• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN PERILAK. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PELAKSANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN PERILAK. pdf"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

DI TK ABA TEGALSARI YOGYAKARTA

Oleh:

HENY WULANDARI, S.KP. NIM: 09 261 013

TESIS

Diajukan kepada Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh

Gelar Magister Studi Islam

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ii   

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Heny Wulandari, S.Kep

NIM : 09.261.013

Jenjang : Magister Program Studi : PGRA/PAUDI Konsentrasi : PGRA/PAUDI

menyatakan bahwa naskah tesis ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya.

Yogyakarta, 5 Juni 2011

Saya yang menyatakan,

Heny Wulandari, S.Kep

(7)
(8)

iv   

UJIAN TESIS

Tesis berjudul : Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Anak Usia Dini di TK ABA

Tegalsari Yogyakarta

Nama : Heny Wulandari, S.KP NIM : 09 261 013

Prodi : Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (PGRA)/PAUDI Konsentrasi : Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (PGRA)/PAUDI

Ketua : M. Agus Nuryatno, M.A., Ph.D ( ) Sekretaris : Dr. Mahmud Arief, M.Ag ( ) Pembimbing/Penguji : Dr. H. Muh. Anis, M.A. ( ) Penguji : Dr. Ahmad Arifi, M.Ag. ( )

Diuji di Yogyakarta pada tanggal 22 Juni 2011 Waktu : Pkl. 14.00-15.00 WIB

Hasil/Nilai : A-

(9)

v   

Kepada Yth.

Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta Assalamu’alaikum wr.wb.

Setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi terhadap penulisan tesis yang berjudul :

PELAKSANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN

PRILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA ANAK USIA DINI DI TK ABA TEGALSARI YOGYAKARTA

Yang ditulis oleh :

Nama : Heny Wulandari, S.KP

NIM :09.261.013

Jenjang :Magister Program Studi : PGRA/PAUDI Konsentrasi : PGRA/PAUDI

Saya berpendapat bahwa tesis tersebut sudah dapat diajukan kepada program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga untuk diujikan dalam rangka memperoleh gelar Magister Studi Islam.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Yogyakarta, 5 Juni 2011

Pembimbing,

(10)

vi   

Heny Wulandari, S.KP: “PELAKSANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA ANAK USIA DINI DI TK ABA TEGALSARI YOGYAKARTA. Tesis. Yogayakarta: Program Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Program Studi Pendidikan Guru Raudatul Athfal (PGRA) 2011. Pembimbing: Dr. Moh Anis, M.A.

Dewasa ini banyak bencana yang menimpa bangsa Indonesia yang diakibatkan oleh ulah manusia itu sendiri. Seperti yang sering ditayangkan oleh televisi atau di media elektronik lainnya berbagai bencana seperti banjir, wabah penyakit seperti diare, gizi buruk, kolera dan penyakit menular lainnya Masalah-masalah di atas sebenarnya dapat dicegah sedini mungkin salah satunya dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat sangat strategis ditanamkan pada usia dini mengingat masa ini merupakan pondasi untuk pembentukan perilaku dan lebih mungkin menjamin tercapainya masyarakat yang sehat dengan perilaku hidup bersih sehat yang baik ketika mereka dewasa kelak.

Penelitian ini dilakukan di TK ABA Tegalsari Yogyakarta dengan menggunakan metode kualitatif naturalistik, hal ini hal ini utuk menjawab tiga pertanyaan penelitian, yaitu : Bagaimana pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada anak usia dini di TK ABA Tegalsari Yogyakarta. Metode dan strategi apa yang digunakan dalam penanaman PHBS di TK ABA Tegalsari Yogyakarta, bagaimana perilaku murid dan guru setelah dilaksanakan pendidikan kesehatan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di TK ABA Tegalsari. Sumber data dari penelitian ini adalah kepala sekolah, guru, murid dan wali murid, pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan snow ball sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: wawancara, observasi dan dokumentasi, adapun teknik analisis data menggunakan teknik analisis interaktif model Miles dan Hubberman yang membagi kegiatan analisis menjadi empat bagian, yaitu: pengumpulan data; reduksi data; penyajian data; dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data.

(11)

vii   

sudah dilaksanakan di TK ABA yaitu: pembiasaan cuci tangan menggunakan sabun, pemeriksaan fisik, pengukuran tinggi badan dan berat badan, pemberian makanan tambahan, larangan merokok di sekolah, dan olah raga yang teratur. Untuk menunjang pelaksanaan pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat TK ABA menyediakan sarana dan prasarana yang memadai seperti tersedianya wastafel yang dilengkapi dengan sabun dan serbet bersih, tempat sampah pada masing masing kelas, adanya UKS, tersedianya jamban sehat dan tersedianya saluran pembuangan air limbah. Pelaksanaan pendidikan kesehatan perilaku hidup bersih dan sehat guru-guru di TK ABA Tegalsari menggunakan metode bercerita, pembiasaan, demonstrasi, bercakap-cakap, karyawisata, dan bernyanyi. Sedangkan strategi pembelajaran yang digunakan adalah strategi ekspository dan problem solving.

(12)

viii   

Alhamdulillah segala puji kepada Allah SWT, atas segala rahmat, nikmat dan keridoan-Nyalah tulisan ini dapat terselesaikan. Amin. Sholawat dan Salam senantiasa teriring kepada Rasulullah saw yang melimpahkan syafaatnya kepada kita semua. Amin

Terimakasih, ucapan syukur kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan, bimbingan, doa, dan juga motivasi dalam berbagai bentuk dan rupa sehingga karya tulis ini dapat terselesaikan sesuai jadwal dan harapan. Keberhasilan yang penulis raih saat ini adalah hasil kerja keras dan keterlibatan berbagai pihak, baik guru-guru yang mendidik penulis mulai dari bangku pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi sekarang ini, sanak saudara, petugas administrasi dan banyak lain yang begitu berjasa. Tanpa mereka tak mungkin saat ini penulis akan mampu meraih tingkat yang sekarang ini, walaupun tidak mampu penulis haturkan nama satu persatu namun doa syukur senantiasa penulis kirimkan. Oleh sebab itu sebagai wakil ucapan syukur, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Bapak Prof. Dr. H. Musa Asy’Arie, M.Si selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

2. Bapak Prof. Dr. H. Khoiruddin, M. A selaku Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

3. Bapak M. Agus Nuryatno, M.A., Ph.D dan Bapak Dr. Mahmud Arief, M.Ag selaku Kaprodi dan Sekertaris prodi PGMI/PGRA.

4. Bapak Dr. H. Muh. Anis, M. A. selaku dosen pembimbing yang senantiasa sabar dan telaten dalam men-support serta membimbing penulis.

5. Para dosen yang telah telah banyak memberikan ilmu dan pengalaman yang berguna sebagai bekal untuk masa depan.

(13)

ix   

dengan kebeningan hati dan mata serta kelincahannya selalu menjadikan kerinduan dan menumbuhkan semangat untuk segera menyelesaikan tesis ini.

8. Kepala TK ABA Tegalsari, dewan guru, karyawan, murid dan wali murid atas kerjasama, waktu dan tempat yang telah diberikan.

9. Kawan-kawan yang senantiasa mendampingi dan saling memotivasi serta saling berbagi baik suka dan duka, sukses bersama-sama.

10. Serta semua pihak yang tak mungkin penulis sebut satu persatu namanya namun akan selalu penulis sebut dan catat dalam hati serta untaian doa.

Harapan penulis semoga ilmu yang penulis timba di lembaga ini bermanfaat dan berkah baik di dunia maupun di akhirat. Amin. Selaku manusia biasa penulis mengakui tak luput dari salah, khilaf dan kurang sehingga permohonan maaf penulis hanturkan kepada semua pihak dan juga atas kekurangan dari hasil karya tulis ini, segala kritik dan saran untuk kesempurnaan tesis ini sangat diharapkan dan semoga bermanfaat. Amiin.

Yogyakarta, 5 Juni 2011 Penulis

(14)

x   

HALAMAN JUDUL... i

PERNYATAAN KEASLIAN... ii

PENGESAHAN DIREKTUR... iii

PERSETUJUAN TIM PENGUJI... iv

NOTA DINAS PEMBIMBING... v

ABSTRAK... vi

A. Latarbelakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah... 7

C. Tujuan Penelitian... 7

D. Manfaat Penelitian... 8

E. Tinjauan Pustaka... 8

F. Metodologi Penelitian... 9

G. Sumber Data... 10

H. Teknik Pengumpulan Data... 11

I. Analisis Data... 13

J. Sistematika Pembahasan... 14

BAB II : LANDASAN TEORI... 16

A. Kesehatan... 16

B. Pendidikan Kesehatan... 18

C. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah... 24

D. Anak Usia Dini... 49

E. Pendidikan Anak Usia Dini... 52

F. Strategi dan Metode Mengajar pada Anak usia Dini... 53

(15)

xi   

B. Visi, Misi dan Tujuan TK ABA Tegalsari... 63

C. Keadaan Guru, Karyawan dan Murid... 66

D. Sarana dan Prasarana... 69

E. Materi Pembelajaran... 78

F. Kurikulum TK ABA Tegalsari... 81

G. Program Kegiatan Kesehatan... 86

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA... 94

A. Pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat... 94

B. Metode dan Strategi Penanaman Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di TK ABA Tegalsari... 116

C. Alat dan Media Pendidikan... 122

D. Perilaku Hidup Bersih Murid dan Guru serta Karyawan... 124

E. Kelebihan dan Kekurangan... 128

F. Respon Orang Tua Atas Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di TK ABA Tegalsari... 131

BAB V : PENUTUP... 133

A. Kesimpulan... 133

B. Saran... 135

DAFTAR PUSTAKA... 139 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(16)

xii   

Tabel 1 : Profil Guru TK ABA Tegalsari Yogyakarta 2010-2011, 65. Tabel 2 : Profil Karyawan TK ABA Tegalsari Yogyakarta, 66.

