• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 91/PUU-X/2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 91/PUU-X/2012"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 91/PUU-X/2012

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 1999

TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR

8 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN

TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA

REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

ACARA

PEMERIKSAAN PENDAHULUAN

(I)

JAKARTA

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

---RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 91/PUU-X/2012 PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian [Pasal 25 ayat (2)] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

PEMOHON

Ricky Elviandi Afrizal

ACARA

Pemeriksaan Pendahuluan (I)

Senin, 24 September 2012, Pukul 13.10 – 13.36 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Muhammad Alim (Ketua)

2) Ahmad Fadlil Sumadi (Anggota)

3) Maria Farida Indrati (Anggota)

(3)

Pihak yang Hadir: A. Pemohon:

(4)

1. KETUA: MUHAMMAD ALIM

Sidang pemeriksaan permohonan Perkara Nomor 91/PUU-X/2012, kami buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

Saudara Pemohon, saya persilakan siapa yang hadir pada kesempatan ini?

2. PEMOHON: RICKY ELVIANDI AFRIZAL

Terima kasih, Pak Hakim Majelis. Kebetulan yang hadir kami sendiri, Pemohon sendiri, Pak.

3. KETUA: MUHAMMAD ALIM

Ya.

4. PEMOHON: RICKY ELVIANDI AFRIZAL

Terima kasih, Pak.

5. KETUA: MUHAMMAD ALIM

Saudara … Saudara Ricky, ya?

6. PEMOHON: RICKY ELVIANDI AFRIZAL

Betul Pak, Majelis.

7. KETUA: MUHAMMAD ALIM

Ya. Ini sudah Saudara serahkan permohonan Saudara dan sudah ada pada kami. Saya persilakan Saudara menerangkan apa sih yang Saudara mohon dalam permohonan Saudara? Saya persilakan, singkat-singkat saja.

8. PEMOHON: RICKY ELVIANDI AFRIZAL

Terima kasih, Pak.

SIDANG DIBUKA PUKUL 13.10 WIB

(5)

9. KETUA: MUHAMMAD ALIM

Ya. Pokok-pokoknya saja, ya.

10. PEMOHON: RICKY ELVIANDI AFRIZAL

Ya, Pak. Terima kasih, Pak, sebelumnya. Sebagaimana permohonan yang kami ajukan, yaitu Pasal 25 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974. Sementara itu, dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. Khususnya frasa yang menyangkut pejabat pembina, Pak.

Pejabat pembina kepegawaian negeri pusat, yang pemberlakuannya

diberlakukan di kantor wilayah Badan Pertahanan Nasional Provinsi Kalimantan Timur dan Kantor Pertanahan Kabupaten Kutai Timur. Karena yang berlaku di dalam hukum pegawai negeri sipil, Pak, kan … adalah hukum manajemen, Pak.

Sementara itu keterkaitan antara kewenangan pejabat pembina dengan manajemen kami masih terkait Pak, sampai hari ini belum ada penyelesaian, gitu. Sementara ada … ya, ada surat dikeluarkan dari Badan Kepegawaian Negara yang sementara sebagaimana yang kami sudah lampirkan di alat bukti. Dinyatakan dibatalkan, yaitu mengenai … ha, di sisi lain pula dinyatakan tidak berlaku lagi. Berarti kan kapan berlakunya dan jika dibatalkan berarti kan sama saja kami tidak pernah menjadi pegawai negeri sipil, Pak? Terhitung mulai tanggal 01-03-1993, sementara itu keterkaitan peraturannya kan telah terkait, Pak.

Di samping sebelumnya itu juga telah apa … telah terselenggara oleh pemerintah, yaitu Pendataan Ulang Pegawai Negeri Sipil yang disingkat PUPNS bulan Juni, tahun 2003. Dan kami telah menerima petikan dari Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara.

11. KETUA: MUHAMMAD ALIM

Ya.

12. PEMOHON: RICKY ELVIANDI AFRIZAL

Ha, gitu Pak. Jadi, inti besarnya gitu Pak. Terima kasih, Pak.

13. KETUA: MUHAMMAD ALIM

Nanti dengarkan nasihat-nasihat dari Bapak dan Ibu Hakim nanti.

