MAKALAH KAPITA SELEKTA
MAKALAH KAPITA SELEKTA FITOFARMA
FITOFARMAKA
KA
STRATEGI
STRATEGI PEMASARA
PEMASARAN
N
Disusun Oleh : Disusun Oleh :
Abdul
Abdul Azis Azis Arga Arga Yudistira Yudistira (1708062148)(1708062148) Ahmad
Ahmad Faiz Faiz Taimiyah Taimiyah (1708062169)(1708062169) Alvinda
Alvinda Latifatul Latifatul Nisa Nisa (1708062166)(1708062166) Astrit
Astrit Nugraheni Nugraheni (1708062197)(1708062197)
Nurfitriati (1708062153)
Nurfitriati (1708062153)
Rahma
Rahma Delfiyanti Delfiyanti (1708062129)(1708062129) Wahda
Wahda Aqiedaty Aqiedaty (1708062142)(1708062142) Kelas : A Profesi Apoteker XXXV Kelas : A Profesi Apoteker XXXV
Dosen Pengampu : Dr.Nurkhasanah, M.Si., Apt Dosen Pengampu : Dr.Nurkhasanah, M.Si., Apt
PROGRAM PROFESI APOTEKER PROGRAM PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA YOGYAKARTA
2018 2018
DAFTAR ISI DAFTAR ISI
DAFTAR
DAFTAR ISI ISI ... ... ii
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
1.1
1.1 Latar Belakang Latar Belakang ... ... 11 1.2
1.2 Rumusan Rumusan masalah masalah ... ... ... 22 1.3
1.3 Tujuan Tujuan pembelajaran ...pembelajaran ... ... ... 22
BAB II PEMBAHASAN BAB II PEMBAHASAN
2.1
2.1 Pengertian Pemasaran Pengertian Pemasaran ... ... ... 33 2.2
2.2 Strategi Pemasaran .Strategi Pemasaran ... ... 44 2.3
2.3 Bauran Bauran Pemasaran ...Pemasaran ... ... ... 66 2.4
2.4 Analisa Strategi Analisa Strategi Pemasaran ... Pemasaran ... 77 2.5
2.5 Matriks Matriks Strengths-Weakness-Oppotunities-Threats Strengths-Weakness-Oppotunities-Threats (SWOT) (SWOT) ... ... 1010 2.6
2.6 Strategi Pemasaran Produk Herbal Menurut Kepmenkes 381-2007Strategi Pemasaran Produk Herbal Menurut Kepmenkes 381-2007 Kebijakan
Kebijakan Obat Obat Tradisional Tradisional ... ... 1010 2.7
2.7 Strategi Pemasaran Strategi Pemasaran Berdasarkan Prilaku Berdasarkan Prilaku Konsumen ... Konsumen ... 1313 2.8
2.8 Cara Cara Membangun Membangun Merek Merek ... ... ... 1515 2.9
2.9 Skenario ...Skenario ... ... ... 1616
BAB III PENUTUP BAB III PENUTUP
3.1
3.1 Kesimpulan Kesimpulan ... ... 2020 DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANGMenurut Harisudin (2007) pada zaman yang sudah semakin maju dengan teknologinya serta pemikiran masyarakat yang semakin kritis membuat persaingan produk obat herbal terstandar di Indonesia semakin ketat sehingga membuat para
apoteker berfikir untuk dapat membuat inovasi terbaru dalam sediaan obat herbal terstandar. Seiring dengan meningkatnya dinamika lingkungan bisnis maka diperlukan sistem yang lebih responsif terhadap masalah yang semakin kompleks yaitu berupa perencanaan strategi yang juga mempertimbangkan faktor dari luar yang mempengaruhi produk obat herbal terstandar semakin unggul kedepannya. Untuk mencapai tujuan dari produk herbal terstandar harus mempertimbangkan pola-pola dari kecendrungan yang sedang terjadi pada konsumen sebagai pihak yang membeli dan mengkonsumsi produk tersebut serta mendasarkan pada perkembangan teknologi yang memiliki keunggulan kompetitif.
Dalam konteks ini pesaingan bisnis harus dilakukan secara positif sebagai perlombaan untuk selalu menghasilkan dan memberikan nilai tambah yang lebih baik
kepada konsumen. Dalam hal ini konsumen tidak terlalu peduli suatu produk dibuat oleh negara dengan teknologi yang lebih maju tetapi lebih ditekankan pada kegunaan produk tersebut dan keunggulan dari produk tersebut dengan produk pesaing lainnya. Dengan demikian kekuatan utama yang berperan penting dalam melahirkan inovasi-inovasi terbaru dari produk tersebut yaitu untuk menawarkan keunggulannya berasal dari sumber daya manusia dengan berbagai macam riset dan pengembangannya.
