• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

Halaman 1 dari 82 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam Undang – Undang Kesehatan No 36/2009 telah diamanatkan bahwa kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat terhadap sarana sanitasi seperti di tempat –tempat umum, dilingkungan pemukiman, perumahan, hotel, sekolah, fasyankes, tempat pengolahan makanan, fasilitas umum dan sarana air minum, baik dalam situasi normal maupun dalam situasi darurat akibat bencana alam.

Peraturan Pemerintah nomor 66 tahun 2015 tentang Kesehatan Lingkungan menjelaskan pengertian kesehatan lingkungan yang adalah upaya pencegahan penyakit dan/atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial.

Sebagai instansi pemerintah Direktorat Penyehatan Lingkungan berkewajiban untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya untuk menyiapkan, menyusun dan menyampaikan laporan kinerja secara tertulis. Laporan kinerja memuat laporan tentang capaian kinerja Direktorat Penyehatan Lingkungan dalam satu tahun anggaran yang dikaitkan dengan proses pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan serta menjelaskan keberhasilan dan kegagalan tingkat kinerja yang dicapainya.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Kesehatan Lingkungan Tahun 2016 disusun berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 64 Th 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan serta mengacu pada PermenPAN dan RB Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, yang merupakan laporan pertanggungjawaban kinerja Direktorat Kesehatan Lingkungan Tahun 2016, sebagaimana telah ditetapkan dalam Rencana Kerja Direktorat Kesehatan Lingkungan (TAPJA) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Tahun 2016.

B. Maksud dan Tujuan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2016 bertujuan untuk memberikan gambaran terhadap pencapaian target kinerja sebagaimana yang telah ditetapkan didalam kontrak kerja selama satu tahun anggaran dan sebagai perwujudan pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya sebagaimana yang telah ditetapkan dalam dokumen perencanaan.

C. Tugas Pokok dan Fungsi

Kelembagaan Direktorat Kesehatan Lingkungan seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 64 Th 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, Bab IV, Bagian Kelima, Pasal 181 mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria serta pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta

(2)

Halaman 2 dari 82 pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang kesehatan lingkungan. Dalam Pasal 182 Direktorat Kesehatan Lingkungan menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang penyehatan air dan sanitasi dasar, penyehatan pangan, dan penyehatan udara, tanah, dan kawasan, serta pengamanan limbah dan radiasi;

2. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang penyehatan air dan sanitasi dasar, penyehatan pangan, dan penyehatan udara, tanah, dan kawasan, serta pengamanan limbah dan radiasi;

3. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penyehatan air dan sanitasi dasar, penyehatan pangan, dan penyehatan udara, tanah, dan kawasan, serta pengamanan limbah dan radiasi;

4. Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang penyehatan air dan sanitasi dasar, penyehatan pangan, dan penyehatan udara, tanah, dan kawasan, serta pengamanan limbah dan radiasi;

5. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang penyehatan air dan sanitasi dasar, penyehatan pangan, dan penyehatan udara, tanah, dan kawasan, serta pengamanan limbah dan radiasi; dan

6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

Dalam Pasal 183 disebutkan bahwa Direktorat Kesehatan Lingkungan terdiri atas : a. Sub Direktorat Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar;

b. Sub Direktorat Penyehatan Pangan;

c. Sub Direktorat Penyehatan Udara, Tanah dan Kawasan; d. Sub Direktorat Pengamanan Limbah dan Radiasi; e. Sub Bagian Tata Usaha;

f. Kelompok Jabatan Fungsional.

D. Sistimatika Penulisan

Sistematika laporan yang dianjurkan adalah sebagai berikut: Bab I Pendahuluan

Bab II Perencanaan dan Perjanjian Kinerja A. Perencanaan Kinerja

B. Rencana Kinerja Tahunan C. Perjanjian Kinerja

Bab III Akuntabilitas Kinerja A. Pengukuran Kinerja

B. Analisis Pencapaian Kinerja C. Sumber Daya

Bab VI Kesimpulan Lampiran:

1. Perjanjian Kinerja

(3)

Halaman 3 dari 82 BAB II

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA A. Perencanaan Kinerja

Arah kebijakan dan strategi Kementerian Kesehatan didasarkan pada arah kebijakan dan strategi nasional sebagaimana tercantum di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019 dan Rencana Strategis (Renstra) Tahun 2015 - 2019, yang merupakan dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pembangunan kesehatan yang akan dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan dalam kurun waktu selama 5 tahun.

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional bidang kesehatan, dan dengan mengacu pada Renstra dan RPJMN sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 maka Direktorat Kesehatan Lingkungan melakukan berbagai macam strategi penerapan sesuai visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan yang sekaligus juga menjadi pedoman dalam penyusunan rencana kinerja yang akan dicapai dan diimplementasikan dalam bentuk kegiatan, indikator kinerja, target sasaran program pada tahun berjalan.

Pada tahun 2015 Direktorat Kesehatan Lingkungan telah membuat rencana tahunan dan target kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2016 dengan 7 indikator, dan pada awal tahun 2016 menetapkan kinerja dan target yang akan dicapai untuk satu tahun anggaran yang akan dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan pada akhir anggaran tahun 2016.

Visi dan Misi

Dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015-2019 tidak ada visi dan misi, namun mengikuti visi dan misi Presiden Republik Indonesia yaitu “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong" Upaya untuk mewujudkan visi tersebut, melalui 7 misi pembangunan :

1. Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.

2. Mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju, berkeseimbangan, dan demokratis. 3. Mewujudkan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkuat jati diri sebagai

negara maritim.

4. Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju, dan sejahtera. 5. Mewujudkan bangsa Indonesia yang berdaya saing.

6. Mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional.

7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan. Sedangkan 9 program prioritasnya yang dikenal dengan Nawa Cita adalah :

(4)

Halaman 4 dari 82 1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.

2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya.

3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya.

5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program Indonesia Pintar wajib belajar 12 tahun bebas pungutan.

6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya. 7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis

ekonomi domestik.

8. Melakukan revolusi karakter bangsa, melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan.

9. Memperteguh Kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia, melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.

Kementerian Kesehatan mempunyai peran dan berkontribusi dalam tercapainya seluruh Nawa Cita terutama dalam meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Dalam RPJMN 2015-2019 sasaran pembangunan kesehatan meliputi :

1. Meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat

2. Meningkatnya pengendalian penyakit menular dan tidak menular 3. Meningkatnya pemerataan dan mutu pelayanan kesehatan

4. Meningkatnya perlindungan finansial, ketersediaan, penyebaran dan mutu obat serta sumber daya kesehatan

Strategi pembangunan kesehatan 2015-2019 meliputi :

1. Akselerasi pemenuhan akses pelayanan kesehatan ibu, anak, remaja dan lanjut usia yang berkualitas.

2. Mempercepat perbaikan gizi masyarakat.

3. Meningkatkan pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan. 4. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan dasar yang berkualitas. 5. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan rujukan yang berkualitas.

6. Meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan dan kualitas farmasi dan alat kesehatan.

(5)

Halaman 5 dari 82 8. Meningkatkan ketersediaan, penyebaran dan mutu Sumber Daya Manusia

Kesehatan.

9. Meningkatkan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.

10. Menguatkan manajemen, penelitian pengembangan dan system informasi.

11. Memantapkan pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Bidang Kesehatan.

12. Mengembangkan dan meningkatkan efektifitas pembiayaan kesehatan. Tujuan Kementerian Kesehatan pada tahun 2015-2019 yaitu :

1. Meningkatnya status kesehatan masyarakat.

2. Meningkatnya daya tanggap dan perlindungan masyarakat terhadap risiko sosial dan finansial bidang kesehatan.

Arah Kebijakan Kementerian Kesehatan mengacu pada 3 hal penting yakni : 1. Penguatan pelayanan kesehatan primer.

2. Penerapan pedekatan keberlanjutan pelayanan. 3. Intervensi berbasis risiko kesehatan.

Sasaran Strategis Kementerian Kesehatan meliputi : 1. Meningkatnya kesehatan masyarakat.

2. Meningkatkan pengendalian penyakit yang meliputi sasaran penyehatan lingkungan di dalamnya.

3. Meningkatkan akses dan mutu fasilitas pelayanan kesehatan.

4. Meningkatkan akses, kemandirian dan mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan. 5. Meningkatkan jumlah, jenis, kualitas dan pemerataan tenaga kesehatan.

6. Meningkatnya sinergitas antar kementerian/ lembaga. 7. Meningkatnya daya guna kemitraan dalam dan luar negeri.

8. Meningkatnya integrasi perencanaan, bimbingan teknis dan pemantauan-evaluasi. 9. Meningkatnya efektivitas penelitian dan pengembangan kesehatan.

10. Meningkatnya tata kelola kepemerintahan yang baik dan bersih. 11. Meningkatnya kompetensi kinerja aparatur Kementerian Kesehatan. 12. Meningkatnya system informasi kesehatan integrasi.

