Edisi 1170
Tahun XXIV/2022 Jum’at, 16 Dzulhijah 1443 H / 15 Juli 2022 M
Diterbitkan oleh :
Bidang Penyelenggara Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI)
IBADAH QURBAN
REFLEKSI KESALEHAN
INDIVIDUAL DAN SOSIAL
Waktu Adzan : 12.05 WIB
Khatib : Dr. KH. Nur Alam Bakhtir, MA Imam I : H. Ahmad Muzakkir Abdurrahman, Lc Imam II : Drs. H. Hasanuddin Sinaga, MA Muadzin I : H. Saiful Anwar, S.Pd.I
Muadzin II : Abdullah Sengkang, S.Pd.I Qori : Abdullah Sengkang, S.Pd.I
(Maqro : QS. Al-Baqarah ayat 283 - 284)
Agenda Shalat Jum’at Masjid Istiqlal
Tanggal 15 Dzulhijah 1443 H / 15 Juli 2022 M
nPengantar Redaksi - 1 nKhutbah Jum’at - 2 nHikmah - 13 nGoresan Imam Besar - 15 nKajian Jum'at Pilihan - 18 nPelayanan Bimbingan Ikrar Syahadat - 20 nUPZ BAZNAS Istiqlal- 20 nPelayanan Masjid Istiqlal - 21 nJadwal Narasumber Kajian Dialog Zhuhur - 22 nShalat Ghaib - 23 nJadwal Waktu Shalat - 24 nPelaksana Penerbitan Mimbar Jum’at - 24
Daftar Isi
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah bersabda : Artinya : “Apabila engkau berkata pada temanmu “diamlah”
sewaktu imam (khatib) berkhutbah, maka engkau telah lalai (telah sia-sialah pahala Jum’atnya)” (HR. Bukhari dan Muslim).
IBADAH SHALAT JUMAT TERBUKA UNTUK UMUM DENGAN MEMATUHI PROTOKOL KESEHATAN
Disiarkan Langsung :
TELEVISI REPUBLIK INDONESIA (TVRI) Nasional YOUTUBE MASJID ISTIQLAL TV
PENGANTAR REDAKSI
Pembaca yang budiman, kembali kita bertemu dalam media Mimbar Jum’at pada edisi kali ini, setelah beberapa hari yang lalu kita sebagai umat Islam melaksanakan shalat Idul Adha dan ibadah qurban 1443 hijriah. Semoga ibadah shalat dan ibadah qurban kita diterima dan diridhai Allah subhanahu wata'ala.
Pada edisi kali ini, khatib menyampaikan tema : Ibadah qurban refleksi kesalehan individual dan sosial. Di antara wujud kepedulian sosial sebagai implementasi kesalehan sosial, Islam mengajarkan kepada muslim yang berkecukupan atau berkemampuan untuk berqurban dengan menyembelih hewan qurban sesuai dengan kemampuannya masing-masing, sebagai tanda rasa syukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah subhanahu wata'ala. Ibadah qurban merupakan salah satu ibadah sosial yang menunjukkan pentingnya hubungan manusia dengan Allah subhanahu wata'ala sekaligus menjalin hubungan manusia dengan manusia.
Selanjutnya dalam kolom goresan Imam Besar, tema yang diusung adalah “Menggapai maqam mahabbah”, yakni maqam cinta, bagaimana kekuatan cinta (the power of love) bisa mengubah segalanya. Jika cinta telah terpatri dalam jaringan badan seseorang, maka getaran cintanya akan menghapus semua kebencian.
Senarai dengan tema mahabbah, dalam kolom dialog zuhur pilihan, tema yang diusung adalah sifat Allah subhanahu wata'ala Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Tidak mungkin seorang hamba-Nya dapat hidup sesaat saja tanpa rahmat dan kasih sayang Allah subhanahu wata'ala.
Semoga kita semua tetap dalam lindungan-Nya dan selalu mendapatkan kasih sayang dari Allah subhanahu wata'ala.
Bismillaahi wa bihamdihi. Assalaamualaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Alhamdulillah was-syukru
lillah. Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasuulillah.
KHUTBAH JUM’AT
Oleh : DR. KH. A. Nur Alam Bakhtir, MA
Khutbah Pertama(Intisari Khutbah Jum’at, 16 Dzulhijah 1443 H / 15 Juli 2022 M)
Ibadah Qurban
Refleksi Kesalehan Individual dan Sosial
ِ ُدْمَحْلا ِ ّٰلل ِلاَ ْعَْ ْلِا ِءاَدَ ِلِ َ ْيِْنِمْؤُمْلا ُهَداَبِع َقذفَو ىِ ذلَّا
ذلِِا َلهِا َلِ ْنَا ُدَه ْشَا . ِتاَحِلا ذصلا ُ ّٰللا
ًةَداَه َش ُ َله َكْيِ َشَ َلِ ُه َدْحَو
ُه ُدْبَع ا ًدذمَحُم َنَ َدِّي َ س ّنَا ُدَه ْشَاَو .تاَجَر ذلدا َعيِفَر اَ ِبِ وُجْرَا . ِتاَز ِجْعُمْلا ُبِحا َص ُ ُله ْو ُس َرَو
ُهّٰللا َنَ ِدِّي َ س َلََع ْ ِّلّ َسَو ِّل َص ذم
ِئا َضَفْلا ِلِوُا ِهِباَ ْصَْاَو ِ ِلها َلََعَو ٍدذمَحُم ِتاَماَرَكْلاَو ل
.
ُ ُكَُ ِحَِر َن ْوُمِل ْسُمْلا اَ هيَُّا اَيَف , ُدْعَب اذمَا ُ ّٰللا
اوُقذتِا َ ّٰللا ِلاَثِتْم ِبِ
اوُقذتاَو . ِتاذيِ ْنَْمْلا ِباَنِتْجاَو ِتا َر ْوُمْأَمْلا َ ّٰللا
َلِ َو ِهِتاَقُت ذقَح
َلِِا ِهْيِف َن ْوُعَجْرُت اًمْوَي اوُقذتاَو . َن ْوُمِل ْسُم ْ ُتُْنَاَو ذلِِا ذنُتْوُمَت ِ ّٰللا
ذ ُثُ
َن ْوُمَل ْظُي َلِ ْ ُهُ َو ْتَب َسَك اَم ٍسْفَن ه ُكُ ذفَّ َوُت . ُدْعَب اذمَأ ىَوْقَتِب ِ سِْفَنَو ْ ُكُي ِصوُأ : ُساذنلا اَ هيَُّأ ِ ّٰللا
ِفِ ُهوُقذتاَف ،ذلَجَو ذزَع
﴿ ،ْ ُكُِلاَوْحَأ ِعيِ َجَ ِفِ ُهوُبِقا َرَو ،ِةَداَه ذشلاَو ِبْيَغْلا َنيِ ذلَّا اَ هيَُّأ يا
اوُقذتا اوُنَم أ َ ّٰللا
ْرِفْغَيَو ْ ُكَُلاَ ْعَْأ ْ ُكَُل ْحِل ْصُي * ا ًديِد َس ًلِ ْوَق اوُلوُقَو
َذللا ِع ِطُي ْنَمَو ْ ُكَُبوُنُذ ْ ُكَُل ﴾ اًيم ِظَع ا ًز ْوَف َزاَف ْدَقَف ُ َلهو ُس َرَو
:بازحألا[
70
-
71
].
