• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masters Program in Public Health, Sebelas Maret University 2) Faculty of Social and Political Sciences, Sebelas Maret University 3)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Masters Program in Public Health, Sebelas Maret University 2) Faculty of Social and Political Sciences, Sebelas Maret University 3)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Effects of Predisposing, Enabling, and Reinforcing Factors on the Uptake of Voluntary Counselling and Testing among

Female Sex Workers in Grobogan, Central Java

Muhammad Vidi Perdana 1), Argyo Demartoto2), Dono Indarto3)

1)Masters Program in Public Health, Sebelas Maret University

2)Faculty of Social and Political Sciences, Sebelas Maret University

3)Department of Physiology, Faculty of Medicine, Sebelas Maret University

ABSTRACT

Background: Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection is a global public health issue.

Global AIDS Response Progress Reporting (GARP) reported that in 2015, about 36.7 million people worldwide suffered from HIV-AIDS in all age groups. The highest number of HIV/AIDS cases occured in East Africa and South Africa. This study aimed to examine the effects of predisposing, enabling, and reinforcing factors on the uptake of voluntary counselling and testing (VCT) among female sex workers in Grobogan, Central Java.

Subjects and Method: This was an analytical observational study with cross-sectional design. It was conducted in Grobogan, Central Java, in July 2017. A sample of 142 female sex workers were selected for this study by exhaustive sampling. The dependent variable was uptake of VCT. The independent variables were attitude, perceived benefit, external motivation from others, and social support. The data were collected by a questionnaire and analyzed by multiple logistic regression.

Results: Positive attitude towards HIV status (OR= 6.09; 95% CI= 0.968 to 38.38; p= 0.054), positive perceived benefit (OR= 10.58; 95% CI= 1.48 to 76.93; p= 0.019), external motivation (OR=

8.30; 95% CI= 1.21 to 56.82; p= 0.031), and social support (OR= 9.45; 95% CI= 1.46 to 60.83; p=

0.018), positively affected uptake of VCT.

Conclusion: Positive attitude towards HIV status, positive perceived benefit, external motivation, and social support, positively affect uptake of VCT.

Keywords: HIV, Voluntary Counselling Testing, female sex workers Correspondence:

Muhammad Vidi Perdana. Masters Program in Public Health, Sebelas Maret University, Jl. Ir.

Sutami 36 A, Surakarta 57126, Central Java. Email: [email protected].

Mobile: +6289673200639.

LATAR BELAKANG

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) masih menjadi masalah kesehatan global hingga saat ini. Berdasarkan laporan beberapa sumber, epidemi HIV/AIDS di dunia tergolong memprihatinkan. Data Global AIDS Response Progress Reporting (GARP) tahun 2016 menunjukkan bahwa sampai tahun 2015 sekitar 36,7 juta orang di dunia mengidap HIV/AIDS pada seluruh golongan usia, dengan jumlah terbanyak berada di timur dan selatan Afrika se- jumlah 19,0 juta orang. WHO dan UNAIDS

melaporkan bahwa terdapat tiga negara di Asia yang berada pada titik infeksi HIV yaitu Cina, India dan Indonesia yang ke- tiganya memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia. Indonesia merupakan negara dengan kasus HIV terbesar ketiga di Asia Pasifik dengan persentase 13% dari seluruh kasus (UNAIDS, 2013). Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia tahun 1987 hingga Maret 2016 tercatat sejumlah 191,073 orang dengan HIV dan 77,940 orang dengan AIDS (Kemenkes RI, 2016).

Data tersebut menunjukkan betapa besar

(2)

risiko terinfeksi HIV yang dihadapi ke- lompok penduduk di Indonesia dari segala usia.

Penularan HIV/AIDS di Indonesia masih terkonsentrasi pada Injecting Drug User (IDU), laki-laki berhubungan seks de- ngan sesama jenis, dan penjaja seks (hete- roseksual maupun homoseksual) beserta pelanggan maupun partner seks tetapnya (KPA Nasional, 2009). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI (2016), faktor risiko HIV/AIDS melalui hubungan hetero- seksual masih menjadi faktor terkuat pe- micu (51,692) diikuti dengan faktor homo- biseksual (2,304), IDU (8,835), transfusi darah (201), transfusi perinatal (2,226) dan faktor lain yang tidak diketahui (12,398).

Terdapat 34 Provinsi di Indonesia dan se- banyak 511 Kabupaten atau Kota melapor- kan kasus HIV/AIDS. Hal tersebut mem- buktikan bahwa tidak ada satu Provinsi di Indonesia yang dinyatakan bebas dari ka- sus HIV/AIDS. Bahkan diperkirakan saat ini sudah menyerang lebih dari setengah Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Ber- dasarkan data resmi dari Kementerian Ke- sehatan RI pada tahun 2016, beberapa Pro- vinsi besar di Indonesia salah satunya yaitu Provinsi Jawa Tengah memiliki jumlah me- ngidap HIV/AIDS yang cukup besar sekitar 13,547 orang HIV dan 5,049 orang AIDS.

Jumlah tersebut tersebar di seluruh wila- yah Provinsi Jawa Tengah.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Desember 2016, Ka- bupaten Grobogan menduduki peringkat keempat di Provinsi Jawa Tengah setelah Kota Semarang, Kabupaten Sragen dan Ka- bupaten Banyumas. di Kabupaten Grobo- gan tersedia berbagai fasilitas pelayanan seksual (lokalisasi) dan fasilitas hiburan malam yang dikenal dengan “Gunungrejo”.

Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Grobogan pertama kali ditemukan pada tahun 2002 sejumlah 4 kasus. Namun perubahan sa-

ngat signifikan dilaporkan oleh data sta- tistik HIV/AIDS di Kabupaten Grobogan sampai akhir Desember 2016, secara ku- mulatif jumlah penderita cenderung me- ningkat tajam menjadi 858 kasus. Ber- dasarkan data rasio kasus HIV antara laki- laki 37% dan perempuan 63%.

Berdasarkan hal tersebut, maka HIV/

AIDS menjadi masalah kesehatan masyara- kat yang menyangkut semua aspek kehi- dupan manusia baik medis, psikologis, sosial dan budaya. Terdapat berbagai kebi- jakan dan program yang pemerintah tawar- kan sebagai penanggulangan HIV/AIDS.

Salah satu kebijakan pemerintah dalam menanggulangi kasus HIV/AIDS adalah Peraturan Presiden RI Nomor 75 Tahun 2006 yang mengamanatkan pembentukan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, Provinsi dan Kabupaten beserta Sekretariatnya dalam rangka meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS yang lebih intensif, menyeluruh, ter- padu dan bertanggung jawab kepada wila- yah. Selain itu, pemerintah juga memberi- kan berbagai fasilitas layanan kesehatan antara lain pengamanan darah, komunikasi informasi, dan edukasi (KIE) khususnya program konseling dan tes sukarela VCT.