Sasaran Direktorat Kesehatan Lingkungan yaitu meningkatnya penyehatan dan pengawasan kualitas lingkungan. Berikut adalah tabel indikator sasaran dan target kegiatan Direktorat Kesehatan Lingkungan Tahun 2015 – 2019 :

(6)

Halaman 6 dari 82 B. Rencana Kinerja Tahunan

Rencana kinerja tahunan merupakan penetapan kegiatan tahunan dan indikator kinerja berdasarkan program, kebijakan, dan sasaran yang telah ditetapkan dalam Renstra. Berikut adalah tabel Rencana Kinerja Tahunan Direktorat Penyehatan Lingkungan Tahun 2015 adalah sebagai berikut:

No Indikator Tahun (target) Keterangan

2015 2016 2017 2018 2019

1 % Kabupaten/Kota yang memenuhi kualitas kesehatan

lingkungan 20 25 30 35 40

Renstra, RAP, RAK, IKU

2 Jumlah Desa/Kelurahan yang melaksanakan STBM 25000 30000 35000 40000 45000 RPJMN, Renstra, RAP, RAK, IKK

3 % Sarana air minum yang dilakukan pengawasan 30 35 40 45 50 RPJMN, Renstra, RAP, IKK

4

% Tempat- Tempat Umum (TTU) yang memenuhi syarat

kesehatan 50 52 54 56 58

RPJMN, Renstra, RAP, RAK, IKK

5 % RS yang melakukan pengelolaan limbah medis sesuai standar

10 15 21 28 36 Renstra, RAP, RAK, IKK

6 % Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang

memenuhi syarat kesehatan 8 14 20 26 32

Renstra, RAP, RAK, IKK

7 Jumlah Kabupaten/Kota yang menyelenggarakan tatanan

kawasan sehat 346 356 366 376 386

Renstra, RAP, RAK, IKK

Tabel 2.

Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Direktorat Kesehatan Lingkungan Tahun 2016

Tabel 1.

Indikator sasaran dan target kegiatan Direktorat Kesehatan Lingkungan Tahun 2015 - 2019

(7)

Halaman 7 dari 82 C. Perjanjian Kinerja

Perjanjian kinerja Direktorat Kesehatan Lingkungan merupakan dokumen kesepakatan/perjanjian kinerja Direktorat Kesehatan Lingkungan selaku pelaksana program di tingkat Eselon II kepada Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat selaku pelaksana program di tingkat Eselon I untuk mewujudkan target-target kinerja sasaran Ditjen Kesehatan Masyarakat pada akhir tahun 2016. Perjanjian Kinerja ini disusun berdasarkan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015 – 2019 yang setiap tahunnya dioperasionalkan ke dalam Rencana Kinerja Tahunan (RKT). Penetapan Kinerja Direktorat Kesehatan Lingkungan Tahun 2016 disusun dan ditandatangani oleh Dirjen Kesehatan Masyarakat pada awal tahun 2016 setelah turunnya DIPA dan RKA-KL Tahun 2015.

Adapun target-target kinerja sasaran yang akan dicapai Direktorat Kesehatan Lingkungan sebagiamana tertuang dalam dokumen Perjanjian Kinerja Direktorat Kesehatan Lingkungan tahun 2016 :

SASARAN INDIKATOR KINERJA TARGET

Meningkatnya Penyehatan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan

1. % Kabupaten/Kota yang memenuhi

kualitas kesehatan lingkungan 25

2. Jumlah Desa/Kelurahan yang

melaksanakan STBM 30000

3.% Sarana air minum yang dilakukan

pengawasan 35

4.% Tempat- Tempat Umum (TTU) yang

memenuhi syarat kesehatan 52

5.% RS yang melakukan pengelolaan limbah

medis sesuai standar 15

6.% Tempat Pengelolaan Makanan (TPM)

yang memenuhi syarat kesehatan 14 7.Jumlah Kabupaten/Kota yang

(8)

Halaman 8 dari 82 Total pagu anggaran Satker Direktorat Kesehatan Lingkungan pada awal tahun 2016 sebesar Rp 183.493.176.000,-. Kemudian pagu anggaran bertambah dengan masuknya Hibah Terencana Luar Negeri (HLN) PAMSIMAS sebesar Rp 40.782.698.000,- sehingga pagu anggaran menjadi Rp 224.275.874.000,-. Selanjutnya pagu anggaran mengalami efisiensi sebesar Rp 48.994.127.000,- sehingga pagu anggaran menjadi Rp 175.281.747.000,-. Kemudian pagu anggaran mengalami refocusing sebesar Rp 30.643.877.000,- sehingga pagu anggaran menjadi Rp 205.925.624.000,-. Selanjutnya pagu anggaran bertambah dengan masuknya Hibah Langsung Luar Negeri (HLLN) dari Unicef dan WHO sebesar Rp 494.383.000,- sehingga pagu anggaran di akhir tahun 2016 menjadi Rp 206.420.007.000,-.

SASARAN INDIKATOR KINERJA TARGET

Meningkatnya Penyehatan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan

1. % Kabupaten/Kota yang memenuhi

kualitas kesehatan lingkungan 25

2. Jumlah Desa/Kelurahan yang

melaksanakan STBM 30000

3.% Sarana air minum yang dilakukan

pengawasan 35

4.% Tempat- Tempat Umum (TTU) yang

memenuhi syarat kesehatan 52

5.% RS yang melakukan pengelolaan limbah

medis sesuai standar 15

6.% Tempat Pengelolaan Makanan (TPM)

yang memenuhi syarat kesehatan 14 7.Jumlah Kabupaten/Kota yang

menyelenggarakan tatanan kawasan sehat 356 Jumlah Anggaran Kegiatan Penyehatan Lingkungan Rp 183.493.176.000,-

Tabel 3.

(9)

Halaman 9 dari 82 BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

A. Pengukuran Kinerja

Pada Tahun 2016 Direktorat Kesehatan Lingkungan memiliki 7 indikator kinerja sasaran yang meliputi :

1. Persentase Kabupaten/Kota yang memenuhi kualitas kesehatan lingkungan 2. Jumlah Desa/Kelurahan yang melaksanakan STBM

3. Persentase sarana air minum yang dilakukan pengawasan

4. Persentase Tempat- Tempat Umum (TTU) yang memenuhi syarat kesehatan 5. Persentase RS yang melakukan pengelolaan limbah medis sesuai standar

6. Persentase Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang memenuhi syarat kesehatan 7. Jumlah Kabupaten/Kota yang menyelenggarakan tatanan kawasan sehat

Pada Tahun 2016, 7 indikator telah mencapai target dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 4.

(10)

Halaman 10 dari 82

*)

Capaian Kinerja Organisasi Direktorat Penyehatan Lingkungan Th 2016 disusun berdasarkan data pengukuran pencapaian sasaran program selama satu tahun anggaran. Capaian kinerja diperoleh melalui penghitungan persentase angka realisasi terhadap angka target.

Grafik 1

Capaian Kinerja Direktorat Kesehatan Lingkungan Th 2016 0 20 40 60 80 100 120 140 Indikator 3 Indikator 6 Indikator 7 Target Indikator 4 Rata-rata Indikator 2 Indikator 5 Indikator 1 45,77 97,56 98,31 100,00 101,24 101,38 113,09 119,84 133,85 *) dalam persen Target tercapai

(11)

Halaman 11 dari 82

Indikator 1 : Persentase Kabupaten/Kota yang memenuhi kualitas kesehatan lingkungan Indikator 2 : Jumlah Desa/Kelurahan yang melaksanakan STBM

Indikator 3 : Persentase sarana air minum yang dilakukan pengawasan

Indikator 4 : Persentase Tempat- Tempat Umum (TTU) yang memenuhi syarat kesehatan Indikator 5 : Persentase RS yang melakukan pengelolaan limbah medis sesuai standar

Indikator 6 : Persentase Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang memenuhi syarat kesehatan Indikator 7 : Jumlah Kabupaten/Kota yang menyelenggarakan tatanan kawasan sehat

Pada tahun 2016, terdapat 4 indikator yang capaian kinerjanya sudah di atas 100 % dan terdapat 3 indikator yang capaian kinerjanya masih di bawah 100 %. Capaian kinerja paling rendah sebesar 45.77 % yaitu indikator persentase sarana air minum yang dilakukan pengawasan. Sedangkan capaian kinerja paling tinggi sebesar 133.85 % yaitu indikator persentase kab/kota yang memenuhi kualitas kesling. Jadi dari 7 indikator yang ada, hanya 4 indikator yang mencapai target sehingga dapat disimpulkan bahwa capaian kinerja Dit. Kesling Th 2016 berdasarkan jumlah indikator yang dapat tercapai sebesar 57 % dan belum mencapai target kinerja yang adalah 100 %. Tetapi jika berdasarkan rata-rata capaian kinerja, capaian kinerja Dit. Kesling Th 2016 mencapai 101.38 % sehinga dapat disimpulkan telah mencapai target kinerja yang adalah 100 %.

Grafik 2

Capaian Kinerja Direktorat Kesehatan Lingkungan Berdasarkan Jumlah Indikator yang Mencapai Target

Th 2015-2016

Jika berdasarkan jumlah indikator yang mencapai target, pada tahun 2016, capaian kinerja Direktorat Kesling sebesar 57.14 %. Pada tahun 2015, capaian kinerjanya sebesar 100 %. Jadi dapat disimpulkan bahwa trend capaian kinerjanya mengalami penurunan, dimana pada tahun 2015 mencapai target kinerja yang adalah 100 % sedangkan pada tahun 2016 tidak mencapai target. Sedangkan rata-rata capaian

100,00 78,57 100,00 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 2015 2016 2017 2018 2019 TARGET KINERJA

RATA-RATA CAPAIAN KINERJA CAPAIAN KINERJA

(12)

Halaman 12 dari 82 kinerja sendiri dalam 2 tahun sebesar 78.57 % dan juga tidak mencapai target kinerja yang adalah 100 %.

