAN KREDIT KENDARAAN BERMOTOR ... 40
GRAFIK 3.7PERKEMBANGAN PERTUMBUHAN KREDIT SEKTOR PERTANIAN ... 41
GRAFIK 3.8PERKEMBANGAN PERTUMBUHAN KREDIT SUBSEKTOR PERKEBUNAN SAWIT ... 41
GRAFIK 3.10PERKEMBANGAN VOLUME IMPOR PUPUK ... 41
GRAFIK 3.11PERKEMBANGAN NPLKREDIT SEKTOR PERTANIAN ... 42
GRAFIK 3.12PERKEMBANGAN PERTUMBUHAN KREDIT SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN... 42
GRAFIK 3.13PERKEMBANGAN PERTUMBUHAN KREDIT SUBSEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN CPO ... 42
GRAFIK 3.14PERKEMBANGAN PERTUMBUHAN KREDIT SUBSEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN ... 42
GRAFIK 3.15PERKEMBANGAN LDRKREDIT ... 43
GRAFIK 3.16PERKEMBANGAN PERTUMBUHAN KREDIT UMKM ... 43
GRAFIK 3.17PROPORSI KREDIT UMKM ... 44
GRAFIK 3.18PERKEMBANGAN NPLKREDIT UMKM ... 44
GRAFIK 3.19PERKEMBANGAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) ... 44
GRAFIK 3.20PERTUMBUHAN ASET,DPK DAN PEMBIAYAAN BANK UMUM SYARIAH (YOY) ... 44
GRAFIK 3.21PERKEMBANGAN FINANCING-TO-DEPOSIT RATIO (FDR) DAN NON-PERFORMING FINANCING (NPF)BANK UMUM SYARIAH ... 46
GRAFIK 3.22PERKEMBANGAN ALIRAN UANG KAS MASUK (INFLOW) DAN KELUAR (OUTFLOW) ... 47
GRAFIK 3.23PERKEMBANGAN ALIRAN UANG KAS MASUK (INFLOW) DAN KELUAR (OUTFLOW) TIAP BULAN ... 47
GRAFIK 3.24PERKEMBANGAN PEMUSNAHAN UANG TIDAK LAYAK EDAR (UTLE) ... 48
GRAFIK 3.25JUMLAH TEMUAN UANG PALSU DI SUMATERA BARAT ... 48
GRAFIK 3.26 PERKEMBANGAN TRANSAKSI RTGSPROVINSI SUMATERA BARAT ... 49
GRAFIK 4.1PERKEMBANGAN PENDAPATAN DAERAH TERHADAP TARGET APBD ... 52
GRAFIK 4.2PERKEMBANGAN DANA PERIMBANGAN DAN KOMPONENNYA TERHADAP TARGET APBD ... 52
GRAFIK 4.3PERKEMBANGAN PAD DAN KOMPONENNYA TERHADAP TARGET APBD ... 52
GRAFIK 4.4PENCAPAIAN PAD DAN KOMPONENNYA TERHADAP TARGET APBD ... 52
GRAFIK 4.5PENCAPAIAN DANA PERIMBANGAN DAN KOMPONENNYA TERHADAP TARGET APBD ... 53
GRAFIK 4.6PORSI KOMPONEN DARI PENDAPATAN DAERAH ... 53
GRAFIK 4.7PERKEMBANGAN BELANJA DAERAH TERHADAP TARGET APBD ... 54
GRAFIK 4.8PERKEMBANGAN KOMPONEN BELANJA TERHADAP TARGET APBD... 54
GRAFIK 4.9PERKEMBANGAN BELANJA MODAL TERHADAP TARGET APBD ... 54
GRAFIK 4.10PORSI KOMPONEN DARI BELANJA DAERAH ... 54
GRAFIK 4.11PERKEMBANGAN REKENING PEMERINTAH DAERAH SUMBAR DI BANK UMUM ... 55
GRAFIK 6.1PERKEMBANGAN HARGA KOMODITAS CPO ... 66
GRAFIK 6.2PERKEMBANGAN KONSUMSI PEMERINTAH ... 66
GRAFIK 6.3SURVEI KONSUMEN ... 68
GRAFIK 6.4PERKIRAAN SITUASI BISNIS KEGIATAN PERUSAHAAN SECARA UMUM ... 68
viii
RINGKASAN EKSEKUTIF
KAJIAN
EKONOMI
REGIONAL
PROVINSI
SUMATERA
BARAT
T
RIWULAN
IV
2013
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat meningkat signifikan
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat meningkat signifikan pada triwulan IV 2013. Ekonomi Sumbar tercatat tumbuh sebesar
6,8% (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 5,6% (yoy). Peningkatan pertumbuhan ini searah dengan pergerakan pertumbuhan nasional. Di dalam wilayah Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng), hanya perekonomian Riau yang turut meningkat sementara Jambi dan Kepulauan Riau tumbuh melambat. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada tahun 2013 mencapai 6,2% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 6,4% (yoy).
Net ekspor dan konsumsi pemerintah menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi
Meningkatnya kinerja net ekspor dan konsumsi pemerintah yang signifikan menopang pertumbuhan ekonomi Sumbar di triwulan IV 2013. Ekspor tumbuh signifikan seiring dengan
meningkatnya permintaan dan produksi ekspor Sumbar. Di sisi lain, impor masih terbatas di tengah tekanan depresiasi rupiah dan melemahnya daya beli masyarakat. Sementara itu konsumsi pemerintah meningkat pesat sesuai dengan pola belanja pemerintah. Kondisi tersebut tidak diikuti oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh melambat akibat tingginya tekanan inflasi di akhir tahun. Investasi juga tumbuh melambat namun masih di level yang tinggi.
Sektor pertanian; sektor perdagangan, hotel dan restoran; serta pengangkutan dan komunikasi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi
Sumber pertumbuhan ekonomi berasal dari sektor pertanian; perdagangan hotel dan restoran; serta pengangkutan dan komunikasi. Meningkatnya panen beras dan kelapa sawit yang
disertai perbaikan harga crude palm oil (CPO) mendorong
pertumbuhan sektor pertanian. Sementara pembangunan
infrastruktur dan atraktifnya Sumbar sebagai daerah tujuan wisata
mampu menopang peningkatan pertumbuhan subsektor
perdagangan, hotel, dan restoran. Dengan kondisi tersebut di tengah momentum puncak liburan akhir tahun turut mendorong pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi.
Laju inflasi bertahan di level yang tinggi
Inflasi Sumatera Barat bertahan pada level yang tinggi mencapai 10,87% (yoy) di akhir tahun 2013. Pada triwulan
laporan, tekanan inflasi Sumbar, walaupun melemah, tetap persisten di triwulan IV bersumber dari meningkatnya harga bahan makanan. Dengan kondisi tersebut inflasi volatile food mendominasi pergerakan indeks harga pada triwulan IV 2013. Sementara itu tekanan inflasi administered prices mulai mereda paska kenaikan harga BBM bersubsidi.
Aset bank umum melambat dengan risiko kredit yang terpantau stabil dan
Perkembangan aset bank umum Sumbar pada triwulan IV 2013 tercatat melambat seiring dengan pelemahan perekonomian. Penurunan konsumsi masyarakat berdampak pada
ix
dalam batas aman Menurunnya konsumsi non-makanan oleh rumah tangga
menyebabkan kredit konsumsi melambat. Perlambatan juga terjadi pada kredit modal kerja karena pelaku usaha menahan keinginan untuk melakukan ekspansi usaha di tengah menurunnya konsumsi masyarakat. Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan uang tunai di akhir tahun mempengaruhi perlambatan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).
Kualitas kredit perbankan di Sumbar terpantau stabil dan dalam batas aman. Secara sektoral, kredit sektor pertanian
tumbuh melambat dengan kualitas kredit yang membaik seiring dengan meningkatnya harga komoditas pertanian dan menurunnya kebutuhan impor. Namun pertumbuhan kredit di sektor industri pengolahan melambat dengan kualitas kredit yang menurun sejalan dengan pelemahan kinerja sektor industri. Sementara itu fungsi intermediasi bank umum masih mencatat peningkatan di tengah melambatnya kredit.
