1
PEMERINTAH DAERAH
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
RENCANA STRATEGIS
(RENSTRA)
TAHUN 2012 - 2017
DINAS PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
2 Kata Pengantar
Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas Rahmat-Nya sehingga Renstra DPPKA DIY Periode 2012-2017 dapat tersusun, sesuai dengan waktunya.
Renstra ini disusun untuk menentukan arah, tujuan dan masa depan yang hendak dicapai sesuai tugas pokok dan fungsi serta visi dan misi DPPKA DIY yang memfokuskan pada optimalisasi kinerja Dinas Pendapatan
Pengelolaan Keuangan dan Aset menuju good governance.
Secara konsisten diharapkan pelaksanaan pemerintahan lebih berhasil guna, dan berdaya guna, bersih dan bertanggungjawab, sejalan dengan tujuan yang hendak dicapai dan sebagai bentuk upaya tranparasi terhadap pelayanan publik.
Rencana Strategis bertujuan untuk menterjemahkan visi dan misi kepala daerah ke dalam tujuan dan sasaran yang akan dicapai selama tahun 2012-2017, yang disertai dengan program prioritas Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun pedoman yang dipakai adalah RPJMD DIY Tahun 2012-2017. Renstra ini berisi perumusan strategi dan kebijakan untuk mencapai tujuan dan sasaran strategis dalam bentuk program dan kegiatan beserta kerangka pendanaannya selama tahun 2012- 2017.
Renstra ini terdiri dari Pendahuluan, Gambaran Pelayanan, Isu - Isu Strategis, Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, Strategi dan Kebijakan, Rencana Program dan
Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok Sasaran dan
Pendanaan Indikatif. Dengan disusunnya Renstra ini dapat
digunakan sebagai acuan bagi peningkatan kualitas
kinerja, mengantisipasi permasalahan dan hambatan serta mencari solusi terbaik guna menjawab dinamika dan perkembangan keuangan baik target dan realisasinya.
Akhirnya semoga Renstra ini dapat bermanfaat
sebagai pijakan dalam pelaksanaan tugas membangun daerah yang lebih maju.
Yogyakarta, Juni 2013 Kepala,
3
DAFTAR ISI
Halaman judul... i
Kata Pengantar... ii
Daftar Isi ...iii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG...1
1.2 LANDASAN HUKUM ...4
1.3 MAKSUD DAN TUJUAN...6
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN...6
BAB II GAMBARAN PELAYANAN DINAS PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET 2.1 TUGAS,FUNGSI & STRUKTUR ORGANISASI SKPD...7
2.2 SUMBER DAYA ...11
2.3 KINERJA PELAYANAN SKPD...14
2.4 TANTANGAN DAN PELUANG PENGEMBANGAN PELAYANAN SKPD ... 22
BAB III ISU - ISU STRATEGIS 3.1 INDEKTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI PELAYANAN SKPD ...24
3.2 TELAAH VISI, MISI DAN PROGRAM KEPALA DAERAH TAHUN 2012-2017...41
3.3 TELAAH RENSTRA KEMENTRIAN/LEMBAGA DAN RENSTRA SKPD TERKAIT ...43
3.4 TELAAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH DAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS...43
3.5 PENENTUAN ISU - ISU STRATEGIS...44
BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1 VISI DAN VISI SKPD...45
4.2 TUJUAN DAN SASARAN JANGKA MENENGAH SKPD ..47
4.3 STRATEGI DAN KEBIJAKAN SKPD ...50
BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF...64
BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD ...80
LAMPIRAN
4 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang
Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta telah
ditetapkan, maka status Keistimewaan Yogyakarta
diakui secara lebih jelas, lebih formal, dan lebih utuh. Berdasarkan Undang undang Nomor 13 Tahun 2012 Pasal 7 ayat 2 , DIY memiliki kewenangan dalam urusan Keistimewaan yang mencakup: (a) tatacara pengisian jabatan, kedudukan, tugas, dan kewenangan Gubernur dan Wakil Gubernur, (b) kelembagaan Pemerintah Daerah DIY, (c) kebudayaan, (d) pertanahan, dan (e) tata ruang.
Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan kepada daerah untuk menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dokumen RPJMD merupakan penjabaran visi, misi, dan program kepala daerah yang berpedoman kepada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) serta memperhatikan RPJM Nasional.
Berdasarkan hal tersebut maka Pemerintah
Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta bersama para
5
yang memuat strategi, arah kebijakan, dan program pembangunan daerah berdasarkan kondisi dan potensi daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan semangat keistimewaan di dalamnya.
Mengacu pada Dokumen Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah Tahun 2012-2017, Satuan Kerja
Perangkat Daerah Dinas Pendapatan, Pengelolaan
Keuangan dan Aset Daerah Istimewa Yogyakarta menyusun Rencana Strategis Tahun 2012-2017.
Renstra Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan
dan Aset merupakan dokumen perencanaan yang
menggambarkan arah dan pengembangan unit kerja dan program pelayanan publik yang bersifat strategis
dalam jangkauan perubahan kedepan dalam suatu
kerangka kerja pembangunan komprehensif dan
sistematis untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh masyarakat.
Adapun fungsi dari Rencana Strategis ini adalah untuk mengklarifikasikan secara eksplisit visi dan misi Kepala Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD), kemudian menterjemahkan
secara strategis sistematis dan terpadu kedalam tujuan, strategi, kebijakan dan program prioritas Satuan Kerja Perangkat Daerah serta tolok ukur pencapaiannya.
6 FAKTOR EKSTERNAL
RPJMD DIY Tahun 2012-2017
Visi :“Daerah Istimewa Yogyakarta Yang Lebih Berkarakter, Berbudaya, Maju, Mandiri dan Sejahtera
Menyongsong Peradaban Baru”
Misi: 1. Membangun peradaban berbasis nilai-nilai kemanusiaan
2. Menguatkan perekonomian daerah yang didukung dengan semangat kerakyatan, inovatifdan kreatif 3. Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik
4. Memantapkan prasarana dan sarana daerah
Alur Pikir Renstra Gambar G.1.C.1
RPJPD DIY
VISI :“Daerah Istimewa Yogyakarta pada Tahun 2025 sebagai Pusat Pendidikan, Budaya dan Daerah Tujuan Wisata Terkemuka di Asia Tenggara dalam lingkungan Masyarakat yang Maju, Mandiri dan Sejahtera”
MISI : Untuk mewujudkan visi tersebut, maka ditempuh melalui empat misi pembangunan daerah sebagai berikut:
1. Mewujudkan pendidikan berkualitas, berdaya saing, dan akuntabel yang didukung oleh sumber daya pendidikan yang handal.
2. Mewujudkan budaya adiluhung yang didukung dengan konsep, pengetahuan budaya, pelestarian dan pengembangan hasil budaya, serta nilai-nilai budaya secara berkesinambungan.
3. Mewujudkan kepariwisataan yang kreatif dan inovatif.
4. Mewujudkan sosiokultural dan sosioekonomi yang inovatif, berbasis pada kearifan budaya lokal, ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemajuan, kemandirian, dan kesejahteraan rakyat.
1. Perkembangan perekonomian global; 2. Perkembangan Teknologi Informasi; 3. Peraturan tentang Pengelolaan Keuangan
sering berubah ;
4. Kesadaran dan kondisi pada Wajib Pajak.
DPPKA DIY VISI :
TERWUJUDNYA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET TERBAIK SE INDONESIA
MISI :
1. Mengoptimalkan peningkatan pengelolaan pendapatan daerah
2. Mengembangkan kapasitas pengelolaan Keuangan Daerah
3. Meningkatkan dan memperbaiki kinerja BUMD
4. Mengoptimalkam pengelolaan aset daerah 5. Meningkatkan kualitas pelayanan publik 6. Meningkatkan profesionalisme SDM
1. Potensi pendapatan pajak, retribusi, lain2 PAD yang sah
2. Kapasitas pengelolaan keuangan dan aset 3. Kinerja BUMD
4. Optimalisasi aset 5. Pelayanan publik 6. Kompetensi SDM
7 1.2 LANDASAN HUKUM
1. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang
Pembentukan Daerah Istimewa Jogjakarta (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 3)
sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1955 tentang
Perubahan Undang-Undang Nomor 3 jo. Nomor 19 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Jogjakarta (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1955 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 827);Perubahan Undang-Undang Nomor 3 jo. Nomor 19 Tahun 1950 tentang
Pembentukan Daerah Istimewa Jogjakarta
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1955 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 827);
2. Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara;
3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Keuangan Negara;
4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN)
5. Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah;
6. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025;
7. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang
Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta
8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang
Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah
10. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5
Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.
