• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesadaran Nelayan Terhadap Pendidikan An

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kesadaran Nelayan Terhadap Pendidikan An"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

NAMA : FADHILAH AULIYAH ANISABAKTI NIM : J011171528

PRODI : KEDOKTERAN GIGI TOPIK : PENDIDIKAN

JUDUL : KESADARAN NELAYAN TERHADAP PENDIDIKAN ANAK

WAWASAN SOSIAL BUDAYA MARITIM

A. PENGANTAR

Pendidikan anak merupakan salah satu bagian dari tujuan mencerdaskan bangsa. Dengan adanya pendidikan, anak-anak diasah melalui seperangkat pengetahuan untuk memiliki kesadaran dan kemauan yang positif dalam menemukan tujuan untuk dirinya di masa yang akan datang. Perkembangan pendidikan di Indonesia telah menunjukkan keberhasilan yang cukup besar.Wajib belajar enam tahun dan pembangunan infrastruktur sekolah, lalu diteruskan dengan wajib belajar sembilan tahun adalah program pendidikan yang diakui cukup sukses. Pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia, kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak merupakan hak setiap warga negara, tanpa terkecuali. Namun, realitasnya masih banyak masyarakat yang belum mampu memandang bahwa pendidikan itu adalah hal yang penting.

(2)

sekolah bukan diisibukkan dengan melakukan berbagai kegiatan yang belum pantas mereka lakukan.1

Kondisi masyarakat nelayan atau masyarakat pesisir di berbagai kawasan secara umum dapat dicirikan dengan kemiskinan, keterbelakangan sosial budaya, dan rendahnya kualitas SDM. Realitas inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa tingkat pendidikan anak-anak nelayan cenderung rendah. Tak sedikit anak yang hanya sampai di tingkat sekolah dasar saja. Seperti yang kita ketahui banyak anak-anak dari nelayan diIndonesia putus sekolah karena ikut melaut bersama orangtuanya. Hal ini juga timbul karena perspektif mengikuti jejak orangtuanya sebagai nelayan. Maka dari itu perlu adanya kesadaran pada nelayan akan pentingnya pendidikan anak-anaknya sehingga anggapan bahwa orangtuanya seorang nelayan anaknya-pun akan menjadi nelayan dapat diluruskan ataupun dihilangkan.

B. METODE PENULISAN

Data didapatkan dari data sekunder berupa jurnal serta laporan penelitiaan. Dalam mencari bahan dalam berupa juranal dan penelitian, penulis cukup aman dan terkendali diakrena judul ataupun topic cakupannya cukup luas. Adapun data primer yang berupa pengalaman tersendiri dari penulis.

Dalam menyusun artikel ini, penulis menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif adalah metode yang menggambarkan situasi atau kejadian. Data yang dikumpulkan da;pat berupa kepustakaan yang bersumber dari laporan resmi pemerintah, laporan penelitian independen, perguruan tinggi, atau individu serta media massa.2

C. PEMBAHASAN

Manusia tidak bisa lepas dari pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. MenurutUndang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 1 disebutkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, mengembangkan segala potensi yang

(3)

dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran. Dalam pasal 4 dijelaskan bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi dirimelalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Dengan demikian pendidikan adalah segala daya upayadan semua usaha untuk membuat masyarakat dapat mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara.3

Bendara Raden Tumenggung Harya Suwardi Soerjaningrat yang lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara (1961: 2) mengatakan dalam bukunya bahwa usaha-usaha pendidikan (tari) ditujukan pada (a) halusnya budi, (b) cerdasnya otak dan (c) sehatnya badan. Ketiga usaha itu akan menjadikan lengkap danlaras bagi manusia. Dengan demikian pendidikan merupakan usaha untuk membentuk manusia yang utuh lahir dan batin, yaitu cerdas, sehat, dan berbudi pekerti luhur. Ki HadjarDewantara juga menegaskan bahwa pendidik harus memiliki konsep 3 kesatuan sikap yang utuh, yakni ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Pengertiannya, bahwa sebagai pendidik harus mampu menjadi tauladan bagi peserta didiknya, pendidik juga mampu menjaga keseimbangan, juga dapat mendorong, dan memberikan motivasi bagi peserta didiknya. Trilogi pendidikan ini diserap sebagai konsep “kepemimpinan Pancasila”.

