POLA KOMUNIKASI PASANGAN NIKAH MUDA TERHADAP RESOLUSI KONFLIK RUMAH TANGGA DAN AKADEMIK
(Studi Deskriptif Pasangan Nikah Muda Pada Mahasiswa Unikom)
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Skripsi
Oleh:
DAFI ALFAUZIA NIM 41818007
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI KONSENTRASI JURNALISTIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG
2022
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Maha Suci Allah yang senantiasa mencurahkan Rahmat-Nya kepada orang- orang beriman yang selalu taat, tunduk, dan patuh kepada-Nya, dan kepada orang- orang yang senantiasa berada di jalan-Nya. Shalawat serta salam senantiasa dipanjatkan pada junjungan Nabi Muhammad SAW. Semoga Allah senantiasa mencurahkan Rahmat-Nya kepada beliau, keluarga, para sahabat sampai kita semua hingga akhir zaman nanti.
Puji serta syukur peneliti panjatkan kepada Illahi Robbi yang telah menganugerahkan setetes Ilmu-Nya yang Maha Luas tak terbatas kepada peneliti yang memiliki banyak kedangkalan akal, sehingga Alhamdulillah peneliti dapat menyelesaikan penyusunan proposal ini yang berjudul “Pola Komunikasi Pasangan Nikah Muda Terhadap Resolusi Konflik Rumah Tangga dan Akademik (Studi Deskriptif Pasangan Nikah Muda Pada Mahasiswa Unikom)
Dalam penyusunan proposal ini banyak pihak yang membantu dalam pelaksanaan dan pengerjaannya. Untuk itu, dalam kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih terutama kepada kedua orang tua. Terimakasih atas doa, bantuan, dukungan serta kasih sayang yang tiada ternilai yang telah diberikan kepada peneliti, sehingga membuat peneliti semangat untuk mengerjakan penyusunan skripsi ini.
Selain itu, peneliti menyadari terselesainya penulisan proposal ini adalah berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu melalui kesempatan ini dengan segala kerendahan hati peneliti ingin menyampaikan rasa hormat, terimakasih, dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:
1. Yth. Prof. Dr. Ir. H. Eddy Soeryanto Soegoto, M.T. selaku Rektor Universitas Komputer yang telah memberikan tempat untuk menuntut ilmu.
2. Yth. Assoc. Prof. Dr. Lilis Puspitawati, SE.,M.Si.,Ak. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNIKOM yang telah memberi kemudahan kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini.
3. Yth. Dr. Melly Maulin P.,S.Sos.,M.Si. selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Univeritas Komputer Indonesia
4. Yth. Dr. Manap Solihat M.Si selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi yang telah membantu dan membimbing peneliti selama melakukan penyusunan skripsi.
5. Yth. Dr. Rismawaty, S.,Sos,M,Si selaku dosen wali kelas IK-1 angkatan 2018 program studi ilmu komunikasi Universitas Komputer Indonesia 6. Yth. Syubanuddin Murom selaku dosen pembimbing skripsi
7. Yth. Seluruh Staf Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UNIKOM, terima kasih dengan segala bantuan untuk membantu kelancaran penulisan penyusunan skripsi ini.
8. Yth. Astri Ikawati A.md. Kom Dan Ratna Widiastuti A.Md. Selaku Staf Sekretariat Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universtas Komputer Indonesia Bandung yang telah membantu semua keperluan peneliti sebelum dan sesudah peneliti melakukan penulisan sidang skripsi.
9. Teman-teman jurnal2 dan ik1 seperjuangan kuliah yang selalu memberi dorongan, motivasi dan dukungannya selama peneliti melakukan penulisan penyusunan skripsi ini.
10. Taufik sulaiman, Malik Maulana Darmawan, Maulana Malik, Reymon, Chaterin Hellen, Febi Dharma, Ikram Aghnia dan kawan kawan lainya yang selalu menemani dan menyemangati peneliti disaat proses penyusunan skripsi
11. Salam satu perjuangan untuk teman-teman Universitas Komputer Indonesia Bandung terutama rekan-rekan Program Studi Ilmu Komunikasi. Insya Allah kita lulus tahun 2021.
12. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penyusunan skripsi ini yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu.
Akhir kata peneliti ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada semua yang telah turut membantu dalam segala aspek kepada penulis dalam menyelesaikan seminar usulan penelitian ini. Semoga Allah SWT senantiasa membalas hal baik serupa dan segala bentuk bantuan yang telah diberikan bernilai ibadah, Aamiin,Aamiin yarobal’alamin
Wassalamualaikum,warohmatullahi,wabarokatuh
Bandung, April 2022
Dafi Alfauzi 4181800
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pernikahan merupakan keinginan setiap manusia khususnya para remaja yang mulai menginjak dewasa. Mereka mendambakan seorang pasangan untuk melengkapi hidupnya. Pernikahan itu sendiri bukan hanya menyatukan dua orang yang sedang mabuk cinta yang pada akhirnya memutuskan untuk hidup bersama, karna masih banyak hal yang harus dipikirkan ketika kita memutuskan untuk menikah, baik dari segi materil maupun psikologisnya. Pernikahan bukanlah hanya sebuah ikatan yang bertujuan untuk melegalkan biologis saja, namun juga untuk membentuk sebuah keluarga yang menuntut pelaku pernikahan untuk mandiri dalam berfikir dan menyelesaikan masalah dalam pernikahan. Pasangan suami istri harus menjalani proses kehidupan yang berorientasi pada kesuksesan bersama pasangan baik dunia maupun akhirat.
Pernikahan adalah ungkapan keimanan, dimana terjadi persatuan dua tubuh dan pribadi yang berbeda, dan di dalamnya seseorang menaruh makna dan kebahagian hidupnya di dalam diri seseorang lainnya. Ketika dua orang manusia memutuskan untuk menjalin pernikahan tentu memiliki tujuan di dalamnya. Menurut pasal 13:
“pernikahan atau biasa disebut dengan perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan 2 warahmah”.
Dengan adanya rumah tangga yang bahagia akan membentuk jiwa yang tentram, hati dan tubuh menjadi satu, maka kehidupan dan penghidupan menjadi mantap, kegairahan hidup akan timbul, dan Allah merahmati dan meridhai keluarga itu. (Qomariyah, 2016)
Nikah muda saat ini menjadi sebuah trend, disamping memang keduanya telah siap untuk berumah tangga, nikah muda juga mempunyai nilai tersendiri bagi mereka contohnya seperti sekarang ini banyak para wanita yang memang
menginginkan menjadi mamah muda atau orang tua muda alasannya sederhana kebanyakan ingin saat berfoto atau bersama anaknya terlihat seperti kakak beradik, bukan ibu-anak dan sebagai orang tua muda juga tentunya tidak ingin ketinggalan zaman dan tidak ingin dibilang tua oleh anaknya kelak karena zaman yang semakin berkembang. (Ajeng, 2017, tribunstyle.com).
