• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFISIENSI WAKTU PENDARATAN IKAN TERHADAP WAKTU TAMBAT KAPAL PERIKANAN JARING INSANG DI PPI DUMAI. Fitri Novianti 1) Jonny Zain 2) dan Syaifuddin 2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EFISIENSI WAKTU PENDARATAN IKAN TERHADAP WAKTU TAMBAT KAPAL PERIKANAN JARING INSANG DI PPI DUMAI. Fitri Novianti 1) Jonny Zain 2) dan Syaifuddin 2)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

EFISIENSI WAKTU PENDARATAN IKAN TERHADAP WAKTU TAMBAT

KAPAL PERIKANAN JARING INSANG DI PPI DUMAI

Fitri Novianti 1) Jonny Zain 2) dan Syaifuddin

2)

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2012 di pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Dumai, Propinsi Riau. Metode yang digunakan adalah metode survey. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efisiensi waktu pendaratan ikan pada alat tangkap jaring insang dan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi tersebut. Dari hasil penelitian diperoleh di 2 faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi waktu pendaratan ikan yaitu Waktu terbuang dan Kecepatan bongkar, waktu terbuang selama penelitian berkisar antara 16 menit sampai 118 menit , dan kecepatan bongkar (ton/jam) berkisar antara 0.012 ton/jam sampai 0.054 ton/jam

Kata kunci: Efisiensi waktu pendaratan ikan, Jaring insang,

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PPI Dumai memiliki dermaga yang relatif panjang dan dilengkapi dengan jeti-

jeti kecil yang di pergunakan untuk tempat bertambatnya kapal nelayan yang akan melakukan aktivitas bongkar hasil tangkapan maupun memuat perbekalan melaut.

Para nelayan yang melakukan aktifitas di PPI Dumai bukan saja nelayan Kota Dumai melainkan juga para nelayan dari daerah Sinaboi, Rupat dan Rupat Utara.

Umumnya mereka menggunakan alat tangkap jaring insang, sondong, rawai dan belat.

Pada musim ikan jumlah armada yang melakukan aktifitas di dermaga relatif banyak dan memerlukan waktu yang panjang untuk proses bongkar muat hasil tangkapan. Dengan semakin lamanya aktifitas pendaratan ikan dilaksanakan akan dapat menurunkan mutu ikan. Agar penurunan mutu ikan pada saat pendaratan dapat dijaga maka pendaratan harus di lakukan secara cepat atau mengunakan waktu yang lebih efisien.

Penggunaan waktu pendaratan ikan yang efesien akan dapat mengurangi antrian kapal yang akan melakukan pendaratan ikan pada saat musim ikan. Banyak hal yang dapat mempengaruhi tingkat efisiensi waktu pendaratan ikan di suatu pelabuhan perikanan, diantaranya: ukuran armada yang di gunakan, jumlah ikan yang di

(2)

bongkar, alat yang di gunakan, pelaku bongkar, pengelola pelabuhan, kondisi fasilitas pelabuhan, waktu tambat dan kondisi cuaca.

1.2. Tujuan dan Manfaat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efisiensi waktu pendaratan ikan kapal jaring insang dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2012 di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kota Dumai Propinsi Riau .

3.2. Objek dan Alat penelitian

Objek yang diteliti adalah adalah aktifitas pendaratan ikan pada alat tangkap jaring insang di PPI Dumai. Adapun alat yang digunakan pada penelitian ini adalah kuisioner, kamera, stopwatch dan alat tulis.

3.3.Metode Penelitian

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei. Metode survei dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap aktifitas pendaratan ikan dan wawancara kepada nelayan, pengelola, pekerja dan orang-orang yang terlibat didalamnya.

3.3.1. Pengumpulan data

Data yang di kumpulkan adalah data pokok dan data pendukung. Data pokok adalah data yang di gunakan untuk menentukan tingkat efisiensi waktu pendaratan ikan. Data pokok tersebut terdiri dari waktu yang di gunakan untuk aktifitas pendaratan ikan antara lain Waktu tambat, Waktu terbuang, Waktu Pendaratan, Waktu Pendaratan efektif, Kecepatan bongkar, Kecepatan bongkar efektif. Sedangkan data pendukung adalah data yang digunakan untuk menjelaskan hasil efisiensi waktu.