Pelayanan VCT meliputi konseling pra-testing, testing HIV, dan konseling post-testing secara sukarela atau kesadaran dari individu sendiri. Komponen konseling harus didasarkan pada kerahasiaan dan mencakup informasi mengenai penularan HIV dan diskusi secara pribadi mengenai risiko individu yang memungkinkan sese- orang untuk membuat suatu keputusan tentang pengujian HIV/AIDS dan risiko yang akan mereka hadapi, sehingga VCT memiliki manfaat baik bagi individu mau- pun masyarakat (WHO, 2003). Konseling pra-testing memberikan pengetahuan ten- tang HIV dan manfaat testing HIV, pe- ngambilan keputusan untuk testing, dan

(3)

perencanaan HIV yang akan dihadapi.

Konseling post-testing membantu sese- orang untuk mengerti dan menerima status HIV dan merujuk pada pelayanan duku- ngan. Konseling ini dilakukan oleh konselor yang merupakan tenaga kesehatan terlatih dengan klien yang merasa memiliki risiko tinggi terhadap HIV/AIDS serta dilakukan secara rahasia dan sukarela (Depkes RI, 2004).

Program layanan VCT memiliki efek sebagai potensi pencegahan pada penu- laran HIV dan berfungsi menjadi program menyedia layanan penanggulangan terkait HIV/AIDS. VCT dimaksudkan membantu masyarakat terutama populasi berisiko dan anggota keluarganya untuk mengetahui sta- tus kesehatan yang berkaitan dengan HIV dimana hasilnya dapat digunakan sebagai bahan motivasi upaya pencegahan penula- ran dan segera mendapat layanan keseha- tan sesuai kebutuhan. Target sasaran laya- nan VCT sangat luas yaitu pada kelompok berisiko tertular yaitu masyarakat yang ber- perilaku risiko tertinggi seperti penjaja seks dan pelanggannya, pasangan tetap pejaja seks, gay, pengguna napza serta narapi- dana. Berdasarkan data kunjungan VCT di Kabupaten Grobogan pada semester dua tahun 2016, Pekerja Seks Komersial (PSK) menduduki peringkat pertama yang mela- kukan upaya pencegahan HIV/AIDS yaitu sebesar 31% dari seluruh jumlah kunjungan VCT pada kelompok resti. PSK cenderung memiliki banyak pasangan seks. Kartono (2011) menjelaskan bahwa pekerja seks ko- mersial merupakan peristiwa penjualan diri baik perempuan dengan memperjual beli- kan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu-nafsu seks dengan imbalan pem- bayaran.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabu- paten Grobogan Nomor 4 Tahun 2014 Ten- tang Penanggulangan HIV/AIDS Pasal 8

dan 9 menyebutkan, bahwa setiap orang yang berisiko terhadap penularan HIV dan IMS untuk memeriksakan kesehatannya ke klinik VCT dan IMS. Secara komprehensif pemerintah khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan (2016) melakukan ke- giatan yang lebih konkrit dengan melak- sanakan sosialisasi dan pelaksanaan peme- riksaan dini masyarakat melalui klinik IMS, VCT, CST dan PPIA. Menurut penelitian yang dilakukan oleh World Bank Global HIV/AIDS Program (2008) menyebutkan bahwa untuk mengurangi dan melawan pe- nyebaran efek dari epidemi HIV/AIDS, pemerintah Ethiopia menerapkan kebija- kan bagi setiap warga negana yang me- miliki risiko terinfeksi HIV/AIDS untuk melakukan VCT. Ketetapan mengenai VCT adalah hal yang sangat penting bagi sebuah Negara dalam program pencegahan HIV- /AIDS (Onokerhoraye et al, 2012). Sedang- kan menurut Alao (2004) menambahkan bawa VCT adalah sebuah kunci untuk mengidentifikasi apakah seseorang mengi- dap HIV/AIDS dan nantinya akan men- dapatkan penanganan yang lebih lanjut.

Terkait dengan pencegahan dan pe- nanggulangan HIV/AIDS, terdapat bebe- rapa pihak yang mempunyai pengaruh cu- kup besar diantranya berbagai LSM yang peduli dengan melakukan pendampingan pencegahan dan penanggulangan HIV/- AIDS, mucikari yang bertanggung secara langsung dalam menyediakan fasilitas tem- pat penjajakan diri oleh PSK serta mem- bahas masalah-masalah yang dihadapi oleh PSK, pengaruh sesama PSK dalam me- ngikuti kegiatan. Dalam lingkungan PSK, terdapat berbagai faktor yang mempenga- ruhi PSK untuk menjalani VCT secara peri- odik, baik yang berasal dari dalam diri PSK sendiri seperti keyakinan dan evaluasi atas pengalaman VCT maupun dari luar seperti pengaruh dari orang-orang yang setiap hari ditemui, antara lain mucikari, sesama PSK,

(4)

pelanggan dan petugas outreach. Praktik pelayanan dan ketersediaan sumber daya dalam klinik VCT juga dapat mempenga- ruhi tindakan PSK melakukan VCT.

Penelitian terhadap masalah pence- gahan HIV/AIDS melalui VCT ini penting dilakukan untuk menganalisa faktor-faktor predisposisi, pemungkin dan penguat yang mempengaruhi Pekerja Seks Komersial PSK di Kabupaten Grobogan dalam me- lakukan VCT.

SUBJEK DAN METODE 1. Desain penelitian

Jenis penelitian ini adalah analitik obser- vasional dengan pendekatan cross sectio- nal yang menekankan pada proses pengam- bilan data variabel independen dan depen- den yang hanya satu kali waktu yang sama (Murti B, 2013). Pendekatan ini bertujuan untuk menjelaskan besarnya pengaruh fak- tor predisposisi, pemungkin dan penguat terhadap VCT pada PSK di Kabupaten Gro- bogan.

2. Populasi dan sampel

Populasi secara umum pada penelitian ini yaitu seluruh PSK di Kabupaten Grobogan, sedangkan populasi sasarannya adalah ang- gota komunitas PSK yang berada dilokasi Gunung Rejo di Kabupaten Grobogan di- estimasi sejumlah 142 orang.

Subjek penelitian ini adalah anggota komunitas PSK yang berada di lokasi Gunung Rejo di Kabupaten Grobogan yang berjumlah 142 orang dipilih menggunakan tehnik total sampling.

3. Instrumen Penelitian

Instrumen pengumpulan data pada pene- litian ini adalah kuesioner. Pengambilan data dilakukan secara langsung oleh pene- liti melalui observasi.

4. Definisi operasional

Definisi operasional keyakinan manfaat VCT adalah pendirian subjek penelitian dengan meyakini bahwa konseling dan

testing (VCT) HIV/AIDS akan memberikan manfaat pada diri responden. Sikap dari nilai yang diperoleh dengan mengetahui status HIV/AIDS adalah pandangan subjek penelitian tentang perubahan yang terjadi pada diri PSK akibat mengetahui status HIV/AIDS. Motivasi mengikuti dorongan orang lain.