14. HAKIM ANGGOTA: AHMAD FADLIL SUMADI

Pak Ricky Elviandi Afrizal, ya? Sidang ini di dalam Mahkamah Konstitusi saja adanya, namanya sidang pemeriksaan pendahuluan.

(6)

Dalam pemeriksaan pendahuluan ini, Mahkamah selain memeriksa dengan cara mendengar apa yang Saudara ajukan sebagai permohonan Saudara, Mahkamah juga punya kewajiban untuk menasihati.

Oleh karena itu, Mahkamah Konstitusi akan memberikan nasihat terkait dengan permohonan Saudara ini. Supaya permohonan Saudara ini menjadi jelas dan menjadi lengkap, begitulah. Dalam pembacaan saya terhadap permohonan Saudara ini, permohonan Saudara ada hal-hal yang tidak jelas dan tidak lengkap.

Oleh karena itu, saya akan memberikan nasihat berdasarkan yang saya baca dari permohonan Saudara ini. Yang pertama adalah bahwa di dalam permohonan ini, Saudara seharusnya apa namanya … memilih permohonan yang menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi. Secara samar-samar, saya sudah melihat bahwa Saudara memilih permohonan yang menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi ini adalah mengenai pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Nah, uraian dalam permohonan Saudara ini tidak begitu jelas mengenai permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Tahun 1945 itu. Yang ringkasnya tidak jelasnya itu seperti ini, Anda di sini meminta Pasal 25 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang pokok-pokok kepegawaian yang sekarang ini diajukan permohonan.

Nah, Pasal 25 ayat (2) itu Saudara mestinya menyebutkan bunyinya seperti apa? Di dalam bunyi Pasal 25 ayat (2) itu ada norma, normanya apa? Berikutnya lagi, norma itu secara konstitusional dalam posita Saudara harus dijelaskan, apa kerugian konstitusional yang Saudara alami akibat berlakuknya Pasal 25 itu? Seharusnya uraiannya itu seperti itu, jadi … kalau urutanya, strukturnya sudah benar, kewenangan Mahkamah misalnya, Pasal 24 ayat (2), Pasal 24C ayat (1) Mahkamah berwenang, tapi Saudara hanya menyatakan Mahkamah berwenang menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945, di sini pun Saudara tidak menyebutkan, sebenarnya Saudara kan harus menyebutkan, “Permohonan saya ini adalah mengenai Pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 yaitu Pasal 25 ayat (2) terhadap pasal berapa dari Undang-Undang Dasar 1945.” Ini enggak ada, coba dibuka itu! Di kewenangan kan enggak ada kan?

Lalu yang kedua, kedudukan hukum legal standing. Saudara sudah menyebut banyak di sini, tapi yang Saudara sebut itu adalah kerugian yang bersifat praktek dari norma atau dalam bahasa yang lazim dipergunakan adalah penerapan hukum itu. Nah, kalau kerugian itu akibat suatu penerapan yang tidak sesuai dengan Pasal 25 ayat (2) itu pengadilannya tidak di sini, Saudara mengajukannya tidak di sini, tapi kalau itu putusan pejabat tata usaha negara seperti bupati atau seperti kepala kantor dan seterusnya yang menurut istilah Saudara Pembina kepegawaian itu, itu harus diajukan ke pengadilan lain selain Mahkamah Konstitusi, misalnya pengadilan tata usaha negara. Kalau mengakibatkan

(7)

kerugian perdata, ya di peradilan umum, kan begitu? Kalau di sini apa? Di sini ini adalah pengujian mengenai norma sehingga yang dirugikan pun … yang dirugikan pun tidak merupakan kerugian konkret tapi kerugian berlakunya norma itu terhadap hak konstitusional Saudara, hak memperoleh kepastian hukum yang adil, hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak misalnya. Apakah norma itu mengahalangi Saudara untuk memperoleh pekerjaan yang layak? Apakah norma itu menjadikan Saudara terhalang untuk memperoleh kepastian hukum yang adil misalnya, itu seperti itu, di sini tidak ada, sehingga ketika Saudara menguraikan … apa namanya … legal standing yang Saudara tulis di sini itu kan tidak ada, demikian pula mengenai posita, mengenai posita tentang pokok permohonan. Oleh karena itu, Saudara mesti konstruksi ulang itu.

