MAKALAH KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
MAKALAH KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA
LUKA BAKAR LUKA BAKAR DISUSUN OLEH DISUSUN OLEH KELOMPOK 2 KELOMPOK 2 1.
1. HENI HENI AGUSTINI AGUSTINI M M P P (036 (036 STYC STYC 13)13) 2.
2. ERNAWATI ERNAWATI (023 (023 STYC STYC 13)13) 3.
3. NOVAN NOVAN CAHAYA CAHAYA S S (075 (075 STYC STYC 13)13) 4.
4. RAMANDA RAMANDA SATRIA SATRIA K K (079 (079 STYC STYC 13)13) 5.
5. KHAERUL KHAERUL UMAM UMAM (048 (048 STYC STYC 13)13)
YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM
YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT
NUSA TENGGARA BARAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S1
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S1
MATARAM
MATARAM
2017
2017
KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., atas limpahan dan Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., atas limpahan dan rahmat
karunia-rahmat karunia- Nya Nya sehingga sehingga penulis penulis dapat dapat menyelesaikan menyelesaikan makalah makalah ““AsuhanAsuhan Keperawata
Keperawatan Gawat Darurat Pada n Gawat Darurat Pada Luka BakarLuka Bakar”. Makalah ini disusun sebagai”. Makalah ini disusun sebagai salah satu
salah satu tugas Mata Kuliah tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat. Keperawatan Gawat Darurat. Karena makalah Karena makalah iniini tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa bantuan dari pihak-pihak tertentu, maka tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa bantuan dari pihak-pihak tertentu, maka dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada :
kepada : 1.
1. H. Zulkahfi., S.Kep., Ners., M.Kes., selaku Ketua STIKES YARSI Mataram.H. Zulkahfi., S.Kep., Ners., M.Kes., selaku Ketua STIKES YARSI Mataram. 2.
2. Irwan Hadi, S.Kep., Ners., M.Kep., selaku Ka. Prodi S1 Keperawatan STIKESIrwan Hadi, S.Kep., Ners., M.Kep., selaku Ka. Prodi S1 Keperawatan STIKES YARSI Mataram.
YARSI Mataram. 3.
3. Bq. Nur’ainun Apriani Idris,Bq. Nur’ainun Apriani Idris, S.Kep., Ners., selaku dosen pembimbingS.Kep., Ners., selaku dosen pembimbing akademik.
akademik. 4.
4. Bahjatun Nadrati, S.Kep., Ners., M.Kep., selaku dosen Mata KuliahBahjatun Nadrati, S.Kep., Ners., M.Kep., selaku dosen Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat.
Keperawatan Gawat Darurat. 5.
5. Semua pihak yang ikut membantu dalam penyusunan makalah ini.Semua pihak yang ikut membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis membuat makalah ini dengan seringkas-ringkasnya dan bahasa Penulis membuat makalah ini dengan seringkas-ringkasnya dan bahasa yang jelas agar mudah dipahami. Karena penulis menyadari keterbatasan yang yang jelas agar mudah dipahami. Karena penulis menyadari keterbatasan yang penulis
penulis miliki, miliki, penulis penulis mengharapkan mengharapkan kritik kritik dan dan saran saran dari dari para para pembaca, pembaca, agaragar pembuatan makalah penulis yang b
pembuatan makalah penulis yang berikutnya dapat menjadi lebih baik.erikutnya dapat menjadi lebih baik.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembac Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembac a.a.
Mataram, 1 April 2017 Mataram, 1 April 2017
Penulis Penulis
KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., atas limpahan dan Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., atas limpahan dan rahmat
karunia-rahmat karunia- Nya Nya sehingga sehingga penulis penulis dapat dapat menyelesaikan menyelesaikan makalah makalah ““AsuhanAsuhan Keperawata
Keperawatan Gawat Darurat Pada n Gawat Darurat Pada Luka BakarLuka Bakar”. Makalah ini disusun sebagai”. Makalah ini disusun sebagai salah satu
salah satu tugas Mata Kuliah tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat. Keperawatan Gawat Darurat. Karena makalah Karena makalah iniini tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa bantuan dari pihak-pihak tertentu, maka tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa bantuan dari pihak-pihak tertentu, maka dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada :
kepada : 1.
1. H. Zulkahfi., S.Kep., Ners., M.Kes., selaku Ketua STIKES YARSI Mataram.H. Zulkahfi., S.Kep., Ners., M.Kes., selaku Ketua STIKES YARSI Mataram. 2.
2. Irwan Hadi, S.Kep., Ners., M.Kep., selaku Ka. Prodi S1 Keperawatan STIKESIrwan Hadi, S.Kep., Ners., M.Kep., selaku Ka. Prodi S1 Keperawatan STIKES YARSI Mataram.
YARSI Mataram. 3.
3. Bq. Nur’ainun Apriani Idris,Bq. Nur’ainun Apriani Idris, S.Kep., Ners., selaku dosen pembimbingS.Kep., Ners., selaku dosen pembimbing akademik.
akademik. 4.
4. Bahjatun Nadrati, S.Kep., Ners., M.Kep., selaku dosen Mata KuliahBahjatun Nadrati, S.Kep., Ners., M.Kep., selaku dosen Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat.
Keperawatan Gawat Darurat. 5.
5. Semua pihak yang ikut membantu dalam penyusunan makalah ini.Semua pihak yang ikut membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis membuat makalah ini dengan seringkas-ringkasnya dan bahasa Penulis membuat makalah ini dengan seringkas-ringkasnya dan bahasa yang jelas agar mudah dipahami. Karena penulis menyadari keterbatasan yang yang jelas agar mudah dipahami. Karena penulis menyadari keterbatasan yang penulis
penulis miliki, miliki, penulis penulis mengharapkan mengharapkan kritik kritik dan dan saran saran dari dari para para pembaca, pembaca, agaragar pembuatan makalah penulis yang b
pembuatan makalah penulis yang berikutnya dapat menjadi lebih baik.erikutnya dapat menjadi lebih baik.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembac Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembac a.a.
Mataram, 1 April 2017 Mataram, 1 April 2017
Penulis Penulis
DAFTAR ISI DAFTAR ISI
HALAMAN
HALAMAN JUDUL JUDUL ... ... ii KATA
KATA PENGANTAR PENGANTAR ... ... iiii DAFTAR
DAFTAR ISI ISI ... ... iiiiii
BAB
BAB 1 1 PENDAHULUAN PENDAHULUAN ... ... 11 1.1
1.1 Latar Latar Belakang Belakang ... ... 11 1.2
1.2 Rumusan Rumusan Masalah Masalah ... . 22 1.3
1.3 Tujuan Tujuan Penulisan Penulisan ... ... 22 1.3.1
1.3.1 Tujuan Tujuan Umum Umum ... ... 22 1.3.2
1.3.2 Tujuan Tujuan Khusus Khusus ... ... 33 1.4
1.4 Manfaat Manfaat Penulisan Penulisan ... . 33 1.5
1.5 Ruang Ruang Lingkup Lingkup ... ... 33 1.6
1.6 Metode Metode Penulisan Penulisan ... . 33 1.7
1.7 Sistematika Sistematika Penulisan Penulisan ... ... 44
BAB
BAB 2 2 TINJAUAN TINJAUAN PUSTAKA PUSTAKA ... ... 55 2.1
2.1 Konsep Konsep Dasar Dasar Luka Luka Bakar...Bakar... ... 55 2.1.1
2.1.1 Definisi Definisi Luka Luka Bakar Bakar ... ... 55 2.1.2
2.1.2 Epidemiologi Epidemiologi ... ... 66 2.1.3
2.1.3 Etiologi Etiologi Luka Luka Bakar Bakar ... ... 77 2.1.4
2.1.4 Patologi Patologi Luka Luka Bakar Bakar ... ... 99 2.1.5
2.1.5 Klasifikasi Klasifikasi Luka Luka Bakar Bakar ... ... 1515 2.1.6
2.1.6 Perhitungan Perhitungan Luas Luas Luka Luka Bakar Bakar ... ... 2222 2.1.7
2.1.7 Pathway Pathway ... ... 2626 2.1.8
2.1.8 Derajat Derajat Keparahan Keparahan Luka Luka Bakar Bakar ... ... 2727 2.1.9
2.1.9 Penatalaksanaan Penatalaksanaan ... ... 2828 2.1.10
2.1.10 Luka Luka Bakar Bakar Khusus Khusus ... ... 3636 2.1.11
2.1.11 Komplikasi Komplikasi ... . 3737 2.1.12
2.1.12 Prognosis Prognosis ... ... 4141 2.2
2.2 Konsep Konsep Asuhan Asuhan Keperawatan Keperawatan Gawat Gawat Darurat Darurat Luka Luka Bakar Bakar ... ... 4141 2.2.1
2.2.1 Pengkajian Pengkajian ... . 4141 2.2.2
2.2.2 Diagnosa Diagnosa Keperawatan Keperawatan ... ... 5151 2.2.3
2.2.3 Intervensi Intervensi Keperawatan Keperawatan ... ... 5151 2.2.4
2.2.4 Implementasi Implementasi Keperawatan Keperawatan ... ... 6060 2.2.5
2.2.5 Evaluasi Evaluasi Keperawatan Keperawatan ... ... 6060 2.2.6
BAB 3 PENUTUP ... 67 3.1 Simpulan... 67 3.2 Saran ... 68
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001).
