• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI PEMANFAATAN TEKNOLOGI RUMPON DALAM PENGOPERASIAN PURSE SEINE DI PERAIRAN SUMATERA BARAT. Oleh : Universitas Bung Hatta Padang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI PEMANFAATAN TEKNOLOGI RUMPON DALAM PENGOPERASIAN PURSE SEINE DI PERAIRAN SUMATERA BARAT. Oleh : Universitas Bung Hatta Padang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI PEMANFAATAN TEKNOLOGI RUMPON DALAM PENGOPERASIAN PURSE SEINE DI PERAIRAN SUMATERA BARAT

Oleh :

Sabar Jaya Telaumbanua1) Suardi ML dan Bukhari2) 1)

Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta Padang

2)

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hata Padang

Abstrak

Saat ini di Indonesia penangkapan Tuna dan Cakalang dengan teknologi rumpon telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumpon yang dipasang di perairan Sumatera Barat oleh nelayan Sibolga (Sumatera Utara) telah mempunyai teknologi yang baik, hal ini dapat terlihat dari material yang digunakan seperti pengapung dari plat besi yang berisi sterofoam cor, tali pemberat dari rantai dan tali dari serat sintesis, pemberat dari coran beton seberat 1800 kg (18 buah) dan material pemikat dari daun nibung yang dipasang pada kedalaman perairan sekitar 2000 meter. Biaya pembuatan atau pemasangan rumpon ini sekitar Rp. 28.892.000.

Purse seine sebagai alat tangkap yang digunakan berbentuk empat persegi panjang dengan panjang jaring 750 m dan dalam 120 m (2400 mata) dengan ukuran mata jaring 2 inch. Biaya pembuatan alat tangkap purse seine ini sekitar Rp 750.650.000 sedangkan untuk satu unit armada penangkapan purse seine memerlukan biaya sekitar Rp 1.279.328.500.

Jenis ikan yang tertangkap adalah ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis), Tongkol (Euthynnus sp) dan Tuna (Thunnus sp). Produksi hasil tangkapan purse seine selama empat kali setting dalam satu trip (7 hari) penangkapan adalah 15 ton.

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Potensi ikan di perairan laut Sumatera Barat tercatat sebesar 289.936 ton, dengan produksi pada tahun 2002 sebesar 85.745 ton atau 30% dari potensi. Dengan demikian di perairan Sumatera Barat masih memungkinkan untuk pengembangan pemanfaatan potensi perikanan terutama pada perairan lepas pantai maupun ZEEI (Marahudin, 2003). Dalam memacu peningkatan pemanfaatan sumberdaya perikanan secara efisien dan efektif guna mendapatkan hasil tangkapan yang optimal tanpa merusak kelestarian sumberdaya, maka perlu diterapkan teknologi yang memadai. Rumpon sebagai alat bantu penangkapan adalah

salah satu teknologi yang berfungsi untuk mengumpulkan atau mengkonsentrasikan ikan pada suatu kawasan perairan sehingga dengan demikian lebih memudahkan penangkapannya dengan alat tangkap yang sesuai, karena posisi daerah penangkapan telah diketahui sejak dini.

Mengingat makin berkembangnya

pemanfaatan teknologi rumpon dalam penangkapan ikan khususnya di perairan Sumatera Barat, maka perlu dilakukan suatu studi pemanfaatan teknologi rumpon dalam pengoperasian purse seine di perairan Sumatera Barat.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui :

(2)

1. Deskripsi rumpon meliputi desain dan

konstruksi, pemasangan dan

perawatan serta anggaran biaya. 2. Deskripsi alat tangkap purse seine. 3. Metode pengoperasian alat tangkap

purse seine di sekitar rumpon.

4. Jenis dan jumlah ikan hasil tangkapan purse seine dengan menggunakan rumpon.

5. Kendala pemanfaatan teknologi rumpon dalam pengoperasian purse seine di perairan Sumatera Barat.

2. METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Januari sampai dengan Februari 2004 di perairan Sumatera Barat.