Jamaah Jum’ah rahimakumullah.
Di dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wata'ala menunjukan adanya iktibar dua karakteristik makhluk yang sungguh berbeda bahkan bertolak belakang sifat dan prilakunya. Pertama, makhluk yang diciptakan-Nya sebagai makhluk yang sifatnya individualistik dan egoistik, yaitu “laba-laba” (al-‘Ankabut) yang menjadi salah satu nama surat di dalam al-Qur’an, yakni Surat al-‘Ankabut, surat yang ke-29. Allah subhanahu wata'ala menamai surat al-‘Ankabut dengan kalimat tunggal (mufrad). Bukan dengan kalimat jama’
yang menunjukkan banyak laba-laba (‘anakib). Penyebutan dengan nama al-‘Ankabut (satu laba-laba), seakan Allah subhanahu wata'ala memberitahukan kepada kita, bahwa karakter hidup laba-laba selalu menyendiri, tidak mau berkawan selalu bermusuhan satu dengan yang lainnya. Apapun bagi laba-laba dikerjakannya sendiri, cari mangsa sendiri dan dimakannya sendiri. Buat rumah sendiri dan ditempatinya sendiri. Jika ada temannya yang mendekatinya pasti dibunuh dan dimangsanya. Bahkan jantannya yang telah membuahinya, dengan sadis dibunuh dan dimangsanya juga.
Padahal di sisi lain, laba-laba memiliki keunggulan dengan benang sutranya yang walaupun begitu tipis tetapi sangat kuat.
Menurut para ilmuan barat dalam penelitiannya menemukan satu bukti bahwa benang sutra laba-laba lima kali lebih kuat dari kawat tembaga dalam ukuran yang sama. Sebab dengan alasan inilah orang-orang primitif yang hidup di pedalaman hutan-hutan belantara di manapun di dunia ini, mereka pada umumnya mencari dan memanfaatkan ribuan sarang laba-laba untuk dijadikan tambang dan jaring guna menjaring binatang buas dan menangkap ikan-ikan di sungai-sungai maupun di lautan lepas. Tetapi kenapa Allah subhanahu wata'ala berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui” (QS. al-
‘Ankabut: 41).
Ayat ini menunjukkan pesan kepada kita dari sisi kita manusia sebagai makhluk individu (insaniah), dimana semua perbuatan kita akan kita pertanggungjawabkan (al-mas’uliyah) secara
individu (QS. al-Isra’: 13), bahwa siapapun yang menggantungkan atau menyandarkan diri bahkan menghambakan diri kepada selain Allah subhanahu wata'ala mungkin kepada kekayaan materi, mungkin kepada kedudukan, pangkat ataupun jabatan, demi Allah, walaupun hidup berlimpahan harta, dengan rumah mewah yang dibangun dengan bahan dasar material yang serba mewah, serta isi rumah yang juga serba eksklusif dan mewah, hidup mereka tidak akan senang dan tenang, dengan kata lain hidup mereka akan selalu resah-gelisah yang popular dengan sebutan kalangkabut (kal’ankabut), seperti laba-laba penuh kebencian jauh dari kasih sayang. Bahan dasar rumah laba-laba adalah benang sutra terkuat, tetapi rumah yang dibangun laba-laba atau sarang laba- laba fungsinya sangat terbatas dan rapuh. Selain dari itu ayat ini pun memberikan pesan bahwa walaupun benang sutera laba-laba sungguh begitu kuat, namun benang sutera laba-laba tidak bisa diproduksi secara masal, sebab hidup laba-laba saling bermusuhan dan saling memangsa. Ini artinya suatu pembelajaran bagi kita umat manusia, bahwa siapaun ia, sepandai dan setinggi apapun ilmu yang dimiliki, jika orentasi hidupnya individualistik dan egoistik, maka hidup mereka akan sia-sia, tidak berguna. Dan perlu diingat, manusia sepandai apapun tidakan akan mampu menyelesaikan dan mengatasi urusannya sendiri, pasti memerlukan kehadirang orang lain.
Kedua, makhluk yang diciptakan-Nya sebagai makhluk kolektif, yang selalu kompak dan bekerjasama satu dengan yang lainnya, yakni semut (namlah) dan lebah (nahlah). Lebah dan semut dipilih menjadi nama surat dalam al-Qur’an, yakni Surat lebah-lebah (al-Nahl) surat yang ke 16, dan surat semut-semut (al-Naml), surat yang ke 27. Uniknya penamaan surat Semut dan surat Lebah, menggunakan kalimat majemuk (jama’), al-Nahl dan al-Naml, bukan menggunakan kalimat tungggal (mufrad), seperti penggunaan surat Laba-laba (al-‘Ankabut) tunggal, bukan jama’ ‘anakib. Penggunaan kalimat jama’ untuk surat al- Nahl dan al-Naml, menunjukkan iktibar bahwa kehidupan lebah dan semut ada sisi yang patut dicontoh, yakni mereka hidup bergotong royong, saling bekerja sama, dan saling menjaga dengan
memberikan informasi kepada golongonnya dikala ada susuatu yang mengancam eksistensinya. Sungguh luar biasa perilaku semut sehingga diabadikan dan diceritakan kepada kita umat manusia seperti yang difirmankan Allah di dalam al-Qur’an bahwa ketika Nabi Sulaiman alaihis salam, dengan bala tentaranya dari golongan jin, manusia burung berbaris dengan tertib, maka :
Tatkala mereka sampai dilembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! Masukklah ke dalam sarang- sarangmu, agar kamu tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia (Nabi Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia (Sulaiman) berdo’a, “Ya Tuhanku anugrahkanlah aku ilhamuntuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Enggkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (QS.
al-Naml: 18 - 19).
Banyak hal yang dapat dicontoh dari kehidupan semut untuk kita terapkan dalam kehidpan kita, yakni sifat sosialnya yang tinggi, semangat juangnya, tanggungjawabnya, kebersamaannya, saling menjaga dan saling memberikan informasi, mereka menjalankan tugasnya sesuai dengan tanggung jawabnya masing- masing. Komunitas semut menjalankan tugas sesuai dengan stratanya, ada ratu semut dan penjantan, ada semut prajurit, dan ada semut pekerja, mereka bekerja sesuai dengan porsinya masing- masing. Demikian halnya terkait dengan kehidupan lebah ada iktibar yang patut kita contoh, lebah makan sari pati bunga, dan yang dikeluarkan lebah adalah madu. Semakin tinggi kualitas sari pati bunga yang dimakan, maka semakin tinggi kualitas madu yang dihasilkan dan sangat bermanfaat. Al-Qur’an menegaskan: “Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah : Buatlah sarang di gunung- gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikian manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlan jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).”
Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam- macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan
bagi umat manusia. sungguh yang demikian itu terdapat tanda- tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir” (QS. An-Nahl:
68-69). Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan orang mukmin itu (sejatinya) bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Lebah hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak”
(HR. Ahmad).
Ketiga, sedangkan kita manusia diciptakan Allah subhanahu wata'ala mempunyai dua sisi (dimensi) sekaligus. Satu sisi manusia diciptakan sebagai makhluk individual dengan sebutan al-insan.
Sisi yang lain manusia diciptakan sebagai makhluk sosial dengan sebutan al-Nas. Indikasi manusia sebagai makhluk individual dengan sebutan al-insan, terungkap bahwa semua kata ganti (dhamir) yang disandarkan kepada kata al-insan selalu tunggal (mufrad). Karena itu manusia secara individu memiliki sifat dan karakter yang berbeda satu dengan yang lainnya walaupun lahir dalam keadaan kembar dari Rahim yang sama. Sebagai makhluk individual (al-insan), manusia ditaklif secara sendiri-sendiri.
Manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri-sendiri, baik buruk perbuatan manusia akan dipikul secara sendiri- sendiri. Allah subhanahu wata'ala berfirman: “Bahwa eseorang yang berdosa tidak akan memikul orang lain, dan bahwa manusia (al-insân) hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)”
(QS. al-Najm: 38 - 40).
“Dan setiap manusia (al-insan) telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya.Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan sebuah kitab dalam keadaan terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu” (Q.S. al-Isra’: 13 - 14).
Karena itu dalam perspektif Islam setiap individu, manusia (al-insan) mempunya hak dan kewajiban serta kesetaraan dan kebebasan yang sama untuk mengembangkan dan membangun kualitas diri pribadi masing-masing, terkait dimensi intelektual, dimensi moral maupun dimensi spiritual. Membangun kualitas
keimanan terkait keyakinan dalam mentauhidkan Allah subhanahu wata'ala agar terhujam dalam di dalam hati sanubari yang terdalam, lalu diwujudkannya dalam perilaku berupa ketaatan yang tulus kepada Allah subhanahu wata'ala dalam menjalankan perintah- Nya yang sifatnya vertikal dan invidual yang dikenal dengan ibadah mahdhah (hablun minallah). Rajin mengerjakan shalat yang wajib maupun yang sunnah, istiqamah mengerjakan puasa Ramadhan maupun puasa sunnah, jujur dalam mengeluarkan zakat mal sesuai dengan hitungan harta yang dimiliki, maupun menjalankan ibadah haji dan umrah, serta banyak berzikir dan berdo’a. Perilaku ini semua dikenal dengan kesalehan individual.
Sedangkan Indidikasi manusia sebagai makhluk sosial yang merupakan porsi atau sisi paling besar dalam diri kita ditunjukkan dengan kalimat al-Nas. Jika kalimat al-Insan hanya disebutkan sebanyak enam puluh lima kali (65 x), sedangkan kalimat al- Nas disebutkan sebanyak dua ratus empat puluh kali (240 x).
Dan ternyata di dalam al-Qur’an semua kata ganti (dhamir) yang disandarkan kepada kalimat al-Nas selalu memnggunakan kata ganti majemuk (jama’). Manusia sebagai makhluk sosial, kehidupan manusia membutuhkan kehadiran orang lain. Dengan sebab itu manusia sebagai makhluk sosial diciptakan Allah subhanahu wata'ala dari keturunan yang sama yaitu Adam alaihis salam.
Allah Subhanahu wata'ala berfirman: “Wahai manusia! sunnguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqa. Sungguh Allah mengetahui lagi Maha teliti” (QS. al- Hujurat: 13).
Pada kesempatan haji wada’, dikala wukuf di padang Arafah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah terkait kesetaraan manusia dengan menggunakan panggilan “Ya ayyuhan- nas” (wahai manusia). “Ya ayyuhan nas, innallaha qad adzhaba
‘ankum nakhwatal-jahiliyyah wa ta’azhzhumaha bil-aba, kullukum min Adam, wa Adamu min turab, laisa li ‘arabiyyin ‘ala a’jamiyyin illa bittaqwa (Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mencabut
dari kalian panatisme jahiliyyah yang suka mengagung agungkan nenek moyangnya. Semua kalian berasal dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah. Tidak ada keistimewaan orang Arab dihadapan non Arab kecuali taqwa).
Taqwa manusia sebagai makhluk sosial, dimensinya adalah berguna atau memberi manfaat bagi orang lain. Berguna bagi keluarga, bagi masyarakat, bagi Negara dan bangsa terutama bagi agama. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan: “Khairun nâs anfa’uhum lin-nâs”. Sebaik baiknya manusia adalah manusia yang paling memberi manfaat kepada orang lain. Ini artinya bahwa kesalehan individual mutlak harus difokuskan dan diimplementasikan untuk kesalehan sosial, Allah alaihis salam berpesan dalam al-Qur’an: “Dan carilah (pahala) negri akhirat (surga) dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat yang terbaik kepada-Mu. Sungguh Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan” (QS. al-Qashash : 77).
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa untuk mencapai surga Allah, kita diharuskan berbuat baik terhadap orang lain, peduli kepada orang lain terutama bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Di antara wujud kepedulian sosial sebagai implementasi kesalehan sosial, Islam mengajarkan kepada kita umat Islam yang berkecukupan atau berkemampuan untuk berqurban dengan menyembelih hewan Qurban sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, sebagai tanda syukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita. Firman Allah menegaskan : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat atau bersyukurlah kepada Tuhanmu, dan berqurbanlah” (QS. Al-Kautsar : 1 - 2).
Ibadah Qurban merupakan salah satu ibadah sosial yang menunjukkan pentingnya hubungan manusia dengan Allah sekaligus menjalin hubungan manusia dengan manusia sebagai hamba Allah. Saking pentingnya ibadah sosial kurban, dimana jumhur ulama mengakategorikan sebagai ibadah sunnah muaqqad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Man wajada
sa’atan falam yudhahhi fala yaqrabanna mushallana”. Yang artinya:
“Siapapun yang memiliki kemampuan namun tidak berqurban, maka jangan sekali-kali mendekat tempat shalat kami” (HR.
Ahmad dan Ibn Majah).