Luka Bakar adalah keadaan sakit yang dapat membawa pemderitaan pada morbiditas yang sangat kompleks dan merupakan trauma yang paling berpotensi menyebabkan gangguan berat integritas penampakan dan psikologis apabila berpotensi menyebabkan gangguan berat integritas. Mencegah timbulnya bekas luka adalah merupakan tujuan utama dari penatalaksanaan luka bakar. Edukasi pasien secara konsisten dan berulang adalah suatu bagian yang penting dalam terapi pasien. Penatalaksanaan terhadap edema, penatalaksanaan gangguan nafas, memposisikan, dan melibatkan pasien dalam aktivitas fungsional dan pergerakan harus dimulai sejak dini. Pasien perlu dimotivasi untuk bekerja sesuai dengan kemampuan mereka dan menerima tanggung jawab untuk merawat diri mereka sendiri. Kemampuan fungsional pasien setelah terapi tidak akan maksimal jika pasien tidak secara teratur terlibat dalam pergerakan (Teddy O.H SMF Bedah Plastik RSUD Dr. Soetomo).
Menurut the National Institutes of General Medical Sciences, sekitar 1,1 juta luka-luka bakar yang membutuhkan perawatan medis setiap tahun di Amerika Serikat. Di antara mereka terluka, sekitar 50.000 memerlukan rawat inap dan sekitar 4.500 meninggal setiap tahun dari luka bakar. Ketahanan hidup setelah cedera luka bakar telah meningkat pesat selama abad kedua puluh. Perbaikan resusitasi, pengenalan agen antimikroba topikal dan, yang lebih penting, praktek eksisi dini luka bakar memberikan kontribusi terhadap hasil yang lebih baik.Namun, cedera tetap mengancam jiwa. Di India, sekitar 2,4 juta luka bakar dilaporkan per tahun. Sekitar 650.000 dari cedera ditangani oleh pusat-pusat perawatan luka bakar, 75.000 dirawat di rumah sakit. Dari mereka yang dirawat di rumah sakit, 20.000 yang mengalami luka
bakar besar telah melibatkan paling sedikit 25% dari total permukaan tubuh mereka. Antara 8.000 dan 12.000 pasien dengan luka bakar meninggal, dan sekitar satu juta akan mempertahankan cacat substansial atau permanen yang dihasilkan dari luka bakar mereka. Angka mortalitas penderita luka bakar di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 27,6% (2012) di RSCM dan 26,41% (2012) di RS Dr. Soetomo (Martina & Wardhana, 2013). Data epidemiologi dari unit luka bakar RSCM pada tahun 2011-2012 melaporkan jumlah pasien luka bakar sebanyak 257 pasien. Dengan rerata usia adalah 28 tahun ( range : 2,5 bulan – 76 tahun), dengan rasio laki- laki : perempuan adalah 2,7 : 1. Luka bakar api adalah etiologi terbanyak (54,9 %), diikuti air panas (29,2%), luka bakar listrik (12,8%), dan luka bakar kimia (3,1%). Rerata luas luka bakar adalah 26% (range 1-98%).
1.2 Rumusan Masalah
1.1.1 Apa definisi dari luka bakar ?
1.1.2 Bagaimana epidemiologi luka bakar? 1.1.3 Apa etiologi dari luka bakar?
1.1.4 Bagaimana patologi dari luka bakar? 1.1.5 Apa saja klasifikasi dari luka bakar? 1.1.6 Bagaimana perhitungan luas luka bakar? 1.1.7 Bagaimana derajat keparahan luka bakar? 1.1.8 Bagaimana penatalaksanaan luka bakar? 1.1.9 Bagaimana luka bakar khusus?
1.1.10 Apa saja komplikasi luka bakar? 1.1.11 Bagaimana prognosis luka bakar?
1.1.12 Bagaimana asuhan keperawatan dari edema paru? 1.3 Tujuan.
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang Konsep Dasar Luka Bakar dan Konsep Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Luka Bakar.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Dapat menuliskan konsep-konsep dan teori yang terdapat pada kasus Luka Bakar.
2. Dapat melaksanakan pengkajian sesuai dengan masalah yang muncul pada kasus Luka Bakar.
3. Merumuskan diagnosa keperawatan yang paling sering muncul pada kasus Luka Bakar.
4. Dapat menyusun perencanaan keperawatan pada kasus Luka Bakar. 5. Dapat menyusun implementasi keperawatan pada kasus Luka
Bakar.
6. Dapat menyusun evaluasi keperawatan pada kasus Luka Bakar. 7. Dapat menyusun dokumentasi keperawatan pada kasus Luka
Bakar. 1.4 Manfaat
1.1.1. Bagi Mahasiswa
Agar mahasiswa dapat mengetahui Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Luka Bakar.
1.1.2. Bagi Pendidikan
Sebagai kerangka acuan dalam pembuatan makalah Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Luka Bakar.
1.1.3. Penulis
Meningkatkan pengetahuan penulis dalam menerapkan asuhan keperawatan mengenai cara pencegahan, perawatan, dan pengobatan pada Luka Bakar.
1.5 Ruang Lingkup
Dalam penulisan makalah ini penulis membatasi masalah Konsep Dasar Luka Bakar dan Konsep Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Luka Bakar.
1.6 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah adalah metode Deskrisif dan teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik
studi kepustakaan yang mengambil materi dari berbagai sumber buku dan melalui media internet.
1.7 Sistematika Penulisan
Penulisan karya tulis ini, penulis bagi dalam beberapa bab dan sub bab yang disusun sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan meliputi : Latar Belakang, Tujuan, Manfaat, Ruang Lingkup Metode Penulisan, Sistematika Penulisan.
BAB II : Tinjauan Pustaka : Konsep dasar penyakit dan konsep dasar asuhan keperawatan mioma uteri dan Konsep Dasar Asuhan Keperawatan melipiuti : Pengkajian, Diagnosa, Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Luka Bakar 2.1.1 Definisi Luka Bakar
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001).
Luka Bakar adalah keadaan sakit yang dapat membawa pemderitaan pada morbiditas yang sangat kompleks dan merupakan
trauma yang paling berpotensi menyebabkan gangguan berat integritas penampakan dan psikologis apabila berpotensi menyebabkan
gangguan berat integritas (Teddy O.H SMF Bedah Plastik RSUD Dr. Soetomo).
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia dan radiasi, sebab kontak dengan suhu rendah. Luka bakar ini dapat mengakibatkan kematian, atau akibat lain yang berkaitan dengan problem fungsi maupun estetik (Arif Mansjoer, 2000).
Luka bakar adalah kelainan kulit yang di sebabkan oleh agen termal, kimia, listrik atau radioaktif (Wong, 2004). Luka bakar merupakan luka yang unik diantara bentuk-bentuk luka lainnya karena luka tersebut meliputi sejumlah besar jaringan mati (eskar) yang tetap berada pada tempatnya untuk jangka waktu yang lama (Smeltzer,
2001).
Luka bakar adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat proses patologis yang berasal dari internal maupun eksternal dan mengenai organ tertentu (Lazarus, 1994 dalam Potter & Perry, 2006). Luka bakar merupakan jenis luka, kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibatkan sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi, cahaya, radiasi dan friksi. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan
yang berbeda tergantung jenis jaringan yang terkena luka bakar, tingkat keparahan, dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut) (Chemical Burn Causes, 2008).
2.1.2 Epidemiologi
Di Amerika Serikat, sekitar 1,1 juta orang per tahun mengalami luka bakar yang cukup serius dan harus mencari perawatan kesehatan. Sekitar 45.000 dari memerlukan rawat inap, dan sekitar 4.500 mati.Lebih dari 90 persen dari kebakaran dapat dicegah, dengan hampir satu-setengah yang berhubungan dengan merokok atau karena penyalahgunaan bahan mudah terbakar. Jumlah tahunan membakar kematian di Amerika Serikat telah menurun dari kira-kira 15.000 pada tahun 1970 menjadi sekitar 4.500 saat ini. Selama periode yang sama, ukuran luka bakar yang berhubungan dengan 50 persen angka kematian telah meningkat dari 30 persen dari total luas permukaan tubuh (TBSA) sehingga 80 persen dari TBSA orang dewasa muda. Hampir 95 persen pasien yang dirawat di pusat perawatan luka bakar di Amerika Serikat bertahan hidup, dan lebih dari satu-setengah dari mereka kembali ke fungsi sosial dalam waktu 12-24 bulan setelah cedera. Kualitas perawatan luka bakar tidak lagi diukur hanya dengan kelangsungan hidup, tetapi juga oleh fungsi jangka panjang dan penampilan.Seperti bentuk-bentuk lain trauma, luka bakar sering
mempengaruhi anak-anak dan kaum muda dewasa.Anak-anak kurang dari 8 tahun, luka bakar yang paling umum adalah luka bakar, biasanya diakibatkan cairan panas. Pada anak yang lebih tua dan
orang dewasa, luka bakar yang paling umum adalah yang berhubungan dengan api, biasanya akibat kebakaran rumah. Bahan
kimia atau cairan panas, diikuti oleh listrik, dan kemudian logam cair atau panas yang paling sering terkait dengan pekerjaan menyebabkan luka bakar (Thorne, 2007).