2.2 Bahan dan Alat Penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian adalah : (1) rumpon permukaan sebagai alat pengumpul ikan, (2) unit penangkapan purse seine (kapal, alat tangkap, perlengkapan penangkapan dan perlengkapan hasil tangkapan), dan (3) alat dokumentasi.

2.3 Metode Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Sebagai kasusnya adalah mengikuti secara langsung aktivitas penangkapan ikan dengan

menggunakan unit penangkapan purse seine dalam pemanfaatan teknologi rumpon. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dan wawancara terhadap pemilik kapal, nakhoda dan Anak Buah Kapal (ABK). Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait dan didukung dengan studi pustaka yang sesuai dengan tujuan penelitian.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Rumpon

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumpon yang dipasang di perairan Sumatera Barat oleh nelayan Sibolga (Sumatera Utara) telah mempunyai teknologi yang baik, hal ini dapat terlihat dari material yang digunakan seperti pengapung dari plat besi dan diisi dengan sterofoam cor, tali pemberat dari rantai dan tali serat sintesis, pemberat dari coran beton seberat 1800 kg (18 buah) dan material pemikat dari daun nibung yang dipasang pada kedalaman perairan sekitar 2000 meter. Biaya pembuatan atau pemasangan rumpon ini sekitar Rp. 28.892.000. Spesifikasi rumpon secara rinci disajikan pada Tabel 1 sedangkan konstruksi rumpon yang dipasang di perairan Sumatera Barat dapat dilihat pada Gambar 1.

Tabel 1. Spesifikasi Rumpon

No. Bagian

Konstruksi Spesifikasi Satuan Volume

Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 1. Rakit/Pengapung buah 1 3.000.000 3.000.000 Panjang 2,5 m Diameter 0,78 m Berat 80 kg

Bahan plat besi berisi strerofoam

cor Warna merah 2. Cincin buah 2 37.000 74.000 Diameter : Luar 23 cm Dalam 20 cm Tebal 1,5 cm

(3)

1 2 3 4 5 6 7

Bahan besi stainlesteel 5/8 inch

Warna putih Berat 1,2 kg 3. Kili-kili buah 2 42.500 85.000 Atas : Luar 11,5 cm Dalam 8,5 cm Tebal 1,5 cm Bawah Luar 8,5 cm Dalam 5,5 cm Tebal 1,5 cm

Bahan besi stainlesteel 5/8 inch

Warna putih Berat 1,2 kg 4. Segel Unit 2 32.500 65.000 Panjang 8 cm Lebar 6 cm Tebal 1,5 cm

Bahan besi stainlesteel 5/8 inch

Warna putih Berat 0,8 kg 5. Rantai Berat 214 12.000 2.568.000 Panjang 15 m Diameter : Luar 5 cm Dalam 2 cm Tebal 1,5 cm

Bahan besi stainlesteel 5/8 inch

Warna putih Berat 214 kg 6. Tali PE Ball 10 2.000.000 20.000.000 Panjang 2200 m Diameter 57 mm Warna Putih Arah pintalan Z

7. Pipa Plastik Panjang 1 20.000 20.000

Panjang 1 m Diameter 12 cm Warna Hijau 8. Batu buah 3 10.000 30.000 Berat 20 kg 9. Pemberat Buah 18 75.000 1.350.000 Tinggi 38 cm Diameter 60 cm Berat 1800 kg 10. Tali PA Ball 2 600.000 1.200.000

(4)

1 2 3 4 5 6 7 Panjang 440 m Diameter 9,5 mm Warna Hijau Arah pintalan Z 11. Pengumpul/pemik at Unit 250 2.000 500.000