Sebagian besar konsumen menilai atribut obat herbal terstandar lebih unggul antara lain informasi yang jelas, kualitas yang tinggi, aman untuk dikonsumsi,
kepraktisan dalam bentuk packaging sediaan, mutu standar dan penyembuhan cepat dengan efek samping yang kecil.
1.2 RUMUSAN MAKALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, permasalahan yang timbul adalah bagaimana strategi pemasaran obat dan cara membangun produk ?
1.3 TUJUAN MASALAH
Berasarkan rumusan masalah tersebut diatas, tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk menjelaskan bagaimana strategi pemasaran obat dan cara membangun produk.
1.4 MANFAAT PEMBUATAN MAKALAH
Adapun manfaat pembuatan makalah ini adalah memberikan pengetahuan bagi pembaca tentang strategi pemasaran obat dan cara membangun produk.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN PEMASARANPemasaran tidak bisa dipahami dengan paradigma lama yang hanya concern pada penjualan- “telling and selling . Pemasaran harus dimaknai dengan paradigma baru yaitu memuaskan kebutuhan konsumen (satisfying customer needs) melalui interaksi dan kerjasama dengan konsumen. Pemasaran dimulai dengan konsumen, berfokus pada konsumen dan bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen
(Sampurno, 2011).
Organisasi pemasaran dan para pemasar harus memahami kebutuhan konsumen, kemudian menyediakan dan menawarkan produk yang dibutuhkan tersebut dengan nilai dan kualitas superior, harga yang layak, distribusi yang luas yang diiringi dengan komunikasi yang efektif dan elegan untuk menarik minat dan menciptakan kegairahan serta kepuasan konsumen terhadap produk tersebut (Sampurno, 2011).
Pemasaran farmasi adalah suatu sub spesialisasi pemasaran dimana pharmaceutical care diaktualisasikan. Orientasi pemasaran farmasi tidak hanya terbatas pada produk tetapi justru memberikan perhatian yang besar pada layanan farmasi yang prima. Ini mengidikasikan bahwa eksistensi pemasaran farmasi adalah memberi kepuasan atas kebutuhan dan keinginan pasien, bukan hanya sekedar menjual produk untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya (Sampurno, 2011).
Konsep pemasaran menegaskan bahwa kunci untuk mencapai sasaran organisasi adalah perusahaan harus menjadi lebih efektif dibanding para pesaing dalam menciptakan, menyerahkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan pada pasar sasaran yang terpilih. Konsep pemasrana berdiri di atas empat pilar yaitu, pasara
sasaran, kebutuhan pelanggan, pemasaran terpadu, dan kemampuan menghasilkan laba (Sampurno, 2011).
Gambar 1. Konsep Inti Pemasaran (Sampurno, 2011)
2.2 STRATEGI PEMASARAN
Untuk memperoleh keunggulan bersaing yang sustainable, perusahaan perlu memiliki rencana strategi yaitu strategi menyeluruh jangka panjang untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan. Rencana strategi adalah proses untuk mengembangkan/membangun dan menjaga “ strategic fit ” antara tujuan organisasi dan kapabilitasnya dan peluang pemasarannya yang terus berubah (Sampurno, 2011).
Pemasaran bukan hanya penjualan dan advertensi tetapi suatu proses yang menyeluruh untuk menyesuaikan perusahaan dengan peluang terbaiknya. Setiap perusahaan harus memiliki kemampuan untuk mempertahankan pasar yang sudah ada sekaligus mampu mengembangkan peluang untuk memperluas pasar baru. Oleh karena itu perusahaan harus melakukan analisis secara seksama baik analisis terhadap konsumen maupun lingkungan bisnis dan industrinya. Perusahaan harus melakukan studi yang cermat pada segmen pasar yang mana mereka dapat memberikan layanan yang terbaiknya sekaligus memperoleh benefit yang paling optimal baik untuk
Laba Melalui Kepuasan Pelanggan Pemasaran Terintegrasi Kebutuhan Pelanggan Pasar Sasaran
konsumen maupun perusahaan. Ada 4 tahap yang perlu dilakukan yaitu (Sampurno, 2011) :
1) Pengukuran dan Peramalan Pasar
Sebelum memasuki pasar yang baru atau meluncurkan produk baru, perusahaan perlu membuat estimasi secara cermat tentang kondisi dan luas pasar yang ada pada dewasa ini dan prospeknya di masa depan. Untuk membuat estimasi market size yang ada pada saat ini diperlukan data-data tentang produk pesaing dan estimasi penjualannya. Berdasarkan estimasi itu dapat diketahui
apakah pasar tersebut cukup memadai atau tidak memiliki prospektif yang baik. 2) Segmentasi
Segmen pasar merupakan kelompok besar yang dapat diidentifikasikan dalam sebuah pasar. Perusahaan yang menetapkan segmented marketing menyadari bahwa pembeli berbeda-beda dalam keinginan, daya beli, lokasi geografis, perilaku pembelian dan juga kebiasaan pembelian mereka. Konsumen yang menjadi bagian dari suatu segmen diasumsikan cukup serupa dalam keinginan dan kebutuhan mereka, namun tidak sama.