Dukungan orang lain adalah keingin- an subjek penelitian untuk mengikuti dorongan, himbauan, perintah dari orang lain untuk melakukan VCT. Praktik pela- yanan klinik VCT adalah Praktik pelayanan yang diberikan oleh klinik VCT pada klien mulai dari pendaftaran, konseling pre-tes, tes HIV/AIDS, konseling post tes. Ling- kungan pelayanan klinik VCT adalah ling- kungan klinik VCT yang memberikan ke- nyamanan dan ketersediaan daya dukung bagi kelancaran konseling dan testing HIV/AIDS.

5. Analisis data

Teknik analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan masing-masing data karakteristik. Analisis bivariat bertujuan untuk menganalisis hubungan dua variabel menggunakan SPSS versi 22 dengan uji chi square. Analisis multivariat menggunakan analisis regresi logistik ganda yang bertujuan mengukur pengaruh antara lebih dari satu variabel.

HASIL A. Analisis Univariat

Karakteristik dari subjek penelitian dilihat dari usia, status pernikahan, pendidikan, lama pekerjaan, pratik klinik VCT, ling- kungan klinik VCT dapat dilihat pada Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian.

Penelitian ini dilakukan pada 142 PSK di Kabupaten Grobogan. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli tahun 2017.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ham- pir seluruhnya PSK berumur 20-35 tahun

(5)

yaitu sebanyak 124 (87.3%). Status perni- kahan PSK cerai hidup/mati yaitu sebanyak 69 (48.6%). Hampir seluruh pendidikan PSK <SMA yaitu sebanyak 124 (87.3%).

Lama pekerjaan PSK yang bekerja 1-2 tahun yaitu sebanyak 58 (40.9%) dan yang

bekerja kurang dari 1 tahun sebanyak 57 (40.1%). PSK hampir seluruhnya melaku- kan pemeriksaan VCT yaitu sebanyak 120 (84.5%) dan tempat PSK melakukan pe- meriksaan VCT di rumah sakit yaitu sebanyak 61 (43.3%).

Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian

Karakteristik Subjek Frekuensi (n) Persentase (%)

Usia <20 tahun 8 5.6

20-35 tahun 124 87.3

>35 tahun 10 7.0

Status pernikahan Belum Menikah 24 16.9

Menikah 49 34.5

Cerai Hidup/Mati 69 48.6

Pendidikan <SMA 124 87.3

≥SMA 18 12.7

Lama Pekerjaan < 1 tahun 57 40.1

1-2 tahun 58 40.9

2-4 tahun 20 14.1

4-6 tahun 6 4.2

> 6 tahun 1 0.7

Praktik VCT Tidak melakukan VCT 22 15.5

Melakukan VCT 120 84.5

Tempat VCT Klinik VCT Swasta 6 4.2

Rumah Sakit 61 43.3

Puskesmas 27 19.0

Penjara 1 0.7

Tempat lain 47 33.1

B. Analisis Bivariat

Analisis bivariat menjelaskan tentang pen- garuh dari variabel satu terhadap satu varia- bel dependen. Metode yang digunakan ada- lah regresi logistik dengan taraf kepercayaan 95% (nilai p = 0.05).

Tabel 2 Menunjukkan nilai odds ratio sebesar 10.60 artinya PSK dengan keyakinan manfaat VCT baik mempunyai kemungkinan 10.60 kali lebih besar untuk melakukan pe- meriksaan VCT dibandingkan PSK dengan keyakinan manfaat VCT yang kurang. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa ada pe- ngaruh keyakinan manfaat VCT dengan pra- ktik pemeriksaan VCT dan secara statistik signifikan (p<0.001).

Nilai odds ratio sebesar 11.39 artinya PSK dengan sikap dari mengetahui status HIV baik mempunyai kemungkinan 11.39 kali lebih besar untuk melakukan peme- riksaan VCT dibandingkan PSK dengan sikap yang kurang. Hasil uji Chi-Square me- nunjukkan bahwa ada pengaruh sikap dari mengetahui status HIV dengan praktik pemeriksaan VCT dan secara statistik signi- fikan (p<0.001).

Nilai odds ratio sebesar 22.10 artinya PSK dengan motivasi mengikuti orang lain tinggi mempunyai kemungkinan 22.10 kali lebih besar untuk melakukan pemeriksaan VCT dibandingkan PSK dengan motivasi mengikuti orang lain rendah. Hasil uji Chi- Square menunjukkan bahwa ada pengaruh

(6)

motivasi mengikuti dorongan orang lain dengan praktik pemeriksaan VCT dan secara statistik signifikan (p<0.001).

Nilai odds ratio sebesar 23.80 artinya PSK dengan dukungan orang lain baik mem- punyai kemungkinan 23.80 kali lebih besar untuk melakukan pemeriksaan VCT di- bandingkan PSK dengan dukungan orang lain kurang. Hasil uji Chi-Square menunjuk- kan bahwa ada pengaruh dukungan orang lain dengan praktik pemeriksaan VCT dan secara statistik signifikan (p <0.001).

Nilai odds ratio sebesar 9.08 artinya PSK dengan praktik pelayanan klinik VCT baik mempunyai kemungkinan 9.08 kali le- bih besar untuk melakukan pemeriksaan

VCT dibandingkan PSK dengan praktik pe- layanan klinik VCT kurang. Hasil uji Chi- Square menunjukkan bahwa ada pengaruh praktik pelayanan klinik VCT dengan prak- tik pemeriksaan VCT dan secara statistik signifikan (p<0.001).

Nilai odds ratio sebesar 32.99 artinya PSK dengan lingkungan pelayanan klinik VCT baik mempunyai kemungkinan 32.99 kali lebih besar untuk melakukan pemerik- saan VCT dibandingkan PSK dengan ling- kungan pelayanan klinik VCT kurang. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa ada pengaruh lingkungan pelayanan klinik VCT dengan praktik pemeriksaan VCT dan secara statistik signifikan (p<0.001).

Tabel 2. Hasil analisis bivariat usia, pekerjaan, tingkat stres, body mass index, dan kelainan organ reproduksi dengan infertilitas wanita di RSUD Dr. Moewardi, Surakarta

Variabel

Praktik VCT

Total

OR CI (95%) p Tidak Ya

n % n % n %

Keyakinan 3.86 hingga

29.07

Kurang 14 45.2 17 54.8 31 100 10.60 <0.001

Baik 8 7.2 103 92.8 111 100

Sikap Status HIV 4.09 hingga

31.66

Kurang 15 44.2 19 55.8 34 100 11.39 <0.001

Baik 7 6.5 101 93.5 108 100

Motivasi 7.15 hingga

68.24

Rendah 17 51.5 16 48.5 33 100 22.10 <0.001

Tinggi 5 4.8 104 11.5 109 100

Dukungan 7.65 hingga

74.00

Kurang 17 53.1 15 46.9 32 100 23.80 <0.001

Baik 5 4.6 105 95.6 110 100

Praktik Klinik VCT 3.31 hingga

24.88

Kurang 12 46.2 14 53.8 26 100 9.08 <0.001

Baik 10 8.7 106 91.3 116 100

Lingkungan VCT 32.99 10.32 hingga

104.7 <0.001

Kurang 16 64 9 36 25 100

Baik 6 5.2 111 94.8 117 100

c. Analisi Multivariat

Analisis multivariat meliputi variabel inde- penden yakni keyakinan manfaat VCT, sikap dari nilai yang diperoleh dengan mengetahui status HIV, Motivasi untuk mengikuti orang lain, dukugan orang lain, praktik pelayanan klinik VCT, lingkungan pelayanan klinik VCT yang dihubungkan

dengan variabel dependen yakni praktik PSK melakukan pemeriksaan VCT di Kabu- paten Grobogan yang dapat dilihat pada Tabel 3.