Terakhir adalah soal petitum, soal petitum ini Saudara juga secara samar-samar saya menangkap Saudara ini memohon supaya Mahkamah Konstitusi sepertinya dimohon untuk … apa … memutuskan secara konstitusional bersyarat, tapi bukan seperti ini cara memutuskan untuk konstitusional bersyarat itu. Kalau mau mudah sebenarnya Saudara mesti mengkaji … apa … putusan yang sudah ada, itu lebih mudah dibanding dengan mempelajari buku-buku teks, gitu ya, itu lebih mudah. Lalu Saudara menganalogikan apa yang ada di situ bagi permohonan Saudara.

Saya pikir itu nasihat saya, itu pun kalau Saudara akan menggunakannya sebagai … apa namanya … bahan untuk memperbaiki, tapi kalau, “Sudah, Pak. Saya ini saja.” Ya silakan, silakan, gitu ya. Ini kewajiban saya, saya sudah melaksanakan dan hak Saudara pula untuk menerima atau tidak bersetuju dengan pendapat atau nasihat ini. Terima kasih atas perhatian Saudara dan terima kasih Pak Ketua.

15. HAKIM ANGGOTA: MARIA FARIDA INDRATI

Terima kasih, Pak Ketua. Yang pertama, kalau kita melihat permohonan Bapak ini saya bingung (suara tidak terdengar jelas), Pak. karena banyak hal-hal yang kemudian saling tumpang tindih dan di mana-mana diulangi dari depan ke belakang. Yang pertama juga tentang penulisan. Ada beberapa Bapak mengatakan kalau Pasal 25 angka 2, kalau di sini bukan angka 2 tapi ayat (2) dan angka 2-nya dalam kurung, ya. Nah, yang dimaksud kerugian konstitusional adalah kalau konstitusi itu memberikan suatu kewenangan, misalnya hak setiap warga negara adalah ini, maka kalau ada undang-undang yang kemudian mengatur bahwa seseorang itu bisa hilang haknya itu, maka itu menjadi hak konstitusional yang dirumuskan dalam konstitusi. Ya, di sini Bapak merumuskan di dalam halaman 4 bahwa hak konstitusional itu adalah Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 5 ayat (2) itu adalah bahwa presiden menetapkan

(8)

peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya.

Jadi kalau dilihat dari rumusan norma ini, maka norma ini

addressaat-nya bukan seseorang, tapi presiden itu sendiri. Jadi, tidak

ada hak konstitusional Bapak yang akan terlanggar karena pasal ini, ya. Jadi ini yang harus dilihat lagi, ini dihubungkan dengan halaman 12 angka 5 juga Pasal 5 ayat (2) itu, dimana dikatakan Pasal 5 ayat (2), “Yang menganut prinsip mengharuskan aturan pemerintah di bidang kepegawaian untuk dijalankan sebagaimana mestinya oleh kepala badan pertahanan nasional yang telah menerima pendelegasian sebagai sebagian wewenang Presiden dalam hal melancarkan pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian pegawai negeri sipil, dan seterusnya.” Ini bukan hak konstitusional Pemohon, ya. Bahwa presiden kemudian membuat peraturan pemerintah untuk menjalankan suatu undang-undang atau Undang-Undang Kepegawaian, maka bukan merupakan suatu hak konstitusional Pemohon, tetapi ini bagaimana presiden melaksanakan undang-undang itu, Undang-Undang Kepegawaian, ya.