2.1.3 Etiologi Luka Bakar
Secara garis besar, penyebab terjadinya luka bakar menurut Sudjatmiko (2007), dapat dibagi menjadi:
1. Panas
a. Flame: Akibat kontak langsung antara jaringan dengan api terbuka, dan menyebabkan cedera langsung ke jaringan tersebut. Api dapat membakar pakaian terlebih dahulu baru mengenai tubuh. Serat alami memiliki kecenderungan untuk terbakar, sedangkan serat sintetik cenderung meleleh atau menyala dan menimbulkan cedera tambahan berupa cedera kontak.
b. Benda panas : Terjadi akibat kontak langsung dengan benda panas. Luka bakar yang dihasilkan terbatas pada area tubuh yang mengalami kontak. Contohnya antara lain adalah luka bakar akibat rokok dan alat-alat seperti solder besi atau peralatan masak.
c. Scalds(air panas)
Terjadi akibat kontak dengan air panas. Semakin kental cairan dan semakin lama waktu kontaknya, semakin besar kerusakan yang akan ditimbulkan. Luka yang disengaja atau akibat kecelakaan dapat dibedakan berdasarkan pola luka bakarnya. Pada kasus kecelakaan, luka umumnya menunjukkan pola percikan, yang satu sama lain dipisahkan oleh kulit sehat. Sedangkan pada kasus yang disengaja, luka umumnya melibatkan keseluruhan ekstremitas dalam pola sirkumferensial dengan garis yang menandai permukaan cairan.
d. Uap panas
Terutama ditemukan di daerah industri atau akibat kecelakaan radiator mobil. Uap panas menimbulkan cedera luas akibat kapasitas panas yang tinggi dari uap serta dispersi oleh uap bertekanan tinggi. Apabila terjadi inhalasi, uap panas
dapat menyebabkan cedera hingga ke saluran napas distal di paru.
e. Gas panas
Inhalasi menyebabkan cedera thermal pada saluran nafas bagian atas dan oklusi jalan nafas akibat edema.
2. Aliran listrik
Cedera timbul akibat aliran listrik yang lewat menembus jaringan tubuh. Umumnya luka bakar mencapai kulit bagian dalam. Listrik yang menyebabkan percikan api dan membakar pakaian dapat menyebabkan luka bakar tambahan.
3. Bahan kimia (asam atau basa) 4. Radiasi
Sunburn sinar matahari, terapi radiasi.
Kerusakan jaringan disebabkan oleh api lebih berat dibandingkan dengan air panas; kerusakan jaringan akibat bahan yang bersifat koloid (misalnya bubur panas) lebih berat dibandingkan air panas. Luka bakar akibat ledakan juga menyebabkan kerusakan organ dalam akibat daya ledak (eksplosif). Pada luka bakar yang disebabkan oleh bahan kimia terutama asam menyebabkan kerusakan yang hebat akibat reaksi jaringan sehingga terjadi diskonfigurasi jaringan yang menyebabkan gangguan proses penyembuhan.
2.1.4 Patologi Luka Bakar
1. Zona Kerusakan Jaringan
Gambar. 5 skematis zona kerusakan jaringan a. Zona Koagulasi
Daerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein) akibat pengaruh panas. Daerah ini merupakan titik
kerusakan maksimal. b. Zona Statis
Daerah yang berada langsung di luar zona koagulasi yang ditandai dengan adanya vasokonstriksi dan iskemia. terjadi kerusakan endotel pembuluh darah disertai kerusakan trombosit dan leukosit, sehingga terjadi gangguan perfusi (no flow phenomena), diikuti perubahan permeabilitas kapiler dan respons inflamasi lokal. Proses ini berlangsung selama 12-24 jam pasca cedera dan mungkin berakhir dengan nekrosis jaringan.
c. Zona Hiperemi
Zona hiperemi terletak langsung disekitar zona stasis ditandai dengan adanya vasodilatasi. Vasodilatasi pada zona
ini diakibatkan adanya pelepasan mediator-mediator inflamasi lokal dari sel-sel kutaneus. Jaringan pada zona ini umumnya masih viabel dan dapat mengalami penyemb’uhan spontan atau berubah menjadi zona kedua bahkan pertama.
2. Fase Luka Bakar
Dalam perjalanan penyakit dibedakan 3 fase pada luka bakar, yaitu :
1) Fase awal, fase akut, fase syok
Pada fase ini problem yang berkisar pada gangguan saluran nafas karena adanya cedera inhalasi dan gangguan sirkulasi. Pada fase ini juga terjadi gangguan keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit, akibat cedera termis yang bersifat sistemik.
2) Fase setelah syok berakhir, diatasi, fase subakut
Fase ini berlangsung setelah syok berakhir atau dapat di atasi. Luka terbuka akibat kerusakan jaringan (kulit dan jaringan dibawahnya) dapat menimbulkan masalah, yaitu : a) Proses inflamasi
Proses inflamasi yang terjadi pada luka bakar berbeda dengan luka sayat elektif; proses inflamasi di sini terjadi lebih hebat disertai eksudasi dan kebocoran protein.
Pada saat ini terjadi reaksi inflamasi lokal yang kemudian berkembang menjadi reaksi sistemik dengan dilepaskannya zat-zat yang berhubungan dengan proses immunologik, yaitu kompleks lipoprotein (lipid protein complex, burn-toxin) yang menginduksi respon inflamasi sistemik (SIRS = Systemic Inflammation Response syndrome).
b) Infeksi yang dapat menimbulkan sepsis
c) Proses penguapan cairan tubuh disertai panas / energi (evaporative heat loss) yang menyebabkan perubahan dan gangguan proses metabolisme.
3) Fase lanjut
Fase ini berlangsung setelah terjadi penutupan luka sampai terjadi maturasi. Masalah pada fase ini adalah timbul penyulit dari luka bakar berupa parut hipertrofik, kontraktur dan deformitas lain yang terjadi karena kerapuhan jaringan atau organ-organ stuktural, misalnya bouttoniérre deformity. (Herndo, 2008).
3. Patofisiologi Luka Bakar
Sel-sel tubuh dapat menahan temperatur sampai 44 ºC tanpa kerusakan bermakna. Temperatur antara 44 ºC sampai dengan 51 ºC, kecepatan kerusakan jaringan berlipat ganda untuk tiap derajat kenaikan temperatur dan waktu penyinaran yang terbatas yang dapat ditoleransi. Diatas 51 ºC protein terdenaturasi dan kecepatan kerusakan jaringan sangat hebat. Temperatur di atas 70 ºC menyebabkan kerusakan selular yang sangat cepat dan hanya periode yang sangat singkat yang dapat ditahan. Pada rentang panas yang lebih rendah, tubuh dapat mengeluarkan tenaga panas dengan perubahan sirkulasi; tetapi pada rentang panas yang lebih tinggi, hal ini tidak efektif (Ahmadsyah, 2005).
Efek-efek umum yang terjadi pada luka bakar adalah sebagai berikut :
1) Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler yang terkena suhu tinggi rusak sel darah yang di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia.
2) Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan
menimbulkan bula dengan membawa serta elektrolit. Hal ini menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Tubuh kehilangan cairan antara ½ % - 1 %, “ Blood Volume ” setiap 1 % luka bakar. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang berlebih (insensible water loss meningkat).
3) Bila luka bakar lebih dari 20 % akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang khas yaitu : gelisah, pucat dingin berkeringat, nadi kecil, dan cepat, tekanan darah menurun dan produksi urine menurun (kegagalan fungsi ginjal).
4) Pada luka bakar daerah wajah dapat terjadi kerusakan mukosa jalan nafas karena gas, asap atau uap panas yang terhisap. Gejala yang timbul adalah sesak nafas, takipneu, stridor, suara serak dan berdahak berwarna gelap karena jelaga. Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lain. CO akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga tak mampu mengikat oksigen lagi. Tanda keracunan yang ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan berat terjadi koma. Bila lebih 60 % hemoglobin terikat CO, penderita akan meninggal.
5) Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dengan integritas kembali normal sekitar 36-48 jam. Kemudian terjadi mobilisasi dan penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. Hal ini ditandai dengan meningkatnya diuresis.
6) Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati yang merupakan medium yang baik bagi kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi karena daerah tersebut mengalami trombosis sehingga tidak tercapai oleh pembuluh darah kapiler yang membawa sistem kekebalan tubuh dan antibiotik. Kuman penyebeb infeksi dapat berasal dari kulit penderita sendiri, kontaminasi kuman di saluran pernapasan atas, maupun kontaminasi di lingkungan rumah
sakit.
7) Pada awalnya infeksi terjadi karena bakteri gram positif, selanjutnya dapat terjadi invasi bakteri gram negatif, sebagai contoh Pseudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan
eksotoksin protease dan toksin lain yang berbahaya, terkenal agresif dalam invasinya pada luka bakar. Infeksi pseudomonas dapat dilihat dari warna hijau pada kasa penutup luka bakar.