Belanja pemerintah mencapai puncaknya di akhir tahun
Penyerapan belanja pemerintah daerah Sumbar mencapai puncaknya di akhir tahun di tengah penerimaan yang menurun. Naiknya belanja modal serta belanja barang dan jasa
seiring dengan dilakukannya pembayaran proyek selama tahun 2013 serta penyaluran dana bagi hasil (DBH) oleh pemerintah daerah ke wilayah-wilayah dibawahnya mendorong realisasi belanja daerah. Sementara realisasi pendapatan daerah Sumbar menurun sejalan dengan pola penyaluran dana alokasi umum (DAU) yang lebih rendah di ahir tahun.
Transaksi non-tunai mengalami penurunan
net-inflow
Perputaran uang tunai mencatat penurunan net inflow.
Menurunnya net-inflow disebabkan oleh tingginya kebutuhan akan uang oleh masyarakat seiring dengan meningkatnya konsumsi di akhir tahun. Tingkat pengangguran meningkat, kualitas pekerjaan menurun dan tingkat kemiskinan menurun
Melambatnya pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat berdampak pada menurunnya penyerapan tenaga kerja dan kualitas pekerjaan. Kondisi ini terindikasi dari meningkatnya
jumlah pengangguran, meningkatnya porsi pekerja tidak penuh terhadap angkatan kerja dan meningkatnya porsi pekerja paro waktu terhadap pekerja tidak penuh.
Di sisi lain, tingkat kemiskinan di Sumatera Barat mengalami penurunan. Di tengah meningkatnya pengeluaran akibat tingginya
tekanan inflasi sepanjang tahun 2013, menurunnya kemiskinan ditopang oleh perbaikan penghasilan penduduk perdesaan diantaranya melalui peningkatan Upah Minimum Provinsi (UMP). Pertumbuhan
ekonomi triwulan I 2014 diprakirakan melambat
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat diprakirakan mengalami perlambatan dan berada pada kisaran 5,8 6,3% (yoy) di triwulan I 2014. Dari sisi permintaan, melemahnya net
ekspor dan konsumsi pemerintah menjadi faktor turunnya perekonomian. Pertumbuhan ekspor diprakirakan melambat akibat menurunnya produksi komoditas ekspor utama. Percepatan realisasi belanja pemerintah daerah di tahun pelaksanaan Pemilu diprakirakan belum terlalu terlihat di triwulan I 2014. Iklim investasi yang belum kondusif berpotensi membawa investasi tumbuh melambat. Di sisi lain, menguatnya daya beli masyarakat diharapkan mampu mendorong konsumsi rumah tangga. Secara sektoral, pertumbuhan di sektor pertanian diprakirakan melambat akibat produksi yang menurun. Sementara menguatnya konsumsi domestik
x
mampu menggerakkan sejumlah sektor ekonomi. Tekanan inflasi
diprakirakan masih tinggi pada triwulan I 2014.
Tekanan inflasi diprakirakan masih tinggi pada triwulan I 2014. Permasalahan pasokan sejumlah komoditas pangan utama di
awal tahun 2012 akibat cuaca yang tidak kondusif menjadi penyebab utama tingginya tekanan inflasi. Secara keseluruhan tahun, tekanan inflasi Sumbar di tahun 2014 diprakirakan mereda. Meredanya inflasi ke depan didorong oleh (i) minimalnya kebijakan energi strategis, sesuai dengan rencana dalam APBN 2014; (ii) lebih rendahnya dampak kenaikan UMP karena kenaikan UMP 2014 lebih kecil dibandingkan tahun 2013; dan (iii) kecenderungan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi Sumbar yang moderat. Namun demikian risiko inflasi ke depan masih besar. Terdapat sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan tekanan inflasi di tahun 2014, yaitu gangguan cuaca yang mempengaruhi pasokan pangan dan rencana kenaikan harga sejumlah barang dan jasa oleh produsen yang belum dilakukan sepenuhnya pada tahun 2013. Selain itu kebutuhan akan pembentukan TPID Kota Bukittinggi menjadi sangat penting seiring dengan penggunaan Survei Biaya Hidup (SBH) baru.
xi
INDIKATOR EKONOMI TERPILIH SUMATERA BARAT
I II III IV I II III IV
MAKRO
IHK Kota Padang**) 134,67 136,35 138,75 140,15 143,42 147,17 152,67 155,39
Laju Inflasi Tahunan (y-o-y %) 3,95 6,19 4,74 4,16 6,50 7,93 10,03 10,87
PDRB - harga konstan (miliar Rp)
- Pertanian 2.448,57 2.499,80 2.477,44 2.492,45 2.520,30 2.489,96 2.573,81 2.689,47 - Pertambangan dan Penggalian 319,46 326,45 327,13 327,79 319,20 334,89 328,71 346,53 - Industri Pengolahan 1.250,66 1.289,11 1.325,99 1.347,19 1.358,72 1.362,21 1.379,96 1.365,20 - Listrik, Gas, dan Air Bersih 115,78 119,20 122,74 123,23 121,92 125,42 123,75 130,22 - Bangunan 573,57 600,24 624,55 640,85 622,98 651,78 677,93 692,31 - Perdagangan, Hotel, dan Restoran 1.919,01 1.976,40 2.040,72 2.064,08 2.098,31 2.126,68 2.171,08 2.208,09 - Pengangkutan dan Komunikasi 1.640,43 1.671,11 1.738,10 1.744,63 1.756,40 1.817,51 1.867,80 1.911,81 - Keuangan, Persewaan, dan Jasa 537,39 548,58 567,34 575,24 574,20 586,62 598,39 610,46 - Jasa 1.801,32 1.854,11 1.926,02 1.969,17 1.952,22 1.990,23 2.052,07 2.103,09
Pertumbuhan PDRB (yoy %) 4,8 6,65 6,58 7,44 6,8 5,52 5,59 6,85
Nilai Ekspor Nonmigas (USD Juta)*** 497,35 549,08 526,28 428,84 454,38 459,34 427,34 558,69 Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton)*** 563,87 591,86 657,31 565,61 711,63 810,09 726,26 989,55 Nilai Impor Nonmigas (USD Juta)*** 109,40 48,14 26,14 31,17 20,11 15,30 25,82 23,39 Volume Impor Nonmigas (ribu ton)*** 279,03 122,46 137,68 80,57 76,44 77,83 111,12 133,48 PERBANKAN****
Bank Umum
Total Aset (Rp triliun) 36,25 37,82 39,74 40,16 42,98 42,18 44,32 43,64 DPK (Rp Triliun) 23,60 24,27 25,85 25,62 26,41 25,91 26,78 26,28 - Tabungan (Rp Triliun) 5,85 5,85 6,12 4,87 6,12 5,18 5,56 4,27 - Giro (Rp Triliun) 10,49 11,21 11,79 13,18 11,88 11,97 12,69 14,21 - Deposito (Rp Triliun) 7,26 7,21 7,95 7,57 8,41 8,76 8,53 7,80 Kredit (Rp Triliun) 30,23 32,28 33,07 34,17 35,31 37,31 38,46 38,66 - Modal Kerja 10,95 12,52 12,60 13,07 13,44 13,98 14,39 14,41 - Investasi 5,08 5,26 5,36 5,30 5,89 6,65 6,93 7,08 - Konsumsi 14,19 14,50 15,10 15,79 15,98 16,69 17,14 17,17 - LDR (%) 128,11 133,01 127,92 133,37 133,73 144,04 143,60 147,11 NPL (gross, %) 2,16 2,22 2,41 2,26 2,45 2,31 2,43 2,16 INDIKATOR 2012 2013
1
1
BAB I
EKONOMI MAKRO DAERAH
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat meningkat signifikan pada triwulan IV 2013. Ekonomi Sumbar tercatat tumbuh sebesar 6,8% (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 5,6% (yoy). Peningkatan pertumbuhan ini searah dengan pergerakan pertumbuhan nasional. Di dalam wilayah Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng), hanya perekonomian Riau yang turut meningkat sementara Jambi dan Kepulauan Riau tumbuh melambat. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada tahun 2013 mencapai 6,2% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 6,4% (yoy).