3) Identifikasi dan Seleksi Pasar Sasaran
Tahap selanjutnya setelah melakuakan segmentasi pasar adalah memilih pasar sasaran. Pada pasar sasaran inilah seluruh usaha pemasaran diarahkan. Pemilihan pasar sasaran juga akan menentukan bagaimana mengalokasi sumberdaya perusahaan yang diarahkan untuk program pemasaran, setelah melakukan segmentasi maka pemasar dapat memilih target market yang sesuai dengan tahap segmentasi tersebut.
Pemilihan pasar harus mempertimbangkan sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan dan pengalokasian sebaiknya dilakukan pada pasar yang memberikan
keuntungan yang terbesar. Pemilihan pasar yang tidak baik merupakan pekerjaan yang sia-sia dan dapat merugikan perusahaan.
4) Penentuan Posisi
(Positioning)
Strategi positioning merupakan strategi yang berupaya menempatkan suatu merek pada bagian pasar dimana merek tersebut dapat diterima lebih baik daripada merek yang bersaing. Tujuan utama positioning adalah untuk menempatkan produk dipasar sehingga produk tersebut terpisah atau berbeda dengan merek-merek yang bersaing.
2.3 BAURAN PEMASARAN
Bauran adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. alat-alat tersebut menjadi empat kelompok yang luas yang disebut empat P pemasaran yaitu (Kotler, 2005):
A. Produk
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan. Produk dapat berupa uang atau jasa dapat ditawarkan ke dalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki, dimakan atau dikonsumsi sehingga dapat mencakup objek fisik, jasa, orang, tempat, organisasi dan gagasan. B. Harga
Harga adalah jumlah keseluruhan nilai yang dipertukarkan konsumen untuk manfaat yang didapatkan atau digunakan atas produk atau jasa. Harga juga merupakan satu-satunya elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan; elemen-elemen lainnya menimbulkan biaya. Selain itu, harga adalah
suatu elemen bauran pemasaran yang paling fleksibel. Hal ini karena harga dapat diubah dengan cepat, tidak seperti ciri khas (feature) produk dan perjanjian distribusi.
C. Distribusi dan Tempat
Distribusi merupakan kegiatan yang dilakuakn pemasar perusahaan agar produknya dapat sampai ke tangan konsumen. Suatu komoditi dikatakan sebagai
Tanpa pendistribusian yang jelas, pemasaran suatu produk belum dikatakan berhasil. Untuk mendapatkan sistem pemasaran yang strategis, selain merancang produk, menetapkan harga yang sesuai dan didukung suatu promosi yang baik, perusahaan juga harus mentapkan strategi distribusi yang tepat. Saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung yang terlibat dalam proses untuk menjadikan produk atau jasa siap untuk digunakan atau dikonsumsi. Ada beberapa saluran perantara yang bergerak dalam bidang distribusi antar lain agen, penyalur, distributor, pedagang besar dan pengecer. D. Promosi
Promosi adalah berbagai kegiatan yang dilakukan oleh produsen untuk mengkomunikasikan manfaat dari produknya, membujuk dan mengungatkan para pelanggan agar membeli produk tersebut. Perusahaan harus mengalokasikan anggaran promosi diantara lima alat promosi yaitu, periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas, wiraniaga serta pemasaran
langsung. Dalam industri yang sama, beebagai perusahaan dapat sangat berbeda dalam cara mengalokasikan anggaran promosi mereka. Setiap alat promosi memiliki karakteristik dan biaya tersendiri yang unik.
2.4 ANALISA STRATEGI PEMASARAN
Analisis lingkungan perusahaan sangat penting dilakukan karena memberikan kesempatan kepada para perencana strategi untuk melakukan tanggapan pilihan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan. Selain itu, analisis ini bertujuan agar manajemen perusahaan memiliki kemampuan untuk dapat meramalkan perubahan yang mungkin terjadi, sehingga dapat mengantisipasi perubahan tersebut. Aspek diluar perusahaan (eksternal ), biasanya dibagi dalam dua pengelompokan utama. Kelompok pertama sering disebut dengan lingkungan makro, sedangkan kelompok kedua adalah
lingkungan mikro. Elemen-elemen yang ada di dalam lingkungan luar ini saling memberikan pengaruh satu sama lain. Selain itu, elemen-elemen tersebut juga saling berpadu dengan kondisi internal di dalam perusahaan. Pengaruh tersebut pada akhirnya
juga berdampak pada usaha kita mendapatkan, memuaskan dan mempertahankan pelanggan(Sampurno, 2011).