8) Luka bakar yang tampak adanya invasi kuman di jaringan sekelilingnya, dimana pada biopsi eksudat yang dibiakkan ditemukan kuman, maka telah terjadi luka bakar septik yang dapat menyebabkan syok septik.
9) Bila infeksi dapat di atasi, penderita luka bakar derajat dua dapat sembuh dengan meninggalkan cacat berupa parut. Luka bakar derajat dua yang dalam mungkin meninggalkan parut hipertrofik yang gatal, nyeri, kaku dan secara estetik tampak jelek. Luka bakar derajat tiga yang dibiarkan sembuh sendiri akan mengalami kontraktur. Jika terjadi di daerah persendian maka fungsi sendi akan menghilang atau menurun.
10) Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme sehingga keseimbangan protein menjadi negatif. Protein tubuh banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi dan infeksi. Penguapan yang berlebihan memerlukan kalori tambahan dan di dapat dari pembakaran protein dari otot skelet. Oleh karena itu otot penderita akan mengecil dan berat badan menurun.
11) Kehilangan cairan terbesar terjadi dalam 6-8 jam pertama. Jumlah kehilangan cairan melalui evaporasi luka dapat mencapai 6-8 liter/hari atau sekitar 300 ml/m2/jam. Kehilangan ini dapat ditentukan dengan rumus :
Volume (ml) = (25 + persentase luka TBSA) × luas seluruh permukaan tubuh dalam meter persegi
Respon sistemik pada luka bakar adalah sebagai berikut : 1) Respon kardiovaskuler
Curah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada volume darah terlihat dengan jelas. Karena
berlanjutnya kehilangan cairan dan berkurangnya volume vaskuler, maka curah jantung akan terus turun dan terjadi penurunan tekanan darah. Keadaan ini merupakan awitan syok luka bakar. Sebagai respon, sistem saraf simpatik akan melepaskan katekolamin yang meningkatkan resistensi perifer (vasokontriksi) dan frekuensi denyut nadi. Selanjutnya vasokontriksi pembuluh darah perifer menurunkan curah jantung.
2) Respon Renalis
Ginjal berfungsi untuk menyaring darah, dengan menurunnya volume intravaskuler maka aliran ke ginjal dan GFR menurun mengakibatkan keluaran urin menurun dan bisa berakibat gagal ginjal.
3) Respon Gastro Intestinal
Ada 2 komplikasi gastrointestinal yang potensial, yaitu ileus paralitik (tidak adanya peristaltik usus) dan ulkus curling dengan gejala yang sama dengan gejala ulkus peptikum. Berkurangnya peristaltik usus dan bising usus merupakan manifestasi ileus paralitik yang terjadi akibat syok atau karena berkurangnya kalium pada fase mobilisasi pada luka bakar. Distensi lambung dan nausea dapat mengakibatkan vomitus kecuali jika segera dilakukan dekompresi lampung (dengan pemasangan sonde lambung). Perdarahan lambung yang terjadi sekunder akibat stres fisiologik yang masif dapat ditandai oleh darah dalam feses atau vomitus yang berdarah. Semua tanda ini menunjukkan erosi lambung atau duodenum (ulkus curling). Respon umum pada luka bakar > 20 % adalah penurunan aktivitas gastrointestinal. Hal ini disebabkan oleh kombinasi efek respon hipovolemik dan neurologik serta respon endokrin terhadap adanya perlukan luas. Pemasangan NGT mencegah terjadinya distensi abdomen, muntah dan
4) Respon Imunologi
Pertahanan imunologik tubuh sangat berubah akibat luka bakar. Sebagian basis mekanik, kulit sebagai mekanisme pertahanan dari organisme yang masuk. Terjadinya gangguan integritas kulit akan memungkinkan mikroorganisme masuk ke dalam luka.
5) Respon Pulmoner
Pada luka bakar yang berat, konsumsi Oksigen oleh jaringan akan meningkat dua kali lipat sebagai akibat dari keadaan hipermetabolisme dan respon lokal (White, 1993). Cedera pulmoner dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori yaitu cedera saluran napas atas terjadi akibat panas langsung, cedera inhalasi di bawah glotis terjadi akibat menghirup produk pembakaran yang tidak sempurna atau gas berbahaya seperti karbon monoksida, sulfur oksida, nitrogen oksida, senyawa aldehid, sianida, amonia, klorin, fosgen, benzena, dan halogen. Komplikasi pulmoner yang dapat terjadi akibat cedera inhalasi mencakup kegagalan akut respirasi dan ARDS (adult respiratory distress syndrome). (Smeltzer, 2001, 1913).
2.1.5 Klasifikasi Luka Bakar
Klasifikasi luka bakar menurut Effendi (2008), dibagi atas berdasarkan penyebab/ etiologi (seperti dijelaskan diatas) dan
kedalaman luka bakar.
1. Klasifikasi berdasarkan penyebab
Luka bakar dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain: a. Luka bakar karena api
b. Luka bakar karena air panas
c. Luka bakar karena bahan kimia (yang bersifat asam atau basa kuat)
d. Luka bakar karena listrik dan petir e. Luka bakar karena radiasi
f. Cedera akibat suhu sangat rendah ( frost bite) 2. Klasifikasi berdasarkan kedalaman luka
Lama kontak jaringan dengan sumber panas menentukan luas dan kedalaman kerusakan jaringan. Semakin lama waktu kontak, maka semakin luas dan dalam kerusakan jaringan yang terjadi.
Gambar. 6 klasifikasi luka bakar berdasarkan kedalaman luka
a. Luka bakar derajat satu
Ditandai dengan luka bakar superfisial dengan kerusakan pada lapisan epidermis. Tampak hiperemia dan eritema. Penyebab tersering adalah sengatan sinar matahari. Pada proses penyembuhan terjadi lapisan luar epidermis yang mati akan terkelupas dan terjadi regenerasi lapisan epitel yang sempurna dari epidermis yang utuh dibawahnya. Tidak terdapat bula, nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Dapat sembuh spontan selama 5-10 hari.
Gambar. 7 luka bakar derajat satu b. Luka bakar derajat dua
Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis dan sebagian dermis dibawahnya, berupa reaksi inflamasi akut disertai proses eksudasi. Pada luka bakar derajat dua ini ditandai dengan nyeri, bercak-bercak berwarna merah muda dan basah serta pembentukan blister atau lepuh. biasanya disebabkan oleh tersambar petir, tersiram air panas. Dalam waktu 3-4 hari, permukaan luka bakar mengering sehingga terbentuklah krusta
tipis berwarna kuning kecoklatan seperti kertas perkamen. Beberapa minggu kemudian, krusta itu akan mengelupas karena timbul regenerasi epitel yang baru tetapi lebih tipis dari organ epitel kulit yang tidak terbakar didalamnya. Oleh karena itu biasanya dapat terdapat penyembuhan spontan pada luka bakar
Gambar. 8 bula pada telapak tangan, luka in i digolongkan ke dalam luka bakar derajat dua, karena epidermis berada diatas luka Dibedakan menjadi 2 (dua):
a) Derajat II dangkal (superfisial)
1) kerusakan mengenai sebagian superfisial dari dermis 2) apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat,
kelenjer sebasea masih utuh
3) penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari. b) Derajat II dalam (deep)
1) kerusakan mengenai hampir saluruh bagian dermis
2) apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjer sebasea sebagian masih utuh.
3) Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung apendises kulit yang tersisa. Biasanya terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.
Gambar. 9
Gambar. 9 luka bakar derajat dua dalam, pada anak yang tersiram kopi luka bakar derajat dua dalam, pada anak yang tersiram kopi panas,
panas, luka luka berwarna berwarna merah merah muda, muda, lunak lunak pada pada penekanan,penekanan, dan tampak basah, sensasi nyeri sulit ditentukan pada anak. dan tampak basah, sensasi nyeri sulit ditentukan pada anak.
c.
c. Luka bakar derajat tigaLuka bakar derajat tiga
Terjadi kerusakan pada seluruh ketebalan kulit. Terjadi kerusakan pada seluruh ketebalan kulit. Meskipun tidak seluruh tebal kulit rusak, tetapi bila semua Meskipun tidak seluruh tebal kulit rusak, tetapi bila semua organ kulit sekunder rusak dan tidak ada kemampuan lagi untuk organ kulit sekunder rusak dan tidak ada kemampuan lagi untuk melakukan regenerasi kulit secara spontan/ reepitelisasi, maka melakukan regenerasi kulit secara spontan/ reepitelisasi, maka luka bakar
luka bakar itu juga itu juga termasuk derajat tiga. termasuk derajat tiga. Penyebabnya adalahPenyebabnya adalah api, listrik, atau zat
api, listrik, atau zat kimia. kimia. Mungkin akan Mungkin akan tampak berwarnatampak berwarna putih seperti
putih seperti mutiara mutiara dan biasnya dan biasnya tidak melepuh, tidak melepuh, tampak keringtampak kering dan biasanya
dan biasanya relatif anestetik. relatif anestetik. Dalam beberapa Dalam beberapa hari, luka bakarhari, luka bakar semacam itu akan membentuk
semacam itu akan membentuk eschar eschar berwarna hitam, keras, berwarna hitam, keras, tegang
Gambar. 10
Gambar. 10 luka bakar luka bakar derajat tiga, pada derajat tiga, pada anak anak yang memegangyang memegang pengeriting
pengeriting rambut rambut luka luka kering kering tidak tidak kemerahan kemerahan dandan berwarna putih
berwarna putih
Selama periode pasca luka bakar dini sampai 5 hari, akan Selama periode pasca luka bakar dini sampai 5 hari, akan sulit untuk membedakan luka bakar derajat dua atau tiga, tetapi sulit untuk membedakan luka bakar derajat dua atau tiga, tetapi pada
pada minggu minggu kedua kedua sampai sampai minggu minggu ketiga ketiga pasca pasca luka luka bakar bakar didi mana tampak drainase dan eschar yang terpisah dari luka bakar mana tampak drainase dan eschar yang terpisah dari luka bakar derajat tiga.
