PENGARUH PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH, AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI TERHADAP
KINERJA PEMERINTAH DAERAH DENGAN PENGAWASAN SEBAGAI VARIABEL
MODERATING PADA PROVINSI SUMATERA UTARA
T E S I S
Oleh
NOPRIANSYAH PUTRA 147017010/AKT
MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2016
PENGARUH PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH, AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI TERHADAP
KINERJA PEMERINTAH DAERAH DENGAN PENGAWASAN SEBAGAI VARIABEL
MODERATING PADA PROVINSI SUMATERA UTARA
T E S I S
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ilmu Akuntansi pada Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
NOPRIANSYAH PUTRA 147017010/AKT
MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2016
Judul Tesis : PENGARUH PENGELOLAAN KEUANGAN
DAERAH,AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI TERHADAP KINERJA
PEMERINTAH DAERAH DENGAN PENGAWASAN SEBAGAI VARIABEL MODERATING PADA PROVINSI SUMATERA UTARA
Nama Mahasiswa : Nopriansyah Putra Nomor Mahasiswa : 147017010
Program Studi : Akuntansi
Menyetujui Komisi Pembimbing
Prof. Erlina, SE, M.Si, Ph.D, Ak, CA Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak, CA Ketua Anggota
Ketua Program Studi Dekan
Prof.Dr.Ade Fatma Lubis, SE,MAFIS,MBA,CPA (Prof. Dr. Ramli, SE, MS)
Tanggal Lulus : 27 Juli 2016
Telah Diuji pada Tanggal : 27 Juli 2016
PANITIA PENGUJI TESIS :
Ketua : Prof. Erlina, SE, M.Si. Ph.D,Ak
Anggota : 1. Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak, CA
2. Prof.Dr. Ade Fatma Lubis, SE, MAFIS, MBA, CPA 3. Idhar Yahya, MBA, Ak, CA
4. Drs. Rasdianto, Msi, Ak
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul :
“PENGARUH PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH, AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI TERHADAP KINERJA PEMERINTAH DAERAH DENGAN PENGAWASAN SEBAGAI VARIABEL MODERATING PADA PROVINSI SUMATERA UTARA”.
Adalah benar hasil penelitian saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh siapapun sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara benar dan jelas. Apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan berlaku yang ditetapkan oleh Universitas Sumatera Utara.
Medan, Juli 2016 Yang membuat pernyataan
NOPRIANSYAH PUTRA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris apakah ada pengaruh pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja pemerintah daerah dan untuk mendapatkan bukti empiris apakah pengawasan dapat memoderasi terhadap pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja pemerintah daerah. Jenis peneliitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif/hubungan. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 34 Satuan Kerja Perangkat Daerah di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan yang menjadi sampel penelitian berjumlah 68 orang yang meliputi Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran, dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan. Sumber data penelitian ini adalah data primer dengan menggunakan instrument penelitian kuesioner. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah penelitian survey. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda untuk analisis statistik dan model regresi telah diuji terlebih dahulu dalam uji asumsi klasik serta untuk pengujian variabel moderating menggunakan model pengujian moderating dengan uji residual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian secara parsial pengelolaan keuangan daerah berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah, akuntabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah dan transparansi berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah.
Pengujian secara simutan menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah. Pengujian moderating dengan uji residual menunjukkan pengawasan tidak terbukti sebagai variabel moderating yang dapat memperkuat ataupun memperlemah pengaruh pengelolaan keuangaan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja pemerintah daerah.
Kata Kunci : Pengelolaan Keuangan Daerah, Akuntabilitas, Transparansi, Pengawasan dan Kinerja Pemerintah Daerah.
THE INFLUENCE OF REGIONAL FINANCIAL MANAGEMENT, ACCOUNTABILITY, AND TRANSPARENCY ON REGIONAL
GOVERNMENT’S PERFORMANCE WITH SUPERVISION AS MODERATING VARIABLE IN NORTH
SUMATERA PROVINCE
ABSTRACT
The objective of the study was to get empirical evidence whether there was the influence of regional financial management, accountability, and transparency on regional government’s performance and whether supervision could moderate the influence of regional financial management, accountability, and transparency on regional government’s performance. The research used correlation method.
The population was 34 SKPDs (Regional Work Units) of North Sumatera Province, and the samples were 68 respondents that consisted of budget users/budge user authorities and activity technical executors. The data were primary data by using questionnaires and conducting a survey. The gathered data were analyzed by using multiple linear regression tests for statistical analysis and residual test for testing moderating variable. The result of the study showed that, partially, regional financial management and accountability had positive and significant influence on regional government’s performance, while transparency had negative but significant influence on regional government’s performance.
Simultaneously regional financial management, accountability, and transparency had significant influence on regional government’s performance. The result of residual test for testing moderating variable showed that supervision was not proved to be moderating variable which could strengthen and weaken the influence of regional financial management, accountability, and transparency on regional government’s performance.
Keywords: Regional Financial Management, Accountability, Transparency, Supervision, Regional Government’s Performance
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmad, Taufik dan Hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “ Pengaruh Pengelolaan Keuangan Daerah, Akuntabilitas dan Transparansi Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah dengan Pengawasan Sebagai Variabel Moderating Pada Provinsi Sumatera Utara”.
Tesis ini merupakan tugas akhir untuk menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Binis Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA , CPA, CA selaku Ketua Program Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan bertindak sebagai Dosen Penguji yang telah banyak memberikan saran dan kritik untuk perbaikan sehingga selesainya tesis ini.
4. Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak, CA selaku Sekretaris Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan bertindak sebagai Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan dan saran dalam proses penelitian dan penulisan untuk menyusun tesis ini.
5. Ibu Prof. Erlina, SE, M.Si, Ph.D, Ak, CA selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan dan saran dalam proses penelitian dan penulisan untuk menyusun tesis ini.
6. Bapak Idhar Yahya, MBA, Ak, CA selaku Dosen Penguji yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan dan saran dalam proses penelitian dan penulisan untuk menyusun tesis ini.
7. Bapak Drs. Rasdianto M.Si, Ak, CA selaku Dosen Penguji dan yang telah banyak memberikan saran dan kritik untuk perbaikan sehingga selesainya tesis ini.
8. Bapak dan ibu dosen serta seluruh Pegawai Administrasi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara untuk ilmu dan segala bentuk bantuan yang diberikan.
9. Bapak Gubernur Provinsi Sumatera Utara beserta Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan seluruh Pegawai di Lingkungan Provinsi Sumatera Utara yang telah banyak membantu dan memberikan kemudahan dalam proses penelitian.
10. Kepada Istriku Dina Sofiani, dan kedua orangtuaku Bapak Sofian dan Ibu Nuraisyah yang telah banyak memberikan bantuan serta motivasi dalam bentuk moril sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan ini.
11. Bapak Cahyo Pramono dan seluruh Pegawai PT. Dhirga Surya Sumatera Utara yang telah banyak memberikan bantuan serta motivasi dalam bentuk moril dan materil sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan ini.
12. Temanku Dito Aditia yang telah banyak memberikan bantuan serta motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan ini.
13. Teman – temanku seperjuangan tahun 2015 Magister Akuntansi khususnya Akuntansi Pemerintahan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah banyak membantu dalam perkuliahan.
Akhirnya penulis menghaturkan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Istriku Tercinta Dina Sofiani, Anak-anakku Nazla Alysa dan Naifa Amira, serta adik-adikku dan serta seluruh keluarga atas doa dan pengorbanan yang tidak ternilai harganya dalam memberikan dukungan baik moril dan materil dalam keadaan suka maupun duka, dan juga kepada semua pihak, yang telah membantu dalam penyelesaian tesis ini.
Semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Medan, Juli 2016 Penulis,
(NOPRIANSYAH PUTRA)
RIWAYAT HIDUP
1. Nama : NOPRIANSYAH PUTRA
2. Tempat/Tanggal Lahir : Pematang Tengah, 18 Nopember 1981 3. Alamat : Jl. TB. Simatupang Gg. Waqaf Perumahan
Pondok Indah A12 Medan 4. Nomor Telepon : 081370222177
5. Agama : Islam
6. Jenis Kelamin : Laki – laki
7. Status : Menikah
8. Pekerjaan : Pegawai BUMD PT. Dhirga Surya Sumatera Utara 9. Pendidikan
a. Lulus SD Negeri 056021 Desa Pematang Tengah, Tanjung Pura Kab.
Langkat 1994 bersetifikat
b. Lulus Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Tanjung Pura Kab. Langkat Tahun 1997 bersetifikat
c. Lulus Madrasah Aliyah Negeri 1 (MAN-1) Tanjung Pura Kab. Langkat Tahun 2000 bersetifikat
d. Lulus (S1) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Medan Tahun 2004 bersetifikat.
10. Riwayat Pekerjaan
a. 2004 – 2006 : Junior Auditor Kantor Akuntan Publik Pieter, Uways & Rekan cabang Medan
b. 2006 – 2010 : Asistan Manager Acconting Hotel Garuda Plaza Medan
c. 2010 – 2013 : Kepala Bagian Keuangan PT. Gayotama Leopropita Medan
d. 2013 – 2014 : Auditor Interrnal PT. Humbahas Bumi Energi, PT. Phakpak Bumi Energi dan PT. Yotra Medan e. 2014 – 2015 : Manager Keuangan Perusahaan Daerah Perhotelan
Sumatera Utara Medan
f. 2015 - sekarang : Manager Keuangan PT. Dhirga Surya Sumatera Utara.
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
1.5 Originalitas ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1 Landasan Teori ... 8
2.1.1. Kinerja ... 8
2.1.2. Pengelolaan Keuangan Daerah ... 11
2.1.3. Akuntabilitas... 13
2.1.4. Transparansi ... 16
2.1.5. Pengawasan ... 21
2.2 Review Penelitian Terdahulu ... 24
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ... 26
3.1 Kerangka Konsep ... 26
3.2 Hipotesis Penelitian ... 28
BAB IV METODE PENELITIAN ... 30
4.1 Jenis Penelitian ... 30
4.2 Lokasi Penelitian dan Jadwal Penelitian ... 30
4.3 Populasi dan Sampel ... 31
4.4 Metode Pengumpulan Data ... 31
4.5 Variabel Penelitian ... 32
4.5.1 Klasifikasi Variabel ... 32
4.5.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 32
4.6 Uji Kualitas Data ... 37
4.6.1 Uji Validitas ... 37
4.6.2 Uji Reliabilitas ... 38
4.7 Metode Analisis Data ... 38
4.7.1 Pengujian Asumsi Klasik ... 38
4.7.1.1 Uji Normalitas ... 39
4.7.1.2 Uji Multikolinearitas ... 40
4.7.1.3 Uji Heteroskedastisitas ... 40
4.7.2 Pengujian Hipotesis ... 41
4.7.2.1 Analisis Regresi Berganda ... 41
4.7.2.2 Model Pengujian Moderating ... 44
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 46
5.1. Deskriptif Data ... 46
5.1.1. Karakteristik Responden ... 46
5.1.2. Statistik Deskriptif ... 47
5.1.3. Uji Response Bias ... 49
5.2. Uji Kualitas Data ... 49
5.2.1. Uji Validitas ... 50
5.2.2. Uji Reliabilitas ... 52
5.3. Pengujian Asumsi Klasik ... 53
5.3.1. Uji Normalitas ... 53
5.3.2. Uji Multikolinearitas ... 55
5.3.3. Uji Heteroskedastisitas ... 56
5.4. Pengujian Hipotesis ... 58
5.4.1. Pengujian Hipotesis I ... 58
5.4.1.1. Uji t (Parsial)... 59
5.4.1.2. Uji F (Simultan) ... 60
5.4.1.3. Koefisien Determinasi (R2)... 61
5.4.2. Pengujian Hipotesis II ... 63
5.4.2.1. Pengujian Moderating – Uji Residual ... 63
5.5. Pembahasan ... 65
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 68
6.1. Kesimpulan... 68
6.2. Keterbatasan Penelitian ... 68
6.3. Saran ... 69 DAFTAR PUSTAKA ...
DAFTAR TABEL
No Judul Halaman
1.1. Perbedaan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian Sekarang ... 7
4.1 Jadwal Penelitian ... 31
5.1. Demografi Responden ... 47
5.2. Statistik Deskriptif... 48
5.3. Hasil Uji Validitas Variabel Kinerja Pemerintah Daerah (Y) ... 50
5.4. Hasil Uji Validitas Variabel Pengelolaan Keuangan Daeah (X1) . 51 5.5. Hasil Uji Validitas Variabel Akuntabilitas (X2) ... 51
5.6. Hasil Uji Validitas Variabel Transparansi (X3) ... 52
5.7. Hasil Uji Validitas Variabel Pengawasan (Z) ... 52
5.8. Uji Realibilitas... 53
5.9. One Sample Klomogrov – Smirnov Test ... 55
5.10. Uji Multikolinearitas ... 56
5.11. Uji Glejser ... 58
5.12. Uji t (Parsial) ... 59
5.13. Uji F (Simultan) ... 61
5.14. Test Of Goodness Of Fit (R Square) ... 62
5.15. Tipe Hubungan Antar Variabel ... 62
5.16. Uji Residual ... 64
5.17. Uji Residual ... 64
DAFTAR GAMBAR
No Judul Halaman 3.1 Kerangka Konsep ... 26 5.1 Histogram Uji Normalitas ... 54 5.2 Uji Heteroskedastisitas ... 57
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Lamp
1. Review Penelitian Terdahulu ... 1
2. Daftar Populasi Target ... 2
3. Definisi Operasional & pengukuran Variabel ... 3
4. Kuesioner Penelitian ... 4
5. Daftar Pengembalian Kuesioner ... 5
6. Daftar Sampel ... 6
7. Tabulasi Data Penelitian ... 7
8. Rekapitulasi Tabulasi Data Masing – Masing Variabel ... 8
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris apakah ada pengaruh pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja pemerintah daerah dan untuk mendapatkan bukti empiris apakah pengawasan dapat memoderasi terhadap pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja pemerintah daerah. Jenis peneliitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif/hubungan. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 34 Satuan Kerja Perangkat Daerah di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan yang menjadi sampel penelitian berjumlah 68 orang yang meliputi Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran, dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan. Sumber data penelitian ini adalah data primer dengan menggunakan instrument penelitian kuesioner. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah penelitian survey. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda untuk analisis statistik dan model regresi telah diuji terlebih dahulu dalam uji asumsi klasik serta untuk pengujian variabel moderating menggunakan model pengujian moderating dengan uji residual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian secara parsial pengelolaan keuangan daerah berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah, akuntabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah dan transparansi berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah.
Pengujian secara simutan menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah. Pengujian moderating dengan uji residual menunjukkan pengawasan tidak terbukti sebagai variabel moderating yang dapat memperkuat ataupun memperlemah pengaruh pengelolaan keuangaan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja pemerintah daerah.
Kata Kunci : Pengelolaan Keuangan Daerah, Akuntabilitas, Transparansi, Pengawasan dan Kinerja Pemerintah Daerah.
