1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Profesionalitas GuruDalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu untuk meningkatkan kualitas manusia indonesia. Guru dituntut untuk memiliki kualitas akademik, berkompeten dan profesional. Ada kompetensi yang harus dikuasai Guru profesional yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Selain itu dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran seorang guru juga mampu menjadi model yang bisa diteladani oleh siswanya. kemampuan psikomotorik juga harus dimiliki guru, berarti guru dituntut memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mengimpletasikan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Zahroh (2015:43) Bahwa:
“ Profesionalitas guru adalah kualitas guru yang memiliki kemampuan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan baik yang didukung dengan kemampuan maksimal”.
Jadi seorang guru harus profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
2
Dari beberapa pernyataan diatas penulis berpendapat bahwa profesi, profesional dan profesionalitas sangat erat hubungannya, artinya seseorang yang profesional maka akan bertindak sesuai komitmen pada profesinya untuk selalu mengadakan pengembangan strategi dalam rangka meningkatkan sikap profesionalnya (profesionalitas).
2.1.1. Karakteristik Guru Profesional
Seorang guru profesional harus mempunyai karakteristik yang mampu meningkatkan mutu pendidikan, Zahroh (2015:45) mengemukakan:
“seorang guru dapat dikatakan Profesional manakala memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: Kemampuan intelektual yang diperoleh melalui pendidikan, Memiliki pengetahuan spesialisasi, Memiliki teknik kerja yang dapat dikomunikasikan, Memiliki kode etik, Budaya profesional”
hampir sama pendapat zahroh, daryanto berpendapat lebih spesifik lagi, Daryanto (2013:18) menyatakan Profesionalitas guru didukung oleh tiga hal yang amat sangat penting, tiga hal tersebut adalah keahlian, komitmen dan ketrampilan.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut penulis menyimpulkan karakteristik guru profesional adalah seseorang yang mempunyai intelektual, keahlian, dan keterampilan pada bidang pendidikan.
3
2.1.2. Kompetensi Profesional Guru
Guru merupakan agen pembelajaran yang mana harus mempunyai kemampuan dalam melaksanakan tugasnya. Semangat dan idealisme dan kinerja yang tinggi disertai rasa tanggung jawab ciri guru profesional. Kompetensi guru perlu ditingkatkan secara terprogram, berkelanjutan melalui berbagai sistem pembinaan profesi, sehingga dapat meningkatkan kemampuan guru.
Sebagaimana diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang sekarang telah diubah menjadi PP No.32 Tahun 2013. empat jenis kompetensi guru tersebut, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.
Salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru profesional adalah kompetensi dalam penyusunan program rencana pelaksanaan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan Permendiknas No 41 tahun 2007 tentang standar proses. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dijabarkan dari silabus digunakan untuk kegiatan belajar peserta didik dalam upaya pencampaian kompetensi dasar. Seorang guru berkewajiban menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran secara maksimal.
4
Rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai Permendiknas No 41 Tahun 2007 mencangkup antara lain: identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran yang terdiri dari pendahuluan, inti (eksplorasi,elaborasi dan konfirmasi), penutup (kesimpulan, penilaian). Sedangkan pada pelaksanaannya adalah pengimplementasi dari rencana pelaksanaan pembelajaran diatas.
Ini sesuai Indikator profesionalitas dalam pendapat Usman (2006:17) yaitu : 1) menguasai landasan pendidikan, 2) menguasai bahan pengajaran, 3) menyusun program pengajaran, 4) menilai hasil dan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dijelaskan guru yang profesional harus menguasai bahan pengajaran dan penyusunan program pengajaran, menilai pelajaran.
Arikunto (2006:239) menyatakan bahwa:
“kompetensi profesional berarti Guru harus memiliki pengetahuan yang luas serta dalam tentang subject matter (bidang studi) yang akan diajarkan, serta penguasaan metodologi dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu memilih metode yang tepat, serta mampu menggunakan dalam proses belajar mengajar”.
Menurut Suyanto (2013:43) menyatakan
“kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang harus dikuasai guru mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan subtansi keilmuan yang
5 menaungi materi, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuan”.