Data pendukung tersebut antara lain Jumlah ikan yang didaratkan (ton), Jumlah tenaga bongkar (jiwa), Umur tenaga bongkar (tahun), Jumlah alat bantu bongkar (unit), Jumlah tenaga pengatur tambat kapal (jiwa), Ukuran armada yang mendaratkan ikan, Lama fishing trip (hari), Kondisi fasilitas (lantai dermaga), Ukuran fasilitas (lebar dan panjang dermaga dalam meter) dan Jarak tempat bongkar (jetty) dan TPI.

3.3.2. Analisis data

Analisis data yang di gunakan dalam penelitian adalah analisis statistik untuk menentukan efisiensi waktu pendaratan ikan terhadap waktu tambat kapal perikanan jaring insang menggunakan formula berikut

E = WE x 100 % WP

(3)

Dimana :

E = Efisiensi waktu pendaratan ikan WE = Waktu efektif yang di butuhkan

untuk aktifitas pendaratan ikan (Waktu yang digunakan semata- mata hanya untuk Pendaratan Ikan) ( menit)

WP = Waktu yang di gunakan untuk pendaratan ikan (Terhitung dari kapal tambat di dermaga hingga semua ikan sampai di TPI) ( menit)

Hasil analisis tersebut selanjutnya dibahas dengan mengunakan data pendukung dan literatur yang berkaitan.

Data pendukung tersebut disajikan dalam bentuk tabel dan grafik yang menghubungkan antara data pendukung dan efisiensi waktu pendaratan. Bentuk hubungan antara data pendukung dan efisiensi waktu tersebut tersebut akan dilihat melalui persamaan regresi menggunakan microsoft excel.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Aktifitas pendaratn ikan

Aktifitas pendaratan ikan di PPI Dumai dimulai dengan aktifitas tambat labuh kapal, bongkar muat hasil tangkapan.

Aktifitas tambat labuh biasanya terjadi pada pukul 18.00 WIB setiap harinya, sedangkan

untuk aktifitas pendaratan hasil tangkapan di mulai pada pukul 02.00 WIB. Hal ini di sebabkan PPI Dumai baru melayani aktifitas pendaratan dan pelelangan ikan pada waktu tersebut. Saat PPI dibuka pada jam 02.00 WIB, para nelayan mulai membokar ikan hasil tangkapan yang masih di dalam palkah untuk memulai penyortiran menurut jenis, ukuran dan kondisinya.

Kegiatan pendaratan di lakukan oleh masing–masing nelayan yang melibatkan 2- 4 orang nelayan. Setelah ikan selesai di sortir kemudian ikan diangkut ke TPI dengan mengunakan gerobak yang terbuat dari kayu. Ikan–ikan tersebut langsung di angkut oleh buruh angkut yang terdapat di PPI Dumai. Setelah ikan sampai ke TPI di lakukan penimbangan dan penjualan oleh agen–agen kepada pedagang pengencer dan pengumpul yang langsung datang ke TPI.

Pelaku-pelaku yang terlibat dalam aktivitas pendaratan ikan adalah ABK kapal terkait, nelayan, buruh angkut serta satpam PPI sebagai pengawas aktifitas. Sedangkan peralatan yang di gunakan antara lain keranjang, jerigen, serta gerobak.

4.2.Efisiensi waktu pendaratan ikan Waktu pelayanan untuk aktivitas pendaratan ikan di mulai pada pukul 02.00

(4)

WIB hingga selesai, tergantung dari aktifitas terakhir nelayan. Walaupun demikian tidak satu pun nelayan yang melakukan pendaratan ikan tepat pada pukul 02.00 WIB.

Dari 10 hari pengamatan aktfitas pendaratan ikan pertama kalinya (paling pagi) di lakukan pada pukul 02.03 WIB yakni pada hari ke- 1, sedangkan aktifitas pendaratan yang paling lama di lakukan pada pukul 02.58 WIB yakni pada hari ke- 2.

Lamanya waktu pendaratan ikan (waktu tambat) selama 10 hari pengamatan berkisar antara 1,48 jam hingga 3,08 jam, waktu pendaratan tercepat terjadi pada hari ke-6 sedangkan waktu pendaratan terlama pada hari ke-2.

