• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH UPAH MINIMUM DAN VARIABEL MAKROEKONOMI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS PENGARUH UPAH MINIMUM DAN VARIABEL MAKROEKONOMI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA INDONESIA"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH UPAH MINIMUM DAN

VARIABEL MAKROEKONOMI TERHADAP

PENYERAPAN TENAGA KERJA INDONESIA

LAPORAN TUGAS AKHIR

Oleh:

Fitri Yanizal

103216042

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PROGRAM STUDI EKONOMI

UNIVERSITAS PERTAMINA

2020

(2)
(3)
(4)

Universitas Pertamina - i

ABSTRAK

Fitri Yanizal. 103216042.

Analisis Pengaruh Upah Minimum Provinsi dan

Variabel Makroekonomi terhadap Penyerapan Tenaga Indonesia

Penelitian ini membahas tentang analisis pengaruh upah minimum provinsi dan

variabel makroekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia. Dengan

tujuannya adalah ingin mengetahui pengaruh Upah Minimum Provinsi (UMP)

terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia dan ingin mengetahui bagaimana

pengaruh variabel makroekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia.

Metode yang digunakan adalah panel dengan model terbaiknya adalah

Random

Effect Model.

Pada regresi didapatkan hasil yang menunjukan bahwa upah

minimum memiliki hubungan yang negatif dan signifikan terhadap penyerapan

tenaga kerja. Rata-rata lama pendidikan, populasi dan PDRB memiliki hubungan

positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.

Kata kunci: Upah minimum provinsi, variabel makroekonomi, penyerapan tenaga

kerja

(5)

ABSTRACT

Fitri Yanizal. 103216042.

Analysis of the Effect of Provincial Minimum Wages

and Macroeconomic Variables on the Labor Force of Indonesian.

The study of this research for analyzes the effect of provincial minimum wages and

macroeconomic variables on the Labor Force of Indonesian. The aim know the

effect of the minimum wage (UMP) on the labor force of Indonesian and how

macroeconomic variables affect Labor Force of Indonesian. This study use panel

method with Random Effect Model (REM). The results show that the minimum

wage has a negative and significant relationship to employment, the length of

education and PDRB has a positive and significant relationship to labor force, while

macroeconomic variables, including population variables, have a positive

relationship and significant to the Labor Force.

(6)

Universitas Pertamina - iii

KATA PENGANTAR

Bismillahirohmanirrohim. Puji syukur penulis panjatkan atas kehadiran Allah

SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah melimpahkan rahmat

dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul

“Analisis Pengaruh Upah Minimum Provinsi dan Variabel Makroekonomi terhadap

Penyerapan Tenaga kerja Indonesia” yang mana Tugas Akhir ini merupakan salah

satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Universitas Pertamina.

Dalam menyelesaikan Tugas Akhir peneliti banyak memperoleh bimbingan,

dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini dengan

ketulusan hati sebagai wujud dari rasa hormat dan penghargaan, peneliti

mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat:

1.

Orang tuaku tercinta, Bapak Mirzal dan Ibu Meliyani yang telah menjadi

orang tua yang sangat luar biasa. Terimakasih atas dukungan dan doa yang

tiada hentinya untuk anakmu,

2.

Bapak Ahmad Kautsar, S.E., M.Si selaku dosen pembimbing yang telah

meluangkan waktu untuk membimbing peneliti selama menyelesaikan Tugas

Akhir ini,

3.

Ibu Nursechafia, S.E., M.Ec dan Bapak Rico Ricardo, S.E., M.Ec selaku

dosen penguji,

4.

Dosen Prodi Ekonomi yang telah memberikan ilmu kepada peneliti selama

masa perkuliahan,

5.

Adekku Hana, Adam dan Salsa telah memberikan doa, dukungan sehingga

peneliti mampu menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik,

6.

Teman ekonomi yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang selalu

memberikan semangat, dukungan, dan hiburan serta membantu dalam

menyelesaikan Tugas Akhir.

Peneliti menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kata kesempurnaan,

akan tetapi peneliti berharap semoga karya sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita

semua. Aamiin.

Jakarta, 10 Februari 2020

(7)

DAFTAR ISI

ABSTRAK... ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

DAFTAR SINGKATAN ... ix BAB I. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 4 1.3 Tujuan Penulisan ... 5 1.4 Manfaat Penulisan ... 5

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 5

BAB II. TINJAUAN LITERATUR ... 6

2.1 Tinjauan Teori ... 6

2.1.1 Tenaga Kerja ... 6

2.1.2 Upah Minimum Provinsi ... 6

2.1.3 Variabel Makroekonomi ... 7

2.2 Tinjauan Empiris ... 8

2.3 Kerangka Pemikiran ... 12

2.4 Hipotesis ... 13

BAB III. METODOLOGI ... 14

3.1 Waktu dan Tempat ... 14

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 14

3.3 Metode Penelitian ... 15

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 18

4.1 Deskripsi Data ... 18

4.2 Estimasi Model Regresi Data Panel ... 18

4.3 Pembahasan... 19

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN ... 22

5.1 Simpulan ... 22

5.2 Saran ... 22

DAFTAR PUSTAKA ... 23

(8)

Universitas Pertamina - v LAMPIRAN ... 28 RIWAYAT HIDUP ... 30

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tinjauan Empiris ...11

Tabel 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Variabel ... 14

Tabel 4.1 Estimasi Model ... 19

Tabel 4.3 Random Effect Model ... 19

(10)

Universitas Pertamina - vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Upah Minimum Provinsi per pulau di Indonesia Tahun 2010 - 2018 ... 2 Gambar 1.2 Tingkat Pendidikan di Indonesia Tahun 2010-2018 ... 4 Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran... 13

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Uji Multikolinearitas ... 29

Lampiran 2. Uji Normalitas ... 29

Lampiran 3. Uji Chow ... 29

Lampiran 4. Uji Lagrangian Multiplier ... 30

Lampiran 5. Uji Hausman ... 30

Lampiran 6. Hasil Regresi Random Effect Model ...30

(12)

Universitas Pertamina - ix

DAFTAR SINGKATAN

Lambang/Singkatan

Arti Keterangan

BPS

Badan Pusat Statistik

FEM

Fixed Effect Model

GDP

Gross Domestic Product

OLS

Ordinary Least Square

PDRB

Product Domestic Regional Bruto

REM

Random Effect Model

UMP

Upah Minimum Provinsi

(13)

BAB I. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Pembangunan ekonomi berpusat terhadap peningkatan taraf hidup banyak orang (masyarakat), memperluas angkatan kerja serta memperoleh pendapatan yang merata. Salah satu permasalahan dalam pembangunan ekonomi yang dihadapi oleh Indonesia adalah jumlah penduduk yang berlimpah yang menimbulkan jumlah tenaga kerja tinggi. Peningkatan jumlah tenaga kerja yang ada tidak diimbangi dengan penawaran ketersediaan lapangan kerja sehingga dengan keterbatasan peluang lapangan pekerjaan membuat tenaga kerja Indonesia yang terserap masih terbatas (Wihastuti, 2018).

Tenaga kerja sangat erat kaitannya dengan upah. Upah diberikan atas dasar balas jasa dengan memberikan pembayaran finansial dalam bentuk uang kepada pekerja, karena dengan adanya upah yang diterima oleh pekerja membuat pekerja lebih bersemangat pada pekerjaannya karena pekerja tersebut merasa waktu yang pekerja miliki dapat digantikan dengan uang yang diberikan sebagai imbalan suatu perusaha terhadap pekerja. Dengan adanya upah diharapkan mampu menjadi motivasi untuk pekerjaan yang diberikan pada bulan berikutnya, sehingga pekerja mampu untuk meningkatkan kesejahteraan dengan adanya perjanjian terkait dengan peraturan perundang-undangan (Handoko, 1996). Sehingga dapat disimpulkan bahwa upah merupakan pendapatan yang diterima oleh pekerja atas jasa dan waktu yang telah diberikan kepada orang lain atau perusahaan yang diberikan dalam bentuk uang (rupiah) dengan adanya kesepakatan tertentu antara pekerja dan pengusaha pada pengambilan keputusan berdasarkan besarnya upah yang akan diberikan.

Upah minimum dirancang agar dapat mengalokasikan suatu kinerja manusia secara efisien sehingga mampu mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Tujuan dari adanya kebijakan mengenai upah minimum memberikan dampak positif terhadap perekonomian yaitu mampu menarik dan memotivasi agar tenaga kerja lebih produktif dalam melakukan pekerjaan karena dengan adanya kebijakan yang berkaitan dengan upah maka sangat diharapkan terjadinya peningkatan atas dasar kinerja yang diberikan oleh tenaga kerja kearah yang lebih positif. Ketika pekerja meningkatkan kinerja kearah yang lebih baik maka hal tersebut dapat mendorong jumlah produktivitas yang dihasilkan oleh tenaga kerja. Pemerintah mengeluarkan undang-undang mengenai upah minimum, hal tersebut ditunjukan untuk dapat mendorong nilai pada stabilitas dan pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih baik (Undang-Undang Nomor 13, 2003).

