• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) DAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN PELATIHAN SEBAGAI VARIABEL MODERATING PADA PT. LAMPAK PRIMULA INDONESIA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) DAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN PELATIHAN SEBAGAI VARIABEL MODERATING PADA PT. LAMPAK PRIMULA INDONESIA."

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP KESETIAAN

MEREK MINUMAN SARI BUAH DALAM KEMASAN ABC DI

SURABAYA SELATAN

(Studi kasus Carrefour Jl. Jend. A. Yani Surabaya)

SKRIPSI

Oleh : Bagus Perdana . w 0512010015 / FE / EM

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR

(2)

PENGARUH KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP KESETIAAN

MEREK MINUMAN SARI BUAH DALAM KEMASAN ABC DI

SURABAYA SELATAN

(Studi kasus Carrefour Jl. Jend. A. Yani Surabaya)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Untuk Menyusun Skripsi S-1 Jurusan Manajemen

Oleh : Bagus Perdana . w 0512010015 / FE / EM

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR

(3)

PENGARUH KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP

KESETIAAN MEREK MINUMAN SARI BUAH DALAM

KEMASAN ABC

DI SURABAYA SELATAN

(Studi Kasus Carrefour Jl. Jend. A. Yani Surabaya)

Disususn Oleh :

Bagus Perdana. W 0512010015 / FE / EM

Telah Dipertahankan Dihadapan Dan Diterima Oleh Tim Penguji Skripsi Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Pada Tanggal

27 Mei 2011

Pembimbing: Tim Penguji: Pembimbing Utama: Ketua:

Yuniningsih, SE, Msi Dr. Eko Purwanto, Msi

Sekretaris:

Yuniningsih, SE, Msi Anggota:

Dra.Ec,Hj. Siti Aminah,MM

Mengetahui Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Dr.H. Dhani Ichsanuddin Nur, SE, MM

(4)

PENGARUH KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP KESETIAAN

MEREK MINUMAN SARI BUAH DALAM KEMASAN ABC

DI SURABAYA SELATAN

(Studi Kasus Carrefour Jl. Jend. A. Yani Surabaya)

Yang diajukan

Bagus Perdana. W 0512010015 / FE / EM

Disetujui untuk mengikuti Ujian Lisan oleh

Pembimbing Utama

Yuniningsih, SE, Msi Tanggal : ………...

Mengetahui

Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran”

Jawa Timur

(5)

PENGARUH KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP KESETIAAN

MEREK MINUMAN SARI BUAH DALAM KEMASAN ABC DI

SURABAYA SELATAN

(Studi kasus Carrefour Jl. Jend. A. Yani Surabaya)

Yang diajukan

Bagus Perdana . w 0512010015 / FE / EM

telah disetujui untuk diseminarkan oleh

Pembimbing Utama

Yuniningsih, SE , Msi Tanggal : ………...

Mengetahui Ketua Jurusan Manajemen

(6)

PENGARUH KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP KESETIAAN

MEREK MINUMAN SARI BUAH DALAM KEMASAN ABC

DI SURABAYA SELATAN

(Studi Kasus Carrefour Jl. Jend. A. Yani Surabaya)

Yang diajukan

Bagus Perdana. W 0512010015 / FE / EM

Telah Diseminarkan Dan Disetujui Untuk menyusun Skripsi Oleh

Pembimbing Utama

Yuniningsih, SE, Msi Tanggal : ………...

Mengetahui

Ketua Program Studi Manajemen

(7)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas segala rahmat dan

ridhonya, maka penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan judul:

“PENGARUH KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP KESETIAAN MEREK MINUMAN SARI BUAH DALAM KEMASAN ABC DI SURABAYA SELATAN (Studi kasus Carrefour Jl. Jend. A. Yani Surabaya)”. Penulisan Skripsi ini merupakan syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ekonomi Program Studi Ekonomi Manajemen di

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari sempurna karena

keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki, baik dalam penyajian material

maupun dalam pengungkapan bahasanya.

Disadari bahwa dalam penulisan Skripsi ini tidak terlepas dari segala

bimbingan, bantuan, dan dorongan dari Yuniningsih, SE, Msi sebagai dosen

pembimbing Utama yang telah banyak memberikan pengarahan dan dorongan

yang sangat bermanfaat sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

ini, maka pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati ingin menyatakan

(8)

1. Bapak, Dr. Ir. Teguh Sudarto, M.P. selaku Rektor Universitas Pembangunan

Nasional ”Veteran” Jawa Timur Surabaya.

2. Bapak, Drs. Ec. Saiful Anwar M.Si. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Bapak Drs. Muhadjr Anwar. MM Ketua Program Studi Jurusan Manajemen

4. Ibu Yuniningsih, SE, Msi sebagai Dosen Pembimbing Utama.

5. Bapak Ir. Didik Utomo Pribadi, MP yang telah membantu saya untuk

menyelesaikan skripsi ini

6. Orang tua ku yang senantiasa sabar menungguku untuk menyelesaikan skripsi

ini.

7. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-satu, terima kasih telah

banyak membantu dalam penyusunan laporan proposal skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa di dalam penyusunan laporan proposal ini banyak terdapat kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua

pihak sangat diharapkan demi kesempurnaan penulisan laporan proposal ini.

Akhir kata, semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang telah

membantu penulis dalam penyusunan Skripsi ini.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Surabaya, 22 Oktober 2010

Penulis

(9)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

ABSTRAKSI ... xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu ... 7

2.2 Landasan Teori ... 10

2.2.1 Pengertian Pemasaran ... 10

2.2.2 Tujuan Pemasaran ... 11

2.2.3 Pengertian Manajemen Pemasaran ... 11

2.2.4 Pengertian Perilaku Konsumen ... 13

2.2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen ... 14

(10)

2.2.7 Tinjauan Terhadap Kesetiaan Merek ... 21

2.2.8 Pengaruh Kepuasan Konsumen terhadap Kesetiaan Merek ... 26

2.3 Kerangka Koseptual ... 28

2.4 Hipotesis ... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional variabel ... 30

3.2 Pengukuran Variabel ... 32

3.3 Teknik Penentuan Sampel ... 32

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 34

3.4.1 Jenis Data ... 34

3.4.2 Pengumpulan Data ... 34

3.5 Teknik Analisis ... 35

3.5.1 Confirmatory Factor Analysis ... 38

3.6 Asumsi Model ... 38

3.7 Pengujian Model dengan One Step Approach ... 42

3.7.1 Pengujian Model dengan Two Step Approach ... 42

3.8 Evaluasi Model ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Objek Penelitian ... 47

4.1.1 Sejarah Singkat Berdirinya Perusahaan PT. HEINZ ABC ... 47

4.2 Deskripsi Hasil Penelitian ... 48

(11)

4.2.2 Deskripsi Berhubungan Dengan Produk ... 50

4.2.3 Deskripsi Berhubungan Dengan Penjualan ... 51

4.2.4 Deskripsi Kesetiaan Merek ... 54

4.3 Uji Outlier Multivariate ... 55

4.4 Uji Reliabilitas Consistency Internal ... 57

4.5 Uji Validitas Standarize Faktor Loading dan Construct dengan Confirmatory Faktor Analysis ... 58

4.6 Evaluasi Construct Reliability dan Variance Extracted ... 59

4.7 Uji Normalitas ... 60

4.8 Analisis Model SEM ... 62

4.9 Uji Hipotesis Unidimensi First Order ... 66

4.10 Analisis Unidimensi Second Order ... 67

4.10.1 Uji Hipotesis Undimensi Variane Kepuasan Konsumen ... 67

4.11 Uji Kausalitas ... 67

4.12 Pembahasan ... 68

4.12.1Kepuasan Konsumen Berpengaruh Terhadap Kesetiaan Merek minuman sari buah dalam Kemasan ABC Surabaya Selatan .. 68

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 70

5.2 Saran ... 71 DAFTAR PUSTAKA

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Data TBI Minuman Sari Buah Dalam Kemasan ABC ... 4

Tabel 3.1. Tabel Goodness of Fit Indices ... 46

Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 48

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 49

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 50

Tabel 4.4 Hasil Jawaban Responden Untuk Pertanyaan Releated Product ... 51

Tabel 4.5 Hasil Jawaban Responden Untuk Pertanyaan Releated Purchase ... 53

Tabel 4.6 Hasil Jawaban Responden Untuk Pertanyaan Brand Loyalty ... 54

Tabel 4.7 Outlier Data ... 56

Tabel 4.8 Reliabilitas Data ... 58

Tabel 4.9 Validitas Data ... 59

Tabel 4.10 Construct Reliability dan Variance Extracted ... 60

Tabel 4.11 Normalitas Data ... 61

Tabel 4.12 Evaluasi Kriteria Goodnes of Fit Indices ... 63

Tabel 4.13 Tabel Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indices Model One- Step Approach – Elimination Model ... 64