Bahan daun nibung

Warna hijau

Jarak antara ikatan 1,5 m

Biaya Investasi 28.892.000

Perkembangan dalam hal penggunaan teknologi rumpon untuk menarik kehadiran ikan di suatu perairan khususnya Sumatera Barat telah mulai di adopsi masyarakat pesisir khususnya Sasak Kabupaten Pasaman sejak tahun 1980-an, dengan teknologi sederhana yang dinamakan “rabo”. Pengapung terbuat dari potongan bambu, tali jangkar dari tali PE ukuran kecil, jangkar dari karung berisi pasir dan pengumpul dari daun pinang atau daun kelapa. Alat tangkap ikan yang dioperasikan di sekitar rabo adalah pancing vertikal (konvoi) dan jaring gill net lingkar (lingkung) (Suardi, 2001). Sementara nelayan purse seine Sibolga

(Sumatera Utara) yang telah

memanfaatkan teknologi rumpon sejak

tahun 1980-an, namun telah

menggunakan rumpon dengan teknologi yang lebih maju bila dibandingkan dengan nelayan dari Sumatera Barat khususnya Sasak Kabupaten Pasaman. Banyak manfaat yang didapat dari pemanfaatan teknologi rumpon ini antara lain : (1). Daerah penangkapan dapat ditentukan sejak awal, (2). Meningkatkan hasil

tangkapan, (3). Meningkatkan

pendapatan pemilik rumpon, (4). Meningkatkan pendapatan nelayan, dan (5). Mengurangi pemakaian bahan bakar minyak.

Ada tiga hal yang menyebabkan ketertinggalan nelayan Sumatera Barat di dalam memanfaatkan teknologi rumpon ini antara lain : (1). Kurangnya kesadaran nelayan di dalam pemanfaatan teknologi rumpon, (2). Modal yang dimiliki oleh nelayan di dalam penyediaan rumpon dengan armada penangkapan yang lebih maju cukup terbatas, dan (3). Kurangnya perhatian pemerintah terutama dinas terkait di dalam mengadopsi dan mengembangkan teknologi rumpon ini. 3.1.2 Armada Unit Penangkapan

Purse Seine

3.1.2.1 Spesifikasi dan Konstruksi Alat Tangkap Purse Seine

Tipe purse seine yang digunakan dalam penelitian ini tergolong tipe Amerika berbentuk empat persegi panjang dengan tubuh jaring terdiri atas sayap (wing), kantong (bunt), dan badan (body). Panjang jaring adalah 750 meter dan dalam 120 meter (2400 mata) dengan ukuran jaring 2 inch. Spesifikasi alat tangkap purse seine secara rinci disajikan pada Tabel 2 sedangkan konstruksi alat tangkap purse seine dapat dilihat pada Gambar 2.

(5)
(6)

Gambar 2. Konstruksi Alat Tangkap Purse Seine

Ukuran purse seine yang digunakan oleh nelayan Sibolga dapat dikatakan telah tergolong relatif besar baik dilihat ukuran panjang maupun dalamnya, sehingga mampu melingkari gerombolan ikan seluas 44.800 m2.

Osawa (1974), menyatakan bahwa ukuran purse seine yang lebih panjang dapat meningkatkan hasil tangkapan terutama untuk menangkap ikan perenang cepat, maksudnya adalah bahwa ukuran purse seine yang semakin panjang, maka ikan akan lebih kecil memperoleh kesempatan untuk melarikan diri. Hal ini juga ditekankan oleh Rumeli (1976), menyatakan bahwa untuk menangkap ikan perenang cepat seperti Tuna dan Tongkol dibutuhkan ukuran purse seine yang lebih panjang.

3.1.2.2 Kapal Purse Seine

Dalam penelitian ini kapal purse seine yang dioperasikan adalah KM. Hasil laut Jaya yang merupakan milik salah satu perusahaan perikanan di kota Sibolga dengan ukuran LOA (panjang total) 23,83 meter, BOA (lebar total) 7,70 meter dan Depth (dalam) 2,10 meter, tonnage 88 GT, material utama konstruksi adalah kayu dan tahun pembuatan 2001. Secara rinci spesifikasi dari kapal purse seine disajikan pada Tabel 3.