Berdasarkan uraian-uraian diatas penulis berpendapat bahwa kompetensi profesional guru dapat diartikan penguasaan serangkaian kompetensi pada bidang keilmuan berupa kemampuan pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial yang dapat di implementasikan pada kegiatan pengajaran.
2.1.3. Profesionalitas Guru dalam Pembelajaran
Dalam pembelajaran guru kadang hanya menganggap mengajar sebagai pekerjaan rutin saja sehingga keadaan belajar dikelas tidak menarik dan membosankan seharusnya mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menarik dan menyenangkan juga menciptakan kegiatan belajar yang lebih bermutu, Menurut Zahroh (2015:237) penerapan profesionalitas guru penting sekali dalam kegiatan pembelajaran disekolah. Guru dikatakan profesional manakala guru tersebut mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu bersaing sesuai dengan tuntutan zaman modern saat ini. Untuk mewujudkan itu semua, guru harus mampu mendongkrak kualitas dalam pembelajaran oleh karena itu, penerapan pembelajaran dioptimalkan sedemikian rupa sehingga mampu mewujudkan tujuan pendidikan secara sempurna. Agar memperoleh hasil yang maksimal, proses tersebut harus dilakukan dengan sadar dan
6
sengaja serta terorganisasi dengan baik sehingga akan diperoleh kualitas pembelajaran yang maksimal.
Peningkatan kualitas pembelajaran menjadi dambaan semua guru. Adanya peran aktif dari seluruh komponen akan mewujudkan pembelajaran yang memang benar-benar bermutu dan juga berkualitas.
Menurut Suyanto (2013:1-2) sebagai tenaga pengajar, setiap guru harus memiliki kemampuan profesional dalam bidang pembelajaran. Dengan kemampuan tersebut, guru dapat melaksanakan perannya sebagai berikut: Fasilitator, Pembimbing, Penyedia lingkungan, Model, Motivator, Agen perkembangan kognitif, Manajer.
Berdasarkan uraian-uraian diatas penulis berpendapat bahwa profesionalitas guru dalam pembelajaran adalah guru dapat mejalankan perannya seperti yang telah dijelaskan di atas. Selain itu guru juga harus memiliki kemampuan penguasaan materi secara runtut sesuai dengan program yang telah dicanangkan, serta dapat memberikan penilaian terhadap proses dan hasil pembelajaran.
2.2. Kepemimpinan Kepala Sekolah
Didalam kehidupan selalu dibutuhkan seorang pemimpin baik dilingkungan keluarga, masyarakat, sekolah maupun berbangsa ada beberapa pengertian tentang pemimpin dan kepemimpinan . Pemimpin
7 adalah orang yang paling berorientasi hasil, dimana hasil tersebut akan diperoleh jika pemimpin mengetahui apa yang dinginkannya, Priansa dan somad (2014:185). Berarti hasil yang diharapkan akan didapat jika pemimpin itu mengetaui apa yang diinginkan sedangkan purwanto menekankan pada sifat- sifat seorang pemimpin agar yang dipimpin yakin akan pemimpinya.. Sedangkan menurut Usman (2014:312) Kepemimpinan ialah ilmu dan seni memengaruhi orang atau kelompok untuk bertindak seperti yang diharapkan untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien. pendapat Usman kepemimpinan adalah sebuah seni untuk mempengaruhi orang lain ini juga sama seperti pendapat Mulyasa.
Mulyasa (2012:107) menyatakan Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi.
Sedangkan Menurut Priansa dan Somad (2014:185) pemimpin dalam lingkungan sekolah adalah
“seseorang yang berorientasi terhadap kemajuan sekolah, dimana ia merupakan pionir, yang memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakan seluruh sumberdaya sekolah yang mencapai visi dan melaksanakan misi sekolah”.
Seorang pemimpin disekolah harus mengetahui visi dan misi sekolah dan dapat memajukan sekolah .
8
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang baik adalah kepemimpinan yang efektif, dengan melibatkan segala potensi baik potensi diri maupun potensi sekitar serta dapat menjadi pengayom bagi para warga sekolah dalam perwujudan visi dan misi yang telah ditetapkan.