THE INFLUENCE OF REGIONAL FINANCIAL MANAGEMENT, ACCOUNTABILITY, AND TRANSPARENCY ON REGIONAL
GOVERNMENT’S PERFORMANCE WITH SUPERVISION AS MODERATING VARIABLE IN NORTH
SUMATERA PROVINCE
ABSTRACT
The objective of the study was to get empirical evidence whether there was the influence of regional financial management, accountability, and transparency on regional government’s performance and whether supervision could moderate the influence of regional financial management, accountability, and transparency on regional government’s performance. The research used correlation method.
The population was 34 SKPDs (Regional Work Units) of North Sumatera Province, and the samples were 68 respondents that consisted of budget users/budge user authorities and activity technical executors. The data were primary data by using questionnaires and conducting a survey. The gathered data were analyzed by using multiple linear regression tests for statistical analysis and residual test for testing moderating variable. The result of the study showed that, partially, regional financial management and accountability had positive and significant influence on regional government’s performance, while transparency had negative but significant influence on regional government’s performance.
Simultaneously regional financial management, accountability, and transparency had significant influence on regional government’s performance. The result of residual test for testing moderating variable showed that supervision was not proved to be moderating variable which could strengthen and weaken the influence of regional financial management, accountability, and transparency on regional government’s performance.
Keywords: Regional Financial Management, Accountability, Transparency, Supervision, Regional Government’s Performance
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dalam era otonomi daerah ini, masyarakat semakin menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan lebih dapat menyampaikan aspirasi yang salah satunya perbaikan terhadap pengelolaan keuangan daerah pada instansi – instansi pemerintah. Pengelolaan keuangan daerah merupakan salah satu bagian yang mengalami perubahan mendasar dengan ditetapkannya Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah dan Undang – Undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kedua Undang – Undang ini telah memberikan kewenangan yang luas kepada pemerintah daerah dalam mengatur sumber dana, menentukan arah, tujuan, dan target pengguna anggaran.
Dalam situasi tertentu akan menjadi salah satu kendala teknis bagi eksekutif dalam pengelolaan keuangan daerah. Newkirk (1986 : 23) dalam Syahrida (2009) menegaskan bahwa dari sekian banyak problem yang ada pada pemerintah daerah salah satunya adalah tentang akuntansi. Pernyataan ini menandakan bahwa pengelola keuangan daerah pada masing – masing satuan kerja perlu dilakukan secara cermat guna dapat menyelesaikan problem akuntansi dan dapat melakukan penyajian informasi keuangan secara memadai. Mardiasmo (2004: 35) menegaskan bahwa sistem pertanggungjawaban keuangan suatu institusi dapat berjalan dengan baik, bila terdapat mekanisme pengelolaan
keuangan yang baik pula. Ini berarti pengelolaan keuangan daerah yang tercermin dalam APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) memiliki posisi strategis dalam mewujudkan manajemen pemerintahan yang akuntabel.
Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang dijabarkan oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 merupakan pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Terkait dengan hal tersebut maka pemerintah daerah perlu mempersiapkan instrument yang tepat untuk melakukan pengelolaan keuangan daerah secara profesional, transparan, akuntabel, serta pengawasannya.
Isu tentang kinerja pemerintah daerah dewasa ini menjadi sorotan publik karena belum menampakkan hasil yang baik yang dirasakan oleh rakyat. Rakyat menuntut pemerintah mempunyai kinerja yang baik dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai perwujudan konsep otonomi daerah. (Mahsun (2006:4) mengatakan bahwa kinerja itu sendiri adalah kemampuan kerja yang ditunjukkan dengan hasil kerja. Pemerintah dikatakan mempunyai kinerja baik apabila pemerintah tersebut mampu mengelola pemerintahan sehingga dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya secara keseluruhan. Tuntutan akan kinerja yang baik ini terjadi hampir di semua pemerintahan seiring dengan konsep otonomi daerah dan penetapan peraturan perundang-undangan terkait pengelolaan pemerintahan termasuk juga di Provinsi Sumatera Utara.
Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu pemerintahan yang menjadi sorotan publik seiring dengan proses pembangunan yang dilakukan. Tahun 2014 ini Provinsi Sumatera Utara mendapat opini Wajar
Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Laporan Keuangan (BPK) atas pertanggungjawaban pengelolaan keuangan berupa Laporan Keuangan Pemerintahan. Opini BPK ini merupakan salah satu ukuran kinerja dalam bidang pengelolaan keuangan, sehingga dapat dikatakan kinerja keuangan pemerintah Provinsi Sumatera Utara sudah baik.
Wiranto (2i012:1) mengatakan bahwa Good Governance dapat dipahami sebagai implementasi otoritas politik, ekonomi, dan administratif dalam proses manajemen sebagai urusan publik pada berbagai level dalam suatu negara. Good Governance memiliki beberapa indikator seperti, transparan, akuntabel dan sejajar serta mampu mempromosikan penegakan hukum.
Kinerja merupakan pencapaian atas apa yang direncanakan, baik oleh pribadi maupun organisasi. Apabila pencapaian sesuai dengan yang direncanakan, maka kinerja yang dilakukan terlaksana dengan baik. Apabila pencapaian melebihi dari apa yang direncanakan dapat dikatakan kinerjanya sangat bagus.
Apabila pencapaian tidak sesuai dengan apa yang direncanakan atau kurang dari apa yang direncanakan, maka kinerjanya tidak baik. Pengukuran kinerja instansi pemerintah terdiri dari kinerja keuangan dan kinerja non keuangan, kinerja keuangan adalah suatu ukuran kinerja yang menggunakan indikator keuangan, sedangkan kinerja non keuangan dapat diukur dari fasilitas - fasilitas yang diberikan kepada masyarakat yaitu : fasilitas pendidikan, kesehatan, dan sarana lainnya.
Pemahaman mengenai konsep kinerja organisasi publik dapat dilakukan dengan 2 pendekatan, yaitu melihat kinerja organisasi publik dari perspektif
birokrasi itu sendiri, dan melihat kinerja organisasi publik dari perspektif kelompok sasaran atau pengguna jasa organisasi publik. Khusus mengenai organisasi publik berkaitan erat dengan produktifitas, kualitas layanan, responsivitas, responsibilitas, akuntabilitas, serta persamaan pelayanan (Mardiasmo, 2006). Penerapan berbagai aturan perundang-undangan yang ada terkait dengan penerapan konsep akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan diharapkan dapat mewujudkan pengelolaan keuangan daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat. Implementasi akuntabilitas dan tranparansi dalam pengelolaan keuangan daerah ini diharapkan mampu meningkatkan kinerja pemerintah daerah.
Berdasarkan fenomena tersebut maka peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul “Pengaruh Pengelolaan Keuangan Daerah, Akuntabilitas Dan Transparansi Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Dengan Pengawasan Sebagai Variabel Moderating Pada Provinsi Sumatera Utara”.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut :
a. Apakah pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi, berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah secara parsial dan simultan?
b. Apakah pengawasan memoderasi pengaruh pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja pemerintah daerah?
1.3.Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah :
a. Untuk mendapatkan bukti empiris apakah ada pengaruh pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja pemerintah daerah.
b. Untuk mendapatkan bukti empiris apakah pengawasan dapat memoderasi terhadap pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja pemerintah daerah.
1.4.Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dan manfaat yang berarti yaitu :
a. Bagi ilmu pengetahuan diharapkan dapat memberikan referensi dalam bidang ilmu akuntansi khususnya akuntansi sektor publik mengenai pengelolaan keuangan daerah;
b. Bagi peneliti dapat menambah pengetahuan dalam bidang pengelolaan keuangan milik daerah;
c. Bagi pemerintah daerah dalam hal ini pemerintah Provinsi Sumatera Utara diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran di dalam pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi.