Meningkatnya kinerja net ekspor dan konsumsi pemerintah yang signifikan menopang pertumbuhan ekonomi Sumbar di triwulan IV 2013. Ekspor tumbuh
signifikan seiring dengan meningkatnya permintaan dan produksi ekspor Sumbar. Di sisi lain, impor masih terbatas di tengah tekanan depresiasi rupiah dan melemahnya daya beli masyarakat. Sementara itu konsumsi pemerintah meningkat pesat sesuai dengan pola belanja pemerintah. Kondisi tersebut tidak diikuti oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh melambat akibat tingginya tekanan inflasi di akhir tahun. Investasi juga tumbuh melambat namun masih di level yang tinggi.
Sumber pertumbuhan berasal dari sektor pertanian; perdagangan hotel dan restoran; dan pengangkutan dan komunikasi. Meningkatnya panen beras dan
kelapa sawit yang disertai perbaikan harga crude palm oil (CPO) mendorong pertumbuhan sektor pertanian. Sementara pembangunan infrastruktur dan atraktifnya Sumbar sebagai daerah tujuan wisata mampu menopang peningkatan pertumbuhan subsektor perdagangan, hotel, dan restoran. Dengan kondisi tersebut di tengah momentum puncak liburan akhir tahun turut mendorong pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi.
2
1.1 Perkembangan Umum
Perekonomian Sumatera Barat pada triwulan IV 2013 meningkat signifikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, ekonomi
Sumbar tumbuh 6,8% (yoy), jauh meningkat dari triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 5,6% (yoy) (Grafik 1.1). Level pertumbuhan ini menyamai pertumbuhan Sumbar pada triwulan I 2013 dan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh 5,7% (yoy) pada periode yang sama. Dari sisi permintaan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi Sumbar terutama ditopang oleh membaiknya kinerja ekspor dan masih tumbuhnya konsumsi domestik. Di sisi penawaran, tingginya ekspor mendorong pertumbuhan sektor pertanian. Sementara meningkatnya konsumsi domestik mampu menopang sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor angkutan dan komunikasi.
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat (yoy)
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.2 Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Sumatera Bagian Tengah (yoy)
Dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di wilayah Sumatera Bagian
Tengah (Sumbagteng), perkembangan ekonomi provinsi Sumbar
menunjukkan kinerja yang membaik. Ekonomi Sumatera Barat berperan cukup
besar dalam menjaga kinerja ekonomi wilayah Sumbagteng. Hal ini disebabkan karena Sumbar, yang menyumbang 20,6% dari pertumbuhan wilayah Sumatera Bagian Tengah, tumbuh hampir mencapai level 7,0% (yoy). Sementara itu, kinerja provinsi-provinsi lain di Wilayah Subagteng cukup bervariasi, terkait dengan sektor ekonomi utama yang berbeda-beda. Pada triwulan laporan, provinsi yang memiliki keunggulan dalam produksi kelapa sawit dan hasil turunannya mencatat perbaikan ekonomi. Kondisi ini terlihat pada Riau yang mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan sejalan dengan masa panen kelapa sawit. Kondisi ini membawa
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
I II III IV I II III IV I II III IV
2011 2012 2013
Nasional Sumbar Rata-rata ( 5 tahun) %, yoy 0 2 4 6 8 10
I II III IV I II III IV I II III IV 2011 2012 2013
%, yoy
3
ekonomi Riau mampu tumbuh 3,8% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 2,2% (yoy) (Grafik 1.2). Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi Riau masih yang terendah di wilayah Sumbagteng. Hal ini dikarenakan semakin terbatasnya produksi minyak bumi di Riau. Di sisi lain, Kepulauan Riau terus melanjutkan pelemahan pertumbuhan yang terjadi sejak awal tahun 2013. Perekonomian Kepulauan Riau hanya mampu tumbuh 5,0% (yoy), melambat dari triwulan sebelumnya sebesar 5,7% (yoy). Sebagai provinsi yang perekonomiannya sangat bergantung pada perdagangan internasional, sektor industri pengolahan Kepulauan Riau melemah seiring lesunya pertumbuhan ekonomi dunia selama tahun 2013. Pelemahan pertumbuhan ekonomi juga terjadi di Jambi. Sebagai salah satu penghasil karet utama, menurunnya produktivitas dan harga jual komoditas karet berdampak pada melambatnya sektor pertanian yang merupakan sektor utama perekonomian di Jambi. Kondisi yang kurang kondusif ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Jambi melambat, dari triwulan sebelumnya mampu tumbuh sebesar 7,9% (yoy), menjadi hanya mampu tumbuh 6,9% (yoy). Meski melambat, pertumbuhan perekonomian Jambi merupakan yang tertinggi selain Sumbar pada triwulan IV 2013.
Tabel 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat Sisi Permintaan (yoy)
Sumber: Badan Pusat Statistik
1.1.1 Konsumsi Rumah Tangga
Konsumsi rumah tangga yang merupakan sumber permintaan utama dalam perekonomian Sumbar terus mengalami perlambatan pertumbuhan sejak awal tahun 2013. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga, yang memberikan
kontribusi sebesar 47,2% terhadap total Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) (Grafik 1.3), kembali melambat mencapai 3,0%(yoy) dari triwulan sebelumnya sebesar 4,2% (yoy) (Tabel 1.1). Kondisi ini merupakan dampak dari tergerusnya daya beli masyarakat akibat laju inflasi Sumbar yang sangat tinggi di tahun 2013. Dengan laju inflasi tahunan yang terus menembus level dua digit paska kebijakan kenaikan BBM bersubsidi sampai dengan akhir tahun, masyarakat Sumbar dihadapkan pada
I II III IV I II III IV I II III IV
Konsumsi 9,5 9,2 5,1 4,2 6,0 3,1 4,6 5,4 7,1 5,1 6,3 4,8 4,1 5,0 5,0 Konsumsi Rumah Tangga 7,1 5,6 3,2 2,3 4,5 2,5 4,0 5,1 6,6 4,6 6,5 5,2 4,2 3,0 4,7 Konsumsi Pemerintah 12,6 11,3 12,2 11,1 11,8 5,3 6,7 6,8 8,7 6,9 5,4 3,3 3,9 11,8 6,3 Investasi (PMTB) 15,5 11,1 10,3 7,0 10,8 7,0 8,0 5,6 8,1 7,2 4,3 7,4 9,6 8,4 7,5 Net Ekspor (Impor) 5,8 35,6 6,0 -3,8 8,2 16,1 -1,4 -0,3 -12,6 0,1 -22,5 -24,9 -14,2 76,7 -0,8 Ekspor 5,0 24,0 8,9 6,2 10,9 17,9 -0,2 4,3 -7,0 3,1 -12,5 -11,9 -6,5 40,8 1,6 (Impor) 5,8 19,2 13,4 20,4 15,0 20,6 1,9 10,7 -0,7 7,3 1,6 9,1 3,2 5,1 4,7
PDRB 8,2 6,7 5,8 4,4 6,3 4,8 6,6 6,6 7,4 6,4 6,8 5,5 5,6 6,8 6,2
2013
4
kenyataan untuk menahan konsumsinya (Grafik 1.5). Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan utama seperti cabe merah dan beras membuat konsumen di Sumbar tidak hanya mengurangi konsumsi makanan, tetapi juga non makanan. Konsumsi makanan tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya, dari 3,7% (yoy) menjadi 2,1% (yoy). Begitu pula konsumsi non makanan juga tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya, dari 5,1% (yoy) menjadi 4,6% (yoy).
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.3 Kontribusi PDRB Menurut Kegiatan Ekonomi
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.4 Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat Sisi Permintaan Domestik (yoy)
Sejumlah indikator lainnya mengkonfirmasi pelemahan konsumsi masyarakat.