Waktu terbuang pada saat aktifitas pendaratan ikan selama 10 hari pengamatan berkisar antara 0,26 jam hingga 1,97 jam menit, waktu terbuang paling sedikit pada hari ke-1 sedangkan waktu terbuang terbanyak pada hari ke- 3.

Dari hasil pengurangan waktu pendaratan ikan (waktu tambat) dan waktu terbuang akan diperoleh waktu efektif yang digunakan untuk pendaratan ikan. Hasil pengamatan menunjukan bahwa waktu efektif pendaratan ikan antara 0,75 jam

sampai 1,92 jam, dimana waktu efektif terkecil terjadi pada hari ke-3 sedangkan terbesar pada hari ke-7.

Hasil perhitungan efisiensi waktu pendaratan ikan menunjukan bahwa tingkat efisiensi waktu pendaratan berkisar antara 27,57% sampai 84,21%, tingkat efisiensi yang paling kecil terdapat pada hari ke-3 sedangkan tingkat efisiensi terbesar pada hari ke- 7.

4.3. Faktor–faktor yang berpengaruh terhadap tingkat efisiensi waktu pendaratan ikan.

Efisiensi waktu pendaratan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya lamanya waktu terbuang, jumlah ikan didaratkan, kecepatan bongkar ukuran armada, jumlah tenaga bongkar, jumlah alat bantu, jarak jetty ke TPI, umur pelaku bongkar dan lama fishingtrip.

Pengaruh faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.

Waktu Tebuang

Waktu terbuang di pergunakan oleh nelayan untuk istirahat, perbaikan kapal, menunggu waktu bongkar muat hasil

(5)

tangkapan dan menunggu antrian gerobak untuk mengangkut ikan ke TPI.

Gambar 8 . Hubungan waktu terbuang dan efisiensi waktu pendaratan

Waktu terbuang saat aktivitas pendaratan dibedakan atas tiga jenis, yakni (1) lamanya waktu antara pelayanan buka (jam 02.00 WIB) dan awal buka palka ikan atau dinamakan dengan istirahat 1, (2) WAKTU ...DAN atau istirahat 2 dan (3) lamanya waktu menunggu gerobak atau istirahat 3. Rata-rata waktu yang digunakan untuk istirahat 1, 2 dan 3 dalam persentase tertera pada gambar berikut.

Gambar 9. Persentase waktu istirahat pada saat aktivitas pendaratan ikan

Jumlah Ikan didaratkan

Jumlah ikan yang didaratkan oleh armada gillnet selama pengamatan berkisar antara 0,015 ton hingga 0,125 ton dimana jumlah terendah terjadi pada hari ke-2 dan terbesar hari ke-10.

Gambar 10. Grafik hubungan jumlah ikan yang didaratkan dan efisiensi waktu pendaratan

Kecepatan Bongkar

Dengan membagi jumlah ikan yang didaratkan dengan waktu pendaratan tersebut akan diperoleh kecepatan bongkar yang besarnya antara 0,01 ton/jam hingga 0,102 ton/jam (Tabel 4). Hubungan kecepatan bongkar dan efisiensi waktu pendaratan maka diperoleh terlihat pada gambar berikut.

y = -26,5ln(x) + 51,04 R = 0,978

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5

0 1 2 3

efisiensiwaktu pendaratan

waktu terbuang

59,264 14,222

26,523

Istirahat 1 Istirahat 2 Istirahat 3

y = -71757x2+ 5067,x - 18,58 R = 0,806

0 20 40 60 80 100

0 0,02 0,04 0,06 0,08

efisiensi wakru pendaratan

jumlah ikan yang di dartakan

(6)

Gambar 11. Hubungan kecepatan bongkar dan efisiensi waktu pendaratan ikan

Ukuran Armada

Armada gillnet yang diteliti memiliki ukuran panjang 7 hingga 10 m dimana sebahagian kapal sampel yang diamati mempunyai ukuran 7 m yakni selama 6 hari pengamatan sedangkan ukuran 8 dan 9 m masing-masing 1 hari dan ukuran 10 m terdapat pada 2 hari pengamatan (Tabel 5) Hubungan ukuran armada dan efisiensi waktu pendaratan ikan terlihat pada Gambar 12.