(13)

Tabel 4.15 Unidimensi First Order ... 66

Tabel 4.16 Unidimensi Second Order ... 67

Tabel 4.17 Hasil Uji Kausalitas ... 68

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.3 Gambar Kerangka Konseptual

... 28 Gambar 4.1 Model Pengukuran dan Struktural Customer satisfaction dan

Customer Loyalty Model specification :

One Step Approach – Base Model

... 62 Gambar 4.2 Model Pengukuran dan Struktural Customer Satisfaction dan

Customer Loyalty Model specification :

One Step Approach – Elimination Model

... 63 Gambar 4.3 Model Pengukuran dan Struktural Customer Satisfaction dan

Customer Loyalty Unstandardized Estimates :

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner

Lampiran 2. Tabulasi Jawaban Responden Terhadap Kepuasan Konsumen, Kesetian Merek

(16)

PENGARUH KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP KESETIAAN

MEREK MINUMAN SARI BUAH DALAM KEMASAN ABC DI SURABAYA SELATAN (Studi Kasus Carrefour Jl. Jend. A. Yani Surabaya)

Oleh Bagus Perdana. W 0512010015/FE/EM

ABSTRAKSI

Persaingan bisnis merupakan persaingan yang harus dihadapi oleh perusahaan – perusahaan, persaingan yang terjadi saat ini semakin ketat. Persaingan juga ada di produsen minuman sari buah dalam kemasan salah satunya ABC. Kondisi ini dipicu banyaknya konsumen yang menginginkan minuman sari buah dalam kemasan serta keberhasilan perusahaan – perusahaan besar yang sejenis memberikan dampak cukup besar pada pasar minuman sari buah dalam kemasan. Ini dapat dilihat menurunnya tingkat top brand index tahun 2007 sebesar 20.80%, tahun 2008 sebesar 19.0%, tahun 2009 sebesar 13.7%, tahun 2010 sebesar 11.0%. Berdasarkan fenomena tersebut terjadi penurunan tingkat top brand index khususnya minuman sari buah dalam kemasan ABC sehingga banyak konsumen yang beralih ke merek lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kepuasan konsumen terhadap kesetiaan merek.

Skala pengukuran untuk indikator-indikator dari setiap variabel yang digunakan adalah skala likert dengan skala interval 1 sampai 5. Pengambilan sampel didasari oleh SEM bahwa besarnya sampel yaitu 5-10 kali parameter yang diestimasi. Pada penelitian ini terdapat 14 indikator, sehingga jumlah sampel yang ditetapkan adalah 112 responden melalui penyebaran kuesioner kepada konsumen yang pernah membeli produk minuman sari buah dalam kemasan ABC Di Surabaya Selatan dan berumur 17 tahun ke atas. Dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling dengan teknik non probability. Artinya Teknik penarikan sampel dari orang yang paling mudah di jumpai.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa kepuasan konsumen berpengaruh positif terhadap kesetiaan merek dapat diterima.

(17)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Persaingan bisnis merupakan persaingan yang harus dihadapi oleh

perusahaan-perusahaan, persaingan yang terjadi pada saat ini semakin

ketat. Sehingga menuntut manajemen perusahaan untuk lebih cermat

dalam menentukan strategi pemasaran agar dapat memenangkan

persaingan yang dihadapi. Pada situasi persaingan yang demikian, maka

agar dapat keluar sebagai pemenang manajemen perusahaan dituntut untuk

dapat mendesain dan mengimplementasikan strategi pemasaran yang

mampu menciptakan, mempertahankan dan meningkatkan kepuasan

konsumen. Pada akhirnya dapat tercipta suatu kesetiaan yang tinggi dari

konsumen terhadap produk yang ditawarkan oleh perusahaan.

Konsumen mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan jenis produk yang dapat memenuhi akan kebutuhan dan

keinginan mereka. Hal tersebut menuntut perusahaan untuk memahami

akan kebutuhan konsumen. Pemahaman dapat dilakukan dengan

mengadakan suatu penelitian sehingga dapat menilai, mengukur, menafsir

keinginan, sikap serta perilakunya. Dengan pemahaman yang tepat, maka

perusahaan akan dapat menetapkan strategi pemasaran sehingga kepuasan

pelanggan dapat tercapai.

(18)

Tjiptono (1997:24) menyatakan bahwa terciptanya kepuasan

pelanggan dapat memberikan beberapa manfaat diantaranya:

1. Hubungan antara perusahaan dan pelanggannya menjadi harmonis;

2. Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang dan terciptanya

kesetiaan pelanggan, serta terbentuknya rekomendasi dari mulut ke

mulut yang dapat menguntungkan bagi perusahaan, yaitu mengurangi

biaya pemasaran.

Menurut Kotler (2000) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan

adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau

hasil) yang ia rasakan dibandingkan dengan harapan.

Kesetiaan merek adalah kondisi dimana konsumen mempunyai

sikap positif terhadap merek, mempunyai komitmen terhadap merek, dan

bermaksud meneruskan pembeliannya dimasa mendatang. Kesetiaan merek merupakan faktor yang penting dalam menetapkan nilai dari suatu

merek, nilai penting dari merek tersebut dapat meliputi kualitas, bentuk

serta kegunaan dari barang dan jasa yang ditawarkan lebih baik yang

ditawarkan para pesaing.

Kesetiaan pelanggan terhadap merek sangat perlu dipertahankan

dan ditingkatkan karena dengan mempertahankan pelanggan yang sudah

ada lebih mudah dan lebih menghemat biaya dibandingkan dengan

mencari pelanggan baru. Kesetiaan merek dapat terbentuk apabila

konsumen memiliki sikap positif suatu merek yang ditandai dengan

(19)

pembelian ulang dimasa yang akan datang. Upaya penciptaan kepuasan

dan kesetiaan konsumen harus selalu diikuti dengan evaluasi terhadap

tingkat kepuasan dan kesetiaan yang dicapai oleh konsumen.

Salah satu faktor penentu kesuksesan dalam menciptakan kesetiaan

merek para pelanggannya adalah kepuasan terhadap kualitas yang

diberikan. Dengan demikian kualitas produk yang baik akan menciptakan,

mempertahankan kepuasan serta menjadikan konsumen yang loyal.

Karakteristik konsumen yang loyal salah satunya adalah selalu melakukan

pembelian ulang secara terus-menerus.

Upaya penciptaan kepuasan dan kesetiaan konsumen harus selalu

diikuti dengan evaluasi terhadap tingkat kepuasan dan kesetiaan yang

dicapai oleh konsumen. Hal ini sangat diperlukan karena dengan

mengetahui tingkat kepuasan konsumen atau kesetiaan konsumennya, manajemen perusahaan akan dapat menentukan strategi pemasaran yang

akan digunakan pada masa yang akan datang dengan baik.

Di antara produsen mimuman dalam kemasan telah mengalami

persaingan. Kondisi ini dipicu banyaknya konsumen yang menginginkan

minuman sari buah dalam kemasan serta keberhasilan perusahaan –

perusahaan besar yang sejenis memberikan dampak yang cukup pada pasar

khususnya minuman sari buah dalam kemasan dan munculnya merek baru.

Selain fenomena di atas, berdasarkan data yang di peroleh dari

majalah marketing terlihat bahwa fenomena yang terjadi menunjukkan

(20)

khususnya merek ABC dari tahun 2007 sampai 2010 mengalami

penurunan. Hal ini dapat dibuktikan melalui data yang diperoleh dari

majalah marketing selama periode 2007 sampai dengan 2010. Yang dapat

dilihat dari tabel 1. 1 dibawah ini :

Data pada tabel 1.1 menunjukkan bahwa Top brand index

minuman sari buah dalam kemasan ABC mengalami penurunan dari tahun

2007 sekitar 20,80%, tahun 2008 sekitar 19,0%, tahun 2009 sekitar 13,7%,

tahun 2010 sekitar 11,0%. Data ini menunjukkan bahwa adanya penurunan

kesetian merek.

Menurut Band (1991) dikutip dari Musanto tahun 2004

menyebutkan kepuasan pelanggan merupakan suatu tingkatan dimana

kebutuhan, keinginan dan harapan dari pelanggan dapat terpenuhi yang

(21)

dari trisno musanto tahun 2004 loyalitas pelanggan merupakan dorongan

perilaku untuk melakukan pembelian secara berulang-ulang dan untuk

membangun kesetian pelanggan terhadap suatu produk / jasa yang

dihasilkan oleh badan usaha tersebut membutuhkan waktu lama melalui

proses pembelian yang berulang-ulang tersebut.

