• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

I. 1. Dokter sebagai Pemimpin di Rumah Sakit

Direktur atau kepala rumah sakit di Indonesia harus seorang tenaga medis, yaitu dokter atau dokter gigi, yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan (Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009). Sejarah regulasi kepemimpinan rumah sakit di Indonesia diawali dengan Permenkes No. 159b/Menkes/Per/II/1988 tentang penyelenggaraan rumah sakit yang menetapkan direktur rumah sakit adalah seorang dokter. Ketetapan ini diubah dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 157/Menkes/SK/III/1999 yang merevisi persyaratan jabatan direktur rumah sakit adalah tenaga dokter atau tenaga kesehatan lain yang mempunyai kemampuan di bidang perumahsakitan, memahami dan menghayati etika profesi kesehatan khususnya profesi kedokteran. Dan terakhir, Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit Pasal 34 menyatakan bahwa kepala rumah sakit harus seorang tenaga medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan.

Di akhir abad 19 hingga awal abad 20 di luar Indonesia, rumah sakit secara rutin dipimpin oleh seorang dokter. Namun, hal tersebut telah berubah di awal abad 21. Rumah sakit di Inggris dan Amerika Serikat sebagian besar dipimpin oleh CEO (chief executive officer) bukan dokter (Falcone & Satiani 2008). Hanya 235 dari 6500 atau sebesar 3,6 % rumah sakit di Amerika Serikat yang dipimpin oleh dokter. Meskipun demikian, penelitian Goodall, (2011) menunjukkan bahwa dari 100 (seratus) rumah sakit dengan rangking tertinggi di Amerika Serikat, diraih oleh rumah sakit yang dipimpin oleh CEO dokter. Penelitian Mintz & Stoller (2014); Stoller (2008); Goodall (2011) menunjukkan bahwa menempatkan dokter sebagai pemimpin di rumah sakit dapat meningkatkan kinerja rumah sakit dan perawatan pasien. Rumah sakit yang melibatkan lebih banyak dokter sebagai pemimpin di manajemen menunjukkan kinerja 50% lebih baik dalam efektivitas

(2)

manajemen secara umum, manajemen kinerja dan kepemimpinan dibanding dengan rumah sakit yang melibatkan sedikit dokter (Falcone & Satiani, 2008). Hal ini menunjukkan bahwa posisi dokter sebagai pucuk pimpinan rumah sakit menjadi peluang positif bagi rumah sakit.

I. 2. Permasalahan Kepemimpinan Dokter di Rumah Sakit

Di Indonesia, penunjukan dan pengangkatan dokter menjadi pemimpin di rumah sakit dilakukan tanpa mempersiapkan dokter terlebih dahulu untuk menjadi pemimpin. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 971 Tahun 2009 tentang Standar Kompetensi Pejabat Struktural Kesehatan (Menteri Kesehatan, 2009) hanya mengatur kompetensi yang harus dimiliki pejabat setruktural, tetapi tidak disertai dengan langkah-langkah dan upaya memikat, merekrut, menyeleksi dan mempersiapkan seseorang menjadi pejabat yang siap memimpin.

Ketidaksiapan dokter dalam memimpin rumah sakit berdampak pada kinerja rumah sakit secara keseluruhan. Banyak dokter yang baru saja dipromosikan menjadi pemimpin rumah sakit yang tidak memiliki bekal yang cukup, terutama pada masalah keuangan, manajemen perubahan, komunikasi, motivasi, team

building, manajemen risiko dan ketrampilan kepemimpinan. Sebanyak 59%

dokter yang direkrut menjadi pemimpin tidak dapat secara jelas mendeskripsikan peran, tanggung jawab dan tujuan kinerja untuk peran kepemimpinannya (Falcone & Satiani, 2008). Sangat disayangkan bahwa kinerja dokter pada posisi dan jabatan barunya hanyalah pas-pasan atau malah buruk.

