LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN
ANAK DENGAN EDEMA CEREBRI
DI BANGSAL PICU RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA
Disusun Oleh:
SANTO TRI WAHYUDI
06/194809/EIK/00530
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GAJAH MADA
YOGYAKARTA
EDEMA CEREBRI PENGERTIAN
Edema cerebri merupakan peningkatan volume otak yang terjadi akibat injuri, baik secara langsung maupun tidak langsung pada jaringan otak.
ETIOLOGI
Edema cerebri dapat disebabkan karena:
• Cedera kepala
• Stroke
PATOFISIOLOGI
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel-sel syaraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi.
Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg% karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan terjadi gejala. Gejala permulaan disfungsi serebral, pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini menyebabkan asidosis metabolik. Dalam keadaan normal aliran darah serebral (CBF) adalah 50–60 ml/mnt/100gr jaringan otak yang merupakan 16% dari curah jantung/kardiak output (CO).
Edema serebral terjadi sebagai akibat dari perubahan dalam lingkungan sel yang disebabkan oleh kontusio, hilangnya autoregulasi dan peningkatan permiabelitas dinding pembuluh darah. Mumgkin terjadi setempat, terlokalisasi atau hipoksia. Edema serebral dapat dikendalikan dengan oksigenisasi, ventilasi dan tekanan darah.
Hipoksia dapat terjadi melalui:
• Jaringan iskemia pada daerah yang kurang oksigen dan sel menjadi edema.
• Vasodilatasi pembuluh darah otak terjadi sebagai usaha untuyk meningkatkan suplai oksigen ke jaringan otak , dimana keduanya dapat meningkatkan TIK.
Hiperkapnia merupakan penyebab dari vasidolator pambuluh darah otak yang berlebihan, ini terjadi sebagai akibat dari hipoventilasi pada pasien yang tidak sadar akibat volume darah otak meningkat dan meningkatkan TIK.
TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala pada edema cerebri adalah:
• Terjadi atau tidak penurunan kesadaran.
• Kebingungan
• Iritabel
• Mual dan muntah
• Pusing, nyeri kepala
• Kecemasan
• Perubahan motorik dan sensorik
• Perubahan bicara
• Kejang/konvulsi
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Pemeriksaan darah rutin, kimia, elektrolit, gula darah
• CT Scan Kepala
PENATALAKSANAAN
• Observasi keadaan umum pasien
• Monitor tingkat kesadaran
• Kurangi volume darah intracranial
• Hiperventilasi
• Pertahankan fungsi metabolik otak
• Hindarai keadaan yang meningkatkan tekanan intrakranial
• Pemberian obat-obat untuk vaskulerisasi, analgesic, anti edema
ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan antara lain:
1. Riwayat penyakit, saat kejadian, serangannya, lamanya, faktor pencetus dan status kesadaran
2. Status neurology: perubahan kesadaran, nyeri kepala, vertigo, menurunnya refleks, kejang, iretabel, kegelisahan, ukuran pupil refleks terhadap cahaya, hemiparesis, latergi dan coma
3. Statur gastrointestinal: mual dan muntah.
4. Status kardiopulmonal: kesukaran bernafas atau sesak nafas, depresi nafas, nafas lambat, hipotensi, bradikardi
5. Status mental, perubahan perilaku kognitif perubahan fisik pada berbicara dan gerakan motorik.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul:
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler 2. Perfusi jaringan cerebral tidak efektif b.d reduksi mekanis vena atau arteri 3. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan
4. Ketidakseimbangan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme, restriksi cairan dan intake tidak adekuat.
5. Cemas dari keluaraga dan klien berhubungan dengan pengobatan dan perawatan serta adanya perubahan situasi
6. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif. 7. PK : Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK)
Rencana Tindakan
1. Pola Nafas tidak efektif
RENCANA KEPERAWATAN
TUJUAN ( N0C ) INTERVENSI ( NIC )
NOC :
Respiratory status : Ventilation
Respiratory status : Airway patency
Vital sign Status
Kriteria Hasil :
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)
NIC :
Airway Management
• Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
• Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
• Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
• Pasang mayo bila perlu
• Lakukan fisioterapi dada jika perlu
• Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
• Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
• Lakukan suction pada mayo
• Berikan bronkodilator bila perlu
• Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
• Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
• Monitor respirasi dan status O2
Terapi Oksigen
o Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
o Pertahankan jalan nafas yang paten o Atur peralatan oksigenasi
o Monitor aliran oksigen o Pertahankan posisi pasien
o Onservasi adanya tanda tanda hipoventilasi
o Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
Vital sign Monitoring
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor frekuensi dan irama pernapasan Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan abnormal
Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik) Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign 2. Perfusi jaringan cerebral tidak efektif
RENCANA KEPERAWATAN
TUJUAN ( N0C ) INTERVENSI ( NIC )
NOC :
Circulation status
Tissue Prefusion : cerebral
Kriteria Hasil :
mendemonstrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan : Teka nan systole dandiastole dalam rentang yang diharapkan Tida k ada ortostatikhipertensi Tidk
ada tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial (tidak lebih dari 15 mmHg) mendemonstrasikan kemampuan kognitif yang ditandai dengan:
berk
omunikasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan
Peningkatan Perfusi Sereberal (Cerebral Perfusion Promotion)
Definisi: Peningkatan keadekuatan perfusi dan
pembatasan terjadinya komplikasi bagi pasien yang mengalami atau beresiko terhadap ketidakadekuatan perfusi serebral.
• Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan parameter hemodinamisk dan mempertahankan parameter hemodinamis di dalam rentang tersebut.
• Picu terjadinya hipertensi dengan meningkatkan volume atau bahan inotropis atau vasokonstriktor, jika perlu, untuk mempertahankan status hemodinamis dan mengoptimalkan cereberal perfussion pressure (CCP).
• Berikan titrasi obat-obatan vasoaktif, jika perlu, untuk mempertahankan status hemodinamik pasien
• Gunakan bahan-bahan (agents) yang tepat untuk meningkatkan volume intravaskular, jika perlu (contoh: koloid, produk darah, dan kristaloid)
• Gunakan bahan-bahan (agents) yang tepat untuk meningkatkan volume untuk mempertahankan status hemodinamik
• Monitor prothrombim time(PT) dan thromboplastin parsial, jika menggunakan hetastarch sebagai bahan untuk meningkatkan volume
• Gunakan bahan reologis (contoh: Mannitol dosis rendah atau Low Molecular Weight Dextrans
men unjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi mem proses informasi mem
buat keputusan dengan benarmenunjukkan fungsi sensori motori cranial yang utuh : tingkat kesadaran mambaik, tidak ada gerakan gerakan involunter
(LMD)]
• Pertahankan level hematocrit sekitar 33% untuk terapi hemodilusi hipervolemik
• Lakukan phlebotomisasi pada pasien, jika perlu, untuk mempertahankan level hematocrit pada rentang yang diharapkan
• Pertahankan level glukosa serum di dalam rentang normal
• Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan penempatan head of bed (HOB) optimal (sebagai contoh, 0, 15, atau 30 derajat) dan monitorlah respon pasien terhadap posisi kepalanya.