1. Analisa Lingkungan Internal
Lingkungan internal merupakan suatu kondisi yang ada didalam perusahaan. Faktor internal perusahaan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi arah dan tindakan perusahaan yang berasal dari kondisi internal perusahaan. Analisis lingkungan internal perusahaan terdiri atas kelemahan dan kekuatan perusahaan (Yudiaris 2015). Aspek internal yang dikaji merupakan aspek bidang fungsional meliputi, aspek sumberdaya manusia, pemasaran, produksi dan oprasi, keuangan dan akuntansi serta penelitian dan pengembanagan (David, 2006).
Analisa internal adalah analisa internal perusahaan dalam rangka menilai atau mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan dari tiap-tiap divisi antara lain divisi pemasaran, divisi keuangan, produksi atau operasi dan sumber daya manusia (Akdon H, 2006). SAP (Stratetegic Advantage Profile) merupakan teknik analisis internal yang digunakan untuk mengidentifikasi seberapa besar kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan dengan mengukur faktor-faktor internal perusahaan yang mempengaruhi kekuatan dan kelemahan perusahaan tersebut. Faktor-faktor internal dalam perusahaan dapat meliputi program periklanan, merk, saluran pemasaran, harga, pola produk dan lain sebagainya. Identifikasi faktor internal dapat dilakukan dengan melakukan wawancara kepada pihak internal perusahaan, secara tidak langsung melalui quisoner dan juga berdasarkan pengamatan langsung didalam lingkup perusahaan (Iskandar, dkk. 2016)
.
2. Analisa Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal merupakan lingkungan memiliki dampak besar bagi para pelaku lingkungan internal. Lingkungan eksternal terdiri dari lingkungan makro dan mikro. Para pelaku pasar harus memberi perhatian yang besar terhadap
kecenderungan dan perkembangan lingkungan itu serta melakukan penyasuaian sewaktu-waktu atas strategi pemasaran mereka (Kotler, 2005).
a. Lingkungan Makro
Lingkungan makro adalah kekuatan-kekuatan (forces) yang mempengaruhi perusahaan secara tidak langsung. Meskipun pengaruhnya sering tidak langsung, namun biasanya perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya sangat menetukan keputusan pemasaran dalam jangka panjang. Lingkungan makro menggambarkan suatu situasi di luar perusahaan yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan (Kotler, 2005).
1. Lingkungan demografi, terdiri atas umur, pendidikan, pekerjaan, ukuran keluarga, tempat tinggal dan ukuran kota.
2. Lingkungan ekonomi, terdiri atas tingkat inflasi,kecenderungan Produk Domestik Bruto, tingkat pajak, kebijakan moneter, tingkat suku bunga, neraca pembayaran, dan pertumbuhan ekonomi.
3. Lingkungan alam, mengacu pada hubungan antara manusia dan makhluk hidup lainnya dengan udara, tanah, dan air yang mendukung kehidupan mereka
4. Lingkungan teknologi, perlu diperhatikan untuk menghindari keusangan dan mendorong adanya inovasi yang dapat mempengaruhi industri
5. Lingkungan politik dan hukum, dapat menentukan parameter legal dan regulasi yang membatasi operasi perusahaan.
6. Lingkungan sosial budaya, yang dapat mempengaruhi adalag kepercayaan, sikap, opini, dan gaya hidup orang-orang di lingkungan eksternal perusahaan.
b. Lingkungan Mikro
Lingkungan mikro mencakup para pelaku dekat yang terlibat dalam memproduksi, menyalurkan dan memposisiskan tawaran. Pelaku utama dalam lingkungan mikro adalah pelanggan, pesaing, perantar pemasaran dan pemasok. Elemen-elemen dalam lingkungan mikro memiliki pengaruh
2.5 MATRIKS
Strengths-Weakness-Oppotunities-Threats
(SWOT)Matriks Strengths-Weakness-Oppotunities-Threats (SWOT) adalah alat untuk mencocokkan yang penting untuk membantu manajer mengembangkan empat tipe strategi yaitu, SO (menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk memafaatkan peluang eksternal), WO (memperbaiki kelemahan internal dengan memanfaatkan peluang eksternal), ST (menggunakan kekuatan perusahaan untuk menghindari atau mengurangi pengaruh dari ancaman eksternal) dan WT (pengurangan kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal). Kekuatan dan kelemahan merupakan hasil dari komparasi antara perusahaan dengan pesaing. Sedangkan yang disebut dengan opportunity dan threat adalah kesempatan dan ancaman apapun yang akan mempengaruhi naik turunnya bisnis (Sampurno, 2011) .