Produk yang berkualitas serta sesuai dengan keinginan konsumen

merupakan kunci utama dalam memenangkan persaingan, yang pada

akhirnya akan dapat memberikan nilai kepuasan yang lebih tinggi kepada

konsumen. Secara partial tingkat kepuasan konsumen juga berpengaruh

terhadap loyalitas konsumen dimana variabel yang paling besar

pengaruhnya terhadap loyalitas konsumen adalah kepuasan konsumen.

Berdasarkan fenomena dan pendapat diatas, maka Penulis akan

meneliti “Pengaruh Kepuasan Konsumen Terhadap kesetiaan Merek minuman sari buah dalam kemasan ABC di Surabaya selatan (studi kasus carrefour Jl. Jend A. Yani Surabaya) ”.

1.2. Perumusan Masalah

Dilihat dari apa yang telah diuraikan pada latar belakang, maka

(22)

Apakah kepuasan konsumen memiliki pengaruh terhadap kesetiaan

merek minuman sari buah dalam kemasan ABC di Surabaya Selatan (Studi

kasus Carrefour Jl. Jend. A. Yani Surabaya)

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dengan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :

Untuk mengetahui apakah kepuasan konsumen berpengaruh

terhadap kesetiaan merek minuman sari buah dalam kemasan ABC di

Surabaya Selatan (Studi kasus Carrefour Jl. Jend. A. Yani Surabaya).

1.4. Manfaat Penelitian

1) Hasil penelitian ini diharapkan sebagai informasi pada manajemen

perusahaan agar dapat meningkatkan kepuasan konsumen untuk

menggunakan produk dari perusahaan

2) Bagi UPN “VETERAN” jawa timur , penelitian ini dapat

digunakan untuk menambah bahan referensi perpustakaan bagi

mahasiswa yang akan melakukan penelitian dimasa yang akan

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang digunakan dalam penelitian ini adalah

penelitian yang dilakukan oleh:

A. Samuel dan Foedjiawati (Vol. 7,No, 1,2005)

1. Judul: “Pengaruh Kepuasan Konsumen Terhadap Kesetiaan Merek

(Studi Kasus Restoran The Prime Steak & Ribs Surabaya)”.

2. Perumusan masalah:

Apakah kepuasan konsumen mempunyai pengaruh yang signifikan

terhadap Kesetiaan merek?

3. Hasil penelitian:

Terdapat hubungan pengaruh positif yang signifikan antara

kepuasan konsumen dengan kesetiaan merek, hal ini menunjukkan

bahwa penelitian ini mendukung teori tentang kesetiaan merek

B. Marthin dan Hatane Samuel (Vol. 2,No, 2,2007)

1. Judul: “Analisis Tingkat Brand Loyalty Pada Shampoo

(24)

2. Perumusan masalah:

Apakah tingkatan brand loyalty mempunyai pengaruh terhadap

produk shampoo merek”HEAD & SHOULDERS” ?

3. Hasil penelitian:

Hasil penelitian mengindikasikan bahwa merek HEAD &

SHOULDERS memiliki brand equity yang kuat dibenak

pelanggan.

C. Agung ayu ariastuti dan made antara (Vol. 2,No, 4,2007)

1. Judul: “Faktor-faktor yang menentukan loyalitas pelanggan terhadap

merek teh botol sosro di kota denpasar”.

2. Perumusan masalah:

Apakah faktor-faktor loyalitas pelanggan berpengaruh terhadap

merek the botol sosro ?

3. Hasil penelitian:

Secara bersama-sama variabel faktor-faktor loyalitas pelanggan

mempengaruhi loyalitas merek the botol sosro di kota denpasar

D. Satrio hutomo (Vol. 5,No, 1,2005)

1. Judul: “Pengaruh kualitas produk dan tingkat kepuasan konsumen

terhadap loyalitas pelanggan pada produk makanan tela krezz cabang

bekasi”.

(25)

a. Apakah kualitas produk mempunyai pengaruh yang positif

terhadap loyalitas pelanggan?

b. Apakah kepuasan konsumen mempunyai pengaruh yang

positf terhadap loyalitas pelanggan?

c. Apakah kualitas produk, kepuasan konsumen secara bersama

mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap loyalitas

pelanggan?

3. Hasil penelitian:

a. Kualitas produk mempunyai pengaruh yang positif terhadap

loyalitas pelanggan.

b. Kepuasan konsumen mempunyai pengaruh yang positif

terhadap loyalitas pelanggan.

c. Kualitas produk dan kepuasan konsumen secara bersama

mempunyai pengaruh yang positif loyalitas pelanggan.

2.2. Landasan Teori

2.2.1 Pengertian Pemasaran

Menurut pendapat Stanton (1984:7) dalam buku prinsip – prinsip

pemasaran, menyatakan bahwa pemasaran adalah suatu system total dari

kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga,

(26)

memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli

potensial. "Kotler (1997:8), mendefinisikan pemasaran sebagai proses

sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok

mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan

menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai

dengan pihak lain".

Sedangkan menurut AMA (American Marketing Association)

yang dikutip oleh Alma (2004:3) pemasaran adalah proses perencanaan

dan pelaksanaan konsepsi, penentuan harga, promosi dan pendistribusian

barang jasa dan ide tersebut kepada pelanggan dan tujuan perusahaan.

Dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa

pemasaran merupakan suatu bentuk kegiatan yang mencakup unsur

pemasaran yaitu perencanaan, pelaksanaan konsepsi, penentuan harga,

promosi, dan pendistribusian barang jasa dan ide tersebut kepada

konsumen dan tujuan perusahaan.

2.2.2 Tujuan Pemasaran

Ada 4 tujuan pemasaran yaitu:

1. Memaksimalkan Konsumsi

Banyak eksekutif percaya bahwa jabatan pemasaran semestinya dapat

mendorong konsumsi maksimum, yang pada giliran akan menciptakan

produksi, kesempatan kerja, dan kemakmuran maksimum.

(27)

Pandangan lain menyatakan bahwa sistem pemasaran adalah untuk

memaksimalkan kepuasan konsumen bukan jumlah konsumsinya.

3. Memaksimalkan mutu kehidupan

Mutu kehidupan ini tidak hanya mencakukan kualitas, kuantitas,

ketersediaan dan harga barang, tetapi juga mutu lingkungan fisik dan

budaya

4. Memaksimalkan pilihan

Memaksimalkan ragam produk dan pilihan konsumen akan

memungkinkan konsumen mendapatkan barang-barang yang

benar-benar memuaskan selera konsumen.

2.2.3 Pengertian Manajemen Pemasaran

Untuk memilih dan memaksimalkan kegiatan pemasaran yang

dapat membantu dalam menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan

maka kegiatan pemasaran haruslah ada yang mengkoordinasi yang dikenal

dengan menajemen pemasaran.

Menurut pendapat Basu dan Hani (1982:4), Manajemen

Pemasaran adalah penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, dan

pengawasan program-progam yang bertujuan menimbulkan pertukaran

dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai tujuan

perusahaan. Kotler (1997:13) mendefinisikan manajemen pemasaran

sebagai proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga,

promosi, serta penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan

pertukaran yang memuaskan tujuan-tujuan individu dan organisasi. Hal

(28)

kebutuhan dan keinginan pelanggan yang bertujuan menghasilkan

kepuasan bagi pihak-pihak yang terlibat.

Titik berat manajemen pemasaran adalah memenuhi kebutuhan

dan keinginan pasar tersebut serta menentukan harga, mengadakan

komunikasi dan distribusi yang efektif untuk memberitahu, mendorong

serta melayani pasar. Definisi diatas mengakui bahwa manajemen

pemasaran adalah proses yang melibatkan analisa, perencanaan,

pelaksanaan, dan pengendalian yang mencakup barang, jasa dan gagasan,

yang tergantung pada pertukaran dan tujuan menghasilkan kepuasan bagi

pihak - pihak yang terlibat. Jadi manajemen pemasaran disimpulkan

sebagai suatu proses manajemen yang meliputi pengorganisasian,

perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan pemasaran yang

dilakukan oleh perusahaan.

2.2.4 Pengertian Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen sebagai bagian dari kegiatan manusia akan

selalu berubah sesuai dengan pengaruh lingkungan dimana konsumen

tersebut tinggal, serta pengaruh sosial. Untuk mengetahui secara pasti

perilaku konsumen seorang pemasar harus melakukan penelitian sebagai

langkah untuk mengetahui motivasi konsumen dalam melakukan

pembelian. Dengan mengetahui motivasi konsumen, produk yang

dihasilkan diharapkan dapat merangsang motivasi konsumen untuk

(29)

study unit pembelian (buying unit) dan proses petukaran yang melibatkan

perolehan konsumsi dan pembuatan barang, jasa pengalaman serta ide".