Banyak dokter yang memimpin rumah sakit di Indonesia harus menghadapi demonstrasi dari karyawan, demonstrasi warga sekitar rumah sakit, mendapat tuntutan hukum dari pasien, konflik dengan pemilik rumah sakit hingga menjadi tersangka kasus korupsi bahkan sejak masih di awal masa jabatannya (Batampos.co.id ; Sultrakini.com ; Radarmakassar.com; Mimbarriuanews.com; Kupang news, 2014). Kebutuhan, kompleksitas dan tanggung jawab kepemimpinan rumah sakit di era modern saat ini terlalu penting untuk diberikan pada pemimpin accidental yang tidak siap memimpin.

(3)

I. 3. Tantangan Kepemimpinan Dokter di Rumah Sakit

Dewasa ini rumah sakit mendapat tantangan dan tekanan berat terkait cakupan universal, efisiensi biaya pelayanan dan mutu pelayanan kesehatan. Di samping itu, perubahan lingkungan, regulasi, pesatnya persaingan antar rumah sakit turut menjadi tantangan berat bagi rumah sakit (Mintz & Stoller, 2014). Kepemimpinan seorang Chief Executive Officer (CEO) jelas berbeda dengan kepemimpinan fungsional dokter. Beberapa ketrampilan esensial yang dibutuhkan untuk menjadi CEO antara lain adalah kepemimpinan, ketajaman insting bisnis, pengalaman, kemampuan untuk mengelola ke bawah dan ke atas serta kepekaan terhadap tujuan bisnis yang sangat berbeda dengan kualifikasi yang dimiliki dokter sebagai klinisi.

Tabel 1 Perbedaan Peran CEO dengan Praktisi Dokter

Pembeda CEO Dokter

Skala Ratusan hingga ribuan unsur Satu pasien setiap waktu

Ruang lingkup Perusahaan secara global Satu workshop yang fokus

Tanggung jawab Pada dewan komisaris dan institusi

Pada pasien

Peran Cheerleader, bertanggung jawab pada ratusan hingga ribuan karyawan

Sangat terdefinisi, perannya terbatas dalam sistem

Fokus Difus/menyebar Presisi, tepat

Poin vokal Kendala mutu dan biaya pelayanan

Kebenaran dan kualitas layanan

Lokasi Ruangan yang luas Ruangan pasien/ruang periksa

Horizon Jauh Tahun ke tahun

Otonomi Servant leader Captain of the ship Lingkungan Dinamis, dapat menyentuh

seluruh lingkungan organisasi

Sangat terbatas pada hirarki

Keputusan Konsensus Independen

Dasar keputusan Waktu berpikir, luar biasa krisis Informasi tidak lengkap, jarang krisis

Konsekuensi kesalahan Ekonomis, tidak ada kesalahan langsung bahkan jika keputusan mempengaruhi pelayanan pasien

Kesalahan sangat merugikan pasien walau dilakukan tidak dengan sengaja

Gratifikasi Tertunda Hampir selalu seketika

Penutupan/Pengakhiran Rancu Jelas Sumber: Falcon & Satiani (2008)

Kualifikasi inti dari kepemimpinan dokter adalah kepekaan terhadap misi dan visi, ketrampilan komunikasi, integritas, kepercayaan dan keteguhan hati (Falcone & Satiani, 2008). Kepemimpinan yang kuat merupakan suatu penggerak terpenting dari keseluruhan kinerja rumah sakit. Ketrampilan dan kompetensi

(4)

kepemimpinan dapat dikembangkan karena kompetensi kepemimpinan yang mencakup kombinasi pengetahuan, ketrampilan, sifat dan atribut kepemimpinan secara kolektif dapat dilatihkan agar seseorang dapat menjadi pemimpin yang

perform pada jabatannya.