11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
8
12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun
2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara
Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi
Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
13. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta Nomor 5 Tahun2005 tentang Tata Cara
Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah dan
Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan
Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta Tahun 2005 Nomor 3 Seri E),
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Daerah Provinsi DaerahIstimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan
Daerah Provinsi Daerah Istimewa I – 6
Yogyakarta Nomor 5 Tahun2005 tentang Tata Cara
Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah dan
Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan
Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta Tahun 2009 Nomor 3);
14. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2007 Nomor 4) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Daerah Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta Nomor 11 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 4 Tahun2007 tentang
Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah
(Lembaran Daerah Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta Tahun 2008 Nomor 11);
15. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Lembaran Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2007 Nomor 7);
16. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa
9
17. Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta
Nomor 6 Tahun 2013 tanggal 30 April 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) Tahun 2012 – 2017 Daerah
Istimewa Yogyakarta.
1.3 MAKSUD DAN TUJUAN
1.3.1 Maksud
Rencana Strategis Dinas Pendapatan,
Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Istimewa
Yogyakarta Tahun 2012-2017 adalah dokumen
perencanaan SKPD untuk periode lima tahun kedepan memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan dan sasaran bagi pelaksanaan program dan kegiatan Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2012-2017, yang
harus dilaksanakan secara terpadu, sinergis,
harmonis dan berkesinambungan.
1.3.2 Tujuan
Rencana Strategis DPPKA Daerah Istimewa
Yogyakarta Tahun 2012-2017 disusun dengan tujuan sebagai berikut:
a.Menterjemahkan visi dan misi kepala daerah ke
dalam tujuan dan sasaran yang akan dicapai selama tahun 2012-2017, yang disertai dengan program prioritas Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Istimewa Yogyakarta dengan berpedoman pada RPJMD 2012-2017;
b.Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan
sasaran strategis dalam bentuk program dan kegiatan beserta kerangka pendanaannya selama tahun 2012- 2017.
c.Membantu dalam melakukan evaluasi kinerja Dinas
Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset
10 1.4 SISTEMATIKA PENULISAN
Bab I PENDAHULUAN
Bab II GAMBARAN PELAYANAN DINAS PENDAPATAN,
PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET
BAB III ISU – ISU STRATEGIS
BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI
DAN KEBIJAKAN
BAB V RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR
KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF
11 BAB II
GAMBARAN PELAYANAN
DINAS PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET
2.1 TUGAS, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI SKPD
2.1.1 Tugas dan Fungsi
Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan
Aset Daerah Istimewa Yogyakarta dibentuk
berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2008 tanggal 12 Desember 2008 tentang Pembentukan dan Organisasi Lembaga Teknis Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan
Aset sebelumnya adalah gabungan dari Bagian
Perlengkapan Biro Umum dan Badan Pengelola Keuangan
Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Berdasarkan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 42 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset dan Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Dinas
Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset mempunyai
tugas : melaksanakan pengelolaan anggaran
pendapatan, anggaran belanja, kas daerah, pembinaan administrasi keuangan daerah serta menyiapkan bahan perumusan kebijakan, akuntansi dan pengelolaan barang daerah.
12
1. Penyusunan program dibidang pengelolaan
anggaran pendapatan, anggaran belanja, kas daerah, pembinaan administrasi keuangan daerah, akuntansi dan pengelolaan barang daerah;
2. Perumusan kebijakan teknis di bidang
pengelolaan anggaran pendapatan, anggaran
belanja, kas daerah, pembinaan administrasi keuangan daerah, akuntansi dan pengelolaan barang daerah;
3. Penyelenggaraan pengelolaan pendapatan daerah;
4. Penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah;
5. Pengelolaan kas daerah;
6. Pelaksanaan pembinaan administrasi keuangan
daerah;
7. Penyelenggaran akuntansi dan pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD;
8. Penyelenggaraan pengelolaan barang daerah;
9. Pelaksanaan kegiatan ketatausahaan;
10. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan program
dinas.
11. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh
Gubernur sesuai dengan fungsi dan tugasnya;
2.1.2 STRUKTUR ORGANISASI
Struktur Organisasi Dinas Pendapatan,
Pengelolaan Keuangan dan Aset terdiri dari
1. Kepala Dinas;
2. Sekretariat Dinas;
3. Bidang Anggaran Pendapatan;
4. Bidang Anggaran Belanja;
13
6. Bidang Bina Administrasi Keuangan Daerah;
7. Bidang Akuntansi;
8. Bidang Pengelolaan Barang Daerah;
9. Unit Pelaksana Teknis Dinas;
10. Kelompok Jabatan Fungsional.
Dengan cakupan wilayah operasional seluas
3.185,80 km² yang terbagi dalam 4 kabupaten dan 1 kota, 78 kecamatan, serta 438 desa dan kelurahan, Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki 5 Unit
Pelaksana Teknis Dinas (UPTD), 2 Samsat Pembantu, yang mempunyai tugas sebagai pelaksana operasional pemungutan pajak daerah, retribusi dan pendapatan lain-lain.
Adapun Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
yang dimiliki Dinas Pendapatan, Pengelolaan
Keuangan dan Aset adalah sebagai berikut :
1. Kantor Pelayanan Pajak Daerah DIY di Kota
Yogyakarta;
2. Kantor Pelayanan Pajak Daerah DIY di Kabupaten
Bantul;
3. Kantor Pelayanan Pajak Daerah DIY di Kabupaten
Kulonprogo;
4. Kantor Pelayanan Pajak Daerah DIY di Kabupaten
Gunungkidul;
5. Kantor Pelayanan Pajak Daerah DIY di Kabupaten
Sleman.