Unsur ”O” dan ”T” dalam analisa SWOT sangat erat kaitannya dengan konsep usership. Konsep ini terdiri dari tiga unsur yaitu ”user”, ”uses” dan ”usage”. User adalah pemakai produk atau jasa perusahaan. Uses adalah jenis pemakaian, atau dipakai untuk apa saja atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Sedangkan usage adalah frekwensi pemakaian sehubungan dengan uses. Perubahan apapun dilingkungan yang tidak punya pengaruh langsung terhadap usership, maka belum dapat dikatakan sebagai opportunity dan threat . Jadi analisis SWOT sangat erat hubungannya dengan Company- Competitor-Custamer dan Opportunity dan tentu mengamati perubahan dan dampak pada usership custamer (Sampurno, 2011).
2.6 STRATEGI PEMASARAN PRODUK HERBAL MENURUT KEPMENKES NO 381 TAHUN 2007 KEBIJAKAN OBAT TRADISIONAL (Anonim, 2007) 1. Mendorong pemanfaatan sumber daya alam Indonesia secara berkelanjutan untuk
digunakan sebagai obat tradisional demi peningkatan pelayanan kesehatan dan ekonomi.
Sumber daya alam Indonesia harus dimanfaatkan secara optimal untuk pelayanan kesehatan dan ekonomi dengan memperhatikan kelestariannya, yang
a. Pelaksanaan budi daya tumbuhan berdasarkan keunggulan sumber daya biologi masing-masing wilayah dan konservasi sumber daya alam untuk pengembangan obat tradisional dan tujuan lainnya dengan melibatkan
seluruh pemangku kepentingan (stake holder).
b. Pelaksanaan penelitian yang bermanfaat untuk pengembangan obat tradisional dan tujuan lainnya.
c. Penerapan standar bahan baku dan komoditas obat tradisional secara konsisten termasuk obat tradisional asing.
d. Penyiapan peraturan yang tepat untuk menjamin pengembangan obat tradisional
e. Pengembangan dan perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual (HKI) yang berhubungan dengan ramuan obat tradisional asli Indonesia dan hasil pengembangan IPTEK di bidang obat tradisional berbasis sumber daya
hayati Indonesia.
2. Menjamin obat tradisional yang aman, bermutu tinggi dan bermanfaat serta melindungi masyarakat dari penggunaan obat tradisional yang tidak tepat.
Pengawasan dan pengendalian obat tradisional dilaksanakan mulai dari penyiapan bahan baku, produksi hingga ke tangan konsumen, merupakan k egiatan
yang tidak terpisahkan. Untuk mencapai maksud tersebut dilakukan upaya sebagai berikut :
a. Penilaian keamanan, mutu dan khasiat melalui proses pendaftaran, pembinaan, pengawasan dan pengendalian impor, ekspor, produksi, distribusi dan pelayanan obat tradisional merupakan suatu kesatuan yang utuh, dilakukan dengan kompetensi tinggi, akuntabel, transparan dan independen.
b. Adanya dasar hukum dan penegakan hukum secara konsisten, dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran.
d. Pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya sehingga terhindar dari risiko penggunaan obat tradisional yang tidak memenuhi standard dan risiko kesalahgunaan.
e. Penyempurnaan dan pengembangan berbagai standar dan pedoman yang berhubungan dengan mutu obat tradisional.
3. Tersedianya obat tradisional yang memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam pelayanan kesehatan formal.
Salah satu masalah belum dimanfaatkannya obat tradisional secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam pelayanan kesehatan formal adalah sebagian besar khasiat obat tradisional belum teruji secara ilmiah. Oleh karena itu perlu dilakukan melalui upaya sebagai berikut :
a. Penerapan penelitian yang dapat dipercaya tentang khasiat dan efek yang tidak diinginkan dari obat tradisional yang diarahkan pada obat tradisional yang memiliki keunggulan rasio biaya-efektivitas.
b. Penyiapan peraturan yang mendorong diterimanya obat tradisional yang telah terbukti khasiatnya kedalam pelayanan kesehatan formal.
c. Pelaksanaan promosi dan advokasi penggunaan obat tradisional
d. Pelaksanaan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan tenaga pengumpul dan produksi obat tradisional
e. Peningkatan kerjasama internasional di bidang teknis dan pertukaran pengetahuan obat tradisional
f. Koordinasi antara instansi yang berwenang dalam hal menangani tumbuhan obat, terutama dalam tukar menukar informasi menyangkut data spesies tumbuhan obat yang ditemukan dari hasil survei.
