• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. IDENTIFIKASI DATA. 15 Universitas Kristen Petra. RI, 2001, hal 6.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. IDENTIFIKASI DATA. 15 Universitas Kristen Petra. RI, 2001, hal 6."

Copied!
143
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Perpustakaan secara Umum 2.1.1. Arti Perpustakaan

Perpustakaan berasal dari kata “pustaka”, yang berarti buku. Setelah mendapat awalan per dan akhiran an menjadi “perpustakaan”, yang berarti kitab, kitab perimbon, atau kumpulan buku-buku, yang kemudian disebut koleksi bahan pustaka. Istilah itu berlaku untuk perpustakaan yang masih bersifat traditional atau perpustakaan konvensional. Seiring dengan perkembangan jaman, koleksi perpustakaan tidak hanya berupa buku-buku, majalah, koran atau bahan tercetak (printed matter) lainnya. Koleksi perpustakaan telah berkembang dalam bentuk terekam, dan digital (recorded matter). Koleksi perpustakaan ditata dan disusun rapi di tempat-tempat yang sudah ditentukan, setelah diolah atau diproses menurut suatu sistem tertentu, misalnya menurut Dewey Decimal Classification (DDC).1

Perpustakaan bukan lagi sekedar melayani selera para pengguna untuk mengisi waktu luang, namun lebih kepada peningkatan ilmu pengetahuan, informasi dan yang berguna bagi masyarakat.2

Perpustakaan adalah “sebuah ruangan, bagian gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Dengan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan bertujuan untuk mendayagunakan koleksinya untuk kepentingan umum bukan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.3

Pada dasarnya, prinsip perpustakaan secara garis besar adalah sebagai berikut:4

a. Menciptakan dan memantapkan kebiasaan membaca masyarakat, sesuai dengan jenis perpustakaan dan pemakainya.

1 A.S. Nasution, dkk. Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Departemen P dan K, 1981, hal.10. 2 Ibid, hal.15.

3 Ibid,hal. 1.

4 Perpustakaan Nasional RI, Kajian Perpustakaan Umum, Zulfikar Zen (et al): Jakarta: Perpusnas RI, 2001, hal 6.

(2)

b. Mendukung, baik pendidikan perorangan secara mandiri, maupun pendidikan formal pada semua jenjang.

c. Memberikan kesempatan bagi pengembangan kreativitas dan imajinasi pribadi.

d. Menstimulasi imajinasi dan kreativitas masyarakat pemakai perpustakaan. e. Meningkatkan kesadaran terhadap warisan budaya, apresiasi pada

kesenian dan hasil-hasil penemuan ilmiah.

f. Menyediakan akses kepada ekspresi-ekspresi kultural dan perubahan. g. Mendorong dialog antar budaya oleh karena keanekaragaman budaya. h. Mengusahakan agar semua anggota masyarakt dapat akses kepada segala

macam informasi yang tersedia di perpustakaan yang bersangkutan.

i. Memberikan layanan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemakainya.

j. Memberikan kemudahan kepada pengembangan informasi peningkatan ilmu pengetahuan dan keterampilan.

k. Mendukung dan berpatisipasi dalam program-program perpustakaan bagi masyarakat pemakainya.

l. Ikut serta dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam arti luas.

Pada hakikatnya perpustakaan bersifat universal, artinya: 5

1. Ada di mana-mana, baik negara-negara maju, dan di negara sedang berkembang, di masyarakat (umum), sekolah, perguruan tinggi, maupun di kantor pemerintah dan swasta, di kota, serta desa-desa

2. Tugas, fungsi dan kegiatan pokoknya sama, yaitu menghimpun dan mengumpulkan (to collect), mengolah, memelihara, merawat, melestarikan (to preserve), dan mengemas, menyajikan dan memberdayakan serta memanfaatkan dan melayankan kepada pemakai (to make available)

3. Sifatnya informative, edukatif, rekreatif (terutama perpustakaan umum), dan penelitian, serta pengembangan ilmu pengetahuan.

(3)

2.1.2. Sejarah Perpustakaan

Perpustakaan sudah ada sejak zaman dulu, pada mulanya keberadaan perpustakaan sangat terbatas pada kalangan tertentu saja, seperti kalangan raja-raja dan kaum bangsawan, tokoh agama dan gereja. Koleksi perpustakaan pada awalnya berbentuk batu bertulis, tablet tanah liat, (clay tablets), papirus, daun lontar, gulungan bahan tertentu (scrolls), kulit dan sejenisnya. Perpustakaan mulai berkembang dengan baik daripada sebelumnya, sejak ditemukan kertas sebagai bahan utama membuat buku ditemukan oleh bangsa Cina sekitar awal abad kedua Masehi. Kemudian dibawa ke Eropa dan diproduksi secara lebih besar. Perkembangan penerbitan buku makin cepat, terutama di sebagian besar daratan Eropa sejak ditemukan mesin cetak oleh orang Jerman, Johann Gutenberg pada abad ke 15. Perpustakaan terus berkembang, bukan saja di Eropa, namun telah meluas ke benua lain, seperti Amerika, Australia dan Asia.6

Keberadaan sebuah perpustakaan telah berkembang bersamaan dengan budaya umat manusia, karena perpustakaan pada hakikatnya merupakan bagian dari hasil peradaban dan budaya (hasil cipta, karsa dan karya) umat manusia. Sebuah perpustakaan pada mulanya lebih tua daripada buku, kertas, dan mesin cetak. Oleh karena jauh sebelum benda-benda tersebut ditemukan orang, perpustakaan sudah ada. Ketika itu koleksi perpustakaan terdiri atas tulisan-tulisan pada batu-batuan, kulit binatang, daun lontar dan sejenisnya, tablet tanah liat (clay

tablet), gulungan-gulungan (scrolls) dan lain sebagainya. Perkembangan dan

penggunaan perpustakaan masih terbatas pada golongan atau kelompok masyarakat tertentu, seperti keluarga kerajaan, kaum bangsawan, agamawan dan kaum borjuis.

Kemudian seiring dengan perkembangan dan persebaran jumlah penduduk, pertumbuhan ilmu pengetahuan, dan kemajuan umat manusia, perpustakaan juga semakin berkembang. Perkembangan tersebut meliputi jenis perpustakaan, koleksi bahan pustaka, sarana dan prasarana, serta masyarakat pemakainya.

(4)

Sebuah perpustakaan dibangun berdasarkan beberapa pertimbangan, antara lain: 1. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

2. Atas keinginan masyarakat tertentu.

3. Atas prakarsa pemerintah (pusat atau pun pemerintah daerah) 4. Atas kemauan lembaga tertentu, baik pemerintah maupun swasta.

5. Untuk mendukung suatu kegiatan seperti pendidikan/ sekolah dan guna memfasilitasi program penelitian.

Pembangunan perpustakaan dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi, ilmu pengetahuan, pendidikan, rekreasi, penelitian, bagi masyarakat yang diharapkan dapat menggunakannya, serta pelestarian khasanah budaya bangsa dalam bentuk koleksi perpustakaan tersebut. Koleksi perpustakaan merupakan rekaman, catatan, tulisan atas buah pikiran, gagasan, ide, penemuan dan karya-karya yang lain yang tak ternilai harganya. Dari waktu ke waktu akan terus berkembang, semuanya tersimpan dan tertata di perpustakaan.

Perpustakaan adalah dari kita, oleh kita, dan untuk kita semua. Perpustakaan adalah milik kita, masyarakat secara sadar atau tidak, menjadi bagian dari keberadaan sebuah perpustakaan.7

2.1.3. Klasifikasi Penyusunan Koleksi

Menyusun buku pada perpustakaan dilakukan menurut subyeknya, dan pada umumnya perpustakaan menggunakan sistem klasifikasi persepuluhan Dewey. Yang menemukan sistem ini adalah seorang ahli perpustakaan yang berbangsa Amerika, bernama Melvil Dewey (1851-1931). Sistem ini digunakan oleh beberapa negara di dunia, dan disebut persepuluhan karena memakai angka-angka persepuluhan untuk menyatakan cabang-cabang pengetahuan tertentu. Angka-angka yang dipakai untuk seluruh bidang ilmu pengetahuan adalah dari 000-999. 000-999 meliputi semua bidang pengetahuan dan aktivitas manusia. Seluruh bidang pengetahuan dan aktivitas manusia ini dibagi atas sepuluh kelompok, tiap-tiap kelompok dibagi lagi atas sepuluh bagian dan seterusnya.

(5)

Contoh pengelompokan berdasarkan sistem Dewey: 000-999 semua bidang pengetahuan dan aktivitas manusia 000-099 Karya Umum 100-199 Filsafat 200-299 Agama 300-399 Ilmu kemasyarakatan 400-499 Bahasa 500-599 Ilmu pengetahuan 600-699 Tekonologi dan seterusnya.

Sedangkan tiap kelompok akan dibagi lagi menjadi sepuluh bagian lagi menjadi: 000-099 Karya Umum

010 Bibliografi 020 Ilmu Perpustakaan 030 Ensiklopedis Umum 040 Majalah umum

050 Organisasi Umum dan Museum dan seterusnya.

2.1.4. Standar bagi Perpustakaan:

• Personil, yaitu kualifikasi staf perpustakaan, pendidikan dan pengalamannya serta jumlah personil harus dipertimbangkan sesuai kebutuhan serta jumlah unit pustaka yang dimiliki. Dikelola dan dijalankan oleh petugas-petugas dengan persyaratan tertentu.

• Bahan pustaka, yaitu ketentuan-ketentuan mengenai jumlah buku dan bahan-bahan lain. Banyak negara yang menentukan jumlah bahan itu dalam perbandingan dengan jumlah murid.

• Ditata menurut suatu sistem tertentu, diolah/ diproses meliputi registrasi dan identifikasi, klasifikasi, katalogisasi.