Grafik 3

Capaian Kinerja Direktorat Penyehatan Lingkungan Berdasarkan Rata-rata Capaian Kinerja

Th 2015-2016

Jika berdasarkan rata-rata capaian kinerja, pada tahun 2016, rata-rata capaian kinerja Direktorat Kesling sebesar 101.38 %. Pada tahun 2015, rata-rata capaian kinerjanya sebesar 129.15 %. Jadi dapat disimpulkan bahwa trend rata-rata capaian kinerjanya meskipun mengalami penurunan, tetap mencapai target kinerja yang adalah 100 %. Sedangkan rata-rata capaian kinerja sendiri dalam 2 tahun sebesar 115.27 % dan juga sudah mencapai target kinerja yang adalah 100 %.

B. Analisis Pencapaian Kinerja

Pada tahun 2016, Direktorat Kesehatan Lingkungan memiliki 7 indikator dimana pelaksanaan 6 indikator kinerja kegiatan dalam rangka mewujudkan 1 indikator kinerja utama yaitu Persentase kabupaten/kota yang memenuhi kualitas kesehatan lingkungan. Peningkatan kualitas kesling pada kab/kota tercapai dengan kriteria minimal 4 dari 6 kriteria yang meliputi:

1. Memiliki Desa/kel melaksanakan STBM minimal 20% 2. Menyelenggarakan kab/kota sehat

3. Melakukan pengawasan kualitas air minum minimal 30% 4. TPM memenuhi syarat kesehatan minimal 8 %

5. TTU memenuhi syarat kesehatan minimal 30%

6. RS melaksanakan pengelolaan limbah medis minimal 10%

100,00 129,15 101,38 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 2015 2016 2017 2018 2019 TARGET KINERJA RATA-RATA CAPAIAN KINERJA CAPAIAN KINERJA 115.27

(13)

Halaman 13 dari 82 Bahwa kab/kota terhitung menjadi 1 kab/kota yang memenuhi kualitas kesehatan lingkungan jika memenuhi minimal 4 kriteria dari 6 kriteria seperti di atas. Dasar penetapan kriteria sebanyak 4 dari 6 antara lain berdasarkan analisa data realisasi indikator pada tahun 2013. Didapatkan hasil bahwa jika 5 dan 6 kriteria yang ditetapkan maka hanya bisa 2 kab/kota yang memenuhi kriteria tersebut. Selanjutnya dilakukan analisis kembali untuk mendapatkan jumlah kab/kota yang lebih besar yang dapat memenuhi kriteria yang ditetapkan. Jika ditetapkan 2 kriteria maka 130 kab/kota yang dapat memenuhi kriteria, jika ditetapkan 3 kriteria maka 119 kab/kota yang dapat memenuhi kriteria, jika ditetapkan 4 kriteria maka jumlah kab/kota yang dapat memenuhi kriteria tersebut sebesar 76 kab/kota. Oleh karena itu ditetapkanlah minimal 4 dari 6 kriteria sebagai kriteria indikator kab/kota yang memenuhi kualitas kesling.

Grafik 4

Target dan Realisasi

Indikator Persentase Kabupaten/Kota yang Memenuhi Kualitas Kesehatan Lingkungan

Tahun 2016

Pada Th 2016, target indikator Persentase Kabupaten/Kota yang Memenuhi Kualitas Kesehatan Lingkungan sebesar 25 % (129 kab/ kota dari 514 kab/ kota). Sedangkan realisasi indikator tersebut sebesar 33.46 % (172 kab/ kota). Itu berarti realisasi indikator tersebut sudah mencapai target indikator dengan capaian kinerja sebesar 133.85 %.

Grafik 5

Realisasi 2016 dan Target Jangka Menengah Indikator Persentase Kabupaten/Kota 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00

TARGET INDIKATOR REALISASI INDIKATOR

25,00 33,46

%

Capaian Kinerja 133.85

(14)

Halaman 14 dari 82 yang Memenuhi Kualitas Kesehatan Lingkungan

Tahun 2016

Jika menyandingkan realisasi 2016 dengan terget jangka menengah 2015-2019 maka diketahui bahwa realisasi 2016 sudah melewati target 2016 dan 2017 namun masih di bawah target 2018-2019.

Gambar 1 Peta, Grafik, Tabel

Realisasi Indikator Persentase Kabupaten/Kota

yang Memenuhi Kualitas Kesehatan Lingkungan (IKU) Per Propinsi Tahun 2016 0 5 10 15 20 25 30 35 40 Realisasi 2016 Target 2015 Target 2016 Target 2017 Target 2018 Target 2019 33,46 20 25 30 35 40 *) dalam persen

(15)
(16)

Halaman 16 dari 82 0 0 0 0 6 7 9 12 1216 20 20 20 21 2933 33,46 38 4043 43 50 5054 56 57 5863 67 67 7580 82 89 100100 0 20 40 60 80 100 120 AC EH MAL U KU PAPU A BAR AT PAPU A SU MAT ERA UT ARA LAM PUNG N U SA TE N G G ARA T IMU R SU MAT ERA SE LAT AN SU LAWE SI T EN G G AR A JAWA TIMUR TARG ET KA LIM AN TA N T IMU R MAL U KU UT ARA KA LIM AN TA N B ARAT JAWA TE N G AH SU LAWE SI UT AR A RE ALIS ASI N ASION AL KA LIM AN TA N S ELA TAN KA LIM AN TA N U TA RA KE PU LAUA N RI A U KA LIM AN TA N T EN G AH BE N G K U LU DK I J AKA RT A SU LAWE SI T EN G AH B A LI KE PU LAUA N BA N G KA B ELIT U N G SU LAWE SI SE LAT AN B A N TE N JAWA BA RAT SU LAWE SI BA RAT RIAU N U SA TE N G G ARA B ARAT JAMBI SU MAT ERA BAR AT DI YOG YAK ART A G ORON TALO *) dalam persen

(17)

Halaman 17 dari 82

Pada tahun 2016, dari 514 kab/kota terdapat 172 kab/kota telah memenuhi kualitas kesling. Terdapat 5 propinsi (15 %) yang berada di zona hijau (76-100 % kab/kota di propinsi tersebut memenuhi kualitas kesling) yaitu Gorontalo, DIY, Sumatera Barat, Jambi dan NTB; 8 propinsi (24 %) berada di zona kuning (51-75 % kab/kota di propinsi tersebut memenuhi kualitas kesling) yaitu Riau, Kep. Bangka Belitung, Jawa Barat, Banten, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat; 8 propinsi (24 %) berada di zona oranye (26-50 % kab/kota di propinsi tersebut memenuhi kualitas kesling) yaitu Bengkulu, Kep. Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara; dan terakhir 13 propinsi (37 %) masih berada di zona merah (0-25 % kab/kota di propinsi tersebut memenuhi kualitas kesling). Sumber data diperoleh dari berbagai instrument pelaporan indikator baik secara manual maupun elektronik (online).

1. Untuk indikator yang sudah berbasis elektronik antara E-Monev STBM untuk indikator jumlah desa yang melaksanakan STBM, E-Monev TPM untuk indikator persentase TPM yang memenuhi syarat, E-Monev Limbah Fasyankes untuk indikator persentase RS yang melaksanakan pengelolaan limbah medis sesuai standar.

2. Sementara 3 indikator sisanya masih berbasis manual dan pembangunan sistem elektroniknya sudah dilaksanakan di akhir tahun 2016.

1 2 3 0 0 . 0 0 2 3 3 2 6 . 0 6 3 19 17 8 9 . 4 7 4 12 9 7 5 . 0 0 5 11 9 8 1. 8 2 6 17 2 11. 7 6 7 10 5 5 0 . 0 0 8 15 1 6 . 6 7 9 7 4 5 7 . 14 10 7 3 4 2 . 8 6 11 6 3 5 0 . 0 0 12 2 7 18 6 6 . 6 7 13 3 5 10 2 8 . 5 7 14 5 5 10 0 . 0 0 15 3 8 6 15 . 7 9 16 8 5 6 2 . 5 0 17 9 5 5 5 . 5 6 18 10 8 8 0 . 0 0 19 2 2 2 9 . 0 9 2 0 14 3 2 1. 4 3 2 1 14 6 4 2 . 8 6 2 2 13 5 3 8 . 4 6 2 3 10 2 2 0 . 0 0 2 4 KA LI M A N T A N U T A R A 5 2 4 0 . 0 0 2 5 15 5 3 3 . 3 3 2 6 S U LA W E S I T E N G A H 13 7 5 3 . 8 5 2 7 2 4 14 5 8 . 3 3 2 8 17 2 11. 7 6 2 9 6 6 10 0 . 0 0 3 0 S U LA W E S I B A R A T 6 4 6 6 . 6 7 3 1 11 0 0 . 0 0 3 2 10 2 2 0 . 0 0 3 3 13 0 0 . 0 0 3 4 2 9 0 0 . 0 0 5 14 17 2 3 3 . 4 6 P R O V I N S I N O J U M LA H D I Y O G Y A KA R T A J A W A T I M U R J A W A T E N G A H B A N T E N B A LI N U S A T E N G G A R A B A R A T N U S A T E N G G A R A T I M U R KA LI M A N T A N T E N G A H KA LI M A N T A N S E LA T A N KA LI M A N T A N B A R A T P A P U A S U LA W E S I S E LA T A N S U LA W E S I T E N G G A R A KA LI M A N T A N T I M U R S U LA W E S I U T A R A G O R O N T A LO M A LU KU M A LU KU U T A R A P A P U A B A R A T KE P U LA U A N R I A U D KI J A KA R T A J A W A B A R A T KE P U LA U A N B A N G KA B E LI T U N G S U M A T E R A B A R A T R I A U J A M B I S U M A T E R A S E LA T A N B E N G KU LU LA M P U N G % S U M A T E R A U T A R A A C E H J U M LA H KA B / KO T A J U M LA H KA B / KO T A Y G M E M E N U HI KU A LI T A S KE S LI N G