Tabel 3 : Profil Murid TK ABA Tegalsari Yogyakarta 2009-2010, 66. Tabel 4 : Pendidikan Wali Murid TK ABA Tegalsari Yogyakarta 2009-

2010, 67.

Tabel 5 : Jumlah ruang yang dimiliki TK ABA Tegalsari Yogyakarta, 68. Tabel 6 : Sarana Bermain di Luar Ruangan TK ABA Tegalsari

(17)

xiii   

Mempengaruhinya, 23.

Gambar 2 : Gambar Struktur Organisasi TK ABA Tegalsari Yogyakarta, 64.

(18)

xiv   

Lampiran 1 : Instrumen Penelitian ( instrumen wawancara, daftar jawaban

wawancara )

Lampiran 2 : Daftar buku Administrasi dan fasilitas UKS TK ABA Tegalsari Yogyakarta

Lampiran 3 : Jadwal pemeriksaan dan kebersihan anak tahun ajaran 2010/2011

Lampiran 4 : Jadwal gosok gigi anak tahun 2010/2011 Lampiran 5 : Jadwal menu makan siang TK ABA Tegalsari Lampiran 6 : Tata Tertib Siswa

Lampiran 7 : Prestasi yang pernah piraih

Lampiran 8 : Foto-Foto perilaku hidup bersih dan sehat murid Lampiran 9 : Foto fasilitas sekolah

(19)

1 A. Latar Belakang

Kesehatan merupakan salah satu nikmat yang sangat berharga dalam kehidupan manusia. Kesehatan sebagai modal dasar untuk melakukan segala aktifitas. Menurut lembaga organisasi kesehatan dunia (WHO), kesehatan adalah keadaan yang sempurna baik fisik, mental, maupun sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat.1 Hal ini berarti kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktifitasnya, di mana seluruh aspek kehidupan sangat mendukung kondisi kesehatan manusia.

Banyak masalah-masalah kesehatan yang muncul di Indonesia maupun di dunia saat ini yang diakibatkan karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat. Salah satu penyakit yang diakibatkan dari perilaku hidup tidak bersih dan sehat adalah diare. Menurut catatan WHO, sebagaimana dalam Elfi Rahmawati, diare adalah penyebab nomor satu kematian balita di dunia. Di Indonesia diare adalah penyebab kematian balita nomor dua setelah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Diperkirakan bahwa setiap 30 detik ada anak yang meninggal karena diare. Di Indonesia setiap tahun 100.000 anak meninggal dunia karena diare.2

1

Soekidjo Notoatmodjo, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (Jakarta: Rineka Cipta,

2007), hlm. 3 2

Elfi Rahmawati, “Analisis Kebutuhan Program Promosi Pencegahan Diare Pada Anak

Berusia Dibawah Dua Tahun”, Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat, Vol. 24. No.1 (Yogyakarta:

(20)

Selain itu penyakit infeksi parasit cacing juga masih menjadi masalah besar bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang atau negara-negara miskin. Diperkirakan lebih dari dua milyar orang terinfeksi cacing di seluruh dunia. Di Indonesia penyakit cacingan tersebar luas di pedesaan maupun perkotaan. Hasil survei menunjukan bahwa infeksi kecacingan Sekolah Dasar (SD) di beberapa provinsi di Indonesia menunjukkan prevalensi sekitar 60 % - 80%, sedangkan untuk semua umur berkisar antara 40%-60%.3

Perilaku membuang sampah sembarangan juga menjadi perilaku kebanyakan masyarakat di Indonesia. Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Eko Bharuna mengatakan:

“Setiap harinya jumlah produksi sampah di DKI Jakarta mencapai 6.300 ton, jika banjir meningkat menjadi 7.500 ton per hari. Sekitar 300 ton sampah diantaranya, berada di sungai. Sedang sampah yang bisa diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi, hanya 5.500 ton per hari.4

Beberapa kasus di atas merupakan indikator perilaku manusia yang masih buruk dan menuntut untuk dilakukan pembenahan guna mencegah ancaman kesehatan lebih lanjut. Perubahan perilaku melalui pendidikan kesehatan merupakan salah satu upaya yang diharapkan dapat memutus mata

3

Zaidina Umar, “Perilaku Cuci Tangan Sebelum Makan dan Kecacingan Pada Murid SD

Di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat”, Jurnal Kesehatan Masyarakat NasionalKesehatan

Masyarakat, Vol. 2, No. 2 (Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2007), hlm. 250.

4

Eko Prilianto, “Buang Sampah Sembarangan Boleh-Boleh Saja, Penegakan Hukum itu

tidak Bisa dilaksanakan pada Masyarakat Level Ekonomi Bawah”, http://Metro.Vivanews.

(21)

rantai penyebaran penyakit.5 Hal ini karena kesehatan merupakan kebutuhan yang harus diusahakan secara bersama-sama dan tidak bisa hanya diusahakan oleh sekelompok atau oleh orang-orang tertentu saja.

Reformasi di bidang kesehatan telah menetapkan model pembangunan paradigma sehat dengan visi pembangunan kesehatan yang dinyatakan dalam motto “Indonesia Sehat 2010”. Visi yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan tersebut adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan dan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia.6

Diantara kesehatan masyarakat yang terpenting adalah kesehatan bagi anak-anak. Masa anak-anak 0-6 tahun atau disebut golden age atau usia emas adalah usia yang sangat penting di mana perkembangan fisik, motorik, intelektual, emosional, bahasa dan sosial berlangsung dengan sangat cepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan otak anak usia 0 - 4 tahun sudah mencapai 50 %, sampai dengan usia 8 tahun 80%, sampai dengan 18 tahun 100%.7

5

Pendidikan kesehatan adalah usaha untuk mendidikan bagaimana seseorang dalam mengelola lingkungannya sehingga tidak mengganggu kesehatannya sendiri, keluarga atau

masyarakatnya. Lihat dalam Soekidjo Notoatmodjo, Promosi Kesehatan, hlm. 137.

6

Hadi Siswanto, Pendidikan Kesehatan Anak Usia Dini (Jakarta : Pustaka Rihama, 2009),

hlm. 29. 7

Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia, Sosialisasi Pendidikan Anak Usia Dini, Apa,

(22)

Peningkatan pemeliharaan kesehatan bagi anak-anak sangat penting, karena kualitas anak sangat dipengaruhi oleh kesehatan selama masa tumbuh kembang anak. Anak yang sehat bisa belajar dengan baik. Sehingga pendidikan kesehatan sangat strategis ditanamkan pada usia dini mengingat pada usia ini relatif belum terbentuk sikap dan perilakunya sehingga akan lebih mudah menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat dibanding orang dewasa. Menanamkan perilaku hidup bersih sehat sedini mungkin lebih mungkin menjamin tercapainya masyarakat dengan perilaku hidup bersih sehat yang baik ketika mereka dewasa kelak.

Kondisi yang lebih sehat sejak usia anak-anak akan memberi kesempatan tumbuhnya sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas di masa depan. Selain itu masa anak-anak juga disebut sebagai masa kritis yang berarti bila pada masa ini anak mendapat gangguan atau kebutuhannya tidak tercukupi akan berdampak serius dan panjang baik terhadap kecerdasan, kesehatan, maupun sikap dan perilakunya.

Menurut al-Ghazali dalam Muh. Anis, anak-anak adalah amanah bagi orang tuanya. Hatinya masih putih, suci bagaikan permata. Maka jika mereka dikondisikan pada sesuatu yang baik serta diberi arahan dan diberi pendidikan, mereka akan tumbuh dan menjadi besar dengan sifat yang luhur dan bahagia dunia akhirat.8

Anak pada masa usia dini perlu mendapat pelayanan kesehatan yang lebih besar, karena daya tahan tubuhnya masih rendah sehingga mudah

8

Muh. Anis, Sukses Mendidik Anak Perspektif al-Quran dan Hadis (Yogyakarta: Pustaka

(23)

terinfeksi atau kekurangan gizi. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus terhadap anak-anak tentang pendidikan dan pemantauan kesehatan dalam proses perkembangan mereka. Melalui pelaksanaan pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan kepada anak-anak usia dini, diharapkan kelak mereka mampu menerapkan hidup bersih dan sehat ketika dewasa.