(6)

• Ruangan perpustakaan dan inventaris, yaitu sarana dan prasarana yang harus disediakan oleh perpustakaan sehingga pengunjung dapat mencari dan membaca buku dengan baik dan nyaman. Ditempatkan di gedung atau ruangan tersendiri, tidak digabungkan dengan kantor atau kegiatan lain. 8 • Organisasi, ini dibutuhkan untuk menentukan dan melakukan pembagian

kerja di tiap-tiap bagian dan melakukan kerja administratif.

• Standar pelayanan, menyangkut mengenai jam pelayanan yang diberikan dan aspek-aspek pelayanan lainnya.

• Adanya kumpulan buku-buku dan bahan pustaka lainnya, baik tercetak maupun terekam.

• Adanya masyarakat pemakai perpustakaan, untuk membaca, meneliti, meminjam, mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari perpustakaan.9

2.1.5. Koleksi Perpustakaan Bahan Cetak

• Koleksi buku: tidak hanya kuantitatif yang dihitung namun juga secara kualitas. Buku koleksi perpustakaan harus berkualitas, bermanfaat dan menarik

• Banyaknya buku koleksi: setidaknya setiap akan mewaliki 5 judul buku, jadi bila sekolah/ universitas memiliki 1.500 murid, perpustakaan harus memiliki koleksi minimal 7.500 judul buku.

• Pemilihan buku: dihubungkan dengan kebutuhan dan minat sari pelajar. • Perbandingan akan buku Fiksi dan Non-Fiksi, 30%:70%, 25%:75%, dan

lain-lain. Bahan Tidak Tercetak

• Koleksi perpustakaan harus meliputi bahan-bahan audio visual termasuk gambar-gambar, peta, globe, slide, film strip, film loop, tape, dan sebagainya.

8 A.S. Nasution, dkk. Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Departemen P dan K, 1981, hal.175. 9 Sutarno NS. Manajemen Perpustakaan Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta,1983, hal. 28.

(7)

2.1.6. Jenis Perpustakaan

Pada hakikatnya perpustakaan memiliki persamaan-persamaan antara yang satu dengan yang lain. Perpustakaan dibedakan oleh: organisasi yang mengelola, kebijakan instansi pengelola, penekanan bobot koleksi, masyarakat pemakai, tingkat perkembangannya.

Beberapa jenis-jenis perpustakaan sekarang yang ada dan dikembangkan di Indonesia adalah:

1. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) berkedudukan di ibukota Negara. Bertugas membantu presiden dalam bidang perpustakaan, membina seluruh jenis perpustakaan yang ada di Indonesia. Berfungsi sebagai pusat referensi nasional, pusat penelitian, pusat kerja sama nasional dan internasional bidang perpustakaan, dan sebagai pusat deposit nasional.

2. Badan Perpustakaan Provinsi

Berada di tiap provinsi di Indonesia, kecuali untuk provinsi-provinsi baru yang belum sempat membentuk perpustakaan. Kepala Badan Perpustakaan Provinsi bertanggung jawab kepada Gubernur. Tugasnya membantu gubernur dalam bidang perpustakaan, dan fungsinya antara lain merupakan pusat kerja sama perpustakaan di daerah yang bersangkutan dan sebagai pembina semua jenis perpustakaan di provinsi, sebagai pusat deposit daerah, pusat penelitian daerah, dan memberikan layanan informasi, pendidikan, dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas.

3. Perpustakaan Perguruan Tinggi

Perpustakaan berada di lingkungan kampus. Pemakainya adalah sivitas akademi perguruan tinggi tersebut, dan tugas dan fungsinya yang utama adalah menunjang proses pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Tri Dharma Perguruan Tinggi). Pengelolaan dan penanggung jawabnya adalah perguruan tinggi yang bersangkutan. Bentuk lembaga perpustakaan bervariasi, untuk tingkat universitas disebut Unit Pelaksanaan Teknis Perpustakaan (UPT Perpustakaan), perpustakaan fakultas, perpustakaan jurusan, perpustakaan dan program Pascasarjana. Merupakan

(8)

“jantung universitas” karena merupakan pusat penelitian, pengembangan, inovasi serta rekayasa ilmu pengetahuan.

4. Perpustakaan Umum

Berada di tiga tingkatan pemerintahan yakni (1) perpustakaan umum kabupaten dan kota diseluruh Indonesia, (2) perpustakaan umum kecamatan, (3) perpustakaan umum desa/ kelurahan. Tugas dan fungsinya memberikan layanan kepada seluruh lapisan masyarakat, sebagai pusat informasi, pusat sumber belajar, tempat rekreasi, penelitian, dan pelestarian koleksi bahan pustaka yang dimiliki. Perpustakaan umum sering disebut sebagai Perpustakaan Universitas Rakyat, karena perpustakaan umum menyediakan semua jenis koleksi bahan pustaka dari berbagai disiplin ilmu, dan penggunaannya oleh seluruh lapisan masyarakat. Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang didanai dari sumber yang berasal dari masyarakat seperti pajak dan retribusi, yang kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk layanan.10

5. Perpustakaan Khusus/Kedinasan

Perpustakaan yang berada pada suatu instansi atau lembaga tertentu, baik pemerintah maupun swasta, dan sekaligus sebagai pengelola dan penanggungjawabnya. Tugas pokoknya melayani pemakai dari kantor yang bersangkutan, sehingga koleksinya juga relatif terbatas yang berkaitan dengan misi dan tugas lembaga yang bersangkutan. Sumber pembiayaan berasal dari anggaran instansi penyelenggara tersebut.

6. Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan merupakan salah satu sarana dan fasilitas penyelenggaraan pendidikan. Menurut Dady P. Rachmananta, dari sekitar 200 ribu sekolah di Indonesia, 95 persennya tidak atau belum memiliki perpustakaan.11 Perpustakaan sekolah ada pada lingkungan sekolah, penanggung jawabnya adalah Kepala Sekolah, pengelolanya biasanya adalah guru dan pegawai yang ditugaskan.

10 Sutarno NS. Manajemen Perpustakaan Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta,1983, hal. 73. 11 Dady P Rachmananta. “ Perpustakaan Sekolah” Koran Tempo 03 Juli 2003.

(9)

7. Perpustakaan Keliling

Perpustakaan ini merupakan jenis layanan yang dikembangkan (extension), yaitu memberikan layanan “berkeliling” mendatangi tempat pemukiman, penduduk, tempat kegiatan masyarakat. Diselenggarakan oleh perpustakaan umum (Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota), dan juga diselenggarakan oleh lembaga-lembaga/ yayasan tertentu. Penyelengggaraan perpustakaan keliling, bukan saja untuk mengembangkan layanan perpustakaan, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk : (1) melakukan penelitian tentang minat baca dan mengetahui respon masyarakat yang bersangkutan kepada perpustakaan, (2) untuk melakukan promosi, (3) untuk menarik perhatian masyarakat, serta (4) untuk mempelajari apakah di suatu tempat tersebut sudah waktunya untuk dibangun sebuah perpustakaan cabang karena masyarakatnya sudah membutuhkan.

8. Perpustakaan Lembaga Keagamaan

Biasanya berada di sekitar tempat-tempat peribadatan seperti masjid, gereja, dan pura. Pengelola dan penanggung jawabnya adalah pengurus lembaga peribadatan tersebut. Koleksi tersebut pada umumnya buku-buku bacaan tentang agama yang bersangkutan, pengetahuan umum dan informasi yang lain yang dapat menambah pengetahuan dan pengalaman masyarakat.

9. Taman Bacaan Rakyat

Merupakan salah satu embrio atau cikal bakal jenis perpustakaan umum yang berkembang di Indonesia dan telah ada. Telah berkembang sejak lama, masih eksis namun tidak terlalu banyak. Perpustakaan jenis ini dimaksudkan untuk mendukung program pemberantasan buta huruf (PBH), yaitu perpustakaan yang berbasis pada masyarakat (Community Based Library). Sumber dana berasal dari donatur, pribadi, yayasan dan swadaya masyarakat (swadana).

2.1.7. Fungsi-fungsi Perpustakaan

Fungsi-fungsi dari perpustakaan antara lain sebagai berikut:

(10)

b. Penyediaan bahan pustaka yang diperkirakan, diperlukan, melalui pembelian, langganan, tukar-menukar, penggandaan, penerbitan dan lain-lain.

c. Pengolahan dan penyiapan bahan pustaka. d. Penyimpanan dan pemeliharaan koleksi. e. Pendayagunaan koleksi.

f. Pemberian layanan kepada masyarakat, dengan sistem yang mudah, cepat dan tepat serta sederhana.

g. Pemasyarakatan perpustakaan.

h. Pengkajian dan pengembangan semua aspek kepustakawanan.

i. Menjalin kerja sama dengan perpustakaan lain dalam rangka pemanfaatan bersama koleksi sarana prasarana.

j. Pelaksanaan koordinasi dengan berbagai pihak-pihak dan mitra kerja lainnya.

k. Administrasi perpustakaan seperti kepegawaian, ketatausahaan, keuangan dan kerumahtanggaan.12

2.1.8. Kendala dan keterbatasan

Kendala dan keterbatsanan yang pada umumnya sering dijumpai pada beberapa perpustakaan di Indonesia, antara lain:

a. Internal, antara lain:

1. Jumlah, jenis dan mutu koleksi bahan pustaka, 2. Jumlah dan mutu sumber daya manusia, 3. Sarana dan prasarana,

4. Perabot dan perlengkapan, 5. Sumber pembiayaan, 6. Sosialisasi,

7. Perhatian dari instansi induk/ atasan. b. Eksternal, antara lain:

1. Minat dan budaya baca masyarakat yang umumnya masih relatif rendah,

12 Perpustakaan Nasional RI, Kajian Perpustakaan Umum, Zulfikar Zen (et al): Jakarta: Perpusnas RI, 2001, hal. 17.

(11)

2. Perhatian, respon dan tanggapan masyarakat yang masih terbatas, 3. Informasi dan akses ke perpustakaan masih terbatas,