(18)

Halaman 18 dari 82 Gambar 2

Peta, Grafik, Tabel

Realisasi Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Kesling Per Propinsi Tahun 2016

(19)

Halaman 19 dari 82 0 50 100 150 200 250 300 350 400 PAPUA BARAT PAPUA MALUKU MALUKU UTARA ACEH SUMATERA UTARA KALIMANTAN BARAT KEPULAUAN RIAU LAMPUNG JAWA TENGAH SULAWESI TENGGARA KALIMANTAN TENGAH TARGET SULAWESI TENGAH NUSA TENGGARA TIMUR REALISASI NASIONAL SULAWESI UTARA JAWA TIMUR SUMATERA SELATAN DKI JAKARTA SULAWESI BARAT KALIMANTAN TIMUR KALIMANTAN SELATAN JAWA BARAT BENGKULU JAMBI BANTEN SULAWESI SELATAN RIAU BALI KALIMANTAN UTARA GORONTALO SUMATERA BARAT KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NUSA TENGGARA BARAT DI YOGYAKARTA STBM KKS TTU Sehat TPM Sehat Limbah Medis PKAM *) dalam persen

(20)

Halaman 20 dari 82 Pada tahun 2016, terdapat 4 propinsi (12 %) dengan realisasi paling tinggi dan berada di zona hijau yaitu Sumatera Barat, Kep. Bangka Belitung, DIY, Gorontalo, dimana seluruh indikator mencapai target. Terdapat 3 propinsi (9 %) yang berada di zona kuning yaitu Jambi, NTB, Sulawesi Selatan, dimana hanya 5 dari 6 indikator yang mencapai target. Terdapat 10 propinsi (29 %) yang berada di zona oranye yaitu Riau, Bengkulu, Kep. Riau, Jawa Barat, Banten, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, dimana hanya 4 dari 6 indikator yang mencapai target. Terdapat 10 propinsi (29 %) yang berada di zona ungu yaitu, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua Barat, dimana hanya 3 dari 6 indikator yang mencapai target. Terdapat 5 propinsi (15 %) yang berada di zona biru yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Utara, dimana hanya 2 dari 6 indikator yang mencapai target. Sedangkan 2 propinsi (6 %) dengan realisasi paling rendah yaitu Maluku dan Papua, dimana hanya 1 dari 6 indikator yang mencapai target.

(21)

Halaman 21 dari 82 Grafik 6

Target dan Realisasi

Indikator Persentase Kabupaten/Kota yang Memenuhi Kualitas Kesehatan Lingkungan

Tahun 2015-2016

Pada tahun 2016, target indikator Persentase Kab/Kota yang memenuhi kualitas lingkungan sebesar 25 % dan realisasi indikator tersebut sebesar 33.46 %. Itu berarti pada tahun 2016, realisasi indikator telah mencapai target indikator yang ditetapkan. Pada tahun 2015, target indikator tersebut sebesar 20 % dan realisasi indikator tersebut sebesar 27.63 %. Itu berarti pada tahun 2015, realisasi indikator tersebut juga telah mencapai target indikator yang ditetapkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa trend realisasi indikator tersebut senantiasa mencapai target indikator setiap tahunnya.

Grafik 7

Target dan Capaian Kinerja

Indikator Persentase Kabupaten/Kota yang Memenuhi Kualitas Kesehatan Lingkungan

Tahun 2015-2016 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 27,63 33,46 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 45,00 2015 2016 2017 2018 2019 TARGET INDIKATOR REALISASI INDIKATOR *) dalam persen

(22)

Halaman 22 dari 82 Pada tahun 2016, capaian kinerja indikator Persentase Kabupaten/Kota yang Memenuhi Kualitas Kesehatan Lingkungan sebesar 133.85 %. Pada tahun 2015, capaian kinerja indikator tersebut sebesar 138.13 %. Jadi dapat disimpulkan bahwa trend capaian kinerja indikator tersebut di atas 100 % setiap tahunnya. Itu berarti setiap tahunnya capaian kinerja sudah mencapai target capaian kinerjanya yang adalah 100 %.

Grafik 8

Penyandingan Capaian Kinerja dan Realisasi Anggaran Indikator Persentase Kabupaten/Kota

yang Memenuhi Kualitas Kesehatan Lingkungan Th 2016 100,00 138,13 133,85 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 2015 2016 2017 2018 2019 TARGET KINERJA CAPAIAN KINERJA *) dalam persen 0 20 40 60 80 100 120 140

CAPAIAN KINERJA REALISASI ANGGARAN

133,85

93,27

(23)

Halaman 23 dari 82 Pada tahun 2016, anggaran yang dialokasikan untuk pelaksanaan indikator Persentase

Kabupaten/Kota yang Memenuhi Kualitas Kesehatan Lingkungan sebesar Rp 206.420.007.000,- dan realisasi anggaran untuk pelaksanaan indikator tersebut sebesar 93.27 % atau Rp 192.528.210.128,-. Target indikator yang ditetapkan sebesar 25 % dan realisasi indikator tersebut sebesar 33.46 % sehingga capaian kinerja yang diperoleh sebesar 133.85 %. Itu berarti terwujud efisiensi anggaran karena capaian kinerja sebesar 133.85 % dapat terwujud dengan 93.27 % anggaran.

Grafik 9

Penyandingan Capaian Kinerja dan Realisasi Anggaran Indikator Persentase Kabupaten/Kota yang Memenuhi Kualitas Kesehatan Lingkungan

Th 2015-2016

Pada tahun 2016, capaian kinerja indikator indikator Persentase Kabupaten/Kota yang Memenuhi Kualitas Kesehatan Lingkungan sebesar 133.85 % dan realisasi anggarannya sebesar 93.27 %. Pada tahun 2015, capaian kinerja indikator tersebut sebesar 138.13 % dan realisasi anggarannya sebesar 81.36 %. Jika dilihat dari segi ini, itu berarti setiap tahunnya terwujud keefisiensian anggaran karena besar capaian kinerja lebih besar daripada realisasi anggaran.

 Analisis penyebab/ program/ kegiatan yang menunjang keberhasilan meliputi :

o Pelaksanaan review Peraturan Menteri Kesehatan menyesuaikan dengan kondisi seperti Permenkes Nomor 736 Tahun 2010 tentang Tata Laksana Pengawasan Kualitas Air Minum, Revisi Kepmen No 519 Th 2014 tentang Penyelenggaraan Pasar Sehat menjadi Permenkes.

0 20 40 60 80 100 120 140 2015 2016 2017 2018 2019 138,13 133,85 81,36 93,27

CAPAIAN KINERJA REALISASI ANGGARAN

(24)

Halaman 24 dari 82 o Penyusunan pedoman seperti Juknis Pelaksanaan RPAM Komunal, Modul Monev PKAM, Modul Teknis Penyehatan Air, Pedoman Standar Peralatan Kesling di Puskesmas, Modul Pelatihan Radioland, Juknis PP, Pedoman Pengamanan Pestisida terhadap Kesehatan, Standar Baku Mutu Biomarker, Pedoman Pengamanan Dampak Radiasi.

o Peningkatan kapasitas petugas untuk pelaksanaan kegiatan kesling melalui kegiatan Orientasi Teknis Penyehatan Air, Workshop Healthy and Green Building Office (Kantor Sehat), Pelatihan Pra Kedaruratan Bidang Kesling/ KLB, Capacity Building Bidang Radiasi, TOT Inspektur HSP yang Kompenten.

o Pemberian dukungan sarana dan prasarana bagi Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota, Puskesmas dan pokja pasar terpilih berdasarkan usulan dari daerah berupa sarana kit sanitasi kesling sebanyak 345 paket, uji kualitas air (water test kit) sebanyak 76 paket, uji keamanan pangan (food contamination kit dan food security vvip kit) sebanyak 39 paket, sarana supply sanitasi (cetakan jamban) sebanyak 283 paket, peralatan radioland sebanyak 10 paket, alat pembersih pasar dan pelindung diri sebanyak 10 paket, alat kedaruratan kesling (alat penjernih air dan udara) sebanyak 11 paket, bufferstock kedaruratan kesehatan lingkungan sebanyak 11 paket.

o Pemberian dana dekon dan DAK untuk mendukung pelaksanaan kegiatan kesling. o Pengembangan jejaring/koordinasi lintas program/lintas sektor dalam bentuk

pertemuan antar stakeholder terkait untuk menyamakan persepsi dalam mewujudkan dan mendukung pelaksanaan kegiatan kesling.

o Bermitra dengan Pramuka, PKK, TNI dan Majelis Ulama Indonesia dalam pelaksanaan kegiatan kesling.

o Pengeluaran Surat Edaran Pasar Sehat dimana satu kab/kota diwajibkan mengadopsi satu Pasar Percontohan Pasar Sehat.

o Pelaksanaan berbagai penilaian untuk menyemangati pelaksanaan kesling seperti penilaian kab/kota sehat, lingkungan bersih sehat, kantor sehat, sekolah sehat, kantin sehat, pelabuhan/bandara sehat, toilet sehat dll.

o Pembangunan sistem monitoring yang berkualitas dan akuntabel melalui sistem monitoring berbasis Web dan SMS gateway STBM dan emonev HSP yang sudah berjalan serta emonev pengelolaan limbah fasyankes, emonev KKS, emonev PKAM yang baru saja dibangun.