derajat tiga. Setelah eschar Setelah eschar diangkat, diangkat, sisa jaringan sisa jaringan dibawahnyadibawahnya (biasanya lapisan subkutan) akan membentuk jaringan granulasi, (biasanya lapisan subkutan) akan membentuk jaringan granulasi, suatu massa yang terdiri dari sel-sel fibroblas dan jaringan suatu massa yang terdiri dari sel-sel fibroblas dan jaringan penyambung
penyambung yang yang kaya kaya pembuluh pembuluh darah darah kapiler. kapiler. PermukaanPermukaan jaringan
jaringan granulasi granulasi yang yang berwarna berwarna merah merah tua tua itu itu terbentukterbentuk setelah 21 hari, dan dalam waktu 1 sampai 2 minggu kemudian setelah 21 hari, dan dalam waktu 1 sampai 2 minggu kemudian sebaiknya dilakukan
sebaiknya dilakukan skin graft skin graft ..
Gambar. 11
Tabel. 3
Tabel. 3 Klasifikasi kedalaman luka bakar Klasifikasi kedalaman luka bakar Klasifikasi
Klasifikasi Penyebab Penyebab PenampakaPenampakann luar luar Sensasi Waktu Sensasi Waktu penyembuha penyembuha Luka bakar dangkal (superficial
Luka bakar dangkal (superficial burn) burn) Sinar UV, Sinar UV, paparan paparan nyala api nyala api Kering dan Kering dan merah; merah; memucat memucat dengan dengan penekanan penekanan Nyeri Nyeri 33 – – hari hari
Luka bakar sebagian dangkal Luka bakar sebagian dangkal (superficial partial-thickness burn) (superficial partial-thickness burn)
Cairan atau Cairan atau uap panas uap panas (tumpahan (tumpahan atau atau percikan), percikan), paparan paparan nyala api nyala api Gelembung Gelembung berisi
berisi cairan,cairan, berkeringat, berkeringat, merah; merah; memucat memucat dengan dengan penekanan penekanan Nyeri
Nyeri bilabila terpapar terpapar udara dan udara dan panas panas 7-20 hari 7-20 hari
Luka bakar sebagian dalam (deep Luka bakar sebagian dalam (deep partial-thickness
partial-thickness burn)burn)
Cairan atau Cairan atau uap panas uap panas (tumpahan), (tumpahan), api, minyak api, minyak panas panas 1ptung berisi 1ptung berisi cairan cairan (rapuh); (rapuh); basah
basah atauatau kering
kering berminyak, berminyak, berwarna berwarna daridari putih
putih sampaisampai merah; tidak merah; tidak memucat memucat dengan dengan penekanan penekanan Terasa Terasa dengan dengan penekanan penekanan saja saja >21 hari >21 hari
Luka bakar seluruh lapisan (full Luka bakar seluruh lapisan (full thickness burn) thickness burn) Cairan atau Cairan atau uap panas, uap panas, api, api, minyak, minyak, bahan bahan kimia, kimia, listrik listrik tegangan tegangan tinggi tinggi Putih Putih berminyak berminyak sampai sampai abu-abu dan abu dan kehitaman; kehitaman; kering dan kering dan tidak elastis; tidak elastis; tidak tidak memucat memucat dengan dengan penekanan penekanan Terasa Terasa hanya hanya dengan dengan penekanan penekanan yang kuat yang kuat Tidak dap Tidak dap sembuh (jik sembuh (jik luka bak luka bak mengenai >2 mengenai >2 dari TBSA) dari TBSA)
2.1.6 Perhitungan Luas Luka Bakar
Walaupun hanya perkiraan saja , the rule of nine, tetap merupakan petunjuk yang baik dalam menilai luasnya luka bakar: kepala 7 persen, dan leher 2 persen sehingga totalnya 9 persen. Setiap ekstremitas atas, 9 persen, totalnya 18 persen. Badan bagian anterior 18 persen. Badan bagian posterior, 13 persen, dan bokong 5 persen, sehingga total 18 persen. Ekstremitas bawah masing-masing 18 persen, total 36 persen, dan genitalia 1 persen.
Gambar. 12 Perhitungan luas luka bakar berdasarkan Rule of Nine oleh Wallace dewasa dan anak-anak
Gambar . 13 Perhitungan luas luka bakar berdasarkan Rule of Nine dewasa dan bayi
Gambar. 14 Perhitungan luas luka bakar berdasarkan Rule of Nine bagian depan dan belakang tubuh
Untuk area luka bakar yang tersebar kita dapat memperkirakan persentasenya dengan menggunakan tangan dengan jari-jari pasien, dimana jari-jari dalam keadaan abduksi, dimana sama dengan kurang lebih 1 persen dari total luas permukaan tubuh pasien.
Pada anak-anak terdapat perbedaan dalam luas permukaaan tubuh, yang umumnya mempunyai pertimbangan lebih besar antara luas permukaan kepala dengan luas ekstrimitas bawah dibandingkan pada orang dewasa. Area kepala luasnya adalah 19 persen pada waktu lahir (10 persen lebih besar daripada orang dewasa). Hal ini terjadi akibat pengurangan pada luas ekstrimitas bawah, yang masing-masing sebesar 13 persen. Dengan bertambahnya umur setiap tahun, sampai usia 10 tahun, area kepala dikurangi 1 persen dan jumlah yang sama ditambah pada setiap ekstrimitas bawah. Setelah usia 10 tahun, digunakan persentase orang dewasa.
Rumus rule of nine dari Wallace tidak digunakan pada anak dan bayi karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Oleh karena itu, digunakan rumus 10 untuk bayi, dan rumus 10-15-20 dari Lund dan Browder untuk anak (Marzoeki, 2004).
Tabel 4. Penilaian luas area tubuh menurut Lund and Browder
Area Lahir-1 tahun 1
–
4 tahun 5–
9 tahun 0–
14 tahun 5tahun dewasa 2nd* 3rd* TBSA
Kepala 19 17 13 11 9 7 Leher 2 2 2 2 2 2 Badan bagian depan 13 13 13 13 13 13 Badan bagian belakang 13 13 13 13 13 13 Pantat kanan 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 Pantat kiri 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 Genitalia (kemaluan) 1 1 1 1 1 1
Lengan kanan atas 4 4 4 4 4 4
lengan kiri atas 4 4 4 4 4 4
Lengan bawah kanan 3 3 3 3 3 3 Lengan bawah kiri 3 3 3 3 3 3 Tangan kanan (telapak tangan depan dan punggung tangan) 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 Tangan kiri (telapak tangan dan punggung tangan) 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 Paha kanan 5.5 6.5 8 8.5 9 9.5 Paha kiri 5.5 6.5 8 8.5 9 9.5 Betis kanan 5 5 5.5 6 6.5 7 Betis kiri 5 5 5.5 6 6.5 7 Kaki kanan (bagian tumit sampai telapak kaki) 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 Kaki kiri 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 Total:
2.1.8 Derajat Keparahan Luka Bakar
Berdasarkan berat ringannya luka bakar (American Burn Association): 1. Luka Bakar Berat ( Major Burn Injury )
a. Derajat II, terbakar >25% area permukaan tubuh pada dewasa b. Derajat III, terbakar >25% area permukaan tubuh pada
anak-anak
c. Derajat III, terbakar >10% area permukaan
d. Kebanyakan meliputi tangan, muka, mata, telinga, kaki atau perineum
Kebanyakan pasien meliputi : a. Luka inhalasi
b. Luka elektrikal
c. Luka bakar dengan komplikasi trauma 2. Luka Bakar Sedang
a. Derajat II, terbakar 15-25% area permukaan tubuh pada dewasa
b. Derajat II, terbakar 10-20% are permukaan tubuh pada anak-anak
c. Derajat III, terbakar <10% area permukaan tubuh. 3. Luka Bakar Ringan
a. Derajat II, terbakar <15% area permukaan tubuh pada dewasa b. Derajat II, terbakar <10% area permukaan tubuh pada
anak-anak
c. Derajat III, terbakar <2% area permukaan tubuh. Indikasi rawat inap :
1. Derajat 2 lebih dari 15% pada dewasa, dan lebih dari 10% pada anak
2. Derajat 2 pada muka, tangan, kaki, perineum
3. Derajat 3 lebih dari 2% pada dewasa, dan setiap derajat 3 pada anak
2.1.9 Penatalaksanaan
Menurut Moenadjat (2005), secara sistematik dapat dilakukan 6c : clothing, cooling, cleaning, chemoprophylaxis, covering and comforting (contoh pengurang nyeri). Untuk pertolongan pertama dapat dilakukan langkah clothing dan cooling, baru selanjutnya dilakukan pada fasilitas kesehatan.