Indonesia telah membuat kebijakan mengenai upah minimum, kebijakan tersebut membahas mengenai ketenagakerjaan nasional yang dituangkan dalam Undang-Undang No.13 Tahun 2003 yang mana dalam UU tersebut menjelaskan bahwa hak yang diterima oleh pekerja diperoleh atas dasar imbalan yang diberikan oleh perusahaan dalam bentuk uang yang telah disepakat berdasarakan perjanjian kerja yang berkaitan dengan tunjangan bagi para pekerja dan keluarga karena telah menyelesaikan suatu pekerjaan (Undang-Undang Nomor 13, 2003). Selain Undang-Undang No.13 tahun 2003, PP 78/2015 juga menjelaskan mengenai perlindungan upah yang diberikan berdasarkan kesepakatan atau perundang-undangan yang dibayarkan kepada pekerja dalam bentuk uang yang diberikan sebagai imbalan. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Bab II pasal 3 menjelaskan bahwa dengan adanya kebijakan pengupahan, diharapkan pekerja mampu mencapai pengasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi pekerja. Serta pada Bab III pasal 4 menjelaskan bahwa penghasilan yang layak adalah jumlah yang akan diterima oleh pekerja

(14)

Universitas Pertamina - 2

(pendapatan) dari hasil pekerjaannya sehingga dengan hasil tersebut mampu memenuhi kebutuhan hidup pekerja dan keluarganya secara wajar (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78, 2015).

Setiap tahun upah minimum provinsi terus mengalami peningkatan, salah satu pendorong peningkatan UMP adalah pada tiap tahun buruh melakukan demonstrasi terkait kenaikan upah minimum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Demo yang dilakukan oleh buruh memiliki tujuan diantaranya adalah untuk mendapatkan hak dan kewajibannya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dengan mendapatkan kehidupan yang layak. Tuntutan yang dilakukan oleh buruh tersebut adalah untuk dapat memenuhi kebutuhan primer buruh, menurut mereka UMP yang diberikan tiap tahunnya tidak mampu memberikan buruh kepuasan sehingga ditahun selanjutnya buruh terus melakukan unjuk rasa (Novius, 2007).

Dengan adanya unjuk rasa yang dilakukan oleh buruh tiap tahunnya membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berkaitan dengan upah minimum provinsi sehingga dapat dilihat pada Gambar 1.1 dibawah yang menunjukan bahwa nilai pada upah minimum provinsi mengalami tren yang meningkat yang dijelaskan pada Gambar 1.1 mengenai upah di-33 provinsi dengan dikelompokan berdasarkan pulau yang tersebar di Indonesia dari tahun 2010 hingga tahun 2018. Dengan data yang telah diolah dari Badan Pusat Statistik.

Gambar 1.1. Upah Minimum Provinsi per pulau di Indonesia Tahun 2010 - 2018 Sumber: Badan Pusat Statistik [BPS] (2019)

Pada Gambar 1.1 di atas menjelaskan bahwa nilai pada upah minimum provinsi yang berada pada 33 provinsi di Indonesia yang telah digolongkan berdasarkan pulau diantaranya adalah Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Pulau Maluku, Pulau Papua dan Pulau Bali. Pada data yang didapatkan terlihat bahwa upah minimum provinsi yang telah digolongkan berdasarkan pulau maka diketahui bahwa nilai UMP terendah berada pada Provinsi Jawa Timur tahun 2010 dengan jumlah nominal sebesar Rp 630.000. Berdasarkan laporan, rendahnya nilai pada pertumbuhan perekonomian Jawa Timur disebabkan karena adanya perlambatan pada pertumbuhan perekonomian dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan menurunnya tingkat konsumsi rumah tangga, investasi serta pengeluaran pemerintah karena inflasi yang terjadi di Jawa

0 5000000 10000000 15000000 20000000 25000000 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Tahun Pulau Sumatera Pulau Jawa Pulau Kalimantan Pulau Sulawesi Pulau

Maluku & Papua Pulau Bali

(15)

Timur mencapai 7,59 persen lebih besar dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan yang hanya sebesar 5,78 persen (Satria, 2015). Sementara itu, upah minimum tertinggi berada pada Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2018 dengan jumlah nominal sebesar Rp 3.648.035. Nominal tersebut diperoleh dengan adanya dukungan dari jumlah produksi yang dihasilkan oleh daerah DKI Jakarta. DKI Jakarta memiliki nilai UMP paling tinggi diantara provinsi lain sehingga hal tersebut membuat pendapatan yang diterima oleh pekerja di daerah DKI Jakarta lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi di luar DKI Jakarta. Pada adanya pendapatan pekerja yang tinggi akan mendorong pekerja menaikkan tingkat konsumsinya yang akan menyebabkan jumlah pengeluaran penduduk semakin tinggi. Dengan adanya penjelasan tersebut maka nilai upah minimum provinsi di DKI Jakarta lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya (Findi, 2013).

Dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah terkait upah minimum provinsi, berdasarkan Undang-Undang No.13 tahun 2003 menjelaskan bahwa terjadinya perlindungan mengenai upah minimum yang diterima tenaga kerja dengan tujuan untuk dapat menjamin hak dasar pekerja/buruh serta menjamin kesamaan kesempatan tanpa adanya perlakuan membeda-bedakan (diskriminasi) atas dasar apapun untuk kesejahteraan pekerja/buruh serta keluarganya. Sasaran yang diinginkan oleh pemerintah pada kebijakan upah minimum dibuat agar penghasilan yang didapatkan oleh pekerja akan terjamin tidak dibawah standar hidup layak sehingga pendapatan yang dihasilkan mampu memotivasi pekerja agar dapat meningkatkan produktivitasnya, pekerja mampu mengembangkan dan meningkatkan jumlah produksi secara efisien dan efektif (Sumarsono, 2003).

Tidak hanya upah minimum saja yang menjadi perhatian pemerintah, pemerintah juga harus sangat memperhatikan nilai pada pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan ekonomi dikatakan dapat tumbuh ketika suatu daerah melakukan aktivitas ekonomi sehingga dengan adanya aktivitas tersebut mampu menghasilkan tambahan pendapatan daerah pada waktu tertentu (Mankiw, 2003). Hal tersebut menjelaskan bahwa tidak hanya upah yang menjadi pertimbangan untuk dapat meningkatkan aktivitas ekonomi suatu daerah namun pemerintah harus memperhatikan nilai PDRB, investasi, populasi serta pendidikan untuk dapat menjawab permasalahan yang disebabkan oleh penyerapan tenaga kerja. Pada teori makroekonomi terdapat teori pertumbuhan yang dikemukakan oleh Harrod Domar yang berkaitan dengan masalah tenaga kerja, teori tersebut menjelaskan bahwa investasi sangat berpengaruh terhadap permintaan agregat yang terjadi pada proses pengganda dan terhadap penawaran agregat yang berkaitan dengan kapasitas produksi (Arsyad, 1999).

Pertumbuhan ekonomi erat kaitannya dengan investasi karena investasi memiliki pengaruh yang begitu besar terhadap pertumbuhan. Ketika pendapatan yang berasal dari daerah maupun pendapatan yang diberikan oleh pusat tidak memenuhi kebutuhan domestik maka pembangunan domestik sulit tercapai sehingga sangat dibutuhkannya investor untuk dapat membantu pembangunan suatu daerah (Jordi, 2007). Pembangunan suatu daerah sangat dibutuhkan karena dengan adanya pembangunan daerah tersebut membuat suatu daerah dapat berkembang. Pembangunan daerah yang seharusnya diperhatikan adalah dengan meningkatkan sarana dan prasarana agar lebih memadai serta meningkatkan sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang baik akan mampu mengubah pertumbuhan ekonomi, salah satu cara untuk dapat meningkatkan sumber daya manusia adalah dengan pendidikan.

Pendidikan merupakan salah satu faktor pendukung pada peningkatan sumber daya manusia yang ada, hal tersebut membuat pemerintah lebih gencar dalam memberikan pelayanan terhadap pendidikan. Di bawah ini terdapat grafik yang menggambarkan bahwa banyak masyarakat yang tidak melakukan proses pembelajaran hal ini dapat memberikan dampak yang buruk bagi pertumbuhan

(16)

Universitas Pertamina - 4

ekonomi Indonesia karena dengan rendahnya pendidikan masyarakat membuat kualitas yang dimiliki oleh sumber daya manusia lemah. Rendahnya pendidikan yang dimiliki masyarakat Indonesia seharusnya menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam mengambil suatu kebijakan yang berkaitan dengan ketenagakerjaan yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003.