Bagi orang yang memutuskan menikah atas keinginannya sendiri dengan usia yang sudah sesuai dengan ketentuan hukum tentu tidak akan menjadi masalah, tetapi urusan rumah tangga sekaligus urusan akademik lah yang menjadi permasalahannya, karna harus menghadapi dua hal tersebut.
Kegiatan antara kuliah, mengerjakan tugas dan urusan rumah tangga adalah kegiatan yang akan sulit dalam pembagian waktunya dan salah satunya bisa terganggu apalagi sampe sudah mempunyai anak. Imbasnya nilai mereka bisa turun, kuliah mereka bisa tertunda karna tidak fokus bahkan dapat mengakibatkan perceraian. Karna pada dasarnya kuliah sudah membuat pusing di tambah lagi harus mengurus anak dan pasangannya.
Membangun rumah tangga di usia muda bukanlah hal yang mudah, emosi keduanya yang masih labil serta egoisme yang masih tinggi dapat menimbulkan konflik pada pasangan tersebut. Konflik yang ada di rumah tangga memang wajar, namun apabila keduanya tidak sanggup menahan emosi dan saling keras atau tidak berfikir secara dewasa, maka akan terjadi masalah yang lebih besar. Bahkan bila ternyata setelah menikah tidak sesuai dengan ekspektasi maka pernikahan tersebut akan menyebabkan konflik secara serius atau perceraian. Seperti yang kita tahu juga bahwa mereka yang menikah di usia muda, dan juga mereka yang menikah sambil menjalankan kuliah kemungkinan kurang untuk menikmati manfaat kesehatan mental yang positif dari pernikahan yang mana usia tersebut seharusnya merupakan usia produktif para kaum muda untuk lebih mengembangkan dirinya.
Mereka tidak bisa menikmati pernikahan mereka seutuhnya karna harus terbagi dengan akademiknya.
Dalam menghadapi konflik komunikasi di anggap sebagai alat utama bagi masing-masing pasangan suami istri, mereka mempunyai cara tersendiri dalam berkomunikasi yang dikenal dengan pola komunikasi. Pola komunikasi yang terjadi di antara suami istri di setiap masing-masing keluarga berbeda, dikarenakan oleh bebererapa faktor diantaranya yaitu usia pernikahan, latar belakang masing-masing pasangan, kondisi sosial ekonomi, dan budaya dari masing-masing pasangan.
Secara general perbandingan mahasiswa yang sudah menikah memang lebih sedikit dengan mahasiswa yang belum menikah, namun fenomena menikah muda dikalangan mahasiswa ini sangat menarik terutama kehidupan sosial dan kehidupan akademiknya.
Maka dari itu peneliti ingin mengetahui apakah mempertahankan rumah tangga dengan berbagai konfliknya di usia pasangan yang masih muda itu lebih sulit atau tidak. Meskipun menikah di usia 18 tahun itu legal namun menikah disaat masih masa-masa menempun pendidikan perkuliahan akan sedikit menyulitkan karena selain pasangan muda tersebut harus menyelesaikan studi S1-nya mereka juga harus mengurus rumah tangga mereka sekaligus. Selain itu dilihat dari segi ekonomi dapat dikatakan bahwa mereka belum bisa mendapatkan pekerjaan yang tetap sehingga berpengaruh pada faktor ekonomi dan faktor komunikasi mereka dalam berkeluarga
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Rumusan Masalah Makro
Berdasarkan uraian dan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pola Komunikasi Pasangan Nikah Muda Terhadap Resolusi Konflik Rumah Tangga dan Akademik” studi deskriptif pasangan nikah muda pada mahasiswa unikom
1.2.2 Rumusan Masalah Mikro
Berdasarkan latar belakang yang sudah diurikan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
a. Apa alasan menikah di usia muda ?
b. Bagaimana pasangan nikah muda memperaktekan pola komunikasi dalam keluarga
c. Bagaimana pemicu konflik akademik yang terjadi pada pasangan nikah muda
d. Bagaimana pola komunikasi dalam resolusi konflik pasangan nikah muda 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian
Penelitian dimaksudkan untuk menjelaskan secara mendalam tentang pola komunikasi pasangan nikah muda terhadap resolusi konflik rumah tangga dan akademik
1.3.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut a. Untuk mengetahui alasan menikah di usia muda
b. Untuk mengetahui Bagaimana pasangan nikah muda memperaktekan pola komunikasi dalam keluarga
c. Untuk mengetahui bagaimana pemicu konflik akademik yang terjadi pada pasangan nikah muda dan akademik
d. Untuk mengetahui bagaimana pola komunikasi dalam resolusi konflik pasangan nikah muda dan akademik
1.4 Kegunaan Penelitian
Secara teoritis, Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam pengembangan ilmu yaitu baik ilmu komunikasi secara umum. Penelitian ini juga diharapkan dapat membantu sumber referensi untuk penelitian selanjutnya.
1.4.1 Kegunaan Teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran bagaimana terjadinya Pola Komunikasi Pasangan Nikah Muda Terhadap Resolusi Konflik Rumah Tangga dan Akademik
1.4.2 Kegunaan Praktis
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan untuk para remaja dewasa dalam mematangkan niatnya ketika memutuskan untuk menikah muda
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
2.1 Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka adalah proses umum yang dilalui untuk mendapatkan teori yang relevan dengan masalah yang diteliti. Mencari kumpulan-kumpulan penelitian yang terkait kemudian diangkat untuk mendukung penelitian yang dibuat. Kajian pustaka meliputi pengidentifikasian secara sistematis, penemuan dan analisis dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan masalah peneliti.
2.1.1 Peneliti Terdahulu
Dalam tinjuan pustaka peneliti mengawali dengan menelaah penelitian terdahulu yang berkaitan dan relevan dengan penelitian yang dilakukan. Dengan demikian peneliti mendapatkan rujukan pendukung, pelengkap dan pembanding serta memberi gambaran awal mengenai kajian yang terkait dengan permasalahan dalam penelitian ini. Berkaitan dengan dijabarkan pada bab maupun sub bab sebelumnya bahwa judul dari penelitian ini adalah “Pola Komunikasi Pasangan Nikah Muda Terhadap Resolusi Konflik Rumah Tangga di kota cimahi KP anggaraja rt 04 rw 20”
Berpedoman pada judul penelitian tersebut, maka peneliti melakukan studi pendahuluan berupa peninjauan terhadap penelitian serupa yang sebelumnya terlebih dahulu melakukan penelitian, yang mengkaji hal yang sama serta relevan dengan kajian yang akan diteliti oleh peneliti. Berikut ini adalah tabel 2.1 dan peneliti menemukan beberapa hasil dari penelitian terdahulu yang meneliti tentang penelitian sejenis tentang pengaruh penggunaan gadget.