4. Kesadaran tentang perlunya perpustakaan belum tumbuh dan berkembang baik,

5. Kondisi sosial budaya dan sosial ekonomi belum sepenuhnya menunjang,

6. Ada “jarak” yang memisahkan antara perpustakaan dan masyarakat.

2.1.9. Perkembangan Perpustakaan Perpustakaan Dulu, Kini dan Esok

Perpustakaan sudah ada sejak adanya kebudayaan manusia, mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan perjalanan kehidupan manusia.Periodisasi pertumbuhan perpustakaan dikelompokkan ke dalam tiga masa yaitu:

1. Sejak permulaan-tahun 1600 2. 1600-Perang Dunia I

3. Sejak Perang Dunia II-perkembangan perpustakaan secara internasional. Perkembangan perpustakaan dalam dunia internasional tersebut meliputi berbagai benua yaitu Afrika, Asia, Australia dan Selandia Baru, Eropa, Amerika Latin, dan Amerika Utara. Kemudian diikuti dengan perkembangan perpustakaan universitas, perpustakaan akademi (college library), perpustakaan sekolah, perpustakaan khusus dan perpustakaan umum.13

Menurut periodisasi perkembangan perpustakaan tersebut di dalam uraian ini disebutkan ke dalam tiga kelompok yaitu:

1. Perpustakaan masa silam

Perpustakaan merupakan mata rantai sejarah umat manusia yang dapat ditulis atu dibukukan direkam, dan kemudian dilestarikan dan diabadikan atau disimpan di perpustakaan. Perpustakaan tersebut merupakan sumber ilmu pengetahuan, sumber inspirasi, sumber inovasi dan sumber referensi.

(12)

Perpustakaan dulu atau masa silam mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1. Jumlah dan jenis perpustakaan sedikit

2. Jumlah dan jenis koleksi terbatas

3. Jumlah pemakai sedikit dan terbatas untuk kalangan tertentu saja 4. Sistem pengolahan, penataan pemakaiannya belum diatur

5. Buku pedoman, standar, dan rujukan untuk membuat perpustakaan masih langka

6. Sarana dan perlengkapan perpustakaan masih belum memadai Perpustakaan masa silam sangat berguna dan berjasa kepada pemakainya sampai sekarang, karena apabila tidak ada perpustakaan, kita akan buta mengenai masa silam, tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi sekarang karena apa yang ada dan terjadi sekarang tidak dapat dipisahkan dengan apa yang sudah ada serta merupakan kelanjutan hasil karya (produk) masa lalu.

2. Perpustakaan sekarang

Perpustakaan yang ada kini merupakan perbaikan serta perubahan dari perpustakaan dahulu. Perpustakaan akan terus digali, diteliti, dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Perkembangan yang terjadi antara lain:

1. Di bidang ilmu pengetahuan kini telah berkembang berbagai disiplin ilmu.

2. Dibidang perbukuan sudah sangat banyak judul buku dan pengarang serta penerbit yang memproduksinya.

3. Di bidang pendidikan telah banyak jumlah dan jenis lembaga pendidikan, baik umum, khusus atau kejuruan, sejak pendidikan taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.

4. Dalam perguruan tinggi sendiri telah berkembang berbagai fakultas, jurusan dan spesialisasi, termasuk program pasca.

5. Dalam bidang rekayasa (Engineering) telah banyak diproduksi rumah tangga (home industry) berbagai hasil industri, sejak dari industri sampai dengan yang dikeluarkan oleh perusahaan multi

(13)

Koleksi perpustakaan merupakan panduan, pedoman dan acuan bagi kita untuk mempersiapkan menata dan mewujudkan cita-cita untuk masa yang akan datang. Segala sesuatu yang akan kita tuju (goal) harus kita rancang dan susun dari sekarang. Perpustakaan memiliki andil dalam memberikan masukan, inspirasi dari buku-bukunya, dan bagi negara tertentu perpustakaan merupakan barometer atas tingkat kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya.14

3. Perpustakaan pada masa yang akan datang (hari esok)

Pada era ketiga, yaitu era informasi sebagai kelanjutan dari era globalisasi era kebebasan serta era-era yang lain. Sebagai era informasi, maka informasi berkembang sangat pesat, setiap orang dalam kehidupannya tak akan lepas dari informasi.15 Seseorang yang mempunyai akses dan informasi yang lebih cepat dan tepat akan menguasai dunia. Sebaliknya bagi mereka yang ketinggalan dan keterbatasan akses informasi akan jauh tertinggal di belakang. Proses perkembangan informasi akan semakin cepat, sejalan dengan

semakin berkembangnya teknologi informasi (TI). Jika masa lalu perpustakaan diwarnai dengan koleksi dari daun lontar dan tablet tanah liat, sekarang yang paling dominan berupa koleksi tercetak, dan sebagian perpustakaan sudah dalam bentuk mikro, digital, elektronik. Perpustakaan dapat berupa digital saja, dan diakses melalui internet. Berkat kemajuan teknologi informasi, orang memperoleh kemudahan dan kebebasan akses atas sumber informasi di perpustakaan.

Namun perpustakaan dalam media teks masih sangat dibutuhkan, mengingat semakin canggih sarana yang digunakan maka biaya yang dibutuhkan akan semakin besar, maka dari itu agar perpustakaan masih dapat dijangkau oleh banyak orang maka perpustakaan teks masih diperlukan dan harus diperbanyak jumlahnya, merata keberadaannya, makin luas aksesnya, makin luas jangkauan layanannya.

14 Perpustakaan Nasional RI, Kajian Perpustakaan Umum, Zulfikar Zen (et al): Jakarta: Perpusnas RI, 2001, hal. 22.

(14)

Makin lengkap koleksinya, makin tinggi tingkat kesadaran akan pentingnya informasi bagi seluruh lapisan masyarakat. Perpustakaan merupakan salah satu ukuran kemampuan suatu komunitas masyarakat. Sehingga masyarakat terbiasa dengan membaca buku (book minded) dan perpustakaan (library minded). Oleh karena itu perpustakaan masa mendatang merupakan sesuatu yang memberikan warna dan bentuk kehidupan masyarakat modern dan sejahtera, baik dalam individu, keluarga, masyarakat dan maupun bangsa pada umumnya. Perpustakaan merupakan salah satu pusat sumber belajar (learning center).

4. Perpustakaan Sebagai Agen Perubahan

Perpustakaan merupakan agen perubahan (agent of changes), atau agen pembangunan dan agen budaya. Maksudnya perpustakaan dapat menjadi tempat rujukan dan sumber informasi. Bagi orang-orang yang memerlukannya, karena perubahan erat kaitannya dengan pembangunan dan pembangunan dilakukan untuk mencapai hal-hal yang lebih dan makin baik, dan semuanya itu merupakan bentuk dan wujud nyata suatu budaya bangsa dan umat manusia pada umumnya. Perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat di antaranya dimulai dari perpustakaan, terutama dilakukan oleh para ilmuwan dan peneliti dengan mengembangkan ide, inspirasi, kreasi dan inovasi baru.

Segala sesuatu yang berubah pada dasarnya diawali dengan penemuan dan perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan terkumpul di perpustakaan. Perpustakaan merupakan tempat belajar, membaca, meneliti dan mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut. Hasil penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dapat berguna bagi masyarakat banyak. Semua itu merupakan bagian dari hasil peradaban dan kebudayaan umat manusia.

5. Perpustakaan Merupakan Media Pendidikan Sepanjang Hayat

Sebuah perpustakaan apapun jenisnya, apa saja sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya dan siapa pun yang ingin belajar di

(15)

dalamnya merupakan media dan sarana untuk belajar, menambah ilmu, mengembangkan kemampuan yang tak terbatas. Semakin sering dan semakin banyak orang menimba dan memperoleh ilmu pengetahuan maka semakin kaya ia dalam ilmu tersebut. Sebagai media belajar, terutama pendidikan yang non-formal, perpustakaan memberikan waktu, kesempatan, layanan dan dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan sekolah atau kuliah. Perpustakaan merupakan Universitas Rakyat karena meningkatkan dan membagi ilmu pengetahuan dengan semua lapisan masyarakat.

6. Aplikasi Teknologi Informasi

Berkat perkembangan teknologi informasi kini telah berkembang perpustakaan digital (digital library), perpustakaan maya, layanan terpasang (on line), dan akses informasi melalui internet, yang memungkinkan orang memperoleh banyak kemudahan, Teknologi telekomunikasi akan dapat mengatasi jarak dan waktu baik dalam berkomunikasi, mengakses maupun memperoleh informasi secara lebih cepat dan tepat.

2.2. Perpustakaan Perguruan Tinggi 2.2.1. Arti Perpustakaan Perguruan Tinggi

Perpustakaan Perguruan Tinggi dibentuk oleh Perguruan Tinggi yang bersangkutan. Perpustakaan tersebut sangat penting bagi sebuah Perguruan Tinggi karena perpustakaan tersebut dimaksudkan untuk menunjang dan memfasilitasi kegiatan dan proses alih dan pengembangan ilmu pengetahuan serta penelitian. 2.2.2. Visi, Misi, Tugas dan Fungsi

Perpustakaan perlu menetapkan visi, misi, tugas dan fungsinya agar mempunyai pedoman, arah dan tuntunan untuk mencapai tujuan akhir. Visi, misi dan tujuan tiap-tiap perpustakaan disesuaikan dengan kebijakan dan keinginan lembaga induk yang bersangkutan.16

2.2.2.1.Visi

Visi adalah cara memandang tentang kondisi dan situasi di masa depan. Gambar keadaan yang ingin dicapai dan secara rasional dapat dicapai, yaitu

16 Perpustakaan Nasional RI, Kajian Perpustakaan Umum, Zulfikar Zen (et al): Jakarta: Perpusnas RI, 2001, hal. 34.

(16)

cita yang diprediksi dan diperhitungkan berdasarkan dengan kondisi, kenyataan dan kemampuan yang dimiliki. Visi perpustakaan Perguruan Tinggi tidak terlepas dari proses pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Perpustakaan tersebut dapat dikembangkan sebagai perpustakaan penelitian atau research library.