Gambar 1.2. Tingkat Pendidikan di Indonesia Tahun 2010-2018 0.3 Sumber: BPS (2019)

Pada Gambar 1.2 di atas menjelaskan bahwa tingkat pendidikan yang dimiliki oleh penduduk pada 33 Provinsi di Indonesia. Pada gambar tersebut diketahui bahwa penduduk yang tidak memiliki pendidikan lebih banyak dibandingkan penduduk yang pernah menduduki bangku sekolah seperti penduduk yang tidak tamat sekolah, penduduk berpendidikan SD, SMP, SMA, SMK, Diploma serta Universitas. Pendidikan merupakan investasi yang dihasilkan oleh sumber daya manusia, semakin tinggi pendidikan yang dimiliki oleh tenaga kerja maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap perekonomian suatu daerah sehingga perekonomian yang dihasilkan oleh pekerja yang memiliki pendidikan tinggi akan terus meningkatkan nilai dikarenakan dengan adanya tenaga kerja yang terserap lebih banyak dengan upah yang dihasilkan berbanding lurus dengan pendidikan yang dimiliki oleh pekerja akan memiliki pengaruh terhadap nilai PDRB. Adapun teori yang dijelaskan oleh Tadaro dan Smith (2003) yang menyatakan bahwa nilai PDRB memiliki dampak terhadap penyerapan tenaga kerja karena pertumbuhan ekonomi yang positif diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penelitian ini ingin mengetahui seberapa besar pengaruh upah minimum provinsi dan variabel makroekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja provinsi.

1.2

Rumusan Masalah

Tenaga kerja merupakan salah satu aspek penting dalam perekonomian, dengan banyaknya jumlah tenaga kerja yang terserap mampu meningkatkan pertumbuhan pendapatan tiap provinsi bahkan mampu meningkatkan pendapatan nasional. Dengan tersedianya banyak tenaga kerja ketika tidak diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan akan membuat permasalahan yang memiliki dampak pada tingginya jumlah penggangguran. Tenaga kerja erat kaitannya dengan upah karena upah berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan beberapa variabel makroekonomi juga mampu memengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu daerah sehingga mampu meningkatkan

53.698 226.627 440.486 423.321 483.611 82.167 102.620 125.989

(17)

pertumbuhan tiap daerah. Berdasarkan keterangan diatas, penelitian ini dilakukan untuk dapat menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan rumusan masalah diantaranya:

a. Bagaimana pengaruh Upah Minimum Provinsi (UMP) terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia?

b. Bagaimana pengaruh variabel makroekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia?

1.3

Tujuan Penulisan

Berdasarkan penjelasan pada rumusan masalah di atas, diketahui bahwa tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk menganalisis pengaruh Upah Minimum Provinsi (UMP) terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia,

b. Untuk menganalisis pengaruh variabel makroekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia.

1.4

Manfaat Penulisan

Secara khusus, penelitian ini diharapkan akan memiliki manfaat diantaranya:

a. Bagi Peneliti, untuk menambah wawasan dan mampu memperdalam masalah yang ada dibidang ekonomi yang berkaitan dengan tenaga kerja yang sangat berkaitan dengan jumlah populasi yang terus berkembang dengan cepat

b. Bagi Pembaca, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai acuan referensi bagi penelitian selanjutnya yang akan mengambil masalah yang berkaitan dengan tenaga kerja

c. Bagi Pembuat Kebijakan, diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat membantu memberikan masukan kepada pembuat kebijakan untuk merumuskan kebijakan apa yang akan digunakan dalam mengatasi masalah tenaga kerja

1.5

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh upah minimum provinsi dan variabel makroekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia. Variabel dependen adalah penyerapan tenaga kerja sedangkan variabel independen yang penulis gunakan adalah upah minimum provinsi, investasi, rata-rata lama pendidikan, PDRB dan populasi. Alasan penelitian mengambil variabel UMP dan variabel makroekonomi adalah karena menurut peneliti variabel tersebut merupakan faktor yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penelitian ini menggunakan data tahun 2010 hingga 2018 yang diambil dari data di 33 Provinsi yang ada di Indonesia. Peneliti tidak menggunakan 34 Provinsi di Indonesia karena data yang ada pada Provinsi Kalimantan Utara baru dipublis adalah data pada tahun 2015 dengan adanya keterbatasan data tersebut membuat peneliti tidak menggunakan Provinsi Kalimantan Utara sebagai sampel.

(18)

Universitas Pertamina - 6

BAB II. TINJAUAN LITERATUR

2.1

Tinjauan Teori

2.1.1

Tenaga Kerja

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.13 Tahun 2003 mengenai ketenagakerjaan yang mana dijelaskan pada pasal 1 ayat 2 tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu menyelesaikan suatu pekerjaan untuk dapat memperoleh barang atau jasa baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Namun tidak semua orang dapat disebut sebagai tenaga kerja karena terdapat rentang usia yang dapat dikatakan sebagai tenaga kerja produktif yaitu berkisar umur 15 tahun hingga 64 tahun yang mana pekerja tersebut dapat menyelesaikan suatu pekerjaannya. Tenaga kerja dibagi menjadi 2 yaitu kelompok angkatan kerja dan kelompok bukan angkatan kerja (Subijanto, 2011).

Populasi penduduk Indonesia terus mengalami peningkatan, dengan adanya penduduk yang banyak dengan terbatasanya lowongan pekerjaan hal ini membuat banyaknya penduduk Indonesia usia produktif yang saling berlomba dalam mencari pekerjaan namun keterbatasan lowongan pekerjaan yang membuat penduduk tidak memiliki pekerjaan (menganggur). Pada permasalahan ini sebaiknya pemerintah mampu menangulangi permasalahan terkait penggangguran agar pembangunan ekonomi Indonesia terus tumbuh.

Tidak hanya pengangguran yang menjadi masalah utama dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia, masalah lain yang muncul diantaranya adalah terbatasnya lapangan pekerjaan, mutu serta kualitas kerja yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia masih tergolong rendah karena pendidikan yang dimiliki oleh orang masih rendah sehingga menimbulkan hasil pada produktivitas pekerja rendah, penyebaran tenaga kerja yang tidak merata baik secara sektoral maupun regional. Dengan adanya perubahan struktural ekonomi yang melibatkan lapangan kerja maka sangat dibutuhkan perlindungan terhadap tenaga kerja agar tenaga kerja memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan yang digeluti yang menghasilkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja terpenuhi (Manululang, 1998).

Pembangunan ketenagakerjaan memiliki tujuan antara lain adalah (Undang-Undang Republik Indonesia, 2003):

a. Memanfaatkan tenaga kerja secara optimal serta manusiawi,

b. Mewujudkan adanya pemerataan kesempatan kerja dan mampu menyediakan tenaga, c. Kerja yang sesuai berdasarkan kebutuhan pembangunan nasional maupun daerah, d. Memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja untuk dapat mewujudkan kesejahteraan, e. Mampu meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja maupun keluarganya.

2.1.2

Upah Minimum Provinsi

Menurut Undang-Undang Tenaga Kerja No.13 Tahun 2000 Bab I pasal 1 ayat 30 menjelaskan bahwa upah merupakan hak yang wajib diberikan kepada pekerja yang diterima dalam satuan mata uang sebagai imbalan karena telah mampu melakukan pekerjaan atau dibayarkan menurut perjanjian/kontrak kerja. Sedangkan menurut Sukirno (1985) upah dibagi menjadi dua (2) yaitu upah uang dan upah riil. Upah uang merupakan sejumlah uang diberikan kepada para pekerja dari perusahaan atau tempat pekerja tersebut bekerja dalam melakukan hasil produksi, sedangkan upah riil merupakan suatu pendapatan yang dihasilkan untuk membeli barang dan jasa yang dibutuhkan demi memenuhi kebutuhan seseorang.

(19)

Berdasarkan pengertiannya upah minimum provinsi merupakan upah yang diterima oleh pekerja yang diterima tiap bulannya dengan nilai upah yang paling rendah yang terdiri dari upah pokok yang didalamnya terdapat tunjangan tetap, dimana orang yang menerima upah tersebut memiliki pengalaman kerja nol hingga satu tahun yang berguna untuk dapat mengamankan upah yang diterima oleh pekerja, upah tersebut berlaku di seluruh kabupaten/kota disuatu provinsi dengan penetapan dasar hukum berdasarkan Peraturan Pemerintah Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 7 Tahun 2013. Tujuan dari adanya penerapan upah minimum diantaranya yaitu untuk mendapatkan penghasilan yang layak untuk pekerja sehingga para pekerja tidak mendapatkan penghasilan dibawah rata-rata, agar penghasilan tidak mudah turun secara drastis, berupa mengurangi kesenjangan antara pendapatan paling rendah dan paling tinggi pada perusahaan, sebagai pemerataan pendapat, meningkatkan permintaan pada pekerja dan perluasan terhadap kesempatan kerja (Prastyo, 2010).