 Analisis penyebab/ program/ kegiatan yang dapat menyebabkan kegagalan meliputi :

o Adanya efisiensi anggaran sebesar Rp 87.592.373.000,- atau 43 % dari anggaran. o Masih kurangnya kuantitas dan kualitas petugas kesehatan lingkungan di

Puskesmas dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan terkait kesling serta mutasi petugas yang terjadi di daerah.

o Masih kurangnya dukungan sarana dan prasarana untuk pelaksanaan pembinaan dan pengawasan terkait kesling.

o Untuk sistem pelaporan kegiatan yang sudah berbasis elektronik (internet) masih belum optimal terkait dukungan jaringan internet yang belum stabil di seluruh lokasi.

(25)

Halaman 25 dari 82 o Pelaksanaan kegiatan kesehatan lingkungan melibatkan multi sektor sehingga

perlu memperkuat jejaring kemitraan, dan kapasitas SDM.

o Proses peningkatan perubahan perilaku tidak dapat dilakukan secara cepat, cenderung membutuhkan waktu yang relatif lama dan kecukupan pendampingan petugas kepada masyarakat untuk menerapkan perilaku yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari secara berkesinambungan.

o Masyarakat belum banyak memahami pentingnya kesehatan lingkungan.  Alternatif solusi yang dilakukan meliputi :

o Memaksimalkan pembinaan penyelenggaraan kesehatan lingkungan secara terintegrasi dan terfokus pada daerah sasaran yang aktif kepada seluruh pengelola kesehatan lingkungan di daerah dalam percepatan pencapaian target indikator kesehatan lingkungan.

o Memasimalkan komunikasi aktif baik melalui media elektronik maupun surat menyurat kepada seluruh pimpinan daerah dalam rangka implementasi serta monitoring evaluasi data dan pelaporan tepat waktu.

o Memaksimalkan advokasi kepada pejabat daerah agar diperoleh dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan kesling khususnya dalam hal pendanaan penyelenggaraan kesehatan lingkungan untuk mencapai universal akses air dan sanitasi Th 2019.

o Tahun 2017 akan dilaksanakan orientasi kesehatan lingkungan secara terintegrasi kepada seluruh pengelola kesehatan lingkungan (sanitarian) tingkat Puskemas dan Kabupaten/Kota untuk penyelenggaraan kesehatan lingkungan yang terstandar dan pelaporan tepat waktu melalui sistim monitoring elektronik. o Pemberian sarana dan prasarana pengawasan kesehatan lingkungan sampai

tingkat Puskesmas yang menjadi sasaran prioritas Kementerian Kesehatan (sasaran lokus Puskesmas untuk program Keluarga Sehat) dan pada puskesmas yang tersedia tenaga sanitarian aktif.

o Pendampingan dana dekon dan DAK yang optimal untuk percepatan capaian kesehatan lingkungan secara menyeluruh.

o Sosialisasi 5 pilar STBM kepada masyarakat di seluruh kab/kota.

o Bermitra dengan Pramuka, PKK, TNI dan Majelis Ulama Indonesia dalam pelaksanaan kegiatan kesling sampai dengan basis keluarga.

o Melanjutkan pelaksanaan berbagai penilaian untuk menyemangati pelaksanaan kesling seperti penilaian kab/kota sehat, lingkungan bersih sehat, kantor sehat, sekolah sehat, kantin sehat, pelabuhan/bandara sehat, toilet sehat dll.

FOTO DASHBOARD KESLING

Dalam melaksanakan 7 indikator kinerja kegiatan Penyehatan Lingkungan memiliki 4 kegiatan pokok yaitu Penyehatan air minum & sanitasi dasar, Penyehatan Pangan, Penyehatan udara, tanah dan kawasan, serta Pengamanan limbah dan radiasi.

(26)

Halaman 26 dari 82 1. Kegiatan Penyehatan Air & Sanitasi Dasar

Untuk mengatasi masalah sanitasi dan kecukupan kebutuhan air minum, Direktorat Kesehatan Lingkungan, khususnya Subdit Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar (PASD) melakukan berbagai kegiatan Pengawasan Kualitas Air Minum dan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Hal tersebut tertuang dalam 2 indikator yang menjadi target pelaksanaan kegiatan Subdit PASD yang meliputi Jumlah desa yang melaksanakan STBM dan Persentase sarana air minum yang dilakukan pengawasan. a. Jumlah Desa yang Melaksanakan STBM

Desa yang melaksanakan STBM adalah desa/ kelurahan yang sudah melakukan pemicuan, mempunyai tim kerja masyarakat/ natural leader, dan telah mempunyai rencana kerja masyarakat.

Grafik 10 Target dan Realisasi

Indikator Jumlah Desa yang Melaksanakan STBM Tahun 2016

Pada tahun 2016, target indikator Jumlah Desa yang Melaksanakan STBM sebesar 30.000 desa/kelurahan. Sedangkan realisasi indikator tersebut sebesar 33.927 desa/kelurahan. Itu berarti realisasi indikator tersebut sudah mencapai target indikator dengan capaian kinerja sebesar 113.09 %.

Grafik 11

Realisasi Th 2016 dan Target Jangka Menengah Indikator Jumlah Desa yang Melaksanakan STBM

28000 29000 30000 31000 32000 33000 34000

TARGET INDIKATOR REALISASI INDIKATOR

30000 33927 desa Capaian Kinerja 113.09 %

(27)

Halaman 27 dari 82 Jika menyandingkan realisasi 2016 dengan terget jangka menengah 2015-2019 maka diketahui bahwa realisasi 2016 sudah melewati target 2016 namun masih di bawah target 2017-2019.

Grafik 12

Realisasi Kumulatif Per Propinsi

Indikator Jumlah Desa yang Melaksanakan STBM s.d. Tahun 2016 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 Realisasi 2016 Target 2015 Target 2016 Target 2017 Target 2018 Target 2019 33927 25000 30000 35000 40000 45000 desa

(28)

Halaman 28 dari 82 Grafik 13

Proporsi Realisasi Per Propinsi

Indikator Jumlah Desa yang Melaksanakan STBM Tahun 2016 26 64 137144 146 207 235 265 301 312 329 398 422 422 514 533 538 543 657 685 738 8411045 1081 1081 1093 11131366 14711570 2230 2401 5222 5797 DK I J AKA RT A KA LIM AN TA N U TA RA SU LAWE SI UT AR A MAL U KU K EPU LAU AN RIA U KA LIM AN TA N T IMU R MAL U KU UT ARA PAPU A PAPU A BAR AT KE PU LAUA N BA N G KA B ELIT U N G G ORON TALO BA LI DI YOG YAK ART A SU LAWE SI BA RAT SU MAT ERA BAR AT BE N G K U LU KA LIM AN TA N B ARAT JAMBI SU LAWE SI T EN G G AR A SU LAWE SI T EN G AH KA LIM AN TA N T EN G AH B A N TE N KA LIM AN TA N S ELA TAN LAM PUNG N U SA TE N G G ARA B ARAT SU MAT ERA UT ARA RIAU SU MAT ERA SE LAT AN AC EH SU LAWE SI SE LAT AN N U SA TE N G G ARA T IMU R JAWA BA RAT JAWA TE N G AH JAWA TIMUR desa

(29)

Halaman 29 dari 82 Pada tahun 2016, baik secara kumulatif maupun proporsi, 8 propinsi dengan realisasi desa/kelurahan yang melaksanakan STBM tertinggi yaitu Propinsi Jawa Timur, DIY, Kep. Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.

Grafik 14 Target dan Realisasi

Indikator Jumlah Desa yang Melaksanakan STBM Th 2015-2016 7 8 1013 13 18 20 20 2123 27 29 35 35 35 3840 41 43 45 45 4752 52 54 56 61 6165 68 68 82 95 96 0 20 40 60 80 100 120 PAPU A SU LAWE SI UT AR A DK I J AKA RT A KA LIM AN TA N U TA RA MAL U KU SU MA TE RA UT AR A MAL U KU UT ARA KA LIM AN TA N T IMU R PAPU A BAR AT AC EH K A LIMANT A N B AR AT SU LAWE SI T EN G G AR A BE N G K U LU JAMBI SU LAWE SI T EN G AH KE PU LAUA N RI A U JAWA BA RAT LAM PUNG SU MAT ERA SE LAT AN G ORON TALO SU MAT ERA BAR AT KA LIM AN TA N T EN G AH SU LAWE SI SE LAT AN KA LIM AN TA N S ELA TAN BA N TE N BA LI JAWA TE N G AH RIAU SU LA W ESI B A RA T JAWA TIMUR N U SA TE N G G ARA T IMU R KE PU LAUA N BA N G KA B ELIT U N G N U SA TE N G G ARA B ARAT DI Y OG YAK AR TA %

(30)

Halaman 30 dari 82 Pada tahun 2016, target indikator Jumlah Desa yang Melakanakan STBM sebesar 30.000 desa dan realisasi indikator tersebut sebesar 33.927 desa. Itu berarti pada tahun 2016, realisasi indikator telah mencapai target indikator yang ditetapkan. Pada tahun 2015, target indikator tersebut sebesar 25.000 desa dan realisasi indikator tersebut sebesar 26.417 desa. Itu berarti pada tahun 2015, realisasi indikator tersebut juga telah mencapai target indikator yang ditetapkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa trend realisasi indikator tersebut senantiasa mencapai target indikator setiap tahunnya.