2.2.2.2. Misi

Misi merupakan penjabaran lebih lanjut dari visi. Jika visi adalah sesuatu yang filosofis dan idealis, maka misi merupakan pokok-pokok kegiatan yang harus dirumuskan agar lebih realistis untuk mencapainya.

2.2.2.3.Tugas

Tugas pokok perpustakaan adalah menghimpun, menyediakan, mengolah, memelihara dan mendayagunakan semua koleksi bahan pustaka, menyediakan sarana pemanfaatannya, dan melayani masyarakat pengguna, yang membutuhkan informasi dan bahan bacaan.

2.2.2.4. Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi

Fungsi-fungsi perpustakaan Perguruan Tinggi, antara lain:

1. Membantu para pelajar atau mahasiswa melaksanakan penyelidikan dan mencari keterangan-keterangan yang lebih luas dari pelajaran yang didapat pada perkuliahan.

2. Seseorang dapat mengetahui informasi dengan buku atau data yang berbeda, sehingga mendorong ia berpikir kritis dan tidak terpaku pada satu informasi. 3. Dapat membantu mahasiswa mendalami sesuatu yang digemari dan ingin

memperdalam dengan mencari informasi yang ada di perpustakaan.

4. Dapat menumbuh semangat baca dan mendorong kebiasaan membaca dengan fasilitas dan kemudahan akses yang disediakan.

2.2.3. Struktur Organisasi Perpustakaan

Struktur dan organisasi perpustakaan mencakup tiga hal yaitu: 1. Struktur atau kerangka

2. Kelompok orang-orang tertentu 3. Sistem

(17)

Perpustakaan Perguruan Tinggi mempunyai volume pekerjaan yang besar karena harus melayani banyak sekali pemakai. Maka dari itu dibutuhkan bagan organisasi yang seimbang dan sesuai sehingga perpustakaan dapat berjalan dengan baik. Yang terpenting adalah bagaimana suatu struktur organisasi yang dimiliki dapat menampung seluruh aktivitas perpustakaan dalam menjalankan misi dan mewujudkan visinya.

Struktur Organisasi yang paling utama mencakup hal-hal sebagai berikut:

a. Kepala atau Pemimpin Perpustakaan, memimpin semua kegiatan perpustakaan yang mencakup pengendalian, pemanfaatan, pembinaan dan pengembangan agar organisasi dapat berjalan sebagaimana mestinya untuk mencapai tujuannya.

b. Pustakawan atau Pejabat Fungsional Pustakawan, akuisisi, pengolahan dan layanan informasi.

c. Pegawai Pelaksana Teknis Keperpustakawanan, membantu pustakawan mengerjakan kegiatan yang bersifat teknis seperti seleksi, pengadaan, pengolahan dan layanan.

d. Pegawai Tata Usaha atau Kesekretariatan (administrasi), administrasi, kepegawaian, keuangan, perlengkapan, kerumahtanggaan dan pekerjaan tertentu lainnya.

(18)

Gambar 2.1. Struktur Organisasi Perpustakaan Nasional RI

Sumber: Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor: 03 Tahun 2001

Gambar 2.2. Struktur Organisasi Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan

Sumber: Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor: 03 Tahun 2001

(19)

Kepala UPT Perpustakaan

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kepala Urusan Surat Menyurat Kepala Urusan Kepegawaian Kepala Urusan Keuangan Kepala Urusan Umum Koordinator Kelompok Pelayanan Teknis Koordinator Kelompok Pelayanan Pengguna Koordinator Kelompok Pengembanagan Perpustakaan Koordinator Bidang Pembinaan dan Pengembangan Koleksi Koordinator Bidang Pengolahan Koleksi Koordinator Bidang Pelayanan Sirkulasi Koordinator Bidang Pelayanan Aplikasi Teknologi Informasi Koordinator Bisang Pelayanan Rujukan dan Koleksi Khusus

Koordinator Bidang Pelayanan Judul Koordinator Bidang Pendidikan dan Pelatihan Koordinator Bidang Kerjasama Perpustakaan Koordinator Bidang Aplikasi Teknologi Informasi

Gambar 2.3. Struktur Organisasi UPT Perpustakaan Universitas Indonesia Sumber: Keputusan Rektor Universitas Indonesia Nomor: 200/ SK/ R/ UI/ 1999

2.3. Minat Baca Masyarakat

Berkembangnya perpustakaan sangat bergantung pada besarnya minat baca masyarakatnya. Semakin besar minat baca masyarakat, keberadaan perpustakaan akan semakin penting. Begitu pula sebaliknya, bila minat baca masyarakat rendah maka perpustakaan menjadi tidak begitu penting bagi masyarakat itu. Maka dari itu perlu ditinjau lebih lanjut bahasan mengenai minat baca.

Minat adalah suatu keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Minat baca berarti suatu keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi terhadap bahan bacaan. Bahan bacaan atau koleksi perpustakaan yang diminati oleh seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat adalah yang mengandung manfaat, nilai, yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pembaca yang bersangkutan. Nilai, manfaat dan yang dikehendaki tersebut sesuai dengan kebutuhan. Yaitu dapat menambah pengetahuan, memberikan kesenangan, (hiburan), memberikan rasa kepuasan, kenikmatan jiwa, bahkan rasa bangga yang ada pada diri orang yang bersangkutan. Seseorang yang berminat terhadap sesuatu karena tertarik dan ingin tahu (curiosity) dan ada manfaatnya.

(20)

Pada setiap orang tingkatan untuk berminat, tertarik dan berkeinginan terhadap bahan bacaan, baik yang ada di rumah, di perpustakaan atau pun di mana saja, itu sangat berbeda antar satu dengan yang lainnya.

Meichati (1972) mengartikan minat adalah perhatian yang kuat, intensif dan menguasai individu secara mendalam untuk tekun melakukan suatu aktivitas. Aspek minat terdiri dari aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif berupa konsep positif terhadap suatu obyek dan berpusat pada manfaat dari obyek tersebut. Aspek afektif nampak dalam rasa suka atau tidak senang dan kepuasan pribadi terhadap obyek tersebut.17

Membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa huruf dan kata. Juel (1988) mengartikan bahwa membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arrti kata dalam kalimat dan struktur bacaaan. Hasil akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan.

Membaca merupakan kegiatan dan kemampuan khas manusia. Walaupun demikian, kemampuan membaca tidak terjadi secara otomatis karena harus didahului oleh aktivitas dan kebiasaan membaca yang merupakan wujud dari adanya minat membaca.

Sinambela (1993) mengartikan sikap membaca adalah sikap positif dan adanya rasa keterikatan dala diri seseorang terhadap aktivitas membaca dan ketertarikan terhada buku membaca. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa minat membaca adalah kekuatan yang mendorong seseorang untuk memperhatikan, merasa tertarik dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga mereka mau melakukan aktivitas membaca dengan kemauan mereka sendiri. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca.

Minat membaca perlu ditanamkan dan ditumbuhkan sejak usia anak-anak sebab minat membaca pada anak tidak terbentuk dengan sendirinya, tetapi sangat

17 Soejanto Sandjaja. Pengaruh Keterlibatan Orang Tua Terhadap Minat Membaca Anak Ditinjau Dari Pendekatan Stress Lingkungan.1998.21 Juni 2005.

(21)

dipengaruhi oleh stimulasi yang diperoleh dari lingkungan anak. Keluarga merupakan lingkungan paling awal dan dominan dalam menanamkan, menumbuhkan dan membina minat membaca anak. Orang tua perlu menanamkan kesadaran akan pentingnya membaca dalam kehidupan anak, baru kemudian guru di sekolah, teman sebaya dan masyarakat.

Dalam karya The Brain Worker’s Handbook (yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi Cara Mudah menjadi Pemikir Kreatif), Dr.Kurt Kauffmann mengemukakan sejumlah teknik yang perlu dipraktekkan saat membaca.18

Pertama, membaca dilakukan untuk memperoleh informasi bukan untuk memperoleh aneka pendapat, pembaca harus bersikap kritis jangan percaya begitu saja terhadap apa yang dibaca.

Kedua, hendaknya pembaca harus mengerti terlebih dahulu secara keseluruhan, apakah buku yang akan dibaca bermanfaat atau tidak.

Ketiga, jika membaca buku ilmiah, pembaca harus berpikir objektif. Sedangkan jika membaca buku yang mengemukakan suatu pendapat atau propaganda, maka pembaca harus membacanya dengan kritis.

Keempat, buatlah tanda pada bagian-bagian penting dalam setiap bacaan yang dibaca.

Kelima, buatlah ringkasan dari setiap pokok persoalan yang dibaca. Ringkasan dapat ditulis dalam sehelai kartu atau dalam buku catatan khusus.

Diharapkan dari kelima tahapan di atas, pembaca dapat membaca dengan efektif dan efisien. Karena membaca sedikit namun efektif dan efisien akan lebih baik dibandingkan dengan membaca banyak tetapi tidak efektif dan efisien.

Aktivitas membaca dimulai dari pertumbuhan minat baca. Hal ini dikarenakan pada tahap perkembangan hidup manusia, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan pertumbuhan minat baca seseorang yang nantinya dapat menumbuhkan kebiasaan gemar membaca.19

18 Ko. Membaca Sebagai Pekerjaan Serius Penulis Lepas.Com Kiprah dan Komunitas Penulis Lepas di Internet (Online). 14 April 2006. <http://www.penulislepas.com/comments >.

19 Muh Muslih. Budaya Membaca Masih di Awang-awang. Harian Umum Suara Merdeka (online). 18 April 2006. <http://www.suaramerdeka.com/harian/0309/03/khal.htm>.