Gambar 12. Hubungan ukuran armada dan efisiensi waktu pendaratan ikan

Jumlah tenaga bongkar

Selama pengamatan jumlah tenaga bongkar saat pendaratan ikan berjumlah 3 hingga 4 orang. Jumlah tenaga bongkar 3 orang terjadi selama 6 hari, yakni pada hari pengamatan 4 hingga 9 sedangkan hari lainnya berjumlah 4 orang (Tabel 6).

Hubungan jumlah pelaku bongkar dan efisiensi waktu pendaratan terlihat pada Gambar 13.

Gambar 13. Hubungan jumlah tenaga bongkar dan efisiensi waktu pendaratan ikan

Jumlah alat bantu

Jumlah alat bantu yang digunakan saat pendaratan ikan armada gillnet berjumlah antara 3 hingga 5 unit dimana sebahagian besar pada saat pengamatan menggunakan 4 unit alat bantu yakni selama 6 hari sedangkan 3 unit alat bantu hanya 1 hari pengamatan dan 5 unit pada 3 hari pengamatan (Tabel 7). Hubungan jumlah alat bantu yang digunakan dan efisiensi

y = -26,5ln(x) + 51,04 R = 0,978

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5

0 1 2 3

efisiensiwaktu pendaratan

kecepatan bongkar

y = -7,426x2+ 123,9x - 444,5 R = 0,329

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

0 5 10 15

efisiensiwaktu pendaratan

ukuran armada

y = 256,7x-1,24 R = 0,522

0 20 40 60 80 100

0 2 4 6

efisiensiwaktu pendaratan

jumlah tenaga bongkar

(7)

waktu yang digunakan terlihat pada Gambar14.

Gambar 14. Hubungan jumlah alat bantu dan efisiensi waktu pendaratan ikan

Jarak Jetty dan TPI

Jarak antara TPI dan jetty selama pengamatan berkisar antara 16,4 m hingga 160,8 m dimana jarak terpendek terjadi pada hari ke-2 sedangkan jarak terpanjang pada hari ke-5 dan 7 (Tabel 8).

Gambar 15. Hubungan jarak jetty ke TPI dan efisiensi waktu pendaratan ikan

Umur pelaku bongkar

Umur pelaku bongkar saat melakukan pendaratan ikan selama pengamatan berkisar antara 30 hingga 54 tahun dimana sebagian besar berumur 30-an tahun. Hubungan umur pelaku bongkar dan efisiensi waktu pendaratan ikan terlihat pada tabel dan gambar berikut

Gambar 16. Hubungan umur pelaku bongkardan efisiensi waktu pendaratan ikan

Lama fishing trip

Fishing trip armada gillnet yang melakukan pendaratan ikan di PPI Dumai selama pengamatan berkisar antara 2 hingga 6 hari, namun sebagian besar memiliki fishing selama 3 hari (Tabel 10). Hubungan lama fishing trip dan efisiensi waktu pendaratan terlihat pada Gambar 17.

y = -30,47x2+ 244,5x - 418,9 R = 0,820

0 20 40 60 80 100

0 2 4 6

efisiensiwaktu pendaratan

jumlah alat bantu

y = -0,001x2+ 0,452x + 37,73 R = 0,494

0 20 40 60 80 100

0 100 200 300

efisiensi waktu pendaratan

jarakjety ke TPI

y = 0,081x2- 6,820x + 196,5 R = 0,257

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

0 20 40 60

Efisiensiwaktu pendaratan

umur pelaku bongkar

(8)

Gambar . Hubungan lama fishingtrip dan efisiensi waktu pendaratan ikan

4.4. Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi waktu pendaratan ikan pada kapal jaring insang di PPI Dumai berkisar antara 27,57% hingga 84,21% dengan rata-rata 59,82%. Besarnya efisiensi waktu pendaratan ikan tersebut dipengaruhi oleh 9 faktor. Dari 9 faktor yang diamati menunjukkan bahwa terdapat 5 faktor yang mempunyai korelasi kuat terhadap efisiensi waktu pendaratan ikan dan 4 faktor yang mempunyai korelasi lemah.