Adapun struktur organisasi Dinas Pendapatan,
14
KEPALA DINAS
KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL DINAS PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN
DAN ASET
PENDAPATAN BIDANG
AKUNTANSI
SEKSI PAJAK DAERAH SEKSI RETRIBUSI
DAN
BARANG DAERAH SEKSI
PERATURAN DAERAH DIY NOMOR: 06 Tahun 2008 TANGGAl: 15 Agustus 2008
Gambar G.II.C.2
Struktur Organisasi DPPKA DIY
Gambar G.II.C.3
Struktur Organisas KPPD Kabupaten/ Kota
15 2.2. SUMBER DAYA
2.2.1 Sumber Daya Manusia (SDM)
Adapun Sumberdaya Manusia Dinas Pendapatan,
Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Istimewa Yogyakarta per Maret 2013 sebanyak 261 orang dengan perincian sebagai berikut :
1.1 Jumlah pegawai PNS berdasarkan Jenis Kelamin
1.1.1 Laki-laki : 171 orang
1.1.2 Perempuan : 90 orang
1.2 Jumlah pegawai berdasarkan Jenjang Pendidikan
1.2.1 Sarjana Strata 2 : 21 orang
1.2.2 Sarjana Strata 1 :104 orang
1.2.3 Sarjana Muda/Diploma: 15 orang
1.2.4 Sekolah Lanjutan Atas :106 orang
1.2.5 Sekolah Lanjutan Pertama : 10 orang
1.2.6 Sekolah Dasar : 5 orang
1.3 Jumlah pegawai berdasarkan Golongan
1.3.1 Golongan IV/c : 1 orang
1.3.2 Golongan IV/b : 7 orang
1.3.3 Golongan IV/a : 9 orang
1.3.4 Golongan III/d : 45 orang
1.3.5 Golongan III/c : 29 orang
1.3.6 Golongan III/b : 88 orang
1.3.7 Golongan III/a : 40 orang
1.3.8 Golongan II/d : 13 orang
1.3.9 Golongan II/c : 2 orang
1.3.10 Golongan II/b : 12 orang
1.3.11 Golongan II/a : 3 orang
1.3.12 Golongan I/d : 4 orang
1.3.13 Golongan I/c : 3 orang
1.3.14 Golongan I/b : 2 orang
1.3.15 Golongan I/a : 3 orang
1.4 Jumlah pegawai per bidang/sekretariat
1.4.1 Sekretariat : 30 orang
16
1.4.4 Bidang Akuntansi : 18 orang
1.4.5 Bidang Pengelolaan Kasda : 20 orang
1.4.6 Bidang BAKD : 15 orang
1.4.7 Bidang Pengelolaan Aset : 20 orang
1.5 Jumlah pegawai Per KPPD
1.5.1 KPPD Kota Yogyakarta : 27 orang
1.5.2 KPPD Bantul : 25 orang
1.5.3 KPPD Kulonprogo : 18 orang
1.5.4 KPPD Gunungkidul : 18 orang
1.5.5 KPPD Sleman : 33 orang
Tabel T.II.C.1
Rekapitulasi Jumlah Pegawai DPPKA Daerah Istimewa Yogyakarta
Per 31 Maret 2013
GOL LAKI-LAKI
JML
PEREMPUAN
JML JML.TOTAL S2 S1 D3/SM SLTA SLTP SD S2 S1 D3/SM SLTA SLTP SD
IV/e 0 0 0 IV/d 0 0 0 IV/c 1 1 0 1 IV/b 2 4 6 1 1 7 IV/a 6 2 8 1 1 9
JML.GOLIV 8 7 0 0 0 0 15 1 1 0 0 0 0 2 17
III/d 3 24 27 4 14 18 45 III/c 2 12 6 20 5 3 1 9 29 III/b 11 42 53 3 6 2 24 35 88 III/a 11 1 8 20 13 3 4 20 40
JML.GOL.III 5 58 7 50 120 7 38 8 29 0 0 82 202
II/d 8 8 5 5 13 II/c 1 1 2 0 2 II/b 12 12 0 12 II/a 1 2 3 0 3
JML.GOL.II 0 0 0 21 2 2 25 0 0 0 5 0 0 5 30
I/d 4 4 0 4 I/c 3 3 0 3 I/b 2 2 0 2 I/a 2 2 1 1 3
JML.GOL.I 0 0 0 0 9 2 11 0 0 0 0 0 1 1 12
JML.TOTAL 13 65 7 71 11 4 171 8 39 8 34 0 1 90 261
17 2.2.2 SARANA DAN PRASARANA
Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset menempati Kantor di Unit III dan IV Komplek
Kepatihan serta Jalan Tentara Pelajar 15
Yogyakarta.
Unit III digunakan untuk ruang kerja Sekretariat di Lantai 1, bidang Bina Administrasi Keuangan Daerah lantai 2, Bidang Akuntansi di Lantai 3.
Untuk Unit IV ditempati oleh bidang Anggaran Belanja untuk Lantai 1, Unit IV lantai 2 ditempati bidang Pengelolaan Kas Daerah, Lantai 3 ditempati bidang Pengelolaan Barang Daerah.
Bidang Anggaran Pendapatan menempati Kantor di Jalan Tentara Pelajar No.5 Yogyakarta.
Tabel T.II.C.2 Sarana dan Prasarana
LOKASI LANTAI BIDANG/SEKSI
1 2 3
Jl. Tentara
Pelajar Yka
I Aula Bidang Pendapatan
II Bidang Anggaran Pendapatan : - Kepala Bidang
- Seksi Pajak Daerah - Seksi Retribusi dan PLL - Seksi Dana Perimbangan
Unit III I Sekretariat :
- Kepala Dinas - Sekretaris - Subbag Umum - Subbag Program - Subbag Data dan TI
II Bidang BAKD : - Kepala Bidang
- Seksi APBD & Perhitungan Kab/Kota
- Seksi Bina Pengelolaan Keuangan
18 LOKASI LANTAI BIDANG/SEKSI
1 2 3
III Bidang Akuntansi - Kepala Bidang - Seksi pemerintahan - Seksi Perekonomian - Seksi Kesra
- Seksi Fisik dan Sarpras
Unit IV I Bidang Anggaran Belanja
- Kepala Bidang - Seksi pemerintahan - Seksi Perekonomian - Seksi Kesra
- Seksi Fisik dan Sarpras II Bidang Pengelolaan Kas Daerah
- Kepala Bidang - Seksi pemerintahan - Seksi Perekonomian - Seksi Kesra
- Seksi Fisik dan Sarpras
III Bidang Pengelolaan Barang Daerah - Seksi Administrasi Barang
Daerah
- Seksi Pendayagunaan Barang Daerah
- Seksi Monitoring dan Evaluasi
Jalan Tentara Pelajar 15 Yka
- KPPD DIY di Kota Yogyakarta
Jalan Badegan Bantul
- KPPD DIY di Bantul
Jalan Bayangkara, Terbah, Wates Kulonprogo
- KPPD DIY di Kulonprogo
Jalan Ki Hajar Dewantoro,
Wonosari, Gunungkidul
- KPPD DIY di Gunungkidul
Jl. Magelang KM.
13 Krapyak
Triharjo Sleman
- KPPD DIY di Sleman
Sumber : DPKA 2012
Pengembangan dan peningkatan sarana dan
prasarana Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Istimewa Yogyakarta terus dilakukan untuk mendukung kelancaran dan optimalnya pelayanan dalam satu atap .
19
Selain itu juga dibuka dan beroperasi Samsat Payment Point pada 6 lokasi yaitu Kantor Kas Bank BPD Giwangan, Kantor Cabang Pembantu Bank BPD
Piyungan, Nanggulan, Karangmojo, Kalasan dan
Godean. Samsat Corner di Plza Mall Ambarukmo, Samsat Drive Thru di Sewon.
Dalam rangka mendukung kelancaran tugas dan
operasional pelayanan untuk 6 bidang dan
Sekretariat maupun 5 KPPD, telah dilengkapi
peralatan dan perlengkapan kerja terdiri dari : kendaraan roda 6 untuk Bus Satling sebanyak 1 unit, kendaraan roda 4 berbagai merk 27 unit, kendaraan roda 2 berbagai merk sebanyak 30 unit, komputer PC berbagai merk dan type sebanyak 227 buah, Note Book / Laptop sebanyak 83 buah, UPS berbagai type sebanyak 99 buah, Server sebanyak 45 unit, printer berbagai merk sebanyak 310 unit, Scanner sebanyak 8
unit, Dump Terminal sebanyak 14 unit, Air
Conditioning sebanyak 165 buah, pesawat telepon sebanyak 39 unit, LCD OHP sebanyak 11 unit, LCD Proyektor sebanyak 11 unit, LCD Monitor sebanyak 26 unit, mesin ketik manual sebanyak 67 buah, Televisi sebanyak 28 unit, Lemari es sebanyak 5 unit,
Faximile sebanyak 11 unit, Monitor sebanyak 11
unit, CPU sebanyak 16 unit dan komputer untuk informasi layanan wajib pajak sebanyak 2 unit.
20 Tabel T.II.C.3
Barang yang tersedia
No Jenis Barang Jumlah
1 Bus Satling 1 unit
2 Kendaraan roda empat 27 unit
3 Kendaraan roda dua 30 unit
4 Komputer PC 227 buah
5 Note Book 83 buah
6 UPS 99 buah
7 Server 45 unit
8 Printer 310 unit
9 Scanner 8 unit
10 Dum Terminal 14 unit
11 Air Conditioning 165 buah
12 Pesawat Telepon 39 unit
13 LCD OHP 11 unit
14 LCD Viewer 11 unit
15 LCD Monitor 26 unit
16 Mesin ketik 67 buah
17 Televisi 28 unit
18 Lemari Es 5 unit
19 Faximile 11 unit
20 Monitor 11 unit
21 CPU 16 unit
22 Komputer informasi layanan 2 unit
Sumber : SIMA Tahun 2012
2.3 KINERJA PELAYANAN SKPD
2.3.1 Capaian Kinerja Pelayanan.
15
Tabel T.II.C.4
Review Pencapaian Kinerja Pelayanan SKPD DPPKA
Daerah Istimewa Yogyakarta
NO
Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***)
Target Renstra SKPD Tahun ke- Realisasi Capaian Tahun ke- Rasio Capaian pada Tahun ke-
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
2009 2010 2011 2012 2013 2009 2010 2011 2012 2013 2009 2010 2011 2012 2013
-1 -2 -6 -7 -8 -9 -11 -12 -13 -14 -16 -17 -18 -19
Indikator Kinerja Utama
1 Prosentase peningkatan pendapatan daerah 5,13 6,00 6,3 6,8 10,01 2,18 6,85 16,79 35.32 - 42,53 114.22 266.48 519.38 - 2 Prosentase Realisasi PAD terhadap target PAD 100 100 100 100 100 112.10 115.86 111.87 109,38 - 112.10 115.86 111.87 109 - 3
Prosentase kontribusi PAD terhadap pendapatan
daerah 48,86 48,86 48,86 44,87 41,88 50.16 53.86 54,03 46,23 - 103 110 110 103 - 4
Prosentase Realisasi Belanja terhadap Anggaran
Belanja Daerah 100 100 100 100 100 89.79 91.30 91.42 89,88 - 95 78,79 89,41 89.88 - 5 Jumlah Peraturan tentang APBD yang ditetapkan 6 6 6 6 6 6 6 6 6 - 100 100 100 100 - 6 Keberadaan laporan keuangan pemerintah daerah 2 2 2 2 2 2 2 2 2 - 100 100 100 100 - 7 Jumlah barang milik daerah yang dapat diinventarisasi n/a n/a 694.544 902.461 959.371 n/a n/a 903.180 940.401 - n/a n/a 130 104 - 8 Jumlah aset tanah Pemda yang dapat disertifikatkan n/a n/a 25 25 20 n/a na 19 22 - n/a n/a 76 90 - 9 Persentase Aset Pemda yang dapat dioptimalkan n/a 42 42 10 10 n/a 42 42 11,29 - n/a 100 100 113 - 10
Rasio Pendapatan BUMD dan LKM terhadap penyertaan
modal BUMD dan LKM n/a n/a n/a 8 5,17 n/a n/a n/a 15,72 - n/a n/a n/a 197 - 11 Rasio PNS yang menguasai operasional SIPKD n/a n/a 4,33 5,97 100 n/a n/a 4,33 5,97 - n/a n/a 100% 100% -
Sumber : DPPKA, data diolah Keterangan :
16
Sesuai tabel T.II.C.4 tentang Review Pencapaian Kinerja Pelayanan DPPKA DIY untuk periode 2009-2013 ditinjau sasaran strategis, rasio capaian prosentase peningkatan pendapatan rata-rata 235%, akan tetapi pada tahun 2009 hanya mencapai 42,53% dari target Renstra karena prediksi pendapatan di Renstra targetnya terlalu tinggi sehingga realisasinya belum tercapai. Untuk tahun
2010 s/d 2012 capaiannya terus meningkat sesuai
realisasi capaian APBD-nya.
Untuk prosentase realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap pendapatan daerah, rasio capaian rata-rata sebesar 112,30% dan setiap tahun realisasinya melebihi yang ditargetkan baik dari target Renstra maupun target APBD.
Capaian kinerja prosentase kontribusi PAD terhadap pendapatan daerah, rasio capaian rata-rata 106,63% dan setiap tahun realisasinya melebihi yang ditargetkan baik Renstra maupun APBD.
Capaian kinerja prosentase realisasi belanja
terhadap anggaran belanja, rasio capaian rata-rata 90,59% dan dari tahun 2009 s/d 2012 kurang dari 100% karena adanya efisiensi anggaran dan adanya kegiatan yang belum selesai 100%.
Jumlah peraturan tentang APBD yang ditetapkan dan keberadaan laporan keuangan daerah rasio capaian kinerja sesuai yang ditargetkan di Renstra dan APBD.
Capaian kinerja jumlah barang milik daerah yang dapat diinventarisasi ditargetkan di Renstra mulai tahun 2011, rasio capaian rata-rata 117%.
Jumlah aset tanah pemda yang dapat disertifikatkan , di targetkan di IKU mulai tahun 2011, rasio capaian rata-rata 83%, di tahun 2011 capaian 76% dan tahun 2012 capaiannya 90%.
Untuk Aset Pemda yang dapat dioptimalkan rasio capaian rata-ratanya 104,33% dan setiap tahunnya dari
tahun 2010 s/d 2012 realisasinya melebihi yang
17
18
Tabel T.II.C.5
Anggaran dan realisasi Pendanaan Pelayanan SKPD DPPKA Daerah Istimewa Yogyakarta
Uraian
Anggaran pada tahun ke Realisasi Anggaran pada tahun ke Rasio antara Realisasi dan Anggaran tahun ke Rata -rata Pertumbuhan
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
2009 2010 2011 2012 2013 2009 2010 2011 2012 2013 2009 2010 2011 2012 2013 Anggaran Realisasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
Pendapatan 1,213,220,909,412 1,275,220,502,557 1,504,464,260,295 2,078,185,750,549 2.286.855.095.445 1,286,067,485,169 1,374,205,096,491 1,604,910,831,406 2,171,734,307,663 - 106 108 107 105 - 216,241,210,284 221,416,705,624
Pendapatan Asli Daerah
575,516,509,511
638,881,411,884 775,117,447,989
917,957,788,795 1.014.089.544.450
- Hasil Retribusi Daerah
- Hasil Pengelolan Kekayaan Daerah yang
dipisahkan
- Dana Alokasi Khusus
8,391,971,000 14,179,886,500
- Pendapatan hibah
- Dana bagi hasil pajak dari Provinsi dan
pemerintah lain
0
Dana Penyesuaian dan otonomi khusus
19 Uraian
Anggaran pada tahun ke Realisasi Anggaran pada tahun ke Rasio antara Realisasi dan Anggaran tahun ke Rata -rata Pertumbuhan
2,285,140,075,735 2.454.919.429.465
Belanja Tidak langsung
- Belanja Pegawai
- Belanja Subsidi
- Belanja Hibah
- Belanja bentuan Sosial
24,153,330,000 15.955.857.100
(23,059,949,575) (18,034,292,596) - Belanja Bagi hasil kepada
Provinsi/Kab/Kota dan Pemdes
- Belanja Bantuan Keuangan
- Belanja Tidak Terduga
- Belanja Pegawai
- Belanja Barang dan Jasa
- Belanja Modal
Surplus / Defisit
20 Uraian
Anggaran pada tahun ke Realisasi Anggaran pada tahun ke Rasio antara Realisasi dan Anggaran tahun ke Rata -rata Pertumbuhan
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
2009 2010 2011 2012 2013 2009 2010 2011 2012 2013 2009 2010 2011 2012 2013 Anggaran Realisasi
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
PEMBIAYAAN
Penerimaan Pembiayaan
282,729,902,186 213.738.934.020
269,529,213,644 190.048.264.996
- Penerimaan kembali pemberian
pinjaman
- Penerimaan Piutang Daerah
- Penerimaan kembali Investasi Dana
bergulir
-
12,084,619,518 22.574.600.000
1,116,069,024 1.116.069.024
75,775,577,000 45.674.600.000
- Pembentukan dana cadangan
75,775,577,000 45.674.600.000
Pembayaran Pokok Utang
Pemberian Pinjaman Daerah
Pembayaran kewajiban tahun lalu yang
blm diselesaikan
SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN
TAHUN BERKENAAN -
21
Sesuai tabel T.II.C.5 capaian kinerja
untuk pendapatan untuk pelayanan SKPD
dalam kurun waktu 2009-2012 telah tercapai dengan rata-rata capaian 106,5% atau rata rata pertumbuhan target pendapatan Rp.
216.241.210.284,- dan rata-rata
pertumbuhan realisasi pendapatan adalah Rp. 221.416.705.624,-.
Meskipun rata-rata pertumbuhan naik namun sumber pendapatan dari retribusi mengalami
penurunan hal ini disebabkan karena
berdasarkan peraturan perundangan yang
baru khususnya UU.28/2009 banyak obyek retribusi yang tidak diperkenankan untuk dipungut, hal ini berdampak pada potensi retribusi menjadi berkurang.
Dana Alokasi Khusus juga mengalami
penurunan karena sesuai dengan peraturan pembagian DAK dari Pemerintah Pusat yang bersifat given.
Pendapatan Hibah juga mengalami penurunan karena komponen terbesar hibah sebelum tahun 2009 berasal dari dana bantuan bencana yang dikemudian hari komponen ini mengalami penurunan seiring jogja bangkit.
Sedang capaian kinerja untuk belanja daerah rata-rata realisasi belanja sampai dengan tahun 2012 adalah 90,25% dengan rata-rata pertumbuhan target belanja Rp. 201.657.144.331 dan rata-rata realisasi belanja Rp. 181.584.527.631,-.
Belanja daerah meskipun rata rata
pertumbuhannya mengalami pertumbuhan naik, namun belanja daerah dari belanja bunga mengalami penurunan karena sudah tidak
punya kewajiban untuk membayar hutang
sekaligus bunganya.
22
Belanja tak terduga juga mengalami
penurunan karena posting belanja tak
terduga sesuai dengan kebutuhan.
Untuk pembiayaan rasio antara realisasi dan anggaran adalah 100,75%, dengan
rata-rata pertumbuhan untuk penerimaan
pembiayaan minus Rp.2.493.812.916,-
, rata-rata realisasi penerimaan
pembiayaan Rp. 1.945.978.212,-.
Penurunan rata-rata pembiayaan dari
komponen SiLPA, hal ini dikarenakan daya serap kegiatan baik.
Penurunan rata-rata pembiayaan juga
berasal dari piutang daerah karena
kewajiban dari pihak lain sudah dipenuhi. Pembentukan dana cadangan juga mengalami penurunan karena Perda tentang Pembentukan Dana Cadangan telah dicabut.
Pembayaran Pokok hutang juga mengalami penurunan dikarenakan hutang Pemda DIY sudah lunas.
23 2.4 TANTANGAN DAN PELUANG PENGEMBANGAN PELAYANAN SKPD
Tantangan dan peluang pengembangan pelayanan Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset selama 5 tahun mendatang adalah sebagai berikut :
2.4.1 Tantangan
1. Kurang optimalnya sistem pengawasan
pendapatan, kesadaran masyarakat dalam
pemenuhan kewajiban relatif rendah
2. Identifikasi, mengkaji, monitoring potensi
sumber-sumber penerimaan asli daerah
3. Keterbatasan penyediaan dana untuk prioritas
pembangunan yang berkesinambungan
4. Belum optimalnya penyediaan instrument
penganggaran berbasis kinerja yang efektif efisien dan akuntabel
5. Akurasi data dan ketepatan waktu pencairan
anggaran kegiatan
6. Adanya tanah milik daerah namun bangunan
diatasnya terdapat rumah golongan III yang sudah beralih kepemilikannya
7. Masih adanya aset di SKPD yang belum
dioptimalkan
8. Adanya aset pusat yang pengelolaannya oleh
daerah, namun belum diserahkan.
9. Kelembagaan BUKP belum sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku
10. Optimalisasi koordinasi dengan kabupaten/kota.
11. Penerapan system akuntansi berbasis accrual
12. Pelaksanaan e-audit dalam pemeriksaan laporan
keuangan oleh BPK
13. Profesionalisme dan kompetensi SDM pengelola
keuangan dan aset
14. Pengintegrasian system aplikasi pengelolaan
keuangan dan aset.
15. Tuntutan transparansi informasi publik menuju
24 2.4.2 Peluang
1. Pajak Kendaraan Bermotor masih merupakan
sumber pendapatan yang mempunyai kontribusi terbesar dalam peningkatan PAD
2. Lokasi pelayanan pajak dan retribusi yang
strategis, on-line dan mudah diakses oleh
masyarakat
3. Potensi sumber-sumber pendapatan asli daerah
tersedia.
4. Sistem informasi pengelolaan keuangan lebih
memudahkan dan membantu dalam perencanaan
penganggaran, penatausahaan dan penyusunan
laporan keuangan yang efektif, efisien,
transparan dan akuntabel.
5. Pengembangan BUMD menjadi lokomotif
perekonomian di Daerah Istimewa Yogyakarta dan menjadi sumber pendapatan asli daerah.
6. Kualitas dan kapabilitas SDM pengelola
keuangan dan aset yang masih bisa
dikembangkan.
7. Adanya website sebagai media informasi publik
8. Pertumbuhan ekonomi berakibat bertambahnya
kendaraan baru
9. Rencana kenaikan harga BBM
10. Tarif pungutan dalam pengelolaan retribusi
daerah dapat disesuaikan dengan masyarakat di daerah
11. Koordinasi, klarifikasi dan inventarisasi
terhadap penggunaan Barang Milik Daerah
12. Badan Usaha Milik Daerah dapat dikembangkan
25 BAB III
ISU - ISU STRATEGIS
3.1 INDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI PELAYANAN SKPD
Dinas pendapatan, Pengelolaan keuangan dan Aset Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu instansi di Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan anggaran pendapatan, anggaran belanja, kas daerah, pembinaan
administrasi keuangan daerah, akuntansi dan
pengelolaan barang daerah.
3.1.1 Kondisi sekarang
26
Tabel T.III.C.6
TARGET APBD TAHUN 2008-2012 DAN REALISASI PENDAPATAN TAHUN 2008 - 2012
URAIAN
2008 2009 2010 2011 2012
TARGET
( RENSTRA) REALISASI
TARGET
( RENSTRA) REALISASI
TARGET
( RENSTRA) REALISASI
TARGET
( RENSTRA) REALISASI
TARGET
(RENSTRA) REALISASI
JUMLAH PENDAPATAN 1,161,986,630,223 1,258,609,946,407 1,221,594,240,781 1,286,067,485,169 1,294,889,895,228 1,374,205,096,491 1,376,467,958,628 1,609,761,447,240 1,470,067,779,814 2.171.734.307.663
PENDAPATAN ASLI DAERAH 547,887,175,315 632,872,311,654 596,850,801,653 645,145,551,076 632,661,849,752 740,202,076,369 672,519,546,287 871,963,501,186 718,250,875,434 1.004.063.125.812 Pajak Daerah 486,168,175,841 525,185,354,193 524,567,434,500 541,192,265,770 556,041,480,570 634,710,019,497 591,072,093,846 735,226,105,916 631,264,996,227 871.630.605.393
Retribusi Daerah 33,144,872,640 29,259,898,276 32,935,463,785 34,785,228,681 34,911,591,612 32,836,503,244 37,111,021,884 35,985,658,458 39,634,571,372 34.115.157.619
Hsl Pengelolaan Kekayaan 12,768,526,834 12,481,050,739 14,071,903,368 20,094,713,176 14,916,217,570 26,333,869,885 15,855,939,277 28,961,383,473 16,934,143,148 35.492.532.563
Daerah yang Dipisahkan
Lain - lain Pendapatan Asli 15,805,600,000 65,946,008,447 25,276,000,000 49,073,343,450 26,792,560,000 46,321,683,744 28,480,491,280 71,790,353,339 30,417,164,687 62.824.830.237
Daerah yang Sah
DANA PERIMBANGAN 590,574,676,643 601,802,167,488 618,381,981,128 631,011,121,384 655,484,899,996 626,677,339,122 696,780,448,696 722,339,653,054 744,161,519,207 894.544.324.851 Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil
Bukan Pajak 59,333,281,643 70,560,773,088 61,052,031,128 73,681,173,384 64,715,152,996 87,821,992,122 68,792,207,635 82,037,725,054 73,470,077,754 118.434.888.851
Dana Alokasi Umum 511,773,395,000 511,773,394,400 523,919,950,000 523,919,948,000 555,355,147,000 527,471,247,000 590,342,521,261 620,812,328,000 630,485,812,707 757.056.696.000
Dana Alokasi Khusus 19,468,000,000 19,468,000,000 33,410,000,000 33,410,000,000 35,414,600,000 11,384,100,000 37,645,719,800 19,489,600,000 40,205,628,746 19.052.740.000
LAIN - LAIN PENDAPATAN 23,524,778,265 23,935,467,265 6,361,458,000 9,910,812,710 6,743,145,480 7,325,681,000 7,167,963,645 15,458,293,000 7,655,385,173 266.557.880.000
DAERAH YANG SAH
27
Belanja Daerah Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta bersumber dari Anggaran Pemerintah Daerah DIY dan Dana Perimbangan dari Pemerintah Pusat.
Dalam periode Tahun 2009 – 2012 terdapat
beberapa kebijakan penting yang diambil dalam
penganggaran Pemerintah Daerah; Pertama
Pengelolaan belanja sejak proses perencanaan,
pelaksanaan hingga pertanggungjawaban harus
memperhatikan aspek efektifitas, efisiensi,
transparansi dan akuntabilitas. Kedua Belanja
harus diarahkan untuk mendukung kebijakan yang
telah ditetapkan dengan memperhatikan
perbandingan antara masukan dan keluaran
(efisiensi). Ketiga Keluaran dari belanja
dimaksud seharusnya dapat dinikmati hasilnya
oleh masyarakat (efektifitas). Keempat alokasi
anggaran perlu dilaksanakan secara terbuka
berdasarkan skala prioritas dan kebutuhan
(transparansi). Kelima pengelolaan belanja
harus diadministrasikan dan dipertanggung
jawabkan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku (akuntabilitas)
Penyerapan belanja Pemerintah Daerah
Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009 – 2012
secara rata-rata mencapai 90,59%, yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
TABEL T.III.C.7
Penyerapan Belanja Daerah 2009-2012
TAHUN ANGGARAN REALISASI PENYERAPAN
2009 1.478.511.498.412 1.327.487.848.943 89,79%
2010 1.483.751.313.695 1.354.594.058.106 91,30%
2011 1.708.874.569.772 1.562.268.734.645 91,42%
2012 2.285.140.075.735 2.053.825.959.467 89,88%
28
Dari penyerapan sebesar 90,59% diketahui, Belanja Barang dan Jasa merupakan belanja yang terkecil penyerapannya dari anggaran. Setelah itu Belanja Modal menempati urutan kedua dalam penyerapan anggaran.
Dengan adanya sistem informasi
pengelolaan keuangan daerah, dalam proses
perencanaan, penganggaran, penatausahaan hingga
pelaporan, pengendalian pencairan anggaran
lebih cepat dan efektif.
Pelaporan keuangan pemerintah daerah
merupakan bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan APBD selama periode satu tahun. Terkait dengan hal tersebut, opini BPK terhadap pelaporan keuangan pemerintah daerah Daerah Istimewa Yogyakarta selama 3 tahun (Tahun 2009 s.d. 2011) dapat dilihat pada tabel berkut:
Tabel T.III C.8
Opini BPK terhadap Laporan Keuangan Pemda DIY
NO TAHUN OPINI KETERANGAN
1 2009 WDP Aset belum dapat diyakini
kewajaranya
2 2010 WTP Paragraf penjelas berupa
aset Dinas PUESDM yang belum diserahkan
3 2011 WTP Paragraf penjelas berupa :
pencatatan Dana bergulir belum sesuai SAP dan belum diberlakukannya penyusutan aset
Sumber : DPPKA, diolah
Jumlah barang milik daerah yang dapat di inventarisasi s/d tahun 2012 yang tercatat dalam Sistem Informasi Manajemen Aset adalah
940.401 unit dengan tafsiran harga
Rp.4.727.074.614.964,-.
Barang milik daerah tersebut terdiri dari
tanah, alat-alat, bangunan gedung, jalan,
29
Dari barang milik daerah tersebut, aset tanah yang dapat disertifikatkan sampai dengan tahun 2012 adalah 41 bidang.
Aset daerah yang dapat dioptimalkan
berupa tanah, kendaraan dan bangunan, baik itu
dengan sistem sewa, pinjam pakai maupun
bangunan guna serah (BGS). Sampai dengan tahun 2012 Aset tanah Pemda DIY sebanyak 850 bidang yang dapat dioptimalkan.
Bank BPD adalah bank umum dengan 197 jaringan di DIY, sesuai laporan keuangannya telah menunjukkan perkembangan yang positif dengan total aset s/d tahun 2012 sebesar Rp. 5.632 milyar, laba yang dihasilkan Rp. 149.439 milyar meningkat 68,47% dari tahun sebelumnya.
Modal dasar bank BPD sebesar Rp. 250 milyar dimana sebesar Rp. 127,50 milyar atau 51% adalah modal pemda. Setoran PAD dari BPD tahun 2012 berupa deviden dan dana pembangunan sebesar Rp. 31,76 milyar atau 24.90% dari modal disetor.
PT. AMI bergerak dibidang percetakan dan
penerbitan, pertambangan, perdagangan,
pariwisata dan rekayasa industri. PT AMI juga bekerjasama dengan pihak ketiga dengan PT Yogya Indah Sejahtera mengelola Mall Malioboro, PT. Adicandra Ghraha Misata mengelola Sagan Resto, PT Kaidi Indojaya mengelola pembangunan pusat perdagangan Jogjatronik dan PT Mirota Batik. Modal PT AMI yang disetor Pemda Rp. 15,36 milyar, sampai tahun 2011, namun hingga tahun 2012 belum dapat memberikan kontribusi PAD kepada pemda.
30
BUKP se DIY sebanyak 75 unit, sampai tahun 2012 dengan modal disetor Pemda Rp. 17.64 milyar, kontribusi PAD kepada Pemda Rp. 10.12 milyar.
SDM pengelola keuangan dan aset terdiri dari perencana program, Bendahara penerimaan,
bendahara pengeluaran, petugas akuntansi,
pengurus dan penyimpan barang yang ada disetiap SKPD. Jumlah SDM pengelola keuangan dan aset di Pemda DIY dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel T.III.C.9
SDM Pengelola Keuangan dan Aset Pemda DIY
NO URAIAN JUMLAH
1 2 3
1 Perencana Program 70 orang
2 Bendahara penerimaan 30 orang
3 Bendahara pengeluaran 68 orang
4 Petugas akuntansi 67 orang
5 Pengurus barang 117 orang
6 Penyimpan barang 95 orang
Sumber : DPPKA, diolah
Wajib pajak yang dilayani oleh Kantor Pelayanan Pajak Daerah per hari adalah 4.460 wajib pajak dengan perincian sebagai berikut :
Tabel T.III.C.10
Wajib pajak yang dilayani per hari
No. KPPD JUMLAH WP/HARI
1 2 3
1. KPPD KOTA YOGYAKARTA 850 WP
2. KPPD BANTUL 1.000 WP
3. KPPD KULONPROGO 440 WP
4. KPPG GUNUNGKIDUL 470 WP
5. KPPD SLEMAN 1.700 WP
Sumber : DPPKA, diolah
31
meningkatkan penerimaan pendapatan asli daerah, maka dilaksanakan layanan unggulan pada 5 Kantor Pelayanan Pajak Daerah / Kantor Bersama Samsat di
seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta dan
pengembangan layanan antara lain :
1. Samsat Pembantu di Sewon Bantul dan Maguwoharjo Sleman.
Merupakan layanan pembayaran pajak kendaraan
bermotor (pengesahan STNK Tahunan) dan
Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ).
2. Samsat Payment Point
Merupakan layanan pembayaran pajak kendaraan
bermotor (pengesahan STNK Tahunan) dan
Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) yang pelaksanaannya berada pada 1 Kantor Kas dan 5 Cabang Pembantu Bank BPD DIY, yaitu :
a.Kantor Kas Bank BPD Giwangan Kota Yogyakarta
b.Kantor Cabang Pembantu Bank BPD Piyungan
Bantul
c.Kantor Cabang Pembantu Bank BPD Nanggulan
Kulon Progo
d.Kantor Cabang Pembantu Bank BPD Karangmojo
Gunungkidul
e.Kantor Cabang Pembantu Bank BPD Kalasan
Sleman.
f.Kantor Cabang Pembantu Bank BPD Godean
32
3. Samsat Corner.
Merupakan layanan pembayaran pajak kendaraan bermotor ( pengesahan STNK Tahunan ) dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) yang ditempatkan di Plaza /Mall Ambarukmo.
4. Samsat Drive Thru
Merupakan layanan pembayaran pajak kendaraan bermotor ( pengesahan STNK Tahunan ) dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) tanpa Wajib Pajak harus turun dari kendaraan, terletak di Samsat Pembantu Sewon Bantul.
5. Samsat Keliling
Merupakan layanan pembayaran pajak kendaraan bermotor ( pengesahan STNK Tahunan ) dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) menggunakan 5 unit Bus pada tempat-tempat strategis.
6. Samsat pada Acara Tertentu.
Merupakan layanan pembayaran pajak kendaraan bermotor ( pengesahan STNK Tahunan ) dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) pada acara Pasar Malam Perayaan
Sekaten (PMPS) / Pameran Pembangunan di
Kabupaten / Kota.
Dalam memberikan pelayanan publik, KPPD / SAMSAT se DIY telah memperoleh penghargaan Piala Citra Pelayanan Prima (CPP) dari Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
33
Kepuasan Masyarakat (IKM) dengan kategori Baik untuk 5 KPPD serta Sertifikasi ISO 9001-2008 sejak tahun 2009.
Untuk mendukung kelancaran tugas dan menjamin tingkat akselerasi dan akurasi data pada proses
pelayanan di KPPD seluruh Daerah Istimewa
Yogyakarta telah menggunakan sistem pelayanan on-line. Untuk menjamin transparansi pelayanan publik
telah dibangun berbagai fasilitas berbasis
teknologi informasi, antara lain :
1. SMS Informasi PKB.
Layanan informasi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) melalui SMS.
2. SMS Informasi Jatuh Tempo.
Layanan informasi jatuh tempo masa Pajak Kendaraan Bermotor yang memberikan informasi SMS, 7 (tujuh) hari sebelum berakhirnya masa pajak.
Dalam rangka peningkatan Pelayanan Publik sebagai tindak lanjut tuntutan masyarakat terhadap mutu Pelayanan Prima, maka aparatur pemerintah
perlu mempersiapkan diri dengan memperbaiki
kinerja palayanan secara terus menerus dan
berkesinambungan diiringi dengan peningkatan
Sarana dan Prasarana dari tahun ke tahun. 3.1.2 Potensi
Potensi pendapatan Tahun 2012-2017 bersumber dari Pajak daerah, Retribusi Daerah dan Lain-lain pendapatan.
Potensi Pendapatan Daerah diukur dan diperoleh berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, khusus untuk Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang
sifatnya closed listed. Hal ini sedikit membatasi
34
penerimaan khususnya dari pajak dan retribusi karena obyek baru yang dianggap sebagai potensi pendapatan
harus dikoordinasikan terlebih dahulu dengan
Pemerintah Pusat dan mendapat persetujuan untuk dipungut.
Sehingga potensi yang akan digalakkan untuk beberapa tahun ke depan diarahkan berasal dari sumber Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah, komponen dana perimbangan dan juga komponen dana hibah, maupun dana-dana penyesuaian dari pusat.
Adapun potensi pendapatan dari pajak daerah adalah sebagai berikut :
1. Pertumbuhan ekonomi sehingga bertambah kendaraan
baru (10-12%)
2. Potensi realisasi wajib pajak yang belum
mendaftar (40%)
3. Rencana kenaikan harga BBM (PBBKB)
Rata-rata peningkatan kendaraan roda empat sebesar 531 unit kendaraan roda empat setiap bulan sedang rata-rata peningkatan kendaraan roda dua sebesar 8.949 unit setiap bulan.
Dengan menggunakan model estimasi jumlah kendaraan, diperoleh proyeksi jumlah kendaraan untuk roda empat, terbesar terdapat di Kabupaten Sleman, diikuti oleh Kota Yogyakarta sedangkan untuk sepeda motor, proporsi terbesar terdapat di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
35
Potensi jenis bahan bakar yang tinggi adalah premium dan solar karena kedua jenis BBM ini pula yang memberikan kontribusi yang relatif paling besar terhadap penerimaan PBBKB. Pertamax dan Pertamax Plus bernilai sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Konsumsi bahan bakar jenis premium
diwakili oleh jenis kendaraan roda dua dan
kendaraan roda empat selain jenis truck, pick up, dan bus (B1, B2, C1, C2) yang dianggap mewakili konsumsi bahan bakar jenis solar.
Untuk mengestimasi potensi jenis pajak dari pajak air permukaan ini dipergunakan rata-rata
pertumbuhan tertimbang sebesar rata-rata 5,58
persen. Presentase ini digunakan untuk mengestimasi potensi pada tahun mendatang.
Potensi pelayanan kepada wajib pajak adalah sebagai berikut :
1. Partisipasi masyarakat untuk peningkatan
kualitas pelayanan publik cukup baik.
2. Adanya keberlanjutan pengembangan kualitas SDM
3. Komitmen Pemerintah Daerah DIY dalam
peningkatan kualitas pelayanan publik.
Sedang potensi pendapatan dari retribusi daerah adalah sebagai berikut :
1. Retribusi jasa umum
2. Retribusi jasa usaha
3. Retribusi perijinan tertentu
Ketiga jenis retribusi ini dimungkinkan terjadi penambahan jenis penerimaan disamping ada revisi terhadap tarif yang menyesuaikan dengan harga pasar.
Nilai proyeksi potensi retribusi dihitung dengan menggunakan dasar perhitungan nilai potensi moderat dengan rumus sebagai berikut:
36
Rata-rata pertumbuhan ekonomi yang digunakan masih sama dengan perhitungan potensi yaitu sebesar 4% (skenario pesimis), 5% (skenario moderat) dan 6% (skenario optimis). Dengan model perhitungan tersebut terlihat ada kenaikan nilai potensi retribusi dari tahun ke tahun.
Nilai pertumbuhan yang sama dengan pertumbuhan nilai potensi sebesar 5% untuk ketiga skeniario. Dilihat dari nilai nominalnya, nilai potensi retribusi untuk tahun 2017 adalah sebesar Rp 50 miliar (nilai pesimis), Rp 55 miliar (nilai moderat) atau Rp 60 miliar (nilai optimis).
Selain itu potensi pendapatan dari lain-lain
pendapatan yaitu :
1. Optimalisasi aset
Dapat diketahui kondisi dan penggunaan saat ini, sehingga apabila penggunaan belum optimal dapat lebih dioptimalkan
2. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan,
Potensi pendapatan setiap tahun dari hasil
pengelolaan daerah yang dipisahkan tidak terlepas dari jumlah penyertaan modal pemerintah daerah kepada BUMD maupun kepada Swasta.