Sedangkan menurut AMA (American Marketing Association) yang dikutip

oleh Setiadi (2003) Perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara

afeksi dan kognisi perilaku dan lingkungannya dimana manusia

melakukan kegiatan pertukaran dalam hidup mereka.

Perilaku tidak hanya menyangkut kegiatan yang tampak jelas

atau mudah diamati, tetapi dalam pengembangannya sekarang kegiatan

yang jelas terlihat hanyalah merupakan suatu bagian dari proses

pengambilan keputusan. Pemahaman mengenai perilaku konsumen

bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi cukup sulit dan kompleks,

khususnya disebabkan oleh banyaknya variabel yang mempengaruhi dan

variabel-variabel tersebut cenderung saling berinteraksi. Meskipun

demikian, bila hal tersebut dapat dilakukan maka perusahaan yang

bersangkutan akan dapat meraih keuntungan yang jauh lebih besar

daripada pesaingnya, karena dengan perilaku konsumen perusahaan dapat

memberikan kepuasan secara lebih baik kepada konsumennya.

2.2.5 Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen

Menurut Kotler (1997:153) ada empat faktor yang

mempengaruhi perilaku konsumen yaitu budaya, sosial, kepribadian dan

kejiwaan.

(30)

Faktor budaya mempunyai pengaruh yang luas dan mendalam

terhadap perilaku yang mencakup budaya, sub budaya dan kelas sosial

pembeli sangatlah penting. Budaya adalah simbol dan fakta yang

kompleks, diciptakan oleh manusia dari generasi ke generasi sebagai

penentu dan pengatur perilaku manusia dalam bermasyarakat.

Perilaku konsumen sangat ditentukan oleh budaya yang tercermin

dalam cara hidup, kebiasaan, dan tradisi dalam permintaan produk.

Setiap perilaku atau tindakan konsumen ditata, dikendalikan oleh

berbagai system nilai dan norma budaya, untuk itu perusahaan dituntut

untuk mengerti akan implikasi dari kebudayaan dimana perusahaan itu

berada. Sub budaya adalah kebudayaan yang ada banyak ciri-ciri dan

sosialisasi khusus bagi para anggotanya. Kelas sosial adalah

pembagian masyarakat yang relatif homogen dan permanen yang

tersusun secara hirarkis dan memiliki anggota denagn nilai, minat dan

perilaku yang,serupa. Stratifikasi kelas sosial adalah berasal dari

penghasilan, pekerjaan dan dapat digunakan untuk

mensegmentasikan pasar dan meramalkan tanggapan konsumen

terhadap kegiatan pemasaran konsumen.

2. Faktor sosial

Sebagai tambahan atas faktor budaya perilaku seorang

konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti kelompok,

keluarga serta peran dan status. Kelompok acuan adalah kelompok yang

(31)

perilaku seseorang. Kelompok acuan dapat mempengaruhi seseorang

terutama dalam tiga hal yaitu : (1) menghadapkan seseorang pada

perilaku dan gaya hidup baru, (2) mempengaruhi perilaku dan konsep

diri seseorang, serta (3) menciptakan tekanan untuk mematuhi apa yang

mungkin mempengaruhi pilihan produk dan merek aktual seseorang.

Keluarga baik, berupa keluarga inti yaitu lingkup keluarga yang

meliputi orang tua anak yang hidup bersama maupn keluarga besar

yaitu keluarga inti di tambah anggota yang masih ada ikatan keluarga

mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap perilaku seseorang. Bagi

perusahaan yang terpenting adalah mengetahui siapa pengambil inisiatif

dan berwenang untuk memutuskan pembelian. Peran dan status

seseorang yang berpartisipasi diberbagai kelompok akan membawa

pada posisi tertentu. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan

dilakukan seseorang dan didalam peran terdapat status. Setiap orang

akan menjalankan peran tertentu yang akan mempengaruhi perilaku,

sehingga dimungkinkan adanya perilaku yang berbeda dalam setiap

peran.

3. Faktor pribadi

Faktor pribadi antara lain usia, pekerjaan, keadaan ekonomi,

gaya hidup dan kepribadian. Usia berhubungan erat dengan perilaku

dan selera seseorang. Bertambahnya selera seseorang biasanya diikuti

juga dengan berubahnya selera terhadap produk. Faktor pekerjaan juga

(32)

cenderung mempengaruhi pilihan barang dan jasa. Gaya hidup adalah

pola seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, minat dan opini

yang menggambarkan keseluruhan diri seseorang dalam berinteraksi

dengan lingkungan, sedangkan kepribadian adalah karakteristik

psikologi yang berbeda dari seseorang yang menyebabkan tanggapan

yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungan.

Dengan kepribadian seseorang akan mempunyai "konsep diri" atau citra

pribadi yang khas.

4. Faktor psikologis

Terdapat empat faktor psikologis yaitu motivasi, persepsi,

pengetahuan serta keyakinan dan pendirian. Motivasi adalah kebutuhan

yang cukup mendorong seseorang untuk bertindak, sedangkan persepsi

adalah proses bagaimana seorang individu memilih, mengorganisasi

dan menginterprestasikan masukan-masukan informas iuntuk

menciptakan gambaran yang berarti. Pengetahuan atau pembelajaran

diartikan sebagai perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari

pengalaman, sebagian besar perilaku merupakan hasil dari belajar

melalui kombinasi dari dorongan, rangsangan, petunjuk, tanggapan dan

pengakuan. Teori pembelajaran dapat digunakan sebagai dasar untuk

membuat dan memasarkan barang dan jasa.

Keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dianut seseorang

tentang suatu hal, sedangkan sikap diartikan sebagai evaluasi, perasaan,

(33)

tidak menguntungkan dan bertahan lama dari seseorang terhadap

beberapa obyek atau gagasan. Sikap akan mengarahkan seseorang

berperilaku secara konsisten terhadap suatu obyek tanpa harus

mengekspresikan atau bereaksi dengan cara yang sama atau cara-cara

baru. Sikap seseorang membentuk suatu pola yang konsisten dan untuk

mengubah satu sikap mungkin

Diperlukan penyesuaian yang besar dengan sikap-sikap yang

lain. Untuk itu perusahaan sebaiknya menyesuaikan produknya dengan

sikap yang sudah ada.

2.2.6 Tinjauan terhadap kepuasan konsumen

Kepuasan konsumen merupakan faktor yang dapat mempengaruhi

upaya menciptakan dan mempertahankan kepuasan konsumen terhadap

merek, jika suatu produk dapat memenuhi kebutuhan, kenginan dan

harapan konsumen maka secara tidak langsung dapat menimbulkan

kepuasan konsumen.

Menurut pendapat Engel (1995 : 210) kepuasan konsumen adalah

sebagai pasca konsumen bahwa suatu alternative yang dipilih setidaknya

memenuhi atau melebihi harapan atau secara singkatnya alternative

tersebut setidaknya bekerja sebaik yang diharapkan.

Menurut pendapat Kotler (1997 : 36) kepuasan konsumen adalah

(34)

kesannya terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan

harapan-harapannya.

Dari definisi di atas, kepuasan merupakan fungsi dari kesan

kinerja dan harapan. Jika kinerja produk yang dirasakan konsumen berada

melebihi harapannya, maka konsumen amat puas atau senang. Jadi

kepuasan konsumen merupakan suatu tingkatan dimana kebutuhan,

keinginan dan harapan dari konsumen akan dapat terpenuhi atau

terlampaui melalui suatu transaksi yang akan mengakibatkan terjadinya

pembelian atau kesetian yang terus berlanjut.

Dewasa ini kepuasan konsumen telah menjadi bagian integral

dalam misi dan tujuan sebagian besar organisasi. Tuntutan konsumen

yang semakin tinggi akibat kesdaran konsumen yang semakin tinggi pula,

menjadi konsep kepuasan konsumen dan menjadi topik yang banyak

dinikmati.

Penelitian tentang kepuasan konsumen harus dilihat dari sudut

pandang konsumen. Oleh sebab itu, terdapat atribut-atribut penting yang

membentuk kepuasan konsumen. Menurut Dutka (1994 : 41),

atribut-atribut pembentuk kepuasan konsumen terdiri dari :

1. Atributes related to the product, meliputi (a) Value to price

relationship, yang merupakan faktor sentral dalam menentukan

kepuasan konsumen, apabila nilai yang diperoleh konsumen

melebihi apa yang dibayar, maka suatu dasar penting dari

konsumen telah tercipta (b) product quality, merupakan penilaian

(35)

yang dapat diperoleh konsumen dalam menggunakan suatu produk

yang dihasilkan dalam suatu perusahaan dan kemudahan dapat

dijadikan dasar positioning yang membedakan perusahaan tersebut

dengan perusahaan lainnya. (d) product features, merupakan

ciri-ciri tertentu yang dimiliki suatu produk sehingga berbeda dengan

produk lain yang ditawarkan pesaing. (e) product design,

merupakan proses merancang gaya dan fungsi produk yang

menarik dan bermanfaat. (f) product reability and consistenct,

merupakan keakuratan dan kehandalan produk yang dihasilkan

oleh suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu dan

menunjukkan pengiriman produk pada suatu tingkat kinerja

khusus. (g) Range of product or service, merupakan macam dari

produk / jasa layanan yang ditawarkan oleh perusahaan.