2.2.1 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah
Kepala sekolah mempunyai peran dan fungsi yang penting disekolah dan menjadi faktor penentu proses pembelajaran yang berada disekolah.
Menurut Priansa dan Somad (2014:186) fungsi pokok seorang pemimpin yang dapat menciptakan sekolah yang efektif adalah:
“Task Related/Problem solving Functio artinya Kepala sekolah harus memberikan saran dan mampu memecahkan berbagai masalah yang muncul, serta memberikan sumbangan informasi dan pendapat bagi segala permasalahan yang muncul dilingkungan sekolah, Group Maintenance function/social function dalam hal ini Kepala sekolah membantu sumber daya yang ada disekolah agar mampu beroperasi dengan lebih optimal. Kepala sekolah memberikan persetujuan atau menjadi pelengkap bagi kepentingan guru, staf, pegawai lainnya yang ada disekolah. Misalnya menjembatani kelompok guru atau Kepala sekolah membantu sumber daya yang ada disekolah agar mampu beroperasi dengan lebih optimal. Kepala sekolah memberikan persetujuan atau menjadi pelengkap bagi kepentingan guru, staf, pegawai lainnya yang ada disekolah. Misalnya menjembatani kelompok guru atau staf administrasi sekolah yang sedang berselisih pendapat. staf administrasi sekolah yang sedang berselisih pendapat”.
9 Kepala sekolah yang efektif merupakan pemimpin yang mampu mengkombinasikan kedua fungsi tersebut dengan optimal.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Nomor tahun 162 Tahun 2003 tentang Pedoman Penugasan Guru sebagai kepala sekolah disebutkan bahwa tugas kepala sekolah sebagai berikut: Kepala sekolah sebagai educator (Pendidik), Kepala sekolah sebagai Manager (Manager),Kepala sekolah sebagai administrator, Kepala sekolah sebagai supervisor, Kepala sekolah sebagai pemimpin (leader). Kepala sekolah sebagai pengusaha (Entrepreneur), Pencipta iklim (Climator Maker).
Kepala sekolah sebagai climator Kepala sekolah maker harus mampu menyusun berbagai rencana kerja dan menuangkan dalam bentuk perangkat kerja yang dilaksanakan dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan. Iklim yang kondusif akan membantu terwujudnya stabilitas kerja yang tinggi yang pada akhirnya pencapaian berbagai rencana kerja berbagai rencana kerja yang telah disusun sebelumnya menjadi efektif dan efesien. Berdasarkan uraian diatas penulis berpendapat terdapat 7 tugas pokok seorang kepala sekolah yaitu educator, manager, administrator, supervisor, leader, entrepeneur, dan climate creator. tugas-tugas tersebut sering disebut EMASLEC.
10
Menurut Priansa dan Somad (2014:53 )EMASLEC merupakan
“Penyempurnaan dari tugas kepala sekolah sebelumnya yaitu, sebagai educator, manager, administrator, supervisor, inovator, motivator atau disingkat dengan EMASLIM”.
2.3. Supervisi
Tugas kepala sekolah selain sebagai pendidik, manajer, juga sebagai supervisor, supervisi penting dilakukan dengan tujuan perbaikan pengajaran menurut
Muslim (2010:41) menyatakan:
“supervisi dapat diartikan serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan profesional yang diberikan oleh supervisor (kepala sekolah) guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar”.
Ini berarti layanan profesional oleh guru kepada siswa melalui kepala sekolah pendapat ini hampir sama dengan pendapat suhardan, menurut Suhardan (2010:36) menyatakan
“supervisi adalah pengawasan profesional dalam bidang akademik, dijalankan berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan tentang bidang kerjanya, memahami tentang pembelajaran lebih mendalam dari sekedar pengawas biasa”.
Selanjutnya Menurut Purwanto (2010:76) Bahwa: “supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan dan direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif”.
Jadi Purwanto menegaskan tentang pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah sehingga membantu
11 guru dalam melakukan pembelajaran secara efektif itu yang disebut supervisi
Menurut Soetjipto (2009:233) supervisi yaitu semua usaha yang dilakukan oleh supervisor untuk memberikan bantuan kepada guru dalam memperbaiki pengajaran. Dengan bantuan kepala sekolah guru dapat memperbaiki pengajaran dan meningkatkan keprofesionalnya sebagai seorang pendidik.