Ibadah kurban yang diawali dari kesejarahan adanya perintah Allah kepada Nabi Ibrahim alaihis salam, untuk menyembelih putra tunggal tersayang Isma’il alaihis salam, dan disambut oleh Ismail alaihis salam, dengan penuh kepasrahan dan ketulusan akan perintah Allah subhanahu wata'ala kepada ayahandanya, lalu diikhlaslah oleh ibundanya Siti Hajar walaupun iblis dengan gigih menggoda dan menghadangnya, tetapi ketiga pigur, ayah, anak dan istri, lulus menghadapi ujian berat itu, dan Allah menggantinya dengan sembelihan yang besar (wa fadainahu bidzibhin ‘azhim) seperti dijelaskan di dalam al-Qur’an surat ash-Shafat ayat 102 hingga 110. Kemudian ibadah kurban yang diwariskan syariatnya kepada kita umat Islam dengan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan salah satu dari syi’ar Islam. Allah subhanahu wata'ala berfirman : “Dan unta- unta itu Kami jadikan untukmu sebagai bagian dari syi’ar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri. Kemudian apabila telah rebah mati, maka makanlah sebagian dan beri makanlah orang yang meresa cukup dengan apa yang ada padanya, dan orang-orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan untukmua agar kamu bersyukur. Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan kamu…”
(QS. Al-Hajj : 36 - 37). r
َكَربا ه ّٰللا يت َيَّٰ ْلْا َنيم يهْييف اَميب ْ هكُ ايَّياَو ينَِعَفَنَو ي ْيْ يظَعْلا ينٰاْرهقْلا يفِ ْ هكَُلَو ْ يلِ
.ه ْيْيلَعْلا هعْييم اسلا َوهه ههانيا ههَتَو َلَيت ْ هكُْنيمَو ْ يّنِيم َلابَقَتَو ي ْيْيكَحْلا يرْكيّلاَو هريفْغَت ْ سَأَو َ ّٰللا
َسيلَو ْ هكَُلَو ْ يلِ َ ْيْ يظَعْلا َز ْوَف اَيَف يتاَميل ْسهمْلاَو َ ْيْيميل ْسهمْلا يريئا
َ ْيْيبيئااتلا َةاَ َنَ َيَّ َو َنْييريفْغَت ْ سهمْلا
هْيْيحارلا هر ْوهفَغلا َوهه ههانِا
َدْمَحْلإ َّنِإ ل ّٰ للِ
لب ُذوُعَنَو ْهُرلفْغَت ْ سَنَو ُهُنْيلعَت ْ سَنَو ُه ُدَمْ َنَ
ل ّٰلِ
ْنلم
أ لر ْوُ ُشُ
لهلدْ َيَ ْنَم ،اَنللاَ ْعْ أ لتاَئّلي َس ْنلمَو اَن ل سُفْن ُ ّٰلِإ
َّل لضُم َلاَف َّلا
ِ إ َ َلَ
ِ إ َلا ْن أ ُدَه ْش أ .ُ َلَ َيلداَه َلاَف ْللل ْضُي ْنَمَو ُ َلَ
ُ ّٰلِإ ُهَدْحَو
ُةَلا َّصلإَو .ُ ُلَ ْو ُس َرَو ُه ُدْبَع إًدَّمَحُم َّن أ ُدَه ْش أَو ُ َلَ َكْيل َشُ َلا لإَو .لهلبْ َصََو ل للَ أ َلََعَو ٍدَّمَحُم َلََع ُمَلا َّس
إوُقَّتلإ ُساَّنلإ اَ هيََإ َايَف ُدْعَب اَّمَإ َ ّٰلِإ
ىَ َنَ اَّ َعْ إْوُ َتَْنإَو َرَمَإ اَمْيلف
َّنَإ إْوُمَلْعإَو َ ّٰلِإ
لهلتَكلئ لَملب َنَـَثَو له لسْفَنلب لهْيلف أَدَب ٍرْمَ لب ْ ُكَُرَمَإ
َّنلإ : َلََاعَت َلاَقَو له لس ْدُقلب َ ّٰلِإ
لبَِّنلإ َلََع َن ْوهل َصُي ُهَتَكلئ لَمَو
.اًمْيلل ْسَت إْوُملّل َسَو لهْيَلَع إْوهل َص إْوُنَم أ َنْيل َّلَّإ اَ هيََإ آي َّمُهّٰللإ
َلََع لّل َص
َ ل لِ ُس ُرَو َكلئ آيلبْنَإ َلََعَو ٍدَّمَحُم َنَلدلّي َ س لل أ َلََعَو ٍدَّمَحُم َنَلدلّي َ س َضْرإَو َ ْيْلبَّرَقُلمْإ لةَكلئ لَمَو َّمُهّٰللإ
لبَِإ َنْيلد لشإَّرلإ لءاَفَلُلخْإ لنَع
َو َ ْيْلعلباَّتلإَو لةَباَح َّصلإ لةَّيلقَب ْنَعَو للََعَو ناَمْثُع َورَ ُعْ َوٍرْكَب يلعلب َتَ
َلَلإ ٍنا َسْحل لب ْمُهَل َ ْيْلعلباَّتلإ َكلتَ ْحَْرلب ْمُهَعَم اَّنَع َضْرإَو لنْيلّلإ لمْوَي
َ ْيْل لحْإَّرلإ َمَحْرَإ َيَ
َّمُهّٰللإ لتاَنلمْؤُلمْإَو َ ْيْلنلمْؤُمْلإو لتاَملل ْسُلمْإَو َ ْيْلملل ْسُملل ْرلفْغإ
ّن إ لتإَوْمَلاْإَو ْمُ ْنْلم لء آيْحَلاَإ ِ . لتإَوْعَّلإ ُبْيلجُم ٌبْيلرَق ٌعْيل َسَ َك
Khutbah Kedua
َّمُهّٰللإ ْ ُصُْنإَو َ ْيْلكل ْشُّلمْإَو َكْ لّشّلإ َّللذ أَو َ ْيْلملل ْسُلمْإَو َمَلا ْسللاْإ َّزلعَإ
. َ ْيْلملل ْسُلمْإ َلَذَخ ْنَم ْلُذْخإَو َنْيلّلإ َ َصَُن ْنَم َّمُهّٰللإ
اَّنَع ْعَفْدإ
إو َء َب َولْإَو َءَلاَبلْإ َّطلإو ءلاغل
ْو ُعا َن ْلإو ْو ُر ُك ْو َءْو ُسَو َللَِلا َّزلإَو َنَ
اَّي ل سْيلنو ُدْنلإ َنَل َلََب ْنَع َن َطَب اَمَو اَ ْنْلم َرَه َظ اَم َنَحللمْإَو لةَنْتلفلْإ . َ ْيْلمَلاَعلْإ َّبَر َيَ ًةَّم آع َ ْيْلملل ْسُلمْإ لنإ َ ْلَُبلْإ لرلئا َسَو ًة َّص آخ َّمُهّٰللإ ٍيْع َسَو ٍر ْوُ ْبَْم ٍلَ َعْ لّ ُكلل ْمُهْقلّفَوَو َنَلر ْوُمُأ َة َلا ُو ْحلل ْصَإ
ْمل لبِ ْ ُشّْنإَو لدَابلعلإ َلََع ْمُهْف لّطَعَو َد َلالبلإ ُمل لبِ ْرُ ْعْإَو ٍرْوُك ْشَم ُدإَّوَج َيَ ُ ْيْلرَك َيَ لدإَد ْض لأإ َلََع ْ ُهُ ْ ُصُْنإَو لدإَد َّسلإَو لل ْدَعلإ َةَيإَر ْمَحْرإ مهلّلإ . ٍةَّ ُغَُو ٍةَّملهَل ْدُم َّ ُكُ اَ ْنَْع ْف لشْكإَو ةَّمُلأإ لهلذَه
ٍءْو ُس َّ ُكُ اَ ْنَْع ْفل ْصْإَو، ٍةَمْعلنَو ٍ ْيَْخ َّ ُكُ اَ ْيَْلَع ْ ُشّْنإَو ْ ُهُ ْ ُصُْنإَو ٍةَمْقلنَو لقَو ًةَن َ سَح لةَرلخ لأْإ لفِ َو ًةَن َ سَح اَيْنهلإ لفِ َانلت أ اَنَّبَر َبإَذَع اَن
.لراَّنلإ َداَبلع ل ّٰلِإ َّنلإ ! َ ّٰلِإ ىلذ لء آتْي
ِ إَو لنا َسْحللاْإَو لل ْدَعلْ لب ُرُمْآَي
ْ ُكَُّلَعَل ْ ُكُ ُظلعَي يْغَبلْإَو لرَكْنُلمْإَو لء آشْحَفلْإ لنَع ىَ ْنَْيَو َبِ ْرُقلْإ إو ُرُكْذإَو َن ْو ُرَّكَذَت َ ّٰلِإ
ُك ْشإَو ْ ُكُْرُك ْذَي َ ْيْ لظَعلْإ لهلمَعلن َلََع ُه ْو ُر
ُرْكل َلَّ َو ْ ُكُْدلزَي ل ّٰلِإ
َو ْ َبْْكَإ
أ لق
ْي ُم
َّصلإ إو
َلا
َة
...
M
anusia menjalankan misi dan amanah kehidupan sesuai tugasnya adalah sebagai khalifatullah, walau watak dasar manusia adalah suka membuat kerusakan dan menumpahkan darah.Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30, terjadi dialog.
Malaikat sebagai sosok yang selalu patuh dan selalu menjalankan yang diperintahkan mempertanyakan kenapa manusia yang dijadikan khalifah di muka bumi. Mereka (malaikat) berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?".
Akan tetapi Allah subhanahu wata'ala memiliki maksud yang tidak diketahui dan patut kita renungkan, dengan memberi jawaban berikut. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Masya Allah, bahwa kesempurnaan adalah milik Allah subhanahu wata'ala. Dan ada ungkapan "Sebaik-baik tupai meloncat pasti akan jatuh juga". Sepatutnya manusia merenungi untuk semakin menyadari dari apa ia diciptakan, dari mana dan untuk apa ia dihadirkan, dan kemana tujuan akhir dan ia akan dikembalikan. Banyak monumen sejarah kehambaan manusia kepada Rabb-nya untuk kita napak tilasi, untuk semakin kita memahami jati diri manusia sebagai hamba Allah. Sebagaimana proses sejarah syariat qurban, ibadah haji, kabah sebagai baitullah (rumah Allah), dan lainnya.
Pastinya kita tidak akan dapat memuaskan hasrat orang banyak, namun paling tidak ada yang kita perbuat untuk bermanfaat bagi
HIKMAH
Monumen Kehambaan
Oleh : H. Mulyadi, SE.I
orang lain dan awali semua dengan niat Lillahi Taala (karena Allah subhanahu wata'ala) semata. Dalam ungkapan indah Imam Syafii yang mengatakan : “Kita semua tidak akan mampu membuat semua manusia senang, maka perbaikilah hubungan antara diri kita dengan Allah, dan jangan pedulikan apa kata manusia.”
Islam mengajarkan untuk selalu melihat kebaikan seseorang atau sisi keindahan, bukan pada aib dan kekurangannya.
Ungkapan bijak bila seseorang ditanya tentang dirinya yang tidak sempurna. Apa hal terindah yang pernah kamu lihat?. "Saya belum pernah melihat yg lebih indah dari orang yg telah melihat semua kekuranganku namun masih tetap mencintaiku". Demikian hendaknya menyikapi diri dan kehidupan ini agar kita selalu dekat dengan Allah subhanahu wata'ala, semangat, dan optimis.
Akhirnya kami tutup dengan kalimat indah berikut: "Orang- orang menghapus masa lalumu yang indah akibat satu sikap burukmu, sedangkan Allah menghapus masa lalumu yang buruk dengan pertaubatanmu" (Muhammad Mutawalli al-Sya'rawi). Wa Allahu a'lamu bis shawab. Alfaqir. r
,رئاص بئارخ لىا هنارعم ,لةذم رادو,لةزم ضحد اينلدا نا نهكاسو لىا اهانغو ,فوقوم قرفلا لىع اهلشم ,رئاز روبقلا لىا ا
راسعا ايهف راثكالا ,فوصرم رقفلا ,
راسي ايهف راسعالاو
font 28
Dunia adalah batu yang licin dan kampung yang kumuh. Bangunannya kelak roboh, penduduknya adalah calon penghuni kubur, apa yang dikumpulkan akan ditinggalkan, apa yang dibanggakan akan disesalkan, mengejarnya sulit, meninggalkannya mudah.
“Dunia adalah batu yang licin dan kampung yang kumuh. Bangunannya kelak roboh, penduduknya adalah
calon penghuni kubur, apa yang dikumpulkan akan ditinggalkan, apa yang dibanggakan akan disesalkan,
mengejarnya sulit, meninggalkannya mudah”
(Imam Syafi'i rahimahumullah)
S
alah satu target para salik (spiritual traveler) ialah makam cinta (mahabbah). Kekuatan cinta bisa mengubah buaya menjadi cicak atau sebaliknya cicak menjadi buaya. Kekuatan cinta (the power of love) bisa mengubah segala-galanya. Kekuatan cinta pada diri seseorang akan mengimbas pada seluruh ruang dan waktu. Jika cinta sudah terpatri dalam seluruh jaringan badan seseorang, vibrasinya akan menghapus semua kebencian.Sebagai manifestasinya dalam kehidupan, begitu bertemu dengan seseorang, ia tersenyum, sebagai ungkapan dan tanda rasa cinta. Adress cinta paling kuat tentu adalah Allah subhanahu wata'ala. Bermesraan dengan Allah subhanahu wata'ala adalah puncak segala kenikmatan.
Inilah yang disebut maqam mahabbah oleh seorang sufi perempuan yang terkenal dengan nama Rabi’ah al-Adawiyyah.
Cinta tidak bisa diterangkan, tetapi hanya bisa dirasakan. Terkadang sebuah rasa tidak ada kosakata yang tersedia untuk menggambarkan kedalamannya. Kosakata yang tersedia didominasi oleh kebutuhan fisik sehingga untuk mencari kata yang bisa memfasilitasi keinginan rohani tidak cukup.
Terminologi dan kosakata yang tersedia lebih banyak berkonotasi cinta kepada fisik materi, tetapi terlalu sedikit kosakata cinta secara spiritual. Mungkin itulah sebabnya mengapa Allah subhanahu wata'ala memilih bahasa Arab sebagai bahasa al-Quran karena kosakata spiritualnya lebih kaya. Kosakata cinta dalam al-Quran menurut ulama tafsir ada 14 kosakata, mulai dari cinta monyet sampai cinta Ilahi.
Bagi para sufi, cinta Allah bersifat primer, sementara cinta hamba sekunder. Primer itu inti, substansi. Yang sekunder itu tidak substansial.