Menurut Zakiah Daradjat, pendidikan anak pada dasarnya adalah tanggungjawab orang tua. Dalam hal ini Zakiah mengemukakan bahwa orang tua adalah Pembina pribadi utama dalam kehidupan anak.9 Hanya karena keterbatasan kemampuan orang tua maka perlu adanya bantuan dari orang lain yang mampu dan mau membantu orang tua dalam pendidikan anak-anaknya terutama dalam pengajaran berbagai ilmu dan keterampilan yang selalu berkembang dan dituntut pengembangannya bagi manusia.10

Melalui pelaksanaan pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan kepada anak-anak usia dini, diharapkan kelak mereka mampu menerapkan hidup bersih dan sehat setelah dewasa.

Menurut hasil survei pendahuluan yang telah penulis lakukan pada beberapa lembaga pendidikan anak usia dini, diantaranya adalah di Raudhatul Athfal Ar-Rahmah Sleman Yogyakarta, PAUD Harapan Bunda Sukarame Bandar Lampung, dan PAUD Seruni Sukarame Bandar Lampung, penulis

9

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, cet. Ke-7 (Jakarta: Bumi Aksara dan PKAI

Depag RI, 2008), hlm. 56. 10

Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah (Jakarta: YPI

(24)

menemukan fakta di lapangan yaitu belum banyaknya lembaga pendidikan anak usia dini yang melaksanakan pendidikan kesehatan untuk anak usai dini. Menurut Ibu Cholisoh selaku Kepala RA Ar-Rahmah mengatakan:

“Terdapat kesulitan menerapkan pendidikan kesehatan di RA Ar-Rahmah, dikarenakan kurangnya informasi tentang pendidikan kesehatan yang seharusnya dilakukan, dan kurangnya kerjasama dengan dinas kesehatan. Saya sudah beberapa kali meminta kerjasama pada puskesmas atau dinas kesehatan setempat namun belum ada respon sehingga tindakan pendidikan kesehatan yang diberikan adalah pendidikan yang seadanya saja!.”11

Sedangkan hasil observasi yang dilakukan pada PAUD Kasih Bunda dan PAUD Seruni, didapatkan belum adanya pelaksanaan pendidikan kesehatan yang dilakukan di kedua PAUD tersebut juga belum tersedianya sarana dan prasarana yang mendukung pendidikan kesehatan di lembaga pendidikan anak usia dini tersebut.12

Taman Kanak-Kanak ‘Aisyiah Bustanul Athfal Tegalsari adalah contoh TK yang sudah melaksanakan pendidikan kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). TK ABA ini pernah memenangkan juara 1 lomba TK sehat yang diselenggarakan oleh pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta pada tahun 2007. Pelaksanan pendidikan kesehatan yang telah dilakukan oleh TK ABA diantaranya adalah penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, seperti pembiasaan cuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, pelaksanaan gosok gigi bersama, pemberian makanan tambahan, penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan serta upaya menyediakan lingkungan sekolah yang sesuai setandar kesehatan.

11

Wawancaradengan Kepala Sekolah RA Ar-Rahmah, pada tanggal 23 Mei 2010.

12

(25)

Oleh karenanya penulis tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana pelaksanaan program PHBS di TK ABA Tegalsari tersebut.

B. Rumusan Masalah

Dalam penelitian penanaman PHBS pada anak usia dini di TK ABA Tegalsari memfokuskan pembahasan yang akan diungkapkan meliputi:

1. Bagaimana pelaksanaan pendidikan kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada anak usia dini di TK ABA Tegalsari Yogyakarta? 2. Metode dan strategi apa yang digunakan dalam dalam pelaksanaan

pendidikan kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di TK ABA Tegalsari Yogyakarta?

3. Bagaimana perilaku murid dan guru setelah dilaksanakan pendidikan kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di TK ABA Tegalsari Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian

(26)

dilaksanakan pendidikan kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di TK ABA Tegalsari Yogyakarta.

D. Manfaat penelitian

Adapun penelitian ini memiliki dua manfaat, yaitu manfaat akademis dan manfaat praktis. Secara akademis, hasil penelitian ini diharapkan akan memperluas pengetahuan masyarakat tentang pendidikan kesehatan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah. Sedangkan secara praktis, diharapkan dapat menjadi masukan bagi kepala TK, staf pengajar, praktisi, orang tua serta semua pihak yang berkompeten dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan anak usia dini.

E. Tinjauan Pustaka

Berdasarkan pencarian penulis tentang berbagai penelitian yang relevan atau berkaitan langsung dengan obyek penelitian ini, ternyata telah ada beberapa penelitian terdahulu yang mengkaji tentang pendidikan kesehatan, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) namun mereka mengkajinya dari sudut pandang yang berbeda. Adapun penelitian sebelumnya antara lain: 1. Eka Rohmah Ermayanti, dengan judul “Pengaruh Pendidikan Kesehatan

(27)

pengaruh yang signifikan terhadap sikap siswa dalam menjaga kebersihan pribadi.13

2. Yaya Hidayati, dengan judul ”Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Metode Ceramah Interaktif Pada Guru dan Siswa SD terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Perilaku tentang Penggunaan Bahan Tambahan Berbahaya dalam Jajanan Sekolah di Kecamatan Tanjung Karang Timur Kota Bandar Lampung”, hasil penelitian yang didapat yaitu: pendidikan kesehatan dengan metode ceramah interaktif kepada guru dan siswa secara berjenjang dapat meningkatkan pengetahuan dan perubahan perilaku terhadap penggunaan bahan berbahaya dalam jajanan sekolah.14

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif naturalistik, di mana menurut Suharsimi Arikunto, istilah “naturalistik“ menunjukan bahwa pelaksanaan penelitian ini memang terjadi secara alamiah, apa adanya, dalam situasi normal yang tidak dimanipulasi keadaan dan kondisinya menekankan pada deskripsi secara alami. Pengambilan data atau penjaringan fenomena yang dilakukan dari keadaan sewajarnya ini dikenal dengan sebutan “pengambilan data secara alami atau natural”. Dengan

13

Eka Rohmah Ermayanti, “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) terhadap Sikap dan Perilaku Menjaga Kebersihan Pribadi pada Siswa

Mutawasithah (SMP) Pondok Pesantren Imam Bukhari Surakarta”, Tesis, (Yogyakarta: Program

Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, 2008). 14

Yaya Hidayati, “Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Metode Ceramah Interaktif

Pada Guru dan Siswa SD terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Perilaku tentang Penggunaan Bahan Tambahan Berbahaya dalam Jajanan Sekolah Di Kecamatan Tanjung Karang Timur Kota

Bandar Lampung Tahun 2009”, Tesis, (Yogyakarta: Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas

(28)

sifatnya ini akan dituntut keterlibatan peneliti secara langsung di lapangan.15 Peneliti berfungsi untuk menguraikan dan menganalisa serta memberikan keterangan-keterangan mengenai pelaksanaan pendidikan kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang telah dilaksanakan di TK ABA Tegalsari dengan menggunakan keterlibatan peneliti secara langsung di lapangan.

2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di TK ABA Tegalsari Yogyakarta. Adapun waktu yang penulis perlukan dalam melakukan penelitian ini kurang lebih selama tiga bulan (Februari 2011-Mei 2011), dengan asumsi jika dalam masa waktu tersebut merasa ada kekurangan dalam pemenuhan data yang diperlukan, maka penulis merencanakan waktu tambahan untuk melengkapi data-data yang diperlukan.

G. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah subyek di mana data dapat diperoleh.16 Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah: Kepala TK ABA Tegalsari sebagai pemegang kebijakan dalam pelaksanaan pendidikan kesehatan; guru kelas sebagai pelaksana kebijakan; karyawan sebagai pelaksana administratif; perilaku murid sebagai hasil kebijakan dan orang tua murid sebagai pendidik di dalam rumah tangga, kondisi lingkungan sekolah, sarana-prasarana yang menunjang pendidikan kesehatan serta

15

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, edisi ke-5

(Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 11-12. 16

(29)

dokumen yang mendukung penelitian ini. Adapun dalam penentuan sumber data menggunakan purposive dan snowball sampling.

H. Teknik Pengumpulan Data

Dalam proses pengumpulan data, peneliti merupakan istrumen penelitian yang utama.17 Interaksi antara peneliti dengan informan dapat diharapkan memperoleh informasi yang mampu mengungkap permasalahan di lapangan secara lengkap dan tuntas. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara terbuka dan studi dokumentasi.

Adapun penjelasan dari tiap-tiap teknik pengumpulan data diantaranya adalah:

1. Wawancara

Penulis menggunakan teknik wawancara semi terstruktur. Dalam wawancara semi terstruktur ini mula-mula wawancara menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam dalam mengorek keterangan lebih lanjut.18 Wawancara

dilakukan secara langsung untuk mendapatkan informasi tentang bentuk-bentuk pendidikan kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

(PHBS) yang diajarkan oleh guru, bagaimana metode dan strategi yang digunakan, hambatan dan dukungan yang ada dan harapan mereka untuk kemajuan kesehatan untuk anak usia dini.

17

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm. 305.