Grafik 15

Target dan Capaian Kinerja

Indikator Jumlah Desa yang Melaksanakan STBM Th 2015-2016 25000 30000 35000 40000 45000 26417 33927 0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 2015 2016 2017 2018 2019 REALISASI TARGET desa

(31)

Halaman 31 dari 82 Pada tahun 2016, capaian kinerja indikator Jumlah Desa yang Melaksanakan STBM sebesar 113.09 %. Pada tahun 2015, capaian kinerja indikator tersebut sebesar 105.67 %. Jadi dapat disimpulkan bahwa trend capaian kinerja indikator tersebut di atas 100 % setiap tahunnya. Itu berarti setiap tahunnya capaian kinerja sudah mencapai target capaian kinerjanya yang adalah 100 %.

Grafik 16

Penyandingan Capaian Kinerja dan Realisasi Anggaran Indikator Jumlah Desa yang Melaksanakan STBM

Th 2016 100,00 105,67 113,09 90,00 95,00 100,00 105,00 110,00 115,00 2015 2016 2017 2018 2019 TARGET KINERJA CAPAIAN KINERJA *) dalam persen 0 20 40 60 80 100 120

CAPAIAN KINERJA REALISASI ANGGARAN

113,09

72,49

(32)

Halaman 32 dari 82 Pada tahun 2016, anggaran yang dialokasikan untuk pelaksanaan indikator Jumlah Desa yang Melaksanakan STBM sebesar Rp 44,885,537,000 dan realisasi anggaran untuk pelaksanaan indikator tersebut sebesar 72.49 % atau Rp 32,535,652,597. Target indikator yang ditetapkan sebesar 30.000 desa dan realisasi indikator tersebut sebesar 32.927 desa sehingga capaian kinerja yang diperoleh sebesar 113.09 %. Itu berarti terwujud efisiensi anggaran karena capaian kinerja sebesar 113.09 % dapat dicapai dengan 72.49 % anggaran.

Grafik 17

Penyandingan Capaian Kinerja dan Realisasi Anggaran Indikator Jumlah Desa yang Melaksanakan STBM

Th 2015-2016

Pada tahun 2016, capaian kinerja indikator indikator Jumlah Desa yang Melakasanakan STBM sebesar 113.09 % dan realisasi anggarannya sebesar 72.49 %. Pada tahun 2015, capaian kinerja indikator tersebut sebesar 105.67 % dan realisasi anggarannya sebesar 81.19 %. Jika dilihat dari segi ini, itu berarti setiap tahunnya terwujud keefisiensian anggaran karena besar capaian kinerja lebih besar daripada realisasi anggaran.

 Analisis penyebab/ program/ kegiatan yang menunjang keberhasilan meliputi :

o Pemberian dukungan sarana dan prasarana bagi Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota, Puskesmas terpilih berdasarkan usulan dari daerah berupa sarana supply sanitasi (cetakan jamban) sebanyak 283 paket.

o Pengembangan jejaring/koordinasi lintas program/lintas sektor dalam bentuk pertemuan antar stakeholder terkait untuk menyamakan persepsi dalam mewujudkan dan mendukung pencapaian universal akses sanitasi dan air minum yang aman untuk seluruh masyarakat Indonesia.

0 20 40 60 80 100 120 2015 2016 2017 2018 2019 105,67 113,09 81,19 72,49

CAPAIAN KINERJA REALISASI ANGGARAN

(33)

Halaman 33 dari 82 o Bermitra dengan Majelis Ulama Indonesia terkait pengeluaran Fatwa MUI Nomor 001/2015 tentang Pendayagunaan Harta Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf untuk membangun sarana air bersih dan sanitasi bagi masyarakat. o Implementasi sistem monitoring yang berkualitas dan akuntabel melalui

sistem monitoring berbasis Web dan SMS gateway STBM.

o Memfasilitasi Kab/Kota melalui Pokja AMPL atau Pokja sejenis dalam rangka integrasi kegiatan lintas sektor terkait dengan kegiatan pembangunan sanitasi yang diawali dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan STBM.

o Pemberian dana dekon dan DAK untuk mendukung pelaksanaan kegiatan STBM.

 Analisis penyebab/ program/ kegiatan yang dapat menyebabkan kegagalan meliputi :

o Desa yang sudah terinvasi oleh program Pamsimas banyak yang belum ODF. Desa yang sudah ODF belum mencapai desa STBM.

o Sistem pelaporan STBM sudah berbasis elektronik (internet), namun masih belum optimal terkait dukungan jaringan internet yang belum stabil di seluruh lokasi.

o Masih kurangnya kuantitas dan kualitas petugas kesehatan lingkungan di Puskesmas dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan terkait STBM serta mutasi petugas yang terjadi di daerah.

o Masih kurangnya dukungan sarana dan prasarana untuk pelaksanaan pembinaan dan pengawasan terkait STBM.

o Pelaksanaan kegiatan STBM melibatkan multi sektor sehingga perlu memperkuat jejaring kemitraan, dan kapasitas SDM.

o Adanya efisiensi anggaran sebesar Rp 87.592.373.000,- atau 43 % dari anggaran.

o Proses peningkatan perubahan perilaku tidak dapat dilakukan secara cepat, cenderung membutuhkan waktu yang relatif lama dan kecukupan pendampingan petugas kepada masyarakat untuk menerapkan perilaku yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari secara berkesinambungan.

o Masyarakat belum banyak memahami pentingnya sanitasi.  Alternatif solusi yang dilakukan meliputi :

o Advokasi dan sosialisasi kepada Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam rangka internalisasi kegiatan pembangunan sanitasi. o Sosialisasi dan implementasi sistem monev berbasis Web dan SMS gateway

STBM dengan lebih optimal sekaligus didukung oleh pemda setempat dalam hal dukungan terhadap jaringan internet yang lebih stabil.

o Peningkatan kapasitas SDM stakeholder dan pelaku pembangunan air minum dan sanitasi sampai dengan tingkat Puskesmas.

o Pemberian dukungan sarana dan prasarana pada daerah-daerah yang belum terjangkau.

(34)

Halaman 34 dari 82 o Bermitra dengan MUI dalam pembangunan Pendayagunaan Harta Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf untuk membangun sarana air bersih dan sanitasi bagi masyarakat.

b. Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan

Kualitas air minum adalah kualitas air minum yang memenuhi syarat secara fisik/kimia/mikrobiologi sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010. Sedangkan tentang pengawasan kualitas air minum diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 736/MENKES/PER/VI/2010 tentang Tata Laksana dan Pengawasan Kualitas Air Minum, bahwa pengawasan Internal dilakukan oleh penyelenggara air minum komersial dan pengawasan Eksternal oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Pengawasan kualitas air minum adalah penyelenggara air minum yang diawasi kualitas hasil produksinya secara eksternal oleh Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dan KKP yang dibuktikan dengan jumlah sampel pengujian kualitas air.

Penyelenggara air minum adalah :

1. PDAM/BPAM/PT yang terdaftar di Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi)

2. Sarana air minum perpipaan non PDAM

3. Sarana air minum bukan jaringan perpipaan komunal

Cara perhitungan indikator ini adalah jumlah sarana air minum yang diawasi dibagi dengan jumlah sarana air minum yang ada.

Grafik 18 Target dan Realisasi

Indikator Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan Tahun 2016

(35)

Halaman 35 dari 82 Pada tahun 2016, target indikator Persentase sarana air minum yang dilakukan pengawasan sebesar 35 % (81.901 Sarana dari 234.002 sarana). Sedangkan realisasi indikator tersebut sebesar 16.02 % (5.218 sarana). Itu berarti realisasi indikator tersebut belum mencapai target indikator dengan capaian kinerja sebesar 45.77 %.

Grafik 19

Realisasi Th 2016 dan Target Jangka Menengah

Indikator Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan

0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00

TARGET INDIKATOR REALISASI INDIKATOR

35,00 16,02

%

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Realisasi 2016

Target 2015 Target 2016 Target 2017 Target 2018 Target 2019 16,07 30 35 40 45 50 % Capaian Kinerja 45.77 %

(36)

Halaman 36 dari 82 Jika menyandingkan realisasi 2016 dengan terget jangka menengah 2015-2019 maka diketahui bahwa realisasi 2016 berada di bawah target 2015-2019.

Grafik 20

Realisasi Per Propinsi

Indikator Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan Tahun 2016

Pada tahun 2016, propinsi dengan realisasi paling tinggi (42 %) yaitu Gorontalo. Terdapat 4 Propinsi (12 %) sudah berada di atas target nasional, sementara masih terdapat 30 Propinsi (88 %) masih berada di bawah target nasional.