1. Pertolongan pertama a. Clothing
Singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Bahan pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka
dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning. b. Cooling
1) Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air dingin yang mengalir selama 20 menit, hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal, terutama pada anak dan orang tua). Cara ini efektif sampai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar
2) Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk luka yang terlokalisasi. Pada luka bakar yang luas jangan berikan kompres air dingin karena dapat menimbulkan hipotermia.
3) Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko hipotermia
4) Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata, siram dengan air mengalir yang banyak selama 15 menit atau lebih. Bila penyebab luka bakar berupa bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang mengalir.
c. Cleaning
pembersihan luka tergantung dari derajat berat luka bakar, kriteria minor cukup dilakukan dengan zat anastesi lokal, sedangkan untuk kriteria moderate sampai major dilakukan dengan anastesi umum di ruang operasi untuk mengurangi rasa sakit. Dengan membuang jaringan yang sudah mati, proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang. d. Chemoprophylaxis
pemberian anti tetanus, dapat diberikan pada luka yang lebih dalam dari superficial partial thickness. Pemberian krim silver sulvadiazin untuk penanganan infeksi, dapat diberikan kecuali pada luka bakar superfisial. Tidak boleh diberikan pada wajah, riwayat alergi sulfa, perempuan hamil, bayi baru lahir, ibu menyusui dengan bayi kurang dari 2 bulan.
e. Covering : penutupan luka bakar dengan kassa. Dilakukan sesuai dengan derajat luka bakar. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa atau bahan lainnya. Pembalutan luka (yang dilakukan setelah pendinginan) bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya lapisan kulit akibat luka bakar. Jangan berikan mentega, minyak, oli atau larutan lainnya, akan menghambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi.
f. Comforting
Dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri. Dapat diberikan penghilang nyeri berupa :
a) Paracetamol dan codein (PO-per oral)- 20-30mg/kg
b) Morphine (IV-intra vena) 0,1mg/kg diberikan dengan dosis titrasi bolus
c) Morphine (I.M-intramuskular) 0,2mg/kg
Selanjutnya pertolongan diarahkan untuk mengawasi tanda-tanda bahaya dari ABC ( Airway, Breathing, Circulation).
2. Stabilisasi Penderita Luka Bakar a. Airway and Breathing
Perhatikan adanya stridor (mengorok), suara serak, dahak berwana jelaga (black sputum), gagal napas, bulu hidung yang terbakar, bengkak pada wajah. Luka bakar pada daerah orofaring dan leher membutuhkan tatalaksana intubasi (pemasangan pipa saluran napas ke dalam trakea/batang tenggorok) untuk menjaga jalan napas yang adekuat/tetap terbuka. Intubasi dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap. Pada luka bakar dapat terjadi hal-hal sebagai berikut, yaitu :
a) Trauma bakar langsung menyebabkan edema/obstruksi dari saluran napas atas
b) Inhalasi dari hasil-hasil pembakaran yang tidak sempurna (partikel karbon) dan asap beracun, menyebabkan tracheo- bronchitis kimiawi, edema pada pneumonia.
c) Keracunan monoksida
Penderita yang dicurigai keracunan CO harus diberikan oksigen kadar tinggi, menggunakan sungkup nafas berkatup.
b. Circulation
Penilaian terhadap keadaan cairan harus dilakukan. Pastikan luas luka bakar untuk perhitungan pemberian cairan. Pemberian cairan intravena (melalui infus) diberikan bila luas luka bakar besar dari 15% pada orang dewasa dan besar dari 10% pada anak-anak. Bila kurang dari itu dapat diberikan cairan melalui mulut. Cairan merupakan komponen penting karena pada luka bakar terjadi kehilangan cairan baik melalui penguapan karena kulit yang berfungsi sebagai proteksi sudah rusak dan mekanisme dimana terjadi perembesan cairan dari pembuluh darah ke jaringan sekitar pembuluh darah yang mengakibatkan timbulnya pembengkakan (edema). Bila hal ini
terjadi dalam jumlah yang banyak dan tidak tergantikan maka volume cairan dalam pembuluh darah dapat berkurang dan mengakibatkan kekurangan cairan yang berat dan mengganggu fungsi organ-organ tubuh.
Beberapa cara yang lazim yang dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan cairan pada penderita luka bakar adalah :
a) Cara Evans. Untuk menghitung kebutuhan cairan pada hari pertama hitunglah :
1) Berat badan (kg) x % luka bakar x 1 cc NaCl (1)
2) Berat Badan (kg) x luka bakar x 1 cc larutan koloid (2) 3) 2000 cc glukosa 5% (3)
Separuh dari jumlah (1),(2), dan (3) diberikan dalam 8 jam pertama dan sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya.
Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. Sebagai monitoring pemberian cairan dilakukan perhitungan diuresis.
b) Rumus Brooke Army. Untuk menghitung kebutuhan cairan hari pertama :
1) Koloid: 0,5 ml X kg BB X % luas luka bakar
2) Elektrolit (larutan ringer laktat): 1,5ml X kg BB X % luas luka bakar
3) Glukosa (5% dalam air): 2000 ml untuk kehilangan insensible
Hari pertama separuh diberikan dalam 8 jam pertama, separuh sisanya dalam 16 jam selanjutnya. Hari kedua separuh dari cairan koloid, separuh elektrolit, seluruh penggantian cairan insensible.
c) Cara Baxter/Parkland. Merupakan cara lain yang lebih sederhana dan banyak dipakai. Jumlah kebutuhan cairan pada hari pertama dihitung dengan rumus = % luka bakar x BB (kg) x 4 cc. Separuh dari jumlah cairan ini diberikan
dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam. Hari pertama terutama diberikan elektrolit yaitu larutan Ringer laktat karena terjadi hiponatremi. Untuk hari kedua bervariasi, dapat diberikan setengah dari jumlah pemberian
hari pertama, atau dapat juga diberikan koloid 500-2000 ml ditambah glukosa 5%. Jika luka bakar lebih dari 50% maka perhitungan cairan sama dengan perhitungan luas luka bakar 50%.
Untuk kebutuhan maintenance cairan harian atau cairan rumatan selama 24 jam, dapat diberikan tambahan 35cc/kgbb untuk dewasa dan untuk anak-anak 4cc/kgBB dalam 10 kg pertama, 2cc/kgBB dalam 10 kg ke 2 (11-20 kg) dan 1cc/kgBB
tiap kgbb diatas 20 kg. 3. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik hal yang perlu dilakukan adalah: a) Tentukan luas dan dalamnya luka bakar
b) Periksa apakah ada cedera ikutan selain luka bakar c) Tentukan berat badan penderita
4. Perawatan Luka Bakar Kecil
Sebagian besar luka bakar berukuran kecil, dan dapat di rawat jalan. Umumnya merupakan luka bakar permukaan yang tidak mengenai tangan, wajah tau perineum. Tindakan yang perlu dilakukan :
a) Bersihkan luka dari benda asing termasuk kulit yang lepas b) Cuci dengan larutan povidonyodium atau anti bakteri se rupa
c) Pembalutan dengan kasa seperti kasa vaselin, adaptik dan xeroform.
d) Pemberian krim luka bakar seperti perak sulfadiasin, mafenit asetat, krim gentamisin dan salep povidonyodium.
5. Pertimbangan lain pada periode pasca luka segera
a. Pada penderita luka bakar dengan luas lebih dari 20-25% TBSA seringkali menderita ileus paralitik.
1) Hindari penggunaan cairan oral
2) Pasang intubasi nasogaster untuk penhgisapan menghindari ketegangan abdomen, emesis dan aspirasu sekunder.
3) Setelah 24 jam jika bising usus membaik pertimbangkan pemberian oral.
b. Ulserasi akibat stres pada mukosa gasstroduodenum (ulkus curling).
1) Pemberian antasida atau antagonis H2 melalui sonde 2) Jika terjadi perforasi perlu tndakan operasi.
c. Nyeri yang dialami penderita pada luka bakar dengan kedalaman sebagian perlu diberikan analgesik intravena dengan dosis besar yang tepat. Jika kedalaman penuh hanya memerlukan sedikit pengobatan.
d. Luka bakar yang melingkar yang membatasi pergerakan napas maupun pergerakan ekstremitas yang disertai berkurangnya denyut perifer perlu dilakukan eskarotomi. Eskarotomi dilakukan dengan insisi pada linea axillaris anterior bilateral dan pada garis mediolateral serta mediomedial anggotagerak. Insisi hanya cukup dalam untuk memisahkan tepi-tepi eskar. 6. Perawatan awal luka bakar
Perawatan awal biasanya untuk mencegah terjadinya infeksi yang luas karena luka yang terbuka memudahkan mikroba untuk berkembang biak. Biasanya diberikan antimikroba topikal seperti perak nitrat 0,5%, sulfadiasin 1%, mafenid asetat 11,1%. Namun jika terdapat tanda-tanda perubahan luka dari sebagian menjadi seluruh ketebalan kulit, lakukan biopsi untuk mengetahui tingkat bakteri dengan teknik biakan kuantitatif. Jika jumlah bakteri >100.000/gram jaringan hal ini menunjukkan telah terjadi
infeksi luka bakar yang luas. Terapi antimikroba sistemik yang tepat untuk organisme tersebut harus segera dilakukan.