18

(30)

2. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala-gejala subyek yang diselidiki.19 Metode observasi yang dilakukan adalah observasi partisipan (participant observation), yakni pengamatan yang dilakukan dengan cara ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi obyek yang diteliti.20 Metode ini digunakan untuk melihat secara langsung bagaimana guru mengajarkan nilai-nilai kesehatan untuk anak usia dini, serta mengobservasi bagaimana kondisi lingkungan dan keadaan murid secara keseluruhan dan bagaimana Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang mereka terapkan sebagai respon murid terhadap materi kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang telah diberikan.

3. Dokumentasi

Teknik dokumentasi digunakan untuk menggali data yang tidak dapat diperoleh melalui wawancara dan observasi. Dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara.21 Dengan metode ini penulis ingin melihat kurikulum serta program-program kesehatan yang telah disusun oleh lembaga dan hasil dari penerapan kurikulum kesehatan tersebut.

19

Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode dan Teknik (Bandung:

Tarsito, 1990), hlm. 162. 20

Mohammad Ali, Penelitian Kependidikan: Prosedur dan Strategi (Bandung: Angkasa,

1987), hlm. 91. 21

(31)

I. Analisis Data

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data dalam bentuk kategori, menjabarkan dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting untuk dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami diri sendiri maupun orang lain.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif model Miles dan Hubberman yang membagi kegiatan analisis menjadi 4 bagian, yaitu:

1. Pengumpulan data 2. Reduksi data 3. Penyajian data

4. Penarikan kesimpulan atau verifikasi data.22

Adapun prosesnya berlangsung secara sirkuler. Sebagai langkah awal dalam menganalisis data adalah melakukan reduksi data, dengan tujuan untuk memudahkan pemahaman terhadap data yang telah terkumpul. Proses reduksi dilakukan dengan cara pengumpulan data dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi, kemudian dipilih dan dikelompokkan berdasarkan kemiripan data.

Data yang telah dikategorikan tersebut kemudian diorganisir sebagai bahan penyajian data, setelah dilakukan reduksi, data disajikan secara

22

(32)

deskriptif yang didasarkan pada aspek yang diteliti. Dengan demikian dimungkinkan dapat mempermudah gambaran seluruhnya atau bagian tertentu dari aspek yang diteliti.

Langkah terakhir yang ditempuh dalam menganalisis data adalah menarik kesimpulan. Kesimpulan ini dibuat berdasarkan pada pemahaman terhadap data yang telah disajikan dan dibuat dalam pernyataan singkat dan mudah dipahami dengan mengacu pada pokok persoalan yang diteliti.

J. Sistematika Pembahasan

Untuk mendapatkan gambaran yang detail dan menyeluruh serta agar mudah dipahami, maka penelitian ini dibagi dalam beberapa bab yang disusun secara sistematis dan dibagi dalam lima bab. Adapun sistematika penulisan ini disusun sebagai berikut:

Bab pertama, berupa pendahuluan yang berisi tentang latar belakang munculnya permasalahan, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika penulisan. Dari bab ini akan tercermin ide-ide permasalahan mendasar yang menjadi fokus penelitian.

Bab kedua, berbicara tentang beberapa teori dasar tentang pendidikan kesehatan, konsep-konsep tentang pendidikan kesehatan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah, strategi pendidikan anak usia dini, dan teori-teori yang mendukung penelitian ini.

(33)

kurikulum pendidikan kesehatan, dan program-program yang berkaitan dengan pendidikan kesehatan, data guru dan murid, serta sarana dan prasarana yang ada di TK ABA Tegalsari.

Bab keempat, akan memaparkan hasil penelitian penulis, mengenai analisis pelaksanaan pendidikan kesehatan di TK ABA Tegalsari Yogyakarta, meliputi pemaparan tentang pelaksanaan pendidikan kesehatan, termasuk juga strategi dan metode belajar yang digunakan untuk melaksanakan pendidikan kesehatan, bagaimana perilaku murid dan guru secara keseluruhan di TK ABA Tegalsari.

(34)

94

HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

A. Pelaksanaan Pendidikan Perilaku Hidup Sehat di TK ABA

TK ABA Tegalsari merupakan salah satu TK yang telah

melaksanakan pendidikan kesehatan sejak awal mula didirikan yaitu pada

tahun 1985. Pendidikan yang dilakukannya adalah pembiasaan cuci tangan

dan membuang sampah pada tempatnya. Adapun untuk program PHBS

baru mulai disosialisasikan oleh Puskesmas Banguntapan tahun 2007

tepatnya saat akan dilakukan kegiatan lomba sekolah sehat. Pada tahun

2007 TK ABA Tegalsari juga mendapat pembinaan dari tim pembina

UKS tingkat kecamatan yang dulu pernah dilakukan setiap tiga bulan

sekali.

Kepala sekolah TK ABA Tegalsari, mengatakan:

“Alasan dilaksanakannya pendidikan kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ini adalah karena kesehatan sangat strategis untuk diajarkan pada anak usia dini. Selain itu bila anak sehat maka akan menunjang aktivitas pembelajaran”.1

Dalam pelaksanaannya TK ABA Tegalsari bekerjasama dengan

berbagai pihak, diantaranya dengan PKU Muhammadiyah dan puskesmas

Banguntapan, serta pemerintah daerah propinsi D.I. Yogyakarta. Bentuk

kerjasama dengan PKU Muhammadiyah adalah dalam bentuk

pemeriksaan fisik dan penimbangan berat badan serta tinggi badan yang

dilakukan pada murid-murid TK ABA setiap satu bulan sekali.

1

(35)

Sedangkan kerjasama yang dilakukan dengan puskesmas

Banguntapan diantaranya adalah pemeriksaan fisik, setiap enam bulan

sekali, dan pemeriksaan golongan darah. Adapun kerjasama dengan

pemerintah daerah yaitu berupa subsidi untuk pemberian makanan

tambahan yang dilakukan setiap seminggu tiga kali dengan dana

1300/anak, dan pelatihan kesehatan untuk kepala sekolah serta guru.

Selain itu juga ada kerjasama dengan rumah sakit Islam Hidayatullah

Yogyakarta dalam pemberian asuransi kesehatan kepada setiap anak yang

bersekolah.

1. Pelaksanaan Pendidikan PHBS oleh Guru di TK Tegalsari

Dari hasil wawancara dengan 12 guru yang ada di TK ABA,

diperoleh data bahwa pelaksanaan program PHBS dilakukan terintegrasi

dalam program-program pendidikan di TK ABA Tegalsari. PHBS ini

dilakukan secara terus-menerus guna mendapatkan perilaku yang baik

untuk kesehatan. Adapun pendidikan kesehatan yang selalu diajarkan oleh

TK ABA Tegalsari antara lain adalah: mencuci tangan, membuang sampah

pada tempatnya, BAB dan BAK di kamar mandi, makan makanan yang

bergizi, mandi, gosok gigi, potong kuku, berpakaian bersih dan rapi.

Berikut ini akan penulis jelaskan:

a. Pembiasan mencuci tangan

Pelaksanaan pembiasaan cuci tangan diawali dengan guru

menerangkan pentingnya menjaga kebersihan dengan melalui gerakan

(36)

Guru mendemonstrasikan cara cuci tangan yang baik dan benar dan

anak-anak diminta untuk menirukannya dan melakukannya setiap hari

agar dijadikan kebiasaan.

Setiap bel tanda istirahat berbunyi guru senantiasa mengajak

anak-anak untuk mencuci tangan sebelum makan. Ajakan yang

dilakukan biasanya sambil menyanyikan lagu “cuci tangan”, hal ini

karena anak-anak akan lebih senang dan mengerti jika disampaikan

melalui lagu. Selain itu juga pendidikan kesehatan dimasukkan dalam

tema “Kebutuhanku”.

b. Membuang sampah pada tempatnya

Anak diajarkan agar membuang sampah pada tempatnya. Di

setiap kelas disediakan dua tempat sampah, satu untuk sampah organic

dan satunya lagi untuk sampah non organik. tempat sampah organik

tutupnya diberi warna hijau sedangkan yang anorganik diberi warna

kuning. Hal ini untuk memudahkan anak memilah mana sampah yang

organik dan sampah yang non organik.

Kegiatan lainnya adalah membersihkan dan menjaga ruangan

kelas serta menata mainan. Ini sangat penting diajarkan kepada siswa

agar mereka senantiasa terbiasa hidup bersih dan rapi serta rasa

tanggungjawab untuk menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan

(37)

c. Gosok gigi

Kegiatan pertama kali yang dilakukan ketika mengajarkan

gosok gigi kepada anak adalah bagaimana cara menggosok gigi yang

baik dan benar. Kemudian setiap seminggu sekali yakni setiap hari

Rabu dilakukan gosok gigi bersama.