• Hindari tekukan leher atau tekukan pinggul/lutut secara ekstrim
• Pertahankan level pCO2 pada 25 mm Hg atau lebih tinggi
• Berikan calcium channel blocker, sesuai program
• Berikan vasopressin, sesuai program
• Berikan dan monitor pengaruh diuretika osmotik dan loop active serta kortikosteroid
• Berikan obat-obatan untuk rasa sakit, jika perlu
• Berikan obat-obatan antikoagulan, sesuai program
• Berikan obat-obatan antiplatelet, sesuai program
• Berikan obat-obatan thrombolytic, sesuai program
• Monitor prothrombin time (PT) dan partial thromboplastin time (PTT) pasien untuk mempertahankan 1 ½ sampai 2 kali kondisi normal, secara tepat
• Monitor efek samping terapi antikoagulan
• Monitor tanda-tanda perdarahan (MIsalnya: pemeriksaan tinja dan drainase NG untuk darah)
• Monitor status neurologis
• Monitor dan hitung cereberal perfusion pressure (CPP)
• Monitor ICP dan respon neurologis pasien terhadap aktivitas-aktivitas perawatan
• Monitor Mean Arterial Pressure (MAP)
• Monitor Central Venous Pressure (CVP)
• Monitor PAWP dan PAP
• Monitor status pernafasan (missal: kecepatan, ritme, dan kedalaman respirasi: level pO2, pCO2, pH, dan level bikarbonat)
atau suara tambahan lainnya
• Monitor tanda-tanda kelebihan cairan (missal: rhonci, distensi vena jugularis (JVD), edema, dan peningkatan sekresi pulmoner)
• Monitor keadekuatan pengiriman oksigen pada jaringan (sebagai contoh, PaCO2, SaO2,, dan level hemoglobin dan output kardiak), jika tersedia
• Monitor nilai laboratorium yang berkaitan dengan perubahan keseimbangan oksigenasi atau asam-basa, jika perlu
• Monitor input dan out put
• Peripheral Sensation Management (Manajemen sensasi perifer)
• Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas/dingin/tajam/tumpul
• Monitor adanya paretese
• Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada lsi atau laserasi
• Gunakan sarun tangan untuk proteksi
• Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung
• Monitor kemampuan BAB
• Kolaborasi pemberian analgetik
• Monitor adanya tromboplebitis
• Diskusikan menganai penyebab perubahan sensasi 3. Nyeri Akut
RENCANA KEPERAWATAN
TUJUAN ( N0C ) INTERVENSI ( NIC )
NOC :
Pain Level, Pain Control, Comfort Level
Pain : Disruptive Effects
Kriteria Hasil : - Menggunakan skala nyeri untuk mengidentifikasi tingkat nyeri - Melaporkan bahwa NIC :
PAIN MANAGEMENT (Manajemen Nyeri)
Definisi : mengurangi nyeri dan menurunkan tingkat
nyeri yang dirasakan pasien.
Intervensi :
• Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
• Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri. - Melaporkan
kebutuhan tidur dan istirahat tercukupi - Mampu mengguna-kan metode non farmakologi untuk mengurangi nyeri
mengetahui pengalaman nyeri pasien
• Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
• Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
• Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
• Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
• Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
• Kurangi faktor presipitasi nyeri
• Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
• Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
• Ajarkan tentang teknik non farmakologi
• Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
• Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
• Tingkatkan istirahat
• Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
• Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
ANALGETIC ADMINISTRATION (Administrasi Analgesik)
Definisi : penggunaan agen farmakologi untuk
menghentikan atau mengurangi nyeri.
Intervensi :
• Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
frekuensi
• Cek riwayat alergi
• Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu
• Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
• Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
• Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur
• Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
• Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
• Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh: kekurangan intake nutrisi
untuk memenuhi kebutuhan metabolisme
RENCANA KEPERAWATAN
TUJUAN ( N0C ) INTERVENSI ( NIC )
NOC :
Nutritional Status :
Nutritional Status : food and Fluid Intake
Nutritional Status : nutrient Intake
Weight control Kriteria Hasil :
Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
Beratbadan ideal sesuai dengan tinggi badan Mampumengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
NIC :
Nutrition Management
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
Tidk ada tanda tanda malnutrisi
Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi Kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
BB pasien dalam batas normal
Monitor adanya penurunan berat badan Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang
biasa dilakukan
Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
Monitor lingkungan selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan perkembangan Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan
jaringan konjungtiva
Monitor kalori dan intake nuntrisi
Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.
Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet 5. Cemas
RENCANA KEPERAWATAN
TUJUAN ( N0C ) INTERVENSI ( NIC )
NOC : Anxiety control Coping Impulse control Kriteria Hasil : Klien mampu NIC :
Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)
• Gunakan pendekatan yang menenangkan
• Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas Vital sign dalam batas
normal
Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya kecemasan
dirasakan selama prosedur
• Pahami prespektif pasien terhdap situasi stres
• Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
• Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
• Dorong keluarga untuk menemani anak
• Dengarkan dengan penuh perhatian
• Identifikasi tingkat kecemasan
• Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
• Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
• Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
• Barikan obat untuk mengurangi kecemasan
6. PK : Peningkatan TIK
RENCANA KEPERAWATAN
TUJUAN ( N0C ) INTERVENSI ( NIC )
Mengatasi dan
mengurangi episode dari peningkatah tekanan intrakranial.