Tabel 2.1 Peneliti Terdahulu Nama dan Judul
Penelitian
Metode Penelitian
Persamaan Perbedaan
Acep Azis Ansor, 2017
Dinamika Pernikahan muda pada Mahasiswa S-1
di Universitas Muhammadiyah
Surakarta
Metode Kualitatif
Persamaan dari teori terdahulu adalah
sama sama membahas pernikahan usia
muda
Fokus utama dalam penelitian
pola komunikasi ini. Didalam penelitian ini
ialah komunikasi interpersonal
pada pasangan nikah muda yang diteliti.
Sedangkan pola komunikasi yang diteliti oleh peneliti ialah pola komunikasi dalam konflik
nikah muda -Serta lokasi
yang berbeda.
Effiati Juliana hasibuan, univ medan area, 2013
Metode Deskriptip
Kualitatif
Persamaan peneliti dengan
penelitian terdahulu adalah
sama-sama menggunakan pola komunikasi
dalam penyelesaian
konflik
Penelitian ini meneliti mengenai pola
komunikasi pasangan pernikahan diri atara orang tua
dan anak, sedangkan peneliti meneliti mengenai pasangan nikah
muda terhadap resolusi konflik rumah tangga serta lokasi yang berbeda
2.1.2 Tinjauan Tentang Komunikasi 2.1.2.1 Pengertian Tentang Komunikasi
Komunikasi merupakan sebuah aktivitas yang sangat berkaitan dengan hakekat manusia tidak bisa hidup sendiri. Komunikasi adalah aktivitas yang tidak bisa terlepas dari kehidupan sehari-hari, karena selama manusia hidup maka komunikasi itu akan tetap ada.
Definisi komunikasi menurut Deddy Mulyana menjelaskan bahwa:
“Kata Komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti “sama”, communico, comunicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal- usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama”. (2007: 4)
Sedangkan Menurut Everett M. Rogers dan Lawrence Kincaid yang dikutip oleh Wiryanto (2004: 6) dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Komunikasi, mendenifisikan komunikasi sebagai proses untuk melakukan pertukaran informasi yang dilakukan dua orang atau lebih untuk menciptakan saling pengertian.
Menurut Carl. I. Hovland yang dikutip oleh Mulyana (2007:68) dalam buku Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, komunikasi adalah sebuah proses menyampaikan rangsangan yang bertujuan untuk mengubah perilaku orang lain.
Sedangkan menurut Gerald A. Miller yang dikutip oleh Onong Uchjana Effendy menjelaskan bahwa: “In the main, communication has as its central interest those behavioral
komunikasi mengandung situasi keperilakuan sebagai minat sentral, dimana seseorang sebagai sumber menyampaikan suatu kesan kepada seseorang atau sejumlah penerima yang secara sadar bertujuan mempengaruhi perilakunya)”. (Miller dalam Effendy, 2005: 49)
Berdasarkan definisi dari beberapa para pakar di atas dapat dijelaskan bahwa komunikasi merupakan suatu proses dimana seorang komunikator menyampaikan stimulinya atau perangsang yang biasanya berupa lambang bahasa kepada komunikan dan bukan hanya sekedar memberitahu sesuatu tetapi juga berusaha untuk mempengaruhi seseorang atau sejumlah orang tersebut untuk melakukan tindakan tertentu atau merubah perilakunya.
2.1.2.2 Fungsi Komunikasi
Fungsi Komunikasi menurut Widjaya dalam karyanya “Ilmu Komunikasi pengantar studi” apabila dipandang dari arti yang lebih luas adalah sebagai berikut:
1. Informasi, pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, penyebaran berita, data, gambar, fakta, pesan, opini, dan komentar yang dibutuhkan agar
dapat dimengerti dan beraksi secara jelas terhadap kondisi lingkungan dan orang lain agar dapat mengambil keputusan yang tepat.
2. Sosialisasi, penyediaan sumber ilmu pengetahuan yang memungkinkan orang bersikap dan bertindak sebagai anggota masyarakat yang efektif sehingga ia sadar akan fungsi sosialnya dan dapat aktif di dalam masyarakat.
3. Motivasi, menjelaskan tujuan setiap masyarakat jangka pendek maupun jangka panjang, mendorong orang menentukan pilihan dan keinginannya, mendorong kegiatan individu dan kelompok berdasarkan tujuan bersama yang akan dikejar.
4. Perdebatan dan diskusi, menyediakan dan saling menukar fakta yang diperlukan untuk memungkinkan persetujuan atau menyelesaikan perbedaan pendapat mengenai masalah publik. Menyediakan bukti-bukti relevan yang diperlukan untuk kepentingan umum agar masyarakat lebih melibatkan diri dengan masalah yang menyangkut kepentingan bersama.
5. Pendidikan, pengalihan ilmu pengetahuan dapat mendorong perkembangan intelektual, pembentukan watak, serta membentuk keterampilan dan kemahiran yang diperlukan pada semua bidang kehidupan.
6. Memajukan kehidupan, menyebarkan hasil kebudayaan dan seni dengan maksud melestarikan warisan masa lalu, mengembangkan kebudayaan dengan memperluas horizon seseorang, serta membangun imajinasi dan mendorong kreativitas dan kebutuhan estetiknya.
7. Hiburan, penyebarluasan sinyal, simbol, suara dan imaji dari drama, tari, kesenian, kesustraan, musik, olahraga, kesenangan kelompok, dan individu.
8. Integrasi, menyediakan bagi bangsa, kelompok dan individu kesempatan untuk memperoleh berbagai pesan yang mereka perlukan agar mereka dapat saling kenal dan mengerti serta menghargai kondisi pandangan dan keinginan orang lain.
2.1.2.3 Tujuan Komunikasi
Menurut Onong Uchjana Efendy, tujuan dari komunikasi adalah:
1. Perubahan sikap (attitude change) 2. Perubahan pendapat (opinion change) 3. Perubahan perilaku (behavior change)
4. Perubahan sosial (social change). (Effendy, 2003: 8)
Sedangkan tujuan komunikasi pada umumnya menurut H. A. W. Widjaja adalah sebagai berikut:
1. Supaya yang disampaikan dapat dimengerti. Sebagai komunikator harus dapat menjelaskan kepada komunikan (penerima) dengan sebaik- baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat mengikuti apa yang dimaksud oleh pembicara atau penyampai pesan (komunikator).
2. Memahami orang Sebagai komunikator harus mengetahui benar aspirasi masyarakat tentang apa yang diinginkannya. Jangan hanya berkomunikasi dengan kemauan sendiri.
3. Supaya gagasan dapat diterima oleh orang lain Komunikator harus berusaha agar gagasan dapat diterima oleh orang lain dengan menggunakan pendekatan yang persuasif bukan dengan memaksakan kehendak.
4. Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu Menggerakkan sesuatu itu dapat berupa kegiatan yang lebih banyak mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki. (Widjaja, 2000: 66).
