IRIGASI DAN DRAINASE
#13 Indeks Kinerja Sistem Irigasi
Prof. Dr. Indratmo Soekarno Dr. Joko Nugroho
Prof. Dr. Sri Legowo Wignyo Darsono Dr. Eng. Widyaningtias Ir. Hernawan Mahfudz, MT. Dr. Eka Oktariyanto N.
Dr. Ir. Yadi Suryadi Dr. Ana Nurganah Chaidar EDUNEX ITB
KK Teknik Sumberdaya Air – Teknik Sipil – FTSL
KINERJA SISTEM IRIGASI
2
https://www.youtube.com/watch?v=U05xXqNSkio
Indikator
Kinerja Sistem Jaringan Irigasi
Indikator Dan Bobot Masing-Masing Indikator sesuai dengan
Permen PUPR No 12/PRT/M/2015
No. Jaringan Irigasi
Indikator Bobot
1 Prasarana Fisik 45 %
2 Produktivitas Tanaman 15 %
3 Sarana Penunjang 10 % 4 Organisasi Personalia 15 %
5 Dokumentasi 5 %
6 Kondisi Kelembagaan P3A
10 %
Komponen Indeks Kinerja Sistem Irigasi :
• 1. Prasarana Fisik (45%) terdiri dari :
• Bangunan utama
• Saluran pembawa
• Bangunan pada saluran pembawa
• Saluran pembuang dan bangunannya
• Jalan masuk/inspeksi
• Kantor, perumahan, dan Gudang
• 2. Produtivitas Pelayanan Air (15%), terdiri dari :
• Pemenuhan kebutuhan air (faktor K)
• Realisasi luas tanam
• Produktivitas padi
• 3. Sarana Penunjang (10%), terdiri dari :
• Peralatan O&P
• Transportasi
• Alat-alat kantor Ranting/Pengamat/UPTD
• Alat komunikasi
• 4. Organisasi Personalia (15%), terdiri dari :
• Organisasi O&P telah disusun dengan batasan-batasan tanggungjawab dan tugas yang jelas
• Personalia
• 5. Dokumentasi (5%), terdiri dari :
• Buku data DI
• Peta dan gambar-gambar
• 6. Organisasi Perkumpulan Pemakai Air (10%), terdiri dari :
• GP3A/IP3A sudah berbadan hukum
• Kondisi kelembagaan GP3A/IP3A
• Rapat Ulu-ulu/P3A/GP3A/IP3A dengan Ranting /Pengamat/UPTD
• GP3A/IP3A aktif mengikuti survei/penelusuran jaringan
• Partisipasi anggota GP3A/IP3A dalam perbaikan jaringan dan penanganan bencana alam
• Iuran GP3A/IP3A untuk partisipasi perbaikan jaringan utama
• Partisipasi GP3A/IP3A dalam Perencanaan Tata Tanam dan Pengalokasikan Air
Batas Indeks Kondisi (KI) jaringan irigasi dan rekomendasi tindak lanjut
No Kondisi Jaringan
Irigasi Nilai KI Rekomendasi
1 Baik Sekali KI > 90 % Pemeliharaan rutin
2 Baik 90 > KI > 80% Pemeliharaan berkala yang bersifat perawatan.
3 Sedang 80 > KI > 60% Pemeliharaan berkala yang bersifat perbaikan.
4 Kurang KI < 60%
Pemeliharaan berkala yang bersifat perbaikan berat atau penggantian.→ Rehabilitasi Catatan : Dengan angka nilai KI tersebut tampak bahwa batasan antara OP
dan rehabilitasi berada pada KI 60%
PRODUKTIVITAS TANAMAN
Produktivitas di bidang pertanian adalah hasil
persatuan atau pemanenan lahan di seluruh wilayah panen.
Tinggi rendahnya produktivitas tanaman tergantung daripada :
• penerapan teknologi budidaya di lapangan,
• tingkat kesuburan tanah,
• potensi genetik tanaman.
CONTOH : TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SAWAH
• Pengolahan Lahan dan Pencucian Lahan
• Penyemaian Benih Padi
• Penanaman Padi
• Pemupukan Tanaman Padi
• Pemeliharaan Tanaman Padi
• Pengairan Sistem Intermitten Drainase
• Jenis Hama dan Penyakit
• Panen.
TINGKAT
KESUBURAN TANAH
Berdasarkan tingkat kesuburannya, tanah dibedakan menjadi 3 macam atau jenis yakni dapat dijelaskan antara lain sebagai berikut :
1. Tanah Subur yang terdiri atas tanah vulkanik, podzolik dan aluvial. Jenis tanah subur ini
terdapat di wilayah pulau Jawa, Nusa Tenggara dan Kalimantan;
2. Tanah Kurang Subur terdiri atas pasir, tanah gambut dan tanah kapur. Jenis tanah kurang subur ini terdapat di wilayah pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi;
3. Tanah Tidak Subur adalah jenis tanah yang tandus, karena mengalami proses pencucian oleh air hujan. Contoh jenis tanah tidak
subur adalah seperti tanah laterit. Jenis tanah tidak subur ini terdapat di wilayah
pulau Jawa bagian barat dan bagian selatan, serta pulau Kalimantan bagian barat.
SARANA PENUNJANG TANAMAN
Sarana penunjang usaha tani padi sawah Saprotan (Sarana Produksi
Pertanian):
• mesin pengolahan tanah,
• mesin pemberantas Organisme Pengganggu Tanaman (OPT),
• mesin pengolahan gabah dll
ORGANISASI PERSONALIA
(UPIM = Unit Pengelola Irigasi Modern)
KOMISI IRIGASI(KOMIR)
Komisi Irigasi (Komir) adalah organisasi yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah administrasi yang bersangkutan yang berfungsi untuk
mengkoordinasi dan membantu dalam merumuskan kebijakan di bidang irigasi untuk Daerah Irigasi di wilayahnya.
Komir memiliki tugas utama membantu Pemerintah Daerah dalam membuat kebijakan sesuai dengan kewenangannya yang meliputi :
a) Peningkatan jaringan irigasi;
b) Pengelolaan jaringan irigasi;
c) Pengelolaan Aset Irigasi d) Pengaturan air irigasi;
e) Keberlanjutan sistem irigasi; dan f) Pelaporan.
https://www.youtube.com/watch?v=tMIV3JJpouE
Pembagian Komisi Irigasi menurut Wilayah
Kerja
Komisi Irigasi
Komisi Irigasi Kabupaten/Kota
Dibentuk dengan keputusan bupati /
walikota
Bertanggung jawab kepada bupati /
walikota
Berkedudukan di Ibukota Kabupaten /
Kota
Komisi Irigasi Provinsi
Dibentuk dengan keputusan Gubernur
Bertanggung jawab kepada Gubernur
Berkedudukan di Ibukota Provinsi
Komisi Irigasi Antarprovinsi
Dibentuk dengan keputusan para
Gubernur ybs
Kesepakatan difasilitasi oleh pemerintah pusat
Berkedudukan di salah satu ibukota provinsi
bergiliran setiap 1 tahun
Tugas Komisi Irigasi
1. Merumuskan rencana kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi dan fungsi irigasi *
2. Merumuskan rencana tahunan penyediaan, pembagian, dan pemberian air irigasi yang efisien bagi pertanian dan keperluan lain;
3. Merekomendasikan prioritas alokasi dana pengelolaan irigasi melalui forum musyawarah pembangunan *
4. Memberikan pertimbangan mengenai izin alih fungsi lahan beririgasi; →khusus Komisi Irigasi Kabupaten/Kota untuk DI < 1000 ha
5. Merumuskan rencana tata tanam yang telah disiapkan oleh dinas instansi terkait dengan mempertimbangkan data debit air yang tersedia pada setiap daerah irigasi, pemberian air serentak atau golongan, kesesuaian jenis tanaman, serta rencana pembagian dan pemberian air
*
6. Merumuskan rencana pemeliharaan dan rehabilitasi jaringan irigasi yang meliputi prioritas penyediaan dana, pemeliharaan, dan rehabilitasi
7. Memberikan masukan dalam rangka evaluasi pengelolaan aset irigasi *
8. Memberikan pertimbangan dan masukan atas pemberian izin alokasi air untuk kegiatan perluasan daerah layanan jaringan irigasi dan peningkatan jaringan irigasi *
9. Memberikan masukan atas penetapan hak guna pakai air untuk irigasi dan hak guna usaha untuk irigasi kepada badan usaha, badan sosial, ataupun perseorangan **
10.Membahas dan memberi pertimbangan dalam mengatasi permasalahan daerah irigasi akibat kekeringan, kebanjiran, dan akibat bencana alam lain
Permen PU 33-2007 ttg Pedoman Pemberdayaan P3A GP3A IP3A
KONDISI KELEMBAGAAN
Terjaminnya penyediaan air irigasi bisa diupayakan
melalui peran Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).
P3A mengelola atau memelihara jaringan irigasi tersier dan mencari solusi secara lebih mandiri terhadap
persoalan-persoalan menyangkut air irigasi yang muncul di tingkat usaha tani
CONTOH STRUKTUR ORGANISA
SI P3A
https://www.youtube.com/watch?v=LPjJRO3YWzM
PERANGKAT KINERJA IRIGASI
1. Pengelolaan
Aset Irigasi (PAI)
INVENTARISASI
Inventarisasi merupakan langkah awal dalam rangka Pengelolaan Aset Irigasi (PAI).
Produk dari kegiatan inventarisasi adalah data aset irigasi di setiap daerah irigasi (DI) yang disimpan dalam pangkalan data yang berada di kantor pengelola daerah irigasi sesuai dengan kewenangannya.
Pelaksana inventarisasi adalah pengelola daerah irigasi yang bersangkutan.
Aset Irigasi
Aset Jaringan Irigasi
Jaringan Pembawa
Komponen Sipil
Komponen Mekanikal Elektrikal
Jaringan Pembuang
Komponen Sipil
Komponen Mekanikal Elektrikal
Aset Pendukung Pengelolaan
Kelembagaan, SDM, Bangunan Gedung, Peralatan OP, Lahan
JENIS ASET IRIGASI
DATA UMUM
Identitas Daerah Irigasi
Data Ketersediaan Air
Data Statis
Nama Daerah Irigasi;
Kewenangan pengelolaan;
Nama kantor pengelola;
Nama wilayah sungai, dll.
Data Dinamis Debit pada sumber air rata-rata per periode pemberian air, yaitu setiap
10 (sepuluh) harian atau 15 (lima belas) harian;
Debit pengambilan dari intake yang direncanakan setiap periode, dll.
Data Dinamis
Luas fungsional;
Luas terbangun jaringan utama dan tersier;
; Luas Padi tertanan, dll.
Data Statis
Nama bangunan utama (bendungan, bendung, pompa);dan
Nama sungai atau sumber air lainnya.
DATA INVENTARISASI
Jenis Data Aset
Ada 2 jenis
Data Aset Jaringan
Data Aset Jaringan meliputi kompoen sipil dan mekanikal elektrikal (ME) dari:
a. Bangunan utama
b. Bangunan Pelengkap pembawa c. Saluran
d. Bangunan drainase
e. Jaringan Irigasi air tanah (JIAT)
Data Aset Pendukung
Data aset pendukung bukan merupakan aspek fisik, mekanik, maupun elektrikal akan tetapi aspek – aspek yang meliputi:
a. Kelembagaan b. SDM
c. Bangunan Gedung
d. Peralatan Operasi dan Pemeliharaan e. Lahan yang bersangkutan dengan kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi
DATA INVENTARISASI
KODE ASET IRIGASI
1
Kabupaten/
Kota
2 Wilayah
Sungai
3
Daerah irigasi 4
Aset Irigasi
KODE ASET IRIGASI
Kode Kabupaten/Kota Kode Kabupaten/kota
ditentukan oleh BPS. Dari kode ini dapat diketahui suatu
kabupaten/kota masuk provinsi mana
Kode Wilayah Sungai
Kode Wilayah Sungai Terdiri dari 6 digit kode yaitu kode
pulau, nomor urut, dan kewenangan DI
KODE ASET IRIGASI
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04/PRT/M/2015
TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN WILAYAH SUNGAI KODE WILAYAH SUNGAI
Kode Daerah Irigasi
1. Terletak dalam 1 Kabupaten/kota
2. DI Lintas Kabupaten/Kota
1 dan 2 kode provinsi
3 dan 4 kode kabupaten/kota
5 sd 8 nomor urut DI sesuai Kepmen PUPR
1 dan 2 kode provinsi
3 dan 4 angka 00 kode lintas kabupaten/kota 5 sd 8 nomor urut DI sesuai Kepmen PUPR
KODE ASET IRIGASI
Kode Daerah Irigasi
3. DI lintas provinsi
4. Kode Kewenangan
• A = DI Kewenangan Pemerintah pusat
• B = DI Kewenangan Pemerintah Provinsi
• C = DI Kewenangan Pemerintah Kota
1 sd 4 angka 00 00 kode lintas provinsi
5 sd 8 nomor urut DI sesuai Kepmen PUPR
KODE ASET IRIGASI
Kode Aset Irigasi
Aset Irigasi
Kelompok Aset
Jaringan
Kelompok Aset
Pendukung
Sub Kel.
Aset Jaringan
Sub Sub Kel. Aset Jaringan
Jenis Aset Jaringan
Satuan Aset
Sub Kel.
Aset
Pendukung
Sub Sub Kel. Aset Pendukung
Jenis Aset
Pendukung
Satuan Aset
KODE ASET IRIGASI
• Aset irigasi terdiri atas jaringan irigasi dan pendukung pengelolaan irigasi.
• Dalam pengkodean hal tersebut berarti aset irigasi terdiri atas 2 (dua)
kelompok.
• Klasifikasi selanjutnya kelompok terbagi menjadi sub kelompok dan sub
kelompok menjadi sub sub kelompok, sub sub kelompok terdiri atas satuan aset.
• Sampai dengan sub-sub-kelompok aset irigasi terdiri atas 4 (empat) digit, setiap sub-sub-kelompok terdiri atas
beberapa jenis aset yang bisa sampai 2 (dua) digit,
• sedangkan satu jenis aset dalam satu Daerah Irigasi yang besar dapat sampai mencapai angka 3 (tiga) digit. Secara keseluruhan kode aset irigasi terdiri atas 9 (sembilan) digit.
KODE ASET IRIGASI
KODE ASET IRIGASI
A
persiapan kegiatan inventarisasi aset irigasi;
C
penelusuran jaringan dan luas area yang dilayani untuk mendapatkan data GPS dan pengisian formulir untuk data
yang harus dilihat di lapangan
D
validasi data
pemasukan data ke komputer E
pengumpulan data sekunder
B
penyusunan laporan F
inventarisasi
METODOLOGI INVENTARISASI ASET IRIGASI
Perencanaan Pengelolaan Aset Irigasi
Perencanaan Pengelolaan Aset Irigasi merupakan langkah kedua dalam rangkaian PAI.
RPAI mempunyai tujuan yaitu untuk mencapai tingkat pelayanan yang diinginkan.
Penyusunan RPAI dilaksanakan oleh instansi yang berwenang atas pengelolaan DI yang bersangkutan dengan menggunakan data hasil inventarisasi
PEMILIHAN TINGKAT PELAYANAN IRIGASI
Tingkat pelayanan yang akan diukur adalah
kinerja sistem irigasi.
Pemilihan Tingkat Pelayanan Irigasi
Asumsi yang digunakan untuk menghitung kinerja sistem:
1. Jaringan Irigasi baru dianggap mempunyai fungsi 100%
dengan masing-masing aset dalam jaringan tersebut berfungsi 100%.
2. Fungsi suatu aset bangunan akan berpengaruh terhadap seluruh luasan yang dilayani oleh bangunan tersebut.
3. Jika pada suatu saluran terdapat bangunan, maka kondisi dari fungsi layanan yang membatasi adalah yang kondisi fungsi layanannya yang terkecil.
PEDOMAN TINGKAT PELAYANAN
Rumusan Kinerja Jaringan Irigasi
KINERJA ASET
Kinerja Jaringan Irigasi
Kinerja Jaringan irigasi dipengaruhi oleh kinerja masing-masing aset secara individual. Penentuan kinerja individual aset jaringan diekspresikan sebagai fungsi dari masing-masing aset, yang dalam pedoman ini dibagi menjadi 4 :
a. Baik sekali (>90%)
b. Baik (70%-90%)
c. Sedang (55%-69%)
d. Buruk (<55%)
Penentuan kinerja individual aset jaringan dapat dinilai oleh petugas operasi dan pemeliharaan jaringan yang berpengalaman.
KINERJA ASET
Kinerja Aset Pendukung
Kinerja Aset pendukung yang terdiri atas unsur
kelembagaan, SDM, bangunan gedung, peralatan, dan lahan, kinerjanya ditentukan atas dasar
perbandingan antara keberadaan dan kebutuhan
aset pendukung sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi.
KINERJA ASET
Kinerja Aset Jaringan dan Tingkat Pelayanan Irigasi
Pada saat survei inventarisasi didapatkan kondisi dan fungsi dari masing-masing aset dalam ukuran kualitatif baik sekali, baik, sedang, dan buruk atau dalam ukuran kuantitatif dalam %. Ukuran tersebut didasarkan atas penilaian selama musim tanam terakhir.
Dari kondisi dan fungsi masing-masing aset tersebut dapat dihitung kinerja aset jaringan irigasi yang merupakan salah satu unsur untuk menghitung kinerja sistem irigasi.
Pada pedoman ini diasumsikan bahwa untuk setiap aset yang pada awalnya kinerja dari aset individual <100%, maka diharapkan setelah dilakukan perbaikan atau penggantian aset, kinerja jaringan dapat ditingkatkan menjadi 100%. Meskipun demikian tidak secara otomatis tingkat pelayanan irigasi akan meningkat secara nyata, karena masih diperlukan peningkatan aset pendukung, antara lain kelembagaan, SDM, dan Bangunan gedung.
KINERJA ASET
Karakteristik Aset Jaringan Irigasi
Satuan Unit Aset Jaringan terdiri dari : a. Komponen Sipil
b. Komponen Mekanikal – Elektrikal
Pembedaan komponen tersebut didasarkan pada bahan pembentuk komponennya sehingga akan berbeda pada umur rencananya.
Komponen sipil dapat terbentuk dari beberapa material, namun untuk proses evaluasi diambil material yang dominan dari komponen tersebut.
KARAKTERISTIK ASET
1. Kondisi dan Fungsi
Kondisi yang dimaksud disini adalah kondisi sebagai fungsi umur. Namun tidak selalu terjadinya penurunan kondisi paralel dengan penurunan fungsi.
a. Kondisi fisik jaringan irigasi dinilai berdasarkan tingkat kerusakan dibandingkan dengan kondisi awal.
b. Fungsi fisik jaringan irigasi dinilai berdasarkan kemampuan mengalirkan air dibandingkan dengan kapasitas rencana.
Karakteristik Aset Jaringan Irigasi
KARAKTERISTIK ASET
2. Area Layanan setiap aset jaringan mempunyai area layanan, yaitu luas persawahan yang mendapatkan air melalui aset jaringan yang bersangkutan.
> Suatu bendung mempunyai area layanan seluruh luas DI
> Bangunan sadap mempunyai area layanan seluas petak tersier yang mendapatkan air dari sadap yang bersangkutan.
> Area layanan ini hanya dikenakan pada aset yang mempunyai fungsi ikut mengatur/membagi aliran air.
KARAKTERISTIK ASET
Area Terpengaruh Kerusakan
✓ Dalam suatu aset mengalami kerusakan dan penurunan
fungsi, maka kemungkinan pada areal layanan tersebut juga terpengaruh oleh kerusakan tersebut.
✓ Bila penurunan fungsinya besar maka areal yang
terpengaruh tersebut juga besar, demikian pula sebaliknya.
✓ Pengaruh tersebut dapat karena fungsi dari aset yang turun, kondisi aset yang turun, atau nantinya pengaruh dari
pelaksanaan perbaikan atau penggantian yang diusulkan.
KARAKTERISTIK ASET
3. Nilai Aset Baru
Setiap Aset Jaringan mempunyai nilai yang berubah dari waktu ke waktu. Nilai Aset Baru penting untuk menghitung nilai aset yang ada.
KARAKTERISTIK ASET
Tujuan Upaya Penanganan
1. Penggantian dengan manfaat yang diharapkan mengembalikan kinerja seperti pada saat baru
2. Pemeliharaan dengan manfaat yang diharapkan untuk mencegah kinerja turun
3. Peningkatan dengan harapan manfaat kinerjanya naik
4. Perluasan dengan harapan kenaikan areal pelayanan, tujuan ini hanya dimungkinkan bila data ketersediaan airnya menunjukkan berlebih
5. Pengamanan dengan harapan erosi dapat dicegah, kecelakaan dapat dicegah
6. Efisiensi operasi dengan harapan operasi jaringan menjadi lebih cepat, dan lebih efisien.
UPAYA PENANGANAN
Urgensi Upaya Penanganan
Terdapat Empat Kategori Urgensi:
1. Sangat Urgen : Perlu dilaksanakan dalam satu atau dua tahun setelah
inventarisasi
2. Urgen : perlu dilaksanakan
penanganan dalam tiga tahun setelah inventarisasi
3. Kurang Urgen : dapat dilaksanakan
penanganan dalam empat tahun setelah inventarisasi
4. Jangka Panjang : dapat dilaksanakan penanganan dalam lima tahun setelah
inventarisasi
UPAYA PENANGANAN
Urgensi Upaya Penanganan
Keputusan mengenai urgensi tersebut ditentukan atas pertimbangan obyektif oleh petugas survey inventarisasi bersama dengan unsur P3A.
Pertimbangan obyektif tersebut antara lain dapat berupa ketahanan aset bertahan pada kondisi sekarang (saat inventarisasi), pengaruh penundaan usulan pekerjaan pada produksi padi, dan kemampuan keuangan guna membiayai usulan pekerjaan.
UPAYA PENANGANAN
Penanganan dan Prioritas Perbaikan
UPAYA PENANGANAN DAN PRIORITAS PERBAIKAN
Penanganan dan prioritas Perbaikan
• Penentuan jenis penanganan dan prioritas perbaikan jaringan irigasi akan difasilitasi prosesnya dan disimulasikan dengan software yang telah disiapkan sehingga dapat diketahui gambaran kinerja aset pasca penanganan/perbaikan dan mempermudah penyusunan rencana penanganan setiap tahunnya
• Dari hasil perhitungan akan ditampilkan tabel yang menunjukkan jenis penanganan dan prioritas perbaikan jaringan irigasi
• Dari tabel tersebut jaringan irigasi yang kondisinya baik dan rusak ringan ditangani melalui kegiatan pemeliharaan. Sedangkan yang kondisinya rusak sedang diperlukan perbaikan, dan yang kondisinya rusak berat perlu dilakukan perbaikan berat atau penggantian sesuai dengan daftar skala prioritas
• Hasil penyusunan daftar skala prioritas diatas kemudian dibahas bersama dengan P3A/GP3A/IP3A untuk memperoleh kesepakatan prioritas perbaikan jaringan irigasi.
UPAYA PENANGANAN DAN PRIORITAS PERBAIKAN
Pokok – Pokok Isi RPAI (Rencana Pengelolaan Aset Irigasi)
Pokok – pokok isi RPAI Rencana Investasi Aset Jaringan 5 tahun
Rencana Inventasi Aset
Pendukung 5 Tahun
Rencana Kinerja Aset Irigasi 5
Tahun