Nelayan adalah masyarakat yang memiliki mata pencarian utama sebagai penangkap ikan. Mereka pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatanya.Pada hakekatnya nelayan adalah golongan masyarakat yang masih perlu diberdayakan dan harkat hidup mereka perlu diangkat. Pada umumnya kehidupan nelayan selalu diungkapkan dengan keterbelakangan baik dari sudut pandang pencaharian, maupun cara berpikir, dan sikap yang masih tradisional. Dilihat dari lingkupnya kemiskinan nelayan terdiri atas kemiskinan prasarana fisik di desa-desa nelayan yang pada umumnya masih sangat minim. Kita dapat melihat betapa besar, tanggung jawab keluarga dalam proses perkembangan anak, karena kelurga memmpunyai peranan penting dalam mempersiapkan anak-anak untuk mencapai masa depan yang baik bagi dirinya sendiri, keluarga serta orang lain. Keluargalah yang mula-mula bertanggung

(4)

jawab atas pendidikan anak-anak. Keluarga dapat dikatakan sebagai peletak dasar bagi pola tingkah laku serta perkembangan pribadi anak-anak. Jika anak dalam setiap keluarga dapat berkembang dengan baik dan layak maka akan terciptalah sumber daya manusia yang ideal bagi proses perkembangan bangsa. Karena anak adalah penerus cita-cita perjuangan bangsa. Namun jika anak tidak berkembang secara wajar dan optimal maka masyarakat Indonesia akan menjadi sumber daya manusia tidak berkualitas dimasa yang akan datang.4

Namun realitasnya masih kurang kesadaran di diri nelayan-nelayan Indonesia saat ini, masih banyak nelayan yang memutuskan pendidikan atau dalam hal ini sekolah anak-anaknya dan membawa anak-anak-anaknya ikut menjadi seorang nelayan. Realitas ini tentunya muncul karena perspektif bahwa seorang anak nelayan jika tidak menjadi nelayan juga ingin menjadi apa? Nah, perspektif inilah yang mendorong nelayan untuk membatasi pendidikan anak-anaknya dengan berbagai alasan lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian Fathoni (2008) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberlanjutan pendidikan atau mempengaruhi tingkat pendidikan. Dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa beberapa faktoryang mempengaruhi tingkat pendidikan. Faktor-faktor tersebut terbagi menjadi dua bagian yaitu faktor internal (keluarga dan orang tua) dan faktor eksternal (lingkungan serta sarana informasi). Faktor internal terdiri dari beberapa hal yaitu umur kepala keluarga, tingkat pendidikan kepala keluarga, besar keluarga (besar tanggungan), total pendapatan keluarga, total pengeluaran keluarga, persepsi tentang arti penting sekolah, persepsi tentang biaya pendidikan, dan status usaha kepala keluarga. Faktor eksternal terdiri dari kebijakan pemerintah, informasi terhadap pendidikan, sarana pendidikan, serta jarak sarana pendidikan.

Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Suryani (2004) yang menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan adalah sebagai berikut:5

1. Faktor Internal

Faktor internal yang diduga berpengaruh terhadap tingkat pendidikan anak dalam penelitian ini adalah karakteristik personal kepala keluarga dan persepsi keluarga nelayan

4 Nina Siti Salmaniah Siregar, 2016, dalam jurnal ilmu pemerintahan dan social politik UMA. Hal 2 5 Abd. Rasyid, dalam

(5)

terhadap pendidikan. Karakteristik persona lkepala keluarga yang diukur antara lain tingkat pendidikan kepala keluarga, umur kepala keluarga, besarnya pendapatan keluarga, jumlah tanggungan, nilai anak dalam keluarga, dan status sosial dalam pekerjaan.

a. Pendapatan Keluarga

Kondisi ekonomi keluarga dapat diukur dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Salah satu indikator tingkat kesejahteraan keluarga adalah tingkat pendapatan keluarga. Pendapatan nelayan dapat diperoleh dari usaha perikanan (usaha penangkapan dan non-penangkapan) maupun dari usaha non perikanan yang dilakukan oleh nelayan. Di satu sisi pendidikan formal diperlukan oleh masyarakat nelayan, namun di sisi lain pendidikan formal memerlukan biaya yang tidak sedikit. Biaya yang tinggi menjadi salah satu faktor penghambat bagi para nelayan dengan status sebagai masyarakat miskin yang memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya akibat dari ketidakpastian berusaha. Kemiskinan yang melekat erat pada nelayan mengakibatkan mereka tidak mampu memberikanpendidikan yang cukup bagi anak-anaknya terutama pendidikan formal (Erizal diacu dalam Suryani 2004).