2.1.2.4 Sifat Komunikasi
Sifat komunikasi ada beberapa macam, yaitu : 1. Tatap muka (face-to-face)
2. Bermedia (Mediated) 3. Verbal (Verbal)
a. Lisan (oral)
b. Tulisan
4. Non verbal (Non-verbal)
a. Gerakan / isyarat badaniah (gestural) b. Bergambar (pictorial). (Effendy, 2011:7)
Dalam penyampaian pesan, seorang komunikator (pengirim) dituntut untuk memiliki kemampuan dan sarana agar mendapat umpan balik (feedback) dari komunikan (penerima), sehingga maksud dari pesan tersebut dapat di penuhi dengan baik dan berjalan efektif. Komunikasi dengan tatap muka (face-to-face) dilakukan antara komunikator dengan komunikan secara langsung, tanpa menggunakan media apapun kecuali bahasa sebagai lambang atau simbol komunikasi bermedia dilakukan oleh komunikator kepada komunikan, dengan menggunakan media sebagai alat bantu dalam menyampaikan pesannya.
Komunikator dapat menyampaikan pesannya secara verbal dan non verbal. Verbal di bagi ke dalam dua macam yaitu lisan (oral) dan tulisan (written/printed).
Sementara non verbal dapat menggunakan gerakan atau isyarat badaniah (gesturual) seperti melambaikan tangan, mengedipkan mata dan sebagainya, dan menggunakan gambar untuk mengemukakan ide atau gagasannya.
2.2 Kerangka Pemikiran 2.2.1 Pola Komunikasi
2.1.3.1 Pengertian Pola Komunikasi
Pola komunikasi merupakan kata yang berasal dari kata pola dan komunikasi. Pola berarti corak, model, sistem, kerja keras, jadi pola komunikasi sama dengan model komunikasi, yaitu rancangan gambaran suatu proses komunikasi yang secara realita disesuaikan dengan bentuk- bentuk komunikasi.
Menurut Jalaluddin Rahmat, “model komunikasi menggambarkan hubungan diantara variabel-variabel atau sifat-sifat gejala tertentu dalam proses komunikasi, yang dirancang untuk mewakili kenyataan.”16 Komunikasi adalah proses tercapainya pengertian yang sama antara individu yang bertindak sebagai sumber dengan individu dengan individu yang bertindak sebagai penerima.
Pola komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan dalam bentuk lambang bermakna berbagai panduan pikiran dan perasaan berupa ide, informasi, kepercayaan, harapan, imbauan, dan sebagainya, yang dilakukan seseorang kepada orang lain. Baik langsung secara tatap muka maupun tidak langsung secara media, dengan tujuan mengubah sikap, pandangan, atau perilaku.
Suprato mengungkapkan proses komunikasi memiliki tujuan untuk mencapai pengertian yang sama (mutual understanding) antara kedua pihak yang terlibat dalam komunikasi, terdapat komunikator sebagai pengirim pesan/informasi kepada komunikan sebagai sasaran komunikasi.
Lebih lanjut pengertian utama komunikasi digolongkan menjadi tiga pengertian, diantaranya sebagai berikut:
a. Secara etimologi atau menurut asal kata komunikasi berasal dari bahsa latin communcaiti, dan perkataan ini bersumber dari kata communis.
Perkataan communis diartikan “sama“ dalam arti kata sama makna, sama makna mengenai-mengenai suatu. Jadi komunikasi berlangsung bila antara orang- oramg yang terlibat dalam percakapan belum tentu memiliki kesamaan bahasa yang digunakan dalam catatan itu belum tentu memiliki kesamaan makna. Dengan lain perkataan, mengerti bahas saja belum tentu mengerti makna yang dibawakanoleh bahasa itu.
Jelas bahwa percakapan antara oramg-orang tadi dapat dikatakan komulatif apabila diantara mereka, selain mengerti bahasa yang di.
pergunakan, juga mengerti makna bahasa yang dipercakapkan.
b. Sedangkan secara terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian sesuatu pernyataan seseoramg kepada orang lain. Dari pengertian ini jelas bahawa komunikasi melibatkan sejumlah orang.
Dimana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Komunikasi diartikan berberbagai sebagai penyampaikan suatu pernyataan (informasi), atau penyampaian gagasan tetapi sudah melibatkan pengirim dan penerima pesan secara aktif- kratif dalam pencitraan arti dari pesan yang disampaikan. oleh karena itu,komunikasi diartikan sebagai proses penciptaan waktu terhadap gagasan atau ide yang disampaikan.
c. Secara paradigmatik, komunikasi merupakan pola meliputi memiliki sejumlah kompenen yang berhubungan / berkolerasi satu sama lain secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Dalam pengertian yang luas, komunikasi adalah suatu proses penyampaian maksud atau amanat kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu.
Berdasarkan pengertian diatas peneliti menyimpulkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian informasi yang sama antara dua individu atau lebih menggunakan saluran tertentu dan untuk mencapai tujuan tertentu. Proses komunikasi bagaimana komunikatornya menyampaikan pesan kepada komunikannya. Sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikasi dan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk
menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi padaa umumnya). Proses komunikasi dapat terjadi apabila ada interaksi antara manusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif komunikasi.
McQuail (1987) dalam sendjja ,1996:39 secara umum kegiatan / proses komunikasi dapat berlangsung dalam enam tingkatan sebagai berikut:
a. Intrapersonal misalnya proses informasi (komunikasi intrapersonal)
b. Interpersonal misalnya diadik atau pasangan (komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi)
c. Intragroup atau dalam kelompok misalnya keluarga d. Intergroup atau antar kelompok misalnya komunitas local e. Institusi atau organisasi misalnya sistem politik atau firma bisnis f. Jaringan masyarakat luas misalnya komunikasi massa
Berdasarkan tingkatan itulah, komunikasi massa berada pada puncak piramida dan hanya merupakan salah satu proses komunikasi yang berlangsung pada peringkat masyarakat luas, yang identifikasinya ditentukan oleh ciri khas institusionalnya. Lebih lanjut McQuail menjelaskan bahwa berdasarkan tingkatan proses komunikasi di atas menunjukkan bahwa studi komunikasi massa memiliki keterkaitan dengan teori-teori lainnya dan komunikasi massa mengandung berbagai aspek yang menuntut adanya cabang teori komunikasi sendiri
2.1.3.2 Pola Komunikasi Pasangan Suami Istri
Joseph A. Devito (2007:277-278) mengatakan terdapat empat pola komunikasi keluarga yang umum pada kleuarga inti ataupun pasangan suami istri, yaitu:
a. Equality Pattern
Dalam pola ini, tiap individu membagi kesempatan komunikasi secara merata dan seimbang, peran yang dimainkan tiap orang dalam keluarga adalah sama. Tiap orang dianggap sederajat dan setara kemampuannya, bebas mengemukakan ide-ide, opini, dan kepercayaan.
Komunikasi yang terjadi berjalan dengan jujur, terbuka, langsung, dan bebas dari pemisahan kekuasaan yang terjadi pada hubungan interpersonal lainnya. Dalam pola ini tidak ada pemimpin dan pengikut, pemberi pendapat dan pencari pendapat, tiap orang memainkan peran yang sama.
b. Balance Split Pattern
Dalam pola ini, persamaan hubungan tetap terjaga, namun dalam pola ini tiap orang memegang kontrol atau kekuasaan dalam bidangnya masing-masing. Tiap orang dianggap sebagai ahli dalam wilayah yang berbeda. Sebagai contoh, dalam keluarga biasa, suami dipercaya untuk bekerja/mencari nafkah untuk keluarga dan istri mengurus anak dan memasak.
c. Unbalanced Split Pattern
Dalam pola ini satu orang mendominasi, satu orang dianggap sebagai ahli lebih dari setengah wilayah komunikasi timbal balik. Satu orang yang mendominasi ini sering memegang kontrol. Dalam beberapa kasus, orang yang mendominasi ini lebih cerdas atau berpengetahuan lebih, namun dalam kasus lain orang itu secara fisik lebih menarik atau berpenghasilan lebih besar. Pihak yang kurang menarik atau berpenghasilan lebih rendah berkompensasi dengan cara membiarkan pihak yang lebih itu memenangkan tiap perdebatan dan mengambil keputusan sendiri. Pihak yang mendominasi mengeluarkan pernyataan tegas, member tahu pihak lain apa yang harus dikerjakan, memberi opini dengan bebas, memainkan kekuasaan untuk menjaga kontrol, dan jarang meminta pendapat yang lain kecuali untuk mendapatkan rasa aman bagi egonya sendiri atau sekedar meyakinkan pihak lain akan kehebatan argumennya. Sebaliknya, pihak yang lain bertanya, meminta pendapat dan berpegang pada pihak yang mendominasi dalam mengambil keputusan.
d. Monopoly Pattern
Satu orang dipandang sebagai kekuasaan. Orang ini lebih bersifat memerintah daripada berkomunikasi, memberi wejangan daripada mendengarkan umpan balik orang lain. Pemegang kekuasaan tidak pernah meminta pendapat, dan ia berhak atas keputusan akhir. Maka jarang terjadi perdebatan karena semua sudah mengetahui siapa yang akan menang.
Dengan jarang terjadi perdebatanitulah maka bila ada konflik masing- masing tidak tahu bagaimana mencari solusi bersama secara baik-baik.
Pola komunikasi antar pasangan begitu beragam, oleh karena itu dibutuhkan pola komunikasi yang tepat guna menangani konflik-konflik yang muncul antar pasangan.
2.2.2 Pernikahan Usia Muda 2.1.4.1 Pengertian Pernikahan
Menurut Undang-Undang Pokok Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 1 dijelaskan pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang berbahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena itu pernikahan merupakan suatu yang alami yang menjadi kodrat alam, bahwa dua jenis kelamin yang berbeda akanmempunyai daya tarik antara satu dengan yang lainnya untuk hidup bersama.
Pernikahan adalah hubungan yang sah dari dua orang yang berlainan jenis kelamin.Sahnya hubungan tersebut berdasarkan atas hukum perdata yangberlaku, agama atau peraturan-peraturan lain yang dianggap sah dalam negara bersangkutan (Lembaga Demografi FEUI, 2007).
Secara umum pernikahan adalah ikatan yang mengikat dua insan lawan jenis yang masih remaja dalam suatu ikatan keluarga (Luthfiyani,
2008).Nikah adalah status dari mereka yang terikat dalam pernikahan pada saat pencacahan, baik tinggal bersama maupun terpisah.
Dalam hal ini tidak saja mereka yang kawin sah secara hukum (adat, agama, negara, dan sebagainya) tetapi mereka yang hidup bersama dan oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sah sebagai suami istri (BPS, 2000)
Pernikahan adalah sebuah hubungan antara dua orang yang berbeda jenis kelamin dan dikenal dengan suami istri.Dalam hubungan tersebut terdapat peran serta tanggung jawab dari suami dan istri yang didalamnya terdapat unsur keintiman, pertemanan, persahabatan, kasih saying, pemenuhan seksual, dan menjadi orang tua.Pernikahan merupakan ikatan kudus antara pasangan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah menginjak atau dianggap telah memiliki umur cukup dewasa.
Pernikahan dianggap sebagai ikatan kudus (holly relationship) karena hubungan pasangan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan diakui secara sah dalam hokum agama.Pernikahan adalah ikatan antara laki-laki dan perempuan atas dasar persetujuan kedua belah pihak yang mencakup hubungan dengan masyarakat dilingkungan dimana terdapat normanorma yang mengikat untuk menghalalkan hubungan antara kedua belah pihak, Pernikahan adalah suatu pola sosial yang disetujui dengan cara mana dua oerang atau lebih membentuk keluarga. Atau dengan kata lain pernikahan adalah penerimaan status baru, serta pengakuan atas status baru oleh orang lain (Dariyo, 2003)
2.1.4.2 Pengertian Usia Muda
Usia muda didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak- kanak kemasa dewasa. Usia muda merujuk pada usia remaja. WHO memakai batasan umur 10-20 tahun sebagai usia muda. Sedangkan pada Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA) bab 1 pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan usia usia muda adalah seorang yang belum berusia 18 tahun, batasan tersebut menegaskan bahwa anak
usia muda adalah bagian dari usia remaja. Dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh departemen kesehatan adalah mereka yang berusia 10-19 tahun dan belum menikah.Sementara itu, menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) batasan usiaremaja adalah 10 sampai 21 tahun. Remaja adalah suatu masa dimana individu dalam proses pertumbuhannya terutama fisiknya yang telah mencapai kematangan. Dengan batasan usia berada pada 11-24 tahun dan belum menikah (Sarwono, 2004). WHO Expert Comitte memberikan batasanbatasan pertama tentang definisi usia muda bersifat konseptional pada tahun 1974.
Dalam hal ini ada 3 kategori biologis, psikologis dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap definisi tersebut tersembunyi sebagai berikut, usia muda adalah suatu masa dimana :
a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder sampai ia mencapai kematangan sendiri.
b. Individu mengalami perkembangan psikologis dari masa kanak-kanak menjadi dewasa.
c. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relative mandiri. Remaja pada umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu remaja awal (11-15 tahun), remaja menengah (16-18 tahun), dan remaja akhir (19-20 tahun).Seorang remaja mencapai tugas-tugas perkembangannya dapat dipisahkan menjadi tiga tahap secara berurutan.
• Masa Remaja Awal
Remaja awal adalah remaja dengan usia 11-15 tahun. Pada masa ini remaja mengalami perubahan fisik yang sangat drastis, misal pertambahan berat badan, tinggi badan, panjang organ tubuh dan pertumbuhan fisik yang lainnya.Pada masa remaja awal memiliki karakteristik sebagai berikut lebih dekat dengan teman sebaya, lebih bebas, lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berfikir abstrak.