Kemudian yang … di sini berapa kali Bapak menyebutkan adanya pemberhentian … apa … pemecatan atau pergantian NIP. Saya rasa memang pada suatu saat ada pergantian NIP secara keseluruhan ya, ada itu. Itu bukan hanya kepada Bapak saja, tapi semua pegawai negeri sipil itu ada pergantian itu. Kemudian di dalam petitum yang paling penting adalah kalau petitum itu harus sesuai dengan duduk perkaranya. Antara posita dan petitumnya harus sama. Dan di sini petitum pertama Bapak menyatakan, “Menerima dan mengabulkan permohonan Pemohon sepanjang dalam putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, nomor sekian tidak menjelaskan kepentingan hukum pegawai negeri sipil atas nama Ricky, dan seterusnya yang dirugikan.” Mahkamah ini tidak mengadili putusan dari pengadilan mana pun. Jadi, kalaupun ada pengadilan negeri, pengadilan tata usaha negara atau keputusan Mahkamah Agung pun tidak bisa diadukan ke sini. Karena kewenangan kita tidak mengadili putusan-putusan pengadilan tersebut, tapi kita mengadili norma.

Jadi kalau dalam pasal-pasal suatu peraturan itu ada yang dipertentangkan dengan konstitusi, maka itu yang akan diadili di sini. Sehingga kalau Bapak tadi menyatakan Pasal 25 ayat (2) Undang-Undang Kepegawaian itu dianggap merugikan Bapak, maka itu yang harus diuraikan. Masalah konkret tentang penerapan pasal tersebut, misalnya karena pasal tersebut kemudian Bapak dirugikan dengan putusan pengadilan. Putusan pengadilan itu dapat dirumuskan, sehingga dapat mengedepankan kerugian Bapak. Jadi, kasus-kasus yang ada secara konkret itu bisa dirumuskan sebagai landasan pengujian terhadap norma Pasal 25 ayat (2) tersebut, ya. Jadi, di sini mohon Bapak untuk merumuskan kembali dan putusan MK itu biasanya kalau ini memang bertentangan dengan konstitusi, maka kita akan mengabulkan, kalau

(9)

tidak kita akan menolaknya. Tetapi kadang-kadang kita bisa melihat bahwa ada memang putusan yang menyatakan ini dianggap konstitusional kalau dibaca atau dimaknai seperti ini. Nah, kalau Bapak ingin seperti itu, maka permohonan ini harus diperbaiki lagi sehingga dapat mengedepankan, menjelaskan kepada kami bahwa memang Bapak dirugikan dalam kasus yang menyangkut Pasal 25 ayat (2) tersebut, ya.

16. KETUA: MUHAMMAD ALIM

Saudara Pemohon sudah dengar kan tadi beberapa nasihat dari Bapak dan Ibu Hakim. Ini saya tambahkan sedikit bahwa di dalam permohonan Saudara, Saudara menyebutkan Pasal 25 angka 2, bukan angka 2, ayat (2). Yang pakai angka itu biasanya Pasal 1 karena itu definisi-definisi, ya. Itu … jadi, ini Pasal 25 ayat (2). Tadi oleh Bapak yang di sebelah kanan saya, Pak Dr. Ahmad Fadlil Sumadi mengatakan, “Sede … mestinya itu disebutkan un … bunyi atau redaksi daripada pasal yang diuji.” Ini saya … saya bacakan kepada Saudara, sudah ada juga dalam bukti Saudara. Jadi, di sini sauda … Pasal 25 itu begini, ayat (1)-nya mengatakan, “Pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian pegawai negeri sipil dilakukan oleh presiden,” itu ayat (1)-nya.

Lalu ayat (2) yang Saudara uji, “Untuk memperlancar pelaksanaan pengangkatan, pemindahan, dan pembe … pemberhentian pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), presiden dapat … kata dapat … presiden dapat mendelegasikan sebagian wewenangnya kepada pejabat, pembina kepegawaian pusat, dan menyerahkan sebagian wewenangnya kepada pejabat pembina kepegawaian da … daerah yang diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.”

Jadi, penyerahan kepada siapa, kepada siapa, dan untuk sampai eselon berapa yang bisa dikerjakan oleh apa … pembina kepegawaian pusat dan pembina kepegawaian daerah itu … itu diatur dalam peraturan pemerintah. Pada peraturan pemerintah, tidak bisa diuji di sini, itu wewenangnya Mahkamah Agung, umpamanya. Jadi, pengaturannya ini lebih lanjut ini.

