PENGARUH KECEPATAN POTONG TERHADAP KEPRE

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGARUH KECEPATAN POTONG TERHADAP KEPRESISIAN GEOMETRI ULIR STANDAR ISO METRIK DENGAN MENGGUNAKAN BAJA S 45 C PADA

MESIN CNC ET 242

Mochamad Dwi Agung, Ari Wahjudi

Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang Jl. MT. Haryono 167, Malang 65145, Indonesia

E–mail: mochammad_dwiagung@yahoo.com

Ulir adalah salah satu bagian dari komponen mesin yang paling banyak digunakan oleh karena itu pembuatan ulir yang memiliki kepresisian yang tinggi sangat diperlukan. Mesin bubut CNC sangat efektif dan efisien digunakan untuk proses permesinan dalam pembuatan komponen-komponen mesin. Dengan mesin CNC proses pembubutan ulir menjadi sangat memungkin membuat ulir dengan sangat bevariasi dalam waktu relatif cepat dan hasilnya lebih presisi. Hal ini karena mesin CNC bisa menggerakan putaran spindel dan bagian mesin yang lainnya menggunakan sistem CAM, yang dimaksud CAM ini adalah sebuah teknologi yang menghubungkan kemampuan dari komputer dengan teknologi tinggi untuk diaplikasikan pada mesin CNC.

Dalam proses permesinan kecepatan potong adalah salah satu variabel yang sangat berpengaruh dalam menentukan hasil dari pembuatan sebuah komponen mesin. Salah satu yang digunakan untuk mengukur kualitas produk dari proses permesinan adalah kepresisiannya. Dalam penelitian ini dilakukan proses permesinan denagan mesin CNC untuk membuat ulir metris M30 dengan variasi kecepatan potong yakni 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, 20, 22, 24, 26, 28, 30 m/menit. Produk ulir yang dihasilkan diukur menggunakan profile proyektor mendapatkan tingkat kepresisiannya.

Dari hasil analisa didapatkan setiap variasi kecepatan potong memiliki pengaruh terhadap kepresisian geometri ulir. Pada kecepatan potong 2 m/menit prosentase penyimpangan geometrinya cukup tinggi kemudian berangsur menurun seiring dengan peningkatan kecepatan potongny sampai pada kecepatan potong 12 -14 m/menit memiliki tingkat kepresisian yang paling baik, kemudian semakin bertambahnya kecepatan potong mulai 16 – 30 m/menit tingkat kepresisiannya menurun kembali.

Kata Kunci : Proses Permesinan, Kecepatan Potong, Ulir, Kepresisian Geometri.

PENDAHULUAN

Proses manufaktur memegang peranan yang sangat penting untuk menghasilkan produk manufaktur yang berkualitas oleh karena itu pemilihan proses manufaktur yang efektif dan efisisen sangat diperlukan. Sehingga dapat menghasilkan produk-produk yang berkualitas baik namun biaya produksinya juga tidak tinggi. Dalam proses manufaktur dikenal proses permesinan konvensional dan non konvensional. Saat ini proses permesinan non konvensional didominasi oleh oleh mesin-mesin yang menggunakan kontrol komputer atau lebih kita kenal dengan mesin CNC. Mesin CNC mampu mengerjakan suatu produk dengan tingkat ketelitian yang tinggi.

Dalam melakukan proses pembubutan sangat dipengaruhi

oleh berbagai parameter pada saat melakukan proses pemotongan benda kerja. Parameter pemotongan ini merupakan sebuah ukuran untuk menentukan kualitas dari benda yang dikerjakan. Kecepatan potong (cutting speed)

adalah salah satu parameter pemotongan yang memiliki pengaruh yang cukup besar dalam proses permesinan.

(2)

bermafaat sesuai dengan fungsinya. penggunaan sistem ulir untuk penyatuan dua komponen hampir terdapat dalam semua produk teknologi. Sistem ulir telah menjadi salah satu faktor penting dalam kemajuan industri pada semua jenis produksi. Makin tinggi tingkat ketelitian suatu komponen dibuat berarti makin tinggi pula tingkat ketelitian sistem ulirnya. Oleh karena itu kepresisian ulir menjadi hal yang sangat penting. Apabila ulir tidak presisi maka dalam kekuatan sambungan ulir akan menurun dikarenakan posisinya tidak sesuai, disamping itu dikarenakan fungsi ulir sendiri sebagai pengunci sekaligus sebagai penerus daya sehingga jika kualitas ulir rendah maka akan mengurangi daya tahan ulir. Oleh karena itu pada penelitian ini akan diamati secara langsung pengaruh besarnya kecepatan pemotongan terhadap kepresisian geometri ulir.