2. Atributes related to service, meliputi (a) quarantee or warranty,

merupakan jaminan yang diberikan suatu perusahaan terhadap

produk yang dapat dikembalikan bila kinerja tersebut tidak

memuaskan. (b) delivery, merupakan kecepatan dan ketepatan dari

proses pengiriman produk dan jasa yang diberikan perusahaan

terhadap konsumennya. (c) complaint handling, merupakan

penanganan terhadap keluhan yang dilakukan konsumen terhadap

perusahaan. (d) resolution of product, merupakan kemampuan

perusahaan dengan serius dan memecahkan masalah yang dihadapi

oleh konsumen.

3. Attribute related to purchase, meliputi (a) courtesy, merupakan

(36)

karyawan dalam melayani konsumen. (b) communication,

merupakan proses penyampaian informasi yang dilakukan oleh

karyawan kepada konsumennya. (c) convenience acquisition,

merupakan kemudahan untuk mendapatkan pengetahuan tentang

produk dari perusahaan. (d) company repulation, merupakan

reputasi yang dimiliki perusahaan tersebut yang akan mengurangi

ketidakpastian dan resiko dalam keputusan pembelian . (e)

company competence, merupakan kemampuan suatu perusahaan

untuk mewujudkan permintaan yang diajukan oleh konsumen

dalam memberikan pelayanan.

Atribut-atribut dari kepuasan konsumen ini merupakan atribut

secara universal, yang harus didefinisikan, diklasifikasikan, dan

diinterpretasikan dalam penerapannya. Dalam penelitian kepuasan

konsumen tidak semua atribut ini digunakan, tetapi harus diketahui

spesifik dan cocok dengan badan usaha tersebut dan jenis usahanya.

2.2.7. Tinjauan terhadap kesetiaan merek

Keberhasilan suatu pemasaran tidak terlepas dari loyalitas

konsumen terhadap suatu merek. Untuk memperjelas apa yang dimaksud

merek akan diuraikan tentang pengertian merek.

Menurut Sutisna (2003 : 41) Loyalitas dapat dikelompokkan ke

dalam kedua kelompok yaitu loyalitas merek (brand loyality) dan loyalitas

(37)

Seorang konsumen yang sudah sangat sering melakukan pembelian

terhadap suatu merek produk tidak ada lagi merek lain yang

dipertimbangkan untuk dibeli selain produk yang sering dibelinya. Ketika

merek itu tidak tersedia di toko atau outlet yang ditujuinya, dia terus

berusaha mencari produk itu sampai ketempat jauh sekalipun. Bahkan

ketika merek barang itu tersedia, dan petugas penjualan mengatakan merek

produk yang dicarinya akan datang beberapa hari kemudian, dia bersedia

untuk menunggunya.

Jika ada konsumen dalam pembeliannya berperilaku seperti itu,

maka bisa dikatakan bahwa konsumen itu sangat loyal terhadap merek

pilihannya dan itulah yang disebut dengan loyalitas konsumen terhadap

merek. Jadi loyalitas konsumen terhadap merek di definisikan sebagai sifat

menyenangi terhadap suatu merek yang di representasikan dalam

pembelian yang konsisten terhadap merek itu sepanjang waktu (Sutrisna

2003 : 41).

Sutrisna (2003 : 41) menyatakan bahwa ada dua pendekatan yang

bisa dipakai untuk mempelajari loyalitas konsumen terhadap merek.

1. Pendekatan Instrumental Conditioning

Memandang bahwa pembelian yang konsisten sepanjang waktu

adalah menunjukkan loyalitas merek. Perilaku pengulangan pembelian

diasumsikan merefleksikan penguatan atau stimulus yang kuat. Jadi

pengukuran bahwa seseorang konsumen itu loyal atau tidak dilihat dari

(38)

Pengukuran loyalitas konsumen dengan pendekatan ini menekankan

pada perilaku masa lalu.

2. Pendekatan Teori Kognitif

Memandang bahwa perilaku pembelian tidak merefleksikan

loyalitas pembelian seperti halnya brand loyalty, store loyalty juga

ditunjukkan oleh perilaku konsisten, tetapi dalam stire loyalty, perilaku

konsumen adalah mengunjungi toko dimana di situ konsumen biasa

membeli merek produk yang diinginkan. Oleh karena itu yang loyal

terhadap merek akan loyal juga terhadap toko.

Sumarno (2003 : 41) Loyalitas merek atau Brand Loyalty

diartikan sebagai sikap positif seorang konsumen terhadap suatu

merek, konsumen memiliki keinginan kuat untuk membeli ulang

merek yang sama pada saat sekarang maupun masa datang. Keinginan

yang kuat tersebut dibuktikan dengan selalu membeli merek yang

sama, loyalitas merek sangat terkait dengan kepuasan konsumen.

Menurut mowen (1995 : 531) ”Brand loyalty is defined as the

degree to which a customer hold as positive attitude toward a brand,

has a commitment to it, and inted to continue purchasing ot in the

future”. Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa loyalitas merek

adalah “kondisi dimana konsumen mempunyai sikap positif terhadap

suatu merek, mempunyai komitmen pada merek tersebut, dan

(39)

Pendekatan perilaku menjelaskan bahwa kesetiaan merek

bukan merupakan keseluruhan dari fenomena yang ada. Di sini

perilaku dipandang sebagai suatu yang terjadi melalui serangkaian

kesatuan dari kesetiaan lengkap sampai ketidakacauan merek. Suatu

merek dapat dibeli karena kenyamanan, ketersediaan atau harga. Bila

salah satu dari faktor ini berubah, maka para konsumen dengan cepat

akan beralih ke merek yang lainnya. Dalam keadaan demikian

konsumen tidak dapat dikatakan setia atau loyal terhadap merek

tersebut, karena implicit ide kesediaan adalah bahwa konsumen

mempunyai lebih dari kejenuhan sepintas dengan merek. Pengukuran

kesediaan merek lainnya didasarkan atas jumlah pelanggan yang

berhenti menggunakan suatu produk.

Menurut Durianto et al. (2001), beberapa tingkatan yang

digunakan untuk mengukur kesetian merek antara lain :

1. Switcher (Konsumen yang suka berpindah-pindah)

Pelanggan yang berada pada tingkat switcher loyalty adalah

pelanggan yang berada pada tingkat paling dasar dari piramida

brand loyalty pada umumnya. Pelanggan dengan switcher

loyalty memiliki perilaku sering berpindah-pindah merek, sama

sekali tidak loyal atau tidak tertarik pada merek-merek yang

dikonsumsi. Ciri yang paling nampak dari jenis pelanggan ini

adalah membeli suatu produk karena harga yang murah atau

(40)

2. Habitual Buyer (konsumen yang membeli karena kebiasaan)

Habitual behavior merupakan aktivitas rutin konsumen dalam

membeli suatu merek produk, meliputi proses pengambilan

keputusan pembelian dan kesukaan terhadap merek produk

tersebut. Pelanggan yang berada dalam tingkatan habitual buyer

dapat dikategorikan sebagai pelanggan yang puas dengan merek

produk yang dikonsumsi atau setidaknya pelanggan tidak

mengalami ketidakpuasan dalam mengkonsumsi merek tersebut.

3. Satisfied buyer (Konsumen yang puas dengan pembelian yang

dilakukan) Pada tingkatan satisfied buyer, pelanggan suatu

merek masuk dalam kategori puas bila pelanggan

mengkonsumsi merek tersebut, meskipun demikian mungkin

saja pelanggan memindahkan pembelian ke merek lain dengan

menanggung switching cost (biaya peralihan) yang terkait

dengan waktu, uang, atau risiko kinerja yang melekat dengan

tindakan pelanggan beralih merek.

4. Liking of the brand (menyukai merek)

Pelanggan yang masuk dalam kategori liking of the brand

Merupakan pelanggan yang sungguh - sungguh menyukai merek

tersebut. Pada tingkatan ini dijumpai perasaan emosional yang

terkait pada merek. Rasa suka pelanggan bisa saja didasari oleh

asosiasi yang terkait dengan simbol, rangkaian pengalaman

(41)

maupun oleh kerabat atau pun disebabkan oleh perceived

quality yang tinggi. Meskipun demikian, sering kali rasa suka ini

merupakan suatu perasaan yang sulit diidentifikasi dan ditelusuri

dengan cermat untuk dikategorikan ke dalam sesuatu yang

spesifik.