7. Pemantauan pasien luka bakar
Setelah mendapatkan penanganan perlu dimonitor tanda vital berikut :
a. Tekanan darah b. Denyut nadi
c. Masukan dan keluaran cairan d. Temperatur
e. Tingkat kesadaran dan status anxietas f. Respirasi
8. Penanganan lanjutan pasien luka bakar
Penanganan lanjutan setelah pemberian cairan, antitetanus dan analgesik adalah :
a. Pemasangan nasogastric tube
1) Pasien mengalami mual dan muntah 2) Distensi abdomen
3) Luas luka bakar lebih dari 20% 4) Pemberian antasid
5) Pemberian makanan setelah 48 jam pasien tidak dapat makan melalui mulut
b. Pemasangan kateter urin untuk menilai produksi urin c. Pemasangn selang oksigen melalui kanul atau sungkup d. Mengontrol infeksi
1) Luka bakar yang serius menyebabkan penurunan fungsi sistem imun, rentan terkena infeksi dan sepsis
2) Menggunakan teknik aseptik yang sesuai 3) Pemberian antibiotik jika ada kontaminasi e. Menjaga keseimbangan nutrisi
1) Pasien luka bakar cenderung mengalami penurunan berat badan
2) Pemberian makanan dapat melalui oral maupun nasogastric tube
3) Pada luka bakar berat diberikan diet 3g/kgbb protein dan 90 kk/kgbb
f. Mencegah dan mengatasi anemia
1) Tingi karbohidrat tinggi protein dengan suplemen zat besi dan vitamin
2) Transfusi darah jika ada tanda-tanda kekurangan oksigen g. Bedah
1) Debridement dan skin graft pada luka akar yang parah. 2) Eskarotomi
h. Merujuk pasien jika keadaan umum telah stabil pada luka bakar yang serius
i. Fisioterapi untuk mencegah terjadinya pneumonia, kontraktur dan cacat lebih lanjut. fisioterapi dapat dimulai pada saat awal penatalaksanaan.
9. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan Laboratorium
1) pemeriksaan Hb, Ht tiap 8 jam pada 2 hari pertama, dan tiap 2 hari pada 10 hari selanjutnya
2) Fungsi hati dan ginjal tiap minggu
3) Pemeriksaan elektrolit tiap hari pada minggu pertama 4) Pemeriksaan AGD bila nafas lebih dari 32x/menit 5) Kultur jaringan pada hari ke-1, 3, 7.
b. Pemeriksaan Radiologis
1) Hendaknya dilakukan pemeriksaan foto thorax, dan dapat diulangi bila diperlukan (pada trauma bakar inhalasi)
2) Foto thorax hendaknya juga dilakukan setelah selesai pemasangan endotrakeal atau CVP
3) Pemeriksaan radiologi lainnya dapat dilakukan bila dicurigai terjadi cedera ikutan yang memerlukan pemeriksaan radiologi untuk menunjang diagnosanya.
2.1.10 Luka Bakar Khusus
1. Luka Bakar Karena Bahan Kimia/Kimiawi
Luka bakar dapat disebabkan oleh asam alkali, dan hasil-hasil pengolahan minyak. Luka bakar alkali lebih berbahaya dari asam, sebab alkali lebih dalam merusak jaringan. Segeralah bersihkan bahan kimia tersebut dari luka bakar Kerusakan jaringan akibat luka bakar bahan kimia dipengaruhi oleh lamanya kontak, konsentrasi bahan kimia dan jumlahnya. Segera lakukan irigasi sebanyak-banyaknya, bila mungkin gunakan penyemprot air. Lakukan tindakan ini dalam waktu 20 – 30 menit. Untuk luka bakar alkali, di perlukan waktu yang lebih lama. Bila bahan kimia
merupakan bubuk, sikatlah terlebih dahulu sebelum irigasi.
Jangan memberikan bahan-bahan penetral (neutralizing agent ) sebab reaksi kimiawi yang terjadi akibat pemberian bahan penetral dapat memperberat kerusakan yang terjadi. Untuk luka bakar pada mata, memerlukan irigasi terus-menerus selama 8 jam
pertama setelah luka bakar. Untuk irigasi ini dapat digunakan kanula kecil yang di pasang pada sulkus palpebra.
2. Luka Bakar Listrik
Luka bakar listrik terjadi karena tubuh terkena aliran listrik. Luka bakar listrik sering menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih berat daripada luka bakar yang terlihat pada permukaannya.
Penanganan harus segera dilakukan meliputi perhatian pada jalan nafas, pernafasan, pemasangan infus, ECG,dan pemasangan kateter. Apabila urine berwarna gelap, mungkin urine mengandung hemokhromogens. Jangan menunggu konfirmasi laboratorium untuk melakukan terapi terhadap mioglobinuria. Pemberian cairan ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tercapai produksi urin sekurang-kurangnya 100 cc/jam (dewasa). Bila urin belum tampak jernih, berikan segera 25 gr manitol dan tambahkan 12,5 gr manitol pada tiap penambahan 1 liter cairan untuk mempertahankan diuresis sejumlah tersebut di atas. Bila terjadi asidosis metabolik, pertahankan perfusi sebaik mungkin dan berikan Natrium bikarbonat untuk memberikan urine menjadi alkalis dan
meningkatkan kelarutan mioglobin dalam urine. 2.1.11 Komplikasi
1. Syok hipovolemik
Akibat pertama dari luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi akan rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula dengan membawa serta elektrolit. Hal ini menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang berlebihan, cairan yang masuk ke bula pada luka bakar derajat II
Bila luas luka bakar < 20% biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasi tetapi bila > 20 % terjadi Syok hipovolemik dengan gejala yang khas seperti gelisah, pucat, dingin , berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun dan produksi urin berkurang. Pembengkakan terjadi perlahan lahan dan maksimal pada delapan jam.
2. Udem laring
Pada kebakaran dalam ruangan tertutup atau bila luka terjadi di muka,. Dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas , asap, uap panas yang terhisap, udem yang terjadi dapat menyebabkan gangguan berupa hambatan jalan napas karena udem laring. Gejala yang timbul adalah sesak napas, takipnea, stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap karena jelaga.
Setelah 12 – 24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi dan penyerapan cairan edema kembali ke pembuluh darah . ini ditandai dengan meningkatnya diuresis.
3. Keracunan gas CO
Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lain. Karbon monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda-tanda keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi koma. Bila > 60 % hemoglobin terikat dengan CO, penderita dapat meninggal.
4. SIRS ( systemic inflammatory respone syndrome)
Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit untuk mengalami penyembuhan karena tidak terjangkau oleh pembuluh darah kapiler yang mengalami trombosis. Kuman penyebab infeksi berasal dari kulitnya sendiri, juga dari kontaminasi kuman dari saluran nafas atas dan kontaminasi kuman di lingkungan rumah sakit. Infeksi
nosokomial ini biasanya berbahaya karena banyak yang sudah resisten terhadap antibiotik.
Prosesnya dimulai oleh aktivasi makrofag, netrofil, dan pelepasan mediator-mediator, yang kemudian diikuti oleh :
1) gangguan hemodinamik berupa vasodilatasi, depresi miokardium, gangguan sirkulasi dan redistribusi aliran.
2) perubahan mikrovaskuler karena endotel dan edema jaringan, mikroemboli, dan maldigesti aliran.
3) gangguan oksigenasi jaringan. Ketiganya menyebabkan hipoksia seluler dan menyebabkan kegagalan fungsi organ. Yang ditandai dengan meningkatnya kadar limfokin dan sitokin dalam darah.
5. MOF ( Multi Organ Failure)
Adanya perubahan permeabilitas kapiler pada luka bakar menyebabkan gangguan sirkulasi. Di tingkat seluler, gangguan perfusi menyebabkan perubahan metabolisme. Pada tahap awal terjadi proses perubahan metabolisme anaerob yang diikuti peningkatan produksi dan penimbunan asam laktat menimbulkan asidosis. Dengan adanya gangguan sirkulasi dan perfusi, sulit untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel, iskemi jaringan akan berakhir dengan nekrosis.
Gangguan sirkulasi makro menyebabkan gangguan perfusi ke jaringan-jaringan organ penting terutama otak, hepar, paru, jantung, ginjal, yang selanjutnya mengalami kegagalan menjalankan fungsinya. Dalam mekanisme pertahanan tubuh, terjadi gangguan pada sistem keseimbangan tubuh (homeostasis), maka organ yang dimaksud dalam hal ini adalah ginjal. Dengan adanya penurunan atau disfungsi ginjal ini, beban tubuh semakin berat.
Resusitasi cairan yang inadekuat pada fase ini menyebabkan berjalannya proses sebagaimana diuraikan diatas. Sebaliknya bila terjadi kelebihan pemberian cairan (overload ) sementara sirkulasi
dan perifer tidak atau belum berjalan normal, atau pada kondisi syok; cairan akan ditahan dalam jaringan paru yang manifestasi klinisnya tampak sebagai edema paru yang menyebabkan kegagalan fungsi paru sebagai alat pernafasan, khususnya pertukaran oksigen dengan karbondioksida, kadar oksigen dalam darah sangat rendah, dan jaringan hipoksik mengalami degenerasi yang bersifat irreversible. Sel-sel otak adalah organ yang paling sensitive; bila dalam waktu 4 menit terjadi kondisi hipoksik, maka sel-sel otak mengalami kerusakan dan kematian; yang menyebabkan kegagalan fungsi pengaturan di tingkat sentral.
Sementara edema paru juga merupakan beban bagi jantung sebagai suatu pompa. Pada mulanya jantung menjalankan mekanisme kompensasi, namun akhirnya terjadi dekompensasi. 6. Kontraktur
Kontraktur merupakan salah satu komplikasi dari penyembuhan luka, terutama luka bakar. Kontraktur adalah jenis scar yang terbentuk dari sisa kulit yang sehat di sekitar luka, yang tertarik ke sisi kulit yang terluka. Kontraktur yang terkena hingga lapisan otot dan jaringan tendon dapat menyebabkan terbatasnya pergerakan.
Pada tahap penyembuhan luka, kontraksi akan terjadi pada hari ke-4 dimana proses ini bersamaan dengan epitelisasi dan proses biokimia dan seluler dari penyembuhan luka. Kontraktur fleksi dapat terjadi hanya karena kehilangan lapisan superfisial dari kulit. Biasanya dengan dilakukan eksisi dari jaringan parut yang tidak elastik ini akan menyebabkan sendi dapat ekstensi penuh kembali. Pada luka bakar yang lebih dalam, jaringan yang banyak mengandung kolagen akan meliputi neurovascular bundles dan ensheathed flexor tendons, juga permukaan volar dari sendi akan mengalami kontraksi atau perlekatan sehingga akan membatasi range of motion. Kontraktur yang disebabkan oleh hilangnya kulit
atau luka bakar derajat III pada daerah persendian harus segera dilakukan skin grafting .
2.1.12 Prognosis
Prognosis pada kasus luka bakar ditentukan oleh beberapa faktor, dan menyangkut mortalitas dan morbiditas atau burn illness severity and prediction of outcome ; yang mana bersifat bersifat
kompleks.
Beberapa faktor yang berperan antara lain faktor penderita (usia, gizi, jenis kelamin, dan kelainan sistemik), faktor trauma (jenis, luas, kedalaman luka bakar, dan trauma penyerta), dan faktor penatalaksanaan ( prehospital and inhospital treatment ).
Prognosis luka bakar umumnya jelek pada usia yang sangat muda dan usia lanjut. Pada usia yang sangat muda (terutama bayi) beberapa hal mendasar menjadi perhatian, antara lain sistem regulasi
tubuh yang belum berkembang sempurna; komposisi cairan intravaskuler dibandingkan dengan cairan ekstravaskuler, interstitial, dan intraselular yang berbeda dengan komposisi pada manusia dewasa, sangat rentan terhadap suatu bentuk trauma. Sistem imunologik yang belum berkembang sempurna merupakan salah satu faktor yang patut diperhitungkan, karena luka bakar merupakan suatu bentuk trauma yang bersifat imunosupresi.
2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 2.2.1 Pengkajian
1. Pengkajian Luas Luka Bakar
Sistem ini menggunakan prosentase kelipatan sembilan terhadap luas permukaan tubuh.
a. Adult: kepala = 9 %, tangan kanan-kiri = 18%, dada dan perut = 18%, genetalia = 1%, kaki kanan-kiri = 36%, dan punggung = 18
b. Child: kepala = 18%, tangan kanan-kiri = 18% , dada dan perut = 18%, kaki kanan-kiri = 28%, dan punggung = 18%
c. Infant: kepala = 18%, tangan kanan-kiri =18%, dada dan perut = 18%, kaki kanan-kiri = 28%, dan punggung = 18%
2. Pengkajian Cepat a. AVPU
1) Alert : Kesadaran sesuai GCS 2) Verbal : Berespon secara verbal
3) Pain : Berespon terhadap rangsang nyeri 4) Unresponsive : Tidak ada respon
b. SAMPLE
1) Sign : Nyeri, terdapat bula, lepuh, kulit kemerahan, sesak nafas.
2) Allergy : Ada/tidaknya alergi terhadap makanan/obat 3) Medication : Obat-obatan yang sedang dikonsumsi
4) Pass History : Penyakit yang pernah diderita sebelumnya 5) Last Meal : Makanan yang terakhir kali dikonsumsi 6) Event : Mekanisme kejadian (Terkena bahan
kimia, termis, radiasi, petir, dll). c. Pengkajian Nyeri (PQRST)
1) P : Bertambah saat aktifitas 2) Q : Nyeri terbakar
3) R : Di area yang kontak dengan penyebab luka bakar 4) S : Skala nyeri antara sedang sampai berat
5) T : Nyeri dirasakan terus menerus. 3. Pengkajian Awal
Pengkajian ini dibuat dengan cepat selama pertemuan pertama dengan pasien yang meliputi ABC ( Airway, Breathing,
dan Circulation) a. Airway
1) Data subjektif
2) Data objektif
terdengar suara krekels dan stridor, terdapat edema pada laring
b. Breathing
1) Data subjektif
Pasien mengeluh sesak. 2) Data objektif
Terdapat adanya gerakan otot bantu nafas, RR lebih dari 20 kali permenit, nampak pernafasan cuping hidung
c. Circulation
1) Data subjektif
Pasien mengeluh pusing 2) Data objektif
Nadi klien meningkat > 100 x permenit. 4. Pengkajian Berdasarkan 6 B
a. Breathing
1) Data subjektif
Pasien mengatakan susah untuk bernafas. 2) Data objektif
Pasien telihat sesak (RR> 20 x/menit), pernafasan cuping hidung, menggunakan otot bantu pernafasan.
b. Blood
1) Data subjektif
Klien mengeluh pusing . 2) Data objektif
Nadi klien meningkat > 100 x permenit , hematokrit meningkat, leukosit meningkat , trombosit menurun.
c. Brain
1) Data subjektif
Pasien merasa pusing, pasien mengeluh nyeri kepala. 2) Data objektif
d. Bladder
1) Data subjektif
Pasien mengatakan sedikit kencing 2) Data objektif
Haluaran urin menurun. e. Bowel
1) Data subjektif
Pasien mengeluh susah BAB . 2) Data objektif
Pasien mungkin mengalami penurunan berat badan dan konstipasi.
f. Bone
1) Data subjektif
Pasien mengeluh letih dan pegal-pegal. 2) Data objektif :
-5. Analisa Data
Data Penyebab Masalah
Data subjektif :
Pasien mengeluh sesak, pasien mengeluh nyeri .
Data objektif :
terdengar suara krekels dan stridor , terdapat edema pada laring
Luka bakar
Inhalasi gas berbahaya
Cedera inhalasi dibawah glotis
penurunan fungsi silia
penurunan reflex batuk
penumpukan sekret
Bersihan jalan nafas tidak efektif
Data Subyektif :
pasien mengeluh susah bernafas
Data Obyektif :
frekuensi napas 32 x/mnt, ada retraksi dada, pasien terlihat sesak napas.
Luka bakar
Inhalasi gas berbahaya
Afinitas Hb mengikat CO lebih tinggi dr O2
Co2 berikatan dgn Hb
Ikatan karboksihemoglobin
Kebutuhan O2 meningkat
Pola nafas tidak efektif
Data subjektif :
Pasien mengeluh pusing Data objektif:
Nadi klien meningkat > 100 x permenit.
Luka bakar
Inhalasi gas berbahaya
Cedera inhalasi dibawah glottis
Surfaktan paru
Atelektasis
Kerusakan pertukaran gas
Data subjektif :
Pasien mengeluh pusing Data objektif:
Nadi klien meningkat > 100 x permenit.
Luka bakar
Inhalasi gas berbahaya
Afinitas Hb mengikat CO lebih tinggi dr O2 Co2 berikatan dgn Hb Ikatan karboksihemoglobin Gangguan perfusi jaringan
Gangguan sirkulasi
Penurunan darah ke perifer Luka bakar
Kerusakan kulit
Penguapan meningkat
Peningkatan pembuluh darah kapiler
Ektravasasi cairan (H2O2, Elektrolit, protein)
Tekanan osmotic menurun
Cairan intravaskuler menurun
Hipovolemia
Kekurangan volume cairan
Data subyektif :
Klien mengatakan nyeri pada pada daerah yang menagalami
luka bakar Data obyektif :
1. Ku. Lemah
2. Klien Nampak meringis 3. Derajat luka bakar 37
%
4. Skala nyeri 8 ( nyeri
Faktor predisposisi (luka bakar akibat air panas)
Terpapar pada bagian kulit
Merusak aliran pembuluh darah pada area yang terpapar
Kerusakan Ujung- ujung saraf pada kulit