TINJAUAN PUSTAKA Hasil Penelitian Sebelumnya

Pada penilitian yang dilakukan oleh Gunay, M .tahun 2010 yang berjudul “Investigation of the Effects on Screw Thread of Infeed Angle during External

Threading” dapat diketahui bahwa

semakin besar sudut dari pahat

single point tools, sudut infeed

angle dan pemilihan gaya

pemotongan sangat mempengaruhi bentuk dari puncak ulir.

Kosaraju, S. dkk (2012) melakukan penelitian ekperimental untuk mengetahui pengaruh parameter pemotongan pada proses pembubutan. Desain penelitian dilakukan menurut L9 aray milik Taguchi kemudian hasil eksperimen dianalisa menggunakan ANOVA dan diadapatkan bahwa kecepatan potong memiliki

pengaruh paling besar terhadap besarnya gaya potong.

Proses Pembubutan

Dalam suatu proses pembubutan ukuran produk ditentukan terlebih dahulu kemudian dilakukan proses membuang sebagian material benda kerja sampai ukuran/bentuk benda kerja tercapai. Hal ini tidak terlepas dari elemen dasar proses pemesinan. Elemen dasar dapat dihitung dengan rumus-rumus berikut ini :

Kecepatan potong (cutting speed)

Kecepatan dari pahat untuk menempuh tertentu jarak per menitnya, Dibawah ini merupakan cara untuk mencari rumus kecepatan potong, yaitu

V= π . d . n

1000 (Rochim,1993:14) Keterangan:

V=kecepatan potong (m/menit) d=diameter benda kerja (mm) n=jumlah putaran (rpm)

Kecepatan makan (feeding speed)

Kecepatan makan yaitu jarak yang dilalui oleh pahat dalam per satu putaran dari benda kerja.

Vf = f . n (Rochim,1993:15) Keteranngan:

Vf =kecepatan pemakanan (mm/min) f=gerak makan (mm/rev)

n=jumlah putaran (rpm)

Kedalaman Pemotongan (depth of cut) Kedalaman pemotongan adalah kedalaman pahat dalam melakukan pemakanan benda kerja

a= do2dm (Rochim,1993:15) Keterangan:

a= kedalaman pemotongan (mm) do= diameter awal (mm)

dm= diameter akhir (mm)

(3)

Gaya total (F) dapat diketahui arah dan besarnya dengan cara membuat dinamometer (alat ukur gaya, dimana pahat dipasang padanya dan alat tersebut dipasang pada mesin perkakas) yang mengakur 2 komponen gaya :

Fv = gaya potong, searah dengan kecepatan potong (N)

Ff = gaya makan, searah dengan kecepatan makan (N)

Dimana untuk menghitung gaya potong (Fc) secara empirik (Günay, M., dkk, 2004) menggunakan rumus:

Fc = A . ks . kv . kγ . ka . kt

Ulir

Ulir merupakan suatu alat yang sangat berpengaruh dalam bidang konstruksi, dimana alat ini memiliki fungsi yaitu sebagai alat pemersatu atau sebagai alat penerus(transmisi) daya. Pada pengaplikasiannya ulir biasa digunakan pada suatu konstruksi bangunan atau pada proses perakitan(assembly). Dilihat dari arah gerakannya,ulir ini memiliki dua tipe yaitu ulir kiri, dimana ulir ini bisa dilihat dari arah kemiringan sudut sisi ulir atau arah putaran dari ulir, yang kedua ulir kanan, ulir ini akan bergerak maju jika diputar kearah kanan.

Dalam proses pembuatan ulir banyak faktor yang mempengaruhi, antara lain, dari kondisi pemotongan, parameter pemotongan, dan bahan yang digunakan akibatnya kemungkinan terjadi penyimpangan bentuk ulir atau profil ulir

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian eksperimental dengan melakukan pembubutan ulir dengan bahan baja S45C mengandung Carbon (C) 42 -48% pada mesin CNC TU 242 yang menggunakan pahat insert karbida Tipe

partial profile 600 : MMT 16 ERAG 60

UN dan Tool holder yang digunakan Tipe

MMTE :MMTER 2020K16-C kemudian diukur dengan profile proyektor, hasilnya dibandingkan dengan ulir M30 standar ISO Metris dan dianalisa untuk mengetahui tingkat kepresisiannya.