I. 4. Talent Management dan Kepemimpinan Dokter

Ketidaksiapan dokter menjadi pemimpin di rumah sakit dapat dicegah dengan cara melatih dan mengasah bakat (talent) kepemimpinan. Kepemimpinan yang kuat dan memiliki sejumlah kompetensi sangat mendesak dibutuhkan di rumah sakit (Stoller 2014). Salah satu cara melatih dan mengasah talent kepemimpinan dokter adalah dengan menyelenggarakan talent management dan kepemimpinan termasuk proses kaderisasi dan suksesi kepemimpinan. Sayangnya, talent management dan kepemimpinan bagi dokter belum dilakukan di Indonesia. Talent management baru dilaksanakan di Indonesia pada perusahaan besar seperti perbankan (Febriani 2012). Padahal talent management dan kepemimpinan bagi dokter mulai dilaksanakan di Canada, Amerika Serikat dan Inggris sejak tahun 2009 (Ackerly et al. 2011; Satiani et al. 2014; Victor 2014).

Universitas Duke di Durham North Carolina sejak tahun 2009-2010 menyelenggarakan program MLPR (Management and Leadership Pathway for

Residents) (Ackerly et al. 2011), Departemen Bedah pada Ohio State University

Wexner Medical Center mengembangkan program TMALDA (Talent

Management and Leader Development Academy) (Satiani et al. 2014),

Pemerintah Provinsi Newfoundland and Labrador di Canada mengembangkan program PMLP (Physician Management and Leadership Program) (Victor, 2014) dan American College of Physician Executives menyelenggarakan Leadership

Development Program yang membantu para dokter mengembangkan ketrampilan

spesifik termasuk pemahaman terhadap keuangan, kemampuan menyelenggarakan pertemuan dan ketrampilan komunikasi untuk menginspirasi karyawan dan pasien (Sonnino, 2013).

Berdasarkan uraian di atas, mempersiapkan dan melatih dokter menjadi pemimpin di rumah sakit di Indonesia sudah menjadi permasalahan yang serius sehingga mendesak untuk segera dicarikan solusinya. Talent management dan

(5)

suksesi kepemimpinan menjadi salah satu alternatif solusi bagi permasalahan kepemimpinan rumah sakit di Indonesia.

B. Perumusan Masalah

Undang-undang mensyaratkan dokter sebagai pemimpin di rumah sakit, tetapi talent management dan suksesi kepemimpinan dokter sebagai salah satu cara dalam menyiapkan kepemimpinan dokter belum diterapkan di rumah sakit di Indonesia. Apakah rumah sakit memiliki kesiapan dalam penerapan talent

management dan suksesi kepemimpinan bagi dokter? Bagaimana strategi program talent management dan kepemimpinan mempersiapkan dokter menjadi pemimpin

di rumah sakit?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan umum menyusun strategi talent management dan suksesi kepemimpinan dokter yang sesuai dengan kebutuhan rumah sakit. Tujuan khusus: 1. Mengukur kesiapan rumah sakit dalam penerapan talent management bagi

dokter

2. Mengukur keinginan dokter menjadi pemimpin, kebutuhan pengembangan kepemimpinan dan potensi kepemimpinan para dokter.

3. Mengeksplorasi persepsi para pemangku dan pembuat kebijakan di rumah sakit tentang permasalahan suksesi kepemimpinan dokter di rumah sakit. 4. Mengeksplorasi peran para pemangku dan pembuat kebijakan di rumah sakit

dalam penerapan talent management bagi kepemimpinan dokter di rumah sakit.

5. Mengkaji strategi penerapan talent management untuk mendukung suksesi kepemimpinan dokter di rumah sakit.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfat bagi peneliti, pemilik, manajer rumah sakit, profesi dokter, universitas dan pemerintah, yaitu peneliti memiliki referensi ilmiah bagi pengembangan karir peneliti maupun dalam menjawab permasalahan

(6)

kepemimpinan di rumah sakit, pemilik dan manajemen rumah sakit memiliki strategi dan desain dalam penerapan talent management untuk mengembangkan bakat dan ketrampilan kepemimpinan para dokter di rumah sakit, profesi dokter mendapatkan gambaran jalur pengembangan karir kepemimpinan dan kesempatan pengembangan bakat kepemimpinan melalui program talent management, pemerintah memiliki bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan menyempurnakan Peraturan Pemerintah tentang kepemimpinan di rumah sakit dan universitas memiliki bahan pertimbangan dalam mempersiapkan dukungan universitas terhadap penerapan talent management yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah maupun rumah sakit.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian ini memiliki nilai kebaruan karena belum ada penelitian talent

management bagi dokter di rumah sakit yang dilakukan bagi dokter di Indonesia.