Hasil Survei Indeks Tendensi Konsumen (ITK) oleh BPS pada triwulan IV 2013 menunjukkan bahwa optimisme konsumen sedikit menurun walaupun kondisi ekonomi konsumen masih mengalami perbaikan (Tabel 1.2). Menurunnya optimisme terutama berasal dari keyakinan konsumen akan tingkat konsumsi makanan dan non makanan yang menurun dari 117,7 menjadi 108,2 akibat laju inflasi Sumbar yang meningkat dari 10,03% (yoy) di triwulan III 2013 menjadi 10,87% (yoy) di akhir tahun. Sementara itu, pelemahan konsumsi rumah tangga juga terlihat pada penyaluran kredit konsumsi yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan sejak Mei 2013 dan hanya mampu tumbuh 3,0%(yoy) di Desember dengan total kredit konsumsi mencapai Rp17,2 triliun (Grafik 1.6). Pemenuhan konsumsi sebagian dipenuhi melalui penarikan simpanan di perbankan, terlihat pada jumlah total simpanan milik perorangan di bank umum di Sumbar yang tumbuh melambat dari semula tumbuh 3,9% (yoy) pada triwulan III 2013 menjadi 3,5% (yoy), dengan nominal sebesar Rp18,9 triliun (Grafik 1.7).
Konsumsi Rumah Tangga; 47,2 Konsumsi Pemerintah; 15,3 Investasi (PMTB); 20,0 Net Ekspor; 15,5 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18
I II III IV I II III IV I II III IV
2011 2012 2013
Pertumbuhan PDRB Pertumbuhan Konsumsi RT Pertumbuhan Investasi (PMTB) Pertumbuhan Konsumsi Pemerintah
5
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.5 Perkembangan Inflasi dan Pertumbuhan Konsumsi Berdasarkan
Kelompok Barang
Grafik 1.6 Perkembangan Kredit Konsumsi
Secara keseluruhan tahun, tingginya konsumsi rumah tangga di awal tahun mampu menjaga konsumsi rumah tangga tumbuh stabil. Terlepas dari lemahnya
konsumsi rumah tangga di semester II 2013, konsumsi rumah tangga masih mampu tumbuh 4,7% (yoy) di tahun 2013, sedikit meningkat dari tahun lalu sebesar 4,6% (yoy). Laju inflasi yang belum mencapai puncaknya di awal tahun memberi kondisi yang kondusif bagi rumah tangga untuk melakukan konsumsi dalam jumlah besar di semester I 2013.
Tabel 1.2 Indeks Tendensi Konsumen di Sumatera Barat Menurut Variabel Pembentuknya
Sumber: Badan Pusat Statistik
1.1.2 Konsumsi Pemerintah
Konsumsi pemerintah mencatat peningkatan yang signifikan. Pertumbuhan
konsumsi pemerintah pada triwulan IV 2013 mencapai 11,8% (yoy), jauh di atas triwulan sebelumnya sebesar 3,9% (yoy) (Grafik 1.4). Sesuai dengan pola historisnya, realisasi belanja pemerintah daerah menumpuk di akhir tahun. Kondisi ini terlihat dari realisasi belanja pegawai, barang dan jasa pemerintah yang langsung mencapai 93,4% dari total APBD pada akhir tahun dari realisasi di akhir triwulan III 2013 yang baru sebesar 55,1% dari total APBD (Grafik 1.8). Indikator lainnya terlihat dari menurunnya jumlah simpanan milik pemerintah di bank umum secara signifikan dari Rp4,6 triliun di akhir triwulan III 2013 menjadi Rp1,9 triliun di akhir tahun (Grafik 1.9). Meningkatnya
-4 -2 0 2 4 6 8 10 12
I II III IV I II III IV I II III IV
2010 2011 2012
%, yoy
Konsumsi Makanan Konsumsi Non Makanan Inflasi
(10) (5) -5 10 15 20 25 30 -2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2012 2013 Trilliun Rp
Nominal Kredit Pertumbuhan Kredit
%,yoy
I II III IV I II III IV
Pendapatan Rumah Tangga 103,5 111,6 116,6 100,5 104,5 108,6 112,9 110,8
Pengaruh Inflasi terhadap Tingkat Konsumsi 121,3 109,6 105,3 119,7 109,7 107,5 111,1 108,4
Tingkat Konsumsi Makanan dan Bukan Makanan 96,3 105,9 109,1 98,7 101,8 104,9 117,7 108,2
Indeks Tendensi Konsumen 106,7 109,9 112,0 105,3 105,3 107,5 113,4 109,6
2012 2013
Variabel Pembentuk
I II III IV I II III
Pe ndapatan Rum ah Tangga 103,5 111,6 116,6 100,5 104,5 108,6 112,9 Pe ngaruh Inflasi te rhadap Tingkat
Konsum si 121,3 109,6 105,3 119,7 109,7 107,5 111,1 Tingkat Konsum si Makanan dan
Bukan Makanan 96,3 105,9 109,1 98,7 101,8 104,9 117,7
Inde ks Te nde nsi Konsum e n 106,7 109,9 112,0 105,3 105,3 107,5 113,4
2012
6
konsumsi pemerintah juga dikarenakan adanya penyelenggaraan Pemilukada Kota Padang, kota dengan aktivitas perekonomian terbesar di Sumbar, pada akhir Oktober 2013. Namun secara keseluruhan tahun konsumsi pemerintah masih tumbuh melambat dengan hanya mencapai 6,3% (yoy), turun dari 6,9% (yoy) di tahun 2012. Kondisi ini sejalan dengan belum optimalnya realisasi belanja pemerintah daerah, terlihat dari masih rendahnya penyerapan anggaran belanja terhadap target APBD.
Grafik 1.7 Perkembangan Jumlah Tabungan Milik Perorangan
Sumber: DPKD Prov. Sumbar
Grafik 1.8 Realisasi Pencapaian APBD
1.1.3 Investasi
Kegiatan investasi mengalami perlambatan namun masih di level yang tinggi.
Pertumbuhan investasi pada triwulan IV 2013 tumbuh sebesar 8,4% (yoy), lebih rendah dari triwulan lalu sebesar 9,6% (yoy). Meningkatnya belanja modal pemerintah daerah tidak mampu diimbangi oleh aktivitas investasi swasta. Berdasarkan realisasi APBD, belanja modal pemerintah daerah selama triwulan IV 2013 mencapai Rp0,68 triliun, meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar Rp0,36 triliun. Sayangnya peningkatan tersebut tidak diikuti oleh sektor swasta, yang terlihat dari minimnya investasi baru skala besar yang masuk ke Provinsi Sumbar. Hal ini terlihat pada pertumbuhan tahunan realisasi investasi melalui kegiatan penanaman modal dalam negeri dan luar negeri (PMA dan PMDN) Sumbar yang terus menurun (Grafik 1.10).
0 5 10 15 20 25 30 35 40 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
Triliun Rp Posisi Tabungan Perorangan (sisi kiri)
Pertumbuhan (yoy) (sisi kanan)
Persen 100,15 98,92 93,23 93,42 0 20 40 60 80 100 120 I II III IV I II III IV 2012 2013
Pendapatan Daerah Belanja Daerah
7 Grafik 1.9 Simpanan Pemerintah Daerah di
Bank Umum Sumbar
Sumber: Laporan Kegiatan Penanaman Modal
Grafik 1.10 Pertumbuhan Realisasi Penanaman Modal
Perlambatan pertumbuhan investasi juga terlihat dari perlambatan penyaluran kredit investasi. Total kredit investasi yang tersalurkan untuk keperluan
investasi pada triwulan IV 2013 sebesar Rp7,1 triliun, atau melambat dari 13,5% (yoy) menjadi 8,7% (yoy) (Grafik 1.11). Melambatnya pertumbuhan kredit investasi disebabkan oleh minimnya penambahan investasi swasta dalam bentuk fisik. Berdasarkan hasil liasion Bank Indonesia, terdapat informasi bahwa sebagian besar investasi dilakukan hanya untuk keperluan perawatan dan penggantian dari komponen mesin yang sudah ada. Secara keseluruhan tahun, investasi masih tumbuh meningkat dari 7,2% (yoy) di tahun 2012 menjadi 7,5% (yoy).