Berdasarkan Tabel 3 hasil analisis regresi logistik ganda pada keyakinan man- faat VCT (OR= 10.58; CI 95%= 1.48 hingga 76.93; p=0.019) meningkatkan praktik PSK

(7)

melakukan VCT dan secara statistik signi- fikan. Sikap dan nilai dari mengetahui status HIV (OR=6.09; CI 95%= 0.96 hingga

38.37; p= 0.054) meningkatkan praktik PSK melakukan VCT meskipun secara statistik tidak signifikan.

Tabel 3. Hasil analisis regresi logistik ganda pengaruh antara keyakinan manfaat, sikap dan nilai dari status HIV, motivasi dari orang lain, dukungan dari orang lain, praktik klinik VCT, Lingkungan klinik VCT terhadap praktik PSK melakukan VCT.

Variabel OR CI 95%

Batas bawah Batas atas p

Keyakinan manfaat VCT(baik) 10.58 1.48 76.93 0.019

Sikap dan nilai status HIV (baik) 6.09 0.96 38.37 0.054

Motivasi (tinggi) 8.30 1.21 56.82 0.031

Dukungan (baik) 9.45 1.46 60.83 0.018

Praktik klinik VCT (baik) 8.52 1.16 62.32 0.035

Lingkungan klinik VCT (baik) 18.91 2.59 137.81 0.004

N observasi -2 log likelihood Nagelkerke R 2

34.33 142 80%

Motivasi dari orang lain (OR= 8.30;

CI 95%=1.21 hingga 56.82; p=0.031) me- ningkatkan praktik PSK melakukan VCT dan secara statistik signifikan. Dukungan dari orang lain (OR= 9.45; CI 95%= 1.46 hingga 60.83; p= 0.018) meningkatkan praktik PSK melakukan VCT dan secara statistik signifikan.

Praktik pelayanan klinik VCT (OR=

8.52; CI 95%= 1.16 hingga 62.32; p= 0.035) meningkatkan praktik PSK melakukan VCT dan secara statistik signifikan. Lingkungan pelayanan klinik VCT (OR= 18.91; CI 95%=

2.59 hingga 137.81; p= 0.004) meningkat- kan praktik PSK melakukan VCT dan secara statistik signifikan.

PEMBAHASAN

1. Pengaruh keyakinan manfaat VCT dengan PSK melakukan VCT

Hasil uji statistik bivariat dan multivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara keyakinan manfaat VCT dengan PSK melakukan praktik VCT.

Sebagian PSK yang mempunyai keyakinan kurang tentang manfaat VCT dan tidak melakukan VCT dalam 3 bulan terakhir.

Dapat diartikan bahwa PSK dilokasi Gunung Rejo kurang merasakan manfaat yang diperoleh jika melakukan VCT secara rutin. Keyakinan seseorang dalam perilaku mencakup peran variabel eksternal yang tidak muncul secara langsung. PSK tidak melakukan VCT secara rutin tidak hanya didasari pertimbangan kesehatan, tetapi dapat didasarkan atas alasan yang sama (Kartono, 2009).

Keyakinan sering disebut sebagai faktor yang berkaitan dengan motivasi seseorang untuk melakukan suatu tindak- an. Keyakinan sebagian besar PSK tentang VCT termasuk dalam kategori baik. PSK telah mempercayai bahwa kesehatan diri- nya terancam dalam beberapa tahun men- datang jika tidak melakukan VCT. Mereka juga telah meyakini keseriusan kondisi yang terjadi bila terinfeksi HIV. Kesadaran akan perlunya tes HIV secara rutin sudah ada pada kelompok ini.

Persepsi klien tentang risiko HIV dan pengetahuan tentang perilaku yang berisiko berhubungan dengan tingkat penerimaan VCT yang lebih tinggi (Kawaichai et al, 2002).

(8)

Kurangnya keyakinan menjadi pe- nyebab tidak dilakukannya VCT. Penelitian yang dilakukan oleh Kawichai pada tahun 2002-2003 menunjukkan bahwa alasan tidak mengikuti testing HIV diantaranya adalah tidak mempunyai risiko terinfeksi HIV dan tidak mengerti dengan jelas ten- tang layanan VCT. (Kawaichai et al, 2007).

Masih terdapat beberapa keyakinan PSK yang salah tentang VCT, diantaranya adalah banyaknya subjek penelitian yang berkeyakinan bahwa perilaku seksnya tidak berisiko mengidap HIV dan PSK berkeya- kinan bahwa dirinya masih dapat melin- dungi diri tanpa melakukan VCT. Faktor penguat yang menyebabkan kurangnya keyakinan tentang VCT yang berasal dari lingkungan PSK adalah PSK masih melihat teman-teman PSK yang tidak merubah perilaku seks berisiko setelah melakukan VCT (Kartono, 2011). PSK tidak menge- tahui secara jelas faktor-faktor risiko pe- nyebab terjadinya penularan virus HIV sehingga tidak sadar bahwa dirinya saat ini mempunyai risiko tertular HIV. Persepsi yang salah ini akan menyebabkan PSK tidak melakukan VCT secara rutin (Widiyanto, 2008).

Disamping itu, masih terdapat PSK yang mempunyai keyakinan bahwa dirinya masih dapat melindungi diri tanpa melaku- kan VCT. Hal ini terjadi karena kurangnya penyebarluasan informasi dan pemberian edukasi kepada kelompok risiko tinggi se- perti PSK. Mobilitas PSK dengan ber- pindah-pindah lokalisasi juga menyebab- kan PSK kurang mendapatkan informasi yang benar tentang HIV. Informasi yang terpotong-potong memungkinkan terben- tuknya keyakinan yang salah dalam diri PSK (Widiyanto, 2008).

2. Pengaruh sikap dari nilai dengan status HIV dengan Praktik VCT

Sikap terhadap perilaku ditentukan oleh keyakinan individu tentang perilaku yang

dipertimbangkan berdasar evaluasi atas hasil tersebut (Mantano, 2002). Individu mempertimbangkan untung atau rugi dan berperilaku sesuai hasil analisis mereka.

Menurut Kartono (2009) Dalam penelitian ini, evaluasi atas hasil VCT diukur dengan mengkategorikan nilai jika PSK mengetahui status HIV dirinya menjadi 2 kategori, yaitu baik dan kurang baik. Hasilnya adalah terdapat hubungan yang signifikan antara nilai jika mengetahui status HIV dirinya dengan perilaku PSK dalam VCT.