Hartoyo (2006:47) menyatakan bahwa:
“supervisi adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang supervisor untuk membantu orang lain yang disupervisi agar dapat menemukan solusi atas permasalahan atau kendala yang dijumpai untuk meningkatkan profesionalisme dan kinerja mereka”.
Dari beberapa pengertian supervisi yang telah dipaparkan kita dapat melihat bahwa antara, Muslim, Suhardan, Purwanto, Hartoyo memiliki persamaan pendapat mengenai definisi dari supervisi yang ada pada intinya mereka menuliskan supervisi sebagai membantu guru agar menjadi guru yang profesional.
Dari beberapa pernyataan diatas peneliti dapat memberi pendapat bahwa supervisi adalah kegiatan pemantauan, dan pembinaan kepada para guru yang dilakukan oleh supervisor baik kepala sekolah maupun pengawas sekolah yang bertujuan untuk meningatkan kinerja dan profesionalitas para guru.
12
Adapun fungsi dari adanya supervisi pendidikan menurut Imron (2011:12) adalah menumbuhkan iklim bagi perbaikan proses dan hasil belajar melalui serangkaian upaya supervisi terhadap guru-guru dalam wujud layanan profesional. Berarti dijelaskan fungsi supervisi pada intinya perbaikan proses dan hasil belajar.
Kemudian Purwanto (2010:86) menjelaskan bahwa : fungsi-fungsi pendidikan yang sangat penting diketahui kepala sekolah adalah Dalam bidang kepemimpinan, Dalam hubungan kemanusiaan, Dalam pembinaan proses kelompok, Dalam bidang administrasi personel, Dalam bidang evaluasi
Jadi sejalan dengan pemikiran purwanto penulis berpendapat bahwa dalam melaksanakan supervisi kelima fungsi-fungsi supervisi harus diterapkan agar kegiatan supervisi efektif artinya kegiatan supervisi yang dilaksanakan agar tujuan utama supervisi memperbaiki kualitas pengajaran tercapai, haruslah ditujukan untuk menumbuhkan motivasi dan mengembangkan potensi guru untuk bekerjasama mengembangkan usaha perbaikan mutu pendidikan dengan melihat data objektif permasalahan yang ditemui dalam suasana yang akrab dan penuh kehangatan sehingga diharapkan dengan adanya supervisi mampu mengkondisikan profesionalitas guru dengan sebenarnya.
13 Menurut Sagala (2010:95) prinsip supervisi antara lain adalah ilmiah yang berarti sistematis dilaksanakan secara tersusun, kontinyu,teratur, objektif, demokratis, kooperatif, menggunakan alat, kontruktif dan kreatif.
Berdasarkan pendapat tersebut, maka bisa dikatakan bahwa dalam pelaksanaan supervisi, supervisor hendaknya memiliki prinsip ilmiah (scientific), demokratis, kooperatif serta konstruktif dan kreatif sehingga proses pembelajaran menjadi lebih kondusif.
2.3.2 Supervisi Akademik
Ada beberapa pendapat tentang supervisi akademik Menurut Mulyasa (2013:249) supervisi akademik adalah bantuan profesional pada guru, melalui siklus perencanaan yang sistemati, pengamatan yang cermat, dan umpanbalik yang objektif dan segera Mulyasa menerangkan dengan proses siklus sehingga supervisi lebih sistematis. Sedangkan Menurut Suhardan (2010:47) supervisi akademik yang menitik beratkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik, yaitu hal-hal yang langsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu. Berarti seorang supervisor harus menguasai masalah-masalah akademik dalam kegiatan pembelajaran.
Menurut Muslim (2013:68) seorang supervisor harus memiliki kompetensi teknis khususnya bidang
14
akademik berkaitan dengan pekerjaan orang-orang yang disupervisi
Berdasarkan beberapa pendapat diatas penulis memberikan pendapat bahwa supervisi akademik adalah serangkaian aktivitas terstruktur pada bidang akademik baik dalam hal waktu maupun aktivitas yang dilakukan oleh supervisor kepada guru, berkaitan dengan pengembangan potensi diri sebagai profesional kerja demi tercapainya tujuan pembelajaran.