5. Committed buyer (Konsumen yang komit terhadap merek

produk yang dibeli)

Commitment yaitu kepercayaan bahwa produk yang dikonsumsi

mampu melahirkan komunikasi dan interaksi di antara

pelanggan yang ada (Aaker, 1991, Herizon & Maylina, 2003).

Pada tahapan loyalitas committed buyer pelanggan merupakan

pelanggan setia (loyal). Pelanggan memiliki suatu kebanggaan

sebagai pengguna suatu merek dan bahkan merek tersebut

menjadi sangat penting bagi pelanggan dipandang dari segi

fungsi maupun sebagai suatu ekspresi mengenai siapa

sebenarnya diri pelanggan. Pada tingkatan ini, salah satu

aktualisasi loyalitas pembeli ditunjukkan oleh tindakan

merekomendasikan dan mempromosikan merek tersebut kepada

pihak lain.

2.2.8 Pengaruh Kepuasan Konsumen Terhadap Kesetiaan Merek

Kepuasan konsumen meliputi penentuan keseluruhan

(42)

kebutuhan pelanggan. Untuk itu sangatlah penting bagi perusahaan untuk

menciptakan kepuasan pelanggan, karena pelanggan yang puas akan

menceritakan kepuasannya kepada konsumen yang lain dan juga akan

melakukan pembelian ulang. Dengan demikian, akan menciptakan

kesetiaan konsumen terhadap suatu merek atau jasa dan juga akan

memberikan keuntungan bagi perusahaan tersebut.

Menurut Tjiptono (1997 : 24) menyatakan bahwa terciptanya

kepuasan pelanggan dapat memberikan beberapa manfaat diantaranya

terciptanya hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan pelanggan

dan memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang dan terciptanya

loyalitas pelanggan, serta terbentuknya rekomendasi dari mulut ke mulut

(word of mouth).

Menurut Sunarto (2003 : 261) kesetiaan merek dipengaruhi

secara langsung oleh kepuasan atau ketidakmampuan dengan merek yang

telah diakumulasikan dalam jangka waktu tertentu sebagaimana persepsi

kualitas produk.

Jadi kepuasan kopnsumen perlu dipelihara dan ditingkatkan

agar dapat menciptakan dan mempertahankan kesetiaan terhadap merek.

Bila konsumen memperoleh kepuasan dari pembeliannya akan suatu

produk maka hal tersebut akan menciptakan sikap positif terhadap merek

(43)

2.3 Kerangka Konseptual

Berhubungan dengan Produk

X1

Berhubungan dengan Penjualan

X2

Kepuasan konsumen

X

Kesetiaan Merek Y

(44)

2.4 Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah dan landasan teori dapat dirumuskan

hipotesis sebagai berikut :

Diduga bahwa ada hubungan pengaruh positif antara kepuasan

konsumen terhadap kesetiaan merek minuman sari buah dalam kemasan

(45)

BAB III

METODE PENELITIAN

3. 1. Definsi operasianal

Untuk mempermudah pemahaman, menganalisa permasalahan dan

menghindari masalah

persepsi penulis mendefinisikan variabel (atribut-atribut) yang

digunakan, sebagai berikut:

1. Kepuasan (X)

Merupakan kepuasan yang didapat dari penggunaan suatu produk

konsumen akan loyal terhadap suatu merek, karena itu konsumen mencoba

beberapa merek kemudian dievaluasi apakah merek tersebut melampaui

kriteria kepuasan. Menurut Dutka. (1994:4) dimensi-dimensi pembentuk

kepuasan konsumen yaitu:

a.

indikator berhubungan dengan produk (X1) meliputi :

1. Kesesuaian manfaat yang diterima dari produk minuman sari buah

ABC dengan harga yang harus dibayar (X1.1).

2. Mutu dari komponen yang membentuk produk sehingga mempunyai

nilai tambah yaitu kesesuaian kualitas produk dengan keinginan

konsumen (X1.2).

3. Minuman sari buah ABC memberikan manfaat bagi konsumen (X1.3).

4. Dalam membeli minuman sari buah ABC banyak pilihan rasa (X1.4).

5. Desain kemasan yang dapat menarik minat konsumen (X1.5)

(46)

1. Proses penyampaian pesan oleh perusahaan kepada konsumen (X2.1).

2. Kemudahan / keyamanan dalam memperoleh produk ditoko maupun

supermarket (X2.2).

3. Reputasi perusahaan di mata para konsumen (X2.3).

4. Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumen

(X2.4)

2. Kesetian merek (Y)

Merupakan sikap setia pada suatu produk. Bila dari pengalaman

konsumen tidak mendapatkan merek yang memuaskan maka tidak akan

berhenti untuk mencoba merek-merek lain. Menurut Durianto et al. (2001)

Indikator dari Kesetian merek antara lain yaitu :

a) Konsumen yang suka berpindah-pindah dari merek satu ke merek lain

(Y1).

b) Konsumen yang sudah biasa membeli minuman sari buah ABC (Y2).

c) Konsumen yang merasa puas setelah mengkonsumsi minuman sari

buah ABC (Y3).

d) Konsumen menyukai dan membeli minuman sari buah ABC (Y4).

e) Konsumen yang membeli minuman sari buah ABC meskipun ada

kenaikkan harga (Y5).

(47)

Skala pengukuran variabel yang digunakan adalah skala interval.

Dengan ukuran nilai 1-5. Nilai 1 menyatakan sangat tidak setuju dan nilai 5

menyatakan sangat setuju. Penggunaan skala interval dikarenakan skala

interval tidak hanya mengelompokkan individu menurut kategori tertentu

dan menentukan urutan kelompok, namun juga mengukur besaran

(mangitude) perbedaaan preferensi antar individu (sekaran, 2006 : 18).

Sedangkan teknik pengukuran skala yang digunakan dalam penelitian

ini untuk mengukur variabel adalah skala diferensial semantik (semantic

differential scale). Penggunaan skala diferensial semantik (semantic

differential scale) karena skala ini dipakai untuk menilai sikap responden

terhadap merek, iklan, objek, atau orang tertentu (sekaran, 2006 : 32).

Dengan skala 1-5 dengan kesimpulan 1 adalah sangat tidak baik sedangkan

5 adalah sangat baik.

3. 3. Teknik penetuan sampel

a. Populasi

Menurut Tjiptono (2001 : 79) Populasi adalah individu atau

kelompok yang mempunyai karakteristik tertentu. Yang menjadi populasi

dalam penelitian ini adalah konsumen yang membeli minuman sari buah

dalam kemasan ABC di wilayah surabaya khususnya surabaya selatan

(studi kasus Carrefour Jl. Jend A. Yani Surabaya).

(48)

Menurut Tjiptono (2001 : 80) Sampel adalah bagian dari populasi,

dalam penelitian ini sampel yang diambil berasal dari pengunjung

supermarket Carrefour Jl. Jend A. Yani Surabaya .Teknik penentuan

sampel menggunakan accidental sampling yaitu metode teknik non

probability yang memilih sampel dari orang yang paling mudah dijumpai.

Kriteria penelitian tersebut adalah sebagai berikut :

a. Umur ≥ 17 tahun

b. Pernah membeli minuman sari buah dalam kemasan ABC

Menurut ferdinand ( 2002:48 ) Syarat sampel sebagai berikut :

1. Ukuran sampel yang harus terpenuhi adalah 100-200 sampel untuk

teknik ( Maksimum Likehood Estimation ).

2. Tergantung pada jumlah parameter yang diestimasi, pedomannya

adalah 5-10 kali jumlah parameter yang diestimasi.

3. Karena terdapat 14 indikator maka jumlah sampel dalam penelitian

ini adalah ( 14 x 8 = 112 ) maka sampel yang di pakai dalam

penelitian ini adalah 112 responden.

3. 4. Teknik pengumpulan data

3. 4. 1 jenis data

(49)

Merupakan data yang diperoleh dengan cara menyebarkan daftar

pertanyaan kepada responden, yaitu menyebarkan kuesioner diwilayah

surabaya khususnya di surabaya selatan

b. Data sekunder

Data yang dipeoleh atau dikumpulkan dari sumber yang telah ada

misalnya catatan atau dokumentasi perusahaan, publikasi, analisis industri

oleh media, situs web, dan sebagainya.

3. 4. 2 pengumpulan data

Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Interview

Metode ini dilakukan dengan cara mengadakan wawancara

langsung kepada responden. Teknik ini dilakukan untuk menanggapi

responden yang kurang jelas dalam menjawab kuesioner dan

merupakan cara peneliti untuk mencari informasi atau bertanya

tentang hal yang ingin dikuak oleh peneliti

2. Kuesioner

Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner

kepada responden berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Menyebarkan kuesioner diwilayah surabaya khususnya di surabaya

(50)

b. Menjelaskan dan membimbing responden tentang cara penelitian

kuesioner.

c. Kuesioner yang telah diisi oleh responden dikumpulkan dan

disortir dengan kebutuhan pengolahan data.