Faktor-faktor yang mempunyai korelasi kuat terhadap efisiensi waktu pendaratan ikan antara lain lamanya waktu terbuang, jumlah ikan didaratkan, kecepatan bongkat, jumlah tenaga bongkar dan jumlah alat bantu pada saat aktivitas pendaratan ikan. Jenis dan kekuatan hubungan antara

efisiensi waktu pendaratan dengan kelima faktor tersebut tertera pada tabel berikut.

Dari tabel tersebut terlihat bahwa lamanya waktu terbuang saat aktivitas pendaratan ikan dilaksanakan mempunyai pengaruh yang paling besar diantara keempat faktor lainnya diikuti oleh jumlah alat bantu yang digunakan, jumlah ikan didaratkan, kecepatan bongkar dan jumlah tenaga bongkar. Hal ini terlihat dari urutan besarnya nilai korelasi yang diperoleh.

Pengaruh waktu terbuang tersebut bersifat negatif dimana semakin besar waktu terbuang maka akan semakin kecil efisiensi waktu pendaratan, begitu pula sebaliknya (Gambar 8). Demikian pula pengaruh jumlah tenaga bongkar terhadap efisiensi waktu pendaratan (Gambar 13). Namun jumlah ikan didaratkan, kecepatan bongkar dan jumlah alat bantu yang digunakan saat aktivitas pendaratan ikan memiliki nilai tertentu untuk memperoleh efisiensi waktu pendaratan yang optimal (Gambar 10,11 dan 14).

Waktu terbuang yang mempengaruhi efisiensi waktu pendaratan sebahagian besar disebabkan oleh istirahat pertama (59,264%) yakni istirahat menunggu memulai aktivitas pendaratan setelah pelabuhan membuka pelayanannya dibanding waktu istirahat

y = -1,595x2+ 9,642x + 47,93 R = 0,235

0 20 40 60 80 100

0 2 4 6 8

efisiensi waktupendaratan

lama fishing trip

(9)

laiannya yakni saat aktivitas pendaratan ikan telah dimulai.

Faktor-faktor yang mempunyai pengaruh sangat lemah terhadap efisiensi waktu pendaratan ikan oleh kapal jaring insang antara lain ukuran armada, jarak jetty ke TPI, umur pelaku bongkar dan lama fishing trip. Dari keempat faktor tersebut terlihat bahwa faktor yang sangat kecil pengaruhnya terhadap efisiensi waktu pendaratan adalah lama fishing trip, diikuti oleh umur pelaku bongkar, ukuran armada dan jarak jetty ke TPI. Hal tersebut terlihat dari urutan nilai korelasi yang diperoleh dari yang terkecil hingga terbesar dari keempat faktor tersebut. Jenis dan kekuatan hubungan keempat faktor tersebut tertera pada tabel berikut.

Ukuran armada mempunyai korelasi yang lemah terhadap efisiensi waktu bongkar disebabkan dimensi yang diukur adalah panjang kapal. Sedangkan aktivitas mengambil ikan dari palka saat bongkar hasil tangkapan akan dipengaruhi oleh kenyamanan pelaku bongkar. Hal ini diduga akan diperoleh bila kapal yang dibongkar memiliki lebar lebih besar dan freeboard yang relatif kecil sehingga ruang gerak lebih

lebar dan jarak ketinggian jetty dan geladak kapal juga akan relatif sama sehingga aktivitas bongkar ikan akan lebih lancar.

Umur pelaku bongkar mempunyai korelasi yang lemah terhadap efisiensi waktu bongkar. Hal ini diduga disebabkan oleh jumlah ikan yang didaratkan selama penelitian relatif kecil sehingga walaupun perbedaan umur pelaku bongkar relatif besar namun tidak mempunyai pengaruh yang berarti karena ikan akan dapat didaratkan dengan hanya beberapa kali angkut dari kapal ke TPI sehingga tidak menguras tenaga bagi yang berumur relatif tua.

Demikian pula halnya pengaruh fishing trip dan jarak jetty tempat bongkar hasil tangkapan ke TPI.

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Efisiensi waktu pendaratan ikan pada kapal jaring insang di PPI Dumai berkisar antara 27,57% hingga 84,21% dengan rata- rata 59,82%. Terdapat 5 faktor yang berkorelasi kuat terhadap besarnya efisiensi waktu pendaratan ikan tersebut yakni lamanya waktu terbuang, jumlah ikan didaratkan, kecepatan bongkar, jumlah tenaga bongkar dan jumlah alat bantu pada saat aktivitas pendaratan ikan.