Kapal purse seine dari Sibolga yang dioperasikan di perairan Sumatera Barat ini mempunyai ukuran yang berbeda

dengan kapal purse yang ada di Sasak yang berukuran LOA (panjang total) 18,5, LOA (lebar total) 3,80 dan Depth (dalam) 2,5 meter, material dari kayu dengan mesin penggerak yang digunakan adalah mesin Fuso 180 PK dan jumlah ABK 20 orang (Putrayadi, 1990). Hal ini berarti kapal purse seine dari Sibolga (Sumatera Utara) yang beroperasi di perairan Sumatera Barat mempunyai ukuran yang lebih besar bila dibandingkan dengan kapal purse seine yang ada di Sasak. Ada lima hal yang menyebabkan nelayan Sibolga (Sumatera Utara) menggunakan kapal yang berukuran besar bila dibandingkan dengan Sasak (Sumatera Barat) antara lain adalah ; (1) daerah pemasangan rumpon dan pengoperasian alat tangkap purse seine adalah di perairan laut bebas dengan jarak 25-180 mil atau waktu tempuh 8-12 jam yang mampu menghadapi desakan arus dan gelombang atau badai yang besar, (2) lama operasi penangkapan yaitu maksimal sepuluh hari sehingga dengan demikian

kapal harus dapat menampung

persediaan kebutuhan selama kegiatan menangkap maupun hasil tangkapan yang diperoleh dari kegiatan menangkap tersebut, (3) kapal harus dapat menangani jaring yang cukup besar dengan menggunakan tenaga manusia yang sedikit mungkin, (4) kemanan nelayan dapat terjamin dan mampu menghilangkan kerja keras dan meletihkan.

(7)

Tabel 3. Spesifikasi Kapal Purse Seine

No Bagian Konstruksi Spesifikasi Satuan Volume Harga

Satuan (Rp) Jumlah (Rp)

1. Kapal :

a. Ukuran kapal Panjang 23,83 m

Lebar 7,70 m Dalam 2,10 m GT 88 ton Material kayu Unit 1 325.000.000 325.000.000 b. Mesin : 1. Mesin utama 2. Mesin bantu : - Mesin lampu - Mesin air

Merek nissan diesel Kekuatan 370 PK Merek Fuso Kekuatan 120 Merek mitsubishi Kekuatan 70 PK Unit Unit Unit 1 1 1 75.000.000 15.000.000 6.000.000 75.000.000 15.000.000 6.000.000 3.1.2.3 Perlengkapan Penangkapan Ikan dan Penanganan Hasil Tangkapan

Perlengkapan penangkapan ikan yang dianggap penting dalam pengoperasian alat tangkap purse seine ini adalah lampu, fish finder, sampan atau perahu kecil, boom, Roller dan Tangguk. Sedangkan

untuk penanganan hasil tangkapan dilengkapi dengan cold box sebanyak 2 buah, bak air bersih 1 buah, dan es sebanyak 400 batang. Spesifikasi dari perlengkapan penangkapan ikan dan penanganan hasil tangkapan secara rinci disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Spesifikasi Perlengkapan Penangkapan Ikan dan penanganan Hasil Tangkapan