Kegiatan mengosok gigi ini sangat penting diberikan kepada

siswa agar mereka terbiasa menjaga kesehatan gigi dan mulut sehingga

dapat mencegah atau mengurangi resiko sakit gigi. Kegiatan gosok

gigi yang dilakukan seminggu sekali ini akan lebih baik jika dilakukan

setiap hari. Hal ini mengingat bahwa kegiatan makan snack dan makan

siang bersama juga dilakukan setiap hari. Jika gosok gigi dilakukan

setiap hari maka siswa akan terbiasa bahwa sesudah mereka makan

siang akan lebih baik mengosok gigi agar kuman-kuman tidak

bersarang di gigi mereka.

d. Tidak merokok

Pihak sekolah membuat peraturan bahwa setiap orang yang ada

di sekolah dilarang merokok tak terkecuali bagi orang tua dan tamu

yang datang. Hal ini sebagai upaya untuk mencegah bahaya yang

ditimbulkan oleh rokok baik bagi perokok aktif maupun bagi perokok

pasif.

Selain alasan kesehatan, alasan yang terpenting dari pelarangan

rokok adalah tidak memberikan contoh buruk pada anak. Karena

(38)

Larangan merokok sangatlah tepat diterapkan di setiap lembaga

pendidikan dan tak terkecuali di TK ABA Tegalsari ini. Semua pihak

yang berada di lingkungan sekolah haruslah bertanggungjawab

memberikan contoh yang baik kepada anak-anak, terutama guru dan

orang tua.2 Karena anak akan lebih mudah meniru orang-orang

terdekat dan orang-orang yang memiliki pengaruh. Maka setiap guru,

orang tua juga tamu harus dapat memberikan contoh yang baik pada

anak-anak.

e. Pemberian makanan bergizi

Masalah makan memang menjadi problem bagi anak-anak,

apalagi di masa sekarang ini di mana banyak makanan yang dijual

tidak memenuhi standar kesehatan. Banyak anak yang sulit untuk

makan di rumah dan mereka lebih suka jajan di luar, padahal makanan

tersebut belum tentu sehat dan bersih.

Kegiatan pemberian makan siang setiap hari di TK ABA ini

dapat membantu pemenuhan gizi anak. Sebagaimana yang

diungkapkan oleh salah satu wali siswa bahwa mereka sangat terbantu

sekali, karena jika di rumah anaknya sulit sekali untuk makan sayuran

dan lebih suka jajan. Selain itu anak jadi terbiasa untuk makan sendiri

2

(39)

tanpa harus disuapi juga sudah bisa cuci piring sendiri, karena setelah

makan dibiasakan cuci piring sendiri-sendiri. 3

Pemberian makanan ini sudah baik, namun yang perlu

dilakukan lagi adalah variasi dan cara penyajiannya agar anak tidak

bosan. Hal lain yang harus diperhatikan adalah kandungan gizinya

harus seimbang juga cara memasaknya agar kandungan gizinya tetap

terjaga.

f. BAB dan BAK di kamar mandi

Kegiatan ini diajar kepada anak sejak awal masuk. Anak-anak

ditunjukkan letak kamar mandi/WC, cara mengalirkan air juga cara

menyiram WC jika mereka BAB atau BAK. Hal ini menjadikan siswa

tidak lagi sembarangan jika BAB dan BAK serta dapat

membersihkannya sendiri tanpa harus dibantu oleh guru atau orang

tua.

g. Memotong kuku dan menyikat sepatu dan membersihkan pakaian

Setiap hari Sabtu guru mengingatkan dan menyuruh anak-anak

untuk memotong kuku, menyikat sepatu serta mencuci pakaian sendiri

di hari Minggu. Cara yang digunakan bisa melalui nyanyian atau lagu.

Misalnya guru dan murid bernyanyi bersama-sama tentang tugas di

hari Minggu.

Pada hari Seninnya guru memeriksa kuku anak. Jika ada anak

yang belum memotong kuku biasanya guru memotongnya atau

3

(40)

menegurnya dan berkomunikasi dengan orang tua. Begitu pula pakaian

anak diperiksa kerapihannya.

2. Program Kesehatan TK ABA Tegalsari

TK ABA Tegalsari memiliki program khusus yang dibuat untuk

meningkatkan kesehatan peserta didik. Adapun program kesehatan

tersebut adalah:

a. Pemeriksaan kesehatan anak oleh Pusat Kesejahteraan Umat (PKU)

Muhammadiyah Berbah

Pemeriksaan kesehatan dilakukan sekali dalam sebulan setiap

minggu kedua. Pemeriksaan kesehatan ini mencakup: pemeriksaan

fisik seperti kebersihan rambut, kesehatan mata, telinga, hidung,

kebersihan kulit,mulut dan gigi serta pernafasan. Selain itu juga ada

pemeriksaan tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala. Hasil dari

pemeriksaan tersebut didokumentasikan dalam buku catatan kesehatan

anak, kemudian diinformasikan kepada orang tua. Apabila ada keluhan

kesehatan maka pihak PKU Muhammadiyah kemudian memberikan

surat rujukan langsung yang disampaikan kepada orang tua agar

ditindak lanjuti.

Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh TK ABA

Tegalsari ini sudah cukup baik. Karena selain dilakukan oleh pihak

lembaga sendiri juga adanya kerjasama dengan Pusat Kesejahteraan

Umat (PKU) Muhammadiyah Berbah. Hal ini lebih mudah dalam

(41)

dilakukan oleh penyelenggara kesehatan yang berkompeten. Selain itu

catatan atau dokumentasi riwayat kesehatan dari setiap siswa ini dapat

membantu menjaga kesehatan dan mencegah terserangnya penyakit

yang lebih parah.

b. Pemeriksaan kebersihan anak oleh guru setiap satu minggu sekali

Setiap hari Sabtu guru selalu menganjurkan murid-muridnya

untuk melaksanakan perawatan diri. Perawatan diri tersebut meliputi:

memotong kuku, membersihkan telinga, mencuci seragam dan sepatu,

membantu orang tua, dan perawatan kebersihan lainya.

Pada hari Seninnya diadakan pemeriksaan kesehatan umum

oleh guru. Adapun pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan

kuku, rambut, mata, hidung, mulut, telinga yang hasilnya juga akan

didokumentasikan ke dalam buku pemeriksaan kesehatan.

Pemeriksaan kesehatan anak yang dilakukan guru di TK ABA

ini sangat penting dilakukan agar kesehatan anak senantiasa terjaga.

Begitupula dokumentasi dari pemeriksaan tersebut untuk menganalisa

kesehatan anak dan sebagai bahan untuk laporan kepada orang tua.

c. Seminggu satu kali gosok gigi bersama di sekolah

Kegiatan gosok gigi ini dilakukan secara terjadwal setiap

seminggu sekali, pelaksanaan ini dilakukan bersama-sama oleh murid,

setelah makan siang. Adapun alat yang dibutuhkan seperti pasta gigi

(42)

diberi nama masing-masing siswa untuk menghindari adanya infeksi

silang.

Dengan disediakannya alat gosok gigi masing-masing siswa

dapat menghindari berebutnya siswa serta penularan penyakit dari

siswa pada siswa lainnya. Ini sudah tertib namun masih perlu

pengawasan karena terkadang siswa walau sudah ada masing-masing

masih saja berebut dan menggunakan milik orang lain.

d. Sebulan satu kali minum susu bersama di sekolah

Kegiatan minum susu dilakukan seminggu sekali. Menu susu

terkadang diselingi dengan pemberian menu kacang hijau kepada anak.

Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan tambahan asupan gizi anak,

sehingga dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan anak.

e. Jalan sehat bersama setiap minggu ke-4

Jalan sehat dilakukan bersama-sama mengelilingi lingkungan

sekolah dan didampingi oleh guru kelas masing-masing. Kegiatan ini

bertujuan agar anak-anak lebih mengenal lingkungan sekitar

sekolahnya. Biasanya guru memberikan pengarahan dan terkadang

juga muncul pertanyaan-pertanyaan dari anak.

f. Renang setiap sebulan sekali, dilakukan pada akhir bulan

Kegiatan renang dilakukan setiap bulannya satu kali. Tepatnya

pada akhir bulan dengan menggunakan fasilitas kolam renang umum

yang ada di dekat lingkungan TK ABA. Kegiatan renang ini sangat

(43)

g. Setiap 2 kali (tiap semester) ada pemeriksaan dari puskesmas

Setiap enam bulan sekali puskesmas Banguntapan melakukan

kunjungan ke TK ABA Tegalsari. Kegiatan yang dilakukan

diantaranya adalah pemeriksaan fisik, penimbangan berat badan dan

tinggi badan, pemberian kapsul vitamin A dan juga pemberian obat

cacing.

3. Pendidikan Kecakapan Hidup

Selain program kesehatan, TK ABA Tegalsari juga merencanakan

program pendidikan kecakapan hidup. Pendidikan kecakapan hidup

terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran bidang pembiasaan. Tujuannya

agar anak mampu mandiri, dapat menjaga kebersihan diri sendiri, menjaga

kesehatan diri sendiri, mampu mengerjakan tugas sendiri/mandiri. Hal ini

dapat dilihat dengan anak sudah dapat gosok gigi sendiri, makan sendiri,

memakai pakaian sendiri, mengenali dan menghindari obat-obat

berbahaya.

Pendidikan kecakapan hidup ini sangat penting ditanamkan pada

anak agar mereka dapat hidup mandiri dan tidak tergantung pada orang

lain. Kemandirian ini merupakan salah satu kecakapan yang harus

ditanamkan pada anak sejak usia dini.