Variabel Penelitian

Variabel – variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Variabel bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Kecepatan Potong : 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, 20, 22, 24, 26, 28, 30 m/menit 2. Variabel terkontrol

Variabel terkontrol dalam penelitian ini adalah Depth of cut 0,967 mm, Feeding

2,17 mm/rev

3. Variabel Terikat

Pada penelitian ini variabel terikatnya adalah Diameter Minor Ulir, jarak picth,

sudut ulir

Benda kerja yang akan dibuat adalah baut, berdiameter dengan profil dari standard ulir ISO METRIK memiliki spesifikasi Diameter mayor (D) 30 mm, Diameter minor (D1) 25,71 mm, Jarak pitch, 3,5 mm, Sudut 60o

Gambar. 1 Benda Kerja HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pengujian dan pengamatan pada benda kerja selanjutnya data tersebut ditampilkan dalam bentuk grafik untuk mempermudah proses analisis pengaruh kecepatan potong terhadap kepresisian geometri ulir.

(4)

0 50 100 150 200 250 300 350

Kecepatan Putaran Spindle (rpm)

Pr

Gambar 2 Grafik Pengaruh Kecepatan Potong Terhadap Kepresisian Diameter

Minor

Pada grafik terlihat bahwa ketika kecepatan potong rendah yakni pada kecepatan 20 mm/menit sampai 60 mm/menit penyimpangan yang terjadi cukup besar namun memiliki trend menurun. Hal ini disebabkan ketika kecepatan potong rendah pada saat yang sama kecepatan putaran spindle juga masih rendah meskipun pada sisi yang lain gerak makan sudah tinggi namun hal ini juga rendah maka proses penyayatan juga tidak maksimal sehingga kepresisian ulir juga semakin rendah. sehingga beban pada pahat menjadi rendah yang mengakibatkan gaya potong juga rendah. Pada sisi yang lain kedalaman pemotongan juga tinggi namun kecepatan potong yang rendah hal ini juga menyebabkan gaya potong yang kepresisian yang dicapai juga tidak sesuai, hal ini yang mengakibatkan nilai penyimpangan yang cukup tinggi.

Pada grafik diatas terlihat ketika kecepatan potong semakin tinggi yakni pada kecepatan 80 mm/menit sampai 160mm/menit terlihat nilai prosentase penyimpangan yang semakin kecil. Bahkan pada saat kecepatan 100mm/menit sampai 120 mm/menit kecepatan penyimpangannya mendekati nol persen. Hal ini disebabkan karena semakin besar kecepatan potong maka akan semakin besa gaya potong. Kecepatan pemotongan yang besar disertai dengan sifat mekanik meterial S45C yang merupakan logam besi paduan yang mengandung karbon sedang akan juga mempengaruhi tegangan geser. Kecepatan pemotongan yang semakin besar akan membuat tegangan geser pada bidang geser selama proses pembubutan akan semakin besar pula yangmengakibatkan penyayatan pahat tarhadap material juga akan semakin sesuai dengan yang diinginkan. Dengan demikian kepresisian hasil pembuatan ulir akan semakin baik pula.

(5)

semakin tinggi. Dikarenakan luas bidang geser adalah luas bidang geram sebelum terpotong yang telah mengalami perpanjangan pada salah satu sisinya akibat sudut potong yang terjadi selama proses pembubutan. Pada sisi yang lain kecepatan potong yang meningkat juga akan menyebabkan gaya potong yang juga akan semakin besar pula. Sehingga penyatan juga akan semakin besar pula sehingga mengakibatkan diameter minor akan menjadi semakin kecil, hal ini inilah yang menyebabkan prosentase penyimpangan yang semakin besar.

Pada grafik diatas juga terlihat prosentase penyimpangan yang besar ketika kecepatn potong rendah dan juga sangat tinggi. Namun prosentase penyimpangan ini disebabkan oleh dua hal yang berbeda.pada kecepatan potong yang rendah penyimpangan terjadi kerena diameter minor ulir yang dihasilkan melebihi dari standar, sedangkan pada kecepatan potong yang tinggi diameter ulir kurang atau lebih kecil dari standar.