No. Bagian Konstruksi Spesifikasi Satuan Volume Harga Satuan

(Rp) Jumlah (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 1. Lampu 1. Lampu halogen 2. Lampu Neon 3. Dinamo 1 buah 1000 watt 1 buah 20 watt 64 kw = 64.000 watt Buah Buah Unit 42 12 1 800.000 125.000 20.000.000 33.600.000 1.500.000 20.000.000 2. Alat-alat Navigasi: 1. Kompas 2. GPS 3. Radio komunikasi Buah Buah Buah 1 1 1 400.000 3.000.000 8.000.000 400.000 3.000.000 8.000.000 3. a. Sampan/perahu kecil 1.Lampu sampan 2. Lampu sorot 3. Lampu agur b. Serok/tangguk c. Boom d. Roller e. Fish finder Panjang 3,80 m Lebar 1,26 m Dalam 0,83 m 4 kap = 160 wt 80 wt 80 wt Unit Buah Buah Buah Buah Unit Unit Buah Unit 1 8 2 4 1 3 2 1 1 3.000.000 125.000 164.000 125.000 750.000 750.000 4.800.000 6.000.000 12.000.000 3.000.000 1.000.000 328.000 500.000 750.000 2.250.000 9.600.000 6.000.000 12.000.000

(8)

1 2 3 4 5 6 7

f. Mesin tempel Merk Kekuatan

15 PK yamaha

4. Penanganan Hasil

Tangkapan : Cold box Bak air bersih

Buah Buah 2 1 2.500.000 750.000 5.000.000 750.000 Biaya Investasi 107.678.000

3.1.2.4 Nelayan Purse Seine dan Sistem Bagi Hasil

Jumlah nelayan pada waktu

pengoperasian alat tangkap purse seine yang memanfaatkan teknologi rumpon ini adalah 45 orang. Nelayan tersebut ada sebagai nelayan tetap dan ada sebagai nelayan sembilan. Nelayan tetap adalah Kapten kapal, juru mesin, juru masak dan

juru sampan, sedangkan lainnya adalah nelayan sambilan. Sistem bagi hasil produksi hasil tangkapan purse seine setelah dikeluarkan biaya operasional adalah 60% untuk pemilik dan 40% untuk ABK. Jabatan, Tugas masing-masing nelayan dan sistem bagi hasil dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Jabatan, Tugas, dan Sistem Bagi Hasil Nelayan Purse Seine Sibolga

No. Jabatan ABK Tugas Jumlah Bagian Jumlah ABK Persentase (%)

1. Nakhoda Juru mudi 3 1 16,5

2. Wakil Nakhoda Pengganti tugas nakhoda bila nakhoda

berhalangan

2 1 11,0

3. Kepala Kamar

Mesin (KKM)

Mengoperasikan dan merawat mesin 2 1 11,0

4. Wakil Kepala Kamar

Mesin (KKM)

Pengganti Tugas KKM bila KKM berhalangan

1,5 1 8,25

5. Juru Lampung Menurunkan (setting) dan menarik

(hauling) pelampung pada bagian jaring

2 3 11,0

6. Juru Sampan Menentukan waktu pelingkaran jaring

hingga jaring selesai ditarik (hauling) ke atas kapal

1,5 2 8,25

7. Juru Batu Menurunkan (setting) dan menarik

(hauling) pemberat pada bagian jaring.

1,5 2 8,25

8. Juru Masak Memasak makanan dan minuman bagi

ABK

2 2 11,0

9. Juru Haluan Mengatur posisi kapal pada saat

tambat atau setelah jaring ditarik (hauling) ke atas kapal

1,5 2 8,25

10. ABK Biasa Membantu menurunkan (setting) dan

menarik (hauling) jaring ke atas kapal

1 30 5,5

Total 18 45 100

3.1.3 Daerah Penangkapan

Daerah penangkapan ikan pelagis besar khususnya jenis ikan pelagis besar dengan menggunakan alat tangkap purse seine merupakan daerah perairan bebas. Jarak tempuh dari pangkalan (fishing base) yaitu Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus (PPSB) ke daerah penangkapan (fishing ground) berkisar antara 25 mil sampai dengan 180 mil

dengan waktu tempuh 8-12 jam pelayaran. Lama operasi penangkapan dalam satu trip maksimum 10 hari dengan banyaknya setting berkisar antara 2-8 kali pada kedalaman perairan sekitar 2000 meter sampai dengan 4000 meter. Kondisi oseanografi daerah penangkapan pada saat pengoperasian alat tangkap, disajikan pada Tabel 6.