3.5 Teknik Analisis

Teknik analisis data yang dipergunakan didalam penelitian ini

adalah teknik Structural Equation Modeling (SEM). SEM merupakan

sekumpulan teknik-teknik statistikal yang memungkinkan pengujian

sebuah rangkaian hubungan yang relatif "rumit" secara simultan.

(Ferdinand, 2002 : 6). Sebuah pemodelan SEM yang lengkap pada

dasarnya terdiri dari Measurement Model dan Structural Model.

Measurement Model atau model pengukuran ditujukan untuk

mengkonfirmasi sebuah dimensi atau faktor berdasarkan indikator

empirisnya. Structural model adalah model mengenai struktur hubungan

yang membentuk atau menjelaskan kausalitas antara faktor.

Menurut Ferdinand (2002:24) untuk membuat permodelan yang

lengkap terdapat beberapa langkah yaitu :

1. Pengembangan Model Berbasis Teori

Dalam pengembangan model teoritis, seorang peneliti harus melakukan

serangkaian eksplorasi ilmiah melalui telaah pustaka yang intens

(51)

2. Pengembangan diagram alur untuk menunjukkan hubungan kausalitas.

Model teoritis yang telah dibangun pada langkah pertama akan

digambarkan dalam sebuah path diagram (diagram alur). Path

diagram (diagram alur) akan mempermudah peneliti melihat

hubungan-hubungan kausalitas yang ingin diuji.

3. Konversi diagram alur kedalam serangkaian persamaan struktural clan

spesifikasi model pengukuran. Peneliti dapat mulai mengkonversi

spesifikasi model tersebut ke dalam rangkaian persamaan. Persamaan yang

akan dibangun terdiri dari :

a. Persamaan struktural (structural equations). Persamaan ini

diramuskan untuk menyatakan hubungan kausalitas antar berbagai

konstruk.

b. Persamaan spesifikasi model pengukuran (measurement model)

Peneliti menentukan variabel mana mengukur konstruk mana serta

menentukan serangkaian matriks yang menunjukkan korelasi yang

dihipotesakan antar konstruk atau variabel.

4. Memilih matriks input dan estimasi model

SEM hanya menggunakan matrik varians / konvarians atau matrik korelasi

sebagai data input untuk keseluruhan estimasi yang digunakan.

5. Menilai problem identifikasi

Problem identifikasi pada prinsipnya adalah problem mengenai

(52)

yang unik. Problem identifikasi dapat muncul melalui gejala berikut :

a. Standard error untuk satu atau beberapa koefisien adalah sangat

besar.

b. Program tidak mampu menghasilkan matrik informasi yang

seharusnya disajikan.

c. Muncul angka-angka yang aneh seperti adanya varians error yang

negative

d. Munculnya korelasi yang sangat tinggi antar koefisien estimasi yang

didapat.

6. Evaluasi Model

Pada langkah ini kesuksesan model dievaluasi melalui telaah terhadap

berbagai kriteria goodness of fit.

7. Interpretasi dan Modifikasi Model

Menginterpretasikan model dan memodifikasikan model bagi

(53)

3.5.1 Confirmatory Factor Analysis

Model pengukuran variabel bebas dan terikat dalam penelitian ini

menggunakan Confirmatory Factor Analysis. Pada Confirmatory Factor

Analysis atau (CFA) peneliti menggunakan variabel-variabel yang

diteliti untuk mendefinisikan sebuah faktor yang tidak dapat diukur

secara langsung. Analisis atas indikator-indikator yang digunakan itu

memberi makna atas label yang diberikan pada variabel laten atau faktor

laten yang dikonfirmasi itu.

3.6 Asumsi Model

a. Uji Normalitas dan Linearitas

Sebaran data harus dianalisis untuk melihat apakah asumsi

normalitas dipenuhi sehingga data dapat diolah lebih lanjut untuk

permodelan SEM ini. Normalitas dapat diuji dengan melihat gambar

histogram data dapat diuji dengan metode-metode statistik. Uji

normalitas ini perlu dilakukan baik untuk normalitas terhadap data tunggal

maupun normalitas multivariant dimana beberapa variabel digunakan

sekaligus dalam analisis akhir uji linearitas dapat dilakukan dengan

mengamati scatterplots dari data yaitu dengan memilih pasangan data dan

dilihat pola penyebarannya untuk menduga ada tidaknya linearitas.

(54)

b. Outliers

Outliers adalah observasi yang muncul dengan nilai-nilai ekstrem

baik secara invariant maupun multivariant yaitu yang muncul karena

kombinasi kharakteristik unik yang dimilikinya dan terlihat sangat jauh

berbeda dari observasi-observasi lainnya. Outliers pada dasarnya dapat

muncul dalam 4 kategori :

1. Outliers muncul karena kesalahan prosedur.

2. Outliers muncul karena keadaan yang benar-benar khusus yang

memungkinkan profil aktanya lain daripada yang lain.

3. Outliers muncul karena adanya sesuatu alasan tetapi peneliti tidak

dapat mengetahui apa penyebabnya.

4. Outliers dapat muncul dalam mengenali yang ada, tetapi bila

dikombinasi dengan variabel lainnya. Kombinasinya menjadi tidak

lazim atau sangat ekstrim atau yang biasa disebut multivariate outlier.

Perlakuan terhadap outliers dilakukan bergantung pada bagaimana

outlier itu muncul. Dalam analisis ini outliers dapat dievaluasi dengan

dua cara yaitu analisis terhadap univariate outliers dan analisis terhadap

multivariate outliers.

1. Univariate Outlier

Deteksi terhadap adanya outlier univariate dapat dilakukan dengan

menentukan nilai ambang batas yang akan dikategorikan sebagai

outliers dengan cara mengkonversi nilai data penelitian ke dalam

(55)

nol dengan standar deviasi sebesar satu. Oleh karena itu kasus atau

observasi yang mempunyai Z-score > 30 akan dikategorikan sebagai

outliers.

2. Multivariate Outlier

Evaluasi terhadap multivariate outliers perlu dilakukan sebab

walaupun data yang dianalisis menunjukkan tidak ada outliers pada

tingkat univariate, tetapi observasi itu dapat menjadi outliers bila

sudah saling dikombinasikan. Jarak Mahalanobis (the Mahalanobis

distance) untuk tiap observasi dapat dihitung dan akan menunjukkan

jarak sebuah observasi dari rata.-rata semua variabel dalam sebuah ruang

multidimensional (Hair dkk, 1995 : Nomusis, 1994 : Tabuerick &

Fidell 1996) Uji terhadap outliers multivariate dilakukan dengan

menggunakan kriteria jarak Mahalanobis pada tingkat P< 0,001. jarak

Mahalarlohis itu dievaluasi dengan menggunakan X2 pada derajat

bebas sebesar jumlah variabel yang digunakan dalam penelitian itu.

(Ferdinand, 2002 : 102).

c. Multicolinearity dan Singularity

Multikolinearitas dapat dideteksi dan determinan matriks

kovarians. Nilai determinan matriks kovarians yang sangat kecil

(ectremely small) mernberi indikasi adanya problem multikolinearitas

(56)

d. Uji Validitas dan Reliabilitas

Validitas berhubungan dengan apakah suatu variabel mengukur

apa yang seharusnya diukur. Doll, Xia dan Torkzadeh (1994) seperti

yang dikutip dari Wijanto (2008:65) mendefinisikan cara untuk

menguji validitas adalah dengan melihat standard factor loadings

(muatan factor standar) variabel-variabel teramati (indikator) terhadap

variabel laten (faktor) merupakan estimasi validitas variabel-variabel

teramati tersebut. Sedangkan reliabilitas adalah ukuran mengenai

konsistensi internal dari indikator-indikator sebuah konstruk yang

menunjukkan derajat sampai dimana masing-masing indikator itu

mengindikasikan sebuah konstruk/faktor laten yang umum (Ferdinand,

2002 : 62). Reliabilitas diuji dengan construct reliability dan variance

extracted. construct reliability dan variance extracted dapat dihitung

dengan rumus sebagai berikut :

Contruct Reability =

Variance extracted =

Hair et.al (1998) menyatakan bahwa sebuah konstruk mempunyai

reliabilitas yang baik adalah jika :

- Nilai Construct Reliability (CR) nya ≥ 0,70

(57)

3.7 Pengujian Model dengan OneStep Approach

Salah satu keunggulan dan SEM dibandingkan metode regresi

akan metode multivariate yang lain adalah penerapan prosedur SEM secara

sekaligus terhadap sebuah model hybrid / full SEM (kombinasi antara model

pengukuran dan model struktural). Penerapan prosedur SENT ini dikenal

sebagai One Step Approach (Wijanto, 2008 : 68).