(10)

Selain faktor-faktor yang mempunyai kuat terhadap efisiensi waktu pendaratan juga terdapat faktor-faktor yang berkorelasi lemah terhadap efisiensi waktu pendaratan, yakni ukuran armada, jarak jetty ke TPI, umur pelaku bongkar dan lama fishing trip 5.2. Saran

Untuk lebih meningkatkan efisiensi waktu pendaratan ikan sebaiknya pengelola pelabuhan dan pelaku-pelaku yang terlibat dalam aktivitas pendaratan ikan mulai melaksanakan pendaratan ikan tepat pada waktu pelayanan pendaratan ikan di buka

DAFTAR PUSTAKA

Ayodhyoa,A.U.I.1981.Metode Penangkapan Ikan yayasan Dwi Sri. Bogor.

Dirjen Perikanan Tangkap. 2002, Pedoman Pengolahan Pelabuhan Perikanan.

Jakarta. 108 hal.

Dirjen Perikanan 1994. Petunjuk Teknis Pengelolaan Pelabuahn Perikanan.

Direktorat Bina Prasarana . Jakarta .162 hal.

Dirjen Perikanan Tangkap. 2002. Pedoman Pengolahan Pelabuhan Perikanan.

, 1996. Buku Petunjuk Pelaksanaan Struktur Organisasi dan Manajemen Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Direktorat Bina Prasarana Perikanan. Jakarta.

Lubis, E. 2000 Pengantar Pelabuhan

Perikanan. Laboratorium Pelabuhan Perikanan Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor 71 hal.

Lubis, E. 2002 Pengantar Pelabuhan Perikanan. Laboratorium Pelabuhan Perikanan Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor 72 hal.

Norpirin. 1997. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro dan Mikro.

SyawaLuddin, K.2004. Manajemen Operasional Pangkalan Pendaratan ikan Dumai Provinsi Riau, Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru. 64 hal.

Stoner. F.J. 1995. Manajemen . PT. Penerbit Hallindo, Jakarta.

http://kelurahanpurnama.com/produk- unggulan/perikanan-dan-kelautan.

Zain. J, 2012. Efisiensi Pendartan ikan . ( Kosultasi Pribadi)

(11)

Gambar

Gambar 9. Persentase waktu istirahat pada  saat aktivitas pendaratan ikan
Gambar 13. Hubungan jumlah tenaga bongkar dan efisiensi  waktu pendaratan ikan
Gambar    15.  Hubungan  jarak  jetty  ke  TPI  dan efisiensi waktu pendaratan ikan
Gambar    .  Hubungan  lama  fishingtrip  dan  efisiensi waktu pendaratan ikan

Referensi

Dokumen terkait

Dengan motivasi yang keras, tangguh, serta keinginan mencapai sukses, saya sebagai professional yakin dapat sebaik mungkin memberikan seluruh tenaga serta

Dia juga mengatakan bahwa Pemakaian Bahasa Alay Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar mulai tergusur oleh munculnya bahasa Alay, hal ini tampak jelas pada bahasa lisan

Self- - reflection reflection Emancipatory Emancipatory Power Power History/ Hermeneutics History/ Hermeneutics Practical Practical Practical Practical Interaction

Dari data yang diperoleh di lapangan tingkat efisiensi pendaratan ikan tuna memiliki korelasi yang kuat ( r=0,836) terhadap variabel ukuran kapal (GT), berat

Petani garam merupakan seseorang yang menjalankan dan bertanggungjawab pada usahatani dengan komoditi garam mulai dari pengolahan air laut hingga proses panen hasil

Analisis Dampak Kafein Terhadap Hasil Perhitungan Heart rate Lari 100 M dan Illinoise Agility Kafein mempunyai efek ergogenik yang dapat meningkatkan peforma, terutama

Untuk mempelancarkan jalanya penelitian yang akan diteliti, maka perlu di buat pembatasan masalah yang menjadi sasaran dari penelitian dengan hanya melihat hal

1) Kecepatan kapal; umumnya kapal perikanan membutuhkan kecepatan yang tinggi untuk mengejar kelompok ikan, dan membawa hasil tangkapan ikan segar dalam waktu yang