(9)

Tabel 6. Parameter Oseanografi Daerah Penangkapan

No. Parameter Alat Unit

1. Arah Angin Secara Visual Utara

2. Arus : a. Arah b. Kecepatan (m/dt) Secara visual Stopwatch, gabus Selatan 5 menit 43 detik 3. Kecerahan (%) Secchidisk 0,08% 4. Suhu (0C) Termometer 310C 5. Salinitas (0/00) Refraktometer 32,50/00 3.1.4 Metode Penangkapan a. Setting :

- Setelah sampai di daerah penangkapan pada pukul 15.00 WIB sore hari, kapal ditambat pada pengapung dari rumpon dengan tali tambat diulur sepanjang 20 m dari kapal untuk menjauhi rumpon. Kemudian tepat pukul 18.00 WIB kapal melepaskan tali tambat dan

menjauhi rumpon sambil

menghidupkan lampu satu persatu hingga pukul 05.00 WIB waktu subuh.

- Setelah ikan yang berada di sekitar rumpon berpindah atau berkumpul di sekitar kapal maka lampu di kapal dimatikan satu persatu dan yang tinggal hanya lampu pada sampan dimana lampu tersebut telah diturunkan terlebih dahulu di bagian buritan kapal (Gambar 3). - Kapal bergerak menjauhi sampan

dengan jarak 119,5 m atau membentuk lingkaran berjarak 239 m dengan kecepatan kapal adalah 7 knot (Gambar 4).

- Kapal bergerak melingkar ke arah kanan sambil menurunkan atau menerjunkan jaring dengan bagian ujung jaring yang telah diberi pelampung tanda adalah yang diturunkan paling awal diikuti dengan bagian pelampung, badan jaring, pemberat, berikut cincin dan tali kolor.

- Penurunan alat dilakukan secara bersamaan sambil kapal bergerak melingkar gerombolan ikan yang

ada di sekitar sampan atau perahu kecil.

b. Hauling :

- Saat kapal berada pada posisi pelampung tanda yang sudah diturunkan dari awal, kapal mulai berhenti dan menaikkan ujung tali pelampung tanda tersebut ke atas kapal. Pada saat itu pula tali kolor

segera ditarik dengan

menggunakan roller sehingga bagian bawah jaring tertutup rapat

sampai berbentuk seperti

mangkok.

- Sampan dikeluarkan dari lingkaran alat dan fungsi selanjutnya dari sampan adalah mengatur posisi pelampung agar mudah ditarik ke atas kapal (Gambar 5).

- Ujung tali kolor dibelitkan ke boom dan dilakukan penarikan serentak mulai dari pelampung (Gambar 6) dan badan jaring sehingga yang masih tertinggal di air hanya bagian kantong. Ikan-ikan yang terkumpul di bagian kantong ini kemudian di angkat ke atas kapal dengan menggunakan tangguk melalui boom dan pada waktu sisa ikan di dalam kantong tinggal sedikit maka keseluruhan bagian kantong ini dapat secepatnya ditarik dan dinaikkan ke atas kapal, selanjutnya ikan dimasukkan ke dalam palka yang telah berisi es. - Waktu untuk penarikan jaring

(hauling) berlangsung selama 4-5 jam.

(10)

- Alat dibersihkan dan disusun

kembali untuk memudahkan

pengoperasian selanjutnya.