1.5.Originalitas
Berbagai penelitian mengenai aspek yang berhubungan dengan pengelolaan keuangan daerah telah sering dilakukan oleh para peneliti sebelumnya antara lain Ratih (2012) melakukan penelitian tentang pengaruh pemahaman sistem akuntansi keuangan daerah, penatausahaan keuangan daerah dan pengelolaan barang milik daerah terhadap kinerja SKPD pada pemerintahan provinsi Kepulauan Riau. Adapun perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah sebagai berikut :
a. Variabel Penelitian
Ratih (2012) mengamati 3 variabel independen, yaitu Pemahaman Sistem Akuntansi Keunagan Daerah, Penatausahaan Keuangan Daerah, dan Pengelolaan Barang Milik Daerah serta 1 variabel dependen yaitu Kinerja SKPD. Sedangkan penelitian ini mengamati 3 variabel independen yaitu Pengelolaan Keuangan Daerah, Akuntabilitas dan Transparansi, serta 1 variabel dependen yaitu Kinerja Pemerintah Daerah, serta 1 variabel moderating yaitu Pengawasan.
b. Waktu Penelitian
Ratih (2012) memiliki tahun amatan 2012, sedangkan penelitian ini tahun amatannya adalah 2016.
c. Tempat Penelitian
Ratih (2012) melakukan penelitian di Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, sedangkan penelitian ini dilakukan di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
d. Judul Penelitian
Ratih (2012) dengan judul Pengaruh Pemahaman Sistem Akuntansi Keuangan Daerah, Penatausahaan Keuangan Daerah dan Pengelolaan Barang Milik Daerah Terhadap Kinerja SKPD pada Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau. Sedangkan penelitian ini dengan judul Pengaruh Pengelolaan Keuangan Daerah, Akuntabilitas dan Transparansi Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Dengan Pengawasan Sebagai Variabel Moderating Pada Provinsi Sumatera Utara.
Tabel 1.1 Perbedaan Penelitian tedahulu dengan penelitian sekarang
Perbedaan Penelitian Terdahulu Penelitian Sekarang Variabel Dependen Kinerja SKPD Kinerja Pemerintah
Daerah Variabel Independen - Pemahaman Sistem
Akuntansi Keuangan Daerah
- Penatausahaan Keuangan Daerah
- Pengelolaan Barang Milik Daerah
- Pengelolaan Keuangan Daerah
- Akuntabilitas - Transparansi
Variabel Moderating Tidak Ada Pengawasan
Lokasi Penelitian Kepulauan Riau Provinsi Sumatera Utara Judul Penelitian Pengaruh Pemahaman
Sistem Akuntansi Keuangan Daerah, Penatausahaan Keuangan Daerah dan Pengelolaan Barang Milik Daerah Terhadap Kinerja SKPD pada Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau.
Pengaruh Pengelolaan Keuangan Daerah, Akuntabilitas dan Transparansi Terhadap Kinerja Pemerintah
Daerah Dengan Pengawasan Sebagai Variabel Moderating Pada Provinsi Sumatera Utara.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Landasan Teori
2.1.1. Kinerja
2.1.1.1. Konsep Kinerja
Menurut Mahsun (2006:4) kinerja adalah kemmapuan kerja yang ditunjukkan dengan hasil kerja. Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/problem/kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam perumusan skema strategis (strategic planning) suatu organisasi (Bastian, 2010:274). Dalam PP No. 58 Tahun 2005 Pasal 1 ayat 35 menyatakan kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur.
Pemahaman mengenai konsep kinerja organisasi publik dapat dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu :
1. Melihat kinerja organisasi publik dari perspektif birokrasi itu sendiri.
2. Melihat kinerja organisasi publik dari perspektif kelompok sasaran atau pengguna jasa organisasi publik.
Kedua perspektif tersebut saling berinteraksi di antara keduanya, karena pemahaman mengenai konsep kinerja organisasi publik sangat terkait erat dengan lingkungan tempat organisasi publik hidup dan berkembang. Khusus mengenai
organisasi publik berkaitan erat dengan produktifitas, kualitas layanan, responsivitas, responsibilitas, akuntabilitas, serta persamaan pelayanan. Konsep yang sering dipergunakan untuk melihat kinerja organisasi publik daerah sering dikaitkan dengan penggunaan anggaran. Konsep ini sering dikenal dengan istilah performance in term of the monetary calculus of efficiency (Mardiasmo, 2006:5) 2.1.1.2. Penilaian dan Pengukuran Kinerja
Menurut Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah berdasarkan Permenpan No. 25 Tahun 2012, pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan/kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi instansi pemerintah. Pengukuran dimaksud merupakan hasil dari suatu penilaian (assessment) yang sistematik dan didasarkan pada kelompok indikator kinerja kegiatan yang berupa indikator – indikator masukan, keluaran, hasil, manfaat, dan dampak.
Dessler (2009:132) mendefinisikan penilaian kinerja sebagai evaluasi kinerja karyawan saat ini/atau dimasa lalu relatif terhadap standar prestasinya.
Penilaian kinerja adalah cara mengukur kontribusi individu (karyawan) kepada organisasi tempat mereka bekerja. Model penilaian kinerja yang dicontohkan oleh Dessler (2009:135) meliputi indikator sebagai berikut :
1. Kualitas Kerja adalah akuransi, ketelitian, dan bisa diterima atas pekerjaan yang dilakukan.
2. Produktifitas adalah kuantitas dan efisiensi kerja yang dihasilkan dalam periode waktu tertentu.
3. Pengetahuan pekerjaan adalah keterampilan dan informasi praktis/teknis yang digunakan pada pekerjaan.
4. Bisa diandalkan adalah sejauh mana seorang karyawan bisa diandalkan atas penyelesaian dan tindak lanjut tugas.
5. Kehadiran adalah sejauh mana karyawan tepat waktu, mengamati periode istirahat/makan yang ditentukan dan catatan kehadiran secara keseluruhan.
6. Kemandirian adalah sejauh mana pekerjaan yang dilakukan dengan atau tanpa pengawasan.
Mahsun (2006:2) mengatakan penggunaan indikator kinerja sangat penting untuk mengetahui apakah suatu aktivitas atau program telah dilakukan secara efisien dan efektif. Indikator untuk tiap – tiap unit organisasi berbeda-beda tergantung pada tipe pelayanan yang dihasilkan. Penentuan indikator kinerja perlu mempertimbangkan komponen berikut :
1. Biaya pelayanan (cost of service).
2. Penggunaan (utilization).
3. Kualitas dan standar pelayanan (quality and standards).
4. Cakupan pelayananan (coverage).
5. Kepuasan (satisfaction).
2.1.1.3. Kinerja Pemerintah Daerah
Kinerja Instansi Pemerintah adalah “ gambaran mengenai tingkat pencapaian sasaran ataupun tujuan instansi pemerintah sebagai penjabaran visi, misi dan strategi instansi pemerintah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan
dan kegagalan pelaksanaan kegiatan – kegiatan sesuai dengan program dan kebijakan yang ditetapkan” (MenPAN:2007).
Banyak pendapat para ahli terkait dengan kinerja pemerintah daerah, baik dari sisi definisi, pengukuran, indikator, dan evaluasi kinerja. Setelah suatu sistem pengelolaan keuangan terbentuk, perlu disiapkan suatu alat untuk mengukur kinerja dan mengendalikan pemerintahan agar tidak terjadi KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), tidak adanya kepastian hukum dan stabilitas politik, dan ketidakjelasan arah dan kebijakan pembangunan. Pengukuran kinerja memiliki kaitan erat dengan akuntabilitas. Untuk memantapkan mekanisme akuntabilitas, diperlukan manajemen kinerja yang di dalam terdapat indikator kinerja dan target kinerja. Pelaporan kinerja, dan mekanisme reward and punishment. Indikator pengukuran kinerja yang baik mempunyai karakteristik relevant, unambiguous, cost-effective, dan simple, serta berfungsi sebagai sinyal yang menunjukkan bahwa terdapat masalah yang memerlukan tindakan manajemen dan investigasi lebih lanjut (Sumarsono, 2010:84).