4. Mendorong perkembangan dunia usaha di bidang obat tradisional yang bertanggung jawab agar mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan
Perkembangan dunia usaha di bidang obat tradisional merupakan tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan dibidang obat tradisional yaitu, pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya sebagai berikut :
a. Penyiapan peraturan yang tepat untuk menjamin perkembangan dunia usaha obat tradisional. (diganti : peningkatan kerjasama dan koordinasi antar berbagai pemangku kepentinga berdasarkan azas tata kelola yang baik (Good
Governance).
b. Pemberian insentif melalui kebijakan perpajakan (usul : pemberian insentif dan kemudaha pada pengembangan usaha obat tradisional dengan memperhatikan keterjangkauannya oleh masyarakat).
c. Penyederhanaan pelaksanaan proses perizinan (diganti : penciptaan iklim yang kondusif bag pengembagan usaha obat tradisional dengan memperhitungkan perkembangan pasar global regional dan lokal)
d. Peningkatan promosi obat tradisional melalui pameran dan ekspo di tingkat nasional dan internasional (usul : peningkatan promosi obat tradisional di pasar Internasional dengan memanfaatkan berbagai perkembangan teknologi
komunikasi).
e. Berperan aktif dalam harmonisasi peraturan dan standar di bidang obat tradisional di tingkat regional dan internasional.
5. Peningkatan promosi obat tradisional melalui pameran dan ekspo di tingkat nasional dan internasional.
2.7 STRATEGI PEMASARAN BERDASARKAN PRILAKU KONSUMEN
Perilaku konsumen adalah suatu studi tentang proses pengambilan keputusan oleh konsumen dalam memilih, membeli, memakai serta memanfaatkan produk, jasa, gagasan atau pengalaman dalam rangka memuaskan kebutuhan dan hasrat mereka (Rangkuti, 2009). Pengertian perilaku konsumen menurut Shiffman dan Kanuk (2008) adalah perilaku yang diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli,
diharapkan dapat memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan. Perilaku konsumen adalah proses seorang pelanggan dalam membuat keputusan membeli, juga untuk menggunakan dan mengonsumsi barang-barang dan jasa yang dibeli, juga termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian dan menggunakan produk.
Strategi pemasaran diarahkan untuk meningkatkan frekuensi perilaku konsumen, seperti peningkatan kunjungan atau pembelian. Peningkatan ini dapat dicapai dengan mengembangkan dan menyajikan bauran pemasaran yang diarahkan pada target pasar yang dipilih. Untuk memahami konsumen dan mengembangkan strategi pemasaran yang tepat produsen harus memahami apa yang konsumen pikirkan, apa yang konsumen rasakan, apa yang konsumen lakukan, serta kejadian apa yang mempengaruhi pemikiran konsumen. Strategi pemasaran bukan hanya disesuaikan dengan konsumen, tetapi mengubah apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh konsumen tentang diri mereka sendiri, tentang berbagai macam tawaran pasar, serta tentang situasi yang tepat untuk pembelian dan penggunaan produk.
Dalam pembahasan perilaku konsumen, terdapat banyak pengaruh yang mendasari seseorang mengambil keputusan pembelian suatu produk/jasa yang harus dipelajari oleh pasar. Pada kebanyakan orang, perilaku konsumen seringkali diawali dan dipengaruhi oleh rangsangan dari dalam dirinya, kemudian diikuti rangsangan dari lingkungan. Rangsangan tersebut kemudian diproses (diolah) dalam diri, sesuai dengan karakteristik kepribadiannya, sebelum diambil keputusan pembelian. Karakteristik pribadi konsumen yang digunakan untuk memproses rangsangan sangat komplek dan salah satunya adalah motivasi konsumen untuk membeli (Phillip dan Gary, 2007).
Menyadari bahwa perilaku konsumen dalam pasar global yang amat kompetitif sekarang ini, maka menejemen bisnis harus mampu melakukan analisis perilaku konsumen dalam membeli suatu produk tertentu dalam pasar global. Tingkat pengetahuan konsumen dapat diukur dengan cara yang bersangkutan diminta
bantuan melihat iklan yang sesungguhnya, dan dengan menggunakan pancingan/ stimulan. Dalam hubungannya dengan pemasaran, maksud konsumen diketahui dengan menggunakan pertanyaan mengenai produk tertentu yang jawabannya dapat menunjukkan rencana untuk membeli produk yang ditanyakan tersebut.