3.1.5 Jenis dan Jumlah Ikan Hasil Tangkapan

Jenis ikan yang tertangkap umumnya adalah ikan pelagis, perenang cepat dan umumnya hidup bergerombol terutama jenis ikan Tuna seperti ikan Cakalang (katsuwonus pelamis), Tuna (Thunnus sp), dan Tongkol (Euthynnus sp). Menurut Raharjo dan Bahar (1988), mengatakan bahwa salah satu pergerakan Tuna yang penting dalam rangka keberhasilan penangkapan adalah sifat Tuna yang bergerak menuju termoklin yang merupakan daerah yang kaya akan manakan di samping mempunyai salinitas yang tinggi (28 0/00 - 40 0/00),

penyebarannya di Samudera Hindia meluas 30 0 LS ke Utara dan Timur Afrika hingga Barat Australia. Dari hasil penelitian Dewi (2002), bahwa jenis ikan hasil tangkapan purse seine selain jenis Tuna adalah Alu-alu (Sphyraena sp), Kembung perempuan (Rastrelliger negletus), Kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), Layur (Thriciurus sp), Selar (Selaroides sp), Cumi-cumi (Loligo spp), Sotong (Sepia spp), dan Beronang (siganus sp). Berdasarkan hasil tangkapan tersebut di atas ternyata mempunyai jenis tangkapan yang berbeda. Hal ini disebabkan karena

perbedaan lokasi atau daerah

pengoperasian alat tangkap purse seine dan kondisi Oseanografi daerah penangkapan. Sedangkan produksi tangkapan selama empat kali setting dalam satu trip (7 hari) penangkapan adalah 15 ton.

4. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan

1. Rumpon sebagai alat pengumpul ikan atau Fish Agregating Device (FAD) adalah salah satu teknologi yang berfungsi untuk mengumpulkan atau mengkonsentrasikan ikan pada suatu kawasan perairan dengan cara menyuburkan perairan sehingga

mudah dilakukan operasi

penangkapan dengan alat tangkap yang sesuai.

2. Rumpon yang dipasang oleh nelayan Sibolga (Sumatera Utara) di perairan Sumatera Barat pada kedalaman perairan sekitar 2000 m ini, telah mempunyai teknologi yang baik. Hal ini dapat terlihat dari material yang digunakan seperti pengapung terbuat dari plat besi dan diisi dengan sterofoam cor, tali pemberat dari rantai dan serat sintesis, pemberat dari coran beton seberat 1800 kg (18 buah) dan material pemikat dari daun nibung. Biaya pembuatan atau pemasangan rumpon ini sekitar Rp. 28.892.000.

3. Tipe purse seine yang digunakan dalam penelitian ini adalah tergolong tipe Amerika berbentuk empat persegi panjang dengan tubuh jaring terdiri atas sayap (wing), kantong (bunt) dan badan (body). Panjang jaring adalah 750 m dan dalam 120 m (2400 mata) dengan ukuran mata jaring 2 inch. Biaya pembuatan untuk satu unit armada penangkapan

purse seine sekitar Rp.

1.283.328.500.

4. Umumnya penangkapan ikan

dengan purse seine dilakukan pada malam hari. Namun pengoperasian alat tangkap ini volumenya berkurang pada saat bulan purnama. 5. Produksi hasil tangkapan purse seine dengan memanfaatkan rumpon saat penelitian 15 ton per trip (7 hari). Jenis ikan yang tertangkap dengan purse seine adalah ikan-ikan perenang cepat dan hidupnya senang bergerombol khususnya jenis ikan tuna seperti Cakalang (Katsuwonus pelamis), Tuna (Thunnus sp), dan Tongkol (Euthynnus sp).

6. Alat tangkap purse seine yang memanfaatkan teknologi rumpon ini adalah alat tangkap sangat baik namun di satu sisi perlu diperhatikan keberadaan sumberdaya ikan agar tidak terjadi over fishing sehingga

(11)

pemanfaatan sumberdaya ikan dapat berkelanjutan.