Pemilik cinta sesungguhnya hanya Allah subhanahu wata'ala. Hakikat cinta yang sesungguhnya adalah unconditional love (cinta tanpa syarat) atau kalangan psikolog menyebutnya the saint lover.
GORESAN IMAM BESAR
Menggapai Makam Mahabbah
Oleh : Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA
Cinta yang tanpa pamrih adalah cinta primer. Cinta seperti ini berbeda dengan cinta kita yang memiliki kepentingan. Ketika sebelum kawin, masya Allah, kita sampai kehabisan kata-kata melukiskan kebaikan pujaan kita. Akan tetapi, sesudah kawin, kata-kata paling kasar pun tak jarang kita lontarkan.
Unconditional love pernah ditunjukkan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dilempari batu sampai tumitnya berdarah-darah oleh orang Thaif. Rasul hanya tersenyum, “Aduh umatku, seandainya engkau tahu visi misi yang kubawa, engkau pasti tidak akan melakukan ini,” demikian bisiknya.
Bahkan, ketika datang malaikat penjaga Gunung Thaif menawarkan bantuan untuk membalas perbuatan orang Tahif itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berucap, “Terima kasih, Allah lebih kuasa daripada makhluk. Jangan diapa-apakan. Mereka hanya tidak tahu.
Kelak kalau mereka sadar, mereka akan mencintai saya.”
Ada sebuah ungkapan dari ahli hakikat: “Kalau cinta sudah meliputi, tak ada lagi ruang kebencian di dalam diri seseorang. Sejelek apa pun dan kasarnya orang lain, ia tak akan membelas dengan kejelekan”. Banyak ulama besar kita telah mencapai tingkatan itu.
Imam Syafi’i pernah “dikerjai” oleh seorang tukang jahit saat memesan pembuatan baju. Lengan kanan baju itu lebih besar/longgar dibanding lengan kirinya yang kecil dan sempit. Imam Syafi’i bukannya complain dan marah kepada tukang jahit itu, malah berterima kasih. Imam Syafi’i menyebut, “Kebetulan saya suka menulis dan lengan yang lebih longgar ini memudahkan saya untuk menulis sebab lebih leluasa bergerak.”
Sungguh indah hidup ini jika tidak ada lagi benci. Ini bukan berarti kita harus menahan atau menghilangkan marah. Yang kita lakukan adalah bagaimana menjadikan diri ini penuh cinta sehingga potensi kemarahan kita berkurang.
Kita punya hak untuk marah dan itu harus diungkapkan dengan proporsional. Jangan karena makanan sedikit kurang enak lalu marah.
Jika cinta sudah menguasai seluruh relung-relung tubuh, sekecil apa pun sudah tidak ada lagi tempat untuk membenci siapa pun, termasuk benci terhadap iblis. (Harian Republika, 01 Juli 2022 M/01 Dzulhijjah 1443 H). r(DN)
K
ajian zhuhur ini bertepatan dengan hari raya Idul Adha.Merupakan lanjutkan pembacaan kitab tafsir Hai tafsir Al- Maraghi yang disusun oleh Syekh Ahmad Mustofa al-Maraghi. Pada kesempatan terdahulu telah membahas surah al-Fatihah sampai ayat kedua. Kajian ini merupakan tafsir ayat ketiga: ar-Rahman ar-Rahim.
Pembahasan
Diterangkan bahwa:
Makna Ar-Rahman
Ar-Rahman telah dijelaskan pada kesempatan terdahulu ketika membahas ayat pertama pada lafazh arrahmanirrahîm dalam bismillahirrahmanirrahîm. Sesungguhnya makna dari ar-rahman itu adalah Yang Menganugrahkan atau Yang Mencurahkan seperti air yang dicurahkan tumpah ruah. Allah Mencurahkan nikmatnya, senantiasa dan terus berbuat baik kepada hamba-Nya tanpa ada batasnya dan tidak pernah putus. Ketika kita menyebut Ar-Rahman, yang harus kita bayangkan adalah bahwa Allah mencurahkan lebih deras dari curahan air bah, bhakan tsunami terdahsyat tanpa ada batasnya dan tidak akan pernah putus.
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Sayyidina Hasan pernah berkata bahwa tidak mungkin seorang hamba Allah dapat hidup
KAJIAN ZHUHUR PILIHAN
Tafsir Al-Maraghi
(Surat Al-Fatihah Ayat 3) Oleh : Hasanudin Sinaga
ِيِحَّرلا ِن محَّْرلا لىع نسلمجا معنلل ضيفلما نحّْرلا نىعم ن ا :انلق ن أ قب س دق :
هدابع . لاب
،ةيانه لاو صرح نع عمسي لمو لىاعت للهبا صاخ ظفللا اذهو
باذكلا ةملي سبم تنف نم ضعبل رعش فى لا ا لىاعت هيرغ لىع هقلاط ا برعلا :
ناماحر تلزلا ىرولا ثيغ تن أو ... با أ ينمرك لا نبا يا د�با توسم
sesaat saja tanpa rahmat dan kasih sayang Allah. Adalah bohong jikalau ada orang yang merasa bisa hidup sedetik tanpa rahmat Allah, karena begitu rahmat Allah itu dicabut darinya maka selesai sudah hidup seseorang. Mana mungkin kita bisa lepas dari oksigen, detak jantung bila berhenti satu menit saja maka akan tamat hidup manusia.Rahmat Allah itu terus kita rasakan detik demi detik, jam demi jam hari demi hari pekan demi pekan, bulan demi bulannamun terkadang, karena terlalu seringnya mendapatkan manusia merasa seperti tidak mendapat rahmat, karena sering membatasi rahmat pada semisal jumlah uang yang besar.
Lafazh Rahman secara khusus hanya disandarkan kepada Allah.
Tidak pernah terdengar orang Arab menyebutnya untuk selain Allah.
Kecuali dalam syair syair-syair yang ditulis oleh sebagian penyair yang tujuannya untuk untuk mencari muka dan simpati. Salah satunya syair kepada Musailamah al-Kadzab, nabi palsu setelah nabi wafat.
Syairnya menyebutkan:
Kemuliaan dan Keagunganmu melampaui kemuliaan leluhurmu...
Engkau telah menjaga manusia dalam keadaan yang yang terus- menerus penuh kasih-sayang.
Makna Ar-Rahim
Ar-Rahim adalah sesuatu yang menetap di dalam diri yang berupa kasih sehingga sifat yang menetap dalam diri itu akan mendorong pemiliknya untuk bersikap ihsan: berbuat baik. Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut dua sifat ini selalu dirangkaikan: ar- rahman ar-rahim. Allah menyebutnya seperti itu untuk menjelaskan kepada para hamba bahwa bentuk pemeliharaan, penciptaan dan
ناماحر تلزلا ىرولا ثيغ تنأأو ... باأأ ينمركألا نبا يا دلمجبا توسم ناسحإلا نوكي انهع تيلا ةحمرلا ةفص له تباثلا وه يمحّرلاو .