(22)

- Usia Dini

Pertumbuhan minat baca bisa dimulai sejak bayi lahir. Bahkan banyak ahli psikologi yang menyarankan agar bayi yang masih ada di dalam kandungan agar distimulasi sejak dini untuk mengenal dunia luar dengan mengajak mereka berbicara. Calon bayi yang masih berada dalam perut ibunya sudah dapat mendengar suara yang ada di sekitarnya, meskipun masih sangat lemah.

Para ahli psikologi dan syaraf menyatakan, pada masa bayi berada dalam kandungan, maka pertumbuhan otaklah yang paling cepat di antara bagian tubuh yang lain. Pada bayi dilahirkan sel-sel otak (neuron) telah mencapai 25% dari otak orang dewasa serta mengandung 100 miliar sel otak. Pada saat anak berusia 3 tahun, pertumbuhan otak sudah mencapai 90% dari otak dewasa. Setelah usia 3 tahun ke atas tinggal fase pembesaran dan pematangan neuron. Oleh karena itu dalam usia dini, anak perlu dikenalkan dengan dunia membaca. Otak mereka akan merekam isi bacaan apa pun yang disampaikan orang tuanya dalam gaya cerita. Hal ini telah dipraktekkan dan menjadi tradisi di Jepang dengan gerakan 20 Minutes

Reading of Mother and Child. Gerakan ini menganjurkan seorang ibu

untuk membacakan anaknya sebuah buku yang dipinjam dari perpustakaan umum atau sekolah selama 20 menit sebelum anaknya pergi tidur. (Buletin Pusat Perbukuan, Depdiknas No. 1 Tahun 2000).

Selain itu anak juga perlu diberikan buku-buku yang penuh warna-warni dan isinya memikat daya fantasi. Disamping untuk mengenalkan bentuk, juga mengenalkan warna pada anak. Karena pada usia dini anak belum mampu memperlakukan buku dengan baik, maka fisik buku yang diperlukan anak umumnya mesti kuat dan tebal, tidak mudah robek dan gampang dibuka.

Dengan pengenalan buku pada anak sejak dini, maka minat baca pada anak akan tumbuh. Sesuai dengan prinsip psikologi bahwa cara bertindak seseorang akan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang terekam dalam memori otaknya semasa kecil.

(23)

- Usia Sekolah

Peningkatan minat baca di sekolah sebenarnya sudah cukup lama diusahakan oleh pemerintah, terutama untuk tingkat SD, SLTP dan SMU. Akan tetapi dengan adanya krisis moneter, program pemerintah menjadi terhambat.

Perpustakaan juga merupakan sarana yang perlu mendapatkan perhatian sebagai pusat pengembangan minat dan kegemaran membaca. Perpustakaan sekolah menjadi jantung sekolah yang memompakan semangat pemenuhan rasa ingin tahu (curiousity).

- Usia Dewasa

Bahan bacaan bagi usia dewasa lebih beragam, mulai dari surat kabar, majalah, buku, dan sebagainya. Demikian pula jenis bacaan yang diminati, mulai dari agama, politik, seni, teknik, filsafat, dan masih banyak lagi.

Tingkat-Tingkat Pertumbuhan Intelektual

Masa Umur Perkembangan Intelektual

Pertumbuhan

Bayi 0 – 2 1/2 Masa Pertumbuhan dari:

· Rasa ingin tahu (Apa itu?)

· Kemampuan berbahasa

· Fungsi mental

Kanak-kanak 2 1/2 - 6 Masa Perkembangan dari:

· Rasa ingin tahu

( Mengapa? Bagaimana?Untuk apa?)

· Kemampuan berbahasa

· Fungsi mental

· Imaginasi

· Kepekaan terhadap

rangsang intelektual (Responsif)

· Kecenderungan mengumpulkan

barang

Anak 6 - 12 Masa penghalusan &

Perkembangan lanjut:

(24)

· Aktivitas bermain

· Koleksi barang-barang

Remaja 12 - 20 Masa Perkembangan

penyempurnaan & perluasan

cakrawala:

· inteligensi

· Minat

· Sikap kritis

Tabel 2.1. Tingkat-tingkat Pertumbuhan Intelektual

Sumber: Eunike Buletin Pendidikan Iman Anak. http://www.geocities.com/-eunike-net/15/buku 15.html.

Pertumbuhan minat baca seseorang dapat dimulai dengan pemberian motivasi untuk membaca pada anak-anak. Setiap saat, kapan saja sejak rasa ingin tahunya muncul. Semenjak anak dilahirkan, sampai ia mencapai usia remaja, sesungguhnya anak terbuka untuk menerima pengarahan. Orang tua bisa banyak membantu, semakin dini dimulai akan semakin baik.

Berdasarkan pengamatan, untuk mengembangkan minat dan budaya baca seseorang membutuhkan suatu proses, waktu, kesabaran, dan usaha terus-menerus yang panjang. Tidak secara tiba-tiba (instant).20

Dalam hal-hal tertentu, pada saat kita mengajari seorang anak, anak akan lebih mudah dan cepat mengerti dibandingkan ketika kita mengajarkan hal yang sama kepada orang yang sudah dewasa. Setelah minat baca timbul pada seseorang maka perlu terus menerus dipelihara agar menjadi kebiasaan. Yaitu secara rutin setiap kali ada kesempatan diisi dengan kegiatan membaca.

Setelah kebiasaan membaca berkembang, diupayakan agar membaca merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, sebagaimana kebutuhan yang lain. Akhirnya secara bertahap dapat dikembangkan suatu budaya membaca. Artinya adalah, bahwa membaca sudah merupakan bagian dari keseharian masyarakat.

20 Perpustakaan Nasional RI, Kajian Perpustakaan Umum, Zulfikar Zen (et al): Jakarta: Perpusnas RI, 2001, hal. 229.

(25)

Untuk menciptakan masyarakat dan generasi yang gemar membaca, senang dan sering berkunjung ke perpustakaan, merupakan tanggung jawab dan kewajiban bersama baik orang tua, pemerintah maupun masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, maupun swasta. Salah satu modal utama dalam membangun masa depan adalah mempersiapkan generasi terdidik, yang dibekali ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sikap perilaku yang berkepribadian luhur.

Untuk menciptakan generasi yang terpelajar, berbudaya membaca yang tinggi selain membutuhkan tekad, semangat, perencanaan, kerja keras dan kegiatan yang harus terus-menerus dilakukan, juga memerlukan waktu, proses, perhatian, kesungguhan dan kesabaran serta keuletan bersama.

Terjadinya minat dan budaya merupakan suatu proses sebagai berikut: 1. Adanya dasar pengertian bahwa membaca itu perlu.

2. Terpupuknya suatu kegemaran dan kesenangan. 3. Terbentuknya suatu kebiasaan membaca.

4. Terbentuknya suatu kondisi di mana membaca merupakan suatu kebutuhan.

5. Tersedianya bahan bacaan yang memadai.

Kurangnya minat baca pada masyarakat kita, dapat ditinjau dari beberapa aspek, antara lain:

a. Akses Informasi Dari dan Ke Perpustakaan

Keterbatasan akses informasi dari perpustakaan disebabkan oleh beberapa hal seperti kurangnya sosialisasi dan pemasyarakatan, publikasi melalui brosur, tempat perpustakaan yang kurang strategis, dan terbatasnya kegiatan perpustakaan yang diketahui dan diikuti oleh masyarakat. Keterbatasan informasi ke perpustakaan misalnya karena belum tahu,karena tidak adanya papan atau sarana penunjuk ke perpustakaan yang memadai.

b. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan masyarakat yang masih berada di bawah standar, kebutuhan akan informasi dan ilmu pengetahuan juga belum optimal. Perpustakaan terkait langsung dengan aktivitas membaca, belajar, informasi,

(26)

penelitian, sehingga untuk menarik minat baca perlu ditumbuhkan atas keinginan dirinya sendiri.

c. Kondisi Sosial Ekonominya Pada Umumnya Kurang Menguntungkan

Bagi masyarakat yang kondisi ekonominya tidak mencukupi, maka dalam kesehariaannya juga tidak terpola kebiasaan membaca, karena untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka mengalami kesulitan, apalagi untuk membeli buku. Karena tidak ada pola kebiasaan membaca, maka sangat kecil kemungkinan masyarakat tersebut berkeinginan untuk membaca di perpustakaan. Mereka tidak menyadari bahwa membaca di perpustakaan tidak perlu membayar, atau di samping itu juga mereka tidak tertarik, mereka lebih terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

d. Layanan Perpustakaan Kepada Masyarakat Yang Belum Merata

Layanan yang belum merata juga disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain karena kurangnya respon masyarakat terhadap perpustakaan. Jika antara kedua belah pihak yaitu perpustakaan dan masyarakat sudah saling berjumpa dan saling mengetahui apa kebutuhan, maka akar permasalahan sudah ditemukan, dan langkah lebih lanjut adalah mencarikan pemecahan berdasarkan alternatif-alternatif yang ada.

e. Apresiasi dan Respon Masyarakat Masih Perlu Ditingkatkan.

Apresiasi dan respon masyarakat sangat terkait erat dengan kebiasaan membaca, tingkat pendidikan, dan kondisi serta lingkungan masyarakat. Apabila kebiasaan membaca sudah cukup tinggi, maka respon yang didapat akan semakin banyak, begitu pula sebaliknya.

Sedangkan bagi sebagian masyarakat yang memiliki minat baca yang sudah baik, dikarenakan:

a. Masyarakat yang terpelajar, karena kesehariaannya harus berhubungan dengan buku dan bahan bacaan lain untuk mendukung dan melengkapi dan mendukung agar tugas-tugas belajarnya berhasil dengan baik.

b. Tingkat kesadaran yang tinggi, mereka aktif berkunjung ke perpustakaan untuk membaca, belajar dan melakukan kegiatan ilmiah lainnya.