Grafik 1.11 Kredit Investasi Bank Umum dan BPR Lokasi Proyek di Sumbar
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.12 Pertumbuhan PDRB Sumbar Sisi Permintaan Eksternal (yoy)
1.1.4 Ekspor
Kinerja ekspor mencatat kemajuan yang pesat. Pada triwulan IV 2013 ekspor
mencatat kenaikan sginifikan dari semula -6,5% (yoy) menjadi 40,8% (yoy) (Grafik 1.12). Masa panen kelapa sawit, tren penguatan harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan meningkatnya permintaan luar negeri menjadi faktor utama meningkatnya pertumbuhan ekspor di akhir tahun 2013. Produksi hasil olahan kelapa sawit
-15 -10 -5 0 5 10 15 20 25 30 35 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2012 2013 Triliun
Nominal Rekening (Sisi Kiri) Pertumbuhan Simpanan (Sisi Kanan) %, yoy
-100 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500
I-13 II-13 III-13 IV-13
Nilai Investasi Pertumbuhan Realisasi Investasi
%, yoy Miliar Rp 5 10 15 20 25 30 35 40 45 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2012 2013 Trilliun Rp
Nominal Kredit (Sisi Kiri) Pertumbuhan Kredit (Sisi Kanan)
%,yoy -30 -10 10 30 50 70
I II III IV I II III IV I II III IV 2011 2012 2013
Net Ekspor (Impor) Ekspor Impor
8
meningkat seiring dengan puncak panen kelapa sawit di akhir tahun. Kondisi tersebut didukung oleh harga minyak kelapa sawit mentah mengalami kenaikan sebesar 8,5% dari triwulan III 2013 yang rata-rata mencapai USD723 per metrik ton menjadi USD785 per metrik ton (Grafik 1.13). Sementara itu permintaan internasional yang meningkat terkonfirmasi dari dominannya aliran ekspor ke negara mitra dagang utama. Berdasarkan komponen pembentuk ekspor dalam PDRB, kegiatan ekspor luar negeri mampu tumbuh mencapai 52,3% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh negatif 10,4% (yoy) (Grafik 1.14). Ekspor antar daerah juga meningkat namun tidak sebesar ekspor luar negeri sebesar 17,6% (yoy), naik dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,4% (yoy).
Sumber: Bloomberg
Grafik 1.13 Perkembangan Harga CPO
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.14 Pertumbuhan Ekspor Luar Negeri dan Antar Daerah dalam PDRB Sumbar
Ekspor nonmigas mengalami kenaikan, baik dari sisi volume maupun nilai.
Volume ekspor nonmigas selama triwulan IV 2013 mencatat peningkatan sebesar 75,0, %(yoy)menjadi 989 ribu ton (Grafik 1.15). Kenaikan tersebut mendukung peningkatan nilai ekspor nonmigas yang mencapai US$558 juta, atau meningkat 30,3% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Membaiknya volume dan nilai ekspor nonmigas bersumber dari komoditas CPO (Grafik 1.16) sejalan dengan tren penguatan harga komoditas CPO akibat meningkatnya permintaan, terutama dari Cina dan Amerika (Grafik 1.17) seiring maraknya penggunaan energi terbarukan biodiesel dan berkurangnya persediaan minyak kedelai dunia, yang merupakan substitusi dari CPO. Secara keseluruhan tahun, ekspor tumbuh melambat dari 3,1% (yoy) di tahun 2012 menjadi 1,6% (yoy). Menurunnya harga komoditas CPO sebagai ekspor utama Sumbar menjadi penyebab utama perlambatan ini.
200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 100 200 300 400 500 600 700 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 9101112 2010 2011 2012 2013 USD/metric ton USD/kg
Karet (Sisi Kiri) CPO (Sisi Kanan)
-30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 60
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2010 2011 2012 2013
Ekspor Luar Negeri Ekspor Antar Daerah
9 Grafik 1.15 Nilai dan Volume Ekspor
Non-Migas
Grafik 1.16 Nilai dan Volume Ekspor Crude
Palm Oil (CPO)
1.1.5 Impor
Kegiatan impor masih tumbuh meningkat secara terbatas. Di tengah depresiasi
nilai tukar Rupiah dan melemahnya daya beli masyarakat, impor masih dapat tumbuh sebesar 5,1% (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar 3,2% (yoy). Faktor pendorong peningkatan pertumbuhan ini seiring dengan maraknya perdagangan antar daerah terutama setelah adanya pembangunan Jembatan Kelok Sembilan pada akhir Oktober yang menghubungkan Sumatera Barat dengan Riau. Berdasarkan pembentukan impor dalam PDRB, kegiatan impor antar daerah menunjukkan pertumbuhan relatif stabil dengan triwulan sebelumnya sebesar 0,1% (yoy) (Grafik 1.18). Sementara itu, impor luar negeri masih meningkat mencapai 7,9% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,1% (yoy) meski harga impor meningkat akibat depresiasi rupiah.
Grafik 1.17 Nilai Ekspor Non-Migas Sumbar Menurut Negara Tujuan
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.18 Pertumbuhan Impor Luar Negeri dan Impor Antar Daerah dalam PDRB Sumbar
Volume impor nonmigas meningkat untuk kebutuhan bahan baku. Volume
impor nonmigas selama triwulan IV 2013 mencatat peningkatan sebesar 65,7%(yoy) 0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 8,0 0,0 0,1 0,1 0,2 0,2 0,3 0,3 0,4 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 2011 2012 2013 Juta Ton Miliar USD
Nilai Ekspor Non-Migas (Sisi Kiri) Volume Ekspor Non-Migas (Sisi Kanan)
0 50 100 150 200 250 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2011 2012 2013 Juta Ton Juta USD
Nilai Ekspor CPO (Sisi Kiri) Volume Ekspor CPO (Sisi Kanan)
0 20 40 60 80 100 120 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2011 2012 2013 Juta USD
AMERICA ASEAN INDIA CINA EUROPE
-50 -40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2010 2011 2012 2013
Impor Antar Daerah ImporLuar Negeri
10
menjadi 133,5 ribu ton (Grafik 1.19). Kenaikan tersebut didorong oleh kenaikan volume impor untuk keperluan industri, baik bahan baku mentah maupun barang setengah jadi dari negara tetangga (Grafik 1.20 dan 1.21) dalam rangka perawatan dan penggantian mesin industri yang sudah ada. Secara keseluruhan tahun, impor tumbuh melambat dari 7,3% (yoy) di tahun 2012 menjadi 4,7% (yoy). Meningkatnya biaya barang impor akibat depresiasi nilai tukar Rupiah yang berlangsung selama tahun 2013 menghambat aktivitas impor.
Grafik 1.19 Perkembangan Nilai dan Volume Impor Non-Migas
Grafik 1.20 Volume Impor Bahan Baku Industri
Meningkatnya kinerja ekspor secara signifikan di tengah stabilnya aktivitas impor menyebabkan net ekspor (ekspor dikurangi impor) Sumbar mencatat
perbaikan. Pertumbuhan net ekspor Sumbar pada triwulan IV 2013 meningkat sebesar
17,5% (yoy), membaik signifikan dari triwulan sebelumnya yang mencatat -2,5% (yoy). Meningkatnya produksi komoditas ekspor utama yaitu CPO dan mulai membaiknya permintaan dunia berdampak positif pada ekonomi Sumbar.
Grafik 1.21 Volume Impor Non-Migas Sumbar
Menurut Negara Asal Utama Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik 1.22 Kontribusi PDRB Menurut Sektor Ekonomi 0 20 40 60 80 100 120 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2012 2013 Juta USD
Impor BEC Sumbar
-20 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2012 2013 Juta USD
Industrial Supplies Not Elswhere Specified (Primary) Industrial Supplies Not Elswhere Specified (Processed)
-20 0 20 40 60 80 100 120 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2011 2012 2013 Ribu Ton
Asia Asean Amerika
Pertanian 21,9% Industri Pengolahan 11,7% Konstruksi 5,8% PHR 18,4% Angkutan dan Komunikasi 15,9%
11
1.2 Perkembangan Sisi Penawaran
Tabel 1.3 Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat Sisi Penawaran (yoy)
Sumber: Badan Pusat Statistik
1.2.1 Sektor Pertanian
Meningkatnya panen beras dan kelapa sawit yang disertai perbaikan harga
crude palm oil (CPO) mendorong pertumbuhan sektor pertanian. Sektor pertanian pada triwulan IV 2013 tumbuh 7,9% (yoy), meningkat signifikan dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,9% (yoy) dan merupakan level pertumbuhan tertinggi selama tahun 2013 (Tabel 1.2). Kondisi ini mendorong perekonomian Sumbar secara keseluruhan sejalan dengan besarnya kontribusi sektor pertanian dalam PDRB yang mencapai 21,9% (Grafik 1.22). Peningkatan pertumbuhan terutama terjadi pada subsektor tanaman bahan makanan dan subsektor tanaman perkebunan (Grafik 1.23). Panen besar tanaman padi di bulan Oktober berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan subsektor tanaman bahan makanan dari semula tumbuh 3,6% (yoy) menjadi 9,3% (yoy). Bersamaan dengan itu, sebagian besar perkebunan kelapa sawit juga mengalami masa panen sehingga pertumbuhan subsektor tanaman perkebunan meningkat signifikan dari 3,4% (yoy) menjadi 10,6% (yoy). Intensitas hujan yang masih kondusif di awal triwulan IV-2013 memberikan kondisi lingkungan yang mendukung bagi sektor pertanian (Grafik 1.24). Selain itu, harga komoditas CPO yang mulai bergerak naik memberikan insentif positif bagi pelaku usaha untuk menambah kapasitas produksinya.