Memonitor tanda-tanda peningkatan TIK
Intracranial Pressure (ICP) Monitoring (Monitor Tekanan Intra Kranial)
Definisi: pengukuran dan interpretasi data pasien untuk
mengatur tekanan intra cranial. Aktivitas:
• Bantu dengan insersi peralatan monitoring TIK.
• ciptakan informasi kepada keluarga/SO.
• kalibrasi dan tingkatkan transducer.
• irigasi Flush System.
• atur alarm.
• ambil sample drainage cairan serebrospinal (CSS).
• catat hasil pengukuran TIK dan analisis.
• monitor tekanan perfusi serebral.
• catat perubahan respon pasien terhadap stimulus.
• monitor TIK pasien dan respon neurologis terhadap aktivitas perawatan.
• monitor jumlah/angka drainage CSS.
• monitor intake dan output.
• restraint pasien jika perlu.
• monitor selang terhadap gelembung udara.
• ubah transducer/flush system.
• ubah dan atau tingkatkan perawatan pada area insersi sesuai kebutuhan.
• monitor area insersi terhadap infeksi.
• monitor temperature dan WBC.
• cek pasien terhadap adanya kekakuan kuduk.
• berikan antibiotic
• posisikan pasien dengan kepala elevasi 30-40o
dan dengan posisi leher netral.
• kurangi stimulus lingkungan.
• beri jarak kegiatan perawatan untuk mengurangi peningkatan TIK.
• ubah prosedur suksioning untuk meminimalkan peningkatan TIK.
• pertahankan hiperventilasi terkontrol, sesuai order.
• pertahankan tekanan arterial sistemik dalam rentang spesifik.
• berikan agen farmakologis untuk mempertahankan TIK dalam rentang spesifik.
• beritahu dokter terhadap peningkatan TIK yang tidak berespon terhadap protocol pengobatan
7. Resiko infeksi :
RENCANA KEPERAWATAN
TUJUAN ( N0C ) INTERVENSI ( NIC )
NOC : Immune Status Knowledge : Infection control Risk control NIC :
Infection Control (Kontrol infeksi)
• Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
• Pertahankan teknik isolasi
Kriteria Hasil :
Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi Menunjukkan
kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
Jumlah leukosit dalam batas normal
Menunjukkan perilaku hidup sehat
• Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
• Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
• Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kperawtan
• Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
• Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
• Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
• Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
• Tingktkan intake nutrisi
• Berikan terapi antibiotik bila perlu
Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
• Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
• Monitor hitung granulosit, WBC
• Monitor kerentanan terhadap infeksi
• Batasi pengunjung
• Saring pengunjung terhadap penyakit menular
• Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
• Pertahankan teknik isolasi k/p
• Berikan perawatan kuliat pada area epidema
• Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
• Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
• Dorong masukkan nutrisi yang cukup
• Dorong masukan cairan
• Dorong istirahat
• Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
• Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
• Ajarkan cara menghindari infeksi
• Laporkan kecurigaan infeksi
DAFTAR PUSTAKA
Bandini, Nancy Swift, Manual of Nursing, Little Brown And Company, Boston, 1993 Neurological
Carpenito, L.J, 1999, Buku saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8, EGC, Jakarta
Doenges, M.E, Moorhouse, M. F, Geissler, A.C, 1999, Rencana Asuhan
Keperawatan, EGC, Jakarta
NANDA, 2001, Nursing Diagnoses : Definition and Classification 2001 – 2002, Philadelpia
Long, B. c, Phipps, Wj, Esential of Medical Surgical Nursing, CV, Mosby Company, St. Luis. 1985
McCloskey, J.C, Bulechek, G.M, 1996, Nursing Intervention Classification