(27)

c. Memiliki akses dan informasi ke perpustakaan dengan mudah. Jika akses ke perpustakaan semakin mudah maka masyarakat akan semakin sering ke perpustakaan, apalagi setelah mereka menyadari bahwa perpustakaan memberikan sesuatu yang berguna baginya, baik belajar, bekerja, mengembangkan ilmu pengetahuan, maupun mencari hiburan.

d. Mereka yang kondisi ekonominya baik. Kebutuhan hidup sehari-hari sudah dapat terpenuhi sehingga mereka memiliki kesempatan dan waktu serta materi untuk membeli dan membaca buku. Di dalam kesehariannya terdapat kebiasaan membaca, dan perpustakaan dapat menjadi media alternatif bagi mereka dalam pencarian informasi.

e. Apresiasi dan respon terhadap perpustakaan dan bahan bacaan “baik”. Pada umumnya masyarakat yang makin maju dan kebutuhan dasar terpenuhi, mereka akan mencari sesuatu yang lain, misalnya dalam pencarian informasi, maka perpustakaan merupakan salah satu pilihan, perpustakaan mendapat respon yang baik.

f. Jangkauan layanan perpustakaan memadai. Perpustakaan mudah dijangkau oleh masyarakat, sehingga masyarakat tidak kesulitan mencari dan terdapat informasi letak yang membantu pencarian letak perpustakaan.

Meningkatkan minat dan budaya baca masyarakat harus dilakukan dengan beberapa cara seperti:

a. Mulai Sejak Usia Anak-anak (Dini)

Ketika kita masih anak-anak, biasanya tumbuh rasa keingintahuan yang besar terhadap segala sesuatu di sekelilingnya. Jika kita menginginkan anak-anak kita senang terhadap buku bacaan, maka kita harus menyediakannya dan membimbingnya secara teratur. Jika kegemaran dan kebiasaan itu telah terbentuk pada jiwa anak-anak, maka dengan usianya bertambah, keinginannya juga semakin bertambah. Selanjutnya perlu penyediaan bahan yang sesuai, yaitu lebih diarahkan kepada hal-hal yang positif.Pada masa remaja, anak-anak lebih mudah terpengaruh akan hal-hal negative, namun untuk mencegah hal tersebut, perpustakaan dapat berperan aktif dalam menyediakan bahan bacaan yang berisi pendidikan

(28)

budi pekerti. Selanjutnya dapat bekerja sama dengan sekolah dan guru untuk mengarahkannya ke perpustakaan.

b. Dilakukan Secara Terus Menerus

Membaca dapat dilakukan dengan teratur, disertai dengan ketersediaan jumlah dan jenis bacaan yang mereka senangi dan butuhkan. Jadi upaya harus berlanjut, kontinyu dan secara teratur, tidak putus-putus. Keteraturan dan kebiasaan tersebut akan menjadikan masyarakat kepada kondisi book

minded.

c. Bahan Bacaan

Tersedia bahan bacaan yang mencukupi, baik jumlah, jenis, dan mutu. Tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah memilih, dan menyediakan sumber informasi dan koleksi bahan pustaka yang memadai. Hal itu bukanlah hal yang mudah, sebab menyangkut biaya, alat, tenaga, alat seleksi dan tempat, dan prasarana yang lain.

d. Ditanamkan Suatu Kebiasaan

Hendaknya seseorang melakukan kegiatan membaca setiap kali ada kesempatan. Kesempatan itu harus diusahakan, walalu tak lama, tetapi yang terpenting adalah dilakukan secara rutin dan teratur sehingga tidak terasa menjadi suatu kebiasaan. Sebuah perpustakaan akan dapat berperan aktif untuk menciptakan suatu reading habit society dan learning habit

society.

e. Lingkungan yang Mendukung

Banyak orang berpendapat bahwa segala sesuatu dimulai dari rumah tangga, dalam hal ini termasuk upaya menciptakan kebiasaan membaca. Oleh sebab itu orang tua sudah seharusnya menciptakan suasana dan kebiasaan membaca bagi keluarganya. Selanjutnya di lingkungan masyarakat dapat membaca di perpustakaan umum, di sekolah di perpustakaan sekolah, dan sebagainya.

f. Adanya Suatu Kebutuhan

Mahasiswa dan pelajar atau masyarakat akan membaca untuk mencari informasi yang mereka butuhkan untuk mengerjakan tugas sekolah,

(29)

pekerjaan, tes, mereka dituntut untuk membaca dan didorong oleh faktor kebutuhan.

Pada era informasi, sudah saatnya mulai mengembangkan budaya baca dan budaya tulis. Artinya selain membiasakan diri menggunakan waktu luang dan menyisihkan waktu untuk membaca bahan bacaan yang baik, juga mencoba menulis mengenai hal yang dikuasai. Buku-buku tersebut ditampung di dalam perpustakaan untuk berbagi informasi dengan orang lain dan berkembang bersama didalam pencarian dan perkembangan informasi, buku-buku tersebut memiliki nilai tambah dan bertahan lama.

2.4. Pusat Akses Informasi

Perkembangan beberapa jenis perpustakaan masih relatif terbatas pada kelompok dan kalangan masyarakat tertentu. Dan kelompok masyarakat yang lain yang lebih luas pada umumnya masih sangat sedikit yang memanfaatkan perpustakaan.

Pada umumnya perpustakaan belum berkembang dengan baik dan merata di seluruh pelosok dan pada semua kalangan ekonomi/ strata kehidupan masyarakat. Masih banyak masyarakat yang belum dapat menikmati layanan perpustakaan sebagaimana mestinya, padahal di sisi lain masyarakat sangat membutuhkan sumber dan akses informasi secara tepat dan cepat.

Perpustakaan merupakan mata rantai rangkaian sejarah masa lalu, sebagai pijakan masa kini, dan merupakan penuntun dalam merencanakan dan mewujudkan masa depan yang lebih baik.21

Perpustakaan merupakan institusi yang bermitra terhadap proses penyelenggaraan pendidikan secara langsung dan tidak langsung, baik formal maupun nonformal.

Perpustakaan merupakan lembaga pengelola informasi yang mencakup tiga kegiatan utama yaitu: menghimpun, mengolah, dan memberdayakannya untuk dimanfaatkan oleh masyarakat pemakai. Sebuah perpustakaan dikatakan baik, apabila memenuhi persyaratan seperti: (a) dikelola menurut standar pengelolaan

21

(30)

perpustakaan, (b) semua sumber informasi yang dimiliki dimanfaatkan oleh banyak orang secara optimal, dan (c) dapat memberikan nilai tambah bagi penduduk di sekitarnya.

Perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi, pusat sumber belajar (PSB) dan sarana penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan bukan lagi sekedar untuk bagaimana untuk tahu (how to know), tetapi dapat belajar tentang bagaimana untuk belajar (learning how to lean) tentang sesuatu banyak hal. Perpustakaan terbuka untuk kita semua (education for all) dan pendidikan sepanjang hayat (lifelong education). 22

Perpustakaan merupakan suatu lembaga layanan sosial, nirlaba atau social

public service yang mampu memberikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat.

Sesuatu itu berupa informasi, pendidikan, rekreasi, penelitian dan pengembangan budaya. 23

Perpustakaan adalah suatu investasi jangka panjang karena pemakai tidak menggunakan sarana dengan gratis. Bagi perpustakaan umum, masyarakat membayar melalui Pajak, sedangkan bagi mahasiswa dan murid membayar jasa perpustakaan melalui pembayaran uang sekolah/ iuran. Jadi anggapan-anggapan bahwa perpustakaan adalah lembaga sosial yang tidak mendapatkan keuntungan/

profit, menghabiskan uang adalah anggapan yang salah. Semakin baik mutu

perpustakaan akan semakin banyak masukan/ pendapatan, hal tersebut akan mendorong semakin lengkapnya perpustakaan dalam menyediakan informasi.24

Dari segi perkembangan budaya, perpustakaan merupakan agen perubahan (agent of changes). Karena di perpustakaan terkumpul dan tersimpan banyak sekali informasi, ilmu pengetahuan, sejarah, filsafat, dan penemuan serta pemikiran dari masa lalu. Kemudian dipelajari, diteliti, dan dikembangkan, sehingga berkembang ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan yang baru.

2.5. Manajemen Pemasaran Jasa

Pada prinsipnya layanan perpustakaan adalah layanan jasa, oleh karena itu yang penting untuk disadari oleh pengelola perpustakaan adalah bagaimana

22 A.S. Nasution, dkk. Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Departemen P dan K, 1981, hal.3. 23 Hal 182

(31)

menciptakan kepercayaan, kepuasan, ketepatan, dan kecepatan. Dengan demikian, maka petugas di meja layanan dan informasi, semestinya dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Dengan memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, pengalaman, kemauan, dan sikap perilaku yang simpati.

Perpustakaan didefinisikan sebagai gedung atau ruangan yang didalamnya terdapat sekumpulan koleksi. Ukuran baik-buruknya perpustakaan dikaitkan dengan jumlah bahan pustaka yang dimiliki atau besar kecilnya gedung dan ruangan perpustakaan. Penekanan lebih pada jumlah (kuantitas) atau wadah (containers), belum pada mutu (kualitas) atau kandungan informasi (contents) yang dimiliki perpustakaan. Sebagai lembaga yang bergerak dan memberikan jasa informasi, seharusnya penilaian keberhasilannya dilihat dari jumlah pengunjung yang mengakses perpustakaan dan dari tingkat kepuasan pemakai.