I II III IV I II III IV I II III IV
Pertanian 4,5 2,9 5,1 2,9 3,8 4,5 6,5 2,3 5,0 4,6 2,9 -0,4 3,9 7,9 3,6 Pertambangan & Penggalian 4,8 3,9 3,5 2,8 3,7 3,5 5,1 4,2 3,7 4,2 -0,1 2,6 0,5 5,7 2,2 Industri Pengolahan 7,4 6,2 3,6 1,7 4,7 0,7 3,5 5,2 6,7 4,0 8,6 5,7 4,1 1,3 4,9 Listrik,Gas & Air Bersih 6,3 5,2 2,9 1,3 3,9 1,5 4,2 6,8 7,1 4,9 5,3 5,2 0,8 5,7 4,2 Bangunan 15,6 10,4 6,3 4,5 9,0 3,3 7,6 10,0 11,2 8,1 8,6 8,6 8,5 8,0 8,4 Perdagangan, Hotel & Restoran 11,9 8,2 4,5 3,8 6,9 5,0 7,8 9,2 9,0 7,8 9,3 7,6 6,4 7,0 7,5 Pengangkutan & Komunikasi 9,7 9,7 9,0 6,8 8,7 8,0 8,3 8,7 8,3 8,3 7,1 8,8 7,5 9,6 8,2 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 5,6 4,8 3,9 4,2 4,6 3,9 5,5 7,2 7,2 6,0 6,9 6,9 5,5 6,1 6,3 Jasa - jasa 8,4 8,5 8,2 7,6 8,2 6,1 6,9 7,8 8,2 7,3 8,4 7,3 6,5 6,8 7,2
PDRB 8,2 6,7 5,8 4,4 6,3 4,8 6,6 6,6 7,4 6,4 6,8 5,5 5,6 6,8 6,2
2013
2013
12
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.23 Kontribusi PDRB Menurut Sektor Ekonomi Pertumbuhan Sektor Pertanian (yoy)
Sumber: BMKG
Grafik 1.24 Perkiraan Hujan Oktober 2013
Kenaikan volume produksi perkebunan di tengah membaiknya harga komoditas kelapa sawit dan produksi tanaman pangan berdampak positif pada tingkat pendapatan petani. Masa panen kelapa sawit di tengah meningkatnya
permintaan akan CPO memberikan keuntungan yang signifikan bagi para petani kelapa sawit. Dengan kondisi tersebut, Indeks Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat (NTPR) pada akhir tahun berada pada posisi 139,7, meningkat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada pada level 131,1 (Grafik 1.26). Sementara itu, Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPTP) juga meningkatdari 91,7 di triwulan III 2013 menjadi 93,1 di triwulan laporan. Membaiknya harga jual Gabah Kering Panen (GKP), dari Rp4.115 per kg pada triwulan sebelumnya menjadi Rp4.513 per kg juga meningkatkan indeks pendapatan yang diterima oleh petani tanaman pangan (Grafik 1.25). Secara keseluruhan, Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan IV2013 meningkat dari semula sebesar 103,2 pada triwulan sebelumnya menjadi 104,9. Secara keseluruhan tahun, sektor pertanian tumbuh melambat dari 4,6% (yoy) di tahun 2012 menjadi 3,6% (yoy). Faktor cuaca yang kurang kondusif disertai dengan menurunnya harga komoditas tanaman ekspor berdampak pada menurunnya sektor pertanian.
-5 -3 -1 1 3 5 7 9 11 13
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2010 2011 2012 2013
Sektor Pertanian Tanaman Bahan Makanan Tanaman Perkebunan Perikanan
13
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.25 Rata-Rata Harga Gabah Kualitas Gabah Kering Panen (GKP)
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.26 Perkembangan Nilai Tukar Petani
1.2.2 Sektor Industri Pengolahan
Melemahnya konsumsi rumah tangga akibat laju inflasi berdampak pada
terus menurunnya pertumbuhan sektor industri secara umum. Sektor industri
pengolahan melanjutkan pelemahan dengan angka pertumbuhan sebesar 1,3% (yoy) dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,1% (yoy). Menurunnya pertumbuhan industri pengolahan terjadi sejak awal tahun sejalan dengan menurunnya konsumsi rumah tangga akibat laju inflasi Sumbar yang semakin meningkat sampai akhir tahun 2013. Melemahnya konsumsi rumah tangga berdampak tidak terserapnya hasil produksi industri di pasar domestik, khususnya subsektor industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki yang menurun, dari 5,5% (yoy) menjadi -1,9% (yoy) (Grafik 1.27). Penurunan ini berdampak signifikan terhadap pertumbuhan sektor industri pengolahan secara umum mengingat porsi subsektor ini mencapai 37,9%. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan sektor industri pengolahan meningkat dari 4,0% (yoy) di tahun 2012 menjadi 4,9% (yoy). Masih tingginya permintaan domestik di awal tahun ketika daya beli masih stabil mampu menopang industri pengolahan.
-10 0 10 20 30 40 50 2000,0 2500,0 3000,0 3500,0 4000,0 4500,0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 2011 2012 2013 %, yoy Rp/kg Rata-rata Harga Gabah GKP (sisi kiri) Peningkatan (sisi kanan)
85 95 105 115 125 135 145 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 2011 2012 2013
14
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.27 Pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan (yoy)
Sumber: Asosiasi Semen Indonesia
Grafik 1.28 Volume Pembelian Semen
Kontributor utama sektor industri pengolahan lainnya, yaitu subsektor industri makanan, minuman, dan tembakau serta subsektor industri semen & barang galian bukan logam masih mampu tumbuh meningkat. Subsektor
industri makanan, minuman, dan tembakau meningkat tipis dari 0,9% (yoy) menjadi 1,8% (yoy) terbantu oleh menguatnya permintaan eksternal akan produk olahan kelapa sawit. Sementara itu, subsektor industri semen & barang galian bukan logam tumbuh meningkat dari 4,9% (yoy) menjadi 9,8% (yoy). Relatif stabilnya pertumbuhan sektor konstruksi pada kisaran 8,0% (yoy) meningkatkan permintaan semen. Jumlah konsumsi semen selama triwulan IV 2013 mencapai 286 ribu ton, meningkat dari triwulan lalu sebesar 224 ribu ton (Grafik 1.28).