Pengaruh Kecepatan Potong Terhadap Kepresisian jarak Picth Ulir M30

0 5 10 15 20 25 30 35

0 1 2 3 4 5

f(x) = 0.02x^2 - 0.51x + 4.05 R² = 0.81

Kecepatan Potong(m/menit)

Pr

os

en

ta

se

P

en

yi

m

pa

ng

an

(%

)

Gambar 3 Grafik Pengaruh Kecepatan Potong Terhadap Kepresisian Jarak Picth

Pada grafik terlihat bahwa ketika kecepatan potong rendah yakni pada kecepatan potong 20mm/menit prosentase penyimpangan cukup besar yakni lebih dari 3% kemudian semakin tinggi kecepatan potong sampai sekitar 80 mm/menit maka prosentase penyimpangan juga turun sampai dibawah 1%. Bentuk pahat ulir yang berbentuk segitiga sehingga pemakanan yang dilakukan ada dua yakni menuju sumbu utama dan juga tegak lurus sumbu utama atau mengikuti bentuk pahat segitiga tersebut. Pada saat kecepatan potong rendah mengakibatkan gaya potong yang searah sumbu utama benda yang dibubut semakin kecil. Sehingga semakin kecil pula tegangan geser searah sumbu utama benda kerja. Sebaliknya gaya geser yang tegak lurus dengan sumbu utama menjadi semakin besar sehingga membuat jarak antara puncak dan lembah menjadi semakin dekat. Hal inilah yang menyebabkan nilai kepresisian menjadi kecil.

Ketika kecepatan potong 100 mm/menit sampai 140mm/menit terlihat nilai prosentase penyimpangan menjadi sangat kecil bahkan mendekati nol, hal ini disebabkan kecepatan potong yang semakin besar adalah karena kecepatan putaran spindle yang semakin besar. Pada saat kecepatan spindle semakin besar maka kecepatan pemakanan juga kan semakin besar sehingga luasan penampang bidang yang terpotong juga akan semakin besar. Disamping itu gaya potong baik searah subu utama maupun yang tegak lurus sumbu utama juga semakin berimbang. Hal inilah membuat bentuk picth dan alur heliks dalam proses pembubutan menjadi lebih baik sehingga prosentase penyimpangannya menjadi semakin presisi.

(6)

picth. Hal ini disebabkan pada saat kecepatan potong meningkat gaya potong searah sumbu utama juga akan meningkat sehingga meningkatkan pula tegangan gesernya. Disamping itu kecepan pemakan juga semakin bertambah besar seiring meningkatnya kecepatan putar spindle mengakibatkan perpanjangan salah satu sisi pemotongan. Kedua hal inilah yang mengakibatkan jarak picth menjadi semakin lebar. Oleh karenanya prosentase penyimpangan menjadi semakin tinggi.

Dari grafik diatas juga terlihat bahwa panyimpangan kepresisian picth pada ulir terjadi ketika kecepatan potong rendah dan juga sangat tinggi. Namun kalau kita melihat tabel penyimpangan tersebut berbeda yakni ketika kecepatan potong rendah jarak picth menjadi lebih kecil dari standar namun ketika kecepatan potong tinggi jarak picth menjadi lebih besar dari standar. Hal ini disebabkan pengaruh peningkatan gaya potong yang semakin besar searah sumbu utama ketika kecepatan potong semakin besar dan kecepatan potong tegak lurus sumbu utama yang semakin kecil sehingga berpengaruh pada tegangan geser dan proses pembentukan picth ulir.

Pengaruh Kecepatan Potong Terhadap Kepresisian Sudut Ulir M30

Gambar 4 Grafik Pengaruh Kecepatan Potong Terhadap Kepresisian Sudut Ulir

Pada Grafik terlihat nilai penyimpangan pada saat kecepatan potong 2 m/menit prosentase penyimpangan kepresisian ulirnya sekitar 3% kemudian

berangsur-angsur turun ketika kecepatan potong semakin bertambah tinggi. Sampai pada kecepatan potong 8 – 12 m/menit nilai prosentase penyimpangannya berada di bawah 1 persen kemudian naik kembali diatas 1 persen ketika kecepatan potongnya 14 m/menit dan berangsung-angsung naik ketika semakin tinggi kecepatan potongnya bahkan ketika kecepatan potongnya mencapai 28 – 30 m/menit penyimpangan terhadap kepresisian sudut ulir mencapi hampi 6 %.