2.3.3 Tujuan Supervisi Akademik
Mulyasa (2013:249) yang menyatakan tujuan utama supervisi akademik adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran yang baik. Pembelajaran yang baik untuk meningkatkan profesionalitas guru dijabarkan lagi oleh Muslim (2010:42) secara umum tujuan supervisi yaitu
“Membantu guru dalam mencapai tujuan pendidikan, membimbing pengalaman mengajar guru, memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar siswa, membina moral kerja, menyesuaikan diri dengan masyarakat dan membina sekolah atau madrasah”.
Menurut Glickman dalam Priansa dan Somad (2014:109) menyatakan bahwa tujuan supervisi akademik digambarkan melalui gambar
15 Gambar 2.1 Tujuan Supervisi Akademik 1. Membantu Guru mengembangkan
kompetensinya. Seorang guru harus bisa mengembangkan kemampuan profesionalnya melalui Supervisi akademik dalam pembelajaran. 2. Mengembangkan Kurikulum.
Mengembangkan kurikulum melalui supervisi akademik dilakukan untuk memonitor kegiatan belajar mengajar
3. Mengembangkan kelompok kerja guru serta membimbing penelitian tindakan kelas (PTK). Melalui Supervisi akademik dilakukan untuk mendorong melaksanakan tugas-tugas mengajarnya, mendorong guru mengembangkan kemampuanya dalam menulis penelitian tindakan kelas.
2.3.4. Teknik-Teknik Supervisi Akademik
Kemampuan guru harus diperbaiki untuk peningkatan proses pembelajaran dan prestasi belajar anak meningkat.tugas kepala sekolah salah satunya
16
sebagai supervisor, yang tugasnya mensuvervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. menurut Purwanto (2008:120) supervisi dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan tujuan agar apa yang diharapkan bersama dapat menjadi kenyataan, secara garis besar cara atau teknik supervisi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu teknik perseorangan dan teknik kelompok.
Gambar 2.2 Teknik Supervisi 1. Teknik Individual
Teknik supervisi individual menurut Sahertian dalam Priansa dan Somad (2014:99) adalah teknik yang
TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK SUPERVISI PERSEORANGAN SUPERVISI KELOMPOK 1. Kunjungan Kelas (Classroom Visitation) 2. Observasi Kelas 3. Pertemuan Individual 4. Kunjungan antar kelas 1. Supervisi Rapat Guru 2. Diskusi Kelompok 3. Panataran-Penataran
17 digunakan pada pribadi yang mengalami masalah khusus dan memerlukan bimbingan sendiri dari kepala sekolah. Teknik supervisi individual biasanya pembinaanya secara individual dilakukan oleh kepala sekolah, Teknik-teknik supervisi yang bersifat individual antara lain:
a. Kunjungan Kelas (classroom visitation)
Menurut Purwanto (2008:120) bahwa kunjungan kelas ialah kunjungan sewaktu-waktu yang dilakukan oleh seorang supervisor (kepala sekolah, penilik, pengawas) untuk mengamati seorang guru yang sedang mengajar. Menurut Priansa dan Somad (2014:99) bahwa kunjungan kelas yakni kunjungan yang dilakukan kepala sekolah ke dalam kelas pada saat guru yang bersangkutan menghadapi masalah/kesulitan selam mengadakan kegiatan pembelajaran.
Menurut Muslim (2013:74) kunjungan kelas adalah kunjungan seorang supervisor ke kelas pada saat guru sedang mengajar, artinya supervisor menyaksikan dan mengamati guru mengajar. Melalui kunjungan kelas tersebut supervisor dapat mengetahui apa kelebihan dan kekurangan guru terutama dalam konteks pelaksanaan KBM. Dengan kata lain, untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekiranya perlu diperbaiki.