4. Indikator Pelaksanaan PHBS di TK ABA Tegalsari dan Analisisnya Setelah melakukan observasi dan wawancara mendalam selama

tiga bulan berturut-turut maka didapat hasil pelaksanaan dari PHBS di TK

(44)

a. Kebersihan pakaian dan personalia

Umumnya anak-anak murid TK ABA Tegalsari berpenampilan

rapi dengan seragam yang bersih, dan kulit bersih, menggunakan alas

kaki, baju disetrika rapi. Saat dilakukan bincang-bincang dengan salah

satu anak yang bernama Fera (nama disamarkan), mengatakan bahwa

ia mandi setiap hari dua kali sehari, pagi saat akan sekolah dan sore

hari, dengan menggunakan sabun, dan gosok gigi saat mandi. Ia juga

mengatakan sudah bisa mandi dan mengenakan pakaian sendiri.4

Ini menunjukan bahwa hidup bersih dan sehat sudah menjadi

kebiasaan sehari-hari. Selain itu juga anak sudah belajar mandiri, ini

terbukti dengan mereka sudah bisa mandi sendiri.

Kuku anak sudah tampak bersih dan dipotong, ini menunjukan

bahwa mereka sudah terjaga kesehatan kukunya. Hal ini menunjukan

sudah ada kesadaran baik dari orang tua, guru maupun siswa akan

pentingnya menjaga kesahatan kuku.

Selain itu anak-anak juga terlihat aktif dan ceria. Hal ini dapat

terjadi jika kesehatan anak tidak terganggu. Karena jika anak sakit

maka mereka tidak lagi aktif bergerak dan tidak ceria.

b. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan

Cuci tangan merupakan salah satu kegiatan yang dapat

memutuskan mata rantai penularan penyakit. Mencuci-tangan dengan

memakai sabun yang tepat dapat mengurangi resiko diare, flu burung,

4

(45)

pneomonia dan penyakit menular lainnya. Jadi cuci tangan merupakan

salah satu bentuk pendidikan yang harus ditanamkan pada anak usia

dini, mengingat masa anak-anak adalah masa di mana anak sangat aktif

terhadap berbagai jenis kegiatan rentan terhadap penyakit.

Kegiatan cuci tangan di TK ABA Tegalsari dilakukan setiap

hari sebagai pembiasaan. Guru senantiasa memerintahkan

murid-muridnya untuk cuci tangan setiap sebelum dan sesudah makan, atau

setelah menggunakan krayon, lem kertas, cat atau beraktivitas lainnya.

Selain itu juga menyediakan tempat cuci tangan (washtafel) yang dilengkapi serbet, air bersih yang mengalir serta sabun cuci tangan.

Mencuci tangan tersebut merupakan program pembiasaan

setiap harinya di TK ABA. Pembiasaan cuci tangan juga disisipkan

dalam tema pembelajaran seperti pada tema “Diriku”. Selain itu TK

ABA juga melaksanakan makan siang bersama dan mengajarkan untuk

mencuci piring masing-masing setelah makan siang.

Namun sayangnya anjuran cuci tangan tidak disertai dengan

pengawasan pelaksanaanya oleh guru sehingga kegiatan cuci tangan

tidak terkontrol dengan baik. Pada saat observasi peneliti menemukan

dalam satu kelas setidaknya ada 3 orang anak yang tidak mencuci

tangan sebelum makan, 6 orang anak melakukan cuci tangan hanya

sekedar membasahi tangannnya dengan air tanpa memakai sabun.

Selain itu guru ataupun petugas kebersihan terkadang lupa untuk

(46)

Saat dikonfirmasi pada Ibu S (nama disamarkan) seorang guru

kelas B2, beliau mengatakan:

“Memang seharusnya kegiatan cuci tangan dipantau langsung oleh guru kelas namun karena kesibukan saya yang juga merangkap sebagai bendahara, membuat saya tidak sempat untuk memperhatikan kegiatan cuci tangan, dan untuk pengadaan fasilitas untuk cuci tangan seperti sabun dan serbet itu seharusnya petugas kebersihan harus lebih tanggap.”5

Pada saat peneliti mengklarifikasi guru kelas yang lain yaitu

pada Ibu R (nama disamarkan), beliau mengatakan:

“Dirinya tidak terlalu sibuk namun hanya sedikit lalai untuk mengawasi langsung kegiatan cuci tangan, dan penyediaan fasilitas untuk cuci tangan sudah disiapkan di setiap kelas dan menjadi tanggung jawab guru kelas masing-masing!”.6

Hal ini menunjukan belum adanya koordinasi yang tegas pada

kegiatan mencuci tangan. Sehingga perlu adanya kontrol dari guru atau

petugas kesehatan lainnya atau pembagian tugas untuk mengawasi

anak cuci tangan agar pelaksanaan cuci tangan dapat berjalan dengan

baik dan sesuai dengan standar kesehatan.

c. Menggosok gigi bersama

Pelaksanaan gosok gigi dilakukan setiap satu minggu sekali.

Setiap kelas memiliki jadwal sendiri-sendiri dalam pelaksanaan sikat

gigi. Pelaksanaan gosok gigi ini biasanya dilakukan pada siang hari

setelah makan siang, dengan didampingi oleh guru kelas

masing-masing. Namun dalam pelaksanaannya, gosok gigi ini terkadang tidak

5

Hasil: wawancara dengan Ibu S (nama disamarkan), selaku wali kelas B2, tanggal 7 April 2011

6

(47)

dilakukan secara terjadwal dikarenakan adanya kegiatan lain yang

harus dikerjakan oleh guru. Selain itu pelaksanaan gosok gigi juga

tidak disertai dengan cara menyikat gigi dengan benar oleh guru

menurut salah seorang guru hal ini dikarenakan tidak adanya alat

peraga.7

Hal demikian menuntut adanya alokasi waktu yang lebih tepat

dan penjadwalan ulang, atau akan lebih baik lagi jika kegiatan gosok

gigi tersebut tidak hanya dilakukan seminggu sekali tapi setiap hari

setelah makan siang. Ini karena banyak anak yang memiliki gigi

keropos dan berwarna kuning.

d. Membuang sampah pada tempatnya

Dalam setiap kelas disediakan dua tempat sampah di depan

kelasnya. Pelaksanaan buang sampah pada tempatnya terlihat sangat

tertib, karena setiap anak umumnya sudah terbiasa membuang sampah

pada tempatnya tanpa disuruh oleh guru. Guru senantiasa

mengingatkan anak untuk membuang sampah pada tempatnya.

Ini menunjukan bahwa anak sudah mengetahui dan terbiasa

untuk membuang sampah pada tempatnya serta dapat memilahnya

antara yang organik dan yang non organik. Kebiasaan anak membuang

sampah pada tempatnya juga bias dilihat kebiasaan anak ketika berada

di rumah ataupun di tempat-tempat umum.

7

(48)

e. Larangan merokok di lingkungan sekolah

Saat melakukan oservasi tidak terdapat karyawan, guru, murid

maupun wali murid yang merokok di lingkungan sekolah. Bila ada

yang merokok maka akan ditegur oleh petugas kebersihan dan penjaga

sekolah. Pihak TK membuat peraturan yang melarang karyawan, guru

dan wali murid untuk merokok di lingkungan sekolah. Pihak sekolah

juga memasang poster-poster tentang bahaya rokok. Hal ini agar siswa

tahu bahaya rokok baik bagi mereka yang aktif ataupun yang pasif.

Materi pembelajaran tentang rokok oleh beberapa guru TK juga

dimasukkan dalam tema kasuistik yang dibaurkan ke dalam

pembelajaran.

f. Penimbangan berat badan dan tinggi badan

Penimbangan berat badan dan tinggi badan serta pemeriksaan

fisik lainnya dilaksanakan setiap satu bulan sekali oleh tim kesehatan

dari PKOR Muhammadiyah. Badan tim kesehatan juga memeriksa

keadaan fisik anak seperti pemeriksaan kesehatan mata, telinga, gigi

dan mulut, kulit, hidung. Bila terjadi gangguan kesehatan maka tim

kesehatan akan memberikan surat rujukan kepada guru dan ditindak

lanjuti oleh orang tua.

Selain itu setiap murid di TK ABA memiliki asuransi

kecelakaan dari RS Islam Hidayatullah. Satu tahun sekali ada

pemeriksaan kesehatan dari puskesmas Banguntapan. Setiap

(49)

diantaranya pemeriksaan kuku, pakaian, rambut, kebersihan kulit dan

telinga Hasil pemeriksaan didokumentasikan dalam buku kesehatan

yang sudah terorganisir dengan baik.

Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan sangat

penting dilakukan untuk mengetahui perkembangan anak. Sehingga

masing-masing anak akan dapat diketahui apakah perkembangannya

baik atau mengalami hambatan dan perlu dilakukan tindakan yang

lebih serius.

g. Makan siang bersama

Kegiatan makan siang bersama dilaksanakan setiap hari Senin

sampai Kamis dengan menu yang berbeda, dan setiap hari Jumat

makan snack serta hari Sabtu makan buah. Menurut Ibu U selaku guru

kelas B1 mengatakan :

“Alasan dari kegiatan makan siang bersama adalah untuk melatih anak-anak agar bisa mandiri, makan sendiri tidak disuapi lagi dan mencuci piring sendiri, di samping itu agar anak menyukai makanan sayuran atau buah-buahan dan juga agar anak tidak terbiasa jajan di luar.”8

Kegiatan makan siang bersama mendapat apresiasi dari

beberapa wali murid, menurut salah seorang dari wali murid di TK

ABA mengatakan:

“Pemberian makanan siang bersama di sekolah ini sangat membantu orang tua, anak saya biasanya di rumah tidak suka sayur, karena di sekolah disediakan sayuran maka kebutuhan anak akan sayuran bisa terpenuhi, selain itu anak jadi terbiasa

8

(50)

untuk makan sendiri, dan sudah bias cuci piring sendiri, karena di sekolah dibiasakan cuci piring sendiri.”9

h. Olahraga teratur

Olahraga di TK ABA dilakukan setiap hari Selasa sampai

Kamis, di mana dilakukan pada pukul 07.30 sebelum masuk ke kelas

dan dibimbing oleh guru kelas masing-masing. Olahraga yang

dilakukan menggunakan iringan musik dari kaset. Secara keseluruhan

guru dan murid melakukan senam dengan iringan musik yang ceria.

Olahraga ini perlu dilakukan, karena dapat meningkatkan

kesehatan anak juga memperbaiki dan meningkatkan semangat belajar

anak di kelas. Jika anak-anak penuh kebahagiaan dan keceriaan maka

mereka akan lebih mudah mengikuti pelajaran dan lebih aktif serta

kreatif.

i. Memberantas jentik nyamuk

Pemberantasan jentik nyamuk belum dilakukan oleh TK ABA

Tegalsari. Menurut salah satu guru yang bertugas sebagai pemegang

UKS mengatakan pemberantasan jentik nyamuk tidak dilakukan

karena tidak adanya wabah di lingkungan TK, dan bak mandi di TK ini

menggunakan ember yang mudah dibersihkan.10

Kegiatan menguras bak mandi tidak harus dilakukan setiap

minggu karena kamar mandi di TK ABA hanya menggunakan ember

9

Sumber: wawancara dengan Ibu I (nama disamarkan), wali murid dari Bimo Prasojo kelas B2, Tanggal 13April 2011.

10

(51)

yang setiap saat bisa dibersihkan dan dikosongkan airnya. Ini dapat

mempermudah dan menghemat tenaga dalam membersihkannya.

j. Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah

Di TK ABA belum disediakan kantin sekolah karena tidak

adanya karyawan dan selain itu anak-anak juga sudah diberikan snack

dan dibiasakan tidak jajan di sekolah. Namun berdasarkan hasil

observasi dan juga wawancara dengan guru kelas, kurang lebih ada 3-4

anak yang masih jajan sembarangan di luar.

Kejadian seperti ini perlu dilakukan penanganan dari semua

pihak, baik oleh pihak sekolah, orang tua maupun masyarakat. Karena

kebanyakan jajanan yang dijajakan penjual keliling tidak memenuhi

standar kesehatan atau tidak terjamin kesehatan serta kebersihannya

apalagi nilai gizinya. Bahkan diperparah lagi bahan-bahan yang

digunakan banyak yang mengandung zat-zat yang berbahaya seperti

pewarna, penyedap dan pemanis butane. Padahal zat-zat tersebut

sangat berbahaya dan dapat menimbulkan penyakit serta menghambat

perkembangan kecerdasan anak.

5. Sarana dan Prasarana yang Menunjang Pendidikan Kesehatan a. Gedung sekolah

Ruang kelas, lantai, meja, dinding kelas dilapisi dengan

keramik dan langit-langit bersih. Sarana belajar seperti meja dan kursi

tidak dicoret-coret, ventilasi baik tidak pengap dan lembab,

(52)

bantun penerangan lain bila cuaca terang, langit-langit dan dinding

kuat, penataan ruang dan alat-alat pembelajaran masih harus dibenahi

agar lebih terlihat rapi.

b. Halaman sekolah

Kondisi halaman sekolah TK ABA tampak kurang bersih,

dengan adanya daun-daun yang bertebaran, selain itu halaman kurang

tertata rapi, tanaman hias kurang terawat. Menurut Ibu Il, salah

seorang guru kelas B3 mengatakan:

“Kebersihan lingkungan di TK ABA Tegalsari sudah mulai menurun, hal ini diperlukan kembali motivasi dan penyemangat untuk mengembalikan semangat untuk melaksakan kebersihan lingkungan seperti gotong royong yang sudah lama tidak dilakukan.”11

Tidak ada genangan air, halaman bebas dari bangunan,

tumbuhan yang berbahaya, terdapat tanaman perindang seperti pohon

rambutan, dan pohon melinjo. Bagian tengah halaman dipergunakan

untuk upacara bendera, senam pagi dan bermain, juga tersedia saluran

pembuangan air yang berfungsi dengan baik.

c. Sumber air bersih

Persediaan air di TK ABA Tegalsari berasal dari sumur dan

PAM. Hasil pemeriksaan dari laboratorium sampel air bersih pada

tanggal 28 Februari 2008 oleh dinas kesehatan Bantul, menunjukan

bakteri Esteriacoli dalam 100 ml sampel air adalah lebih dari 1898, dimana batas normalnya adalah 50. Hasil pemeriksaan di lab ini

11

(53)

menunjukkan bahwa air yang ada tidak layak untuk dikonsumsi,

sedangkan air yang berasal dari PAM secara kimia tidak memenuhi

standar air bersih karena berasa kaporit.

d. Tempat cuci tangan

Tempat cuci tangan terdapat di lantai atas dan bawah. Terbuat

dari bahan anti karat dan mudah dibersihkan. Namun tempat cuci

tangan tersebut sedikit kotor dan berlumut dan terkadang tidak

dilengkapi dengan sabun dan lap tangan. Hal ini akan mengurangi

kenyamanan dan dapat menimbulkan penyakit bagi anak-anak. Maka

dari itu pihak sekolah melalui petugas kebersihannya seharusnya

senantiasa membersihkannya dan memeriksa kelengkapannya.

e. Kamar mandi dan jamban

Kondisi kamar mandi nampak kotor dan berdebu, terdapat

jamban dengan jenis Jamban tangki septik/leher angsa, bak mandi

terbuat dari ember, lantai terbuat dari keramik, pencahayaan kurang,

harus di bantu penerangan lampu. Menurut Ibu N, salah seorang wali

murid TK ABA Tegalsari mengatakan:

“Jamban sering kali berbau pesing dan nampak kotor hal ini dikarenakan seringnya anak-anak BAB dan BAK di kamar mandi disiram seadanya oleh anak!”12

Jamban berjarak 10 meter dari sumur. Kamar mandi (WC) ada

4 buah. dua buah di lantai bawah, dan dua buah di lantai atas. Tersedia

air bersih yang selalu mengalir dan bebas dari jentik nyamuk, lantai

12

(54)

sedikit berlumut walau tidak ada air yang tergenang dan tidak licin.

Terkadang juga menimbulkan bau pesing. Dindingnya tidak

dicoret-cotet.

Adapun air bersih ditampung dalam ember, tidak kotor dan

tidak ada jentik nyamuk. saluran jambannya lancer dan tidak

tersumbat dan dapat dipakai dengan baik. Karena cahaya matahari

tidak masuk ke dalam maka untuk penerangan di lengkapi cahaya

lampu, sehingga semua yang ada di dalam ruangan dapat dilihat jelas.

Langit-langit dinding dan pintunya masih kuat dan rapi.

Jarak sumber air minum dengan lubang penampungan kurang

lebih delapan meter. Kotoran tidak dijamah oleh serangga atau tikus,

mudah dibersihkan dan aman digunakan. Lantai kedap air dan luas

ruangan memadai, persediaan air bersih mencukupi kebutuhan. Namun

perlengkapan kurang terawat baik, kotak sabun terkadang diletakkan di

lantai walau peralatan kamar mandi tidak membahayakan. Adapun

kotoran dari jamban di salurkan langsung ke septik tank.

f. Pembuangan sampah

Di setiap kelas disediakan dua tempat sampah syarat kesehatan

antara lain, bebas lalat dan serangga. Jika telah penuh sampah-sampah

tersebut selanjutnya dipindahkan ke bak/penampungan sampah,

sehingga tidak menimbulkan bau karena letaknya di luar gedung

sekolah (kelas, warung sekolah dan lain-lain). Tempat pembuangan

(55)

minimal 10 meter), dan setiap hari diangkut ke tempat pembuangan

sampah oleh petugas kebersihan.

g. Pembuangan air limbah

Ada saluran air hujan dan air limbah yang lancar dan tidak tergenang,

air limbah tidak mencemari sumber air bersih, tempat penampungan

tidak menimbulkan bau atau sarang nyamuk, dan letaknya jauh dari

dari sumber air bersih (jarak kurang lebih 8 meter) dari gedung

sekolah.

h. Pagar sekolah

Pagar sekolah terbuat dari besi. Pagar tersebut berfungsi untuk

menjaga keamanan anak-anak karena sekolah tersebut terletak di

pinggir jalan. Pintu pagar dikunci sehingga dapat berfungsi dengan

baik dan kuat. Pagar dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada bagian

yang membahayakan anak-anak dan pagar terawat dengan baik, bersih

dan serasi.

i. UKS

TK ABA Tegalsari memiliki dua ruang UKS yaitu di lantai atas

dan lantai bawah. UKS tersebut dilengkapi dengan fasilitas yang

mendukung kegiatan UKS seperti: obat-obatan untuk penyakit ringan,

tempat tidur pasien, alat pengukur tinggi badan dan berat badan, meja

periksa,. Lebih jelasnya benda-benda apa saja yang ada di UKS

tersebut penulis cantumkan di bagian lampiran. Namun UKS tersebut

(56)

Penulis memperoleh catatan untuk beberapa kegiatan UKS yang

pernah dirancang dan dilaksanakan pada tahun 2007. Namun

kegiatan-kegiatan tersebut kini sudah tidak pernah dilaksanakan lagi.