4.2 Saran

Diharapkan kepada pengambil kebijakan atau dinas terkait, pelaku ekonomi perikanan dan masyarakat pesisir atau nelayan Sumatera Barat, hendaknya secara bersama-sama mewujudkan dan mengembangkan teknologi penangkapan, terumata teknologi rumpon dengan alat tangkap purse seine guna mengelola dan

memanfaatkan potensi kelautan dan perikanan Sumatera Barat secara optimal dan berkelanjutan di dalam meningkatkan

pendapatan dan kesejahteraan

masyarakat di daerah ini terutama masyarakat pesisir atau nelayan dari Sumatera Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, L. K. 2002. Deskripsi dan Metoda Pengoperasian Pukat Cincin (Purse seine) di Kecamatan Sibolga Selatan Kota Sibolga Sumatera Utara. Skripsi (tidak dipublikasikan) Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta, Padang. 58 halaman

Marahudin, F. 2003. Peran Pemerintah Dalam Pengembangan Kelautan dan Perikanan di Era Otonomi Daerah. Makalah Pada Seminar dan Kongres VII HIMAPIKANI di Universitas Bung Hatta Pada Tanggal 6 Oktober 2003, Padang. 10 Halaman

Osawa, Y. 1974. Analysis of Fishing Gear and Method Section. Japannese Fishing Gear and Method. Tokyo. 1992 Halaman Putrayadi, H. 1990. Inventarisasi Jenis

Alat Penangkap Ikan dan Metode

Pengoperasiannya di Desa Sasak Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Sumatera Barat. Skripsi Fakultas perikanan Universitas Bung Hatta, Padang. 73 Halaman

Raharjo, P. dan S, Bahar. 1988. Pengkajian Daerah Penangkapan Madidihang dengan Alat Tangkap Rawai Tuna di Perairan Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut, BPPL. Jakarta. 21-38 Halaman Rumeli, H. 1976. Purse Seine Sistem

Modern dan Kemungkinan

Pengembangannya di Indonesia. Jurnal Penelitian Laut. 14 Halaman Suardi, ML. 2001. Nasib Rumpon Sibolga dan Sumbar. Bagian I. Harian Semangat Demokrasi. Sabtu 14 April 2001. 1 Halaman

Gambar

Tabel 1. Spesifikasi Rumpon
Tabel 3. Spesifikasi Kapal Purse Seine
Tabel 5.  Jabatan, Tugas, dan Sistem Bagi Hasil Nelayan Purse Seine Sibolga
Tabel 6. Parameter Oseanografi Daerah Penangkapan

Referensi

Dokumen terkait

1.1.1 Harus ada bukti bahwa Pengusaha perkebunan dan pengusaha pabrik minyak sawit memberikan informasi yang memadai terkait isu-isu (lingkungan, sosial dan/atau legal) yang

manfaat, atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual dengan cara membandingkan persepsi para konsumen atas pelayanan yang mereka terima dan pelayanan yang mereka harapkan

Dari keterangan seluruh informan, bahwa proses penyampaian pesan konsep smart hotel melalui simbol yang ada di area hotel itu benar dengan adanya fakta- fakta yang

Mr. Setelah dilakukannya transaksi tersebut, Adaro Energy memiliki 61.04% saham BEE. PAMA, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh PT United Tractors Tbk., merupakan salah

Bentuk pembiayaan perbankan berdasarkan prinsip syariah antara lain adalah berdasarkan prinsip jual-beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang

Pendapatan konsolidasi pada 2012 tumbuh 13 persen menjadi Rp6,09 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,39 triliun pada tahun lalu.. Ditambahkannya,

Agung Nugroho, Sekretaris Perusahaan Perseroan dalam keterangan Senin menyebutkan kegiatan eksplorasi dilaut pada bulan September 2015 berupa kegiatan pemboran di perairan

Taman Impian Jaya Ancol merupakan kawasan rekreasi yang berada di Jakarta Utara dengan posisi yang berbatasan langsung dengan pantai utara Pulau Jawa.. Posisi Ancol