Grafik 21 Target dan Realisasi

Indikator Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan Th 2015-2016 0 0 3 6 6 6 6 7 8 9 10 1111 13 13 13 1414 15 16,02 17 1818 20 2122 2526 31 3233 35 36 3941 42 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 MAL U KU PAPU A BA LI AC EH DK I J AKA RT A SU MA TE RA SE LAT AN SU MAT ERA UT ARA LAM PUNG PAPU A BAR AT JAWA TIMUR BA N TE N KE PU LAUA N RI A U SU LAWE SI SE LAT AN N U SA TE N G G ARA T IMU R KA LIM AN TA N B AR AT JAWA BA RA T SU LAWE SI T EN G G AR A KA LIM AN TA N T IMU R JAWA TE N G AH RE ALIS ASI N ASION AL KA LIM AN TA N S ELA TAN N U SA TE N G G ARA B ARAT KA LIM AN TA N T EN G AH SU LAWE SI T EN G AH RIAU JAMBI SU LAWE SI UT AR A KA LIM AN TA N U TA RA KE PU LAUA N BA N G KA B ELIT U N G DI YOG YAK ART A MA LUKU UT AR A TARG ET B EN G K U LU SU LAWE SI BA RAT SU MAT ERA BAR AT G ORON TALO *) dalam persen

(37)

Halaman 37 dari 82 Pada tahun 2016, target indikator Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan sebesar 35 % dan realisasi indikator tersebut sebesar 16.02 %. Itu berarti pada tahun 2016, realisasi indikator belum mencapai target indikator yang ditetapkan. Pada tahun 2015, target indikator tersebut sebesar 30 % dan realisasi indikator tersebut sebesar 43.58 %. Itu berarti pada tahun 2015, realisasi indikator tersebut telah mencapai target indikator yang ditetapkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa trend realisasi indikator tersebut terjadi penurunan, dimana pada tahun 2015 mencapai target sedangkan pada tahun 2016 tidak mencapai target.

Grafik 22

Penyandingan Capaian Kinerja dan Realisasi Anggaran Indikator Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan

Th 2015 30,00 35,00 40,00 45,00 50,00 43,58 16,02 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 2015 2016 2017 2018 2019 TARGET INDIKATOR REALISASI INDIKATOR *) dalam persen

(38)

Halaman 38 dari 82 Pada tahun 2016, capaian kinerja indikator Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan sebesar 45.77 %. Pada tahun 2015, capaian kinerja indikator tersebut sebesar 145.26 %. Jadi dapat disimpulkan bahwa trend capaian kinerja indikator tersebut mengalami penurunan, dimana pada tahun 2015 capaian kinerja sudah mencapai target capaian kinerja yang adalah 100 %, sementara pada tahun 2016 tidak mencapai target capaian kinerja yang adalah 100 %.

Grafik 23

Penyandingan Capaian Kinerja dan Realisasi Anggaran Indikator Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan

Th 2016 100,00 145,26 45,77 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 2015 2016 2017 2018 2019 TARGET KINERJA CAPAIAN KINERJA *) dalam persen 0 20 40 60 80 100

CAPAIAN KINERJA REALISASI ANGGARAN

45,77

99,45

(39)

Halaman 39 dari 82 Pada tahun 2016, anggaran yang dialokasikan untuk pelaksanaan indikator Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan sebesar Rp 11,225,311,000 dan realisasi anggaran untuk pelaksanaan indikator tersebut sebesar 99.45 % atau Rp 11,163,586,590. Target indikator yang ditetapkan sebesar 35 % dan realisasi indikator tersebut sebesar 16.02 % sehingga capaian kinerja yang diperoleh sebesar 45.77 %. Itu berarti terwujud ketidakefesiensian anggaran karena capaian kinerja sebesar 45.77 % terwujud dengan 99.45 % anggaran.

Grafik 24

Penyandingan Capaian Kinerja dan Realisasi Anggaran Indikator Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan

Th 2015-2016

Pada tahun 2016, capaian kinerja indikator indikator Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan sebesar 45.77 % dan realisasi anggarannya sebesar 99.45 %. Pada tahun 2015, capaian kinerja indikator tersebut sebesar 145.26 % dan realisasi anggarannya sebesar 81.19 %. Jika dilihat dari segi ini, itu berarti pada tahun 2015 terwujud keefisiensian anggaran karena besar capaian kinerja lebih besar daripada realisasi anggaran, sementara pada tahun 2016 terwujud ketidakefisiensian anggaran karena besar capaian kinerja lebih kecil daripada realisasi anggaran.

0 20 40 60 80 100 120 140 160 2015 2016 2017 2018 2019 145,26 45,77 81,19 99,45

CAPAIAN KINERJA REALISASI ANGGARAN

(40)

Halaman 40 dari 82  Analisis penyebab/ program/ kegiatan yang menunjang keberhasilan

meliputi :

o Pelaksanaan review Peraturan Menteri Kesehatan menyesuaikan dengan kondisi yaitu Permenkes Nomor 736 Tahun 2010 tentang Tata Laksana Pengawasan Kualitas Air Minum.

o Penyusunan pedoman Juknis Pelaksanaan RPAM Komunal, Modul Monev PKAM, Modul Teknis Penyehatan Air.

o Peningkatan kapasitas petugas untuk pelaksanaan kegiatan penyehatan air melalui kegiatan Orientasi Teknis Penyehatan Air.

o Pemberian dukungan sarana dan prasarana bagi Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota, Puskesmas terpilih berdasarkan usulan dari daerah berupa uji kualitas air (water test kit) sebanyak 76 paket.

o Inovasi kegiatan Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) khususnya sarana air minum komunal dan di tingkat konsumen untuk meningkatkan kualitas air minum yang diakses oleh masyarakat sehingga memenuhi syarat kesehatan.

o Pengembangan jejaring/koordinasi lintas program/lintas sektor dalam bentuk pertemuan antar stakeholder terkait untuk menyamakan persepsi dalam mewujudkan dan mendukung pencapaian universal akses sanitasi dan air minum yang aman untuk seluruh masyarakat Indonesia.

o Bermitra dengan Majelis Ulama Indonesia terkait pengeluaran Fatwa MUI Nomor 001/2015 tentang Pendayagunaan Harta Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf untuk membangun sarana air bersih dan sanitasi bagi masyarakat.

o Pemberian dana dekon dan DAK untuk mendukung pelaksanaan kegiatan penyehatan air.

 Analisis penyebab/ program/ kegiatan yang dapat menyebabkan kegagalan meliputi :

o Kegiatan Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) baru dimulai pada beberapa daerah pilot, sehingga masih perlu pembinaan dan pengembangan ke daerah yang lain.

o Masih kurangnya kuantitas dan kualitas petugas kesehatan lingkungan di Puskesmas dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan terkait air minum serta mutasi petugas yang terjadi di daerah.

o Untuk mendapatkan data sarana air minum dan kondisi kualitas air minum di Indonesia masih sulit karena belum terbangun sistim pelaporan yang berbasis elektronik.

o Masih kurangnya dukungan sarana dan prasarana untuk pelaksanaan pembinaan dan pengawasan terkait air minum.

o Pelaksanaan kegiatan air minum melibatkan multi sektor sehingga perlu memperkuat jejaring kemitraan, dan kapasitas SDM.

o Adanya efisiensi anggaran sebesar Rp 87.592.373.000,- atau 43 % dari anggaran.

(41)

Halaman 41 dari 82  Alternatif solusi yang dilakukan meliputi :

o Menyusun Peraturan Menteri Kesehatan tentang Kualitas Air untuk Personal Hygiene .

o Peningkatan kapasitas SDM stakeholder dan pelaku pembangunan air minum dan sanitasi sampai dengan tingkat Puskesmas.

o Membangun sistim pelaporan air minum berbasis elektronik.

o Pemberian dukungan sarana dan prasarana pada daerah-daerah yang belum terjangkau.

o Bermitra dengan MUI dalam pembangunan Pendayagunaan Harta Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf untuk membangun sarana air bersih dan sanitasi bagi masyarakat.

(42)
(43)
(44)
(45)

Halaman 45 dari 82 Ket : E-Monev STBM

2. Kegiatan Higiene Sanitasi Pangan

Pelaksanaan kegiatan higiene sanitasi pangan merupakan salah satu aspek dalam menjaga keamanan pangan yang harus dilaksanakan secara terstruktur dan terukur dengan kegiatan, sasaran dan ukuran kinerja yang jelas, salah satunya dengan mewujudkan Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang memenuhi syarat kesehatan. TPM yang memenuhi syarat kesehatan adalah TPM yang memenuhi persyaratan hygiene sanitasi yang dibuktikan dengan sertifikat laik hygiene sanitasi. TPM adalah Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) siap saji yang terdiri dari Rumah Makan/Restoran, Jasa Boga, Depot Air Minum, Sentra Makanan Jajanan, Kantin Sekolah. Cara perhitungan indikator ini yaitu jumlah TPM yang memenuhi syarat kesehatan dibagi jumlah TPM yang ada.

Grafik 25 Target dan Realisasi

Indikator Persentase TPM yang Memenuhi Syarat Kesehatan Tahun 2016

(46)

Halaman 46 dari 82 Pada tahun 2016, target indikator Persentase TPM yang Memenuhi Syarat Kesehatan sebesar 14 % (11.607 TPM dari 82.910 TPM ). Sedangkan realisasi indikator tersebut sebesar 13.66 % (11.324 TPM). Itu berarti realisasi indikator tersebut belum mencapai target indikator dengan capaian kinerja sebesar 97.56 %.