Upah minimum merupakan upah yang diterima pekerja yang dibayarkan setiap sebulan sekali yang terdiri dari gaji pokok dan tunjangan tetap. Dengan adanya penetapan upah minimum memiliki tujuan agar dapat mewujudkan keinginan pekerja pada penghasilan yang layak, Upah Minimum Provinsi (UMP) merupakan salah satu jenis upah yang ditetapkan oleh pemerintah dalam peraturan Menteri Tenaga kerja Nomor PER-01/MEN/1999 tentang Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP-226/MEN/2000 yang mana UMP adalah upah minimum yang berlaku untuk seluruh kabupaten/kota disuatu provinsi.

2.1.3

Variabel Makroekonomi

Makroekonomi merupakan suatu ilmu yang berkaitan dengan cara bekerjanya suatu perekonomian secara keseluruhan. Variabel makroekonomi tersebut diantaranya adalah tingkat pendapatan nasional, konsumsi masyarakat, investasi, tabungan, belanja pemerintah, inflasi, jumlah uang beredar, neraca perdagangan (ekspor impor) serta lainnya (Putong, 2003). Sedangkan menurut Tanoto (2004)tujuan dari makroekonomi adalah memiliki nilai output dengan tingkat tinggi dengan pertumbuhan yang cepat, jumlah penggangguran rendah, serta harga barang pokok yang stabil. Pada penelitian ini, penulis menggambil beberapa variabel makroekonomi diantaranya:

a). Produk Domestik Regional Bruto

Produk Domestik Regional Bruto atau biasa disebut PDRB merupakan penjumlahan dari keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang diperoleh dari kegiatan perekonomian diseluruh wilayah dalam periode tahun tertentu dalam periode waktu tertentu (Badan Pusat Statistik, 2009). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) digunakan sebagai salah satu cara untuk dapat menghitung pertumbuhan ekonomi secara nominal. PDRB memiliki banyak tujuan namun salah satu hal yang penting adalah PDRB dipergunakan untuk dapat mengukur kinerja perekonomian secara keseluruhan. PDRB merupakan salah satu indikator penting pada pertumbuhan ekonomi di wilayah tertentu pada suatu periode tertentu (biasanya dalam satu tahun) yang dihasilkan karena adanya kegiatan dari setiap kegiatan pada perekonomian pada negara maupun daerah (Badan Pusat Statistik, 2015).

b). Investasi

Investasi merupakan suatu upaya dalam melakukan penanaman modal yang memiliki jangka waktu lama dengan harapan agar mendapatkan keuntungan disuatu hari atau masa yang akan datang dengan menggunakan satu atau lebih aktiva (aset kekayaan) yang dimiliki oleh perusahaan. Investasi memiliki peran yang penting pada perekonomian baik perekonomian dalam negeri maupun perekonomian diluar negeri pada tiap tahunnya. Sedangkan menurut Simamora (2006) menjelaskan

(20)

Universitas Pertamina - 8 bahwa investasi merupakan usaha yang dilakukan perusahaan untuk dapat meningkatkan pertumbuhan kekayaan (kepemilikan) melalui penyebaran hasil investasi aktiva berupa bunga, royalti, keuntungan, pendapatan sewa dan lain-lain hal tersebut menjadi nilai keuntungan yang didapatkan ketika investor melakukan investasi. Dalam pengembangan investasi domestik sangat dibutuhkan campur tangan pemerintah agar nilai untuk investasi mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

c). Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh manusia untuk dapat mengembangkan serta menumbuhkan potensi pada diri tiap individu untuk dapat melestarikan dan mempertahankan hidupnya (Ikhsan, 2005). Dengan adanya kualitas pendidikan yang baik maka akan membuat kualitas sumber daya manusia meningkat sehingga dengan adanya meningkatnya kualitas sumber daya manusia dalam pengembangan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja serta dapat memengaruhi pertumbuhan pada perekonomian. Pendidikan merupakan salah satu jenis investasi pada sumber daya manusia yang berkaitan dengan teori modal manusia (Human Capital) karena dengan adanya pendidikan yang baik akan membuat nilai pada kualitas masyarakat yang ada semakin meningkat. Sehingga dengan pendidikan yang tinggi membuat nilai pada penghasilan individu semakin meningkat, hal tersebut akan membuat nilai pada penghasilan individu semakin tinggi. Pendidikan yang baik akan membuat produktivitas pekerja semakin meningkat dibandingkan manusia yang tidak memiliki pendidikan (Sari, 2013).

d).Penduduk

Penduduk merupakan sekumpulan orang yang yang lahir, menetap, bersosialisasi serta melakukan suatu aktivitas di suatu daerah dengan tujuan untuk dapat mempertahankan hidup. Berdasarkan aliran marxist yang dicetuskan oleh Karl & F. Angel ia berpendapat bahwa tekanan penduduk berkaitan dengan tekanan kesempatan kerja (seperti di negara kapitalis), karena ketika jumlah penduduk di suatu daerah berlimpah maka tidak menutup kemungkinan bahwa produksi yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan produksi dengan jumlah tenaga kerja yang sedikit hal tersebut terjadi jika teknologi tidak menggantikan peran tenaga kerja, pada aliran ini sangat tidak dianjurkan untuk melakukan pengurangan jumlah penduduk serta kemiskinan terjadi bukan karena pertumbuhan penduduk yang terus mengalami peningkatan namun karena adanya pengambilan hak buruh yang dilakukan oleh kaum kapitalis (Skousen, 2005).

Adapun pendapat yang dikeluarkan oleh Emile Durkheim ahli sosiologis Perancis abad 19 sangat menekankan suatu keadaan yang ditimbulkan oleh banyaknya jumlah pertumbuhan penduduk. Dengan adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi maka akan membuat manusia bersaing dalam mempertahankan hidup, ketika persaingan itu dimulai maka akan ada yang harus dikorbankan dan diusahakan seperti mampu meningkatkan pendidikan dan keterampilan serta mempelajari spesialis tertentu agar masyarakat memiliki upah, dengan adanya upah yang didapatkan maka masyarakat dapat mempertahankan hidup (Skousen, 2005).

2.2

Tinjauan Empiris

Penelitian yang dilakukan oleh Rapoport (2019) menggunakan beberapa variabel diantaranya adalah pendidikan, upah minimum, penyerapan tenaga kerja, penghasilan mingguan dan jam, tingkat pekerjaan, tingkat migrasi. Pada penelitian ini peneliti menggunakan regresi dengan data panel (OLS). Pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa para imigran memberikan dampak terhadap pekerja dan upah pada tiap kemampuan dan keterampilan yang diberikan oleh tiap negara serta

(21)

dengan adanya upah minimum yang telah ditetapkan memberikan dampak terhadap perlindungan pekerja dari upah yang dapat merugikan para pekerja. Adapun perbedaan yang dilakukan pada penelitian yang dilakukan oleh Boeri (2012) dengan variabel pendukung adalah upah minimum, peraturan upah, keterbukaan perdagangan, PDB per kapita, Kesimpulan yang didapat bahwa peraturan yang ditelah ditetapkan berdasarkan upah minimum berdasarkan perundingan yang telah berkorelasi dalam berbagai aspek sinyal pada rasio upah minimum ke rata-rata yang sangat tinggi hal tersebut membuat penawaran terhadap tenaga kerja memungkinkan bagaimana peraturan upah minimum dapat mempengaruhi tingkatnya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Rapoport (2019) dan penelitian yang dilakukan oleh Boeri (2012) didapatkan perbedaan yang menyatakan bahwa upah minimum memiliki perbedaan pandangan bahwa pada penelitian yang dilakukan oleh Rapoport (2019) menyatakan bahwa upah minimum memberikan dampak yang merugikan para pekerja karena dengan adanya upah minimum yang ditetapkan dapat membuat tenaga kerja menurun.

Adapun Penelitian yang dilakukan oleh Tran (2019) dengan tujuan untuk penyelidikan efek dari tingkat pendidikan. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah kualitas tenaga kerja mengambarkan bahwa tenaga kerja berperan penting terhadap peningkatan hasil produktivitas tenaga kerja serta ekspor. Terdapat pandangan yang menjelaskan bahwa tenaga kerja memiliki pengaruh terhadap variabel keterbukaan perdagangan, secara spesifik kualitas tenaga kerja mampu menekan faktor perdagangan terbuka pada variabel produktivitas tenaga kerja. Penelitian ini mempertimbangkan beberapa variabel diantaranya adalah ketenagakerjaan, pendidikan, produktivitas, ekspor, keuangan terbuka, perdagangan terbuka. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada tingkat pendidikan yang digunakan sebagai proksi sebagai modal utama manusia yang berdampak pada produktivitas, dengan adanya penelitian ini memiliki hubungan yang positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dan ekspor. Keterbatasan yang dialami oleh penulis adalah keterbatasan data (Tran, 2019). Penelitian yang dilakukan oleh gindling dan Terrel (2004) dengan adanya penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat perubahan upah yang terjadi pada penerapan tenaga kerja dengan variabel pendukung yaitu jam kerja, usia pekerja, upah minimum resmi, jumlah pekerja, jumlah industri dengan metode regresi data panel. Pada penelitian ini memiliki kesimpulan yang dapat diambil yaitu selama 10 tahun telah menetapkan upah minimum yang dapat mempengaruhi jumlah pekerja, pada distribusi upah terdapat sektor yang tidak berlaku upah minimum. Pada penelitian ini menjelaskan bahwa upah minimum memiliki hubungan yang negatif terhadap penyerapan tenaga kerja.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Putri dan Soelistyo (2018) dengan dilakukannya penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh upah, PDRB, dan investasi terhadap penyerapan tenaga kerja dengan menggunakan data panel yang mana data panel merupakan data gabungan yang didapatkan dari time series dan cross sections dengan menggunakan 6 Kabupaten/Kota di Kawasan Gerbangkertasusila tahun 2012 hingga tahun 2016. Pada penelitian ini hasil yang didapatkan setelah melakukan regresi diketahui bahwa variabel upah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, variabel PDRB berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, sedangkan variabel investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Pada penelitian ini model terbaik yang digunakan adalah REM (Random Effect Model) karena pada model tersebut memiliki nilai standard error lebih kecil dibanding dari CEM (Common Effect Model). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Cahyadi (2018) memiliki tujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan secara langsung pada faktor ekternal dan internal pada perusahaan terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri pakaian jadi yang ada di Kota Denpasar. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah regresi linear berganda dengan variabel