2.1.2. Pengelolaan Keuangan Daerah
Pengelolaan keuangan daerah sama seperti halnya dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah baik tingkat provinsi, kota/kabupaten pun juga menyusun perencanaan dan pengelolaan anggaran yang akan dilaksanakan dalam satu tahun kedepan. Peraturan Pemerintah Dalam Negeri (Permendagri) 13 Tahun 2006 disebutkan bahwa semua penerimaan daerah dan pengeluaran daerah harus dicatat dan dikelola dalam APBD. Penerimaan dan pengeluaran daerah tersebut adalah dalam rangka pelaksanaan tugas – tugas desentralisasi. Sedangkan
penerimaan dan pengeluaran yang berkaitan dengan pelaksanaan dekonsentrasi atau tugas pembantuan tidak dicatat dalam APBD.
APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam satu tahun anggaran. APBD adalah rencana pelaksanaan semua pendapatan daerah dan semua belanja daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dalam tahun anggaran tertentu. Pemungutan semua penerimaan daerah bertujuan untuk memenuhi target yang ditetapkan dalam APBD. Demikian pula semua pengeluaran daerah dan ikatan yang membebani daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dilakukan sesuai jumlah dan sasaran yang ditetapkan dalam APBD.
Karena APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah, maka APBD menjadi dasar pula bagi kegiatan pengendalian, pemeriksaan dan pengawasan keuangan daerah.
Tahun anggaran APBD sama dengan tahun anggaran APBN (Anggaran Pendaparan dan Belanja Negara yaitu mulai 1 januari dan berakhir tanggal 31 Desember tahun yang bersangkutan. Sehingga pengelolaan, pengendalian, dan pengawasan keuangan daerah dapat dilaksanakan berdasarkan kerangka waktu tersebut. APBD disusun dengan pendekatan kinerja yaitu suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan. Jumlah pendapatan yang dianggarkan dalam APBD merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat tercapai untuk setiap sumber pendapatan. Pendapatan dapat direalisasikan melebihi jumlah anggaran yang telah ditetapkan.
Berkaitan dengan belanja, jumlah belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi untuk setiap jenis belanja. Jadi, realisasi belanja tidak boleh melebihi jumlah anggaran belanja yang telah ditetapkan. Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup. Setiap pejabat dilarang melakukan tindakan yang berakibat pengeluaran atas beban APBD apabila tidak tersedia atau tidak cukup tersedia anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut.
2.1.3. Akuntabilitas
2.1.3.1. Penilaian dan Pengukuran Akuntabilitas
Akbar (2012) mengatakan bahwa akuntabilitas (accountability) secara harfiah dapat diartikan sebagai pertanggungjawaban, namun penerjemahan secara sederhana ini dapat mengaburkan arti kata accountability itu sendiri bila dikaitkan dengan pengertian akuntansi dan manajemen. Lebih lanjut dikatakan bahwa konsep akuntabilitas tersebut senada dengan apa yang dikemukakan oleh stewart tentag jenjang atau tangga akuntabilitas yang terdiri dari 5 (lima) jenis tangga akuntabilitas yakni :
1. accountability for probity and legality.
2. process accountability 3. performance accountability 4. programme accountability 5. policy accountability
Akuntabilitas dapat diartikan sebagai bentuk kewajiban mempertanggungjawabkan yang telah ditetapkan sebelumnya, melalui suatu media pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik (Stanbury, 2003
dalam Ismiarti, 2013:30). Pada dasarnya, akuntabilitas adalah pemberian informasi dan pengungkapan (disclosure) atas aktivitas dan kinerja finansial kepada pihak – pihak yang berkepentingan (Schiavo-Campo and Tomasi, 1999 dalam Mardiasmo, 2006:4). Pemerintah, baik pusat maupun daerah, harus dapat menjadi subjek pemberi informasi dalam rangka pemenuhan hak-hak publik yaitu hak untuk tahu, hak untuk diberi informasi, dan hak untuk didengar aspirasinya.
Annisaningrum (2010:1) mengatakan akuntabilitas adalah mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik. Akuntabilitas merupakan kewajiban menyampaikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab atau menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk minta keterangan akan pertanggungjawaban. Kriteria akuntabilitas keuangan adalah sebagai berikut : 1. Pertanggungjawaban dana publik.
2. Penyajian tepat waktu
3. Adanya pemeriksaan (audit)/respon pemerintah.
Prinsip akuntabilitas publik adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa besar tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan ukuran nilai-nilai atau norma-norma eksternal yang dimiliki oleh para stakeholders yang berkepentingan dengan pelayanan tersebut (Krina, 2003 dalam Rahmanurrasjid, 2008:85-86).
2.1.3.2. Indikator Akuntabilitas
Dari konsep-konsep akuntabilitas tersebut di atas, dapat diklasifikasikan beberapa indikator akuntabilitas yaitu :
1. Pada tahap proses pembuatan sebuah keputusan, meliputi : pembuatan sebuah keputusan harus dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap warga yang membutuhkan. Pembuatan keputusan sudah memenuhi standar etika dan nilai – nilai yang berlaku, adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil, dan sudah sesuai dengan visi dan misi organisasi, serta standar yang berlaku, adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi, konsistensi maupun kelayakan dari target operasional yang telah ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut.
2. Pada tahap sosialisasi kebijakan, meliputi : penyebarluasan informasi mengenai suatu keputusan, melalui media massa, media nirmassa, maupun media komunikasi personal, akurasi dan kelengkapan informasi yang berhubungan dengan cara – cara mencapai sasaran suatu program, akses publik pada informasi atas suatu keputusan setelah keputusan dibuat dan mekanisme pengaduan masyarakat, dan ketersediaan sistem informasi manajemen dan monitoring hasil yang telah dicapai oleh pemerintah.
2.1.3.3. Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah
Akuntabilitas publik dan keterbukaan merupakan dua sisi koin yang tidak terpisahkan sebagai bagian dari prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Implikasinya, kini keduanya menjadi bahasan yang marak dan interchangable, penerapannya pada pola perencanaan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah yang participative sebagai suatu
konsekuensi logis (Akbar, 2012:2). Konsep akuntabilitas di Indonesia memang bukan merupakan hal yang baru, hampir seluruh instansi menjalankan fungsi administratif kepemerintahan. Fenomena ini merupakan imbas dari tuntutan masyarakat yang mulai digemborkan kembali pada awal era reformasi pada tahun 1998. Tuntutan masyarakat ini muncul karena pada masa orde baru konsep akuntabilitas tidak mampu diterapkan secara konsisten di setiap lini kepemerintahan yang pada akhirnya menjadi salah satu penyebab lemahnya birokrasi dan menjadi pemicu munculnya berbagai penyimpangan – penyimpangan dalam pengelolaan keuangan dan administrasi negara di Indonesia.
2.1.4. Transparansi
2.1.4.1. Konsep Transparansi
Coryanata (2007) mengatakan tranparansi dibangun diatas dasar arus informasi yang bebas, seluruh proses pemerintahan, lembaga – lembaga dan informasi perlu diakses oleh pihak – pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau. Anggaran yang disusun oleh pihak eksekutif dikatakan transparansi jika memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
1. Terdapat pengumuman kebijakan anggaran 2. Tersedia dokumen anggaran dan mudah diakses
3. Tersedia laporan pertanggungjawaban yang tepat waktu 4. Terakomodasinya suara/usulan rakyat,
5. Terdapat sistem pemberian informasi kepada publik.
Annisaningrum (2010:2), transparansi adalah memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan
bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang – undangan. Penyelenggaraan pemerintahan yang transparan akan memiliki kriteria yaitu : adanya pertanggungjawaban terbuka, adanya aksesibilitas terhadap laporan keuangan, adanya publikasi laporan keuangan, hak untuk tahu hasil audit dan ketersediaan informasi kinerja.