3.7.1 Pengujian Model dengan Two -Step Approach

Permodelan SEM juga dapat dilakukan dengan pendekatan dua

langkah (two step approach) yaitu pertama mengembangkan model

pengukuran dan kedua adalah model struktural. Hal ini karena

measurement model dilakukan untuk menghasilkan penilaian mengenai

validitas konvergen (convergent validity) dan validitas diskriminan

(discriminate validity) sedangkan model struktural menyajikan penilaian

mengenai validitas prediktif (predictive validity) (Ferdinand, 2002 : 24).

3.8 Evaluasi Model

Dalam analisis SEM tidak ada alat uji statistik tunggal untuk

mengukur atau menguji hipotesis mengenai model (Hair et al, 1995 ;

Joreskog & Sorbom, 1989; Long, 1983; Tabachnick & Fidell, 1996).

Umumnya terdapat berbagai jenis pit index yang digunakan untuk

mengukur derajat kesesuaian antara model yang dihipotesakan dengan

(58)

value yang digunakan dalam menguji apakah sebuah model dapat

diterima atau ditolak. Indeks tersebut antara lain :

1. X2 - Chi Square Statistic

Chi square bersifat sangat sensitif terhadap besarnya sampel yang

digunakan. Model yang diuji dipandang baik atau memuaskan bila nilai chi

squarenya rendah. Atau dengan kata lain peneliti berusaha memperoleh

nilai X2 yang rendah yang menghasilkan significance level lebih besar

atau sama dengan 0,05 (P > 0,05). Semakin kecil nilai X2 semakin baik

model itu (karena dalarn uji beda chi square X2 = 0 berarti benar-benar

tidak ada perbedaan Ho diterima) dart diterima berdasarkan

probabilitas dengan cut off value sebesar p > 0,05 atau p > 0,10.

2. RMSEA (The Roof Mean Square Error of Approximatior)

RMSEA adalah sebuah indeks yang dapat digunakan untuk

mengkompensasi chi square statistic dalam sampel yang besar (Baum

gartner & Hamburg, 1996). Nilai RMSEA yang lebih kecil atau sama

dengan 0,08 menimpakan indeks untuk dapat diterimanya model

yang menunjukkan sebuah close fit dari model itu berdasarkan degrees

of freedom (Brown & Cudeck, 1993)

3. GFI (Goodness of Fit index)

Indeks kesesuaian (fit index) ini akan menghitung proporsi

tertimbang dari varians dalam matriks kovarians sampel yang

dijelaskan oleh matriks kovarians populasi yang terestimasikan

(59)

O (poorft) sampai (perfect fit) dan nilai GFI > 0,90 merupakan good fit

(kecocokan yang baik), sedangkan 0,80 < GFI < 0,90 sering disebut

sebagai marginal fit. (Wijanto, 2008 : 53).

4. AGFI (Adjusted Goodness of Fit Indeks)

Tingkat penerimaan yang direkomendasikan adalah bila AGFI

mempunyai nilai sama dengan atau lebih besar dari 0,90. GFI maupun

AGFI adalah kriteria yang memperhitungkan proporsi tertimbang dari

varians dalam sebuah matriks & kovarians sampel. Nilai sebesar 0,95

dapat diinterpretasikan sebagai tingkatan yang baik good overall model

fit (balk) sedangkan besaran nilai antara 0,90 - 0,95 menunjukkan

tingkatan cukup adequate (Hulland et al. 1996).

5. CMIN/DF

The minimum sample discrepancy function (CMIN) dibagi dalam

degree of freedomnya akan menghasilkan indeks CMIN/DF. Dalam hal

lain adalah statistik chi square X2 dibagi DF rya sehingga disebut X2

relatif. Nilai X2 relatif kurang dari 20 atau bahkan kadang kurang dari 30

adalah indikasi dari acceptable fit antara model dan data (Arbuckle,

1997).

6. TLI (Tucker Lewis Index)

TLI (Tucker Lewis Index) adalah sebuah alternatif incremental fit

index yang membandingkan sebuah model yang diuji terhadap sebuah base

line model (Bavengartner & Hamburg, 199b). Nilai yang

(60)

penerimaan > 0,95 (Ilair dkk, 1995) dan nilai yang sangat mendekati /

menunjukkan a very good fit (Arbuckle, 1997).

7. CFI (Comparative Fit Index)

Besaran indeks ini adalah pada rentang nilai sebesar 0-1, dimana

semakin mendekati 1, mengindikasikan tingkat fit yang paling tinggi a

very good fit (Arbuckle, 1997). Nilai yang direkomendasikan adalah

CFI > 0,95. Keunggulan dari indeks ini adalah bahwa indeks ini

besarannya tidak dipengaruhi oleh ukuran sampel karena itu sangat

baik untuk mengukur tingkat penerimaan sebuah model (Hulland et al

(61)

Tabel 3.1. Tabel Goodness of fit index

Goodness of fit index

Keterangan Cut – Off Value

X2 chi square Mengujikan apakah

covariance populasi yang diestimasi sama dengan covariance sample (apakah sesuai dengan data)

Diharapkan kecil dan sampai dengan 5 paling baik diantara I dan 2

Probability Uji Signifikan terhadap

perbedaan matriks

covariance data dan matriks covariance yang diestimasi

Minimum 0,1 atau 0,2 ≥ 0,05

RMSEA Mengkompensasi kelemahan

chi-square pada sample besar

≤ 0,08

GFI Menghitung proporsi

tertimbang varians dalam matriks sample yang dijelasakan oleh matriks covarians (populasi yang disteimasi) (analog dengan R2 dalam regresi berganda)

≥ 0,09

AGFI GFI yang disesuaikan

dengan DF

≥ 0,09

CMIND/DF Kesesuaian antara data dan

model

≤ 2,00

TLI Pembandingan antara model

(62)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Diskripsi Obyek Penelitian dan Pembahasan

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya pengaruh

kepuasan pelanggan terhadap loyalitas merek minuman sari buah kemasan

ABC yang nantinya diharapkan dapat digunakan oleh perusahaan sebagai

bahan pertimbangan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan sehingga

loyalitas merek pelanggan terhadap produk minuman sari buah kemasan

ABC dapat meningkat dimasa yang akan datang.

Penelitian yang ditentukan lokasinya dimana lokasi itu sendiri adalah

tempat dan kedudukan penelitian ini dilakukan. Lokasi penelitian adalah

Surabaya Selatan yang dilakukan dengan menyebarkan kuisioner kepada

responden berdasarkan karakteristik yang telah ditentukan.

4.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT. HEINZ ABC

Pada tahun 1975, ABC Central Food didirikan oleh keluarga

Choo.Langkah awal bisnis perusahaan ini dengan skala produksi

kecil-kecilan di pabriknya di Daan Mogot, Jakarta Barat. Tiga tahun kemudian,

perusahaan ini mulai memproduksi sirup dan setahun berikutnya (1979)

membuat sambal dan dilanjutkan tahun 1980 memproduksi saus. Mulai

1980-an, pasar yang dibidik perusahaan ini makin meluas, dari semula

Gambar

Tabel 4.17 Hasil Uji Kausalitas   ....................................................................
Gambar 4.2 Model Pengukuran dan Struktural Customer Satisfaction dan
Tabel 3.1. Tabel Goodness of fit index
Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dasar pemikiran yang mendukung temuan tersebut bahwa para manajer akan lebih termotivasi untuk meningkatkan kinerja manajerial mereka jika mereka menerima pengukuran

Menyatakan bahwa ”Skripsi” yang saya buat untuk memenuhi persyaratan kelulusan pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim

Penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan untuk menguji pengaruh total quality management terhadap kinerja manajerial dengan sistem pengukuran kinerja dan sistem

Informasi yang diperoleh atas partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/i merupakan faktor kunci untuk mengetahui pengaruh total quality management , sistem pengukuran kinerja, sistem reward

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian adalah variabel Total Quality Management (TQM), Sistem Pengukuran Kinerja, dan Sistem Penghargaan secara simultan atau

Pengaruh Total Quality Management terhadap kinerja manajerial dengan Sistim Pengendalian Manajemen dan Sistim Pengukuran Kinerja sebagai variabel moderating pada PT..

Pengaruh TQM (Total Quality Management) Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Sistem Penghargaan (Reward) Sebagai Variabel Moderating benar-benar merupakan karya saya.. Saya

Terbatasnya lingkup penelitian membuat hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan, Penelitian ini menggunakan kuesioner dalam mengumpulkan data, metode