Nah, mengapa itu pembuat … pembentuk undang-undang harus didelegasikan? Dulu tahun 1993, saya ndak tahu sekarang persisnya, itu 4.009.000 itu pegawai seluruh Indonesia. Apa bisa presiden tanda tangani kenaikan berkalanya dan lain-lainnya, kalau dia semua yang kerjakan? Maka di sini katakan, “Dapat.” Oleh karena itu presiden yang memberikan.

Jadi, ayat (2) yang Saudara uji ini, itu tidak … tidak serta-merta (suara tidak terdengar jelas) diatur dengan peraturan pemerintah mengenai delegasi yang sampai dimana.

Ayat (3)-nya, jabatan, pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian jabatan jaksa agung, pimpinan lembaga pemerintah non

(10)

… nonkementerian dulu istilahnya nondepartemen. Sekretaris jenderal lembaga negara dulu adalah lembaga tertinggi di MPR, sekarang tidak ada lagi dan kewenangan tinggi negara. Sekjen departemen atau kementerian sekarang, dirjen, irjen, itu tidak bisa didefinisikan, itu harus tanda tangan presiden, itu kan terbatas orangnya.

Tapi kalau yang 4.009.000 orang itu, katakanlah sekian juta orang mau ditandatangani sama presiden, bisa mati berdiri itu presiden. Ya, ini aturan pelaksanaan lebih lanjut. Itu … itu mengenai undang-undangnya sendiri. Dan undang ayat … ayat (2) ini tidak berlaku dengan sendirinya, melainkan berlaku sesudah ada peraturan pemerintah dan peraturan pemerintah tidak di … bisa diuji di sini karena itu bukan kewenangan kami. Jadi, itu nasihat juga itu.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Yang Mulia tadi bahwa ini di dalam petitum Saudara angka 1, itu rupanya masalah Saudara sudah diputus oleh Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta.

Nah, kata seperti nasihat Ibu Prof. tadi Yang Mulia Ibu Prof, itu di sini tidak akan bisa membatalkan satu putusan pengadilan lain. Demikian pula putusan di sini tidak bisa dibatalkan oleh pengadilan lain karena kita sama-sama mengemban tugas dengan wewenang yang masing-masing terbatas, dengan wewenang yang masing-masing tertentu. Itu yang disebut dengan kompetensi mutlak atau atribusi masing-masing. Di sini, kalau sudah diputus di sana, di sini tidak … tidak bisa mengutik-ngutik itu di sana.

Nah, sebagaimana nasihat Yang Mulia tadi Dr. Ahmad Fadlil yang sebelah kanan saya, itu Beliau katakan, “Ini mestinya ke pengadilan tata usaha negara,” dan betullah yang Saudara tempuh? Tapi ternyata, rupanya Saudara punya permohonan ditolak, ya? Ya? Kenapa? Ya, makanya jadi di situ mengena.

Kemudian di petitum kedua, itu yang pemberlakuannya diberlakukan di Badan Pertahanan Nasional, ini kan penerapan hukum, di sini juga tidak mengadili penerapan hukum.

Nah kemudian apa … yang ketiga, juga itu penerapan hukum. Yang ketiga, juga kasus konkret dan menyangkut penerapan hukum. Kemudian, hal-hal yang itu sudah … sudah keliru semua ini. Nanti diperbaiki sedemikan rupa.

Ini kan sepanjang dalam putusan pengadilan tata usaha negara ini, ini yang dimaksud seolah-olah kondusi … konstitusional bersyarat, tetapi tidak … tidak jelas juga.

Nah, banyak hal-hal yang kurang … kurang … kurang tepat di dalam permohonan Saudara, nanti diperbaiki secara baik. Mungkin, kita sarankan selain meno … melihat contoh-contoh di sini, barangkali kalau Saudara juga mau berkenan, bisa juga meng … meminta penasihat hukum karena rupanya Saudara adalah seorang sarjana teknik. Namun demikian, tidak berarti bahwa Saudara tidak tahu hukum, tapi barangkali ini masalah spesialisasi ya, biar … biar lebih mantap lagi.