(22)

Universitas Pertamina - 10 diantaranya adalah modal, tingkat upah, teknologi, investasi, inflasi, kurs yang terbagi dua antara faktor internal dan faktor eksternal pada perusahaan. Hasil yang didapatkan pada regresi adalah variabel modal dan investasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, tingkat upah memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, teknologi memiliki pengaruh yang negatif dan tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, sedangkan variabel inflasi dan kurs memiliki pengaruh yang positif namun tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.

Perbedaan pada kedua penelitian tersebut pada variabel yang sama adalah pengaruh yang terjadi pada variabel investasi, pada penelitian yang dilakukan oleh Soelistyo (2018) menjelaskan bahwa nilai investasi berpengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Cahyadi (2018), menjelaskan bahwa investasi memiliki pengaruh yang negatif dan tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Hasil penelitian yang didapatkan pada hasil regresi menyatakan bahwa variabel investasi pada penelitian yang dilakukan oleh Cahyadi (2018) sama dengan hasil regresi peneliti, hasil pada penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa investasi memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, hal tersebut dikarenakan Indonesia memiliki banyak jumlah tenaga kerja yang produktif namun saat ini Indonesia sedang gencar menerapkan padat modal, dengan adanya padat modal yang diterapkan pemerintah membuat investasi yang ada dilimpahkan kepada teknologi dan infrastruktur sehingga investasi yang diberikan oleh investor tidak dilimpahkan terhadap penyerapan padat karya hal tersebut membuat penyerapan terhadap tenaga kerja semakin berkurang dan menghasilkan banyaknya jumlah pengangguran.

Adapun penelitian yang dilakukan oleh Fachreza (2017) yang memiliki tujuan untuk dapat mengetahui seberapa besar pengaruh yang diberikan oleh variabel jumlah penduduk, PDRB, serta upah minimum kabupaten/kota terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor kontruksi di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Timur dengan metode penelitian yang digunakan adalah Ordinary Least Square (OLS), pada penelitian tersebut didapatkan kesimpulan bahwa jumlah penduduk, PDRB, dan upah minimum kabupaten/kota memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor kontruksi di Kabupaten/Kota pada Provinsi Jawa Timur yang dilakukan penelitian dengan data yang diperoleh pada tahun 2011 hingga 2015. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Lestyasari (2012) memiliki tujuan untuk dapat melihat bagaimana perkembangan UMP dan perkembangan tenaga kerja di Jawa Timur serta melihat pengaruh hubungan antara UMP terhadap penyerapan tenaga kerja di Jawa Timur. Pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki kesimpulan bahwa perkembangan yang terjadi pada upah minimum provinsi (UMP) di Jawa Timur terus mengalami peningkatan, UMP yang diterima oleh pekerja telah berdasarkan Undang-Undang No.13 tahun 2003 namun nilai UMP yang diterima oleh pekerja masih dibawah kebutuhan terhadap hidup layak. Perkembangan yang terjadi pada tenaga kerja terus mengalami peningkatan, peningakatan yang terjadi pada tenaga kerja sangat erat kaitannya dengan pendidikan karena dengan adanya faktor pendidikan serta keterampilan mampu menghasilkan nilai pada suatu produktivitas yang tinggi. Hubungan yang terjadi antara UMP terhadap jumlah tenaga kerja kerja formal memiliki pengaruh yang positif. Perbedaan yang dihasilkan pada kedua penelitian tersebut adalah hasil yang terjadi pada variabel upah minimum provinsi memiliki pengaruh yang berbeda penelitian yang dilakukan oleh Fachreza (2017) menjelaskan bahwa upah minimum provinsi memiliki pengaruh yang negatif terhadap tenaga kerja namun pada penelitian yang dilakukan oleh Lestyasari (2012) menjelaskan bahwa hubungan yang terjadi pada upah minimum provinsi memiliki pengaruh yang positif terhadap tenaga kerja.

(23)

Pada Tabel 2.1 menjelaskan mengenai ringkasan metode & variabel penelitian yang digunakan oleh peneliti terdahulu, tujuan dari adanya penelitian tersebut dan hasil yang telah disimpulkan oleh peneliti terdahulu.

Tabel 2.1. Tinjauan Empiris1

Penulis Metode / Variabel Tujuan Hasil

Rapoport (2019)

Panel (RE), variabel: pendidikan, upah minimum, penyerapan tenaga kerja, penghasilan mingguan dan jam, tingkat pekerjaan, tingkat migrasi

Untuk mengetahui pengaruh imigran dan

upah minimum

terhadap pekerja

Imigrasi memberikan dampak terhadap pekerja dan upah pada kemampuan keterampilan yang

diberikan tiap negara.

Tran (2019) Dynamic panel SGMM estimators, variabel: ketenagakerjaan, pendidikan, produktivitas, ekspor, keuangan terbuka, perdagangan terbuka.

Untuk mengetahui efek dari tingkat pendidikan

tingkat pendidikan yang digunakan sebagai proksi sebagai modal utama manusia yang berdampak pada produktivitas, dengan adanya penelitian ini memiliki hubungan yang positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dan ekspor.

Soelistyo (2018)

Panel (rem) variabel: upah, PDRB, dan Investasi

Untuk menganalisis pengaruh upah, PDRB, dan Investasi terhadap penyerapan tenaga kerja

variabel upah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, variabel PDRB berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, sedangkan variabel investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.

Terrel (2004)

Variabel: jam kerja, usia pekerja, upah minimum resmi, jumlah pekerja, jumlah industri dengan metode regresi data panel.

Untuk melihat

perubahan upah yang terjadi pada penerapan tenaga kerja

pada distribusi upah terdapat sektor yang tidak berlaku upah minimum. Pada penelitian ini menjelaskan bahwa upah minimum memiliki hubungan yang negatif terhadap penyerapan tenaga kerja

Cahyadi (2018)

Regresi linear berganda, variabel: modal, tingkat upah, teknologi, investasi, inflasi,kurs

Mengetahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan secara langsung pada faktor ekternal dan internal pada perusahaan terhadap penyerapan

Upah & investasi berpengaruh signifikan terhadap tenaga kerja, sedangkan modal,teknologi, dan jumlah produksi berpengaruh tidak

(24)

Universitas Pertamina - 12

Penulis Metode / Variabel Tujuan Hasil

tenaga kerja pada industri pakaiana jadi di Kota Denpasar.

signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja

Boeri (2012)

Upah minimum, peraturan upah, keterbukaan

perdagangan, PDB per kapita.

Untuk dapat membandingkan berbagai rezim dari adanya penetapan upah minimum

Penelitian ini digunakan sebagai penawaran kerangka kerja yang memungkinkan bagaimana peraturan upah minimum dapat mempengaruhi level levelnya

Woyanti (2009)

Pendekatan OLS(ordinary Least Square) 1990-2004 dijakarta dengan variabel: jumlah orang yang bekerja, upah riil, PDRB,

berdasarkan harga konstan 1993, dan investasi

Mengetahui pengaruh PDRB, upah riil, dan investasi riil terhadap penyerapan tenaga kerja di DKI Jakarta

Investasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, nilai PDRB, upah, investasi, memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja

Perbedaan pada penelitian yang dilakukan adalah variabel, variabel yang digunakan pada jurnal utama yaitu Rapoport (2019) dengan variabel pendidikan, penghasilan mingguan dan jam, tingkat pekerjaan, tingkat migrasi, saham imigran, upah minimum sedangkan pada penelitian ini penulis menggunakan variabel upah minimum provinsi, pendidikan, tenaga kerja, PDRB, investasi, ekspor, populasi dan tidak menggunakan variabel penghasilan mingguan, dan tingkat migrasi yang terdapat pada jurnal acuan utama.

2.3

Kerangka Pemikiran

Secara garis besar, melalui penelitian ini penulis akan menggambarkan kerangka pemikiran: a. Menelitipengaruh pertumbuhan ekonomi dan upah minimum terhadap penyerapan tenaga

kerja Indonesia,

(25)

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran 0.1

2.4

Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini adalah:

1. Upah Minimum Provinsi diprediksi memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia,

2. PDRB diprediksi memiliki pengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia,

3. Investasi diprediksi memiliki pengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia,

4. Pendidikan diprediksi memiliki pengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia,

5. Populasi diprediksi memiliki pengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia.

Upah Minimum Provinsi

Variabel Makroekonomi

PD RB Pendidikan

Investasi Populasi

Penyerapan Tenaga Kerja

(26)

Universitas Pertamina - 14

BAB III. METODOLOGI

Pada Bab ini peneliti membahas mengenai metode dan tahap yang dilakukan pada penelitian. Hasil pada penelitian yang dilakukan diperoleh dari software StataMP 14.2. Berikut ini adalah uraian pada metodologi penelitian.

3.1

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan, yang dilaksanakan pada Oktober 2019 hingga Januari 2020. Lokasi yang gunakan pada penelitian ini meliputi 33 provinsi yang berada di Indonesia dengan data yang didapatkan dari data sekunder yaitu BPS dan CEIC

3.2

Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder merupakan data yang didapatkan dari sumber tidak langsung sebagaimana data yang diperoleh berasal dari suatu lembaga atau instansi terkait. Penelitian ini menggunakan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), CEIC. Jenis data pada penelitian ini adalah panel. Data panel merupakan gabungan data dari time series dan cross section. Data time series merupakan data yang berkaitan dengan tahun yang digunakan sehingga dalam hal ini penulis menggunakan tahun penelitian antara 2010 hingga 2018 sedangkan data cross section berkaitan dengan 33 provinsi di Indonesia. Berikut adalah beberapa data sekunder yang digunakan sebagai pendukung penelitian, diantaranya adalah:

Tabel 3.1. Variabel Penelitian dan Definisi Variabel 2

No Variabel Definisi Satuan Sumber

1 Tenaga Kerja Tenaga kerja usia produktif (16-64 tahun)

Ribu Orang CEIC, BPS

2 UMP nominal Upah Minimum Provinsi berdasarkan tahun berlaku

Juta Rupiah BPS

3 PDRB nominal Produk Domestik Regional Bruto berdasarkan tahun berlaku

Juta Rupiah BPS

4 Investasi Tambahan dana yang

diberikan oleh investor untuk dapat mengembangkan potensi suatu daerah

Juta Rupiah CEIC

5 Rata-rata lama sekolah Rata-rata jumlah tahun yang digunakan dalam pendidikan formal

Ribu Orang CEIC 6 Populasi Semua orang yang berada di

suatu daerah secara menetap selama enam bulan atau lebih

(27)

3.3

Metode Penelitian

Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah panel dari tahun 2010 sampai tahun 2018. Metode tersebut dipilih karena ingin mengetahui perbedaan penyerapan tenaga kerja ditiap provinsi sebagai variabel dependen sedangkan variabel independennya adalah upah minimum provinsi dan variabel makro ekonomi (PDRB, ekspor, pendidikan, investasi, populasi). Penelitian ini mengacu pada jurnal yang diteliti oleh Rapoport (2019)variabel yang digunakan pada penelitian tersebut adalah pendidikan, penghasilan mingguan dan jam, tingkat pekerjaan, banyaknya migrasi, upah minimum, penyerapan tenaga kerja. Perbedaan pada penelitian ini adalah pada penelitian ini menggunakan variabel tambahan yaitu PDRB, investasi, ekspor, dan populasi namun tidak menggunakan data penghasilan mingguan dan jam, tingkat pekerjaan, tingkat migrasi.

𝑇𝑒𝑛𝑎𝑔𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑖𝑡 = 𝛽0 + 𝛽1 𝑝𝑜𝑝𝑖𝑡 + 𝛽2𝑈𝑀𝑃𝑖𝑡 + 𝛽3𝑃𝐷𝑅𝐵𝑖𝑡 + 𝛽4𝐼𝑛𝑣𝑠𝑖𝑡 + 𝛽5 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑖𝑡 + eit (3.2)

dimana:

Yit = Jumlah Tenaga Kerja yang terserap (Ribu Orang) β0 = Koefisien pada Regresi yang Menunjukan Slope β = Koefisien Variabel

pop = Populasi (Ribu Orang)

UMP = Upah Minimum Provinsi (IDR)

PDRB = Produk Domestik Regional Bruto (IDR) Invs = Investasi (IDR)

pend = Rata-rata lama sekolah (tahun) e = Error

i, t = Provinsi(i) dan Tahun(t)

Tahap pemilihan metode regresi terdapat tiga model diantaranya (Manurung, 2012): a. Metode Pooled Least Square

Pada data panel metode pooled least square merupakan pendekatan yang paling sederhana. Pada metode Pooled Least Square tidak memperhatikan perbedaan dimensi individu ataupun waktu (intercept dan slope dianggap sama).

b. Fixed Effect Model

Metode pendekatan fixed effect merupakan yang beranggapan bahwa nilai koefisien slope tetap tapi nilai pada intercept berbeda tiap individu

c. Random Effect Model

Metode pendekatan random effect merupakan efek acak dengan parameter yang berbeda antara individu dengan waktu yang dimasukan kedalam error.

Tahap Penentuan persamaan model terbaik yang digunakan diantaranya: a. Uji Chow

Uji Chow merupakan uji yang dilakukan untuk menentukan apakah akan memakai model Common Effect atau Fixed Effect. Hipotesis yang digunakan diantaranya:

𝐻0: Commod Effect

(28)

Universitas Pertamina - 16 Dasar penolakan (𝐻0) apabila probabilitas < α (0.05)

b. Uji Hausman

Uji Hausman merupakan uji yang dilakukan untuk memilih apakah model akan dianalisis menggunakan random effet atau fixed effect. Hipotesis yang digunakan diantaranya: 𝐻0: Random effect

𝐻1: Fixed Effect

Dasar penolakan (H1) apabila probabilitas < α (0.05) c. Uji Langrange Multiple (LM)

Pada Uji Langrange Multiple didasarkan pada distribusi chi-square dengan nilai df (Degree of Freedom). Jika LM hitung > chi-squares maka tolak Ho dan gagal tolak H1 Hipotesis yang digunakan diantaranya:

𝐻0: Commod Effect

𝐻1: Random Effect

Tahap pengujian selanjutnya pada asumsi penelitian adalah melihat apakah regresi panel sudah dilakukan dengan baik. Regresi panel dikatakan baik jika telah memenuhi empat kriteria diantaranya adalah: Best, Linear, Unbiased, dan Estimator (BLUE). Jika suatu regresi tidak mampu memenuhi kriteria BLUE maka dapat diragukan hasil yang diperoleh oleh persamaan tersebut. Karena kriteria BLUE dapat tercapai jika telah memenuhi asumsi klasik yang mana uji asumsi klasik tersebut mencangkup beberapa uji diantaranya:

a. Uji Multikolinearitas

Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah suatu model pada regresi terdapat korelasi antar variabel bebas. Jika tidak terjadi korelasi antar variabel maka model regresi tersebut sudah baik (Gujarati, 1993).

b. Uji Heterokesdastisitas

Uji heterokedastisitas melihat ada atau tidaknya penyimpangan terhadap asumsi, dengan tujuan untuk menguji model pada regresi terjadi ketidaksamaan variabel dari residual satu dengan yang lain (Gujarati, 1993).

c. Uji Autokorelasi

Pengujian ini digunakan untuk melihat ada tidaknya korelasi pada variabel satu dengan yang lain. Jika pada suatu model terjadi autokorelasi maka akan menimbulkan masalah (Gujarati, 1993).

Solusi agar tidak timbul masalah autokorelasi dengan menghilangkan variabel yang tidak memiliki pengaruh terhadap variabel bebas. Setelah melakukan beberapa uji yang telah dijelaskan diatas maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan pengujian statistik terhadap model dengan menggunakan beberapa metode dibawah ini, diantaranya adalah:

a. Uji T

Uji T digunakan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Pada uji T melihat perbandingan pada nilai probabilitas terhadap α (taraf signifikan). Nilai pada α= 0.05 atau 5 persen ketika nilai probabilitas < α maka koefisien variabel signifikan memengaruhi variabel terikat dan sebaliknya.

(29)

b. Uji F

Uji F digunakan untuk melihat apakah model yang digunakan layak atau tidak untuk digunakan. Model dikatakan layak jika nilai probabilitas (F-statistic) < α dengan kata lain koefisien pada model regresi secara keseluruhan signifikan memengaruhi variabel terikat dan sebaliknya.

c. Uji koefisien determinasi (R2)

Uji R2 digunakan sebagai pengukur seberapa kontribusi kemampuan pada model variabel terikat yang dihitung. Ketika nilai pada R2 mendekati satu maka model tersebut memiliki informasi yang penuh terhadap kebutuhan dalam prediksi variabel bebas terhadap variabel terikat, sedangkan ketika nilai pada R2 mendekati angka nol maka informasi yang didapatkan terbatas dan variabel bebas tidak mampu menjelaskan variabel terikat.

(30)

Universitas Pertamina - 18

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Deskripsi Data

Penelitian ini secara menyeluruh menggunakan data sekunder. Peneliti menggunakan variabel data berupa penyerapan tenaga kerja, PDRB, investasi, pendidikan, populasi dan upah minimum provinsi yang diperoleh dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) dan CEIC dari 33 provinsi yang ada di Indonesia.

Penelitian ini menggunakan data panel dengan gabungan data times series dan data cross section di dalam data time series yang digunakan untuk penelitian ini meliputi data selama 9 tahun yaitu data tahun 2010 hingga tahun 2018 sedangkan data cross section pada penelitian ini meliputi 33 provinsi yang ada di Indonesia. Variabel dependen (terikat) pada penelitian ini adalah penyerapan tenaga kerja sedangkan variabel independen (bebas) pada penelitian ini adalah upah minimum provinsi, PDRB, investasi, populasi dan pendidikan.

4.2

Estimasi Model Regresi Data Panel

Pada regresi data panel peneliti menggunakan berbagai uji estimasi diantaranya adalah uji Chow, uji Hausman dan uji Lagrangian Multiplier. Namun peneliti lebih memperhatikan nilai yang dihasilkan oleh uji hausman, karena pada uji hausman mampu membandingkan dua model yaitu Fixed Effect Model (FEM) dan Random Effect Model (REM). Hipotesis yang digunakan pada metode uji hausman adalah dengan nilai probabilitas 0,05. Terdapat kriteria dalam pengambilan keputusan. Ketika nilai pada probabilitas lebih dari 0,05 maka H0 gagal ditolak sehingga model yang dipilih adalah Random Effect Model dan jika nilai pada probabilitas kurang dari 0,05 maka model yang dipilih adalah Fixed Effect Model.

Berikut adalah hasil estimasi model regresi yang diperoleh dari Uji Chow, Uji Hausman dan Uji Lagrangian Multiplier.

Tabel 4.1. Estimasi Model 3

Uji Prob Model

Uji Chow 0,0000 FEM

Uji Lagrangian Multiplier 0,0000 REM

Uji Hausman 0,0552 REM

Berdasarkan hasil regresi ketiga uji yang dilakukan maka hasil yang didapatkan menunjukan bahwa model terbaik pada regresi tersebut adalah random effect, ketika model yang digunakan adalah random effect maka hanya dibutuhkan uji multikolinearitas saja. Selanjutnya tahap pengujian yang peneliti lakukan adalah dengan tahap pengujian multikolinearitas. Pada saat melakukan uji multikolinearitas maka peneliti melihat nilai yang tertera pada Variance Inflating Factor (VIF). Ketika nilai VIF kurang dari 10 maka tidak terjadi multikoliniaritas pada model regresi sedangkan ketika nilai VIF lebih dari 10 maka terjadi multikolinearitas pada regresi. Pada hasil regresi uji multikolinearitas, peneliti mendapatkan hasil sebagai berikut:

(31)

Tabel 4.2. Uji Multikolinearitas

Variabel VIF 1/VIF

ln populasi ln ump ln pdrb 1,79 1,48 1,65 0,559641 0,677210 0,606970 ln investasi 1,11 0,904930 lama pendidikan 1,38 0,724792 Mean VIF 1,48

Sehingga dari hasil uji multikolinearitas di atas diketahui bahwa pada penelitian ini tidak terdapat multikolinearitas karena nilai pada mean VIF hanya berjumlah 1,48 karena nilai yang dihasilkan oleh mean VIF kurang dari 10 maka model di atas terhindar dari multikolinearitas sehingga dapat disimpulkan bahwa pada model ini tidak terdapat multikolinearitas.

4.3 Pembahasan

Regresi panel dilakukan dengan tujuan untuk dapat mengetahui pengaruh upah minimum provinsi dan variabel makroekonomi yang di dalamnya terdapat PDRB, investasi, populasi, pendidikan terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia tahun 2010 hingga 2018. Berdasarkan hasil regresi tersebut diketahui bahwa model terbaik pada penelitian ini adalah random effect. Hasil estimasi hasil regresi menggunakan random effect yang dijelaskan pada hasil berikut:

Tabel 4.3. Random Effect Model 4

ln tenagakerja Coeffisien p-value

lnPopulasi ln UMP ln PDRB ln Investasi lama pendidikan 0,0108828 -0,1252459 0,21379 -0,0000677 0,0758246 0,023** 0,000*** 0,000*** 0,953 0,002** _cons 11,3856 0,000*** R-sq = 0,423

***: signifikan (1%), **:signifikan (5%), *:signifikan (10%)

Sehingga hasil pada regresi panel berdasarkan metode Random Effect Model diperoleh nilai R2 sebesar 0,4236 atau sebesar 42,36 persen sehingga dapat dijelaskan bahwa 42,36 persen menjelaskan hubungan pada variabel independen terhadap variabel dependen dan sisanya dijelaskan pada variabel lain di luar variabel penelitian. Pada hasil regresi tersebut didapatkan nilai pada

(32)

Universitas Pertamina - 20 konstanta sebesar 11,3856 yang menjelaskan ketika variabel independen (PDRB, upah, investasi, pendidikan, populasi) diasumsikan memiliki nilai nol maka penyerapan terhadap tenaga kerja signifikan terjadi sebesar 11,3856 persen.

Nilai regresi koefisien pada variabel PDRB sebesar 0,21379 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 yang mana hasil tersebut dapat menjelaskan bahwa variabel PDRB memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia pada tahun 2010 hingga 2018. Ketika nilai pada PDRB meningkat sebesar satu persen maka penyerapan terhadap tenaga kerja akan bertambah sebesar 0,21379 persen hal tersebut sesuai dengan teori ketika semakin banyak jumlah penyerapan tenaga kerja maka akan meningkatkan nilai pada PDRB suatu provinsi dan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu daerah.

Berdasarkan teori yang dijelaskan oleh Keynes, pasar tenaga kerja mengikuti alur yang terjadi dipasar barang sehingga ketika output yang dihasilkan meningkat maka produksi ikut meningkat hal tersebut akan membuat permintaan terhadap tenaga kerja meningkat. Dengan adanya jumlah produksi yang meningkat maka akan meningkatkan nilai PDRB. Dengan meningkatnya nilai PDRB maka aka membuat tenaga kerja yang terserap pun meningkat. PDRB memiliki nilai yang penting terhadap penyerapan tenaga kerja sehingga pada penelitian yang dilakukan menjelaskan bahwa PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Adapun jurnal pendukung yang menyatakan bahwa PDRB berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja adalah penelitian yang dilakukan oleh (Firmansah, 2019).

Nilai regresi koefisien pada variabel upah sebesar negatif 0,1252459 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 yang mana hasil tersebut dapat menjelaskan bahwa variabel upah memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia pada tahun 2010 hingga 2018. Ketika nilai pada upah meningkat sebesar satu persen maka penyerapan terhadap tenaga kerja akan menurun sebesar 0,1252459 persen. Hasil pada penelitian mengenai upah minimum membahas mengenai upah berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja hal tersebut telah dikemukakan oleh teori yang dijelaskan oleh David Ricardo, ia menjelaskan bahwa besar kecilnya tingkat upah diberikan berdasarkan pada biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan pertimbangan kemampuan perusahaan untuk memberikan upah untuk kelangsungan hidup pekerja maupun keluarganya. Ketika upah tenaga kerja diberikan tinggi maka kesejahteraan yang diberikan oleh perusahaan kepada tenaga kerja juga tinggi, hal tersebut memicu banyak tenaga kerja yang melamar bahkan bekerja pada perusahaan sehingga dengan jumlah tenaga kerja yang tinggi maka tingkat upah cenderung berkurang. Terdapat pandangan lain ketika tingkat upah meningkat maka akan meningkatkan harga produksi per unit barang hal tersebut membuat konsum ketika terjadaien mengurangi tingkat konsumsinya dan menimbulkan target penjualan hasil produksi menurun sehingga perusahaan mengambil langkah untuk mengurangi tenaga kerja dan menggantikan tenaga kerja dengan barang modal (mesin) karena adanya efek subsitusi (Soelistyo, 2018) .

Adapun jurnal yang mendukung hasil penelitian ini, bahwa dengan upah yang diberikan lebih tinggi dibanding sebelumnya akan memberikan dampak yang negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. Dengan adanya upah minimum provinsi baik terhadap keuangan perusahaan dan pekerja karena dengan adanya kebijakan mengenai upah minimum tersebut hak-hak yang akan diterima oleh pekerja tidak dapat diabaikan, adapun jurnal yang menyetakan bahwa ketika nilai upah minimum meningkat sebesar 10 persen maka tenaga kerja berkurang sebesar 0,7 persen. Dengan adanya peningkatan upah minimum maka akan meningkatkan jumlah pengangguran sebesar 0,64 persen

(33)

(Lim, 2018) dan penelitian lain yang menyatakan nilai upah memiliki hubungan yang negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja (Purwaningsih, 2019).

Nilai regresi koefisien pada variabel investasi domestik sebesar negatif 0,0000677 dengan nilai probabilitas sebesar 0,953 yang mana hasil tersebut dapat menjelaskan bahwa variabel investasi memiliki pengaruh yang negatif dan tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia tahun 2010 hingga 2018. Ketika nilai pada investasi meningkat sebesar satu persen maka penyerapan terhadap tenaga kerja akan menurun sebesar 0,0000677 persen. Pada hasil regresi ini tidak mencerminkan teori yang ada karena seharusnya ketika jumlah investasi meningkat maka penyerapan terhadap tenaga kerja akan bertambah, namun pada hasil penelitian ini menunjukan bahwa ketika investasi meningkat maka tenaga kerja yang terserap menurun, hal tersebut dikarena di Provinsi Indonesia penyebaran terhadap investasi tidak tersebar secara rata dan Indonesia masih menganut sistem padat modal hal tersebut yang membuat tenaga kerja manusia digantikan dengan teknologi (mesin). Adapun jurnal pendukung yang berkaitan dengan hasil regresi peneliti yang menyatakan bahwa investasi memiliki pengaruh yang negatif terhadap penyerapan tenaga kerja (Cahyadi, 2018).

Nilai regresi koefisien pada variabel rata-rata lama sekolah sebesar 0,0758246 dengan nilai probabilitas sebesar 0,002 yang mana hasil tersebut dapat menjelaskan bahwa variabel rata-rata lama sekolah memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia pada tahun 2010 hingga 2018. Ketika nilai pada rata-rata lama sekolah meningkat sebesar satu tahun maka penyerapan terhadap tenaga kerja akan meningkat sebesar 7,58246 persen. Ketika semakin tinggi pendidikan yang dimiliki oleh pekerja, maka penyerapan tenaga kerja akan meningkat. Pada dasarnya ketika pendidikan yang dimiliki oleh pekerja tinggi maka akan memengaruhi tingkat produktivitas pekerja sehingga pendidikan sangat berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja.

Karena ketika pendidikan seseorang tinggi maka upah yang akan diterima oleh pekerja sesuai dengan pendidikannya namun jika tenaga kerja tersebut tidak memiliki pendidikan maka pekerja akan mendapatkan upah yang rendah, hal tersebut tercermin berdasarkan berapa lama seseorang memiliki waktu dalam pendidikan. Ketika pekerja memiliki pendidikan yang baik maka ketika pekerja tersebut berada pada suatu perusahaan maka seorang pekerja akan berupaya untuk dapat meningkatkan produktivitasnya. Adapun penelitian terdahulu mendukung hasil dari regresi penulis karena pendidikan memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja Purnawi (2015) dan penelitian lain juga menyatakan bahwa pendidikan memiliki pengaruh terhadap produktivitas yang dihasilkan oleh tenaga kerja (Tran, 2019).

Nilai regresi koefisien pada variabel populasi sebesar 0,0144986 dengan nilai probabilitas sebesar 0,006 yang mana hasil tersebut dapat menjelaskan bahwa variabel populasi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia pada tahun 2010 hingga 2018. Ketika nilai pada populasi meningkat sebesar satu persen maka penyerapan terhadap tenaga kerja akan meningkat sebesar 0,0144986 persen. Hal tersebut terjadi karena jumlah penduduk terus meningkat maka tidak menutup kemungkinan bahwa dengan adanya kenaikan jumlah penduduk akan mengalami peningkatan terhadap tenaga kerja, seperti yang diketahui bahwa setiap tahunnya jumlah penduduk di tiap provinsi terus bertambah, pertambahan jumlah penduduk tersebut akan menjadi modal utama bagi penyerapan tenaga kerja sehingga semakin banyak tenaga kerja yang terserap akan memperbaiki pertumbuhan perekonomian, penelitian pendukung Fachreza (2017) dan Ganie (2017).

(34)

Universitas Pertamina - 22

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1

Simpulan

Pada hasil penelitian ini, peneliti telah mengestimasi pengaruh upah minimum provinsi dan variabel makroekonomi yang mana pada variabel makroeonomi tersebut peneliti mengambil beberapa variabel diantaranya adalah PDRB, populasi, investasi, dan rata-rata lama pendidikan. Setelah peneliti melakukan estimasi dengan metode panel dan didapatkan bahwa model terbaik yang peneliti gunakan adalah Random Effect Model (REM). Pada kelima variabel yang peneliti gunakan berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia, namun UMP berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia dan investasi berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia. Sedangkan PDRB, Populasi dan rata-rata lama pendidikan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia. Pada hasil regresi yang peneliti lakukan didapatkan nilai koefisien R2 sebesar 0.4208 atau sebesar 42,36 persen yang menjelaskan hubungan pada variabel independen (PDRB, upah, investasi, rata-rata lama pendidikan, populasi) terhadap variabel dependen (penyerapan tenaga kerja) dan sisanya dijelaskan pada variabel lain di luar variabel penelitian.

5.2

Saran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, saran yang dapat peneliti berikan diantaranya adalah diharapkan pemerintah mampu menarik dan mendatangkan para investor untuk dapat mengembangkan potensi daerah yang ada, sehingga dengan adanya investasi yang masuk ketiap daerah mampu meningkatkan sektor termasuk pada sektor pendidikan. Ketika sektor pendidikan diberikan tambahan investasi dan diselingi oleh suatu kebijakan yang berkaitan dengan penambahan batas minimum wajib sekolah maka dengan penambahan satu tahun pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat membuat masyarakat memiliki kualitas yang lebih dan masyarakat mampu bersaing dengan masyarakat lainnya. Serta dengan adanya investasi pada tiap daerah maka daerah tersebut akan dapat meningkatkan nilai pada PDRB. Peneliti juga mengharapkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang banyak, diharapkan terdapat penambahan lapangan pekerja baru yang terbuka agar orang yang sedang mencari pekerjaan mudah terserap sehingga jumlah pengangguran yang ada disetiap provinsi mengalami penurunan, karena dengan adanya lapangan pekerjaan baru membuat tenaga kerja usia produksi memiliki peluang untuk melakukan pekerjaan. Melalui penelitian ini, disarankan juga terkait penelitian yang akan peneliti lain lakukan diharapkan mampu meneliti dengan menambahkan variabel lain di luar variabel upah minimum provinsi, PDRB, populasi, rata-rata lama sekolah, dan investasi serta peneliti selanjutnya mampu menambahkan waktu penelitiannya agar data yang dihasilkan lebih baik dari penelitian sebelumnya.

Gambar

Gambar 1.1 Upah Minimum Provinsi per pulau di Indonesia Tahun 2010 - 2018 ...........
Gambar 1.1. Upah Minimum Provinsi per pulau di Indonesia Tahun 2010 - 2018 Sumber: Badan Pusat Statistik [BPS] (2019)
Gambar 1.2. Tingkat Pendidikan di Indonesia Tahun 2010-2018   0.3
Tabel 2.1. Tinjauan Empiris1
+4

Referensi

Dokumen terkait

Selisih dari tegangan diskontinyu hasil analisa metode elemen hingga dengan tegangan kontinyu pada suatu elemen disebut sebagai error tegangan yang nantinya akan digunakan

Rezultati dobiveni energetskom simulacijom Varijante 5 ukazuju na smanjenje potrebne energije za hlađenje u odnosu na PAR, pri čemu je potrebna energija za

Sorotan lepas juga mendapati sudah menjadi suatu kelaziman bagi pengkaji dalam mengukur religiositi atau kepatuhan beragama dengan melibatkan sekurang-kurangnya dua intipati

Kegiatan  ini  meliputi  pemberian  jasa  pos  dan  giro  seperti  pengiriman  surat,  wesel,  paket,  jasa  giro,  jasa  tabungan  dan  sebagainya.  Perkiraan 

Sebagai contoh, fonem f dan v memiliki atribut level 1 yang sama (keduanya merupakan fonem konsonan), tapi nilai atribut level 2 mereka secara berturut-turut

Mencermati bahwa model struktural untuk mengevaluasi pengaruh kepuasan wisatawan nusantara terhadap niatnya kembali berkunjung ke destinasi wisata di Kabupaten

Hal ini menjelaskan bahwa variabel jumlah penduduk, PDRB dan upah minimum secara simultan (serempak) berpengaruh signifikan terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja

yang shalihah terhadap perbaikan bangsa adalah wanita yang shalihah lebih berpotensi untuk memberikan keturunan-keturunan generasi bangsa yang berakhlak mulia