Perpustakaan tidak lagi hanya sebagai lembaga yang mengumpul, mengelola, menyimpan, melestarikan bahan pustaka, tetapi lebih mengutamakan pada penyebaran informasi (dissemination of information). Kebutuhan informasi pemakai dan layanan yang berorientasi kepada kebutuhan tersebut sudah mulai menjadi perhatian banyak perpustakaan. Bahkan berbagai perangkat teknologi informasi sudah banyak dikembangkan untuk meningkatkan mutu layanan, salah satunya adalah sarana akses informasi dan perpustakaan dapat dilakukan secara digital, virtual library, e-library.25

Didalam pengelolaan perpustakaan juga diperlukan suatu penguasaan manajemen. Para pustakawan harus belajar ilmu manajemen, agar perpustakaan dapat memberikan layanan yang maksimal. Salah satunya adalah konsep manajemen empat pilar pada Total Quality Manajement (TQM). Pertama, memuaskan pelanggan (costumers satisfactions), perpustakaan harus dapat memberikan layanan yang dapat memuaskan pemakainya. Kedua, menghargai orang (respect to people), pemakai dan pustakawan adalah manusia yang harus mendapat penghargaan sepenuhnya. Ketiga, berbicara dengan fakta (speaks with

facts), perpustakaan dan pustakawan harus mengenal kemampuannya dengan

jelas, potensi pasar yang dilayani serta perkembangan informasi yang terjadi. Semuanya harus didukung oleh data dan fakta. Keempat, perbaikan terus menerus

(32)

(contineous improvement), perpustakaan harus selalu mengadakan perbaikan dan evaluasi. Pemakai pada umumnya datang ke perpustakaan menginginkan informasi yang mereka peroleh dapat terpenuhi dengan cepat, tepat dan bermanfaat.

Pemakai perpustakaan atau dapat disebut pelanggan atau konsumen merupakan target dan sasaran utama penyelenggaraan perpustakaan. Masyarakat akan tertarik untuk ke perpustakaan apabila mereka mengerti dan memahami apa yang ada di perpustakaan dan mereka memperoleh sesuatu yang berguna.

Perkembangan masyarakat pemakai dapat disebabkan oleh, pertama upaya perpustakaan melalui berbagai cara dan media, yakni atas dorongan dari luar (faktor eksternal), dan kedua, disebabkan oleh makin bertambahnya pengetahuan, wawasan dan kesadaran yang tumbuh dari diri mereka sendiri (faktor internal). Tetapi bisa juga akibat dari keduanya, yaitu atas upaya perpustakaan dan atas kehendak masyarakat, yang keduanya bermuara pada makin bertambahnya intensitas pemanfaatan jasa perpustakaan.

2.5.1. Upaya Pengembangan Layanan

Beberapa upaya pengembangan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat pemakai, antara lain:

a. Sosialisasi perpustakaan kepada masyarakat.

b. Membuka dan memperluas akses dan informasi perpustakaan. c. Mengadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat.

d. Memberikan kemudahan layanan dan pemakaian perpustakaan. e. Mengembangkan jenis layanan.

f. Menciptakan suasana dan kesan yang menarik dan baik kepada pengunjung.

g. Menerapkan teknologi informasi tepat guna yang dapat membantu pemakai.

h. Memenuhi semua kebutuhan informasi pemakai dengan cepat dan tepat.

i. Menciptakan citra layanan yang baik, sehingga pengunjung termotivasi untuk ingin kembali lagi ke perpustakaan (atas kemauan sendiri).

(33)

2.5.2. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Layanan

Beberapa hal yang menyangkut dengan layanan yang diberikan perpustakaan : a. Siapa yang melayani?

Pekerjaan melayani pengunjung dan pemakai dilakukan oleh staf layanan perpustakaan. Agar staf bagian layanan tersebut dapat melakukan pekerjaannya dengan baik, maka harus dipersiapkan sebaik-baiknya, antara lain penampilan fisik dan mental seperti kemampuan, wawasan dan keterampilan teknis administratif, operasional, menguasai teknis komunikasi serta berkepribadian ramah, luas dan menarik.

Layanan perpustakaan pada umumnya bersifat layanan sosial, nirlaba, tidak komersial. Terutama untuk perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan sekolah.

b. Apa yang dilayankan?

Perpustakaan melayani kebutuhan pemakai, yaitu kebutuhan informasi yang dilengkapi dengan fasilitas membaca, belajar, meneliti, berekreasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Semua koleksi bahan pustaka yang akan dilayankan harus sudah diolah atau diproses, dikemas dan disiapkan sehingga dapat dengan mudah dan cepat dipergunakan oleh pemakainya. c. Siapa yang dilayani?

Yang menjadi objek layanan perpustakaan adalah masyarakat pemakai perpustakaan. Bagi masyarakat pemakai yang sudah terbiasa ke perpustakaan, akan dengan sendirinya mengerti bahwa mereka harus pergi ke perpustakaan yang mana disesuaikan antara koleksi bahan pustaka perpustakaan dengan kebutuhan mereka. Bagi yang belum terbiasa mereka membutuhkan panduan.

d. Kapan layanan itu dilaksanakan?

Waktu yang cocok untuk layanan perpustakaan disesuaikan dengan jadwal yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Pada umumnya waktu layanan sesuai dengan hari kerja pegawai, misalnya hari Senin-Jumat, pada jam 08.00-17.00.

(34)

e. Mengapa perlu dilaksanakan layanan?

Layanan diberikan untuk memenuhi kebutuhan pemakai karena informasi yang ada di perpustakaan tidak akan ada artinya apabila tidak ada yang menggunakan. Layanan perpustakaan sangat perlu dilakukan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan, informasi, meningkatkan kegemaran dan kebiasaan membaca masyarakat juga ikut menunjang program membangun masyarakat informasi dan mencerdaskan kehidupan masyarakat.

f. Bagaimana pelaksanaannya?

Pelaksanaannya diatur dan dilakukan menurut sistem yang telah ditetapkan oleh Kepala Perpustakaan dan menurut kebijakan, sistem atau ketentuan yang diberlakukan oleh perpustakaan yang bersangkutan. Semua kebijakan layanan ditetapkan untuk mempermudah dan mempercepat pemanfaatan sumber informasi yang tersedia.

Layanan perpustakaan merupakan salah satu kegiatan utama di setiap perpustakaan. Layanan tersebut merupakan kegiatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat, dan sekaligus merupakan barometer keberhasilan penyelenggaraan perpustakaan. Oleh karena itu dari sana akan dikembangkan gambaran dan citra perpustakaan, sehingga seluruh kegiatan perpustakaan akan diarahkan dan terfokus kepada bagaimana memberikan layanan yang baik sebagaimana dikehendaki oleh masyarakat pemakai. Layanan yang baik adalah yang dapat memberikan rasa senang dan puas kepada pemakai. Penerapan suatu sistem layanan di perpustakaan adalah dimaksudkan agar proses pemberian jasa layanan dapat berlangsung tertib, teratur, cepat tanpa hambatan. Sistem layanan perpustakaan merupakan mata rantai rangkaian kegiatan yang terdiri atas beberapa sub bagian saling berhubungan satu sama lain.

Layanan yang dikembangkan oleh perpustakaan adalah agar tercipta layanan terbaik sejauh dapat dilaksanakan, yaitu yang sering disebut layanan ‘minimal’ yang pada intinya berlangsung secara mudah, sederhana, cepat, tepat, bermanfaat serta murah. Dalam layanan ini mungkin dapat dikembangkan layanan yang menggunakan teknologi informasi.

(35)

Unsur-unsur yang dapat terkait dengan sistem layanan perpustakaan meliputi: a. Kesiapan petugas layanan baik fisik, mental, kemampuan, keterampilan,

pengalaman dan kemauan.

b. Kesiapan peralatan, dan perlengkapan sebagai penunjang.

c. Keharmonisan komunikasi, kerja sama, persamaan persepsi antara petugas dengan pengunjung perpustakaan.

d. Peraturan dan tata tertib perpustakaan yang singkat, jelas, dapat dimengerti, dan dapat dilaksanakan serta dipatuhi oleh pemakai perpustakaan.

e. Pedoman yang standar di bidang layanan perpustakaan yang berlaku umum, sehingga dapat dipelajari untuk dipraktekkan.

2.6. Komunikasi 2.6.1. Arti Komunikasi

Kata komunikasi bila ditinjau dari segi etimologis (asal kata), berasal dari bahasa latin, yaitu communication yang bersumber pada kata communis yang berarti sama, arti sama dalam hal makna mengenai suatu hal.26 Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa sesamanya. Manusia berkomunikasi untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya serta perhatiannya kepada manusia lain. Banyak macam bentuk komunikasi, baik secara verbal (dalam bentuk kata-kata, baik lisan maupun tulisan) maupun non verbal (sikap, tingkah laku, gambar-gambar dan bentuk lainnya yang mengandung arti). Tindakan komunikasi juga dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Dari komunikasi yang dilakukan pada akhirnya akan dicapai suatu kesamaan makna tentang suatu hal, yaitu hal yang dikomunikasikan. Dan tentu saja yang mengerti adalah orang-orang yang terlibat dalam kegiatan komunikasi tersebut.

Komunikasi adalah sebuah proses biologi dan psikologi yang berbelit-belit dan menyentuh beberapa aspek kehidupan. Komunikasi adalah sebuah sarana untuk berinteraksi dan berekspresi antar individu. Komunikasi adalah inisiatif pribadi dan cara spontan untuk merubah pemikiran, emosi dan pengertian

26 Onong Uchjana Effendy. Dinamika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2000, hal. 2.

(36)

bersama. Seperti komunikasi melebihi bahasa, demikian juga bahasa melebihi cara berbicara. Tanda bahasa biasanya digunakan sebagai arti dari ekspresi bahasa. Bagi beberapa orang, tanda lebih mudah dipelajari daripada bahasa percakapan. Tanda juga lebih dapat dibaca daripada kata-kata dalam percakapan pada saat individu tidak berbicara.27

Komunikasi visual sebagai suatu sistem pemenuhan kebutuhan manusia di bidang informasi visual melalui lambang-lambang kasat mata, dewasa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hampir di segala sektor kegiatan, lambang-lambang atau simbol-simbol visual hadir dalam bentuk gambar, sistem tanda, corporate identity, sampai berbagai display produk di pusat pertokoan dengan aneka daya tarik.28

2.6.2. Macam-macam komunikasi:

1. Komunikasi verbal/ lisan (pendengaran dan pengucapan/ bunyi-bunyian), mempergunakan telinga sebagai sensasi dengar.

a. Bahasa lisan (bahasa Inggris, Indonesia, Okem, gaul, dan sebagainya). Pentingnya bahasa yang berkaitan dengan dunia periklanan.

b. Auditory/Voice (bunyi-bunyian/ suara).