Hal ini terjadi karena bentuk sudut ulir terbentuk dari pemakanan pada pahat ulir yang berbentuk segitiga. Ketika kecepatan potong rendah yakni sekitar 2 – 6 m/menit, gaya potong juga akan rendah sehingga mempengaruhi tegangan geser yang terjadi pada bentuk sudut ulir. Pada sisi yang lain kecepatan pemakanan juga ikut rendah karena kecepatan pemakanan juga dipengaruhi oleh kecepatan putaran spindle yang berbanding lurus dengan dengan kecepatan potong. Hal inilah yang mempengaruhi besarnya gaya potong yang searah kecepatan potong dan gaya potong yang seearah kecepatan makan sehingga ikut mempengaruhi luasan bidang geram yang terpotong pada saat pemakanan menjadi semakin kecil. Hal inilah yang membentuk sudut ulir menjadi lebih kecil dari nilai standar sehingga terjadi penyimpangan.

Pada saat kecepatan potong semakin tinggi yakni pasa saat kecepatan potong semakin naik yakni pada kecepatan potong 8 sampai 10 m/per menit. Maka besarnya gaya potong juga semakin besar karena itulah tegangan geser yang arahnya ke sumbu utama juga semakin besar. Disisi yang lain kecepatan pemakanan juga meningkat sehingga meningkatkan luasan bidang geram yang terpotong dan karena arah tegangan gesernya searah sumbu utama hal inilah yang membentuk sudut ulir menjadi lebih besar dan semaikin sesuai dengan standar.

(7)

sampai 30 m/menit maka hal ini juga memepengaruhi terhadap besarnya gaya potong yang semakin besar pula. Kecepatan potong yang sangat besar ini mempengaruhi besarnya gaya geser yang searah dengan kecepatan potong(Fv). Pada sisi lain kecepatan pemakanan juga meningkat seiring dengan dengan besarnya kecepatan putaran spindle sehingga juga mempengaruhi besarnya gaya potong searah kecepatan pemakanan (Ff). Sehingga ikut memperluas luasan bidang geser yang akibatnya memperbesar volume geram terpotong yang searah sumbu utama dan memperkecil luasan pada volume geram yang tegak lurus sumbu utama. Hal inilah yang menyebabkan sudut ulir manjadi semakin besar. Sehingga nilai penyimpangannya terhadap kepresisian pun menjadi semakin besar pula.

Pengaruh Kecepatan Potong Terhadap Kepresisian Geometri Ulir

Dari pembahasan diatas didapat kesimpulan bahwa kecepatan potong berpengaruh terhadap kepresisian geomtri ulir dalam hal ini geometri ulir ditentukan dari besarnya diameter minor, jarak picth dan sudut ulir. Pada masing-masing grafik terlihat bahwa pada saat kecepatan rendah yakni pada pada kecepatan 2 – 4 m/menit terjadi penyimpangan namun seiring bertambahnya kecepatan potong trend penyimpangan tersebut menurun sampai pada kecepatan 12 – 14 m/menit kemudian prosentase penyimpangan tersebut kembali meningkat seiring semakin besarnya kecepatan pemotongan yakni pada kecepatan 16 m/menit sampai 30 m/menit prosentase penyimpangan cenderung meningkat kembali. Dari pembahasan diatas juga terlihat bahwa untuk mesing-masing parameter geometri yang diukur prosentase penyimpangan terkecil terjadi pada kecepatan 14 m/menit untuk diameter minor dan jarak picth, serta 12 m/menit untuk besarnya sudut ulir.

Hal ini dikarenakan pada saat kecepatan rendah maka yang diakibatkan oleh putaran spinde mengakibatkan gaya

potong searah kecepatan potong (Fv) juga ikut rendah. Pada sisi lain kecepatan pemakanan yang dipengaruhi oleh feeding dan kecepatan putar spindle menjadi lebih besar sehingga menyebabkan besarnya gaya potong searah kecepatan makan (Ff). Karena perbandingan inilah yang menyebabkan kepresisian gemetri menjadi menurun. Pada saat kecepatan potong semakin meningkat maka gaya potong yang searah kecepatan potong juga meningkat sehingga memiliki nilai perbandingan yang sesuai dengan kecepatan makan yang juga mempengaruhi gaya potong yang searah kecepatan makan, perbandingan gaya potong yang searah kecepatan potong Fv dan gaya potong yang searah kecepatan makan Ff yang paling sesuai terdapat pada saat kecepatan makan 12 - 14 m/menit. Sehingga pada saat kecepatan potong ini prosentase penyimpangan yang dihasilkan menjadi semakin kecil.