• Masa Remaja Menengah
Pada masa remaja menengah atau madya, adalah masa remaja dengan usia sekitar 16-18 tahun. Pada masa ini remaja ingin mencapai kemandirian dan otonomi dari orangtua, terlibat dalam perluasan pertemanan.Pada masa remaja menengah ini memiliki karakteristik sebagai berikut mencari identitas diri, timbulnya keinginan untuk kencan, mengembangkan kemampuan berpikir abstrak, dan berkhayal tentang aktivitas seks.Remaja pada usia ini sangat tergantung pada penerimaan dirinya dikelompok yang sangat dibutuhkan untuk identitas dirinya dalam membentuk gambaran diri.
• Masa Remaja Akhir
Masa remaja akhir adalah masa remaja dengan usia 18-20 tahun. Pada fase remaja kelompok akhir ini, focus pada persiapan diri untuk lepas dari orang tua menjadi kemandirian yang ingin dicapai, membentuk pribadi yang bertanggungjawab, mempersiapkan karir ekonomi, dan membentuk ideology pribadi.Karakteristik dalam kelompok ini adalah pengungkapan identitas diri, lebih selektif dalam mencari teman sebaya, mempunyayi citra jasmani dirinya, dapat mewujudkan rasa cinta, dan mampu berpikir abstrak. Pada remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat tidak memikirkan akibat dari perbuatan mereka. Remaja diberi kesempatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, akantumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya diri dan mampu bertanggungjawab (Lily, 2002).
Dari batasan usia muda diatas ditetapkan batasan usia muda antara 11-19 tahun, dimana diantara usia tersebut sudah menunjukkan tanda-tanda seksualnya. Bila hal ini ditunjau dari sudut kesehatan maka masalah utama yang dirasakan mendesak adalah mengenai kesehatan pada usia muda khususnya wanita yang kehamilannya terlalu awal.
Disamping itu menurut Sarwono (2004), terdapat beberapa definisi usia
muda, salah satunya adalah definisi usia muda untuk masyarakat Indonesia yang mengemukakan batasan antara usia 11-24 tahun dan belum menikah dengan pertimbangan sebagai berikut :
• Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria sosial).
• Banyak masyarakat Indonesia menganggap usia 11 tahun sudah dianggap akil baligh menurut adat maupun agama sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak (kriteria sosial).
• Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyimpangan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri.
• Bila batas usia 24 tahun merupakan batasan usia maksimal yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang tua, belum mempunyayi hak-hak penuh sebagai orang dewasa (adat atau tradisi) belum bisa memberikan pendapat sendiri.
• Status perkawinan sangat menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting dimasyarakat kita secara menyeluruh. Seorang yang telah menikah di usia berapapun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh baik secara hukum dikeluarga maupun masyarakat.
Dalam usaha untuk membentuk suatu kesatuan itulah suami istri mengalami kebahagiaan. Dalam "Dinamika Perkawinan Masa Kini" Yunawa dan Miramis (1991) menyatakan bahwa perkawinan merupakan suatu kesatuan. Persatuan itu diciptakan oleh cinta dan dukungan yang di berikan oleh seorang pria pada istrinya. Persatuan itu hanya di pertahankandan dipelihara dengan cinta dan dukungan yang diberikan oleh wanita kepada suaminya. Hubungan antara seorang pria dan wanita yang terletak dalam bidang indrawi serta bidang emosional dan seorang disana pulalah ia mencapai pemenuhanya. Pernikahan merupakan ikatan dua insan yang mempunyai banyak perbedaa, baik dari ssegi fisik, asuhan keluarga ], pergaulan,cara berfikir (mental), pendidikan dan lain hal. Dalam pandangan
islam, pernikahan merupakan ikatan yang amat suci dimana dua insan berlainan jenis dapat hidup bersama dan direstui agama, kerabat, dan masyarakat (Yunawa dan Maramis, 1991). Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia sejahtera dan kekal selamanya.
Pernikahan dianggapp sah apabila dilakukan menurut hukum perkawinan masing masing agam dan kepercayaan tercatat oleh lembaga yang berwenang menurut perundang-undang yang berlaku. Yunawa dan Maramis : 1991.
Dari kutipan di atas bahwa pernikahan merupakan ikatan dua insan yang memiliki perbedaan baik dari segi fisik, pergaulan, cara berfikir dan asuhan keluarga,dalam pandangan islam yaitu ikatan yang suci dan sudah di beri restu oleh keluarga, kerabat, agama dan masyarakat. Dalam pernikahan juga mempunyai tujuan yaitu untuk membentuk sebuah keluarga bahagia, sejahtera dan kekal selamanya. Pernikahan juga di anggap sah bila dilakukan menurut hukum perkawinan dari masing-asing agama dan kepercayaan.
2.1.4.2 Dimensi Dalam Pernikahan
Steven L. Nock melakukan penyelidikan ekstensif berdasarkan diri jejak pendapat nasional, kebijakan dan juga doktrin agama tentang pernikahan bahwa ada tujuh dimensi pernikahan bahwa ada tujuh imensi pernikahan (Hall, 2006:1440) yakni:
a. Orang memasuki pernikahan
b. Orang harus mencapai tingkat kematangan (usia) untuk menikah c. Pernikahan adalah heteroseksual
d. Suami adalah kepala keluarga e. Pernikahan adalah monogamy
f. Orang tua adalah bagian dari pernikahan
g. Sering ada peran gender yang berbeda terkait dengan pasangan yang sudah menikah.
Sementara Wyatt 1990 mengatakan makna ppernikahan lainnya merupakan pemenuhan pribadi dan ekspresi cinta.
2.1.4.3 Pengertian Pernikahan Usia Muda
Pernikahan usia muda adalah pernikahan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dan seorang wanita yang umur keduanya masih dibawah batasan minimum yang diatur oleh Undang-Undang (Rohmah, 2009).Perkawinan usia muda dapat didefinisikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri pada usia masih muda/remaja. Sehubungan dengan perkawinan usia muda, maka ada baiknya kita terlebih dahulu melihat pengertian dari pada remaja (dalam hal ini yang dimaksud rentangan usianya). Golongan remaja muda adalah para gadis berusia 13-17 tahun, ini pun sangat tergantung pada kematangan secara seksual, sehingga penyimpangan-penyimpangan secara kasusistik pasti ada. Dan bagi laki-laki yang disebut remaja muda berusia 14-17 tahun.
Dan apabila remaja muda sudah menginjak 17-18 tahun mereka lazim disebut golongan muda/anak muda.Sebab sikaap mereka sudah mendekati pola. sikap tindak orang dewasa, walaupun dari sudut perkembangan mental belum matang sepenuhnya (Soerjono, 2004).
Pernikahanusia muda yaitu merupakan institusi agung untuk mengikat dua insan lawan jenis yang masih remaja dalam satu ikatan keluarga (Lutfiati, 2008). Pernikahanusia muda adalah perkawinan dibawah usia yang seharusnya belum siap untuk melaksanakan pernikahan (Nukman, 2009).
Sedangkan menurut (Riyadi, 2009), pernikahanusia muda adalah pernikahan yang para pihaknya masih sangat muda dan belum memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan dalam melakukan pernikahan. Pernikahan usia muda atau kawin muda sendiri adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan ataupun salah satu pasangannya masih dikategorikan remaja yang berusia dibawah 19 tahun (WHO, 2006).
Pernikahan usia muda merupakan pernikahan remaja dilihat dari segi umur masih belum cukup atau belum matang dimana di dalam UU Nomor 1 tahun 1974 pasal 71 yang menetapkan batas maksimum pernikahan diusia muda adalah perempuan umur 16 tahun dan laki-laki berusia 19 tahun itu baru sudah boleh menikah. Pernikahan usia muda adalah suatu keadaan dimana seseorang dituntut untuk menjalankan suatu peran (sebagai orang tua) yang belum saatnya untuk dijalankan sehingga hal ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan contohnya iri hati menjadi halangan dalam penyesuaian diri. Pernikahanusia muda adalah pernikahan yang dilakukan oleh usia muda antara laki-laki dengan perempuan yang mana usia mereka belum ada 20 tahun, berkisar antara 17-18 tahun.
Menurut BkkBN (2010), pernikahan usia muda adalah pernikahan yang dilakukan dibawah usia 20 tahun.
2.1.4.4 Faktor Yang Mempengaruhi Pernikahan Usia Muda
Faktor yang mempengaruhi perkawinan usia muda yaitu faktor ekonomi keluarga, kehendak orang tua, kemauan anak, pendidikan, adat dan budaya (Maimun, 2007).
Sedangkan menurut Hanggara (2010)faktor yang mempengaruhi pernikahanusia muda adalah faktor sosial budaya, faktor pendidikan, dan faktor ekonomi. Pada penelitian ini faktor yang mempengaruhi pernikahanusia muda adalah faktor pengetahuan, pendidikan, dorongan orang tua, pergaulan bebas, dan budaya.
1. Faktor Pengetahuan
Faktor yang memengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah adalah membaca buku porno dan menonton blue film. Sehingga jika terjadi kehamilan akibat hubungan seks pra nikah maka jalan yang diambil adalah menikah pada usia muda. Tetapi ada beberapa remaja yang berpandangan bahwa mereka menikah muda agar terhindar dari perbuatan
dosa, seperti seks sebelumnikah. Hal ini tanpa didasari oleh pengetahuan mereka tentang akibat menikah pada usia muda (Jazimah, 2006).
2. Faktor Pendidikan
Tingkat pendidikan yang rendah atau tidak melanjutkan sekolah lagi bagi seorang wanita dapat mendorong untuk cepat-cepat menikah.Permasalahan yang terjadi karena mereka tidak mengetahui seluk beluk pernikahan sehingga cenderung untuk cepat berkeluarga dan melahirkan anak. Selait itu tingkat pendidikan keluarga juga dapat mempengaruhi terjadinya perkawinan usia muda. Perkawinan usia muda juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat secara keseluruhan.
Suatu masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah akan cenderung untuk menikahkan anaknya dalam usia masih muda (Sekarningrum, 2002).
3. Faktor Pergaulan Bebas
Mayoritas laki-laki dan perempuan yang kawin dibawah umur20 tahun akan menyesali pernikahan mereka. Sayang sekali orang tua sendiri sering tetangga dan media, faktor pengetahuan yang minim ditambah rasa ingin tahu yang berlebihan, dan faktor perubahan zaman (Dina, 2006).
Suasana keluarga yang tenang dan penuh curahan kasih sayang dari orang- orang dewasa yang ada di sekelilingnya, akan menjadikan remaja dapat berkembang secara wajar dan mencapai kebahagiaan. Sedangkan suasana rumah tangga yang penuh konflik akan berpengaruh negative terhadap kepribadian dan kebahagiaan remaja yang pada akhirnya mereka melampiaskan perasaan jiwa dalam berbagai pergauoan dan prilaku yang menyimpang (Al-Mighwar, 2006).
Pernikahanusia muda terjadi karena akibat kurangnya pemantauan dari orang tua yang mana mengakibatkan kedua anak tersebut melakukan tindakan yang tidak pantas tanpa sepengetahuan orang tua. Hal ini tidak sepenuhnya kedua anak tersebut haruslah disalahkan.Mungkin dalam kehidupannya mereka kurang mendapat perhatian dari orang tuanya, kasih
sayang dari orang tuanya dan pemantauan dari orang tua dan mengakibatkan mereka melakukan pergaulan secara bebas yang mengakibatkan merusak karakter pemuda sebagai makhluk Tuhan.Masa-masa seumuran mereka yang pertumbuhan seksualnya meningkat dan masa-masa dimana mereka berkembang menuju kedewasaan.Jadi, bias saja dalam hubungannya mereka memiliki daya nafsu seksual yang tinggi dan tak tertahan atau terkendali lagi sehingga mereka berani melakukan hubungan seksual hanya demi penunjukan rasa cinta. Orang tua disini terlalu membebaskan anakanaknya dalam bergaul tanpa memantau dan terlalu sibuk dengan pekerjaannya (Wicaksono,2006).
Kebebasan pergaulan antar jenis kelamin pada remaja, dengan mudah dapat disaksikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dikota-kota besar.
Perkawinan pada usia remaja pada akhirnya menimbulkan masalah. Jadi dalam situasi apapun tingkah laku seksual pada remaja tidak pernah menguntungkan, pada hal masa remaja adalah periode peralihan kemasa dewasa (Sarwono, 2006).
4. Faktor Budaya
Pernikahanusia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan perwawan tua sehingga segera dikawinkan. Faktor adat dan budaya, dibeberapa belahan daerah di Indonesia, masih terdapat beberapa pemahaman tentang perjodohan.Dimana anak gadisnya sejak kecil telah dijodohkan orang tuanya dan akan segera dinikahkan sesaat setelah anak tersebut mengalami masa menstruasi. Padahal umunya anak-anak perempuan mulai menstruasi diusia 12 tahun. Maka dipastikan anak tersebut akandinikahkan pada usia 12 tahun, jauh dibawah batas usia minimum sebuah pernikahan yang diamanatkan UU (Ahmad, 2009).