Penelitian ini mengukur kesiapan, keinginan dokter menjadi pemimpin, kebutuhan

talent management dan suksesi kepemimpinan dokter dari perspektif pemilik,

(7)

Tabel 2 Penelitian tentang Talent Management dan Kepemimpinan Dokter Penulis

(tahun)

Tujuan Lokasi Rancangan penelitian

Sampel Hasil utama Satiani B, et al (2014) Mendeskripsikan dan mengevaluasi program Talent Management and Leader Development Academy (TMALDA) Ohio State University, USA Survey dan wawancara terhadap 24 partisipan program yang merupakan dokter di Departemen Bedah

93% peserta puas dan 100% peserta merekomendasika program TMALDA, topik-topik yang paling dan kurang disukai, saran-saran perbaikan, dan manfaat program bagi peserta. Maddalena Victor dan Lisa Fleet (2014) Pengembangan program Physician Management and Leadership Program (PMLP) New Foundland and Labrador, Canada Survey need assessment, evaluasi desain dan implementasi 10 modul PMLP Interview 5 physician leader, survey online terhadap 423 dokter dan tenaga kesehatan lainnya

Karakteristik yang harus dimiliki dokter sebagai manager adalah

kemampuan komunikasi efektif. Topik yang direkomendasikan: aspek ketrampilan komunikasi, prinsip perbaikan mutu, patient safety,

perencanaan strategis, perencanaan program, evaluasi, team building, serta manajemen waktu dan sumber daya

Ackerley D.C., et al (2011) Mendeskripsikan program Management and Leadership Pathway (MLPR) Medical Center, Duke University, North Carolina, USA Survey dan wawancara Pengelola program MLPR dan 2 residen peserta program MLPR MLPR membekali residen dengan training klinis lengkap, diikuti dengan mentoring serta peluang rotasi

manajemen untuk meraih pengalaman operasional berbasis proyek

mencakup kegiatan klinis, riset dan akademik.

Gambar

Tabel 1 Perbedaan Peran CEO dengan Praktisi Dokter

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian bertujuan untuk menguji validitas konstrak Tes Minat Indonesia (TMI) melalui komponen minat bidang kesehatannya. Minat kesehatan terdiri dari minat medis,

Di dalam Subsidiary Arrangement antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Australia yang berkenaan dengan kemitraan pendidikan Australia Indonesia telah disebutkan

Amerika Serikat memiliki 3 strategi yang mendasar untuk pencegahan dan pengendalian TB. Prioritas pertama adalah mengidentifikasi dan mengobati orang yang memiliki

Komunikasi Massa menurut pendapat tan dan wright merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal,

Sesuai dengan uraian diatas maka subsidi uang tunai yang dimaksud dalam penelitian ini adalah subsidi produksi, dimana peningkatan output produknya ditanggung oleh

“saat sedang cekcok datang orang yang membawa parang langsung mengejar serta membacok korban,” kata Kapolsek tanjung Priok, Kompol m.Iqbal.. sofyan, satpam, menuturkan

Karena mungkin sulit untuk membedakan tumor Bartholin dari kista Bartholin yang jinak hanya Karena mungkin sulit untuk membedakan tumor Bartholin dari kista Bartholin yang jinak

Beberapa petunjuk praktis dari ukuran jenjang dapat dilihat pada Tabel 3.1. Sedangkan berbagai variasi dari open pit mining dapat dilihat Pada Gambar 3.8. Kuari hampir sama dengan