Dalam hal pelaksanaan transparansi pemerintah, media massa mempunyai peranan yang sangat penting, baik sebagai sebuah kesempatan untuk berkomunikasi pada publik maupun menjelaskan berbagai informasi yang relevan, juga sebagai penonton atas berbagai aksi pemerintah dan prilaku menyimpang dari aparat birokrasi. Untuk melaksanakan itu semua, media membutuhkan kebebasan pers sehingga dengan adanya kebebasan pers maka pihak media akan terbebas dari intervensi pemerintah maupun pengaruh kepentingan bisnis (Wiranto, 2012). Dengan adanya keterbukaan ini, maka konsekuensi yang akan dihadapi adalah kontrol yang berlebihan dari masyarakat, untuk itu harus ada pembatasan dari keterbukaan itu sendiri, dimana pemerintah harus pandai memilah mana informasi yang perlu dipublikasikan dan mana yang tidak perlu sehingga ada kriteria yang jelas dari aparat publik mengenai jenis informasi apa saja yang boleh diberikan dan kepada siapa saja informasi itu diberikan. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga supaya tidak semua informasi menjadi konsumsi publik. Ada hal – hal yang menyebabkan informasi tersebut tidak boleh diketahui oleh publik.
2.1.4.2. Prinsip – Prinsip Transparansi
Transparansi merupakan salah satu prinsip Good Governance. Pasaribu (2011) mengatakan transparansi dibangun atas dasar kebebasan memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Artinya, informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik secara langsung dapat diperoleh oleh mereka yang membutuhkan. Transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintah, yakni informasi tentag kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaanya, serta hasil – hasil yang dicapai.
Prinsip transparansi menurut Werimon, dkk (2007:8) meliputi 2 aspek, yaitu : komunikasi publik oleh pemerintah, dan hak masyarakat terhadap akses informasi. Pemerintah diharapkan membangun komunikasi yang luas dengan masyarakat berkaitan dengan berbagai hal dalam kontek pembangunan yang berkaitan dengan masyarakat. Masyarakat mempunyai hak untuk mengetahui berbagai hal yang dilakukan oleh pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan. Werimon (2007:8) menyebutkan bahwa, kerangka konseptual dalam membangun transparansi organisasi sektor publik dibutuhkan empat komponen yang terdiri dari :
1. Adanya sistem pelaporan keuangan, 2. Adanya sistem pengukuran kinerja, 3. Dilakukannya auditing sektor publik,
4. Berfungsinya saluran akuntabilitas publik (channel of accountability).
Lebih lanjut dikatakan anggaran yang disusun oleh pihak eksekutif dikatakan tranparansi jika memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
1. Terdapat pengumuman kebijakan anggaran 2. Tersedia dokumen anggaran dan mudah diakses
3. Tersedia laporan pertanggungjawaban yang tepat waktu 4. Terakomodasinya suara/usulan rakyat
5. Terdapat sistem pemberian informasi kepada publik.
Asumsinya semakin transparan kebijakan publik, yang dalam hal ini APBN maka pengawasan yang dilakukan oleh Dewan akan semakin meningkat karena masyarakat juga terlibat dalam mengawasi kebijkan publik tersebut.
Transparansi penyelenggaraan pemerintah daerah dalam hubungannnya dengan pemerintah daerah perlu kiranya perhatian terhadap beberapa hal berikut : 1. Publikasi dan sosialisasi kebijakan – kebijakan pemerintah daerah dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah,
2. Publikasi dan sosialisasi regulasi yang dikeluarkan pemerintah daerah tentang berbagai perizinan dan prosedurnya,
3. Publikasi dan sosialisasi tentang prosedur dan tata kerja dari pemerintah daerah,
4. Transparansi dalam penawaran dan penetapan tender atau kontrak proyek- proyek pemerintah daerah kepada pihak ketiga,
5. Kesempatan masyarakat untuk mengakses informasi yang jujur, benar dan tidak diskriminatif dari pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah (Rahmanurrasjid, 2008:86).
2.1.4.3. Indikator Transparansi
Menurut Krina (2003) dalam Rahmanurrasjid (2008:87-88) prinsip transparansi diatas dapat diukur melalui sejumlah indikator seperti :
1. Mekanisme yang menjamin sistem keterbukaan dan standarisasi dari semua proses – proses pelayanan publik,
2. Mekanisme yang memfasilitasi pertanyaan – pertanyaan publik tentang berbagai kebijakan dan pelayanan publik, maupun proses-proses didalam sektor publik,
3. Mekanisme yang memfasilitasi pelaporan maupun penyebaran informasi maupun penyimpangan tindakan aparat publik didalam kegiatan melayani.
2.1.4.4. Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah
Dalam ranah keuangan publik, UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menuntut adanya transparansi dan akuntabilitas dalam keuangan publik. Laporan keuangan memang merupakan salah satu hasil dari transparansi dan akuntabilitas keuangan publik, dan ini berarti laporan keuangan yang disusun pun harus memenuhi syarat akuntabilitas dan transparansi.
Mardiasmo (2004:30) mengatakan tranparansi berarti keterbukaan (openness) pemerintah dalam memberikan informasi yang terkait dengan aktivitas pengelolaan sumber daya publik kepada pihak-pihak yang membutuhkan informasi. Pemerintah berkewajiban memberikan informasi keuangan dan informasi lainnya yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan oleh pihak – pihak yang berkepentingan.
Azas keterbukaan (transparansi) dalam penyelenggaran pemerintahan daerah adalah azas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaran pemerintahan daerah denga tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara. Penerapan azas transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah memberikan kesempatan kepada
masyarakat untuk mengetahui berbagai informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah secara benar, jujur dan tidak diskriminatif.
Transparansi pada akhirnya akan menciptakan horizontal accountability antara pemerintah daerah dengan masyarakat sehingga tercipta pemerintahan daerah yang bersih, efektif, efisien, akuntabel dan responsif terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat. Manajemen kinerja yang baik adalah merupakan titik awal dari transparansi, untuk mencapai hal tersebut pemerintah harus menangani dengan baik kinerjanya dengan memperhatikan 2 aspek transparansi, yaitu : komunikasi publik oleh pemerintah, dan hak masyarakat terhadap akses informasi.
Transfaransi harus seimbang, juga menyangkut kebutuhan akan kerahasiaan lembaga maupun informasi – informasi yang mempengaruhi hak dan privasi individu.
2.1.5. Pengawasan
Pengawasan merupakan suatu rangkaian kegiatan pemantauan, pemeriksaan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan poilitik. Pengawasan dilakukan untuk menjamin semua kebijakan program dan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Pengawasan keungan daerah, dalam hal ini adalah pengawasan terhadap anggaran keuangan daerah/APBD. Menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah pasal 42 menjelaskan bahwa “ DPRD mempunyai tugas dan wewenang melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan perda dan peraturan perundang-undangan lainnya, peraturan kepala daerah, APBD, kebijakan pemerintah dalam melaksanakan program pembangunan
daerah dan kerjasama internasional didaerah”. Berdasarkan dari Undang-undang tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pengawasan keuangan daerah dilakukan oleh DPRD yang berfokus kepada pengawasan terhadap pelaksanaan APBD.
Pengawasan terhadap pelaksanaan APBD wujudnya adalah dengan melihat, mendengar, dan mencermati pelaksanaan APBD yang dilakukan oleh SKPD, baik secara langsung maupun berdasarkan informasi yang diberikan oleh konstituen, tanpa masuk ke ranah pengawasan yang bersifat teknis. Apabila ada dugaan penyimpangan, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Memberitahukan kepada Kepala Daerah untuk ditindaklanjuti oleh Satuan Pengawas Internal.
b. Membentuk pansus untuk mencari informasi yang lebih akurat.
c. Menyampaikan adanya dugaan penyimpangan kepada instansi penyidik (Kepolisian, kejaksaan, dan KPK) (Fanindita, 2010)
Pengawasan anggaran meliputi seluruh siklus anggaran, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pertanggungjawaban. Secara sederhana pengawasan anggaran merupakan proses pengawasan terhadap pelaksanaan perlu dilakukan, hal ini bertujuan untuk memastikan seluruh kebijakan publik yang terkait dengan siklus anggaran dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku dan berorientasi pada prioritas publik. Namun sebelum sampai pada tahap pelaksanaan, anggota dewan harus mempunyai bekal pengetahuan mengenai anggaran sehingga nanti ketika melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran, anggota dewan telah dapat mendeteksi apakah ada terjadi kebocoran atau penyimpangan alokasi anggaran.
Pengawasan anggaran secara yuridis telah diatur baik di tingkat Undang- undang, peraturan pemerintah dan juga dalam peraturan daerah mengenai pengelolaan keuangan daerah. Dalam konteks pengelolaan keuangan, pengawasan terhadap anggaran dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 132 yang menyatakan bahwa DPRD melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah tentang APBD.
Pengawasan tersebut bukan berarti pemeriksaan, tapi lebih mengarah pada pengawasan untuk menjamin pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam APBD. Hal ini sesuai juga dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 yang menyatakan bahwa untuk menjamin pencapaian sasaran yang telah ditetapkan, DPRD melakukan pengawasan atas pelaksanaan APBD. Ini berarti bahwa pengawasan yang dilakukan oleh DPRD merupakan pengawasan eksternal dan ditekankan pada pencapaian sasaran APBD.
Pengawasan merupakan tahap integral dengan keseluruhan tahap pada penyusunan dan pelaporan APBD. Pengawasan diperlukan pada setiap tahap bukan hanya pada tahap evaluasi saja (Mardiasmo, 2001) Pengawasan yang dilakukan oleh dewan dimulai pada saat penyusunan APBD, pelaksanaan APBD, perubahan APBD dan pertanggungjawaban APBD (Modjo, 2007).
Pengawasan terhadap APBD penting dilakukan untuk memastikan yaitu : 1. Alokasi anggaran sesuai dengan prioritas daerah dan diajukan untuk
kesejahteraan masyarakat,
2. Menjaga agar penggunaan APBD ekonomis, efisien dan efektif dan
3. Menjaga agar pelaksanaan APBD benar-benar dapat dipertanggungjawabkan atau dengan kata lain bahwa anggaran telah dikelola secara transparan dan akuntabel untuk meminimalkan terjadinya kebocoran (Alamsyah, 1977).
Untuk dapat melaksanakan pengawasan terhadap APBD anggota dewan harus memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang anggaran mulai dari mekanisme penyusunan anggaran sampai kepada pelaksanaannya.
2.2. Review Penelitian Terdahulu (Theoritical Mapping)
Tuasikal (2007) melakukan penelitan tentang pengaruh pemahaman sistem akuntansi pengelolaan keuangan daerah terhadap Kinerja satuan kerja di Pemerintah Daerah di Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku. Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa secara parsial menunjukkan bahwa pemahaman system akuntansi dan pengelolaan keuangan daerah berpengaruh terhadap kinerja SKPD. Secara simultan menunjukkan bahwa pemahaman system akuntansi keuangan daerah dan pengelolaan keuangan daerah berpengaruh terhadap kinerja satuan kerja.
Haykal (2007) melakukan penelitan tentang analisis peran dan fungsi SKPD dalam pengelolaan keuangan daerah serta pengaruhnya terhadap kinerja SKPD (Studi kasus pada Pemkab Aceh Timur). Hasil penelitan tersebut bahwa perencanaan anggaran, penyusunan anggaran, pelaksanaan anggaran dan pelaporan anggaran berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja SKPD.
Pangastuti (2008) melakukan penelitan tentang pengaruh partisipasi penganggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja manajemen
pemerintah daerah dengan komitmen organisasi sebagai moderator (Studi pada Kabupaten Timor Tengah Utara). Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi penganggaran berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja manajerial.
Syahrida (2009) melakukan penelitian tentang pengaruh pemahaman system akuntansi keuangan daerah dan pengelolaan keuangan daerah terhadap kinerja SKPD di Provinsi Sumatera Utara. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa secara parsial pemahaman system akuntansi keuangan daerah berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja manajerial SKPD, sedangkan pengelolaan keuangan daerah tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja manajerial SKPD.
Garini (2011) melakukan penelitian tentang pengaruh transparansi dan akuntabilitas terhadap kinerja instansi pemerintah pada Dinas Kota Bandung.
Hasil penelitiannya menunjukkan secara simultan dan parsial akuntabilitas memberikan kontribusi atau pengaruh positif terhadap kinerja dinas di kota Bandung.
Ratih (2012) melakukan penelitan tentang pengaruh pemahaman sistem akuntansi keuangan daerah, penatausahaan keuangan daerah dan pengelolaan barang milik daerah terhadap kinerja SKPD pada pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman sistem akuntansi keuangan daerah, penatausahaan keuangan daerah dan pengelolaan barang milik daerah berpengaruh secara simultan terhadap kinerja SKPD.
Tinjauan penelitan terdahulu berupa tahun penelitian, nama penelitan, variabel penelitian dan hasil penelitan dapat dilihat pada tabel 2.1. (Lampiran I)
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1. Kerangka Konsep
Kerangka konseptual merupakan penjelasan sementara gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan tentang hubungan antar variabel yakni variabel bebas (independen) dengan variabel terikat (dependen) yang disusun dari berbagai teori yang telah diuraikan (Sugiono, 2007). Berdasarkan landasan teori dan rumusan masalah penelitian, Kerangka Konseptual yang digunakan dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam kerangka konsep pada gambar 3.1 sebagai berikut :
Gambar 3.1. Kerangka Konsep Pengelolaan
Keuangan Daerah
(X1)
Akuntabilitas (X2)
Transparansi (X3)
Pengawasan (Z)
Kinerja Pemerintah
Daerah (Y)
Kerangka konseptual diatas menunjukkan pengujian variabel Pengelolaan Keuangan Daerah (X1), Akuntabilitas (X2) dan Transparansi (X3) terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Y) dan Pengawasan (Z) sebagai variabel moderating.
Pengaruh antara Pengelolaan Keuangan Daerah, Akuntabilitas dan Transparansi terhadap Kinerja Pemerintah Daerah dan pengawasan sebagai variabel pemoderasi, yaitu :
1. Pengaruh Pengelolaan Keuangan Daerah (X1) terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Y)
Pengelolaan keuangan daerah merupakan pengelolaan yang bertumpu / berfokus pada kepentingan publik. Hal ini tercermin dari besarnya jumlah alokasi anggaran untuk kepentingan publik serta jumlah partisipasi masyarakat yang ikut dalam perencanaan, pelaksanaan serta pengawasan keuangan daerah. Oleh karena itu, cukuplah beralasan bahwa untuk dapat meningkatkan kinerja pemerintah daerah diperlukan pengelolaan keuangan daerah yang baik dan berkualitas.
2. Akuntabilitas (X2) terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Y)
Akuntabilitas merupakan kewajiban pihak pemegang amanah untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut. Dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas bertujuan untuk memberikan pertanggungjawaban kepada masyarakat atas dana yang digunakan
pemerintah untuk meningkatkan kinerja pemerintah daerah dalam peningkatan pemberian pelayanan kepada masyarakat.
3. Transparansi (X3) terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Y)
Transparansi merupakan terbukanya akses bagi masyarakat dalam memperoleh informasi yang menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang – undangan. Transparansi dilakukan dengan tujuan menghindari terjadinya korupsi dan menjaga kepercayaan antara pihak-pihak yang berkepentngan di dalam sebuah institusi / lembaga. Oleh karena itu dengan adanya transparansi diharapkan pemerintah daerah dapat meningkatkan kinerja pemerintah daerah tersebut.
4. Pengawasan (Z) dapat memoderasi Pengelolaan Keuangan Daerah (X1), Akuntabilitas (X2) dan Transparansi (X3) terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Y). Pengawasan merupakan setiap usaha dan tindakan dalam rangka untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tugas yang dilaksanakan menurut ketentuan dan sasaran yang hendak dicapai, sehingga dapat memoderasi pengaruh pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja pemerintah daerah.
3.2. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah proposisi yang dirumuskan dengan maksud untuk diuji secara empiris yang berupa pernyataan penjelasan jawaban sementara yang dapat dipercaya, disangkal atau diuji kebenarannya. Berdasarkan perumusan masalah,
tujuan penelitian dan kerangka konsep yang telah diuraikan, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
a. Pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi berpengaruh terhadap kinerja pemenerintah daerah secara parsial dan simultan.
b. Pengawasan dapat memoderasi pengaruh pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja pemerintah daerah.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kausal yaitu untuk melihat hubungan beberapa variabel yang belum pasti, desain kausal berguna untuk menganalisis bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain, dan juga berguna pada penelitian yang bersifat eksperimen, dimana variabel independennya diperlakukan secara terkendali oleh peneliti untuk melihat dampaknya pada variabel dependen secara langsung.
4.2. Lokasi Penelitian dan Jadwal Penelitian
Penelitian dilakukan di Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara, alasan dipilihnya lokasi penelitian pada Provinsi Sumatera Utara. Di lingkungan Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara dalam hal ini Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) masih terdapat beberapa yang belum dapat dan masih sulit menyesuaikan perubahan peraturan dalam pengelolaan keuangan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, hal ini terbukti dengan masih terlambatnya pelaporan SPJ masing-masing SKPD yang menjadi tanggungjawabnya kepada PPKD selaku BUD. Jadwal penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2016 dan selesai pada bulan Juni 2016. Uraian lengkap tentang jadwal penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.1 sebagai berikut:
Tabel 4.1. Jadwal Penelitian
Tahapan
Januari 2016
Februari 2016
Maret 2016
April 2016
Mei 2016
Juni 2016
Penyelesaian Awal Proposal Tesis
Bimbingan Proposal Tesis
Kolokium
Bimbingan Tesis
Seminar Hasil
Ujian Tesis
4.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), di 34 SKPD dengan populasi sebanyak 68 orang. Penelitian ini adalah penelitian secara sensus. Dalam penelitian ini, seluruh populasi dijadikan sampel, dengan kata lain ini adalah penelitian sensus. (Lampiran 2).
4.4. Metode Pengumpulan Data
Sumber data penelitian merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam penentuan metode pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan data primer. Indriantoro et.al (2002): “ data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli”.jenis penelitian adalah penelitian survey.” Peneitian Survey adalah metode pengumpulan data primer berdasarkan komunikasi antara peneliti dan responden dimana data penelitian berupa subjek yang menyatakan opini, sikap, pengalaman, karakteristik subjek penelitian secara individu atau secara kelompok (Indriantoro et.al 2002)”. Untuk mendapatkan data dari responden maka penulis menggunakan
dengan 1 tahap yaitu dengan cara menyebarkan kuesioner ke Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara dalam hal ini SKPD Pemerintah Daerah dan ditunggu selama 14 hari.
4.5. Variabel Penelitian
4.5.1. Klasifikasi Variabel Penelitan
Berdasarkan perumusan masalah, uraian teoritis dan hipotesis, maka variabel-variabel dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Variabel bebas (Independent variable) terdiri dari 1) pengelolaan keuangan
daerah (X1), 2) akuntabilitas (X2), dan 3) transparansi (X3)
b. Pengawasan (Z) sebagai variabel moderating adalah untuk mengetahui apakah memperkuat atau memperlemah hubungan antara pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan tranparansi dengan kinerja pemerintah daerah Provinsi Sumatera Utara.
c. Variabel terikat (Dependent Variable) yaitu kinerja pemerintah daerah 4.5.2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Untuk memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan pelaksanaan penelitian ini, maka perlu diberikan definisi variabel operasional yang akan diteliti sebagai dasar dalam menyusun kuesioner penelitian, definisi operasional dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah :
Kinerja pemerintah daerah (Y) adalah Prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai dalam pemerintah daerah (SKPD) dengan secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai untuk melaksanakan fungsi dan tanggung jawab yang diberikan kepada masing – masing Pemerintah Daerah
dalam hal ini SKPD.. Pengukuran variabel ini menggunakan instrument kuesioner dengan skala 5 point yang dimodifikasi dari Ratih (2012). Kuesioner ini diukur menggunakan skala interval dengan skor sebagai berikut:
Angka 5 = Sangat Setuju (SS) Angka 4 = Setuju (S)
Angka 3 = Kurang Setuju (KS) Angka 2 = Tidak Setuju (TS)
Angka 1 = Sangat Tidak Setuju (STS) Dengan indikator :
a. Input b. Keluaran c. Hasil d. Manfaat e. Dampak
2. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah :
Pengelolaan keuangan daerah (X1) adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah. Pengelolaan keuangan daerah yang diatur dalam peraturan menteri ini meliputi kekuasaan pengelolaan keuangan daerah, azas umum dan struktur APBD, penyusunan rancangan APBD, penetapan APBD, penyusunan dan penetapan APBD bagi daerah yang belum memiliki DPRD, pelaksanaan APBD, perubahan APBD, pengelolaan kas, penatausahaan keuangan daerah, akuntansi keuangan daerah, pertanggungjawaban
kerugian daerah, dan pengelolaan keuangan BLUD. Pengukuran variabel ini menggunakan instrument kuesioner dengan skala 5 point. Kuesioner Pengelolaan Keuangan Daerah di modifikasi dari penelitian terdahulu Askam Tuasikal (2007).
Kuesioner ini diukur menggunakan skala interval dengan skor sebagai berikut : Angka 5 = Sangat Setuju (SS)
Angka 4 = Setuju (S)
Angka 3 = Kurang Setuju (KS) Angka 2 = Tidak Setuju (TS)
Angka 1 = Sangat Tidak Setuju (STS) Dengan Indikator :
a. Perencanaan keuangan daerah b. Pelaksanaan keuangan daerah c. Penatausahaan keuangan daerah d. Pelaporan keuangan daerah
e. Pertanggungjawaban keuangan daerah f. Pengawasan keuangan daerah
Akuntabilitas (X2) adalah akuntabilitas dalam penelitian ini meliputi pertanggungjawaban dalam bentuk pembuatan laporan keuangan yang dibuat dan dilaporkan di setiap SKPD yang ada dipemerintah Provinsi Sumatera Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pengukuran variabel ini menggunakan instrument kuesioner dengan skala 5 point. Kuesioner Akuntabilitas dimoodifikasi dari Rahmanurrasjid (2008). Kuesioner ini diukur menggunakan skala interval dengan skor sebagai berikut :