18
Tahap-tahap kunjungan kelas terdiri dari empat tahap yaitu:
(1) tahap persiapan
(2) tahap pengamatan selama kunjungan (3) tahap akhir kunjungan
(4) tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut” b. Kunjungan Observasi (Observation Visits)
Kunjungan Observasi bisa dilakukan sekolah sendiri atau sekolah lain. Fokus dari observasi kelas adalah untuk mengetahui aktifitas guru maupun siswa dalam proses pembelajaran yang meliputi cara/metode guru menyampaikan materi, penguasaan materi oleh siswa, penggunaan/pemanfaatan media dan alat peraga, dan aspek-aspek lain penunjang-penunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Hartoyo, 2006:105).
c. Percakapan Pribadi
Percakapan pribadi biasanya dilakukan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan guru dalam mengajar setelah kepala sekolah melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas. Kepala sekolah juga memberi dorongan agar yang sudah baik agar bisa ditingkatkan lebih baik lagi. Teknik percakapan ini dilakukan dengan menerapkan pendekatan-pendekatan supervisi
19 seperti teknik directive, non-directive, dan collaborative (Priansa dan Somad, 2014:101). d. Kunjungan Antar kelas (Inter Visitasi)
Tujuan Kunjungan antar kelas atau antar sekolah adalah upaya untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran dengan cara studi banding atau bertukar pengalaman dalam pembelajaran, Dengan demikian, setelah selesainya kunjungan/studi banding ini, guru dapat mencoba dan menerapkan pengalaman yang mereka peroleh dari kelas atau sekolah lain (Hartoyo, 2006:106).
1. Teknik Kelompok
Menurut Purwanto (2008:122) Teknik supervisi kelompok ialah supervisi yang dilakukan secara berkelompok. Dengan mengadakan KKG, atau diskusi maupun penataran kelompok untuk menyelasaikan masalah- masalah dalam KBM. 2.3.5.Supervisi Akademik Kunjungan Kelas
Dalam penelitian ini metode supervisi akademik yang digunakan adalah supervisi akademik kunjungan kelas sebagai bahan masukan apakah pelaksanaannya dapat digunakan untuk meningkatkan profesionalitas guru di SDN 3 Sumberejo.
Menurut Priansa dan Somad (2014:99) kunjungan kelas yakni kunjungan yang dilakukan kepala sekolah ke dalam kelas pada saat guru yang bersangkutan
20
menghadapi masalah/kesulitan selama mengadakan kegiatan pembelajaran.
Hartoyo (2006:104) menyatakan
“kunjungan kelas merupakan salah satu teknik supervisi yang dapat dilakukan secara periodik dan berencana untuk memperoleh baganan tentang kegiatan pembelajaran dan kegiatan pengelolaan kelas yang dilakukan guru”.
Dibandingkan pendapat Hartoyo tentang supervisi akademik kunjungan kelas yang hanya sebagai kegiatan dan pengelolaan pembelajaran saja secara periodik dan berencana priansa dan somad lebih menekankan pada mengatasi masalah- masalh dalam pembelajaran. Lain lagi Menurut Purwanto (2008:120) bahwa
“ kunjungan kelas ialah kunjungan sewaktu-waktu yang dilakukan oleh seorang supervisor (kepala sekolah, penilik, pengawas) untuk mengamati seorang guru yang sedang mengajar”.
Tujuannya untuk mengobservasi bagaimana guru mengajar, apakah sudah memenuhi syarat-syarat didaktis atau metodik yang sesuai. untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekiranya perlu diperbaiki. Supervisi akademik menurut Purwanto (2008:120) dilakukan secara mendadak terkesan seperti inpeksi yang tidak ada pemberitahuan pada guru.
Jadi dari pernyataan Priansa dan Somad, Hartoyo, Purwanto penulis berpendapat bahwa supervisi akademik kunjungan kelas adalah tindakan pengamatan langsung kedalam kelas oleh pihak yang
21 bersangkutan (kepala sekolah, pengawas) untuk mengetahui kompetensi guru dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, apakah sudah sesuai dengan syarat-syarat didaktis guna melihat kekurangan atau kelemahan untuk proses evaluasi kedepannya.