Untuk Potensi Badan Usaha Milik Daerah, Bank BPD dapat ditingkatkan mejadi bank devisa, PT AMI
menjadi mitra kerja Pemda dalam memberikan
37 3.1.3 Permasalahan
Permasalahan yang dihadapi Dinas
pendapatan, pengelolaan keuangan dan Aset
sesuai tugas dan fungsi pelayanan, antara lain sebagai berikut :
1. Data base wajib pajak masih kurang valid
karena tidak ada sensus kendaraan
2. Perpanjangan STNK belum sesuai Peraturan
POLRI
3. Belum ada kaderisasi SDM
4. Lemahnya indentifikasi potensi retribusi
karena keterbatasan kewenangan pungutan (closed list)
5. Penentuan harga satuan yang sangat cepat
berubah, sedangkan proses perundangan
membutuhkan waktu, sehingga antara target dan realisasi terdapat gap yang tinggi.
6. Belum ada peraturan perundangan tentang
pendapatan dari lain-lain pendapatan yang mengikat sebagai bahan pungutan
7. Jenis dan ragam lain-lain pendapatan
sangat banyak sehingga pemilahan juga harus dikoordinasikan bersama dari pusat hingga kabupaten dan kota.
8. Belum optimalnya penggunaan instrumen ( ASB
dan SPM) perencanaan penganggaran dalam penyusunan anggaran
9. Belum adanya hasil evaluasi SPM sebagai
input perencanaan penganggaran tahun
berikutnya.
10. Belum adanya persamaan persepsi dalam
pengambilan kebijakan tentang indikator kinerja dari TAPD terhadap implementasi instrumen perencanaan penganggaran
11. Tingkat pemahaman penatausahaan keuangan di
masing-masing SKPD belum sama terutama untuk pengajuan SP2D LS
12. Pencairan anggaran tidak sesuai dengan
38
13. SDM petugas pengelola keuangan daerah perlu
ditingkatkan
14. Verifikator SKPD belum optimal dalam
pelaksanaan pekerjaan pengelolaan keuangan
secara administrasi maupun
pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan
15. Masih terdapat kesalahan input data dalam
SIPKD
16. Jaringan internet yang belum lancar/trouble
di SKPD
17. Data kepegawaian yang tidak valid sebagai
dasar penghitungan gaji
18. Proses pemeriksaan BPK terkadap laporan
keuangan Pemda kedepan juga dikembangkan melalui elektronik audit (e-audit)hal ini
mengharuskan pemda untuk terus
mengembangkan proses pengelolaan keuangan
daerah yang terintegrasi dan berbasis
teknologi informasi.
19. Permasalahan yang timbul dalam penerapan
sistem penganggaran berbasis kinerja adalah
sulitnya merumuskan indikator kinerja
sebagai alat pendeteksi tercapainya output dan outcome yang dikehendaki.
20. Terkait dengan Bentuk pemanfaatan aset yang
optimal, permasalahan yang dihadapi adalah
belum teridentifikasi asset idle yang
terdapat di SKPD/UPTD.
21. Dalam upaya Peningkatan penatausahaan
asset, khususnya Pengelolaan BMD dengan menggunakan SIPKD modul asset, Pengurus dan
penyimpan barang belum terampil dalam
mengoperasionalkan aplikasi.
22. Penyusunan RKBMD maupun RKPBMD belum
mengacu daftar inventaris barang sebagai dasar pengalokasian anggaran, perencanaan
kebutuhan BMD dan rencana kebutuhan
pemeliharaan BMD belum mengacu standar sarana dana prasarana
23. Terdapat aset tanah yang belum
39
24. Perluasan usaha Badan Usaha Milik Daerah,
terkendala modal sehingga setoran minimal sebagai akibat persaingan dunia perbankan sangat ketat
25. Perseroan terbatas dan perusahaan daerah
mengalami Kesulitan likuiditas, disamping bidang usaha yang dikelola tidak berjalan dengan baik, beban operasional tinggi,
tekanan pasar, ruang gerak usaha dan
regulasi dibatasi.
26. Payung hukum Kelembagaan BUKP belum ada
bahkan terdapat 6 BUKP belum sehat.
27. Pemahaman SDM pengelolaan keuangan terhadap
regulasi pengelolaan keuangan belu memadai hal ini disebabkan salah satunya oleh sering terjadi perubahan regulasi.
28. Penguasaan SDM pengelola keuangan terhadap
teknologi informasi khususnya sistem
informasi pengelolaan keuangan daerah masih kurang memadai.
29. Adanya Mutasi PNS SDM pengelola keuangan
30. Sebagian SDM pelayan publik kualifikasinya
belum sesuai dengan kebutuhan.
31. Dengan bertambahnya tempat-tempat pelayanan
Wajib Pajak menyebabkan perbandingan
kuantitas SDM dengan Wajib Pajak tidak seimbang.
32. Lahan parkir dan ruang tunggu untuk wajib
pajak kurang memadai
d. Target Pendapatan tahun 2013 s/d 2017 adalah
40 Tabel T.III.C.11
Target Pendapatan 2013-2017
URAIAN 2013 2014 2015 2016 2017
PENDAPATAN ASLI DAERAH
Pendapatan Pajak Daerah
Pendapatan Retribusi Daerah
Pendapatan Hsl Pengelolaan Kekayaan Daerah
Yg Dipisahkan
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah
DANA PERIMBANGAN
Dana Bagi Hasil pajak/Bagi Hasil bukan pajak
41 LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH
846,788,591,920
819,579,611,210
1,234,425,909,047
1,237,179,981,771
1,240,154,380,312
Pendapatan Hibah
8,815,476,250
6,216,033,150
6,713,315,802
7,250,381,066
7,830,411,551
Pendapatan Dana Darurat
-
-
-
-
-
Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus
837,973,115,670
813,363,578,060
1,227,712,593,245
1,229,929,600,704
1,232,323,968,761
Dana Penyesuaian 23,759,082,000 25,659,808,560
27,712,593,245
29,929,600,704
32,323,968,761
Dana BOS Pusat 279,000,000,000
Dana Keistimewaan
535,214,033,670
787,703,769,500
1,200,000,000,000
1,200,000,000,000
1,200,000,000,000
Bantuan Keuangan dari Prov atau Pemda Lainya
-
-
-
-
-
Pendapatan lainnya
-
-
-
-
-
42 3.2 TELAAH VISI, MISI DAN PROGRAM KEPALA DAERAH TAHUN
2012-2017.
Visi : Daerah Istimewa Yogyakarta Yang Lebih Berkarakter, Berbudaya, Maju, Mandiri dan Sejahtera Menyongsong Peradaban Baru”
Misi
Misi 3 RPJMD adalah Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik kearah katalisator yang
mampu mengelola pemerintahan secara efisien,
efektif mampu menggerakkan dan mendorong dunia usaha dan masyarakat lebih mandiri.
Tujuan Misi 3.
Mewujudkan pengelolaan pemerintahan secara efektif dan efisien.
Sasaran Misi 3
1.Akuntabilitas kinerja pemerintah daerah
meningkat.
2.Akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah
meningkat.
Program pembangunan daerah berdasarkan sasaran diatas adalah :
a)Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Daerah
b)Program Peningkatan Sistem Pengawasan Internal
dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH.
Berdasarkan visi, misi, tujuan dan sasaran diatas arah kebijakan pembangunannya adalah meningkatkan nilai akuntabilitas kinerja pemerintah dari B menjadi A, dan Mempertahankan Opini Pemeriksaan BPK yaitu Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
Strategi yang ditetapkan untuk dilakukan adalah Meningkatkan efektifitas kinerja birokrasi dan layanan publik yang responsif, transparan dan
akuntabel, dan Meningkatkan profesionalisme
pengelolaan keuangan daerah, optimalisasi