PSK yang menilai baik jika menge- tahui status HIV dirinya sebagian besar melakukan VCT dalam 3 bulan terakhir.

Dapat diartikan bahwa mereka memahami konsekuensi penting yang akan terjadi jika tidak melakukan test HIV secara rutin. Hal ini sesuai dengan penelitian Solomondi India pada tahun 1994–2002 yang menya- takan bahwa alasan klien datang ke klinik VCT karena menyadari perilaku seks diri- nya berisiko, mengulang tes untuk meya- kinkan hasil tes HIV sebelumnya dan mem- punyai pasangan seks yang berisiko meng- idap HIV. Sebaliknya, PSK yang menilai kurang baik jika mengetahui status HIV dirinya sebagian besar tidak melakukan VCT ulang karena kurang memahami konsekuensi jika mereka tertular HIV.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Kawichai di Thailand pada tahun 2002–

2003 bahwa salah satu alasan tidak meng- ikuti testing HIV adalah tidak mengerti dengan jelas tentang layanan VCT.

Terdapat beberapa nilai yang kurang baik pada beberapa PSK yang perlu untuk diubah. Diantaranya adalah mengetahui status HIV tidak akan membuat seseorang tidak melakukan hubungan seks yang be- risiko. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa setelah melakukan VCT, PSK tidak memperlihatkan perubahan mengurangi perilaku berisiko. Peningkatan pemahaman tentang pengurangan perilaku berisiko

(9)

perlu diberikan kepada pelanggan dan mucikari, sehingga akan mempermudah PSK untuk melakukan praktik seks yang aman (Widiyanto, 2008).

Beberapa PSK juga menyatakan bahwa setelah melakukan VCT, tidak akan mampu merubah perilaku pelanggan untuk melakukan seks yang aman. Kemampuan PSK untuk melakukan negoisasi kepada pelanggan untuk dapat melakukan seks yang aman masih kurang. PSK masih merasa takut penghasilan mereka akan berkurang jika mengharuskan pelanggan untuk memakai kondom pada saat berhubungan seks (UNAIDS, 2013; WHO 2013).

Pemahaman lain yang perlu diubah pada diri PSK adalah masih terdapat PSK yang tidak menganggap bahwa melakukan VCT akan semakin mengurangi terjadinya stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV. PSK masih mempunyai persepsi bahwa pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS masih merupakan tanggung jawab individu, bukan merupakan upaya yang harus dilakukan secara terpadu, sehingga tidak memberikan dukungan yang positif (Widiyanto, 2008).

Hasil analisis multivariat menunjuk- kan bahwa nilai jika mengetahui status HIV dirinya bersama dengan variabel lain mem- punyai peran dalam menentukan dilaku- kannya VCT. Nilai menggambarkan pan- dangan dalam suatu hal yang diyakini oleh seseorang. Dalam program promosi kese- hatan, seseorang tidak diminta untuk me- rubah nilai, tetapi diminta untuk mengenali inkonsistensi antara nilai yang mereka miliki dengan perilaku mereka. PSK di lokasi Gunung Rejo sebagian besar sudah mempunyai nilai yang baik tentang me- ngetahui status HIV dirinya melalui tes VCT. Tetapi masih banyak ditemui PSK yang tidak melakukan VCT meskipun mereka menilai baik jika seseorang menge-

tahui status HIV dirinya. PSK perlu menge- nali lebih lanjut faktor yang menyebabkan terjadinya inkonsistensi antara nilai yang baik pada diri PSK tentang status HIV dirinya dengan praktik PSK untuk tidak melakukan VCT (Abamecha, 2013).

3. Pengaruh motivasi untuk meng- ikuti orang lain dengan PSK melaku- kan VCT

Motivasi mengikuti dorongan orang lain merupakan bagian dari norma subyektif yang dimiliki oleh PSK. Motivasi dengan dorongan yang PSK dapatkan untuk mela- kukan VCT, sebagian besar PSK mempu- nyai motivasi yang baik untuk mengikuti dorongan tersebut, yang diwujudkan dengan melakukan praktik VCT (Widi- yanto, 2008).

Sebaliknya, seluruh PSK dengan motivasi kurang mengikuti dorongan orang lain, tidak melakukan VCT secara rutin.

Hasil yang hampir sama ditunjukkan pada penelitian tentang pencarian test HIV di rumah sakit di Provinsi Chiang Mai, Thailand Utara pada tahun 2005–2009.

Dari kelompok wanita yang melakukan VCT atas dorongan orang lain, 24% memu- tuskan tidak menjalani tes HIV dan 18.9%

memutuskan untuk melakukan tes HIV tetapi hasil tes HIV tidak diambil (Kawai- chai, 2002).

Hasil analisis statisik bivariat dan multivariat mendukung Theory of Reason Action bahwa motivasi PSK untuk mema- tuhi saran orang lain untuk melakukan VCT akan menentukan praktik PSK dalam melakukan VCT secara rutin. Hasil analisis menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi mengikuti dorongan orang lain dengan perilaku PSK dalam melakukan VCT secara rutin. Moti- vasi tersebut juga berperan menentukan praktik PSK untuk tidak melakukan VCT.

Dorongan orang lain akan mem- pengaruhi motivasi untuk melakukan VCT.

(10)

Pada kelompok PSK yang mempunyai motivasi rendah untuk mengikuti dorongan orang lain, dorongan dari pengurus yang muncul dalam bentuk paksaan untuk mela- kukan VCT secara bersama-sama dengan PSK lain, justru tidak akan meningkatkan motivasi PSK. Pemaksaan tersebut akan menyebabkan mengurangi motivasi PSK, jika pada saat yang bersamaan PSK sudah merencanakan untuk melakukan kegiatan lainnya (Gielen et al., 2002).

PSK kurang mempunyai motivasi untuk mengikuti dorongan dari pelanggan, pasangan/pacar dan keluarga. Kurangnya motivasi tersebut berhubungan dengan ku- rangnya rasa segan atau menghormati dari diri PSK terhadap subyek-subyek tersebut.

Motivasi PSK untuk melakukan VCT men- jadi baik jika subyek yang memberi doro- ngan adalah mucikari, petugas kesehatan dan petugas outreach (Gielen et al, 2002;

Glanz et al, 2002).

PSK di lokasi Gunung Rejo mempu- nyai norma subyektif positif yang men- dukung praktik VCT secara rutin. Keya- kinan normatif PSK dan motivasi untuk mematuhi apa yang orang lain inginkan membentuk norma subyektif. Menurut Glanz et al., (2002) Semua subyek yang ada disekitar PSK mendorong untuk melakukan VCT, dan PSK mempunyai motivasi untuk mematuhi setelah memproses informasi dari subyek-subyek tersebut. Jika PSK me- matuhi dorongan subyek-subyek tersebut, maka akan memperoleh keuntungan dan penghargaan dari tindakan yang telah di- lakukannya (Green, 2005).

Penguatan yang bersifat positif terse- but juga akan membawa individu untuk bergabung dengan kelompok subjek-subjek yang mendukung VCT sebagai salah satu cara pencegahan penularan HIV sehingga akan mampu mendorong individu lain untuk ikut melakukan perubahan dengan melakukan VCT secara rutin (Green, 2005).

4. Pengaruh Dukungan Orang Lain dengan PSK melakukan VCT.

Dukungan orang lain yang diukur dalam penelitian ini adalah dukungan dari muci- kari, petugas outreach, teman PSK, kelu- arga, petugas kesehatan klinik VCT, pelang- gan dan pasangan/pacar. Sebagian besar PSK mendapatkan dukungan yang baik dari orang-orang di sekitar mereka dan sebagian besar PSK mendapatkan dorongan yang baik melakukan VCT secara rutin. Mereka mempunyai norma subyektif yang positif dan termotivasi untuk memenuhi dorongan orang lain tersebut (Glanz et al, 2002;

Mantano et al, 2002).

Lokasi Gunung Rejo terdapat peng- urus rehabilitasi sosial yang terdiri dari beberapa mucikari dan warga di wilayah tersebut yang menjadi acuan bagi PSK.

Pengurus mempunyai organisasi yang baik dan mempunyai peran sangat penting dalam mengatur kegiatan PSK, seperti mengikuti kegiatan pembinaan dan screen- ing IMS yang dilakukan di rumah pak RT.

Peneliti menemukan adanya konfor- mitas ada perilaku PSK Gunung Rejo dalam melakukan VCT secara rutin. Konformitas adalah membeloknya atau berubahnya pan- dangan atau tindakan individu sebagai aki- bat dari tekanan kelompok yang muncul karena adanya pertentangan antara pen- dapat individu dengan pendapat kelompok (Nasronudin, 2007).

Peneliti melihat bahwa pengurus memberikan paksaan kepada PSK untuk melakukan VCT di rumah sakit secara ber- kelompok. Pengurus rehablitasi sosial me- nunjuk PSK yang sedang mengikuti pem- binaan di rumah pak RT untuk meninggal- kan kegiatan pembinaan, dan pergi mela- kukan VCT. Pengurus juga telah menyedia- kan transportasi untuk mengangkut PSK bersama-sama menuju tempat VCT.

Berdasarkan pengamatan peneliti, tidak satupun PSK yang berani untuk

(11)

menolak perintah pengurus untuk melaku- kan VCT.

Dorongan yang bersifat memaksa ini justru akan menyebabkan PSK tidak lagi berinisiatif untuk melakukan penjadwalan VCT secara individu, karena bergantung pada perintah pengurus. Jika pengurus tidak memerintah untuk melakukan VCT, dimungkinkan PSK akan tidak merencana- kan untuk melakukan VCT secara rutin. Pe- maksaan tersebut juga telah mengabaikan prinsip kesukarelaan bagi klien yang akan melakukan konseling dan tes HIV (Widi- yanto, 2008).

Dukungan dari orang lain merupakan faktor penguat terhadap dilakukannya praktik VCT oleh PSK. Pada saat melaku- kan VCT, PSK mendapatkan keuntungan sosial berupa pengakuan sosial dari sesama PSK, keuntungan fisik dengan rasa nyaman yang diperoleh setelah mendapatkan hasil tes dan penghargaan dari pengurus berupa bantuan transportasi. Semua keuntungan dan penghargaan tersebut akan semakin mendorong PSK untuk melakukan VCT secara rutin (Green, 2005).

Dukungan dari keluarga dianggap ku- rang baik oleh PSK. Sedang dukungan dari pihak selain keluarga dianggap cukup baik.

Hal ini disebabkan oleh ketidakterbukaan PSK kepada keluarga atas pekerjaan se- bagai pekerja seks. PSK juga masih merasa- kan kurangnya dukungan dari pelanggan.

Peneliti menganalisis bahwa pengetahuan yang kurang dari pelanggan tentang IMS menyebabkan pelanggan kurang peduli terhadap kesehatan PSK, termasuk risiko PSK tertular HIV dari pelanggan.

Dukungan yang muncul secara terus menerus dari orang-orang yang terkait akan mempunyai pengaruh yang besar ter- hadap praktik VCT secara rutin. Beberapa diantaranya mempunyai pengaruh yang lebih besar dibanding dukungan dari pihak lain. Diantaranya adalah dukungan dari

sesama PSK, dari mucikari dan dari petu- gas kesehatan (Widiyanto, 2008).

5. Pengaruh praktik pelayanan klinik VCT dengan PSK melakukan VCT.

Dalam penelitian ini PSK sebagai klien dari klinik VCT diminta untuk mengukur prak- tik pelayanan klinik VCT yang dikunjungi.

Secara statistik terdapat hubungan yang signifikan dengan perilaku PSK dalam VCT secara rutin, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar PSK yang mendapat- kan praktik organisasi klinik VCT yang kurang baik tidak melakukan VCT ulang pada 3 bulan terakhir.

Sebagian PSK mendapatkan praktik pelayanan klinik VCT yang baik. Praktik pelayanan juga berperan dalam menentu- kan rasio peningkatan kemungkinan tidak dilakukannya VCT secara rutin dan PSK yang mempunyai keyakinan kurang baik tentang VCT (Indriani, 2007).

Menurut PSK di lokasi Gunung Rejo, sebagian besar variabel yang diukur pada praktik pelayanan klinik VCT menunjukkan bahwa klinik VCT memberikan pelayanan yang baik kepada klien. Variabel tersebut antara lain proses komunikasi yang lancar, konselor jarang menggunakan bahasa atau istilah yang tidak dipahami klien, klien diperlakukan dengan baik oleh konselor dan pelayanan petugas laborat yang ramah pada saat pengambilan darah. PSK juga menyatakan bahwa materi konseling pra- tes dan materi konseling post-tes berman- faat bagi klien. Hampir separuh responden menyatakan bahwa waktu yang diperlukan untuk bertemu konselor relatif lama, lebih dari 1 jam. Hal ini terjadi akibat PSK pergi ke klinik VCT di rumah sakit secara ber- kelompok dalam jumlah 8–10 orang yang dikoordinir oleh pengurus. Sehingga PSK datang ke klinik VCT pada waktu yang ber- samaan. Keterbatasan jumlah konselor yang berada di klinik VCT menyebabkan

(12)

PSK harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan giliran.

Lama waktu tunggu akan mempenga- ruhi motivasi PSK untuk mau datang ke klinik VCT untuk waktu yang selanjutnya.

Jika PSK terlalu lama menunggu, akan mengurangi motivasi untuk datang di waktu selanjutnya. Untuk mengantisipasi agar waktu tunggu tidak terlalu lama, peng- urus disarankan untuk tidak membawa PSK pergi ke klinik VCT dalam jumlah yang besar. Pengurus dapat menyarankan kepada PSK untuk memanfaatkan kebera- daan klinik VCT swasta yang terdapat di dekat lokasi Gunung Rejo.

Hal yang kurang baik yang dinyata- kan oleh PSK adalah bahwa klien menda- patkan perlakuan yang diskriminatif pada saat berada di klinik VCT yang disebabkan karena pekerjaan mereka sebagai pekerja seks.

Hasil penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Harudin di Yogyakarta pada tahun 2007 menunjukkan hasil yang sama bahwa ditemukan beberapa kendala dalam pelaksanaan testing HIV antara lain waktu tunggu klien, sikap petugas yang kurang empati dan terdapat perbedaan pelayanan terhadap klien yang akan melaksanakan testing HIV.

Hanya sebagian kecil PSK yang merasa mendapatkan perlakuan yang diskriminatif pada saat berada di klinik VCT yang disebabkan karena pekerjaan mereka sebagai pekerja seks. Perlakuan ter- sebut tidak didapatkan pada saat menjalani konseling atau tes HIV. Mereka mendapat- kan perlakuan yang berbeda dengan pasien umum lainnya pada saat mendaftar. Per- lakuan ini hanya didapatkan jika mereka melakukan VCT di rumah sakit. PSK men- jadi sangat mudah dikenali karena mereka datang secara berkelompok dan didampingi oleh pengurus rehabilitasi sosial.

Menurut Haruddin (2007) Pengguna- an bahasa yang kurang dimengerti, meng- gunakan istilah-istilah yang tidak familiar bagi PSK akan menurunkan motivasi PSK dan menyebabkan PSK bersikap pasif se- lama proses konseling, baik pada saat kon- seling pra-tes maupun konseling post-tes.

Akibat yang terjadi adalah mutu konseling menjadi kurang baik dan komunikasi antara konselor dengan klien hanya ber- jalan satu arah.

Untuk mengatasi hal ini diperlukan peningkatan kemampuan konselor VCT, khususnya dalam menghadapi klien yang telah sering melakukan konseling di klinik VCT untuk menghindari rasa jenuh yang muncul dalam diri klien. Praktik pelayanan klinik VCT yang perlu diperbaiki adalah masih terdapat klien yang mendapatkan konseling pra-tes dan konseling post-tes dari konselor yang berbeda, menyebabkan PSK semakin lama berada di klinik VCT dan menimbulkan kejenuhan bagi klien.

Pengelola klinik VCT harus dapat memas- tikan bahwa konselor benar-benar mempu- nyai waktu cukup untuk melakukan kon- seling dengan klien dan tidak mempunyai tugas rangkap.

Sebagian besar klien dalam penelitian ini menyatakan bahwa hasil tes HIV mereka ambil pada hari yang sama. Dalam alur pelayanan VCT, pada saat klien berada di ruang tunggu, klien sudah diberikan informasi tentang prosedur VCT, termasuk pilihan untuk menunggu selama 2 jam untuk dapat menerima hasil tes pada hari yang sama. Tingkat penerimaan masya- rakat cukup tinggi terhadap klinik VCT yang menyediakan layanan testing HIV cepat dan hasilnya dapat diambil pada hari yang sama (Lai et al, 2016).

Sebagian kecil klien mengambil hasil tes HIV pada hari yang lain. Hal ini ke- mungkinan disebabkan oleh ketidaksiapan klien dalam menerima hasil tes, baik hasil

(13)

reaktif maupun non-reaktif, klien belum mempunyai rencana setelah mendapatkan hasil tes HIV dan klien merasa tidak men- dapat dukungan dari keluarga atau teman.

Kemungkinan lain yang berkaitan dengan model pengangkutan PSK menuju klinik VCT secara bersama sama, PSK yang men- dapatkan giliran VCT terakhir tidak me- ngambil hasil pada hari yang sama karena sudah ditunggu pengurus dan teman PSK lain untuksegera pulang bersama.

6. Pengaruh Lingkungan Pelayanan Klinik VCT dengan PSK melakukan VCT.

Sebagian besar variabel yang diukur pada lingkungan pelayanan klinik VCT menunjukkan bahwa klinik VCT sudah memberikan tempat pelayanan yang baik kepada klien. Sebagian besar PSK menyatakan bahwa tempat VCT yang dikunjungi terasa nyaman, terdapat informasi prosedur/alur konseling bagi klien, tempat VCT menjamin rasa kepercayaan klien dan kerahasiaan in- formasi yang diberikan klien terjaga. Fasi- litas konseling dan testing di klinik VCT cu- kup lengkap, yang dinyatakan dengan ter- sedianya materi pendidikan yang memadai di ruang tunggu klinik VCT seperti poster, leaflet, brosur tentang IMS, HIV dan AIDS, serta seks yang aman. Materi pendidikan di ruang konseling klinik VCT dirasakan cukup lengkap, yang dinyatakan dengan tersedianya kondom, alat peraga penis, alat peraga suntik dan gambar-gambar infeksi oportunistik.

Secara umum, lingkungan organisasi klinik VCT yang dikunjungi klien telah me- mpunyai sarana dan prasarana yang men- dukung pelayanan VCT sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 1507/Men- kes/SK/X/05, meskipun masih terdapat beberapa hal yang dirasakan masih kurang baik. Diantaranya adalah tidak terdapat in- formasi alur atau prosedur konseling yang

cukup jelas bagi klien. Sebagian PSK juga masih mendapati pintu masuk ruang kon- seling dan sekaligus digunakan sebagai pin- tu keluar yang sama pada saat melakukan VCT. Hal ini akan menghilangkan prinsip kerahasiaan klien yang menjalani VCT ka- rena kemungkinan dapat bertemu dengan klien lain yang sedang menunggu untuk bertemu dengan konselor. Hal ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pengelola klinik VCT untuk dapat melaku- kan penataan ruangan klinik sehingga tidak mengurangi prinsip kerahasiaan klien.

Menurut Green (2005) kondisi lingkungan akan memfasilitasi dilakukannya atau tidak suatu tindakan oleh individu. Apabila kon- disi lingkungan klinik VCT menjadi ham- batan bagi klien karena merasa tidak terjaga kerahasiaannya, dimungkinkan me- ngurangi motivasi PSK untuk datang lagi ke klinik VCT tersebut. Perubahan lingkungan dalam bentuk penataan klinik VCT dapat meningkatkan partisipasi PSK sebagai klien dalam pencegahan dan penanggulangan HIV.

Berdasarkan hasil penelitian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Pengaruh praktik PSK dalam melakukan VCT dipengaruhi oleh keyakinan manfaat VCT, motivasi dari orang lain, dukungan dari orang lain, praktik pelayanan klinik VCT, Lingkungan pelayanan klinik VCT secara statistik signifikan. dan Sikap dan nilai dari mengetahui status HIV berpengaruh se- cara tidak statistik signifikan.

REFERENCE

Abamecha F, Godesso A, Girma E (2013).

Intention to Voluntary HIV Coun- seling And Testing (VCT) Among Health Professionals In Jimma Zone, Ethiopia: The Theory of Planned Behavior (TPB) Perspective. BMC Public Health. 13 (140): 1-7.

(14)

Alao SA (2004). Knowledge and attitude towards HIV/AIDS among students of tertiary institutions in Ilorin metro- polis.