2.3.6.Tahap- Tahap Kunjungan Kelas
Agar pelaksanaan supervisi dapat berlangsung sebagaimana diharapkan, supervisor perlu menyusun dan memperhatikan beberapa tahapan. Menurut clegg dan Billington dalam Hartoyo (2006:111)tahapan supervisi dapat dikelompokan menjadi tiga bagian utama persiapan, Proses supervisi dan tindak lanjut. Berbeda dengan tahapan dari Hartoyo yang hanya 3 tahapan, pidarta mempunyai 4 tahapan. Tahap-tahap kunjungan kelas menurut Pidarta (2009:104) terdiri dari empat tahap yaitu: (1) Persiapan, supervisor menentukan waktu, memeriksa informasi kelemahan guru dari berbagai pihak dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas, (2) Proses supervisi selama kunjungan, supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung, (3) Pertemuan balikan, supervisor memberi petunjuk tentang cara-cara memperbaiki kelemahanya dan (4) terakhir adalah tahap tindak lanjut. Tahapan supervisi sebenarnya sama yaitu pada intinya ada persiapan, proses supervisi dan tindak lanjut yang sekaligus pertemuan balikan.
22
Penelitian tentang pelaksanaan supervisi telah banyak dilakukan oleh pengawas dan kepala sekolah penelian itu Bersifat melengkapi dan menyempurnakan. Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini diantaranya Penelitian yang dilakukan Hasan (2011) dalam judul upaya meningkatkan kompetensi guru MIPA dalam menyusun RPP melalui supervisi akademik di SMP Negeri 15 Kota Gorontalo menunjukkan adanya peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP yaitu pada siklus I nilai rata-rata kompetensi guru adalah 66,15% (kategori cukup) sedangkan pada siklus II nilai rata-rata adalah 91,99% (kategori sangat baik) sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan supervisi akademik dapat meningkatkan kompetensi guru MIPA di SMP Negeri 15 Kota Gorontalo dalam menyusun RPP. Sejalan dengan penelitian Hasan penelitian yang dilakukan Aswir (2013) dengan judul meningkatkan kinerja guru di SDN 5 Puhun Pintu Kabun Kota Bukittinggi melalui supervisi akademik menunjukkan bahwa berdasarkan observasi awal pada SDN 05 Puhun Pintu Kabun Kec. Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi memperoleh nilai rata-rata 56% setelah dilaksanakan siklus pertama diperoleh nilai rata-rata 73, sedangkan siklus kedua diperoleh nilai rata-rata 89%. Implikasi hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) melalui supervisi akademik dapat meningkatkan kinerja majelis guru dalam
23 melaksanakan kegiatan pembelajaran pada SDN 05 Puhun Pintu Kabun Kec. Madiangin Koto Selatan Kota Bukittinggi. Jadi penelitian Hasan dan Aswir memiliki persamaan yaitu menggunakan model penelitian tindakan sekolah dimana mereka melaksanakan penelitian dengan 2 siklus. Hasil penelitian Hasan digunakan untuk melihat seberapa besar peningkatan kompetensi guru dalam penyusunan RPP melalui pembinaan secara umum sesuai standar proses, sedangkan Aswir melihat seberapa besar peningkatan kinerja guru melalui pembinaan profesional secara umum pada siklus I dan pembinaan individual sesuai kinerja guru pada siklus 2.
Penelitian yang dilakukan Dalawi, dkk (2013) dalam judul pelaksanaan supervisi akademik pengawas sekolah sebagai upaya peningkatan profesionalisme guru SMP N 1 Bengkayang menunjukkan bahwa pelaksanaan supervisi akademik di SMP Negeri 1 Bengkayang dinilai dapat meningkatkan kinerja atau profesionalitas guru dalam melaksanakan pembelajaran. Pada penilaian ini aspek-aspek yang disupervisi dinilai telah mengarah pada materi/sasaran supervisi akademik yang disesuaikan dengan kebutuhan guru/sekolah begitu juga pada teknik supervisi akademik yang digunakan cukup bervariasi, hanya saja didalam pelaksanaan supervisi akademik oleh pengawas sekolah membutuhkan waktu yang lebih lama. Upaya
24
yang dilakukan pengawas sekolah dinilai sudah cukup, namun tetap perlu ditingkatkan, kelemahan yang lain terletak pada frekuensi kunjungan pengawas sekolah yang dinilai belum optimal karena masih ada guru yang belum dikunjungi oleh pengawas sekolah.