1.2.3 Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR)
Pembangunan infrastruktur mampu menopang peningkatan pertumbuhan
subsektor perdagangan, hotel, dan restoran.Dibandingkan triwulan sebelumnya,
pertumbuhan sektor PHR mengalami peningkatan dari 6,4% (yoy) menjadi 7,0% (yoy). Dampak negatif dari melemahnya konsumsi rumah tangga mampu tertahan oleh meningkatnya kegiatan perdagangan antar daerah, baik ekspor maupun impor antar daerah. Mulai beroperasinya Jembatan Kelok Sembilan pada awal November 2013 berdampak positif terhadap peningkatan intensitas perdagangan antar Provinsi Sumbar dengan Provinsi Riau. Akan tetapi, peningkatan intensitas perdagangan antar daerah melalui transportasi darat, tidak diikuti oleh perdagangan melalui transportasi laut. Indikasi ini terlihat dari menurunnya jumlah bongkar muat barang di Pelabuhan Teluk Bayur.Jumlah muatan antar daerah melalui Pelabuhan Teluk Bayur mencatatkan pertumbuhan negatif sebesar 4,5% (yoy), dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,9% (yoy). -10 -5 0 5 10 15 20 25
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2010 2011 2012 2013
Pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan
Pertumbuhan Subsektor Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Pertumbuhan Subsektor Industri Tekstil, Brg. Kulit & Alas kaki Pertumbuhan Subsektor Industri Semen & Brg. Galian bukan logam
%, yoy -20 -10 0 10 20 30 40 50 0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 350.000
I II III IV I II III IV I II III IV
2011 2012 2013
15
Semakin atraktifnya Sumbar sebagai daerah tujuan wisata turut berkontribusi positif terhadap pertumbuhan sektor PHR. Jumlah wisatawan mancanegara
(wisman) yang berkunjung ke Sumbar semakin meningkat. Total wisman selama triwulan IV mencapai 15.974 orang, atau terjadi peningkatan 46,3% (yoy) dibandingkan posisi triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 24,0% (yoy) (Grafik 1.30). Diselenggarakannya beberapa kegiatan internasional dan juga tersedianya rute penerbangan dari luar negeri langsung ke Sumbar menunjang semakin terbukanya akses kunjungan wisata dari mancanegara. Selain itu, adanya penyelenggaraan kegiatan promosi melalui Tourism Indonesia Mart and Expo (TIME) di bulan Oktober 2013 memberikan kontribusi positif dalam upaya menarik wisatawan mancanegara berkunjung ke Sumbar. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan sektor PHR sedikit melemah dari 7,8% (yoy) di tahun 2012 menjadi 7,5% (yoy). Menurunnya daya beli masyarakat berdampak pada berkurangnya aktivitas perdagangan.
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.29 Tingkat Hunian Hotel Berbintang
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.30 Jumlah Wisman Melalui Bandara Internasional Minangkabau dan Pelabuhan
Teluk Bayur
Meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Sumbar berkorelasi positif terhadap peningkatan subsektor restoran. Pada triwulan IV
2013, pertumbuhan subsektor restoran meningkat dari semula 9,4% (yoy) menjadi 10,5% (yoy). Akan tetapi, kondisi serupa tidak terjadi pada subsektor hotel. Subsektor hotel tumbuh melambat, dari 10,5% (yoy) pada triwulan III 2013 menjadi 7,3% (yoy). Perlambatan ini terjadi karena minimnya ketersediaan prasarana hotel di lokasi-lokasi eksotis tujuan utama turis asing, seperti Kepulauan Mentawai. Akibatnya, rata-rata tingkat hunian hotel berbintang di Sumbar turun, dari 50,9% pada triwulan sebelumnya menjadi 46,4% (Grafik 1.29). Di sisi lain, tingkat hunian akomodasi lainnya meningkat dari 35,5% pada triwulan III 2013 menjadi 43,8%.
0 10 20 30 40 50 60
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2009 2010 2011 2012 2013 Persen -60 -40 -20 0 20 40 60 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2010 2011 2012 2013
Jumlah Wisman (sisi kiri) Pertumbuhan (yoy) (sisi kanan)
16
1.2.4 Sektor Angkutan dan Komunikasi
Momentum puncak liburan akhir tahun mendorong pertumbuhan sektor
pengangkutan dan komunikasi. Pertumbuhan sektor pengangkutan dan
komunikasi pada triwulan IV 2013 tumbuh 9,6% (yoy), menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,5% (yoy) (Grafik 1.31). Peningkatan tertinggi terjadi pada subsektor angkutan udara yang tumbuh dari 2,2% (yoy) menjadi 14,8% (yoy) akibat meningkatnya jumlah penumpang yang menggunakan jasa penerbangan terutama pada bulan Desember (Grafik 1.32). Bahkan tingginya tingkat keterisian penumpang (load factor) berdampak pada meningkatnya harga tarif angkutan udara pada bulan Desember yang mencapai 12,98%(mtm) dan menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi terbesar pada bulan itu. Kenaikan jumlah penumpang juga berasal dari adanya tambahan rute baru yaitu Padang-Bandung (pp) mulai November 2013 serta tambahan frekuensi penerbangan untuk rute Padang-Medan (pp) sebanyak satu kali menjadi dua kali sehari yang dimulai sejak Juni 2013 dan rute Padang-Batam (pp) sebanyak dua kali menjadi tiga kali sehari mulai Januari 2013. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan sektor angkutan dan komunikasi sedikit melemah dari 8,3% (yoy) di tahun 2012 menjadi 8,2% (yoy).
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 1.31 Pertumbuhan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi
Sumber; PT Angkasa Pura
Grafik 1.32 Jumlah Penumpang Bandara International Minangkabau 0 2 4 6 8 10 12 14 16
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2010 2011 2012 2013
Pertumbuhan sektor pengangkutan dan Komunikasi Pertumbuhan subsektor pengangkutan Pertumbuhan subsektor komunikasi
Persen -40 -20 0 20 40 60 80 100 120 140 160 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
Ribu Orang
total penumpang pertumbuhan penumpang
17
2
BAB II
INFLASI DAERAH
Inflasi Sumatera Barat bertahan pada level yang tinggi mencapai 10,87% (yoy) di akhir tahun 2013. Pada triwulan laporan, tekanan inflasi Sumbar, walaupun
melemah, tetap persisten di triwulan IV bersumber dari meningkatnya harga bahan makanan. Dengan kondisi tersebut inflasi volatile food mendominasi pergerakan indeks harga pada triwulan IV 2013. Sementara itu tekanan inflasi administered prices mulai mereda paska kenaikan harga BBM bersubsidi.
Secara keseluruhan tahun, meningkatnya inflasi Sumbar bersumber dari tingginya inflasi kelompok administered prices dan volatile foods.
Permasalahan kebijakan impor dan pasokan pangan berdampak pada inflasi tahunan kelompok bahan makanan yang sangat tinggi. Kondisi tersebut diperburuk dengan kenaikan harga BBM bersubsidi yang mendorong inflasi kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan meningkat signifikan. Persistennya kenaikan harga bahan makanan membuat laju inflasi Sumbar lebih tinggi dibandingkan inflasi wilayah sekitar dan nasional.
2.1 Perkembangan Inflasi Provinsi Sumatera Barat
Inflasi tahunan Sumatera Barat bertahan pada level yang tinggi di akhir tahun 2013. Inflasi Sumbar pada bulan Desember 2013 tetap berada pada level dua digit
mencapai 10,87% (yoy), atau berada di atas inflasi selama empat tahun terakhir1 dengan rata-rata inflasi sebesar 4,86% (yoy) (Grafik 2.1). Kondisi ini sejalan dengan persistennya tekanan inflasi terlihat dari inflasi tahun kalender yang terus meningkat sepanjang tahun (Grafik 2.2)
1 Tahun 2009-2012
18
Grafik 2.1 Inflasi Tahunan Sumbar Grafik 2.2 Inflasi Tahun Kalender Sumbar
Tekanan inflasi Sumbar, walaupun melemah, tetap persisten di triwulan IV bersumber dari meningkatnya harga bahan makanan. Kondisi ini terutama
disebabkan oleh adanya gangguan pasokan pada subkelompok bumbu-bumbuan dan padi-padian. Pada triwulan laporan, inflasi kelompok bahan makanan mengalami kenaikan yang signifikan mencapai 3,68% dari triwulan sebelumnya sebesar 1,17% (qtq). Komoditas utama yang mendorong kenaikan inflasi tersebut adalah cabe merah dan beras.
Secara keseluruhan tahun, tingginya laju inflasi Sumbar bersumber dari meningkatnya inflasi kelompok bahan makanan dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan secara signifikan. Inflasi kelompok bahan
makanan tercatat mencapai 16,21% (yoy), jauh di atas laju inflasi tahun 2012 sebesar 0,27% (yoy) (Tabel 2.1). Demikian pula kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yang mengalami kenaikan harga sebesar 19,00% (yoy), naik signifikan dari inflasi tahun lalu sebesar 4,13% (yoy). Kenaikan harga pada kedua kelompok tersebut memberi dampak yang signifikan terhadap inflasi umum dengan andil inflasi masing-masing sebesar 4,78% dan 3,07% (yoy).
19 Tabel 2.1 Perkembangan Inflasi Tahunan
Sumbar Menurut Kel. Barang dan Jasa
Tabel 2.2 Perkembangan Inflasi Tahunan Kota-Kota di Sumatera
2.2 Perkembangan Inflasi Nasional, Provinsi Sumatera Barat dan Wilayah Sekitar
Secara triwulanan, laju inflasi Sumbar lebih tinggi dibandingkan inflasi wilayah sekitar dan nasional. Inflasi triwulanan Sumbar mencapai 1,78% (qtq), yang
merupakan laju inflasi tertinggi di wilayah Sumbagteng. Pergerakan harga tersebut juga lebih tinggi dari inflasi kawasan Sumatera dan nasional yang masing-masing sebesar 1,69% dan 0,75% (qtq). Terus meningkatnya harga bahan makanan utama menjadi faktor utama tingginya laju inflasi Sumbar di triwulan IV.
Grafik 2.3 Inflasi Tahunan Sumbar dan
Nasional Grafik 2.4 Inflasi Tahunan Sumbar dan Wilayah Sekitar
Secara keseluruhan tahun, laju inflasi Sumbar juga lebih tinggi dibandingkan inflasi wilayah sekitar dan nasional. Inflasi tahunan Sumbar, yang mencapai
10,87% (yoy), jauh diatas perkembangan harga kawasan Sumatera dan nasional yang hanya mengalami inflasi tahunan masing-masing sebesar 8,91% (yoy) dan 8,38% (yoy).
2012 2013 Pematang Siantar 0,56 4,73 12,02 Padang 1,69 4,16 10,87 Medan 4,67 3,79 10,09 Tanjung Pinang 0,45 3,92 10,08 Sibolga 0,21 3,30 10,08 Bengkulu 0,59 4,61 9,94 Pekanbaru 1,70 2,69 8,83 Jambi 0,98 4,22 8,74 Pangkal Pinang 0,34 6,57 8,71 Dumai 0,37 3,21 8,60 Lhokseumawe 0,28 0,39 8,27 Padang Sidempuan 0,26 3,54 7,83 Batam 2,02 2,02 7,81 Bandar Lampung 1,91 4,30 7,56 Palembang 2,96 2,72 7,04 Banda Aceh 0,31 0,05 5,78 Sumatera 19,30 3,45 8,91 Inflasi (% ,yoy) Kota Bobot Inflasi Kota 0 2 4 6 8 10 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 2011 2012 2013
Inflasi Sumbar Inflasi Nasional
Sumber: BPS, diolah %, yoy 0 2 4 6 8 10 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 2011 2012 2013 Sumbar Riau Kepulauan Riau Jambi Sumbagteng Sumatera
Sumber: BPS, diolah %, yoy
20
Sejak awal tahun 2013, inflasi tahunan Sumbar selalu di atas inflasi provinsi-provinsi di Sumbagteng, kawasan Sumatera dan nasional (Grafik 2.3 dan 2.4). Bahkan koreksi harga pada kelompok volatile foods di level nasional sejak September tidak terjadi di Sumbar. Secara keseluruhan, dari 16 kota IHK di Sumatera, Sumbar2 menjadi kota ke-2 dengan inflasi tahun 2013 tertinggi setelah Kota Pematang Siantar (Tabel 2.2).
Tabel 2.3 Daftar Komoditas dengan Inflasi Tahunan Tertinggi di Sumbar
2.3 Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang dan Jasa
2.3.1 Inflasi Tahunan Berdasarkan Kelompok Barang dan Jasa
Permasalahan kebijakan impor dan pasokan pangan berdampak pada inflasi tahunan kelompok bahan makanan yang sangat tinggi. Naiknya inflasi kelompok
bahan makanan terutama berasal dari subkelompok bumbu-bumbuan dengan komoditas utama penyumbang inflasi adalah cabe merah dan bawang merah. Indeks harga kedua komoditas tersebut mengalami kenaikan masing-masing sebesar 91,64% dan 101,97% (yoy) (Tabel 2.3) dibandingkan tahun lalu dan memberikan andil inflasi tahunan sebesar 1,25% dan 0,77% (yoy) (Tabel 2.4). Kebijakan Pemerintah dalam pengaturan impor produk hortikultura di awal tahun, di tengah terbatasnya pasokan akibat gangguan cuaca dan minimalnya produksi dalam negeri, mendorong gejolak harga aneka bumbu mulai bulan Februari sampai dengan bulan Mei. Walaupun
2 Menggunakan sampel Kota Padang.
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des
Umum/Total 4,96 6,60 6,49 6,60 7,74 7,93 10,75 10,57 10,03 10,00 11,13 10,87 1 PETAI (27,27) (27,27) (27,27) (31,42) (39,99) (14,99) 46,72 32,54 42,53 42,53 62,19 106,92 2 BAWANG MERAH 17,75 31,49 101,63 100,05 82,19 67,12 156,20 193,10 125,40 129,27 101,30 101,97 3 CABE MERAH (6,63) 81,09 45,25 52,89 118,85 24,26 41,25 51,49 54,78 83,82 143,12 91,64 4 JENGKOL 5,41 37,18 25,52 1,84 25,78 51,11 59,35 84,50 49,07 61,14 64,76 71,65 5 CABE HIJAU (39,96) 11,05 28,79 12,73 8,08 6,66 38,17 13,97 37,67 70,05 76,47 67,85 6 BENSIN 0,18 0,12 0,12 (0,02) (0,08) 13,09 43,61 43,41 43,36 43,36 43,33 43,39 7 ANGKUTAN UDARA 68,26 53,88 53,96 50,63 49,59 58,32 67,57 14,83 23,88 24,15 24,15 34,85 8 ANGKUTAN DALAM KOTA 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 10,50 34,61 34,61 34,61 34,61 34,61 34,61 9 TELUR AYAM KAMPUNG (7,82) (10,71) (11,30) (10,44) (7,00) (10,31) (11,03) (1,35) 12,04 28,55 23,21 31,54 10 CABE RAWIT (23,73) 12,83 21,76 9,91 (0,25) 19,82 29,64 22,93 11,51 21,96 23,65 31,32 11 SALAK 3,18 3,18 3,18 3,18 3,17 3,18 3,18 3,18 3,18 20,64 33,33 29,23 12 BUNCIS 9,98 37,97 24,38 27,76 10,61 42,22 73,46 56,79 (30,44) (8,26) 8,59 29,00 13 JERUK 12,98 12,13 12,61 6,56 8,84 7,99 15,48 15,31 25,96 27,04 27,76 28,04 14 TEMPE 9,37 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,28 7,69 23,25 23,25 23,25 23,25 15 SOLAR 0,00 0,00 0,00 0,00 (0,00) 6,67 22,22 22,22 22,22 22,22 22,22 22,22 16 APEL 9,82 14,71 16,73 37,45 32,39 25,45 24,70 22,97 19,90 21,56 23,51 20,97 17 NANAS 11,54 10,60 10,60 6,50 6,50 6,50 3,46 3,46 3,46 24,15 24,15 20,69 18 SAWI PUTIH 4,90 29,99 22,45 50,01 24,56 1,50 3,98 (5,07) (11,42) (2,85) 10,01 19,36 19 KERAPU 11,77 11,77 11,77 11,77 1,17 2,28 2,27 5,11 23,49 28,57 36,36 19,07 20 ASAM 0,00 0,00 0,00 5,53 5,53 9,59 21,62 21,62 18,83 18,83 18,83 18,83 21 SUSU CAIR KEMASAN 7,92 7,92 7,92 7,92 6,91 6,91 6,91 6,91 16,98 26,91 18,72 18,72 22 SUSU UNTUK BALITA 5,46 4,16 3,83 4,37 4,71 5,45 6,30 4,94 8,64 14,95 16,65 18,45 23 TERI 2,30 2,30 20,40 26,44 25,00 29,21 23,60 29,22 40,45 33,43 29,21 17,97 24 KACANG HIJAU (14,57) (13,81) (13,81) (13,05) 11,79 9,83 9,83 (1,72) 8,62 14,29 16,07 17,86 25 KENTANG 1,88 7,17 10,44 7,80 8,41 10,39 21,97 16,76 16,86 20,46 21,01 16,86