ركذ دقو
،ناسحإاو ةحمر ةيبوبر هتيبوبر ن أ هدابعل ينبيل ينفصولا نيذه هناحب س ل ،رودصلا وح شرنم سوفنلا ونئمطم همو هيضري ام لعم لىع اولبقيل توبرج ةيبوبر مله رهقو
.
bentuk pengaturan Allah penuh dengan kasih sayang dan ihsan/
perbuatan yang menyenangkan. Allah menerima setiap amalan yang menyebabkan Allah ridha dan menyebabkan jiwa manusia tenang.
Bukan bentuk pemeliharaan pengaturan yang bersifat memaksa atau bersifat keras. Ar-rahman Ar-Rahim pada ayat ke-3 ini bukanlah bentuk pengulangan dari yang terdapat pada ayat pertama. Ayat ke-3 ini ingin menjelaskan, karena pada ayat kedua terdapat kata Rabb.
Rabb menunjukkan Allah Mencipta, Mengatur alam semesta dan Allah Menjamin rezeki.
Mudah bagi Allah mengatur alam semestan yang begini luas.
Maka akan sangat mudah bila hanya mengatur manusia yang kecil seperti debu di alam jagad. Namun demikian tarbiyah Allah itu bukanlah tarbiyah yang memaksa. Karena itulah maka Ar-Rahman Ar- Rahim di ayat ke-3 ini ingin menetralisir agar manusia tidak membayangkan bahwa karena Allah Yang Mencipta, Memelihara maka Allah akan berlaku sewenang-wenang. Allah mengatur alam jagad raya ini bukan dengan kesewenang-wenangan tetapi dengan ar-Rahman ar-Rahîm itu. Itulah kaitan antara Alhamdul illahi rabbil
‘alamîn dengan ar-Rahman ar- Rahîm.
Bila ada syariat Allah yang memerintahkan untuk shalat, puasa, zakat dan ibadah qurban, misalnya, bahkan dijelaskan adanya azab di akhirat bagi orang-orang yang melampaui batas dari apa yang Allah tetapkan, bagi orang-orang yang menghancurkan dan merusak
نلم ةرخآلا فى يملألا باذعلاو اينلدا فى هدابعل الله اهعشر تيلا تباوقعلاو هتامرح كتهناو هدودح ىّدعت -
،ةقيقلحا فى ةحمرو رهاظلا فى رهق هى
مله اهعشر تيلا ةدالجا نع اوفرحني لا تىح مله رجزو سانلل ةيبرت انهأل عنو متهداعس اهعابتا في ذ ا ىرت لاأأ ،همؤلابو همؤاقش اهزواتج فىو ،مهيم
عفني ام لعم في بيغترلبا هدلاوأأ ّبّري فيك فوءرلا لداولا لى ا أألج يوسلا طاصرلا نع اوداح هم اذ اف ،ةّدالجا اومزل اذ ا ميهل ا ناسح لااو
،اصيمح انهم ديج لا ينح ةبوقعلبا بيهترلا لى ا
hormatan dirinya sendiri. Secara zhahir hal ini dianggap manusia sebagai paksaan, namun ini adalah rahmat Allah bila dilihat dengan kacamata hakikat dimana secara hakekat itu rahmat agar manusia benar-benar tidak menyimpang dari hal yang baik dan mulia, karena harkat dan martabat manusia dihargai oleh Allah.
Agar manusia tidak menyimpang dari yang sudah baik ditetapkan Allah. Kalau mereka mau konsisten mengikuti jalur yang sudah Allah tetapkan mereka akan bahagia dan mendapat nikmat. Tetapi kalau mereka menyimpang maka hal itu akan menyengsarakan mereka sendiri. Hal ini merupakan sesuatu yang biasa dalam pendidikan manusia, sebagai targhib (motivasi) orang tua kadang-kadang menetapkan sesuatu yang bersifat reward: hadiah tetapi sebagai tarhib (ancaman) kadang-kadang memberikan punishment (hukuman).
Orang tua dalam mendidik Anaknya kadang memberi motivasi dengan reward semacam perkataan, “Kalau kamu rajin shalat nanti ayah belikan sepeda”. Namun bila melenceng dan melawan dari jalan yang ditetapkan maka orang tua memberi, semacam perkataan. “Awas, kalau sempat nanti ayah lihat tidak shalat tidak ayah beri uang jajan.”
Ketegasan sebagai ujian bagi siapa yang keras, tetapi kadang disesuaikan ukurannya bagi orang-orang yang memiliki belas kasihan.
“Kadang-kadang kita harus sedikit keras untuk tujuan mendidik.
Kalau kalian ingin tumbuhkan sifat kedisiplinan maka kadang- kadang perlu sedikit agak keras meskipun kepada orang yang paling kita cintai.
Kesimpulan
Sifat ar-Rahman menunjukkan bahwa rahmat Allah sangat banyak tak terbatas. Sifat ar-Rahim menjadikan Allah selalu berbuat baik kepada hamba-Nya. Adanya beban syariat dan ancaman dari Allah kepada manusia, adalah bentuk pencegahan Allah untuk manusia agar mereka tidak menyimpang dari hal-hal yang bagus, indah dan baik. Penyebutan ar-Rahman ar-Rahim di ayat ke-3 al-Fatihah adalah sebagai penegasan bahwa meskipun Allah, Rabb Yang Maha Mencipta dan Memelihara tidak akan berlaku sewenang-wenang kepada para
ماتم وب أ لاق
:
حمري نم لىع ناايح أ سقيلف ... امزاح كي نمو اورجديزل اسقف
Nama Agama Semula No.
1. Poernomo Widjaja Kristen
2. Yeremiah Nehemia Katholik
1 2
Andri Wiliam Savitri
Katholik Kristen
PELAYANAN BIMBINGAN IKRAR SYAHADAT
Pelayanan Ikrar Syahadat / Pembinaan Muallaf / Kajian dan Kegiatan Remaja Masjid Istiqlal dengan Narahubung :
•
Ustadz Djamalullail (081314124444) dan•
Ustadz Subhan (08128829 7714) 1. Mengisi form data via online https://muallafcenter.istiqlal.or.id/daftar.php
2. Pas foto ukuran 3 x 2 cm : 3 (tiga) lembar (warna) 3. Surat Pengantar dari RT bagi WNI
4. Foto copy KTP
5. Foto Copy Kartu Keluarga 6. Materai 10.000 : 2 (dua) lembar 7. Menyerahkan Surat Baptis
(Asli)
8. Surat Pengantar Kedutaan bagi WNA
9. Foto copy pasport bagi WNA 10. Saksi 2 (dua) orang
Persyaratan Pelayanan Bimbingan Ikrar Syahadat :
Telah terlaksana Ikrar Syadahat di Masjid Istiqlal pada periode tanggal 30 Juni - 6 Juli 2022 :
Unit Pengumpul Zakat (UPZ) BAZNAS Masjid Istiqlal
Menerima dan menyalurkan zakat, infaq, shadaqah Bank Mega Syari’ah (BMS) No. rekening 1000212008
(a/n. UPZ Masjid Istiqlal).
Narahubung : Bapak H. Budi Firmansyah, MM.