Lebih lanjut penelitian oleh Benjamin Kutsyuruba (2003) dengan judul Instructional Supervision Perceptions
Of Canadian And Ukrainian Beginning High School Teachers, menunjukan bahwa pengawasan/supervisi
pembelajaran dan pengembangan profesional telah diidentifikasi sebagai kendaraan untuk meningkatakan kinerja guru dengan supervisi profesional guru meningkat dan dapat memberikan pendidikan berkualitas bagi siswa. Selanjutnya Kweku Esia Donkoh, Eric Ofosu Dwamena (2014) dengan judul Effects Of
Educational Of Public Basic School Teachers At Winneba, Ghana menyimpulkan ada efek positif dari pengawasan
pendidikan pada pengembangan profesional mereka dalam hal mengembangkan pengalaman melalui supervisi pendidikan para guru dibantu meningkatkan kegiatan mereka sebelumnya dengan mempelajari tren baru dalam profesi guru, membahas pengalaman dengan guru rekan, dan merefleksikan ajaran mereka.
Penelitian yang dilakukan beberapa peneliti diatas menunjukkan bahwa dengan adanya supervisi akademik terjadi peningkatan kinerja maupun profesionalitas guru dalam tugasnya sebagai pendidik.
25 Pada penelitian yang dilakukan penulis memfokuskan pada tindakan pembinaan individual, Klasikal dan diskusi untuk meningkatkan profesionalitas guru dalam pembelajaran melalui supervisi kunjungan kelas oleh kepala sekolah yang diteliti mencakup perencanaan pembelajaran yang meliputi penyusunan RPP serta pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru di dalam kelas. Pembuatan RPP disesuaikan Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang standar isi baik isi maupun sistematikanya. Supervisi ini diutamakan untuk mengefektifkan kegiatan supervisi yang selama ini belum terlaksana hingga tuntas dan difokuskan pada peningkatan profesionalitas guru yang selama ini masih rendah. Tindakan yang dilakukan berupa pembinaan dari kepala sekolah maupun dari guru pendamping. 2.5. Kerangka Berpikir
Kualitas mutu sekolah merupakan tujuan Setiap dari lembaga sekolah memiliki tujuan utama berupa terciptanya mutu pendidikan yang berkualitas dan mempunyai daya saing yang tinggi. Guru merupakan faktor utama. Namun, tingkat profesionalitas dalam menentukan berhasil tidaknya pendidikan disekolah. Dengan demikian usaha guru dalam menigkatkan kualitas sumber daya manusia perlu dibina dan dikembangkan secara berkelanjutan agar dapat direncanakan oleh supevisor (kepala sekolah) untuk
26
membantu guru dalam meningkatkan kompetensi profesional guru dalam usaha memperbaiki kualitas pembelajaran.
Adapun supervisi pada penelitian ini adalah supervisi kunjungan kelas. Supervisi kunjungan kelas ini bertujuan untuk memberikan bimbingan dan pengarahan secara individu klasikal dan diskusi tentang keprofesionalan guru dalam pengelolaan pembelajaran. Hal ini diasumsikan kegiatan supervisi kunjungan kepala sekolah ini akan mampu mengkondisikan tingkat profesionalitas guru seperti di SDN 3 Sumberejo Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal.
Terkait dengan uraian tersebut, maka peneliti supervisi akademik kunjungan kelas dalam upaya meningkatkan profesionalitas guru di SDN 3 Sumberejo Kecamatan Kaliwungu berikut:
27 Gambar 2.3 Kerangka Berfikir
Penelitian yang digunakan penulis yaitu penelitian tindakan. Dalam penelitian tindakan ini penulis akan meneliti tentang kepemimpinan kepala sekolah dalam supervisi kunjungan kelas untuk meningkatkan profesionalitas guru. Supervisi yang dilakukan menyeluruh disertai pembinaan dan pendampingan oleh kepala sekolah penyusunan RPP dan pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan Permendiknas No 41 tahun 2007 tentang standar proses diharapkan dapat memberi motivasi dan peningkatan kepercayaan diri guru.