Grafik 26

Realisasi Th 2016 dan Target Jangka Menengah

Indikator Persentase TPM yang Memenuhi Syarat Kesehatan

13,40 13,50 13,60 13,70 13,80 13,90 14,00

TARGET INDIKATOR REALISASI INDIKATOR

14,00 13,66

%

0 5 10 15 20 25 30 35 Realisasi 2016 Target 2015 Target 2016 Target 2017 Target 2018 Target 2019 13,66 8 14 20 26 32 *) dalam persen Capaian Kinerja 97.56 %

(47)

Halaman 47 dari 82 Jika menyandingkan realisasi 2016 dengan terget jangka menengah 2015-2019 maka diketahui bahwa realisasi 2016 sudah melewati target 2015 namun masih di bawah target 2016-2019.

Grafik 27

Realisasi Per Propinsi

Indikator Persentase TPM yang Memenuhi Syarat Kesehatan Tahun 2016

Pada tahun 2016, propinsi dengan realisasi paling tinggi (34 %) yaitu Kalimantan Utara dan propinsi dengan realisasi paling rendah (0 %) yaitu Papua. Terdapat 19 Propinsi (56 %) sudah berada di atas target nasional dan terdapat 15 Propinsi (44 %) masih berada di bawah target nasional.

Grafik 28

Target dan Realisasi

0 4 4 5 5 6 6 8 8 8 9 10 1112 12 13,66 14 15 15151516 16 17 1718 19 19 19 86 23 2324 28 33 34 0 5 10 15 20 25 30 35 40 PAPU A MAL U KU LAM PUNG SU MA TE RA SE LA TAN DK I J AKA RT A BA LI AC EH SU LAWE SI T EN G G AR A JAWA TE N G AH BA N TE N KE PU LAUA N RI A U KA LIM AN TA N T IMU R KA LIM AN TA N B ARAT K A LIMANT A N S ELA TAN SU LAWE SI SE LAT AN RE ALIS ASI N ASION AL TARG ET SU MAT ERA UT ARA JAWA BA RAT PAPU A BAR AT DI YOG YAK ART A RIAU SU LAWE SI UT AR A KE PU LAUA N BA N G KA B ELIT U N G SU LAWE SI T EN G AH KA LIM AN TA N T EN G AH G OR ONT ALO JAW A TIM UR JAM BI N U SA TE N G G ARA B ARAT SU LAWE SI BA RAT BE N G K U LU N U SA TE N G G ARA T IMU R MAL U KU UT ARA SU MAT ERA BAR AT KA LIM AN TA N U TA RA *) dalam persen

(48)

Halaman 48 dari 82 Indikator Persentase TPM yang Memenuhi Syarat Kesehatan

Tahun 2015-2016

Pada tahun 2016, target indikator Persentase TPM yang Memenuhi Syarat Kesehatan

sebesar 14 % dan realisasi indikator tersebut sebesar 13.66 %. Itu berarti pada tahun 2016, realisasi indikator belum mencapai target indikator yang ditetapkan. Pada tahun 2015, target indikator tersebut sebesar 8 % dan realisasi indikator tersebut sebesar 10.39 %. Itu berarti pada tahun 2015, realisasi indikator tersebut telah mencapai target indikator yang ditetapkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa trend realisasi indikator tersebut terjadi penurunan, dimana pada tahun 2015 mencapai target sedangkan pada tahun 2016 tidak mencapai target.

Grafik 29

Target dan Capaian Kinerja

Indikator Persentase TPM yang Memenuhi Syarat Kesehatan Tahun 2015-2016 8,00 14,00 20,00 26,00 32,00 10,39 13,66 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 2015 2016 2017 2018 2019 TARGET INDIKATOR REALISASI INDIKATOR *) dalam persen

(49)

Halaman 49 dari 82 Pada tahun 2016, capaian kinerja indikator Persentase Persentase TPM yang Memenuhi Syarat Kesehatan sebesar 97.56 %. Pada tahun 2015, capaian kinerja indikator tersebut sebesar 129.87 %. Jadi dapat disimpulkan bahwa trend capaian kinerja indikator tersebut mengalami penurunan, dimana pada tahun 2015 capaian kinerja sudah mencapai target capaian kinerja yang adalah 100 %, sementara pada tahun 2016 tidak mencapai target capaian kinerja yang adalah 100 %.

Grafik 30

Penyandingan Capaian Kinerja dan Realisasi Anggaran Indikator Persentase TPM yang Memenuhi Syarat Kesehatan

Th 2016 100,00 129,87 97,56 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 2010 2011 2012 2013 2014 TARGET KINERJA CAPAIAN KINERJA *) dalam persen

(50)

Halaman 50 dari 82 Pada tahun 2016, anggaran yang dialokasikan untuk pelaksanaan indikator Persentase TPM yang Memenuhi Syarat Kesehatan sebesar Rp 8,784,810,000 dan realisasi anggaran untuk pelaksanaan indikator tersebut sebesar 96.18 % atau Rp 8,449,344,874. Target indikator yang ditetapkan sebesar 14 % dan realisasi indikator tersebut sebesar 13.66 % sehingga capaian kinerja yang diperoleh sebesar 97.56 %. Itu berarti terwujud efisiensi anggaran karena capaian kinerja sebesar 97.56 % dapat dicapai dengan 96.18 % anggaran.

Grafik 31

Penyandingan Capaian Kinerja dan Realisasi Anggaran Indikator Persentase TPM yang Memenuhi Syarat Kesehatan

Th 2015-2016 95 95,5 96 96,5 97 97,5 98

CAPAIAN KINERJA REALISASI ANGGARAN

97,56 96,18 % 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 2015 2016 2017 2018 2019 129,87 97,56 76,95 96,18

CAPAIAN KINERJA REALISASI ANGGARAN

(51)

Halaman 51 dari 82 Pada tahun 2016, capaian kinerja indikator indikator Persentase TPM yang Memenuhi Syarat Kesehatan sebesar 97.56 % dan realisasi anggarannya sebesar 96.18 %. Pada tahun 2015, capaian kinerja indikator tersebut sebesar 129.87 % dan realisasi anggarannya sebesar 76.95 %. Jika dilihat dari segi ini, itu berarti setiap tahunnya terwujud keefisiensian anggaran karena besar capaian kinerja lebih besar daripada realisasi anggaran.

 Analisis penyebab/ program/ kegiatan yang menunjang keberhasilan meliputi :

o Penyusunan Juknis Penyehatan Pangan.

o Peningkatan kapasitas petugas untuk pelaksanaan kegiatan penyehatan pangan melalui kegiatan TOT Inspektur HSP yang Kompenten.

o Pemberian dukungan sarana dan prasarana bagi Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota, Puskesmas terpilih berdasarkan usulan dari daerah berupa uji keamanan pangan (food contamination kit dan food security vvip kit) sebanyak 39 paket.

o Pemberian dana dekon dan DAK untuk mendukung pelaksanaan kegiatan penyehatan pangan.

o Pelaksanaan berbagai penilaian untuk menyemangati pelaksanaan kesling seperti penilaian kantin sehat.

o Implementasi sistem monitoring yang berkualitas dan akuntabel melalui emonev HSP.

 Analisis penyebab/ program/ kegiatan yang dapat menyebabkan kegagalan meliputi :

o Masih kurangnya kuantitas dan kualitas petugas kesehatan lingkungan di Puskesmas dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan terkait penyehatan pangan serta mutasi petugas yang terjadi di daerah.

o Masih kurangnya dukungan sarana dan prasarana untuk pelaksanaan pembinaan dan pengawasan terkait penyehatan pangan.

o Untuk sistem pelaporan emonev HSP yang sudah berbasis elektronik (internet) masih belum optimal terkait dukungan jaringan internet yang belum stabil di seluruh lokasi.

o Proses peningkatan perubahan perilaku tidak dapat dilakukan secara cepat, cenderung membutuhkan waktu yang relatif lama dan kecukupan pendampingan petugas kepada masyarakat untuk menerapkan perilaku yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari secara berkesinambungan. o Masyarakat belum banyak memahami pentingnya penyehatan pangan. o Adanya efisiensi anggaran sebesar Rp 87.592.373.000,- atau 43 % dari

anggaran.

 Alternatif solusi yang dilakukan meliputi :

o Pembinaan/orientasi terpadu terkait kegiatan kesling untuk mensosialisasikan pedoman pelaksanaan kegiatan kesling dan meningkatkan kapasitas petugas kesling.

Gambar

Gambar 1  Peta, Grafik, Tabel
Grafik 10  Target dan Realisasi
Grafik 14  Target dan Realisasi
Grafik 25  Target dan Realisasi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sistem penunjang berbasis teknologi informasi penunjang kegiatan program 100-0-100 diwujudkan dalam sebuah formulir pendataan terpadu berbasis Open Data Kit atau biasa

Pendataan baseline permukiman kumuh Program 100-0-100 ini merupakan pemetaan kolaboratif yang dilakukan oleh masyarakat khususnya melalui Program Peningkatan Kualitas

Kinerja pelaksanaan kegiatan di kecamatan selama tahun 2016 secara umum dari sisi kuantitas (% realisasi output) cukup baik, namun dari sisi kualitas terdapat beberapa

Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Provinsi Jawa Barat mengenai Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan

Balai Pengelolaan DAS Remu Ransiki sebagai unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) di provinsi Papua Barat mempunyai

Penyusun juga berupaya untuk menemukan faktor-faktor apa yang mendorong “Tuntutan” ini tetap disuarakan oleh orang Papua Barat, akhirnya penyusun akan memberikan suatu kesimpulan

Propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas dengan berbagai cara, yaitu : [1] pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin

Upaya yang harus dilakukan Dinas Pendapatan (DISPENDA) Propinsi Jawa Barat untuk mencukupi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu dengan meningkatkan daya guna dan