b. Persepsi Terhadap Pendidikan Formal

Persepsi merupakan proses pencarian informasi untuk dipahami melalui alat penginderaan (penglihatan, pendengaran, peraba, dan sebagainya) dan alat untuk memahaminya adalah kognisi atau kesadaran (Sarwono 1999 diacu dalam Suryani (2004)). Setiap lingkungan sosial budaya yang berbeda dan reaksi yang berbeda akan menghasilkan persepsi yang berbeda pula (Markovsky diacu dalam Suryani (2004)). Para orang tua nelayan kurang memperhatikan pendidikan formal anaknya dengan baik, dapat membaca dan menulis adalah tujuan utama untuk menyekolahkan anak. Motivasi orang tua untuk menyekolahkan anak akan sangat tergantung pada bagaimana penilaian orang tua terhadap tujuan dan system pendidikan formal.

2. Faktor Eksternal

Faktor ekternal yang berpengaruh terhadap tingkat pendidikan anak antara lain jarak tempat tinggal dengan sarana pendidikan, jumlah jam kerja, keterdedahan informasi, dan relevansi kurilukum dengan kebutuhan lingkungan.

(6)

Menurut Heryanto (1998) jarak tempat tinggal ke sarana pendidikan dan pusat informasi pendidikan penting dijadikan pertimbagn untuk menyekolahkan anak, karena terkait dengan transportasi, biaya dan waktu pengawasan kemajuan prestasi anak.

b. Keterdedahan Informasi

Berdasarkan hasil penelitian Suryani (2004) pemanfaatan media menjadi hal yang penting dalam hal penunjang pendidikan dan semakin banyak informasi yang diterima oleh nelayan maka persepsi masyarakat terhadap pendidikan formal akan semakin tinggi.

c. Jumlah Jam Kerja Anak

Jumlah jam kerja anak adalah banyaknya waktu yang dipergunakan anak untuk membantu usaha orang tua dianggap berpengaruh terhadap tingkat pendidikan anak karena bersadarkan beberapa sumber menyebutkan bahwa banyak anak nelayan usia sekolah yang sudah terjun untuk membantu usaha orang tuanya untuk menambah pendapatan keluarga. Hasil penelitian Sumarsono di Jawa Timur diacu dalam Suryani (2004) menyebutkan bahwa anak merupakan faktor produksi yang dapat membantu penghasilan keluarga karena mampu memperoleh penghasilannya sendiri. Fenomena keseharian masyarakat nelayan yaitu baik anak lelaki maupun anak perempuan secara lebih dini terlibat dalam proses pekerjaan nelayan dari mulai persiapan orang tua merekauntuk ke laut sampai dengan menjual hasil tangkapan. Hal ini tentunya berimplikasi kepada kelangsungan pendidikan anak-anak nelayan.

D. PENUTUP

(7)

E. DAFTAR PUSTAKA

Salmaniah NS. Kesadaran Masyarakat Nelayan Terhadap Pendidikan Anak. Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA 4 (1). 2016. Hal 2-3

Rini YS. Pendidikan: Hakekat, Tujuan, dan Proses. Hal 2

Sumodiningrat G. pemberdayaan Sosial. Jakarta. Kompas. 2007. Hal 3-4 Rasyid A. URL:

http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/4626/skripsiabd.rasyid.pdf?sequenc

Referensi

Dokumen terkait

Faktor-faktor eksternal pembentuk sikap terhadap pendidikan karakter adalah Informasi yang diterima dari media massa maupun orang lain, pengaruh orang yang dianggap

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa tingkat kepedulian nelayan jaring di Ambon terhadap pendidikan sangat tinggi. Hal ini didukung dengan pernyataan mereka

Nelayan Desa Jaring Halus masih banyak yang mengalami kesulitan dalam.. peralatan dan perlengkapan melaut, hal ini berdampak terhadap nelayan

Sejalan dengan itu, dalam hal tingkat pendidikan khususnya bagi nelayan tradisional, untuk bekal kerja mencari ikan dilaut, latar belakang seorang nelayan memang tidak penting

Semakin banyak paparan media sosial pornografi yang diterima, semakin tinggi perilaku seksualnya (Ruspawan, 2014), hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan

Salah satu strategi yang penting dan semakin banyak digunakan adalah dengan pemanfaatan sistem informasi yang akan mendukung pencapaian visi, misi, tujuan serta

Internet sebagai Media Pengajaran Pemanfaatan internet dalam dunia pengajaran akan membantu dunia pengajaran meningkatkan kuantitas peserta didik.. Akan semakin

Semakin banyak paparan media sosial pornografi yang diterima, semakin tinggi perilaku seksualnya (Ruspawan, 2014), hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan