• Tidak ada hasil yang ditemukan

Development of a Problem Based Learning

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Development of a Problem Based Learning"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Development of a Problem-Based Learning Model Via a Virtual Learning Environment (Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Melalui Virtual Lingkungan Belajar)

1. Latar Belakang

Menurut Oxford University Press, virtual learning environment (VLE) adalah sistem untuk pengiriman materi pembelajaran kepada siswa melalui web. Sistem ini termasuk penilaian dan fitur pelacakan siswa, juga sebagai alat kolaborasi dan komunikasi. Mereka bisa menjadi diakses baik di dalam maupun di luar kampus, artinya sistemnya dapat mendukung pembelajaran siswa bahkan di luar ceramah aula, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Mereka mempertimbangkan bermain dan kesenangan dalam hubungannya dengan aspek-aspek pekerjaan, pembelajaran, dan sosialisasi. Ini menyangkut permintaan untuk komunikasi yang cepat, kemampuan mencari informasi dan menjawab pertanyaan, dan penciptaan inovasi untuk segala sesuatu dalam hidup. Oleh karena itu, hubungan antara jaringan sosial belajar dan keterampilan abad ke-21 telah terbukti dan VLEs menawarkan peningkatan potensi untuk menyelesaikan pendidikan saat ini.

2. Masalah

a. Untuk mempelajari situasi dan permasalahan tradisional belajar dalam rangka merestrukturisasi pengembangan sebuah model pembelajaran berbasis masalah untuk menggabungkan virtual lingkungan belajar bagi mahasiswa S1 kursus Fotografi untuk Komunikasi Seni.

b. Mengembangkan, memperbaiki dan mendapatkan pengakuan atas pembelajaran berbasis masalah melalui lingkungan belajar virtual model.

c. Untuk menganalisis hasil penerapan berbasis masalah belajar melalui model pembelajaran virtual.

3. Metode Penelitian

Bagian metodologi telah disajikan dalam sebuah tabel format untuk memudahkan visualisasi dan pemahaman tentang 3 fase dalam penelitian

4. Hasil Penelitian

Peneliti menemukan bahwa hasil Fase 1 menunjukkan bahwa siswa merasa sulit untuk tertarik dalam materi pembelajaran dan kursus di kelas. Namun, kepentingan siswa terusik setelah diimplementasikan dari model, siswa dilatih untuk mencari jawaban pertanyaan mereka sendiri. Dengan menggunakan model ini, siswa terpaksa mencari jawaban sendiri dan, dengan demikian, mampu mempertahankan apa yang mereka pelajari lebih lama. Ada berbagai jenis pelajaran untuk memotivasi siswa belajar, Internet menyediakan siswa dengan kesempatan untuk berinteraksi dengan dosen dan lainnya. Selanjutnya, hal ini

(2)

mengurangi keterbatasan yang terkait dengan tempat dan waktu. Kerangka konseptual untuk pengembangan pembelajaran berbasis masalah melalui pembelajaran virtual Model lingkungan

Kelas dibagi menjadi 2 kelompok yang terdiri dari: belajar virtual kelas lingkungan dan kelas normal, dengan kelas normal bertindak sebagai variabel kontrol. Penelitian menemukan perbedaan kemampuan belajar antara dua. Siswa di kelas memanfaatkan pembelajaran berbasis masalah melalui lingkungan belajar virtual yang diterima semakin tinggi skor belajar rata-rata dengan signifikansi statistik 0,05 bila dibandingkan dengan siswa yang melakukan masalah berbasis belajar melalui kelas yang normal

5. Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah melalui lingkungan belajar virtual meningkatkan kemampuan belajar dan keterampilan memecahkan masalah di kalangan siswa di Fotografi untuk kursus Seni Komunikasi. Umpan balik siswa menuju Modelnya positif, karena mengikuti minat dan minat mereka menggunakan pemecahan masalah untuk merangsang pembelajaran. Kerja kelompok dalam aspek cenderung membuat mereka merasa bebas dari kelas. Model terinspirasi dengan mempelajari konsep, teori, dokumen dan penelitian yang relevan berdasarkan masalah belajar melalui lingkungan belajar virtual. Kemudian, pedoman untuk kegiatan pembelajaran diciptakan dengan menganalisis konsep utama dari model yang dikembangkan. Ini diikuti dengan mengembangkan proses belajar dan mengajar, serta dengan mengukur dan menilai format pembelajaran.

6. Komentar

Menentukan Peran Mahasiswa dan Dosen Penentuan peran siswa dan dosen dalam ruang kelas sangat penting untuk memaksimalkan keefektifan model. Peran siswa adalah yang paling vital dan mempengaruhi bagaimana belajar tercapai. Siswa memiliki tugas memutuskan apa dan bagaimana mereka ingin belajar mengikuti konsep 'belajar mandiri'. Ini berarti siswa harus mengelola waktu mereka sendiri secara efisien dan diinvestasikan dalam setiap langkah proses belajar. Ada beberapa penelitian tentang pengendalian diri mendukung pentingnya terstruktur dengan baik dalam proses pemecahan masalah

Referensi

Dokumen terkait

Jika sekarang massa balok diwakilkan pada 2 titik masing-masing dengan massa ‘m’ dan ‘2m’ seperti pada gambar di bawah ini, dan kemudian ditempatkan 2 mesin pada kedua

PENGARUH DAN PEMBINAAN PADA ASPEK SOSIAL BUDAYA STRUKTUR SOSIAL INDONESIA KONDISI BUDAYA INDONESIA PEMBINAAN KETAHANAN ASPEK SOS

Terkait tentang metode pembelajaran, Ramayulis seorang guru besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Islam berpendapat, bahwa metode pembelajaran di Indonesia pada zaman

THE IMPACT OF ROLE PLAYING WITH SCENARIO DESIGN ON CREATIVE SKILLS AND STUDENT ’ S ACHIEVEMENT IN SYMBIOSIS CONCEPT1. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Hasil yang diperoleh dalam penelitian yang dilakukan selama 12 minggu untuk melihat pertumbuhan tanaman Ceriops tagal dengan perlakuan kontrol dan beberapa jenis

• Konfirmasikan kepada pelanggan BebasBayar tersebut apakah data dan nominal cash-out / tarik dana telah sesuai. Kemudian klik Cash Out

Pada perkembangan selanjutnya protokol diartikan sebagai tata aturan, pedoman standard/formal yang digunakan sebagai acuan pihak tertentu, misalkan

Dalam perancangan dan pembangunan website, penulis menyadari masih terdapat kekurangan pada website yang dibangun maka dari itu penulis memberikan saran yang dapat