2.1.4.5 Dampak Pernikahan Usia Muda
Menurut Devi (2012) dampak pernikahan usia muda antara lain a. Dampak Biologis
Anak secara biologis alat-alat refroduksinya masih dalam proses menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika sampai hamil dan melahirkan. Jika dipaksakan justru akan jadi trauma, perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak. Patut dipertanyakan apakan hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan dalam hak reproduksi antara istri dan suamiatau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan terhadap seorang anak.
b. Dampak Psikologis
Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks, sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Anak akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada pernikahan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan pernikahan akan menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan , hak bermain dan waktu luangnya serta hak lain- lainnya yang melekat pada diri anak.
c. Dampak Sosial
Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam masyarakat patriarki yang bias gender, yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan hanya dianggap pelengkap seks laki-laki saja.
Kondisis ini sangat bertentangan dengan ajaran agama apapun termasuk agama islam yang sangat menghormati perempuan. Kondisi ini hanya akan melestarikan budaya patriarki yang bias gender yang akan melahirkan kekerasan terhadap permpuan.
d. Dampak Terhadap Suami
Tidak bisa dipungkiri bahwa pada pasangan suami istri yang telah melangsungkan pernikahan diusia muda tidak bisa memenuhi atau tidak mengetahui hak dan kewajibannya sebagai suami istri.Hal tersebut timbul
dikarenakan belum matangnya fisik maupun mental mereka yang cenderung keduanya memiliki sifat keegoisan yang tinggi.
e. Dampak Terhadap Anak-Anaknya
Masyarakat yang telah melangsungkan pernikahan pada usia muda atau dibawah umur akan membawa dampak. Selain berdampak pada pasangan yang melangsungkan perkawinan pada usia muda, pernikahan usia muda juga berdampak pada anak-anaknya. Karena bagi wanita yang melangsungkan pernikahan dibawah umur 20 tahun, bila hamil akan mengalami gangguan pada kandungannya dan banyak juga dari mereka yang melahirkan anak yang premature.
2.2.3 Konflik
2.1.5.1. Pengertian Konflik
Kata konflik berasal dari bahasa latin yaitu conflictus yang berarti
“menyerang bersama-sama dengan kekuatan”. “Konflik dapat didefinisikan sebagai peristiwa sosial yang mengandungpenentangan atau ketidaksetujuan” (Lestari, 2012:101).
Dari pengertian tersebut dapat dilihat bahwa koflik terjadi ketika ada pihak yang merasa tidak setuju terhadap sesuatu hal atau peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, dan konflik terjadi ketika ada penentangan didalam sebuah peristiwa yang dialami.“konflik sebagai proses yang bermula saat salah satupihak menganggap pihak lain menggagalkan atau berupaya menggagalkan kepentingannya” Thomas ( seperti dikutip dalam Lestari,2012:101).
Konflik timbul akibat ketidak sesuaian antara apa yang diinginkan dengan perkiraan sebelumnya. “Situasi konflik dapat diketahui berdasarkan munculnya anggapan tentangketidak cocokan tujuan dan upaya untuk mengontrol pilihan satu sama lain, yangmembangkitkan perasaan dan perilaku untuk saling menentang” (Lestari, 20121:01).
Konflik yang dibicarakan dalam penelitian ini adalah konflik antar individu (interpersonal) yaitu suami dan istri dalam menjalani pernikahan.
Wahyudi(2005) menyatakan bahwa konflik antar pribadi biasanya didasari bahwa setiap individu itu mempunyai perbedaan dan keunikan, dimana dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada dua orang individu yang sama percis dalam aspek-aspek jasmaniah dan rohaniah. Konflik pernikahan adalah perbedaan-perbedaan yang terjadi antara suami dan istri tentang masalah pernikahan yang mempengaruhi kehidupan rumah tangganya.
Konflik Pernikahan yaitu perbedaan persepsi dan harapan-harapan yang terjadi pada pasangan suami istri tentang masalah pernikahan.
Masalah-masalah itu antara lain latar belakang pengalaman yang berbeda, kebutuhan-kebutuhan dan nilainilai yang mereka anut sebelum memutuskan untuk menjalin ikatan perkawinan” (Sadarjoen, 2005, 35-36).
2.1.5.2 Konflik Pasangan Suami Istri
Dalam setiap hubungan antara individu akan selalu muncul yang disebut dengan konflik, tak terkecuali dalam hubungan keluarga termasuk pasangan suami istri. Konflik seringkali dipandang sebagai perselisihan yangbersifat permusuhan dan membuat hubungan tidak berfungsi dengan baik. Begitu pula dengan kehidupan pernikahan sulit terhindar dari konflik.
Disisi lain konflik berguna untuk menguji bagaimana karakteristik suatu hubungan antarpribadi, dua pihak yang memiliki hubungan yang berkualitas akan mengelola konflik dengan cara yang positif. Konflik juga bermanfaat bagi perkembangan individu dalam hal menumbuhkan pengertian sosial. Selain itu konflik berguna untuk merangsang pemikiran- pemikiran baru, mempromosikan perubahan sosial, menegaskan suatu ikatan hubungan, membantu dalam membentuk perasaan tentang identitas pribadi, dan memahami berbagai hal yang dihadapi dalam kehidupan seharihari.
Konflik pasangan suami istri yaitu perbedaan persepsi dan harapanharapan yang terjadi pada pasangan suami istri tentang masalah pernikahan. Masalah-masalah itu antara lain latar belakang pengalaman yang berbeda, kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai yang mereka anut sebelum memutuskan untuk menjalin ikatan pernikahan. (Sadarjoen, 2005:35-36).
2.1.5.3 Sumber Konflik
Area atau sumber konflik dalam pasangan suami istri antara lain menyangkut persoalan-persoalan:
1. Keuangan (perolehan dan penggunaannya)
2. Pendidikan anak-anak (misalnya jumlah anak dan penanaman disiplin) 3. Hubungan pertemanan
4. Hubungan dengan keluarga besar. Termasuk dengan mertua
5. Aktivitas-aktivitas yang tidak disetujui oleh pasangan (persoalan minum- minuman keras, perjudian, extramarital affair).
6. Pembagian kerja dalam rumah tangga
7. Berbagai macam masalah (agama, politik, seks, komunikasi dalam perkawinan, dan aneka macam masalah sepele). (Sadarjoen, 2005:46)
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan ole Arond dan Pauker menemukan terdapatlima sumber utama konflik pasangan suami istri, sebagai berikut:
1. Finansial 2. Keluarga
3. Gaya komunikasi
4. Tugas-tugas rumah tangga
5. Selera pribad (Around dan Pauker seperti dikutip dalam Handayani, 2008:43)
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sumber konflik pasangan suami istri sebenarnya tidak jauh dari kehidupan pernikahan sehari-hari mereka. hal – hal yang menjadi rutinias mereka setiap hari misalnya tugas – tugas rumah tangga bisa menjadi pemicu sumber konflik jika keduanya tidak saling mengerti, seperti suami yang acuh terhadap tugas rumah karena ia merasa tugas ia hanyalah sebatas bekerja diluar rumah saja, dan disis lain sang istri merasa tidak dimengerti oleh suaminya padahal ia ingin dibantu dalam mengerjakan tugas – tugas didalam rumah.
BAB III