No HP/WA : 0856 9233 3688
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Majelis Ta’lim Kaum Ibu Pengajian Remaja Istiqlal (ARMI) Marching Band Istiqlal Seni Budaya Remaja Pagar Nusa Istiqlal Tapak Suci Istiqlal Konsultasi Agama
Hari Rabu &
Ahad Setiap Ahad
Setiap Ahad Setiap Ahad Setiap Ahad Setiap Ahad Senin s/d Jum’at
Pukul 08.00 - 11.00 11.00 - 12.00
09.00 - 15.00 09.00 - 11.00 07.00 - 11.30 15.30 - 20.00 10.30 - 15.00
Materi Al-Qur’an, Aqidah, Akhlak, Hadits, Fiqh Tahsinul Qur’an, Kajian Kitab Minhajul Abidin, Majelis Taklim Pemuda
Perkusi, Horn line, Pit, dll
Hadrah, Marawis dan Band
Seni Beladiri Seni Beladiri Pelayanan
Permasalahan Agama Kegiatan
Bagi jama’ah dan kaum Muslimin yang ingin meningkatkan wawasan ke-Islaman dapat mengikuti kegiatan kajian dan ta’lim yang dibimbing oleh para Ustadz / Guru yang berpengalaman sebagaimana jadwal dibawah ini :
PELAYANAN MASJID ISTIQLAL
No 1
2
3
4
5
6 Hari Sabtu
Ahad
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Tgl/Bln 16 Juli
17 Juli
18 Juli
19 Juli
20 Juli
21 Juli
Narasumber KH. Romli Jawahir, MA
Dr. H. Bambang Irawan, MA
H. Abu Hurairah Abd. Salam, Lc,MA KH. Mumtaz Mukhtar, Lc, MA Dr. Budi Utomo, Lc, MA
Drs. H. Amin Zaini
Bahasan/ Materi Tafsir Al - Munir
Ar-Risalatul- Qusyairiyyah fit- Tashawwuf Riyadussholihin
Kasyful Ghowamidh fi Ilmil Faraidh Tafsir Ibnu Katsir
Tematik Tafsir
Saksikan siaran langsung shalat lima waktu di AJWA TV dan Kajian Ba’da Dzuhur / Jum’at di
Youtube : Masjid Istiqlal TV.
Kegiatan kajian atau program yang terlewatkan dapat pula disaksikan melalui kanal Youtube diatas.
(Dukung layanan media Masjid Istiqlal silahkan subscribe, comment, like and share) JADWAL NARASUMBER KAJIAN DIALOG ZHUHUR
Niat Shalat Ghaib :
Shalat Ghaib berjama’ah yang telah dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 8 Juli 2022, adalah untuk :
1. Almarhumah Nafisatun Niswah binti H. Athourrohman Hisyam Wafat, 03 Juli 2022 di Yogyakarta
2. Almarhumah Ibu Habibah
3. Almarhumah Hj. Maisaroh binti H. Hasyim, usia 70 tahun Wafat, 08 Juli 2022 di Jakarta
4. Almarhumah Nur Kasidah Maruao binti Budiman Maruao, usia 80 tahun Wafat, 02 Juli 2022 di Jakarta
5. Almarhumah Yuniar Maruao binti Budiman Maruao, usia 63 tahun Wafat, 01 Januari 2022 di Nias Barat.
ا ىلَع ِىّلَصُا ا ِتاَو م َل
ِبِئاَغ ل َن ي تاَر يِب كَت َعَب رَا ىلاَعَ ت ِهَّلِل ِةَياَفِك لا َض رَ ف
SHALAT GHAIB
Shubuh Zhuhur Ashar Maghrib ‘Isya Tanggal
15 04 : 27 12 : 05 15 : 30 18 : 18 19 : 33 16 04 : 28 12 : 06 15 : 30 18 : 19 19 : 33 17 04 : 28 12 : 06 15 : 30 18 : 19 19 : 33 18 04 : 29 12 : 06 15 : 30 18 : 19 19 : 33 19 04 : 30 12 : 07 15 : 30 18 : 19 19 : 33 20 04 : 30 12 : 07 15 : 30 18 : 19 19 : 33 21 04 : 31 12 : 07 15 : 30 18 : 20 19 : 33
15 04:27 12:05 15:30 18:18 19:33
16 04:28 12:06 15:30 18:19 19:33 17 04:28 12:06 15:30 18:19 19:33 18 04:29 12:06 15:30 18:19 19:33 19 04:30 12:07 15:30 18:19 19:33 20 04:30 12:07 15:30 18:19 19:33 21 04:31 12:07 15:30 18:20 19:33
Untuk Jakarta dan sekitarnya berlaku Juli 2022
JADWAL WAKTU SHALATJadwal shalat berdasarkan kalender Masjid Istiqlal Jakarta
Pelaksana Penerbitan Mimbar Jum’at
Penasehat: Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA Penanggung Jawab: Kepala Bidang Penyelenggara Peribadatan, KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA Pimpinan Redaksi: H. Abu Hurairah Abd. Salam, Lc, MA Wakil Pim.Redaksi: H. Djamalullail, M.Pd.I Sekretaris Redaksi: H. Ahmad Mulyadi, SE.I Wakil Sekretaris: Hendra Sofiyansyah, S.Sos Dewan Redaksi: H. Saparwadi, SE.I; Drs. H.A. Dzulfatah Yasin, M.Ag; Abdul Rasyid Teguhdin Hamid, M.Pd; Budi Utomo, Lc, MA; Ibrahim Atho, S.Ag; Minhajul Afkar, SH.I; Nurul Fajriyah Bendahara: Endang Suherna, SE Wakil Bendahara: Subhan, S.Pd.I TU dan Sirkulasi: H. Aminuddin; Rullyansyah; Didiet Nanditio, SE; Joni Sagara; Suharti; Aril Muhrizadipura; Sumedi.
Suasana Shalat Idul Adha 1443 H dan Serah Terima Bantuan
JADWAL KAJIAN DI MASJID ISTIQLAL
@masjidistiqlalofficial Masjid Istiqlal TV 1. Tasawuf, Membedah Kitab Ihya Ulumiddin
Setiap Sabtu (Pukul 05.15 - 07.00)
Nara Sumber : Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA 2. Tematik Tafsir Al-Qur’anul Karim
Jum’at Pertama (Pukul 10.30 - 11.30) Nara Sumber : Dr. KH. Muchlis M. Hanafi 3. Tasawuf, Membedah Kitab Al-Hikam Jum’at Kedua (Pukul 10.30 - 11.30)
Nara Sumber : Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA 4. Tematik Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Jum’at Ketiga (Pukul 10.30 - 11.30)
Nara Sumber : Prof. Dr. KH. Ahmad Thib Raya, MA 5. Fiqih, Membedah Kitab Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu Jum’at Keempat (Pukul 10.30 - 11.30)
Nara Sumber : Dr. H. Syaifuddin Zuhri, MA
6. Dialog Zhuhur (Mengkaji Kitab-kitab Klasik/Turats) Senin s.d. Ahad (Usai Shalat Zhuhur)
Narasumber : Para Asatidz Pilihan