Contoh: musik, jingle, siulan, bedug maghrib, lonceng gereja, dan sebagainya.

2. Komunikasi non verbal yang merujuk pada tulisan (tertulis).

Contoh: surat, majalah, Koran, dan sebagainya (secara visual lewat tulisan), komunikasi non verbal merupakan bagian dari komunikasi visual).

3. Komunikasi Tactual (memepergunakan kulit sebagai sensasi rabaan) Contoh: huruf Braille untuk tuna netra, brosur yang memberikan sampel tekstur kertas, kain, keramik, dan sebagainya.

27 Memory and Recall of Signs: The Development of a Simplified Sign System. 5 Dec.2002. <http://www.encurto_2000.org/need>.

28 Sumbo Tinarbuko. “Semiotika Analisis Tanda Pada Karya Desain Komunikasi Visual.” Jurnal Nirmana Vol.5.No.1. (2003): hal. 31-47.

(37)

4. Komunikasi Olfactoral/ Gutatory (mempergunakan hidung sebagai sensasi penciuman)

Contoh: polisi yang memanfaatkan anjing sebagai pelacak, tester minyak wangi. Ada pula orang yang ahli mendiagnosis penyakit dengan mencium bau kaki pasien.

5. Komunikasi pengecap (Taste from Tongue), mempergunakan lidah sebagai sensasi pengecap rasa, Contoh: sampel makanan.

6. Komunikasi tubuh

a. Kinesika: studi gerakan tubuh dalam komunikasi non verbal yang merujuk pada sikap tubuh dan gerakan tubuh lainnya (untuk penderita tuna rungu).

b. Bahasa tubuh (Body language), disiplin ilmu kepribadian. c. Teknik peran/ teater, pantomin, teknik tarian.

7. Komunikasi telepati (indera ke-6) : profesi paranormal/cenayang (orang yang dapat berkomunikasi dengan dunia roh atau dimensi lain), dengan kekuatan pikiran, dukun, dan sebagainya.

8. Komunikasi teknologi (Information technology)

a. Bahasa pemprograman, seperti Basic Cobol, java Script, HTML, dan sebagainya.

b. Dengan teknologi yang terus berkembang, telah membantu dalam berkomunikasi jarak jauh (komunikasi lewat teknologi).

− Morse/telegram secara auditory.

− Radio, telepon, hand phone secara voice. − Fax, telex, SMS, pager sebagai tulisan. − Televisi secara audio visual.

− Tele, Immersion (meeting jarak jauh). 9. Komunikasi visual (Visual Communication)

(38)

Untuk mencapai komunikasi yang efektif, ada tiga pendekatan yang dapat digunakan:29

1. Pendekatan pertama pada keefektifan komunikasi yang masih tetap bertahan bertahun-tahun adalah pengukuran keefektifan dalam arti efek yang ditimbulkan. Banyak evaluasi komunikasi selalu berpusat pada efek. Suatu agen periklanan hanya akan laku jika periklanannya berhasil menimbulkan informasi sesuai dengan apa yang diharapkan.

2. Pendekatan kedua pada keefektifan komunikasi adalah memberikan penekanan pada teknik komunikasi. Pendekatan ini menyarankan adanya identifikasi yang baku tentang komunikasi yang “baik” atau yang “buruk”. Maka keefektifan komunikasi menjadi masalah memperoleh ketrampilan (skills) dalam menetapkan model yang “baik”.

3. Pendekatan ketiga ditekankan pada konsep keefektifan menyesuaikan diri dengan orang lain yang berkomunikasi. Komunikasi seseorang adalah efektif sejauh ia menyesuaikan perilakunya, persepsinya, “perangkat”-nya kepada faktor para komunikator lain.

2.6.3. Unsur-unsur dari komunikasi a. Komunikator

Komunikator adalah individu atau kelompok yang mengambil prakarsa dalam mengadakan komunikasi dengan individu atau kelompok lain yang menjadi sasarannya.

b. Komunikan

Komunikan adalah obyek sasaran dari kegiatan komunikasi, yaitu pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikator akan diterima oleh sasarannya, yaitu komunikan.

c. Message

Unsur ini merupakan inti/ perumusan tujuan dan maksud dari komunikator kepada komunikan. Unsur ini sangat menentukan dalam tercapainya kondisi sukses suatu komunikasi. Message harus menyarankan sesuatu jalan untuk memperoleh kebutuhan yang layak bagi situasi kelompok di

(39)

mana kesadaran pada saat ia digerakkan untuk memberikan respon yang dikehendaki.

d. Feedback

Feedback adalah arus umpan balik dalam rangka proses komunikasi. Di

mana arus umpan balik ini selalu diharapkan oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan komunikasi, dalam arti

feedback yang menyenangkan. Di dalam proses komunikasi, feedback juga

merupakan unsur yang penting, karena memberikan kepada komunikator suatu informasi tentang bagaimana komunikasi menginterpretasikan pesan yang diterimanya.30

Jenis-jenis feedback:31

− Zero feedback, yaitu feedback yang diterima komunikator dari komunikan, dimana komunikator tidak dapat mengerti tentang apa yang dimaksud komunikan.

− Positive feedback, yaitu pesan yang dikembalikan komunikan kepada komunikator dapat dimengerti dan mencapai persetujuan. Komunikan bersedia berpartisipasi memenuhi ajakan seperti yang termuat dalam pesan yang diterimanya.

− Neutral feedback, yaitu feedback yang tidak memihak, artinya pesan yang dikembalikan oleh komunikan kepada komunikator tidaklah relevan atau tidak ada hubungannya dengan pesan atau masalah yang disampaikan komunikator kepada komunikan.

− Negative feedback, yaitu pesan yang dikembalikan oleh komunikan kepada komunikator tidaklah mendukung (menentang), yang berarti terjadi kritikan dan kemarahan.

30 Teguh Meinanda. Pengantar Ilmu Komunikasi (cetakan ke-2). Bandung: Penerbit CV. Armico, November 1989, hal. 3-6.

(40)

Skema proses komunikasi:

Feedback

Gambar 2.4. Skema Proses Komunikasi

Dalam dunia Desain Komunikasi Visual juga menggunakan komunikasi untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Dimana merupakan suatu tantangan tersendiri dalam mengkomunikasikan suatu pesan dengan media periklanan yang digunakan. Perancangan komunikasi visual/ desain adalah suatu solusi yang tepat dan salah satu sarana komunikasi yang efektif dalam proses dan kegiatan berkomunikasi. Desain merupakan bahasa gambar dan bahasa rupa yang memberikan perlambangan berupa unsur rupa yaitu garis, warna, bentuk, bidang secara menyatu menjadi satu keutuhan komposisi. Dengan bahasa gambar seseorang bisa menafsirkan berdasarkan lambang yang bersifat universal.32

Sedangkan dalam mengembangkan program komunikasi dan promosi total yang efektif ada delapan langkah yang dapat ditempuh. Komunikator pemasaran harus:33

• Mengindentifikasikan audiens yang dituju

Komunikator pemasar harus mulai dengan pikiran yang jelas tentang

audiens sasarannya. Audiens sasaran dapat diartikan sebagai calon pembeli

produk perusahaan, pemakai saat ini, penentu keputusan, atau pihak yang mempengaruhi. Audiens dapat terdiri dari individu, kelompok, masyarakat tertentu, atau masyarakat umum. Audiens yang dituju tersebut akan sangat mempengaruhi komunikator tentang apa yang akan dikatakan, bagaimana mengatakannya, dimana pesan tersebut akan disampaikan, dan kepada siapa pesan tersebut disampaikan.

32 S. Abdullah Noer. Desain Komunikasi Visual sebagai Sarana Komunikasi yang Efektif. Jurnal Grafis dan Multimedia 3 (2003), hal. 43.

33 Philip Kotler. Manajemen Pemasaran. Edisi Bahasa Indonesia (Jilid 2). Jakarta: PT. Prenhallindo, 1998, hal. 208-228.

Gambar

Gambar 2.1. Struktur Organisasi Perpustakaan Nasional RI
Tabel 2.1. Tingkat-tingkat Pertumbuhan Intelektual
Gambar 2.4. Faktor-faktor penting dalam pembuatan tanda-tanda
Tabel 2.5. Layanan Perpustakaan Universitas Kristen Petra
+7

Referensi

Dokumen terkait

Indikator derajat kesehatan masyarakat yang paling sensitif adalah Angka Harapan Hidup, Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Ibu dan status gizi Balita yang dapat

Berbeda lagi dalam hukum pidana positif overmacht merupakan dasar peniadaan hukuman dari suatu tindak pidana dengan adanya alasan pembenar dan alasan pemaaf, berdasarkan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan peranan layanan konsultasi pembuatan alat kolokium terhadap pendeknya waktu pembuatan alat, meningkatnya

Akhirnya Aji Saka dan Dora sampai ke kerajaan Prabu Dewata Cengkar, dapat dilihat dalam background yang ada terdapat suasana pintu masuk ke kerajaan dan diujung

memelihara ornamental fish  ornamental fish  ini, anda hendaklah mempunyai serba sedikit ilmu ini, anda hendaklah mempunyai serba sedikit ilmu mengenai penjagaannya

PK1 Mencerminkan kondisi bank yang secara umum sangat sehat sehingga dinilai sangat mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis

Untuk mendapatkan izin dimaksud lembaga sosial keagamaan Islam dapat mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Wilayah setempat, dengan syarat - syarat sebagaimana

• Seorang wanita 65 tahun datang ke UGD dengan nyeri dada keluhan timbul 30 menit yang lalu disaat terbangun dari tidur disertai juga keluhan muntah 5x, pusing, sakit kepala,