Saat ini, masyarakat cenderung mengikuti era back to nature sehingga banyak industri bersaing untuk memasarkan produk herbalnya. Pada akhirya produk herbal menjamur di masyarakat dan mempengaruhi perilaku konsumen, Pada sebuah penelitian, konsumen lebih menyukai sediaan herbal berbentuk kapsul dibandingkan dengan bentuk lain seperti puyer atau cairan. Responden yang menyukai mengkonsumsi jenis obat herbal berbentuk kapsul 68,1%. Hal ini dikarenakan obat herbal yang berbentuk serbuk atau ekstrak tanaman obat biasanya rasanya sangat pahit, untuk mengurangi rasa inilah digunakan kapsul atau lapisan yang menutupi
obat herbal (Ismarani, 2013).
2.8 CARA MEMBANGUN MEREK
Cara membangun merek yang kuat tidak berbeda dari membangun sebuah rumah. Untuk memperoleh bangunan rumah yang kukuh, kita memerlukan fondasiyang kuat. Begitu juga dengan membangun dan mengembangkan merek. Iamemerlukan fondasi yang kuat. Caranya adalah:
1. Memiliki Positioning (Penepatan posisi) yang tepat
Merek dapat di-positioningkan dengan berbagai cara, misalnya dengan menempatkan posisinya secara spesifik dibenak pelanggan. Membangun positioning adalah menempatkan semua aspek dari brand value (termasuk manfaat fungsional) secara konsisten sehingga selalu menjadi nomor satu di benak pelanggan. Keberhasilan positioning adalah tidak sekedar menemukan kata kunci atau ekspresi dari core-benefit suatu merek, tetapi lebih jauh lagi, Menjembatani keinginan dan harapan pelanggan sehingga dapat memuaskan pelanggan.
2. Memiliki brand Value yang tepat.
Brand value adalah keindahan warna serta model pakaian tersebut. Brand value membentuk brand personality. Brand personality lebih cepat berubah dibandingkan brandpositioning, karena barand personality mencerminkan gejolak perubahan selera
konsumen.
3. Memiliki Konsep yang tepat.
Tahap akhir untuk mengkomunikasikan brand value dan positioning yang tepat kepada konsumen harus didukung oleh konsep yang tepat. Pengembangan konsep merupakan proses kreatif, karena berbeda dari positioning, konsep dapat terus-menrus berubah sesuai dengan daur hidup produk yang bersangkutan. Konsep yang baik
adalah dapat mengkomunikasikan semua elemen-elemen brand value dan positioning yang tepat, sehingga brand image dapat terus-menerus ditingkatkan.
2.9 SKENARIO
2.1 Permasalahan: Strategi pemasaran produk OHT kapsul daun tempuyung sebagai peluruh batu ginjal dan cara membangun merek.
2.2 Penyelesaian:
Dari pemaparan diatas strategi pemasaran yang digunakan untuk produk ini mengacu pada beberapa hal yaitu minat konsumen, daya saing pemasaran obat herbal, memperhatikan faktor eksternal dan internal serta regulasi yang ada. Strategi pemasaran dapat dilakukan dengan bauran permasalahan. Bauran permasalahan
merupakan kumoulan strategi yang terdiri dari : Product, Price, Place dan Promotion. A. Produk
1. Sonchi Kaps
2. Inovasi produk seperti desain, logo dan wadah dibuat semenarik mungkin dengan variasi volume ( 30 dan 60) kapsul.
3. Meningkatkan dan mempertahankan mutu dari sediaan tersebut sehingga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap Sonchi Kaps
B. Harga
Harga Sonchi Kap yang ditawakan untuk kemasan kecil (30 Kapsul) Rp60.000.00 dan untuk ukuran besar (60 Kapsul) Rp110.000.00. Harga ini disesuaikan dengan pangsa pasar agar terjangkau oleh semua kalangan. Untuk menarikan konsumen lebih banyak produsen menawarkan discount kepada distributor dalam jumlah tertentu.
C. Tempat
Lokasi Pemasaran yang dipilih adalah apotek sebagai salah satu sarana pemasaran obat.
D. Promosi dan Strategi Membangun Merek
Untuk memperkuat pemasaran dilakukan dengan pembuatan iklan yang menarik, seperti :
1. Media cetak (poster dan X banner akan diletakkan di apotik, serta baliho yang dipasang di jalan raya mengingat tingginya mobilitas masyarakat.
2. Media Sosial
3. E vent
Bebarapa event diikuti oleh produsen untuk mengenalkan produk kepada masyarakat contohnya peringatan hari kesehatan nasional, jalan sehat dan lain-lain.