Alkan ML, Akinwande OA (2010). HIV Vo- luntary Counseling and Testing (VCT) in Three Sites in Nigeria. Journal International Congress on Infectious Diseases (ICID). 1-10.

Chege PM, Muthamia OG (2017). Level of Micronutrient Supplements Uptake Among People Living with HIV/AIDS In Kayole, Nairobi County, Kenya.

Journal of AIDS and HIV Research.

(9): 74-97.

Departemen Kesehatan RI (2004). Modul Pelatihan Konseling dan Tes Sukare- lawan HIV (Voluntary Counselling and Testing= VCT).

Family Health International (2004). HIV Voluntary Counseling and Testing: A Reference Guide for Counselors and Trainers.

Fatmala, Risanita D (2016). Faktor Predis- posing, Enabling dan Reinforcing dalam pemanfaatan VCT oleh laki- laki Seks dengan Laki-laki (LSL).

Jurnal Kesehatan Masyarakat. (4):

138-150.

Gielen AC, McDonald EM (2002). Using The Precede-Proceed Planning Model To Apply Health Behavior Theories.

Dalam: Glanz, K., Rimer B.K., Lewis, F.M. Health behavior and health education: theory, research, and prac- tice. 3rd edition. Jossey-Bass. San Fransisco.

Glanz K, Rimer BK, Lewis FM (2002).

Health Behavior and Health Educa- tion: theory, research, and practice.

3rd edition. Jssey Bass. San Frans- sisco.

Green L, Kreuter M (2005). Health Pro- gram Planning an A Diagnostic App-

roach Fourth Edition. California:

McGraw-Hill Companies.

Indriani D (2007). Perilaku Pemanfaatan skrining IMS oleh WPS Resosialisasi Argorejo dalam pencegahan HIV dan AIDS di klinik Griya ASA PKBI Kota Semarang. Semarang: Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Dian Nuswan- toro.

Haruddin, Hasanbasri, Woerjandari A (2007). Studi pelaksanaan HIV Vo- luntary Counseling And Testing (VCT) di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

Working Paper Series No. 3, Program Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kartono (2009). Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: CV Mandar Maju.

___________(2011). Patologi Sosial.

Jakarta: PT. Radja Grafindo Persada.

Kawichai S, Celentano DD, Chariyalertsak S (2007). Community-based Voluntary Counseling and Testing Services in rural communities of Chiang Mai Pro- vince, Northern Thailand. AIDS Beha- vior. (11): 770-777.

Kawichai S, Celentano DD, Chaifongsri R.

(2002). Profiles of HIV Voluntary Co- unseling and Testing of clients at a district hospital, Chiang Mai Province, Northern Thailand, from 1995 to 1999. Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes. (30): 493-502.

Kemenkes RI (2014). Situasi dan Analisis HIV AIDS Pusat data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

http://www.depkes.go.id/resources/d ownload/pusdatin/infodatin/Infodati n%20AIDS.pdf. Diakses tanggal 6 Januari 2017.

Kemenkes RI. (2016). Laporan Kasus HIV/

AIDS di Indonesia sampai dengan Desember 2016. http:// spiritia.or.id/

(15)

Stats/detailstat.php?no=7. Diakses 8 Februari 2017.

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional.

(2009). Kebijakan Nasional dalam Pe- nanggulangan HIV/ AIDS. Jakarta.

Lai CC, Liu WC, Fang CT, Yang JY, Chang LH, Wu PY, Luo YZ, Chang SF, Su YC, Chang SY, Hung CC (2016). Trans- mitted Drug Resistance of HIV-1 Strains Among Individuals Attending Voluntary Counselling and Testing In Taiwan. Journal of Antimicrobial Chemotherapy. (71): 226-234.

Montano, Daniel E, Kasprzyk D (2002).

The theory of reasoned action and the theory of planned behavior. San Fransisco: Health Behavior anda Health Education.

Mubarokah K (2006). Teknik negosisiasi WPS (Wanita penjaja Seks) dalam mengajak klien memakai kondom:

studi kualitatif upaya pencegahan HIV/AIDS di lokalisasi Sunan Kuning Semarang. Fakultas Kesehatan Ma- syarakat Universitas Diponogoro.

Semarang

Murti B (2013). Prinsip dan metode riset epidemiologi. Edisi kedua, jilid per- tama. Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta.

Nasronudin (2007). HIV dan AIDS. Pen- dekatan Biologi Molekuler, Klinis dan Sosial. Ailangga University Press. Su- rabaya

Onokerhoraye AG, Maticka-Tyndale E (2012). HIV prevention for rural youth in Nigeria: background over-

view. African Journal of Reproduc- tive Health. 16: 25-38.

Peraturan Daerah Kabupaten Grobogan Nomor 4 (2014). Penanggulangan HIV dan AIDS.

Solomon S, Kouyoumdijan FG, Cecelia AJ (2006) Why are People Getting Test- ed? Self-Reported Reasons for Seek- ing Voluntary Counseling and Testing at a Clinic in Chennai, India. AIDS and Behavior. 10 (4): 415-420.

Spiritia (2011). Peran dukungan sebaya terhadap peningkatan mutu hidup ODHA di Indonesia. http://spiritia.

or.id/dokumen/laporan-penelitian- peran dukungan-sebaya.pdf. Diakses tanggal 27 Janauri 2017.

UNAIDS (2013). Position Statement on Condom and HIV Prevention. http://- data.unaids.org/una-docs/condom- policy_jul04_en.pdf. Diakses tanggal 20 November 2016.

WHO (2013). AIDS Prevention and Con- trol, Presentations on World Summit of Ministers of Health on Program for AIDS Prevention. London.

Widiyanto SG (2008). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Praktik Wanita Pekerja Seks (WPS)dalam VCT Ulang di Lokalisasi Sunan Kuning Sema- rang. Jurnal Kesehatan Masyarakat.

1-170.

Gambar

Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian
Tabel  2.  Hasil  analisis  bivariat  usia,  pekerjaan,  tingkat  stres,  body  mass  index,  dan kelainan organ reproduksi dengan infertilitas wanita di RSUD Dr

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui hasil belajar siswa dengan menggunakan alat peraga papan berpaku pada pembelajaran matematika menghitung luas

pemasangan pondasi batu kali sesuai dengan seperti apa yang direncanakan dalam.

[r]

4.19 Tabulasi Silang antara Lama Kerja dengan Unsafe

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari instansi pemerintah sebagai sumber pertama dengan melalui penelitian lapangan diperoleh langsung dari

Sekiranya permintaan dalam pasar bertambah, perusahaan yang sudah ada dalam industri akan mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk memenuhi permintaan tersebut,

seorang pengungsi tanpa kewarganegaraan dalam hal ini bayi yang dilahirkan. oleh pengungsi Suriah di wilayah negaranya, dapat ditetapkan

produk bahan ajar Modul Mata Pelajaran IPA berbasis model inkuiri terbimbing. materi energi dan merupakan merupakan hasil akhir produk