Kgiatan-kegiatan tersebut diantaranya adalah Kgiatan-kegiatan dokter cilik, kerja bakti,

peningkatan gizi guru, pelaksanaan piket perawatan tanaman dan

daftar piket kebersihan kamar mandi.

B. Metode dan Strategi Penanaman Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di TK ABA Tegalsari

Adapun pembelajaran tentang pendidikan kesehatan dilakukan melalui

beberapa metode pembelajaran diataranya yaitu:

1. Metode Pendidikan Kesehatan oleh Guru di TK ABA Tegalsari a. Metode bercerita

Metode bercerita merupakan salah satu metode yang banyak

dipergunakan di TK, Metode bercerita merupakan salah satu

pemberian pengalaman belajar bagi anak dengan membawakan cerita

kepada anak secara lisan.13 Adapun cerita-cerita yang diberikan oleh

guru-guru TK ABA diambil langsung dari buku-buku cerita bergambar

dengan menggunakan teknik ilustrasi gambar dari buku cerita tersebut.

Misalnya buku yang berjudul Penjaga Higenitas Umat Manusia yang

berisi tentang pentingnya menjaga kesehatan. Adapula bercerita

dengan menggunakan papan flannel, misalnya tentang bagaimana

13

(57)

membuang sampah pada tempatnya. Teknik bercerita lainnya adalah

dengan menggunakan media boneka atau tanpa menggunakan media

lainnya tapi hanya berupa pengalaman.

Cara-cara bercerita yang dilakukan guru ini adalah sebagai

usaha agar menarik perhatian anak sehingga anak merasa senang,

gembira, dan ceria sehingga paham dan tahu isi dari cerita tersebut.

Dengan demikian maka akan mudahuntuk mencapai tujuan dari

pembelajaran..

b. Metode pembiasaan

Ibu S, salah satu guru yang ada di TK ABA mengatakan:

“pendidikan kesehatan dilaksanakan dengan metode pembiasaan. Metode ini dimaksudkan agar anak terbiasa melakukan pembiasaan hidup bersih dan sehat. Dengan metode ini diharapkan dapat tetap dilestarikan pelaksanaannya di rumah ataupun di manapun anak berada.14

Bentuk-bentuk pembiasaan yang dilakukan di TK ABA

Tegalsari diantaranya adalah: pembiasaan cuci tangan sebelum dan

sesudah makan, memotong kuku, memakan sayuran, dan mencuci

piring setelah makan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan setiap

hari, namun kurang pengawasan dari guru.

c. Metode demonstrasi

Metode demonstrasi adalah metode pembelajaran yang

dilaksanakan dengan cara memperlihatkan bagaimana proses

terjadinya atau cara sesuatu, dan bagaimana tugas-tugas tersebut

14

(58)

dilaksanakan.15 Metode demonstrasi yang digunakan oleh guru TK

ABA biasanya untuk mengajarkan cara mengosok gigi, cara mandi

yang benar, cara memakai pakaian, cara mencuci tangan dengan benar,

cara mencuci piring, cara membuang sampah pada tempatnya, cara

makan yang benar.

Ibu R selaku guru dikelas B4, mengatakan:

Metode demonstrasi ini biasanya dilakukan bagi anak-anak pada semester pertama dan anak-anak yang baru masuk sekolah yang belum mengerti dan paham tentang kemandirian.16

Dari apa yang dikatan guru di atas, metode demonstrasi

digunakan diawal-awal pembelajaran. Hal ini untuk mengajarkan

bagaimana seharusnya berperilaku hidup bersih, sehat dan mandiri.

Karena ternyata banyak diantara siswa-siswa yang masih belum bias

mandi sendiri. Metode ini sangat efektif sehingga diharapkan setelah

pembelajaran siswa dapat menerapkannya di rumah dan dapat mandiri.

d. Metode bercakap-cakap

Bercakap-cakap mengandung arti belajar mewujudkan

kemampuan berbahasa reseptif dan ekspresif, anak mengembangkan

bermacam kosakata dalam berbagai tema yang akan memacu

perkembangan berbagai aspek perkembangan anak17.

Metode bercakap-cakap ini digunakan oleh guru-guru TK

ABA untuk memulai pembelajaran, misalnya menanyakan apakah

15

Moeslichatoen, Metode Pengajaran, hlm.108. 16

Wawancara dengan Ibu R, guru dikelas B4, Tgl 9/3/2011 17

(59)

anak-anak hari ini sudah mandi atau sarapan, sarapan dengan

mengunakan lauk apa dan siapa yang sudah bisa mandi sendiri ?.

Metode bercakap-cakap berfungsi untuk berbagi pengalaman diantara

siswa.

e. Karyawisata

Karya wisata merupakan salah satu metode melaksanakan

kegiatan pembelajaran di taman kanak-kanak dengan cara mengamati

dunia sesuai dengan kenyataan yang ada secara langsung yang

meliputi manusia, hewan, tumbuhan dan benda-benda lainnya.18

Adapun kegiatan karya wisata yang pernah dilakukan di TK

ABA Tegalsari diantaranya adalah karya wisata ke Taman pintar dan

juga mengunjungi dokter gigi. Kegiatan karya wisata ini akan lebih

menambah pengalaman belajar anak, sehingga mereka semakin yakin

dengan apa yang dipelajari di kelas bersama guru.

f. Motode bernyayi

Kegiatan bernyanyi adalah kegiatan yang menyenangkan bagi

anak. Pengalaman bernyanyi ini memberikan kepuasan kepada anak.

Selain itu bernyanyi juga merupakan alat bagi anak untuk

mengungkapkan pikiran dan perasaannya.19

Hasil wawancara dengan salah satu guru di TK ABA Tegalsari

yaitu Ibu I salah satu guru kelas B3 mengatakan:

18

Ibid,, hlm. 68 19

(60)

Bengan mengunakan metode bernyanyi, anak-anak akan lebih mudah mengingat pelajaran kesehatan yang kami masukkan ke dalam lagu tersebut.20

Adapun nyanyian yang dilakukan secara bersama-sama

diantaranya: aku anak sehat, tugas hari Minggu, cuci tangan sebelum

makan. Dengan bernyanyi akan lebih memudahkan anak hafal, tahu

dan memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Selain itu dengan

bernyanyi anak-anak akan lebih riang dan gembira serta ceria.

2. Strategi pembelajaran pendidikan kesehatan di TK ABA Tegalsari Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang

berisi tentang kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan

tertentu. Setelah melihat proses pembelajaran yang dilakukan di TK ABA

Tegalsari dari aspek metode dan pendekatan yang digunakan adalah:

a. Strategi ekspositori

Strategi ekspository adalah pembelajaran yang menekankan kepada peroses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru

kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa menguasai

materi pembelajaran secara optimal.21

Salah seorang guru kelas B1 TK ABA Tegalsari mengatakan:

“Strategi ini dilakukan oleh guru pada saat anak pertama kali masuk ke TK ABA, untuk memberikan pembelajaran yang belum dipahami oleh anak, misalnya saat mengajarkan pentingnya makan-makanan yang bergizi, menerangkan kegunaan istirahat bagi tubuh kita.22

20

Wawancara dengan Ibu I, selaku guru kelas B3, tanggal 27 Mei 2011. 21

Hamruni, Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif dan Menyenangkan, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2009), hlm. 117.

22

Gambar

Grafik anak sakit
Grafik anak sakit

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu faktor yang membuat tidak adanya pengaruh pendidikan kesehatan tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan metode ceramah terhadap pengetahuan dan sikap pada

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DENGAN METODE CERAMAH TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP PADA ANAK PANTI ASUHAN KELUARGA YATIM MUHAMMADIYAH

Tujuan umum dari penelitian yaitu mengetahui fasilitas penunjang serta pelaksanaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada murid sekolah dasar yang mempunyai

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Anak Sekolah Dasar di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Anak Sekolah Dasar di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan

Indonesia NOMOR : 2269/MENKES/PER/XI/2011Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).. Jakarta:

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat

ABSTRAK Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan penyadaran melalui Edukasi PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pasca Bencana Kesehatan Covid-19 Masyarakat Desa Condongcatur Sleman