Seiring kecepatan potong yang semakin meningkat yakni pada saat kecepatan potong 16 m/menit sampai 30 m/menit membuat gaya potong yang searah kecepatan potong juga semakin meningkat pula. Namun pada sisi lain kecepatan makan tidak meningkat secara signifikan karena nilai pemakanan/feeding yang konstan sehingga nilai gaya potong yang searah kecepatan makan juga tidak seimbang. Hal inilah yang mempengaruhi terhadap semakin besarnya prosentase penyimpangan yang terjadi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang didapatkan maka dapat diambil kesimpulan bahwa Prosentase penyimpangan geometris terkecil terjadi pada saat kecepatan pemotongan 14 meter/menit untuk diameter minor. 14 meter/menit untuk jarak picth dan 12 meter/menit untuk sudut ulir.

(8)

penyimpangannya berangsur-angsur mengecil seiring dengan semakin tingginya kecepatan potong sampai pada titik tertentu kemudian penyimapangannya membesar kembali. Hal ini terjadi karena pengaruh gaya pemotongan yang searah kecepatan potong( fv ) dan gaya pemotongan searah kecepatan pemakanan ( ff ).

Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengukur besarnya gaya potong yang terjadi.

2. Perlu melakukan variasi kecepatan pemakanan sehingga didapatkan besar kecapatan pemakan yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Hendri dan Richard. 2003.

Analisis Umur dan Keausan Pahat Karbida Untuk Membubut Baja Paduan (ASSAB 760) dengan Metoda Variable Speed Machining Test . Padang : Universitas Bung Hatta

Childs, T., Maekawa, K., Obikawa, T. dan Yamane, Yasuo. 2000. Metal

Machining Theory and

Applications. London: Arnold

Gunay, M., Korkut, I., Ersan, A., dan Seker, U. 2004. Experimental Investigation of The Effect of Cutting Tool Rake Angle on Main

Cutting Force. Turki: Journal of

Materials Processing Technology.

https://www.efatigue.com/glossary/

. Diakses 17 april 2014

https://mmu.ic.polyu.edu.hk. Diakses 17 april 2014

Korloy Technical Guide. Seoul :

Korloy Inc.

Kosaraju, S. et.al. 2012. Taguchi Analysis on Cutting Forces and Temperature in Turning

Titanium Ti-6Al-4V.

Warangal: Mechanical Engineering Department. Marsyahyo, Eko. 2003. Mesin

Perkakas Pemotongan Logam.

Malang: Bayumedia Publishing. Mitsubishi.2012.General Catalogue Narayana, K.L., Kannaiyah, P., Reddy,

Venkata K. 1994. Machine

Drawing. New Delhi: New Age

International Publisher.

Nutranta, Ruli. 2010. Modul 5 CNC. www.scribd.com. Diakses tanggal 10 November 2012.

Oberg, Erick. 2008. Machinerys

Handbook 28 Edition. Industrial

Press. New York.

Paul, D.G. 1990. Material and

Processes in Manufacturing. New

Jersey: Prentice Hall

Rahmad, Nugraha C. 2000. Pengaruh Kecepatan Potong dan Cutting Fluid Terhadap Gaya Pemotongan

Dengan Mesin Bubut CNC ET 242.

Malang.

Rochim, T. 1993. Teori Dan Teknologi

Proses Pemesinan. Laboratorium

Teknik Produksi Jurusan Teknik Mesin ITB, Bandung.

Suharyono, I. 2010. Buku 2 Proses

Permesinan. Yogyakarta : Jurusan

Teknik Mesin UNY.

Surdia, Tata. 1986. Teknik Pengecoran

Logam. Jakarta : PT. Pradnya

Figur

Gambar 2 Grafik  Pengaruh Kecepatan
Gambar 2 Grafik Pengaruh Kecepatan. View in document p.4
Gambar 4 Grafik Pengaruh Kecepatan
Gambar 4 Grafik Pengaruh Kecepatan. View in document p.6

Referensi

Memperbarui...