Produsen juga membuat tag line untuk Sonchi Kaps dengan selogan tersebut diharapkan Sonchi kaps lebih dikenal oleh masyarakat.
Gambar 2. Botol Sonchi Kaps (Isi : 60 kaps)
Gambar 3. Sonchi Kaps
Selain analisis 4 P dilakukan juga analisis SWOT. Analisa ini digunakan untuk melihat suatu produk yang dibandingkan dengan produk pesaing berdasarkan kondisi dan kecendrungan pasar atau farktor eksternal dan internal.
A. Strengths (S)
1. Tersertifikasi Halal oleh MUI
2. Khasiat produk yang telah lulus uji keamanan dan praklinik 3. Efek samping yang rendah
4. Citra atau image perusahaan baik
5. Kontinuitas pasokan bahan baku dan bahan pembantu B. Weaknesses (W)
2. Tidak ada inovasi sediaan C. Opportunities (O)
1. Cakupan pemasaran yang luas 2. Daya beli masyarakat yang tingggi
3. Kecendrungan masyarakat “ back to nature”
4. SDM yang berpengalaman dan Bahan baku yang berlimpah 5. Memiliki mitra kerja yang baik
D. Threats (T)
1. Banyaknya pesaing
2. Perubahan teknologi yang cepat
3. Peningkatan harga BBM, tarif listrik dan tarif telfon 4. Adanya regulasi yang baru
Dari analisis 4 P dan SWOT kita dapat menentukan strategi pemasaran yang baik sebagai berikut :
1. Mempertahankan citra atau image perusahaan
2. Mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk
3. Meningkatkan jumlah dan jenis produk dengan meningkatkan diversifikasi produk
4. Memperluaskan daerah pemasaran ke pasar baru 5. Memperbaiki jalur distribusi
6. Meningkatkan kegiatan promosi 7. Pengembangan sumber daya manusia 8. Meningkatkan pengendalian mutu
9. Menerapkan teknologi yang lebih canggih
Alternatif strategi di atas merupakan strategi jangka panjang yang dapat diterapkan di perusahaan.
BAB III
PENUTUPAN
3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan analisa 4 P dan SWOT disimpulkan bahwa strategi pemasaran untuk produk Sonchi kaps yaitu mempertahankan citra atau image perusahaan, mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk, meningkatkan jumlah dan jenis produk dengan meningkatkan diversifikasi produk, memperluaskan daerah pemasaran ke pasar baru, memperbaiki jalur distribusi, meningkatkan kegiatan promosi, pengembangan sumber daya manusia, meningkatkan pengendalian mutu, menerapkan
teknologi yang lebih canggih. Sedangkan untuk membangun merek produsen menggunakan tag line “ Sehat Bersama Sonchi Kaps”.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Kebijakan Obat Tradisional Nasional. Jakarta: Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 381.
Akdon H, Wahyudi, 2006. Manajemen Konflik dan Organisasi. Bandung: Alfabeta, Anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).
David, F.R. 2006. Manajemen Strategi : Konsep. Edisi Kesepuluh. Jilid 1. Jakarta: Salemba Empat.
Harisudin, M. 2007, Strategi pengembangan produk pada industri kecil obat tradisional di Indonesia serta peran pemerintah dalam pengembangannya, KONPERNAS PERHEPI,5:33-39.
Iskandar, Selly Atriani, Arief Daryanto Dan Dodik Ridho Nurrochmat. 2016. Strategi Pemasaran Produk Olahan Jahe Merah (Studi Kasus Pada Pt Performa Qualita Mandiri). Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Vol. 3 No. 2, Agustus 2016: 162-173 ISSN : 2355-6226
Ismarani. 2013. Kajian Persepsi Konsumen Terhadap Penggunaan Obat Herbal. Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Wilayah. Vol. 4 No. 2.
Kotler, P. 2005. Manajemen Pemasaran. Edeisi Kesebelas. Jilid 1 dan 2. Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia.
Phillip dan Gary. 2007. Principle of Marketing . Surabaya: Erlangga.
Rangkuti, Freddy. 2009. Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisis Kasus Integrated Marketing Communication. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama .
Sampurno. 2011. Manajemen Pemasaran Farmasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Schiffman dan Kanuk. 2008. Perilaku Konsumen. Jakarta: PT Macanan Jaya Cemerlang.
Yudiaris, I.G. 2015. Analisis Lingkungan InternalDan Eksternal dalam Menghadapi Persaingan Bisnis pada CV. Puri Lautan Mutiara. Jurnal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Ganesha. Vol 5(1) 2015 pp: 1-9.