(11)

Kemudian, banyak yang harus diubah ini permohonan Saudara. Jadi strukturnya itu, pertama adalah perihalnya ini sudah salah karena tidak ada angka 2. Saya periksa tadi undang-undang apa … Undang-Undang Kepegawaian yang … yang mengubah Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974, yaitu undang-undang Nomor 43 Tahun 1999, di situ tidak ada Pasal 25 angka 2, ya. Jadi, ayat (2) perbaiki itu. Lalu, jadi strukturnya pertama itu adalah kewenangan Mahkamah, tadi sudah diterangkan nanti Saudara Pemohon tambah lagi. Karena ini menguji pasal ini dan ini maka ... dari undang-undang ini maka Mahkamah berwenang mengadilinya. Cuma yang tadi saya katakan, saya peringatkan ini yang ayat (2) ini nanti berlaku kalau ada peraturan pemerintahnya sedangkan di sini tidak berhak menguji peraturan pemerintah. Jadi, di sini tidak menguji kasus konkrit, jadi dalam pengujian undang-undang kita tidak mengadili kasus konkrit hanya norma yang abstrak, kemudian apa ... mengapa dia bertentangan dengan pasal ini di dalam 1945, apa sebabnya bertentangan?Itu harus jelas betul.

Saudara, mungkin ada yang Saudara mau kemukakan?

17. PEMOHON: RICKY ELVIANDI AFRIZAL

Terima kasih, Yang Mulia. Untuk sementara kami sudah dapat apa ... menerima penjelasan dari Yang Mulia tadi.

18. KETUA: MUHAMMAD ALIM

Oke.

19. PEMOHON: RICKY ELVIANDI AFRIZAL

Kami akan berusaha untuk memperbaikinya seperti yang dinasihatkan, Yang Mulia. Terima kasih, Yang Mulia.

20. KETUA: MUHAMMAD ALIM

Oke. Jadi, ini adalah kewajiban kami bertiga memberi nasihat kepada Saudara, keputusan ada pada Saudara. Lalu bagi Saudara ada waktu paling lama, saya ulangi, paling lama 14 hari sudah harus memperbaiki permohonannya dan masukkan kembali di Kepaniteraan tidak kepada kami, Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi sesudah ... merupakan perbaikan permohonan Saudara.

(12)

21. PEMOHON: RICKY ELVIANDI AFRIZAL

Terima kasih, Yang Mulia.

22. KETUA: MUHAMMAD ALIM

Ya. Dengan demikian sidang saya nyatakan selesai dan ditutup.

Jakarta, 24 September 2012

Kepala Sub Bagian Pelayanan Risalah,

t.t.d

Rudy Heryanto

NIP. 19730601 200604 1 004

SIDANG DITUTUP PUKUL 13.36 WIB KETUK PALU 3X

Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah Konstitusi, sehingga memungkinkan adanya kesalahan penulisan dari rekaman suara aslinya.

Referensi

Dokumen terkait

Apabila dalam Pasal 2 ayat (4) undang-undang a quo haruslah ditafsirkan sebagai berikut, “Dirjen Pajak tidak lagi berwenang untuk meneruskan proses pengukuhan PKP

Pada yang terhormat Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, hal permohonan pengujian materiil judicial review Pasal 154 ayat (10) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015

Dengan adanya ketentuan … dengan dasar hak konstitusional itu sebagai batu ujinya, maka menurut pendapat kami ketentuan Pasal 22 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2000

undang.” Hal ini mengingat Pasal 24A ayat (1) Undang- Undang Dasar Tahun 1945 adalah norma yang mengatur mengenai wewenang Mahkamah Agung sebagai salah satu pelaku kekuasaan

Yang kedua adalah menyatakan Pasal 6 ayat (1) huruf c dan Pasal 81 ayat (3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan sebagaimana telah diubah

Olah karena itu, Yang Mulia, kami hanya memohon suatu penafsiran dari Majelis … dari Mahkamah Konstitusi, yaitu Pasal 66 ayat (3) yang berbunyi, “Pengaduan sebagaimana

Atau apabila Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat dan menganggap Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum tetap

Bahwa ketentuan Pasal 32 ayat (3a) Undang-Undang KUP yang memberikan kewenangan kepada Menteri Keuangan untuk mengatur persyaratan serta pelaksanaan hak dan kewajiban penerima